Anda di halaman 1dari 6

Efikasi Diri

1. Pengertian Efikasi Diri

2. Dimensi Efikasi Diri


Menurut Bandura (1997), efikasi diri terdiri dari 3 dimensi, yaitu besaran/tingkatan
(magnitude), luasan (genarality), dan kekuatan (strenght). Dimensi efikasi diri dapat
digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya efikasi diri .
a. Besaran/tingkatan (magnitude)
Berkaitan dengan tingkat kesulitan tugas atau permasalahan yang dihadapi, atau
berkaitan juga dengan hirarki (level) dari tugas tersebut. Individu akan menjalni tugas
sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya (bandura, 1977; pare 1999).
b. Luasan (genarality)
Berkaitan dengan seberapa luas bidang perilkau atau situasi yang diyakini oleh
individu dapat berhasil dilakukan atau dicapai. Seperti menghadapi situasi yang
berbeda (bandura, 1977; pare 1999)
c. Kekuatan (strenght)
Berkaitan dengan kemantapan serta keyakinan diri individu pada dirinya sendiri.
Semakin yakin individu, maka akan semakin meningkatkan semangat, perilaku, serta
ketahanan individu tersebut (bandura, 1977; pare 1999)
(Tesis erga)
3. Sumber-sumber/faktor? yang mempengaruhi efikasi diri
Sumber-sumber ini berperan dalam meningkatkan atau menurukan efikasi diri. Menurut
bandura,1997; brown et. al, 1989; pascale, 1989) terdapat empat faktor yang menjadi
sumber efikasi diri, yakni:
a. Penguasaan kemampuan/pencapaian kinerja
Penguasaan kemampuan/pencapaian kinerja sangat berkaitan erat dengan
meningkatknya efikasi diri. Apabila seseorang memiliki pengalaman melakukan
sebuah tugas atau perilaku dengan sukses, maka akan mempengaruhinya di masa
mendatang. Pengalaman kesuksesan tersebut menjadikan dirinya merasa memiliki
kemampuan, kapasitas, dan keahlian yang diperlukan dalam menyelesaikan tugas
atau perilaku tersebut dan menghadapi situasi tersebut di masa mendatang. Namun,
apabila seseorang tidak memiliki penguasaan kemampuan yang baik, maka efikasi
dirinya akan rendah apabila berhadapan dengan tugas atau situasi tertentu.
b. Belajar tidak langsung (vicarious learning)
Berkaitan erat dengan eningkatkan efikasi diri. Melalui observasi, modeling, dan
peniruan/imitasi, seorang idnividu dapat melihat orang lain dan belajar dari perilaku
serta keberhasilannya. Ketika mengerjakan tugas yang sama individu dapat menjadi
lebih yakin dan mampu berperilaku sesuai dengan keadaanya.
c. Persuasi verbal
Berkaitan erat dengan peningkatan efikasi diri. Seseorang yang sering mendengarkan
saran, nasihat, dan semangat, serta penguatan positif akan merasa lebih yakin, merasa
mantap, dan merasa mampu untuk menghadapi tugas serta permasalahannya.
d. Kondisi Emosi dan Fisiologi
Berkaitan erat denga efikasi diri. Orang yang seringkali mengalami kondisi emosi
seperti takut, cemas, stres, panik, berkeringat, mual, dan pusing akan mengalami
kesulitan dalam melakukan koping ketika menghadapi permasalahan atau tugas
tertentu, sehingga menjadikan mereka gagal dan tidak yakin terhadap kemampuan
yang dimilikinya.
(Tesis erga)

Latar belakang (Tesis erga)


Marlatt dan gordon (1985) efikasi diri sebgai sebuah proses kognitif yang meibatkan
peniliana seseorang terhadap kemampuan dirinya yang kemudian mempengaruhi
perilaku serta hasil. Efikasi diri bersifat spesifik terhadao situasi tertentu dan bukan
bersifat umum seperti halnya kepercayaan diri, dalam kasus ini secra spesifik adalah
efikasi diri....,,,. Bandura (1977) mendefinisikan efikasi diri sebagai sebuah rasa
berdaya, rasa mampu, dan kemampuan individu untuk berperilaku sesuai dengan
situasi serta kondisi tertentu.
Bandura (1977) menjelaskan pentingnya peranan efikasi diri dalam kehidupan sehrai-
hari. Efikasi diri dapat menentukan bagaimana individu akan berperilaku
kedepannya.

Pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan beberapa teknik , seperti


psikoedukasi dan role play. (Tesis erga)
a. Psikoedukasi
Psikoedukasi merupakan sebuah teknik yang bertujuan untuk memberikan klien
pengetahuan, baik pengetahuan terkait teknis dari terapi yang akan diberikan
maupun pengetahuan mengenai permasalahan yang sedang dialami
(wilding&milne, 2008 dalam tesis erga). Psikoedukasi dapat diberikan dengan
bergam metode seperti verbal, tertulis, gambar, video, atau beragam cara lainnya.
(Barlow, 2014; wilding&milne,2008)
b. Role play
Role play merupakan salah satu teknik yang digunakan dengan cara bermain
peran di dlaam situasi tertentu. Melalui role play individu dilatih untuk
melakukan komunikasi yang efektif dengan tujuan untuk mengurangi
kesalahpahaman dan perselisihan dengan lawan bicara. Melalui role play individu
juga dilatuh untuk dapat berperilaku asertif dengan tujuan dapat menolak ajakan
orang lain tanpa harus menyakiti perasaan orang tersebut (larime, palmer &
marlatt, 1999; marlatt, 1996)

Pelatihan keterampilan dasar konseling sebagai upaya meningkatkan efikasi diri staff
wali di lapas (Tesis Enthin Hervina)
Skala efikasi diri tentang WBP.
Efikasi diri merupakan keyakinan individu terhadap kemampuannya untuk mengarahkan
motivasi, kognisi, dan tindakan dalam menyelesaikan suatu tugas (bandura, 1997). Penelitian
tentang efikasi diri pada staff LAPAS di Taiwan pernah dilakukan oleh Gwo dan Law yang
menemukan bahwa efikasi diri secra postif memiliki hubungan yang signifikan dengan
kepuasan kerja dan komitmen organisasi (Gwo & Law, 2016). Banduara (1997) menyebutkan
bahwa dalam efikasi diri terdapat empat proses yang terjai pada diri individu yaitu proses
kognitif, motivasi, afeksi, dan seleksi (Dalam Dwitantyaniv, Hidayati, & Sawitri, 2010).
Efikasi diri fokus pada persepsi dan penilaian yang spesifik dan tidak dapat digeneralisasi
(Zulkosky, 2009)
Tiga aspek efikasi diri (bandurua, 1997)
a. Besaran/tingkatan (magnitude)
Merupakan tingkat kesulitan tugas yang harus diselesaikan oleh seorang individu,
terdapat beberapa kesulitan tugas antara lain taraf kesulitan yang sederhana,
moderate, dan yang membutuhkan performansi yang maksimal. Setiap individu
berbeda-beda dalam menghadapi masing-masing taraf kesulitan tugas tersebut yang
kemudian mendasari individu tersebut untuk memilih tugas yang dirasa mampu
untuk diambil atau dihindaru
b. Luasan (genarality)
Merupakan aspek luas bidang tugas yang dihadapi seorang individu. Terdapat
individu yang memiliki efikasi diri pada bidang tertentu, namun pada individu yang
lain memiliki efikasi diri yang mencakup beberapa bidang secara bersamaan.
c. Kekuatan (strenght)
Adalah kemantapan seorang individu terhadap keyakinan yang dimiliki. Individu
yang memiliki efikasi diri yang tinggi cederung gigih dalam menyelesaikan tugas
meskipun banyak menghadapi hambatan.

