Anda di halaman 1dari 6

Bahan Bacaan Raker RUMAH JOKOWI – Agustus 2018

Menapak Sejarah Masa Depan Bangsa Indonesia : Menghilangkan


Stigma Masa Lalu Anak Bangsa

Pendahuluan
Sebelum datangnya bangsa Eropa (Portugis, Belanda) ke nusantara, wilayah ini sudah
berdiri banyak kerajaan, baik kerajaan besar maupun kecil. Mereka adalah penghuni asli wilayah
nusantara, meski pun ketika itu belum tercakup dalam satu identitas sebagai bangsa. Setiap
wilayah dalam lingkup kekuasaan kerajaan-kerajaan yang telah ada di nusantara itu memiliki
tatanan kehidupan, hukum dan sistem pemerintahannya sendiri-sendiri. Hal tersebut
mencerminkan jatidiri yang mandiri meskipun hanya dalam lingkup wilayah kecil kekuasaannya.
Dimana di dalamnya telah diterapkan tata pengaturan kehidupan, hukum dan sistem
pemerintahan.
Di masa itu, wilayah nusantara sudah banyak didatangi oleh para pedagang dari berbagai
bangsa (Cina, Arab dan India). Perdagangan rempah-rempah di wilayah nusantara terjadi karena
wilayah nusantara banyak menghasilkan rempah-rempah yang sangat dibutuhkan di wilayah
Eropa. Kedatangan awal bangsa Eropa, dimulai dari perdagangan rempah-rempah. Namun
sejalan dengan semakin banyak dan besarnya kekuatan bangsa Eropa, yang terjadi adalah
monopoli perdagangan dan penguasaan wilayah. Pun akhirnya bangsa Belanda (kolonial) yang
paling banyak menguasai wilayah nusantara. Akibatnya terjadi peperangan-peperangan kecil oleh
pribumi nusantara untuk mengusir bangsa Belanda. Kuku kekuasaan bangsa kolonial itu
menamcap hingga 350 tahun di nusantara. Selama itu pula pribumi-pribumi di nusantara
mengalami penderitaan dan kesengsaraan.
Lewat perjalanan yang panjang dan perjuangan yang tanpa mengenal lelah sampailah
nusantara menjadi bangsa yang merdeka dengan nama Republik Indonesia. Namun panjangnya
rentang waktu penjajahan mengakibatkan mental pribadi-pribadi hingga kini masih mengalami
stigma masa lalu sebagai bangsa yang terjajah. Perjalanan dalam era kemerdekaan hingga kini
(2018) telah mencapai usia 73 tahun namun belum menunjukkan aras kokoh jiwa yang merdeka.
Stigma masa lalu itu masih terus membayangi dan dikhawatirkan akan mengakibatkan lunturnya
semangat menjadi bangsa yang berdikari.
Pada hal untuk menatap maju ke depan, bangsa Indonesia membutuhkan sikap berdikari
dengan menatap pasti menuju pembentukan Republik Indonesia yang maju dan dan sejahtera.
Mampu berdiri tegak dengan bangsa-bangsa lain dan terus berkiprah dalam kancah internasional.

Masa Perjuangan Melawan Kolonialisme


Sebelum merdeka, bangsa Indonesia merasakan pahitnya penjajahan oleh beberapa
negara asing. Dimulai dari portugis yang pertama kali tiba di Malaka pada tahun 1509. Portugis
berhasil menguasai Malaka pada 10 Agustus 1511 yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque.
Setelah menguasai Malaka, portugis mulai bergerak dari Madura sampai ke Ternate. Bangsa
Indonesia melakukan berbagai perlawanan terhadap Portugis. Salah satu perlawan yang terkenal
adalah perlawan Fatahillah yang berasal dari Demak di Sunda Kelapa (sekarang Jakarta).
Fatahillah berhasil memukul mundur bangsa Portugis dan mengambil kembali Sunda Kelapa.
Setelah itu nama Sunda Kelapa diubah oleh Fatahillah menjadi Jayakarta.
Masa penjajahan Portugis berakhir pada tahun 1602 setelah Belanda masuk ke Indonesia.
Belanda masuk ke Indonesia melalui Banten di bawah pimpinan Cornelius de Houtman. Belanda
ingin menguasai pasar rempah-rempah di Indonesia dengan mendirikan Verenigde Oostindische
Compagnie (VOC) di Banten pada tahun 1602. Karena pasar di Banten mendapat saingan dari
pedagang tionghoa dan Inggris maka kantor VOC pindah ke Sulawesi Selatan. Di Sulawesi

