Anda di halaman 1dari 110

Laporan Akhir Praktek Kerja

PROYEK PEMBANGUNAN APARTEMENT & CONDOTEL


MARQUIS DE LAFAYETTE
SEMARANG
KONSENTRASI: MANAJEMEN

Disusun Oleh:
Karina Riezki Putri
12.12.0018

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
2016

i
Lembar Pengesahan Praktek Kerja
PROYEK PEMBANGUNAN APARTEMENT & CONDOTEL
MARQUIS DE LAFAYETTE
SEMARANG
KONSENTRASI: MANAJEMEN

Disusun Oleh:
Karina Riezki Putri
12.12.0018

Telah diperiksa dan setujui,


Semarang, ………………………

Ketua Program Studi Teknik Sipil Dosen Pembimbing

( Daniel Hartanto, ST., MT. ) ( Ir.Budi Setiyadi, MT )

ii
LAMPIRAN KEPUTUSAN REKTOR
UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
Nomor : 0047/SK.rek/X/2013
Tanggal : 07 Oktober 2013
Tentang : PERNYATAAN KEASLIAN LAPORAN PRAKTIK KERJA
PROYEK PEMBANGUNAN APARTEMENT & CONDOTEL MARQUIS DE
LAFAYETTE SEMARANG

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Laporan Praktek Kerja yang berjudul
“PROYEK PEMBANGUNAN APARTEMENT & CONDOTEL MARQUIS DE
LAFAYETTE SEMARANG” ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk
memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang
pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau
diterbitkan oleh orang lain kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan
disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila di kemudian hari ternyata terbukti
bahwa laporan ini sebagian atau seluruhnya merupakan hasil plagiasi, maka saya
rela untuk dibatalkan, dengan segala akibat hukumnya sesuai peraturan yang
berlaku pada Universitas Katolik Soegijapranata dan/atau peraturan perundang-
undangan yang berlaku.

Semarang, 2016

(Karina Riezki Putri)


NIM: 12.12.0018

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa atas kesempatan dan berkat
yang telah diberikan-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan
pembuatan laporan Praktek Kerja ini dengan baik dan selesai pada waktunya serta
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Laporan Praktek Kerja yang berjudul “PROYEK PEMBANGUNAN
APARTEMENT & CONDOTEL MARQUIS DE LAFAYETTE SEMARANG” ini
disusun sebagai syarat untuk menempuh kegiatan perkuliahan serta memperoleh
gelar kesarjanaan pada bidang studi Teknik Sipil Universitas Katolik
Soegijapranata. Selain itu, laporan ini juga dibuat dengan maksud untuk
menyampaikan ilmu yang telah kami terima dan serap dalam masa Praktek Kerja
1 September 2015 – 31 Novenber 2015 yang lalu, tentang cara kerja pelaksanaan
pekerjaan konstruksi hingga penyelesaian masalah konstruksi yang ditemui
selama periode Praktek Kerja tersebut.
Di lain hal, dalam kesempatan ini pula penulis berkenan untuk
mengucapkan terima kasih kepada:
a. Bapak Ir. Budi Setiyadi, MT yang telah membimbing penulis dalam kegiatan
lapangan dan penulisan laporan praktek kerja selama 1 September 2015 – 31
Novenber 2015 serta telah memberikan banyak masukan sebagai dosen wali
mahasiswa/i Teknik Sipil angkatan 2012.
b. Bapak Ryan Florenda, ST (SEM) yang telah bersedia membimbing penulis
selama kegiatan praktek kerja di lapangan berlangsung serta memberikan
banyak ilmu dan pengetahuan lapangan yang tidak kami terima di bangku
perkuliahan.
c. Bapak Fahmi, Ibu Sri, Bapak Irawan, Bapak Sunaryo, Bapak Isro, Bapak Gani
serta semua pihak yang tergabung dalam pelaksanaan proyek pembangunan
Apartement & Condotel Marquis De Lafayette Semarang yang telah
memberikan pengetahuan mengenai dunia konstruksi.

iv
d. Ferista Dea Caresa, yang telah bersama-sama dengan penulis dalam
mengumpulkan serta mengolah data yang didapat dalam kegiatan praktek kerja
lalu periode 1 September 2015 – 31 Novenber 2015.
Seluruh pihak yang telah tersebutkan maupun yang tidak sempat tersebut di
atas telah mendukung penulis dan berpartisipasi besar dalam proses pembuatan
laporan praktek kerja ini dari awal hingga akhir.
Penulis menyadari akan banyaknya kekurangan dalam laporan praktek kerja
ini. Oleh karena itu, penulis memohon kritik dan saran membangun yang dapat
digunakan sebagai bahan untuk memajukan penulis di kesempatan selanjutnya.
Akhir kata, semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Penulis

v
KARTU ASISTENSI

vi
PERMOHONAN IJIN PRAKTEK KERJA

vii
SURAT IJIN PRAKTEK KERJA DARI PROYEK

viii
SURAT PERINTAH KERJA

ix
BIMBINGAN KERJA PRAKTEK

x
KETERANGAN SELESAI KERJA PRAKTEK

xi
UCAPAN TERIMA KASIH

xii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ········································································· i
LEMBAR PENGESAHAN ································································ ii
SURAT PERNYATAAN ··································································· iii
KATA PENGANTAR ······································································· iv
KARTU ASISTENSI ········································································ vi
SURAT PERMOHONAN IJIN PRAKTEK KERJA ································· vii
SURAT IJIN PRAKTEK KERJA DARI PROYEK ·································· viii
SURAT PERINTAH KERJA ······························································ ix
SURAT BIMBINGAN KERJA PRAKTEK ············································ x
SURAT KETERANGAN SELESAI KERJA PRAKTEK ··························· xi
SURAT UCAPAN TERIMA KASIH ···················································· xii
DAFTAR ISI ·················································································· xiii
DAFTAR TABEL ············································································ xv
DAFTAR GAMBAR ········································································ xvi
BAB I PENDAHULUAN ·································································· 1
1.1 Latar Belakang Praktik Kerja ··············································· 1
1.2 Latar Belakang Proyek ······················································· 1
1.3 Lokasi Proyek ································································· 2
1.4 Data Administrasi Proyek ··················································· 3
1.5 Data Teknis Proyek ·························································· 4
1.6 Tujuan Praktik Kerja ························································· 5
1.7 Pembatasan Masalah ························································· 6
1.8 Pengumpulan Data ··························································· 6
1.9 Tata Cara Pelelangan ························································· 7
BAB II PENGELOLA PROYEK ························································ 9
2.1 Pemilik Proyek ································································ 9
2.2 Konsultan Perencana ························································· 9
2.3 Pelaksana Proyek ····························································· 11
2.4 Konsultan Pengawas ························································· 22

xiii
BAB III PELAKSANAAN ································································ 24
3.1 Metode Pelaksanaan Pekerjaan ············································· 24
3.2 Rencana Kerja································································· 24
3.2.1 Network Planning ······················································ 26
3.2.2 Kurva S ·································································· 26
3.3 Sistem Kerja Proyek·························································· 27
3.4 Keamanan dan Keselamatan Kerja (K3)··································· 27
3.5 Pekerjaan Struktur Atas ······················································ 31
3.5.1 Kolom ··································································· 32
3.5.2 Shear Wall (Dinding Geser) ·········································· 37
3.5.3 Balok dan Pelat Lantai ················································ 41
3.5.4 Tangga··································································· 51
3.5.5 Dinding Parapet ······················································· 55
3.6 Alat-Alat Kerja································································ 58
3.7 Bahan – Bahan ································································ 68
3.8 Sistem Pengawasan dan Pengendalian Proyek···························· 74
3.8.1 Pengendalian Mutu (Quality Control) ······························ 74
3.8.2 Pengendalian Biaya (Budget Control)······························· 77
3.8.3 Pengendalian Waktu (Time Control) ································ 78
3.8.4 Pengendalian Sumber Daya Manusia ······························· 80
3.9 Permasalahan dan Pemecahannya ·········································· 81
3.9.1 Faktor Alam ···························································· 81
3.9.2 Faktor Manusia ························································· 82
3.9.3 Faktor Alat ······························································ 88
BAB IV PENUTUP ·········································································· 89
4.1 Kesimpulan ···································································· 89
4.2 Saran············································································ 90
DAFTAR PUSTAKA ········································································ 92
LAMPIRAN ···················································································

xiv
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Luas bangunan Marquis De Lafayette tiap Lantai ..................................... 5


Tabel 3.1 Tabel kolom tower ..................................................................................... 31
Tabel 3.2 Tabel kolom podium .................................................................................. 32
Tabel 3.3 Tabel kolom transfer .................................................................................. 32
Tabel 3.4 Tabel nilai slump test ................................................................................. 74

xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Peta Lokasi Proyek ................................................................................ 2
Gambar 1.2 Viw Design Marquis De Lafayette Apartement & Condotel Semarang . 3
Gambar 2.1 Bagan Struktur Organisasi Pemilik Proyek (Owner) ............................. 9
Gambar 2.2 Bagan Struktur Organisasi Kontraktor Pelaksana .................................. 12
Gambar 2.3 Bagan Struktur Organisasi Konsultan Pengawas ................................... 22
Gambar 3.1 Lay Out Marquis De Lafayette ............................................................... 23
Gambar 3.2 Akses Mobilitasi Proyek ........................................................................ 24
Gambar 3.3 Safety Talk .............................................................................................. 26
Gambar 3.4 Safety Helmet.......................................................................................... 27
Gambar 3.5 Masker .................................................................................................... 27
Gambar 3.6 Rompi ..................................................................................................... 27
Gambar 3.7 Sarung Tangan ....................................................................................... 28
Gambar 3.8 Sepatu Kerja (Safety Shoes) ................................................................... 28
Gambar 3.9 Body Harness ......................................................................................... 29
Gambar 3.10 Penempatan Rambu K3 ........................................................................ 29
Gambar 3.11 Railing Pengaman dan Safety Net ........................................................ 30
Gambar 3.12 Kolom ................................................................................................... 31
Gambar 3.13 Tulangan Kolom Yang Sudah di Fabrikasi .......................................... 32
Gambar 3.14 Panjang Penyaluran Tulangan Kolom (4D) ......................................... 33
Gambar 3.15 Pemasangan Besi Steck Kolom ....................................................................... 33
Gambar 3.16 Pemasangan Bekisting Kolom ............................................................ 34
Gambar 3.17 Pengecoran Kolom .............................................................................................. 35
Gambar 3.18 Letak shear wall proyek pembangunan Marquis De Lafayette .......... 36
Gambar 3.19 Penulangan Shear Wall ....................................................................... 37
Gambar 3.20 Bekisting Shear Wall yang sudah terpasang ....................................... 38
Gambar 3.21 Pengecoran Shear Wall ....................................................................... 39
Gambar 3.22 Proses pemasangan perancah .............................................................. 41
Gambar 3.23 Cek Bodeman ....................................................................................... 42
Gambar 3.24 Proses pemasangan bekisting balok ..................................................... 42

xvi
Gambar 3.25 Pemasangan bekisting pelat konvensional ........................................... 43
Gambar 3.26 Lubang pelat untuk bekisting dengan material steel deck .................... 44
Gambar 3.27 Bekisting pelat lantai yang sudah terpasang ........................................ 44
Gambar 3.28 Proses penulangan pada balok.............................................................. 45
Gambar 3.29 Proses pemasangan wiremesh M8-150 ................................................ 46
Gambar 3.30 Wiremesh M8-150 yang sudah terpasang pada pelat lantai ................. 47
Gambar 3.31 Pembersihan area yang akan dicor menggunakan air compressor ...... 48
Gambar 3.32 Ready mix yang keluar dari pipa baja................................................... 48
Gambar 3.33 Beton ready mix dengan penggaruk dan dipadatkan dengan
menggunakan concrete vibrator ................................................................................ 48
Gambar 3.34 Proses finishing setelah pengecoran selesai ......................................... 49
Gambar 3.35 Proses pembongkaran bekisting secara bertahap ................................. 49
Gambar 3.36 Visualisasi pemasangan bekisting plat tangga dan bordes ................... 51
Gambar 3.37 Bekisting pelat tangga yang sudah terpasang....................................... 51
Gambar 3.38 Visualisasi penulangan pelat tangga dan anak tangga ......................... 53
Gambar 3.39 Tulangan pelat tangga dan bordes yang telah terpasang ...................... 53
Gambar 3.40 Tangga yang sudah dicor...................................................................... 54
Gambar 3.41 Tulangan dinding parapet yang telah terpasang ................................... 55
Gambar 3.42 Bekisting dinding parapet..................................................................... 56
Gambar 3.43 Dinding parapet yang telah selesai dicor (tampak atas) ....................... 56

Gambar 3.44 Mesin Concrete Vibrator ..................................................................... 58


Gambar 3.45Concrete bucket ..................................................................................... 58
Gambar 3.46 Alat Air Compressor ............................................................................ 59
Gambar 3.47 Alat Trowel........................................................................................... 60
Gambar 3.48 Alat Gerinda Potong ............................................................................. 60
Gambar 3.49 Perancah ............................................................................................... 61
Gambar 3.50 Alat Bar Bender ................................................................................... 62
Gambar 3.51 Theodolite ............................................................................................. 62
Gambar 3.52 Auto level .............................................................................................. 62
Gambar 3.53 Bekisting kolom (atas) dan balok (bawah) yang digunakan ................ 63

xvii
Gambar 3.54 Gerobak dorong .................................................................................... 64
Gambar 3.55 Tower crane ......................................................................................... 65
Gambar 3.56 Concrete pump jenis fixed .................................................................... 65
Gambar 3.57 Elevator ................................................................................................ 66
Gambar 3.58 Truk molen ........................................................................................... 66
Gambar 3.59 Dump truck........................................................................................... 67
Gambar 3.60 Semen Indocement ............................................................................... 67
Gambar 3.61 Besi tulangan ........................................................................................ 68
Gambar 3.62 Beton Ready Mix .................................................................................. 69
Gambar 3.63 Beton Tahu ........................................................................................... 69
Gambar 3.64 Bata ringan ........................................................................................... 70
Gambar 3.65 Sunmortar Utama ................................................................................. 70
Gambar 3.66 Cakar ayam........................................................................................... 71
Gambar 3.67 Plywood ................................................................................................ 71
Gambar 3.68 Busa ...................................................................................................... 72
Gambar 3.69 Sumber air ............................................................................................ 73
Gambar 3.70 Kawat pengikat (Bendrat) .................................................................... 73
Gambar 3.71 Slump Test ............................................................................................ 75
Gambar 3.72 Sampel Beton Ready Mix ..................................................................... 75
Gambar 3.73 Uji Kuat Tekan Beton .......................................................................... 75
Gambar 3.74 Body harness dan helm proyek yang tidak digunakan ......................... 82
Gambar 3.75 Pekerja yang tidak memakai helm proyek ........................................... 82
Gambar 3.76 Contoh Surat Peringatan Untuk Pekerja Yang Tidak Menggunakan
APD ............................................................................................................................ 82
Gambar 3.77 Balok Tidak Sesuai cetakan ................................................................. 83
Gambar 3.78 Cetakan Belum Siap Cor ...................................................................... 84
Gambar 3.79 Beton Yang Menyisakan Rongga......................................................... 84
Gambar 3.80 Retak struktur pada pelat lantai ............................................................ 85
Gambar 3.81 Pembobokan pelat lantai yang terjadi di retak struktur ........................ 85
Gambar 3.82 Shear Wall masih keropos ketika bekisting dilepas ............................. 86

xviii
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Praktik Kerja


Kerja praktek pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik UNIKA
Soegijapranata adalah sebuah mata kuliah yang wajib dan salah satu syarat untuk
menyelesaikan pendidikan S-1. Ilmu dan pengetahuan dasar telah banyak
didapatkan di bangku perkuliahan, namun kegiatan belajar tidak cukup hanya
bergantung pada perkuliahan di dalam kelas saja. Dengan mempelajari dan
mengamati kondisi pelaksanaan pembangunan di lapangan secara langsung,
sehingga dapat belajar dan mendapat pengalaman secara langsung pada lapangan.
Kerja Praktek dilaksanakan 90 hari kalender. Dalam 90 hari kalender
tersebut diharapkan dapat mempelajari secara langsung proses berjalannya suatu
proyek mulai dari tahap bersosialisasi dengan pihak penyedia jasa konstruksi,
persiapan pekerjaan, pelaksanaan, manajemen, penyelesaian permasalahan, dan
hal-hal penting lainnya yang berkaitan dalam proses pengerjaan suatu konstruksi.