Yang dibutuhakan
a. Lembar Obeservasi peserta
Lembar observasi peserta dilakukan persesi oleh observer pelatihan. Terdapat ... orang
observer yang bertugas melakukan observasi padai masing-masing partisipan
penelitian. Adapu isi lembar observasi terkait perilaku partisipan selama proses
pelatihan berlangsung. Observer melakukan pengamatan terhadap bahasa verbal dan
non verbal, keaktifan, keterlibatan, serta erilaku subjek lainnya yang tidak teramati.
b. Lembar Observasi Simulasi
Lembar observasi ini diisi oleh masing-masing observer terhadap partisipan oenelitian
pada saat bermain peran. Isi lembar observasi ini adalah chechlist perilaku yang
berkaitan dengan proses konseling yang dilakukab partisipan ketika berperan sebagai
konselor selama proses simulasi berlangsung.
c. Lembar Evaluasi pelatihan
Lembar evaluasi pelatihan ini terdiri dari beberapa pertanyaan yang terkait proses
pelakasanaan pelatihan dari awal sampai akhir (Bahasa selvia). Adapun
pertanyaannya mencakup proses dan materi pelatihan, kesulitan yang dialami,
manfaat dan perubahan yang dirasakan partisipan setelah mengikuti pelatihan, dan
saran.

Efikasi diri merupakan sebuah konsep yang berdasar pada teori sosial kognitif yang
dibuat oleh albert bandura. Menurut bandura (1997) efikasi diri adalah keyakinan
seseorang terhadap kemampuan dirinya untuk melakukan pengukuran kontrol atas
perilaku dan kejadian disekitarnya (lebih kanjut lihat di HP).

Kesimpulan: Pelatihan keterampilan dasar konseling dapat meningkatkan efikasi diri


staf LAPAS (wali) dalam melakukan konseling terhadap WBP di LAPAS.

Program jari peri untuk meningkatakan Efikasi Guru TK dalam


menyampaiakn pencegahan KSA
1. Efikasi diri
Konsep efikasi diri pertama kali diperkenalkan oleh albert bandura yang merupaka
turunan dari teori sosial kognitif. Bandura (1997, 1986) menjelaskan bahwa
efikasi diri adalah keyakinan seseorang kaan kemampuannya dalam mengatur,
memotivasi, dan mengambil tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Menurut ajzen (2002) efikasi diri merupaka aspek yang berkaitan dengan
kapabilitas individu untuk menghadapi tantangan dalam berperilaku. Gecas (1989)
menyatakan bahwa efikasi diri meliputi kemampuan dan keyakinan untuk
melakukan kontrol atas hubungan sebab akibat dalam perilaku individu. Brehm
dan Kassin (1990) menyatakan efikasi diri adalah keyakinan individu bahwa
dirinya mamou melakukan tindakan yang bersifat spesifik sehingga menghasilkan
outcome yang diharapakan. Baron dan Byrne (1991) mendefinisikan efikasi diri
sebgai evaluasi terhadap kemampuan, kompetensi, dan kapbilitas diri untuk
menghadapi, mencapai, serta mengatasi hambtan dari suatu tugas. Gits dan
Mitchell (1992) mengatakan bahwa individu dengan efikasi diri tinggi akan
bekerja lebih baik oada ranah organisasi dibandingkan individu yang menilai
dirinya tidak ammpu sehingga rentan mengakami kegagalan. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa efikasi diri adalah keyakinan individu akan kemampuan
yang dimilikinya...

Bandura (1997;1977) menyatakan ahwa manusia memiliki kontrol penuh oada


interaksi diri (behavior) dengan lingkungannya (environtment) yang dimediasi
oleh proses personal berupa aspek kognitif, sikap, pengetahuan, kepribadain, dan
sebgainya. Teori sosail kognitif berpandangan bahwa interaksi psikologis pada
ketiga aspek behavior (B), Environment (E), dan Personal (P) turut mengubah
cara pandang individu terhadap efikasi dirinya. efikasi diri sebgai pusat dari agen
manusia (human agency) mempengaruhi fungsi psikososial bahkan dapat
mengubah kehidupan individu lain. (Gambar Triadik resiprokal di HP).

Penjelasan sumber efikasi diri:


