Anda di halaman 1dari 14

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/273634762

Mengerjakan Soal Latihan Matematika: Hanya agar Terjawab dengan Cepat


dan Akurat?

Conference Paper · September 2014


DOI: 10.13140/2.1.3027.6649

CITATION READS

1 8,234

1 author:

Abdur Rahman Asari


Universitas Negeri Malang, Malang, Jawa Timur, Indonesia
67 PUBLICATIONS   18 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Kemendikbud View project

Thesis View project

All content following this page was uploaded by Abdur Rahman Asari on 17 March 2015.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


MENGERJAKAN SOAL LATIHAN MATEMATIKA:
HANYA AGAR TERJAWAB DENGAN CEPAT DAN AKURAT?
Abdur Rahman As’ari

PENDAHULUAN

Seorang sahabat bertanya kepada Asari:

“As, bagaimana mengajarkan soal berikut kepada siswa? Ketika dulu di KTSP bukankah
ini diajarkan di kelas 9. Sekarang kok mau diajarkan di kelas 7. Terlalu sulit itu As.”

BELAJAR MATEMATIKA DALAM ERA K 13

Soal di atas adalah salah satu soal dalam buku matematika (buku siswa) yang dirancang
untuk penerapan Kurikulum 2013. Sahabat Asari itu baru tahun ini menerapkan
kurikulum 2013. Mengingat waktu pelatihan yang hanya kurang lebih 1 minggu atau
bahkan hanya 5 hari, wajar jika yang bersangkutan agak kaget dengan soal ini. Kalau
dalam kurikulum sebelumnya soal seperti ini diberikan di kelas 9, maka sekarang soal
ini diberikan di kelas 7. Apalagi, pengalaman dia menunjukkan bahwa soal itu memiliki
jawaban tunggal. Sahabat Asari tersebut memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri
dengan tuntutan kurikulum 2013.

Kurikulum 2013 memang dikembangkan dengan maksud untuk menghasilkan insan


Indonesia yang produktif, inovatif, kreatif, dan afektif melalui penguatan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan (Kasim, 2014). Karena itu, pembelajaran matematika
pun harus diarahkan untuk membentuk insan yang produktif, inovatif, kreatif, dan
afektif tersebut. Untuk mencapai hajat itu, menurut hemat penulis, pembelajaran
matematika tidak boleh didefinisikan sekedar upaya untuk mantransfer pengetahuan
matematika kepada anak. Pembelajaran matematika harus diarahkan untuk membantu
siswa mengembangkan kemampuan berpikir matematis, yang merupakan faktor yang
sangat penting untuk hidup di abad 21 (Doyle, tanpa tahun).

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 1


Menurut Chamberlin (2010), terdapat 9 cara berpikir dalam matematika yang dimiliki
oleh orang yang hebat matematikanya, yaitu:

1. Menganalisis secara cermat struktur masalah yang dihadapi dan membangun


persepsi yang tepat berdasarkan struktur tersebut,
2. Mengetahui kapan dan dimana suatu konsep atau prinsip matematika bisa
diterapkan,
3. Mengoperasikan lambang bilangan dan simbol,
4. Menyusun secara urut,
5. Menyadari ketidakefisienan dan mengetahui bagaimana menyederhanakan proses,
6. Membalik proses mental dengan cara bekerja mundur,
7. Memikirkan secara fleksibel,
8. Menggunakan ingatan matematis terutama bilangan, rumus yang penting dalam
pemecahan masalah, dan
9. Bekerja dengan konsep spasial keruangan.

Kalau pendidikan matematika di Indonesia diharapkan mencetak orang-orang yang


hebat dalam berpikir matematisnya, berbagai upaya harus dilakukan. Pembelajaran
matematika harus mendorong anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, memiliki
ketekunan untuk menggali informasi, kemampuan memilah dan memilih informasi,
kemampuan merangkai dan mengasosiasikan informasi yang tersedia, dan
menghasilkan kesimpulan yang baru. Pembelajaran matematika harus mengutamakan
peningkatan kemampuan berpikir siswa. Karena itu, Chamberlin (2010) menyarankan
agar 1/3 dari alokasi waktu belajar yang ada dicurahkan untuk menyelesaikan soal
biasa, 1/3 berikutnya untuk mengerjakan soal-soal yang problematis, dan 1/3 sisanya
untuk mengerjakan tugas problem solving yang realistik. Kendatipun begitu, semua itu
harus diarahkan untuk membantu anak belajar berpikir secara matematis.

