Anda di halaman 1dari 15

Pengantar Teknologi Mineral

Oleh :

Nama : 1. Nurain Ishak


2. Siti Deanti Amatilah
3. Rizky Budi Nurhassanah
NPM : 1. 10070111106
2. 10070111084
3. 10070111097

Pengantar Teknologi Mineral


Univesitas Islam Bandung
Tahun 2011/2012
Eksplorasi mineral

Eksplorasi mineral itu tidak hanya berupa kegiatan sesudah penyelidikan umum itu secara positif
menemukan tanda-tanda adanya letakan bahan galian, tetapi pengertian eksplorasi itu merujuk kepada
seluruh urutan golongan besar pekerjaan yang terdiri dari :

1. Peninjauan (reconnaissance atau prospeksi atau penyelidikan umum) dengan tujuan mencari prospek,
2. Penilaian ekonomi prospek yang telah diketemukan, dan
3. Tugas-tugas menetapkan bijih tambahan di suatu tambang

Di Indonesia sendiri nama-mana dinas atau divisi suatu organisasi perusahaan, lembaga pemerintahan
serta penelitian memakai istilah eksplorasi untuk kegiatannya yang mencakup mulai dari mencari
prospek sampai menentukan besarnya cadangan mineral. Sebaliknya ada beberapa negara, misalnya
Perancis dan Uni Soviet (sebelum negara ini bubar) yang menggunakan istilah eksplorasi untuk kegiatan
mencari mineralisasi dan prospeksi untuk kegiatan penilaian ekonomi suatu prospek (Peters, 1978).
Selanjutnya istilah eksplorasi mineral yang dipakai dalam buku ini berarti keseluruhan urutan kegiatan
mulai mencari letak mineralisasi sampai menentukan cadangan insitu hasil temuan mineralisasi.
Selanjutnya istilah eksplorasi mineral yang dipakai dalam buku ini berarti keseluruhan urutan kegiatan
mulai dari mencari letak mineralisasi sampai menentukan cadangan insitunya.

Pentahapan Dalam Perencanaan Kegiatan Eksplorasi:

1. Tahap Eksplorasi Pendahuluan

Menurut White (1997), dalam tahap eksplorasi pendahuluan ini tingkat ketelitian yang diperlukan masih
kecil sehingga peta-peta yang digunakan dalam eksplorasi pendahuluan juga berskala kecil 1 : 50.000
sampai 1 : 25.000. Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah :

a. Studi Literatur

Dalam tahap ini, sebelum memilih lokasi-lokasi eksplorasi dilakukan studi terhadap data dan peta-peta
yang sudah ada (dari survei-survei terdahulu), catatan-catatan lama, laporan-laporan temuan dll, lalu
dipilih daerah yang akan disurvei. Setelah pemilihan lokasi ditentukan langkah berikutnya, studi faktor-
faktor geologi regional dan provinsi metalografi dari peta geologi regional sangat penting untuk memilih
daerah eksplorasi, karena pembentukan endapan bahan galian dipengaruhi dan tergantung pada proses-
proses geologi yang pernah terjadi, dan tanda-tandanya dapat dilihat di lapangan.

b. Survei Dan Pemetaan

Jika peta dasar (peta topografi) dari daerah eksplorasi sudah tersedia, maka survei dan pemetaan
singkapan (outcrop) atau gejala geologi lainnya sudah dapat dimulai (peta topografi skala 1 : 50.000 atau
1 : 25.000). Tetapi jika belum ada, maka perlu dilakukan pemetaan topografi lebih dahulu. Kalau di
daerah tersebut sudah ada peta geologi, maka hal ini sangat menguntungkan, karena survei bisa
langsung ditujukan untuk mencari tanda-tanda endapan yang dicari (singkapan), melengkapi peta
geologi dan mengambil conto dari singkapan-singkapan yang penting.
Selain singkapan-singkapan batuan pembawa bahan galian atau batubara (sasaran langsung), yang perlu
juga diperhatikan adalah perubahan/batas batuan, orientasi lapisan batuan sedimen (jurus dan
kemiringan), orientasi sesar dan tanda-tanda lainnya. Hal-hal penting tersebut harus diplot pada peta
dasar dengan bantuan alat-alat seperti kompas geologi, inklinometer, altimeter, serta tanda-tanda alami
seperti bukit, lembah, belokan sungai, jalan, kampung, dll. Dengan demikian peta geologi dapat
dilengkapi atau dibuat baru (peta singkapan).

Tanda-tanda yang sudah diplot pada peta tersebut kemudian digabungkan dan dibuat penampang tegak
atau model penyebarannya (model geologi). Dengan model geologi hepatitik tersebut kemudian
dirancang pengambilan conto dengan cara acak, pembuatan sumur uji (test pit), pembuatan paritan
(trenching), dan jika diperlukan dilakukan pemboran. Lokasi-lokasi tersebut kemudian harus diplot
dengan tepat di peta (dengan bantuan alat ukur, teodolit, BTM, dll.).

Dari kegiatan ini akan dihasilkan model geologi, model penyebaran endapan, gambaran mengenai
cadangan geologi, kadar awal, dll. dipakai untuk menetapkan apakah daerah survei yang bersangkutan
memberikan harapan baik (prospek) atau tidak. Kalau daerah tersebut mempunyai prospek yang baik
maka dapat diteruskan dengan tahap eksplorasi selanjutnya.

2. Tahap Eksplorasi Detail

Setelah tahapan eksplorasi pendahuluan diketahui bahwa cadangan yang ada mempunyai prospek yang
baik, maka diteruskan dengan tahap eksplorasi detail (White, 1997). Kegiatan utama dalam tahap ini
adalah sampling dengan jarak yang lebih dekat (rapat), yaitu dengan memperbanyak sumur uji atau
lubang bor untuk mendapatkan data yang lebih teliti mengenai penyebaran dan ketebalan cadangan
(volume cadangan), penyebaran kadar/kualitas secara mendatar maupun tegak. Dari sampling yang
rapat tersebut dihasilkan cadangan terhitung dengan klasifikasi terukur, dengan kesalahan yang kecil
(<20%), sehingga dengan demikian perencanaan tambang yang dibuat menjadi lebih teliti dan resiko
dapat dihindarkan.

Pengetahuan atau data yang lebih akurat mengenai kedalaman, ketebalan, kemiringan, dan penyebaran
cadangan secara 3-Dimensi (panjang-lebar-tebal) serta data mengenai kekuatan batuan sampling, kondisi
air tanah, dan penyebaran struktur (kalau ada) akan sangat memudahkan perencanaan kemajuan
tambang, lebar/ukuran bahwa bukaan atau kemiringan lereng tambang. Juga penting untuk
merencanakan produksi bulanan/tahunan dan pemilihan peralatan tambang maupun prioritas bantu
lainnya.

3. Studi Kelayakan

Pada tahap ini dibuat rencana peoduksi, rencana kemajuan tambang, metode penambangan,
perencanaan peralatan dan rencana investasi tambang. Dengan melakukan analisis ekonomi berdasarkan
model, biaya produksi penjualan dan pemasaran maka dapatlah diketahui apakah cadangan bahan galian
yang bersangkutan dapat ditambang dengan menguntungkan atau tidak.

