Anda di halaman 1dari 21

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Kasus


2.1.1 Definisi
Hernia Nucleus Pulposus (HNP) adalah suatu penyakit
dimana bantalan lunak diantara ruas-ruas tulang belakang (soft gel
disc atau Nucleus Pulposus) mengalami tekanan pada salah satu
bagian posterior atau lateral sehingga nucleus pulposus pecah dan
luruh sehingga terjadi penonjolan melalui anulus fibrosus ke dalam
kanalis spinalis dan mengakibatkan penekanan radiks saraf (Mary,
2013) menurut ahli lain Hernia Nucleus Pulposus adalah turunnya
kandungan annulus fibrosus dari diskus intervertebralis lumbal pada
spinal canal atau rupture annulus fibrosus dengan tekanan dari
nucleus pulposus yang menyebabkan kompresi pada elemen saraf.
Pada umumnya Hernia Nucleus Pulposus pada lumbal sering terjadi
pada L4-L5 dan L5-S1. Kompresi saraf pada level ini melibatkan
root nerve L4, L5, dan S1. Hal ini akan menyebabkan nyeri dari
pantat dan menjalar ketungkai. Kebas dan nyeri menjalar yang tajam
merupakan hal yang sering dirasakan penderita Hernia Nucleus
Pulposus. Weakness pada grup otot tertentu namun jarang terjadi
pada banyak grup otot (Lotke dkk, 2008).

2.1.2 Anatomi Fisiologi


1. Tulang belakang
Tulang belakang adalah struktur lentur sejumlah tulang yang
disebut vertebra atau ruas tulang belakang. Diantara tiap dua ruas
tulang pada tulang belakang terdapat bantalan tulang rawan.
Panjang rangkaian tulang belakang pada orang dewasa dapat
mencapai 57 sampai 67cm. Seluruhnya terdapat 33 ruas tulang, 24
buah diantaranya adalah tulang-tulang terpisah 9 ruas sisanya
bergabung membentuk 2 tulang.
Vertebra dikelompokkan dan dinamai sesuai dengan daerah
yang di tempatinya:
6

a. Tujuh vertebra servikal atau ruas tulang leher membentuk


daareah tengkuk.
b. Dua belas vertebra torakalis atau ruas tulang punggung
membentuk bagian belakang toraks atau dada.
c. Lima vertebra lumbalis atau ruas tulang pinggang membentuk
daerah lumbal atau pinggang.
d. Lima vertebra sakralis atau ruas tulang kelangkang
membentuk sakrum atau tulang kelangkang.
e. Empat vertebra koksigeus atau ruas tulang tungging
membentuk tulang koksigeus atau tulang tungging.
Pada tulang leher, punggung, dan pinggang ruas ruasnya tetap
terpisah selama hidup dan disebut ruas yang dapat bergerak. Ruas-
ruas pada dua daerah bawah sakrum dan cocygeus pada masa
dewasa bersatu membentuk dua tulang ini. Ini disebut ruas ruas tak
bergerak. Dengan perkecualian dua ruas pertama tulang leher,
semua ruas yang dapat bergerak memiliki ciri khas yang sama.
Setiap vertebra terdiri atas dua bagian : anterior – disebut badan
vertebra, dan posterior – disebut arkus neuralis yang melingkari
kanalis neuralis (foramen vertebra atau saluran sumsum tulang
belakang) yang dilalui sumsum tulang belakang. Kolumna
vertebralis bekerja sebagai pendukung badan yang kokoh dan
sekaligus juga bekerja sebagai penyangga dengan perantaan tulang
rawan cakram intervertebralis yang lengkungannya memberi
fleksibiltas dan memungkinkan membengkok tanpa patah (Evelyn,
2013). Pada

gambar:
2.1
7

Gambar. 2.1 susunan tulang vertebra dilihat dari anterior,


posterior dan lateral. (Edelson, 2012)

