Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

HUBUNGAN KEMASAMAN TANAH (pH TANAH) DENGAN UNSUR


HARA

Penyusun :

Yohanes Facris Bani (1417351015)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS ( PROGRAM EKESTENSI )


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR 2014
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di Indonesia umumnya tanahnya bereaksi masam dengan 4,0 – 5,5 sehingga tanah dengan
pH 6,0 – 6,5 sering telah dikatakan cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam. Di
daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang
disebut tanah sangat masam karena banyak mengandung asam sulfat.
Pada umumnya reaksi tanah baik tanah gambut maupun tanah mineral menunjukkan sifat
kemasaman atau alkalinitas tanah yang dinyatakan dengan nilai pH. Nilai pH menunjukkan
banyaknya konsentrasi ion Hidrogen (H+) di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam
tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula
ion OH-, yang jumlahnya sebanding dengan banyaknya H+. Pada tanah-tanah masam jumlah ion
H+ lebih tinggi daripada OH-. Sedangkan pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak
daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH- maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai
pH 7.
Bila tanah terlalu asam atau terlalu basa maka tanaman akan tumbuh kurang sempurna
sekalipun masih bisa tumbuh dan menghasilkan buah. Memang ada beberapa tanaman tertentu
yang senang di tanah asam ataupun basa. Ketersediaan unsur hara makro di dalam tanah ini
sedikit sedangkan hara mikro seperti Besi dan Aluminium tinggi. Hal ini mengakibatkan
tanaman kekurangan hara dan keracunan.
Salah satu upaya yang ditempuh dalam upaya meningkatkan dan memperbaiki lahan
masam adalah dengan menurunkan keasaman dan meningkatkan kejenuhan basa yang diperoleh
dengan pemberian kapur serta pemupukan. Dengan adanya peningkatan kejenuhan basa, maka
pH tanah naik dan unsur hara relatif lebih mudah tersedia.
Pada pembuatan makalah kali ini, kami ingin mengetahui lebih lanjut penyebab
kemasaman tanah dan upaya peningkatan pH serta potebsi pemanfaatanya untuk tanaman.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari penulisan malakalh ini yaitu sebagai berikut:
1. Apakah pengertian reaksi tanah ( pH tanah ), dan tanah masam itu?
2. Apakah faktor penyebab kemasaman tanah?
3. Bagaimana sifat kemasaman tanah itu?
4. Bagaiamana ciri-ciri tanah yang masam ?
5. Bagaimanakah akibat dari tanah masam untuk tanaman?
6. Bagaiamana upaya peningkatan pH dalam mengurangi kemasaman tanah?
7. Bagaimana pengaruh ph terhadap pertumbuhan tanaman?

C. Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada
mahasiswa tentang pengertian reaksi tanah (pH tanah ), dan tanah masam, dan mampu
mengetahui sifat kemasaman tanah, ciri-ciri tanah yang masam, akibat dari tanah masam untuk
tanaman, dan upaya peningkatan ph dalam mengurangi kemasaman tanah serta pengaruh pH
terhadap pertumbuhan tanaman.
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Reaksi Tanah (pH tanah) dan Tanah Masam


Reaksi tanah atau pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat
keasaman atau kebasaan yang dimiliki oleh suatu larutan dalam tanah. Ia didefinisikan sebagai
kologaritma aktivitas ion hidrogen (H+) yang terlarut. Sejumlah proses dalam tanah dipengaruhi
oleh reaksi tanah dan biokimia tanah yang berlansung spesifik. Pengaruh lansung terhadap laju
dekomposisi mineral tanah dan bahan organik, pembentukan mineral lempung bahkan
pertumbuhan tanaman. Pengaruh tidak lansungnya terhadap kelarutan dan ketersediaan hara
tanaman. sebagai contoh perubahan konsentrasi fosfat dengan perubahan pH tanah. Konsentrasi
ion H+ yang tinggi bisa meracun bagi tanaman.
Secara teoritis, angka pH berkisar antara 1 sampai 14. Angka satu berarti kepekatan ion

hidrogen di dalam tanah ada 10 - 1 atau 1/10 gmol/l. Tanah pada kepekatan ini sangat asam.

Sementara angka 14 berarti kepekatan ion hidrogennya 10-14 gmol/l. Tanah pada angka

kepekatan ini sangat basa. Koefisien aktivitas ion hidrogen tidak dapat diukur secara
eksperimental, sehingga nilainya didasarkan pada perhitungan teoritis. Skala pH bukanlah skala
absolut. Ia bersifat relatif terhadap sekumpulan larutan standar yang pH-nya ditentukan
berdasarkan persetujuan internasional.
Tanah masam adalah tanah yang memiliki nilai PH kurang dari 5,5, baik berupa lahan
kering maupun lahan basah, semakin rendah pH tanahnya maka semakin ekstrim
kemasamannya. Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen di dalam
tanahtersebut. Bila kepekatan ion hidrogen di dalam tanah terlalu tinggi maka tanah akan
bereaksi asam, sebaliknya bila kepekatan ion hidrogen terlalu rendah maka tanah akan bereaksi
basa. Pada kondisi ini kadar kation OH- lebih tinggi dari ion H+.
2. Faktor Penyebab Kemasaman Tanah
a. Air Hujan
Ada kekhawatiran tentang hujan asam, tetapi hampir semua hujan adalah ber pH rendah
(asam). Air Hujan murni yang tidak mengandung bahan pencemar pada dasarnya adalah air
distilasi. Air hujan ini yang dalam kesetimbangan dengan atmosfer akan memiliki pH sekitar 5,6
karena pelarutan karbon dioksida di dalam air.
Ketika air hujan murni berada dalam kesetimbangan dengan karbon dioksida, maka
konsentrasi ion hidrogen yang dihasilkan menyebabkan pH 5,6.