a. Performance accomplishment disebut juga mastery experience (bandura,
1997) merupakan sumber paling efektif dalam mengembangkan efikasi diri
seseorang. Keberhasilan membawa dampak yang dapat bertahan dalam jangka
waktu lama pada efikasi diri, jika efikasi diri telah terbentuk dengan baik,
maka kekuatannya dapat digeneralisasikan pada situasi lain yang memiliki
keterkaitan.
b. Vicarious Experience
Merupakan sumber efikasi diri yang dipelajari melalui pengalaman orang lain
melalui model belajar sosial. Individu dapat mempelajari perilaku baru
meskipun tanpa mengalami langsung melalui vicarious experience meskipun
sumber ini tidaksekuat mastery experience terhadap efikasi diri. Vicarious
experience dapat memberikan kontribusi yang signifikan jika model perilaku
dipelajari dengan baik dengan usaha yang optimal dari pembelajar
c. Verbal persuasion
Persuasi sosial merupakan sumber efikasi yang mudah dilakukan, namun daya
tahnnya lemah. Persuasi sosial dapat menjadi penguat bagi pembelajar untuk
perubahan kualitas efikasi diri.
d. Emotional and physical arousal
Berbeda dengan bandura (1977) yang hanya meneybiutkan kondisi emosi,
bandura (1977?) menambahkan adanya fisik, kondisi fisik dan emosional
tertentu dapat mempengaruhi efikasi diri. Self evaluation membantu individu
dalam mempersepsikan pengalaman emosional tertentu sehingga dapat
menajdi sumber bagi perubahan efikasi diri.

Bandura (1977) menegaskan bahwa setiap proses psikologi yang terjadi pada individu
melibatkan efikasi diri. Oleh karena itu, efficacy beliefs merupakan prediktor kuat yang
menentukan perilaku manusia. Efficacy beliefs perlu dibedakan dengan konsep outcome
expectansies. Efficacy beliefs merupakan keyakinan individu yang berasal dari penilaiannya
akan kemampuan diri untuk menyelesaikan tugas. Adanya fungsi penilaiaan dan persepsi
terhada diri sendiri berkaitan dengan kontrol dan cara individu menghadapi tugas yang
diberikan terutama ketika dihadapkan pada tantangan. Outcome expectancies merupakan
penilaian individu bahwa perilakunya akan menujukkan suatu konsekuensi seperti yang
diharapkan.

Keempat proses (dalam HP motivational proses dll) tersebut salin berkolaborasi untuk
membangun efikasi diri individu melalui sumber-sumber efikasi diri (bandura, 1977). Sumber
efikasi diri dapat meningkatkan efikasi diri.

Pelatihan yang melibatkan efikasi diri dapat dilakukan dengan strategi seperti modelling, peer
coaching, support group, mentoring, dan belajar kelompok dengan media audio maupun
video (Bray-Clark & Bates, 2003). Pelatihan yang dilakukan Hendrix, Landerman, dan
Abernethy (2011) turut melibatkan sumber-sumber efikasi diri seperti live modelling,
performance exposure, positive appraisal, dan mastery experience untuk meningkatkan
efikasi diri sejumlah caregiver kanker.
Bandura (1986, cara untuk mengembangkan efikasi diri adalah dengan mengobservasi dan
mendengarkan pengalaman berhasil dari orang lain.

Kesimpulan : program jari peri dapat meningkatakn efikasi guru TK dalam menyampaiakan
pencegahan KSA sebelum dan sesudah pemberian pelatihan program “jari peri”
Program bangkit
Efikasi diri yang tinggi ddibutuhkan agar ia berupaya lebih keras dan gigih dalam
menghadapi kesulitan (bandura, 2001). Dalam melakukan tugas sebagai pendamping, efikasi
diri yang tinggi membuat proses pendampingan menjadi lebih optimal. Dijelaskan lebih
lanjut ahwa efikasi diri dapat berpengaruh pada proses psikologis yang mennetukan respon
koping seseorang, tingkat usaha, sikap persisten dalam menghadapi hambatan hidup dan
pengalaman hidupnya (bandura, 1997 dalam deep et al, 2005).

Secara spesifik, efikasi diri dalam pendamingan berari percaya bahwa ia mamou untuk
melakukan berbgai aktivitas yang berhubungan dengan oendamoingan. Efikasi firi dalam
pendampingan memuat tiga aspek yaitu keyakinan untuk meminta bantuan, keyakinan untuk
merespon perilaku pasien yang menggangu, dan keyakinan untuk mengontrol pemikiran yang
mengganggu (Steffen et al, 2002).

Efikasi diri dapat meningkat bila adanya penilaian positif atas kompetensi dan keterampilan
yang dimiliki (bandura, 2001)

Kesimpulan: Program bangkit dapat meningkatakn efikasi diri saudara orang dengan
skizofrenia.