Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua


komponen bangsa dalam rangka meningkatkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu
diusahakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat
diterima serta terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Upaya-upaya kesehatan
tersebut sesuai dengan bab IV pasal 47 undang-undang nomor 36 tahun 2009
tentang kesehatan meliputi pencegahan penyakit (preventif), peningkatan
kesehatan (promotif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan
(rehabilitatif) (Depkes RI, 2010).
Salah satu masalah kesehatan yaitu Osteoarthritis (OA), suatu jenis arthritis
yang disebabkan oleh kerusakan dan hilannya tulang rawan dari satu atau lebih
sendi. Tulang rawan adalah substansi protein yang berfungsi sebagai bantal antara
tulang-tulang persendian. Osteoarthritis (OA) juga dikenal sebagai arthritis
degeneratif. Dari lebih arthritis yang ada Osteoarthritis (OA) adalah penyakit yang
sering terjadi seiring bertambahnya usia. Sebelum usia 45 tahun, Osteoarthritis
(OA) sering terjadi pada laki-laki, setelah diusia 55 tahun Osteoarthritis (OA)
lebih sering terjadi pada wanita (Inawati,2010).
Prevalensi Osteoarthritis (OA) lutut radiologis di Indonesia cukup tinggi,
yaitu mnecapai 15,5% pada laki-lakidan 12,7% pada wanita. Privalensi kerusakan
sendi sinovial ini meningkat seiring bertambahnya usia. Pasien biasanya
mengeluh pada saat melakukan aktivitas maupun pada saat adanya pembebanan
pada sendi yang terkena(Putu Imyati,Gede Kembayan,2013).
Osteoarthritis (OA) lutut merupakan suatu patologi yang dimulai dari
kartilago hialin sendi lutut, dimana terjadi pembentukan osteophite pada tulang
rawan sendi dan jaringan subchondral yang menyebabkan penurunan elastisitas

1
2

sendi(M.Irfan,Riska Gahara, 2006). Pada Osteoarthritis (OA), bantalan (tulang


rawan) antara tulang akan menipis pada sendi, jika tulang rawan hilang akan
menggosok tulang antara tulang. Tulang tumbuh taji (bony spurs) atau biasanya
menbentuk disekitar sendi, hal ini akan membuat ligamen dan otot menjadi
mengendur dan menjadi melemah(Inawati,2010).
Berdasarkan masalah dan definisi di atas, fisioterapi sebagai tenaga kerja
profesional kesehatan mempunyai kemampuan dan ketrampilan yang tinggi untuk
mencegah, mengembangkan, mengembalikan dan mengobati gerak dan fungsi
seseorang. Adapun modalitas fisioterapi yang bisa dilakukan untuk mengurangi
nyeri yaitu dengan Transcutaneous Electrical Nerve Stimu lation (TENS) dan
Long Axis Oscillated Traction yang dilakukan pada kondisi keterbatasan ROM
(Joghataei, 2004).
Dalam kasus ini penulis membatasi penggunaan modalitas, yakni: terapi
latihan dengan Transcutaneous Electrical Nerve Stimu lation (TENS) dan Long
Axis Oscillated Traction yang bertujuan untuk mengurangi nyeri dan menambah
luas gerak ROM.
Berdasarkan uraian diatas penulis ingin mengetahui lebih luas tentang
penggunaan Transcutaneous Electrical Nerve Stimu lation (TENS) dan Long Axis
Oscillated Traction pada penderita Osteoarthritis (OA). Adapun macam-macam
modalitas antara lain meliputi : Transcutaneous Electrical Nerve Stimu lation
(TENS) dan Long Axis Oscillated Traction.
3

BAB II

TUJUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Kasus


2.1.1 Definisi
Osteoarthritis merupakan gangguan pada sendi yang bergerak,
gangguan ini dapat bersifat kronik, berjalan progresif lambat, tidak
meradang dan seakan-akan proses penuaan dari rawan sendi yang
menglami kemunduran atau degenerasi disertai dengan pertumbuhan
tulang baru. Penyebab pasti belum diketahui , namun berikut ini faktor
predisposisi yang dapat menyebabkan osteoarthritis lutut: umur,
gangguan mekanik, kecacatan genu valgus atau genu varus,
kegemukan, penyakit endokrin, penyakit sendi lain, jenis kelamin
(Irfan, 2006).
2.1.2 Anatomi Fungsional
Sendi lutut merupakan bagian dari extremitas inferior yang
menghubungkan tungkai atas (paha) dengan tungkai bawah. Fungsi
sendi lutut ini adalah untuk mengatur pergerakan dari kaki. Dan untuk
mengerakan kaki ini juga diperlukan antara lain :
1. Tulang
Tulang yang membentuk sendi lutut antara lain: tulang femur
distal, tibia proxcimal, tulang fibula, dan tulang patela.
a. Tulang Femur (tulang paha)
Tulang femur adalah tulang yang terbesar dan terkuat dalam
tubuh manusia juga membuat seperepat dari tinggi tubuh. Ada 2
condylus yang menutupi bagian ujung bawah pada sendi pada
femur dan 2 tibial condylus yang menutupi miniscus untuk
stabilitas artikulasi femorotibial. Patella yang merupakan jenis
tulang sesamoid terletak pada segmen inferior dari tendon
quadriceps femoris, bersendi dengan femur, dimana patella ini
terletak diantara 2 condylus femoralis pada permukaan
4

anteroinferior. Pada bagian atas sendi lutut terdapat condylus


femoris yang berbentuk bulat, pada bagian bawah terdapat
condylus tibiae dan cartilago seminularis. Pada bagian bawah
terdapat articulatio pada ujung bawah femur dengan patella
(Zaitunah, 2008).