2. Persendian
Persambungan, sendi atau artikulasio adalah istilah yang di
gunakan untuk menunjuk antara dua atau beberapa tulang dari
kerangka. (Evelyn Pearce, 1997)
Persendian terdiri dari :
a) Sinovial joints (joint capsule)
b) Superior and inferior facet joint
c) Cartilage joint i ntervertebral disc and superior / inferior
vertebral bodies
3. Diskus adalah bantalan sendi yang terletak diantara tulang
sebagai pelindung adalah untuk mengatasi beban kejut dan
melindungi tulang dari berbagai gesekan. Terdiri dari
fibrokartilago, yeng melekat erat pada corpora vertebrae dari
ligamentum longitudinale anterior dan posterior columna
vertebralis. Merupakan massa galatinosa yang berbentuk
lonjong pada orang muda. Biasanya dibawah tekanan dan
terletak sedikit ke posterior dari pinggir anterior diskus. Facies
anterior dan posterior corpora vertebrae yang terletak di
dekatnya dan berbatasan dangan diskus diliputi oleh lapisan
kartilago hialin. (Richard S. Snell, 2013). Pada gambar. 2.2.
8

Gambar. 2.2 potongan tulang belakang dilihat dari proximal

4. Ligament pada vertebra lumbalis


Ligament atau ligamentum adalah pita mengkilap dan
fleksibel dari jaringan ikat yang menghubungkan tulang dengan
tulang (Helmi, 2012).
1. Ligament Longitudinale Anterior
Ligament ini melekat di ventral corpus vertebra dan discusus
intervertebralis. Ligament ini berfungsi sebagai pengontrol
gerak extensi.
2. Ligament Longitudinale Posterior
9

Ligament ini terbentang dalam canalis vertebralis di dorsal


dari corpus vertebralis. Ligament ini sebagai pengontrol
gerak flexi.

3. Ligament Flavum
Ligament ini menghubungkan lamina dari dua arcus
vertebralis yang berdekatan. Di region lumbal, ligament ini
merupakan ligament yang paling tebal diantara region
vertebra yang lain. Ligament ini berfungsi sebagai pelindung
medula spinalis.
4. Ligament Superspinosum
Ligamen ini berfungsi sebagai pengontrol gerakan
lateral flexi.
5. Ligament Interspinosum
Ligament ini menghubungkan processus transversus
yang berdekatan. (gambar 2.3)

Gambar 2.3
Ligament Columna Vertebralis
Dilihat Dari Lateral (Paulsen and Waschke, 2010)

Keterangan gambar II. 4


10

1. Ligament Longitudinale Anterior


2. Ligament Longitudinale Posterior
3. Ligament Flavum
4. Ligament superspinosum
5. Ligament interspinosum

5. Sistem Otot

1
3
2

Gambar 2.4 Otot Abdomen


Keterangan gambar 2.3
1. M. rectus abdominis
2. M. obliqus internus abdominis
3. M. obliqus externus abdominis

Tabel 2.1
Fungsi Otot Abdomen (Paulsen and Waschke, 2010)

NO OTOT ORIGO INSERTIO FUNGSI


1 M. Rectus Permukaan luar Crista Fleksi
Abdominis cartilago pubica trunk
costalis iga V- costae,
VII, processus symphisis
xypoideus, lig. pubis
costoxyphoidea
2 M. Obliqus Permukaan luar Labium Flexy
exsternus iga V-XII externum trunk
abdominis cristae dan
illiaca rotasi
lig.inguinal
3 M. Obliqus Fascia Bawah Flexy
internus thoracolumbali cartilago trunk
11

abdominis s superficial costalis pada dan


iga IX-XII rotasi

Gambar 2.5
Otot Punggung Dilihat Dari Dorsal (Paulsen and Waschke, 2010)

Keterangan gambar 2.4


1. M. Illiocostalis thoracic
2. M. Latisimus dorsi
3. M. Obliqus exsternus abdominis
4. M. Spinalis thoracis
5. M. Longisimus thoracis
6. M. Iliocostalis Lumborum
7. M. Obliqus internus abdominis

Tabel 2.2
Fungsi Otot Punggung (Paulsen and Waschke, 2010)

NO OTOT ORIGO INSERTIO FUNGSI


1 M. Illiocostalis Iga XII-VII Angulus Flexy trunk
thoracic sebelah costae pada dan ekstensi
medial iga VI-V2
angulus
costae
2 M. Latisimus Processus Crista Ekstensi
dorsi spinosus Vt tuberculi trunk
VII-XII minoris
3 M. Obliqus Permukaan Labium Flexy trunk
exsternus luar iga V- externum dan rotasi
12

abdominis XII cristae


illiaca
lig.inguinal
Tabel 2.2
Fungsi Otot Punggung (Paulsen and Waschke, 2010)