MEMBANTU BELAJAR BERPIKIR MATEMATIS

Menurut Watson & Mason (2006), belajar memiliki makna yang luas, mulai dari sekedar
penguasaan fakta (factual acquisition), penataan ulang konsep and pengembangan
skema (conceptual reorganization and schema development), sampai kepada
perubahan sikap dan persepsi (alteration of predispositions and perceptions).
Berdasarkan klasifikasi tersebut, belajar berpikir matematis, tentu bukan dalam ranah
penguasaan fakta atau bahkan penataan ulang konsep dan pengembangan skema.
Belajar berpikir matematis lebih mengarah kepada pembentukan perubahan sikap dan
persepsi.

Terkait dengan definisi belajar tersebut, pembelajaran pun memiliki rentang tujuan
yang bervariasi. Akan tetapi, menurut Doyle (2008), apapun definisinya, pembelajaran
hendaknya membantu anak belajar sesuatu yang tahan lama (long-lasting), bermanfaat
(useful), bisa diterapkan (applicable), dan bisa ditransfer (transferable). Pembelajaran
dikatakan berhasil hanya terjadi jika siswa mampu mengingat informasi yang
diperlukan, baik untuk keperluan pembelajaran berikutnya maupun untuk keperluan

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 2


kehidupan sehari-hari. Pembelajaran juga dikatakan sukses hanya jika siswa mampu
menggunakan apa yang telah dipelajarinya dalam kehidupan, baik secara langsung
(apply), maupun dengan melakukan modifikasi dan pengembangan lain (transfer).
Karena itu, pembelajaran tidak boleh hanya untuk keperluan sesaat. Pembelajaran
memang boleh diarahkan untuk keperluan saat ini. Akan tetapi, yang lebih penting lagi
adalah untuk keperluan jangka panjang. Karena itu, berdasarkan konsep Doyle ini,
belajar dalam rangka mengembangkan kemampuan berpikir matematis lebih diarahkan
kepada belajar untuk transfer.

Setelah mempelajari suatu konsep atau bahkan untuk keperluan mempelajari suatu
konsep, siswa seringkali diharapkan dengan berbagai macam soal. Kadang kegiatan
mengerjakan soal ini hanya untuk keperluan latihan semata, tetapi sebenarnya
pengerjaan soal itu memiliki potensi yang lebih dari itu. Pengerjaan soal bisa untuk
keperluan yang lebih luas. Untuk itu, soal yang dipilih hendaknya memenuhi kriteria
tertentu.

Cai & Lester (2010) memberikan sekumpulan kriteria soal yang layak diberikan kepada
siswa. Kriteria-kriteria tersebut adalah bahwa soal yang diberikan kepada siswa
haruslah:

1. Penting dan bermanfaat,


2. Menuntut pemikiran tingkat tinggi,
3. Berkontribusi kepada pengembangan konsep siswa,
4. Menciptakan peluang bagi guru untuk menilai keberhasilan belajar siswanya serta
mengetahui dimana mereka mengalami kesulitan
5. Memiliki banyak solusi,
6. Dapat didekati dengan berbagai cara,
7. Mendorong keterlibatan siswa secara aktif,
8. Memiliki hubungan dengan topik matematika lainnya yang penting,
9. Mendorong penggunaan matematika secara terampil,
10. Memberikan peluang mengembangkan keterampilan.

Menurut hemat penulis, uraian di atas menunjukkan pentingnya memberikan soal yang
bukan semata untuk melatih kecepatan dan kelancaran penyelesaiannya. Soal yang
diberikan hendaknya mengembangkan keterampilan berpikir matematis tingkat tinggi
yang bermanfaat, baik untuk kepentingan belajar di jenjang lebih tinggi maupun untuk
sukses di dalam kehidupan.