1|Halaman
Bahan Bacaan Raker RUMAH JOKOWI – Agustus 2018

Selatan, VOC mendapat perlawanan dari Sultan Hasanuddin. Berbagai perjanjian dibuat. Salah
satunya adalah perjanjian Bongaya. Akan tetapi, Sultan Hasanuddin tidak mematuhi perjanjian
tersebut dan melawan Belanda. Setelah berpindah-pindah tempat, akhirnya VOC sampai d
Yogyakarta. Di Yogyakarta, VOC menandatangani perjanjian Giyanti yang isinya adalah Belanda
mengakui mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwono 1. Perjanjian Giyanti juga memecah
kerajaan Mataram menjadi Kasunan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Lalu, akhirnya VOC
dibubarkan pada tanggal 1 Januari 1800 setelah Belanda kalah dari Perancis.
Setelah VOC dibubarkan, penjajahan Belanda tidak berhenti. Belanda menunjuk Daendels
sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Pada masa Deandels, masyarakat Indonesia dipaksa
untuk membuat jalan raya dari Anyer sampai Panarukan. Namun masa pemerintahan Daendels
tidak berlangsung lama dan digantikan oleh Johannes van den Bosch. Van den Bosch menerapkan
sistem tanam paksa (cultuur stelsel). Dalam sistem tanam paksa, setiap desa harus menyisihkan
sebagian tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor khususnya kopi, tebu, nila. Hasil tanaman ini
akan dijual kepada pemerintah kolonial dengan harga yang sudah dipastikan (20%) dan hasil
panen diserahkan kepada pemerintah kolonial.
Pemerintah kolonial begitu memonopoli perdagangan dan menerapkan harga yang sangat
rendah atas segala hasil bumi yang dihasilkan rakyat Indonesia yang dijual kembali dengan harga
berpuluh-puluh kali lipat. Bahkan rakyat Indonesia banyak yang dijual, untuk dijadikan kuli/buruh
di perkebunan-perkebunan Belanda. Sementara itu, pendidikan rakyat Indonesia pun berjalan
dengan sangat memprihatinkan. Lembaga-lembaga pendidikan terbatas hanya pada kalangan
atas seperti keluarga raja, para bupati, para pejabat tinggi kerajaan atau orang-orang kaya.
Pelaksanaan pendidikan dilakukan hanya untuk memberikan pengetahuan agar rakyat dapat
membaca dan menulis. Bagi mereka yang telah mengenyam pendidikan, hanya diperkerjakan
pada perusahaan-perusahaan swasta asing.
Ketika penjajah Belanda masih bercokol di Indonesia, muncul istilah pribumi dan non
pribumi. Istilah pribumi asalnya dari kata Inlander yang diberikan oleh penjajah Belanda dengan
membagi 3 kasta di wilayah jajahannya, Hindia Belanda: 1) Tertinggi tentunya bangsa kolonial
(Eropa). 2) Bangsa pendatang asal Timur Dekat-Timur Jauh (Arab, India, China) 3) Inlander
(Pribumi). Istilah "pribumi" memang mustahil untuk digantikan/diusangkan, karena pribumi
adalah identitas bangsa Indonesia. Dimana kebangsaan Indonesia dibangun dengan sentimen
kepribumian.1 Pengalaman tertindas sebagai warga kelas tiga yang ditengarai oleh para terpelajar
bangsa Indonesia berusaha keras untuk merdeka, melepaskan diri dari penindasan ras Eropa
yang berlagak sebagai tuan di atas tanah rakyat Indonesia.
Perjuangan itu dimulai dengan memunculkan identitas bangsa dengan nama Indonesia.
Sebenarnya nama Indonesia untuk pertama kalinya muncul di dunia terdapat pada tulisan James
Richardson Logan halaman 254 (1819-1869). Mr. Earl suggests the ethnographical term
Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term
Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago
(Tuan Earl menyarankan istilah etnografis Indunesian, tetapi menolaknya demi orang Melayu.
Saya lebih suka istilah geografis murni Indonesia, yang hanya sinonim yang lebih pendek untuk
Kepulauan India atau Kepulauan India). Logan adalah orang Skotlandia yang meraih sarjana
hukum dari Universitas Edinburgh. Dari situlah James Richardson Logan secara konsisten
menggunakan nama Indonesia dalam karya ilmiahnya, dan dengan seiring perjalanan waktu
pemakaian nama Indonesia menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.
Inilah yang menjadi titik awal mula nama Indonesia di dunia.2

