Anda di halaman 1dari 35

Hasil diskusi penulis dan tim pelaksana internal program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Dinas Kesehatan

Polewali
Mandar, disimpulkan, pengertian dari K1 Kehamilan telah berubah, dulu tepatnya diawal tahun 1990an ketika penulis
mempelajari program KIA, Pengertian K1 Kehamilan adalah pemeriksaan kesehatan seorang ibu hamil sesuai standar
untuk pertama kalinya pada tiga bulan (triwulan) pertama kehamilan.
Tetapi sekarang, dan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompotensi (bidan) diberbagai unit
pelayanan kesehatan (Puskesmas) di Polewali Mandar, pengertian dari K1 Kehamilan adalah Cakupan ibu hamil yang
mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar yang pertama kali pada masa kehamilan —— tidak tergantung usia
smester kehamilan——- di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Tulisan ini mencoba memberikan gambaran bahwa penyelenggaraan program KIA dengan pengertian indikator K1
telah salah dan tidak mendukung peningkatan mutu kehamilan dan persalinan yang aman dan sehat.
Pemeriksaan Pertama Kehamilan….
Pemeriksaan kesehatan (termasuk gizi) pertama pada smester pertama kehamilan sebagaimana yang penulis tahu dan
dalami dalam pendekatan epidemiologi dan ilmu gizi adalah sudah sangat jelas yaitu ibu hamil sejak ditahu
kehamilan atau kurang lebih usia kehamilan 6 minggu –sampai 12 minggu kehamilan (1-3 bulan kehamilan), sudah
harus memeriksakan kehamilannya, apabila sang ibu hamil tidak memeriksakan kehamilannya pada masa kehamilan
ini (1-3 bulan kehamilan) itu artinya sang ibu hamil tersebut telah mangkir/lalai (default) atau dulunya disebut dengan
istilah DO (Drop Out) pada smester pertama kehamilan, tetapi istilah DO ini kurang tepat digunakan karena ada
kecenderungan sang ibu hamil tidak akan dilayani lagi untuk bulan-bulan kehamilan berikutnya, sehingga istilah default
(mangkir) lebih tepat digunakan.
Sementara itu pengertian pemeriksaan kesehatan pertama (K1) semasa kehamilan dalam pengertian selama
kehamilan (usia kehamilan 1-9 bulan/atau mendekati lahir) walaupun sesuai standar pemeriksaan kehamilan, sangatlah
sulit untuk dimengerti, karena standar pemeriksaan kesehatan (termasuk gizi) pada smester pertama, kedua dan ketiga
pada prinsipnya berbeda, keadaan hamil pada smester pertama jelas berbeda pada smester kedua dan juga ketiga,
walaupun standar yang dipakai adalah 5T tetapi pada pemeriksaannya tetap berbeda, berat badan ibu hamil pada
smester pertama kehamilan jelas berbeda pada berat badan pada smester ketiga kehamilan.
Standar 5 T adalah standar pemeriksaan /perawatan kehamilan (ANC = Antenatal Care) yang dimaksud adalah:
1. Pemeriksaan/pengukuran TINGGI DAN BERAT BADAN
2. Pemeriksaan/pengukuran TEKANAN DARAH
3. Pemeriksaan/pengukuran TINGGI FUNDUS
4. Pemberian imunisasi TETANUS TOXOID
5. Pemberian TABLET BESI/TABLET TAMBAH DARAH
Setiap kali pemeriksaan /perawatan kehamilan selalu berbeda setiap smesternya, misalnya berat badan ibu hamil,
pada triwulan pertama pasti beda dengan triwulan kedua.
Atau Pengertian terbaru sebagaimana yang dikeluarkan Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam bentuk
Standar Pelayanan Minimal (SPM), Kunjungan ibu hamil sesuai standar adalah 7T pelayanan yang mencakup minimal
:
1. Timbang badan dan ukur tinggi badan,
2. Tekanan darah diukur
3. Tetanus Toxoid yaitu Skrining status imunisasi tetanus (dan pemberian Tetanus Toxoid),
4. Tinggi fundus uteri diukur
5. Tablet besi ( diberikan 90 tablet selama kehamilan),
6. Temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan konseling),
7. Test laboratorium sederhana (Hb, Protein urin) dan atau berdasarkan indikasi (HbsAg, Sifilis, HIV, Malaria,
TBC).
Namun dalam prakteknya standar baku masih tetap menggunakan prinsip 5 T standar pemeriksaan /perawatan
kehamilan (ANC = Antenatal Care).

Ada K4 karena Ada K1


Istilah K1 atau Kunjungan pertama ibu hamil pada dasarnya satu paket dengan istilah K4 atau Kunjungan ke empat ibu
hamil. K4 itu sendiri mempunyai pengertian dari beberapa sumber yaitu
1. Berdasarkan indikator MDGs goal 5 Indikator lokal untuk memonitoring kemajuan kabupaten dan kecamatan.
Menyebutkan bahwa Kunjungan ibu hamil K-4 adalah Ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai
standar paling sedikit empat kali, dengan distribusi pemberian pelayanan minimal satu kali pada triwulan pertama,
satu kali pada triwulan kedua dan dua kali pada triwulan ketiga umur kehamilan dan mendapat 90 tablet Fe selama
periode kehamilannya di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
2. Berdasarkan Pedoman SPM Bidang Kesehatan tahun 2009 Depkes RI 2009. Menyebutkan bahwa Cakupan
kunjungan ibu hamil K-4 adalah cakupan Ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan
standar paling sedikit 4 kali di satu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
3. Sementara itu berdasarkan Pedoman SPM Bidang Kesehatan Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur sebagai
penjabaran dari SPM Bidang Kesehatan Depkes RI, Kunjungan ibu hamil K 4 adalah: ibu hamil yang kontak dengan
petugas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan ANC sesuai dengan standar 5 T dengan frekuensi kunjungan
minimal 4 kali selama hamil, dengan syarat trimester I minimal 1 kali, trimester II minimal 1 kali dan trimester III
minimal 2 kali.
Skill bidan dan kematian Ibu : Ada hubungan secara bermakna skill bidan dengan penurunan kematian ibu, “Semakin Baik Skill
Seorang Bidan, Semakin Kurang Kematian Ibu”

Jadi Karena adanya istilah K4 berarti ada istilah K1, K2 dan K3 serta tentunya K4. Dari pengertian K4 diatas, maka
pengertian K1 sudah sangat jelas yaitu Pemeriksaan kehamilan sesuai standar pada smester pertama, K2 dalam
pengertian K(1+1=2) adalah pemeriksaan kehamilan sesuai standar pada smester pertama dan kedua kehamilan, K3
adalah pemgertian K(1+1+1=3) adalah pemeriksaan kehamilan sesuai standar pada smester pertama, kedua dan
ketiga kehamilan. Dan K4 itu sendiri K3 tambah pemeriksaan ketika mendekati persalinan. Penjelasan ini menunjukkan
pelayanan pemeriksaan ibu hamil dalam ilmu epidemiologi menggunakan pendekatan prospektif atau biasa dikenal
dengan istilah kohor atau dalam program pencatatan dan pelaporan program KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) tercatat
dalam buku register kohor ibu.
Buku Register Kohor Ibu
Buku register kohor ibu ini maksudnya adalah buku pencatatan dan pelaporan seorang bidan yang
menyelenggarakan pelayanan ANC dan merupakan suatu skill dan keterampilan yang harus dikuasai bukan saja
keahlian melakukan persalinan, tetapi juga keahlian membuat prospektif hasil pencatatan dan pelaporan dalam
register kohor untuk dapat melihat dan memantau faktor-faktor resiko dan non resiko selama proses kehamilan
normal maupun tidak normal dalam melakukan intervensi segera.
Ketika seorang ibu telah hamil maka ibu hamil ini harus datang atau didatangi untuk dicatat dan dipantau serta
diperiksa selama masa kehamilannya selesai, sebagai induvidu yang beresiko, dan melakukan intervensi segera, itu
sedikit inti dari pencatatan kohor, penjelasanya adalah
1. Jika sang ibu hamil datang-didatangi pada smester pertama kehamilan maka ia diperiksa dan dicatat pada kolom
smester pertama dan selanjutnya disarankan (diupayakan) datang-didatangi untuk diperiksa dan dicatat pada
smester-smester berikutnya. Ingat! Ibu hamil adalah induvidu yang beresiko, Inilah yang diharapkan sesuai
dengan standar cakupan pelayanan minimal K1 dan K4
2. Jika ibu hamil tersebut untuk pertama kalinya datang-didatangi pada smester kedua kehamilan (tidak datang-
didatangi pada smester pertama) tetap diperiksa dan dicatat pada kolom smester kedua buku register kohor, dan
selanjutnya tetap disarankan (diupayakan) datang-didatangi untuk diperiksa dan dicatat pada smester-smester
berikutnya. Ingat! Ibu hamil adalah induvidu yang beresiko. Inilah yang tidak diharapkan karena telah lalai atau
mangkir tidak masuk dalam standar cakupan pelayanan minimal K1 maupun K4.
3. Jika ibu hamil tersebut untuk pertama kalinya datang-didatangi pada smester ke tiga kehamilan (tidak datang-
didatangi pada smester pertama dan kedua) tetap diperiksa dan dicatat pada kolom smester ketiga buku register
kohor, dan selanjutnya tetap disarankan (diupayakan) datang-didatangi untuk diperiksa dan dicatat pada saat
mendekati persalinan sebagai pemeriksaan yang terakhir kalinya. Ini juga tidak masuk dalam standar cakupan
pelayanan minimal K1 dan K4.