b. Respirasi Akar
Tanaman juga menghasilkan karbon dioksida karena proses respirasi akar, dan selama
periode pertumbuhan aktif akar dapat menyebabkan karbon dioksida di tanah yang
konsentrasinya lebih tinggi beberapa kali dari di atmosfer, sehingga terjadi peningkatan jumlah
karbon dioksida terlarut dalam air tanah dan menyebabkan peningkatan keasaman tanah atau pH
menjadi lebih rendah.
c. Pupuk
Karbon dioksida bukan satu-satunya sumber ion hidrogen dalam tanah, namun. Pada tanah
yang dikelola, pupuk dapat menjadi sumber utama ion hidrogen.
Faktor Pupuk (Pupuk Amonium dan Pupuk Mono Kalsium Fosfat).
 Pupuk Amonium
Pupuk modern biasanya menggunakan amonium sebagai sumber nitrogen, akan tetapi
oksidasi ammonium dihasilkan ion nitrat dan ion hidrogen sehingga menyebabkan pengasaman
tanah.
Dengan kata lain, dua atom hidrogen dihasilkan setiap molekul ammonium teroksidasi.

 Pupuk Mono Kalsium Fosfat


Monocalcium fosfat yang sering digunakan sebagai salah satu komponen pupuk juga
menjadi faktor penyebab terjadinya proses pengasaman tanah (meskipun lebih rendah daripada
amonium). Senyawa ini akan terhidrolisis dalam air membentuk fosfat bikalsium dan Asam
fosfat.
Asam fosfat terdisosiasi sangat cepat seiring dengan peningkatan pH dari 3,0 menjadi lebih
dari 7.0.
Secara umum ion hidrogen (H+) ketiga tersebut akan terlarut pada pH di atas netral,
sehingga tidak termasuk faktor penyebab pengasaman tanah. Akan tetapi, kedua ion hidrogen (
H+) yang sudah terlarut dalam kisaran pH tanah asam, termasuk faktor penyebab kemasaman
tanah.

Ketika pupuk fosfor diberikan dalam lubang tugal, maka H3PO4 terdisosiasi dalam tanah
sehingga terjadi nilai pH yang sangat rendah didekat pupuk tersebut. Tingkat keasaman ini akan
secara bertahap menyebar ke dalam tanah sekitar lokasi pupuk. Menurut Lindsay dan Stephenson
(1959), nilai pH 1,5 dapat ditemukan segera di zona sekitar pupuk tersebut.

Faktor Reaksi Oksidasi yang Menghasilkan Ion Hidrogen

Semua reaksi oksidasi dalam tanah yang menghasilkan ion hidrogen dapat menyebabkan
terjadinya pengasaman tanah. Salah satu reaksi pengasaman paling efektif adalah oksidasi sulfur
anorganik. Belerang biasanya digunakan jika tanah memiliki pH lebih tinggi dari yang
diinginkan, sehingga diperlukan upaya penurunan pH tanah. Misalnya, Reaksi oksidasi pirit yang
terjadi pada tanah rawa yang diangkat sehingga terjadi reaksi oksidasi dari pirit tanah tersebut.
Setiap ion S dihasilkan 2 ion Hidrogen

d. Bahan Organik
Berbagai macam Bahan Organik juga dapat menyebabkan pengasamkan tanah.
Kemampuan pengasamannya tergantung pada jenis tanaman sebagai sumber bahan organik
tersebut. Beberapa tanaman mengandung asam organik dalam jumlah yang sangat berbeda
dengan tanaman lainnya. Asam organik hasil dekomposisi bahan organik menyebabkan
pengasaman tanah.
Bahan organik yang berasal dari tanaman dengan kandungan basa-basa rendah juga
menyebabkan terjadinya sedikit pengasaman tanah. Bahan organik yang berasal dari tanaman
dengan kandungan basa-basa kurang mencukupi kebutuhan mikrobia pendekomposernya,
menyebabkan mikrobia tersebut menyerap basa-basa keperluannya dari sistem tanah, sehingga
basa-basa tanah seperti kalsium dan magnesium terkuras dari tanah maka menyebabkan
terjadinya pengasaman tanah.
e. Tanaman
Pertumbuhan tanaman juga berkontribusi dalam pengasaman tanah, proses penyerapan
hara utama (kalium, kalsium dan magnesium) disertai pertukaran dengan ion hidrogen sehingga
menyebabkan terjadinya pengasaman tanah. Jenis Tanaman tertentu juga mempengaruhi
pengasaman tanah. Contohnya adalah tanaman Legumninosa. Selama masa pertumbuhan
tanaman Leguminosa terjadi penyerapan anion dan kation dengan perbandingan yang tidak
seimbang, sehingga lebih mengasamkan tanah. Tanaman leguminosa menyerap hara nitrogen
dari hasil fiksasi mikrobia yang bersimbiosis dengannya. Tanaman non-leguminosa menyerap
nitrogen dari sistem tanah dan penyerapan ini dalam kondisi yang seimbang dengan penyerapan
kation-kation basa, sehingga lebih sedikit pertukaran dengan ion hidrogen, maka sedikit
menyebabkan pengasaman tanah.
f. Hujan Asam
Hujan asam juga memberikan kontribusi dalam proses pengasaman tanah. Dalam sistem
tanah kontribusi dari hujan asam relatif rendah dibandingkan dengan pengaruh dari pasir
sesquioxida yang bersifat sangat asam yang kapasitas tukar kation sangat rendah. Akan tetapi
banyak tanaman sangat peka terhadap pengaruh dari hujan asam.
Adapun faktor lainya penyebab kemasaman pada tanah yaitu sebagai berikut : Tanah
bereaksi masam (pH rendah) adalah karena tanah kekurangan Kalsium (CaO) dan Magnesium
(MgO), ini disebabkan oleh:
• Curah hujan tinggi, pada daerah dengan iklim tropika basah, dengan curah hujan yang tinggi,
secara alami tanah akan menjadi masam akibat pencucian unsur hara yang ada.
• Pupuk pembentuk asam, Pupuk nitrogen seperti Urea, ZA, Amonium Sulfat, Kcl, ZK adalah
pupuk yang mempunyai pengaruh mengasamkan tanah.
• Drainase, Drainase yang kurang baik, genangan air yang terus menerus pada tanah yang berawa,
tanah pada keadaan yang demikian selalu asam.
• Adanya unsur berlebihan, Al (Alumunium), Fe (Besi) dan Cu (Tembaga) dalam kadar yang
berlebih, seperti disekitar pegunungan verbek atau daerah tambang nikel, besi dan tembaga
selalu di jumpai tanah asam.
• Proses dekomposisi bahan organik, Pada tanah berbahan organik tinggi seperti pada tanah
gambut selalu dijumpai tanah asam dengan pH rendah, hal itu karena proses dekomposisi bahan
organik yang dalam prosesnya akan mengusir dan mengeluarkan unsur (Kalsium) CaO dari
dalam tanah.

