Anda di halaman 1dari 37

Sebab Terjadinya Klaim ke owner

1. Informasi desain yang kurang tepat.


2. Informasi desain yang tidak sempurna.
3. Investigasi lokasi yang tidak sempurna
4. Reaksi klien terlambat
5. Komunikasi yang buruk
6. Sasaran waktu yg tidak realistis
7. Administrasi kontrak tidak sempurna
8. Kejadian eksternal yg tidak terkendali
9. Informasi tender yg tidak lengkap
10. Alokasi resiko yang tidak jelas
11. Keterlambatan – ingkar membayar

Sebab Klaim ke Penyedia Jasa

1. Pekerjaan cacat
2. Keterlambatan oleh penyedia jasa
Sebab – sebab umum
Komunikasi antara pengguna jasa dan penyedia jasa buruk; Administrasi kontrak yang tidak mencukupi; Sasaran
waktu yang tidak terkendali; Kejadian eksternal yang tidak terkendali; Kontrak yang artinya mendua.
Sebab – sebab dari pengguna jasa
Informasi tender yang tidak lengkap/sempurna mengenai desain, bahan, spesifikasi; Penyelidikan site yang tidak
sempurna/perubahan site; Reaksi/tanggapan yang lambat; Alokasi risiko yang tidak jelas; Kelambatan pembayaran;
Larangan metode kerja tertentu.
Sebab - sebab dari penyedia jasa
Pekerjaan yang cacat/mutu pekerjaan buruk; Kelambatan penyelesaian; Klaim tandingan/perlawanan klaim;
Pekerjaan tidak sesuai spesifikasi; Bahan yang dipakai memenuhi syarat garansi.

Jenis-jenis klaim
a. Klaim tambahan biaya dan waktu; Diantara beberapa jenis klaim, akan ditinjau 2 (dua) jenis klaim
yang sering terjadi yaitu klaim yang timbul akibat keterlambatan penyelesaian pekerjaan. Klaim jenis ini
biasanya mengenai permintaan tambahan waktu dan tambahan biaya.
b. Klaim biaya tak langsung (Overhead); Selain itu terdapat pula jenis klaim lain sebagai akibat
kelambatan tadi, klaim atas biaya tak langsung (overhead). Penyedia jasa yang terlambat menyelesaikan
suatu pekerjaan karena sebab-sebab dari pengguna jasa, meminta tambahan biaya overhead dengan
alasan biaya ini bertambah karena pekerjaan belum selesai.
c. Klaim tambahan waktu (tanpa tambahan biaya); Walaupun klaim kelembatan kelihatannya
sederhana saja, namun dalam kenyataannya tidak demikian. Misalnya penyedia jasa hanya diberikan
tambahan waktu pelaksanaan tanpa tambahan biaya karena alasan-alsan tertentu.
d. Klaim kompensasi lain; Dilain kejadian penyedia jasa selain mendapatkan tambahan waktu
mendapatkan pula kompensasi lain.

KLAIM KONSTRUKSI

DAN PENYELESAIAN SENGKETA KONSTRUKSI

Oleh :

Ir. H. Nazarkhan Yasin

1. Pendahuluan.
Di negara-negara Barat dimana Industri Jasa konstruksi sudah berkembang dengan pesat dan menggunakan
teknologi yang serba canggih, masalah klaim sudah lama dikenal dan sudah merupakan suatu masalah biasa
yang terjadi antara Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa.

Para Penyedia Jasa di negara-negara tersebut bersaing sangat ketat satu sama lain
dalam usaha memenangkan tender untuk mendapatkan suatu pekerjaan. Hampir
semua Penyedia Jasa menguasai teknologi dan seluk beluk Jasa Konstruksi sehingga
perbedaan harga penawaran pada waktu tender tidak lagi karena perbedaan harga
suatu pekerjaan tetapi karena persaingan dalam efisiensi mengerjakan pekerjaan
tersebut.

Dengan kata lain, perusahaan jasa konstruksi yang paling efisienlah yang dapat
menekan harga suatu pekerjaan sehingga menjadi murah yang memungkinkannya
memenangkan tender, bukan karena perbedaan mutu pekerjaan itu sendiri.

Akhir-akhir ini persaingan harga karena efisiensi inipun sudah semakin ketat
sehingga harga penawaran yang masuk hampir-hampir sama nilainya.

Oleh karena itu beberapa perusahaan Jasa Konstruksi mencari keuntungan bukan
dari efisiensi tapi dari kejeliannya melihat peluang klaim yang besar pada waktu
tender.

Setelah dia yakin bahwa peluang klaim tersebut cukup besar memberikan
keuntungan maka harga penawarannya pada waktu tender ditekan sehingga jauh
dibawah penawaran lain, sehingga dia menang. Setelah menang tender dia menyusun
struktur klaim yang memang sudah direncanakan.

Di Perancis ada 2 perusahaan besar yang demikian jelinya menyusun klaim, sampai-
sampai dijuliki “Claim Artist”.

Salah satu perusahaan tersebut memenangkan tender pembangunan Pembangkit


Listrik Tenaga Air di Indonesia dengan harga yang jauh di bawah perusahaan lain.
Kabarnya klaim yang diajukan dan diterima nilainya setelah ditambah dengan nilai
kontraknya lebih tinggi dari nilai Penawar lain yang kalah.

Bagaimana masalah klaim di Indonesia ?

Kita di Indonesia terlanjur banyak yang mengartikan klaim sebagai suatu tuntutan.
Oleh karena itu klaim menjadi sesuatu yang “tabu”.

Banyak Pengguna Jasa (Pemerintah) yang kurang senang apabila Penyedia Jasa
mengajukan klaim. Tidak jarang terjadi Penyedia Jasa tersebut pada kesempatan
berikut tidak disertakan lagi dalam tender karena sering mengajukan klaim. Inilah
sebabnya di Indonesia sampai ditahun-tahun delapan puluhan sampai awal tahun
sembilan puluhan Penyedia Jasa “takut” mengajukan klaim.

Padahal sebagaimana akan kita lihat dalam uraian selanjutnya arti sesungguhnya
dari klaim tak lebih dari suatu permintaan.
Dalam uraian selanjutnya akan kita bahas pertama-tama mengenai perkembangan
klaim di tanah air kita, kemudian dilanjutkan dengan cara pengelolaan klaim,
pengertian klaim, kategori klaim dan sebab-sebab timbulnya klaim. Juga akan
diuraikan cara-cara menyelesaikan sengketa konstruksi melalui arbitrase.

2. Perkembangan Klaim di Indonesia.

Berbicara mengenai perkembangan klaim di Indonesia, kita perlu menengok secara singkat perkembangan
Industri Jasa Konstruksi itu sendiri .

Sejak kita merdeka, perkembangan Jasa Konstruksi dapat kita bagi dalam 5 periode, yaitu :

2.1 Periode 1945 - 1950

2.2 Periode 1951 - 1959

2.3 Periode 1960 - 1966

2.4 Periode 1967 - 1996

2.5 Periode 1997 - 2002

2.1 Periode 1945 - 1950

Dalam periode ini yang merupakan periode awal kemerdekaan, Industri Jasa Konstruksi belum lahir. Kita di
sibukkan dengan pergolakan fisik melawan Belanda yang ingin kembali menjajah kita. Pelbagai
hasilperundingan yang dicapai seperti Linggarjati, Renville, Rum-Royentidak membuahkan hasil yang
diharapkan. Barulah setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) kita bebas dari gangguan pihak Belanda.
Praktis pada periode ini kita belum dapat membangun.

2.2 Periode 1951 - 1959

Dalam periode inipun kita praktis belum mulai membangun karena sistim
ketatanegaraan yang kita pakai menyebabkan pemerintahan tidak pernah
stabil (Kabinet berganti-ganti dalam hitungan bulan) disamping adanya
gangguan dari golongan separatis seperti DI, TII, PRRI, Permesta. Pemerintah
belum mempunyai rencana pembangunan yang definitif.

2.3 Periode 1960 - 1966

Dalam periode ini sistim ketatanegaraan kita melaui Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 kembali ke UUD
1945. Presiden Soekarno mulai melakukan pembangunan yang dikomandoi sendiri. Kita catat beberapa
pembangunan Hotel megah (Indonesia, Samudera Beach, Ambarukmo, Bali Beach), Jembatan Semanggi,
Wisma Nusantara, Gelora Bung Karno, Proyek Ganefo (sekarang Komplek MPR/DPR). Sayangnya proyek-
proyek tersebut tidak banyak bermanfaat untuk rakyat banyak kecuali Bendungan Jatiluhur, Karangkates,
Asahan. Industri Jasa Konstruksi mulai bangkit namun terbatas pada perusahaan-perusahaan Belanda yang
di nasionalisasikan.

Persaingan belum ada karena Proyek langsung ditunjuk Presiden. Klaim


konstruksi tidak pernah ada. Sektor swasta baru mulai satu dua perusahaan.
2.4 Periode 1967 - 1996

Dalam periode ini kita untuk pertama kali mempunyai program pembangunan
yang terarah dan berkesinambungan yang dikenal dengan istilah Repelita
(Rencana Pembangunan Lima Tahun) dimulai tahun 1969.

REPELITA I : 1969 - 1974

REPELITA II : 1974 - 1979


REPELITA IIII : 1979 - 1984

REPELITA IV : 1984 - 1989

REPELITA V : 1989 - 1994

Dapat dikatakan dalam periode inilah mulai tumbuh industri jasa konstruksi secara
definitif. Perusahan-perusahan Belanda yang diambil alih pada tahun 1959 dan
berstatus Perusahaan Negara (PN) diubah statusnya menjadi Persero.
Pekerjaan tidak lagi dibagi tapi ditenderkan. Mulailah persaingan antar BUMN. Kemudian swastapun mulai
bangkit, termasuk swasta asing. Proyek-proyek banyak yang menggunakan dana dari luar negeri.

Teknologi sudah semakin maju. Jenis kontrak beragam namun klaim


konstruksi masih jarang terjadi, baru dari pihak swasta asing.

2.5 Periode 1997 – 2002.

Dalam periode ini Industri Jasa Konstruksi benar-benar lumpuh. Akibat krisis
moneter pertengahan 1997 banyak proyek terbengkalai. Pengguna Jasa tak
mampu membayar Penyedia Jasa. Klaim-klaim konstruksi mendadak banyak
bermunculan terutama karena Penyedia Jasa tidak dibayar.

Industri Jasa Konstruksi yang telah tumbuh dan berkembang demikian


pesatnya selama kurun waktu 32 tahun berhenti secara mendadak. Banyak
Penyedia Jasa yang ambruk/bangkrut. PHK terjadi dimana-mana.

Ditengah-tengah kelumpuhan Industri Jasa Konstruksi, Pemerintah membuat


Undang-Undang No. 18/1999 tentang jasa konstruksi beserta 3 peraturan
pelaksanaannya ; PP No. 28/ 2000, PP No. 29/ 2000 tentang Arbitrase dan
Alternatif Penyelesaian Sengketa. Ini suatu ironi. Dahulu selama 32 tahun
Industri Jasa Konstruksi berkembang tanpa ada peraturan-peraturan
yang baku. Sekarang pada saat Industri Jasa Konstruksi berhenti justru dibuat
peraturan perundangan sebagai rujukan.

Dari uraian tersebut diatas dapatlah disimpulkan bahwa walaupun Industri


Jasa Konstruksi di negeri kita telah berkembang selama + 32 tahun klaim
konstruksi baru mulai muncul beberapa tahun terakhir (awal tahun 1997).