Pencatatan Pemeriksaan Kehamilan


Dengan sistem registrasi kohor ini maka setiap saat atau setiap bulan dapat di evaluasi sesuai dengan standar cakupan
pelayanan K1 dan K4. Cakupan atau target K1 dan K4 yang diharapkan berkisar antara 80-95%, sebaliknya standar
cakupan ibu hamil yang ditoleransi mangkirnya (default toleration) normalnya berkisar 5-20%, bila standar cakupan
pelayanan dan toleransi mangkir ini tidak terpenuhi, maka pada dasarnya pelaksanaan program ANC (Antenatal Care)
sangat jelek dan tidak terkendali, Jadi jangan heran kalau Kematian bayi yang terus naik dan penurunaan Kematian ibu
sangat lamban telah terjadi di Kabupaten Polewali Mandar salah satu sebabnya adalah pencatatan kohor yang tidak
dilakukan dengan baik dan benar.
Kenapa sekarang K1 Berubah ?
Perubahan pengertian K1 rupanya berhubungan dengan pelaksanaan sistem pencatatan dan pelaporan Pemantauan
Wilayah Setempat (PWS) Kesehatan Ibu dan Anak, Bukan sistem pencatatan dan pelaporan kohor Ibu dan Anak.
Sebagaimana pengertian K1 menyebutkan Cakupan ibu hamil yang mendapatkan pelayanan antenatal sesuai standar
yang pertama kali pada masa kehamilan ——- tidak mengenal usia smester kehamilan—— di satu wilayah kerja pada
kurun waktu tertentu.
Disini keterangan disuatu wilayah kerja pada waktu tertentu lebih ditekankan pada sistem pencatatan dan pelaporan
PWS. Dalam pengertian ini K1 bukan merupakan paket dari Pelayanan dan pemeriksaan K4. K1 menunjukkan
kegiatan (diberi simbol “K”) pelayanan antenatal untuk pertama kalinya (diberi simbol “1”) pada masa kehamilan,
…… diulang!, “KEGIATAN (K) antenatal untuk pertama kalinya selama masa kehamilan”………sering juga
disebut sebagai K1 AKSES. Kalau yang dimaksud K1 adalah demikian, maka standar yang dimaksud adalah semua
ibu hamil terdata, mempunyai buku KIA (atau KMS ibu hamil) dan dilakukan pemeriksaan sesuai standar untuk pertama
kalinya , kemudian dicatat dalam buku register PWS.

Buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak)

Konsep PWS ini biasa diistilahkan dengan liputan program yaitu sejauhmana program dapat meliput atau menjangkau
sasarannya (red, men-AKSES). Ibu yang hamil merupakan sasaran program, targetnya menggunakan formula, faktor
1.1 x CBR x jumlah Penduduk disuatu wilayah dan waktu tertentu. Wilayah biasanya Kabupaten, kemudian dibagi
perkecamatan dan desa. Waktu tertentu biasa dimulai pertahun kemudian dibagi-bagi perbulannnya.
Contoh dari hasil formula didapat 120 sasaran bumil dalam setahun berarti dalam satu bulan harus ditargetkan 10
bumil harus dicakup dengan tidak mengenal usia kehamilan, yang penting ibu hamil tersebut diperiksa tetap masuk
dalam hitungan K1.
Jadi kalau sekarang yang dimaksud K1 adalah demikian, berarti K1 pada sistem PWS tidaklah sama dengan K1 pada
sistem Kohor. K1 pada sistem PWS belum tentu K1 pada sistem Kohor, sebaliknya K1 pada sistem kohor sudah pasti
K1 pada sistem PWS. Tetapi yang berkembang sekarang adalah K1 pada sistem PWS, bukan K1 pada sistem
Kohor, ini artinya cakupan pelayanan ANC telah salah dan karena mengabaikan pendekatan sprospektif (kohor) yang
berarti pelaksanaan program ANC sudah tidak terkendali sesuai dengan proses tumbuh kembang rahim dan janin dari
seorang ibu hamil sampai usia melahirkan sebagai seorang induvidu yang beresiko alias tidak mendukung peningkatan
mutu kehamilan dan persalinan yang aman dan sehat, yang sementara di gembor-gemborkan untuk mempercepat
pencapaian MDGs 2015. Wallahu a’lam

1. Kunjungan Ibu Hamil


Menurut Depkes RI (2002) dalam Pasaribu (2005), kunjungan ibu hamil adalah kontak antara ibu
hamil dengan petugas kesehatan yang memberikan pelayanan antenatal standar untuk
mendapatkan pemeriksaan kehamilan. Istilah kunjungan kehamilan disini dapat diartikan ibu
hamil yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan atau sebaliknya petugas kesehatan yang
mengunjungi ibu hamil di rumahnya atau posyandu. Kunjungan ibu hamil dlakukan secara
berkala yang dibagi menjadi beberapa tahap, yaitu:

1) Kunjungan ibu hamil yang pertama (K1)

Kunjungan K1 adalah kontak ibu hamil yang pertama kali dengan petugas kesehatan untuk
mendapatkan pemeriksaan kesehatan dan pelayanan kesehatan trimester I dimana usia
kehamilan 1 sampai 12 minggu, meliputi identitas/ biodata, riwayat kehamilan, riwayat
kebidanan, riwayat kesehatan, riwayat sosial ekonomi, pemeriksaan kehamilan dan pelayanan
kesehatan, penyuluhan dan konsultasi.

2) Kunjungan ibu hamil yang keempat (K4)

Kunjungan K4 adalah kontak ibu hamil yang keempat atau lebih dengan petugas kesehatan
untuk mendapatkan pemerisaan kehamilan dan pelayanan kesehatan pada trimester III, usia
kehamilan >32 minggu, meliputi anamnese, pemeriksaan kehamilan dan pelayanan kesehatan,
pemeriksaan psikologis, pemeriksaan laboratorium bila ada indikasi/diperlukan, diagnosis akhir
(kehamilan normal, terdapat penyakit, terjadi komplikasi, atau tergolong kehamilan risiko tinggi),
sikap dan rencana tindakan (persiapan persalinan dan rujukan).

Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan
paling sedikit 4 kali selaman masa kehamilan dengan distribusi kontak sebagai berikut:

1. Minimal 1 kali pada trimester I (K1), usia kehamilan 1-12minggu.


2. Minimal 1 kali pada trimester II (K2), usia kehamilan 13-24 minggu.
3. Minimal 2 kali pada trimester III, (K3-K4), usia kehamilan > 24 minggu.
Dengan pelayanan yang baik, dapat diidentifikasi kehamilan beresiko tinggi dan dilanjutkan
dengan perawatan khusus. Pelayanan antinatal yang berkualitas dan dilakukan sedini mungkin
secara teratur akan membantu pengurangan resiko terhadap kejadian anemia. Secara ringkas
pelayanan antinatal minimal 4 kali salama kehamilan, yaitu: 1 kali pada trimester I, 1 kali pada
trimester II. Dan 2 kali pada trimseter III untuk mendapatkan pelayanan 5T (Depkes RI, 1994).

Pelaksanaa pelayana antenatal adalah dokter, bidan (bidan puskesmas, bidan di desa, bidan di
praktek swasta), pembantu bidan, perawat yang sudah dilatih dalam pemeriksaan kehamilan
(Depkes RI, 2002).