3. Sifat Kemasaman Tanah


Terdapat dua jenis reaksi tanah atau kemasaman tanah, yakni keasaman (reaksi tanah) aktif
dan potensial. Reaksi tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas
dalam larutan tanah. Reaksi tanah inilah yang diukur pada pemakaiannya sehari-hari. Reaksi
tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh kompleks
koloid tanah maupun yang terdapat dalam larutan.Sejumlah senyawa menyumbang pada
pengembangan reaksi tanah yang asam atau basa. Asam-asam organik dan anorganik, yang
dihasilkan oleh penguraian bahan organik tanah , merupakan konstituen tanah yang umum dapat
mempengaruhi kemasaman tanah. Respirasi akar tanaman menghasilkan C02 yang akan
membentuk H2CO3 dalam air. Air merupakan sumber lain dari sejumlah kecil ion H+. Suatu
bagian yang besar dari ion-ion H+ yang dapat dipertukarkan
H H---Lempung = H+H
Ion-ion H+ tertukarkan tersebut berdisosiasi menjadi ion-ion H+ bebas. Derajat ionisasi
dan disosiasi ke dalam larutan tanah menentukan khuluk kemasaman tanah. Ion-ion H+ yang
dapat dipertukarkan merupakan penyebab terbentuknya kemasaman tanah potensial atau
cadangan. Besaran dari kemasaman potensial ini dapat ditentukan dengan titrasi tanah. Ion-ion
H+ bebas menciptakan kemasaman aktif. Kemasaman aktif diukur dan dinyatakan sebagai pH
tanah. Tipe kemasaman inilah yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Menentukan
Kemasaman Tanah
Ada beberapa alat ukur reaksi tanah yang dapat digunakan. Alat yang murah ialah kertas
lakmus yang bentuknya berupa gulungan kertas kecil memanjang. Alat lain yang harganya
sedikit mahal tetapi dapat dipakai berulang kali dengan hasil pengukuran lebih terjamin adalah
pH tester dan soil tester.
Pemakaian kertas lakmus sangat mudah, caranya yaitu : mengambil tanah lapisan dalam, lalu
larutkan dengan air murni (aquadest) dalam wadah. Biarkan tanahnya terendam di dasar wadah
sehingga airnya menjadi bening kembali. Setelah bening, air tersebut dipindahkan ke wadah lain
secara hati-hati agar tidak keruh. Selanjutnya, ambil sedikit kertas lakmus dan celupkan ka dalam
air tersebut. Dalam beberapa saat kertas lakmus akan berubah warna. Cocokan warna pada kertas
lakmus dengan skala yang ada pada kemasan kertas lakmus. Skala tersebut telah dilengkapi
dengan angka pH masing-masing Warna. Angka pH tanah tersebut adalah angka dari warna pada
kemasan yang cocok dengan warna kertas lakmus Misalnya, angka yang cocok adalah 6 maka
pH-nya 6.Pemakaian soil tester untuk mendapat pH tanah agak berbeda dengan kertas lakmus.
Bentuknya seperti pahat dan berukuran pendek. Oleh karena berbentuk padatan, ada bagian yang
runcing. Bagian runcing inilah yang ditancapkan ke tanah hingga pada batas yang dianjurkan.
Setelah ditancapkan, sekitar tiga menit kernudian jarum skala yang terletak di bagian atas alat ini
akan bergerak. Angka yang ditunjukkan jarum tersebut merupakan pH dari tanah tersebut.
Pemakaian pH tester lebih sederhana dan soil tester penggunaannya untuk megukur nilai pH
tanah di lahan yang tidak terlalu luas, sekitar 1-2 ha. Walaupun demikian, alat ini masih bisa
diandalkan. Bagian yang menunjukkan angka pH berbentuk kotak dengan jarum penunjuk
angka. Bagian kotak tersebut dihubungkan dengan besi sepanjang 25 cm yang ujungnya runcing
dan dilapisi logam elektroda. Besi inilah vang ditancapkan ke tanah. Jumlah besi bisa 1-2 buah.
Penetapan pH tanah sekarang ini dilakukan dengan elektroda kaca. Elektroda ini terdiri dari
suatu bola kaca tipis yang berisi HCL. encer, dan di dalamnya disisipkan kawat Ag-AgCl, yang
berfungsi sebagai elektrodanya dengan tegangan (voltase) tetap. Pada waktu bola kaca tersebut
itu dicelupkan ke dalam suatu larutan, timbul suatu perbedaan antara larutan di dalam bola dan
larutan tanah di luar bola kaca. Sebelum pengukuran pH dilakukan, kedua elektroda
pertama-tama harus dimasukkan ke dalam suatu larutan yang diketahui pH-nya (misalnya
konsentrasi ion H+ = 1 g/L). Kegiatan ini disebut pembakuan elektroda dan petunjuk pH (pH
meter).
Dalam pengukuran pH, elektroda acuan dan elektroda indikator dicelupkan ke dalam
suspensi tanah yang heterogen yang terdiri atas partikel-partikel padat terdispersi dalam suatu
larutan aquadest. Jika partikel-partikel padat dibiarkan mengendap, pH dapat diukur dalam
cairan supernatant atau dalam endapan (sedimen). Penempatan pasangan elektroda dalam
supernatant biasanya memberikan bacaan pH yang lebih tinggi dari pada penempatan dalam
sedimen. Perbedaan dalam bacaan pH ini disebut pengaruh suspensi. Pengadukan suspensi tanah
sebelum pengukuran tidak akan memecahkan masalah tersebut, karena prosedur ini memberikan
bacaan yang tidak stabil.
4. Ciri-Ciri Tanah Yang Masam
Tanah yang masam memiliki ciri berbau busuk, permukaan air seperti ditutupi lapisan
karat besi, dan banyak tumbuh lumut. Jenis tanah dari lahan ini digolongkan juga sebagai tanah
bermasalah, yaitu tanah yang mempunyai sifat baik fisika, kimia, maupun biologi lebih jelek
dibandingkan dengan tanah mineral umumnya sehingga produktivitas lahan jenis tanah ini
tergolong rendah, bahkan sangat rendah .
Tanah sulfat masam dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu :
(1). Tanah sulfat masam potensial yang dicirinya antara lain lapisan pirit pada kedalaman>50 cm
dari permukaan tanah (2). Semua jenis tanah yang digolongkan sebagai tanah sulfat masam
aktual. Adapun yang dimaksud dengan tanah sulfat masam potensial yang dicirikan oleh warna
kelabu, kemasaman sedang-sampai dengan masam (pH>4.0), sementara itu yang dimaksud
dengan tanah sulfat masam aktual yang dicirikan dengan warna kecoklatan pada permukaan, dan
sangat masam atau pH< 3,5 (Noor, 2004).
Tanah sulfat masam merupakan tanah yang mengandung senyawa pirit (FeS2), banyak
terdapat di daerah rawa, pasang surut maupun lebak. Mikroorganisme sangat berperan dalam
pembentukan tanah tersebut. Pada kondisi tergenang senyawa tersebut bersifat stabil, namun bila
telah teroksidasi maka akan memunculkan problem bagi tanah, kualitas kimia perairan dan biota-
biota yang berada baik di dalam tanah itu sendiri maupun yang berada di badan-badan air,
dimana hasil oksidasi tersebut tercuci ke perairan tersebut.
5. Akibat Dari Tanah Masam Untuk Tanaman
Tanah yang masam dapat menyebabkan penurunan ketersediaan unsur hara bagi tanaman
akibat kekurangan unsur hara Ca dan Mg, meningkatkan dampak unsur beracun dalam tanah
akibat tingginya kandungan Al3+, berkurangnya unsur Mo sehingga proses fotosintesis
terganggu, mempengaruhi fungsi penting biota tanah yang bersimbiosis dengan tanaman seperti
fiksasi nitrogen oleh Rhizobium dan Terakumulasinya ion H+ pada tanah sehingga menghambat
pertumbuhan tanaman.
Mensvoort dan Dent (1998) menyebutkan bahwa senyawa pirit (ferit) tersebut merupakan
sumber masalah pada tanah tersebut. Selain itu jika tanah ini dikeringkan atau teroksidasi, maka
senyawa pirit akan membentuk senyawa feri hidroksida Fe(OH)3 sulfat SO42- dan ion hidrogen
H+ sehingga tanah menjadi sangat masam. Akibatnya kelarutan ion-ion Fe2+, Al3+ dan Mn2+
bertambah di dalam tanah dan dapat bersifat racun bagi tanaman. Ketersediaan fosfat menjadi
berkurang karena diikat oleh besi atau aluminium dalam bentuk besi fosfat atau aluminium
fosfat. Biasanya bila tanah masam kejenuhan basa menjadi rendah, akibatnya terjadi kekahatan
unsur hara di dalam tanah (Putu dan Widjaya-Adhi, 1990).

6. Upaya Peningkatan Ph Dalam Mengurangi Kemasaman Tanah


Pada prinsipnya ada tiga kelompok cara penanganan masalah tanah masam yang
berhubungan dengan pengelolaan kesuburan tanah dan pengendalian gulma di tingkat
masyarakat, yaitu cara kimia, cara fisik-mekanik dan cara biologi.Masing-masing cara memiliki
kelebihan dan kekurangan, sehingga dalam praktek ketiga cara tersebut seringkali diterapkan
secara bersama-sama.
Cara kimia merupakan salah satu upaya pemecahan masalah kesuburan tanah dengan
menggunakan bahan-bahan kimia buatan. Beberapa upaya yang sudah dikenal adalah
pengapuran, pemupukan, dan penyemprotan herbisida.