4 M. Spinalis Processus Processus Ekstensi dan


thoracis spinosus spinosus lateral flexy
T11-L2, C7- T1-T8
T2
5 M. Longisimus Processus Processus Ekstensi dan
thoracis spinosus VL costalis VL lateral flexy
1 dan 2 IV-I
6 M. Iliocostalis Processus Iga V-VII Ekstensi dan
Lumborum spinosus (pada lateral flexy
pada angulus
vertebra costae)
lumbal,facies
dorsalis ossis
sacrum,
crista iliaca
sepertiga
dorsal
7 M. Obliqus Fascia Bawah Flexy trunk
internus thoracolumb cartilago dan rotasi
abdominis alis costalis
superficial pada iga IX-
XII

4. Sistem Persyarafan
Sistem persyarafan yang keluar dari vertebrae adalah
nervus spinalis, nervus spinalis yaitu akar-akar yang dimulai
dari radix anterior medulla spinalis, kemudian keluar melalui
foramen intervertebralis secara topografi nervus spinalis terdiri
dari 31 pasang saraf yang tersusun secara sistematis. Cabang
pleksus sacralis yang ada pada L4-S4 meliputi : Nervus gluteus
superior (L4 - L5 dan S1), nervus gluteus inferior (L5 dan S1 -
S2), nervus ischiadicus (L4 - L5 dan S1 - S3) (Satyanegara,
2010). Nervus ischiadicus merupakan saraf perifer terbesar
dalam tubuh yang keluar dari vertebra lumbal 4 - 5 dan sacrum
1 - 3. N. Ischiadicus terdiri dari nervus yang terpisah di dalam
13

satu selubung yaitu: nervus perenous comunis dan nervus


tibialis. Nervus ischiadicus meninggalkan pelvic melalui
foramen ischiadicus major berjalan turun diantara throcantor
major os femur dan tuberositas ischiadicus di sepanjang
permukaan posterior paha ke ruang poplitea dimana serabut
saraf ini berakhir dan bercabang menjadi nervus tibialis dan
nervus peroneus communis. Pada paha, cabang nervus
ischiadicus mensarafi musculus hamstring (Satyanegara, 2010)

Gambar 2.6 plexus lumbalis


(http://slideplayer.com/slide/8707886/26/images/12/Lumbar+ple
xus+(+femoral,+obturator+and+saphenous+nerves).jpg)

5. Sistem vaskularisasi
14

Pada daerah lumbal sistem peredaran darah vena dan arteri


yang umumnya berjalan berdampingan sehingga mempunyai
nama yang sama, dimana vena letaknya lebih superficial
dibandingkan arteri, pembuluh darah vena yang ada disini yaitu
a) vena lumbalis bermuara pada vena cava inferior di sebelah
kanan dan kiri corpus vertebrae lumbal. Vena ini disebut
acenden, b) plexus vena vertebrae. Diantaranya plexus venosus
posterior internal vertebralis dan plexus external vertebralis.
Pada peredaran darah arteri terdiri dari : a) aorta abdominal
yang bercabang menjadi 2 yaitu : arteri illiaca comuni dextra
dan arteri illiaca comuni sinistra, b) arteri lumbalis akan
bercabang menjadi artericularis dan ramus posterior yang
menuju otak dan kulit medial punggung, c) arteri sacralis
medial, mempercabangkan arteri lumbalis yang bercabang lagi
menjadi ramus spinalis dan ramus illiacus (Satyanegara, 2010)

Gambar 2.7 vena lumbalis


vena lumbalis(https://image.slidesharecdn.com/anaofspine-
101212113106-phpapp01/95/anatomy-of-spine-63-728.jpg?
cb=1292153603)
15

Gambar 2.8 arteri lumbalis


(https://image.s0lidesharecdn.com/anaofspine-
101212113106-phpapp01/95/anatomy-of-spine-60-
728.jpg?cb=1292153603)

