Anda di halaman 1dari 91

LAPORAN PRAKTIK MANAJEMEN KEPERAWATAN

DI RUANG KAMBOJA RSUP SANGLAH


PADA TANGGAL 21 MEI S/D 02 JUNI 2018

OLEH KELOMPOK 3B :

I GEDE PATRIA PRASTIKA P07120215059

NI LUH PUTU MEGA WIJAYANTHI P07120215060

PUTU SUSMITHA DEVY LARASATI P07120215061

MADE SINTIA MEILINA DEWI P07120215062

IDA AYU KADEK DWI MAHARIANI P07120215063

NI MADE ARI RENI JAYANTI P07120215064

ANAK AGUNG SRI SASMITA LAKSMI P07120215065

NI KOMANG AYU PUSPITASARI P07120215066

GUSTI AYU PUTU BRILIANI P07120215067

NI MADE WERDIANTI PRAWERTI P07120215068

KELAS 3B DIV KEPERAWATAN

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN KEPERAWATAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmatnya
kami dapat menyelesaikan Laporan Praktik Manajemen Keperawatan di Ruang Kamboja
RSUP Sanglah pada tanggal 21 Mei s/d 02 Juni 2018 tepat pada waktunya. Laporan ini
disusun sebagai salah satu tugas selama kami praktik “Manajemen Keperawatan”.

Kami menyadari bahwa laporan ini jauh dari kata sempurna, baik dari segi
penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun, khususnya dari pembimbing praktik di lapangan maupun
di kampus guna menjadi acuan dalam bekal pengalaman bagi kami untuk lebih baik di masa
yang akan datang.

Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Denpasar, 30 Mei 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... i

DAFTAR ISI......................................................................................................................... ii

HASIL PRAKTIK .............................................................................................................. 1

A. Gambaran Umum Lokasi Praktik atau Ruangan ........................................................... 1


B. Hasil Pengkajian ............................................................................................................ 6
1. Man ........................................................................................................................... 6
2. Money ....................................................................................................................... 15
3. Material ..................................................................................................................... 23
4. Marketing .................................................................................................................. 31
5. Method ...................................................................................................................... 32
C. Perencanaan ................................................................................................................... 59
1. Visi Misi .................................................................................................................... 60
2. Rencana Harian ......................................................................................................... 60
D. Pengorganisasian ........................................................................................................... 60
1. Struktur Organisasi ................................................................................................... 61
2. Pengorganisasian Perawatan Klien ........................................................................... 62
3. Uraian Tugas ............................................................................................................. 62
4. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan ................................................................. 67
5. Pengaturan Jadwal Dinas .......................................................................................... 67
E. Pengarahan ..................................................................................................................... 67
F. Pengawasan .................................................................................................................... 68
G. Analisis SWOT .............................................................................................................. 69
H. Masalah dan Solusi yang Dilakukan Kepala Ruangan .................................................. 78

PENUTUP ............................................................................................................................ 81

A. SIMPULAN ................................................................................................................... 81
B. SARAN .......................................................................................................................... 84

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 85

Lampiran 1 ............................................................................................................................ 86
ii
HASIL PRAKTIK

A. GAMBARAN UMUM LOKASI PRAKTIK ATAU RUANGAN


1. Gambaran Umum Rumah Sakit
RSUP Sanglah mulai dibangun pada tahun 1956 dan diresmikan pada tanggal
30 Desember 1959 dengan kapasitas 150 tempat tidur. Pada tahun 1962 bekerjasama
dengan FK Unud sebagai RS Pendidikan. Pada tahun 1978 menjadi rumah sakit
pendidikan tipe B dan sebagai Rumah sakit Rujukan untuk Bali, NTB, NTT, Timor
Timur (SK Menkes RI No. 134/1978).
Dalam perkembangannya, RSUP Sanglah mengalami beberapa kali perubahan
status, pada tahun 1993 menjadi rumah sakit swadaya (SK Menkes No.
1133/Menkes/SK/VI/1994). Kemudian tahun 1997 menjadi Rumah Sakit PNBP
(Pendapatan Negara Bukan Pajak). Pada tahun 2000 berubah status menjadi Perjan
(Perusahaan Jawatan) sesuai peraturan pemerintah tahun 2000. Terakhir pada tahun
2005 berubah menjadi PPK BLU (Kepmenkes RI No. 1243 tahun 2005 tgl 11 Agustus
2005) dan ditetapkan sebagai RS Pendidikan Tipe A sesuai Permenkes 1636 tahun
2005 tertanggal 12 Desember 2005.
Seperti halnya organisasi lain, RSUP Sanglah Denpasar juga memiliki visi
sebagai arah yang akan dituju, yaitu menjadi Rumah Sakit Unggulan dalam bidang
Pelayanan, Pendidikan dan Penelitian tingkat Nasional dan Internasional. Dalam
mewujudkan visi tersebut RSUP Sanglah selalu berusaha dengan segala upaya agar
pelayanan yang diberikan merupakan pelayanan yang prima sehingga dapat
memuaskan masyarakat yang membutuhkan pelayanan. Dimana hal ini dikarenakan
RSUP Sanglah yang merupakan rumah sakit rujukan utama untuk wilayah Bali, NTB,
NTT. Disamping itu dengan berlokasi di daerah tujuan wisata dunia, RSUP Sanglah
diharapkan untuk terus berupaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dengan
mengutamakan quality dan safety dan dengan didukung sumber daya manusia yang
professional serta fasilitas medis canggih. Dengan demikian diharapkan RSUP
Sanglah mampu menjadi rumah sakit Indonesia kelas dunia.
Saat ini RSUP Sanglah memiliki tempat tidur sebanyak 715 buah, yang terbagi
dalam beberapa kelas perawatan yaitu kelas VIP, kelas I, kelas II, dan kelas III. Jenis
pelayanan yang diberikan meliputi pelayanan gawat darurat, pelayanan rawat jalan,
pelayanan rawat inap, pelayanan bedah, pelayanan intensif, hemodilisa, forensik, dan

1
beberapa pelayanan unggulan seperti implant cochlear, pelayanan trauma, pelayanan
jantung terpadu, bayi tabung, pelayanan tumbuh kembang, HIV & AIDS. Disamping
pelayanan – pelayanan tersebut, terdapat pula pelayanan pasien dengan menggunakan
peralatan canggih seperti cath lab, ESWL, ECG, CT Scan, Argon Laser, Colposcopy,
Hyperbaric Chamber, dan Cobalt.
RSUP Sanglah juga menjadi tempat penelitian bagi calon dokter spesialis,
dokter umum, dan profesi lainnya. Hal ini menjadikan RSUP Sanglah sebagai pusat
pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan. Di samping itu secara
ketenagaan, RSUP Sanglah memiliki beberapa jenis tenaga yang secara spesifik
sangat menunjang pemberian pelayanan kesehatan yang beragam. Tenaga spesialis
yang dimiliki RSUP Sanglah diantaranya adalah :

2
Untuk fasilitas umum yang disediakan di RSUP Sanglah diantaranya seperti,
tersedianyan beberapa toilet umum di tempat tertentu, toilet khusus untuk para
pegawai, dan disedikan 2 toilet di masing – masing ruang rawat inap serta beberapa
tempat cuci tangan (washtafel) didepan ruang rawat inap. Terdapat beberpa loker
untuk menyimpan barang – barang pengunggu pasien. Tersedianya juga tempat parkir
untuk para pengunjung, staf pegawai rumah sakit dan mahasiswa yang sedang
peraktik di RSUP Sanglah. RSUP Sanglah juga memiliki beberapa kantin yang
terletak di beberapa tempat seperti di dekat gedung bagian depan dan di bagian
belakang gedung.

Gambaran Khusus
Gambaran khusus tentang RSUP Sanglah ditinjau dari visi misi, motto,
falsafah, 3 keyakinan dasar pegawai, tujuan, sasaran, tugas pokok, fungsi, dan denah
dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Visi Misi
1) Visi
“Menjadi Rumah Sakit Rujukan Nasional Kelas Dunia Tahun 2019”
“To Be a World Class National Referral Hospital In 2019”
2) Misi
Sebagai penjabaran dari pencapaian visi tersebut, maka disusunlah misi
Rumah Sakit Umum PemerintahSanglah sebagai berikut:
a) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan interprofesi yang paripurna,
bermutu untuk seluruh lapisan masyarakat
b) Menyelenggarakan pendidikan tenaga kesehatan yang profesional dan
berdaya saing serta menyelenggarakan penelitian dalam bidang kesehatan
berbasis rumah sakit
c) Menyelenggarakan kemitraan dengan pemangku kesehatan terkait
d) Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman
b. Motto
“Kepuasan Anda Kebahagiaan Kami”
c. Falsafah
“Menjunjung Tinggi Harkat dan Martabat Manusia dalam Pelayanan Kesehatan,
Pendidikan dan Penelitian”

3
d. 3 Keyakinan Dasar Pegawai
1) Insan Profesional
2) Tat Wam Asi
3) Bekerja Dalam Teamwork
e. Tujuan
Tercapainyan tata kelola rumah sakit yang berhasil guna dan berdaya guna,
dalam rangka mewujudkan pelayanan rumah sakit yang berkelas dunia agar
tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi – tingginya.
f. Sasaran
1) Terciptanya tata kelola rumah sakit yang berhasil guna dan berdaya guna
terciptanya pelayanan rumah sakit kelas dunia
2) Terselenggaranya pendidikan dokter umum, dokter spesialis di semua
SMF/Bagian dan tenaga kesehatan lainnya
3) Terselenggaranya penelitian kesehatan yang berkualitas, terdokumentasi dan
diplubikasikan ke seluruh dunia
g. Tugas Pokok
Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah mempunyai tugas untuk
menyelenggarakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara
serasi, terpadu, dan berkesinambungan melalui peningkatan kesehatan dan
pencegahan serta upaya rujukan.
h. Fungsi
Untuk menjalankan tugas pokok tersebut, RSUP Sanglah mempunyai
fungsi untuk penyelenggarakan:
1) Pelayanan medis, peleyanan penunjang medis dan non medis, termasuk
pelayananan dan asuhan keperawatan
2) Pelayanan rujukan untuk wilayah Bali, NTB, NTT
3) Pendidikan dokter, dokter spesialis dan sub spesialis bekerjasama dengan
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
4) Penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan ilmu pengetahuan di bidang
kedokteran, kesehatan dan keperawatan.
5) Pelatihan di bidang kedokteran, kesehatan dan keperawatan.
6) Kegiatan administrasi umum, SDM, keuangan dan perlengkapan rumah sakit.

4
i. Denah RSUP Sanglah
Denah Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah dapat dilihat pada gambar berikut :

2. Gambaran Umum Ruang Kamboja


Ruang Kamboja merupakan bagian dari Instalasi Rawat Inap C yang berfungsi
sebagai salah satu unit pelayanan rawat inap kelas III untuk pasien THT dan Kulit di
RSUP Sanglah.
Jumlah seluruh pegawai di ruang Kamboja yaitu 21 orang, yang terdiri dari
tenaga perawat, Gizi, Billing, Pramusaji, dan Cleanning Service. Tenaga perawat
berjumlah 15 orang (S1 Keperawatan berjumlah 5 orang, dan D3 Keperawatan
berjumlah 10 orang), Billing berjumlah 1 orang, DIV Gizi berjumlah 1 orang,
Cleaning Service berjumlah 1 orang dan Pramusaji berjumlah 3 orang.
Ruang Kamboja dikepalai oleh seorang kepala ruangan yang membawahi 2
perawat primer. Masing – masing perawat primer beranggotakan 5-6 orang perawat
associate.
Ruang Kamboja berlokasi di sebelah selatan Depo Central dan di sebelah utara
Ruang Nusa Indah. Ruang Kamboja terdiri dari beberapa ruangan, yaitu terdiri dari 1
kantor perawat, 1 ruang persiapan dan obat, 1 ruang Karu, 1 gudang non medis, 1
ruang ganti perawat, 1 kamar mandi petugas, 1 ruang gas medis, 1 ruang dokumen, 1
ruang dokter, 1 ruang pertemuan dokter THT-KL, 1 dapur, 1 ruang spoelhock, 1
gudang, 2 kamar mandi pasien, dan 2 ruang rawat inap.
Kapasitas Ruang Kamboja adalah 20 bed yang dibagi menjadi 2 ruangan, yaitu
kamar Selatan yang merupakan kamar perawatan pasien laki – laki, memiliki 10 bed
bernomor 1-10. Sementara kamar Utara merupakan kamar perawatan pasien

5
perempuan, memiliki 10 bed bernomor 11-20 untuk. Di masing – masing bed
perawatan difasilitasi dengan 1 meja pasien dan 1 kursi penunggu. Setiap kamar
memiliki 1 kamar mandi di ujung ruangan, yang berbatasan langsung dengan ruang
rawat inap pasien.

B. HASIL PENGKAJIAN (MAN, MONEY, MTERIAL, MARKETING, METHOD)


1. M1 (MAN)
a. Kajian Teori
Menurut Nursalam (2012), perencanaan tenaga kesehatan adalah proses
memperkirakan jumlah tenaga dan jenis pengetahuan, keterampilan, dan perilaku
yang dibutuhkan untuk mencapai target pelayanan kesehatan yang telah
ditentukan dan mencapai tujuan kesehatan. Perencanaan ini mencakup persiapan:
siapa yang berbuat apa, kapan, dimana, bagaimana, dengan sumber daya apa dan
untuk populasi mana. Dalam menentukan kebutuhan SDM rumah sakit harus
memperhatikan beberapa faktor seperti ukuran dan tipe rumah sakit, fasilitas dan
tipe pelayanan yang ditawarkan, jenis dan jumlah peralatan dan frekuensi
pemakaiannya, kompleksitas penyakit, usia pasien dan lamanya waktu tinggal di
rumah sakit, pemberian cuti (melahirkan, liburan, sakit, dan tugas belajar),
keterbatasan anggaran, turn over (mengundurkan diri) personel dan tingkat
ketidakhadiran, pelayanan dan perawatan kesehatan 24 jam dan lain – lain.

b. Kajian Praktis
1) Struktur Organisasi
Ruangan Kamboja sudah memiliki struktur organisasi yang terdiri dari
Kepala Ruangan, Inventaris, Administrasi Ruangan, Perawat Primer dan
Perawat Associate.
Ruang Kamboja dipimpin oleh seorang kepala ruangan dengan latar
belakang pendidikan Ners/S1 Keperawatan. Dalam memberikan asuhan
keperawatan, staf keperawatan dibagi menjadi dua orang Perawat Primer yang
masing – masing membawahi lima sampai enam orang anggota Perawat
Associate. Ruang Kamboja juga memiliki satu orang inventaris, satu orang
administrasi ruangan, satu orang ahli gizi, tiga orang pramusaji, serta satu
orang Cleanning Service.

6
2) Pengusulan ketenagaan keperawatan
Pengusulan ketenagaan keperawatan dilakukan apabila di ruangan
tersebut dinilai kekurangan tenaga. Pengusulan ketenagaan baru dilakukan
dengan cara menganalisa beban kerja untuk menentukan kebutuhan tenaga
keperawatan di ruangan. Jika tenaga keperwatan ruangan Kamboja kurang,
kepala ruangan akan mengajukan pengusulan ke bagian instalasi, proses ini
dilakukan secara bertahap sampai mendapatkan tenaga keperawatan yang
baru. Proses perekrutan tenaga baru dilakukan dengan tes administrasi, tes
tulis, tes wawancara dan tes kesehatan.
3) Libur dan cuti ketenagaan keperawatan
Untuk cuti tahunan masing – masing pegawai mendapatkan 12 hari libur
atau satu kali per bulan, perawat juga mendapatkan cuti hamil dan cuti
melahirkan. Sedangkan untuk perawat yang sedang menempuh pendidikan
tidak mendapatkan cuti khusus.
4) Ketenagaan
a) Tenaga Keperawatan
Penerimaan tenaga keperawatan baru di ruang Kamboja akan
diorientasikan oleh Kepala Ruangan. Setiap penerimaan tenaga
keperawatan baru akan dicatat / didokumentasikan ke dalam buku
orientasi pegawai baru. Di dalam buku orientasi nantinya dicatat nama,
pendidikan, tanggal orientasi dilakukan, materi yang disampaikan saat
orientasi, perawat yang mengorientasikan, perawat yang diorientasikan
dan keterangan. Setiap tenaga baru akan mendapatkan buku panduan dari
ruangan.
Sementara itu, untuk tenaga keperawatan lama akan dinilai
berdasarkan SKP (Sasaran Kerja Pegawai) yang dilaksanakan setiap 1
tahun sekali sesuai dengan uraian kerja apa/jabatannya yang nantinya akan
dinilai oleh Kepala Ruangan.
Setiap tenaga keperawatan yang mengumpulkan cukup SKP
nantinya setiap 3 tahun sekali akan mengikuti Rekredensial yang diikuti
oleh perawat senior maupun junior. Tujuan dari Rekredensial ini adalah
untuk memperbaharui ilmu dan ketrampilan yang nantinya setiap peserta
akan mengikuti seminar/pelatihan sesuai ilmu yang terbaru.