1.2 Latar Belakang Proyek


Semarang merupakan kota besar yang ada di Indonesia. Untuk mendukung
pertumbuhan kota Semarang menjadi kota metropolitan di Indonesia dibutuhkan
berbagaifasilitas pendukung diantaranya hotel, apartemen, mall dan sebagainya.
Sebagai pemilik proyek PT. Pahala Agung membangun Apartemen dan
Kondotel Marquis De Lafayette Semarang sebagai hunian dengan fasilitas
lengkap dan lokasi yang terletak di Central Business District (CBD) Semarang.
Marquis De Lafayette Semarang memiliki total 645 unit apartemen dan 140 unit
kondominium hotel (kondotel). Pembangunan Marquis De Lafayette Apartement
& Condotel Semarang merupakan proyek yang dikerjakan oleh PT. PP (Persero),
Tbk dan ditargetkan selesai pada September 2016.

Karina Riezki Putri 12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
1
2
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

1.3 Lokasi Proyek


Proyek Marquis De Lafayette Apartement & Condotel Semarang. Adapun batas
lokasinya adalah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara : Kampung Pandan Sari
b. Sebelah Timur : Toko Alat Tulis Nambi
c. Sebelah Selatan : Jalan Pemuda
d. Sebelah Barat : KFC Pemuda
Lokasi proyek Pembangunan Gedung Apartement & Condotel Marquis De Lafayette
Semarang dapat dilihat pada Gambar 1.1

JL.PEMUDA

Gambar 1.1 Peta Lokasi Proyek Pembangunan Marquis De


Lafayette Apartement & Condotel Semarang
Sumber : Dokumen PT.PP (Persero).Tbk

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
3
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 1.2. View Design Marquis De Lafayette Apartement & Condotel


Semarang
Sumber : Dokumen PT.PP (Persero).Tbk

1.4 Data Administrasi Proyek


Data-data umum dari proyek pembangunan Marquis De Lafayette
Apartement &Condotel Semarang adalah sebagai berikut :
a. Nama Proyek :Marquis De Lafayette Apartement &Condotel Semarang
b. Lokasi : Jalan Pemuda No. 45-51, Semarang
c. Pekerjaan : 1. Pekerjaan Struktur
2. Pekerjaan Non Struktur
d. Fungsi Bangunan : Apartement dan Condotel
e. Jumlah lantai : 21 lantai, 1 basement dan 2 lower ground
f. Luas Total Bangunan : ± 56.134 m2
g. Luas Tanah : ± 4132,96 m2
h. Pemilik Proyek (Owner) : PT. Pahala Agung

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
4
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

i. Kontraktor Pelaksana : PT. PP (Persero), Tbk.


j. Konsultan Pengawas : PT. Pahala Agung
k. Konsultan Perencana
 Konsultan Arsitektur : PT. Megatika International
 Konsultan Struktur : PT. Rekacipta Kinematika
 Konsultan MEP : PT. Metakom Pranata
 Konsultan QS : PT. Korra Antarbuana
l. Jenis Kontrak : Lumpsum Fixed Price
m. Sumber Dana : Swasta
n. Nilai Kontrak : Rp. 270.476.800.000,00 (Include Ppn 10%)
o. Waktu Pelaksanaan : 600 hari kalender
p. Watu Pemeliharaan : 365 hari kalender

1.5 Data Teknis Proyek


Proyek pembangunan Marquis De Lafayette Apartement &
CondotelSemarang terdiri dari:
a. Luas Gedung : ± 56.134 m2
b. Luas Tanah : ± 4132,96 m2
c. Jumlah Lantai : 21 lantai, 1 basement, dan 2 lower ground
Proyek pembangunan ini dibagi dalam dua macam pelaksanaan pekerjaan
struktur proyek, yaitu: struktur bawah (sub structure) dan struktur atas (upper
structure)

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
5
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Tabel 1.1 Luas Bangunan Marquis De Lafayette Tiap Lantai


LUASAN MARQUIS DE LAFAYETTE - SEMARANG
BANGUNAN UTAMA LUASAN SAT KELILING SAT
1 LANTAI BASEMENT 851,09 m2 121,70 m
2 LANTAI LOWER GROUND 2.571,15 m2 207,25 m
3 LANTAI DASAR 2.767,36 m2 245,06 m
4 LANTAI 1 2.635,01 m2 210,85 m
5 LANTAI 2 2.991,83 m2 222,17 m
6 LANTAI 3 2.991,83 m2 222,17 m
7 LANTAI 4 2.991,83 m2 222,17 m
8 LANTAI 5 2.938,17 m2 220,12 m
9 LANTAI 6 2.297,36 m2 305,22 m
10 LANTAI 7 2.297,36 m2 305,22 m
11 LANTAI 8 2.298,02 m2 305,03 m
12 LANTAI 9 2.297,36 m2 305,22 m
13 LANTAI 10 2.298,02 m2 305,03 m
14 LANTAI 11 2.298,02 m2 305,03 m
15 LANTAI 12 2.298,02 m2 305,03 m
16 LANTAI 13 2.298,02 m2 305,03 m
17 LANTAI 14 2.298,02 m2 305,03 m
18 LANTAI 15 2.298,02 m2 305,03 m
19 LANTAI 16 2.298,02 m2 305,03 m
20 LANTAI 17 2.298,02 m2 305,03 m
21 LANTAI 18 2.298,02 m2 305,03 m
22 LANTAI 19 2.298,02 m2 305,03 m
23 LANTAI 20 2.291,16 m2 319,26 m
24 LANTAI 21 934,59 m2 221,49 m
25 LANTAI ATAP - m2 - m
TOTAL 56.134,33 m2

Sumber : Gambar arsitek proyek Marquis De Lafayette

1.6 Tujuan Praktik Kerja


Tujuan dari pelaksanaan Praktik Kerja adalah :
1. Memenuhi persyaratan mata kuliah wajib Praktik Kerja Program Studi
Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranata.
2. Mahasiswa dapat mengetahui tentang pelaksanaan pekerjaan di lapangan,
sehingga mahasiswa dapat mengenal, mengerti, menganalisis
permasalahan-permasalahan secara ilmiah, serta menambah pengalaman
mahasiswa.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
6
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

3. Mahasiswa dapat mengetahui persamaan dan perbedaan mengenai teori


yang didapat dibangku perkuliahan dengan kondisi kenyataan pada
proyek yang sedang dikerjakan.
4. Mengetahui dengan jelas kondisi di lapangan atau pada proyek
pembangunan
sehingga mahasiswa tidak merasa canggung, ragu, dan asing lagi setelah
terjun ke dunia kerja.
5. Mahasiswa dapat memahami hambatan serta permasalahan yang biasanya
terjadi pada proyek, dan dapat mengetahui cara penyelesaian
permasalahan tersebut.

1.7 Pembatasan Masalah


Menurut Surat Perintah Kerja Praktik Kerja Kerja Atas nama Dekan
Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranata, memutuskan untuk dapat
melaksanakan Praktik Kerja yang dilaksanakan selama 90 hari kalender terhitung
mulai tanggal 1 September 2015 sampai dengan 31 November 2015. Berhubung
dengan waktu yang sangat terbatas maka Praktik Kerja tidak dapat melakukan
pengamatan pada proyek secara keseluruhan, sehingga hanya mengetahui
sebagian dari pelaksanaan proyek. Karena hal itu laporan ini diberikan beberapa
batasan yaitu sebatas pada bagian-bagian pekerjaan yang dipelajari selama
proses Praktik Kerja, antara lain :
1. Tinjauan Umum
Mengenai gambaran umum Proyek Pembangunan Gedung Apartement
dan Condotel Marquis De Lafayette, Semarang.
2. Tinjauan Khusus
Pada laporan ini membahas pekerjaan yang dapat diamati selama proses
Praktik Kerja berlangsung yaitu pekerjaan struktur atas (lantai 9) yang
dibahas secara khusus pada bagian manajemen.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
7
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

1.8 Pengumpulan Data


Laporan Praktik Kerja ini dibutuhkan beberapa metode untuk memperoleh
data – data yang dibutuhkan. Adapun metode-metode yang digunakan untuk
memperoleh data antara lain adalah :
1. Metode Observasi (Pengamatan)
Dalam metode observasi ini,dilakukan pengamatan secara langsung
terhadapproyek pembangunan gedung parkir Apartement dan Condotel
Marquis De LafayetteSemarang mengenai cara pelaksanaan pekerjaan
yang sedang berlangsung dan masalah-masalah yang sekiranya dapat
menghambat aktivitas kerja.
2. Metode Interview (Wawancara Langsung)
Dalam metode ini, dilakukan wawancara secara langsung kepada semua
pihak yang terlibat dalam proses pembangunan baik dari kontraktor
sampai tukang. Kami mengajukan pertanyaan yang belum diketahui dan
menanyakan masalah yang terjadi di lapangan selama praktik kerja di
proyek.
3. Metode Pustaka (Literatur)
Melalui metode pustaka, kami mencari informasi, mengumpulkan data dan
mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan pembangunan
selama kerja praktek melalui internet dan buku.
4. Metode Instrumen
Metode instrumen adalah metode pengumpulan data-data proyek dengan
menggunakan instrumen seperti kamera dan alat tulis. Dengan metode ini
kami dapat mengambil data berupa foto dokumentasi ataupun catatan-
catatan kecil.

1.9 Tata Cara Pelelangan


Pelelangan adalah salah satu cara yang diberikan dari pemilik proyek
kepada pihak pemborong atau pelaksana proyek untuk mengajukan besarnya dana
rencana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan suatu proyek. Metode pengadaan

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
8
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

barang/jasa pemerintah menurut pedoman pelaksanaan tersebut dapat dilakukan


melalui:
a. Pelelangan Umum, adalah pemilihan barang atau jasa secara terbuka
seperti media masa dan pengumuman resmi.
b. Pemilihan Langsung, adalah pemilihan penyedia barang atau jasa dengan
membandingkan penawaran-penawaran yang telah diajukan dan kemudian
diambil setidaknya tiga penawaran terbaik
c. Penunjukan Langsung, adalah pemilihan penyedia barang atau jasa dengan
penunjukan langsung dengan bernegosiasi dari segi teknis dan biaya.

Beberapa jenis perjanjian kontrak pembayaran pada pengerjaan suatu proyek:


a. Fixed price adalah perjanjian kontrak dengan harga pasti sesuai dengan
kesepakatan.
b. Unit price adalah perhitungan berdasarkan harga satuan volume
pekerjaan yang dikerjakan pada keseluruhan proyek.
c. Cost plus fee adalah jumlah biaya proyek total ditambah biaya jasa
pelaksana proyek sesuai dengan kesepakatan.

Pada pelaksanaan proyek pembangunan Gedung Apartement dan Condotel


Marquis De Lafayette Semarang pihak pemilik proyek melakukan penunjukan
secara langsung tanpa pelelangan secara umum. Pihak pemilik proyek melakukan
penunjukan secara langsung karena pengalaman mengunakan jasa kontraktor
tersebut pada proyek sebelumnya. Penetapan perjanjian harga menggunakan cara
Fixed Price dimana sistem pembayaran sesuai dengan harga pada penawaran yang
sudah saling disepakati. Pihak pemilik proyek akan memberikan dana tambahan
apabila ada pekerjaan tambah diluar perencanaan awal.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

BAB II
PENGELOLA PROYEK

2.1 Pemilik Proyek


Pemilik proyek adalah pihak yang mempunyai sarana untuk mewujudkan
ide sehingga menjadikan hasil yang sesuai dengan yang diinginkan. Fungsi dari
owner yaitu membayar pekerjaan yang sudah dilaksanakan oleh penyedia jasa
konstruksi yaitu tim manajemen konstruksi dan tim pelaksana sesuai dengan
perjanjian yang telah disepakati. Struktur organisasi pemilik proyek pada
konsultan yang ditunjuk selengkapnya dapat dilihat pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Struktur Organisasi Pemilik Proyek (Owner)


Sumber : Dokumen PT.PP (Persero).Tbk

2.2 Konsultan Perencana


Konsultan Perencana yaitu seorang badan hukum yang bertugas untuk
merencanakan dan member nasihat dalam bentuk gambar konstruksi atau gambar

Karina Riezki Putri 12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
9
10
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

bestek. Dalam proyek ini pihak Konsultan Perencana adalah PT. Korra
Antarbuana (QS), PT Megatika International (Arsitektur), PT.Rekacipta
Kinematika (Struktur), dan PT. Metakom Pranata (ME). Pada proyek
pembangunan Marquis De Lafayette Apartement & Condotel Semarang, ada 4
konsultan perencana yang ditunjuk yang memiliki tugas dan wewenang masing-
masing antara lain :
a. Konsultan Arsitektur
PT. Megatika International yaitu konsultan arsitekturyang ditunjuk
oleh pemilik proyek sebagai konsultan perencana arsitektur dan estetika
proyek. Tugas konsultan arsitektur yaitu:
• Membuat gambar dimensi dan desain bangunan dengan spesifikasi
teknis, AMDAL (Analisa Dampak Lingkungan) fasilitas dan
penempatannya.
• Menentukan bahan bangunan untuk finishing banguna proyek.
• Membuat gambar rencana dan syarat teknis administrasi pelaksanaan
proyek.
• Membuat rencana dan gambar ulang atau gambar refisi jika
diperlukan.
• Bertanggung jawab atas hasil rencana bila sewaktu-waktu terjadi hal
yang tidak diinginkan.
b. Konsultan Struktur
PT. Rekacipta Kinematika sebagai konsultan perencana dalam
merancang dan merencanakan struktur sesuai dengan keinginan pemilik
proyek melalui kontraktor utama. Tugas konsultan struktur yaitu:
• Membuat perhitungan proyek berdasarkan teknis yang telah
ditetapkan.
• Membuat detail rancangan gambar dan rincian volume pekerjaan.
• Memberikan permasalahan dan penjelasan yang ada selama masa
konstruksi.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
11
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

c. Konsultan ME
PT. Metakom Pranata merupakan perencana dibidang mechanical,
plumbing, dan electrical proyek.Tugas Konsultan ME yaitu
• Merencanakan instalasi tenaga mesin, listrik, AC, plumbing,
penerangan, generator, telepon, pemadam kebakaran, dan sound
system.
• Pelaksanaan dan pengawasan secara berkala dan melaporkan ke
kontraktor.
d. Konsultan QS
Pihak Konsultan Perencana adalah PT. Korra Antarbuana (QS), PT
Megatika International (Arsitektur), PT.Rekacipta Kinematika (Struktur),
dan PT. Metakom Pranata (ME). Pada proyek pembangunan Marquis De
Lafayette Apartement & Condotel Semarang, ada 4 konsultan perencana
yang ditunjuk yang memiliki tugas dan wewenang masing-masing.

2.3 Pelaksana Proyek


Kontraktor bertugas melaksanakan pembangunan proyek melalui prosedur
lelang ataupun ditunjuk langsung. Pekerjaan dan biaya proyek harus sesuai
dengan kontrak yang telah disepakati. Pelaksana proyek pembangunan gedung
Apartement dan Condotel Marquis De Lafayette Semarang yaitu PT. PP
(Persero),Tbk. Pelaksana proyek wajib bertanggung jawab untuk seluruh
koordinasi dengan pemilik proyek dan diawasi pengawas proyek. Dimana
pelaksana proyek ini merupakan suatu badan organisasi yang memiliki struktur
organisasi. Dengan adanya struktur organisasi saat di lapangan dapat memperjelas
pembagian tugas dan menunjang kinerja pelaksanaan proyek.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
12
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT.PP (Persero).Tbk (Pelaksana Proyek)


Sumber : Dokumen PT. PP (Persero).Tbk

Tugas dan wewenang Kontraktor Pelaksana antara lain :


1. Menerima sejumlah biaya pelaksanaan pekerjaan dari pemberi tugas sesuai
dengan yang telah ditetapkan dalam dokumen kontrak perjanjian
pemborongan.
2. Membuat/mengerjakan pekerjaan sesuai dengan peraturan dan syarat–
syarat yang telah ditetapkan dalam dokumen kontrak perjanjian
pemborong (gambar kerja, bestek).
3. Membuat dokumen mengenai pekerjaan yang telah dilaksanakan dan
diserahkan kepada pemberi tugas.
4. Mengasuransikan pekerjaan dan kecelakaan kerja bagi tenaga kerja.
5. Membuat laporan hasil pekerjaan berupa laporan kemajuan pekerjaan.
6. Melakukan perbaikan atas kerusakan-kerusakan atau kekurangsempurnaan
pekerjaan akibat kelalaian selama pelaksanaan dengan menanggung semua
biayanya.
7. Bertanggungjawab penuh kepada pengawas atau wakil pemilik yang
ditunjuk pemilik untuk melaksanakan proyek.
8. Menyediakan tempat gudang, memenuhi kebutuhan material dan peralatan
yang digunakan selama pelaksanaan pekerjaan.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
13
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

9. Menyerahkan hasil pekerjaan setelah proyek selesai kepada pemilik dan


melaksanakan pemeliharaan pasca proyek sesuai dengan kontrak.
10. Menghadiri rapat koordinasi proyek.
11. Berkewajiban untuk memberikan laporan hasil pekerjaan kepada
pengawas secara harian, mingguan dan bulanan yang memuat pelaksanaan
pekerjaan, prestasi kerja yang telah dicapai, jumlah tenaga kerja yang ada,
jumlah bahan bangunan yang masuk dan hal-hal yang menghambat
pekerjaan.
12. Berhak mengajukan permohonan untuk mendapatkan perpanjangan waktu
pelaksanaan kepada pengawas dalam hal keterlambatan pekerjaan yang
diakibatkan oleh hal yang bersifat diluar dugaan dan mempertanggung
jawabkan hasil pekerjaan kepada pemilik proyek.
Semua tugas di atas harus dilaksanakan dan dimonitoring dengan baik
demikelancaran penyelenggaraan pembangunan proyek. Pelaksana juga
berkewajibanmengajukan usul kepada pengawas dan pemilik proyek apabila ada
kesulitan.