2.1.3 Biomekanik
Gerakan dari vetikal lumbalis boleh dikatakan relatif bebas
dibandingkan dengan vertebra lainnya. Hal ini oleh karena bentuk
diskusnya besar dari arah foccetnya berlainan. Gerakan fleksi dari
lumbal berakhir pada lumbal 4-5 dan diperkirakan 75% dari fleksi
kedepan seluruhnya terjadi pada L4-S1 yang disebut lumbo sakral
dan luas gerakannya merupakan terbesar dari seluruh gerakan fleksi
dari vertebra spinalis. (Nugroho, Dwi Susilo Ady Maheswara, 2013)
Untuk mengetahui arthokinematika pada sendi-sendi daerah
lumbal sangat rumit mengingat osteokinematika antara segmen satu
dengan segmen yang lainnya saling berhubungan. Gerakan yang
terjadi pada lumbal :
1. Fleksi
Gerakan ini terjadi pada posisi tegak kemudian
membungkukkan badan ke depan. Gerakan ini terjadi ke arah
ventro-kaudal pada bidang segital dan pada axis frontal
horizontal (x) pada gerakan ini korpus vertebra miring dan
sliding secara pelan ke anterior sehingga diskus anterior
berkurang ketebalannya dan bertambah ke posterior. Nukleus
16

polposus bergerak ke posterior mengukur serabut posterior dari


annular fibrosis. Processus artikularis inferior dari vertebrae
superior slide dan bergerak dari processue artikularis superior
slide dan bergerak dari prosesus artikularis superior vertebra
inferior. Sebagai penggerak utama flexor batang tubuh adalah
otot rektus abdominis, otot obligus eksternus. Obligus internus,
otot quadratus lumborum secara bilateral dan otot interkostalis
gerakan ini dihambat oleh otot-otot ekstensor spina dan
ketegangan ligamentum longitudinal posterior dan ligamentum
supraspinale. Luas gerak batang tubuh adalah 65o-85o atau 50
cm – 60 cm dengan midline (International Standart Orthopedic
Measurment).
2. Ekstensi
Gerakan ini pada posisi tegak, kemudian membungkukkan
badan ke belakang gerakan terjadi pada bidang sagital dengan
aksis frontal. Besar atau luas gerak batang tubuh orang normal
25o-40º atau 40-50 cm dengan mid line (International Standart
Orthopedic Measurment) penggerak utama ekstensi adalah otot
interspinale (otot iliokostalistorakalis, otot longsimus torakalis,
otot spinalis torakalis, ototilikostalis, otot notatoris, otot
multifiduc) yang bekerja secara simetris. Dari gerakan ini
terdapat hambatan dari ketegangan ligamentum spinosus
anterior. Otot fleksor spinalis dan adanya kontak antara
processus anterior vertebra satu dengan yang lain. Pada gerakan
ini, corpus vertebra superior miring dan letak ke posterior.
Diskus anterior bertambah ketebalannya dan berkembangnya di
bagian posterior. Nucleus posterior, nucleus pulposus bergerak
ke anterior mengulur serabut anterior dari annulus fibrosis.

3. Lateral fleksi
Gerakan ini dimulai dari sikap berdiri tegak, kemudian
menekukkan badan ke samping kanan maupun kiri. Gerakan ini
terjadi pada bidang frontal dan axis sagital. Besarnya sudut
normal gerakan ini sekitar 25º (International Standart
17

Orthopedic Measurment). Penggerak utama dari gerakan ini


adalah otot obligus eksternus dan internus abdominis, otot
quadratus lumborum. Otot rectus abdominis dan otot psoas.
Otot-otot tersebut bekerja lateral pada samping yang sama,
kecuali otot obligus eksternus abdominis. Dan gerakan ini
dibatasi oleh ketegangan otot lateral fleksor yang berlawanan
dan ligamentum plavum. Pada gerakan ini, corpus vertebra
superior miring ipsi lateral. Diskus menjadi lebih lebar pada
permukaan kontra lateral. Sedangkan bila dilihat dari posterior,
procarus kontrallateral vertebra superior trunk dan processus
spisilateral trunk.
4. Rotasi
Gerakan rotasi dikerjakan pada posisi duduk maupun tidur
terlentang, gerakan ini terjadi pada bidang horisontal dengan axis
vertikal melalui processus spinosus, sudut gerakan ini sekitar 45o.
Penggerak utamanya adalah rotasi ipsilateral, bila otot
berkontraksi dapat memutar columna vertebralis sepihaknya,
digerakkan oleh otot obligus internus abdominis, otot illiocostalis
lumborum dan otot spinatiansversarium. Rotasi kontral lateral
bila otot berkontraksi terjadi kontraksi sepihak berlawanan,
digerakkan oleh otot-otot obligus eksternus abdominis,
multifidus, rotator longus, rotator brevis. Dan otot
tranversospinal selama gerakan ini diskus intervertebralis tidak
ikut bergerak .

