Anda di halaman 1dari 5

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Upaya pencegahan dan pengobatan penyakit dengan antibiotik merupakan


suatu kemajuan dalam bidang medis. Antibiotika di dunia medis digunakan
sebagai obat untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau protozoa.
Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi atau
jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain.
Masalah yang penting adalah mengenai resistensi atau kekebalan bakteri terhadap
antibiotik. Saat ini seluruh dunia mengalami berbagai masalah akibat resistensi
antibiotik. Penyalahgunaan antibiotik, berupa pemberian antibiotik yang tidak
tepat, tidak sesuai dosis dan tanpa pengawasan dokter menjadi penyebab resistensi
pada bakteri terhadap antibiotik tersebut. Hal ini dapat terjadi karena bakteri
dapat mengubah dirinya sehingga dapat bertahan terhadap antibiotik tersebut.
Resistensi antibiotik dapat meningkatkan kerugian materi,kualitas hidup,
kematian, serta mengurangi keberhasilan program-program peningkatan kesehatan
(WHO, 2015). Resisten terhadap antibiotik mengakibatkan infeksi sulit diobati,
oleh karena itu banyak penelitian dilakukan untuk menemukan obat antibakteri
lainnya (Torar et al, 2015).
Saat ini , industri peternakan ayam menggunakan antibiotik karena 2 alasan.
Antibiotik dalam dunia peternakan digunakan untuk mencegah penyakit pada
hewan ternak atau disebut dengan terapeutik dan sebagai pemacu pertumbuhan
atau biasa disebut sebagai growth promotors . Sebagai terapeutik , antibiotik
biasanya diinjeksikan pada hewan dengan dosis yang tinggi dan sebagai growth
promotor juga bisa diinjeksikan tetapi karena mahal biasanya peternak
mencampurkan dalam pakan atau minuman ternak. Selain itu tujuan pemberian
antibiotik antara lain untuk meningkatkan produksi pada hewan ternak,
meningkatkan efisiensi penggunaan pakan ,melindungi manusia dari penyakit
2

yang ditularkan hewan atau zoonosis, melindungi dan mengobati hewan ternak
yang sakit (Haihong et al, 2014). Penggunaan antibiotik sebagai imbuhan pakan
atau minuman yang diberikan secara kurang bijaksana dan tidak terkontrol
dikhawatirkan akan memicu terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik pada
ternak dan bahkan manusia yang sebagai konsumen (WHO, 2015;). Bahaya residu
obat dapat bersifat jangka pendek seperti alergi, gangguan pencernaan, gangguan
kulit, anafilaksis dan hipersensitifitas, serta bahaya tidak langsung yang bersifat
jangka panjang seperti resistensi mikrobiologi, karsinogenik, mutagenik,
teratogenik dan gangguan reproduksi (Ruegg, 2013; Seri, 2013; Singh, 2014).
Meskipun menurut peraturan Dinas Peternakan per Januari 2017 peternakan
dilarang menggunakan produk antibiotik sebagai imbuhan pakan tetapi pada
penerapannya masih ada peternak yang masih menggunakan antibiotik sebagai
imbuhan ataupun minuman.
Pola konsumsi telur ayam ras per kapita tahun 2016 sebesar 6,309 kg,
mengalami peningkatan sebesar 2,54 persen dari konsumsi tahun 2015 sebesar
6,153 kg. Seiring meningkatnya konsumsi telur maka populasi ayam petelur di
Kabupaten Jember pun meningkat pada tahun 2016 yaitu sejumlah 1.126.222
sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 1.109.578. Populasi tersebut menduduki
peringkat ketiga terbanyak di Kabupaten Jember setelah ayam pedaging dan ayam
buras (Dinas Peternakan Jawa Timur, 2016). Telur merupakan salah satu sumber
protein hewani yang dibutuhkan oleh tubuh karena mengandung asam amino
esensial yang lengkap. Telur banyak dikonsumsi oleh masyarakat karena mudah
diolah, harganya yang terjangkau, dan memiliki kandungan zat gizi yang
sempurna. Telur biasanya digunakan sebagai bahan baku masakan,bahan
pembuatan kue, atau menjadi minuman yang dikenal dengan STMJ dan lainnya.
Telur memiliki kandungan 18 vitamin dan mineral, kadar karbohidrat yang rendah
dan kadar protein 12 gram per 100 gramnya. Selain itu, kandungan zinc, selenium,
retinol dan tocopherols bisa mengurangi resiko penyakit degenatif seperti CVD
(Jose et al, 2015)namun, berbagai penelitian mengenai telur menunjukkan bahwa
mikroorganisme seperti bakteri dapat mengkontaminasi telur dan bisa berdampak
pada kehidupan manusia. Pada telur, bakteri yang paling banyak didapatkan
3