A. Pengapuran
Pengapuran merupakan upaya pemberian bahan kapur ke dalam tanah masam dengan
tujuan untuk:
a) Menaikkan pH tanah
Nilai pH tanah dinaikkan sampai pada tingkat mana Al tidak bersifat racun lagi bagi
tanaman dan unsur hara tersedia dalam kondisi yang seimbang di dalam tanah. Peningkatan pH
tanah yang terjadi sebagai akibat dari pemberian kapur, tidak dapat bertahan lama, karena tanah
mempunyai sistem penyangga, yang menyebabkan pH akan kembali ke nilai semula setelah
beberapa waktu berselang.
b) Meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK)
KTK meningkat sebagai akibat dari peningkatan pH tanah. Namun peningkatan KTK ini
juga bersifat tidak tetap, karena sistem penyangga pH tanah tersebut di atas.
c) Menetralisir Al yang meracuni tanaman.
Karena unsur Ca bersifat tidak mudah bergerak, maka kapur harus dibenamkan sampai
mencapai kedalaman lapisan tanah yang mempunyai konsentrasi Al tinggi. Hal ini agak sulit
dilakukan di lapangan, karena dibutuhkan tenaga dalam jumlah banyak dan menimbulkan
masalah baru yaitu pemadatan tanah. Alternatif lain adalah menambahkan dolomit (Ca,
Mg(CO3)2) yang lebih mudah bergerak, sehingga mampu mencapai lapisan tanah bawah dan
menetralkan Al. Pemberian kapur seperti ini memerlukan pertimbangan yang seksama
mengingat pemberian Ca dan Mg akan mengganggu keseimbangan unsur hara yang lain.
Tanaman dapat tumbuh baik, jika terdapat nisbah Ca/Mg/K yang tepat di dalam tanah.
Penambahan Ca atau Mg seringkali malah mengakibatkan tanaman menunjukkan gejala
kekurangan K, walaupun jumlah K sebenarnya sudah cukup di dalam tanah. Masalah ini menjadi
semakin sulit dipecahkan, jika pada awalnya sudah terjadi kahat unsur K pada tanah tersebut.
Tanah masam umumnya tidak produktif. Untuk meningkatkan produktifitas tanah tersebut,
pemberian kapur adalah cara yang tepat. Beberapa keuntungan dari pengapuran adalah : 1) fosfat
menjadi lebih tersedia, 2) kalium menjadi lebih efisien dalam unsur hara tanaman, 3) struktur
tanahnya menjadi baik dan kehidupan organisme dalam tanah lebih giat, 4) menambah Ca dan

Mg bila yang digunakan adalah dolomin, dan 5) kelarutan zat-zat yang sifatnya meracun

tanaman menjadi menurun dan unsur lain tidak banyak terbuang.

Selain tanah-tanah yang bereaksi masam, terdapat pula tanah yang, bereaksi alkalis (basa)

dengan derajat pH lebih dari 8.0. Tanah-tanah demikian perlu diturunkan pH nya sampai

mendekati netral agar permanfaatannya untuk berusaha tani lebih baik. Usaha untuk menurunkan
pH pada tanah yang reaksinya alkalis dapat dilakukan dengan memberikan beberapa bahan, yaitu
tepung belerang (S).
Cara pengapuran dengan bahan pengapur untuk menaikkan pH tanah yang paling umum

pada tanah-tanah pertanian yang menghendaki perbaikan derajat keasamannya adalah dengan

cara disebar dan disemprotkan.


Pada cara disebar, sebulan sebelum penanaman dilaksanakan, kapur bakar atau kapur mati
diberikan dengan jalan disebar merata di permukaan tanah. Pada pengolahan tanah terakhir

(menghaluskan dan meratakan), kapur diaduk dengan tanah agar butir-butir kapur masuk ke

dalam lapisan tanah. Bila yang digunakan tepung batu kapur (kapur pertanian) hendaknya
diberikan jauh lebih awal daripada kapur bakar maupun kapur mati. Cara pemberian dengan

disebar biasa dilaksanakan pada penanaman kedelai, dengan menggunakan dosis 2 - 4 ton kapur

mati per hektar.