Gambar 2.1 Tulang Femur


5

b. Tulang Patella (tulang tempurung lutut)


Tulang patella adalah tulang sesamoid besar ini terbentuk
pada tendon dari otot paha depan. Ini berbentuk seperti segitiga,
dengan basis tebal membentuk superior atas perbatasan. Puncak
runcing di bagian inferior bawah bagian dari tulang. Anterior
depan permukaan sedikit cembung dengan kata lain, kurva
permukaan luar, dan posterior belakang bagian memiliki medial
dan permukaan artikular lateral.

Gambar 2.2 Tulang Patella

c. Tulang Tibia (tulang kering)

Tulang tibia terdiri dari epiphysis proximalis, diaphysis distalis.


Epiphysis proximalis pada tulang tibia terdiri dari dua bulatan
yang disebut condylus lateralis dan condylus medialis yang
atasnya terdapat dataran sendi yang disebut facise artikularis
lsterslis dan medialis yang dipisahkan oleh ementio
iniercondyloidea. Sendi lutut memiliki bentuk yang dikatakan
tidak ada kesesuaian bentuk, kedua condylus dari femur secara
bersama-sama membentuk sejenis katrol troclea, sebailnya
dataran tibia tidak rata permukaanya, ketidaksesuaian ini
dikompensasikan oleh bentuk meniscus. Hubungan anntara
tulang-tulang tersebut membentuk suatu sendi yaitu: antara tulang
femur dan patella disebut articulation patella femorale, hubungan
6

antara tibia dan femur disebut articulation tibio femorale. Yang


secera keseluruan dapat dikatakan sebagai sendi lutut atau knee
joint (Famim, 2014).
d. Tulangan Fibula
Tulang fibula ini berbentuk kecil panjang terletak disebelah
lateral dan juga terdiri dari tiga bagian yaitu; epiphysis
proximalis, diaphysis dan epiphysis distalis. Epiphysis proximalis
membulat disebut capitulum fibula yang yang ke proximalis
meruncing menjadi apex capitulis fibula. Pada capitulum terdapat
dua dataran yang disebut facies articularis capituli fibula untuk
bersendi dengan tibia. Diaphysis mempunyai empat crista
lateralis, crista medialis, crista lateralis dan feciesposterior.
Epiphysis distalis kearah lateral membulat disebut meleolus
lateralis atau mata kaki luar (Famim, 2014).

Gambar 2.3 Tulang Tibia dan Fibula


7

2. Ligament, capsul sendi dan jaringan lunak sekitar sendi lutut


a. Ligament
Ligamen mempunyai sifat extensibility dan kekuatan yang
cukup kuat (tensile strength) yang berfungsi sebagai pembatas
gerakan dan stabilator sendi. Ada beberapa ligamen sendi lutut
yaitu:
1) Ligamentum Extracapsular
a) Ligamentum Patellae
Melekat (diatas) pada tepi bawah patella dan pada bagian
bawah melekat pada tuberositas tibiae.
b) Ligamentum Collaterale Fibulare
Ligamentum ini menyerupai tali dan melekat di bagian atas
pada condylus lateralis dan dibagian bawah melekat pada
capitulum fibulae. Ligamentum ini dipisahkan dari capsul
sendi melalui jaringan lemak dan tendon m. popliteus. Dan
juga dipisahkan dari meniscus lateralis melalui bursa m.
poplitei.
c) Ligamentum Collaterale Tibiae
Ligamentum ini berbentuk seperti pita pipih yang
melebar dan melekat dibagian atas pada condylus medialis
femoris dan pada bagian bawah melekat pada margo
infraglenoidalis tibiae. Ligamentum ini menembus dinding
capsul sendi dan sebagian melekat pada meniscus medialis.
Di bagian bawah pada margo infraglenoidalis, ligamentum
ini menutupi tendon m. semimembranosus dan a. inferior
medialis genu.
d) Ligamentum Popliteum Obliquum
Merupakan ligamentum yang kuat, terletak pada bagian
posterior dari sendi lutut, letaknya membentang secara
oblique ke medial dan bawah. Sebagian dari ligamentum ini
berjalan menurun pada dinding capsul dan fascia m.
popliteus dan sebagian lagi membelok ke atas menutupi
tendon m. semimembranosus.
e) Ligamentum Transversum Genu
Ligamentum ini terletak membentang paling depan pada
dua meniscus, terdiri dari jaringan connective, kadang-kadang
8

ligamentum ini tertinggal dalam perkembangannya, sehingga


sering tidak dijumpai pada sebagian orang.