1 Istilah pribumi dan non pribumi sekarang ini sudah dihapus oleh Keppres Nomor 26 tahun 1998.
2 https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_nama_Indonesia

2|Halaman
Bahan Bacaan Raker RUMAH JOKOWI – Agustus 2018

Putra bangsa Indonesia pertama yang mula-mula menggunakan istilah Indonesia adalah
Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika beliau sedang belajar (dibuang ke negeri
Belanda) tahun 1913, beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-
bureau. Pada dasawarsa 1920-an, nama Indonesia yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi
dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia, sehingga
nama Indonesia akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang ingin
memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada
terhadap pemakaian kata Indonesia.3
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, menyebutkan “Negara Indonesia Merdeka yang
akan datang (de toekomstige vrije Indonesische staat) mustahil disebut -Hindia Belanda-. Juga
tidak -Hindia- saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama
Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (een politiek doel), karena melambangkan dan
mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia
(Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.”4
Dr. Sutomo mendirikan Indonesische Studie Club pada tahun 1924. Tahun itu juga
Perserikatan Komunis Hindia berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada
tahun 1925 Jong Islamieten Bond membentuk kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij
(Natipij). Akhirnya nama Indonesia dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa pada
Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang disebut Sumpah
Pemuda.5
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota Volksraad (Dewan Rakyat, DPR zaman
Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo,
mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama Indonesia diresmikan sebagai
pengganti nama Nederlandsch-Indie.6 Tetapi pemerintah Belanda menolak mentah-mentah.
Dengan jatuhnya wilayah Indonesia ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah
nama Hindia Belanda untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, lahirlah negara
Republik Indonesia. Yang ketika itu dinyatakan dalam teks naskah proklamasi kemerdekaan
Republik Indonesia yang dibacakan oleh Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta. Sejak itu Bangsa
Indonesia menjadi negara dan bangsa yang merdeka serta mulai berkiprah di dunia internasional
bahkan diakui dalam kancah dunia.
Mulai saat itu pulalah riak perjalanan sebagai bangsa selalu mewarnai setiap gerak
kehidupannya. Kepemimpinan dan sistem pemerintahan silih berganti. Meskipun demikian,
ideologi dan dasar negara (Pancasila dan UUD 9145) bangsa Indonesia masih tetap digunakan.
Berbagai gejolak itu merupakan dinamika yang harus dihadapi dan tidak bisa dihindari. Namun
dengan keteguhan semangat sebagai negara dan bangsa Indonesia dalam bingkai Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih tetap utuh hingga saat ini.

Dinamika Bangsa Dan Negara Di Era Kemerdekaan


Hilangnya penjajahan datang sebuah era kemerdekaan dimulai sejak dikumandangkannya
naskah teks proklamasi oleh Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.
Sejak itu bangsa Indonesia menjadi sebuah bangsa yang telah bebas dari belenggu penjajahan.
Merdeka secara jiwa dan raga.

3 Laksono Hari Wiwoho (Editor), Asal-usul Nama Indonesia, Kompas.com - 29/10/2015, 18:00 WIB,
https://nasional.kompas.com/read/2015/10/29/18000081/Asal-usul.Nama.Indonesia?page=3.
4 Marcel Rombe Baan (editor), Ini Asal Usul Nama Indonesia Ini, 05 Juli 2017 | 02:57 WIB,
http://www.netralnews.com/news/rebranding/read/85818/ini.asal.usul.nama.indonesia.ini/1
5 Prayoga Dumbela, ORGANISASI - ORGANISASI PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA, 18 Maret 2014,

https://plus.google.com/113970865865854524967/posts/JsBgxtcMFgN
6 Ibid.