3. Pembahasan Klaim Konstruksi.


3.1 Umum.

3.1.1 Klaim konstruksi dapat terjadi antar para pihak yang berkontrak. Tegasnya klaim mungkin saja datang
dari pihak Penyedia Jasa kepada Pengguna Jasa atau sebaliknya. Jadi tidak benar bila klaim hanya datang
dari pihak Pengguna Jasa atau sebaliknya hanya Pengguna Jasa yang boleh mengajukan klaim.

3.1.2 Disamping itu klaim dapat juga terjadi dari pihak lain diluar kontrak seperti Konsultan
Pengawas/Perencana, para Sub Penyedia Jasa terhadap Pengguna Jasa atau Penyedia Jasa.

3.1.3 Arti klaim sesungguhnya adalah permintaan/permohonan mengenai biaya, waktu dan atau kompensasi
pelaksanaan diluar ketentuan tercantum dalam kontrak konstruksi. Jadi adalah suatu kekeliruan/salah
pengertian yang menganggap klaim adalah suatu tuntutan. Memang benar klaim adakalanya berakhir dengan
suatu tuntutan baik melalui suatu Badan Peradilan atau Lembaga Arbitrase apabila permintaan tersebut
tidak dikabulkan.

3.1.4 Pengajuan klaim dapat dengan berbagai cara dan yang paling sederhana berupa permintaan lisan
sampai dengan permintaan yang disusun secara tertulis lengkap dengan data pendukungnya.

3.1.5 Para pihak didalam suatu kontrak konstruksi lebih menyukai pemecahan secara damai tanpa melalui
Badan Peradilan. Mereka menginginkan terdapat keputusan yang cepat, karena penyelesaianmelalui
Pengadilan disamping memakan waktu dan biaya, permasalahannya semakin terbuka untuk umum.
Penyelesaian melalui Arbitrase lebih disukai karena disamping waktu lebih pendek, para arbiter dapat dipilih
yang profesional dan keputusannya adalah final dan mengikat para pihak. Upaya hukum dalam bentuk
apapun bila telah keluar keputusan arbitrase tidak diperkenankan (berbeda dengan Pengadilan yang
memungkinkan banding, kasasi atau Peninjauan Kembali).

3.1.6 Mengenai klaim ini Robert D. Gilbreath dalam bukunya yang berjudul MANAGING CONSTRUCTION
CONTRACTS pada halaman 203 - 204 menulis sebagai berikut :

“KLAIM-KLAIM

Dalam konteks suatu kontrak konstruksi, kedua belah pihak dapat mengajukan klaim satu sama lain.

1. Penyedia Jasa boleh mengajukan tambahan waktu pelaksanaan atau tambahan


kompensasi dari Pengguna Jasa, atau beberapa konsesi seperti pengurangan dari
persyaratan teknis atau spesifikasi bahan.

2. Pengguna Jasa boleh klaim pembebasan dalam pengertian pengurangan nilai kontrak dan
atau percepatan atau penundaan dari pelaksanaan Penyedia Jasa.

Tentu saja, banyak pihak lain baik secara terikat kontrak atau lainnya boleh mengajukan klaim satu sama lain
baik kepada Pengguna Jasa atau Penyedia Jasa, termasuk para Sub-Penyedia Jasa Konstruksi Perencana atau
konsultan hukum.

Pembicaraan kita dititik beratkan pada klaim-klaim yang paling biasa selama masa pelaksanaan - dari Penyedia
Jasa kepada Pengguna Jasa atau sebaliknya. Prinsip-prinsip yang sama dari pembelaan atau pengajuan klaim
yang disajikan disini juga digunakan pada mayoritas dari keadaan klaim-klaim lainnya.

Klaim tidak lebih dari suatu permintaan atau pemohonan mengenai biaya, waktu atau kompensasi pelaksanaan
atas sesuatu yang telah diberikan atau dimaksud dari salah satu pihak dalam kontrak kepada pihak lain.
Klaim-klaim dapat disajikan dalam setiap macam bentuk, mulai dari yang tidak resmi atau bahkan permintaan
lisan sampai kepada paket dokumen klaim yang disusun secara rapi.

Kesalahan konsep yang biasa terjadi adalah klaim itu secara alamiah adalah berupa tuntutan hukum dengan
pengertian salah satu pihak menggugat pihak lain atas suatu kerusakan dalam rasa hukum. Sebetulnya bukan ini
kasusnya.

Walaupun beberapa klaim memburuk sampai suatu titik dimanapermintaan membutuhkan tindakan hukum atau
arbitrase, kebanyakan diselesaikan jauh sebelum hal ini terjadi.

Kebanyakan mayoritas klaim yang diprakarsai oleh Pengguna/ Penyedia Jasa diselesaikan melalui perundingan
mematuhi ketentuan-ketentuan atau pendekatan yang disetujui bersama mengenai waktu dan biaya pelaksanaan
antara Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa.

Dalam daerah hukum dan ancaman hukum, kebanyakan Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa menyadari
penyelesaian tanpa melalui jalur hukum sangat lebih dikehendaki. Kedua belah pihak biasanya menderita jika
klaim berlangsung atau dialihkan kedalam tuntutan hukum.

Tujuan setiap orang yang bersangkutan haruslah mengerti situasi klaim secepatnya dan menyelesaikannya
selekas mungkin.

Bagi para Pengguna Jasa tuntutannya mungkin lebih sederhana :

Apakah anda lebih suka mendapatkan penyelesaian proyek atau memaksakan klaim lewat pengadilan ?.

Kebanyakan para Pengguna Jasa yang layak akan memilih yang tersebut pertama. (Terjemahan bebas N. Yasin)

3.2. Kategori Klaim.

Sebagaimana telah disinggung dalam butir 3.1, klaim dapat terjadi dari Pengguna Jasa terhadap Penyedia
Jasa atau sebaliknya. Berdasarkan hal ini klaim dapat dikategorikan dalam 2 hal yaitu :

3.2.1 Dari Pengguna Jasa terhadap Penyedia Jasa berupa :

a. Pengurangan nilai kontrak

b. Percepatan waktu penyelesaian pekerjaan

c. Kompensasi atas kelalaian Penyedia Jasa

3.2.2 Dari Penyedia Jasa terhadap Pengguna Jasa berupa :

a. Tambahan waktu pelaksanaanpekerjaan

b. Tambahan kompensasi

c. Tambahan konsesi atas pengurangan spesifikasi teknis atau bahan.

3.3 Sebab-sebab timbulnya Klaim.


Sesungguhnya dalam Industri Jasa Konstruksi, klaim adalah suatu hal yang sangat wajar terjadi. Di negara
Barat yang Industri Jasa Konstruksinya sudah berkembang dan para pelaku Industri Jasa
Konstruksi menyadari betul arti sebuah klaim, maka hal ini menjadi biasa.

Sebagai ilustrasi, sewaktu bertugas di Saudi Arabia terasa asing dikuping sewaktu Pengguna Jasa
menanyakan : “Do you have any claim to us ?”

Di Indonesia hampir tak pernah ada Pengguna Jasa yang bertanya seperti kejadian di Saudi Arabia tersebut.

Hal ini tak lain karena salah pengertian mengenai arti sesungguhnya dari klaim sehingga dianggap sesuatu
yang “tabu”.

Jadi sebagaimana dengan perubahan pekerjaan, klaim dapat berasal dari mana saja. Walaupun ada beberapa
sebab timbulnya klaim, tetapi hampir semuanya memiliki dasar dalam tindakan atau pengurangan dari salah
satu pihak dalam kontrak namun dapat juga yang kurang sering terjadi seperti sebab-sebab dari pihak ketiga,
tindakan/keinginan Tuhan atau hal lain yang menyebabkan pihak yang mengajukan klaim pihak yang
mengajukan klaim menderita rugi.

Dalam pelatihan ini kita batasi sebab-sebab timbulnya klaim antara para pihak dalam suatu kontrak
konstruksi yaitu antara Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa.

3.3.1 Dari pihak Pengguna Jasa

a. Pekerjaan yang dilaksanakan Penyedia Jasa cacat atau kurang sempurna.

b. Penyedia jasa terlambat menyelesaikan pekerjaan sesuai kontrak

c. Pemutusan kontrak

3.3.2 Dari pihak Penyedia Jasa

a. Kelambatan atau cacat informasi yang harus diserahkan Pengguna Jasa


seperti gambar-gambar atau spesifikasi.

b. Kelambatan atau cacat dari bahan atau peralatan yang harus disediakan
Pengguna Jasa.

c. Perubahan ketentuan-ketentuan, gambar-gambar atau spesifikasi teknis.

d. Perubahan atau keadaan lapangan yang tidak diketahui

e. Reaksi dari pengaruh pekerjaan yang berturutan.

f. Larangan metode kerja tertentu termasuk kelambatan atau percepatan dari


pelaksanaan proyek.

g. Kontrak yang kurang jelas/perbedaan penafsiran.

Robert D. Gilbreath dalam bukunya : “MANAGING CONSTRUCTION CONTRACT” menulis mengenai


sebab-sebab klaim dihalaman 204 – 205 sebagai berikut :
“SEBAB-SEBAB TERJADI KLAIM
Sebagaimana halnya dengan perubahan-perubahan pekerjaan, klaim-
klaim berasal dari mana saja. Ada banyak sebab-sebab klaim, tetapi hampir
seluruhnya mempunyai dasar dengan dugaan bahwa tindakan-tindakan,
pengurangan-pengurangan, oleh salah satu pihak dalam kontrak atau –
yang kurang sering terjadi oleh pihak ketiga, tindakan-tindakan Tuhan
atau lainnya – menyebabkan pihak yang mengajukan klaim menderita
kerugian. Dalam suatu lingkungan proyek konstruksi yang sangat
kompleks memberikan tekanan waktu dan biaya pada semua pihak dan
menyadari banyak sekali hubungan, tanggung jawab, kewajiban dan saling
ketergantungan sehingga mudah terlihat mengapa klaim-klaim adalah
sama biasanya dengan menggambarkan suatu pemandangan konstruksi
seperti beton dan penulangannya.

Pertama-tama mari kita bahas kasus di mana Pengguna Jasa melakukan


klaim kepada Penyedia Jasa, karena hal ini sangat kurang biasa
dibandingkan situasi klaim yang di bicarakan sebelumnya.

Biasanya Pengguna Jasa mengajukan klaim-klaim terhadap para Penyedia


Jasanya (dan dalam hal tersebut biro teknik atau konsultan lain) salah satu
atau lebih sebab-sebab berikut :

1. Pekerjaan yang cacat.

Para Pengguna Jasa yang tidak puas dengan apa yang dihasilkan Penyedia
Jasa dapat mengajukan klaim atas kerugian termasuk biaya perubahan,
penggantian atau pembongkaran pekerjaan yang cacat. Dalam banyak
kejadian pekerjaan tidak sesuai spesifikasi tersebut dalam kontrak atau
hal lain yang tidak cocok dengan maksud yang di tetapkan. Kadang-
kadang barang-barang atau jasa yang diminta tidak sesuai
garansi/jaminan dari Penyedia Jasa atau pemasoknya.

2. Kelambatan yang disebabkan Penyedia Jasa.

Jika Penyedia Jasa telah berjanji untuk m%laksanakan pekerjaan


tersebut dalam kontrak secara keselurqhan atau sebagian, dalam waktu
yang telah di tetapk!n, Pengguna Jasa dapat mengajukan klaim atas
kerugian bila kelambatan tersebut di sebabkan Penyedia Jasa atau
dalam kejadia. lain, bahkan jika kelambatan tersebut di luar kendAli
dari Penyedia Jasa.

Jenis-jenis klaim kerugian dalam hal ini adalah kehilangan


penggunaan dari fasilitas tersebut, pengaruh reaksi pada Penyedia Jasa
lain dan kenaikan biaya dari pekerjaan lain yang terlambat.