INFOWONOGIRI.COM-WONOGIRI-Eksplorasi pertambangan emas di wilayah Kecamatan Selogiri


diharapkan mampu memberikan keuntungan bagi semua pihak, tak terkecuali bagi masyarakat Wonogiri
dan PT Alexis Perdana Mineral (APM) selaku perusahaan yang sedang melakukan ekplorasi
pertambangan di Selogiri.
Hal itu dikemukakan oleh Bupati Wonogiri Danar Rahmanto, Ketua DPRD Wonogiri Wawan Setya
Nugroho, dan Ketua Komisi C DPRD Wonogiri di ruang data Setda, Kamis (4/8/11) saat digelar
pemaparan hasil eksplorasi oleh PT Alexis Perdana Mineral. “Diharapkan dengan kegiatan pertambangan
yang akan dilakukan oleh PT Alexis ini akan menguntungkan semua pihak.

Jangan sampai masyarakat Wonogiri kehilangan moment,” ujar Bupati, saat sambutan. Bupati sempat
mempertanyakan keseriusan pemaparan hasil eksplorasi ini. Di luar Bupati mengaku mendengar kabar
ekspose hasil eksplorasi ini hanya untuk wacana dan cara mendongkrak harga di bursa Saham
perusahaan tertentu. Bupati juga mempertanyakan perbedaan kegiatan investor mana yang tergolong
sebagai eksplorasi dan mana ekploitasi. Pemaparan PT APM adalah bentuk pertanggungjawaban
pemegang IUP untuk memberikan laporan secara berkala seperti diatur oleh UU No 4 Tahun 2009 pasal
111.

PT APM telah melakukan eksplorasi selama 2,5 tahun dari masa eksplorasi IUP 6 tahun. Rinciannya 4
tahun eksplorasi dan 2 tahun Studi Kelayakan dan Amdal. Dalam waktu 2,5 tahun telah banyak yang
dilaksanakan oleh PT. APM yaitu pemetaan geologi, penelitian geokimia, permodelan geofisika,
pemboran eksplorasi sebanyak lebih dari 21 titik, serta rencana RC drilling di 80 titik pada tahun 2011.
Penelitian pun termasuk kategori eksplorasi, sepeti yang dilakukan oleh penambang tradisional sejak
jaman Belanda, dulu.

Terjadinya benturan antara kepentingan nasional untuk menjadikan kawasan Kerinci-Seblat sebagai zona
konservasi alam di Propinsi Bengkulu dengan kegiatan penambangan emas yang menunjang sektor
ekonomi rakyat di Kecamatan Lebong Utara, telah menimbulkan persoalan sosial yang tidak dapat
dianggap ringan. Walaupun aktifitas pertambangan yang berlangsung masih dalam skala kecil, tetapi
metoda penambangan yang konvensional serta rendahnya tingkat kepedulian akan lingkungan diantara
para penambang, telah menimbulkan ancaman kerusakan lingkungan yang serius pada daerah sekitar
tambang. Kebutuhan kayu penyangga terowongan tambang merupakan sebab utama terjadinya
penebangan pohon, disamping untuk membangun tempat tinggal, sementara itu penggunaan bahan
kimia beracun dalam ekstraksi emas telah menyebabkan tercemarnya air permukaan di kawasan sekitar
tambang. Karena itu menemukan daerah penambangan diluar kawasan hutan lindung merupakan jalan
keluar yang bisa menyelesaikan persoalan secara manusiawi. Pengamatan geologi lapangan
menunjukkan bahwa daerah penambangan alternatif yang terbentang ke arah Baratdaya dari kota
Muaraaman, tidak memiliki potensi mineralisasi emas yang memadai. Hal ini terjadi karena mineralisasi
emas/perak di kawasan ini terbentuk mengiringi gejala tektonik pada Kala sebelum Miosen Tengah
setelah pengendapan Formasi Hulusimpang, sementara itu Formasi Hulusimpang di daerah
penambangan alternatif ditutupi secara tidak selaras oleh Formasi Lemau, Formasi Bintunan dan Satuan
Batuan Gunungapi. Gejala alterasi di Air Ulu Belimau dan pembentukan veinturat yang barren
membuktikan adanya periode kedua aktifitas hidrotermal yang membawa sedikit mineralisasi pada
daerah yang relatif terbatas.

EKSPLORASI EMAS

Kondisi pasar logam emas yang semakin cerah belakangan ini menyebabkan banyak investor memburu
komoditas ini. Daerah penyelidikan yang terletak di daerah Siulak Deras, Kabupaten Kerinci, Provinsi
Jambi pada koordinat 101°14’50,2” - 101°19’08” BT, dan 1o51’46,4”- 1°57’11,2” LS
(Gambar 1) merupakan sasaran karena sudah diketahui memiliki indikasi emas (Rudy dkk, 1996 dan In-
gold, 2000).
Kegiatan eksplorasi saat ini yang dilakukan dengan metoda pemetaan geologi, parit uji, geokimia
tanah/endapan sungai dimaksudkan untuk mengetahui kondisi geologi lokal, melokalisir penyebaran dan
menafsirkan model/tipe pembentukan emas di wilayah ini sebagai tindaklanjut berbagai penyelidikan
terdahulu. Selama kegiatan telah diambil sebanyak 25 coto batuan, 76 conto endapan sungai, 36 conto
konsentrat dulang dan 160 conto tanah.
Selain sebagai bagian dari tugas dan fungsi dari Pusat Sumber Daya Geologi, hasil kegiatan ini
diharapkan sebagai data dasar bagi investor dan pemerintah daerah Kabupaten Kerinci dalam
pengusahaan/pengelolaan potensi sumber daya mineral di daerah ini.

Hasil Penyelidik Terdahulu


Indikasi emas ditemukan antara Sungai Penuh dan Tapan, di bagian barat di luar wilayah daerah
eksplorasi (De Jongh 1917).
Hasil penyelidikan geokimia regional menunjukkan anomali geokimia unsur As dan Cu pada endapan
sungai yang mengalir di bagian utara S. Penuh atau bermuara dari wilayah usulan eksplorasi (Crow, M.J,
1993). Anomali geokimia Au dan butiran emas juga diperoleh di sekitar Siulak Deras (Rudy Gunrady dkk.,
1996). Daerah penyelidikan ditafsirkan memiliki endapan emas tipe epithermal (PT. Ingold, 1999).

Hasil Penyelidikan

Morfologi daerah penyelidikan dapat dibagi kedalam dua satuan utama yaitu, morfologi perbukitan terjal
dan morfologi perbukitan landai. Satuan morfologi perbukitan terjal sangat luas menempati daerah
penyelidikan, pada level ketinggian diatas 1000 m diatas permukaan laut, ditempati batuan gunungapi
dan dicirikan penampang lembah sungai “V” .
Satuan morfologi perbukitan bergelombang landai menempati sebagian kecil selatan daerah
penyelidikan. Berada pada ketinggian dibawah 1.000 m diatas permukaan laut. Dicirikan lembah-lembah
sungai yang lebar, banyak mengendapkan kerikil-bongkah batuan.