Gambar 2.4 Ligament pada sendi lutut


2) Ligamentum Inta Capsular
Ligamentum cruciata adalah dua ligamentum intra capsular
yang sangat kuat, saling menyilang didalam rongga sendi.
Ligamentum ini terdiri dari dua bagian yaitu posterior dan
anterior sesuai dengan perlekatannya pada tibiae. Ligamentum
ini penting karena merupakan pengikat utama antara femur dan
tibiae.
a) Ligamentum Cruciata Anterior
Ligamentum ini melekat pada area intercondylaris
anterior tibiae dan berjalan kearah atas, kebelakang dan
lateral untuk melekat pada bagian posterior permukaan
medial condylus lateralis femoris. Ligamentum ini akan
mengendur bila lutut ditekuk dan akan menegang bila lutut
diluruskan sempurna. Ligamen ini berfungsi mencegah femur
bergeser ke posterior terhadap tibiae.
b) Ligamentum Cruciatum Posterior
9

Ligamentum cruciatum posterior melekat pada area


intercondylaris posterior dan berjalan kearah atas , depan dan
medial, untuk dilekatkan pada bagian anterior permukaan
lateral condylus medialis femoris. Seratserat anterior akan
mengendur bila lutut sedang ekstensi, namun akan menjadi
tegang bila sendi lutut dalam keadaan fleksi. Serat-serat
posterior akan menjadi tegang dalam keadaan ekstensi.
Ligament ini berfungsi mencegah femur ke anterior terhadap
tibiae (Zaitunah, 2008).

Gambar 2.5 Ligament ACL dan PCL

b. Capsul Sendi
Capsul sendi terletak pada permukaan posterior dari tendon
m. quadriceps femoris dan didepan menutupi patella menuju
permukan anterior dari femur diatas tubrositas sendi. Selanjutnya
capsul sendi ini menutupi kedua ligamentun cruciatum pada sendi
10

lutut sebagai suatu lembaran dan melintasi tepi posterior


ligamentum cruciatum posterior (Zaitunah, 2008).

Gambar 2.6 Capsul sendi


c. Jaringan Lunak
1) Cartilago Semilinaris (Meniscus)
Cartilago semilunaris adalah lamella fibrocartilago
berbentuk C, yang pada potongan melintang berbentuk
segitiga. Batas perifernya tebal dan cembung, melekat pada
bursa. Batas dalamnya cekung dan membentuk tepian bebas.
Permukaan atasnya cekung dan berhubungan langsung dengan
condylus femoris. Fungsi meniscus ini adalah memperdalam
fascies articularis condylus tibialis untuk menerima condylus
femoris yang cekung.

2) Cartilago Semilunaris Medialis


Bentuknya hampir semi sirkular dan bagian belakang jauh
lebih lebar dari pada bagian depannya. Cornu anterior melekat
pada area intercondylaris anterior tibiae dan berhubungan dengan
cartilago semilunaris lateralis melalui beberapa serat yang
disebut ligamentum transversum. Cornu posterior melekat pada
area intercondylaris posterior tibiae. Batas bagian perifernya
11

melekat pada simpai dan ligamentum collaterale sendi. Dan


karena perlekatan inilah cartilago semilunaris relatif tetap.
3) Cartilago Semilunaris Lateralis
Bentuknya hampir sirkular dan melebar secara merata. Cornu
anterior melekat pada area intercondylaris anterior, tepat di
depan eminentia intercondylaris. Cornu posterior melekat pada
area intercondylaris posterior, tepat di belakang eminentia
intercondylaris. Seberkas jaringan fibrosa biasanya keluar dari
cornu posterior dan mengikuti ligamentum cruciatum posterior
ke condylus medialis femoris (Zaitunah, 2008).

Gambar 2.7 meniscus

d. Bursa
Bursa sendi merupakan suatu tube seperti kantong yang
terletak di bagian bawah dan belakang pada sisi lateral didepan
dan bawah tendon origo m. popliteus. Bursa ini membuka kearah
sendi melalui celah yang sempit diatas meniscus lateralis dan
tendon m. popliteus. Banyak bursa berhubungan sendi lutut.
Empat terdapat di depan, dan enam terdapat di belakang sendi.
12

Bursa ini terdapat pada tempat terjadinya gesekan di antara tulang


dengan kulit, otot, atau tendon (Zaitunah, 2008).

Gambar 2.8 Bursa

3. Sistem Persyarafan
Persarafan pada sendi lutut adalah melalui cabang-cabang dari
nervus yang yang mensarafi otot-otot di sekitar sendi dan befungsi
untuk mengatur pergerakan pada sendi lutut. Sehingga sendi lutut
disarafi oleh :
1. N. Femoralis
2. N. Obturatorius
3. N. Peroneus communis
4. N. Tibialis
13