Staf-staf pada struktur organisasi kontraktor yaitu sebagai berikut :


a. Manajer Proyek
Manajer proyek dari proyek Apartement &Condotel Marquis De
Lafayette Semarang adalah Bapak Rahmat Wahyudi. Tugas Manajer
proyek yaitu:
1. Mempersiapkan sistem quality dan analisis proyek dengan
carapackage project.
2. Menjelaskan kepada tim proyek mengenai prosedur QC (Quality
Control).
3. Mengatur sistem pelaksanaan proyek.
4. Membuat master schedule dan memberi penghargaan dalam membuat
time schedule detail, bulanan, mingguan, harian, dan memonitor
realisasinya sertamenemukan langkah-langkah yang harus diambil
apabila terjadi kesalahanatau penyimpangan.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
14
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

5. Menjaga dan menjamin quality status dari proyek.


6. Mempersiapkan laporan-laporan progress dari setiap bagian.
7. Mengkoordinasi semua kegiatan pelaksanaan proyek baik dalam hal
teknis maupun non teknis dalam mencapai sasaran yang telah
ditetapkan dalam ruang lingkup internal dan eksternal.
8. Mengelola dana proyek seefisien mungkin dengan mempertimbangkan
faktor kelayakan teknis sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan
oleh konsultan perencana.
9. Mewakili perusahaan dalam berhubungan dengan pemilik proyek atau
badan yang ditunjuk oleh pemilik proyek dalam hal pekerjaan yang
dilakukan.
10. Mengevaluasi hasil kegiatan pelaksanaan di lapangan dengan rencana
pelaksanaan proyek.
11. Manajer proyek bertanggung jawab atas segala tanggung jawabnya
terhadap pemilik proyek (owner).
b. QSHE (Quality, Safety , Health and Enviroment)
QHSE merupakan sistem yang dibangun dalam proses pekerjaan agar
dapat mencapai standar kualitas produk dan jasa yang dapat memenuhi
ekspektasi pelanggan (quality), menjaga dan menjamin kesehatan dan
keselamatan pekerja, pekerja terhindar dari penyakit akibat kerja (health),
pekerja terhindar dari kecelakaan kerja (safety), serta terciptanya
lingkungan kerja yang sehat, aman, dan terhindar dari pencemaran.
QSHE bertanggung jawab atas segala tanggung jawabnya terhadap
manajer proyek.
c. QC (Quality Control)
Pada proyek Marquis De Lafayette Apartement & Condotel Semarang
Quality control adalah Bapak Dwi Indra Setyawan yang bertugas sebagai
berikut:
1. Membuat permintaan untuk memeriksa dan memastikan material yang
akan digunakan sesuai dengan yang diinginkan owner.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
15
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

2. Menegur secara langsung atau membuat surat teguran kepada sub


kontraktor, pelaksana ataupun mandor jika terjadi penyimpangan
dalam pelaksanaan.
3. Mengikuti jalannya pelaksanaan pembangunan agar jika terjadi
penyimpangan di pelaksanaan dapat mengurangi mutu pekerjaan dapat
dicegah.
4. Melakukan pengecekan apakah pelaksanaan pekerjaan dilapangan
sudah sesuai dengan gambar pelaksanaan atau shop drawing.
5. Meminta contoh material atau brosur yang berisi spesifikasi material
bahan kepada supplier sebelum melakukan pembelian.
6. Membuat laporan dan data-data yang dibutuhkan perusahaan yang
berhubungan dengan pekerjaan quality control pada proyek bangunan.
7. QC bertanggung jawab atas segala tanggung jawabnya terhadap
manajer proyek.
d. Site Enginering Manager
Site engineering manager dipegang oleh Agung Nugroho yang
memiliki tanggung jawab dan tugas yaitu :
1. Memberikan penyelesaian atas usul perubahan desain dari lapangan
sehingga tidak menghambat proses proyek.
2. Melakukan pengawasan terhadap hasil kerja apakah sesuai dengan
dokumen kontrak
3. Penanggung jawab atas urusan teknik yang ada di lapangan terhadap
manajer proyek.
e. Metoda Pelaksanaan
Metoda pelaksanaan pada proyek Marquis De Lafayette Apartement &
Condotel Semarang adalah Bapak Riko F yang bertugas dan bertanggung
jawab dalam hal:
1. Memimpin dan mengendalikan pelaksanaan pekerjaan dilapangan
sesuai dengan persyaratan waktu, mutu dan biaya yang telah
ditetapkan.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
16
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

2. Membuat program kerja mingguan dan mengadakan pengarahan


kegiatan harian kepada pelaksana pekerjaan.
3. Mengadakan evaluasi dan membuat laporan hasil pelaksanaan
pekerjaan di lapangan.
4. Membuat program penyesuaian dan tindakan turun tangan, apabila
terjadi keterlambatan dan penyimpangan pekerjaan di lapangan.
5. Bersama dengan bagian teknik melakukan pemeriksaan dan
memproses berita acara kemajuan pekerjaan dilapangan.
6. Penanggung jawab atas urusan metoda pelaksanaan terhadap Site
engineering manager.
f. Perencanaan Teknik dan Material
Perencanaan teknik dan material pada proyek Marquis De Lafayette
Apartement & Condotel Semarang adalah Bapak Hendra Pratama yang
bertugas dan bertanggung jawab dalam hal:
1. Melakukan perhitungan waktu baku yang digunakan sebagai dasar
dalam melakukan perhitungan lead lime.
2. Membuat perhitungan kebutuhan material untuk untuk jangka panjang
proyek.
3. Melakukan perencanaan kebutuhan material.
4. Penanggung jawab atas urusan perencanaan teknik dan material
terhadap Site engineering manager.
g. Perencanaan Biaya dan Administrasi Kontrak
Perencanaan biaya dan administrasi kontrak pada proyek Marquis De
Lafayette Apartement & Condotel Semarang adalah Bapak Ryan Florenda
yang bertugas dan bertanggung jawab dalam hal:
1. Memberikan laporan dan bertanggung jawab kepada Manajer Proyek
tentang masalah administrasi proyek.
2. Mempersiapkan bahan-bahan untuk back-up data in-voice ke pemilik
proyek.
3. Mempersiapkan surat perjanjian/kontrak kerja kepada masing-masing
kontraktor/spesialis.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
17
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

4. Memeriksa kelengkapan administrasi in-voice kontraktor sebelum


disetujui oleh Manajer Proyek.
5. Mengadakan koordinasi kerja dengan masing-masing Site Manager.
6. Penanggung jawab atas urusan perencanaan biaya dan administrasi
kontrak terhadap Site engineering manager.
h. Pembelian
Masalah pembelian pada proyek Marquis De Lafayette Apartement &
Condotel Semarang adalah Bapak Joko S dan bertanggung jawab atas:
1. Bersama Site Engineering Manager membuat jadwal pengadaan bahan
dan peralatan proyek yang dibutuhkan.
2. Memberi informasi mengenai harga bahan bangunan dan harga sewa
peralatan yang diperlukan.
3. Melaksanakan administrasi pemesanan dan pengiriman bahan
bangunan.
4. Menyelenggarakan administrasi pergudangan tentang penerimaan,
penyimpanan, dan pemakaian bahan.
5. Melaksanakan pemeliharaan bahan dan peralatan sehingga siap pakai.
6. Mengadakan mobilisasi dan demobilisasi sesuai dengan jadwal
penggunaan alat dan bahan.
7. Membuat laporan manajerial tentang penggunaan bahan dan peralatan
selama pelaksanaan proyek.
8. Penanggung jawab atas urusan pembelian terhadap Site engineering
manager.
i. QS (Quantity Surveyor)
Tanggung jawab quantity surveyor dipegang oleh Bapak Irawan yang
mempunyai tugas dan tanggung jawab antara lain :
1. Menyiapkan kontrak kepada pihak-pihak penyediakan jasa (kontraktor
kontraktor dan konsultan-konsultan).
2. Bernegosiasi harga-harga bahan dan jasa kepada pihak penyedia jasa.
3. Memastikan lama waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan
pekerjaan pekerjaan dalam proyek.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
18
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

4. Penanggung jawab atas urusan quantity surveyor terhadap Site


engineering manager.
j. ME (Mechanical & Electrical)
Tanggung jawab Mechanical & Electrical dipegang oleh saudara Tri
Widianto yang mempunyai tugas dan tanggung jawab antara lain :
1. Melakukan pengawasan terhadap cara kerja kontraktor pada pekerjaan
ME.
2. Mengawasi dan mengontrol supervisor kontraktor ME dalam
pelaksanaan tugas.
3. Membantu kontraktor membuat laporan mingguan di bidang ME.
4. Memeriksa rencana kerja kontraktor dan sub kontraktor dalam bidang
ME.
5. Memberikan teguran kepada supervisor kontraktor ME ataupun sub
kontraktor bila terjadi penyimpangan pekerjaan di bidang ME.
6. Penanggung jawab atas urusan Mechanical & Electrical terhadap Site
engineering manager.
k. Drafter
Tanggung jawab drafter dipegang oleh Bapak Sunaryo yang
mempunyai tugas dan tanggung jawab antara lain :
1. Membuat shop drawing yang siap dilaksanakan dengan dikoordinasi
oleh pelaksana
2. Menyiapkan gambar dari revisi desain dan detail desain yang
dibutuhkan untuk kegiatan pelaksanaan dilapangan
3. Bertanggung jawab atas urusan gambar proyek terhadap Site
engineering manager.
l. Penanggungjawab Barang dan Gudang
Penanggung jawab barang dan gudang mempunyai wewenang dan
tanggung jawab mengenai kontrol seluruh barang yang keluar masuk di
area proyek. Penanggung jawab barang dan gudang pada proyek Marquis
De Lafayette Apartement & Condotel Semarang adalah Bapak Eko
Suharjono.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
19
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

m. Site Operation Manager


Site operation manager proyek Marquis De Lafayette Apartement &
Condotel Semarang adalah Bapak Yudha Bakti, yang mempunyai tugas
dan tanggung jawab sebagai berikut:
1. Mengkoordinir pelaksanaan pekerjaan di lapangan
2. Melaksanakan kegiatan sesuai dokumen kontrak
3. Memotivasi pelaksana agar mampu bekerja dengan tingkat efisiensi
dan efektifitas yang tinggi
4. Menetapkan rencana dan petunjuk pelaksanaan untuk keperluan
pengendalian dari pelaksanaan pekerjaan
5. Site operation manager bertanggung jawab terhadap manajer proyek.
n. Kepala Pelaksana
Kepala pelaksana proyek Marquis De Lafayette Apartement &
Condotel Semarang adalah Bapak Edi Sutrisno dan Bapak Sigit yang
mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:
1. Melaksanakan semua tugas yang telah diorder oleh Manager Proyek.
2. Mengawasi pekerjaan para pelaksana dan mandor apakah sudah sesuai
dengan bestek dan gambar bestek
3. Memeriksa hasil opname borongan dan harian proyek yang telah
dibuat oleh pelaksana.
4. Melaksanakan pekerjaan proyek sesuai dengan bestek, gambar bestek
dan RAB yang telah di acc oleh manajer proyek.
5. Memberi laporan semua hasil kegiatan pekerjaan proyek kepada
manajer proyek.
6. Membuat schedule pelaksanaan pekerjaan proyek yang bersifat khusus
(disesuaikan dengan kondisi dan keadaan dilapangan)
7. Bertanggung jawab atas urusan pelaksanaan proyek terhadap Site
operation manager.
o. Pelaksana
Pelaksana mempunyai wewenang dan tanggung jawab mengenai
masalah-masalah teknis dilapangan serta mengkoordinasi pekerjaan-

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
20
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

pekerjaan yang menjadi bagiannya. Pelaksana pada proyek Marquis De


Lafayette Apartement & Condotel Semarang adalah BApak Sutiyo dan
Bapak Suprianto yang mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut:
1. Mengawasi dan mengkoordinasi pekerjaan para pelaksana dilapangan
dan mencatat semua prestasi pekerjaan untuk dilaporkan kepada site
manager
2. Mengawasi metode pelaksanaan dilapangan untuk menghindarkan
kesalahan pelaksanaan
3. Bertanggung jawab tentang pelaksanaan di lapangan terhadap kepala
pelaksanan.
p. Surveyor
Surveyor pada proyek Marquis De Lafayette Apartement & Condotel
Semarang adalah saudara Abd Gani, yang mempunyai tugas dan
kewajiban sebagai berikut:
1. Melakukan pengukuran bouwplank, pagar pengaman proyek, as tiang
pancang, as balok, as kolom, dan pengukuran lainnya untuk
memudahkan tukang dalam berkerja,
2. Melakukan pengecekan kembali terhadap hasil pekerjaan tukang
apakah sesuai dengan ukuran yang tertera pada gambar rencana,
3. Survei ke lokasi proyek untuk mendapatkan data situasi lapangan real
yang selanjutnya akan berpengaruh pada pengambilan keputusan untuk
metode pelaksanaan pekerjaan yang sesuai serta penentuan strategi
yang dianggap paling cocok untuk situasi tersebut.
4. Bertanggung jawab atas pengukuran di lapangan terhadap Site
operation manager.
q. Peralatan
Penanggung jawab peralatan pada proyek Marquis De Lafayette
Apartement &Condotel Semarang adalah Bapak Agus Ahmadi Kunto,
yang mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut:
1. Mengelola peralatan proyek yang dibutuhkan dalam pelaksanaan
proyek.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
21
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

2. Melakukan pengecekan, perawatan dan pemeliharaan alat proyek


sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
3. Membuat data penerimaan atau penolakan peralatan setelah dikontrol
kualitas dan kuantitas alat.
4. Bertanggung jawab atas peralatan di lapangan terhadap Site operation
manager.
r. Site Administration Manager
Site administration manager proyek dipegang oleh Bapak Sundoro,
yang memiliki tugas dan tanggung jawab antara lain:
1. Bertanggung jawab atas penyelenggaraan administrasi di lapangan
2. Membuat laporan keuangan mengenai seluruh pengeluaran proyek
3. Membuat secara rinci pembukuan keuangan proyek
4. Memeriksa pembukuan arsip-arsip selama pelaksanaan proyek
5. Site administration manager bertanggung jawab atas administrasi
proyek terhadap manajer proyek.
s. Keuangan dan Umum
Penanggung jawab keuangan dan umum pada proyek Marquis De
Lafayette Apartement & Condotel Semarang adalah saudara Nur Fajrina
dan Mia, yang mempunyai tugas dan kewajiban sebagai berikut:
1. Melakukan seleksi atau perekrutan pekerja diproyek untuk pegawai
bulanan sampai dengan pekerja harian dengan spesialisai keahlian
masing-masing sesuai posisi organisasi proyek yang dibutuhkan.
2. Pembuatan laporan keuangan atau laporan kas bank proyek, laporan
pergudangan, laporan bobot prestasi proyek, daftar hutang dan lain-
lain.
3. Membuat dan melakukan verifikasi bukti-bukti pekerjaan yang akan
dibayar oleh owner sebagai pemilik proyek.
4. Mengisi data-data kepegawaian, pelaksanaan, asuransi tenaga kerja,
menyimpan data-data kepegawaian karyawan dan pembayaran gaji
serta tunjangan karyawan

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
22
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

5. Membuat laporan ke pemerintah daerah setempat, lurah atau


kepolisian mengenai keberadaan proyek dan karyawan dalam
pelaksanaan pekerjaan pembangunan.
6. Bertanggung jawab atas keuangan proyek terhadap Site administration
manager .
t. Akuntansi
Penanggung jawab akuntansi pada proyek Marquis De Lafayette
Apartement & Condotel Semarang, yang mempunyai tugas dan kewajiban
sebagai berikut:
1. Membuat laporan akutansi proyek dan menyelesaikan perpajakan serta
retribusi.
2. Mengurus tagihan kepada pemilik proyek atau jika kontraktor nasional
dengan banyak proyek maka bertugas juga membuat laporan ke kantor
pusat serta menyiapkan dokumen untuk permintaan dana ke bagian
keuangan pusat.
3. Membantu site administration manager terutama dalam hal keuangan
dan sumber daya manusia sehingga kegiatan pelaksanaan proyek dapat
berjalan dengan baik.
4. Mencatat aktiva proyek meliputi inventaris, kendaraan dinas, alat-alat
proyek dan sejenisnya.
5. Menerima dan memproses tagihan dari sub kontraktor.
6. Memelihara bukti-bukti kerja sub bagian administrasi proyek serta
data-data proyek.
7. Bertanggung jawab atas akuntansi proyek terhadap Keuangan dan
Umum proyek .