Pelayanan antenatal adalah pelayanan kesehatan oleh tenaga professional untuk ibu hamil
selama masa kehamilannya, yang dilaksanakan sesuai dengan standar pelayanan antenatal
yang ditetapkan.
Pelayanan antenatal merupakan upaya untuk menjaga kesehatan ibu pada masa kehamilan
sekaligus upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu maupun perinatal (Manuaba,
1998).
a. Tujuan Pelayanan Antenatal Care
Menurut Departemen Kesehatan RI (2002) tujuan pelayanan antenatal adalah :
1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang
janin.
2) Meningkatkan serta mempertahankan kesehatan fisik, mental, sosial ibu dan janin.
3) mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi
selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan.
4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu maupun bayi
dengan trauma seminimal mungkin.
5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.
6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat
tumbuh kembang secara normal.
Salah satu upaya pokok Puskesmas adalah Program Kesehatan Ibu dan Anak,
dimana pelayanan antenatal merupakan bagian yang tak terpisahkan dari program
tersebut. Pelayanan atenatal adalah pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu
selama masa kehamilannya dengan baik dan melahirkan bayi yang sehat.
b. Standar Pelayanan Antenatal
Unsur penting dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi
adalah memberikan pelayanan dan pemeliharaan kesehatan sewaktu hamil secara
memadai serta sedini mungkin. Menurut Departemen Kesehatan (1990), standar
pelayanan antenatal adalah sebagai berikut :
1) Kunjungan Pertama
Anamnese, riwayat kehamilan, penyakit yang diderita pada kehamilan
sekarang, riwayat kesehatan anggota keluarga, pemeriksaan umum, pemeriksaan
khusus kebidanan, pemeriksaan laboratorium terutama haemoglobin (Hb), pemberian
imunisasi TT, pemberian obat dan vitamin, perawatan payudara, penyuluhan tentang :
a) Gizi dan KB Postpartum,
b) Kebersihan perorangan
c) Imunisasi TT, kunjungan ulang dan lain-lain.
2) Kunjungan Ulang
Anamnese, pemeriksaan umum, kebidanan dan laboratorium, pemberian
imunisasi TT, pemberian vitamin dan obat, penyuluhan kesehatan sehubungan dengan
kesehatan kehamilan.
c. Pelayanan Antenatal di Puskesmas
1) Konsep Pemeriksaan Antenatal
Menurut Departemen Kesehatan RI (2002) pemeriksaan antenatal di tingkat
puskesmas dilakukan sesuai dengan standar pelayanan antenatal di tingkat puskesmas
dimulai dengan urutan sebagai berikut :
a) Anamnese, meliputi identitas ibu hamil, riwayat kontrasepsi/KB, kehamilan
sebelumnya dan kehamilan sekarang.
b) Pemeriksaan umum, meliputi pemeriksaan fisik, pemeriksaan khusus kebidanan,
c) Pemeriksaan laboratorium dilakukan hanya atas indikasi/diagnosa.
d) Pemberian obat-obatan, imunisasi Tetanus Toxoid (TT), dan tablet besi (Fe).
e) Penyuluhan tentang gizi, kebersihan, olah raga, pekerjaan dan perilaku sehari-hari,
perawatan payudara dan Air Susu Ibu (ASI), tanda-tanda risiko, pentingnya
pemeriksaan kehamilan dan imunisasi selanjutnya, persalinan oleh tenaga terlatih,
KB setelah melahirkan, serta pentingnya untuk melakukankunjungan
pemeriksaan ulang.
2) Kunjungan Ibu Hamil
Menurut Departemen Kesehatan RI (1998), kunjungan ibu hamil adalah
kontak antara ibu hamil dan petugas kesehatan yang memberikan pelayanan
antenatal standar untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan. Istilah kunjungan di
sini dapat diartikan ibu hamil yang datang ke fasilitas pelayanan kesehatan, atau
sebaliknya petugas kesehatan yang mengunjungi ibu hamil di rumahnya atau
posyandu. Kunjungan ibu hamil dilakukan secara berkala yang dibagi menjadi
beberapa tahap, seperti :
a) Kunjungan ibu hamil yang pertama (K1)
Kunjungan K1 adalah kontak ibu hamil yang pertama kali dengan
petugas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan dan pelayanan
kesehatan pada trimester I, dimana usia kehamilan 1 sampai 12 minggu.
b) Kunjungan ibu hamil yang keempat (K4).
Kunjungan K4 adalah kontak ibu hamil yang keempat atau lebih
dengan petugas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksan kehamilan dan
pelayanan kesehatan pada trimester III, usia kehamilan > 24 minggu.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kunjungan antenatal
sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama masa kehamilan dengan distribusi
kontak sebagai yaitu minimal 1 kali pada trimester I (K1), usia kehamilan 1 – 12
minggu, minimal 1 kali pada trimester II, usia kehamilan 13 – 24 minggu, dan
minimal 2 kali pada trimester III (K3 dan K4), usia kehamilan > 24 minggu.
3) Jadwal Pemeriksaan
Menurut Departemen Kesehatan RI (2002) pemeriksaan kehamilan
berdasarkan kunjungan antenatal dibagi atas :
a) Kunjungan Pertama
(K1) Meliputi : (1) Identitas/biodata, (2) Riwayat kehamilan, (3) Riwayat
kebidanan, (4) Riwayat kesehatan, (5) Riwayat sosial ekonomi, (6) Pemeriksaan
kehamilan dan pelayanan kesehatan, (7) Penyuluhan dan konsultasi.
b) Kunjungan keempat (K4).
Meliputi : (1) Anamnese (keluhan/masalah), (2) Pemeriksaan kehamilan
dan pelayanan kesehatan, (3) Pemeriksaan psikologis, (4) Pemeriksaan
laboratorium bila ada indikasi/diperlukan, (5) Diagnosa akhir (kehamilan normal,
terdapat penyulit, terjadi komplikasi, atau tergolong kehamilan Risiko
Tinggi/Resti), (6) Sikap dan rencana tindakan (persiapan persalinan dan rujukan).
Menurut Mochtar (2000) Jadwal pemeriksaan antenatal yang dianjurkan
adalah :
a) Pemeriksaan pertama kali yang ideal yaitu sedini mungkin ketika haid terlambat
satu bulan.
b) Periksa ulang 1 kali sebulan sampai kehamilan 7 bulan
c) Periksa ulang 2 kali sebulan sampai kehamilan 9 bulan
d) Periksa ulang setiap minggu sesudah kehamilan 9 bulan
e) Periksa khusus bila ada keluhan/masalah.
4) Pelaksana Pelayanan Antenatal
Pelaksana pelayanan antenatal adalah dokter, bidan (bidan di puskesmas, bidan di
desa, bidan praktek swasta), pembantu bidan, perawat bidan dan perawat yang sudah
dilatih dalam pemeriksaan kehamilan. Pelayanan antenatal di desa dapat dilakukan di
polindes, posyandu atau kunjungan ke rumah (Departemen Kesehatan RI, 2002).
d. Cakupan Pelayanan Antenatal Care
Cakupan pelayanan antenatal care adalah persentase ibu hamil yang telah
mendapat pemeriksaan kehamilan oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah kerja.
Cakupan kunjungan baru/pertama ibu hamil (K1) dipakaisebagai indikator
jangkauan (aksesibilitas) pelayanan, angka cakupan K1 diperoleh dari jumlah K1 dalam 1
tahun dibagi jumlah ibu hamil di wilayah kerja dalam 1 tahun.
Dalam pengelolaan program KIA disepakati bahwa cakupan ibu hamil adalah
cakupan kunjungan ibu hamil yang keempat (K4), yang dipakai sebagai indikator tingkat
perlindungan ibu hamil. Angka cakupan K4 diperoleh dari jumlah K4 dalam 1 tahun
dibagi jumlah ibu hamil di wilayah kerja dalam 1 tahun.
Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) KIA adalah alat manajemen untuk
memantau cakupan, antara lain : kunjungan K1, kunjungan K4, deteksi dini Risiko Tinggi
(Resti) ibu hamil, pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, serta kunjungan neonatal
(KN) di suatu wilayah kerja dalam 1 tahun (Departemen Kesehatan RI, 2002). Menurut
Direktorat Bina Kesehatan Keluarga (1990), penyelenggaraan pelayanan antenatal di
wilayah kerja puskesmas mencakup kebijaksanaan umum dan kebijaksanaan operasional.
2. Kebijaksanaan
a. Kebijaksanaan Umum meliputi :
1) Memberikan pelayanan antenatal sesuai dengan jenjang pelayanan yang telah ditetapkan.
2) Meningkatkan peran serta masyarakat (suami, keluarga, kader) dalam menunjang
penyelenggaraan pelayanan atenatal dengan pendidikan dan penyuluhan.
3) Meningkatkan mutu dan jumlah tenaga pelaksana maupun fasilitas pelayanan antenatal.
4) Mengintegrasikan cakupan imunisasi Tetanus Toxoid (TT) dan menurunkan Missed
Opportunity.
b. Kebijakan Operasional meliputi ;
1) Menemukan kehamilan dengan risiko tinggi sedini mungkin
2) Menanggulangi adanya kelainan risiko tinggi sedini mungkin
3) Melakukan upaya pencegahan neonatal tetanus dengan pemberian imunisasi TT sebanyak 2
(dua) kali selama kehamilan dengan selang waktu minimal 4 (empat) minggu
4) Pemberian tablet tambah darah pada setiap ibu hamil
5) Melakukan pemeriksaan kehamilan minimal 4 (empat) kali pada trimester pertama 1 (satu)
kali, trimester kedua 1 (satu) kali pada trimester 3 (ketiga) 2 (dua) kali.
6) Pemeriksaan laboratorium hanya dilakukan atas indikasi
7) Menyediakan sarana pelayanan antenatal sesuai dengan jenjang pelayanan.
8) Memberi penyuluhan kepada ibu hamil, keluarga dan suami tentang cara hidup sehat.
Perawatan payudara, gizi ibu hamil, perawatan bayi dan tali pusat, pentingnya
pemeriksaan kehamilan ke Puskesmas, Puskesmas pembantu maupun posyandu.
9) Memberikan pelayanan antenatal di Puskesmas pada setiap hari kerja
10) Melakukan rujukan intern Puskesmas di bagian KIA untuk menjaring ibu hamil yang
datang dengan keluhan lain.
3. Pemanfaatan Pelayanan Antenatal
Mayers (1996) mengemukakan bahwa dalam pelayanan kesehatan yang baik terdapat 4
(empat) elemen pokok yaitu aksesibilitas, kualitas, kesinambungan dan efesiensi dari pelayanan.
a. AksesibilitasPelayanan
Pelayanan harus dapat digunakan oleh individu-individu pada tempat dan waktu yang ia
butuhkan. Pengguna pelayanan harus mempunyai akses terhadap berbagai jenis pelayanan,
peralatan, obat-obatan, dan lain-lain yang sesuai dengan kebutuhan pasien.
b. Kualitas
Suatu pelayanan yang berkualitas tinggi, mengimplementasikan pengetahuan dan tehnik
paling mutakhir dengan tujuan untuk memperoleh efek yang paling baik. Kualitas pelayanan
berhubungan dengan kompetensi profesional dan provider.
c. Kesinambungan
Pelayanan kesehatan yang baik, disamping mempunyai akses dan kualitas yang baik juga
harus memiliki kesinambungan pelayanan, berarti proses pelayanan harus memperlakukan
pasien sebagai manusia secara utuh melalui kontak yang terus menerus antara individu
dengan provider.
d. Efisiensi
Elemen pokok lain dari pelayanan kesehatan yang bermutu adalah efesiensi yang
menyangkut aspek ekonomi dan pembiayaan pelayanan kesehatan baik bagi pasien, provider
maupun bagi organisasi/institusi penyelenggaraan pelayanan.
Donabedian (1986) mengemukakan bahwa keberhasilan pelayanan kesehatan dapat
dilihat dari 3 faktor, yaitu pemberi pelayanan dimana ketiga faktor tersebut menjadi saling
berinteraksi. Dengan demikian kualitas suatu pelayanan kesehatan dapat diukur dari
penampilan pemberipelayanan dan kualitas pelayanan yang diperoleh pemakai jasa
pelayanan.
Dalam pelayanan antenatal aksesibilitas dan kesinambungan secara kuantitas dapat dilihat
dari jumlah dan frekuensi kunjungan ibu hamil untuk pemeriksaan kesehatannya. Untuk
kepentingan pemantauan teknis, Departemen Kesehatan mengembangkan indikator akses
yaitu ratio (%) jumlah kunjungan ibu hamil baru terhadap jumlah semua ibu hamil dalam satu
tahun, dan indikator cakupan yaitu rasio dari jumlah kunjungan ibu hamil baru yang ke-4 atau
lebih, terhadap jumlah semua ibu hamil dalam satu tahun.
Indikator-indikator yang dapat menggambarkan kualitas pelayanan antenatal masih terus
dicari dan dikembangkan. Dalam rangka meningkatkan efektifitas program KIA, Departemen
Kesehatan dalam kebijaksanaannya menentukan bahwa seorang ibu hamil perlu sedini
mungkin mendapat pemeriksaan kehamilan.
Kunjungan pertama (K-1) ibu hamil ke tempat pelayanan harus dilakukan dalam umur
kehamilan tiga bulan pertama (trimester), dan minimal mendapat 1 kali pemeriksaan dalam
trimester tersebut. Pada trimester II (umur kehamilan 4-6 bulan), ibu hamil minimal diperiksa
1 kali dan dalam trimester III (umur kehamilan 7-9 bulan) minimal 2 kali, K-4 adalah
kunjungan ibu hamil mendapat pelayanan antenatal yang ke-4 atau lebih pada trimester III
dengan kunjungan pertama pada trimester I dalam hal jenis pelayanan yang diberikan oleh
petugas antenatal, Departemen Kesehatan menetukan paket minimal ’5T’ yang terdiri dari
(T)imbang Berat Badan, ukur (T)ensi, ukur (T)inggi fundus, beri (T)ablet tambah darah dan
imunisasi (T)T.
Pemanfaatan pelayanan antenatal oleh ibu hamil diukur kearah kualitas pemanfaatan
pelayanan dengan melihat kecukupan (adekuasi) dan kesinambungan kunjungan ibu hamil ke
sarana pelayanan. Adekuasi pemanfaatan pelayanan antenatal diukur dengan
memperhitungkan kunjungan pertama kali memeriksakan kehamilan ke petugas kesehatan
dan kunjungan berikutnya sampai pada trimester III. Pemanfaatan pelayanan antenatal
dikatakan adekuat bila kunjungan pertama untuk pemeriksaan hamil dilakukan pada trimester
I, diperiksa paling sedikit 1 kali pada trimester II dan 2 kali pada trimester III. Hal ini
mengacu pada standar Departemen Kesehatan bahwa seorang ibu hamil harus diperiksa
paling sedikit 1 kali pada trimester I, 1 kali pada trimester II, 2 kali pada trimester III dan total
pemeriksaan selama kehamilan paling sedikit 4 kali. Dengan penentuan adekuasi pemanfaatan
pelayanan antenatal seperti di atas, maka segi kualitas dilihat dari kesinambungan
pemeriksaan maupun segi kuantitas dilihat dari total kunjungan dapat dipenuhi.
Sebagaimana yang telah dikemukakan, kualitas pelayanan kesehatan disamping dapat
dilihat dari sudut pemanfaatan jasa pelayanan, juga dapat diukur dari kualitas pemberi
pelayanan. Kesehatan pelayanan antenatal yang diberikan oleh petugas yang dijabarkan dalam
jenis-jenis pemeriksaan atau pelayanan yang diperoleh ibu hamil selama memanfaatkan
pelayanan antenatal, dipandang oleh penulis merupakan salah satu faktor diluar faktor risiko
kehamilan namun dapat memhubungkan adekuasi pemanfaatan pelayanan antenatal tersebut.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu tujuan Pembangunan Nasional adalah pembangunan Sumber Daya


