Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS DOKTER INTERNSIP

PENYAKIT RADANG PANGGUL/ PELVIC INFLAMATORY DISEASE (PID)


Disusun untuk Memenuhi Sebagian Syarat Program Internsip Dokter Indonesia

Disusun Oleh :
dr. Meri Destarina

Pembimbing :
dr. M. Fadli Rabani, SpOG

Pendamping :
dr.Hj.Nanie Rusanti,S M.Kes
dr.Hj.Rima Budiarti

PROGRAM DOKTER INTERNSIP


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH
KABUPATEN BENGKALIS
2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

Penyakit Radang Panggul atau Pelvic Inflamatory Disease (PID) merupakan infeksi
genitalia wanita yang menggambarkan keadaan atau kondisi dimana organ pelvis (uterus,
tuba/ovarium) diserang oleh mikroorganisme patogen, biasanya bakteri yang multiplikasi dan
menghasilkan suatu reaksi peradangan. Bakteri yang biasa menyerang penyakit ini adalah
Neisseria gonorrhea (N. gonorrhea) dan Chlamydia trachomatis (C. trachomatis) dapat pula oleh
organisme lain yang menyebabkan vaginosis bacteria.
Penyakit Radang Panggul merupakan komplikasi umum dari Penyakit Menular Seksual
(PMS) yang termasuk di dalamnya endometritis, salpingitis, tuba-ovarian abses, dan peritonitis.
Penyakit tersebut menginfeksi saluran reproduksi bagian atas, termasuk uterus, tuba fallopi, dan
struktur penunjang pelvis. Penyakit ini mempengaruhi 1 dari 10 wanita dan jika dibiarkan akan
menyebabkan ketidaksuburan. Diperkirakan 1.000.000 wanita pertahun di USA mendapat
pengobatan untuk peradangan panggul pada usia antara 16-25 tahun. Per tahunnya hampir
250.000 wanita masuk rumah sakit akibat Penyakit Radang Panggul dan 100.000 orang
mengalami prosedur bedah, sisanya menjalani rawat jalan. Insidensi pada pengguna alat
kontrasepsi dalam rahim (AKDR) adalah sekitar 9,38 per 1000 wanita di 20 hari setelah
pemasangan. Namun, angka kejadian pada pengguna AKDR akan menurun menjadi 1,39 per
1000 wanita pada satu tahun setelah pemasangan.
Beberapa faktor risiko untuk penyebab antara lain hubungan seksual, prosedur
kebidanan/kandungan (misalnya pemasangan AKDR, persalinan, aborsi), aktivitas seksual,
berganti-ganti pasangan seksual, riwayat yang sama sebelumnya, proses menstruasi, dan
kebiasaan menggunakan pembersih kewanitaan, dan lain-lain. Risiko terkena pada pemakaian
AKDR 5 – 10 kali lebih besar dibandingkan pemakaian kontrasepsi lain atau yang bukan
pemakai sama sekali. 15% kasus penyakit ini terjadi setelah tindakan operasi seperti biopsi
endometrium, kuret, histeroskopi.
Negara berkembang seperti Indonesia memiliki segala risiko yang menyebabkan
rentannya terjadi PRP pada wanita Indonesia. Setelah infeksi kedua risikonya menjadi dua kali
lipat yaitu 20%. Jika wanita ini mendapatkan infeksi untuk ketiga kalinya, risikonya akan
melambung menjadi 55%. Kekhawatiran besar lainnya mengenai infeksi ini adalah bahwa

2
gangguan medis ini dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengalami kehamilan di luar
kandungan (kehamilan ektopik) sebesar enam kali lipat, dan bila tidak ditangani dengan baik,
komplikasinya dapat menyebabkan kemandulan hingga kematian.

BAB II
ILUSTRASI KASUS
IDENTIFIKASI
Nama : Ny. HE
Umur : 30 tahun
Alamat : Jl. Utama Bengkalis
Agama : Islam
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