2.4 Konsultan Pengawas


Konsultan Pengawas pada proyek pembangunan Apartement & Condotel
Marquis De Lafayette Semarang ini yaitu PT. Pahala Agung. Konsultan memiliki
tugas mengawasi pekerjaan di lapangan. Tujuan konsultan pengawas adalah

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
23
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

mengkoordinasikan pengawasan pekerjaan yang dilakukan di lapangan agar


sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan.

Gambar 2.3 Struktur organisasi Konsultan Pengawas


Sumber: Dokumen PT. PP (Persero).Tbk

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

BAB III
PELAKSANAAN

3.1 Metode Pelaksanaan Pekerjaan


Pelaksanaan pekerjaan proyek membutuhkan pengawasan dan pengaturan
pekerjaan yang baik agar diperoleh hasil yang sesuai dan tepat pada waktu yang
telah direncanakan. Tahat pelaksanaan pekerjaan berhubungan dengan teknis
pekerjaan, rencana, dan tenaga ahli yang professional yang dapat mengatur
pekerjaan dalam mengambil keputusan mengenai masalah yang dijumpai di
lapangan.

3.2 Rencana Kerja


Pada proyek pembangunan Apartement & Condotel Marquis De Lafayette
Semarang ini terdapat beberapa macam pekerjaan struktur atas. Adapun pekerjaan
struktur atas meliputi plat lantai, kolom, balok, dan tangga. Pada laporan ini,
pekerjaan yang dibahas sesuai dengan pengamatan yang didapatkan di lapangan
yakni beberapa bagian struktur atas.

Gambar 3.1 Lay out Proyek


Sumber :Dokumen PT.PP(Persero)Tbk,2015

Pada kegiatan pelaksanaan pembangunan Marquis De Lafayette


Apartement & Condotel Semarang, diperlukan pengaturan akan lokasi yang

Karina Riezki Putri 12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
24
25
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

digunakan untuk peletakkan material proyek, tower crane, direksi keet, bedeng
pekerja, dan lainnya.
Bagian terluar area proyek terdapat pagar proyek yang berguna untuk
pembatas proyek dan sebagai pembatas aktivitas proyek. Di bagian akses masuk
terdapat pos keamanan guna memantau siapa saja yang keluar masuk area proyek.
Pada proyek konstruksi juga harus menyediakan lahan parkir bagi tamu
umum, pegawai, dump truk, dan mixer truk. Dibuatkan juga gudang sementara di
area proyek yang berguna untuk meletakkan material yang dibutuhkan proyek.
Dibuat juga gudang K3 yang berguna untuk meletakkan peralatan K3 yang
berguna untuk menjaga kemanan serta keselamatan para pekerja konstruksi.

Gambar 3.2 Akses mobilitasi Proyek


Sumber :Dokumen PT.PP(Persero)Tbk,2015

Dalam pembuatan rencana kerja proyek pembangunan Marquis De


Lafayette Apartement & Condotel Semarang. Faktor-faktor penghambat
diperhatikan antara lain :
a. Keadaan cuaca yang tidak mengiijinkan untuk meneruskan pekerjaan,
misalnya hujan lebat.
b. Lokasi pekerjaan yang terbatas dan masalah sosial terkait lokasi proyek
yang berada di kawasan padat penduduk.
c. Kondisi tanah yang rawan longsor.
d. Keterlambatan penyediaan bahan material.
e. Kenaikan harga akibat kenaikan harga BBM.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
26
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

3.2.1 Network Planning


Network planning (NWP) adalah suatu rencana penyusunan jaringan
pekerjaan yang menggunakan alur, urutan waktu, dan jenis aktivitas.
Prosedur penyusunan Network planning (NWP) secara umum adalah
sebagai berikut :
a. Menyusun daftar kegiatan yang ada di proyek.
b. Menghitung volume tiap pekerjaan.
c. Mempelajari saling ketergantungan setiap pekerjaan dan penyusunan
diagram network.
d. Menentukan jalur kritis diagram, dimana rentetan kegiatan yang
diperkirakan tidak boleh terlambat dan mempengaruhi setiap kegiatan
yang lain.

3.2.2 Kurva S
Kurva S merupakan time schedule yang dilengkapi dengan bobot atau nilai
pekerjaan yang berupa grafik kumulatif dari masing-masing pekerjaan terhadap
waktu. Kurva S lebih sering digunakan, karena mudah dimengerti dan mudah
dilaksanakan di lapangan. Prestasi pekerjaan dapat dilihat dari bobot pekerjaan
yang telah selesai. Persentase bobot pekerjaan dibuat dalam bentuk kurva S.

Bobot masing-masing pekerjaan dapat dihitung dengan rumus :

Kurva S menunjukan uraian tentang pekerjaan yang mencakup macam-


macam pekerjaan untuk merealisasikan masing-masing pekerjaan atau waktu
pelaksanaan pekerjaan. Derajat kelengkungan kurva S menunjukkan jumlah
aktivitas di dalam pelaksanaan suatu proyek, dimana semakin tegak kurva maka
semakin banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu dan
sebaliknya.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
27
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

3.3 Sistem Kerja Proyek


Sistem pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan hari dan jam kerja yang
berlaku di Indonesia. Jam lembur tidak dapat dilaksanakan tanpa ada persetujuan
dari konsultan pengawas. Bila pihak pengawas menganggap perlu dilakukan jam
lembur maka pihak kontraktor pada saat yang di tentukan dibebani pekerjaan jam
lembur. Jam kerja yang berlaku setiap hari adalah :
• Pukul 08.00 - 12.00 ( jam kerja)
• Pukul 12.00 - 13.00 ( jam istirahat)
• Pukul 13.00 – 17.00 ( jam kerja)
• Pukul 17.00 – selesai ( jam lembur)

3.4 Keamanan dan Keselamatan Kerja (K3)


Keselamatan kerja pada proyek sangatlah penting, untuk menumbuhkan
prinsip untuk melindungi diri saat bekerja. Di proyek pembangunan Apartement
dan Condotel Marquis De Lafayette ini PT.PP (Persero) Tbk. menekankan untuk
selalu patuh dalam segala peraturan yang telah ditetapkan oleh PT. PP dalam hal
keselamatan kerja, diantaranya dalam pemakaian alat pelindung diri (APD)
dengan baik dan benar, sikap yang baik dalam bekerja. Untuk tetap selalu
mengingatkan para pekerja, PT.PP mengadakan apel pagi setiap hari jumat pukul
07.30 atau tepatnya kegiatan Safety Talk, untuk kembali mengingatkan dalam
pengunaan APD untuk mengurangi bahaya dalam bekerja serta mengingatkan
akan kebersihan proyek yang harus selalu dijaga.

Gambar 3.3 Safety Talk


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
28
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Berikut ini akan dijelaskan mengenai alat pelindung diri tersebut ,antara lain:
1. Helm Proyek (Safety Helmet)
Safety Helmet adalah helm proyek yang berfungsi melindungi kepala
pekerja proyek dari material yang kemungkinan jatuh dari atas.

Gambar 3.4 Safety Helmet


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

2. Masker
Masker berfungsi menghindari benda-benda asing maupun debu yang
masuk ke dalam saluran pernafasan.

Gambar 3.5 Masker


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

3. Rompi
Rompi harus dikenakan bagi semua orang yang berada di dalam proyek.

Gambar 3.6 Rompi


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
29
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

4. Sarung Tangan
Sarung tangan ini berfungsi untuk melindungi tangan dari material
tajam yang akan melukai tangan pekerja.

Gambar 3.7Sarung tangan


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015
5. Sepatu Kerja (Safety Shoes)
Sepatu kerja dalam proyek berfungsi sebagai pelindung kaki dari
material yang membahayakan , seperti : pecahan kaca, material paku, dan
benda tajam lainnya.

Gambar 3.8 Safety Shoes


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

6. Body harness
Body harness adalah tali pengaman yang diperlukan pekerja saat
bekerja diketinggian. Guna alat ini untuk menghindari kemungkinan
kecelakaan jatuh dari ketinggian.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
30
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.9Body harness


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

7. Rambu K3
K3 meletakan beberapa tanda atau rambu keselamatan di banyak
titik bagian proyek. Keberadaan rambu contohnya terletak di area yang
terdapat lubang, dilarang masuk, dilarang merokok, bahaya benda jatuh,
rambu APD, petunjuk APAR, dan lain-lain.

Gambar 3.10 Penempatan rambu K3


Sumber :Dokumen SHE Plan K3, 2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
31
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

8. Railing Pengaman dan Safet Net


Safety net dan Railing pengaman yang dipasang oleh pihak K3 di
bagian tepi lantai proyek, void, tangga, dan ram yang bertujuan sebagai
pengaman agar pekerja tidak jatuh jika melewati area yang tinggi dan
berbahaya.

Gambar 3.11 Railing Pengaman dan Safety net


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

3.5 Pekerjaan Struktur Atas


Pada proyek pembangunan Marquis De Lafayette pekerjaan struktur
atas meliputi pembuatan kolom, shear wall, balok, pelat lantai, tangga,
dinding parapet.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
32
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

3.5.1 Kolom
Kolom adalah struktur elemen tekan yang berperan sangat penting
dalam suatu bangunan. Fungsi kolom yaitu bertujuan untuk meneruskan
beban bangunan menuju ke pondasi.

Gambar 3.12 Kolom


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

a) Penulangan Kolom
Pemasangan tulangan kolom telah dirangkai menggunakan steck
besi kolom dengan panjang penjangkaran minimum 40D. Kemudian
dilakukan penyambungan besi steck dengan tulangan kolom yang telah
difabrikasi. Tulangan ditempatkan di dalam bekisting yang ukurannya
telah ditentukan. Jika rangkaian tulangan telah siap, kemudian sisi-sisi
tulangan dipasang beton decking.

Tabel 3.1 Tabel kolom tower

Sumber :Shop drawing proyek Marquis De Lafayette

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
33
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Tabel 3.2 Tabel kolom podium

Sumber :Shop drawing proyek Marquis De Lafayette

Tabel 3.3 Tabel kolom transfer

Sumber :Shop drawing proyek Marquis De Lafayette

Setelah proses penulangan selesai dilakukan, kemudian tulangan


kolom diangkat dengan bantuan tower crane dan dilakukan
penyambungan dengan tulangan kolom sebelumnya. Proses
penyambungan tulangan antar kolom dilakukan dengan cara mengikat
tulangan kolom menggunakan kawat bendrat. Panjang sambungan antar
kolom pada proyek ini adalah 40D. Panjang penyambungan (overlap)
berfungsi untuk panjang penyaluran beban terhadap kolom sebelumnya.

Gambar 3.13 Tulangan kolom yang sudah di fabrikasi


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
34
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

40D

Gambar 3.14 Panjang penyaluran tulangan kolom (40D)


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

Gambar 3.15 Pemasangan besi steck kolom


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

b) Pemasangan Bekisting Kolom


Bekisting pada proyek pembangunan Marquis De Lafayette ini
memakai tinggi bekisting setinggi 3 m. Batang vertikal bekisting kolom
menggunakan hollow 40×60×3 mm dipasang perjarak 20 - 30 cm,

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
35
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

sedangkan untuk waller atau sabuk menggunakan double hollow 40×60×3


mm plywood tebal 18 mm.

Besi hollow 40x60x3 mm

Pipa support

Sabuk double hollow


40x60x3 mm

Plywood tebal 18 mm

Pengunci bekisting

Kaki bekisting

Gambar 3.16Pemasangan bekisting kolom


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

c) Pengecoran Kolom
Pengecoran dilakukan setelah bekisting kolom telah terpasang
dengan baik. Proyek ini mengggunakan ready mix dari berbagai PT,
salah satunya menggunakan PT. Varia Usaha Beton. Pengecoran kolom
dilakukan menggunakan bucket yang diangkat dengan tower crane.
Kapasitas bucket dalam proyek Marquis De Lafayette yaitu 0,8 m3. Mutu
beton yang digunakan utnuk pengecoran kolom adalah K 420 atau sama
dengan Fc’ 35.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
36
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.17 Pengecoran kolom


Sumber :Dokumentasi pribadi, 2015

d) Pembongkaran Bekisting
Pada saat proses pengecoran selesai dan umur beton minimal 6
jam, bekisting kolom sudah bisa dilepas. Untuk evaluasi pembongkaran
bekisting kolom dilakukan dengan cara mengendorkan wingnut ± 5 menit
dan pengangkatan dengan crane ± 1 menit. Bekisting terangkat dan siap
untuk dipakai lagi tanpa harus dibongkar pasang kembali.

e) Ekspose permukaan kolom


Proses ekspose kolom pada proyek ini sudah dilakukan pada kolom
yang berada di area parkir lantai 1 pada tower A, B dan C dengan
ketebalan eksepose ± 2 mm agar permukaan kolom menjadi halus dan
rata sehingga mempermudah dalam proses pengecatan. Pekerjaan
ekspose digunakan skimcoat buatan Dry Mix yang dicampur
menggunakan air secukupnya dan di aduk menggunakan mixer.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
37
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

3.5.2 Shear Wall (Dinding Geser)


Pada proyek pembangunan Apartement & Condotel Marquis De
Lafayette Semarang ini digunakan shear wall (dinding geser) untuk menahan
gaya geser pada bangunan karena bentuk bangunan yang tidak simetris. Letak
shear wall pada proyek ini terletak di dekat tangga darurat dikarenakan
jikaterjadi gempa bagian tangga darurat bisa tertahan oleh shear wall untuk
jalur evakuasi para korban. Shear wall menggunakan tulangan kemudian
dilakukan pengecoran dengan campuran adukan beton.

Gambar 3.18 Letak shear wall proyek Marquis De Lafayette


Sumber: Shop drawing proyek Marquis De Lafayette

a) Penulangan Shear Wall


Langkah-langkah penulangan tulangan shear wall yaitu sebagai
berikut:
• Pemotongan tulangan dengan bar cutter dan pembengkokan
tulangan
dengan bar bender.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
38
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

• Pengikatan tulangan utama dengan tulangan sengkang dilakukan


denganmenggunakan kawat bendrat.
• Pemasangan beton decking pada tulangan sengkang. Pemasangan
ini
dilakukan dengan cara mengikatkan kawat bendrat yang ada pada
betondecking ke tulangan sengkang.

Langkah-langkah pemasangan tulangan shear wall adalah sebagai


berikut :
• Tulangan shear wall yang telah dirakit di area fabrikasi diangkut ke
lokasi.
• Penulangan shear wall selanjutnya harus lebih tinggi dari pelat
lantai diatasnya supaya dapat dilaksanakan overlap untuk stek
tulangan berikutnya. Sambungan dilakukan dengan sambungan
overlap sepanjang 60D tulangan.
• Pada bagian luar tulangan diberi beton decking sesuai dengan
selimut beton.
• Melakukan pemeriksaan tulangan shear wall bersama dengan
supervisor atau pengawas sebelum pemasangan bekisting.