7
Adapun pola tenaga keperawatan di ruang Kamboja RSUP Sanglah tahun
2018 dapat dilihat pada table berikut:
JUMLAH STATUS
NO KUALIFIKASI TOTAL
P L PNS Kontrak/Honor
1 S1 Keperawatan 3 2 4 1 5
DIII
2 9 1 2 8 10
Keperawatan
Sumber : Laporan Pola Ketenagaan Ruang Kamboja Tahun 2018

Berdasarkan table di atas, dapat disimpulkan tenaga kesehatan


keperawatan di ruang Kamboja dengan tingkat pendidikan terbanyak
adalah DIII Keperawatan yaitu sejumlah 10 orang, atau 66.66%.
b) Tenaga Non Keperawatan
Tenaga non keperawatan di ruang Kamboja terdiri dari 1 orang
administrasi ruangan, 1 orang ahli gizi, 3 orang pramusaji, serta 1 orang
Cleanning Service. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada table berikut :
No Kualifikasi Jumlah Keterangan
1 Cleanning Service 1 PNS
2 Administrasi 1 PNS
3 Ahli Gizi 1 PNS
4 Pramusaji 3 Honor, PNS

Untuk lebih jelasnya mengenai data Pegawai di ruang Kamboja RSUP Sanglah,
maka dapat dilihat pada table berikut :
Tahun
No Nama NIP/NPP Pend. Gol Ket.
Tamat
Ns. Ni Made
1 196503151986032004 S1 Kep 2011 IV A Karu
Srikandi, S.Kep
Ni Nyoman Karmi,
2 196103211986032013 D3 Kep 2002 III D Inventaris
Amd.Kep
Ns. W Ratna Adi
3 198211222010122003 S1 Kep 2017 III A PP 1
Listyarini, S.Kep
4 Ni L Ulan 242110763 D3 Kep 2010 Honor PA

8
Artaningsih,
Amd.Kep
Luh Kadek
5 242151179 D3 Kep 2014 Kontrak PA
Nipiani, Amd. Kep
Putu Erawati, Amd.
6 242171360 D3 Kep 2016 Kontrak PA
Kep
Kadek Rendra
7 Nugraha, Amd. 242151171 D3 Kep 2014 Kontrak PA
Kep
I A Ristiari, Amd.
8 242100660 D3 Kep 2006 Honor PA
Kep
Ns.Suhendra
9 199201242018011001 S1 Kep 2017 III A PA
Astana, S.Kep
Ns. Ni Made
10 197412011997032002 S1 Kep 2014 III C PP 2
Nadrini, S.Kep
S A Made Esty
11 199209122014022001 D3 Kep 2017 II D PA
Lestari, Amd. Kep
Mawaddatur
12 Rohmah, Amd. 242151249 D3 Kep 2012 Kontrak PA
Kep
Ns. I Gd Sukma
13 242351148 S1 Kep 2014 Kontrak PA
Aricipta, S.Kep
14 Yanistri, Amd. Kep 242151290 D3 Kep 2009 Kontrak PA
L Pt Susandera
15 242070320 D3 Kep 2006 Honor PA
Yanti, Amd. Kep
16 Desak Suciati 196612242008122001 SMA 1987 II C Billing
17 Ni Ketut Suartini 196012311982022004 SMA 1980 III B Pramusaji
18 G A Aprilianti 225060074 SMP 1994 Honor Pramusaji
19 I A Kadek Astiti 235110792 SMK 2009 Honor Pramusaji
20 Siswadi 196706072008121001 SMA 1995 II C CS
Ni Putu Markusi, DIV
21 1996 IV A Gizi
S.Tr.Gz Gizi

9
5) Perhitungan Kebutuhan Tenaga Keperawatan
Dalam menerapkan model asuhan keperawatan professional, dibutuhkan
tenaga yang mampu memberikan asuhan keperawatan professional. Untuk itu
penataan tenaga keperawatan dalam ruang rawat inap sangat diperlukan.
Di ruang Kamboja, perhitungan kebutuhan tenaga perawat menggunakan
pedoman ABK (Analisis Bebas Kerja) modifikasi. Sehingga tidak hanya
menggunakan ABK saja, melainkan juga menggunakan perhitungan sesuai
Depkes serta memperhitungkan tingkat ketergantungan pasien (Douglas).
Perhitungan kebutuhan tenaga keperawatan menurut Swansburg juga
digunakan untuk menghitung tenaga keperawatan per shiftnya dengan
merekomendasikan untuk pembagian proporsi dinas dalam satu hari.
Berikut ini akan dipaparkan pedoman dalam penghitungan kebutuhan
tenaga keperawatan di ruang Kamboja sesuai Depkes, Douglas dan
Swansburg.
a) Pedoman Penghitungan Kebutuhan Tenaga Keperawatan Menurut
Depkes RI (2002)
Berikut ini rata – rata jumlah pasien per hari dari tanggal 21 – 26 Mei
2018
21 22 23 24 25 26 Rata –
Kamar
(Senin) (Selasa) (Rabu) (Kamis) (Jumat) (Sabtu) Rata
PP 1 8 9 8 9 9 6 8.16
PP 2 6 7 9 9 6 4 6.83
Jumlah 14 16 17 18 15 10 15

Dapat ditarik kesimpulan, jumlah rata – rata pasien per hari di ruang
Kamboja dari tanggal 21 – 26 Mei 2018 adalah 15 pasien.

Dengan mengasumsikan jumlah jam keperawatan setiap pasien dalam


sehari = 4 jam (jam rata-rata kebutuhan perawatan setiap pasien dalam 24
jam bagi pasien bedah menurut Dep. Kes. Fhilipina 1984), serta jumlah
jam kerja perawat per hari adalah 8 jam, maka dapat dicari jumlah perawat
yang dibutuhkan per hari selama periode 21 – 26 Mei 2018 dengan rumus:

10
𝐽𝑚𝑙ℎ 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛 𝑥 𝑗𝑚𝑙ℎ 𝑗𝑎𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡𝑎𝑛/𝑝𝑎𝑠𝑖𝑒𝑛/ℎ𝑎𝑟𝑖
𝐽𝑚𝑙ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡 =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡/ℎ𝑎𝑟𝑖

15 𝑥 4
𝐽𝑚𝑙ℎ 𝑃𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡 =
8

Jumlah Perawat = 7.5

Jumlah Perawat = 8

Jumlah perawat yang dibutuhkan di ruang Kamboja = 8 + 1 kepala


ruangan + 1 Inventaris + 2 PP = 12 perawat. Sehingga jumlah total
perawat yang diperlukan selama periode 21 – 26 Mei 2018 per hari sesuai
rumus Depkes. RI 2002 adalah 12 orang.

b) Pedoman Perhitungan Tenaga Keperawatan Berdasarkan Tingkat


Ketergantungan Pasien Menurut Douglas (1984)
Tabel klasifikasi tingkat ketergantungan pasien menurut Douglas :

No Klasifikasi dan Kriteria

Asuhan keperawatan minimal (minimal care/perawatan mandiri),


memerlukan waktu 2 jam perhari dengan kriteria :

a) Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri.


1
b) Makan dan minum dilakukan sendiri.
c) Ambulasi dengan pengawasan.
d) Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap shift.
e) Pengobatan minimal, status psikologis stabil

Asuhan keperawatan sedang (partial care/intermediate care), pasien


memerlukan bantuan perawat sebagian, memerlukan waktu 3.08

2 jam/hari, dengan kriteria :


a) Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu.
b) Observasi tanda-tanda vital setiap 4 jam.
c) Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali

11
Asuhan keperawatan agak berat, pasien memerlukan bantuan perawat
sebagian, memerlukan waktu 4 jam/hari, dengan kriteria :
a) Sebagian besar aktifitas dibantu.

3 b) Observasi tanda-tanda vital setiap 2 – 4 jam sekali.


c) Terpasang folley cateter, intake output dicatat.
d) Terpasang infuse.
e) Pengobatan lebih dari sekali.
f) Persiapan pengobatan perlu prosedur

Asuhan keperawatan maksimal (total care), pasien membutuhkan


bantuan perawat sepenuhnya dan memerlukan waktu perawat lebih
lama 6.16 jam/hari, dengan kriteria :

4 a) Segala aktivitas diberikan perawat.


b) Posisi diatur, observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam.
c) Makan memerlukan NGT, terapi intra vena.
d) Penggunaan suction.
e) Gelisah/disorientasi

Douglas menetapkan jumlah perawat yang dibutuhkan dalam satu unit


perawatan berdasarkan klasifikasi pasien, dimana masing – masing
kategori mempunyai nilai standar per shif, yaitu sebagai berikut :
Klasifikasi Pasien

Jumlah Total
Minimal Parsial
pasien
P S M P S M P S M

1 0,17 0,14 0,10 0,27 0,15 0,07 0,36 0,30 0,20

2 0,34 0,28 0,20 0,54 0,30 0,14 0,72 0,60 0,40

3 0,51 0,42 0,30 0,81 0,45 0,21 1,08 0,90 0,60

Dst

12
Tabel Perkiraan Kebutuhan Jumlah Tenaga Perawat Berdasarkan
Tingkat Ketergantungan Pasien Di ruang Kamboja RSUP Sanglah
pada tanggal 25 Mei 2018

Tingkat Ketergantungan Jumlah Kebutuhan

Jumlah
Keterangan Pagi Siang Malam
pasien

5 x 0.17 = 5 x 0.14 =
Minimal 5 5 x 0.10 = 0.5
0.85 0.7

6 x 0.27 = 6 x 0.15 = 6 x 0.07 =


Partial 6
1.62 0.9 0.42

4 x 0.36 = 4 x 0.30 = 4 x 0.20 =


Total 4
1.44 1.2 0.8

Jumlah 15 3.91= 4 2.8 = 3 1.72 = 2

Total kebutuhan tenaga perawat :


Pagi : 4 orang
Siang : 3 orang
Malam : 2 orang
Jumlah : 9 orang

Jumlah perawat yang dibutuhkan di ruang Kamboja = 9 + 1 kepala


ruangan + 1 Inventaris + 2 PP = 13 perawat

Jadi jumlah Perawat yang dibutuhkan di ruangan Kamboja pada tanggal


25 Mei 2018 menurut rumus Douglas adalah = 13 orang perawat.

c) Menurut Swansburg RC, 1999.


Untuk melakukan perhitungan, cari terlebih dahulu rata – rata
jumlah pasien per hari. Dari tanggal 21 – 26 Mei 2018, jumlah rata – rata
pasien per hari adalah 15 orang. Sementara jumlah jam kontak perawat –

13
pasien adalah 4 jam (jam rata – rata kebutuhan perawatan setiap pasien
dalam 24 jam bagi pasien bedah menurut Dep. Kes. Fhilipina 1984).
Perhitungan dengan rumus Swansburg dalam menentukan jumlah tenaga
keperawatan adalah sebagai berikut :
Total jam perawat / hari = Jumlah pasien × Jumlah jam kontak perawat –
pasien
= 15 × 4 jam
= 60 jam

𝐽𝑚𝑙ℎ 𝑗𝑎𝑚 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡/ℎ𝑎𝑟𝑖


𝐽𝑚𝑙ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑎𝑟𝑖 =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑚 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎/ℎ𝑎𝑟𝑖
60
𝐽𝑚𝑙ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟ℎ𝑎𝑟𝑖 = = 7.5 = 𝟖 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈
8

Jumlah shift perminggu = Jumlah perawat yang dibutuhkan/hari × Jumlah


shift dalam 1 minggu
=8×7
= 56 shift/minggu
𝐽𝑚𝑙ℎ 𝑠ℎ𝑖𝑓𝑡/𝑚𝑔𝑔𝑢
𝐽𝑚𝑙ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑦𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢 =
𝐽𝑚𝑙ℎ ℎ𝑎𝑟𝑖 𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎/𝑚𝑔𝑔𝑢
56
𝐽𝑚𝑙ℎ 𝑝𝑒𝑟𝑎𝑤𝑎𝑡 𝑦𝑔 𝑑𝑖𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑘𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢 = = 9.3 = 𝟗 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈
6

Jumlah perawat pelaksana = 9 orang, jumlah seluruh perawat yang


dibutuhkan adalah 9 + 1 kepala ruangan + 1 Inventaris + 2 Katim = 13
orang. Jadi, jumlah perawat yang dibutuhkan di ruang Kamboja pada
tanggal 21 – 26 Mei 2018 adalah sejumlah 13 orang/hari.

Selain itu, cara Swansburg juga dapat digunakan untuk menghitung


pembagian proporsi dinas dalam satu hari , yaitu dengan perbandingan :
Pagi : Siang : Malam = 47 % : 36 % : 17 %

Sehingga jika jumlah total staf keperawatan/hari = 13 orang, maka


pembagian shiftnya :
 Pagi : 47% × 13 = 6,11 = 6 orang

14
 Sore : 36% × 13 = 4,68 = 5 orang
 Malam : 17% × 13 = 2,21 = 2 orang

c. Simpulan M1 (MAN) :
Dari ketiga perhitungan di atas, jumlah perawat yang diperlukan di ruang
Kamboja adalah 12 orang (sesuai Depkes RI) atau 13 orang (sesuai Douglas dan
Swansburg). Namun kenyataannya, di ruang Kamboja memiliki 15 orang
perawat). Sehingga perhitungan yang lebih mendekati untuk dipergunakan di
ruang Kamboja adalah perhitungan menurut Douglas maupun Swansburg. Namun
bukan berarti perhitungan menurut Depkes RI tidak tepat, mengingat selisihnya
juga tidak terlalu banyak, serta dalam perhitungan hanya memakai sampel
beberapa hari, dan tidak mengasumsikan jika seluruh bed terisi penuh oleh pasien.
Selain itu jika dilihat dari sebaran tingkat pendidikan perawat di ruang
Kamboja, lebih banyak tenaga keperawatan yang masih berpendidikan DIII
Keperawatan, yaitu sebesar 66.66% dari total jumlah tenaga keperawatan (15
orang)

2. M2 (MONEY)
a. Kajian Teori
Money atau uang merupakan salah satu unsur yang tidak dapat diabaikan.
Uang merupakan alat tukar dan alat pengukur nilai. Besar kecilnya hasil kegiatan
dapat diukur dari jumlah uang yang beredar dalam perusahaan. Oleh karena itu
uang merupakan alat yang penting untuk mencapai tujuan karena segala sesuatu
harus diperhitungkan secara rasional. Hal ini akan berhubungan dengan berapa
uang yang harus disediakan untuk membiayai gaji tenaga kerja, alat – alat yang
dibutuhkan dan harus dibeli serta berapa hasil yang akan dicapai.
Dalam manajemen keperawatan sangat diperlukan adanya pengelolaan
dalam keuangan sebagai faktor pendukung terlaksananya pelayanan keperawatan.

b. Kajian Praktis
Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan Kamboja RSUP Sanglah,
sistem pembiayaan atau pengelolaan keuangan di ruang Kamboja RSUP Sanglah
diatur secara sentral oleh bagian keuangan RSUP Sanglah, termasuk dalam hal

15
pembayaran perawatan pada pasien. Berikut dijelaskan dalam tabel beberapa jenis
dan tarif layanan kesehatan pada badan layanan umum RSUP Sanglah
SATUAN TARIF
LAYANAN
LAYANAN BERLAKU
TARIF RAWAT JALAN
TARIF DI POLIKLINIK UMUM
Registrasi
Kartu Indonesia Berobat (KIB) Per kartu 10.000
Pendaftaran
Administrasi Per kunjungan 10.000
Karcis Per orang 5.000
Pemeriksaan
Dokter Umum Per pmeriksaan 15.000
Dokter Spesialis/Konsul antar SMF di
Per pemeriksaan 25.000
Poli
INSTALASI RAWAT DARURAT (IRD)
Registrasi Per kunjungan 15.000
Pemeriksaan Dokter di IRD Per pemeriksaan 25.000
Pemeriksaan Dokter Spesialis di IRD Per pemeriksaan 25.000
Konsultasi antar SMF di IRD Per pemeriksaan 25.000
TARIF RAWAT INAP
Tarif Ruang Rawat Inap
Kelas III Per hari 135.000
Kelas II Per hari 150.000
Kelas I Per hari 350.000
VIP Per hari 550.000
Intermediate (Gandasturi, PJT, IRNA B,
Per hari 350.000
IATI)
Intensif (ICU, ICCU, NICU, PICU,
Luka Bakar, Nusa Indah, IGD, PJT, Per hari 550.000
IATI)
Kelas 1 Single/IRD Single Per hari 350.000
IRD Double/Lebih/Transit IRD Per hari 150.000

16
VVIP Sandat Per hari 800.000
VVIP Jepun Per hari 1.500.000
Transi Wing Amert Per hari 350.000
Jasa Visite
Kelas III Per pemeriksaan 18.000
Kelas II Per pemeriksaan 20.000
Kelas I Per pemeriksaan 100.000
VIP Per pemeriksaan 200.000
Intermediate (Gandasturi, PJT, IRNA B,
Per pemeriksaan 100.000
IATI)
Intensif (ICU, ICCU, NICU, PICU,
Luka Bakar, Nusa Indah, IGD, PJT, Per pemeriksaan 200.000
IATI)
Kelas 1 Single/IRD Single Per pemeriksaan 100.000
IRD Double/Lebih/Transit IRD Per pemeriksaan 20.000
VVIP Sandat Per pemeriksaan 300.000
VVIP Jepun Per pemeriksaan 300.000
Transi Wing Amert Per pemeriksaan 100.000
Tindakan Keperawatan
Kelas III Per hari 6.750
Kelas II Per hari 7.500
Kelas I Per hari 50.000
VIP Per hari 100.000
Intermediate (Gandasturi, PJT, IRNA B,
Per hari 50.000
IATI)
Intensif (ICU, ICCU, NICU, PICU,
Luka Bakar, Nusa Indah, IGD, PJT, Per hari 100.000
IATI)
Kelas 1 Single/IRD Single Per hari 50.000
IRD Double/Lebih/Transit IRD Per hari 7.500
VVIP Sandat Per hari 150.000
VVIP Jepun Per hari 150.000
Transi Wing Amert Per hari 50.000

17
Konsultasi dokter spesialis (on call)
Kelas III Per kunjungan 49.500
Kelas II Per kunjungan 55.000
Kelas I Per kunjungan 150.000
VIP Per kunjungan 150.000
Intermediate (Gandasturi, PJT, IRNA B,
Per kunjungan 150.000
IATI)
Intensif (ICU, ICCU, NICU, PICU,
Luka Bakar, Nusa Indah, IGD, PJT, Per kunjungan 150.000
IATI)
Kelas 1 Single/IRD Single Per kunjungan 150.000
IRD Double/Lebih/Transit IRD Per kunjungan 55.000
VVIP Sandat Per kunjungan 200.000
VVIP Jepun Per kunjungan 250.000
Transi Wing Amert Per kunjungan 150.000
Registrasi/Administrasi
Kartu Identitas Berobat
Kelas III Per pasien 10.000
Kelas II Per pasien 10.000
Kelas I Per pasien 10.000
VIP Per pasien 10.000
Intermediate (Gandasturi, PJT, IRNA B,
Per pasien 10.000
IATI)
Intensif (ICU, ICCU, NICU, PICU,
Luka Bakar, Nusa Indah, IGD, PJT, Per pasien 10.000
IATI)
Kelas 1 Single/IRD Single Per pasien 10.000
IRD Double/Lebih/Transit IRD Per pasien 10.000
VVIP Sandat Per pasien 10.000
VVIP Jepun Per pasien 10.000
Transi Wing Amert Per pasien 10.000
ADMINISTRASI PENDAFTARAN
Kelas III Sekali selama dirawat 15.000