Pengapuran dengan cara disemprotkan biasa dilakukan pada tanaman kacang tanah. Pada
tanaman ini pengapuran merupakan suatu pekerjaan yang baik untuk menyediakan unsur Ca bagi
tanarnan kacang tanah. Hal ini disebabkan karena kebutuhan Ca pada kacang tanah adalah besar
terutama untuk pembentukan polong.
Cara pemberian tepung belerang adalah pada saat pengolahan tanah tepung belerang
ditaburkan di atas permukaan tanah. Pada pengolahan selanjutnya tepung belerang akan diaduk
atau teraduk ke dalam lapisan tanah. Sedangkan cara pernberian gypsum adalah tepung gypsum
halus ditebarkan pada permukaan tanah kemudian diaduk dengan tanah. Jumlah gypsum yang
dibutuhkan untuk menurunkan pH dari derajat basa sampai mendekati netral adalah 6 ton per
hektar, tergantung, pada alkalinitas asal dan jenis tanahnya. Setelah pemberian tepung gypsum
dilaksanakan, lahan harus dialiri dengan air tawar.
Bila ada kelebihan pemberian kapur, yaitu penambahan kapur melebihi pH tanah yang
diperlukan oleh pertumbuhan optimum tanaman, biasanya tanaman akan memberikan tanggapan
terhadap pengapuran akan sangat menderita, terutama pada tahun pertama pemberian kapur.
Pemberian kapur dalam jumlah sedang pada tanah berat tidak akan memberikan pengaruh buruk.
Tetapi, pada tanah berpasir atau berdebu dan bahan organik rendah jumlah pemberian kapur
yang sama menyebabkan banyak tanaman menderita. Pengaruh buruk yang dapat terjadi adalah :
1 ) kekurangan besi, mangan, tembaga dan seng, 2) Ketersediaan fosfor mungkin menurun
karena pembentukan senyawa kompleks dan tidak larut, 3) Serapan fostor dan penggunaannya
dalarn metabolisme tanaman dapat terganggu, 4) serapan boron dan penggunaannya dapat
terganggu dan 5) perubahan pH yang meningkat cepat dapat berpengaruh buruk. Dengan begitu
kerusakan akibat kelebihan kapur sukar diterangkan secara memuaskan, karena adanya
hubungan biokoloidal yang kompleks dalam tanah.
Untuk menentukan banyaknya kapur yang diperlukan untuk tiap-tiap hektar tanah
diperlukan beberapa cara antara kain, yaitu :
1) Metode SMP (Schoemaker, McLean, dan Pratt). Metode ini dilanjutkan dengan mengukur
jumlah H+ dan Al3+ yang dapat dipertukarkan dan larut dengan menggunakan larutan SMP
buffer. Prosedurnya yaitu terlebih dahulu mengocok tanah dengan air destilat kemudian diukur
pH-nya. Dengan kertas lakmus atau pH meter. Bila tanah tersebut tergolong masam, maka
pengukuran dilanjutkan dengan menambah larutan SMP buffer lalu dikocok. Kemudian diukur
lagi pH-nya. Berdasarkan metode ini maka kebutuhan kapur dapat diketahui melalui tabl
kebutuhan kapur.
2) Metode berdasarkan kadar Al-dd tanah permukaan, yaitu kadar Al-dd yang diekstrak dengan
larutan KCl 1 N.