3
MRS : 28 April 2018
No. RM : 0309xx

ANAMNESIS
Keluhan Utama:
Pasien mengeluhkan nyeri perut bagian bawah
a. Riwayat Penyakit Sekarang:
 Pasien mengeluhkan nyeri perut bagian bawah sejak 6 HSMRS. Sebelumnya pasien
pernah mengalami hal yang sama sejak 1 TSMRS. Tapi keluhan hilang timbul. Keluhan
di rasakan memberat hari ini. Nyeri dirasakan sampai ke pinggang bagian belakang.
Nyeri di rasakan terus-menerus, nyeri dirasakan seperti tertekan, nyeri tidak menghilang
bila istirahat. Nyeri semakin dirasakan saat berakivitas, pasien juga mengatakan belum
mengobati keluhannya. Pasien juga mengeluhkan demam yang hilang timbul sejak 6
HSMRS. mual dan muntah. Setelah dikaji lebih dalam pasien mengatakan bahwa kurang
lebih 1,5 tahun yang lalu ia m engalami keputihan yang terkadang gatal, berbau amis, dan
berwarna kekuningan, keputihan yang keluar tidak terlalu banyak, keputihan timbul tidak
menentu, sebulan 1 – 5 kali.pasien juga mengeluhkan nyeri saat bersenggama. Selain itu
pasien juga mengeluhkan nyeri saat BAK, keluhan dirasakan hilang timbul. Dan pasien
sering menggunakan cairan pembersih vagina. Pasien belum pernah melakukan tindakan
medis serta berobat. Pasien tidak mengetahui kondisinya dikira hanya keputihan biasa..
Pasien juga mengeluhkan nyeri pada uluhati dan nafsu makan menurun.

b. Riwayat Haid:
Pasien menarche usia 13 tahun, 2 kali/bulan, lama haid 5-7 hari, nyeri haid(-).
c. Riwayat Perkawinan:
Menikah 1 kali saat usia 20 tahun
d. Riwayat Persalinan
P3A1H2
I : Usia 5 tahun, perempuan, BBL 2900 gr, normal, aterm, dibantu bidan
II : Abortus, kuret (+)
III : Usia 3 tahun, Laki-Laki, BBL 3100 gr, normal, aterm, dibantu bidan
e. Riwayat Kontrasepsi :
Riwayat pemakaian IUD selama 2-3 tahun
f. Riwayat Penyakit Dahulu :

4
Tidak ada riwayat penyakit hipertensi, asma, jantung, dan alergi, keganasan lainnya (-)
penyakit kelamin (-) abortus (+) kuret (+)
g. Riwayat Penyakit Keluarga:
Riwayat hipertensi, diabetes mellitus, keganasan, penyakit jantung,anemia dan alergi dalam
keluarga disangkal. Tidak ada riwayat keganasan lainnya pada keluarga. Riwayat menderita
penyakit yang sama juga disangkal.
h. Riwayat Operasi:
Belum pernah operasi sebelumnya
i. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga dan suami bekerja sebagai wiraswasta

PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum: Tampak sakit sedang
b. Kesadaran: Komposmentis
c. Tanda Tanda Vital
TD: 130/70 mmHg HR: 88 x/ menit
T: 37,70C RR: 20 x /menit
d. Status Generalis
 Kepala : Mata: anemis (-/-), ikterus (-/-), edema palpebra (-/-)
 Leher : Tidak teraba adanya pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar getah bening
 Thoraks
Paru
Inspeksi : Gerakan dinding dada simetris
Palpasi : Vokal fremitus simetris kiri dan kanan
Perkusi : Sonor pada semua lapangan paru

5
Auskultasi : Vesikuler (+/+) normal, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat
Palpasi : Iktus kordis teraba di SIK 5, linea midklavikula
sinistra
Perkusi : Batas jantung kanan, linea sternalis dekstra
Batas jantung kiri, line midklavikula sinistra
Auskultasi : BJ 1 & 2 reguler, murmur(-), gallop (-)
 Abdomen : Status ginekologis
 Genitalia : Status ginekologis
 Ekstremitas
Akral hangat, CRT < 2 detik, tidak ditemukan koilonikia, edema ekstremitas

e. Status ginekologis
 Muka : konjungtiva anemis (-)/(-), tidak ada atropi papil lidah,
sklera tidak ikterik, KGB tidak membesar
 Mammae
Inspeksi : Tidak ada tanda-tanda inflamasi dan gambaran seperti
kulit jeruk
Palpasi : Tidak teraba massa, tidak ada nyeri tekan
 Abdomen
Inspeksi : Datar, simetris
Auskultasi : BU (+) 8x/menit
Palpasi : nyeri tekan (+).
Perkusi : Timpani pada lapangan abdomen, tidak ada shifting dullnes
 Genitalia eksterna
Inspeksi/palpasi : V/U tenang, tidak ada perdarahan aktif
 Genitalia interna (tidak dilakukan)