antara lain E.Coli dan Salmonella spp (Arufa et al, 2017). Penelitian yang
dilakukan oleh Harsha di India, bakteri dapat menginfeksi telur melalui jalur
vertikal serta secara horizontal. Pada penelitian sebelumnya yang dilakukan di
negara India (Harsha et al, 2011), Bangladesh (Ali et al, 2012), Amerika Serikat
(Holly, 2015) membuktikan bahwa telur ayam terkontaminasi oleh bakteri dan
rata-rata memiliki resistensi terhadap antibiotik golongan aminoglikosida.
Paparan resistensi ini tergantung perawatan ayam dan lingkungan peternakan.
Kemungkinan pencemaran pada telur tidak hanya disebabkan oleh penyakit
menular antar hewan ternak bisa disebabkan oleh lingkungan, feses, udara, jenis
kandang, pekerja/peternak, rak telur. Sumber pencemaran pada telur dapat berasal
dari unggas yang sakit, kloaka, alas kandang/sangkar, wadah telur (peti, egg tray),
debu, tanah (lingkungan), penyimpanan, sanitasi dan higiene serta pekerja.
Menurut penelitan yang dilakukan di Bangladesh membuktikan bahwa bakteri
yang sering mencemari lingkungan peternakan atau udara yaitu Staphylococcus
spp. dan Eschericia coli. Konsentrasi bakteri Escherichia coli pada debu kandang
dapat mencapai 105-106 /g (Nurjana, 2015). Keadaan tersebut bisa terjadi karena
kurangnya pengawasan dan higeinitas yang kurang memadai.
Pemberiaan antibiotik dalam perawatan berupa pakan atau minuman ayam
petelur membuat sejumlah bakteri resisten terhadap beberapa antibiotik.
Lingkungan peternakan yang jauh dari higiene dan sanitasi membuat ayam sakit
dan bisa menularkan bakteri yang resisten terutama bakteri Escherichia coli .
Oleh karena itu, penelitian dilakukan untuk mengkaji kepekaan bakteri dari telur
ayam terhadap antibiotik karena distribusi dan pemanfaatan telur ayam sangat luas
di masyarakat. Antibiotik yang digunakan dalam penelitian adalah tetrasiklin.
Antibiotik tersebut sangat umum dipakai oleh manusia dan pemakaian pada
hewan ternak.
4

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan makan akan didapatkan


rumusan masalah yaitu:

1. Bagaimana pertumbuhan koloni bakteri Enterobacteriaceae pada isolat telur


ayam?

2. Bagaimana kepekaan bakteri Escherichia coli yang terdapat pada telur ayam
terhadap antibiotik tetrasiklin ?

1.3 Tujuan Penelitian


1. Mengetahui kontaminasi koloni bakteri Enterobacteriaceae pada isolat kuning
telur yang didapatkan
2. Mengetahui kepekaan bakteri Escherichia coli yang terdapat pada isolat
kuning telur terhadap antibiotik tetrasiklin
5

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini memiliki manfaat bagi beberapa komponen, yaitu:

1. Bagi masyarakat , penelitian ini bertujuan agar masyarakat lebih bijak dalam
menggunakan antibiotik.
2. Bagi instansi, Fakultas Kedokteran Universitas Jember, penelitian ini dapat
dijadikan salah satu literatur ataupun referensi pada penelitian-penelitian
selanjutnya mengenai mikrobiologi
3. Bagi Pemerintah khususnya Dinas Peternakan, Penelitian ini dapat menjadi
pertimbangan kebijakan baru mengenai peraturan pemberian tambahan
antibiotik di pakan atau minuman hewan hternak
4. Bagi peneliti , penelitian ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk menambah
wawasan pengetahuan mengenai resistensi antibiotik dalam produk ternak
terutama telur dan pengalaman meneliti . Selain itu, sebagai sarana penerapan
ilmu yang didapat dari proses belajar di Fakultas Kedokteran Universitas
Jember.