B. Pemupukan (Penambahan Unsur Hara)


Pemupukan merupakan jalan termudah dan tercepat dalam menangani masalah keadaan
unsur hara, namun bila kurang memperhatikan kaidah-kaidah pemupukan, pupuk yang diberikan
juga akan hilang percuma. Pada saat ini sudah diketahui secara luas bahwa tanah-tanah pertanian
di Indonesia terutama tanah masam kahat unsur nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Oleh
karena itu petani biasanya memberikan pupuk N, P, K secara sendiri-sendiri atau kombinasi dari
ketiganya. Pupuk N mudah teroksidasi, sehingga cepat menguap atau tercuci sebelum tanaman
menyerap seluruhnya. Pupuk P diperlukan dalam jumlah banyak karena selain untuk memenuhi
kebutuhan tanaman juga untuk menutup kompleks pertukaran mineral tanah agar selalu dapat
tersedia dalam larutan tanah.
Pemupukan K atau unsur hara lain dalam bentuk kation, akan banyak yang hilang kalau
diberikan sekaligus, karena tanah masam hanya mempunyai daya ikat kation yang sangat
terbatas (nilai KTK tanah-tanah masam umumnya sangat rendah). Unsur hara yang diberikan
dalam bentuk kation mudah sekali tercuci.
Supaya tujuan yang ingin dicapai melalui pemupukan dapat berhasil dengan baik, maka
harus diperhatikan hal-hal berikut:
a). Waktu pemberian pupuk
Waktu pemberian pupuk harus diperhitungkan supaya pada saat pupuk diberikan
bertepatan dengan saat tanaman membutuhkannya, yang dikenal dengan istilah sinkronisasi
(Gambar 4.1). Hal ini dimaksudkan agar tidak banyak unsur hara yang hilang tercuci oleh aliran
air, mengingat intensitas dan curah hujan di kawasan ini sangat tinggi. Waktu pemberian pupuk
yang tepat bervariasi untuk berbagai jenis pupuk dan jenis tanamannya.
Pemupukan N untuk tanaman semusim sebaiknya diberikan paling tidak dua kali, yaitu
pada saat tanam dan pada saat pertumbuhan maksimum (sekitar 1-2 bulan setelah tanam).
Sementara pupuk P dan K bisa diberikan sekali saja yaitu pada saat tanam.
b). Penempatan Pupuk
Penempatan pupuk harus diusahakan berada dalam daerah aktivitas akar, agar pupuk dapat
diserap oleh akar tanaman secara efektif. Kesesuaian letak pupuk dengan posisi akar tanaman
disebut dengan istilah sinlokalisasi.
c). Dosis pupuk
Jumlah pupuk yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan tanaman, supaya pupuk yang
diberikan tidak banyak yang hilang percuma sehingga dapat menekan biaya produksi serta
menghindari terjadinya polusi dan keracunan bagi tanaman.
Walaupun pemupukan merupakan cara yang mudah dan cepat untuk mengatasi
permasalahan kahat (defisiensi) hara, namun terdapat beberapa kelemahan dari cara ini yang
harus dipertimbangkan dalam merencanakan program pemupukan.
 Beberapa kelemahan dari pengelolaan tanah secara kimia adalah:
- Pemupukan membutuhkan biaya tinggi karena harga pupuk mahal
- Penggunaan pupuk tidak dapat menyelesaikan masalah kerusakan fisik dan biologi tanah,
bahkan cenderung mengasamkan tanah.
- Pemupukan yang tidak tepat dan berlebihan menyebabkan pencemaran lingkungan
C. Penyemprotan herbisida
Tumbuhan pengganggu atau gulma yang tumbuh dalam lahan yang ditanami menyebabkan
kerugian karena mengambil unsur hara dan air yang seharusnya dapat digunakan oleh tanaman.
Oleh karena itu keberadaan dan pertumbuhan gulma harus ditekan.
Cara kimia juga dipergunakan untuk menekan pertumbuhan gulma yang banyak ditemukan
pada tanah masam seperti alang-alang, yakni dengan memakai herbisida. Pemakaian herbisida
harus dilakukan secara tepat baik dalam hal jumlah (dosis), waktu dan penempatannya, demikian
pula harus disesuaikan antara macam herbisida dengan gulma yang akan diberantas. Penggunaan
herbisida yang berlebihan dapat menyebabkan bahaya keracunan pada si pemakai dan pada
produk pertanian yang dihasilkan serta pencemaran lingkungan.
D. Pemberian Bahan Organik
Bahan organik selain dapat meningkatkan kesuburan tanah juga mempunyai peran penting
dalam memperbaiki sifat fisik tanah. Bahan organik dapat meningkatkan agregasi tanah,
memperbaiki aerasi dan perkolasi, serta membuat struktur tanah menjadi lebih remah dan mudah
diolah. Bahan organik tanah melalui fraksi-fraksinya mempunyai pengaruh nyata terhadap
pergerakan dan pencucian hara. Asam fulvat berkorelasi positif dan nyata dengan kadar dan
jumlah ion yang tercuci, sedangkan asam humat berkorelasi negatif dengan kadar dan jumlah ion
yang tercuci. Penyediaan bahan organik dapat pula diusahakan melalui pertanaman lorong
(alley cropping).
Selain pangkasan tanaman dapat menjadi sumber bahan organik tanah, cara ini juga dapat