2.1.4 Etiologi
Penyebab utama terjadinya Hernia Nucleus Pulposus adalah
cidera. Cidera dapat terjadi karena terjatuh tetapi lebih sering karena
posisi menggerakkan tubuh yang salah. Pada posisi gerakan tulang
belakang yang tidak tepat maka sekat tulang belakang akan
terdorong ke satu sisi dan pada saat itulah bila beban yang
mendorong cukup besar akan terjadi robekan pada annulus pulposus
yaitu cincin yang melingkari nucleus pulposus dan mendorongnya
merosot keluar sehingga disebut hernia nucleus pulposus.
18

Sebenarnya cincin (annulus) sudah terbuat sangat kuat tetapi pada


pasien tertentu di bagian samping belakang (posterolateral) ada
bagian yang lemah (locus minoris resistentiae). (Mary, 2013)
Bisa juga terjadi karena adanya spinal stenosis, ketidakstabilan
vertebra karena salah posisi, mengangkat, pembentukan osteofit,
degenerasi dan dehidrasi dari kandungan tulang rawan annulus dan
nucleus mengakibatkan berkurangnya elastisitas sehingga
mengakibatkan herniasi dari nucleus hingga annulus. (Mary, 2013)
2.1.5 Patofisiologi
Patologi adalah ilmu yang mempelajari mengenai penyakit
atau gangguan hidup (Abrahams, 1992). Hernia Nucleus Pulposus
adalah keluarnya material nukleus dari pembungkus annulus fibrosis
kapsul (Calliet, 1981).
Penyebab Hernia Nucleus Pulposus paling besar adalah
trauma (50%) baik langsung maupun tidak langsung pada diskus
invertebralis yang akan menyebabkan kontraksi hebat dari nukleus
pulposus, perobekan serat-serat fibrolastis annulus fibrosis sehingga
annulus menjadi pecah-pecah bahkan robek, nukelus pulposus yang
tertekan akan mencari jalan keluar melalui sobekan annulus fibrosis
mendorong ligamentum longitudinal dan terjadilan herniasi.
Setelah annulus fibrosis robek, nukelus pulposus akan
mengalami difusi melalui robekan tersebut. Difusi tersebut
menyebabkan penyempitan jarak antara kedua korpus vertebra. Saat
terjadi penjebolan ini akan dirasakan nyeri tajam dan hebat segera
atau beberapa saat didaerah punggung. Nyeri yang terjadi pada
Hernia Nucleus Pulposus L4-5 dapat disebabkan oleh:
1. Adanya iritasi pada selaput yang menyertai radiks atau saraf
yang masuk ke dalam foramen intervertebralis.
2. Adanya iritasi dari penonjolan nukleus pulposus ke ligamentum
longitudinal posterior karena mendapat innervasi dari syaraf
siniferbrais.
3. Spasme otot-otot erector spine yang innervasi olah ramus
primasius posterior nevus spinalis sifat nyeri dapat lokal
maupun radikuler (Salfer, 1970).
19

Beberapa grade hernia nucleus pulposus berdasarkan


pemeriksaan MRI, yaitu : (1) Protuded Intervertebra Disc yakni
penonjolan nucleus kesatu arah tanpa disertai ruptured dari annulus
fibrosus, (2) Proalapsed Intervertebra Disc yakni nucleus pulposus
berpindah tempat tapi belum keluar dari lingkungan annulus
fibrosus, (3) Extrured Intervertebra Disc yakni sebagian dari
nukleus pulposus keluar dari serat – serat annulus fibrosus, (4)
Sequestered Intervertebrae Disc yakni nucleus pulposus telah keluar
menembus ligament longitudinale posterior seperti terlihat pada
Gambar II.7 (Foster, 2014)
1 2 3 4