Gambar 2.9 Sistem Saraf

4. Sistem Peredaran Darah


a. Sistem Peredaran Darah Arteri
Jantung memompa darah baru yang telah teroksigenasi
melalui arteri, arteriol, dan bantalan kapiler menuju seluruh
organ dan jaringan. Dan berlanjut kebawah melewati daerah
pelvis, arteri iliaka selanjutnya menjadi arteri femoralis, yang
bergerak turun keanterior paha, arteri femoralis menyilang di
posterior dan menjadi arteri poplitea. Di bawah lutut, arteri
poplitea terbagi menjadi arteri tibialis anterior dan tibialis
posterior. Arteri tibialis bergerak turun di sebelah depan dari
kaki bagian bawah menuju bagian dorsal/punggung telapak kaki
dan menjadi arteri dorsalis pedis. Arteri tibialis posterior
bergerak turun menyusuri betis dari kaki bagian bawah dan
bercabang menjadi arteri plantaris di dalam telapak kaki bagian
bawah.
b. Sistem Peredaran Darah Vena
Pada umumnya sistem vena berjalan berdampingan dengan
sistem arteri. Aliran darah yang meninggalkan kapiler-kapiler
14

disetiap jari kaki bergabung membentuk jaringan vena plantaris.


Jaringan plantar mengalirkan darah menuju vena yaitu: vena
tibialis anterior, tibialis posterior, popliteal, dan femoralis. Vena
safena magna dan safena parva supervisial mengalirkan darah
ditelapak kaki dari arkus vena dorsialis menuju vena popliteal
dan femoralis (R. Jones, 2009).

Gambar 3.1 Sistem Peredaran Darah

5. Otot Penggerak Sendi Lutut


Pergerakan pada sendi lutut meliputi gerakan fleksi , ekstensi ,
dan sedikit rotasi. Gerakan fleksi dilaksanakan oleh m. biceps
femoris, semimembranosus, dan semitendinosus, serta dibantu oleh
m.gracilis, m.sartorius dan m. popliteus. Fleksi sendi lutut dibatasi
oleh bertemunya tungkai bawah bagian belakang dengan paha.
Ekstensi dilaksanakan oleh m. quadriceps femoris dan dibatasi
mula-mula oleh ligamentum cruciatum anterior yang menjadi
tegang (Zaitunah, 2008).
15

Gambar 3.2 Otot Penggerak Sendi Lutut


6. Biomekanik Sendi Lutut
Biomekanik adalah ilmu yang mempelajari gerakan tubuh
manusia. Pada bahasan ini hanya akan membahas komponen
kinematis. Ditinjau dari gerakan secara osteokinematik dan secara
artrokinematik yang terjadi pada sendi lutut.
a. Osteokinematika
Osteokinematika yang terjadi pada sendi lutut adalah
gerakan fleksi dan ekstensi pada bidang sagital dengan luas
gerak sendi fleksi antara 120-130 bila posisi hip mencapai fleksi
penuh. Untuk gerakan ekstensi luas gerak sendi 0. Gerakan
memutar pada bidang rotasi untuk gerakan endorotasi dengan
luas gerak sendi antara 30-35. Sedangkan untuk eksorotasi
antara 40-45 dari posisi awal mid posisi, gerakan ini terjadi pada
posisi lutut fleksi 90 (Wijianto, 2009).
b. Arthrokinematika
Arthrokinematika sendi lutut disaat femur bergerak rolling
dan sliding berlawanan arah disaat terjadi gerakan flexi femur
rolling ke arah posterior dan slidingnya ke arah anterior, saat
gerakan extensi femur rollingnya ke arah anterior dan slidingnya
16

ke posterior. Jika tibia bergerak flexi maupun extensi maka


rolling maupun slidingnya searah (Wijianto, 2009).
2.1.3 Etiologi
Sarnpai saat ini etiologi yang pasti dari osteoarthitis ini belum
diketahui dengan jelas, ternyata tidak ada satu faktor pun yang jelas
sebagai proses destruksi rawan sendi, akan tetapi beberapa faktor
predoposisi terjadinya osteoarthitis telah diketahui. Yaitu antara lain:
1. Usia, merupakan factor tertinggi untuk Osteoarthitis.
2. Obesitas, pada keadaan normal berat badan akan melalui medial
sendi lutut dan akan diimbangi otot paha bagian lateral sehingga
resultan gaya akan melewati bagian tengah/sentral sendi lutut.
Sedangkan pada orang yang mengalami obesitas, resultan gaya
akan bergeser ke medial sehingga beban gaya yang diterima sendi
lutut tidak seimbang.
3. Perkerjaan aktivitas fisik yang banyak membebani sendi lutut akan
mempunyai resiko terserang Osteoarthitis lebih besar.
4. Jenis kelamin, wanita lebih banyak dari pada pria.
5. Faktor hormonal/metabolism, diabetes mellitus berperan sebagai
predisposisi timbulnya penyakit Osteoarthitis. Meskipun belum
ada bukti yang jelas bahwa faktor hormonal terlibat sebagai
penyebab Osteoarthitis (Parjoto, 2002).