Manusia (SDM) yang berkualitas agar mereka dapat melanjutkan perjuangan pembangunan
nasional untuk menuju masyarakat, adil dan makmur, kualitas SDM diukur dari kecerdasan,
kematangan emosi, kemampuan berkomunikasi, serta keimanan dan ketakwaan terhadap
tuhan yang maha esa (Roesli utami, 2008).

Berdasarkan penelitian World Health Organization (WHO) di seluruh dunia terdapat


kematian ibu sebesar 500.000 jiwa pertahun dan kematian bayi khususnya neonatus
sebesar 10.000.000 jiwa pertahun (Manuaba, 1998). Data terakhir dari BPS adalah sebesar
262 per 100 ribu kelahiran hidup pada tahun 2005. Sedangkan Laporan Pembangunan
Manusia tahun 2000 menyebutkan angka kematian ibu di Malaysia jauh di bawah Indonesia
yaitu 41 per 100 ribu kelahiran hidup, Singapura 6 per 100 ribu kelahiran hidup, Thailand 44
per 100 ribu kelahiran hidup, dan Filiphina 170 per 100 ribu kelahiran hidup. Padahal, tahun
2000 angka kematian ibu masih berkisar di angka 307 per 100 ribu kelahiran hidup. Bahkan
Indonesia kalah dibandingkan Vietnam, Negara yang belum lama merdeka, yang memiliki
angka kematian ibu 160 per 100 ribu kelahiran hidup (Andra, 2007).

Salah satu faktor tingginya AKI di Indonesia adalah disebabkan karena relatif masih
rendahnya cakupan pertolongan oleh tenaga kesehatan. Departemen Kesehatan
menetapkan target 90 persen persalinan ditolong oleh tenaga medis pada tahun 2011.
Perbandingan dengan hasil survei SDKI bahwa persalinan yang ditolong oleh tenaga medis
profesional meningkat dari 66 persen dalam SDKI 2002-2003 menjadi 73 persen dalam
SDKI 2007. Angka ini relatif rendah apabila dibandingkan dengan negara tetangga seperti
Singapura, Malaysia, Thailand di mana angka pertolongan persalinan oleh tenaga
kesehatan hampir mencapai 90% (SDKI, 2007).