3. Sebagai pembelaan klaim.

Para Pengguna Jasa yang menghadapi klaim-klaim para Penyedia Jasa


dapat membalas dengan klaim tandingan. Klaim tandingan ini biasanya
menyerang atau berusaha memojokkan/mendiskreditkan unsur-unsur
asli dari klaim Penyedia Jasa – dengan membuka hal-hal yang tumpang
tindih atau perangkapan kerugian biaya, atau menyebutkan
perubahan-perubahan atau pasal-pasal klaim dalam kontrak yang
melarang atau modifikasi dari tindakan-tindakanPenyedia Jasa dalam
hal terjadi sengketa umpamanya.

Klaim jenis lain, walaupun jarang terjadi, timbul karena pemutusan


kontrak.

Hal ini biasanya terjadi bila Penyedia Jasa gagal menyelesaikan


pekerjaan atau karena suatu sebab meninggalkan lapangan pekerjaan.

Dalam hal ini biasanya Pengguna Jasa meminta konpensasi untuk


kenaikan biaya di luar yang telah di bayarkan kepada Penyedia Jasa
untuk menyelesaikan pekerjaan dengan cara lain. Para Penyedia Jasa
juga mengajukan klaim kerugian bila merasa mereka secara tidak sah
di keluarkan dari proyek atau hal lain yang menghalangi mereka untuk
menyelesaikan pekerjaan.

Kedua situasi ini muncul bila kontrak secara nyata telah di putuskan
salah satu pihak. Titik berat pembicaraan kita tidak akan sampai pada
contoh yang ekstrim ini karena kita memusatkan perhatian pada
situasi-situasi klaim yang lebih biasa terjadi – yaitu yang muncul
selama masa pelaksanaan pekerjaan dan bila kelanjutan pelaksanaan
kewajiban-kewajiban kontrak oleh kedua belah pihak di pikirkan.

Dalam hal ini, kebanyakan klaim yang di temukan dalam proyek


konstruksi datang dari Penyedia Jasa terhadap Pengguna Jasa karena
satu dan lain sebab – Kasus-kasusnya serupa bila tidak sama, seperti
perubahan-perubahan tidak resmi yang dapat di ringkas sebagai
berikut :

1. Kelambatan atau cacat informasi dari Pengguna Jasa, biasanya


dalam bentuk gambar-gambar atau spesifikasi teknis.

2. Kelambatan atau cacat dari bahan-bahan atau peralatan yang di


serahkan Pengguna Jasa

3. Perubahan-perubahan permintaan, gambar-gambar atau spesifikasi.

4. Perubahan kondisi lapangan atau kondisi lapangan yang tidak di


ketahui

5. Pengaruh reaksi dari pekerjaan yang bersamaan

6. Larangan-larangan metoda kerja tertentu termasuk kelambatan atau


percepatan pelaksanaan pekerjaan Penyedia Jasa.

7. Kontrak yang memiliki arti mendua atau perbedaan penafsiran.


Dalam setiap situasi ini, Penyedia Jasa akan klaim bahwa sesuatu telah
terjadi (atau gagal terjadi), yang menyebabkan tambahan biaya atau
penambahan waktu di luar yang tersebut dalam kontrak, atau yang dapat
secara wajar di harapkan pada waktu penawaran atau penanda tanganan
kontrak (Terjemahan bebas N. Yasin):

3.4. Unsur-Unsur Klaim Konstruksi.

Klaim-klaim konstruksi yang biasa muncul dan paling sering terjadi adalah mengenai
waktu dan biaya sebagai akibat perubahan pekerjaan. Bila pekerjaan di
ubah ketakanlah volume pekerjaan bertambah atau sifat dan jenisnya
berubah maka tidak terlalu sulit untuk menghitung berapa tambahan
biaya yang di minta Penyedia Jasa beserta tambahan waktu.

Namun terkadang Penyedia Jasa, di samping klaim yang di sebutkan tadi juga klaim
sebagai dampak terhadap pekerjaan yang tidak berubah.

Menghitung klaim biaya untuk hal ini tidaklah mudah.

Hal ini dapat di terangkan sebagai berikut : suatu pekerjaan yang tidak di rubah
terpaksa (karena alasan teknis pelaksanaannya) di tunda
pelaksanaannya karena ada pekerjaan lain yang berubah. Pekerjaan
yang tidak berubah tadi seharusnya di kerjakan pada musim kemarau.
Oleh karena terjadi penundaan maka pekerjaan ini terpaksa di
laksanakan dalam musin hujan yang mengakibatkan menurunnya
produktivitas dan perlu tambahan biaya untuk melindungi pekerjaan
tersebut dari pengaruh cuaca (hujan).

Belum lagi kemungkinan terjadi kenaikan upah buruh karena musim hujan tambahan
tenaga pengamanan, biaya administrasi dan overhead.

Masalah ini di kupas oleh Robert D. Gilbreath dalam bukunya


“MANAGING CONSTRUCTION CONTRACTS” 205-207 sebagai
berikut :

“UNSUR-UNSUR KLAIM KONSTRUKSI.

Jika suatu keadaan rangsangan klaim yang telah di terangkan sebelumnya terjadi, Penyedia
Jasa segera memberitahukan Pengguna Jasa mengenai hal itu dan
pengaruh dari masing-masing.

Bila pemberitahuan ini di lakukan dengan menekankan klaim, kebanyakan para Penyedia
Jasa meminta tambahan waktu dan/atau konpensasi untuk (1) kenaikan
biaya untuk melaksanakan perubahan pekerjaan dan (2) “dampak biaya”
pada pekerjaan yang tidak berubah. Dalam banyak kasus di mana situasi
klaim yang bonafide telah terjadi, Penyedia Jasa telah menderita beberapa
kenaikan biaya-biaya (dalam arti waktu, biaya atau keduanya dalam
masing-masing kategori).
Pengguna Jasa boleh menerima atau menolak biaya-biaya langsung untuk melaksanakan
pekerjaan yang di rubah. Akan tetapi, dampak biaya – biaya pada pekerjaan
yang tidak di rubah – tidak mudah untuk di tentukan atau di hitung
biayanya. Mari kita bicarakan dulu biaya-biaya untuk melaksanakan
perubahan pekerjaan. Beberapa biaya yang paling biasa terjadi adalah :

- kenaikan upah tenaga kerja/tambahan atau upah lebih tinggi

- tambahan material dan peralatan yang di perlukan

- tambahan pengawasan, administrasi dan overhead

- kenaikan waktu yang perlu untuk pelaksanaan

- membuka/mengerjakan kembali pekerjaan

- penurunan produktivitas atau efisiensi

- pengaruh cuaca

- catatan mengenai hambatan-hambatan dan kelambatan-kelambatan

- demobilisasi dan remobilisasi

- penanganan material yang berlebihan

- biaya-biaya lembur dan waktu kerja

- lembur yang berlebihan, yang mengarah pada penurunan produktivitas

- salah penempatan peralatan

- kehilangan nilai ekonomi dari material

- penumpukan pada tempat kerja

- de-efisiensi dari jenis pekerjaan.

Untuk dampak biaya-biaya, seluruh hal tersebut di atas dapat diklaim. Bedanya adalah lebih sulit menetapkan
dasar dari dampak dan menghitung kenaikan biaya. Pertanyaan mengenai apakah dampak
biaya dapat dikurangi dengan mudah dapat dikatakan, tapi sulit dijawab: Berapa kenaikan
biaya untuk melaksanakan pekerjaan B dan C setelah pekerjaan A dirubah. Untuk menjawab
pertanyaan ini baik Penyedia Jasa maupun Pengguna Jasa harus menetapkan apa yang
seharusnya menjadi biaya untuk pekerjaan B dan C dan A tidak berubah.

Hal ini membutuhkan analisis kualitatif yang lebih dan seringkali merupakan masalah yang
paling sulit sehubungan dengan dampak biaya.

Cara terbaik untuk melukiskan dampak biaya adalah melalui sebuah contoh. Misalkan Pengguna Jasa
karena satu dan lain hal memperlambat pekerjaan Penyedia Jasa dan menyebabkan penundaan
pekerjaan tersebut yang telah direncanakan untuk dilaksanakan dalam musim panas menjadi
musim dingin. Pekerjaan itu sendiri adalah sama, tetap, toh Penyedia Jasa harus menanggung
biaya sehubungan dengan pekerjaan musim dingin yang seharusnya dilakukan pada musim
panas.

Dampak-dampak biaya dapat termasuk hal-hal berikut:

- Biaya untuk melindungi pekerjaan terhadap cuaca dingin.

- Inefisiensi dalam produksi disebabkan karena para pekerja bekerja dalam


cuaca dingin, dengan perlindungan peralatan yang tidak praktis,
dipermukaan yang licin, dan selama waktu siang yang lebih pendek.

- Biaya-biaya alat pemanas dan bahan bakar untuk melindungi orang dan
untuk pelaksanaan pekerjaan seperti pemanasan untuk beton.

- Kenaikan biaya perawatan peralatan.

- Kerusakan material dan peralatan karena cuaca.

- Ketidakmampuan untuk menjaga angkatan kerja.

- Kehilangan waktu karena suhu yang ekstrim atau kondisi iklim.

- Kenaikan biaya pemondokan dan transpor.

- Kelambatan karena libur Natal.

- Perpanjangan premi asuransi atau pembayaran garansi.

- Kenaikan upah buruh, harga material, peralatan dan biaya overhead


karena inflasi dan eskalasi harga.

(Terjemahan bebas N. Yasin)

3.5. Bentuk/Format Pengajuan Klaim.

Klaim konstruksi dapat beragam dalam bentuk dan isinya.

Walaupun klaim dan perubahan pekerjaan sasarannya sama yaitu meminta kompensasi
atas biaya dan waktu namun sesungguhnya berbeda sifatnya. Kompensasi
atas perubahan pekerjaan diajukan sebelum pekerjaan tersebut
dilaksanakan. Bila tidak/belum disetujui pekerjaan tersebut belum
dilaksanakan. Sedangkan klaim, diajukan pada saat pekerjaan sudah atau
sedang dikerjakan. Biasanya cara pengajuan klaim dimulai dengan
penyampaian fakta mengenai suatu pekerjaan yang ditanyakan,
diantaranya mengenai lokasi pekerjaan, dan analisis biaya.

Kemudian dilengkapi dengan keterangan yang mendukung klaim tersebut dan disusun
berurutan biasanya berdasarkan surat-menyurat antara Pengguna Jasa
dan Penyedia Jasa.
Mengenai cara pengajuan klaim ini Robert D. Gilbreath dalam bukunya: MANAGING
CONSTRUCTION CONTRACTS pada halaman 207 menulis sebagai
berikut:

“STRUKTUR KLAIM PENYEDIA JASA”.

Sebagaimana telah disebut sebelumnya, klaim-klaim Penyedia Jasa dapat bervariasi dalam
bentuk dan isinya. Akan tetapi jenis klaim biasanya mengikuti struktur
sebagai berikut :

1. Keterangan mengenai ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat kontrak


seperti lingkup pekerjaan, struktur pembiayaan yang meliputi bagian
pekerjaan yang ditanyakan.

2. Keterangan mengenai fakta peristiwa yang telah terjadi (atau tidak terjadi)
biasanya disajikan secara kronologis dan merupakan surat-menyurat,
perintah-perintah perubahan, rapat-rapat, dan sebagainya.

3. Akibat dari keadaan rangsangan klaim, biasanya disajikan sebagai cerita


mengenai kenaikan/tambahan usaha yang diperlukan Penyedia Jasa.

4. Analisa biaya, yang mungkin termasuk rincian daftar kenaikan biaya yang
disebabkan perubahan atau suatu perbandingan antara biaya
sesungguhnya dan biaya yang diperkirakan – perbedaan antara
keduanya menunjukkan jumlah klaim.