2.1.4 Patologi
Pada osteoarthritis yang pertama kali mengalami perubahan adalah
tulang rawan, dimana permukaan sendi tidak beraturan dan
membengkak yang diikuti erosi. Karena tulang rawan sendiri berfungsi
untuk meredam getaran antara tulang. Tulang rawan terdiri atas jaringan
lunak kolagen yang berfungsi untuk menguatkan sendi, proteoglika
yang membuat jaringan tersebut elastis dan carian (70% bagian) yang
menjadi bantalan, pelumas dan pemberi nutrisi.
Kondrosit adalah sel yang tugasnya membentuk proteoglikan dan
kolagen pada rawan sendi. Osteoartritis terjadi akibat kondrosit gagal
mensintesis matriks yang berkualitas dan memelihara keseimbangan
antara degradasi dan sintesis matriks ekstraseluler, hal tersebut
menyebabkan terjadi perubahan pada diameter dan orientasi dari serat
17

kolagen yang mengubah biomekanik dari tulang rawan, sehingga tulang


rawan sendi kehilangan sifat kompresibilitasnya yang unik.
Selain kondrosit, sinoviosit juga berperan pada patogenesis
Osteoartritis, terutama setelah terjadi sinovitis, yang menyebabkan
nyeri dan perasaan tidak nyaman. Sinoviosit yang mengalami
peradangan akan menghasilkan Matrix Metalloproteinases (MMPs) dan
berbagai sitokin yang akan dilepaskan ke dalam rongga sendi dan
merusak matriks rawan sendi serta mengaktifkan kondrosit. Pada
akhirnya tulang subkondral juga akan ikut berperan, dimana osteoblas
akan terangsang dan menghasilkan enzim proteolitik.
Dan juga akan terjadi pencepitan pada kapsu sendi yang membuat
ligamentum penguat sendi menjadi terulur dan mengakibatkan
kemampuan unutuk menjaga stabilitas sendi menjadi menurun.
Keadaan ini berakibat terjadi hipermobile pada persendian lutut. Akibat
hipermobile sendi lutut meniscus menjadi semakin tipis. Dikarenakan
penurunan fungsi ligamentum maka fungsi ligamentum akan diambil
alih oleh otot.
Kerja otot stabilisator lutut akan meningkat sehingga menimbulkan
spasme pada otot tersebut. Keadaan spasme ini akan menghasilkan
iskemik pada jaringan. Iskemik jaringan akan menimbulkan viscous
circle reflek yaitu dampak dari spasme yang terus menerus akan
mengakibatkan penurunan kemampuan otot untuk menjaga stabilisasi
sendi lutut (Maharani, 2007).
Perubahan patologi pada osteoarthritis terdapat proses degradasi,
reparasi dan inflamasi yang terjadi dalam jaringan ikat. lapisan rawan,
sinovium dan tulang subchondral. Perubahan-perubahan yang terjadi
pada Osteoarthritis adalah sebagai berikut:
1. Degradasi tulang rawan sendi, yang timbul sebagai akibat dan
ketidakseimbangan antara regenerasi dan degenerasi rawan sendi
melalui beberapa tahap yaitu fibrasi, pelunakan, perpecahan, dan
pengelupasan lapisan rawan sendi. Proses ini dapat berlangsung
cepat dan lambat. Untuk proses cepat dalam waktu 10-15 tahun
sedang yang lambat 20-30 tahun. Akhirnya permukaan sendi
menjadi botak tanpa lapisan rawan sendi (Parjoto, 2002).
18

2. Osteofit, bersama timbulnya degenerasi tulang rawan sendi.


Selanjutnya diikuti reparasi tulang rawan sendi. Reparasi berupa
pembentukan osteofit ditulang subchondral (Parjoto, 2002).
3. Skrierosis subchondral, pada tulang subchondral terjadi reparasi
berupa sklerosis pemadatan atau penguatan tulang tepat di bawah
lapisan rawan yang mulai rusak (Parjoto, 2002).
4. Sinovitis adalah inflamasi dan sinovium yang terjadi akibat proses
sekunder degenerasi dan fragmentasi. Sinovitis dapat meningkatkan
cairan sendi. Cairan lutut yang mengandung bermacam-macam
enzim akan tertekan ke dalam celah rawan, ini akan mempercepat
proses pengrusakan tulang rawan (Parjoto, 2002).
2.1.4 Tanda Dan Gejala Klinis
Gejala-gejala utama ialah adanya nyeri pada sendi yang terkena,
terutama waktu bergerak. Umumnya timbul secara perlahan-lahan,
mula-mula rasa kaku, kemudian timbul rasa nyeri yang berkurang
saat istirahat. Terdapat hambatan pada pergerakan sendi, kaku pagi,
krepitasi, pembesaran sendi, dan perubahan gaya berjalan. Gejala
khas pada penderita Osteoarthitis:
1. Nyeri merupakan gejala khnik yang paling menonjol, nyeri pada
sendi lutut, nyeri diperberat oleh pemakaian sendi dan menghilang
dengan istirahat.
2. Kaku sendi juga gejala yang juga sering ditemukan biasanya pada
waktu pagi hari atau lama pada keadaan ini aktifitas, kaku pada
pagi hari, nyeri atau kaku sendi timbul setelah immobilitas dalam
waktu yang cukup lama atau bahkan setelah bangun tidur.
3. Keterbatasan lingkup gerak sendi oleh karena secara fungsional
fungsi sendi terganggu oleh berbagai macam masalah seperti nyeri,
spasme otot dan pemendekan otot, Keterbatasan LGS, gangguan ini
semakin bertambah berat dengan sejalan dengan bertambahnya rasa
nyeri.
4. Kelainan bentuk struktur sendi, ini dapat di temukan pada keadaan
penyusun yang lanjut dapat berupa genu valgum maupun genu
valgus. Bila sudah ditemukan instabilitas ligamen menunjukkan
kerusakan yang progresif dan prognosis yang jelek.
19