Sedikitnya 18.000 ibu meninggal setiap tahun di Indonesia karena kehamilan atau
persalinan. Hal itu berarti setiap setengah jam seorang perempuan meninggal karena
kehamilan atau persalinan. Akibatnya, setiap tahun 36.000 balita menjadi anak yatim.
Tingginya angka kematian ibu itu menempatkan Indonesia pada urutan teratas di Assocition
South East Asia Nation (ASEAN) dalam hal tersebut. Survei Kesehatan Rumah Tangga
2007 menyebutkan angka kematian ibu di Indonesia 143 per 100.000 kelahiran hidup.
Jumlah itu meningkat dibandingkan dengan hasil survei 2006, yaitu 133 per 100.000
kelahiran hidup (Siswono, 2003).

Sedangkan menurut hasil Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI), angka kematian bayi di

Indonesia pada tahun 2002-2003 sebesar 307 per 1000 kelahiran hidup, Kemudian menjadi 248 per 1000

kelahiran hidup. Hal ini menunjukkan AKI cenderung terus menerus menurun tetapi bila dibandingkan dengan

target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2015 yaitu sebesar 125 per 100.000 kelahiran hidup. Maka

apabila penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya, diperkirakan target tersebut dimasa mendatang

sulit dicapai. (SDKI 2007).

Upaya menurunkan AKI pada dasarnya mengacu kepada intervensi strategis “Empat
Pilar Safe Motherhood”, dimana salah satunya yaitu akses terhadap pelayanan pemeriksaan
kehamilan yang mutunya masih perlu ditingkatkan terus. Pemeriksaan kehamilan yang baik
dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasus risiko tinggi dapat menurunkan angka kematian
ibu. Petugas kesehatan seyogyanya dapat mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang
berhubungan dengan usia, paritas, riwayat kehamilan yang buruk, dan perdarahan selama
kehamilan. Kematian ibu juga diwarnai oleh hal-hal nonteknis yang masuk kategori
penyebab mendasar, seperti taraf pengetahuan, sikap, dan perilaku ibu hamil yang masih
rendah, serta melewati pentingnya pemeriksaan kehamilan dengan melihat angka
kunjungan pemeriksaan kehamilan (K4) yang masih kurang dari standar acuan nasional
(Prawirohardjo, 2002).

Dari studi pendahuluan berdasarkan profil kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan tahun
2011 didapatkan pencapaian cakupan K4 sebesar 83 %, sedangkan targetnya 87 %, untuk
Kota Makassar pencapaian cakupan K4 sebesar 80 % dan targetnya sebesar 86 %, dan
pencapaian cakupan untuk Puskesmas Layang Kota Makassarpada tahun 2011 pencapaian
cakupan K4 sebesar 84 % dengan target K4 sebesar 90 %. Dengan demikian target untuk
cakupan K4 di Puskesmas Layang masih belum tercapai (Dinkes Propinsi Sulsel, 2011).

Tetanus neonatorum merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius


disebagian besar negara bekembang dimana cakupan pelayanan kesehatan antenatal dan
imunisasi tetanus toxoid kepada ibu hamil masih rendah. Untuk mencegah
terjadinya tetanus neonatorum dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu :
meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan antenatal dengan pemberian imunisasi
tetanus toxoid kepada wanita usia subur (WUS) termasuk kepada ibu hamil (Depkes RI,
2012: Online).

Keberhasilan upaya antenatal care selain tergantung pada petugas kesehatan juga
perlu partisipasi ibu hamil itu sendiri. Oleh karena itu perlu adanya penyuluhan yang
bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu tentang perawatan kehamilannya, dengan
demikian diharapkan dengan memperbaiki pengetahuan ibu khususnya ibu hamil terhadap
perawatan kehamilan sehingga akan dapat merubah sikap serta kepatuhan
melaksanakan antenatal care.

Bertolak dari uraian tersebut di atas, dapat diketahui bahwa kurangnya pengetahuan
dan informasi serta pelayanan kesehatan yang memadai semakin memperburuk
kondisi antenatal care. Berdasarkan kenyataan ini, maka penulis tertarik mengadakan
penelitian tentang Distribusi Kunjungan K1 dan Kunjungan K4 pada Ibu Hamil di Puskesmas
Layang Kota Makassar tahun 2011.

B. Rumusan Masalah

Dengan memperhatikan latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan masalah


penelitian sebagai berikut :

1. Bagaimana distribusi kunjungan K1 dan kunjungan K4 pada ibu Hamil berdasarkan umur ibu
di Puskesmas Layang tahun 2011 ?

2. Bagaimana distribusi kunjungan K1 dan kunjungan K4 pada ibu Hamil berdasarkan paritas
ibu di Puskesmas Layang tahun 2011 ?

3. Bagaimana distribusi kunjungan K1 dan kunjungan K4 pada ibu Hamil berdasarkan


Pendidikan ibu di Puskesmas Layang tahun 2011 ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Adapun tujuan yang ingin dicapai yaitu untuk mengetahui distribusi kunjungan K1 dan
kunjungan K4 pada ibu Hamil di Puskesmas Layang tahun 2011.
2. Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai, yaitu :

a. Diketahuinya distribusi kunjungan K1 dan kunjungan K4 pada ibu Hamil berdasarkan umur
ibu di Puskesmas Layang tahun 2011.

b. Diketahuinya distribusi kunjungan K1 dan kunjungan K4 pada ibu Hamil berdasarkan paritas
di Puskesmas Layang tahun 2011

c. Diketahuinya distribusi kunjungan K1 dan kunjungan K4 pada ibu Hamil berdasarkan


pendidikan di Puskesmas Layangtahun 2011

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Masyarakat

Sebagai informasi untuk menambah pengetahuan tentang pentingnnya antenatal care bagi
masyarakat dalam rangka meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak.

2. Bagi Profesi Kebidanan.

Sebagai masukan dalam rangka meningkatkan kualitas SDM tenaga kesehatan khususnya
bidan dalam pelayanan antenatal care.

3. Bagi Institusi Kesehatan

Sebagai bahan informasi dan masukan bagi Dinas KesehatanKota Makassar dan Instansi
terkait Lainnya dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan kebidanan pada ibu hamil.

4. Bagi Peneliti

Menambah wawasan ilmiah penulis dan memperoleh pengalaman berharga dalam


penelitian serta sebagai syarat untuk mendapatkan gelar Ahli Madya Kebidanan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Kehamilan

1. Pengertian Kehamilan

a. Kehamilan adalah suatu keadaan dimana janin dikandung di dalam tubuh wanita, yang sebelumnya diawali
dengan proses pembuahan dan kemudian akan diakhiri dengan proses persalinan (Wikipedia, 2008)

b. Kehamilan adalah sebuah perjalanan selama 9 bulan menuju ke status menjadi ibu. Kehamilan menimbulkan
perubahan emosi baik yang berlangung perlahan-lahan maupun seketika. (Cony Marshall, 2000)

c. Kehamilan merupakan proses alami yang normal. Masa ini merupakan salah satu fase dalam kehidupan wanita
pada masa reproduksi (Mary Noland, 2003).

d. Kehamilan adalah pertumbuhan dan perkembangan janin intrauterin mulai sejak konsepsi dan berakhir sampai
permulaan persalinan (Manuaba, 2002).

e.

8
Kehamilan membutuhkan waktu 9 bulan kalender atau 40 minggu. Kehamilan dibagi menjadi
tiga periode, yaitu trimester I dari minggu ke-1 sampai 13, trimester II dari minggu ke-14
sampai 26, trimester III dari minggu ke-27 sampai 39-40 (akhir kehamilan) (Salmah, 2006).

f. Sedangkan menurut Arif Mansjoer (2000) Kehamilan matur (cukup bulan) berlangsung kira-
kira 40 minggu (280 hari) dan tidak lebih dari 43 minggu (300 hari). Kehamilan yang
berlangsung antara 28 dan 36 minggu di sebut kehamilan premature, sedangkan bila lebih
dari 43 minggu disebut kehamilan postmatur. Menurut usia kehamilan, kehamilan dibagi
menjadi:

a. Kehamilan trimester pertama: 0-14 minggu

b. Kehamilan trimester kedua: 14-28 minggu

c. Kehamilan trimester ketiga: 28-42 minggu

Selama kehamilan ada beberapa hal penting yang perlu di ketahui oleh ibu hamil
maupun keluarganya, antara lain: tanda-tanda kehamilan, tanda bahaya kehamilan, dan
cara memelihara kehamilan (Depkes, Unicef, 2000).