Perlu diingat bahwa klaim berbeda dengan perhitungan Penyedia Jasa akibat
pemberitahuan perubahan pekerjaan. Dalam arti yang sangat kaku mungkin
sama, dengan pertimbangan bahwa dalam kedua hal tersebut Penyedia Jasa
menyajikan informasi mengenai tambahan biaya kepada Pengguna Jasa.
Akan tetapi, pengajuan biaya terjadi sebelum pekerjaan dilaksanakan, dan
sebuah klaim biasanya diajukan setelah atau selama pelaksanaan pekerjaan
bersangkutan.

Begitu kenaikan kompensasi atau tambahan waktu disetujui maka klaim harus
berubah menjadi perubahan pekerjaan.

(Terjemahan bebas N. Yasin):

Selain itu Mc. Neil Stokes dalam bukunya: “CONSTRUCTION LAW IN


CONTRACTOR’S LANGUAGE” menulis mengenai prosedur klaim pada
halaman 140-142 sebagai berikut :

“Prosedur Klaim”

Penyedia Jasa harus menyiapkan klaimnya secara tertulis untuk kompensasi tambahan bagi
perubahan yang harganya tidak ditetapkan dalam rincian yang mencukupi
untuk mengajukan secara jelas fakta-fakta yang diperlukan untuk
menunjukkan biaya dan posisinya dimana dia berhak mendapatkan
kenaikan harga kontrak karena perubahan pekerjaan. Tak ada format
tertentu yang diperlukan untuk pengajuan klaim. Akan tetapi klaim tersebut
haruslah ditata/diatur secara logis dan berisi fakta pernyataan klaim dalam
sebanyak mungkin rincian yang diperlukan untuk menyajikan pandangan
Penyedia Jasa, juga harus berisi atau merujuk pada dokumen-dokumen
pokok dan pasal-pasal kontrak, laporan-laporan dari saksi ahli dan foto-foto
dan juga harus berisi dasar hukum dan kontrak dari klaim tersebut untuk
menunjukkan bahwa Penyedia Jasa berhak mendapatkan kenaikan nilai
kontrak.

Banyak Penyedia Jasa dan Sub-Penyedia Jasa mengatakan keprihatinannya pada


pemberitahuan tentang klaim mengakibatkan hubungan jelek dengan
Pengguna Jasa. Sesungguhnya klaim tak perlu menyebabkan perselisihan
jika ditangani dengan benar dan taktis dan jika pihak lain dapat dibuat
mengerti bahwa pemberitahuan tersebut diperlukan sesuai kontrak.

Sebagai tambahan untuk memperkuat klaim mengenai kompensasi tambahan Penyedia


Jasa atau Sub Penyedia Jasa harus mengajukan klaim tambahan waktu yang
diperlukan untuk perubahan pekerjaan dalam batas penyelesaian tersebut
dalam kontrak. Jika Penyedia Jasa atau Sub-Penyedia Jasa melampaui batas
ini, kemungkinan dia akan dikenakan ganti rugi kelambatan. Penyedia Jasa
atau Sub Penyedia Jasa mudah dikenakan ganti rugi kelambatan karena
uangnya dapat dipotong dari pembayaran termijn atau uang retensi.

Kebanyakan Penyedia Jasa dan Sub-Penyedia Jasa diminta berdasarkan kontrak untuk
mengajukan klaim perpanjangan waktu jika proyek terlambat karena suatu
sebab untuk menghindari ganti rugi kelambatan.

Sebagai contoh, jika Pengguna Jasa secara lisan memberitahukan kerja tambah
kepada Penyedia Jasa yang akan menyebabkan penyelesaian pekerjaan
terlambat, Penyedia Jasa harus mengajukan klaim perpanjangan waktu
dalam batas waktu tertentu setelah menerima perintah.

Penyedia Jasa dapat melindungi dirinya mengenai hal ini dengan mengirim
satu surat kepada Pengguna Jasa yang berisi dua pernyataan :

1. Penyedia Jasa telah diperintahkan untuk melaksanakan pekerjaan tambah


(jelaskan disini pekerjaan apa) yang menyebabkan dia menanggung
biaya tambahan. Klaim untuk tambahan biaya akan diajukan kemudian
(atau diajukan sekarang bila dketahui).

2. Pekerjaan tambah tersebut akan memperlambat penyelesaian pekerjaan,


dan Penyedia Jasa mengajukan klaim perpanjangan waktu untuk
melaksanakna pekerjaan tambah.

Jadi, bila proyek terlambat, diperlukan 2 macam klaim - perpanjangan waktu dan
tambahan biaya. Kesalahan yang biasa terjadi dari Penyedia Jasa yang
melaksanakan pekerjaan tambah hanya mengajukan klaim tambahan biaya
dan melalaikan klaim perpanjangan waktu.
Jika perubahan pekerjaan menyebabkan Penyedia Jasa terlambat dan dia lupa minta
perpanjangan waktu maka dia terpaksa mempercepat pekerjaan dengan
biayanya sendiri untuk menghindari ganti rugi atas keterlambatan.

Para Penyedia Jasa Pemerintah harus mematuhi dengan sejujur-jujurnya ketentuan-


ketentuan perundingan yang diatur dalam Armed Services Procurement Act
bila mereka mengajukan klaim-klaim. Menurut peraturan ini, Penyedia Jasa
harus mengajukan biaya atau data harga, menyatakan bahwa data tersebut
akurat/benar, lengkap dan up to date (mutakhir) dan setuju untuk
penyesuaian bila data yang disampaikan tidak akurat.

Beberapa instansi Pemerintah memiliki format rinci untuk menghimpun keterangan-


keterangan klaim yang diperlukan dalam perudingan.

Pengajuan perubahan-perubahan sesuai waktu dapat mencegah kelebihan biaya,


kelambatan dan sakit hati pada proyek.

Untuk menghindari perubahan-perubahan yang terlambat dalam perencanaan


konstruksi, para Pengguna Jasa dapat tertolong dengan secara terus
menerus meninjau kembali perencanaan dan spesifikasi. Perencana dan
Penyedia Jasa dapat juga secara terus menerus meninjau pekerjaan sebelum
dilaksanakan untuk mengurangi sengketa dan perubahan-perubahan pada
saat-saat terakhir.

Makin cepat perubahan dilakukan, makin berkurang biaya.

(Terjemahan bebas N. Yasin):

Sebagai suatu ilustrasi, dalam Pelatihan ini disajikan cara perusahaan Perancis yang
memenangkan tender proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)
yang telah disinggung sebelumnya.

Salah satu klaim perusahaan tersebut, menyangkut pekerjaan pemboran untuk


membuat terowongan pengelak yang panjangnya beberapa ribu meter.
Pada waktu tender, rupanya perusahaan ini telah mengetahui jenis batuan
di lokasi yang akan dibuat terowongan tersebut jauh lebih keras dari yang
tersebut dalam dokumen tender. Hal ini tidak ditanyakan dalam rapat
sebelum pemasukan penawaran (prebid meeting) karena perusahaan
tersebut melihat hal ini suatu peluang besar untuk mengajukan klaim.

Oleh karena itu dia mengajukan penawaran yang harganya di bawah penawaran
lain sehingga dia memenangkan tender tersebut.

Pada waktu melaksanakan pekerjaan terowongan tersebut terbukti dugaan


perusahaan tersebut tidak salah. Mata bor yang dipakai ternyata tidak
mampu menembus batu-batuan dan patah. Pekerjaan segera dihentikan,
mata bor yang patah dan contoh batu-batuan setelah difoto, dikirim
kelaboratorium independen di Perancis. Hasil Laboratorium
menyebutkan dengan pasti kekerasan batuan tersebut menurut Skala
Mohr yang ternyata lebih keras dari kekerasan batu yang tercantum
dalam dokumen tender. Hal inilah yang ditunggu perusahaan tersebut.
Selain itu laporan laboratorium juga merekomendasikan agar dipakai
mesin bor khusus dengan menggunakan mata bor dengan memakai intan.
Hasil penelitian sebab-sebab mata bor itu patah juga membuktikan bahwa
jenis mata bor tersebut patah karena dipakai untuk jenis batuan yang
lebih keras.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas perusahaan itu menyusun klaim tambahan


waktu dan tambahan biaya sebagai berikut :

1. Klaim perpanjangan waktu

a) Waktu demobilisasi mesin bor yang lama

b) Waktu mobilisasi mesin bor yang baru (didatangkan dari Brasilia)

c) Tambahan waktu untuk pekerjaan lain akibat tertundanya


pekerjaan terowongan.

2. Klaim Biaya

a) Biaya mobilisasi mesin bor yang baru

b) Tambahan biaya untuk pengeboran batuan yang lebih keras

c) Biaya tambahan untuk ahli mesin bor yang baru

d) Tambahan biaya overhead karena waktu pelaksanaan bertambah

e) Sewa tambahan untuk sewa peralatan yang idle karena menunggu


mesin bor yang baru

Oleh karena klaim-klaim tersebut didukung data yang akurat, hampir seluruhnya
diterima dan dibayar oleh Pengguna Jasa.

Ditambah dengan klaim-klaim lain maka seluruh klaim (menurut keterangan)


sudah hampir sama dengan nilai kontrak asli

Dari uraian tersebut di atas terlihat bahwa klaim yang berdasarkan data yang
akurat (bukan karangan atau mengada-ada) seharusnya diterima.
Terlihat pula disini bahwa sesungguhnya Pengguna Jasa ikut memberikan
sumbangan pada klaim ini yaitu kekurang telitian menyampaikan data
lapangan sewaktu tender dan ini memang hal yang sering terjadi.

Berdasarkan hal tersebut diatas perusahaan tersebut dijuluki “Claim Artist”.

3.6. Analisis Klaim.

Bila suatu klaim muncul, misalkan dari Penyedia jasa kepada Pengguna Jasa (ini
yang sering terjadi) maka klaim tersebut harus dianalisis dengan cermat.
Pertama-tama Pengguna Jasa harus meneliti apakah klaim tersebut berdasarkan
fakta yang dapat dibuktikan. Kemudian dianalisis dasar hukumnya seperti
kesesuaian dengan kontrak atau peraturan perundang-undangan dan
akhirnya tentu saja meng-analisis biaya yang diminta.

Membuktikan apakah klaim tersebut berdasarkan fakta serta sesuai kontrak


tidaklah terlalu sukar karena rujukannya jelas.

Akan tetapi analisis biaya tidaklah mudah dan dapat bervariasi sesuai kecerdikan
Penyedia Jasa seperti memasukkan tambahan biaya untuk pekerjaan yang
sesungguhnya tidak berubah tapi terpengaruh pelaksanaannya karena ada
pekerjaan yang berubah. Kemudian Penyedia Jasa juga klaim biaya sewa
alat yang menganggur/idle, biaya overhead, tambahan biaya uang karena
ada perpanjangan waktu dlsb.

Robert D. Gilbreath dalam bukunya “MANAGING CONSTRUCTION


CONTRACTS” halaman 208 mengupas analisis klaim ini sebagai berikut:

“Analisis Klaim-Klaim.

Untuk mempertimbangkan manfaat-manfaat dari klaim dan menentukan


tambahan kompensasi apa yang diizinkan (bilamana ada), Pengguna Jasa
harus menganalisis secara seksama klaim tersebut dalam 3 tahapan yaitu:

(1) analisis secara faktual (apa sesungguhnya yang terjadi)

(2) analisis secara hukum atau berdasarkan kontrak (apakah benar Penyedia
Jasa berhak mengajukan klaim)

(3) analisis biaya (berupa biaya tambahan uang atau waktu harus diberikan
kepada Penyedia Jasa).