3|Halaman
Bahan Bacaan Raker RUMAH JOKOWI – Agustus 2018

Dalam menapaki kehidupannya sebagai bangsa dan negara yang berdaulat, bangsa
Indonesia mengalami berbagai gejolak dan cobaan. Dimana selama rentang perjalanan itu,
bangsa Indonesia mengalami berbagai batu ujian dan dinamika sejarah sistem politik dan
pemerintahan, sejak jaman demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, era Orde Baru hingga
demokrasi multipartai di era Reformasi. Di setiap jaman, bangsa Indonesia melewati alur
dialektika peradaban yang menguji ketangguhannya sebagai bangsa Indonesia yang merdeka
dan berdaulat. Sejak 1998, bangsa Indonesia memasuki era Reformasi yang diikuti dengan
gelombang demokratisasi di berbagai bidang.
Namun di satu sisi, Pancasila yang didengungkan sebagai dasar ideologi bangsa seolah-
olah tenggelam dalam pusaran sejarah masa lalu yang dipandang tidak lagi relevan untuk
disertakan dalam dialektika Reformasi. Pancasila seolah hilang dari memori kolektif bangsa.
Pancasila semakin jarang diucapkan, dikutip, dan dibahas baik dalam konteks kehidupan
ketatanegaraan, kebangsaan maupun kemasyarakatan. Pancasila seperti tersandar di sebuah
lorong sunyi di tengah denyut kehidupan bangsa Indonesia yang semakin hiruk-pikuk dengan
demokrasi dan kebebasan berpolitik.7
Untuk itulah dibutuhkan sebuah langkah dengan wujud reaktualisasi Pancasila yang
mencakup upaya yang serius dari seluruh komponen bangsa untuk menjadikan Pancasila sebagai
sebuah visi yang menuntun perjalanan bangsa di masa datang. Melalui reaktualisasi Pancasila,
dasar negara itu akan ditempatkan dalam kesadaran baru, semangat baru dan paradigma baru
dalam dinamika perubahan sosial politik masyarakat Indonesia.8
Pasca Reformasi, Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) gencar mensosialisasikan kembali
empat pilar kebangsaan yang fundamental: Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.
Keempat pilar itu sebenarnya telah lama dipancangkan ke dalam bumi pertiwi oleh para founding
fathers bangsa Indonesia di masa lalu. Tetapi karena jaman terus berubah yang kadang
berdampak pada terjadinya diskotinuitas memori sejarah, maka perlu untuk disegarkan kembali
empat pilar tersebut, karena sangat relevan dengan problematika bangsa saat ini. Sejalan dengan
itu, upaya penyegaran kembali juga perlu dilengkapi dengan upaya mengaktualisasikan kembali
nilai-nilai yang terkandung dalam keempat pilar kebangsaan tersebut.9
Momentum untuk memperkuat empat pilar kebangsaan itu dijalankan melalui aktualisasi
nilai-nilai Pancasila yang dapat menjadi fondasi, perekat sekaligus payung kehidupan berbangsa
dan bernegara. Dengan membumikan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian rakyat Indonesia,
seperti nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai persatuan, nilai permusyawaratan dan keadilan
sosial, diyakini bangsa ini akan dapat meraih kejayaan di masa depan. Nilai-nilai itu harus
diinternalisasikan dalam sanubari bangsa Indonesia sehingga Pancasila hidup dan berkembang di
seluruh pelosok nusantara.10
Aktualisasi nilai-nilai Pancasila harus menjadi gerakan nasional yang terencana dengan baik
sehingga tidak menjadi slogan politik yang tidak ada implementasinya. Meskipun berbeda suku,
agama, adat istiadat dan afiliasi politik, namun kerja keras itu akan menjadi bangsa Indonesia
sebagai bangsa yang besar, kuat dan maju di masa yang akan datang.11

Menghilangkan Stigma Masa Lalu Anak Bangsa


Perjalanan sejak Indonesia merdeka hingga kini, telah ditorehkan dengan sejarah panjang
tumbuh kembangnya bangsa Indonesia, untuk menjadi bangsa yang maju dan bermartabat.

7
Pidato BJ Habibie dalam acara yang digelar di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, 1 Juni 2011.
8
Ibid.
9
Ibid.
10
Ibid.
11
Ibid.