Gambar 3.19 Penulangan Shear Wall


Sumber : Dokumentasi QC, 2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
39
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

b) Pemasangan Bekisting Shear Wall


Pada proyek ini bekisting shear wall berbentuk persegi panjang,
menggunakan papan plywood dua muka dengan ketebalan 18 mm, besi
hollow sebagai kerangkanya dan terdiri dari dua sisi. Proses pemasangan
bekisting dapat mulai dilakukan setelah proses penulangan di area
fabrikasi besi sudah selesai dan pipa ME sudah terpasang, dan block out
dari styrofoam untuk sambungan tulangan balok sudah terpasang.
Langkah-langkah pemasangan bekistingshear wall adalah sebagai
berikut :
• Melumasi bekisting shear wall dengan pelumas atau oli agar beton
tidak menempel.
• Bekisting dirangkai dan dipasang pada sisi dalam dan sisi luar
shear wall sehingga bekisting menutupi semua tulangan shear wall
yang siap dicor.
• Setelah bekisting telah terpasang, dilakukan pengecekan
vertikalitas shear wall.

Gambar 3.20 Bekisting shear wall yang sudah terpasang


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
40
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

c) Pengecoran Shear Wall


Tahapan Pengecoran shear wall pada proyek ini adalah sebagai
berikut :
• Pengecoran dilakukan dengan menggunakan bucket yang
untuk menjangkau daerah pengecoran shear wall.
• Dilakukan pemadatan dengan menggunakan vibrator saat proses
pengecoran. Pemadatan juga dilakukan dengan memukul bekisting
shear wall menggunkan palu karet.
• Pengecoran harus dilakukan tanpa berhenti sampai selesai pengecoran
pada batas pemberhentian pengecoran.

Gambar 3.21 Pengecoran Shear Wall


Sumber : Dokumentasi QC, 2015

d) Pembongkaran Bekisting Shear Wall


Pembongkaran bekisting shear wall dilaksanakan ±10 jam setelah
pengecoran.Urutan pelaksanaan pembongkaran bekisting shear wall
sebagai berikut :
• Cek terlebih dahulu kondisi beton sebelum bekisting shear
walldibongkar, apakah beton sudah cukup keras atau belum.
• Pembongkaran dengan cara mengendorkan seluruh tie-rod pada
bekisting,lalu melepasnya.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
41
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

• Bekisting yang telah dilepas, diletakkan di tempat yang telah


ditentukansebelumnya dan dibersihkan dari beton-beton yang masih
menempel sertadiberi form oil.

3.5.3 Balok dan Pelat Lantai


Balok adalah struktur yang berfungsi sebagai penerima beban dari
plat yang diteruskan ke kolom. Jenis balok yaitu balok induk, balok anak,
dan balok kantilever. Balok induk berfungsi sebagai penerima beban
yang bekerja pada plat dan beban terpusat yang merupakan reaksi dari
balok anak. Semua beban dari balok induk tersebut diteruskan ke kolom.
Balok kantilever adalah balok yang yang salah satu tumpuannya adalah
jepit, sementara ujung yang lain bebas.
Plat lantai adalah struktur beton bertulang yang dijadikan sebagai
tempat berpijak yang strukturnya ditumpu oleh balok dan bertumpu pada
kolom. Beban yang bekerja pada plat lantai akan diteruskan ke balok
sehingga pekerjaan plat lantai tidak pernah terlepas dari pekerjaan balok.
Tebal plat lantai pada proyek ini mayoritas adalah 14 cm dan 16 cm.
Pelaksanaan pekerjaan pada balok dan plat lantai tahapannya terdiri dari:
a) Pemasangan Perancah
Perancah adalah suatu konstruksi sementara yang berguna untuk
mendapatkan konstruksi beton yang. Perancah terdiri dari beberapa
bagian yaitu :
• Scaffolding (main frame) digunakan sebagai tubuhnya, terdapat
beberapa ukuran salah satunya dengan tinggi 1,7 m dan 1,9 m
dan lebar 1,22 m
• Ladder frame merupakan bagian rangka atas dari scaffolding,
berfungsi sebagai penyambung agar lebih tinggi dan lebih kokoh.
Proyek ini menggunakan ladder frame dengan tinggi 90 cm dan
lebar 1,22 m

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
42
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

• Cross brace adalah bagian yang berfungsi untuk menyambung


antar main frame. Posisi silang dapat memperkokoh berdirinya
rangkaian. Ada dua ukuran panjang yaitu 220 cm dan 193 cm.
• Jack base digunakan sebagai tumpuan atau kaki dari rangkaian
yang terletak paling bawah. Berfungsi untuk menopang beban
saat proses pekerjaan.
• U-head ini digunakan sebagai ujung paling atas rangkaian,
tepatnya di atas ladder frame. Bentuknya seperti huruf U yang
berfungsi untuk menopang balok kayu. Dan bisa disetel
ketinggiannya.
Setelah pemasangan perancah selesai dilakukan, di atas u-
head dipasang balok gelagar yang terbuat dari besi hollow
dengan ukuran 6 cm × 10 cm yang dilanjutkan dengan
pemasangan suri - suri sebagai tumpuan bekisting balok.

Gambar 3.22Proses pemasangan perancah


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

b) Pemasangan Bekisting Balok


Proses pembuatan bekisting balok tidak dilakukan di area fabrikasi
bekisting seperti proses pembuatan bekisting kolom melainkan langsung
dilakukan pada area yang sudah siap di pasang bekisting yaitu di area

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
43
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

yang perancahnya sudah terpasang. Saat proses pemasangan bekisting


balok berlangsung, tim surveyor melakukan pengukuran ketinggian
menggunakan auto level agar ketinggian masing-masing balok sesuai
dengan rencana atau sering disebut cek bodeman.

Gambar 3.23 Cek bodeman


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

Gambar 3.24 Proses pemasangan bekisting balok


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

c) Pemasangan Bekisting Pelat Lantai


Pada proyek ini, bekisting pelat lantai konvensional digunakan
untuk area yang basah saja dengan alasan apabila terdapat kebocoran
atau terjadi rembesan air bisa langsung terdeteksi dari mana asal
Karina Riezki Putri12.12.0018
Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
44
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

rembesan tersebut pada saat nanti gedung telah difungsikan sebagai


condotel dan apartment. Pekerjaan bekisting pada plat lantai dimulai
dengan memasang besi hollow di atas balok gelagar. Setelah besi hollow
siap, pekerjaan dilanjutkan dengan memasang papan plywood dua muka.
Bekisting plat lantai juga dapat dipaku pada pinggir bekisting balok.
Pemasangan papan plywood diusahakan serapat mungkin/tidak ada
rongga agar nantinya ketika proses pengecoran berlangsung, bekisting
tidak akan mengalami kebocoran. Pada proses pemasangan bekisting plat
lantai, ada bagian-bagian tertentu yang di beri lubang shaff . Lubang shaff
dalam proyek ini berfungsi untuk saluran pipa air bersih dan air kotor
dengan menggunakan metode block out yaitu metode pemberian batasan
area lubang sesuai gambar rencana. Lubang itu nantinya akan dikelilingi
oleh papan plywood setinggi ± 20 cm agar ketika proses pengecoran
berlangsung, area tersebut tidak ikut terkena cor.

Gambar 3.25 Pemasangan bekisting pelat konvensional


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

Selain bekisting pelat konvensional, pada proyek ini area yang


tidak basah menggunakan material steel deck sebagai bekisting. Dengan
dasar pertimbangan waktu pelaksanaan yang efektif, tanpa mengurangi
kualitas kekuatan dari struktur lantai tersebut, maka dipilih steel deck
sebagai bekisting permanen pada pekerjaan pelat lantai, dan pada
penggunaan steel deck sebagai bekisting permanen justru memudahkan
para pekerja dalam melaksanakan pemasangan bekisting pada pelat lantai

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
45
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

dan tidak perlu adanya pembongkaran bekisting pada pekerjaan pelat


lantai. Proses pemasangannya pun tidak serumit bekisting konvensional,
steel deck hanya di pasang menggunakan baut pada tiap sisinya dengan
tumpuan plywood dipinggirnya.

Gambar 3.26 Lubang pelat untuk bekisting material steel deck


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

Gambar 3.27 Bekisting pelat lantai yang sudah terpasang


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

d) Penulangan Balok
Dalam proses penulangan balok, jumlah tulangan tumpuan dan
jumlah tulangan lapangan adalah suatu hal yang perlu diperhatikan.
Posisi tulangan tumpuan biasanya berjarak ¼ bentang balok dan posisi
tulangan lapangan berjarak ½ bentang balok. Sama halnya dengan
tulangan sengkang, jarak antar tulangan sengkang di daerah tumpuan
akan sangat lebih berdekatan dibanding jarak antar tulangan sengkang
yang ada pada posisi lapangan.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
46
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Di daerah tumpuan, tulangan utama yang dirangkai terlihat lebih


banyak di bagian atas balok daripada rangkaian tulangan utama di bagian
bawah balok. Sedangkan di daerah lapangan, tulangan utama yang
dirangkai di bagian bawah balok lebih banyak daripada di bagian atas
balok. Hal ini dimaksudkan untuk membuat susunan tulangan utama
balok agar mampu menahan gaya tarik yang besar pada daerah tertentu.
Panjang penyaluran antar tulangan balok juga menggunakan batas
minimal 40D. Selain digunakan sebagai penyambung antar tulangan
balok, batas 40D ini juga digunakan sebagai syarat penyambungan
tulangan balok terhadap kolom dimaksudkan agar tulangan balok induk
tersebut dapat menyatu dengan tulangan kolom sehingga penyaluran
beban dari balok ke kolom dapat tersalurkan dengan baik. Setelah
penulangan selesai, pekerjaan dilanjutkan dengan pemasangan beton
decking di beberapa titik tulangan pada setiap sisi balok untuk
membentuk selimut beton balok.

Gambar 3.28 Proses penulangan pada balok


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

e) Penulangan Pelat Lantai


Untuk penulangan pelat lantai, proyek ini telah mengonversi semua
tulangan pelat konvensional menjadi wiremesh. Wiremesh merupakan
material jaring kawat baja pengganti tulangan pada pelat yang fungsinya
sama sebagai tulangan. Keuntungan menggunakan wiremesh adalah
mutunya yang tinggi dan konsisten yang terjamin bagi perencana,

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
47
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

pemilik dan pemborong. Karena semua kawat di tarik dan di uji dengan
seksama, mutu bahan yang di pakai telah terjamin. Proses penarikan
kawat tersebut akan menghasilkan kawat dengan penampang yang sangat
merata.
Cara menghitung konversi besi tulangan konvensional menjadi
wiremesh, pertama kita harus melihat terlebih dahulu desain rencana
tulangan konvensional yang akan digunakan, setelah itu kita hitung luas
besi tulangan konvensional rencana tersebut dalam 1 m agar kita bisa
konversikan mutu besi konvensional ke mutu besi wiremesh, dan ketika
semua telah diperhitungkan baru kita cari luasan besi wiremesh yang
sama dengan luas tulangan konvensional atau boleh sedikit diatasnya.
Setelah dikonversi dengan memperhitungkan segalanya, pada proyek ini
menggunakan wiremesh M 8 – 150 (diameter kawat baja 8 mm dengan
jarak 150 mm).

Gambar 3.29 Proses pemasangan wiremesh M8-150


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
48
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.30 Wiremesh M8-150 yang sudah terpasang


Sumber: Dokumentasi pribadi, 2015

f) Pemasangan Stop Cor


Pada area yang akan dicor biasanya dipasang stop cor yang
berfungsi untuk memberi batasan pengecoran. Penentuan stop cor harus
diperhatikan agar tidak mempengaruhi kekuatan struktur pelat dan balok.
Pemasangan stop cor menggunakan balokan kayu, besi, dan kawat ayam.
Pada bagian pelat dipasang stop cor dengan balokan kayu dan ditambah
dengan kawat bronjong pada bagian bawah. Untuk bagian balok dipasang
kawat bronjong yang bisa juga diganti dengan kayu ataupun besi. Stop
cor ini digunakan juga untuk memberi batasan ketinggian antara plat
yang digunakan untuk lantai kamar dengan kamar mandi.

g) Pembersihan
Pembersihan pada area yang hendak dicor sangatlah penting,
karena dapat mempengaruhi kualitas produk. Kebersihan yang kurang
maksimal dapat mengakibatkan keropos pada beton. Keropos pada beton
dikarenakan sampah anorganik yang tidak dapat menyatu dengan agregat
pada beton sehingga menyisakan rongga yang menyebabkan kekuatan
dari beton itu menjadi rendah.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
49
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.31 Pembersihan area menggunakan air compressor


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

h) Pengecoran balok dan pelat lantai


Pengecoran plat dan balok yang selalu dilakukan bersamaan di
proyek pembangunan Marquis De Lafayette Semarang menggunakan
mutu beton K300 atau setara dengan Fc’ 25.

Gambar 3.32 Ready mix yang keluar dari pipa baja


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

Gambar 3.33 Beton ready mix dengan penggaruk dan dipadatkan


dengan menggunakan concrete vibrator
Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
50
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.34 Proses finishing setelah pengecoran selesai


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

i) Pembongkaran bekisting balok dan pelat lantai


Pada proyek pembangunan gedung Marquis De Lafayette
pembongkaran bekisting dilakukan setelah umur beton ±14 hari. Selain
itu pembongkaran dilakukan tidak secara menyeluruh, melainkan
bertahap demi keamanan struktur. Dimulai dari pembongkaran bekisting
balok bagian vertikal (tembereng) kemudian keesokannya dilanjutkan
pembongkaran bodeman dan selanjutnya bekisting plat.

Gambar 3.35 Proses pembongkaran bekisting secara bertahap


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

j) Ekspose balok dan pelat lantai


Ekspose permukaan bawah dari plat lantai dan balok beton
dilakukan agar permukaannya lebih terasa halus dan terlihat bagus
sebelum dilakukan proses pengecetan. Ekspose plat dan balok beton di
Karina Riezki Putri12.12.0018
Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
51
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

dalam proyek ini dapat kita temui dalam proses finishing area parkir,
sedangkan untuk area condotel dan apartment nantinya akan di tutup
dengan plafond sehingga tidak dilakukan proses ekspose.

3.5.4 Tangga
Tangga merupakan suatu komponen struktur yang terdiri dari plat, bordes
dan anak tangga yang menghubungkan satu lantai dengan lantai di atasnya.
Persyaratan pembuatan tangga adalah sebagai berikut :
• Lebar tangga dan bordes memenuhi kebutuhan
• Panjang tangga cukup, sehingga dapat memberikan antrede optrede
yang proporsional, aman dan nyaman
• Sandaran yang cukup kuat dan aman
• Memenuhi persyaratan struktural

Proses pekerjaan tangga terdiri dari:


a. Pemasangan Bekisting Plat Tangga dan Bordes
Langkah awal yang perlu dipersiapkan untuk pemasangan
bekisting adalah posisi kemiringan badan tangga serta pipa galvanis
(panjang disesuaikan bentang badan tangga) yang disusun sesuai
kemiringan badan tangga. Badan tangga sendiri ada 2 buah, yaitu antara
bordes dengan lantai dibawahnya dan antara bordes dengan lantai di
atasnya.Sebelum memulai pekerjaan bordes tangga, perlu diperhatikan
elevasi/ ketinggian dari lantai dibawahnya. Pekerjaan bordes tangga
dimulai dari pekerjaan balok bordes, yang cara penyetelannya sama
seperti balok biasa. Kemudian antar dinding balok dipasang kayu 5/7
(jarak maksimum 25 cm). Kayu ini berfungsi sebagai pengganti pipa
(karena bentang pendek). Setelah selesai pemasangan kayu 50/10, lalu
diikuti pemasangan plywood yang ukurannya disesuaikan dengan
panjang dan lebar bordes.
Setelah pekerjaan bordes dan badan tangga selesai, kemudian
dipasang dinding tangga kanan-kiri dan pelat tangga diatas badan tangga

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
52
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

dan bordes. Pelat tangga dipaku dengan badan tangga dan diberi
perkuatan dengan potongan kayu 5/7 (jarak maksimum 40 cm). Potongan
kayu 5/7 dipaku antara badan tangga dengan pelat tangga sehingga
benar-benar kuat, rapi, dan tidak goyang. Untuk memudahkan
pemasangan dapat dilakukan dari bawah keatas.