PEMERIKSAAN PENUNJANG
 DARAH RUTIN Hemoglobin : 12,2 g%

6
Hematokrit : 31,8 % URIN RUTIN
Sedimen
Leukosit : 13.000 /ul Eritrosit :1
Leukosit :2
Trombosit : 373.000 /ul
Ephitel : negatif
CT : 2’45”
Bakteri : negatif
BT : 1’45”
Cylinder : negatif
Golongan darah : O+
Cristal : negatif
Plano Test : Negatif

 USG

KESAN: terdapat cairan bebas


di cavum douglassi curiga PID
RESUME
Ny. HE 30 tahun datang ke RSUD
Bengkalis mengeluhkan perut bagian bawah yang di rasakan sejak 1 TSMRS. Keluhan saat itu
dirasakan hilang timbul. 6 HSMRS Os mengeluhkan keluhan yang sama. Nyeri dirasakan terus
menerus. Nyeri dirasakan sampai ke pinggang belakang. Nyeri lebih dirasakan saat beraktifitas.
Pasien juga mengeluhkan demam, mual dan muntah. OS mempunyai riwayat keputihan sejak 1,5
tahun dan sering menggunanakan cairan pembersih vagina. Dan terasa nyeri saat
bersenggamadan berkemih. Selain itu pasien juga mengeluhkan nyeri ulu hati dan nafsu makan
menurun.
Pada pemeriksaan fisik abdomen nyeri tekan pada perut bagian bawah. Pada pemeriksaan
laboratorium dalam batas normal kecuali leukosit meningkat. Dan hasil USG didapatkan kesan
PID.

DIAGNOSIS KERJA
Pelvic Inflamatory Disease (PID) / Penyakit Radang Panggul
RENCANA TINDAKAN
- Observasi keadaan umum, tanda tanda vital

7
- Rawat jalan
Levofloxacyin tab 1x500 dan metronidazole 2x 500 mg ( 14 hari)
Ketoprofen tab dan antasid syr 3xC1
- Kontrol seminggu lagi

FOLLOW UP PASIEN ( Poli pada tgl 05/05/2018)


Tanggal Subjektif/Objektif/Assestment – Planning
05 Mei 2018 S: -
O:
Keadaan umum: baik
Kesadaran: kompos mentis
TD: 110/70 mmHg
Nadi: 76 x/menit
RR: 18 x/menit
T: 36,5ºC
Kepala: Konjungtiva anemis (-/-)
Thorax :
Jantung : Bunyi jantung I dan II normal, murmur (-),
gallop (-)
Paru-paru : Simetris. Retraksi (-) Suara nafas vesikuler

8
(+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
Abdomen: Cembung, supel, nyeri tekan (-). BU (+)
normal.
Ekstremitas : Akral hangat (+) sianosis (-) CRT <2”
A: Pelvic Inflamatory Disease (PID)
P:
– USG (dalam batas normal)

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

III.1 DEFINISI
Penyakit Radang Panggul atau Pelvic Inflammatory Disease (PID) adalah suatu
kumpulan radang pada saluran genital bagian atas oleh berbagai organisme, yang dapat
menyerang endometrium, tuba fallopi, ovarium maupun miometrium secara perkontinuitatum
maupun secara hematogen ataupun sebagai akibat hubungan seksual.
Jadi bisa di simpulkan Pelvic inflammatory disease (PID) merupakan salah satu
komplikasi penyakit menular seksual yang serius. PID adalah infeksi pada traktus genitalis
wanita bagian atas yang mencakup endometritis, salpingitis, salpingo-oophoritis, tubo-ovarian
abscess (TOA), dan pelvic peritonitis. Diagnosa dan penatalaksanaan yang tepat dan cepat sangat
diperlukan dalam kasus ini karena komplikasi PID dapat mengancam kehidupan dan kesuburan
seorang wanita.