Berkenaan dengan soal yang dipermasalahkan atau dikeluhkan oleh sahabat Asari di
atas, dalam forum ini penulis tertantang untuk memberikan sedikit uraian tentang
perlunya guru mengenali potensi soal yang ada untuk mengembangkan kemampuan
berpikir matematis siswa. Dengan menguraikan potensi soal yang ada, penulis berharap
para guru akan belajar untuk selalu mengenali potensi soal dan memanfaatkannya di
kelas dengan bijak. Dengan penerapan yang baik, semoga soal-soal yang diberikan

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 3


kepada siswa tidak sekedar untuk keperluan latihan, tetapi lebih dari itu adalah untuk
kepentingan pengembangan kemampuan berpikir matematis siswa.

PEMBAHASAN

Ketika guru merancang suatu proses pembelajaran, mereka perlu mempertimbangkan


beberapa hal penting, antara lain: (1) apa yang kemungkinan bisa dilakukan oleh siswa,
(2) apa yang mungkin akan mereka lihat, dengar, dan pikirkan, dan (3) bagaimana
kemungkinan respons yang akan ditampilkan (Watson & Mason, 2006). Salah satu hal
yang sangat penting untuk diperhatikan adalah jenis dan kualitas tugas yang harus
dilakukan siswa. Tugas yang diberikan guru oleh siswa akan menentukan kualitas
pengalaman belajar siswanya. Tugas berikut dengan sistem sosial, budaya, dan
lingkungan serta tingkat kesulitan, jenis tagihan yang diminta, dan variasi muatan yang
mungkin dibuat merupakan tawaran yang menentukan siswa tertarik dan tertantang
untuk belajar atau tidak.

Mengerjakan latihan soal atau memecahkan masalah adalah salah satu contoh tugas
yang biasanya diberikan guru kepada siswa dalam setiap pembelajaran matematika.
Bahkan, tidak jarang, guru hanya berbicara sebentar untuk menjelaskan konsep, dan
meminta siswa untuk mengerjakan soal latihan matematika dalam jumlah yang banyak
dan dalam waktu yang lama. Karena itu, pengalaman siswa mengerjakan tugas atau soal
matematika merupakan aspek penting untuk pengembangan berpikir matematis siswa.

Akan tetapi, tugas atau soal matematika itu harus dipilihkan sedemikian rupa sehingga
bermanfaat optimal bagi belajar siswa. Soal tersebut tidak boleh dibuat atau dipilih
secara acak dan sekenanya . Menurut Watson & Mason (2004), tugas pengerjaan soal
yang memungkinkan siswa belajar dengan baik adalah tugas yang tidak biasa atau not
ordinary. Tugas yang baik bukanlah tugas yang hanya sekedar menjadikan siswa
berlatih banyak. Tugas yang baik adalah tugas yang diarahkan untuk membantu siswa
menguasai keterampilan dan hal penting lain yang diperlukan untuk kesuksesan
hidupnya di abad dimana mereka hidup.

Saat ini kita berada di abad ke 21. Beberapa keterampilan yang perlu dimiliki dan
dikuasai dengan baik agar orang mampu bertahan hidup atau bahkan mewarnai
kehidupan di abad 21 ini adalah: (1) creativity and innovation, (2) critical thinking and
problem solving, (3) communication, (4) collaboration, (5) information management,
(6) effective use of technology, (7) career and life skills, and (7) cultural awareness
(Beers, tanpa tahun). Siswa harus kreatif dan inovatif. Siswa harus mampu berpikir
kritis dan mampu memecahkan masalah. Siswa harus mampu berkomunikasi,
bekerjasama, mengelola informasi, dan menggunakan teknologi secara efektif. Siswa
juga harus mampu memiliki keterampilan untuk mengembangkan karir dan kehidupan
mereka. Terakhir, siswa harus memiliki kepekaan terhadap budaya yang ada di sekitar
mereka.