Gambar 3.36 Visualisasi pemasangan bekisting plat tangga dan bordes


Sumber : Dokumen PT.PP(Persero).Tbk, 2015

Gambar 3.37 Bekisting pelat tangga yang sudah terpasang


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

b. Penulangan dan pemasangan bekisting anak tangga


Anak tangga dipasang setelah dilakukan pengecekan terhadap
elevasi bordes, kemiringan badan tangga, penggambaran trape/anak

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
53
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

tangga pada dinding badan tangga dan pembesian. Setelah semua


terpasang, kemudian antar anak tangga dirangkai dengan kayu 5/7
memanjang dari atas ke bawah pada dua tempat kanan-kiri dan dipaku.
Proses penulangan pada tangga dimulai dengan penulangan balok
bordes. Sedangkan untuk tulangan tangga yang menyatu dengan plat
lantai biasanya telah terpasang dengan struktur plat yang telah dicor. Hal
ini dimaksudkan agar pekerjaan penulangan tangga nantinya tidak akan
mengganggu struktur plat yang telah dicor. Pekerjaan penulangan balok
tangga sama seperti pekerjaan balok pada plat lantai, yaitu dengan
memasang tulangan utama pada proyek ini menggunakan besi D13 dan
D16 dan tulangan sengkang yang mayoritas menggunakan besi D10
sesuai dengan gambar rencana dalam bekisting balok tangga.
Setelah penulangan balok dan bordes selesai dilakukan, tulangan
plat tangga mulai dipasang seperti pemasangan tulangan plat lantai
dimana tulangan arah memanjang bagian bawah dipasang terlebih dahulu
selanjutnya memasang tulangan arah melintang dan proses yang terakhir
adalah memasang tulangan memanjang dan melintang bagian atas.
Diantara tulangan bagian bawah dan bagian atas terdapat spasi dengan
jarak ± 5 cm menggunakan tulangan cakar ayam yang terbuat dari besi
ulir dengan diameter 10 cm. Sedangkan untuk spasi antara bekisting
dengan tulangan bawah digunakan beton tahu dengan tebal 2,5 cm.
Proses berikutnya adalah memasang tulangan anak tangga. Tulangan
anak tangga yang digunakan pada proyek ini adalah besi polos dengan
diameter 8 cm. Barulah setelah itu dipasang bekisting untuk anak
tangga/cetakan bentuk anak tangga menggunakan balok kayu yang di
paku di kanan kiri pembatas lebar tangga.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
54
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.38 Visualisasi penulangan pelat tangga dan anak tangga


Sumber : Dokumen PT.PP(Persero).Tbk, 2015

Gambar 3.39 Tulangan pelat tangga yang telah terpasang


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

c. Pembersihan tangga
Proses pembersihan pada tangga dilakukan menggunakan alat air
compressor oleh para pekerja bagian cor untuk membersihkan area dari
debu-debu sebelum proses pengecoran berlangsung setelah bekisting
terpasang.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
55
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

d. Pengecoran tangga
Pengecoran pada tangga dilakukan menggunakan bucket yang sama
seperti yang digunakan untuk pengecoran kolom. Beton ready mix
dituangkan dari bucket yang bagian bawahnya dipasang pipa tremi ke
setengah lingkaran pipa beton yang diletakan miring di atas scaffolding
yang posisinya jauh lebih tinggi dari tangga. Untuk tangga, pada proyek
ini menggunakan mutu beton K300 sama dengan balok dan pelat lantai.

Gambar 3.40 Tangga yang sudah dicor


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

e. Pembongkaran bekisting tangga


Pembongkaran bekisting anak tangga biasa dilakukan 3-4 hari
setelah proses pengecoran. Namun untuk pembongkaran bekisting bagian
bawah yaitu bagian plat tangga, bagian balok dan pembongkaran
perancah mulai dilakukan ±14 hari setelah proses pengecoran.

3.5.5 Dinding Parapet


Dinding parapet atau balok barrier merupakan komponen bangunan yang
biasa digunakan sebagai pembatas atau pelindung dari suatu bangunan. Dinding
parapet yang ada pada proyek gedung ini dibuat sebagai pembatas di area parkir
yang terdapat di lantai 1 sampai lantai 4. Dinding parapet ini berguna untuk

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
56
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

pembatas area parkir sekaligus sebagai pelindung kendaraan yang di parkir di area
tersebut. Dinding ini di desain menggunakan beton bertulang dengan mutu beton
K360 dengan tinggi 110 cm. Proses pengerjaan dinding parapet dilakukan dengan
tahapan sebagai berikut:
a. Penulangan Dinding Parapet
Tulangan yang digunakan menggunakan baja tulangan ulir dengan
ukuran dan jarak yang telah ditentukan. Penulangan dinding parapet
berupa tulangan 2 lapis, dalam pemasangannya tulangan dinding parapet
terlebih dahulu dilakukan penulangan lapis pertama setelah itu tulangan
lapis kedua, kedua lapis tulangan diberi jarak 5 cm, beton decking
dipasang di bawah dan samping tulangan dan setelah semua tulangan
terpasang dan terikat oleh kawat bendrat selanjutnya proses pengecoran.
Pada proyek ini menggunakan tulangan vertikal D 13 dengan jarak 200
mm sedangkan untuk tulangan horisontal menggunakan besi ulir D 10
dengan jarak 200 mm.

Gambar 3.41 Tulangan dinding parapet yang telah terpasang


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

b. Pemasangan Bekisting Dinding Parapet


Bekisting untuk dinding parapet mulai dipasang setelah dinding
parapet diberi besi siku yang di las di bagian bawah, tengah dan atas
menggunakan tulangan sepanjang 15 cm untuk memberi jarak antara
tulangan dengan bekisting. Bekisting pada dinding parapet terbuat dari

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
57
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

papan plywood dua muka yang diperkuat dengan besi hollow sebagai
kerangkanya. Bekisting dipasang dikedua sisi dinding parapet yaitu
bagian dalam dan bagian luar yang dikunci menggunakan besi dan mur
seperti pada bekisting kolom dan sisi atasnya dibiarkan terbuka untuk
proses pengecoran. Setelah bekisting terpasang, pada bagian dalam
dinding parapet diberi penyangga agar posisinya tidak berubah-ubah.

Gambar 3.42 Bekisting dinding parapet


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

c. Pengecoran Dinding Parapet


Setelah pemasangan tulangan pada bekisting selesai, dan bekisting
dinding parapet dinyatakan bersih dari kotoran yang menempel dan
dinding parapet siap dicor. Pengecoran dinding parapet dimulai dengan
pengisian beton ready mix dari sisi atas kedalam papan bekisting yang
sudah terpasang tulangan. Selanjutnya beton tersebut dipadatkan dengan
vibrator agar tidak terdapat rongga udara yang mengurangi kekuatan
beton.

Gambar 3.43 Dinding parapet yang telah selesai dicor (tampak atas)
Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
58
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

d. Pembongkaran Bekisting Dinding Parapet


Pembongkaran bekisting dinding parapet sudah dapat dilakukan 1
hari setelah proses pengecoran.

e. Ekspose Dinding Parapet


Proses ekspose dinding parapet dilakukan pada dinding bagian
dalam dan bagian luar. Pekerja menggunakan alat pengaman ketika
melakukan ekspose dinding bagian luar untuk keselamatan diri. Ekspose
dinding parapet setebal 2 mm menggunakan skimcoatyang dicampur
menggunakan air sesuai dengan kebutuhan.

3.6 Alat – alat Kerja


Dalam proses pelaksanaan pekerjaan pada suatu proyek pembangunan
juga dibantu dengan alat-alat kerja. Alat-alat kerja yang digunakan pada proyek
bertujuan untuk membantu pekerjaan dalam proses pelaksanaan pekerjaan agar
cepat selesai dan menghasilkan pekerjaan yang memuaskaan dengan waktu dan
biaya yang efektif dan efisien.
Berikut ini adalah alat-alat kerja yang digunakan dalam proyek Marquis
De Lafayette Semarang :
a. Vibrator Beton(Concrete Vibrator)
Concrete vibrator adalah alat yang berfungsi untuk menggetarkan
beton pada saat pengecoran agar beton dapat mengisi seluruh ruangan dan
tidak terdapat rongga-rongga udara diantara beton yang dapat membuat
beton keropos. Concrete vibrator digerakkan oleh mesin listrik dan
mempunyai lengan sepanjang beberapa meter untuk dapat menggetarkan
beton di tempat yang agak jauh.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
59
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.44 Mesin Concrete Vibrator


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

b. Corong Beton (Concete Bucket)


Concrete bucket adalah tempat pengangkutan beton dari truck
mixer concrete sampai ke tempat pengecoran. Beton daritruck mixer
concrete dituangkan kedalamConcrete bucket, kemudian pengangkutan
dilakukan dengan bantuan tower crane. Concrete bucket yang digunakan
pada proyek ini mempunyai kapasitas sebesar 0,8 m3 dan
berat concrete bucket adalah 300 kg. Pada proyek ini, pengecoran
dengan concrete bucket hanya untuk pengecoran kolom, shear wall
dancore wall.
Pipa tremie adalah pipa yang digunakan untuk mengatur tinggi
jatuh beton pada saat pengecoran. Pipa tremie biasa dipasang pada ujung
bawah concrete bucket sehingga beton yang keluar dari concrete bucket
tidak langsung jatuh dan menumbuk lokasi pengecoran.

Concrete Bucket

Pipa Tremie

Gambar 3.45 Concrete bucket


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
60
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

c. Kompresor Udara (Air Compressor)


Air compressor adalah alat yang menghasilkan udara dengan
tekanan tinggi, berfungsi untuk membersihkan debu pada bekisting
sebelum dilakukan pengecoran. Pembersihan debu atau kotoran sebelum
di cor berfungsi untuk menjaga beton supaya tidak mengalami
penurunanmutu dan daya lekat tulangan pada beton. Merk Air compressor
yang digunakan pada proyek ini adalah Airman yang berbahan bakar solar.

Gambar 3.46 Alat Air Compressor


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

d. Roskam (Trowel)
Troweladalah alat untuk meratakan acian/ mortar halus di
permukaan beton. Trowel juga berfungsi untuk aplikasi perekat ubin pada
berbagai macam jenis dan ukuran ubin. Dapat digunakan untuk membuat
profil pada dinding (pola minimalis), meratakan screed dan aplikasi
Pelapis Anti Bocor. Trowel digunakan untuk mencegah adanya udara yang
terjebak dalam aplikasi pemasangan keramik yang dapat menyebabkan
popping. Dengan trowel pemakaian perekat keramik lebih hemat, karena
ketebalan lebih konsisten. Ubin/keramik pun akan merekat sempurna.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
61
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.47 Alat Trowel


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

e. Gerinda Potong
Gerinda potongadalah alat pemotong plywood, baja tulangan
dengan diameter kecil, dan kawat bendrat pada saat proses pekerjaan
pembesian. Alat gerinda dilengkapi dengan mata pisau yang berbentuk
lingkaran dengan diameter ± 30 cm.

Gambar 3.48 Alat Gerinda Potong


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

f. Perancah
Perancah (scaffolding) adalah suatu struktur sementara yang
digunakan untuk menyangga manusia dan material dalam konstruksi atau
perbaikan gedung dan bangunan-bangunan besar lainnya. Scaffolding

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
62
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

sendiri terbuat dari pipa - pipa besi yang dibentuk sedemikian rupa
sehingga mempunyai kekuatan untuk menopang beban yang ada di
atasnya. Dalam pengerjaan suatu proyek, butuh atau tidaknya penggunaan
scaffolding bisa tergantung kepada pemilik proyek.

Suri-suri

Balok gelagar

u head

Main frame

Cross brace

Jack base

Gambar 3.49 Perancah


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

g. Mesin Tekuk Besi Batangan(Steel bar bending machine)


Steel bar bending machineadalah alat yang berfungsi untuk
membengkokan baja tulangan sesuai bentuk yang diinginkan dan dengan
ukuran sesuai gambar kerja. Steel bar bending machine digunakan untuk
membuat kait pada tulangan pokok dan membuat tulangan sengkang,
penggunaan alat ini dengan cara mengatur sudut pembengkokan terlebih
dahulu yang nantinya setelah pedal yang ada pada alat tersebut ditekan
maka roda pembengkok yang ada pada mesin ini akan berputar sesuai
dengan sudut pembengkokan.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
63
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.50 Steel bar bending machine


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015
h. Theodolite
Theodoliteadalah alat yang bisa digerakan secara horizontal dan
vertikal yang digunakan untuk menentukan titik as pada kolom supaya
jarak antar kolom bisa sama sesuai dengan ukuran pada gambar kerja dan
membantu pada saat marking kolom yang berfungsi sebagai acuan pada
saat pemasangan bekisting kolom.

Gambar 3.51Theodolite
Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

i. Auto level
Auto level adalah alat yang digunakan secara horizontal saja dan
digunakan setelah pemasangan bekisting pada balok dan plat lantai untuk
memastikan bekisting sudah lurus dan rata agar elevasi antar lantai sesuai
dengan pada gambar kerja.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
64
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.52 Auto level


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

j. Bekisting
Bekisting adalah alat yang digunakan untuk mencetak beton pada
saat dilakukan pengecoran dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap
kualitas hasil pengecoran. Untuk pembuatan bekisting kolom pada proyek
pembangunan Marquis De Lafayette Mall, Apartement &
Condotel Semarang digunakan peri system yang bisa distel sesuai ukuran
dimensi kolom, sedangkan untuk pembuatan balok dan pelat lantai
menggunakan bekisting multiplek dan kayu.

Gambar 3.53 Bekisting kolom


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
65
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

k. Gerobak sorong
Gerobak sorong digunakan untuk mempermudah pengangkutan
material di lokasi proyek. Gerobak dorong biasanya terbuat dari besi yang
tidak menyerap air. Kapasitas dari gerobak sorong adalah ± 0,05 m3 .

Gambar 3.54 Gerobak sorong


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

l. Tower crane
Tower crane sangat cocok dipakai untuk pelayanan bangunan
tingkat tinggi (high rise building) untuk melayani daerah yang cukup luas.
Pada proyek ini tower crane (TC) menjadi sentral atau alat yang paling
utama karena dalam proyek gedung bertingkat tinggi transportasi vertikal
maupun horisontal yang memegang peranan penting dan menentukan
terutama soal kecepatan kerja. Tower cranedigunakan untuk
mengangkut concrete bucketuntuk pengecoran kolom pada lokasi yang
tinggi serta mengangkut peralatan bantu dan bahan-bahan untuk pekerjaan
struktur, seperti air compressor, bekisting kolom, flying table form, besi
beton, serta alat dan bahan lain. Seluruh operasional proyek sangat
dipengaruhi oleh berfungsinya tower crane, disebabkan peranannya yang
dominan untuk kelancaran jalannya pembangunan proyek.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
66
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Joint pin
Jib
Counter weight

Mast section

Gambar 3.55 Tower crane


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

m. Pompa Beton (Concrete Pump)


Concrete pump adalah alat yang berfungsi untuk membantu proses
pengecoran pada balok dan plat lantai agar lebih cepat dalam
pengerjaannya karena volume beton untuk pengecoran balok dan plat.

Gambar 3.56 Concrete pump


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

n. Elevator
Elevator adalah alat yang digunakan untuk mempercepat jalan akes
para pekerja jika dibandingkan menggunakan tangga sementara yang
terbuat dari perancah dan mempermudah pekerja untuk memindahkan
material yang dibutuhkan untuk dibawa ke lantai yang sedang dikerjakan.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
67
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.57 Elevator


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

o. Truk Mixer
Truk mixeradalah alat yang digunakan untuk membawa beton
ready mix dan mengaduk beton ready mix dengan kapasitas tertentuselama
perjalanan dari pabrik pembuatan sampai ke proyek guna mencegah
pengerasan pada beton tersebut.

Gambar 3.58 Truk mixer


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

p. Dumb Truck
Dump truck adalah truk yang isinya dapat dikosongkan tanpa
penanganan. Dump truck biasa digunakan untuk mengangkut barang
semacam pasir, kerikil atau tanah untuk keperluan konstruksi.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
68
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.59 Dumb truck


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

3.7 Bahan-Bahan
Dalam proses pelaksanaan pekerjaan suatu proyek pembangunan, juga
dibutuhkan bahan-bahan untuk membuat suatu konstruksi. Bahan-bahan yang
digunakan dalam proyek Marquis De Lafayatte yaitu :
a. Semen
Semen adalah bahan pengikat yang sangat penting, terutama dalam
pembuatan konstruksi beton bertulang. Pada proyek pembangunan
Marquis De Lafayette Apartement & Condotel Semarang ini semen yang
digunakan adalah Semen Indocement jenis PPC (Portland Pozzolan
Cement) dengan berat setiap 1 sak semen yaitu 40 kg.