9
UTERUS NORMAL
JALAN MASUK BAKTERI

10
PELVIC INFLAMATORY DISEASE

III.2 EPIDEMIOLOGI

Satu dari 7 wanita Amerika telah menjalani perawatan karena infeksi ini dan kurang lebih
satu juta kasus baru terjadi setiap tahun. PID menyerang lebih dari 1 juta wanita di Amerika
dalam satu tahun dan rata-rata menghabiskan biaya 4,2 milyar dollar. Per tahunnya hampir
250.000 wanita masuk rumah sakit akibat PID dan 100.000 orang mengalami prosedur bedah,
sisanya menjalani rawat jalan. Penyakit ini merupakan penyebab ginekologis tersering bagi
pasien untuk masuk departemen emrgensi. Meskipun PID dapat terjadi dalam rentang usia
berapapun, namun wanita dewasa yang aktif secara seksual dan wanita kurang dari 25 tahun
mempunyai resiko lebih besar. PID ini sebagian besar (90%) terjadi karena infeksi, selebihnya
karna tindakan medis.
III. 3 ETIOLOGI

Penyebab paling sering dari penyakit ini adalah infeksi chlamydia trachomatis (60%) dan
Neisseria gonorrhoeae (30-80%) pada serviks atau vagina yang menyebar ke dalam
endometrium, tuba fallopi, ovarium, dan struktur yang berdekatan. Tetapi selain itu ada beberapa
penyebab lain diantaranya :
1. Infeksi Gardnerella vaginalis

2. Infeksi Bacteroides

3. Bacterial vaginosis

4. Streptococcus Group B

5. Escherichia coli

6. Actinomycosis

7. Enterococcus

11
Meskipun sangat jarang, dapat pula diisolasi golongan virus seperti
1. Coxsackie B5

2. ECHO 6

3. Herpes type 2

4. Haemophilus influenzae.

III.4 FAKTOR RESIKO

a. Aktivitas seksual pada masa remaja


b. Berganti-ganti pasangan seksual
c. Pernah menderita PID
d. Pernah menderita penyakit menular seksual
e. Pemakaian alat kontrasepsi

III.5 MANIFESTASI KLINIS

Gejala biasanya muncul segera setelah siklus menstruasi. Penderita merasakan nyeri pada
perut bagian bawah yang semakin memburuk dan disertai oleh mual dan muntah. Biasanya
infeksi akan menyumbat tuba fallopi. Tuba yang tersumbat bisa membengkak dan terisi cairan.
Sebagai akibatnya bisa terjadi nyeri menahun, perdarahan menstruasi yang tidak teratur da
kemandulan.
Infeksi menyebar ke struktur di sekitarnya, menyebabkan terbentuknya jaringan parut dan
perlengketan fibrosa yang abnormal dan diantara organ-organ perut serta menyebabkn nyeri
menahun. Di dalam tuba, ovarium maupun panggul bisa terbentuk abses (penimbunan nanah).
Jika abses pecah dan nanah masuk ke rongga panggul, gejalanya segera memburuk dan penderita
bisa mengalami syok. Lebih jauh lagi bisa terjadi penyebaran infeksi kedalam darah sehingga
terjadi sepsis.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada PID :
1. Keluar cairan dari vagina dengan warna, konsistensi dan bau yang abnormal.

2. Demam

12
3. Perdarahan menstruasi yang tidak teratur atau spotting (bercak-bercak kemerahan di celana
dalam)

4. Nyeri ketika melakukan hubungan seksual

5. Perdarahan setelah melakukan hubungan seksual

6. Nyeri punggung bagian bawah

7. Kelelahan

8. Nafsu makan berkurang

9. Sering berkemih dan Nyeri ketika berkemih. (Nugroho & Utama, 2014)
773 wanita terdiagnosis PID dan mendapatkan keluhan terbanyak adalah keputihan
(68%), nyeri perut bawah (65%), nyeri ketika melakukan hubungan seksual (57%); sedangkan
temuan klinis yang paling sering adalah nyeri adneksa (83%), nyeri goyang serviks (75%) dan
servisitis (56%).
Diagnosis radang panggul berdasarkan kriteria dari “Infectious Disease
Society for Obstetrics & Gynecology”, USA. ialah :
a. Ketiga gejala klinik dibawah ini harus ada :
1) Nyeri tekan pada abdomen, dengan atau tanpa rebound.
2) Nyeri bila servik uteri digerakkan.
3) Nyeri pada adneksa.
b. Bersamaan dengan satu atau lebih tanda-tanda dibawah ini :
1) Negatif gram diplokok pada secret endoserviks.
2) Suhu diatas 38º C.
3) Lekositosis lebih dari 10.000 per mm³.
4) Adanya pus dalam kavum peritonei yang didapat dengan kuldosentesis
maupun laparaskopi.
5) Adanya abses pelvic dengan pemeriksaan bimanual maupun USG.
Berdasarkan rekomendasi “Infectious Disease Society for Obstetrics &
Gynecology”, USA, Hager membagi derajat radang panggul menjadi :
 Derajat I : Radang panggul tanpa penyulit (terbatas pada tuba dan ovarium ),
dengan atau tanpa pelvio – peritonitis.