Litologi
Ada enam satuan batuan menempati daerah penyelidikan dan diuraikan dari muda hingga tua sebagai
berikut (Gambar 2):
1. Batuan Gunungapi/Lava (Kwarter)
Menempati bagian baratlaut daerah penyelidikan, merupakan batuan gunungapi andesit-basalt yang
berkomposisi lava-basalan.
2. Andesit (Pliosen)
Merupakan batuan intrusi andesit hornblende menerobos batuan granodiorit. Menempati bagian barat
dan timur wilayah penyelidikan. Tekstur batuan umumnya berkristal halus, telah mengalami ubahan
khloritisasi dan piritisasi.
3. Breksi Gunungapi (Oligo-Miosen)
Menempati bagian selatan hingga timurlaut daerah kerja. Dicirikan fragmen-fragmen batuan andesit dari
zona hancuran akibat sesar dan teramati dekat jalan raya Sungaipenuh-Siulak Deras.
4. Batupasir Tufan (Oligo-Miosen)
Menempati bagian tengah daerah penyelidikan dengan penyebaran tidak terlalu luas. Terdiri dari
komposisi pasir halus dan tufa berlapis dengan jurus tenggara dan miring 32o ke timurlaut.
5. Kuarsa Porfir (Oligosen)
Menyebar tidak luas, hanya pada bagian utara daerah penyelidikan berdampingan dengan batuan
granodiorit. Berkomposisi kuarsa berbutir kasar dan sedikit mineral gelap (ferromagnesia). Pada
sebagian lokasi berselang seling dengan batuan granodiorit.
6. Granodiorit (Oligosen)
Menempati bagian tengah hingga barat daerah penyelidikan dengan tekstur kasar dan terdiri dari
komposisi kuarsa (sampai 40%) dan mineral-mineral ferromagnesia serta sedikit feldspar.

Struktur Geologi
Petunjuk struktur yang teramati adalah berupa gawir dan struktur penyerta seperti kekar-kekar (shear
joint) dan urat-urat kuarsa (gash). Bidang slickenside yang teramati di S. Telang. Hasil pengolahan data
struktur penyerta di Ujung Ladang (Sta 1) dan S. Telang (Sta 2) dan dari data gash fracture dapat
diketahui jenis sesar dan arah tegasan utama N20E dan N200E. Tiga patahan secara umum berarah
tenggara-baratlaut namun dengan jenis patahan yang berbeda (Gambar 2). Dua patahan paling timur
dan tengah masing-masing merupakan sesar mendatar jenis dekstral dan sinistral. Satu patahan paling
barat, merupakan jenis sesar normal dimana bagian timur relative turun dan bagian barat relatif naik.

Ubahan dan Mineralisasi


Ditemukan ubahan khloritisasi pada batuan andesit yang cukup luas di bagian tengah hingga utara
daerah penyelidikan. Disamping itu juga teramati piritisasi pada batuan andesit dan granodiorit di bagian
tengah dan barat aya daerah penyelidikan.
Petunjuk mineralisasi logam ditemukan berupa kalkopirit, pirit dan galena pada urat-urat kuarsa di S.
Telun atau barat daya daerah penyelidikan. Urat-urat kuarsa ini bertekstur “milky quartz” dan kompak,
terdapat pada batuan andesit. Tebal urat beberapa puluh cm dan membentuk zona pembentukan urat
(veining zone) hingga sekitar 15 meter lebarnya (Foto 1). Jurus zona urat pada batuan andesit ini adalah
tenggara-barat laut dan miring 60o ke arah baratdaya.

Pembahasan
Keberadaan urat-urat kuarsa dalam dua batuan yang berbeda walaupun secara spasial dan umur relatif
berdekatan cukup menarik karena kedua batuan mengalami ubahan dan piritisasi. Namun, karena
memperlihatkan ciri-ciri fisik kuarsa yang berbeda tekstur yaitu sugary pada granodiorit/porfiri kwarsa
dalam parit uji dan milky pada urat dalam andesit, memberi kesan adanya dua jenis mineralisasi pada
sistem yang berlainan yaitu epitermal dan non- epitermal. Deduksi ini masih harus didukung dengan
hasil analisis laboratorium yang sedang dikerjakan.

Dalam penambangan emas, logam emas tidak berada dalam bentuk murninya, akan tetapi masih
bercampur dengan logam dan campuran lain. Karena itu perlu adanya pemisahan dan pemurnian logam
emas. Selama ini, pemisahan emas dilakukan dengan cara sianidasi, amalgamasi, dan peleburan.
Sedangkan pemurnian emas dengan cara elektrolisis. Namun metode-metode tersebut banyak
menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan.. Hal ini karena bahan kimia yang digunakan untuk reaksi-
reaksi diatas bersifat toksik terhadap lingkungan. Pencucian tumpukan batuan dengan sianida (Cyanide
Heap Leaching) dianggap sebagai cara paling hemat biaya untuk memisahkan butir-butir emas yang
halus. Tapi cara ini sangat tidak ramah lingkungan karena sianida dapat melepaskan logam-logam berat
lainnya seperti kadmium, timah, merkuri yang berbahaya bagi manusia dan ikan, dalam konsentrasi
rendah sekalipun. Menurut laporan Program lingkungan PBB (UNEP), dari tahun 1985 hingga 2000, lebih
dari selusin waduk pembuangan limbah tambang emas mengandung sianida ambruk.
Metode amalgamasi, yang dalam penggunaannya melibatkan raksa, hanya dapat mengisolasi emas
sekitar 50%-60%. Selain dinilai tidak efisien, raksa juga menghasilkan residu yang berdampak negatif bagi
lingkungan (Hocker, 2000). Bahkan uap raksapun dianggap berbahaya jika terhirup manusia. Gejala
keracunan pada manusia antara lain : batuk, nyeri dada, bronchitis, pneumonia, tremor, insomnia, sakit
kepala, cepat lelah, kehilangan berat badan, dan gangguan pencernaan. Mengingat metode-metode
yang tidak ramah lingkungan tersebut, maka diperlukan metode lain yang lebih ramah terhadap
lingkungan. Menurut Gardea-Torresdey, et al. (1998) sejak lama telah diketahui bahwa tumbuhan
memiliki kemampuan untuk mengambil emas dari tanah dan mengakumulasikannya dalam jaringan
secara cepat, baik secara aktif melalui metabolisme tumbuhan atau secara pasif melalui gugus fungsional
dalam jaringan tumbuhan. Kemampuan ini dapat dimanfaatkan untuk memperoleh kembali ion emas(III)
dari larutannya.
Dewasa ini telah banyak dikembangkan metode adsorpsi dengan menggunakan biomassa tumbuhan,
yang dikenal sebagai metode fitofiltrasi. Biomassa tumbuhan dapat digunakan untuk mengadsorpsi ion
logam kationik maupun anionik. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa biomassa tumbuhan dapat
mengikat berbagai ion logam seperti Cu(II), Ni(II), Cd(II), Cr(III), Sn(II), Au(III), dan Zn(II) (Gardea-
Torresdey, et al. 1998). Selain itu, biomassa bersifat biodegradable, sehingga penggunaannya bersifat
ramah lingkungan.
Tiemann, et al., (2004) menduga bahwa gugus-gugus aktif yang terdapat pada protein dalam tumbuhan
berperan penting bagi proses pengikatan ion logam. Tumbuhan yang memiliki kadar protein tinggi dan
dapat digunakan untuk mengikat emas(III) dengan metode fitofiltrasi adalah rumput gajah.
Metode fitofiltrasi ini diharapkan sebagai metode alternatif yang dapat digunakan dalam pengolahan
pertambangan emas di Indonesia, sehingga residu dari hasil tambang emas yang diperoleh tidak akan
membahayakan bagi lingkungan, hewan, dan manusia.
Pengolahan emas sistem pelarutan ( leaching) sianida ataupun tiourea konvensional baru bernilai jika
dilakukan terhadap batuan dengan kandungan minimal emas 5 gram / ton. Padahal dalam kenyataannya
mayoritas batuan emas memiliki kandungan yang lebih kecil dari itu. Agar batuan dengan kandungan
emas minimal 1 gram / ton dapat diproses secara ekonomis, maka diciptakan sistem pengolahan dump
leach / heap leach.
Berbeda dengan cara - cara konvensional, dalam sistem ini tidak dilakukan penghalusan ukuran batuan.
Dengan kata lain tak perlu dilakukan proses - proses mekanis terhadap batuan hasil tambang. Batuan
dengan ukuran seperti apa adanya ditumpuk diatas bidang datar ( lapang) yng telah dilapisi polimer
sejenis plastik. Plastik berfungsi menahan cairan kimia agar tak meresap ke lapisan tanah di bawahnya,
sehingga aman dari pencemaran.
Proses pelarutan dilakukan dengan menyemprot cairan kimia dengan metode hujan buatan melalui
sprinkle - sprinkle yang ditempatkan di atas tumpukan batuan. Tetes larutan selanjutnya akan melakukan
penetrasi ke pori - pori batuan, melarutkan logam - logam yang di inginkan. Gaya grafitasi membawa
larutan logam ke bagian bawah dan selanjutnya dialirkan ke kolam / danau penampungan. Hasil larutan
yang telah masuk ke kolam / danau kemudian diproses untuk mendapatkan logam emas dan perak.