4|Halaman
Bahan Bacaan Raker RUMAH JOKOWI – Agustus 2018

Sejarah masa lalu, dimana bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 dan Jepang selama
3,5 tahun menjadikan catatan kelam yang menjadikan anak-anak bangsa menjadi terlena sebagai
bangsa yang terjajah. Catatan sejarah bangsa Indonesia ketika memasuki babak baru dalam
pergerakan menuju kemerdekaan, dimana anak bangsa kala itu, berupaya melepaskan diri dari
belenggu penjajahan yang menyengsarakan banyak rakyat Indonesia.
Kini bangsa Indonesia telah merdeka, sejak dikumandangkannya teks proklamasi
kemerdekaan Republik Indonesia oleh Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta pada tanggal 17
Agustus 1945. Upaya itu merupakan wujud usaha yang dilakukan oleh golongan muda di masa
itu, untuk membawa Indonesia pada tatanan yang semestinya, yang merdeka dan berdaulat.
Di era sekarang ini (2018), semangat Kebangkitan Nasional hendaknya masih menjadi
sesuatu yang harus terus dipupuk oleh anak bangsa. Jika dahulu generasi muda berusaha untuk
bangkit dan lolos dari serangan kolonial Belanda yang memberikan banyak tekanan bagi bangsa
ini. Berbeda dengan sekarang ini, dimana anak bangsa haruslah bangkit dan berdiri untuk lepas
dari upaya memenjarakan diri sendiri.
Pada tataran lain, Anhar Gonggong menyebutkan, Indonesia saat ini mengalami defisit
pemimpin. Banyak mental “pejabat” bukan pemimpin. Rakyat Indonesia kehilangan rasa jujur,
jujur pada diri sendiri. Dia mencontohkan perilaku para wakil rakyat. Dimana perilakunya tidaklah
mencerminkan pemimpin padahal mereka memiliki kewenangan dan peran yang besar untuk
Indonesia yang lebih baik.
Generasi masa depan yang diidamkan adalah generasi masa kini yang tidak merusak masa
depan. Yakni generasi yang mau jujur terhadap diri sendiri. Anhar Gonggong menghimbau para
anak muda untuk mencontoh para pahlawan nasional seperti HOS Cokroaminoto, Ir. Soekarno,
Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir dan Agus Salim yang dulu begitu gigihnya memperjuangkan
kemerdekaan Indonesia. Mereka itu pemimpin sejati. Mereka memiliki visi yang jelas yang belum
tentu berhasil namun kala itu mereka adalah orang-orang yang mau menampilkan keinginan
untuk sebuah perubahan.
Pemimpin itu adalah sosok yang bersedia membenahi dirinya dengan pengetahuan dan
wawasan luas. Kemudian mereka berani menyimpang untuk perubahan yang lebih baik. Kalau
Soekarno dan Hatta tidak menyimpang maka tidak akan lahir Indonesia. Pahlawan dan para
pejuang kemerdekaan lainnya itu terlebih dahulu merevolusi mental mereka. Selanjutnya
membentuk wadah untuk merevolusi mental masyarakat lebih luas caranya melalui organisasi.
Bangsa Indonesia itu satu sekaligus bersatu. Walaupun bangsa Indonesia itu terdiri dari
berbagai suku, agama ras dan berbagai golongan tetapi tetap bersatu. Itulah yang diperjuangkan
oleh para pendiri negara ini. Harus disadari bahwa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang
merdeka karena suatu proses sejarah dengan memperjuangkan kemerdekaan melalui tumpahan
keringat dan darah. Tidak sedikit para pejuang yang kehilangan nyawa demi tercapainya
kemerdekaan. Oleh karena itu harus selalu disadari bahwa lewat perjuangan yang panjang ini
akhirnya bangsa Indonesia dapat menikmati hasil jerih payah berupa kemerdekaan Indonesia.
Dewasa ini, banyak orang mengenal sebutan identitas nasional. Sesuatu yang terus
meresap pada masyarakat untuk hidup tanpa terlalu mengutamakan identitas asal, karena kerap
kali disangka intim dan pribadi. Namun, bukankah identitas nasional akan terwujud jika identitas
asal tetap tertanam dalam sanubari masing-masing? Hal ini pula yang harus ditumbuhkan lagi
pada generasi muda di era sekarang ini. Semangat menunjukkan identitas diri tanpa harus
mengolok-olok atau mengesampingkan identitas lain adalah yang utama. Sebab bangsa ini tidak
akan merdeka seutuhnya jika anak bangsa justru lupa dan menanggalkan identitas diri mereka
sendiri.
Identitas nasional haruslah dibangun dengan daya juang yang kokoh, dengan sergapan dan
pencapaian yang kuat melalui identitas diri yang mumpuni. Tetapi, identitas nasional juga bukan