2. Tanda dan Gejala Kehamilan

Beberapa perubahan fisiologis yang timbul selama masa hamil dikenal sebagai tanda
kehamilan. Ada tiga kategori yaitu: presumsi, yaitu perubahan yang dirasakan wanita
(misalnyaamenorea, keletihan, perubahan payudara, morning sicknes,queckening);
kemungkinan, yaitu perubahan yang diobservasi oleh pemeriksa (misalnya, tanda
hegar, ballottoment, tes kehamilan; dan pasti (misalnya, ultrasonografi, bunyi denyut jantung
janin) (Bobak, 2004).

Gejala kehamilan tidak pasti (Arif Mansjoer, 2000) adalah sebagai berikut:

a. Amenorea (tidak mendapat haid).

Penting diketahui tanggal hari pertama haid terakhir untuk menentukan usia kehamilan dan
taksiran partus. Rumus taksiran partus menurut Naegele bila siklus haid ± 28 hari adalah:
tanggal + 7, bulan – 3.

b. Nause (enek) dengan atau tanpa vomitus (muntah).

Sering terjadi pagi hari pada bulan-bulan pertama kehamilan, disebut morning sicknes.

c. Mengidam (menginginkan makanan atau minuman tertentu).

d. Konstipasi/obstipasi.
Disebabkan penurunan peristaltik usus oleh hormone steroid.

e. Sering kencing.

Terjadi karena kandung kemih pada bulan-bulan pertama kehamilan tertekan oleh uterus
yang mulai membesar. Gejala ini akan berkurang perlahan-lahan, lalu timbul lagi pada akhir
kehamilan.

f. Pingsan dan mudah lelah.

Pingsan sering dijumpai bila berada di tempat ramai pada bulan-bulan pertama kehamilan,
lalu hilang setelah kehamilan 18 minggu.

g. Anoreksia (tidak ada nafsu makan).

Tanda mungkin hamil (Arif Mansjoer, 2000) adalah sebagai berikut:

a. Pigmentasi kulit.

Terjadi kira-kira minggu ke-12 atau lebih. Timbul di pipi, hidung, dan dahi, dikenal sebagai
kloasma gravidarum. Terjadi karena pengaruh hormon plasenta yang merangsang
melanafor dan kulit.

b. Leukore.

Sekret serviks meningkat karena pengaruh peningkatan hormon progesteron.

c. Epulis (hipertrofi papila ginggiva).

Sering terjadi pada trimester pertama kehamilan.

d. Perubahan payudara.

Payudara menjadi tegang dan membesar karena pengaruh estrogen dan progesteron yang
merangsang duktuli dan alveoli payudara. Daerah areola menjadi lebih hitam karena deposit
pigmen berlebihan. Terdapat kolostrum bila kehamilan lebih dari 12 minggu.

e. Pembesaran abdomen. Jelas terlihat setelah kehamilan 14 minggu.

f. Suhu basal meningkat terus antara 37,2-37,8°C.

g. Perubahan organ-organ dalam pelvik:


1) Tanda Chadwick: vagina livid, terjadi kira-kira minggu ke-6.

2) Tanda Hegar: segmen bawah uterus lembek pada perabaan.

3) Tanda Piscaseck: uterus membesar ke salah satu jurusan.

4) Tanda Braxton-Hicks: uterus berkontraksi bila dirangsang. Tanda ini khas untuk uterus pada
masa kehamilan.

Tanda pasti kehamilan (Arif Mansjoer, 2000) adalah sebagai berikut:

a. Pada palpasi dirasakan bagian janin dan balotemen serta gerak janin.

b. Pada auskultasi terdengar denyut jantung janin (DJJ). Dengan stetokop Laennec BJJ baru
terdengar pada kehamilan 18-20 minggu. Dengan alat Doppler BJJ terdengar pada
kehamilan 12 minggu.

c. Dengan ultrasonografi (USG) atau scanning dapat dilihat gambaran janin.

d. Pada pemeriksaan sinar X tampak kerangka janin. Tidak dilakukan lagi sekarang karena
dampak radiasi terhadap janin.

Tanda-tanda kehamilan menurut Wheeler (2004) adalah sebagai berikut :

a. Tidak datang haid

b. Pusing dan muntah pada pagi hari

c. Buah dada membesar dan mulai memproduksi ASI

d. Daerah di sekitar puting susu menjadi agak gelap

e. Perut ibu mulai membesar

3. Tanda-Tanda Bahaya Kehamilan

Tanda bahaya pada masa kehamilan perlu diketahui oleh ibu hamil terutama yang
mengancam keselamatan ibu maupun janin yang dikandungnya. Sesuai dengan program di
puskesmas, minimal yang perlu diketahui klien di masyarakat untuk, mengenal tanda
bahaya kehamilan yaitu perdarahan yang keluar dari jalan lahir, hiperemis, pre-eklampsia
dan eklampsia, ketuban pecah dini, dan gerakan janin yang tidak dirasakan (Salmah, 2006).

Tanda-tanda bahaya kehamilan (Depkes, Unicef, 2000) adalah sebagai berikut:

a. Muntah terus menerus dan tidak bisa makan


b. Perdarahan dari jalan lahir

c. Keluar banyak cairan dari jalan lahir sebelum waktu melahirkan tiba

d. Tidak ada gerakan bayi di dalam perut pergeraka berkurang.

e. Tekanan darah meningkat

f. Rasa nyeri hebat di perut

g. Pembengkakan di bagian tubuh terutama di kaki, pandangan kabur, dan sering sakit kepala

h. Demam, suhu tubuh lebih dari 38 0C

4. Cara Memelihara Kehamilan

Cara Memelihara Kehamilan (Depkes, Unicef, 2000) adalah sebagai berikut:

a. Memeriksakan diri ke petugas kesehatan minimal 4 kali selama kehamilannya.

b. Minum tablet tambah darah untuk mencegah kurang darah, paling sedikit 1 kali selama 90
hari selama kehamilan, dan melaksanakan secepatnya mungkin setelah kehamilan
diketahui.

c. Mendapat imunisasi tetanus toksoid (TT) 2 kali sebelum umur kehamilan 8 bulan.

d. Menggosok gigi 2 kali sehari sesudah sarapan pagi dan sebelum tidur malam dengan
menggunakan pasta gigi.

e. Merawat dan memijat payudara setelah usia kehamilan 7 bulan, agar ASI-nya banyak.

f. Cukup istirahat dan tidakBOLEH bekerja terlalu berat.

g. Untuk ibu hamil di daerah endemik gondok, ibu hamil perlu minum 1 kapsul minyak
beryodium menurut petunjuk petugas kesehatan.

h. Makan 1-2 porsi tambahan setiap harinya, diusahakan makanan terdiri dari lauk-pauk,
sayuran, buah-buahan, dan gunakan garam beryodium.

i. Ibu hamil yang sehat bertambah berat badannya minimal 8 kg selama kehamilan. Pada saat
usia kehamilan di atas 7 bulan, pertambahan berat badan paling tidak 3 kg.
B. Tinjauan Umum Tentang Antenatal Care

1. Pengertian Antenatal Care


Antenatal care adalah pemeriksaan kehamilan untuk mengoptimalisasi kesehatan
mental dan fisik ibu hamil, sehingga mampu menghadapi persalinan, nifas, persiapan
memberikan ASI, dan kembalinya kesehatan reproduksi secara wajar (Yasin Setiawan,
2006).

Pemeriksaan antenatal care adalah pemeriksaan dan pengawasan kehamilan untuk


mengoptimalisasi kesehatan mental dan fisik ibu hamil, sehingga mampu menghadapi
persalinan, kala nifas, persiapan memberikan ASI dan kembalinya kesehatan reproduksi
secara wajar (Manuaba, 2010).

2. Tujuan Antenatal Care


Menurut Abdul Bari Saifudin (2002), bahwa tujuan antenatal care adalah sebagai
berikut:

a. Membantu kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang
bayi.

b. Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, sosial, dan bayi.

c. Menganalisa secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi
selama kehamilan termasuk riwayat penyakit secara umum yaitu pembedahan dan
kebidanan.

d. Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat baik ibu maupun
bayinya dengan trauma seminimal mungkin.

e. Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif.

f. Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar tumbuh dan
berkembang secara normal.

Tujuan dari antenatal care menurut Manuaba (2010), adalah sebagai berikut:

a. Mengenal sedini mungkin penyulit yang terdapat saat kehamilan, persalinan, dan nifas.

b. Mengenal dan menangani penyakit yang menyertai kehamilan, persalinan, dan nifas.

c. Memberikan nasehat dan petunjuk yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, kala nifas,
laktasi, dan aspek keluarga berencana.
d. Menurunkan angka kesakitan dan kematian serta perinatal.

3. Kegiatan Pelaksanaan Pelayanan Antenatal Care


Menurut Depkes RI (1994) kegiatan dalam pemeriksaan dan pengawasan kehamilan
meliputi:

a. Anamnesa

b. Pemeriksaan laboratorium

c. Intervensi dasar

d. Intervensi khusus sesuai kondisi

e. Memberikan konseling atau pengetahuan

f. Motivasi ibu hamil agar dapat merawat diri selama hamil

g. Mempersiapkan persalinannya.