Gambar 3.60 Semen Indocement


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
69
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

b. Baja Tulangan
Besi tulangan pada konstruksi beton bertulang berfungsi untuk
menahan tegangan tarik, karena beton memiliki kuat tekan yang tinggi
sementara lemah dalam menahan tegangan tarik. Jenis tulangan yang
digunakan pada proyek ini adalah baja ulir, mutu baja yang digunakan
adalah besi ulir U-32.

Gambar 3.61 Besi tulangan


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

c. Beton Ready Mix


Pada Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette Mall,
Apartement & Condotel Semarang menggunakan beton ready mix
concrete untuk efektifitas pelaksanaan pengecoran dan PT. Varia Usaha
sebagai pembuat ready mix. Pertimbangan untuk menggunakan beton
ready mix adalah faktor efisien tempat, waktu, dan tenaga kerja. Tidak
memungkinkan jika pembuatan adukan beton di lokasi proyek dengan
jumlah besar, hanya menggunakan molen atau tenaga manusia. Pada
proyek ini beton ready mix menggunakan mutu beton K300 untuk balok,
tangga, plat lantai, pile cap, pile raft pondasi. Mutu beton K420 untuk
kolom, shear wall, core wall, dan coupling beam.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
70
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.62 Beton Ready Mix


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

d. Beton Tahu (Decking)


Beton tahu adalah beton yang terbuat dari campuran pasir dan
semen yang dibentuk lingkaran dengan cetakan dan berfungsi sebagai
pemberi jarak bekisting terhadap tulangan sengkang yang disebut dengan
selimut beton. Beton tahu yang dibuat pada proyek ini mempunyai tebal ±
2 cm untuk plat dan ± 4 cm untuk kolom.

Gambar 3.63 Beton Tahu


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

e. Bata Ringan
Bata ringan adalah bahan yang digunakan untuk membuat dinding.
Bata ringan yang digunakan pada proyek ini menggunakan ukuran 60 cm
× 20 cm × 10 cm dan ukuran 60 cm × 20 cm × 7,5 cm.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
71
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.64 Bata ringan


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

f. Perekat Bata Ringan


Perekat bata ringan pada proyek ini menggunakan bahan utama
Sunmortar Utama untuk membuat spesi pada bata ringan yang berfungsi
untuk merekatakan antar bata ringan yaitu dengan mengoleskan bagian
samping dan bawah dengan ketebalan ± 1 cm. Sunmortar Utama dicampur
dengan air 10 liter/40 kg dan diadukselama ± 3 menit sampai merata.

Gambar 3.65 Sunmortar


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

g. Cakar Ayam
Cakar ayam berfungsi untuk memberi jarak antara tulangan atas dengan
tulangan bawah yang diikat menggunakan kawat bendrat, baja yang
digunakan diameter 10 mm yang dibengkokkan sesuai dengan jarak yang
diperlukan. Cakar ayam diletakan saat pembesian plat lantai, shear wall,
dan tangga.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
72
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.66 Cakar ayam


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

h. Kayu Lapis(Plywood)
Plywood adalah papan yang digunakan untuk pembuatan bekisting,
Plywood yang digunakan pada proyek ini menggunakan Plywoodjenis
kayu miranti dengan tebal ± 9 mm. Menggunakan jenis Plywood dua muka
dengan tujuan apabila permuakan atas sudah tidak bisa dipakai maka bisa
menggunakan permukaan bawahnya.

Gambar 3.67 Plywood


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

i. Busa
Bahan yang digunakan untuk stop cor yaitu busa. Fungsi dari stop
cor adalah untuk membatasi area yang belum siap cor. Pemasangan stop
cor dilakukan pada saat pembesian plat lantai.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
73
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.68 Busa


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

j. Air
Air adalah bahan bangunan yang sangat penting dan vital pada
pelaksanaan suatu proyek pembangunan, air pada proyek Marquis De
Lafayette Apartement & Condotel Semarang berfungsi sebagai:
• Pembuatan adukan beton.
• Pembuatan adukan spesi (pasta semen) untuk finishing atau
plesteran.
• Perawatan beton setelah pengecoran dan kegiatan penunjang
lainnya.
• Memudahkan dalam pengolahan dan pencampuran beton serta
dalam pengecoran dan mempercepat reaksi semen sebagai bahan
pengikat. Untuk kebutuhan air di proyek, digunakan air tanah yang
terdapat di lokasi proyek yang diambil dengan menggunakan
pompa air. Pihak kontraktor tidak melakukan pengujian
laboratorium terhadap air yang dipakai untuk keperluan proyek
karena secara fisik air yang ada sudah memenuhi syarat–syarat air
yang boleh digunakan untuk pekerjaan campuran sehingga tidak
perlu mendatangkan air dari lokasi lain.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
74
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.69 Sumber air


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

k. Kawat pengikat (bendrat)


Kawat pengikat atau bendrat harus terbuat dari baja lunak dengan
diameter minimal 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu dan tidak
bersepuh seng. Dalam penggunaannya disarankan untuk menggunakan
bendrat minimum rangkap 2 (dua).

Gambar 3.70 Kawat pengikat (Bendrat)


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

3.8 Sistem Pengawasan dan Pengendalian Proyek


Pengawasan dan pengendalian dalam suatu proyek konstruksi merupakan
sesuatu yang penting dilaksanakan secara ketat untuk menghindari hal-hal yang
merugikan terutama bila berada dalam kondisi rentang waktu yang sempit karena
pada saat-saat itulah sering terjadi kelalaian untuk mutu yang harus dicapai.
Sedangkan pengendalian perlu dilakukan sebagai tindak lanjut dari pengawasan
untuk mengontrol kualitas pekerjaan agar sesuai dengan rencana.

3.8.1 Pengendalian Mutu (Quality Control)


Agar memperoleh bangunan yang sesuai dengan standar mutu, serta
memperhatikan ketentuan dan prosedur dari instansi yang berwenang dalam

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
75
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

masalah pengendalian mutu.Untuk pengecekan mutu baja tulangan, dilakukan uji


tarik dan bengkok di laboratorium yang sudah ditunjuk sebelumnya, serta untuk
beton dilakukan uji slump dan uji kuat tekan di laboratorium. Kegiatan
pengendalian mutu juga berupa pengawasan pekerjaan yang dilaksanakan di
lapangan, agar sesuai dengan spesifikasi yang sudah disepakati.
a. Slump Test
Untuk pengendalian kualitas beton dilakukan slump test untuk
mengetahui tingkat kekentalan beton ready mix. Nilai slump test yang
dikehendaki yaitu seperti pada tabel 3.4 dibawah ini.
Tabel 3.4 Nilai Uji Slump Test
Mutu Beton Slump Test (cm)
Fc-25 10 ± 2
Sumber : Juklak Proyek,2015
Tujuan uji slump test agar beton tidak terlalu kental karena dapat
menghambat proses pengecoran. Pada saat pembacaan ukuran uji slump
dilapangan yaitu ±10,5 cm.
Tahapan Uji Slump test yaitu :
1) Persiapkan alat uji kerucut Abrams dan besi untuk penusukan.
2) Ready mix dimasukan ke dalam kerucut sebanyak tiga lapis. Setiap
lapisannya ditusuk 25 kali menggunakan besi.
3) Setelah kerucut penuh maka campuran ready mix diratakan sampai
tidak ada rongga.
4) Kerucut Abrams ditarik keatas kemudian penurunan beton diukur
mengguakan meteran.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
76
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.71 Slump Test


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

b. Uji Kuat Tekan Beton


Untuk uji kuat tekan beton, disiapkan silinder baja sebanyak 4
buah dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm, yang diisi dengan
sampel beton. Setelah mencapai umur rencana tertentu yakni 7 hari, 14
hari, 21 hari, dan 28 hari, sampel tersebut akan dikeluarkan dari benda uji
dan kemudian dicek kuat tekannya di Laboratorium Teknik Sipil UNDIP

Gambar 3.72 Sampel Beton Ready Mix


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015

Gambar 3.73 Uji Kuat Tekan Beton


Sumber : Dokumentasi pribadi,2015
Karina Riezki Putri12.12.0018
Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
77
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

c. Pengawasan Pekerjaan Bekisting


Pengawasan dilakukan untuk mengawasi pelaksanaan pembuatan
bekisting, serta pengawasan terhadap elevasi lantai, dimensi bekisting,
kekokohan scaffolding, pemeriksaan bahan bekisting, serta pelaksanaan
pengawasan pekerjaan di lapangan agar sesuai dengan yang sudah
direncanakan. Pentingnya pengawasan terhadap pekerjaan ini, karena
bekisting merupakan suatu pekerjaan yang memberikan bentuk dari
pembesian serta pengecoran. Sehingga pekerjaan bekisting harus benar-
benar dilaksanakan sesuai spesifikasi yang sudah ditentukan.
d. Pengawasan Pekerjaan Pembesian
Pengawasan pembesian meliputi apakah jumlah tulangan dan
panjang penyaluran sudah sesuai dengan gambar rencana, serta apakah
tulangan-tulangan tersebut sudah dibendrat dengan baik dan kencang atau
belum. Pekerjaan pengawasan pembesian di lapangan biasa dilaksanakan
oleh pelaksana lapangan.

3.8.2 Pengendalian Biaya (Budget Control)


Pengendalian biaya pelaksanaan bertujuan agar biaya yang dikeluarkan
pada proyek tidak menyimpang atau melebihi dari biaya yang telah direncanakan.
Pengendalian biaya yang diterapkan pada proyek pembangunan Marquis De
Lafayette Apartement & Condotel Semarang ini adalah dengan penekanan
pengeluaran dalam beberapa hal :
a. Material atau Bahan
Dalam pemakaian bahan diusahakan seefisien mungkin dan
diusahakan tidak terjadi pembuangan material secara berlebihan. Hal
tersebut dapat dicapai dengan memperhitungkan secara teliti kebutuhan
bahan yang digunakan. Pengadaan bahan di lokasi proyek harus sesuai
dengan kepentingannya. Jadwal kedatangan material berdasarkan volume
kegiatan yang dapat dihitung dari jumlah dan jenis material yang
diperlukan sehingga tidak terjadi pemuatan material secara percuma,
misalnya: pasir atau kerikil yang datang diperiksa oleh pengawas apakah

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
78
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

volume material tersebut sesuai dengan volume yang direncanakan, yaitu


dengan cara mengukur bak truk dikaitkan dengan ketinggian material yang
ada di dalamnya.
Pengendalian material digunakan untuk mengetahui mutu
pekerjaan yang dihasilkan apakah sesuai dengan persyaratan dalam
kontrak kerja. Pengendalian material yang digunakan pada proyek
apartement dan condotel ini, misalnya bahan material pasir yang dipakai
sesuai dengan persyaratan agregat halus yang diperlukan atau tidak,
pemeriksaan diawasi oleh pengawas proyek.
b. Tenaga Kerja
Pemakaian tenaga kerja pada suatu pekerjaan harus disesuaikan
dengan volume pekerjaan yang sedang dilaksanakan sehingga dapat
dicapai kondisi yang optimal antara jumlah tenaga kerja yang ada dengan
volume pekerjaan yang harus dilaksanakan. Pada proyek yang ditinjau
dapat diamati jumlah tenaga kerja yang digunakan sesuai dengan
pekerjaan, hal ini dapat dibuktikan dengan ketepatan waktu pekerja dalam
masuk, istirahat dan libur saat jam/hari kerja. Dari point-point tersebut
dapat diketahui bahwa pengendalian biaya pelaksanaan pada Proyek
Pembangunan Marquis De Lafayette Apartement & Condotel Semarang
ini telah dilaksanakan dengan baik.

3.8.3 Pengendalian Waktu ( Time Control )


Pengendalian waktu pelaksanaan adalah upaya untuk mengontrol agar
pelaksanaan proyek tidak melebihi waktu yang telah direncanakan, yang
didalamnya dibantu pengawasan aktivitas utama yang berada pada lintasan kritis
dalam suatu kerangka target waktu. Pada lintasan kritis tidak boleh terjadi
keterlambatan waktu, karena akan mempengaruhi umur proyek. Pengendalian
terhadap waktu pelaksanaan dititikberatkan pada upaya menyelesaikan proyek
dalam waktu yang ditetapkan. Pengendalian waktu sangat penting terutama
menyangkut waktu pelaksanaan proyek.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
79
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Pada proyek ini, keterlambatan pekerjaan yang ada akan diatasi dengan
penambahan jumlah jam kerja atau lembur, ataupun dengan menambahkan jumlah
tenaga kerja. Jenis-jenis laporan yang berguna untuk kegiatan pengendalian
kualitas pekerjaan dan waktu antara lain:
a. Laporan Harian
Laporan harian yaitu suatu laporan yang berisi tentang segala
pekerjaan harian di proyek, yang berguna untuk memudahkan proses
penyusunan laporan mingguan. Laporan ini juga bisa digunakan untuk
mengamati pencapaian apa saja yang bisa diraih dalam satu hari di dalam
proyek tersebut. Laporan harian berisi tentang jam kerja, pekerjaan yang
telah diselesaikan, alat bahan yang digunakan, jumlah pekerja, serta hal-
hal yang mempengaruhi pekerjaan.
b. Laporan Mingguan
Laporan mingguan proyek yakni suatu pertanggung jawaban akan
kegiatan apa saja yang sudah dikerjaan selama satu minggu. Laporan
mingguan ini dibuat oleh kontraktor pelaksana ataupun konsultan
pengawas untuk kemudian diberikan kepada pemilik proyek.
c. Laporan Bulanan
Laporan bulanan sama dengan laporan mingguan yaitu guna
memberikan informasi akan kemajuan pekerjaan yang telah dicapai. Oleh
karena itu, dibuatlah suatu rekapitulasi dari laporan mingguan menjadi
laporan bulanan yang berisikan prestasi pekerjaan selama satu bulan, serta
dokumentasi pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
Proses pekerjaan proyek konstruksi pasti tidak pernah lepas dari masalah.
Maka dari itu, untuk dapat memecahkan seluruh masalah yang terjadi di dalam
proyek, dilakukan beberapa rapat koordinasi yang berguna untuk memecahkan
semua masalah dan proyek dapat berjalan dengan baik. Beberapa rapat koordinasi
tersebut antara lain:
1. Rapat Teknik
Rapat ini merupakan kegiatan koordinasi antara beberapa staf yang ada
di proyek, guna membahas hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan teknik

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
80
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

yang meliputi rencana daftar pekerjaan, daftar material pembuatan shop


drawing, dokumen kontrak, dan lain sebagainya.
2. Rapat Pelaksana Lapangan
Rapat ini dipimpin oleh bagian Site Engineering Manager (SEM),
guna membahas akan rencana kerja ke depan dan permasalahan yang ada
di lapangan dan dihadiri oleh seluruh pelaksana yang bertanggung jawab
di lapangan.

3. Rapat Kontraktor Pelaksana dengan Konsultan Pengawas


Pertemuan antara kontraktor pelaksana dengan konsultan pengawas
hampir dilaksanakan setiap hari, misal untuk pengajuan izin kerja item
tertentu, pengajuan shop drawing, perhitungan volume bersama, ataupun
penyampaian site instruction dari konsultan pengawas kepada kontraktor
pelaksana.

4. Rapat Besar
Rapat ini dihadiri oleh pimpinan organisasi proyek yang terlibat di
dalam suatu proyek, seperti pemilik proyek, kontraktor pelaksana, serta
konsultan perencana dalam waktu seminggu atau sebulan sekali. Rapat ini
membahas pelaksanaan pekerjaan di lapangan, seperti penyampaian
keinginan pemilik proyek untuk bisa dikerjakan oleh kontraktor pelaksana,
serta penyampaian beberapa masukan konsultan pengawas kepada
kontraktor pelaksana agar jalannya pekerjaan di proyek selalu sesuai
dengan kontrak yang sudah disepakati di awal.

3.8.4 Pengendalian Sumber Daya Manusia


1. Perencanaan Tenaga Kerja (Man Power Schedule)
Perencanaan Tenaga Kerjamerupakan bagian yang menganalisis
kebutuhan tenaga kerja untuk menjaga waktu tertentu. Man
power schedule pada proyek Marquis De Lafayette
Apartement & Condotel Semarang disusun berdasarkan bobot kegiatan

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
81
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

pada time schedule yaitu dengan meninjau kemampuan satu orang pekerja
untuk menyelesaikan satu satuan volume pekerjaan dalam satuan waktu
(hari/minggu/bulan). Pekerjaan alat berat, jumlah pekerjaan yang
dibutuhkan, dihitung dengan mempertimbangkan kapasitas alat.
Kebutuhan pekerja saat awal kegiatan akan mengalami peningkatan
sampai pertengahan kegiatan dan akan menurun saat akhir pekerjaan.