Analisis klaim secara faktual dan hukum lebih mudah jika anda mempunyai
bentuk pengawasan yang cocok, rincian data, pengawasan perubahan yang
tersusun, penetapan kemajuan pekerjaan dan pembayaran yang obyektif dan
sebagainya.

Akan tetapi, sungguh mengejutkan berapa luas analisa biaya dapat


bervariasi dari keadaan fakta dan hukum yang sama.

Inilah daerah pembelaan klaim – analisa biaya – yang mengandung resiko


tertinggi dan menuntut perhatian terbesar dari Pengguna Jasa.

Ada dua metoda yang nyata untuk menghitung biaya-biaya klaim :

1. metoda biaya total

2. metoda kenaikan biaya.


Dengan metoda biaya total, Penyedia Jasa secara sederhana membandingkan biaya
sebenarnya dari pelaksanaan suatu pekerjaan atau bagian pekerjaan dengan
biaya yang diharapkan (atau biaya pada waktu penawaran atau harga
kontrak). Perkiraan atau asumsinya adalah bahwa semuakenaikan biaya
yang diderita Penyedia Jasa merupakan klaim.

Tidak perlu disebut, kebanyakan Pengguna Jasa menanggapi secara negatif


pendekatan metoda biaya total ini. Masalah utama adalah Penyedia Jasa
harus membuktikan bahwa pekerjaan yang di rubah di laksanakan seefisien
mungkin. Ini sukar dilaksanakan.

Walaupun pendekatan ini dapat menyakinkan “batas atas” dari biaya klaim
yang diperlukan, hal ini biasanya tidak berdaya guna dalam mencari
penyelesaian.

Metoda kenaikan biaya lebih dianjurkan dibandingkan dengan metode biaya total
karena beberapa alasan. Pertama-tama, metode ini mensahkan kenaikan-
kenaikan biaya yang timbul dari kondisi-kondisi lain dari yang terhutang
pada fakta-fakta klaim (in-efisiensi Penyedia Jasa, nasib buruh, faktor-faktor
yang tidak berkaitan dengan klaim itu sendiri).

Kedua, pendekatan ini memungkinkan biaya-biaya diperkirakan untuk unsur-unsur


pekerjaan yang berlainan dibawah penetapan parameter biaya yang adil.

Seringkali dengan filosofi biaya total, suatu unsur kenaikan biaya yang tidak pada
tempatnya, bila dimasukkan kedalam klaim, mengaburkan atau menodai
unsur-unsur yang bermanfaat, sehingga mengurangi efektifitas klaim. Selain
itu metode kenaikan biaya menitik beratkan pada penyebab dan pengaruh
dalam satu nada. Dengan metode kenaikan biaya, para Penyedia Jasa
mengaitkan setiap tambahan biaya dengan setiap fakta penyebab, misalnya :
Pengarahan anda adalah pemadatan tanah dilakukan dengan alat pemadat
tangan yang seharusnya menggunakan mesin giling menyebabkan kami
menanggung kenaikan biaya.

Yang paling penting, metode kenaikan biaya memungkinkan peningkatan


pemecahan dengan mudah, unsur-unsur pemecahan dapat dipisahkan dan
ditangani dengan cepat, sementara lebih banyak sengketa tertunda.

(Terjemahan bebas N. Yasin):

3.7. Jenis-Jenis Klaim.

Di antara beberapa jenis klaim, akan ditinjau 2 (dua) jenis klaim yang paling sering
terjadi yaitu klaim yang timbul akibat keterlambatan penyelesaian
pekerjaan. Klaim jenis ini biasanya mengenai permintaan tambahan biaya
dan tambahan waktu.

Selain itu terdapat pula jenis klaim lain sebagai akibat kelambatan tadi yaitu klaim
atas biaya tak langsung (overhead). Penyedia Jasa yang terlambat
menyelesaikan suatu pekerjaan karena sebab-sebab dari Pengguna Jasa,
meminta penggantian tambahan biaya overhead dengan alasan biaya ini
bertambah karena pekerjaan belum selesai.

Walaupun klaim kelambatan kelihatannya sederhana saja, namun dalam


kenyataannya tidak demikian. Misalnya Penyedia Jasa hanya diberikan
tambahan waktu pelaksanaan tanpa tambahan biaya karena alasan-alasan
tertentu.

Di lain kejadian Penyedia Jasa selain mendapat tambahan waktu mendapatkan pula
konpensi lain.

Kemungkinan lain, Penyedia Jasa tidak mendapatkan seluruh klaim kelambatan


yang diminta karena tidak seluruh kelambatan tersebut kesalahan
Pengguna Jasa. Penyedia Jasa juga mempunyai andil dalam kelambatan
tersebut yang terjadi secara tumpang tindih.

Mengenai klaim kelambatan pelaksanaan ini (delay claims), Robert D. Gilbreath


dalam bukunya, “”MANAGING CONSTRUCTION CONTRACTS”
halaman 209 – 210 menulis sebagai berikut :

“Klaim-Klaim Kelambatan.

Salah satu jenis klaim yang paling sering terjadi adalah Pengguna Jasa, Penyedia
Jasa lain atas kondisi-kondisi lapangan menyebabkan Penyedia Jasa
terlambat. Dalam banyak kasus klaim tersebut berupa tambahan waktu
dan biaya.

Kebanyakan Pengadilan menjumpai tiga macam klaim yang jelas, dan cara
penyelesaian tergantung pada macam yang terkait.

Ketiga macam klaim tersebut adalah :

1. Kelambatan yang dapat diterima (execusable delay).

Untuk hal ini, Penyedia Jasa hanya diberikan perpanjangan waktu, tapi
tidak tambahan biaya atau pembebasan lainnya.

2. Kelambatan-kelambatan dengan konpensasi (ganti kerugian).

Disini Penyedia Jasa tidak saja diberikan perpanjangan waktu (jika hal itu
dapat ditunjukkan bahwa perpanjangan waktu tersebut perlu) tapi juga
tambahan ganti rugi/konpensasi.

3. Kelambatan-kelambatan yang berbenturan.

Disini maksudnya adalah kelambatan tersebut sebagian karena kesalahan


Pengguna Jasa dan sebagian lagi karena kesalahan Penyedia Jasa dan
periode kelambatannya tumpang tindih atau berbenturan. Sebagai
contoh : Pengguna Jasa mungkin terlambat menyerahkan peralatan
kepada Penyedia Jasa untuk dipasang atau terlambat mendapatkan izin
bangunan (IMB) atau otorisasi daerah sehingga Penyedia Jasa tidak
dapat mulai kerja. Misalkan kelambatan ini menunda mulainya
pekerjaan dari 1 Januari sampai 1 Juli (6 bulan keterlambatan Pengguna
Jasa). Disamping itu Penyedia Jasa tidak dapat menyelesaikan gambar-
gambar kerja atau jaminan pelaksanaan (atau beberapa kewajiban lain)
dalam periode 1 April sampai dengan 1 Juli (3 bulan keterlambatan
Penyedia Jasa). Dengan kata lain, Penyedia Jasa terlambat 3 bulan
karena masalah mereka sendiri, terlepas apakah Pengguna Jasa
terlambat atau tidak. Masa dari 1 April sampai 1 Juli adalah masa
tumpang tindih – berbenturan. Jika semua dapat dibuktikan, Penyedia
Jasa hanya diberikan perpanjangan waktu selama 3 bulan yaitu periode
Januari – April – 3 bulan kelambatan semata-mata masalah Pengguna
Jasa. Bila kedua pihak bersalah, kelambatan diistilahkan sebagai
berbenturan, dan tidak ada satu pihak pun mendapat pembebasan.
Kelambatan-kelambatan yang tumpang tindih ini sungguh menjadi rumit
bila kelambatan dari satu Penyedia Jasa menyebabkan kelambatan
Penyedia Jasa lain, Sub Penyedia Jasa dan seterusnya. Menguraikannya
adalah suatu tantangan besar dan biasanya memerlukan analisis dari
ahli secara sungguh-sungguh seperti menyusun program jadual CPM
dan sebagainya. Klaim-klaim kelambatan hampir selalu mengarah pada
permintaan waktu dan uang. Beberapa unsur biaya yang biasa yang
meningkat sebagai akibat dari waktu (biaya-biaya waktu peka) adalah:

1. bunga bank (interst)

2. asuransi

3. overhead kantor pusat

4. biaya umum

5. penyewaan

6. pemeliharaan alat

7. pemasokan materal

8. dukungan teknik

9. administrasi kontrak

10. mutu program administrasi

11. pengamanan

12. pengawasan

13. perpanjangan atau kehilangan masa jaminan


14. ganti rugi

15. penyimpanan dan perlindungan material.

Berhutang kepada semua hal tersebut diatas dan lebih lagi mudah dilihat mengapa
kelambatan yang diizinkan sangat jarang – jika waktu diberikan, uang
biasanya diberikan juga (klaim ganti rugi).

Penggunaan paling biasa dari keterlambatan yang diizinkan adalah bila diberikan
dimuka – Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa setuju mengenai penundaan
untuk kebaikan salah satu pihak atau keduanya.

(Terjemahan bebas N. Yasin):

Mengenai biaya-biaya umum (overhead) dalam klaim-klaim, Robert D.


Gilbreath dalam bukunya “MANAGING CONSTRUCTION
CONTRACT” pada halaman 210 – 211 menulis sebagai berikut :

“Biaya-Biaya Umum Dalam Klaim.

Dapatkah Penyedia Jasa menagih biaya-biaya umum kepada Pengguna Jasa, hanya karena
kelambatan ?.

Dengan kata lain, jika Pengguna Jasa memperlambat Penyedia Jasa selama dua bulan, dan
disamping biaya-biaya langsung dan terkait seperti tersebut diatas
Penyedia Jasa managih overhead kantor pusat – apakah harus dibayar ?.
Kebanyakan orang menolak dugaan ini segera, tetapi hal ini mempunyai
manfaat – dan telah dibenarkan dalam kasus per kasus.

Apa yang menyebabkan biaya overhead naik ?. Sebagai contoh pertimbangkan gaji seorang
Direktur Utama Penyedia Jasa, pengeluaran-pengeluaran perusahaan
staf perusahaan, tagihan-tagihan umum pada kantor pusat, pengeluaran
gedung, pajak real estate, biaya iklan dan seterusnya. Biaya-biaya ini
tidak khusus dibebankan pada salah satu kontrak, tapi diperhitungkan
dengan menyebarkannya kepada semua kontrak dan termasuk secara
tidak langsung dalam harga penawaran Penyedia Jasa.

Jika kontrak yang terlambat dari satu tahun menjadi dua tahun
pelaksanaan, biaya-biaya ini berjalan terus tidak pandang apakah ia
proporsional terhadap jumlah pekerjaan sesungguhnya ada atau tagihan
yang terjadi.

Pengadilan telah mengizinkan biaya overhead dalam situasi kelambatan. Rationya


beraneka, tetapi biasanya berkisar :

1. dokumen kontrak (apa yang disebutkan tentang unsur biaya ini)

2. apakah biaya-biaya klaim ini diizinkan (apakah sudah dimasukkan dalam biaya
kontrak lain)
3. unsur-unsur apa saja yang dimasukkan (keanggotaan golf Direktur Utama).

4. Bagaimana biaya-biaya perusahaan ini dialokasikan keseluruh kontrak.

Isu final ini menjadi prinsip pembukuan yang hanya diketahui beberapa orang saja
sehubungan dengan pengumpulan biaya, metoda pengalokasian beban yang
dipakai dan disebar.

Mencukupi untuk menyatakan bahwa biaya-biaya kelambatan sering lebih tinggi dari yang
disadari Pengguna Jasa dan harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati
sebelum kelambatan dibuktikan atau diizinkan terjadi.