Tambang Emas di Indonesia dan Cara Pengolahan Limbahnya

Indonesia memiliki berbagai macam bahan tambang yang terdapat di berbagai daerah. Minyak bumi, gas
alam, emas, batubara, bijih besi, dan aspal merupakan jenis-jenis bahan tambang yang dimiliki oleh
Indonesia. Salah satu jenis bahan tambang yang cukup banyak dan tersebar ketersediaannya di Indonesia
adalah emas. Emas merupakan salah satu jenis bahan tambang yang memiliki nilai ekonomis sangat
tinggi. Emas hampir dipasarkan dan diperdagangkan hampir di semua pasar perdagangan bahan
tambang di seluruh dunia. Nilai investasi emas meningkat setiap terjadi perdagangan emas dalam jumlah
yang cukup besar. Bahkan, jika dilihat lebih jauh lagi, emas memberikan kontribusi berupa devisa yang
sangat besar bagi negara-negara pengekspor emas.
Emas tidak terdapat di lapisan tanah yang cukup dalam dari permukaan bumi atau permukaan tanah.
Bisa dikatakan bahwa bahan tambang jenis ini terletak di permukaan tanah, daerah aliran sungai yang
berisi endapan-endapan mineral, bahkan di daerah hilir sungai yang merupakan akhir dari arah aliran air
sungai yang mungkin saja menjadi tempat berkumpulnya arah aliran beberapa sungai yang membawa
endapan-endapan mineral. Emas merupakan salah satu jenis mineral yang memiliki banyak manfaat.
Jenis mineral ini dapat digunakan sebagai bahan konduktor pengantar panas di beberapa jenis alat
elektronik. Namun, kegunaan emas yang utama adalah sebagai bahan perhiasan berupa kalung, emas,
cincin, dan lain sebagainya. Jadi, secara garis besar, emas memiliki berbagai manfaat untuk kehidupan
manusia.

Untuk mendapatkan emas yang terletak di permukaan tanah ataupun yang terletak di daerah aliran
sungai tidaklah terlalu sulit. Pencariannya hanya mempergunakan alat-alat yang sederhana. Teknik
pencarian dan pengolahan limbahnya sangat sederhana. Namun, untuk mendapatkan emas yang
terdapat di dalam lapisan tanah dengan kedalaman tertentu, pencarian emas perlu dipergunakan alat-
alat teknologi dan teknik pencarian yang cukup sulit. Survey lokasi merupakan salah satu kegiatan awal
yang diperlukan untuk mengetahui jumlah ketersediaan emas, posisi atau letak emas, dan kedalaman
emas dari permukaan tanah. Daerah yang memiliki banyak ketersediaan emas tentu saja harus menjadi
basis atau sumber pencarian dan pengolahan limbah hasil eksplorasi emas. Daerah-daerah inilah yang
kemudian menjadi daerah-daerah tambang emas yang mungkin saja alam dan lingkungannya dapat
rusak karena adanya kegiatan penambangan emas ini.

Ilustrasi-Tambang Emas

Indonesia memiliki banyak tambang emas yang tersebar mulai dari Pulau Sumatra, Pulau Jawa, Pulau
Kalimantan, dan Papua. Cadangan emas di Indonesia cukup besar. Ini dapat dilihat dari jumlah
tersebarnya daerah tambang-tambang emas di Indonesia. Salah satu daerah tambang emas dengan
jumlah kandungan emas yang sangat besar terletak di daerah Pegunungan Jayawijaya yang terletak di
Provinsi Papua Barat. Derah ini hanya memiliki satu tempat tambang emas, yaitu tambang emas
Grasberg. Tambang Grasberg adalah tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga ketiga
terbesar di dunia. Tambang ini terletak di provinsi Papua di Indonesia dekat latitude -4,053 dan longitude
137,116, dan dimiliki oleh Freeport yang berbasis di AS dengan pembagian hasil tambang mencapai
67.3%, Rio Tinto Group mendapatkan 13%, Pemerintah Indonesia mendapatkan 9.3% dan PT Indocopper
Investama Corporation mendapatkan 9%. Operator tambang ini adalah PT Freeport Indonesia, yaitu anak
perusahaan dari Freeport McMoran Copper and Gold. Biaya membangun tambang di atas gunung
sebesar 3 milyar dolar AS. Pada 2004, tambang ini diperkirakan memiliki cadangan 46 juta ons emas.
Pada 2006 produksinya adalah 610.800 ton tembaga; 58.474.392 gram emas; dan 174.458.971 gram
perak.