18
Kelas II Sekali selama dirawat 15.000
Kelas I Sekali selama dirawat 15.000
VIP Sekali selama dirawat 15.000
Intermediate (Gandasturi, PJT, IRNA B,
Sekali selama dirawat 15.000
IATI)
Intensif (ICU, ICCU, NICU, PICU,
Luka Bakar, Nusa Indah, IGD, PJT, Sekali selama dirawat 15.000
IATI)
Kelas 1 Single/IRD Single Sekali selama dirawat 15.000
IRD Double/Lebih/Transit IRD Sekali selama dirawat 15.000
VVIP Sandat Sekali selama dirawat 50.000
VVIP Jepun Sekali selama dirawat 50.000
Transi Wing Amert Sekali selama dirawat 50.000
TARIF TINDAKAN ESWL (EXTRACORPOREAL SHOCKWARE
LITHOTRIPSY)
Tarif Reguler (sesuai jadwal) Per paket 5.000.000
Tarif Utama (umum/non regular) Per paket 6.000.000
Keterangan :
1. Semua Bahan Habis Pakai (BHP)
yang dibutuhkan dalam pelayanan
ESWL ditanggung pihak ke III
2. Tarif Reguler adalah tarif untuk
pasien dengan jaminan sesuai jadwal
3. Tarif Utama adalah tarif untuk
pasien umum dan pasien di luar
jadwal (non reguler)
PENYESUAIAN TARIF TINDAKAN KEBIDANAN DAN KANDUNGAN
Partus Normal
VIP Per paket 7.300.000
VVIP Sandat Per paket 8.600.000
VVIP Jepun Bali Per paket 11.000.00
Partus Pathologis
VIP Per paket 8.100.000

19
VVIP Sandat Per paket 9.400.000
VVIP Jepun Bali Per paket 11.800.000
Tindakan SC
VIP Per paket 15.400.000
VVIP Sandat Per paket 18.700.000
VVIP Jepun Bali Per paket 22.100.000
Tindakan SC + Steril
VIP Per paket 17.400.000
VVIP Sandat Per paket 21.400.000
VVIP Jepun Bali Per paket 24.800.000
Tindakan D & C Per tindakan 4.500.000
Tindakan Curretage Abortus dengan
Per tindakan 4.445.000
Anasthesi
Tindakan Biopsy Per tindakan 3.500.000
Tindakan steril PP/Interval Per tindakan 4.345.000
Tindakan Induksi haid + steril Per tindakan 4.650.000
Curettage Mola Hydatidosa Per tindakan 4.725.000
TARIF TRANSPLANTASI GINJAL (CANGKOK GINJAL
Paket Transplantasi Ginjal (Recepient / Penerima)
Kelas III Per paket 286.075.600
Kelas II Per paket 343.290.700
Kelas I Per paket 400.505.800
VIP A Per paket 600.000.000
VVIP Sandat Per paket 700.000.000
VVIP Jepun Bali Per paket 700.000.000
Paket Transplantasi Ginjal (Donor)
Kelas III Per paket 18.590.900
Kelas II Per paket 22.309.100
Kelas I Per paket 26.027.300
VIP A Per paket 36.000.000
VVIP Sandat Per paket 45.000.000
VVIP Jepun Bali Per paket 45.000.000

20
Di ruang Kamboja yang merupakan ruang khusus THT melayani pasien
dengan status pembayaran dengan Umum maupun BPJS. Tentu saja dalam hal
persiapan maupun administrasi terdapat perbedaan antara pasien Umum maupun
pasien BPJS.
Pembayaran perawatan pasien disiapkan oleh putugas di ruang Kamboja.
Adapun yang disiapkan oleh petugas di ruang Kamboja untuk pembayaran
perawatan pasien BPJS yaitu ;
1) Berkas – berkas les pasien (keterangan diagnosa, data penunjang, laporan
operasi jika ada) yang nantinya dibawa ke loket pembayaran
2) Rincian pembayaran
3) Resume pulang oleh dokter
4) Resume perawatan oleh perawat (sebanyak 2 lembar : untuk pasien 1 lembar
dan untuk les pasien 1 lembar)
5) Surat Eligibilitas Peserta (SEP)
6) Kartu kendali BPJS
Sementara yang perlu disiapkan oleh petugas di ruang Kamboja untuk
pembayaran perawatan pasien umum yaitu ;
1) Berkas – berkas les pasien (di billing oleh petugas Ruang Kamboja)
2) Rincian pembayaran
3) Resume pulang oleh dokter
4) Resume perawatan oleh perawat (sebanyak 2 lembar : untuk pasien 1 lembar
dan untuk les pasien 1 lembar)
Dalam melakukan pembayaran perawatan, pasien juga dibedakan dalam
dua kategori, yaitu pasien dengan BPJS dan pasien Umum. Untuk pasien BPJS,
mengurus administrasi dan melakukan pembayaran di loket pembayaran BPJS
(Loket 12), sementara untuk pasien umum melakukannya di loket pembayaran 2.
Dibalik perbedaan di atas, terdapat pula persamaan dalam hal pembayaran
perawatan pasien dengan BPJS dan pasien umum, yaitu setelah dokter
menyatakan pasien boleh pulang, maka pasien akan dibawa ke ruang after care
(kecuali pasien bed rest) sembari menunggu urusan administrasi serta obat pulang.
Hal ini bertujuan agar tidak terjadi bed block di UGD (pasien baru tidak bisa
masuk ke ruangan karena bed dianggap terisi). Setelah selesai mengurus, baru
pasien diperbolehkan untuk pulang. Selain itu, apabila pasien dengan BPJS atau

21
pasien umum pulang lebih dari pukul 19.00 WITA, maka pembayaran perawatan
dilakukan di loket pembayaran di UGD.
Selain pembayaran perawatan pasien, keuangan RSUP Sanglah juga
mengatur pembayaran gaji pegawai (perawat dan staff lainnya). Pembayaran gaji
pegawai dibayar melalui Bank BPD ke rekening pegawai setiap bulannya.
Walaupun demikian, pengelolaan keuangan secara sentral di RSUP Sanglah
juga memiliki kelebihan dan kekurangannya masing – masing yang dapat
dijabarkan dalam tabel berikut :
Kelebihan Kekurangan
Kebutuhan sarana dan prasara setiap Ruangan tidak dapat segera memenuhi
ruangan dapat dibagi secara merata kebutuhan atau kerusakan barang yang
dan kualitas pelayanan kesehatan diperlukan secara mendesak karena jika
tidak berbeda – beda antara ruangan ada barang yang rusak terlebih dahulu
yang satu dengan yang lainnya. harus dibawa ke bagian sarana dan
prasarana, apabila tidak bisa diperbaiki
maka ruangan harus mengamprah
terlebih dahulu dan ini membutuhkan
waktu yang cukup lama sampai barang
baru bisa didapatkan.

Dari hasil wawancara dengan perawat jaga, di ruang Kamboja juga


memiliki uang kas tersendiri, uang kas ini dibayarkan oleh masing – masing
pegawai setiap bulannya sebanyak Rp. 25.000. Uang ini digunakan untuk
keperluan suka duka seperti sumbangan jika ada salah satu keluarga perawat atau
pegawai di ruang Kamboja yang meninggal. Adapun yang membawa serta
mengelola uang kas ruang Kamboja adalah kepala ruangan.

c. Simpulan M2 (MONEY)
Sistem pembiayaan atau pengelolaan keuangan di ruang Kamboja RSUP
Sanglah diatur secara sentral oleh bagian keuangan RSUP Sanglah, termasuk
dalam hal pembayaran perawatan pada pasien serta pembayaran gaji pegawainya.
Secara umum, pengelolaan keungaan secara sentral oleh bagian keuangan sudah
berjalan dengan baik, namun tentu saja tetap mempunyai kelebihan maupun

22
kekurangannya masing – masing. Kelebihannya yaitu kebutuhan sarana dan
prasara setiap ruangan dapat dibagi secara merata dan kualitas pelayanan
kesehatan tidak berbeda – beda antara ruangan yang satu dengan yang lainnya.
Sementara kekurangannya adalah ruangan tidak dapat segera memenuhi
kebutuhan atau kerusakan barang yang diperlukan secara mendesak karena jika
ada barang yang rusak terlebih dahulu harus dibawa ke bagian sarana dan
prasarana sehingga akan memerlukan waktu yang lama untuk mendapatkannya.

3. M3 (MATERIAL)
a. Kajian Teori
Menurut Nursalam (2012), pengelolaan peralatan merupakan faktor
penunjang terlaksananya pelayanan keperawatan. Peralatan kesehatan untuk
pelayanan keperawatan merupakan semua bentuk alat kesehatan atau peralatan
lain yang dipergunakan untuk melaksanakan asuhan keperawatan sebagai
penunjang kelancaran pelaksanaan sehingga diperoleh tujuan pelayanan
keperawatan efisien dan efektif. Jumlah fasilitas dan alat – alat medis maupun
keperawatan dapat dipenuhi dengan standar yang telah ditetapkan oleh masing –
masing institusi dengan memperhatikan jenis alat, bahan, ukuran, jumlah yang
dibutuhkan

b. Kajian Praktis
1) Lokasi dan Denah
Ruang Kamboja RSUP Sanglah merupakan ruang rawat inap yang
dikhususkan untuk penyakit THT dan kulit. Ruang Kamboja berlokasi di
sebelah selatan Depo Central dan di sebelah utara Ruang Nusa Indah. Ruang
Kamboja terdiri dari beberapa ruangan, yaitu 1 kantor perawat, 1 ruang
persiapan dan obat, 1 ruang Karu, 1 gudang non medis, 1 ruang ganti perawat,
1 kamar mandi petugas, 1 ruang gas medis, 1 ruang dokumen, 1 ruang dokter,
1 ruang pertemuan dokter THT-KL, 1 dapur, 1 ruang spoelhock, 1 gudang, 2
kamar mandi pasien, dan 2 ruang rawat inap.
Kapasitas Ruang Kamboja adalah 20 tempat tidur yang dibagi menjadi 2
kamar rawat inap. Yakni kamar selatan yang berisi bed pasien dengan nomor
bed 1 sampai dengan bed 10 dan kamar utara yang berisi bed pasien dengan
nomor bed 11 sampai dengan bed 20.
23
Untuk lebih jelasnya mengenai lokasi ruang Kamboja, maka dapat
dilihat pada gambar denah berikut :

2) Fasilitas Alat Tenun, Alat Medis, dan Alat Rumah Tangg


Berdasarkan data yang didapat dari hasil pengkajian yang dilakukan
tanggal 21 Mei sampai tanggal 23 Mei 2018, diperoleh fasilitas tenun, alat
medis atau keperawatan, dan alat rumah tangga yang ada di ruang Kamboja
RSUP Sanglah dapat disajikan pada tabel berikut ini :

24
a. Tabel fasilitas alat medis dan non medis ruang Kamboja RSUP Sanglah
NO NAMA ALAT JUMLAH
1 Lemari kayu 6 buah
2 Lemari obat 1 buah
3 Brancar 1 buah
4 Tempat tidur dengan pengaman 20 buah
5 Bantal pasien 20 buah
6 Jam dinding 2 buah
7 Kulkas 2 buah
8 Keranjang dorong 1 buah
9 Troli laken 1 buah
10 Sarung bantal 21 buah
11 Laken 21 buah
12 Stik laken 21 buah
13 Selimut 21 buah
14 Kereta O2 + tabung O2 4 buah
15 Kursi 35 buah
16 Kursi roda 2 buah
17 Kompor gas 1 buah
18 Meja 6 buah
19 Meja + komputer 3 buah
20 Alat pemadam api ringan 2 buah
21 Tabung gas 2 buah
22 Senter 2 buah
23 Pelubang kertas 2 buah
24 Jemuran 2 buah
25 Rak piring 1 buah
26 Tangga lipat 1 buah
27 Telepon 1 buah
28 Kipas angin 2 buah
29 Rak pispot 1buah
30 Kipas gantung 6 buah

25
31 Stethoscope 3 buah
32 Tensimeter duduk 2 buah
33 Tensimeter berdiri 1 buah
34 Timbangan 1 buah
35 Kupet sedang 2 buah
36 Kupet kecil 8 buah
37 Thermometer 3 buah
38 Troli injeksi 2 buah
39 Urinal 2 buah
40 Pispot 2 buah
41 Tourniquet 2 buah
42 Standar infuse 22 buah
43 Suction 1 buah
44 Defibrillator 1 buah
45 Troli emergency 1 buah
46 Bengkok 3 buah
47 Laryngoscope 2 buah
48 Syring pump 4 buah
49 Alat saturasi 1 buah
50 Amubag 2 buah
51 EKG 1 buah
52 Corong sonde 1 buah
53 Sepatu boots 1 buah
54 Cuk roll 3 buah
55 Sepeda 1 buah
56 Long spine board 1 buah
57 Lemari B3 1 buah
58 Monitor bel pasien 1 buah
59 Bel pasien 20 buah
60 Perlak injeksi 2 buah
61 Keranjang & nampan 41 buah
62 Kotak Lab 1 buah

26
63 Kotak PMI 1 buah
64 Kotak merkuri 2 buah
65 Gunting 3 buah
66 Lemari sarana 3 buah
67 Keranjang laken kotor 1 buah
68 Baskom 7 buah
69 Tempat sampah tertutup 12 buah
70 Blood warmer 2 buah
71 Dispenser 1 buah
72 Nebulizer 1 buah
73 Meja makan pasien 20 buah
74 X-Ray viewer 1 buah
75 Troli makanan 1 buah

b. Tabel fasilitas barang habis pakai di ruang Kamboja RSUP Sanglah setiap
bulan

NO NAMA ALAT JUMLAH


1 Alcohol swab 24 kotak
2 Hand rub 20 botol

c. Tabel fasilitas barang habis pakai di ruang Kamboja RSUP Sanglah setiap
minggu

NO NAMA ALAT JUMLAH


1 Masker 5 kotak
2 Handscoon 2 dus
3 Hypafix 5 kotak

3) Fasilitas untuk Petugas Kesehatan


a) Ruang Kepala Ruangan berada di sebelah utara pintu masuk dan berjejer
dengan ruang obat dan gudang non medis
b) Nurse Station berjumlah satu berada di tengah ruang Kamboja dan tepat di
depan ruang rawat inap dan terdapat faslitas kipas angin

27
c) Spoelhock ada di belakang ruang rawat inap
d) Ruang perawat berjumlah satu dan terletak di depan nurse station dan
kamar rawat inap selatan
e) Terdapat 1 kamar mandi khusus untuk pegawai yang terletak di dalam
ruang oksigen
f) Terdapat 1 ruang dokumen yang berada di sebelah ruang oksigen
g) Serta terdapat 1 dapur di sebelah kamar rawat inap utara
4) Fasilitas untuk Pasien
a) Terdapat 2 ruang rawat inap, dengan jumlah tempat tidur sebanyak 20
bed, 1 meja pasien dan 1 kursi penunggu untuk setiap pasien
b) Terdapat 2 kamar mandi dengan pembagian 1 kamar mandi untuk masing
– masing ruangan dan 1 cermin di depan masing – masing kamar mandi
5) Kelengkapan Dokumentasi
Kondisi administrasi penunjang di ruang Kamboja secara umum sudah
baik. Terdiri dari buku registrasi pasien, catatan pemakaian stik BS, buku
panduan pelayanan, jadwal jaga dokter, absensi mahasiswa, buku sensus
harian, buku catatan jenazah, buku pemulangan pasien, buku return obat, dan
formulir RM. Form yang dibutuhkan selama pemberian asuhan keperawatan di
ruang Kamboja sudah cukup lengkap dan tertata dengan baik antara lain form
pengkajian perawat, form pengkajian keperawatan, form pengkajian rawat
inap, form rencana dan implementasi, form pasien pindah, form observasi
komprehensif, form intg RM cairan, form pengkajian risiko jatuh, form
rontgen, form lab, form persetujuan transfusi darah, form monitor transfusi
darah, form monitoring nyeri, form kematian, form laporan harian, form
pengkajian interna + THT, catatan pemindahan OK, discharge planning,
evaluasi pra bedah, evaluasi pra anastesi, perawatan luka, dan form lainnya
yang diperlukan di ruang Kamboja. Serta adanya beberapa SOP (Standar
Operasional Prosedur) keperawatan, NCP (Nursing Care Plan), Protap Ruang
Kamboja, dan Laporan Indikator Mutu.
6) Sentralisasi Obat
Ruang Kamboja RSUP Sanglah sudah menerapkan sentralisasi obat
sejak tahun 2012. Pengamprahan obat untuk pasien di Ruang Kamboja
dilakukan setiap hari. Obat – obatan untuk pasien kemudian diletakkan pada
lemari obat yang ada di ruang obat ruang Kamboja. Distribusi obat ke pasien
28
dilakukan dengan mengambil obat pasien sesuai dengan yang telah diresepkan
oleh dokter, lalu didistribusikan pasien sesuai dengan dosis obat pasien.
Pengawasan obat di ruang obat dikelompokan sesuai dengan kamar, bed
pasien, dan identitas pasien (mis., Nama, Tanggal Lahir, RM), obat diawasi
oleh masing masing PP (perawat primer) dan PA (perawat assosiate) sesuai
dengan sift mereka bertugas.
7) Sentralisasi Linen
Sentralisasi linen di ruang Kamboja dilakukan dengan cara linen kotor
dibawa ke CSSD oleh petugas CS pada pagi sekitar jam 10.00 setelah
membersihkan dan merapikan tempat tidur pasien. Kemudian linen bersih
diantarkan kembali ke ruang Kamboja untuk diletakkan di lemari linen dan
troli linen di gudang non medis ruang Kamboja sekitar jam 12.00. Untuk sore
hari, linen kotor diambil lagi sekitar jam 14.00, kemudian linen bersih
diantarkan kembali sekitar jam 16.00. Jumlah total linen yang dimiliki ruang
Kamboja adalah 40 buah, baik yang sudah ada di ruangan maupun yang masih
berada di CSSD.
8) Manajemen Material
a) Sistem Pengadaan Barang
Pengadaan barang di ruang Kamboja dilakukan setiap tahun dan
secara bersamaan dengan Ruang Angsoka 1 dan Ruang Angsoka 3 yang
dilakukan oleh inventaris setiap ruangan. Namun, barang yang diusulkan
kadang tidak sesuai dengan barang yang diterima oleh ruangan yang
mengusulkan. Alur pengadaan barang yang dilakukan oleh ruang
Kamboja adalah membuat daftar barang yang dibutuhkan oleh ruangan,
hal itu dilakukan dengan Ruang Angsoka 1 dan Ruang Angsoka 3. Daftar
barang yang telah dibuat diserahkan ke bagian sarana & Prasarana RSUP
Sanglah, yang kemudian akan dilakukan pengecekan ulang apakah daftar
permintaan barang yang telah diajukan sesuai dengan kebutuhan ruangan.
Setiap barang disediakan oleh sentral berdasarkan daftar barang
yang ada di ruang Kamboja, jika ada barang yang rusak harus
dikembalikan dan diamprah ulang. Setiap 1 bulan diadakan pertemuan
membahas alat dan bahan yang dipakai.