Sebuah butir penting lain muncul disini. Tidak ada maaf untuk kekurangan pelatihan atau
kesadaran pada isu ini – untuk klaim-klaim yang tidak peka.

Jika anda terlibat dalam konstruksi, dalam hal apa saja, anda harus tahu bagaimana
keputusan anda mengenai kepekaan waktu dan biaya dan harus siap untuk
menikmati atau menanggung konsekwensi sebelum hal tersebut diambil.

Hal ini berarti bahwa semua orang harus mengetahui dasar-dasar pengajuan dan
pembelaan klaim, macam-macam biaya yang dapat terlibat dan pengelolaan
kontrak yang kritis. Bahwa sistim biaya dan jadual adalah penting bukan saja
untuk pengawasan kontrak tapi juga untuk perlindungan klaim.

Hal yang sama juga benar untuk dokumentasi, pelaporan kontrak, catatan pembukuan yang
sangat teliti. Klaim yang berkembang menjadi tuntutan hukum sering terjadi
beberapa tahun-tahun sesudah semua orang yang bertanggung jawab telah
pindah atau melupakan apa yang terjadi.

Hal itu mengenai seseorang dari mereka untuk membuat anda seorang yang percaya pada
sistim pengelolaan kontrak dan pengawasan kontrak.

(Terjemahan bebas N. Yasin):

4. Perkembangan Kejadian Suatu Klaim.

Dalam paragrap ini akan diuraikan bagaimana proses klaim yang terjadi sebagai akibat
perubahan yang diperintahkan atau diminta.

Hal ini dijelaskan oleh Robert D. Gilbreath dalam bukunya : “MANAGING


CONSTRUCTION CONTRACTS” halaman 213 secara grafis sebagaimana tertera
dalam halaman 33.

Penjelasan dari diagram tersebut adalah sebagai berikut :

4.1. Perubahan Pekerjaan.

Klaim berawal dari terjadinya suatu perubahan pekerjaan.

Perubahan pekerjaan ini terdiri dari 2 (dua) kemungkinan :


· Diketahui sebelumnya

· Tidak diketahui sebelumnya.

4.2. Pemberitahuan.

Bila perubahan pekerjaan diketahui sebelumnya, maka langkah selanjutnya adalah melakukan
pemberitahuan kepada Pengguna Jasa.

4.3. Permintaan Perubahan.

Bila perubahan pekerjaan tidak diketahui sebelumnya maka perubahan pekerjaan


tersebut dinamakan perubahan tidak resmi.

Untuk ini Penyedia Jasa mengajukan Permintaan Perubahan kepada Pengguna Jasa.

4.4. Penerbitan Perintah Perubahan.

Apabila Pemberitahuan dan atau Permintaan Perubahan disetujui maka Pengguna


Jasa wajib menerbitkan Perintah Perubahan Pekerjaan.

4.5. Klaim.

Apabila Pemberitahuan dan atau Permintaan Perubahan tidak disetujui Pengguna


Jasa maka Penyedia Jasa mengajukan klaim.

Bila klaim disetujui diterbitkan Perintah Perubahan Pekerjaan.

4.6. Arbitrase/Pengadilan.

Apabila klaim tidak disetujui, Penyedia Jasa dapat mengajukan penyelesaian sengketa
lewat Arbitrase atau Pengadilan (sesuai kesepakatan dalam kontrak).

4.7. Amandemen Kontrak.

Setelah terbit perintah perubahan harus diikuti dengan penerbitan Amandemen


Kontrak.

PERKEMBANGAN KEJADIAN SUATU KLAIM.

5. Prosedur Penanganan Klaim.

5.1. Administrasi Kontrak.

Dalam menangani klaim, fungsi Administrasi Kontrak memegang peranan yang


sangat penting, bahkan dapat dikatakan bahwa berhasil tidaknya penyelesaian
suatu klaim sangat tergantung dari kerapihan dan kecermatan memelihara dan
mengelola Administrasi kontrak sejak saat kontrak ditanda tangani.

Kelalaian, kecerobohan serta kurang terpeliharanya arsip-arsip dan data-data


kontrak lainnya termasuk surat menyurat antara Pengguna Jasa dan Penyedia
Jasa akan sangat melemahkan perjuangan dalam penanganan masalah klaim.
Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa sasaran pertama dari pengelolaan
kontrak adalah menghilangkan atau setidaknya mengurangi kemungkinan
terjadinya suatu klaim.

5.2. Manajer Kontrak/Administrator Kontrak.

Seperti proses dalam perubahan pekerjaan, Manajer Kontrak/Administrator


Kontrak biasanya bertugas menangani klaim, mulai sejak klaim muncul sampai
dengan penyelesaiannya.

Tentu saja dengan otoritas dari Pengguna Jasa/Penyedia Jasa jika suatu klaim
terjadi, Manajer Kontrak/Administrator Kontrak melakukan hal-hal berikut :

a. Harus yakin hal tersebut secara manajerial benar

b. Menganalisis klaim dengan teliti

c. Mencatat dan mengarsipkan dengan cermat

d. Menyelesaikannya sesegera mungkin.

Semua diskusi, surat-menyurat dokumen-dokumen pendukung dan sebangsanya


yang berhubungan dengan klaim harus diperoleh dan dihimpun untuk dievaluasi
apakah klaim tersebut dapat diterima atau ditolak.

5.3. Evaluasi.

Manajer Kontrak/Administrator Kontrak kemudian memimpin suatu usaha


penelitian secara mendetail termasuk didalamnya :

a. Mewawancarai orang-orang yang bersangkutan dari pihak Pengguna Jasa.

b. Mempelajari dokumen kontrak, arsip proyek, laporan-laporan yang mungkin


diperlukan untuk menganalisis klaim.

5.4. Bahan-Bahan Evaluasi.

Untuk melaksanakan evaluasi dengan baik diperlukan dokumen-dokumen yang


mencakup hal-hal berikut :

a. Dokumen Kontrak

b. Perubahan-perubahan pekerjaan

c. Ringkasan pekerjaan tambah/kurang yang telah disetujui.

d. Risalah rapat

e. Korespondensi dengan Penyedia Jasa


f. Jadual pelaksanaan

g. Photo-photo dokumentasi proyek

h. Laporan harian dan sebagainya.

5.5. Analisis.

Apabila seluruh arsip-arsip klaim sudah lengkap maka Manajer


Kontrak/Administrator Kontrak meminta bantuan orang-orang proyek lainnya
untuk menganalisis dan menyiapkan tanggapan atas klaim tersebut.

5.6. Perintah Perubahan.

Sekali klaim tersebut telah diselesaikan maka Perintah Perubahan Pekerjaan harus
diterbitkan. Dalam hal ini semua perubahan terhadap kontrak harus diawasi
dan didokumentasikan dengan baik.

5.7. Penyelesaian Klaim.

Apabila cara penanganan klaim seperti diatas tidak mencapai persetujuan, maka
dapat ditempuh melalui pengadilan atau arbitrasi.

Catatan :

Seluruh prosedur tersebut diatas yaitu butir 5.1 hingga butir 5.7 dapat pula
dilakukan oleh Penyedia Jasa apabila inisiatip klaim datang dari pihak Penyedia
Jasa.

Selanjutnya Robert D. Gilbreath dalam bukunya “MANAGING CONSTRUCTION


CONTRACTS” halaman 212 – 214 menguraikan prosedur penanganan klaim
yang dianjurkan sebagai berikut :

Seperti proses perubahan pekerjaan, Manajer Kontrak biasanya bertugas menangani


klaim sejak permohonan sampai penyelesaian.

Dan seperti beberapa proses lain yang diuraikan disini, dia bertindak lebih sebagai
koordinator daripada sebagai kuasa Pengguna Jasa.

Sasaran pertama dari pengelolaan kontrak adalah menghilangkan atau mengurangi


timbulnya kondisi rangsangan klaim dan klaim itu sendiri. Akan tetapi bila sebuah
klaim disajikan, Administrator Kontrak harus meyakini bahwa hal tersebut
memberikan pandangan pengelolaan yang tepat, dengan hati-hati dianalisis dan
didokumentasikan, dan secara wajar diperbaiki selekas mungkin. Beberapa hal
adalah seperti perusakan moral pegawai Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa sebagai
hal yang pahit seperti klaim yang tidak terselesaikan.

Semua percakapan, korespondensi, dokumen pendukung dan sebangsanya, mengenai


klaim harus diperoleh dan dihimpun. Arsip terpisah harus dipelihara untuk setiap
klaim dan harus termasuk rekaman dari bagian kontrak yang menyangkut klaim,
hasil dari analisis faktual, hukum dan biaya dan dokumen-dokumen lain yang
mungkin dapat membantu penolakan atau penyelesaian klaim.

Setiap klaim yang diterima Pengguna Jasa harus diteruskan ke Manajer Kontrak. Dia
harus membuat arsip klaim dan mencatat klaim tersebut dalam suatu usulan atau
buku daftar klaim untuk maksud penelusuran.

Jika tambahan informasi diperlukan dari Penyedia Jasa, hal ini harus dicatat dalam
buku daftar klaim dan Penyedia Jasa diminta untuk menyediakannya.

Kemudian Manajer Kontrak menyelenggarakan usaha penelitian rinci termasuk


diantara tugas-tugas lain, wawancara dengan personalia Pengguna Jasa yang
terkait, Manajer Kontrak, arsip proyek dan laporan-laporan dan himpunan
dokumentasi yang akan diperlukan untuk menganalisis klaim.

Dokumentasi termasuk kontrak itu sendiri, perubahan-perubahan pekerjaan,


ikhtisar pekerjaan tambah dan persetujuan-persetujuan, risalah-risalah rapat,
korespondensi dengan Penyedia Jasa, jadual yang dibuat Penyedia Jasa, foto-foto
proyek, aktivitas harian atau laporan kemajuan pekerjaan, catatan waktu, perkiraan
progres dan penagihan dan catatan telepon.

Sekali arsip klaim telah lengkap, Manajer Kontrak menyusun daftar bantuan dari
personal proyek dalam menganalisis klaim dan menyiapkan tanggapan kepada
Penyedia Jasa. Orang-orang yang dilibatkan termasuk Manajer Konstruksi,
insinyur-insinyur perencana, insinyur biaya, pembuat jadual proyek dan sebagainya.

Usaha mereka seharusnya menyusun dan mengkoordinasikan tugas dari analisis yang
objektif dan tanggapan yang wajar.

Manajer Kontrak tidak pernah harus menyetujui kenaikan biaya dengan Penyedia Jasa
atau pembebasan lain tanpa otoritas yang tepat dan dianjurkan bahwa Proyek
Manajer atau Kepala Perwakilan Pengguna Jasa memimpin semua perundingan
dengan Penyedia Jasa. Sekali lagi, peranan Manajer Kontrak adalah penasehat
mengenai otoritas kontrak Pengguna Jasa, tidak perlu sebagai penyelenggara
kontrak, walaupun hal ini diizinkan jika Pengguna Jasa menginginkannya.

Sekali klaim telah terselesaikan, perubahan pekerjaan harus diterbitkan untuk


mendukung keputusan klaim.

Dalam hal ini semua perubahan kontrak apakah atas inisiatip Pengguna Jasa
(pembentukan dan mengakibatkan perubahan pekerjaan) atas dasar inisiatip
Penyedia Jasa (pengajuan klaim dan berakibat perubahan pekerjaan) diawasi dan
didokumentasikan dengan cara yang sama.