mengendalikan erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penanaman Flemingia sp. dapat
meningkatkan pH tanah dan kapasitas tukar kation serta menurunkankejenuhan Al. Petani
menyadari bahwa pemberian pupuk organik dapat meningkatkan kesuburan tanah. Menurut
mereka, pengaruh pupuk organik dalam memperbaiki kesuburan tanah kurang spontan akan
tetapi pengaruhnya lebih tahan lama. Sedangkan pupuk buatan pengaruhnya spontan akan tetapi
hanya tahan beberapa minggu atau bulan. Pupuk organik yang digunakan adalah pupuk hijau,
kotoran ternak, bagas, dan sebagainya. Berdasarkan pengalaman bahwa pengusahaan tanaman
semusim yang sebagian besar biomasanya tidak dikembalikan, lebih cepat menguras zat
makanan yang ada di tanah, mereka mulai belajar mengembalikan sisa-sisa panen ke lahan.
E. Pengaturan Sistem Tanam
Pengaturan sistem tanam sebenarnya hanya bersifat untuk mencegah keasaman tanah atau
mencegah kemasaman tanah yang lebih parah. Hal ini berkaitan erat dengan artikel maspary
yang berjudul Mengatasi Tanah Asem- asemen Pada Padi Sawah. Pemberaan. Untuk
mempertahankan kesuburan tanah, petani memberakan lahan [Bahasa Jawa: bero] atau
membiarkan semak belukar tumbuh di lahan yang telah diusahakan beberapa musim. Menurut
mereka, tanaman akan tumbuh lebih baik pada lahan yang sebelumnya diberakan. Bera dengan
hanya mengandalkan suksesi alami memerlukan waktu lebih lama untuk mengembalikan
kesuburan tanah. Tumpanggilir. pengusahaan satu jenis tanaman semusim saja selama tiga tahun
berturut-turut menyebabkan tanah menjadi “kurus” dan “cepat panas”. Menurut pengamatan
petani, jenis tanaman pangan yang banyak menguras zat makanan dalam tanah [Bhs.Jawa :
ngeret lemah] adalah ubikayu, ketela rambat dan kacang tanah. Tumpangsari. Beberapa petani
juga melakukan tumpangsari di lahan mereka.
Pada umumnya dasar keputusan petani untuk memilih sistem tumpangsari adalah karena
alasan ekonomi, bukannya kesadaran untuk mempertahankan kesuburan tanah. Misalnya
pendapatan petani dari hasil tumpangsari jagung dan padi ternyata lebih besar dari hasil jagung
atau padi monokultur. Pencegahan erosi. Pada dasarnya petani menyadari pentingnya
pencegahan erosi di lahan mereka, terutama pada lahan yang curam. Beberapa usaha yang telah
dicoba adalah dengan membuat guludan sejajar kontur atau menggunakan batang pohon yang
ditebang pada saat pembukaan lahan sebagai teras-teras akan tetapi karena intensitas curah hujan
yang tinggi serta struktur tanah yang kurang mantap menyebabkan guludan tersebut mudah
longsor. Sebagian petani ada yang membuat guludan tegak lurus arah kontur, sehingga air
limpasan bisa mengalir lebih cepat. Cara ini memang bisa mengurangi kerusakan guludan dan
mempercepat pematusan karena tanaman tertentu tidak menyukai tanah yang terlalu basah, tetapi
pengikisan tanah (erosi) tetap terjadi.
F. Pemberian Mikroorganisme Pengurai
Terdapatnya bahan organik yang belum terurai juga akan menyumbangkan tingkat
keasaman tanah, pristiwa ini sering maspary lihat pada tanah-tanah sawah yang terlalu cepat
pengerjaannya. Pemberian mikroorganisme pengurai akan mempercepat dekomposisi bahan
organik dalam tanah sehingga akan membantu ketersediaan dan keseimbangan unsur hara. Selain
itu perombakan bahan organik juga akan menyeimbangkan KTK tanah.
7. Pengaruh Ph Terhadap Pertumbuhan Tanaman
1. Menentukan mudah tidaknya ion-ion unsur hara diserap oleh tanaman. Pada umumnya unsur
hara akan mudah diserap tanaman pada pH 6-7, karena pada pH tersebut sebagian besar unsur
hara akan mudah larut dalam air.
2. Derajat pH dalam tanah juga menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi
tanaman. Jika tanah masam akan banyak ditemukan unsur alumunium (Al) yang selain meracuni
tanaman juga mengikat phosphor sehingga tidak bisa diserap tanaman. Selain itu pada tanah
masam juga terlalu banyak unsur mikro yang bisa meracuni tanaman. Sedangkan pada tanah basa
banyak ditemukan unsur Na (Natrium) dan Mo (Molibdenum)
3. Kondisi pH tanah juga menentukan perkembangan mikroorganisme dalam tanah. Pada pH 5,5 –
7 jamur dan bakteri pengurai bahan organik akan tumbuh dengan baik. Demikian juga
mikroorganisme yang menguntungkan bagi akar tanaman juga akan berkembang dengan baik.
 Pengaruh tingkatan pH tanah terhadap tanaman adalah sebagai berikut:
- pH dibawah 4.5 (terlalu asam), menyebabkan akar rusak sehingga kualitas dan jumlah panen
turun. Terlihat pada saat perubahan tanaman dari fase vegetatif ke generatif.