Awal dari ditemukan tambang emas ini berawal dari geologis Belanda Jean-Jacquez Dozy yang
mengunjungi Indonesia pada tahun 1936 untuk menskala glasier Pegunungan Jayawijaya di provinsi Irian
Jaya di Papua Barat. Dia membuat catatan di atas batu hitam yang aneh dengan warna kehijauan. Pada
1939, dia mengisi catatan tentang Ertsberg (bahasa Belanda untuk “gunung ore”). Namun, peristiwa
Perang Dunia II menyebabkan laporan tersebut tidak diperhatikan. Dua puluh tahun kemudian, geologis
Forbes Wilson, bekerja untuk perusahaan pertambangan Freeport, membaca laporan tersebut. Dia
dalam tugas mencari cadangan nikel, tetapi kemudian melupakan hal tersebut setelah dia membaca
laporan tersebut. Dia memutuskan untuk menyiapkan perjalanan untuk memeriksa Ertsberg. Ekspedisi
yang dipimpin oleh Forbes Wilson dan Del Flint, menemukan deposit tembaga yang besar di Ertsberg
pada 1960.

Penghasilan tembaga Grasberg meningkat dari 515.400 ton pada 2004 menjadi 793.000 ton pada 2005.
Produksi emas meningkat dari 1,58 juta ons menjadi 3,55 juta ons. Jumlah produksi emas di tambang ini
merupakan yang terbesar di dunia. Namun, jika dilihat dari jumlah pembagian hasil tambang emas ini,
Pemerintah Indonesia hanya mendapatkan bagian yang sangat kecil. Bagian yang sangat besar diterima
oleh operator penambangan yang mendapatkan bagian lebih dari 50%. Ini tentu saja sangat
menyedihkan mengingat tambang emas Grasberg berada di wilayah Indonesia dan dimiliki oleh
masyarakat Provinsi Papua Barat yang notabene merupakan salah satu provinsi yang terdapat di
Indonesia.

Indonesia memiliki banyak perusahaan yang bergerak di dalam bidang penambangan emas. Seperti
Borneo Gold Corporation, yaitu perusahaan tambang emas yang melakukan kegiatan penambangan
emas di Pulau Kalimantan. Perusahaan ini berkantor pusat di Toronto, Kanada. PT Freeport Indonesia
yang merupakan perusahaan tambang emas dari Amerika Serikat. Perusahaan ini melakukan kegiatan
penambangan di Provinsi Papua. Kalimantan Gold Co.Ltd merupakan perusahaan tambang emas dan
tembaga. Perusahaan ini berada di Palangkaraya, Kalimantan Selatan. PT Kelian Equatorial Mining adalah
perusahaan tambang emas pit terbuka yang melakukan kegiatan penambangan di Kelian, Kutai Barat,
Kalimantan Timur. Perusahaan ini berkantor pusat di Balikpapan. Logam Mulia merupakan anak
perusahaan dari PT Aneka Tambang Tbk, Unit Pengolahan dan Pemurnian Logam Mulia. Memproduksi
emas batangan, koin emas, dan lain-lain. Berkantor pusat di Jakarta. PT Mamberamo Indobara
merupakan perusahaan tambang yang bergerak di bidang tambang batubara, emas, dan minyak gas.
Lokasi tambang berada di daerah Mamberamo, Papua. Perusahaan ini berkantor pusat di Kota Legenda,
Bekasi. PT Nusa Halmahera Minerals merupakan perusahaan yang bergerak di pertambangan emas.
Perusahaan ini melakukan kegiatan pertambangan di Pulau Halmahera, Maluku Utara. Perusahaan ini
berkantor pusat di Jakarta. PT Southern Arc Minerals Inc (Kanada) dan PT Selatan Arc Minerals
merupakan perusahaan tambang emas dan tembaga. Kantor pusat berada di Graha Krama Yudha,
Warung Jati Barat, Jakarta Selatan. Tambang perusahaan ini berada di beberapa lokasi, seperti Wonogiri,
Lombok, dan Sumbawa.

Pengolahan emas ini selain menguntungkan juga dapat memberikan beberapa efek negatif. Selain
melakukan eksplorasi alam secara berlebihan, penambangan emas dan pengolahan emas akan
menghasilkan limbah yang dapat mencemari lingkungan. Kasus pencemaran limbah akibat
penambangan emas salah satunya terjadi di Perairan Pantai Buyat. Dugaan terjadinya pencemaran logam
berat di perairan pantai Buyat karena pembuangan limbah padat (tailing) seharusnya tidak akan terjadi,
seandainya limbah tersebut sebelum dibuang dilakukan pengolahan lebih dulu. Pengolahan limbah
bertujuan untuk mengurangi hingga kadarnya seminimal mungkin bahkan jika mungkin menghilangkan
sama sekali bahan-bahan beracun yang terdapat dalam limbah sebelum limbah tersebut dibuang.
Walaupun peraturan dan tatacara pembuangan limbah beracun telah diatur oleh Pemerintah dalam hal
ini Kementrian Lingkungan Hidup, tetapi dalam prakteknya dilapangan, masih banyak ditemukan
terjadinya pencemaran akibat limbah industri. Mungkin terbatasnya tenaga pengawas disamping proses
pengolahan limbah biasanya memerlukan biaya yang cukup besar.Logam berat adalah logam yang massa
atom relatifnya besar, kelompok logam-logam ini mempunyai peranan yang sangat penting dibidang
industri misalnya : Kadmium Cd digunakan untuk bahan batery yang dapat diisi ulang. Kromium Cr untuk
pemberi warna cemerlang atau verkrom pada perkakas dari logam. Kobalt Co untuk bahan magnet yang
kuat pada loudspeker atau microphone. Tembaga Cu untuk kawat listrik. Nikel Ni untuk bahan baja tahan
karat atau stainless steel. Timbal Pb untuk bahan battery atau Accu pada mobil. Seng Zn untuk pelapis
kaleng. Mercury Hg dapat melarutkan emas sehingga banyak digunakan untuk memisahkan emas dari
campurannya dengan tanah, bahan pengisi termometer dan dan masih banyak lagi kegunaan logam
berat yang tidak mungkin saya sebutkan semuanya disini. Hanya sangat disayangkan disamping begitu
banyak kegunaannya, kelompok logam-logam berat ini sangat beracun misalnya Hg, Pb Cd dan Cr dan
lain-lain. Ditambah lagi sifatnya yang akumulatif di dalam tubuh manusia, dimana setelah logam berat ini
masuk ke dalam tubuh manusia, biasanya melalui makanan yang tercemar logam berat. Logam berat ini
tidak dapat dikeluarkan lagi oleh tubuh sehingga makin lama jumlahnya akan semakin meningkat. Jika
jumlahnya telah cukup besar baru pengaruh negatifnya terhadap kesehatan mulai terlihat, biasanya
logam-logam berat ini menumpuk di otak, syaraf, jantung, hati, ginjal yang dapat menyebabkan
kerusakan pada jaringan yang ditempatinya. Tersebarnya logam berat di tanah, peraian ataupun udara
dapat melalui berbagai hal misalnya, pembuangan secara langsung limbah industri, baik limbah padat
maupun limbah cair, tetapi dapat pula melalui udara karena banyak industri yang membakar begitu saja
limbahnya dan membuang hasil pembakaran ke udara tanpa melalui pengolahan lebih dulu. Banyak
orang beranggapan bahwa dengan cara membakar maka limbah beracun tersebut akan hilang, padahal
sebenarnya kita hanya memindahkan dan menyebarkan limbah beracun tersebut keudara. Pencemaran
dengan cara ini lebih berbahaya karena udara lebih dinamis sehingga dampak yang diakibatkannya juga
akan lebih luas dan membersihkan udara jauh lebih sulit.