Jika keputusan mengenai klaim tidak mungkin tanpa melibatkan manajemen


Pengguna Jasa yang lebih tinggi, Manajer Kontrak menyiapkan dan mengajukan
unsur-unsur klaim dan analisnya dan membantu proses sesuai kebutuhan.
Walaupun kecenderungan adalah kuat, Manajer Kontrak tidak harus secara
emosional terlibat dalam sengketa,tetapi ketimbang menerima tantangan untuk
menangani setiap klaim berdasarkan usahanya sendiri lebih lama, melibatkan dan
meng-koordinasikan usahanya dengan personel proyek yang berkaitan,
bertanggung jawab, menyusun dan merekomendasikan proses.

(Terjemahan bebas N. Yasin)

6. Contoh-Contoh Kasus Klaim yang Baik.

Robert D. Gilbreath dalam bukunya “MANAGING CONSTRUCTION


CONTRACTS” halaman 214 – 215 memberikan 3 (tiga) contoh kasus klaim yang
baik. Ringkasannya adalah sebagai berikut :

a. Kasus 1.

Pengguna Jasa dari suatu komplek industri yang sedang dibangun, baru-baru ini
mengirimkan seorang insinyur mesin mengikuti seminar 3 hari mengenai teknik
pemeriksaan pengelasan. Ketika pulang, dengan penuh antusias mengenai
inspeksi radiografi untuk mengetahui cacat pengelasan, dia merubah spesifikasi
untuk proses penanaman pipa uap tepat setelah Penyedia Jasa melaksanakan
pekerjaan tersebut.

Karena pemeriksaan dilakukan oleh perusahaan lain yang disewa Pengguna Jasa
tidak ada perubahan pekerjaan. Setelah beberapa bulan bekerja, Penyedia Jasa
yang memasang pipa mengajukan klaim sebesar Rp.2.000.000.000,- sebagai
tambahan kompensasi karena inefisiensi dan campur tangan disebabkan
kenaikan proses pengawasan.

Singkatnya klaim tersebut sebagai berikut :

Spek asli hanya minta pemeriksaan pengelasan secara visual namun inspeksi
periodik dengan X-Ray menyebabkan pengelasan pipa terhenti pada saluran
terbuka karena tukang las takut kena radiasi.

Banyak pengelasan ditolak dan harus diulang dan jadual bertambah hingga
musim dingin yang mengakibatkan inefisiensi dalam pengelasan.

Tambahan pengelasan karena ditolak membutuhkan tambahan empat tukang las.


Karena tukang las yang berkualitas sangat sulit di lokasi pekerjaan, perlu biaya
tambahan untuk mendatangkan dari luar, melatih atau mengganti tukang las
lainnya.

b. Kasus 2.

Sebuah kontrak unit price dimenangkan oleh Penyedia Jasa listrik untuk
pembangunan pusat listrik.

Gambar berubah mengenai saluran kabel bawah tanah dan rute/jalannya kabel
yang ditetapkan secara tiba-tiba ketika tarikan kabel dimulai dalam pabrik.
Perubahan berdampak pada penambahan panjang kabel yang ditanam hanya
sebanyak 10% dari perkiraan asli dan Penyedia Jasa dibayar berdasarkan unit
price untuk penambahan ini.

Akan tetapi Penyedia Jasa tetap mengajukan klaim sebagai kompensasi diatas
jumlah tersebut diatas untuk memperhitungkan :

- in-efisiensi dalam operasi. Jika kabel diukur, dipotong, ditarik dan kemudian
dikeluarkan lagi dan dibuang karena revisi Gambar perubahan ukuran
kabel dan rute.

- In-efisiensi dalam pembelian dan pemotongan kabel, karena Penyedia Jasa tidak dapat
merencanakan penggunaan kabel sampai kepada panjang potongan kabel
maksimum dari standar gulungan kabel yang dibeli.

- Demobilisasi, waktu tunggu, dan remobilisasi dan angkatan kerja dari satu tempat
ketempat lain dari pabrik karena perubahan gambar kenyataan.

c. Kasus 3.

Kontrak lump sum untuk memasang genarator turbin untuk pusat listrik nuklir
diberikan kepada Penyedia Jasa A – Mekanikal.

Peralatan akan dipasok oleh kapal tongkang 2 minggu setelah Penyedia Jasa –A
melakukan mobilisasi lapangan. Cuaca yang membeku menyebabkan es
memblokir sungai yang bersebelahan dengan pusat listrik, dengan keterlambatan
2 bulan dalam penerimaan turbine generator milik Pengguna Jasa. Untuk
mengejar kehilangan waktu, proyek manajer memerintahkan Penyedia Jasa –B
untuk memulai instalasi sirkulasi pipa air dari bangunan turbine ke menara
pendingin.

Pada waktu generator turbine akhirnya tiba, Penyedia Jasa-A tidak dapat
memindahkan komponen-komponen berat dari dermaga tongkang ketujuan
penempatannya dibangunan turbin karena lubang galian pipa sedalam 7 meter
terisi sebagian pipa air sirkulasi yang menghalangi jalan masuk.

Penyedia Jasa-A mengajukan klaim sebagai tambahan kompensasi karena :

- Tenaga kerja dan peralatan menunggu 2 bulan karena es dan tambahan 2 bulan untuk
kelambatan lubang pipa.

- Gudang sementara untuk generator turbin di lapangan

- Percepatan kerja segera lubang pipa ditutup untuk mengatasi kehilangan waktu

- Kehilangan keuntungan karena tidak dapat menggunakan tenaga kerja dan peralatan
untuk pekerjaan lain.

7. Penyelesaian Sengketa Konstruksi.


7.1. Pengertian Sengketa Konstruksi

Dari uraian tentang Klaim Konstruksi telah diketahui bahwa pengertian klaim
sesungguhnya adalah sebuah permintaan (claim is a demand) mengenai
tambahan kompensasi waktu, biaya atau bentuk lain antara pihak yang
berkontrak. Dalam suatu Proyek Konstruksi, klaim bukanlah tuntutan atau
gugatan yang terlanjur dianggap benar di negeri kita. Namun tidak selalu klaim
tersebut dapat diselesaikan atau dipenuhi. Dalam hal klaim tersebut tidak
terpenuhi atau terselesaikan, maka hal itu berarti telah terjadi sengketa antara
para pihak yang berkontrak. Inilah yang dimaksudkan dengan sengketa
konstruksi yaitu sengketa yang terjadi dalam Industri Konstruksi. Sengketa ini
harus diselesaikan

7.2. Cara-Cara Penyelesaian Sengketa Konstruksi

7.2.1 Penyelesaian sengketa konstruksi dapat dilakukan dengan beberapa cara


yaitu melalui :

a. Badan Peradilan (Pengadilan)

b. Arbitrase (Lembaga atau Ad Hoc)

c. Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Dalam Pelatihan ini titik berat cara penyelesaian sengketa adalah melalui
Arbitrasekarena cara inilah yang lebih banyak dipakai karena hal-hal
yang akan diuraikan nanti

7.2.2 Pilihan penyelesaian sengketa ini harus secara tegas dicantumkan dalam
kontrak konstruksi dan sengketa yang dimaksud adalah sengketa
perdata (bukan pidana). Misalkan pilihan penyelesaian sengketa
tercantum dalam kontrak adalah arbitrase. Dalam hal ini Pengadilan
tidak berwenang untuk mengadili sengketa tersebut seperti tersebut
dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.30/1999 tentang
Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Pasal 3.

7.2.3 Dalam hal pilihan penyelesaian sengketa melalui Pengadilan maka


prosedur dan prosesnya mengikuti ketentuan-ketentuan Kitab Undang-
Undang Hukum Acara Perdata (KUHAP) dan Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata (KUHPer) untuk perkara Perdata.

7.2.4 Dalam hal pilihan penyelesaian sengketa melalui Arbitrase harus


dijelaskan dengan tegas dalam kontrak konstruksi arbitrase apa yang
dipilih (Lembaga atau Ad Hoc) termasuk pula peraturan prosedur yang
dipakai untuk menghindari persepsi yang berbeda antara para pihak.

7.2.5 Oleh karena belakangan ini orang lebih cenderung memakai cara
penyelesaian sengketa melalui arbitrase karena alasan-alasan yang akan
diuraikan kemudian maka penyelesaian sengketa melalui arbitrase
akan diuraikan lebih luas dalam Pelatihan ini.
7.3 Pengertian-Pengertian Arbitrase dan Arbiter.

Dalam bahasa Indonesia arbitrase berarti perwasitan. Orang yang melaksanakan


tugas arbitrase atau perwasaitan adalah arbiter atau wasit.

Bila kita ambil analogi dalam suatu pertandingan sepak bola, seorang wasit sama
sekali tidak boleh berpihak kepada salah satu kesebelasan. Tugasnya adalah
mengawasi jalannya pertandingan sesuai aturan permainan. Bila salah seorang
atau beberapa orang pemain melakukan pelanggaran maka dia harus
menjatuhkan hukuman atau memberikan peringatan tidak pandang dari
kesebelasan mana orang tersebut berasal.

Hal ini penting diketahui karena masih banyak orang menganggap arbiter tersebut
adalah pembela mereka seperti di Pengadilan. Ini keliru besar.

Selanjutnya dikutip beberapa pengertian arbitrase dari berbagai sumber :

7.3.1 Prof. R. Subekti (Arbitrase Perdagangan : 1992) :

Penyelesaian atau pemutusan sengketa oleh seorang arbiter atau para arbiter
berdasarkan persetujuan bahwa para pihak akan tunduk pada atau
mentaati keputusan yang diberikan oleh arbiter atau para arbiter yang
mereka pilih atau tunjuk tersebut.

7.3.2 Black’s Law Dictionary (1984) :

The reference of a dispute to an impartial (third) person chosen by the parties to


the dispute who agree in advance to abide by the arbitrator’s award
issued after hearing at which both parties have an opportunity to be
heard. An arrangement for taking and abiding by the judgement of
selected persons in some disputed matter, instead of carrying it to
establish tribunals of justice, and is intended to avoid the formalities, the
dalay, the expense and vexation of ordinary litigation.

7.3.3 U.U. R.I. No.30/1999 tentang Arbitrsae dan Alternatif Penyelesaian


Sengketa Pasal 1 ayat 1 :

Cara penyelesaian satu sengketa perdata di luar peradilan umum yang


berdasarkan padaperjanjian arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh
para pihak yang bersengketa.

7.4 Pilihan Arbitrase versus Pengadilan.

Dalam daftar berikut disajikan beberapa kelebihan dan keuntungan pilihan


penyelesaian sengketa melalui Lembaga Arbitrase dibandingkan dengan
Lembaga Pengadilan.

LEMBAGA ARBITRASE LEMBAGA PENGADILAN


Bebas dan otonom Mutlak terikat pada hukum acara yang
menentukan rules daninstitusi arbitrase; berlaku (HIR, Rv).

Menghindari ketidakpastian Yang berlaku mutlak adalah sistem hukum


(uncertainty) akibat perbedaan sistem dari negara tempat sengketa diperiksa.
hukum dengan negara tempat sengketa
diperiksa, maupun kemungkinan adanya
keputusan Hakim yang unfair dengan
maksud apapun, termasuk melindungi
kepentingan domestik yang terlibat
sengketa.

Keleluasaan memilih arbiter Majelis Hakim Pengadilan ditentukan


professional, pakar (expert) dalam oleh Administrasi Pengadilan.
bidang yang menjadi objek sengketa,
dan independendalam memeriksa
sengketa.

Waktu, prosedur, dan biaya arbitrase Putusan pengadilan yang in kracht van
lebih efisien. Putusan bersifatfinal and gewijsde membutuhkan waktu yang relatf
binding, dan tertutup untuk upaya lama (> 5 thn jika sampai tingkat MARI).
hukum banding atau kassai;

Persidangan tertutup (non-publicity), dan Terbuka untuk umum (kecuali kasus


karenanya memberi perlindungan untuk cerai).
informasi atau data usaha yang bersifat
rahasia atau tidak boleh diketahui
umum.