Menurut Sarwono (2002), bahwa dalam penerapan praktek sering dipakai standar
minimal perawatan antenatal care yang disebut ”7T”, yaitu:

a. Timbang berat badan dan tinggi badan.

b. Ukur tekanan darah

c. Ukur tinggi fundus uteri

d. Pemberian imunisasi TT lengkap

e. Pemberian tablet zat besi minimum 90 tablet selama hamil

f. Tes terhadap penyakit seksual menular

g. Temu wicara dan konseling dalam rangka rujukan.

4. Frekuensi Kunjungan Antenatal Care


Selama kehamilan keadaan ibu dan janin harus selalu di pantau jika terjadi penyimpangan dari keadaan

normal dapat dideteksi secara dini dan diberikan penanganan yang tepat. Oleh karena itu ibu hamil diharuskan

memeriksakan diri secara berkala selama kehamilannya. Menurut Manuaba (2002), berdasarkan Standar
Pelayanan Kebidanan pemeriksaan kehamilan harus segera dilaksanakan begitu diduga terjadi kehamilan, dan
dilaksanakan terus secara berkala selama kehamilan, dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Ibu harus melaksanakan pemeriksaan antenatal paling sedikit 4 kali.

b. Satu kali kunjungan pada trimester pertama.

c. Satu kali kunjungan pada trimester kedua.

d. Dua kali kunjungan pada trimester ketiga.

Penetapan standar 7T harus dipenuhi dengan minimal 4 kali kunjungan dengan


distribusi sekali pada triwulan pertama, sekali pada triwulan kedua dan dua kali pada
triwulan ketiga untuk melihat kualitas. Berdasarkan keteraturan kunjungan ibu hamil ini,
cakupan pelayanan antenatal dapat dievaluasi yang dikenal dengan K1 dan K4.

C. Tinjauan Variabel Penelitian

1. Kunjungan K1 dan K4

K1 adalah kunjungan baru ibu hamil dengan pelayanan 7T dan K4 adalah kunjungan
ibu hamil yang dimulai dari triwulan pertama 1 kali, triwulan kedua 1 kali dan triwulan ketiga
2 kali, jadi pelajaran pelayanan yang tidak memenuhi standar 7T tersebut belum dapat
dianggap suatu pelayanan antenatal (Depkes RI, 2002: 14)

Bidan memberikan sedikitnya 4 kali pelayanan antenatal, pelayanan meliputi


anamnesis dan pemantauan ibu dan janin dengan seksama untuk menilai apakah
perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenal kehamilan risiko tinggi atau
kelainan, khususnya anemi, kurang gizi, hipertensi, memberikan pelayanan imunisasi,
nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas terkait lainnya yang diberikan oleh
Puskesmas. Bidan harus mencatat data yang tepat pada setiap kunjungan, bila ditemukan
kelainan, bidan harus mampu mengambil tindakan yang diperlukan dan melakukan rujukan.

Standar waktu perawatan kehamilan (ANC) tersebut ditentukan untuk menjamin waktu
pelayanan khususnya dalam memberikan kesempatan yang cukup dalam menangani kasus
resiko tinggi yang ditemukan

a. Tujuan pelayanan antenatal :

1) Mempromosikan dan menjaga kesehatan fisik dan mental ibu dan bayi dengan memberikan
pendidikan gizi, kebersihan diri dan proses kelahiran bayi.

2) Mendeteksi dan menatalaksana komplikasi medis, bedah ataupun obstetri selama


kehamilan.

3) Mengembangkan persiapan persalinan serta rencana kesiagaan menghadapi komplikasi.


4) Membantu menyiapkan ibu untuk menyusui dengan sukses, menjalankan puerperium
normal, dan merawat anak secara fisik, psikologis dan sosial (Mufdlilah, 2009: 7).

b. Jadwal pemeriksaan kehamilan dapat dilakukan sebagai berikut :

1) Pemeriksaan pertama kali yang ideal adalah sedini mungkin ketika haidnya terlambat satu
bulan.

2) Periksa ulang satu kali sebulan sampai kehamilan 7 (tujuh) bulan

3) Periksa ulang dua kali sebulan sampai kehamilan 9 (sembilan) bulan.

4) Periksa ulang setiap minggu sesudah kehamilan 9 (sembilan) bulan.

5) Periksa khusus bila ada keluhan-keluhan.

c. Tujuan pemeriksaan dan pengawasan ibu hamil adalah :

1) Tujuan Umum

Adalah menyampaikan seoptimal mungkin fisik dan mental ibu dan anak selama dalam
kehamilan, persalinan dan nifas, sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat.

2) Tujuan Khusus

a) Mengenali dan menangani penyulit-penyulit yang mungkin dijumpai dalam kehamilan,


persalinan dan nifas.

b) Mengenali dan mengobati penyakit-penyakit yang diderita sedini mungkin.

c) Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak.

d) Memberikan nasihat-nasihat tentang cara hidup sehari-hari dan KB, keamilan, pesalinan,
nifas dan laktasi.

Pelayanan terkait dengan antenatal hanya dapat diberikan oleh tenaga kesehatan
profesional dan tidak dapat diberikan oleh dukun bayi, oleh karena itu setiap wanita hamil
memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan selama periode antenatal yaitu :

a. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu)

b. Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara14-28 minggu)

c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara 28-36 minggu dan sesudah minggu ke
36)
Pada setiap kunjungan antenatal tersebut perlu didapatkan informasi yang sangat
penting, yaitu :

a. Kunjungan pertama trimester I (sebelum minggu ke 14)

1) Membangun hubungan saling percaya antara bidan dan ibu agar supaya hubungan
penyelamat jiwa bisa dibina bilamana perlu.

2) Mendeteksi masalah yang bisa diobati sebelum menjadi atau bersifat mengancam jiwa ibu.

3) Mencegah masalah seperti neonatal tetanus (imunisasi TT), anemia kekurangan zat besi,
penggunaan praktik tradisional yang merugikan.

4) Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.

5) Mendorong perilaku yang sehat (gizi yang cukup dan sesuai, latihan, personal hygiene,
istirahat dll)

b. Kunjungan kedua trimester kedua (sebelum minggu ke 28)

2) Membangun hubungan saling percaya antara bidan dan ibu agar supaya hubungan
penyelamat jiwa bisa dibina bilamana perlu.

3) Mendeteksi masalah yang bisa diobati sebelum menjadi atau bersifat mengancam jiwa ibu.

4) Mencegah masalah seperti neonatal tetanus (imunisasi TT), anemia kekurangan zat besi,
penggunaan praktik tradisional yang merugikan.

5) Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.

6) Mendorong perilaku yang sehat (gizi yang cukup dan sesuai,

latihan, personal hygiene, istirahat dll)

7) Kewaspadaan khusus mengenai Preeklampsia induced Hypertension (PIH) atau


preeklampsia karena hipertensi dengan :

a) Tanya ibu tentang gejala PIH.

b) Pantau tekanan darahnya.

c) Evaluasi edemanya pada wajah dan tangan.

d) Periksa protein urine.

c. Kunjungan ketiga trimester ketiga (antara minggu ke 28-36)


1) Membangun hubungan saling percaya antara bidan dan ibu agar supaya hubungan
penyelamat jiwa bisa dibina bilamana perlu.

2) Mendeteksi masalah yang bisa diobati sebelum menjadi atau bersifat mengancam jiwa ibu.

3) Mencegah masalah seperti neonatal tetanus (imunisasi TT), anemia kekurangan zat besi,
penggunaan praktik tradisional yang merugikan.

4) Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.

5) Mendorong perilaku yang sehat (gizi yang cukup dan sesuai, latihan, personal hygiene,
istirahat dll)

6) Kewaspadaan khusus mengenai Preeklampsia induced Hypertension (PIH) atau


preeklampsia karena hipertensi dengan :

a) Tanya ibu tentang gejala PIH.

b) Pantau tekanan darahnya.

c) Evaluasi edemanya pada wajah dan tangan.

d) Periksa protein urine.

7) Palpasi abdomen untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda atau tidak.

d. Kunjungan keempat trimester ketiga (setelah 36 minggu)

1) Membangun hubungan saling percaya antara bidan dan ibu agar supaya hubungan
penyelamat jiwa bisa dibina bilamana perlu.

2) Mendeteksi masalah yang bisa diobati sebelum menjadi atau bersifat mengancam jiwa ibu.

3) Mencegah masalah seperti neonatal tetanus (imunisasi TT), anemia kekurangan zat besi,
penggunaan praktik tradisional yang merugikan.

4) Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.