Gambar 2.9
Grade Hernia Nucleus Pulposus (Foster, 2014)
Keterangan gambar 2.8
1. Protuded intervertebral disc
2. Proalapsed intervertebral disc
3. Extrured intervertebral disc
4. Sequastered intervertebrae disc
2.1.6 Tanda dan gejala
Tanda dan gejala tergantung pada lokasi yang terkena, misalnya
pada daerah lumbal, terjadi nyeri pada daerah pinggang pada satu
sisi yang menjalar ke arah tungkai dan kaki, kelemahan otot kaki,
parestesia, kebas pada kaki, gangguan eliminasi bowel, bladder
dan seksual mungkin saja dapat terjadi. Nyeri tekan pada daerah
herniasi dan pergerakan tulang belakang berkurang. Pada daerah
cervical Herniasi Nukleus Pulposus dapat menimbulkan rasa nyeri
pada leher atau pundak menjalar pada lengan, gangguan
sensibilitas pada lengan atas bawah sisi radius dan ibu jari.
(Tarwoto, 2007)
Gejala yang sering muncul :
20

1. Nyeri pinggang yang intermiten (dalam beberapa minggu


sampai beberapa tahun). Nyeri menjalar sesuai dengan
distribusi saraf.
2. Sifat nyeri kas dari posisi berbaring ke duduk, nyeri mulai dari
pantat dan terus menjalar ke bagian belakang lutut kemudian
ke tungkai bawah.
3. Nyeri bertambah hebat karena pencetusnya seperti gerakan –
gerakan pinggang saat batuk atau mengejan, berdiri, atau
duduk untuk jangka waktu yang lama dan nyeri berkurang
klien beristirahat berbaring.
4. Penderita sering mengeluh kesemutan (parastesia) atau bal
bahkan kekakuan otot menurun sesuai dengan distribusi
persyarafan yang terlibat
5. Nyeri bertambah bila daerah L5-S1 (garis antara dua krista
iliaka) di tekan. (Muttaqin, 2008).

2.1.7 Menifestasi klinis


Manifestasi klinis utama yang muncul adalah rasa nyeri di
punggung bawah disertai otot-otot sekitar lesi dan nyeri tekan.
Hernia Nucleus Pulposus terbagi atas sentral dan lateral. Hernia
Nucleus Pulposus sentral akan menimbulkan paraparesis flasid,
parestesia dan retensi urine. Sedangkan Hernia Nucleus Pulposus
lateral bermanifestasi pada rasa nyeri dan nyeri tekan yang terletak
pada punggung bawah, di tengah-tengah area pantat dan betis,
belakang tumit, dan telapak kaki. Kekuatan ekstensi jari kelima kaki
berkurang dan reflex achiller negative. Pada Hernia Nucleus
Pulposus lateral L5-S1 rasa nyeri dan nyeri tekan didapatkan di
punggung bawah, bagian lateral pantat, tungkai bawah bagian lateral,
dan di dorsum pedis. Kelemahan m. gastrocnemius (plantar fleksi
pergelangan kaki), m. ekstensor halusis longus (ekstensi ibu jari
kaki). Gangguan reflex achilles, defisit sensorik pada malleolus
lateralis dan bagian lateral pedis (Setyanegara dkk, 2014).

2.1.8 Prognosis
Dengan ketidaknyamanan dan parestesis ringan. Pada beberapa
pasien, gejala radikular atau mielopati kambuh setelah kembali
21

beraktivitas penuh. Untuk 25% pasien yang tidak respon terhadap


terapi konservatif, dibutuhkan operasi. Perbaikan tampak pada
sekitar 80% pasien yang melakukan terapi operatif pada diskus
servikalis. Pada hernia diskus lumbalis sekitar 10-20% kasus
membutuhkan penangan terapi bedah dan 85% pasien akan pulih
sepenuhnya setelah penanganan bedah. (Way, 2003).
2.1.9 Diagnosa Banding
1. Spondylolisthesis
Spondylolisthesis adalah kondisi dari spine dimana salah
satu dari vertebra tergelinci kedepan dari satu vertebra pada
lainnya dirujuk sebagai anterolisthesis dan tergelincir kebelakan
dirujuk sebagai retrolisthesis.
2. Spondylosis
Pada spondylosis terjadi degenerasi dari discus
intervertebralis dimana tulang dan ligament ditulang penipisan
akibat pemakaian terus menerus, sehingga menyebabkan
penyempitan ruang diskus dan timbulnya osteofit, pada
umunya bersifat degeneratif atau timbul akibat mikro trauma
yang terus menerus (Setyanegara dkk, 2014)