5. Gangguan aktifitas fungsional yang disebabkan oleh akumulasi


keluhan yang juga ditambah oleh karena menurunnya kekuatan otot
(Isbagyo, 2000).
2.1.5 Faktor penyebab
Ada beberapa Factor penyebab terjadinya osteoarthritis yaitu :
 Usia. Risiko osteoarthritis akan meningkat seiring bertambahnya
usia seseorang, khususnya bagi mereka yang berusia di atas 50
tahun.
 Jenis kelamin. Wanita lebih sering mengalami osteoarthritis
dibandingkan pria.
 Cedera pada sendi. Sendi yang mengalami cedera atau pernah
menjalani operasi memiliki kemungkinan osteoarthritis yang lebih
tinggi.
 Obesitas. Berat badan yang berlebihan menambah beban pada
sendi sehingga risiko osteoarthritis menjadi lebih tinggi.
 Faktor keturunan. Risiko osteoarthritis diduga bisa diturunkan
secara genetika.
 Menderita kondisi arthritis lain, misalnya penyakit asam urat atau
rheumatoid arthritis.
 Cacat tulang, seperti pada tulang rawan atau pembentukan sendi.
 Pekerjaan atau aktivitas fisik yang membuat seseorang mengalami
penekanan di titik tertentu secara terus-menerus.

2.1.6 Diagnosis
Diagnosis osteoarthritis sendi lutut umumnya didasarkan pada
gabungan gejala klinis dan perubahan radiografi. Gejala klinis perlu
diperhatikan oleh karena tidak semua radiografi osteoarthritis sendi
lutut mempunyai keluhan sendi (Parjoto, 2000).
Pada kasus ini apabila tidak mendapat penanganan yang baik dan
tepat , maka memerlukan berbagai masalah baru yang terjadi akibat
proses penyakit itu sendiri, Seperti adanya spur (osteofit) sehingga
terjadi proses penghancuran tulang rawan sendi. Tulang subkondral
lama kelamaan dapat menusuk pada metafisis dari tulang tibia dan
tulang femur sebagai akibatnya terjadi komplikasi meniscus
quadriceps femoris, menurunya ketahan struktur dan komplikasi
20

beribadah, jongkok, duduk, berdiri dan berjalan (ACR, 2012). Ada


beberapa test yang digunakan untuk mendiagnosa osteoarthritis yaitu :
a. Tes Ballottement
Tes ini untuk melihat apakah ada cairan di dalam lutut. Pada
pemeriksaan posisi tungkai full ekstensi. Prosedurnya, recessus
suprapatellaris di kosongkan dengan menekannya satu tangan, dan
sementara itu dengan jari tangan lainnya patella ditekan ke bawah.
Dalam keadaan normal patella itu tidak dapat ditekan ke bawah:
dia sudah terletak di atas kedua condylus dari femur. Bila ada
(banyak) cairan di dalam lutut, maka patella sepertinya terangkat,
yang memungkinkan adanya sedikit gerakan. Kadang-kadang
terasa seolah olah patella mengetik pada dasar yang keras hasilnya:
(+) sedikit/tidak adanya gerakan
(-) adanya gerakan
b. Tes Laci Sorong
Tes laci sorong ada dua macam yaitu tes laci sorong kedepan
untuk ligament cruciatum anterior dan tes laci sorong kebelakan
untuk ligament cruciatum posterior.
Cara pemeriksaannya adalah pasien berbaring terlentang dengan
satu tungkai lurus dan satu tungkai yang dites dalam keadaan fleksi
lutut, dimana telapak kaki masih menapak pada bidang. Kedua
tangan terapis memfiksasi pada bagian distal sendi lutut kemudian
memberikan tarikan dan dorongan hasilnya adalah :
(+) adanya gerakan kedepan dan kebelakang
(-) tidak adanya gerakan kedepan dan kebelakang
c. Hipermobilitas Varus
Tes ini ditujukan untuk mengetahui stabilitas dari sendi lutut
oleh ligamen collateral lateral. Cara pemeriksaannya adalah pasien
berbaring terlentang dengan salah satu tungkai yang hendak
diperiksa berada di luar bed, salah satu tangan terapis berada di sisi
medial sendi lutut dan tangan yang lain berada di sisi luar sendi
pergelangan kaki untuk memberikan tekanan ke arah dalam atau
luar hasilnya adalah :
21