5) Mendorong perilaku yang sehat (gizi yang cukup dan sesuai, latihan, personal hygiene,
istirahat dll)

6) Kewaspadaan khusus mengenai Preeklampsia induced Hypertension (PIH) atau


preeklampsia karena hipertensi dengan :

a) Tanya ibu tentang gejala PIH.

b) Pantau tekanan darahnya


c) Evaluasi edemanya pada wajah dan tangan.

d) Periksa protein urine.

7) Palpasi abdomen untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda atau tidak.

8) Deteksi dini bayi yang tidak normal atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di Rumah
Sakit dan persiapan rujukan.

Ibu hamil tersebut harus lebih sering dikunjungi jika terdapat masalah dan ibu hamil
hendaknya disarankan untuk menghubungi petugas kesehatan bilamana ibu hamil
merasakan tanda-tanda bahaya atau merasa khawatir (Kusmiyati, 2009: 168).

2. Umur ibu

Menurut Bambang M dalam kamus besar Bahasa Indonesia (Tahun 1999) umur
adalah keadaan lamnya manusia. Dimana umur merupakan salah satu factor yang berkaitan
dengan unsure-unsur manusia yang turut berperan terhadap kondisi ibu maupun
masyaraka tertentu. Berkaitan dengan masalah kesejahteraan ibu dan anak terutama wanita
dalam masa persalinan. Karena secara psikologis menurut Edi Sulaeman dalam buku
bacaan kesehatan reproduksi (2002) usia seorang wanita yang masih terlalu muda untuk
hamil mengakibatkan uterus tidak dapat melaksanakan fungsinya dengan baik sebaliknya
seorang wanita dalam usianya yang semakin tua akan mengakibatkan suatu proses
penurunan fungsi fisiologis tubuh termasuk organ-organ reproduksi antara lain akan memicu
terjadinya penurunan elastisitas serta kontraksi otot rahim.

Usia ibu hamil terlalu muda (< 20 tahun) dan terlalu tua (> 35 tahun) mempunyai
risiko yang lebih besar untuk melahirkan bayi kurang sehat. Hal ini dikarenakan pada umur
dibawah 20 tahun, dari segi biologis fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang
dengan sempurna untuk menerima keadaan janin dan segi psikis belum matang dalam
menghadapi tuntutan beban moril, mental dan emosional, sedangkan pada umur diatas 35
tahun dan sering melahirkan, fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami
kemunduran atau degenerasi dibandingkan fungsi reproduksi normal sehingga
kemungkinan untuk terjadinya komplikasi pasca persalinan terutama perdarahan lebih
besar. Perdarahan post partum yang mengakibatkan kematian maternal pada wanita hamil
yang melahirkan pada umur dibawah 20 tahun, 2-5 kali lebih tinggi daripada perdarahan
post partum yang terjadi pada usia 20-29 tahun. Perdarahan post partum meningkat kembali
setelah usia 30-35 tahun (Wiknjosastro H, 2008 : 233).

3. Paritas
Menurut Helen Varney dalam buku saku bidan ( 2001) paritas adalah jumlah kehamilan
yang diakhiri dengan kelahiran janin yang memenuhi syarat untuk melangsungkan
kehidupan atau pada usia kehamilan lebih dari 28 minggu dan berat badan janin mencapai
lebih dari 1000 gram. Frekuensi melahirkan yang sering dialami oleh ibu merupaka suatu
keadaan yang dapat mengakibatkan endometrium menjadi cacat dan sebagai akibatnya
dapat terjadi komplikasi dalam persalinan.

Paritas 2 sampai 3 kali merupakan paritas yang paling aman ditinjau dari sudut
kematian maternal. Paritas lebih dari 3 mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi.
Resiko pada paritas 1 sampai 3 dapat ditangani dengan asuhan obstetric yang lebih baik,
sedangkan resiko tinggi (lebih dari 4 kali) dapat dikurangi atau dicegah dengan keluarga
berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan
(Wiknjosastro H, 2008 hal 233).

4. Pendidikan

a. Pengertian

Dalam kamus bahasa Indonesia, pendidikan berasal dari kata dasar didik (mendidik)
yaitu memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai ahlak dan kecerdasan
pikiran, sedangkan pendidikan mempuyai pengertian proses mengubah sikap dan tingkah
laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya
pengajaran dan latihan, proses perbuatan dan cara mendidik. Ki Hajar Dewantara
mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran, serta
jasmani, agar dapat memajukan kesempatan hidup (Poerwardarminta, 2001).

b. Jalur pendidikan

Jalur pendidikan merupakan wahana yang dapat dilalui untuk mengembangkan


potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan yang
dikelompokkan menjadi 3 jalur yaitu :

1) Pendidikan formal

Pendidikan formal merupakan pendidikan yang diselenggarakan disekolah-sekolah pada


umumnya, jalur pendidikan mempunyai jenjang pendidikan yang jelas, mulai dari pendidikan
dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi.

2) Pendidikan Non Formal


Pendidikan non formal paling banyak terdapat pada usia dini, serta pendidikan dasar seperti
TPA, berbagai kursus seperti musik, bimbingan belajar, dan sebagainya.

3) Pendidikan Informal

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar
secara mandiri.

c. Jenjang Pendidikan

Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat


perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai dan kemampuan yang
dikembangkan, pendidikan di Indonesia mengenal 3 jenjang pendidikan yaitu :

1) Pendidikan dasar (SD/MI/paket C dan SLTP/MTS/ paket B)

2) Pendidikan menengah (SMU/SMK)

3) Pendidikan tinggi (S1, S2, S3).

d. Sistem Pendidikan

Dalam pengertian umum, yang dimaksud dengan sistem adalah jumlah keseluruhan
dari bagian-bagiannya yang saling bekerja sama untuk mencapai hasil yang diharapkan
berdasarkan kebutuhan yang telah ditentukan. Setiap sistem pasti mempunyai tujuan dan
semua kegiatan dari semua komponen atau bagian-bagiannya diarahkan dari tercapainya
tujuan tersebut. Karena itu proses pendidikan merupakan sebuah sistem yang disebut
sebagai sistem pendidikan.

Secara teoritis, suatu sistem pendidikan terdiri dari komponen-komponen atau


bagian-bagian yang menjadi inti dari proses pendidikan, adapun komponen atau faktor-
faktor tersebut terdiri dari :

1) Tujuan

Tujuan disebut juga cita-cita pendidikan yang berfungsi untuk memberi arah terhadap
semua kegiatan dalam proses pendidikan.

2) Peserta Didik

Fungsinya adalah sebagai obyek yang sekaligus sebagai subyek pendidikan. Sebagai
obyek peserta didik tersebut menerima perlakuan-perlakuan tertentu, tetapi dalam
pandangan pendidikan moderm peserta didik lebih dekat dikatakan sebagai subyek atau
pelaksanaan pendidikan.
3) Pendidik

Pendidik berfungsi sebagai pembimbing pengaruh untuk menumbuhkan aktivitas peserta


didik dan sekaligus sebagai pememgang tanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan.

4) Alat Pendidikan

Maksudnya adalah sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan
pendidikan yang berfungsi untuk mempermudah atau mempercepat tercapainya tujuan
pendidikan.

5) Lingkungan

Maksudnya lingkungan sekitar yang dengan sengaja digunakan sebagai alat dalam proses
pendidikan. Lingkungan berfungsi sebagai wadah atau lapangan terlaksanaya proses
pendidikan (Hasbullah, 2008).

DAFTAR PUSTAKA

Andra, 2007. Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi.(http://www,Hidayatullah.com/indeks,


tanggal 26 September2011

Bagian Rekan Medik, 2010. Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas Layang Kota Makassar.
Makassar

Bambang M. 1999. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Kedua. Balai Pustaka, Jakarta

Bobak, Lowdermilk. (2004). Buku Ajaran Keperawatan Maternitas. Ed. 4. Jakarta: EGC.

Cony Marshall, 2000. Kehamilan. http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/Online, diakses tanggal 10


September 2011.

Depkes RI, 2000, Warta Kesehatan Masyarakat. Jakarta

Depkes RI, 2010. Cakupan Pelayanan Kesehatan Antenatal dan Imunisasi Tetanus Toxoid Kepada
Ibu. http: //www.depkes.go.id/downloads Online, diakses tanggal 8 September 2011.

Eko Budiarto.2002. Biostatistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat. EGC. Jakarta

Mandriwati G.A, 2008. Asuhan Kebidanan Ibu Hamil. EGC, Jakarta

Mansjoer Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius, Jakarta

Manuaba, I, Gde, Bagus, 2002. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri, Ginekologi dan
KB. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.

Mary Noland, 2003. Proses Terjadinya Kehamilan.http://www.docstoc.com Online, diakses


Wikipedia, 2008. Proses Kehamilan. http://ronaldoedi.wordpress.com Online, diakses tanggal 8
September 2011

Wiknjosastro Hanifa. 2008. Ilmu Kebidanan. YBP-SP, Jakarta