29
b) Sistem Maintenance Barang
Sistem maintenance barang merupakan sebuah pekerjaan yang
dilakukan secara berurutan untuk menjaga atau memperbaiki fasilitas yang
ada, sehingga sesuai dengan standar fungsional dan kualitas. Sistem
maintenance barang yang dilakukan oleh ruang Kamboja adalah
melakukan pengecekan barang setiap pagi. Pelaporan barang, sarana dan
prasarana yang rusak adalah ke bagian Sarana RSUP Sanglah dengan
membawa kelengkapan berkas – berkas barang, sarana, atau prasarana
yang rusak yang kemudian akan diputuskan oleh bagian sarana RSUP
Sanglah apakah barang, sarana, atau prasarana dapat diperbaiki atau harus
dimusnahkan.
Untuk sarana seperti AC dilakukan pengecekan setiap 3 bulan
sekali, komputer dilakukan pengecekan jika terjadi masalah dan APAR
dilakukan pengecekan sesuai dengan masa berlakunya. Sementara itu,
untuk alat – alat medis dilakukan kalibrasi setiap 1 tahun sekali.
c) Sistem Pemusnahan Barang
Pemusnahan barang merupakan sistem menghilangkan atau
menghapuskan barang yang rusak atau sudah tidak dapat diperbaiki lagi.
Sistem pemusnahan barang di ruang Kamboja RSUP Sanglah dapat
dilakukan bila terdapat barang yang dilaporkan rusak ke bagian sarana
RSUP Sanglah, dan barang tersebut sudah tidak dapat dipakai dan
diperbaiki lagi. Alur pemusnahan barang yaitu inventaris dari ruangan
membawa buku kerusakan barang ke bagian sarana RSUP Sanglah untuk
melaporkan kerusakan. Selanjutnya bagian sarana akan mengambil barang
yang rusak ke ruangan untuk diperbaiki. Apabila barang tidak bisa
diperbaiki, maka bagian sarana akan memberikan blangko Akpir untuk
dilengkapi sebagai data barang yang akan dimusnahkan.

c. Simpulan M3 (MATERIAL)
Keberadaan alat – alat fisik yang ada di ruang Kamboja RSUP Sanglah baik
medis dan non medis sudah tertata baik, meskipun terdapat beberapa barang yang
fungsinya sudah menurun bahkan tidak bisa digunakan lagi, contohnya alat
Tensimeter. Perawatan alat – alat di ruangan juga sudah dilakukan dengan baik.
Di ruangan juga sudah memiliki buku operan alat ruangan untuk memantau
30
kondisi alat dan fasilitas ruangan, tetapi belum optimal karena ada beberapa
barang yang rusak masih ada di ruangan. Sentralisasi obat sudah berjalan dengan
baik, jika pasien pulang maka obat akan direturn ke Depo Central. Linen kotor
setiap harinya sudah dibawa ke CSSD oleh CS setelah membersikan dan
merapikan linen pasien, linen bersih kembali dibawa oleh CS pada siang dan sore
hari. Untuk kelengkapan dokumentasi, ruangan sudah memiliki dokumen –
dokumen dan SOP yang dibutuhkan untuk setiap tindakan dan form – form
pengkajian pasien sudah cukup lengkap.

4. M4 (MARKETING)
a. Kajian Teori
Market atau pasar menurut Nursalam (2012) adalah tempat dimana
organisasi menyebarluaskan atau memasarkan produknya. Memasarkan produk
sangat penting sebab bila tidak laku, maka proses produksi akan terhenti, artinya
proses kerja tidak akan berlangsung. Oleh sebab itu penguasaan pasar dalam arti
menyebarluaskan hasil produksi merupakan faktor penentu dalam perusahaan.
Agar pasar dapat dikuasai, maka kualitas dan harga barang harus sesuai dengan
selera konsumen dan daya beli konsumen.

b. Kajian Praktis
RSUP Sanglah merupakan rumah sakit rujukan utama untuk wilayah Bali,
NTB, dan NTT. Oleh karena itu, RSUP Sanglah jarang melakukan pemasaran
karena sudah dikenal oleh masyarakat secara luas, sehingga ruang Kamboja yang
merupakan ruang THT dan Kulit di RSUP Sanglah tidak perlu melakukan
pemasaran lagi. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan Kamboja,
untuk pemasaran secara formalitas dipegang langsung oleh bagian Humas yang
dilakukan secara sentral oleh RSUP Sanglah. Oleh karena itu, ruangan hanya
perlu menunggu pasien masuk.

c. Simpulan M4 (MARKETING)
Pemasaran bangsal untuk setiap ruangan termasuk ruang Kamboja di RSUP
Sanglah dilakukan secara sentral oleh bagian Humas RSUP Sanglah, oleh karena
itu ruang Kamboja tidak perlu melakukan pemasaran lagi. Walaupun
kenyataannya RSUP Sanglah memang jarang melakukan pemasaran, mengingat
31
RSUP Sanglah merupakan rumah sakit rujukan utama untuk wilayah Bali, NTB,
dan NTT.

5. M5 (METHOD)
a. Kajian Teori
Metode merupakan cara yang dipergunakan untuk mengelola sistem
pelayanan di suatu instansi. Dalam pengelolaan keperawatan, terdapat beberapa
metode seperti:
1) Metode Fungsional (Penugasan)
Model ini berdasarkan orientasi tugas dari filosofi keperawatan, perawat
melaksanakan tugas (tindakan) tertentu berdasarkan jadwal kegiatan yang ada
(Nursalam, 2011). Dalam model ini, masing - masing perawat mempunyai
tugas khusus. Contohnya perawat A tugasnya menyuntik, perawat B tugasnya
mengukur suhu badan klien. Seorang perawat dapat melakukan dua jenis tugas
atau lebih untuk semua klien yang ada di unit tersebut. Kepala ruangan
bertanggung jawab dalam pembagian tugas tersebut dan menerima laporan
tentang semua klien serta menjawab semua pertanyaan tentang klien
Model ini cocok untuk keadaan darurat tetapi kurang untuk
meningkatkan mutu askep (Gillies, 1989 dalam Sitorus, 2006). Gambar di
bawah ini menunjukkan skema metode penugasan fungsional.

(Sumber: Marquis & Huston, 1998 dalam Nursalam, 2011)

32
Keuntungan :
a. Perawat terampil untuk tugas /pekerjaan tertentu
b. Mudah memeroleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai tugas
c. Kekurangan tenaga yang ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang
d. Berpengalaman untuk satu tugas yang sederhana
e. Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staf atau peserta didik
yang praktek untuk ketrampilan tertentu.
Kerugian :
a) Pelayanan keperawatan terpilah – pilah atau total sehingga proses
keperawatan sulit dilakukan
b) Apabila pekerjaan selesai, cenderung meninggalkan klien dan melakukan
tugas non keperawatan
c) Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai dan sulit diidentifikasi
kontribusinya terhadap pelayanan
d) Perawat hanya melihat asuhan keperawatan sebagai keterampilan saja.
2) Alokasi pasien
Yaitu pengorganisasian pelayanan / asuhan keperawatan untuk satu atau
beberapa klien oleh satu orang perawat pada saat bertugas / jaga selama
periode waktu tertentu atau sampai klien pulang. Kepala ruangan bertanggung
jawab dalam pembagian tugas dan menerima semua laporan tentang pelayanan
keperawatan klien.
Keuntungan :
a) Fokus keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien
b) Memberikan kesempatan untuk melakukan keperawatan yang
komprehensif
c) Memotivasi perawat untuk selalu bersama klien selama bertugas, tugas
non keperawatan dapat dilakukan oleh yang bukan perawaT
d) Mendukung penerapan proses keperawatan
e) Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai.
Kerugian :
a) Beban kerja tinggi, terutama jika jumlah klien banyak sehingga tugas rutin
yang sederhana terlewatkan
b) Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian selama perawat
penanggung jawab klien bertugas.
33
3) Metode Tim
Metode tim merupakan suatu metode pemberian asuhan keperawatan
dimana seorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga
keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan sekelompok pasien
(Douglas, 1984 dalam Sitorus, 2006).
Ketua tim mempunyai tanggung jawab untuk mengoordinasikan seluruh
kegiatan asuhan keperawatan dalam tanggung jawab kegiatan anggota tim.
Ketua tim melakukan pengkajian dan menyusun rencana keperawatan pada
setiap pasien, dan anggota tim bertanggung jawab melaksanakan asuhan
keperawatan berdasarkan rencana asuhan keperawatan yang telah dibuat. Oleh
karena kegiatan dilakukan bersama – sama dalam kelompok, maka ketua tim
seringkali melakukan pertemuan bersama dengan anggota timnya, guna
membahas kejadian – kejadian yang dihadapi dalam pemberian askep.
Selanjutnya ketua tim yang akan melaporkan pada kepala ruangan tentang
kemajuan pelayanan / asuhan keperawatan terhadap klien.
Skema penugasan pada metode penugasan tim dapat dilihat pada gambar
berikut:

Kepala ruangan

Ketua Tim Ketua Tim

Anggota Tim Anggota Tim

Pasien Pasien

(Sumber: Marquis & Huston, 1998 dalam Nursalam, 2011)

Keuntungan :
a) Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh
b) Mendukung pelaksanaan proses keperawatan
c) Memungkinkan komunikasi antar tim, sehingga konflik mudah diatasi dan
memberi kepuasan pada anggota tim.

34
d) Memungkinkan menyatukan kemampuan anggota tim yang berbeda –
beda dengan aman dan efektif.
Kelemahan:
a) Rapat tim memerlukan waktu, sehingga pada situasi sibuk rapat tim
ditiadakan atau terburu – buru, sehingga dapat mengakibatkan komunikasi
dan koordinasi antar anggota tim terganggu yang mengakibatkan
kelancaran tugas terhambat.
b) Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung
atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.
4) Metode Primer
Metode primer adalah suatu metode pemberian askep dimana perawat
professional bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap asuhan
keperawatan pasien selama 24 jam mulai dari pasien masuk sampai keluar
rumah sakit. Perawat yang menggunakan metode keperawatan primer dalam
pemberian asuhan keperawatan disebut perawat primer (primary nurse). Setiap
perawat primer biasanya mempunyai 4–6 pasien dan bertanggung jawab
selama 24 jam selama pasien dirawat dirumah sakit. Jika perawat primer
sedang tidak bertugas, kelanjutan asuhan akan didelegasikan kepada perawat
lain (associate nurse).
Skema penugasan dalam model keperawatan primer adalah sebagai berikut :

35
Kelebihan :
a) Model praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau diterapkan
b) Bersifat kontinuitas dan komprehensif
c) Perawat primer mendapatkan akuntabilitas yang tinggi terhadap hasil, dan
memungkinkan pengembangan diri.
d) Pasien merasa dimanusiawikan karena terpenuhinya kebutuhan secara
individu.
Kelemahan:
a) Metode ini hanya dapat dilakukan oleh perawat yang memiliki
pengalaman dan pengetahuan yang memadai dengan kriteria asertif, self
direction, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai
keperawatan klinis, penuh pertimbangan, serta mempu berkolaborasi
dengan berbagai disiplin ilmu.
5) Metode Kasus
Metode kasus adalah pengorganisasian pelayanan atau asuhan
keperawatan untuk satu atau beberapa klien oleh satu orang perawat pada saat
bertugas atau jaga selama periode waktu tertentu sampai klien pulang. Setiap
perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat dinas.
Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagaian tugas dan menerima
semua laporan tentang pelayanan keperawatan klien.
Skema penugasan untuk metode kasus dapat dilihat pada gambar berikut :

(Marquis & Huston, 1998 dalam Nursalam, 2011)

Keuntungan:
a) Asuhan yang diberikan komprehensif, berkesinambungan dan holistik
b) Perawat lebih memahami kasus per kasus
c) Sistem evaluasi dari manajerial menjadi lebih mudah

36
Kerugian:
a) Belum dapatnya diidentifikasi perawat penanggung jawab
b) Perlu tenaga yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan dasar yang
sama.
6) Metode Primer Modifikasi (Primer-Tim)
Metode Primer Modifikasi (Primer-Tim) disebut juga metode
keperawatan medular. Metode ini adalah suatu variasi dari metode
keperawatan primer dan metode Tim. Metode ini sama dengan metode
keperawatan tim karena baik perawat professional maupun non professional
bekerja bersama dalam memberikan askep di bawah kepemimpinan seorang
perawat profesinal. Disamping itu dikatakan memiliki kesamaaan dengan
metode keperawatan primer karena dua atau tiga orang perawat bertanggung
jawab atas sekelompok kecil pasien sejak masuk dalam perawatan hingga
pulang, bahkan sampai dengan waktu follow up care. Dalam memberikan
askep dengan menggunakan metode keperawatan primer modifikasi, satu tim
yang terdiri dua hingga tiga perawat memiliki tanggung jawab penuh pada
sekelompok pasien.
Sekalipun dalam memberikan askep dengan menggunakan metode ini
dilakukan oleh dua hingga tiga perawat, tanggung jawab yang paling besar
tetap ada pada perawat professional. Apabila perawat professional sebagai
ketua tim sedang tidak dinas, tugas dan tanggung jawab dapat digantikan oleh
perawat professional lainnya. Peran perawat kepala ruang diarahkan dalam hal
membuat jadwal dinas dengan mempertimbangkan kecocokan anggota untuk
bekerja sama, dan berperan sebagai fasilitator, pembimbing serta motivator.
Skema sistem penugasan primer modifikasi dapat dilihat pada gambar berikut
(Nursalam, 2011) :

37
b. Kajian Praktis
Di dalam pengelolaan pelayanan keperawatan, Ruang Kamboja
menerapkan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP). Model Praktik
Keperawatan Profesional (MPKP) yang diterapkan di ruang Kamboja berupa
MPKP model keperawatan PP Modifikasi, hal ini dapat dilihat dari :
1) Dalam struktur organisasi, pemberian asuhan keperawatan kepada pasien di
Kamboja terdapat dua PP yang masing – masing terdiri dari beberapa perawat
associate.
2) Ruang Kamboja merupakan ruang perawatan Telinga Hidung dan
Tenggorokan (THT). PP 1 bertanggung jawab pada pasien di Ruang Selatan
yaitu bed 1 sampai bed 10 yang merupakan ruang perawatan laki – laki,
dimana memiliki lima orang anggota perawat associate. Sedangkan PP 2
bertanggung jawab di Ruang Utara yaitu bed 11 sampai bed 20 yang
merupakan ruang perawatan perempuan dan memiliki enam orang anggota
perawat associate. Perawat associate ini yang membantu PP dalam
melaksanakan proses keperawatan mulai dari pengkajian sampai evaluasi
kondisi pasien.
3) Kepala Ruangan dalam pelaksanaan tugasnya dibantu oleh PP. Untuk
penanganan tugas saat dinas sore dan dinas malam, PP menunjuk salah satu
anggotanya (perawat associate) yang paling senior dan/atau berkompeten.
Apabila terdapat masalah di ruangan, maka anggota wajib melaporkannya
kepada PP dan PP kemudian melaporkannya kepada Kepala Ruangan.

38
4) Kepala ruangan memegang peranan penting dalam proses pemilihan PP,
dimana didasarkan dalam penentuan PP didasarkan atas kompetensi,
leadership, jenjang pendidikan (minimal DIII Keperawatan), dan pengalaman
kerja perawat minimal 5 tahun.
5) Apabila kepala ruangan berhalangan hadir, maka akan diwakilkan oleh
inventaris Ruang Kamboja atau PP. Dimana dalam hal ini pendelegasian tugas
yang diberikan dicatat dalam buku khusus “Pendelegasian Tugas Ruang
Kamboja” sebagai bentuk dokumentasi dan pertanggungjawaban. Adapun
buku Pendelegasian tugas ruang Kamboja dapat dilihat pada gambar berikut :

Simpulan :
Setelah dilakukan proses pengumpulan data melalui wawancara dan
observasi, ditemukan bahwa pelaksanaan MPKP di ruang Kamboja sudah berjalan
secara optimal dan dalam pelaksanaannya dilakukan dengan metode tim, dimana
PP dan PA sudah bekerja sesuai dengan jabatan dan uraian tugas masing –
masing.

1) Timbang Terima
a) Kajian Teori
Timbang terima pasien (operan) merupakan teknik atau cara untuk
menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan
keadaan pasien. Timbang terima pasien harus dilakukan seefektif mungkin
dengan menjelaskan secara singkat, jelas dan lengkap tentang tindakan
mandiri perawat, tindakan kolaboratif yang sudah dilakukan atau belum
dan perkembangan pasien saat itu. Informasi yang disampaikan harus
akurat sehingga berkesinambungan dan asuhan keperawatan dapat
berjalan dengan sempurna. Timbang terima dilakukan oleh ketua tim

39
keperawatan kepada ketua tim (penanggung jawab) dinas sore atau dinas
malam secara tertulis dan lisan. Manfaat timbang terima yaitu:
 Bagi perawat
 Meningkatkan kemampuan komunikasi antar perawat
 Menjalin hubungan kerjasama dan bertanggung jawab antar
perawat
 Pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap pasien yang
berkesinambungan
 Perawat dapat mengikuti perkerbangan pasien secara paripurna
 Bagi pasien
Pasien dapat menyampaikan masalah secara langsung bila ada yang
belum terungkap (Nursalam, 2009).

Prosedur Operan:
Prosedur operan dapat dilihat pada table berikut :
Tahap Kegiatan Waktu Tempat Pelaksana

Persiap 1. Operan dilaksanakan setiap pergantian 5 menit Nurse PP dan


an sift. Station Perawat
2. Prinsip operan, terutama pada semua Asosiate
pasien baru masuk dan pasien yang
dilakukan operan khususnya pasien yang
memiliki permasalahan yang belum atau
dapat teratasi serta yang membutuhkan
observasi lebih lanjut.
3. PP menyampaikan operan pada PP
berikutnya mengenai hal yang perlu
disampaikan dalam operan meliputi:
a. Jumlah pasien
b. Identitas pasien dan diagnosa medis
c. Data (keluhan/subjektif dan objektif)
d. Masalah keperawatan yang masih
muncul
e. Intervensi keperawatan yang sudah

40
dan belum dilaksanakan (secara
umum)
f. Intervensi kolaborasi dan dependen
g. Rencana umum dan persiapan yang
perlu dilakukan (persiapan operasi,
pemeriksaan penunjang, dan lain-lain)
Pelaks 1. Kedua kelompok dinas sudah siap 20 Nurse Kepala
anaan 2. Kelompok yang akan bertugas menit Station Ruangan,
menyiapkan buku catatan kecil. PP,
3. Kepala Ruangan membuka acara operan. Perawat
4. Perawat yang melakukan operan dapat Asosiate
melakukan klarifikasi, tanya jawab dan
melakukan validasi terhadap hal-hal yang
telah dioperkan dan berhak menanyakan
mengenai hal-hal yang kurang jelas.
5. Kepala Ruangan menanyakan kebutuhan
dasar pasien. Ruang
6. Penyampaian yang jelas, singkat dan Perawat
padat. an
7. Perawat yang melaksanakan operan
mengkaji secara penuh terhadap masalah
keperawatan, kebutuhan dan tindakan
yang telah atau belum dilaksanakan serta
hal-hal penting lainnya selama masa
perawatan.
8. Hal-hal yang sifatnya khusus dan
memerlukan perincian yang matang
sebaiknya dicatat secara khusus untuk
kemudian diserahterimakan kepada
petugas berikutnya.
9. Lama operan untuk tiap pasien tidak
lebih dari lima menit kecuali pada
kondisi khusus dan memerlukan

41
keterangan yang rumit.
Post 1. Diskusi. 5 menit Nurse Kepala
operan 2. Pelaporan untuk operan dituliskan secara Station Ruangan,
langsung pada format operan yang PP,
ditandatangani oleh Ketua Tim yang jaga Perawat
saat itu dan Ketua Tim yang jaga Asosiate
berikutnya, diketahui oleh Kepala
Ruangan.
3. Ditutup oleh Kepala Ruangan.