13
 Derajat II : Radang panggul dengan penyulit (didapatkan masa radang, atau
abses pada kedua tuba ovarium) dengan atau tanpa pelvio – peritonitis.
 Derajat III : Radang panggul dengan penyebaran diluar organ-organ pelvik,misal adanya
abses tubo ovarial.

III.6 PATOFISIOLOGI

Infeksi dapat terjadi pada bagian manapun atau semua bagian saluran genital atas
endometrium (endometritis), dinding uterus (miositis), tuba uterina (salpingitis), ovarium
(ooforitis), ligamentum latum dan serosa uterina (parametritis) dan peritoneum pelvis
(peritonitis). Organisme dapat menyebar ke dan di seluruh pelvis dengan salah satu dari lima
cara.
a. Interlumen
Penyakit radang panggul akut non purpuralis hampir selalu (kira-kira 99%) terjadi akibat
masuknya kuman patogen melalui serviks ke dalam kavum uteri. Infeksi kemudian menyebar ke
tuba uterina, akhirnya pus dari ostium masuk ke ruang peritoneum. Organisme yang diketahui
menyebar dengan mekanisme ini adalah N. gonorrhoeae, C. Tracomatis, Streptococcus agalatiae,
sitomegalovirus dan virus herpes simpleks.
b. Limfatik
Infeksi purpuralis (termasuk setelah abortus) dan infeksi yang berhubungan denngan IUD
menyebar melalui sistem limfatik seperti infeksi Myoplasma non purpuralis.
c. Hematogen
Penyebaran hematogen penyakit panggul terbatas pada penyakit tertentu (misalnya
tuberkulosis) dan jarang terjadi di Amerika Serikat.

d. Intraperitoneum
Infeksi intraabdomen (misalnya apndisitis, divertikulitis) dan kecelakaan intra abdomen
(misalnya virkus atau ulkus dengan perforasi) dapat menyebabkan infeksi yang mengenai sistem
genetalia interna.
e. Kontak langsung
Infeksi pasca pembedahan ginekologi terjadi akibat penyebaran infeksi setempat dari

14
daerah infeksi dan nekrosis jaringan.

Terjadinya radang panggul dipengaruhi beberapa factor yang memegang peranan, yaitu :
1. Tergangunya barier fisiologik.
Secara fisiologik penyebaran kuman ke atas ke dalam genetalia interna, akan mengalami
hambatan :
a. Di ostium uteri eksternum.

b. Di kornu tuba.

c. Pada waktu haid, akibat adanya deskuamasi endometrium maka kuman-kuman pada
endometrium turut terbuang. Pada ostium uteri eksternum, penyebaran asenden kuman-kuman
dihambat secara : mekanik, biokemik dan imunologik. Pada keadaan tertentu barier fisiologik ini
dapat terganggu, misalnya pada saat persalinan, abortus, instrumentasi pada kanalis servikalis
dan insersi alat kontrasepsi dalam.

2. Adanya organisme yang berperan sebagai vektor.


Trikomonas vaginalis dapat menembus barier fisiologik dan bergerak sampai tuba falopii.
Kuman-kuman sebagai penyebab infeksi dapat melekat pada trikomonas vaginalis yang
berfungsi sebagai vektor dan terbawa sampai tuba Falopii dan menimbulkan peradangan
ditempat tersebut. Sepermatozoa juga terbukti berperan sebagai vector untuk kuman-kuman
N.gonore, Ureaplasma ureoltik, C.trakomatis dan banyak kuman-kuman aerobik dan anaerobik
lainnya.
3. Aktivitas seksual.
Pada waktu koitus, bila wanita orgasme, maka akan terjadi kontraksi uterus yang dapat
menarik spermatozoa dan kuman-kuman memasuki kanilis servikalis.

4. Peristiwa haid.
Radang panggul akibat N. gonore mempunyai hubungan dengan siklus haid. Peristiwa
haid yang siklik, berperan penting dalam terjadinya radang panggul gonore. Periode yang paling
rawan terjadinya radang panggul adalah pada minggu pertama setelah haid. Cairan haid dan
jaringan nekrotik merupakan media yang sangat baik untuk tumbuhannya kuman-kuman N.