Pertimbangan hukum lebih Pola pertimbangan Pengadilan dan


mengutamakan aspek privat dengan putusan Hakim adalah win-loose.
polawin-win solution.

Putusan bersifat non-precedence, dan Yurisprudensi merupakan salah satu


karenanya untuk jenis dan sifat sengketa sumber hukum yang dapat diterapkan
yang sama sangat dimungkinkan adanya dalam putusan perkara.
putusan yang berbeda.

7.5 Ketentuan-Ketentuan Mengenai Arbiter :

7.5.1 Komposisi Arbiter :

a. Arbiter Tunggal

b. Majelis Arbiter terdiri dari tiga (tiga) orang Arbiter

7.5.2 Syarat Material Arbiter :

a. Cakap melakukan tindakan hukum;


b. Berumur paling rendah 35 tahun

c. Tidak mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda sampai


dengan derajat kedua dengan salah satu pihak bersengketa;

d. Tidak mempunyai kepentingan finansial atau kepentingan lain atas


putusan arbitrase; dan

e. Memiliki pengalaman serta menguasai secara aktif di bidangnya


paling sedikit 15 tahun.

7.6 Syarat Formal Arbiter :

7.6.1 Wajib memberi persetujuan atau penolakan (tertulis) atas penunjukan


dirinya menjadi Arbiter;

7.6.2 Tidak dapat menarik diri setelah menjadi Arbiter, kecuali atas
persetujuan para pihak yang bersengketa. Dibutuhkan adanya
penetapan Pengadilan jika para pihak tidak memberi persetujuan;

7.6.3 Wajib mengganti kerugian kepada pihak yang dirugikan dalam sengketa
jika memutus sengketa lewat dari 6 (enam) bulan, tanpa alasan yang
sah;

7.6.4 Wajib mengundurkan diri jika Hak Ingkar yang diajukan salah satu
pihak yang bersengketa terbukti.

7.7 Kelemahan Pilihan Arbitrase :

ARBITRASE LEMBAGA PENGADILAN

Honorarium arbiter, sekretariat dan Biaya perkara relatif murah dan telah
administrasi, relatif mahal. Tolok-ukur ditentukan oleh MARI.
jumlah umumnya ditentukan oleh nilai
klaim (sengketa). Apabila biaya ditolak
atau tidak dibayar oleh salah satu pihak,
maka pihak yang lain wajib
membayarnya agar sengketa diperiksa
Arbitrase.

Relatif sulit untuk membentuk Majelis Tidak ada hambatan berarti dalam
Arbitrase apabila Lembaga Arbitrase Ad pembentukan Majelis Hakim yang
Hoc memeriksa perkara.

Tidak memiliki juru sita sendiri sehingga Memiliki juru sita dan atau sarana
menghambat penerapan prosedur dan pelaksanaan prosedur hukum acara.
mekanisme Arbitrase secara efektif.
Putusan Arbitrase tidak memiliki daya Pelaksanaan Putusan dapat dipaksakan
paksa yang efektif, dan sangat secara efektif terhadap pihak yang kalah
bergantung kepada Pengadilan jika dalam perkara.
putusan tidak dijalankan dengan
sukarela.

Eksekusi Putusan Arbitrase cenderung Eksekusi Putusan yang telah memiliki


mudah untuk diintervensi pihak yang kekuatan hukum yang pasti, dapat
kalah melalui lembaga peradilan dilaksanakan meskipun kemudian ada
(bantahan, verzen), sehingga waktu Bantahan atau Verzet.
realisasi pembayaran ganti rugi menjadi
relatif bertambah lama.

7.8 Klausula Arbitrase Dalam Kontrak Konstruksi.

Undang-Undang R.I. No.30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif


Penyelesaian Sengketa – Bab I : KETENTUAN UMUM, Pasal 1 ayat 3
menyebutkan tentang pengertian perjanjian arbitrase yang tercantum dalam
suatu perjanjian tertulis yang dibuat para pelaku sebelum timbul sengketa atau
suatu perjanjian arbitrase sendiri yang dibuat para pihak setelah timbul
sengketa.

Jadi ada 2 kemungkinan terjadi perjanjian arbitrase yaitu sebelum sengketa timbul atau
sesudahnya.

Berikut di sajikan syarat-syarat/kententuan perjanjian arbitrase sebelum dan sengketa


timbul :

KLAUSULA PERJANJIAN ARBITRASE

(SEBELUM TERJADI SENGKETA)

PENGERTIAN KONSEKUENSI YURIDIS

Kesepakatan yang tercantum dalam 1. Menentukan kompetensi absolut


(suatu) perjanjian tertulis yang dibuat arbitrase, di mana PN tidak
para pihak sebelum timbul sengketa. berwenang mengadili sengketa (U.U.
No.30/1999) Pasal 3;
Undang-Undang R.I. No.30 tahun 1999
tentang Arbitrase dan Alternatif 2. PN wajib menolak dan tidak akan
Penyelesaian Sengketa – Pasal 1 ayat 1. campuran untuk menyelesaikan
sengketa yang terikat perjanjian
arbitrase (U.U. No.30/1999 Pasal 1).

KLAUSULA STANDAR

1. Kesepakatan (komitmen) para pihak


untuk melaksanakan arbitrase jika
terjadi sengketa dalam pelaksanaan
kontrak.

2. Ruang lingkup (objek) arbitrase.

3. Lembaga arbitrase yang digunakan,


dan tata-cara penunjukan arbiter.

4. Rules dan prosedur yang digunakan.

5. Tempat dan bahasa yang digunakan.

6. Pilihan terhadap hukum substansi


yang berlaku;

KLAUSULA PERJANJIAN ARBITRASE

(SETELAH TERJADI SENGKETA)

SYARAT YANG HARUS DIMUAT KETERANGAN

a. Masalah sengketa 1. Perjanjian ini harus tertulis dan dalam


bentuk Notariil (akta Notaris).
b. Nama lengkap dan tempat tinggal para
pihak 2. Perjanjian arbitrase yang tidak memuat
semua syarat akan batal demi hukum
c. Nama lengkap arbiter dan tempat (U.U. No.30/1999 Pasal 9).
tinggal arbiter atau lembaga
arbitrase 3. Perjanjian (klausula) Arbitrase tidak
batal disebabkan alasan/peristiwa :
d. Tempat arbiter atau majelis arbitrase
akan mengambil keputusan. a. Meninggalnya salah satu pihak;

e. Nama lengkap sekretaris. b. Bankrutnya salah satu pihak;

f. Kurun waktu penyelesaian sengketa; c. Novasi (pembaruan hutang);

g. Pernyataan kesediaan dari arbiter; d. Insolvensi;

h. Pernyataan kesediaan dari pihak yang e. Pewarisan;


bersengketa untuk menanggung
segala biaya yang diperlukan untuk f. Berlakunya syarat hapusnya perikatan
penyelesaian sengketa melalui pokok;
arbitrase.
g. Pengalihan pelaksanaan perjanjian
pokok oleh pihak ketiga;
h. Berakhirnya atau batalnya perjanjian
pokok.

(U.U. No.30/1999 Pasal 10)

CONTOH KLAUSULA ARBITRASE

ARBITRASE AD HOC

Setiap perselisihan, sengketa atau tuntutan yang terjadi dalam pelaksanaan atau
yang berkenaan dengan perjanjian ini, termasuk namun tidak terbatas pada
perbuatan wanprestasi, pengakhiran atau sah tidaknya perjanjian, yang tidak dapat
diselesaikan melalui musyawarah (negosiasi) akan diselesaikan melalui arbitrase
yang dilaksanakan di (…………..) sesuai dengan ketentuan dan prosedur dalam
Undang-UNDANG Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif
Penyelesaian Sengketa.

ARBITRASE AD HOC & PILIHAN RULE

Setiap perselihan, sengketa atau tuntutan apapun yang terjadi dalam pelaksanaan
atau yang berkenaan dengan perjanjian ini, akan diselesaikan melalui arbitrase yang
dilaksanakan di ( ………………………………) dengan ketentuan dan prosedur
BANI.

ARBITRASE LEMBAGA & RULE

Semua sengketa yang timbul dari perjanjian ini akan diselesaikan dan diputus oleh
Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) menurut peraturan-peraturan prosedur
arbitrase BANI yang keputusannya mengikat kedua belah pihak yang bersengketa
sebagai keputusan dalam tingkat pertama dan terakhir.

ARBITRASE LEMBAGA & RULE (VARIATIF)

Any dispute, controversy or claim arising out of or relating to this contract, or the
breach, termination or invalidity thereof, shall be settled by arbitration in accordance
with the UNCITRAL Arbitration Rules as at the present in force. The appointing
authority shall be the ICC in accordance with the rules adopted by the ICC for this
purpose.

7.9 Jalur Alternatif Penyelesaian Sengketa

7.9.1 Pengantar

Sesungguhnya penyelesaian sengketa melalui jalur alternative ini


adalah cara termurah, termudah dan tercepat serta tertutup bila
dibandingkan dengan arbitrase atau pengadilan bila para pihak yang
bersengketa benar-benar beritikat baik.
Cara ini juga kemungkinan sengketa ini diketahui pihak luar.

7.9.2 Ketentuan Hukum

Cara penyelesaian sengketa melalui jalur alternative penyelesaian


sengketa diatur dalam UU. RI. No. 30/1999 – Bab II; : Alternatif
Penyelesaian Sengketa Pasal 6 dengan cara konsultasi, negosiasi,
mediasi, konsiliasi atau penilaian ahli

7.9.3 Beberapa Pilihan

a. Mediasi

Mediasi adalah cara penyelesaian sengketa melalui seorang


penengah atau yang biasa disebut mediator, yang ditunjuk oleh
para pihak. Mediator tidak memutuskan sengketa tapi
membimbing para pihak dalam berunding mencari suatu
penyelesaian. Tidak ada aturan baku mengenai hal ini, tidak ada
pula peraturan perundang-undangan yang mengatur tata cara,
batas waktu, biaya dan sebagainya. Cara ini sesungguhnya sangat
baik, cepat, mudah tanpa diketahui pihak lain, asal saja dilandasi
itikad baik.

b. Negosiasi

Cara ini sesungguhnya adalah cara yang paling mudah dan


sangat murah dengan pokok pandangan hidup dari tradisi kita
yaitu musyawarah untuk mufakat. Dapat saja para pihak masing-
masing menunjuk “juri runding” yang sering disebut
“negosiator”. Hasil kesepakatan juri runding dituangkan secara
tertulis. Sedikit berbeda dengan mediasi disini para pihak/juri
runding berhadapan satu sama lain, tanpa ada seorang penengah.
Cara inipun murah, mudah, dan biaya kecil.

c. Konsiliasi

Ini adalah upaya penyelesaian sengketa dengan cara


mempertemukan keinginan para pihak dengan menyerahkannya
kepada suatu komisi/pihak ketiga yang ditunjuk atas kesepakatan
para pihak yang bertindak sebagai konsiliator.

Dalam cara ini konsiliator tidak harus melakukan perundingan


masing-masing dengan salah satu pihak secara bergantian.

Berbeda dengan cara mediasi disini konsiliator dapat


memaksakan pengusulan/resolusi yang diambil.

Jadi pada saat berakhirnya tugas konsiliator, dia akan menbuat


perjanjian tertulis yang ditanda tangani para pihak atau dapat
juga konsiliator membuat suatu laporan yang memuat hal-hal
mengenai kegagalan atau suatu pernyataan bahwa proses
konsiliasi terhenti.