Alur Operan
Alur operan dapat dilihat pada gamabr berikut :

PASIEN

DIAGNOSA DIAGNOSA KEPERAWATAN


MEDIS/MASALAH
KOLABORATIF (didukung data)

TINDAKAN

TELAH BELUM
DILAKUKAN DILAKUKAN
PERKEMBANGAN/KEADAAN
PASIEN
MASALAH:
1. TERATASI
2. BELUM TERATASI
3. TERATASI SEBAGIAN
4. MUNCUL MASALAH BARU
b) Kajian Praktis
Dari hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan,
ditemukan bahwa operan dilakukan tiga kali sehari, yaitu setiap
pergantian shift dari malam ke pagi (pukul: 07.30), dari pagi ke sore
(pukul: 13.30), dan dari sore ke malam (pukul: 19.30). Hasil pengamatan
juga menunjukkan bahwa sebagian besar operan dilaksanakan dengan
tepat waktu. Operan diikuti oleh perawat yang telah dan akan dinas.

42
Berdasarkan hasil observasi, kegiatan operan pagi dilaksanakan
pertama di nurse station. Operan ini bersifat general yang dibuka dan
dipimpin oleh Kepala ruangan dan/atau yang mewakili. Setelah operan di
nurse station maka perawat berkeliling langsung ke kamar pasien sesuai
pembagian PP. Pada saat operan jaga ke pasien semua petugas
memperkenalkan nama yang akan bertugas berikutnya ke pasien. Kegiatan
operan dibuka dan ditutup oleh kepala ruangan atau yang mewakili dan
sebelum dilaksanakan operan, terlihat adanya doa bersama saat shift pagi
saja. Ketika operan shift dari pagi ke sore dan dari sore ke malam tidak
dilakukan operan keliling atau ke pasien dan tidak dilakukan perkenalan
oleh perawat yang akan bertugas berikutnya. Operan jaga dilakukan secara
umum terkait kondisi pasien dan operan tentang penyampaian tindak
lanjut obat pasien dilakukan saat pasien mendapatkan terapi obat lanjut
dan untuk pasien yang mendapatkan terapi lanjut dicatat di buku
dokumentasi. Metode operan yang digunakan di ruangan Kamboja
mengacu pada metode SOAP (Subyektif, Obyektif, Assessment dan
Planning).
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan perawat jaga
di ruang Kamboja, untuk pelaporan operan jaga selama ini dilakukan
secara rutin dengan cara lisan dan tertulis yang dibuat oleh perawat
masing – masing dengan catatan kecil dan untuk pendokumentasiannya.
Dari hasil data di atas, jika ditinjau dari segi penerapan MPKP di
sebuah ruangan, dapat disimpulkan dimana operan pasien di ruang
Kamboja sudah dilakukan setiap operan jaga, namun perawat saat operan
terkadang belum melakukan perkenalan perawat jaga berikutnya ke pasien
secara langsung dan dalam operan shift dari pagi ke sore dan dari sore ke
malam tidak dilakukan operan keliling atau ke pasien.

2) Ronde Keperawatan
a) Kajian Teori
Metode keperawatan primer merupakan salah satu metode
pemberian pelayanan keperawatan dimana salah satu kegiatannya adalah
ronde keperawatan, yaitu suatu metode untuk menggali dan membahas
secara mendalam masalah keperawatan yang terjadi kepada pasien dan
43
kebutuhan pasien akan keperawatan yang dilakukan oleh PP/PA, konselor,
kepala ruangan dan seluruh tim keperawatan dengan melibatkan secara
langsung sebagai fokus kegiatan.
Ronde keperawatan akan memberikan media bagi perawat untuk
membahas lebih dalam masalah dan kebutuhan pasien serta merupakan
suatu proses belajar bagi perawat dengan harapan dalam meningkatkan
kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotor. (Nursalam, 2011). Kriteria
pasien untuk ronde keperawatan antara lain Mempunyai masalah
keperawatan yang belum teratasi meskipun sudah dilakukan tindakan, atau
pasien dengan kasus baru atau langka
Menurut Nursalam (2011), manfaat dari ronde keperawatan adalah :
 Masalah pasien dapat teratasi
 Kebutuhan pasien dapat tepenuhi
 Terciptanya komunitas keperawatan yang profesional
 Terjalin kerjasama antara tim kesehatan
 Perawat dapat melaksanakan model asuhan keperawatan dengan tepat
dan benar.
Peran Masing – Masing Anggota Tim
 Peran perawat primer dan perawat pelaksana :
 Menjelaskan data pasien yang mendukung masalah pasien
 Menjelaskan diagnosa keperawatan
 Menjelaskan intervensi yang dilakukan
 Menjelaskan hasil yang didapat
 Menjelaskan rasional (alasan ilmiah) tindakan yang diambil
 Menggali masalah – masalah pasien yang belum terkaji.
 Peran Perawat Konselor :
 Memberikan justifikasi
 Memberikan reinforcement
 Memvalidasi kebenaran dari masalah dan intervensi keperawatan
serta rasional tindakan
 Mengarahkan dan koreksi
 Mengintegrasikan konsep dan teori yang telah dipelajari

44
Langkah – Langkah Kegiatan Ronde Keperawatan
Langkah – langkah dan kegiatan ronde keperawatan dapat disajikan
dalam skema berikut :

b) Kajian Praktis
Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala ruangan dan perawat,
ronde dilakukan dalam lingkup IRNA C, yaitu Ruang Angsoka 1, Ruang
Angsoka 3, Ruang Kamboja, dan Ruang Bakung (Bakung Barat dan
Bakung Timur) secara bergiliran tiap 1 bulan sekali. Ronde sebelumnya
dilaksanakan pada bulan Maret oleh Ruang Angsoka 1. Ronde dilakukan
mengenai kasus yang dipermasalahkan di setiap ruangan dengan memilih
pasien komplek. Dari awal tahun 2018 ini, ruang Kamboja belum
melaksanakan ronde keperawatan. Biasanya saat dilakukan ronde yang
datang hanya perwakilan anggota ruangan lain dan pihak dari IRNA C.
Ronde keperawatan dilakukan dengan alur penetapan kasus atau topik
ronde yang ditetapkan dengan kriteria lama perawatan dan tidak adanya
perbaikan kondisi setelah perawatan.

45
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan, dimana
pelaksanaan ronde keperawatan di ruang Kamboja belum dilakukan sejak
awal tahun 2018.

3) Pengelolaan Sentralisasi Obat


a) Kajian Teori
Sentralisasi obat adalah pengolahan obat dimana seluruh obat yang
akan diberikan kepada pasien diserahkan pengolahan sepenuhnya oleh
perawat (Nursalam, 2011). Dalam teknik pengelolaan obat akan dilakukan
sepenuhnya oleh perawat dengan acuan sebagai berikut:
 Penanggung jawab pengelola obat adalah kepala ruangan yang secara
operasional dapat mendelegasikan kepada staf yang ditunjuk.
 Keluarga wajib mengetahui dan ikut serta mengontrol penggunaan
obat serta menandatangani surat persetujuan sentralisasi obat.
 Penerimaan Obat :
 Obat yang telah diresepkan ditunjukan kepada perawat dan obat
yang telah diambil oleh keluarga diserahkan kepada parawat
dengan menerima lembar serah terima.
 Perawat menuliskan nama pasien, register, jenis obat, jumlah dan
sediaan dalam kartu kontol obat dan diketahui (ditandatangani)
oleh keluarga atau pasien dalam buku masuk obat, kemudian
pasien dan keluarga mendapat penjelasan tentang kapan/bilamana
obat tersebut akan habis.
 Pasien atau keluarga selanjutnya mendapat kartu kontrol obat.
 Obat yang telah diserahkan selanjutunya disimpan oleh perawat
dalam kotak obat (Nursalam, 2011).
 Pembagian obat dan penyimpanan persediaan obat :
 Obat yang telah diterima untuk selanjutnya disiapkan untuk
diberikan pada pasien.
 Obat yang telah disiapkan selanjutnya diberikan oleh perawat
dengan terlebih dahulu dicocokan dengan terapi yang
diinstruksikan dokter.

46
 Pada saat memberikan obat, terlebih dahulu perawat
menginformasikan kepada pasien tentang macam, kegunaan obat,
jumlah obat yang diberikan dan efek samping. Usahakan tempat
obat kembali ke perawat setelah obat dikonsumsi/disuntikan.
 Mencatat kembali dalam buku/lembar pemberian obat setelah obat
diberikan kepada pasien.
 Sediaan obat yang ada selanjutnya diperiksa setiap pagi oleh
kepala ruangan atau petugas yang ditunjuk dan didokumentasikan
dalam buku obat masuk. Obat yang hampir habis akan
diinformasikan pada keluarga dan kemudian akan dimintai resep
(jika masih diperlukan) kepada dokter penanggung jawab pasien.
 Lemari obat selalu diperiksa dengan keamanan mekanisme kunci,
penempatan obat dipisahkan antara obat oral (untuk diminum)
maupun obat injeksi maupun obat luar (Nursalam, 2011).
 Penambahan obat baru :
 Bilamana tedapat penambahan atau perubahan jenis, dosis atau
perubahan alur pemberian obat, maka informasi ini akan
dimasukan dalam buku / lembar pemberian obat.
 Pada pemberian obat yang bersifat tidak rutin (sewaktu saja),
maka dokumentasi hanya dilakukan pada pemberian obat dan
kemudian diinfomasikan pada keluarga (Nursalam, 2011).

47
Alur pengelolaan sentralisasi obat dapat dilihat pada skema berikut :

b) Kajian Praktis
Di ruang Kamboja, peresepan obat dilakukan secara e-prescription
oleh dokter, dimana resep langsung diinput ke Depo Obat Sentral. Untuk
resep obat tertentu, seperti misalnya Morfin selain di input melalui e-
prescription juga harus dibuatkan resep obat tertulis disertakan tanda
tangan dokter. Itu dikarenakan permintaan BPJS sebagai kelengkapan
administrasi. Setelah obat dan alat diterima di ruangan, obat dan alat
tersebut akan diperiksa apakah sudah sesuai dengan pemesanan. Obat dan
alat nantinya akan dipisahkan tempat penyimpanannya. Berdasarkan hasil
observasi ditemukan bahwa penempatan obat dilakukan berdasarkan
dengan nama pasien, tanggal lahir pasien, nomor RM pasien dan bed serta
ruangan pasien. Namun saat dilakukan pemisahan obat, belum berisikan
keterangan apakah pasien merupakan pasien BPJS atau pasien Umum,
sehingga terkadang obat pasien umum diambil untuk pasien BPJS ataupun
sebaliknya. Obat dipisahkan berdasarkan jenis obatnya seperti obat oral
dan obat injeksi. Obat oral diletakkan di dalam toples dan obat injeksi
diletakkan di keranjang bersama dengan alat yang lainnya (seperti : infuse
set, threeway, spuit, dll) dan untuk cairan infuse ditelatkkan di belakang
keranjang obat tetapi tetap dalam satu loker. Untuk obat high alert
disimpan tidak bersamaan dengan kotak obat pasien secara umum,

48
melainkan disimpan di kotak khusus obat high alert di dalam lemari dalam
kondisi terkunci. SOP pemberian obat di ruangan Kamboja mengacu pada
prinsip 6 benar (benar nama pasien, nama obat, dosis obat, cara
pemberian, waktu, dan dokumentasi). Jika pasien pulang maka akan
diresepkan obat pulang dan sisa – sisa obat pasien akan dicatat kemudian
dilakukan return ke Depo Obat Sentral
Sentralisasi obat di ruang Kamboja RSUP Sanglah dapat dilihat pada
gambar berikut :

Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan dimana penyimpanan


atau sentralisasi obat yang diterapkan sudah sepenuhnya mengacu pada
program MPKP, dimana penyimpanan obat didasarkan pada jenis obat
yaitu penyimpanan antara obat oral dan injeksi diletakan dalam wadah
yang berbeda dan dalam pemberian obat perawatan mengacu pada prinsip
6 benar.

4) Supervisi
a) Kajian Teori
Supervisi merupakan upaya untuk membantu pembinaan dan
peningkatan kemampuan pihak yang disupervisi agar mereka dapat
melaksanakan kegiatan yang telah ditetapkan secara efisien dan efektif
(Sudjana D, 2004 dalam Nursalam, 2011).
Menurut Depkes (2000), supervisi keperawatan adalah kegiatan
pengawasan dan pembinaan yang dilakukan secara berkesinambungan
oleh supervisor yang mencakup masalah pelayanan keperawatan, masalah

49
ketenagaan dan peralatan agar pasien mendapat pelayanan yang bermutu
setiap saat.

Unsur – unsur pokok dalam supervisi menurut Azwar (1996) adalah:


 Pelaksana
Adalah atasan yang memiliki kelebihan dalam pengetahuan dan
keterampilan.
 Sasaran
Sasaran atau objek dari supervisi adalah pekerjaan yang dilakukan oleh
bawahan yang melakukan pekerjaan.
 Frekuensi
Supervisi harus dilakukan dengan frekuensi yang berbeda. Supervisi
yang dilakukan hanya sekali, bukankah supervisi yang baik. Tidak ada
pedoman yang pasti tentang seberapa sering supervisi dilakukan,
tergantung derajat kesulitan pekerjaan.
 Tujuan
Tujuan supervisi adalah memberikan bantuan kepada bawahan secara
langsung sehingga bawahan memiliki bekal yang cukup untuk dapat
melaksanakan tugas atau pekerjaan dengan hasil baik.
 Teknik
Kegiatan pokok pada supervisi pada dasarnya mencangkup empat hal
pokok yaitu menetapkan masalah dan prioritas, menetapkan penyebab
masalah atau prioritas/jalan kelua, melaksanakan jalan keluar, menilai
hasil yang dicapai untuk tindak lanjut berikutnya. Teknik supevisi ada
dua yaitu dengan pengamatan langsung dan kerjasama.

50
Alur pelaksanaan supervisi dapat dilihat pada gambar berikut :

b) Kajian Praktis
Berdasarkan hasil wawancara dengan Inventaris ruangan di
Kamboja, selama ini supervisi dilakukan oleh tim supervisor RSUP
Sanglah setiap hari pada waktu sore dan malam. Supervisi dilakukan oleh
petugas yang telah ditunjuk berdasarkan jenjang pendidikan dan juga
pengalaman kerja perawat. Di ruang Kamboja telah dilaksanakan
supervisi dan biasanya supervisi dilakukan oleh koordinator pelayanan
dan koordinator administrasi, kepala ruangan kepada PP dan dari PP ke
PA pada saat timbang terima selama pelayanan keperawatan dilakukan di
Ruang Kamboja. Pelaksanaaan supervisi telah dilakukan sesuai dengan
standar operasional prosedur.
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan dimana
pelaksanaan supervisi di ruangan Kamboja sudah dilakukan mengacu
pada pedoman MPKP.

51
5) Penerimaan Pasien Baru
Setelah dilakukan wawancara dengan perawat, dikatakan bahwa di ruang
Kamboja telah dilakukan orientasi pasien baru secara lisan dan sudah terdapat
standar operasional penerimaan pasien baru, serta sudah terdapat lembar
orientasi pasien. Penerimaan pasien langsung dilakukan di ruang perawat dari
perawat poli/IGD ke perawat ruangan serta perawat ruangan membawa pasien
menuju ruang rawat inap. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu
perawat di ruang Kamboja, penerimaan pasien baru sudah dilaksanakan oleh
perawat ruangan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan dimana pelaksanaan
orientasi ruangan terhadap pasien baru di ruang Kamboja sudah dilakukan dan
sudah sesuai dengan program MPKP.

6) Discharge Planning
Dari hasil wawancara dengan perawat jaga, discharge planning sudah
dilakukan di ruang Kamboja mengenai waktu kontrol kembali dan obat –
obatan yang harus diminum di rumah, aktifitas dan istirahat, hasil lab/ foto/
ECG jika ada, dan surat keterangan istirahat. Pasien juga mendapatkan HE
tentang cara perawatan di rumah. Biasanya HE yang diberikan secara lisan
tanpa menggunakan leaflet karena leaflet tidak tersedia. Pasien yang akan
keluar dari rumah sakit dibuatkan ringkasan keluar (resume) yang disimpan di
rekam medis pasien.
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan dimana pemberian
discharge planning sudah dilakukan dengan baik di dalam Ruang Kamboja dan
sudah sesuai dengan penerapan MPKP.

7) Metode/Standar/Pedoman/Protap
Ruang Kamboja merupakan ruang perawatan kelas 3 untuk perawatan
pasien Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT). Ruang Kamboja memiliki 2
kamar yaitu kamar Selatan bed 1-10 untuk laki – laki dan kamar Utara bed 11-
20 untuk perempuan. Di ruangan sudah terdapat SOP (Standar Operasional
Prosedur) dan SAK (Standar Asuhan Keperawatan) yang berisi tentang
pedoman – pedoman tata cara tindakan keperawatan. Tindakan keperawatan

52
yang dilakukan di ruangan juga sudah mengacu pada SOP dan SAK yang
dimiliki ruangan
Berikut ini foto SOP dan SAK yang berhasil didokumentasikan dari ruang
Kamboja :

Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa ruang


Kamboja sudah memiliki standar ataupun pedoman berupa SOP dan SAK
yang sudah dilakukan dengan baik di dalam Ruang Kamboja dan sudah sesuai
dengan penerapan MPKP.

