Anda di halaman 1dari 2

Kesabaran dalam Menghadapi Celotehan

Esai Cerpen “Rumah Yang Terang”


Oleh : Ahmad Tohari

“Rumah Yang Terang” merupakan salah satu cerpen karya Ahmad Tohari. Beliau
dilahirkan di Banyumas, Jawa Tengah pada tanggal 13 Juni 1948. Ahmad Tohari adalah
seorang sastrawan dan budayawan berkebangsaan Indonesia. Beliau pernah mengenyam
bangku kuliah di FK Ibnu Khaldun, FE dan FISIP di Universitas Jenderal Soedirman. Selain
“Rumah Yang Terang”, salah satu karya Ahmad Tohari yang tidak kalah monumentalnya
yakni Ronggeng Dukuh Paruk. Merupakan cerpen Ahmad Tohari yang sudah diterbitkan
dalam berbagai bahasa dan diangkat dalam film layar lebar yang berjudul Sang Penari.
Karya-karya Ahmad Tohari juga banyak yang dimuat di media masa.
“Rumah Yang Terang” merupakan salah satu cerpen Ahmad Tohari yang
menceritakan tentang kisah hidup seorang ayah yang bernama Haji Bakir. Haji Bakir tersebut
tidak suka dengan listrik sehingga membuatnya mendapat celotehan dari para tentangganya.
Bahkkan didalam cerita tersebut, anak Haji Bakir pun juga sering mendapat celotehan dari
tetangganya.
“Haji Bakir itu seharusnya berganti nama menjadi Haji Bakhil. Dia kaya
tetapi tidak mau pasang listrik. Tentu saja ia khawatir akan keluar banyak
duit.”
Kadang celotehan tersebut sampai di telinga anak Haji Bakir sedemikian tajam. Para
tetangganya mengatakan bahawa ayahnya memelihara tuyul.
“Tentu saja Haji Bakir tak mau pasang listrik karena tuyul tidak suka cahaya
terang.”
Anak Haji Bakir merupan seorang propagandis pemakaian alat kontrasepsi yang harus
rela setiap kali membeli baterai dan menyetrum aki akhibat tidak adanya listrik di rumahya.
Didalam cerita karya Ahmad Tohari tersebut digambarkan dengan sangat jelas
bagaimana urutan kejadian peristiwanya, Ahmad Tohari juga menjelaskan bagaimana konflik
yang terjadi di antara tokoh-tokohnya. Konflik bermula ketika tokoh aku yang merupakan
anak Haji Bakir sendiri, ia belum mengetahui latar belakang sikap ayahnya yang aneh
tersebut.
“Jadi kamu seperti orang-orang yang mengatakan aku bakhil dan pelihara
tuyul?”
Konflik cerita semakin memuncak ketika Haji Bakir sedang sakit dan tidak mau
dibawa ke rumah sakit oleh anaknya. Haji Bakir pun merasa tersinggung dengan pertanyaan
anknya dan langsung menjawab ajakan anaknya dengan ironi.
“ Apakah ayah khawatir di rumah sakit nanti ayah akah dirawat dalam ruang
yang diterangi lampu listrik? Bila demikian halnya maka akan ku usahakan
agar mereka menyalakan lilin saja khusus bagi ayah.”
“Sudahlah, Nak. Kamu lihat sendiri aku hamper mati. Sepeninggalku nanti
kamu bias secepatnya memasang listrik di rumah ini.”
Konflik di dalam cerita tersebut menurun ketika Haji Bakir meninggal yang kian
sudah seratus harinya. Kemudian tetangganya bertahlil ke rumah Haji Bakir dan memandangi
lampu neon dua puluh watt sambil tersenyum. Tantunya ada saja tetangga yang medekati
anak Haji Bakir dan mengatakan “Nah, lebih enak dengan listrik ya Mas?”. Anak Haji Bakir
yang linglung mendengar perkataan tersebut, tiba-tiba mulutnya mengatakan kepada tamu
yang bertahlil di rumahnya, apa alasan yang sebenarnya mengapa ayahnya tidak suka listrik,
satu hal yang seharusnya tetap ia simpan.
“Ayahku memang tidak suka listrik. Beliau punya keyakinan hidup dengan
listri akan mengandung keborosan cahaya. Apabila cahaya dihabiskan
semasa hidupnya maka ayahku khawatir tidak ada lagi cahaya bagi beliau di
dalam kubur”.
Terlihat bahwa gambaran yang diceritakan oleh Ahmad Tohari tersebut terjadi di
kampung yang sangat sunyi. Ahmad Tohari juga menjelaskan bagaimana sudut pandang yang
digunakan dalam cerita tersebut. Dapat disimpulkan bahwa beliau menggunakan sudut
pandang orang pertama pelaku utama dan sudut pandang pengamat yang serba tahu. Dimana
orang pertama adalah tokoh aku yang merupakan anak Haji Bakir yang terdapat dalam cerita
tersebut. Pengamat yang serba tahu merupakan pengarang yang berdiri di luar cerita dan
berlaku seperti dalang yang serba tahu.
“Aku sendiri bukan tidak punya masalah dengan sikap ayah.”
“Aku menyesal. Tapi tak mengapa karena kemudian ayah mengatakan alas an
yang sebenarnya mengapa beliau tak mau pasang listrik.”
Pesan yang dapat kita ambil dari cerpen tersebut yaitu salinglah menghargai sesama
tetangga dan bersikap baiklah kepada keluarga dan janganlah terlalu cepat mengambil
kesimpulan terhadap apa yang dilakukan orang lain, sebab akan menimbulkan kesalah
pahaman.