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 4


Karena itu, tugas yang harus dikerjakan siswa hendaknya memperhatikan peluang
untuk tumbuh dan berkembangnya tujuh hal di atas. Tugas yang diberikan hendaknya
mendorong tumbuh berkembangnya daya kreasi, kemampuan berpikir kritis dan
pemecahan masalah, kemampuan berkomunikasi, bekerjasama siswa. Tugas juga
hendaknya mendorong anak memiliki kemampuan mengelola informasi, menggunakan
teknologi, dan peduli pada budaya sekitar. Jadi, tugas apapun, hendaknya dimanfaatkan
untuk semua hal di atas. Tugas jangan hanya dipandang untuk keperluan latihan
semata.

Kembali ke permasalah yang diajukan sahabat Asari di atas. Mengapa sahabat tersebut
menanya seperti itu? Menurut hemat penulis, ada beberapa alternatif penyebab
mengapa sahabat itu bertanya seperti itu, antara lain:

1. Beliau terlalu sayang kepada siswa dan khawatir anak tidak bisa menjawabnya
kalau kelak soal semacam ini keluar dalam ujian nasional,
2. Beliau tidak percaya diri dengan cara yang bisa digunakan untuk menentukan
jawab dari soal ini karena dia sendiri pun tidak bisa menemukan rumus umum yang
bisa dipakai untuk menjawabnya,
3. Beliau khawatir kehabisan waktu karena anak berjibaku hanya dengan soal ini saja
dan tidak sempat untuk mempelajari hal yang lain.

Hal-hal yang diungkapkan di atas adalah hal yang wajar. Jenis soal UN yang lebih banyak
pilihan ganda dan berupa speed test (tes yang diukur dalam waktu tertentu) telah
menciptakan praktik “teaching to the test”. Pembelajaran dalam rangka menjawab soal-
soal latihan lebih banyak diorientasikan kepada keterjawaban atau keterselesaian
soal itu dengan cepat dan tepat. Fokus pembelajaran kurang atau bahkan tidak
diarahkan kepada pengembangan kemampuan berpikir dan kemampuan belajar
bagaimana belajar (learning how to learn) yang transferable untuk semua masalah
(baik matematis maupun kehidupan nyata).

Menurut hemat penulis, para pendidik seharusnya mau dan mampu melihat potensi
soal yang ada untuk pengembangan kemampuan berpikir dan kemampuan “belajar
bagaimana belajar”. Dengan mengetahui potensi soal, guru akan mampu merancang
pengalaman belajar yang penting yang perlu dilalui siswa untuk optimalisasi belajar
mereka. Berikut disajikan beberapa potensi dari soal-soal yang sempat penulis pikirkan.

POTENSI SOAL

Berikut disajikan beberapa contoh soal dan potensi yang dimiliki dan dipertimbangkan
untuk pengembangannya dalam pembelajaran.

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 5


Soal #1

Soal ini sebenarnya dimaksudkan untuk soal barisan bilangan yaitu untuk KD
menemukan pola dan hubungan. Hanya saja, soalnya disajikan dalam bentuk gambar.

Kalau diamati secara cermat, barisan bilangan yang adalah barisan sebagai berikut:

Suku pertama adalah susunan lingkaran dengan dimensi 1 x 2,

Suku kedua adalah susunan lingkaran dengan dimensi 2 x 3,

Suku ketiga adalah susunan lingkaran dengan dimensi 3 x 5.

Di sinilah menariknya.

Kalau guru memahami definisi barisan dengan baik, yakni “fungsi dari himpunan
bilangan asli ke ...”, sebenarnya mau diisi susunan lingkaran apapun pada suku
berikutnya, jawaban tersebut adalah benar. Sepanjang tidak ada keterangan apapun
tentang barisan yang dimaksud, maka guru bisa berpegang pada definisi barisan
sebagai fungsi dari himpunan bilangan asli N. Guru tidak perlu berambisi bahwa
jawabannya harus tunggal. Jawabannya boleh bermacam-macam.

Oleh karena itu, barisan ini mungkin saja memiliki banyak alternatif antara lain.

Alternatif 1:

Barisannya adalah 1 x 2, 2 x 3, 3 x 5, 1 x 2, 1 x 2, 1 x 2, 1 x 2, dan seterusnya 1 x 2 saja .