(+) adanya gerakan


(-) tidak adanya gerakan
d. Hipermobilitas Valgus
Tes ini ditujukan untuk mengetahui lesi ligamen collateral
medial. Cara pemeriksaannya sama dengan tes hipermobilitas
varus hanya saja posisi salah satu tangan terapis berada di sisi
lateral sendi lutut dan tangan yang lain berada di sisi dalam sendi
pergelangan kaki yang berfungsi untuk memberikan tekanan ke
arah dalam atau luar hasilnya adalah :
(+) adanya gerakan
(-) tidak adanya gerakan
e. Pemeriksaan Luas Gerak Sendi (LGS)
Pemeriksaan luas gerak sendi (LGS) menggunakan geneometer,
pencatatan dinilai dengan menulis bidang gerak ditempat gerak
tersebut terjadi (sagittal, frontal, transfersal dan rotasi) sedangkan
pada lutut termasuk pada bidang gerak sagittal, yaitu gerakan fleksi
dan ekxtensi.
Menurut America Collage Of Reumatology gambaran khas
osteoarthritis adalah adanya osteosif dan penyempitan celah sendi.
Berdasarkan pemeriksaan radiologis yaitu :
Grade 0 : Normal, tidak tampak adanya tanda-tanda osteoarthritis
pada radiologis.
Grade 1 : Ragu-ragu tanpa osteofit.
Grade 2 : Ringan, osteofit yang pasti, tidak terdapat ruang antara
sendi.
Grade 3 : Osteofit sedang, terdapat ruang antara sendi yang cukup
sedang.
Grade 4 : Berat atau parah, osteofit berat, terdapat ruang antara sendi
yang lebar dengan sklerosis pada tulang subcondral.
2.1.7 Teknologi Intervensi Fisioterapis

Penanganan yang efektif pada penderita osteoarthitis sendi lutut


menyangkut pengurangan nyeri dan menambah luas gerak sendi
22

adalah dengan modalitas : transcutaneous electrical nerve stimulation


(TENS) dan ultrasound diathermy (US)
Berikut ini penulis paparkan atau perdalam tinjauan teoritas
modalitas yang penulis gunakan dalam menangani kasus osteoarthitis
sendi lutut yaitu
1. Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)
merupakan suatu cara penggunaan energi listrik yang
digunakan untuk merangsang sistem saraf dan peripheral
motor yang berhubungan dengan perasaan melalui permukaan
kulit dengan penggunaan energi listrik dan terbukti efektif
untuk merangsang berbagai tipe nyeri. Transcutaneous
electrical nerve stimulation (TENS) mampu mengaktivasi baik
syaraf berdiameter besar maupun kecil yang akan
menyampaikan berbagai informasi sensoris ke saraf pusat.
Kondisi osteoathritis menggunakan transcutaneous electrical
nerve stimulation (TENS) konvensional dengan pulsa pendek
sekitar 50 µs pada 40-150 Hz, dengan frekuensi tinggi dan
intensitas rendah berdurasi 200 msec. Tipe konvensional dapat
mengurangi nyeri dalam waktu 10–15 menit dengan lama
pemberian antara 30 menit. Intensitas rendah akan
menstimulasi serabut Aβ untuk menginhibisi nyeri dengan
pain gate mechanism.

a. Indikasi Transcutaneous electrical nerve stimulation (TENS)


1) Trauma musculoskeletal (akut/kronik)
2) Nyeri kepala
3) Nyeri pasca operasi
4) Nyeri pasca melahirkan
5) Nyeri miofasial
6) Nyeri visceral
7) Nyeri berhubungan dengan sindroma sensoris
8) Nyeri psikogenik
9) Sindroma kompresi neuvaskuler
b. Kontraindikasi Transcutaneous electrical nerve stimulation
(TENS)
a) Keganasan
23

b) Pendarahan
c) Pasien ketergantungan pada alat pacu jantung
d) Luka terbakar yang besar
e) Infeksi
f) Gangguan sensoris
g) Bahan metal

2. Ultrasound(US)
Ultrasound adalah peristiwa getaran mekanik dengan bentuk gelombang
longitudinal yang berjalan melalui media tertentu. Proses fisika US yang
terjadi di dalam medium menurut (Sujatno, 2002). Efek-efek biofisik US:
a) Efek mekanik
Efek yang pertama kali didapat oleh tubuh adalah efek mekanik.
gelombang ultrasound menimbulkan peregangan dan perapatan
didalam jaringan dengan frekuensi yang sama dengan frekuensi dari
ultrasound. Efek mekanik ini juga disebut dengan micro massage.
Pengaruhnya terhadap jaringan yaitu meningkatkan permeabilitas
terhadap jaringan dan meningkatkan metabolisme (Sujatno, 2002)
b) Efek thermal
Panas yang dihasilkan tergantung dari nilai bentuk gelombang yang
digunakan, intensitas dan lama pengobatan. Yang paling besar yang
menerima panas adalah jaringan interfaces. Efek thermal akan
memberikan pengaruh pada jaringan yaitu sama seperti yang
ditimbulkan oleh panas yang lain seperti MWD (Sujatno, 2002).
24

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Osteoarthritis merupakan gangguan pada sendi yang bergerak, gangguan ini dapat
bersifat kronik, berjalan progresif lambat, tidak meradang dan seakan-akan proses
penuaan dari rawan sendi yang menglami kemunduran atau degenerasi disertai
dengan pertumbuhan tulang baru. peran fisioterapis dibutuhkan untuk membantu
pemulihan pasien, bahwa fisioterapi adalah bentuk pelayanan kesehatan yang
ditujukan kepada individu dan atau kelompok untuk mengembangkan,
memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan
dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak. pelatihan
fungsi dan komunikasi, fisioterapis menggunakan modalitas ultrasound dan TENS
yang bertujuan memberikan efek elektroterapeutik dan mekanis.