Dalam kasus Buyat, logam berat mercury kemungkinan dapat berasal dari limbah proses pemisahan biji
emas atau dari tanah bahan tambangnya sendiri memang mengandung mercury. Banyak alternatif yang
dapat digunakan untuk mengolah limbah yang mengandung logam berat kususnya mercury diantaranya
ialah dengan teknologi Low TemperatureThermal Desorption (LTTD) atau dengan teknologi
Phytoremediation. Pada sistem thermal desorption, material diuraikan pada suhu rendah (< 300 oC)
dengan pemanasan tidak langsung serta kondisi tekanan udara yang rendah (vakum). Dengan kondisi
tersebut material akan lebih mudah diuapkan dibandingkan dalam tekanan tinggi. Jadi dalam sistem ini
yang terjadi adalah proses fisika tidak ada reaksi kimia seperti misalnya reaksi oksidasi. Cara ini sangat
efektif untuk memisahkan bahan-bahan organik yang mudah menguap misalnya, (volatile organic
compounds/VOCs), semi-volatile organic compounds (SVOCs), (poly aromatic hydrocarbon/PAHs), (poly
chlorinated biphenyl/PCBs), minyak, pestisida dan beberapa logam Cadmium, Mercury Timbal serta non
logam misal Arsen, Sulfur, Chlor dan lain-lain. Material yang telah terpisah dalam bentuk uapnya akan
lebih mudah untuk dikumpulkan kembali dengan cara dikondensasikan, diadsorbsi menggunakan filter,
larutan atau media lain sehingga tidak tersebar kemana-mana. Dengan sistem thermal desorption
material yang berbahaya di pisahkan agar lebih mudah untuk ditangani entah akan dibuang atau
dimanfaatkan kembali, sedangkan bahan-bahan organik yang sukar menguap akan terkarbonisasi
menjadi arang.

Limbah padat yang mengandung polutan mercury dan arsen dimasukkan ke dalam sistem LTTD, limbah
akan mengalami pemanasan tidak langsung dengan kondisi tekanan udara lebih kecil dari 1 atmosfer.
Polutan mercury dan arsen akan menguap (desorpsi), sedangkan limbah padat yang telah bersih dari
polutan dapat dibuang ke tempat penampungan. Kemudian uap polutan yang terbentuk dialirkan ke
dalam media pengabsorpsi (absorber). Untuk menangkap uap logam mercury dapat digunakan butiran
logam perak atau tembaga yang kemudian membentuk amalgam. Sedangkan untuk menangkap ion-ion
mercury dan arsen dapat digunakan larutan hidroksida (OH - ) - )sulfida (S2--) yang akan mengendapkan
ion-ion tersebut. Dalam sistem ini perlu ditambahkan wet scrubber dan filter karbon untuk menangkap
partikulat dan gas-gas beracun yang mungkin terbentuk pada proses desorbsi. Keunggulan sistem ini
ialah prosesnya cepat dan biaya investasi peralatan dan operasionalnya murah, unitnya dapat dibuat
kecil sehingga dapat dibuat sistem yang mobil.
Teknologi mengolah limbah dengan sistem Phytoremediasi, menggunakan tanaman sebagai alat
pengolah bahan pencemar. Pada limbah padat atau cair yang akan diolah, ditanami dengan tanaman
tertentu yang dapat menyerap, mengumpulkan, mendegradasi bahan-bahan pencemar tertentu yang
terdapat di dalam limbah tersebut. Banyak istilah yang diberikan pada sistem ini sesuai dengan
mekanisme yang terjadi pada prosesnya. Misalnya : Phytostabilization, yaitu polutan distabilkan di dalam
tanah oleh pengaruh tanaman, Phytostimulation : akar tanaman menstimulasi penghancuran polutan
dengan bantuan bakteri rhizosphere, Phytodegradation, yaitu tanaman mendegradasi polutan dengan
atau tanpa menyimpannya di dalam daun, batang atau akarnya untuk sementara waktu, Phytoextraction,
yaitu polutan terakumulasi di jaringan tanaman terutama daun, Phytovolatilization, yaitu polutan oleh
tanaman diubah menjadi senyawa yang mudah menguap sehingga dapat dilepaskan ke udara, dan
Rhizofiltration, yaitu polutan diambil dari air oleh akar tanaman pada sistem hydroponic.

Proses remediasi polutan dari dalam tanah atau air terjadi karena jenis tanaman tertentu dapat
melepaskan zat carriers yang biasanya berupa senyawaan kelat, protein, glukosida yang berfungsi
mengikat zat polutan tertentu kemudian dikumpulkan dijaringan tanaman misalnya pada daun atau akar.
Keunggulan sistem phytoremediasi diantaranya ialah biayanya murah dan dapat dikerjakan insitu, tetapi
kekurangannya diantaranya ialah perlu waktu yang lama dan diperlukan pupuk untuk menjaga kesuburan
tanaman, akar tanaman biasanya pendek sehingga tidak dapat menjangkau bagian tanah yang dalam.
Yang perlu diingat ialah setelah dipanen, tanaman yang kemungkinan masih mengandung polutan
beracun ini harus ditangani secara khusus.

Newmont Akan Eksplorasi Emas di Hutan Sumbawa

PT Newmont Nusa Tenggara, menurut rencana, memulai eksplorasi emas di Dusun Elang Dodo (Blok
Elang), Desa Ropang, Kecamatan Ropang, Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa, tahun 2011. Izin
pertambangan emas dari pemerintah sudah keluar sejak Oktober lalu.

Lokasi eksplorasi di kawasan hutan tersebut diperkirakan memiliki potensi mineral emas dan tembaga
lebih besar dibandingkan dengan lokasi penambangan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) saat ini di Batu
Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

”Berapa besarnya, belum diketahui pasti karena masih perlu penelitian secara detail,” ujar Kasan
Mulyono, Manajer Humas PT NNT di Benete, Desa Maluk, Sumbawa Barat, Senin (15/11).

Sebelumnya, Presiden Direktur PT NNT Martiono Hadianto di Mataram mengatakan, izin eksplorasi PT
NNT berakhir tahun 2008 dan tidak sempat diurus karena berbagai persoalan. Tapi, tanggal 27 Oktober
lalu PT NNT berhasil mengantongi izin eksplorasi untuk jangka waktu 20 tahun di Blok Elang dengan
lahan 25.000 hektar dari 87.500 hektar konsesi lahan yang dimiliki PT NNT di Kabupaten Sumbawa dan
Sumbawa Barat.

Menyinggung rencana eksploitasi tahun 2011, Martiono belum mau memberi komentar. Alasannya,
harus menempuh beberapa ketentuan terlebih dahulu, seperti studi kelayakan dan analisis dampak
lingkungan.
Newmont Akan Eksplorasi Emas di Hutan Sumbawa

PT Newmont Nusa Tenggara, menurut rencana, memulai eksplorasi emas di Dusun Elang Dodo (Blok
Elang), Desa Ropang, Kecamatan Ropang, Kabupaten Sumbawa, Pulau Sumbawa, tahun 2011. Izin
pertambangan emas dari pemerintah sudah keluar sejak Oktober lalu.