Artinya, setelah 3 x 5, suku berikutnya konstan dan isinya hanya 1 x 2 saja. Kalau ini
terjadi, maka suku ke 100 dari barisan ini adalah 1 x 2. Tidak perlu pakai rumus.

Tentunya, bentuk konstan yang lain juga boleh. Terserah siswa.

Alternatif 2:

Barisannya adalah 1 x 2, 2 x 3, 3 x 5, 4 x 7, 5 x 11, 6 x 13, ... dimana komponen


pertamanya adalah barisan bilangan asli dan komponen ke duanya adalah barisan
bilangan prima. Karena itu, suku ke 100 dari barisan ini adalah bilangan prima ke 100
yang itu bisa ditentukan dengan pelan-pelan.

Alternatif 3:

Barisannya adalah 1 x 2, 2 x 3, 3 x 5, 4 x 8, 5 x 12, 6 x 17, 7 x 23, ...

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 6


Komponen pertama adalah barisan bilangan asli dan komponen kedua dari setiap
barisan adalah 2, 3, 5, 8, 12, 17, 23, ... dimana beda setiap dua pasang sukunya secara
berturut-turut membentuk barisan bilangan asli 1, 2, 3, 4, 5, 6, ...

Kalau ini yang terjadi, maka suku ke 100 akan memberi kesempatan kepada anak
belajar pola bilangan yang menarik.

Alternatif 4:

Barisannya adalah 1 x 2, 2 x 3, 3 x 5, 1 x 2, 2 x 3, 3 x 5, 1 x 2, 2 x 3, 3 x 5, ... dimana terjadi


pengulanan 1 x 2, 2 x 3, 3 x 5 secara terus menerus.

Kalau ini yang terjadi, maka suku ke 100 adalah 1 x 2.

Tentu masih banyak lagi alternatif barisan lain yang bisa dibangun dari soal tersebut.
Inilah jenis soal yang berbentuk open-ended (satu soal dengan alternatif jawaban
bermacam-macam). Dengan memberikan kesempatan dan mendorong anak untuk
menemukan berbagai macam jawaban yang mungkin, ada beberapa keuntungan yang
bisa diraih, antara lain:

1. anak akan lebih percaya diri dengan jawaban yang dimiliki meskipun jawabnya
berbeda dengan jawab temannya,
2. anak akan menjadi lebih berpikiran positif terhadap matematika, karena kreativitas
mereka diberi kesempatan berkembang,
3. anak akan lebih toleran dengan jawaban lain sepanjang masuk akal,
4. anak akan menjadi lebih kritis dengan klaim tertentu, karena mereka akan lebih
dulu mengkaji asumsi dari klaim tersebut.

Praktik pembelajaran kita selama ini memang lebih banyak memberikan soal yang
bersifat closed-ended (soal dengan jawaban tunggal) dan itulah sebabnya mengapa kita
kurang percaya diri memanfaatkan potensi soal ini untuk mengembangkan kemampuan
berpikir anak. Praktik ujian yang sifatnya pilihan ganda juga ikut berkontribusi
terhadap kecemasan guru. Mudah-mudahan ujian nasional kita nanti tidak lagi
berbentuk pilihan ganda semata.

Soal #2

Diketahui 2/3 siswa pria dan ½ siswa wanita di suatu kelas berkumpul di aula sekolah.
Kalau dihitung-hitung, jumlah semua siswa yang di aula itu ternyata sama dengan 60%
banyaknya siswa di sekolah itu. Berapakah banyaknya siswa di sekolah tersebut?

Soal ini menarik dan banyak guru yang mempertanyakan. Mengapa? Karena salah satu
di antara keunikan dari soal ini adalah sifat open-endednya.

Kalau kita misalkan banyaknya siswa pria seluruhnya adalah p dan banyaknya siswa
wanita seluruhnya adalah w maka kita akan memperoleh persamaan:

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 7


ଶ ଵ ଷ
‫ ݌‬+ ‫ = ݓ‬ሺ‫ ݌‬+ ‫ݓ‬ሻ.
ଷ ଶ ହ

ଶ଴ ଵହ ଵ଼ ଵ଼
Bentuk ini akan ekivalen dengan ‫݌‬+ ‫=ݓ‬ ‫݌‬+ ‫ݓ‬, dan kalau disederhanakan
ଷ଴ ଶ଴ ଷ଴ ଷ଴

akan diperoleh bentuk ‫ݓ = ݌‬.