3.2 SARAN
25

Mengingat bahwa osteoartritis merupakan penyakit degenerasi yang


biasanya dijumpai terutama pada orang-orang di atas umur 40 tahun, maka
hendaknya penanganan atau pencegahan harus dilakukan sejak dini.
Saran yang dapat penulis kemukakan di sini adalah sebagai berikut:
1. Saran bagi pasien, agar biasa lebih hati-hati dalam beraktivitas khususnya
yang banyak menggunakan sendi lutut, pasien diminta memakai decker
terutama pada saat beraktivitas bila terasa nyeri sebaiknya di kompres dengan
air hangat selain menjalani terapi yang teratur, latihan di rumah juga lebih
baik dalam menentukan keberhasilan pasien dan kesabarannya juga
diperlukan untuk mendapatkan hasil dari pasien yang diinginkan.
2. Kepada masyarakat, hendaknya tetap menjaga kesehatan dan kebugaran
melalui aktivitas yang seimbang dan apabila merasakan nyeri yang
berkelanjutan pada sendi dengan disertai atau tanpa adanya rasa kaku,
hendaknya segera diperiksakan ke dokter atau tim medis lain.
3. Kepada pemerintah, kami menghimbau agar pelayanan fisioterapi pada
tingkat pusat pelayanan masyarakat ditingkat bawah lebih ditingkatkan,
sehingga masyarakat dapat memperoleh pelayanan fisioterapi dengan
peralatan yang memadai. Akhirnya, walaupun penyakit osteoartritisini
bersifat progresif seiring dengan usia dan tidak dapat dihambat, namun
demikian upaya tim media dalam hal ini fisioterapis sedapat mungkin pasien
mempertahankan kualitas hidup pasien dengan tetap melakukan aktivitas
sehari-hari tanpa ketergantungan dari orang lain.
26

DAFTAR PUSTAKA

(A. Zuitunah, S.Hut,2002).http://library.usu.ac.id/download/fk/anatomi-fitriani.pdf

(diakses pada tanggal 19/Mei/2017).


(DepkesRI,2010).http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/31643/C
hapter%20I.pdf?sequence=5 (diakses pada tanggal 16/Mei/2017).
(Famim Setiawan, 2014)
https://www.academia.edu/8993355/Biomedik_Anatomi_dan_Fisiologi
(diakses pada tanggal 27/Mei/2017).
http://kliksma.com/2015/04/bagian-bagian-tulang-dari-lutut-dan-kaki.html
(diakses pada tanggal 20/Mei/2017).
https://www.academia.edu/7263720/Askep_osteoartritis (diakses pada tanggal
30/Mei/2017).
(Inawati,2010).http://elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/jurnal/Vol1.no2.Juli2010/O
steoartritis.pdf (diakses pada tanggal 16/Mei/2017).
(Jim Mazzara, 2010)
http://shoulderville.blogspot.co.id/2010/10/anatomy-and-function-of-
menisci.html (diakses pada tanggal 22/november/2017)
Joghataei MT et al. The Effect of Cerv ical Traction Combined with Conventional
Therapy on Grip Strength on Patients with Cervical Radiculopathy. Clin Rehabil.
University of Medical Science, Tehran. 2004;18(8):879-87. (diakses pada
tanggal 16/Mei/2017).
(Maharani, Eka pratiwi, 2007)
https://core.ac.uk/download/pdf/11717038.pdf (diakses pada tanggal
30/Mei/2017).

(M.Irfan,Riska Gahara, 2006).


27

http://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Journal-3989-Irfan.pdf(diakses
pada tanggal 19/Mei/2017).
Parjoto, Slamet, 2002; Assesment Fisioterapi pada Osteoarthritis Sendi Lutut;
TITAFI XV Semarang (diakses pada tanggal 30/Mei/2017).
Parsetyo Husada (1996). Tematologi. Surakarta: Akademi Fisioterapi Depkes Ri.
Surakarta Semarang (diakses pada tanggal 30/Mei/2017).
(Putu Imyati,Gede Kembayan,2013).
http://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/viewFile/5815/4377(diakses
pada tanggal 19/Mei/2017).
(R. Jones, 2009)
https://lyrawati.files.wordpress.com/2008/07/sistem-pembuluh-daraf-perifer
-nita.pdf (diakses pada tanggal 28/Mei/2017).
(sukma wati, 2015)
http://sukma08nov.blogspot.co.id/2015/01/asuhan-keperawatan-pada-anak-
dengan.html (diakses pada tanggal 22/november/2017)
(Wijianto. 2009)
Osteokinematik dan atrokinematik bomekanika sendi lutut jurusan
fisioterapi muhammadiyah Surakarta (diakses pada tanggal 28/Mei/2017).