3. Low Back Pain Myogenic


Merupakan nyeri punggung bawah yang disebabkan oleh
gangguan atau kelainan pada unsur musculoskeletal tanpa
disertai gangguan neurologis. Keluhan pada Low Back Pain
Myogenic dapat menimbulkan nyeri, spasme pada otot
paravertebrae yang menyebabkan ketidakseimbangan otot
sehingga stabilitas otot paravertebrae menurun, mobilitas
lumbal terbatas sehingga mengakibatkan aktifitas fungsional
menurun (Susanti, 2012).

2.1.10 Komplikasi
Komplikasi atau faktor penyulit pada penderita nyeri
punggung bawah antara lain nyeri, spasme, kelemahan otot
penurunan luas gerak lumbal.

2.2 Problematika Fisioterapi


22

Untuk mengetahui masalah yang timbul pada Hernia Nucleus


Pulposus maka tentang gambaran klinis dapat dijadikan dasar dalam
penjelasan masalah ini.
2.2.1 Impairment
Suatu keluhan yang berkaitan dengan kondisi tersebut,
impairment yang dijumpai pada kasus ini berupa terdapat nyeri
menjalar dari pinggang hingga tungkai dan adanya penurunan
kekuatan otot tungkai kiri.
2.2.2 Fungtional Limitation
Suatu masalah yang muncul berupa keterbatasan dalam
melakukan aktifitas sehari-hari, Hal tersebut disebabkan karena
impairment atau keluhan yang membatasi aktifitas pasien.
Adapun fungsional limitation yang ditemukan dalam kasus ini
adalah pasien kesulitan dalam melakukan transfer dan ambulasi
seperti bangun dari tempat tidur, duduk ke berdiri, dan berjalan
jauh.
2.2.3 Disability
Problematik yang berkaitan dengan disabily adalah adanya
gangguan dalam pekerjaannya dan sangat tergantung dengan
aktivitas dan kehidupn sosial. Namun tidak semua individu
menganggap sakit yang di rasakan pasien sebagaikecacatan
sehingga tidak akan mengalami gangguan dengan disability atau
kehidupan sosialnya. Yaitu pasien terpaksa harus mengurangi
aktivitas sehari – hari serta tidak bisa mengikuti kegiatan
kemasyarakatan.

2.3 Teknologi Intervensi


2.3.1 Sinar Infrared
Terapi infrared adalah salah satu jenis terapi dalam bidang
Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi yang menggunakan
gelombang elektromagnetik inframerah dengan karakteristik
gelombang adalah panjang gelombang 770nm-106 nm, berada di
antara spektrum gelombang cahaya yang dapat dilihat dengan
gelombang microwave, dengan tujuan untuk pemanasan struktur
23