Kalau w = 2 maka p = 3 sehingga total siswa di sekolah itu adalah 5

Kalau w = 10 maka p = 15 sehingga total siswa di sekolah itu adalah 25

Kalau w = 100 maka p = 150 sehingga total siswa di sekolah itu adalah 250

Kalau w = 10.000 maka p = 15.000 sehingga total siswa di sekolah itu adalah 25.000

Jawaban terhadap soal ini akan sangat variatif, dan itu memberi peluang kepada siswa
untuk berlatih banyak tentang pecahan atau persamaan dua variabel. Di samping itu,
kalau kita pandai, kita bisa memanfaatkan ini dengan bertanya:

Mungkinkah kita memperoleh sekolah dengan jumlah siswa seperti itu? Kalau mungkin,
dimanakah sekolah itu berada? Berapa banyak guru yang diperlukan untuk itu? Untuk
kasus seperti apakah sekolah itu dianggap boros? Dan masih banyak lagi pertanyaan
lain yang memungkinkan terbukanya wawasan siswa dan membantu mereka berpikir
kritis, kreatif, dan merasakan manfaat belajar matematika.

Soal #3

Ada berapa banyak segitiga yang bisa Anda temukan pada gambar berikut?

Soal ini menarik karena memberi peluang dialami dan bertumbuhnya proses berpikir
matematis penting, mulai dari clarifying the problem, sorting and classifying, encoding,
representing, comparing and contrasting, finding formulae, and generalizing.

Soal ini juga berpotensi untuk membantu untuk menyadarkan seseorang tentang
perlunya memiliki persepsi yang luas tentang sesuatu. Kalau hanya segitiga satuan kecil
(yaitu segitiga dengan dimensi 1 x 1 x 1 dan berbentuk seperti dan tidak yang

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 8


berbentuk ) yang dipersepsi oleh seseorang sebagai segitiga, dia hanya akan mampu
menemukan 16. Tapi kalau dia meluaskan persepsi, sehingga yang berdimensi 2 x 2 x 2,
3 x 3 x 3 dan 4 x 4 x 4 juga termasuk di dalamnya, maka dia akan menemukan lebih
banyak lagi segitiga dari gambar tersebut.

Soal ini juga memberikan potensi kepada anak untuk mengembangkan strategi
perhitungan. Soal ini memiliki potensi untuk menyadarkan anak bahwa cara
merepresentasikan yang lebih baik akan memberikan hasil yang lebih baik pula.

Mari bandingkan dua macam cara menentukan banyaknya segitiga yang berdimensi 2 x
2 x 2 dan 3 x 3 x 3 berikut (catatan: bentuk segitiga yang diperhatikan hanya dan
belum memperhatikan yang berbentuk ).

Strategi pertama dilakukan dengan men-trace bentuk segitiga 2 x 2 x 2 dengan


lingkaran besar warna merah dan segitiga 3 x 3 x 3 dengan gambar segitiga berwarna
biru. Strategi kedua dilakukan hanya dengan menandari titik-titik yang memungkinkan
dibentuknya segitiga 2 x 2 x 2 dan 3 x 3 x 3.

Dua strategi ini menghasilkan dua macam gambar yang berbeda. Tampak bahwa
dengan strategi pertama gambar yang ruwet, sedangkan dengan strategi kedua,
gambarnya terlihat lebih sederhana. Bahkan, dengan strategi kedua, anak berpeluang
untuk menemukan pola lebih baik.

Mengalami pengerjaan soal dengan menggunakan dua macam strategi representasi


seperti di atas merupakan hal yang penting bagi siswa. Dengan mengalami keduanya,
mereka akan bisa melakukan comparing dan contrasting dan akhirnya mengambil
kesimpulan strategi mana yang lebih bermanfaat dan menyadari bahwa pemilihan
strategi yang baik akan menentukan manfaat yang lebih besar.

Pengalaman di atas, juga memberikan peluang besar kepada siswa untuk mampu
menyelesaikan soal berikut dengan strategi yang baik dan dengan penuh percaya diri.