5|Halaman
Bahan Bacaan Raker RUMAH JOKOWI – Agustus 2018

dibangun atas dasar identitas mayoritas tentang siapa yang lebih kuat dan lebih unggul. Ini
perkara seimbang dan bersama, sebab Indonesia itu satu, bukan dua, tiga, atau selebihnya. Oleh
sebab itu hal-hal yang menjadi sokongan utama demi menguatkan Indonesia sebagai bangsa
yang tangguh adalah upaya untuk menyeimbangkan pikiran serta pendapat dari seluruh anak
bangsanya. Utamanya yang dapat berdiri membangun diri mereka sendiri, guna memberikan
yang terbaik bagi bangsa ini.
Sampai di hari ini, anak bangsa Indonesia bukan lagi dijajah oleh bangsa barat, bukan lagi
berupaya meloloskan diri dari serangan benda tajam atau belati bahkan peluru yang siap
menerkam. Tetapi anak bangsa justru tengah dijajah oleh berbagai macam ungkapan dan stigma
negatif mengenai identitas mereka. Dengan demikian, upaya untuk bangkit adalah usaha untuk
keluar dari zona nyaman yang sesungguhnya, untuk tidak terlalu menjebloskan diri dengan
banyak anggapan terkait menjatuhkan identitas pribadi.
Siapa saja berhak menoleh dan menuju berbagai macam penjuru, melihat dan mengulas
kembali perlakuan anak bangsa yang membanggakan juga yang patut dijadikan pelajaran.
Munculnya berbagai macam pembaruan atas dasar cinta tanah air yang telah dihadirkan beberapa
anak muda di era ini hendaknya menjadi simbol dan lonceng kebangkitan bahwa Indonesia
tetaplah negara kuat yang tetap bisa berdiri berkat anak muda yang cinta bangsanya, yang cinta
tanah airnya, dan rela memberikan yang terbaik bagi bangsa ini.
Di era digital saat ini, muncul generasi yang hidup dengan hiruk pikuk teknologi internet
dan digital. Mereka disebut dengan nama Generasi Now. Generasi Now adalah generasi yang
lahir dan tumbuh sejak era 2000an. Generasi Now sejak kecil sudah akrab dengan teknologi
internet dan digital. Sebenarnya mereka itu adalah Generasi Emas, karena mereka adalah
modal sumberdaya manusia bangsa Indonesia untuk menapaki langkah menuju Indonesia yang
kuat di masa datang.
Ketimpangan antar generasi yang terjadi di Indonesia saat ini, telah mengakibatkan
terserambutnya Generasi Now dengan konteks semangat perjuangan bangsa Indonesia.
Dimana aktualisasi Pancasila hilang, ditambah lagi mereka disuguhkan dengan persoalan
dinamika demokrasi dan berpolitik yang dipandang kotor. Kejadian dalam keseharian dengan
persoalan lingkungan hidup, ekonomi, sosial, politik, budaya hingga isu terorisme dan korupsi
menjadikan menjadikan mereka seperti acuh tak acuh dengan segala persoalan yang muncul.
Mereka membutuhkan penerapan “etika” yang notabene tercatat dalam berbagai bahan bacaan
dengan kondisi terbalik dalam kehidupan nyata dinamika berbangsa dan bernegara. Mereka
membutuhkan tuntunan praktis ketimbang pragmatis, dari generasi di atasnya.
Generasi Now adalah Generasi Emas, mereka adalah pewaris yang akan menapaki
langkah memasuki “Gerbang Emas” menuju Indonesia yang kuat, seperti banyak diprediksi
mengenai Indonesia pada tahun 2030 akan menjadi negara yang kuat secara fundamental
ekonomi. Indonesia dimasukan dalam kategori 7 (tujuh) negara kuat seperti Amerika Serikat;
China; Russia; India; Brazil; dan Afrika Selatan pada tahun 2030. Oleh sebab itu tidak berlebihan
bila dikatakan bahwa era menuju titik tahun 2030 disebut sebagai sebagai “Gerbang Emas.”
Dalam era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, modal fundamental yang dapat
diimplementasikan diantaranya Gerakan Revolusi Mental. Karena dengan pengejawantahan
Gerakan Revolusi Mental dalam denyut kehidupan utamanya pada Generasi Emas
Indonesia maka akan memungkinkan mereka untuk mendapatkan pijakan kokoh untuk dapat
terus melangkah menuju era “Gerbang Emas” Indonesia.

6|Halaman