15
gonore. Pada saat itu penderita akan mengalami gejala-gejala salpingitis akut disertai panas
badan. Oleh karena itu gejala ini sering juga disebut sebagai “ Febrile Menses ”

III.6 KOMPLIKASI

1. Infertilitas
Satu dari sepuluh wanita dengan PID mengalami infertilitas. PID dapat menyebabkan
perlukaan pada tuba fallopii. Luka yang kemudian menjadi scar yang menghalangi tuba dan
mencegah terjadinya fertilisasi sel telur.
2. Ektopik pregnancy
Scar yang terbentuk oleh PID juga dapat menghalangi telur yang sudah difertilisasi berpindah
ke uterus. Sehingga, telur tersebut justru tumbuh dalam tuba fallopii. Tuba dapat mengalami
rupture dan menyebabkan perdarahan yang mengancam nyawa. Operasi darurat dapat dilakukan
bila kehamilan ektopik ini tidak terdiagnosa sebelumnya. Rasio kehamilan ektopik 12-15% lebih
tinggi pada wanita yang mempunyai episode PID.
3. Nyeri pelvis kronis
Scar juga dapat terbentuk di tempat lain dalam abdomen dan menyebabkan nyeri pelvis yang
berlangsung berbulan-bulan atau hingga bertahun-tahun.
4. PID berulang
Kondisi ini terjadi jika penyebab infeksi tidak seluruhnya teratasi atau karena pasangan
seksualnya belum mendapat perawatan yang sesuai. Jika pada episode PID sebelumnya terjadi
kerusakan servik, maka bakteri akan lebih mudah untuk masuk ke dalam organ reproduksi lain
dan membuat wanita tersebut rentan terkena PID berulang. Episode PID berulang ini seringkali
dihubungkan dengan resiko infertilitas.

5. Abses
Terkadang PID menyebabkan abses pada bibir vagina, juga pada tuba fallopii dan ovarium.
Abses ini adalah kumpulan dari cairan yang terinfeksi. Penggunaan antibiotik dibutuhkan untuk
menangani abses ini, jika tidak berhasil maka operasi biasanya merupakan pilihan yang
disarankan oleh dokter. Penanganan abses tersebut sangat penting karena abses yang pecah dapat
membahayakan (NHS,2010).

16
III.7 Pencegahan
 Gunakan kondom setiap kali berhubungan seks untuk mencegah PMS. Gunakan kondom
meskipun Anda menggunakan alat kontrasepsi lain.
 Berhubungan seks hanya dengan pasangan yang tidak menderita Penyakit Menular
Seksual dan pasangan yang hanya berhubungan sex dengan Anda.
 Batasi jumlah pasangan seksual. Jika pasangan Anda sebelumnya mempunyai pasangan
lain, resiko terkena PMS semakin meningkat.

III.8 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


Diagnosa ditegakan berdasarkan gejala dan hasil dari pemeriksaan fisik yangdilakukan
pemeriksaan panggul dan perabaan perut. Pemeriksaan lainya dilakukan adalah:
1. Pemeriksaan darah lengkap, untuk mengetahui adanya peningkatanleukosit darah yang
merupakan indikator dari infeksi. mengetahui Hb, Ht, leukosit dan jenisnya

2. Pemeriksaan cairan dari serviks

3. Kuldosintesis
Untuk mengetahui bahwa perdarahan yang terjadi diakibatkan oleh hemoperitoneum
(berasal dari KET yag rupture atau kista hemoragik) dapat menyebabkan sepsis pelvis
(salpingitis,abses pelvis rupture, atau appendiks yang rupture).
1. TVS (transvaginal sonografi)
2. TAS (transabdominal sonografi)

III.9 PENATALAKSANAAN

PID dapat disembuhkan dengan beberapa jenis antibiotik. Penyedia perawatan kesehatan
akan menentukan dan resep terapi yang terbaik. Namun, pengobatan antibiotik tidak membalik
setiap kerusakan yang telah terjadi pada organ reproduksi. Jika seorang wanita memiliki rasa
sakit panggul dan gejala lain dari PID, sangat penting bahwa dia mencari pelayanan segera.
Prompt pengobatan antibiotik dapat mencegah kerusakan parah pada organ reproduksi. Semakin
lama seorang wanita penundaan pengobatan untuk PID, semakin besar kemungkinan dia adalah