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 9


Ada berapa banyak segitiga yang
bisa ditemukan pada gambar di
samping?

Ada berapa banyak persegi


panjang yang bisa ditemukan pada
gambar di samping?

Soal #4

Berikut ada soal yang penulis adopsi dari Terwel (2011).

Soal ini menarik karena bukan saja sangat jarang diberikan di Indonesia, tetapi juga
memberikan peluang tumbuh berkembangnya literasi matematis siswa. Matematika
yang mereka pelajari tidak hanya bermanfaat untuk belajar matematika yang sifatnya
formal, dan abstrak, tetapi juga bermanfaat untuk kehidupan sekitarnya.

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 10


Dengan soal seperti ini, siswa diharapkan menyadari bahwa matematika itu indah dan
dekat serta bermanfaat untuk kehidupan keseharian, Banyak fenomena kehidupan
sehari-hari yang bisa dijelaskan dengan matematika.

Dengan kesadaran itu siswa diharapkan mampu memasuki dimensi pertama dari
dimensi belajar menurut Marzano & Pickering (1997), yaitu good attitude and
perception. Jika mereka sudah memiliki sikap dan persepsi yang positif terhadap
matematika, diharapkan mereka mampu memasuki dimensi-dimensi yang lain yaitu
acquire and integrate knowledge, extend and refine knowledge, use knowledge
meaningfully, hingga habits of mind.

Jika mereka mampu masuk ke dimensi ketiga, yaitu extend and refine knowledge,
mereka akan melakukan beberapa proses berpikir yang penting dan bermanfaat bagi
pengembangan kemampuan berpikir matematisnya, yaitu: (1) comparing, (2)
classifying, (3) abstracting, (4) inductive reasoning, (4) deductive reasoning, (5)
constructing support, (6) analysing errors, dan (7) analysing perspectives (Marzano &
Pickering, 1997). Dengan beberapa proses berpikir tersebut, pemahaman mereka akan
menjadi lebih baik dan lebih mantap. Mereka tidak hanya sekedar tahu tentang sesuatu.
Pemahaman yang mereka miliki akan semakin bermakna. Sebagai contoh, mereka
mampu membuat hubungan yang baik antara permutasi di SMA dengan permutasi di
perguruan tinggi (Struktur Aljabar).

Ketika mereka memasuki dimensi use knowledge meaningfully, mereka melakukan


proses berpikir yang juga sangat penting untuk belajar kemampuan berpikir matematis,
yaitu: (1) decision making, (2) problem solving, (3) invention, (4) experimental inquiry,
(5) investigation, (5) system analysis. Mereka bukan saja memiliki ilmu yang bermakna,
tetapi juga bisa melihat manfaatnya dalam kehidupan keseharian mereka.

Terakhir, ketika mereka sudah memasuki dimensi yang terakhir, yaitu habits of mind,
mereka akan melakukan kegiatan berpikir berpikir kritis, kreatif, dan self regulated.
Dengan kemampuan berpikir kritisnya, mereka akan menjadi orang yang: (1) selalu
berusaha akurat dan mencari akurasi, (2) selalu jelas dan mengejar kejelasan, (3) selalu
berpikiran terbuka, (4) berusaha menghindar dari keterburu-buruan, (5) mampu
mengambil jarak secara obyektif dari suatu fenomena, dan (6) mampu merespons
sesuai dengan perasaan dan level pengetahuannya). Dengan kemampuan berpikir
kreatifnya, mereka akan menjadi orang yang: (1) gigih dan pantang menyerah, (2)
mampu mengerahkan seluruh potensi sampai ke batas kemampuan terkahirnya, (3)
jujur dan terpercaya sesuai dengan standar yang ada, dan (4) mampu menghasilkan
sudut pandang baru dari situasi yang ada. Dengan kemampuan self-regulated-nya,
mereka akan menjadi orang yang: (1) menyadari apa yang dipikirkan, (2) mampu
merencanakan dengan baik, (3) mampu mengidentifikasi dan menggunakan sumber
daya dengan tepat, (4) mampu merespon umpan balik dengan tepat, dan (5) mampu
menilai keefektifan suatu tindakan.