8) Dokumentasi Keperawatan
Di ruang Kamboja RSUP Sanglah telah memiliki format
pendokumentasian. Format dokumentasi perawatan pasien yang digunakan di
ruang Kamboja dapat dilihat pada table berikut :

Yang
No Uraian Form
Melengkapi
1. Form : RM 6.1 Discharge summary Dokter
2. Form : RM 6.2 Catatan Keperawatan Pemulangan pasien Perawat
3. Form : RM 1.1 General Consent Rawat Inap Perawat
4. Form : RM 1.2 General Consent Rawat Jalan (dari IGD) Perawat

53
5. Form : RM 1…. Informed consent Dokter
6. Form : RM 1.12 Pengkajian Kebutuhan edukasi pasien dan Perawat
keluarga
7. Form : RM 5…. Pengkajian keperawatan RI Perawat
8. Form: RM.10.2.2 Form Triage Obgyn Dokter
9. Form : RM.10.3 Pengkajian Keperawatan Gawat Darurat Perawat
10. Form : RM 12.1 Pengkajian Gizi RI, Gizi Anak, Gizi Ahli Gizi
Geriatrik
11. Form : RM. 2.1 Catatan perkembangan pasien terintegrasi Perawat
12. Form : RM. 2.1.1 Catatan Timbang terima pasien- SBAR Perawat
13. Form : RM. 2.2 Catatan Pemindahan Pasien antar ruangan Perawat
14. Form : RM. 2.2.1 Catatan Pemindahan Pasien antar RS Perawat
15. Form : RM. 5.20 Rencana dan Implementasi Perawat
16. Form : RM. 2.3 Catatan Observasi Komprehensif Perawat
17. Form : RM. 2… Observasi /Monitoring Perawat
18. Form : RM. 2.8 Keseimbangan Cairan Perawat
19. Form : RM. 2.12 Monev Transfusi Darah (Label Darah Perawat
Klip)

Tabel Dokumentasi Asuhan Keperawatan :

No 5 Langkah Standar Fakta Kesenjangan

1 Pengkajian 1. Mencatat data yang dikaji sesuai Berdasarkan 8 Sudah sesuai


dengan pedoman pengkajian les pasien yang dengan
2. Data dikelompokkan secara diambil, standar
komprehensif (indikator ditemukan
pengkajian jiwa: identitas, alasan poin/kolom
masuk, faktor predisposisi, pengkajian
pemeriksaan fisik psikososial, sudah lengkap.
status mental, kebutuhan
perencanaan pulang)
3. Data dikaji sejak pasien masuk
sampai pulang

54
4. Masalah dirumuskan berdasarkan
kesenjangan antara status
kesehatan fisik dan atau mental
dengan norma dan pola fungsi
kehidupan
5. Singkatan/istilah yang digunakan
berlaku secara umum (ada daftar
singkatan dan istilah yang di
putuskan oleh RS dan disebarkan
ke rumah sakit)
6. Tidak ada aspek pengkajian/no,
kolom pengkajian yang kosong
7. Data identitas pasien tertulis
lengkap (nama, umur, jenis
kelamin, no. RM)
8. Dapat diidentifikasi dengan jelas
oleh perawat yang melakukan
pengkajian dan waktu pelaksanaan
pengkajian (tanggal, jam , nama
lengkap perawat yang mengkaji
dan ttd perawat)
2 Diagnosis 1. Diagnosis keperawatan ditegakkan Berdasarkan Sudah sesuai
berdasarkan analisis data sesuai dari 8 les dengan
dengan temuan data maladaptif pasien yang standar
selama pengkajian berlangsung diambil dan
2. Diagnosis keperawatan dari hasil
dirumuskan berdasarkan observasi,
buku/dasar acuan keperawatan didapatkan
3. Diagnosa keperawatan dibuat oleh hasil bahwa
Katim diagnosis
4. Ada nama lengkap perawat dan keperawatan
tanda tangan perawat yang dibuat tidak
merumuskan diagnosis hanya oleh PP

55
5. Katim memperbaharui rumusan tapi juga
diagnosis sesuai dengan dibuat oleh
perkembangan assesment/analisis PA, tidak ada
pada evaluasi sesuai indikator pembaharuan
SOAP (Subjective, Objective, rumusan
Assesment, Planning) diagnosis.

3 Perencanaan 1. Perencanaan asuhan keperawatan Berdasarkan Belum sesuai


sesuai dengan diagnosis dari 8 les dengan
keperawatan pasien yang standar
2. Perencanaan asuhan keperawatan diambil,
disusun menurut urutan prioritas ditemukan data
tindakan yang berdasarkan bahwa poin
prioritas pemilihan diagnosis yang tidak
sesuai dengan core problema dan dilakukan
etiologi adalah pada
3. Rumusan tujuan dilengkapi dengan poin
kriteria hasil sesuai dengan konsep perencanaan
SMART yaitu harus spesifik asuhan
(specific), bisa diukur keperawatan
(measureable), bisa diterima sudah
(achieveable), bisa dipercaya berdasarkan
(reliable), waktu yang terukur metode
(timeable) SMART dan
dengan mengandung komponen berdasarkan
perubahan ke arah positif kondisi buku acuan
klinis pasien. asuhan
4. Rencana tindakan mengacu pada keperawatan
tujuan dengan kalimat perintah, dengan
terinci dan jelas dan atau indicator
melibatkan pasien /keluarga tujuan dan
5. Rencana tindakan komprehensif : criteria hasil,
mengandung rencana tindakan rencana
independen, dependen, tindakan yang

56
interdependen melibatkan
keluarga dan
secara
komprehensif.

4 Implementasi 1. Implementasi dilaksanakan Berdasarkan Sudah sesuai


mengacu pada rencana dari 8 les dengan
keperawatan pasien yang standar
2. Bukti implementasi dicatat diambil,
langsung pada format yang resmi, ditemukan
terdapat tanggal, jam, no bahwa
diagnosis. dokumentasi
3. Rumusan kalimat implementasi implementasi
menggunakan kalimat aktif asuhan
4. Singkatan/istilah yang digunakan keperawatan
berlaku secara umum sudah
5. Perawat yang melakukan tindakan dilengkapi
adalah perawat yang dengan nama
mendokumentasikan tindakan dan paraf
tersebut. perawat yang
6. Setiap tindakan keperawatan yang melakukan;
telah dilakukan kepada pasien terdapat format
didokumentasikan dengan pemberian
dilengkapi nama lengkap dan paraf obat injeksi
perawat yang melakukan. maupun oral.
7. Format pemberian obat injeksi
terisi secara lengkap dan benar
sesuai kolom yang tersedia dalam
format
8. Format pemberian obat oral terisi
secara lengkap dan benar sesuai
kolom yang tersedia dalam format
5 Evaluasi Evaluasi Formatif Berdasarkan Sudah sesuai
1. Setiap tindakan yang dilakukan dari 8 les dengan

57
kepada pasien, perawat pasien yang standar
memonitoring respon pasien dan diambil,
dicatat pada kolom evaluasi sejajar ditemukan data
dengan kalimat implementasi bahwa sudah
keperawatan tersebut dilakukan
2. Perawat melakukan evaluasi evaluasi
perkembangan kondisi pasien sumatif, dikaji
(Progress Note) pada saat sebelum respon
operan shift jaga dengan subjektif
menggunakan teknik SOAP sesuai dengan
3. Penulisan lengkap : SOAP;
S : keluhan pasien/keluarga evaluasi
pasien, formatif
O : hasil pengamatan, pengukuran, dilakukan per
pemeriksaan fisik, pemeriksaan tindakan
penunjang terakhir implementasi.
A : masalah yang sudah teratasi,
masalah yang belum teratasi,
masalah baru yang muncul)
P : perencanaan perawatan
independen, rencana tindakan
dokter (fisik/penunjang) rencana
terapi/perubahan terapi, dan
rencana penatalaksanaan pasien
lainnya)
4. Dicatat lengkap dan tercantum
nama dan paraf perawat yang
melakukan
Evaluasi Sumatif
5. Pada saat pasien pulang evaluasi
sumatif dengan teknik SOAP
ditulis lengkap seperti di atas
6. Pada saat pasien pulang, perawat

58
merumuskan Disharge Planning
7. Pada saat pasien pulang, perawat
merumuskan Resume Keperawatan
8. Evaluasi sumatif SOAP dibuat
pada saat habisnya kriteria waktu
sesuai tujuan pada setiap aspek
diagnosa
9. Semua poin di atas dilengkapi
nama lengkap dan paraf

Berdasarkan data buku dokumentasi yang ada diruangan, penyediaan


dokumentasi sudah cukup lengkap. Pendokumentasian yang dilakukan di
ruangan secara lisan dan tertulis seperti dokumentasi pelaksanaan timbang
terima, supervisi, dan lainnya sudah dilakukan dengan baik dan sudah sesuai
dengan penerapan MPKP. Selain itu, pelaksanaan pendokumentasian asuhan
keperawatan jug sudah dilakukan dengan cukup baik.

C. PERENCANAAN
1. Kajian Teori
Nursalam (2012) menyatakan bahwa perencanaan adalah suatu keputusan
dimasa yang akan datang tentang apa, siapa, kapan, dimana, berapa, dan bagaimana
yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu yang dapat ditinjau dari proses,
fungsi dan keputusan. Perencanaan yang adekuat dan efektif akan mendorong
pengelolaan sumber yang ada dimana kepala ruangan harus mengidentifikasi tujuan
jangka panjang dan tujuan jangka pendek serta melakukan perubahan. Perencanaan
dapat juga diartikan sebagai suatu rencana kegiatan tentang apa yang harus dilakukan,
bagaimana kegiatan itu dilaksanakan, dimana kegiatan itu dilakukan.

59
2. Kajian Praktis
Saat dilakukan pengkajian baik wawancara maupun observasi, diperoleh data
sebagai berikut:
a. Visi Misi
Dari hawail wawancara yang dilakukan kepada kepala ruangan Kamboja,
dikatakan bahwa ruangan sudah memiliki visi dan misi yang selaras dengan visi
misi RSUP Sanglah. Visi ruang Kamboja yaitu “menjadi Instalasi Rawat Inap
rujukan nasional kelas dunia tahun 2019”. Sementara Misi ruang Kamboja yaitu :
1) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan interprofesi yang paripurna, bermutu
untuk seluruh lapisan masyarakat.
2) Menyelenggarakan pendidikan tenaga kesehatan yang professional dan
berdaya saing, serta menyelenggarakan penelitian dalam bidang kesehatan
berbasis rumah sakit.
3) Menyelenggarakan kemitraan dengan pemangku kesehatan terkait.
4) Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan nyaman.
Dari hasil observasi, di ruangan sudah terdapat visi misi, namun tidak dapat
dijangkau maupun dibaca secara mudah oleh pembaca ataupun orang – orang
yang ingin melihat.

b. Rencana Harian
Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan Kamboja, rencana harian di
ruangan seperti SPO, pelayanan, pengorganisasian dan rapat sudah tersusun. Jika
ada hal khusus akan dibuatkan rencana harian baru
Dari hasil observasi, kegiatan harian sudah dilaksanakan sesuai dengan
rencana yang sudah tersusun

D. PENGORGANISASIAN
1. Kajian Teori
Menurut Swansburg (1999) dalam Nursalam (2012), pengorganisasian adalah
pengelompokan aktivitas – aktivitas untuk mencapai tujuan objektif, penugasaan suatu
kelompok manajer dengan autoritas pengawasan setiap kelompok, dan menentukan
cara dari pengoordinasian aktivitas yang tepat dengan unit lainnya, baik menurut
vertikel maupun horizontal, yang bertanggung jawab untuk mencapai objektif
organisasi.
60
2. Kajian Praktis
a. Struktur Organisasi
Dari hasil wawancara saat pengkajian, Karu mengatakan terdapat 2 perawat
primer sebagai pelaksana asuhan keperawatan sesuai susunan organisasi yang
terdapat di dalam ruangan.
Dari hasil observasi, terdapat struktur organisasi yang berada di tembok luar
ruang pergantian perawat. Adapun struktur organisasi di ruang Kamboja RSUP
Sanglah adalah sebagai berikut :

Kepala Instalasi Ka bid


Rawat Inap Keperawatan

Koordinator Pelayananan Ka. Sie


Keperawatan Dan Umum
Rawat Inap

Kepala Ruang
KAMBOJA

Administrasi/Billing Inventaris

Perawat Primer I Perawat Primer II

Perawat Asosiate Perawat Asosiate

1 Pramu 1

2 1 2

3 2 3

4 4
3
5 5
4
6

61
b. Pengorganisasian Perawatan Klien
Menurut hasil wawancara yang dilakukan dengan karu, diperoleh informasi
bahwa model penugasan yang dilakukan adalah MPKP model keperawatan PP
Modifikasi, dimana terbentuk 2 perawat primer di ruangan.
Dari hasil observasi yang dilakukan, memang benar adanya 2 perawat
primer yang terbagi di ruangan. Pembagian perawatan klien di ruangan ini
menggunakan sistem tenaga perawatan klien berdasarkan jumlah kamar, jadi
setiap perawat pelaksana melakukan tugasnya dikamar yang sesuai dengan PP-nya

c. Uraian Tugas
1) Kepala Ruangan
a) Nama jabatan : Kepala Ruangan
b) Tugas Pokok
Menyelenggarakan pelayanan keperawatan dan membantu penyediaan
fasilitas pelayanan di ruang rawat inap di IRNA C.
c) Fungsi
Membantu KaUPP dan Ka IRNA C dalam penyelengaraan pemberian
pelayanan kepada pasien dan administrasi ruangan di IRNA C.
d) Uraian tugas :
 Mengatur dan mengendalikan pelaksanaan asuhan / pelayanan
keperawatan ruangannya
 Menyusun dan mengembangkan staf, kebutuhan alat, fasilitas, sarana,
dan prasarana
 Mengatur dinas dan membagi tugas staf bulanan/ mingguan dan harian
secara tertulis
 Memonitor absen harian
 Memantau dan membina penerapan etika keperawatan pada tiap
individu staf
 Melakukan bimbingan dan pengawasan pelaksanaan asuhan
keperawatan pada tiap individu pasien
 Menyosialisasikan peraturan / kebijakan pimpinan dan mengkaji
masukan – masukan dalam meningkatan mutu asuhan / pelayanan
keperawatan

62
 Mengawasi dan mnilai system pencatatan dan pelaporan asuhan
keperawatan tiap – tiap pasien
 Mengendalikan penyelenggaraan tata usaha ruangan
 Mengatur pemanfaatan alat / dan sumber – sumber untuk efisiensi
 Membuat laporan rutin dan insidential tentang pelaksanaan asuhan /
pelayanan keperawatan dan etika keperawatan
e) Tanggung jawab :
 Bertanggung jawab kepada KaUPP IRNA C
 Bertanggungj awab terhadap kegiatan administrasi ruangan di IRNA C
f) Wewenang
Berwewenang melakukan segala kegiatan audit pelayanan perwatan di
ruang IRNA C sesuai dengan surat tugas dari KaUPP
2) Perawat Primer
a) Nama jabatan : perawat primer
b) Tugas pokok
Melakukan asuhan keperawatan pada pasien secara holistic, paripurna,
adil dan bermutu
c) Fungsi
Membantu Kepala Ruangan dalam menjalankan Asuhan Keperawatan
pada pasien rawat inap
d) Uraian tugas
 Memberikan asuhan keperawatan rawat inap (pengkajian, perencanaan,
implementasi, evaluasi) secara holistic
 Melakukan penilaian risiko, seperti risiko dikubitus, penilaian risiko
jatuh, penilaian nutrisi, penilaian nyeri, dan penilaian infeksi
nosocomial
 Memiliki pengetahuan setiap kondisi pasien dan rencana keperawatan
untuk memenuhi kebutuhan pasien
 Mampu mendelegasikan pelayanan keperawatan secara tepat kepada
anggota tim
 Melakukan prioritas rencana keperawatan, memberikan justifikasi dan
manajemen waktu secara efektif

63
 Melakukan dokumentasi semua aspek keperawatan pasien secara
efektif, akurat dan jelas
 Mengembangkan hubungan terapeutik yang kuat dengan pasien dan
atau anggota keluarga pasien
 Berhubungan secara langsung dengan kepala ruangan dan tim
kesehatan lain tentang kondisi dan rencana perawatan pasien
 Membantu tim untuk memahami upaya keselamatan pasien dan
bagaimana meminimalkan risiko terhadap pasien
 Berkontribusi secara langsung dalam pengembangan praktik klinik
profesi keperawatan
 Berperan sebagai role model yang efektif
 Berperan dalam kepemimpinan yang bertanggung jawab dan relevan
dengan pelayanan keperawatan
 Berpartisispasi dalam program peningkatan mutu dan prosedur
pemantauan kualitas suatu mutu (quality assurance)
 Menerapkan prinsip – prinsip pengendalian infeksi seperti cuci tangan,
prosedur aseptic secara tepat
 Menerapkan pasien safety melalui identifikasi resiko, pelaporan insiden
serta menjaga lingkungan kerja yang aman, bersih dan mengutamakan
keselamatan pasien
e) Tanggung jawab
Perawat Primer bertanggung jawab kepada kepala ruang terhadap
pemberian asuhan keperawatan pasien secara holistic, adil, bermutu dan
paripurna
f) Wewenang
 Membantu perencanaan asuhan keperawatan
 Melakukan koordinasi dengn kepala ruangan, tim kesehatan lain dan
unit terkait
 Melakukan pendelegasian tugas kepala ruangan bila pagi hari tidak
bertugas
 Mendelegasikan tugas kepda PA pada sore, malam dan hari libur
 Membuat administrasi ruangan
 Melakukan asuhan keperawatan sesuai standar

64
 Membuat pembagian tugas PA berdasarkan tingkat ketergantungan
 Melakukan diskusi kasus (pre conferebce dan post conference)
 Melakukan pembinaan dan bimbingan PA
 Melakukan discharge planning
 Melakukan monitoring evaluasi asuhan keperawatan
3) Perawat associate
a) Nama jabatan : perawat associate
b) Tugas pokok
Memberi asuhan keperawatan kepada pasien bersama perawat primer
secara holistic, paripurna, adil dan bermutu
c) Fungsi
Membantu pelaksanaan asuhan keperawatan kepada pasien rawat inap
d) Uraian tugas
 Memberikan asuhan keperawatan rawat inap (pengkajian, perencanaan,
implementasi, evaluasi) secara holistic
 Melakukan penilaian risiko, seperti risiko decubitus, penilaian risiko
jatuh, penilaian nutrisi, penilaian nyeri, dan penilaian infeksi
nosocomial
 Mampu menjelaskan patofisiologi tentang kondisi pasien, menjelaskan
bila ada perubahan status kondisi pasien
 Melakukan prioritas rencana keperawatan, memberikan justifikasi, dan
manajemen waktu secara efektif
 Melakukan dokumentasi semua aspek keperawatan pasien secara
efektif, akurat dan jelas
 Mampu melakukan persiapan peralatan secara lengkap dan benar
sebelum memulai tindakan dan mampu mengetahui bila terjadi
kerusakan peralatan
 Melakukan teknis tindakan keperawatan dasar dan khusus secara aman
akurat
 Menjaga privasi dan rahasia pasien
 Memberikan pelayanan yang professional tanpa memandang status
pasien dan bekerja sesuai standard dan aturan yang berlaku

65
 Mengembangkan komunikasi terapeutik dengan pasien, anggota
keluarga serta berkomunikasi secara efektif dengan tim kesehatan yang
lain
 Menerapkan prinsip – prinsip pengendalian infeksi seperti cuci tangan,
prosedur aseptic secara tepat
 Menunjukkan pengetahuan dan keterampilan baik tentang pemberian
obat (medication administration) secara aman
 Menerapkan pasien safety melalui identifikasi risiko, pelaporan insiden
serta menjaga lingkungan kerja yang aman, bersih dan mengutamakan
keselamatan pasien
 Berpartisipasi aktif di dalam program peningkatan mutu
e) Tanggung jawab
Perawat Associte bertanggung jawab bertanggung jawab kepada perawat
associate dan kepala ruangan terhadap pemberian asuhan keperawatan
pasien secara holistic, adil, bermutu dan paripurna
f) Wewenang
 Mengusulkan perencanaan askep pada PP
 Melakukan koordinasi dengan PP
 Menerima pendelegasian tugas dari PP pada shift sore, malam dan hari
libur
 Melakukan tindakan askep sesuai rekomendasi
 Meningkatkan diskusi kasus (pre conference dan post conference)
 Melengkapi dokumentasi askep dan administrasi

Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan, setiap perawat sudah


mempunyai uraian tugas masing – masing bagi tiap tenaga keperawatan. Batas
wewenang dan tanggung jawab perawat cukup jelas dengan dibuat job discription
di masing – masing ruangan. Sementara, dari hasil observasi, di ruangan sudah
ada buku uraian tugas perawat.