- pH 5.5 sampai 6 (rata-rata tanah di Indonesia), Terdapat unsur hara yang optimum untuk
tanaman

- pH diatas 6, Pada tingkatan ini, tanaman akan terlalu vegetatif. Hal ini tidak berpengaruh pada
kualitas buah karena berada di musim yang tidak tepat.

- Menaikan atau menurunkan pH tanah juga berguna untuk pengendalian penyakit, pH tanah
diubah agar tidak sesuai dengan kebutuhan pathogen, biasanya untuk tanaman umbi-umbian
seperti kentang
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Reaksi tanah menunjukkan keasaman dan kebasaan tanah dan dinyatakan sebagai pH.
Keasaman tanah ditentukan oleh kadar atau kepekatan ion hidrogen yang beredar di dalam tanah
tersebut. Bila kepekatan ion hidrogen (H+ ) di dalam tanah tinggi maka tanah disebut asam
Sebaliknya, bila kepekatan ion hidrogen terlalu rendah maka tanah disebut basa. Pada kondisi ini

kadar kation OH- lebih tinggi dari H+.

Reaksi tanah dibedakan menjadi kemasaman (reaksi tanah) aktif dan potensial. Reaksi
tanah aktif ialah yang diukurnya konsentrasi hidrogen yang terdapat bebas dalam larutan tanah.
Reaksi tanah potensial ialah banyaknya kadar hidrogen dapat tukar baik yang terjerap oleh
kompleks koloid tanah maupun yang terdapat dalarn larutan.Tanah masam karena kandungan H+
yang tinggi dan banyak ion AL3+ yang bersifat masam karena dengan air ion tersebut dapat

menghasilkan H+. Di daerah rawa-rawa atau tanah gambut, tanah masam umumnya disebabkan

oleh kandungan asam sulfat yang tinggi.


Pengapuran merupakan salah satu cara untuk memperbaiki tanah yang bereaksi asam atau

basa. Tujuan dari pengapuran adalah untuk menaikkan pH tanah sehingga karenanya unsur-unsur

hara menjadi lebih tersedia, memperbaiki struktur tanahnya sehingga kehidupan organisme

dalam tanah lebih giat, dan menurunkan kelarutan zat-zat yang sifatnya meracuni tanaman dan

unsur lain tidak banyak terbuang.

Saran
Untuk penanaman tanaman perlu memperhatikan kondisi tanahnya, karena tanah sangat
berpengaruh dalam pertumbuhan tanaman itu sendiri, jika tanahnya terlalu masam atau terlalu
alkalis maka peetumbuhanya akan terhambat dan bisa menyebabkan kematian akibat unsur hara
tanaman dalam tanah sedikit atau kurang.
DAFTAR ISI

http://ambarawa-jawa.blogspot.com/2012/09/pengapuran-untuk-meningkatkan-ph-tanah.html. Diakses
pada hari Selasa tanggal 28 April 2015 pukul 13.00 Wita.
http://www.agrina-online.com/show_article.php?rid=6&aid=2982. Diakses pada hari Selasa tanggal 28
April 2015 pukul 13.00 Wita.
http://ganitri.blogspot.com/2009/05/pengaruh-ph-tanah-terhadap-pertumbuhan.html. Diakses pada hari
Selasa tanggal 28 April 2015 pukul 13.00 Wita.
http://www.gerbangpertanian.com/2011/11/mengatasi-tanah-masam-dan-basa.html. Diakses pada hari
Selasa tanggal 28 April 2015 pukul 13.00 Wita.
http://ganitri.blogspot.com/2009/05/ Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Pekalongan - Kota SANTRI -
Cara Menanggulangi Masalah Tanah Masam.htm. Diakses pada hari Selasa tanggal 28 April
2015 pukul 13.00 Wita.
worldagroforestry.org, pupukdsp.com, doctortani.com, repository.usu.ac.id. Diakses pada hari Selasa
tanggal 28 April 2015 pukul 13.00 Wita.
http://www.profitgoonline.com. Berbagi Dengan Ikhlas Karya Ilmiah tentang Pengaruh PH Tanah
pada pertumbuhan tanaman.htm. Diakses pada hari Selasa tanggal 28 April 2015 pukul 13.00
Wita.
http://ambarawa-jawa.blogspot.com/2012/09 Jurnal Hijau Reaksi Tanah (Ph).Htm. Diakses pada hari
Selasa tanggal 28 April 2015 pukul 13.00 Wita.

Anda mungkin juga menyukai