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 11


Dengan demikian, soal-soal latihan di atas memiliki potensi-potensi yang baik untuk
pengembangan kemampuan berpikir matematis. Sebagai pendidik, kita tidak boleh
melewatkan begitu saja potensi yang ada ini untuk sekedar membuat siswa selesai
mengerjakan tugasnya. Kemampuan menjawab soal dengan cepat dan tepat hendaknya
tidak dijadikan fokus dalam pembelajaran matematika. Potensi pengembangan
kemampuan berpikir matematis ini harus dimanfaatkan seoptimal mungkin.

PENUTUP

Soal-soal yang ada di buku siswa, khususnya buku yang dikembangkan dalam K 13,
pada dasarnya dikembangkan untuk membantu siswa menjadi lebih kreatif dan berani
bereksplorasi. Banyak sekali soal di dalam buku itu yang dikemas menjadi soal terbuka
(open-ended). Penulis sangat mengharapkan agar guru lebih memberi kesempatan
kepada siswa untuk menggali soal-soal yang ada dari berbagai sudut pandang sehingga
mereka terbiasa dengan berpikir matematis. Guru hendaknya juga memberikan peluang
agar siswa mampu memasuki dimensi belajar yang kelima, yaitu habits of mind. Dengan
habits of mind, siswa tentu bisa diharap untuk tumbuh menjadi insan yang kritis,
kreatif, dan self regulated yang merupakan syarat utama untuk terbentuknya insan
Indonesia yang produktif, inovatif, dan kreatif.

Terkait dengan pengembangan sifat afektif, yang tidak sempat dibahas dalam tulisan ini,
sebenarnya Kurikulum 2013 telah memberikan arahan kepada kita semua untuk
mengupayakannya. Bukan sekedar sikap sopan dan santun yang ingin dikembangkan
dalam Kurikulum 2013 ini. Menurut hemat penulis pembelajaran dengan pendekatan
5M harusnya membantu anak menumbuhkembangkan beberapa afeksi yang penting
untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa unggulan, yaitu: jujur, obyektif,
tekun, disiplin, dan tanggungjawab. Semoga pendidikan matematika, dan pendidikan
pada umumnya di Indonesia akan semakin berjaya.

REFERENSI

Beers, S.Z. tanpa tahun. 21st century skills: preparing students for their future. STEM

Cai, J. & Lester, F. 2010. Why is teaching with problem solving important to student
learning? Dalam Problem Solving Research Brief. Reston, VA: National Council of
Teachers of Mathematics

Chamberlin, S. 2010. Mathematical problems that optimize learning for academically


advanced students in grades K-6. Journal of Advanced Academics, 22, 52 – 76

Doyle, T. Tanpa tahun. Mathematical problem solving: a need for literacy. Queensland,
AU: Queensland University of Technology

Doyle, T. 2008. Helping students learn in a learner-centered environment: a guide to


facilitating learning in higher education. Sterling, VA: Stylus

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 12


Kasim, M. 2014. Implementasi Kurikulum 2013. Paparan Wakil Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan RI Bidang Pendidikan. Disajikan dalam Workshop Penyegaran Nara
Sumber Nasional Pelatihan Kurikulum 2013. Banten: Hotel Yasmin, Tangerang, 15
April 2014.

Marzano, R.J. & Pickering, D.J. 1999. Dimensions of learning: Teacher’s manual.
Alexandria, VA: ASCD

Terwel, J. 2011. Cooperative learning and mathematics education: a happy marriage?


Paper presented at the OECD/France workshop, Paris, 23 – 24 May 2011

Watson, A. & Mason, J. 2004. The Exercise as mathematical objects: Dimensions of possible
variation in practice. Dalam McNamara, O (Ed.). Proceeding of the British Society
for Research into Learning Mathematics 24(2), June 2004

Watson, A. & Mason, J. 2006. Seeing an exercise as a single mathematical object: using
variation to structure sense-making. Mathematics thinking and learnin, 8(2), 91 –
111.

Seminar Nasional UHAMKA 20 September 2014 Halaman ke 13

View publication stats