muskuloskeletal yang terletak superfisial dengan daya penetrasi


0,8-1mm. (Arif Soemarjono,2015)
1. Tujuan dan efek
Terapi infrared akan memberikan pemanasan superfisial
pada daerah kulit yang diterapi sehingga menimbulkan
beberapa efek fisiologis yang diperlukan untuk penyembuhan.
Efek-efek fisiologis tersebut berupa mengaktifasi reseptor
panas superfisial di kulit yang akan merubah transmisi atau
konduksi saraf sensoris dalam menghantarkan nyeri sehingga
nyeri akan dirasakan berkurang, pemanasan ini juga akan
menyebabkan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) dan
meningkatkan aliran darah pada daerah tersebut sehingga akan
memberikan oksigen yang cukup pada daerah yang diterapi,
menigkatkan aktivitas enzim-enzim tertentu yang digunakan
untuk metabolisme jaringan dan membuang sisa-sisa
metabolisme yang tidak terpakai sehingga pada akhirnya akan
membantu mempercepat proses penyembuhan jaringan. Terapi
pemanasan dengan infrared ini juga dapat memberikan
perasaan nyaman dan rileks sehingga dapat mengurangi nyeri
karena ketegangan otot-otot terutama otot-otot yang terletak
superfisial, meningkatkan daya regang atau ekstensibilitas
jaringan lunak sekitar sendi seperti ligamen dan kapsul sendi
sehingga dapat meningkatkan luas pergerakan sendi terutama
sendi-sendi yang terletak superfisial seperti sendi tangan dan
kaki. (Arif Soemarjono,2015)
2. Indikasi penggunaan infrared
1. Nyeri otot, sendi dan jaringan lunak sekitar sendi. Misal:
nyeri punggung bawah, nyeri leher, nyeri punggung atas,
nyeri sendi tangan, sendi lutut, dsb.
2. Kekakuan sendi atau keterbatasan gerak sendi karena
berbagai sebab.
3. Ketegangan otot atau spasme otot.
4. Peradangan kronik yang disertai dengan pembengkakan.
5. Penyembuhan luka di kulit.
3. Kontra indikasi penggunaan infrared
1. Kelainan perdarahan
24

2. Kelainan pembuluh darah vena atau peradangan pembuluh


darah, seperti thrombophlebitis
3. Gangguan sensoris berupa rasa raba maupun terhadap suhu
4. Gangguan mental
5. Tumor ganas atau kanker
6. Penggunaan infrared pada mata. (Arif Soemarjono,2015)

2.3.2 Terapi Latihan Mc. Kenzie Exercise


1. Mc. Kenzie Exercise merupakan serangkaian gerakan tubuh
yang ditujukan untuk mengurangi keluhan nyeri pinggang
bawah. Sedangkan Strengthening exercise merupakan suatu
program yang berdasarkan pada sebuah latihan yang bertujuan
untuk meningkatkan mobilitas, fleksibilitas, dan kekuatan
(Andrade dkk, 2005).
2. Tujuan latihan Mc. Kenzie Exercise adalah
a. Memperkuat otot-otot perut dan otot-otot punggung
sehingga tubuh dalam keadaan tegak secara fisiologis.
b. Jika dilakukan secara baik dan benar dalam waktu yang
relatif lama akan meningkatkan kekuatan otot secara aktif
sehingga disebut stabilisasi aktif.
c. Peningkatan kekuatan otot juga mempunyai efek
peningkatan daya tahan tubuh terhadap perubahan
gerakan atau pembebanan secara statis dan dinamis.
d. Memperbaiki sistem peredaran darah sehingga mengatasi
terjadinya pembengkakan yang dapat mengganggu
gerakan dan fungsi sendi.
e. Mengurangi nyeri melalui mekanisme gerbang kontrol dan
pengurangan nyeri melalui Beta Endorpin.
3. Efek fisiologis terapi latihan Mc. Kenzie Exercise
a. Terhadap otot : merileksasikan otot – otot vertebra
b. Terhadap kardiovaskuler:
1. Meningkatkan vasodilatasi arteri
2. Meningkatkan vasodilatasi kapiler
3. Meningkatkan metabolisme
4. Meningkatkan aliran darah vena
5. Meningkatkan tekanan darah
c. Terhadap respirasi: meningkatkan kebutuhan oksigen dan
meningkatkan pertukaran darah
d. Terhadap system saraf: meningkatkan produksi adrenalin
25

e. Terhadap kesehatan tubuh: meningkatkan teperatur


tubuh.
4. Efek teraputik terapilatihan Mc. Kenzie Exercise
a. Mengurangi / menghilangkan limitasi ROM.
b. Memulihakan mobilitas dan fungsi lumbal dengan
menghilangkan stress dan mengembalikan posisi mobile
segmen ke posisi normal.
c. Relaxsasi otot yang spasme dengan mengulur dan
memperbaiki posture.
5. Kontra indikasi
a. Infeksi lumbalis
b. Fraktur columna vertebralis
c. Osteoporosis lumbal
d. Spondilolhistesis paralumbal (Andrade dkk, 2005).