17
menjadi subur atau kehamilan ektopik memiliki masa depan karena kerusakan pada saluran tuba.
Karena kesulitan dalam mengidentifikasi organisme menginfeksi organ reproduksi internal dan
karena lebih dari satu organisme mungkin bertanggung jawab untuk sebuah episode dari PID,
PID biasanya dirawat dengan setidaknya dua antibiotik yang efektif terhadap berbagai agen
menular. Antibiotik ini dapat diberikan melalui mulut atau injeksi. Gejala mungkin akan pergi
sebelum infeksi sembuh. Bahkan jika gejala pergi, wanita itu harus selesai mengambil semua
obat yang diresepkan. Ini akan membantu mencegah infeksi dari kembali.
Wanita yang sedang dirawat untuk PID harus kembali dievaluasi oleh penyedia layanan
kesehatan mereka dua sampai tiga hari setelah memulai pengobatan untuk memastikan antibiotik
bekerja untuk mengobati infeksi. Selain itu, pasangan seks wanita (s) harus ditangani untuk
mengurangi risiko infeksi ulang, bahkan jika pasangan (s) tidak memiliki gejala. Meskipun
pasangan seks mungkin tidak memiliki gejala, mereka masih mungkin terinfeksi dengan
organisme yang dapat menyebabkan PID
Berdasar derajat radang panggul, maka pengobatan dibagi menjadi :
Terapi Parenteral atau rawat inap ( PID derajat 2 dan 3)

Rekomendasi terapi parenteral A :


 Sefotetan 2 g intravena setiap 12 jam atau
 Sefoksitin 2 g intravena setiap 6 jam ditambah
 Doksisiklin 100 mg oral atau parenteral setiap 12 jam

Rekomendasi terapi parenteral B :


 Klindamisin 900 mg setiap 8 jam ditambah
 Gentamisin dosis muatan intravena atau intramuskuler (2 mg/kg berat badan) diikuti
dengan dosis pemeliharaan (1.5 mg/kg berat badan) setiap 8 jam. Dapat diganti dengan dosis
tunggal harian.
Terapi parenteral alternatif :
 Levofloksasin 500 mg intravena 1x sehari dengan atau tanpa metronidazol 500 mg
intravena setiap 8 jam atau

18
 Ofloksasin 400 mg intravena setiap 12 jam dengan atau tanpa metronidazol 500 mg
intravena setiap 8 jam atau
 Ampicillin/Sulbaktam 3 g intravena setiap 6 jam ditambah doksisiklin 100 mg oral atau
intravena setiap 12 jam

Terapi Oral atau rawat jalan (PID derajat 1)

Terapi oral dapat dipertimbangkan untuk penderita PID ringan atau sedang karena efektivitasnya
sama dengan terapi parenteral. Pasien yang mendapat terapi oral dan tidak menunjukan
perbaikan setelah 72 jam harus dire-evaluasi untuk memastikan diagnosisnya dan diberikan
terapi parenteral baik dengan rawat jalan maupun rawat inap.
Rekomendasi terapi A :
 Levofloksasin 500 mg oral 1x setiap hari selama 14 hari atau ofloksasin 400 mg 2x sehari
selama 14 hari dengan atau tanpa
 Metronidazol 500 mg oral 2x sehari selama 14 hari
Rekomendasi terapi B
 Ceftriaxone 250 mg intramuskuler dosis tunggal ditambah doksisiklin oral 2x sehari
selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazol 500 mg oral 2x sehari selama 14 hari atau
 Cefoxitine 2 g intramuskuler dosis tunggal dan probenesid ditambah doksisiklin oral 2x
sehari selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazol 500 mg oral 2x sehari selama 14 hari atau
 Cephalosporine generasi ketiga (misal seftizoksim atau sefotaksim) ditambah doksisiklin
oral 2x sehari selama 14 hari dengan atau tanpa metronidazol 500 mg oral 2x sehari selama 14
hari
BAB IV
PEMBAHASAN

Diagnosis Pelvic Inflamatory Disease (PID) adalah suatu proses peradangan infeksius
traktus genitalis wanita bagian atas yang meliputi endometritis, salpingitis, salpingo-oophoritis,
tubo-ovarian abscess (TOA), dan pelvic peritonitis yang disebabkan chlamydia trachomatis
(60%) atau Neisseria gonorrhoeae (30-80%). Untuk dapat menegakkan diagnosa PID dilakukan
anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Dari anamnesa diharapkan diperoleh