Lokasi eksplorasi di kawasan hutan tersebut diperkirakan memiliki potensi mineral emas dan tembaga
lebih besar dibandingkan dengan lokasi penambangan PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) saat ini di Batu
Hijau, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).

”Berapa besarnya, belum diketahui pasti karena masih perlu penelitian secara detail,” ujar Kasan
Mulyono, Manajer Humas PT NNT di Benete, Desa Maluk, Sumbawa Barat, Senin (15/11).

Sebelumnya, Presiden Direktur PT NNT Martiono Hadianto di Mataram mengatakan, izin eksplorasi PT
NNT berakhir tahun 2008 dan tidak sempat diurus karena berbagai persoalan. Tapi, tanggal 27 Oktober
lalu PT NNT berhasil mengantongi izin eksplorasi untuk jangka waktu 20 tahun di Blok Elang dengan
lahan 25.000 hektar dari 87.500 hektar konsesi lahan yang dimiliki PT NNT di Kabupaten Sumbawa dan
Sumbawa Barat.

Menyinggung rencana eksploitasi tahun 2011, Martiono belum mau memberi komentar. Alasannya,
harus menempuh beberapa ketentuan terlebih dahulu, seperti studi kelayakan dan analisis dampak
lingkunga

Aceh sedang demam emas. Setelah ekplorasi di Gunong Ujeun, Krueng Sabe Aceh Jaya. Kini dihebohkan
lagi dengan temuan kandungan emas dan biji besi di Pidie Jaya. Busang di Kalimantan Timur dan
Wyoming di Amerika Serikat sudah pernah tertipu dengan hal semacam ini.

Untuk membuktikan kandungan biji besi dan emas di pegunungan Pidie Jaya, empat orang tim ahli
dilaporkan sudah beberapa hari berada di sana untuk meninjau lokasi-lokasi yang diyakini menyimpan
kandungan emas dan biji besi. Diantaranya di Kecamatan Bandar Baru, Ulim, Meurah Dua, Trienggadeng,
dan Kecamatan Bandar Dua.

Berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan tim ahli dari PT Hoffmen Internasional diyakini lokasi-
lokasi tersebut memiliki kandungan emas dan biji besi yang potensial untuk diekporasi. Siapa yang bisa
menjamin itu benar?

Pemerintah terutama Pidie Jaya harus bersikap skeptis terhadap temuan itu, tidak gegabah
mengamininya. Syukur kalau temuan itu benar, kalau tidak tentu hanya akan menguntungkan pihak
tertentu saja. Pengalaman di beberapa daerah telah membuktikan hal itu. Berita temuan emas dan
permata hanya dijadikan sebagai upaya untuk menaikkan nilai saham perusahaan ekplorasi di bursa
saham internasional, atau untuk tujuan kapitalis negara-negara tertentu.

Dalam tulisan singkat ini, saya mencoba untuk menghadirkan dua contoh kasus yang sangat
mencengangkan tentang ekplorasi emas dan permata, satu di Busang, Kalimantan Timur pada 1997
silam. Satu lagi kasus ekplorasi permata di Wyoming Amerika Serikat pada 1872 yang ternyata hanya
tipuan belaka.
Untuk kasus di Busang saya ambil dari buku “Menyingkap Fakta” Dhandy Dwi Laksono yang mengutipnya
dari buku “Bre-X Sebongkah Emas di Kaki Pelangi” yang ditulis oleh Bondan Winarno. Sementara untuk
kasus di Wyoming Amerika Serikat saya sadur dari The 48 Law of Power yang ditulis Robert Greene,
penulis buku The Art of Seduction.

Pada 1990-an, Michael de Guzman dari perusahaan tambang Bre-X asal Kanada mengklaim menemukan
40 juta on emas di Busang, Kalimantan Timur. Harga kandungan emas itu diperkirakan mencapai 25
miliar dolar Amerika. Temuan itu membuat saham Bre-X di bursa internasional naik pesat. Manajemen
Bre-X termasuk Guzman kaya mendadak. Sementara wujud emas itu sendiri di Busang belum jelas.

Pemerintah Indonesia dibawah rezim Soeharto pun ikut-ikutan latah membesar-besarkan temuan
Guzman tersebut. Kerja sama pun digelar. Bre-X menggandeng Freeport yang berpengalaman dalam
ekplorasi emas di Papua sebagai rekanan. Sementara untuk mitra lokal diajak PT Nusamba milik Bob
Hasan.

Kenyataannya, ketika Freeport melakukan pengujian di lokasi dan laboratorium, ternyata kandungan
emas di Busang tak seheboh yang diklaim Bre-X. Guzman sendiri dikabarkan bunuh diri dengan terjun
dari helikopter di pedalaman hutan Kalimantan pada 19 Maret 1997. Meski sejumlah pihak meyakini
yang tewas itu bukan Guzman.

Bondan Winanrno yang melakukan investigasi hingga ke tempat pemakaman Guzman pada 19 Maret
1997 di pemakaman Holy Crozs Memorial Park, yakin bahwa yang dimakamkan itu bukan Guzman.
Guzman diyakini lari ke luar negeri dengan uang yang diperolehnya dari laba kenaikan saham Bre-X.

Kasus lainnya pernah terjadi di Amerika Serikat pada 1872. Seorang ahli keuangan dari negeri adi daya
itu, Asbury Harpending ketika berkunjung ke London menerima sebuah telegram yang berisi informasi
bahwa sebuah tambang berlian ditemukan di bagian barat Amerika. Telegram itu dikirim pemilik Bank
California, William Ralston.

Harpending kemudian menunjukkan telegram itu kepada ahli keungan Baron Rothschild, salah seorang
pria terkaya di dunia waktu itu. Tambang berlian itu ditemukan oleh Philip Arnold dan John Slack dua
pemuda pencari emas di Wyoming, Amerika Barat. Untuk meyakinkan temuannya itu mereka membawa
seorang ahli tambang dari San Fransisco ke tempat itu. Setelah kembali ke San Fransisco ahli tambang itu
membawa batu-batu mulia yang ditemukannya ke beberapa toko permata.

Tergiur dengan temuan tambang permata itu, Harpending dan Ralston meminta dua pemuda penemu
tambang itu menjumpainya di New York. Mereka dibawa ke toko permata milik Charles Tipany untuk
memperkirakan harga permata yang ditemukan itu. Setelah mengetahui permata itu asli, Arnold dan
Slack diberikan uang 300.000 dolar Amerika. Perjanjian tentang ekplorasi tambang permata itu pun
dibicarakan.

Pertemuan lanjutan digelar di Mansion Samuel L Barlow bersama para bangsawan yang akan ikut
menanam saham di tambang permata itu. Hadir dalam pertemuan tersebut Jendral George Brinton
McClellan, Komandan Pasukan Union Jendral Benjamin Butler, editor surat kabar New York Tribune
Horace Greeley. Sementara Arnold dan Slack tidak ikut dalam pertemuan itu.