66
d. Pendokumentasian Asuhan Keperawatan
Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan, didapatkan informasi bahwa
pendokumentasian asuhan keperawatan sudah sesuai dengan format yang ada
yang sudah disepakati bersama antara kepala ruang.
Sementara itu, dari hasil obseravasi, sudah tersedia lembar penulisan
standar asuhan keperawatan. Seperti lembaran implementasi, catatan terintergrasi,
lembar evaluasi, keseimbangan cairan, pengkajian keperawatan, dll

e. Pengaturan Jadwal Dinas


Dari hasil wawancara dengan kepala ruangan, pengaturan shif yang
dilakukan oleh Kepala ruang disesuaikan dengan jumlah perawat yang ada di
ruangan, karena disesuaikan dengan kondisi Rumah Sakit. Pengaturan jadwal jaga
perawat primer berbeda dengan perawat pelaksana, pada perawat primer jadwal
jaga adalah setiap hari Senin – Sabtu dan hanya shif pagi serta libur pada hari
Minggu maupun hari libur nasional. Sementara jadwal shif perawat pelaksana
adalah dengan pola pagi, sore, dan malam. Bila ada perawat pelaksana yang ingin
menukar jadwal jaganya, maka sebisa mungkin dilakukan dengan PP yang sama,
dan mengatakannya dari jauh – jauh hari.
Dari hasil observasi, format daftar shif di ruangan menggunakan proporsi
jumlah perawat yang ada. Jumlah perawat yang dinas pada sore atau malam hari
berkisar antara 2 – 3 orang.

E. PENGARAHAN
1. Kajian Teori
Menurut Nursalam (2012), pengarahan (Direction) merupakan keinginan
untuk membuat orang lain mengikuti keinginannya dengan menggunakan kekuatan
pribadi atau kekuasaan jabatan secara efektif dan pada tempatnya demi kepentingan
jangka panjang perusahaan, termasuk di dalamnya memberitahukan orang lain apa
yang harus dilakukan dengan nada yang bervariasi mulai dari nada tegas sampai
meminta. Tujuannya adalah agar tugas – tugas dapat terselesaikan dengan baik.
Tujuan dari pengarahan adalah agar tugas – tugas dapat terselesaikan dengan
baik, selain itu pengarahan juga merupakan tugas dari seorang pemimpin dalam
manajement suatu team atau organisasi. Selain itu pengarahan juga merupakan
kegitan kepemimpinan, motivasi dan bimbingan.
67
Dalam pengarahan, komunikasi merupakan salah satu hal yang terpenting. Jika
tidak terbinanya komunikasi yang baik, maka dalam penyampaian informasi, laporan
dan berita pada suatu organisasi atau team tersebut akan mengalami hambatan –
hambatan.

2. Kajian Praktis
Selama pengamatan di ruang Kamboja RSUP Sanglah, pengarahan biasanya
dilakukan di pagi hari saat operan yang diberikan oleh kepala ruangan kepada seluruh
staff pegawai (perawat) yang shift pada saat itu. Jika ada masalah di ruangan atau
pada pasien, maka pada saat itu juga bisa dibicarakan dan didiskusiakan untuk
mendapatkan solusis atau jalan keluarnya.
Untuk pendelegasian tugas di ruang Kamboja, biasanya dilakukan dengan cara
menulis di buku pendelegasian tugas. Jika misalnya karu ada keperluan atau
kepentingan, maka bisa digantikan oleh inventaris atau perawat lainnya. Dan tentu
pendelegasian dilakukan dengan menulis keterangan tugas yang didelegasikan di buku
delegasi dan juga dengan cara verbal memberitahu teman yang akan didelegasikan.
Untuk peningkatan motivasi, dilakukan oleh rumah sakit baik secara langsung
maupun tidak langsung, misalnya diklat secara rutin mengadakan pelatihan. Selain
memberikan pelatihan kepada perawat yang memiliki kinerja yang bagus, kepada
perawat yang memiliki kinerja kurang juga akan dibina secara langsung oleh karu di
ruangan.

F. PENGAWASAN
1. Kajian Teori
Controlling atau pengawasan dan pengendalian (wasdal) adalah proses untuk
mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja
yang sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi kesalahan. Controlling atau
pengawasan adalah fungsi manajemen dimana peran dari personal yang sudah
memiliki tugas, wewenang dan menjalankan pelaksanaannya perlu dilakukan
pengawasan agar supaya berjalan sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan.
Semua fungsi manajemen yang lain, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi
pengawasan.

68
2. Kajian Praktis
Dari hasil wawancara dan observasi, pengawasan di ruang Kamboja RSUP
Sanglah dilakukan oleh kepala ruangan kepada seluruh staff pegawai (perawat) di
ruangan. Dengan adanya pengawasan ini, diharapkan perawat yang ada di ruangan
dapat meningkatkan keterampilan dan melaksanakan tugasnya dengan baik. Kepala
ruangan juga bisa melakukan evaluasi kepada seluruh staff pegawai (perawat) yang
berada di ruangan untuk mengetahui kinerja para perawat yang ada di ruangan.
Selain itu, rumah sakit juga melakukan kegiatan seperti seminar atau pelatihan
agar para pegawai staff (perawat) mengetahui pembaruan informasi atau ilmu
keperawatan, juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan para pegawainya.
Untuk supervisi biasanya dilakukan pada saat sore atau malam hari yang dilakukan
oleh kepala ruangan dengan cara berkeliling secara bergiliran. Untuk program
pengendalian mutu ini dilakukan oleh tim pengendali mutu.
SOP dan SAK telah ditetapkan di RSUP Sanglah yaitu ada 5: SAK Bedah,
SAK Interna, SAK obgyn, SAK Anak dan SAK Gadar. Masing – masing SAK dibuat
berdasarkan 10 besar penyakit yang paling banyak di RSUP Sanglah, untuk di ruang
Kamboja, sudah ada beberapa kumpulan SAK dan SOP yang di jilid.

G. ANALISIS SWOT
Analisis kelebihan dan kekurangan dari 5M tersebut dijabarkan sebagai berikut :

Bobot X
No Analisis SWOT Bobot Rating Selisih
Rating

1. M1 (Man)
a. Internal Faktor (IFAS) Strength
/ Kekuatan :
1. Jumlah tenaga perawat sudah 0.3 3 0.9
memenuhi standar kebutuhan
dari depkes (perhitungan
depkes diperlukan 12 orang)
atau (13 orang sesuai
perhitungan Douglas dan
Swansburg)

69
2. Telah terdapat tenaga 0.2 2 0.4
keperawatan dengan
pendidikan S1 Keperawatan
yaitu 5 orang.
3. Kinerja ketua tim yang sudah 0.2 2 0.4
kompeten dengan tugas –
tugasnya.
4. Staff keperawatan yang 0.3 3 0.9
mengikuti seminar atau
pelatihan sudah merata. S-W
Total 1 2.6 2.6 – 2 =
0.6
b. Weakness / Kelemahan :
1. Sebagian besar sebaran
1 2 2
perawat di ruangan yang
berpendidikan DIII
Keperawatan lebih banyak
yaitu sebesar 66.66%.
Total 1 2

c. Eksternal Faktor (EFAS)


Opportunity / Peluang :
1. Adanya institusi pendidikan 0.3 4 1.2
yang memberikan kesempatan
bagi para perawat untuk
melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi.
2. Adanya kerjasama dengan 0.4 4 1.6
institusi pendidikan atau
institusi kesehatan yang
memberikan kesempatan untuk
mengikuti pelatihan
3. Adanya kebijakan pemerintah 0.3 2 0.6
tentang profesionalisme

70
perawat
Total 1 3.4 O–T
3.4 – 2.3
d. Threatened / Ancaman :
= 1.1
1. Adanya tuntutan tinggi dari 0.3 2 0.6
masyarakat untuk pelayanan
yang lebih professional
2. Makin tingginya kesadaran 0.2 3 0.6
masyarakat akan hukum
3. Makin tinggi kesadaran 0.2 1 0.2
masyarakat akan pentingnya
kesehatan
4. Persaingan antar RS yang 0.3 3 0.9
semakin kuat
Total 1 2.3
2. M2 (Money)
a. Internal Faktor (IFAS) Strength
/ Kekuatan
1. Biaya rawat inap cenderung 0.4 3 1.2
terjangkau
2. Pendanaan pelayanan
kesehatan, pemeriksaan, dan 0.3 3 0.9
perawatan sudah diatur secara
sentral oleh rumah sakit
3. Adanya pemberian jasa 0.3 2 0.6
pelayanan perawat.
S–W=
Total 1 2.7
2.7 – 3 =
b. Weakness / Kelemahan
-0.3
1. Aliran pendanaan untuk ruang 1 3 3
Kamboja diatur oleh pusat
sehingga prosedur pengadaan
fasilitas membutuhkan waktu
yang relative lama

71
Total 1 3

c. Eksternal factor (EFAS)


Opportunity
1. Semakin meningkatnya 1 3 3
kebutuhan pelayanan
kesehatan masyarakat
O–T=
Total 1 3
3–2=1
d. Threatened / Ancaman
1. Adanya keterlambatan 1 2 2
pembayaran dari pihak II
Total 1 2

3. M3 (Material)
a. Internal Factor (IFAS) Strength /
Kekuatan
1. Pemilahan sampah medis dan 0.25 4 1
non medis sudah optimal
2. Tersedia peralatan untuk 0.20 3 0.6
pengelolaan sampah medis dan
non medis
3. Tersedia ruang ganti perawat 0.30 2 0.6
4. Pemberian label sudah 0.25 3 0.75
dilakukan secara optimal
S–W=
Total 1 2.95
2.95 –2.5
b. Weakness/Kelemahan = 0.45
1. Alat yang tersedia sudah dapat 0.5 2 1
dioperasikan, namun belum
optimal karna ada beberapa
alat yang rusak 0.5 3 1.5
2. Pengadaan barang ke ruangan
membutuhkan waktu lama
Total 1 2.5

72
c. Eksternal Faktor (EFAS)
Opportunity
1. Adanya pengadaan sarana dan 0.5 3 1.5
prasarana yang rusak dari
bagian pengadaan barang
2. Adanya kesempatan 0.25 3 0.75
menambah anggaran untuk
pembelian tensimeter,
thermometer.
3. Adanya kesempatan untuk 0.25 2 0.5
berkoordinasi dengan petugas
laundry mengenai jumlah linen
yang dibutuhkan. O–T=

Total 1 2.75 2.75 – 2

d. Threatened / Ancaman = 0.75

1. Terdapat tuntutan yang tinggi 0.5 2 1


dari masyarakat dalam
memperoleh perawatan yang
optimal.
2. Adanya tuntutan dari 0.25 1 0.25
masyarakat dalam penggantian
linen yang kotor
3. Adanya tuntutan tinggi dari 0.25 3 0.75
masyarakat untuk pengadaan
alat yang canggih dalam
penunjang diagnostik
Total 1 2
4. M4 (Marketing)
a. Internal Factor (IFAS) Strength /
Kekuatan
1. Pemasaran bangsal sudah 0.4 2 0.8
diatur secara sentral oleh
bagian Humas RSUP Sanglah

73
2. RSUP Sanglah merupakan 0.6 4 1.8
rumah sakit rujukan utama
untuk daerah Bali, NTT, dan
NTB
Total 1 2.6 S–W=
2.6 – 0=
b. Weakness / Kelemahan :
2.6
– 1 0 0

Total 1 0

c. Eksternal faktor (EFAS)


Opportunity:
1. RSUP Sanglah melayani
pasien BPJS 1 3 3

Total 1 3 O–T=
3–3=0
d. Threatened / Ancaman
1. Adanya persaingan dengan
1 3 3
rumah sakit swasta
Total 1 3

5. M5 (Method) MAKP
a. Internal Factor (IFAS) Strength /
Kekuatan
1. Memiliki standar asuhan 0.2 3 0.6
keperawatan
2. Tersedianya resume
keperawatan untuk pasien 0.1 2 0.2
pindah ruang perawatan.
3. Adanya kemampuan dari
perawat untuk memberikan 0.2 2 0.4
pendidikan kesehatan pasien
dan keluarga
4. Sudah dilakukam pengamatan 0.1 3 0.3

74
kinerja masing-masing PP.
5. Terdapat ruang untuk tempat
0.1 3 0.3
lemari sentralisasi obat di
Ruang Kamboja
6. Format dokumentasi asuhan
0.1 4 0.4
keperawatan, catatan medis
dan catatan keperawatan
pasien diletakkan dalam satu
rekam medis.
7. Sudah memiliki SOP untuk 0.2 3 0.6
setiap tindakan keperawatan
S–W=
Total 1 2.8
2.8 –
b. Weakness / Kelemahan 2.4= 0.4
1. Pelaksanaan timbang terima
0.4 3 1.2
belum dilaksanakan secara
optimal dengan tidak
melakukan observasi langsung
ke pasien saat timbang terima
2. Sentralisasi penyimpanan obat 0.3 2 0.6
belum dipisihkan antara
tempat obat BPJS dan obat
Umum
3. Ronde keperawatan untuk
0.3 2 0.6
ruang Kamboja selama tahun
2018 belum pernah
dilaksanakan

Total 1 2.4

c. Eksternal faktor (EFAS)


Opportunity
0.2 2 0.4
1. Adanya misi rumah sakit
memberikan pelayanan
kesehatan yang profesional

75
dan bermutu
2. Terdapat program supervisi di
0.2 3 0.6
ruangan.
3. Adanya kerjasama dengan
instansi pendidikan kesehatan
0.2 3 0.6
sehingga dapat memberikan
masukan dalam pelaksanaan
supervisi.
4. Adanya kerjasama yang baik
dengan instansi kesehatan 0.2 2 0.4
dalam meningkatkan proses
pengobatan.
5. Adanya peluang perawat 0.2 3 0.6
untuk meningkatkan
pendidikan
Total 1 2.6 O–T=
2.6 – 2.4
d. Threatened / Ancaman
= 0.2
1. Adanya tuntutan masyarakat
0.2 2 0.4
yang semakin tinggi terhadap
peningkatan pelayanan
keperawatan yang lebih
professional
2. Kebebasan pers 0.2 3 0.6
mengakibatkan mudahnya
penyebaran informasi di
dalam ruangan ke masyarakat
3. Adanya persaingan rumah
0.2 3 0.6
sakit yang menuntut pelayanan
yang lebih professional
4. Adanya tuntutan yang lebih
0.2 2 0.4
tinggi dari masyarakat untuk
mendapatkan pelayanan
keperawatan yang profesional.

76
5. Meningkatnya kesadaran 0.2 2 0.4
masyarakat tentang tanggung
jawab dan tanggung gugat
perawat sebagai pemberi
asuhan keperawatan
Total 1 2.4

Interpretasi :
Berdasarkan hasil – hasil yang didapat dari analisis internal dan eksternal pada table
seperti dituliskan di atas, hasilnya dapat dirangkum sebagai berikut:
1. Skor Total Kekuatan = 2.6 + 2.7 + 2.95 + 2.6 + 2.8 = 13.65
2. Skor Total Kelemahan = 2 + 3 + 2.5 + 0 + 2.5 = 10
3. Skor Total Peluang = 3.4 + 3 + 2.5 + 3.6 + 2.6 = 15.1
4. Skor Total Ancaman = 2.3 + 2 + 2 + 3 + 2.4 = 11.7

Dari total skor tersebut, maka dapat digambar matriks SWOT. Sebelum
menggambar matriks SWOT, terlebih dahulu harus menentukan titik koordinatnya. Untuk
mencari koordinatnya, dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Koordinat x = Koordinat analisis Internal


= Skor total kekuatan - skor total kelemahan
= 13.65 – 10
= 3.65

Koordinat y = Koordinat analiisis Eksternal


= Skor total peluang - skor total ancaman
= 15.1 – 11.7
= 3.4

Jadi titik koordinatnya terletak pada (3.65 , 3.4)

77
Jika digambarkan dalam koordinat kartesius, maka akan diperoleh diagram seperti
gambar berikut :

Kuadran IV

Berdasarkan hasil analisis, dapat diketahui bahwa ruang Kamboja terletak di


kuadran I. Kuadran I merupakan situasi yang menguntungkan, karena rumah sakit atau
ruangan memiliki peluang dan kekuatan yang baik dan bisa dioptimalkan dengan cara
meminimalisir segala kelemahan dan ancaman.
Strategi yang digunakan adalah mendukung strategi agresif yang bertujuan untuk
melakukan program serta meminimalisir kelemahan yang berasal dari sumber daya
manusia (pekerja). Cara yang digunakan antara lain :
1. Meningkatkan mutu pelayanan dengan memperbaiki dan mengembangkan sarana dan
prasarana yang ada
2. Mengadakan pelatihan yang dikhususkan untuk para perawat dan tenaga kerja lainnya
untuk memperbaiki kualitas SDM
3. Meningkatkan keamanan
4. Menetapkan kebijakan baru yang mendukung perkembangan rumah sakit.