19
data tentang keluhan dan faktor resiko yang berkaitan dengan PID, dari pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang diharapkan didapatkan tanda spesifik mengenai PID.
Pada pasien ini diagnosis PID ditegakkan karena dari anamnesa didapatkan keluhan nyeri
perut bagian bawah, demam, mual dan muntah. Selain itu pasien juga mengeluhkan keputihan.
keputihan sudah di alami sejak 1,5 Tahun SMRS. Pasien juga mengeluhkan nyeri saat
bersenggama dan nyeri saat berkemih dan pasien sering menggunakan cairan pembersih vagina.
Dari data yang diperoleh keluhan yang dialami pasien menjurus kearah PID.
Faktor resiko yang mungkin diduga sebagai penyebab PID pada kasus ini adalah
penggunaan alat kontrasepsi dan adanya riwayat aborsi dan kuretase.
Pada pasien ini melalui pemeriksaan fisik yang dilakukan didapatkan adanya nyeri tekan
pada abdomen, nyeri pada panggul serta suhu pasien demam. Dari pemeriksaan penunjang,di
dapatkan hasil leukosit yang meningkat ini menandakan tanda-tanda infeksi . Dengan data yang
diperoleh gejala klinis yang didapat pada pasien mengarah terhadap terjadinya PID. Pemeriksaan
penunjang yang lain yang diusulkan adalah USG. Dari hasil USG pada pasien ini hasilnya
menunjukkan kearah PID. Penatalaksanaan pada pasien ini sudah sesuai dengan teori, dimana
pada pasien disarankan untuk rawat jalan, dan kontrol seminggu lagi. Pasien ini di berikan
antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi kronik.
.

20
BAB IV

KESIMPULAN

Pelvic Inflammatory Disease (Salpingitis, PID, Penyakit Radang Panggul) adalah suatu
proses peradangan infeksius traktus genitalis wanita bagian atas yang meliputi endometritis,
salpingitis, salpingo-oophoritis, tubo-ovarian abscess (TOA), dan pelvic peritonitis yang
disebabkan chlamydia trachomatis (60%) atau Neisseria gonorrhoeae (30-80%), selain itu juga
terdapat beberapa organisme lain seperti Gardnerella vaginalis , Bacteroides, Bacterial vaginosis.
PID menyerang lebih dari 1 juta wanita di Amerika dalam satu tahun dan rata-rata
menghabiskan biaya 4,2 milyar dollar. Per tahunnya hampir 250.000 wanita masuk rumah sakit
akibat PID dan 100.000 orang mengalami prosedur bedah, sisanya menjalani rawat jalan.
Sehingga PID memerlukan penanganan cepat dan tepat antara lain analgesik, antibiotik serta
pengobatan bagi pasangan seksual pasien agar PID tidak berulang kembali.
Penengakan diagnosis pada kasus ini harus cepat. Semakin cepat terdiagnosa semakin
cepat untuk bisa di terapi supaya tidak terjadinya komplikasi pada penyakit ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Sarwono Prawirohardjo, Prof, dr, DSOG dan Hanifa Wiknjosastro, Prof, dr, DSOG; Ilmu
Kandungan, YBP-SP,Edisi ke dua, estacan ke tiga, FKUI, Yakarta; 1999, Hal 271 27-2.
2. Robbins L., M.D; Buku Ajar Patologi II, Edisi ke empat, cetakan pertama. Penerbit Buku
Kedokteran EGC,Jakarta; 1995, Hal. 372-377.3.
3. Djuanda Adhi, Prof. DR. Hamzah Mochtar, Dr. Aisah Siti,DR ; Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin, Edisi ke tiga,cetakan pertama, FKUI, Jakarta ; 1987, Hal. 103-106, 358-364.4.
4. Winkosastro Hanifa, Prof, dr, DSOG ; Ilmu Kebidanan YBP-SP, Edisi ketiga, cetakan ke
enam, FKUI,Jakarta ; 2002. Hal:406-410.5.
5. Cuningham, Macdonald Gant : William Obstetri, Edisi 18, EGC, Jakarta; 1995, Hal: 1051-
1057.6.
6. Livengood, Charles. 2010. Pathogenesis of and risk factors for pelvic inflammatory disease.
http://www.uptodate.com/patients/topic/toc.html. Diakses tanggal 26 Agustus 2010
7. Lancet. The IUD And Pelvic Inflammatory Disease. Journal Watch General Medicine April 17,
2012.