Ketika mengetahui permata yang ditemua dua pemuda itu asli dengan harga tinggi, maka para
bangsawan di Amerika ikut menanam saham dalam perusahaan pertambangan permata yang akan
dibuka. Namun sebelum tambang dibuka, mereka meminta seorang ahli tambang untuk mengecek
kembali dan melakukan pengujian langsung di tambang. Arnol dan Slack selaku penemu mengiyakannya.

Louis Janin, pakar tambang terbaik di Amerika bertemu dengan dua pemuda itu untuk memastikan
bahwa tambang itu bukan tambang palsu. Sampai di sana Janin melakukan penggalian selama delapan
hari. Ia menemukan banyak batu permata di lokasi tambang. Ia juga menemukan batu merah delima,
batu safir dan berlian. Janin kemudian memberitahu investor bahwa Amerika akan memiliki tambang
permata terkaya sepanjang sejarah.

Ralston dan Harpending kemudian membentuk perusahaan investor pribadi dengan modal satu 10 juta
dolar Amerika. Untuk menguasai tambang itu, keduanya bermaksud menyingkirkan Arnold dan Slack
selaku penemu pertama tambang tersebut. Keduanya ditawarkan uang dengan jumlah yang sangat besar
waktu itu; 700.000 dolar Amerika dengan perjanjian tak lagi memiliki saham di perusahaan yang baru
saja dibentuk itu. Kedua pemuda itu menyetujuinya.

Raston dan Harpending kemudian membeli peralatan tambang yang menghabiskan jutaan dolar dana
yang telah dikumpulkan dari para investor. Mereka kemudian melakukan eksplorasi di daerah Wyoming,
lokasi tambang tersebut. setelah melakukan penggalian, ternyata mereka tidak menemukan apa-apa.

Kemudian terungkap bahwa batu permata dan batu mulia lainnya yang ditemukan para ahli ketika
melakukan pengujian di lokasi tambang merupakan batu permata yang sengaja ditanam oleh Arnold dan
Slack yang dibeli dengan uang tabungannya sebagai pencari emas.

Sementara untuk permata dan berlian yang ditemukan pada saat pengujian ke dua oleh ahli tambang
Louis Janin, merupakan permata dan berlian yang belum diolah yang dibeli Arnold dan Slack di
Amsterdam dengan dana yang didapat dari Ralston dan Harpending pada pertemuan pertama.

Arnold dan Slack suskse menipu para investor terkemuka di Amerika tersebut. Keduanya lari ke luar
negeri dam hidup mewah dengan uang 700.000 dolar Amerika yang diberikan Ralston dan Harpending.
Inilah penipuan yang paling menghebohkan sepanjang abat di Amerika.

Kita tentu tak mengiginkan apa yang terjadi di Busang dan Wyoming terjadi di Aceh. Kalau memang Aceh
memiliki sumber daya alam yang luar biasa itu, lebih elok kalau eskplotasinya dilakukan oleh Pemerintah
Aceh sendiri, tanpa bergantung pada perusahaan luar. Untuk itu tentu sumber daya manusianya harus
disiapkan dari sekarang.

Lebih menguntungkan “harta karun” itu disimpan dulu untuk dikelola oleh orang Aceh sendiri ketika
sumber daya manusianya siap, tinimbang menyerahkannya sekarang kepada perusahaan luar. Bek let
boh puuek ro breuh lam umpang.

Gemala Borneo eksplorasi emas di Romang

AMBON: PT Gemala Borneo Utama melakukan eksplorasi deposit emas di Pulau Romang, Kabupaten
Maluku Barat Daya, Provinsi Maluku.

“Eksplorasi masih tahap umum tersebut dilakukan karena perusahaan ini memiliki lima izin usaha
pertambangan (IUP) di sebagian besar Pulau Romang,” kata Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral
(ESDM) Maluku Ronny Kakerissa, hari ini.
Ia mengatakan, jika dalam eksplorasi itu perusahaan berhasil menemukan deposit emas bernilai
ekonomis, akan bermanfaat bagi MBD dalam mendorong pembangunan, pemerintahan, dan pelayanan
sosial, menyusul peresmiannya menjadi kabupaten pada 16 September 2011.

PT GBU adalah satu dari 63 perusahaan swasta yang mengantogi izin eksplorasi migas maupun tambang
di MBD dengan sebagian besar masih menunggu pelepasan kawasan hutan dari Kementerian Kehutanan.

“Jadi potensi migas dan tambang, di samping sumber daya alam lainnya oleh Barnabas Orno – Johanes
Letelay sebagai Bupati dan Wakil Bupati perdana MBD yang dilantik di Kisar pada 26 April 2011 diarahkan
untuk mendorong percepatan pembangunan, pemerintahan, dan pelayanan sosial di daerah yang
erbatasan langsung dengan Timor Leste ini,” ujar Ronny.

Dia menyatakan, PT GBU yang induk perusahaannya berada di Australia yakni Robust Resource Ltd
mendanai pembersihan lahan di kota Tiakur yang menjadi ibu kota Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD)
dengan memberikan dana hubah Rp8 miliar.

Pembersihan lahan tersebut guna mendukung pembangunan berbagai infrastruktur di Tiakur, kecamatan
Moa Lakor, agar kegiatan pemerintahan berlangsung di ibu kota MBD sebagaimana diatur UU.30 tahun
2008 Pasal 7.

KKKS Kepala Dinas ESDM Maluku Bram Tomasoa mengatakan, PT GBU juga tercatat sebagai salah satu
dari lima kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) migas yang telah mengajukan izin dan rekomendasi
Gubernur Maluku untuk proses ekplorasi dan eksploitasi bahan tambang di provinsi ini, di mana
sebagian besar bergerak di sektor minyak dan gas (migas) serta emas dan perak.

Gubernur Ralahalu, menurut Tomasoa, telah menyarankan perusahaan yang akan melakukan kegiatan
eksplorasi dan eksploitasi pertambangan di Maluku untuk mengedepankan pemberdayaan masyarakat
sekitar sebagai bentuk tanggung jawab sosial dalam memberdayakan warga demi peningkatan
kesejahteraan.

Perusahaan pertambangan juga diingatkan untk memperhatikan masalah konservasi lingkungan guna
mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti kasus lumpur Lapindo di Sidoardjo, Jawa Timur.

“PT GBU akan melakukan kerja sama dengan Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon dan Universitas
Queensland, Australia, untuk melakukan kajian program pemberdayaan masyarakat yang cocok
diterapkan di Pulau Romang,” katanya.

Sebelum PT GBU sudah ada perusahaan lain yang melakukan eksplorasi di Pulau Romang yakni PT
Muswell Brook Mining yang bekerja sama dengan Asthon Mining dan melakukan eksplorasi di bagian
utama pulau tersebut pada 1988-1992.

Selain itu, perusahaan Billiton PLC (sekarang BHP Billiton) juga melakukan eksplorasi geologi, geokimia,
dan geofisika di Pulau Romang bagian Selatan pada 1998-1999 dengan menghabiskan investasi US$3
miliar.