H. MASALAH DAN SOLUSI YANG DILAKUKAN KEPALA RUANGAN


1. Kajian Teori
Dunia kerja merupakan dunia tempat sekumpulan individu dalam melakukan
suatu aktivitas kerja, baik di dalam perusahaan maupun organisasi. Masyarakat
menyadari bahwa sumber daya manusia adalah salah satu unsur dalam organisasi

78
yang mempunyai peranan penting bagi kelangsungan organisasi tersebut, sehingga
maju mundurnya suatu organisasi tergantung pada peran yang dilakukan oleh orang -
orang yang berada di dalamnya. Secanggih apapun alat dan sarana kerja yang dimiliki
perusahaan namun tanpa adanya fungsi kerja manusia, maka keberadaan perusahaan
tidak akan berarti apa - apa, hal ini dikarenakan manusia memiliki kemampuan berupa
tenaga dan pikiran untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi perusahaan
tersebut. Setiap perusahaan pada dasarnya menginginkan dan menuntut agar seluruh
karyawan selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan sebaik mungkin. Namun pada
kenyataannya setiap manusia bisa saja memiliki permasalahan atau melalakukan
kesalahan yang bisa menyebabkan terjadinya konflik. Dengan adanya konflik di suatu
organisasi atau perusahaan, tentu saja akan menghambat tercapainya tujuan yang telah
ditetapkan dari awal. Maka dari itu, konflik ini haru segera diselesaikan dengan
mencari solusi yang tepat.

2. Kajian Praktis
Dari hasil wawancara dengan Kepala Ruangan Kamboja, didapatkan bahwa
ruangan Kamboja tidak memiliki masalah yang berarti. Masalah berarti disini
dimaksud seperti konflik baik antar perawat, perawat dengan pasien, ataupun perawat
dengan Kepala Ruangan yang berlangsung lama dan tidak dapat diselesaikan oleh
Kepala Ruangan. Namun bukan berarti di ruang Kamboja benar – benar tidak ada
masalah. Masalah yang sering muncul di ruang Kamboja berasal dari internal dimana
berkaitan dengan kepentingan dari perawat itu sendiri. Kepentingan yang dimaksud
adalah kepentingan yang tidak dapat dinomorduakan, seperti perawat yang tiba – tiba
sakit sehingga tidak memungkinkan dirinya untuk dinas ataupun kepentingan karena
alasan kedukaan yang menimpa orang terdekat perawat. Jika terjadi masalah seperti
ini maka solusi yang dilakukan adalah perawat yang bersangkutan harus mencari
pengganti dinas (minimal H-1). Perawat yang bersangkutan harus menghubungi rekan
sesamanya yang kemungkinan bisa untuk dijak bertukar dinas. Rekan yang pertama
dihubungi adalah perawat yang berada satu naungan dengan dirinya (misalnya satu
PP). Apabila tidak ada yang mau atau bisa menggantikan, perawat yang bersangkutan
wajib menghubungi Kepala Ruangan dan Kepala Ruangan akan mebantu mencarikan
solusi.
Selain itu, berdasarkan hasil observasi, salah satu permasalah yang ditemukan
di ruang Kamboja adalah mengenai sentralisasi obat. Di ruang Kamboja, antara obat
79
pasien BPJS dan pasien umum tidak dipisahkan atau diberi keterangan, sehingga
terkadang obat pasien umum diambil untuk pasien BPJS, begitu juga sebaliknya.
Solusi yang bisa dilakukan adalah dengan memisahkan obat pasien Umum dengan
BPJS, atau setidaknya diberi keterangan untuk obat pasien Umum atau BPJS.
Sehingga perawat ataupun mahasiswa tidak mengambil obat pasien Umum untuk
pasien BPJS.
Selain permasalahan di atas, jika seandainya terdapat suatu masalah di ruang
Kamboja kedepannya, maka siasat yang akan dilakukan adalah dengan pengumpulan
data terlebih dahulu, kemudian diklarifikasikan kebenarannya, dan selanjutnya akan
ditindaklanjuti oleh kepala ruangan untuk mencarikan solusi. Dalam mencarikan
solusi, sebisa mungkin teori yang digunakan adalah win – win solution, yaitu dengan
menguntungkan kedua belah pihak yang mengalami konflik.
Berdasarkan data diatas, dapat disimpulkan bahwa ruang Kamboja memiliki
masalah yang berkaitan dengan kepentingan, dimana digunakan winwin solution
untuk menyelesaikan masalah tersebut.

80
PENUTUP

A. SIMPULAN
RSUP Sanglah mulai dibangun pada tahun 1956 dan diresmikan pada tanggal 30
Desember 1959 dengan kapasitas 150 tempat tidur. Pada tahun 1962 bekerjasama dengan
FK Unud sebagai RS Pendidikan. Pada tahun 1978 menjadi rumah sakit pendidikan tipe
B dan sebagai Rumah sakit Rujukan untuk Bali, NTB, NTT, Timor Timur (SK Menkes
RI No. 134/1978). Dalam perkembangannya, RSUP Sanglah mengalami beberapa kali
perubahan status, pada tahun 1993 menjadi rumah sakit swadaya (SK Menkes No.
1133/Menkes/SK/VI/1994). Kemudian tahun 1997 menjadi Rumah Sakit PNBP
(Pendapatan Negara Bukan Pajak). Pada tahun 2000 berubah status menjadi Perjan
(Perusahaan Jawatan) sesuai peraturan pemerintah tahun 2000. Terakhir pada tahun 2005
berubah menjadi PPK BLU (Kepmenkes RI No. 1243 tahun 2005 tgl 11 Agustus 2005)
dan ditetapkan sebagai RS Pendidikan Tipe A sesuai Permenkes 1636 tahun 2005
tertanggal 12 Desember 2005.
Ruang Kamboja merupakan bagian dari Instalasi Rawat Inap C yang berfungsi
sebagai salah satu unit pelayanan rawat inap kelas III untuk pasien THT dan Kulit di
RSUP Sanglah. Ruang Kamboja berlokasi di sebelah selatan Depo Central dan di sebelah
utara Ruang Nusa Indah.
Hasil pengkajian pada Ruang Kamboja RSUP Sanglah :
1. MAN
Pengusulan ketenagaan keperawatan dilakukan apabila di ruangan tersebut
dinilai kekurangan tenaga. Pengusulan ketenagaan baru dilakukan dengan cara
menganalisa beban kerja untuk menentukan kebutuhan tenaga keperawatan di
ruangan. Penerimaan tenaga keperawatan baru di ruang Kamboja akan diorientasikan
oleh Kepala Ruangan. Sementara itu, untuk tenaga keperawatan lama akan dinilai
berdasarkan SKP (Sasaran Kerja Pegawai) yang dilaksanakan setiap 1 tahun sekali
Jumlah tenaga keperawatan di ruang Kamboja sejumlah 15 orang, dengan
klasifikasi pendidikan S1 Keperawatan/Ns sebanyak 5 orang, dan DIII Keperawatan
sejumlah 10 orang. Hal itu sudah sesuai dengan beberapa perhitungan yang
digunakan.

81
2. MONEY
Sistem pembiayaan atau pengelolaan keuangan di ruang Kamboja RSUP
Sanglah diatur secara sentral oleh bagian keuangan RSUP Sanglah, termasuk dalam
hal pembayaran perawatan pada pasien serta pembayaran gaji pegawainya. Secara
umum, pengelolaan keungaan secara sentral oleh bagian keuangan sudah berjalan
dengan baik, namun tentu saja tetap mempunyai kelebihan maupun kekurangannya
masing – masing. Kelebihannya yaitu kebutuhan sarana dan prasara setiap ruangan
dapat dibagi secara merata dan kualitas pelayanan kesehatan tidak berbeda – beda
antara ruangan yang satu dengan yang lainnya. Sementara kekurangannya adalah
ruangan tidak dapat segera memenuhi kebutuhan atau kerusakan barang yang
diperlukan secara mendesak karena jika ada barang yang rusak terlebih dahulu harus
dibawa ke bagian sarana dan prasarana sehingga akan memerlukan waktu yang lama
untuk mendapatkannya
3. MATERIAL
Keberadaan alat – alat fisik yang ada di ruang Kamboja RSUP Sanglah baik
medis dan non medis sudah tertata baik, meskipun terdapat beberapa barang yang
fungsinya sudah menurun bahkan tidak bisa digunakan lagi, contohnya alat
Tensimeter. Perawatan alat – alat di ruangan juga sudah dilakukan dengan baik,
dengan dilakukannya kalibrasi setiap 1 tahun sekali. Di ruangan juga sudah memiliki
buku operan alat ruangan untuk memantau kondisi alat dan fasilitas ruangan, tetapi
belum optimal karena ada beberapa barang yang rusak masih ada di ruangan.
Sentralisasi obat sudah berjalan dengan baik, jika pasien pulang maka obat akan
direturn ke Depo Central. Linen kotor setiap harinya sudah dibawa ke CSSD oleh CS
setelah membersikan dan merapikan linen pasien, linen bersih kembali dibawa oleh
CS pada siang dan sore hari. Untuk kelengkapan dokumentasi, ruangan sudah
memiliki dokumen – dokumen dan SOP yang dibutuhkan untuk setiap tindakan dan
form – form pengkajian pasien sudah cukup lengkap.
4. MARKETING
Pemasaran bangsal untuk setiap ruangan termasuk ruang Kamboja di RSUP
Sanglah dilakukan secara sentral oleh bagian Humas RSUP Sanglah, oleh karena itu
ruang Kamboja tidak perlu melakukan pemasaran lagi. Walaupun kenyataannya
RSUP Sanglah memang jarang melakukan pemasaran, mengingat RSUP Sanglah
merupakan rumah sakit rujukan utama untuk wilayah Bali, NTB, dan NTT.

82
5. METHOD
Metode merupakan cara yang dipergunakan untuk mengelola sistem pelayanan
di suatu instansi. Di dalam pengelolaan pelayanan keperawatan, ruang Kamboja
menerapkan Model Praktik Keperawatan Profesional (MPKP). Model Praktik
Keperawatan Profesional (MPKP) yang diterapkan di ruang Kamboja berupa MPKP
model keperawatan PP Modifikasi. Adapun unsur – unsur dalam MAKP yang sudah
dilaksanakan yaitu timbang terima, pengelolaan sentralisasi obat, penerimaan pasien
baru, supervisi, dan discharge planning. Sementara yang belum dilakukan selama
tahun 2018 adalah ronde keperawatan. Ronde keperawatan untuk ruang Kamboja
dilakukan bersamaan dengan ruang Angsoka 1, ruang Angsoka 3, dan ruang Bakung
(Bakung Barat dan Bakung Timur) secara bergiliran tiap 1 bulan sekali. Ronde
sebelumnya dilaksanakan pada bulan Maret oleh Ruang Angsoka 1. Selain itu, ruang
Kamboja juga sudah memiliki standar atau pedoman, seperti SOP maupun SAK.
6. PERENCANAAN
Perencanaan adalah suatu proses menentukan apa yang ingin dicapai di masa
yang akan datang serta menetapkan tahapan – tahapan yang dibutuhkan untuk
mencapainya. Di ruang Kamboja, sudah memiliki perencanaan yang terstruktur
berupa visi misi, SOP, SAK, pelayanan, pengorganisasian, dan jadwal rapat.
7. PENGORGANISASIAN
Ruang Kamboja sudah memiliki struktur organisasi. Adapun model penugasan
yang dilakukan saat melaksanakan asuhan keperawatan adalah MPKP model
keperawatan PP Modifikasi, dimana terbentuk 2 perawat primer di ruangan yang
masing – masing membawahi perawat associate (PA). Selain itu, di ruang Kamboja
juga sudah terdapat uraian tugas yang jelas.
8. PENGARAHAN
Pengarahan yaitu kegiatan untuk menggerakan orang lain supaya bisa dapat
bekerja dengan baik dalam upaya mencapai tujuan yang diinginkan.
Di ruang Kamboja, pengarahan biasanya dilakukan di pagi hari saat operan
yang diberikan oleh kepala ruangan kepada seluruh staff pegawai (perawat) yang shift
pada saat itu. Untuk pendelegasian tugas di ruang Kamboja, biasanya dilakukan
dengan cara menulis di buku pendelegasian tugas. Untuk peningkatan motivasi,
dilakukan oleh rumah sakit baik secara langsung maupun tidak langsung, misalnya
diklat secara rutin mengadakan pelatihan.

83
9. PENGAWASAN / PENGENDALIAN
Pengawasan di ruang Kamboja RSUP Sanglah dilakukan oleh kepala ruangan
kepada seluruh staff pegawai (perawat) di ruangan. Dengan adanya pengawasan ini,
diharapkan perawat yang ada di ruangan dapat meningkatkan keterampilan dan
melaksanakan tugasnya dengan baik.
Selain itu, rumah sakit juga melakukan kegiatan seperti seminar atau pelatihan
agar para pegawai staff (perawat) mengetahui pembaruan informasi atau ilmu
keperawatan, juga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan para pegawainya.
Untuk supervisi biasanya dilakukan pada saat sore atau malam hari yang dilakukan
oleh kepala ruangan dengan cara berkeliling secara bergiliran. Untuk program
pengendalian mutu ini dilakukan oleh tim pengendali mutu.
10. ANALISIS SWOT
Berdasarkan hasil analisis SWOT, ruang Kamboja terletak di kuadran I.
Kuadran I merupakan situasi yang menguntungkan, karena rumah sakit atau ruangan
memiliki peluang dan kekuatan yang baik dan bisa dioptimalkan dengan cara
meminimalisir segala kelemahan dan ancaman.
11. MASALAH DAN SOLUSI YANG DILAKUKAN KEPALA RUANGAN
Jika seandainya terdapat suatu masalah di ruang Kamboja kedepannya, maka
siasat yang akan dilakukan adalah dengan pengumpulan data terlebih dahulu,
kemudian diklarifikasikan kebenarannya, dan selanjutnya akan ditindaklanjuti oleh
kepala ruangan untuk mencarikan solusi. Dalam mencarikan solusi, sebisa mungkin
teori yang digunakan adalah win – win solution, yaitu dengan menguntungkan kedua
belah pihak yang mengalami konflik.

B. SARAN
Selesainya laporan ini tidak terlepas dari banyaknya kekurangan - kekurangan
pembahasannya dikarenakan oleh berbagai macam faktor, seperti keterbatasan waktu,
pemikiran dan pengetahuan. Oleh karena itu untuk kesempernuan makalah ini kami
sangat membutuhkan saran - saran dan masukan yang bersifat membangun kepada semua
pembaca.

84
DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Dexter. 2012. Available at : https://www.scribd.com/doc/96274382/Fungsi-


Pengarahan-Dalam-Manajemen. Diakses pada tanggal 24 Mei 2018

Arwani & Supriyatno, H. 2006. Manejemen bangsal keperawatan. Jakarta: EGC.

DR. Sitorus Ratna. 2006. Model Praktik Keperawatan Profesional di Rumah Sakit: Penataan
Struktur & Proses (sistem) Pemberian Asuhan Keperawatan di Ruang Rawat. Jakarta:
EGC

Nursalam. 2011. Manajemen Keperawatan: Aplikasi dalam Praktik Keperawatan


Profesional. Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika.

Nursalam. 2012. Management Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika

Rusdi, I. 2008. Model pemberian asuhan keperawatan (nursing care delivery models),
< http://ibnurusdi.wordpress.com/2008/04/06/model-pemberian-asuhan-keperawatan/ >
Diunduh pada tanggal 24 Mei 2018.

Wahyuni, S. 2007. Analisis kompetensi kepala ruang dalam pelaksanaan standar manajemen
pelayanan keperawatan dan pengaruhnya terhadap kinerja perawat dalam
mengimplementasikan model praktik keperawatan profesional di instalasi rawat inap
BRSUD Banjarnegara.

85
Lampiran 1

STRUKTUR ORGANISASI RUANG KAMBOJA

Kepala Ruangan Kamboja

Ida Ayu Kadek Dwi Mahariani

Perawat Primer 1 Perawat Primer 2

NLP Mega Wijayanthi Ni Made Ari Reni Jayanti

I Gede Patria Prastika Putu Susmitha Devy Larasati

Made Sintia Meilina Dewi A.A Sri Sasmita Laksmi

Ni Komang Ayu Puspitasari Gusti Ayu Putu Briliani

Ni Made Werdianti Prawerti

86
LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar, 02 Juni 2018

Mengetahui, Mahasiswa

Pembimbing Praktik / CI
1. I Gede Patria Prastika ……………
P07120215059
2. Ni Luh Putu Mega Wijayanthi ……………
P07120215060
3. Putu Susmitha Devy Larasati ……………
P07120215061
Ns. Ni Made Srikandi, S.Kep 4. Made Sintia Meilina Dewi ……………
P07120215062
NIP. 196503151986032004
5. Ida Ayu Kadek Dwi Mahariani ……………
P07120215063
6. Ni Made Ari Reni Jayanti ……………
P07120215064
7. Anak Agung Sri Sasmita Laksmi ……………
P07120215065
8. Ni Komang Ayu Puspitasari ……………
P07120215066
9. Gusti Ayu Putu Briliani ……………
P07120215067
10. Ni Made Werdianti Prawerti ……………
P07120215068

Mengetahui,

Pembimbing Praktik / CT

Nengah Runiari., S.Kp.,S.Pd.,M.Kep.,Sp.Mat


NIP. 197202191994102001

1
LEMBAR PENGESAHAN

Denpasar, 02 Juni 2018

Mengetahui, Mahasiswa

Pembimbing Praktik / CI 1. I Gede Patria Prastika ……………


P07120215059
2. Ni Luh Putu Mega Wijayanthi ……………
P07120215060
3. Putu Susmitha Devy Larasati ……………
P07120215061
4. Made Sintia Meilina Dewi ……………
Ns. Ni Made Nadrini, S.Kep P07120215062
NIP. 197412011997032002 5. Ida Ayu Kadek Dwi Mahariani ……………
P07120215063
6. Ni Made Ari Reni Jayanti ……………
P07120215064
7. Anak Agung Sri Sasmita Laksmi……………
P07120215065
8. Ni Komang Ayu Puspitasari ……………
P07120215066
9. Gusti Ayu Putu Briliani ……………
P07120215067
10. Ni Made Werdianti Prawerti ……………
P07120215068

Mengetahui,

Pembimbing Praktik / CT

Nengah Runiari., S.Kp.,S.Pd.,M.Kep.,Sp.Mat


NIP. 197202191994102001