2. Perencanaan Kebutuhan Bahan (Material Schedule)


Perencanaan kebutuhan bahan disusun berdasarkan bobot kegiatan
pada time schedule. Material schedule menyatakan jumlah material dan
peralatan yang dibutuhkan untuk jangka waktu tertentu. Penyusunan
material schedule diperlukan untuk menjamin ketersediaan material dan
peralatan yang diperlukan di lapangan. Jenis material yang diperlukan
tergantung pada metode pelaksanaan proyek.

3.9 Permasalahan dan Pemecahannya


Setiap pelaksanaan konstruksi suatu bangunan tidak lepas dari
permasalahan yang ada dilapangan. Tidak semua pelaksanaan sesuai dengan
rencana yang diharapkan. Berbagai kendala sering terjadi dan harus segera
ditanggulangi agar tidak mempengaruhi pelaksanaan proyek secara
keseluruhan. Berikut ini tiga faktor permasalahan yang terjadi pada proyek
Pembangunan Marquis De Lafayette Apartement & Condotel Semarangyaitu
faktor alam, manusia dan alat.

3.9.1 Faktor Alam


Cuaca yang tidak menentu dapat mengakibatkan kemunduran
pelaksanaan suatu pekerjaan,seperti keterlambatan pengecoran karena
hujan.Permasalahan tersebut penulis temukan pada bulan November
akhir. Selain itu, pada lantai basement sering ada genangan air yang
masih tinggi hingga mata kaki meskipun tidak sedang turun hujan. Hal
ini disebabkan karena area lahan proyek memiliki muka air tinggi dan air

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
82
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

masih sering naik sampai ke lantai basement. Tinnginya muka air


tersebut sedikit menghambat pekerjaan yang masih ada di lantai
basement sehingga para pekerja harus menyedot air yang ada pada area
tersebut.
Solusi untuk mengatasi masalah:
Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan
crashprogram yaitu dengan menambah pekerja dan jam lembur untuk
mengejar keterlambatan yang diakibatkan oleh hujan. Dan untuk
mengatasi masalah muka air yang tinggi dilakukan penyedotan air secara
berkala dan dilakukan pembersihan air di lantai basement dengan cara di
inject.

3.7.2 Faktor Manusia


Permasalahan yang timbul dari faktor manusia merupakan
permasalahan yang sering terjadi di lapangan.
1. Pekerja yang tidak menggunakan APD (Alat Pelindung Diri)
Seringkali pekerja masih kurang menyadari betapa pentingnya
menggunakan APD saat di dalam proyek untuk keselamatannya. Banyak
pekerja tidak menggunakan helm proyek, safety boots, dan body harness.
Padahal pihak kontraktor sudah menyediakan sarana APD tetapi para
pekerja lalai akan keselamatan dirinya sendiri.
Solusi untuk mengatasi masalah:
Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah pihak K3 proyek
memberikan sanksi tegas berupa surat peringatan yang jika kesalahan
dilakukan lebih dari 3 kali, pekerja tersebut akan dipaksa untuk
mengundurkan diri saat itu juga.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
83
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.74 Body harness dan helm proyek yang tidak digunakan
Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

Gambar 3.75 Pekerja yang tidak menggunakan helm proyek


Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
84
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.76 Contoh surat peringatan untuk pekerja yang tidak


menggunakan APD
Sumber : Dokumentasi pribadi, 2015
2. Beton mengalami deformasi
Pada saat bekisting balok dilepas, terdapat bagian balok yang
mengalami penggembungan hal ini disebabkan karena cetakan mengalami
kerusakan karena pemasangannya tidak benar sehingga tidak kuat
menerima berat volume beton dan ditambah lagi dengan getaran yang
dihasilkan oleh Concrete Vibrator.
Solusi untuk mengatasi masalah:
Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah balok yang
kedapatan cacat diratakan dengan cara dibobok atau mengupas kelebihan
beton yang diakibatkan oleh cetakan yang tidak kuat, kemudian dilakukan
finishing dengan plester dan aci supaya jika dipandang akan terlihat rapi.

Gambar 3.77 Balok tidak sesuai cetakan atau mengalami deformasi


Sumber: Dokumentasi pribadi,2015
3. Cetakan belum siap cor
Kurangnya pembersihan sisa material pada cetakan beton sebelum
dicor, seperti potongan kayu, kawat bendrat, dan sebagainya yang dapat
mengakibatkan turunnya mutu beton.
Solusi untuk mengatasi masalah:
Solusi untuk mengatasi masalah ini adalah tidak mengijinkan cor
dilakukan sebelum cetakan dibersihkan lagi supaya kualitas beton tetap
terjaga.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
85
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Gambar 3.78 Cetakan belum siap cor


Sumber: Dokumentasi pribadi,2015

4. Sambungan Antar Betor Kotor


Pada saat akan dilakukan pengecoran harus dilakukan pembersihan
area yang hendak dicor. Tetapi di lapangan sering terjadi kelalaian tukang
yang tidak bersih saat membersihkan area yang akan dicor, sehingga
mempengaruhi kualitas dan mengakibatkan keropos pada area yang dicor
ketika sudah selesai.Keropos pada beton dikarenakan sampah anorganik
yang tidak dapat menyatu dengan agregat pada beton sehingga
menyisakan rongga yang membuat kekuatan dari beton itu rendah.
Solusi untuk mengatasi masalah:
Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah dilakukan finishing
dengan plester dan aci supaya jika dipandang akan terlihat rapi.

Gambar 3.79 Beton yang menyisakan rongga


Sumber: Dokumentasi pribadi,2015

5. Retak Struktur Pada Pelat Lantai


Pada umumnya proyek Marquis De Lafayette seharusnya
menggunakan wiremesh ukuran M8, tetapi dilapangan menggunakan

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
86
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

wiremesh ukuran M6 dengan penambahan tulangan yang bertujuan untuk


mensiasati agar kekuatan wiremeshsama seperti menggunakan wiremesh
ukuran M8. Hal ini menyebabkan terjadinya keretakan struktur pada plat
karena ternyata kekuatan wiremesh M6 ditambah tulangan belum cukup
menopang momen yang terjadi.
Solusi untuk mengatasi masalah:
Solusi untuk mengatasi masalah tersebut adalah mengganti ukuran
wiremesh yang awalnya menggunakan wiremesh M6 menjadi wiremesh
M8. Sedangkan pada beton balok yang sudah terjadi keretakan akhirnya
dilakukan pembobokan beton sampai terlihat pembesiannya, kemudian
ditambah tulangan pada bagian atas dan di injeksi beton.

Gambar 3.80 Retak struktur pada pelat lantai


Sumber: Dokumentasi pribadi,2015

Gambar 3.81 Pembobokan pelat lantai yang terjadi retak struktur


Sumber: Dokumentasi pribadi,2015

6. Beton Keropos
Para pekerja di lapangan kurang teliti dalam proses pengecoran dan
menggunakan concrete vibrator untuk meratakan beton di dalam

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
87
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

bekisting sehingga ditemukan kolom maupun shear wall yang keropos


ketika bekisting dilepas.
Solusi untuk mengatasi masalah:
Solusi untuk mengatasi masalah tersebut yaitu bagian beton yang
keropos dilakukan injeksi beton sampai permukaan tertutup rata.

Gambar 3.82 Shear Wall yang masih keropos ketika bekisting dilepas
Sumber: Dokumentasi pribadi,2015

7. Progres pekerjaan yang terlambat.


Keterlambatan yang terjadi di lapangan dan tidak sesuai dengan
kurva S atapun time schedule.
Solusi untuk mengatasi masalah:
a. apabila tenaga kerja kurang, maka perlu dilakukan penambahan
jumlah tenaga dan diberlakukannya jam lembur.
b. apabila material sering datang terlambat, maka supplier jangan
hanya satu, tetapi menyediakan cadangan supplier.
c. apabila dari aspek financial kurang, maka pengajuan termin harus
segera dikejar sesuai dengan perjanjian pembayaran
d. apabila hujan atau masalah faktor alam, maka pekerjaan tidak dapat
dilakukan sama sekali sehingga bila tidak bisa terkejar oleh jam
lembur perlu adanya pengajuan perpanjangan waktu pengerjaan.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
88
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

3.7.3 Faktor Alat


1. Mesin pada tower crane mati/mengalami kerusakan sehingga banyak
pekerjaan yang tidak bisa dilakukan misalnya pengecoran kolom, shear
wall dan penulangan plat dan balok yang tidak bisa dilakukan karena
persediaan besi di area yang sadang melakukan penulangan tidak ada.
Rusaknya mesin tersebut salah satu faktor penyebabnya karena kurangnya
perawatan mesin secara berkala di tambah dengan aktifitas tower crane
yang beroprasi hampir 24 jam setiap harinya.

2. Elevator sempat tidak beroprasi karena ada beberapa baut terlepas, hal itu
membuat para pekerja harus naik ke area kerja melalui tangga, padahal
elevator yang tersedia sangat membantu bagi para pekerja untuk cepat
sampai di area kerja dari pada harus naik tangga. Selain itu material seperti
bata ringan, semen, dan kabel – kabel untuk pemasangan elektrikal sempat
tersendat di lantai dasar dan tidak bisa didistribusikan ke lantai atas.
Lepasnya baut dikarenakan kurangnya perawatan secara berkala dan
pengecekan terhadap elevator.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari Kerja Praktik dilaksanakan dalam 90 hari kalender
yaitu dari 1 September 2015 – 31 November 2015. Setiap proyek pasti memiliki
kelebihan dan kekurangan baik dalam manajemen, pengawasan, maupun dalam
pelaksanaannya. Selama Kerja Praktik 90 hari kalender di Proyek Pembangunan
Marquis De Lafayatte Semarang, Kesimpulan yang penulis dapat simpulkan baik
dari segi positif maupun negatif sebagai berikut :
1) Dilakukannya rapat wajib dalam seminggu sekali yaitu hari Sabtu yang

diikuti oleh perwakilan dari pihak kontraktor pelaksana, manajemen


konstruksi dan konsultan konstruksi. Rapat tersebut untuk evaluasi
kegiatan yang ada di lapangan agar kegiatan yang akan dilaksanakan
dapat berjalan lancar.
2) Dilakukannya rapat wajib setiap pagi sebelum mulai yang diikuti oleh

perwakilan pihak pelaksana konstruksi. Rapat tersebut untuk evaluasi


kegiatan yang ada di lapangan agar kegiatan yang akan dilaksanakan
dapat berjalan lancar.
3) Dilakukannya pekerjaan lembur pada proyek untuk mengejar target

selesainya proyek. Pekerjaan bisa dikatakan lembur apabila melebihi jam


kerja proyek yaitu 8 jam. Lembur dilakukan pada saat pemasangan
bekisting, pembesian, pengecekan, pembersihan lahan, dan lanjut
pengecoran yang di lakukan dari malam sampai siang hari atau siang
sampai malam hari.
4) Terdapat peraturan dari K3 yaitu tentang keamanan dan keselamatan

kerja dan pemasangan MMT yang sudah di pasang di bagian-bagian


gedung, peraturan tersebut dibuat guna menberitahukan bahwa
keamanan dan keselamatan bagi para pekerja dan semua yang ada di
kawasan proyek sangat penting, tetapi masih ada pekerja yang kurang

Karina Riezki Putri 12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
89
90
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

memeperhatikan keselamatan untuk dirinya karena tidak menggunakan


Alat Pelundung Diri (APD) yaitu helm proyek, sepatu safety, sabuk
pengaman, sarung tangan, dan kaca mata khusus untuk pengelasan.
5) PT.PP mengadakan apel pagi setiap hari jumat pukul 07.30 atau tepatnya

kegiatan Safety Talk, untuk kembali mengingatkan dalam pengunaan


APD untuk mengurangi bahaya dalam bekerja serta mengingatkan akan
kebersihan proyek yang harus selalu dijaga.
6) Pekerjaan yang akan dilaksanakan oleh kontraktor pelaksana harus

mendapat persetujuan dari konsultan manajemen konstruksi lewat


gambar shop drawing, jika gambar yang di ajukan masih ada revisi maka
pekerjaan belum bisa dilaksanakan.
7) Proyek ini memperhatikan keamanan lingkungan sekitar dengan
memberikan ram pelindung dan jaring untuk mengurangi keluarnya
material proyek ke luar kawasan proyek.
8) Perawatan material di dalam proyek ini masih kurang karena pada saat

pelepasan bekisting dan scaffolding, pekerja masih sering melemparkan


material tersebut yang berdampak pada keawetan material tersebut.
9) Pengecoran pada proyek Marquis De lafayatte sering dilakukan pada

siang hari karena beton ready mix yang dipesan datang terlambat
sehingga waktu pengecoran mundur dari waktu yang sudah dijadwalkan
dan untuk mengejar keterlambatan pihak pelaksana tidak mengharuskan
pengecoran di malam hari tetapi disiang hari pun tetap dilakukan
pengecoran.

4.2 Saran
Selama kerja praktik di proyek pembangunan Marquis De Lafayatte
Semarang, penulis menemui berbagai kekurangan yang terdapat pada proyek
tersebut. Kekurangan tersebut akan menjadikan saran penulis untuk proyek
pembangunan Marquis De Lafayatte Semarang yang nantinya bisa diperbaiki agar
lebih baik lagi dari sebelumnya. Saran dari penulis yang bisa disampaikan adalah:

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
91
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

1) Perawatan material di dalam proyek Marquis De Lafayatte Semarang


harus lebih diperhatikan karena dengan perawatan material tentu saja
mengurangi pemborosan biaya untuk material.
2) Pengecekan dan perawatan rutin terhadap tower crane, alimak,
excavator, dan alat berat lainnya sangat diperlukan untuk menghindari
kerusakan dan berhentinya alat secara tiba-tibasehingga menghambat
proses pekerjaan di lapangan.
3) Pengawasan terhadap pekerjaan pemasangan bekisting harus lebih di
tingkatkan lagi yaitu sebelum proses pengecoran berlangsung sebaiknya
dicek lagi untuk menghidari kebocoran pada saat proses pengecoran
berlangsung, karena ada bagian dari bekisting yang sudah tidak layak
pakai.
4) Perlu dilakukan pekerjaan lembur pada proyek untuk mengejar target
selesainya.
5) Petugas K3 pada proyek Marquis De LafayetteSemarang harus ditambah
agar pengawasan yang dilakukan di proyek, karena proyek
pembangunan semakin tinggi dan semakin banyak pekerja yang harus
selalu dipantau keselamatannya.
6) Jika pengecoran terpaksa dilakukan pada siang hari maka disarankan
untuk beton yang telah dicor harus sering di lakukan peremajaan
beton/curring dengan cara disiram air dan beton ditutupi dengan kain
sehingga tidak langsung terkena terik matahari agar beton tidak
mengalami keretakan.

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata
92
Laporan Praktik Kerja
Proyek Pembangunan Marquis De Lafayette, Semarang

Daftar Pustaka

Anonim, (2011), Diktat Kuliah Manajemen Konstruksi, Jurusan Teknik Sipil


Universitas Katolik Soegijapranata.
McCormac, C., Jack. (2000), Desain Beton Bertulang Jilid 1 (Terjemahan
oleh Sumargo, Ph.D), Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
McCormac, C., Jack. (2000), Desain Beton Bertulang Jilid 2 (Terjemahan
oleh Sumargo, Ph.D), Edisi Kelima, Erlangga, Jakarta.
Nugraha, Paulus dkk, (1985), Menejemen Proyek Konstruksi 1, Kartika
Yudha, Yogyakarta.
Nugraha, Paulus dkk, (1985), Menejemen Proyek Konstruksi 2, Kartika
Yudha, Yogyakarta.
Peraturan Presiden RI No. 54 Tahun 2010, Pedoman Pelaksanaan Pengadaan
Barang dan Jasa Pemerintah. Fokus Media. Bandung.
Putri, Emilia Ariska.2015.Laporan Kerja Praktek UNS.Semarang.
http://www.ilmusipil.com/tugas-pelaksana-proyek
http://www.ilmusipil.com/pengawasan-dan-pengendalian-mutu-pekerjaan-
proyek

Karina Riezki Putri12.12.0018


Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata