Anda di halaman 1dari 94

Mahkamah Konstitusi

Republik Indonesia

Lembaga Negara
Pengawal Konstitusi
 Beranda
 Peradilan
 Hakim
 Perkara
 Putusan
 Peraturan
 Administrasi Umum
 Publikasi
 Whistleblowing

Berita Populer
Selengkapnya >
Kamis, 25 Agustus 2016 | 09:54 WIB
MK: Calon Kepala Desa Tidak Terbatasi Domisili

Pemerintah Belum Siap, Sidang Uji UU Kedokteran Ditunda


Pemerintah: Kata Makar Tidak Dimaknai Sebagai Norma Hukum

MK Kembali Gelar Sidang Perdana PHP Bupati Intan Jaya

Beranda > Berita Media > Sejarah Dan Perkembangan Konstitusi Di Indonesia
Berita

Sejarah Dan Perkembangan Konstitusi Di Indonesia


Kamis, 13 Agustus 2015 | 10:38 WIB
Cetak Dibaca: 614370

SEJARAH KONSTITUSI

Sebenarnya. konstitusi (constitution) berbeda dengan Undang-Undang Dasar (Grundgezets),


dikarenakan suatu kekhilafan dalam pandangan orang mengenai konstitusi pada negara-negara
modern sehingga pengertian konstitusi itu kemudian disamakan dengan Undang-Undang Dasar.
Kekhilafan ini disebabkan oleh pengaruh faham kodifikasi yang menghendaki agar semua
peraturan hukum ditulis, demi mencapai kesatuan hukum, kesederhanaan hukum dan kepastian
hukum. Begitu besar pengaruh faham kodifikasi, sehingga setiap peraturan hukum karena
penting itu harus ditulis, dan konstitusi yang ditulis itu adalah Undang-Undang Dasar.

Secara umum terdapat dua macam konstitusi yaitu :


1) Konstitusi tertulis dan
2) Konstitusi tak tertulis.

Hampir semua negara di dunia memiliki konstitusi tertulis atau Undang-Undang Dasar (UUD)
yang pada umumnya mengatur mengenai pembentukan, pembagian wewenang dan cara bekerja
berbagai lembaga kenegaraan serta perlindungan hak azasi manusia.
Negara yang dikategorikan sebagai negara yang tidak memiliki konstitusi tertulis adalah Inggris
dan Kanada. Di kedua negara ini, aturan dasar terhadap semua lembaga-lembaga kenegaraan dan
semua hak asasi manusia terdapat pada adat kebiasaan dan juga tersebar di berbagai dokumen,
baik dokumen yang relatif baru maupun yang sudah sangat tua seperti Magna Charta yang
berasal dari tahun 1215 yang memuat jaminan hak-hak azasi manusia rakyat Inggris. Karena
ketentuan mengenai kenegaraan itu tersebar dalam berbagai dokumen atau hanya hidup dalam
adat kebiasaan masyarakat itulah maka Inggris masuk dalam kategori negara yang memiliki
konstitusi tidak tertulis.
Pada hampir semua konstitusi tertulis diatur mengenai pembagian kekuasaan berdasarkan jenis-
jenis kekuasaan, dan kemudian berdasarkan jenis kekuasaan itu dibentuklah lembaga-lembaga
negara. Dengan demikian, jenis kekuasaan itu perlu ditentukan terlebih dahulu, baru kemudian
dibentuk lembaga negara yang bertanggung jawab untuk melaksanakan jenis kekuasaan tertentu
itu.
Beberapa sarjana mengemukakan pandangannya mengenai jenis tugas atau kewenangan itu,
salah satu yang paling terkemuka adalah pandangan Montesquieu bahwa kekuasaan negara itu
terbagi dalam tiga jenis kekuasaan yang harus dipisahkan secara ketat. Ketiga jenis kekuasaan itu
adalah :

1. Kekuasaan membuat peraturan perundangan (legislatif)


2. Kekuasaan melaksanakan peraturan perundangan (eksekutif)
3. Kekuasaan kehakiman (yudikatif).

Pandangan lain mengenai jenis kekuasaan yang perlu dibagi atau dipisahkan di dalam konstitusi
dikemukakan oleh van Vollenhoven dalam buku karangannyaStaatsrecht over Zee. Ia membagi
kekuasaan menjadi empat macam yaitu :

1. Pemerintahan (bestuur)
2. Perundang-undangan
3. Kepolisian
4. Pengadilan.

Van Vollenhoven menilai kekuasaan eksekutif itu terlalu luas dan karenanya perlu dipecah
menjadi dua jenis kekuasaan lagi yaitu kekuasaan pemerintahan dan kekuasaan kepolisian.
Menurutnya kepolisian memegang jenis kekuasaan untuk mengawasi hal berlakunya hukum dan
kalau perlu memaksa untuk melaksanakan hukum.
Wirjono Prodjodikoro dalam bukunya Azas-azas Hukum Tata Negara di Indonesia mendukung
gagasan Van Vollenhoven ini, bahkan ia mengusulkan untuk menambah dua lagi jenis kekuasaan
negara yaitu kekuasaan Kejaksaan dan Kekuasaan Pemeriksa Keuangan untuk memeriksa
keuangan negara serta menjadi jenis kekuasaan ke-lima dan ke-enam.
Berdasarkan teori hukum ketatanegaraan yang dijelaskan diatas maka dapat disimpulkan bahwa
jenis kekuasaan negara yang diatur dalam suatu konstitusi itu umumnya terbagi atas enam dan
masing-masing kekuasaan itu diurus oleh suatu badan atau lembaga tersendiri yaitu:

1. Kekuasaan membuat undang-undang (legislatif)


2. Kekuasaan melaksanakan undang-undang (eksekutif)
3. Kekuasaan kehakiman (yudikatif)
4. Kekuasaan kepolisian
5. Kekuasaan kejaksaan
6. Kekuasaan memeriksa keuangan negara

Konstitusi suatu negara pada hakekatnya merupakan hukum dasar tertinggi yang memuat
hal-hal mengenai penyelenggaraan negara, karenanya suatu konstitusi harus memiliki sifat yang
lebih stabil dari pada produk hukum lainnya. Terlebih lagi jika jiwa dan semangat pelaksanaan
penyelenggaraan negara juga diatur dalam konstitusi sehingga perubahan suatu konstitusi dapat
membawa perubahan yang besar terhadap sistem penyelenggaraan negara. Bisa jadi suatu negara
yang demokratis berubah menjadi otoriter karena terjadi perubahan dalam konstitusinya.
Adakalanya keinginan rakyat untuk mengadakan perubahan konstitusi merupakan suatu hal yang
tidak dapat dihindari. Hal ini terjadi apabila mekanisme penyelenggaraan negara yang diatur
dalam konstitusi yang berlaku dirasakan sudah tidak sesuai lagi dengan aspirasi rakyat. Oleh
karena itu, konstitusi biasanya juga mengandung ketentuan mengenai perubahan konstitusi itu
sendiri, yang kemudian prosedurnya dibuat sedemikian rupa sehingga perubahan yang terjadi
adalah benar-benar aspirasi rakyat dan bukan berdasarkan keinginan semena-mena dan bersifat
sementara atau pun keinginan dari sekelompok orang belaka.
Pada dasarnya ada dua macam sistem yang lazim digunakan dalam praktek ketatanegaraan di
dunia dalam hal perubahan konstitusi. Sistem yang pertama adalah bahwa apabila suatu
konstitusi diubah, maka yang akan berlaku adalah konstitusi yang berlaku secara keseluruhan
(penggantian konstitusi). Sistem ini dianut oleh hampir semua negara di dunia. Sistem yang
kedua ialah bahwa apabila suatu konstitusi diubah, maka konstitusi yang asli tetap berlaku.
Perubahan terhadap konstitusi tersebut merupakan amandemen dari konstitusi yang asli tadi.
Dengan perkataan lain, amandemen tersebut merupakan atau menjadi bagian dari konstitusinya.
Sistem ini dianut oleh Amerika Serikat.
PERKEMBANGAN KONSTITUSI DI INDONESIA
Para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia telah sepakat utntuk menyusun sebuah
Undang-Undang Dasar sebagai konstitusi tertulis dengan segala arti dan fungsinya. Sehari
setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, konstitusi Indonesia
sebagai sesuatu ”revolusi grondwet” telah disahkan pada 18 Agustus 1945 oleh panitia persiapan
kemerdekaan Indonesia dalam sebuah naskah yang dinamakan Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia. Dengan demikian, sekalipun Undang-Undang Dasar 1945 itu merupakan
konstitusi yang sangat singkat dan hanya memuat 37 pasal namun ketiga materi muatan
konstitusi yang harus ada menurut ketentuan umum teori konstitusi telah terpenuhi dalam
Undang-Undang Dasar 1945 tersebut.
Pada dasarnya kemungkinan untuk mengadakan perubahan atau penyesuaian itu memang sudah
dilihat oleh para penyusun UUD 1945 itu sendiri, dengan merumuskan dan melalui pasal 37
UUD 1945 tentang perubahan Undang-Undang Dasar. Dan apabila MPR bermaksud akan
mengubah UUD melalui pasal 37 UUD 1945 , sebelumnya hal itu harus ditanyakan lebih dahulu
kepada seluruh Rakyat Indonesia melalui suatu referendum.(Tap no.1/ MPR/1983 pasal 105-109
jo. Tap no.IV/MPR/1983 tentang referendum)
Perubahan UUD 1945 kemudian dilakukan secara bertahap dan menjadi salah satu agenda sidang
Tahunan MPR dari tahun 1999 hingga perubahan ke empat pada sidang tahunan MPR tahun
2002 bersamaan dengan kesepakatan dibentuknya komisi konstitusi yang bertugas melakukan
pengkajian secara komperhensif tentang perubahan UUD 1945 berdasarkan ketetapan MPR No.
I/MPR/2002 tentang pembentukan komisi Konstitusi.
Dalam sejarah perkembangan ketatanegaraan Indonesia ada empat macam Undang-Undang yang
pernah berlaku, yaitu :

1. Periode 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949

(Penetapan Undang-Undang Dasar 1945)


Saat Republik Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, Republik yang baru ini
belum mempunyai undang-undang dasar. Sehari kemudian pada tanggal 18 Agustus 1945
Rancangan Undang-Undang disahkan oleh PPKI sebagai Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia setelah mengalami beberapa proses.

1. Periode 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950

(Penetapan konstitusi Republik Indonesia Serikat)


Perjalanan negara baru Republik Indonesia ternyata tidak luput dari rongrongan pihak Belanda
yang menginginkan untuk kembali berkuasa di Indonesia. Akibatnya Belanda mencoba untuk
mendirikan negara-negara seperti negara Sumatera Timur, negara Indonesia Timur, negara Jawa
Timur, dan sebagainya. Sejalan dengan usaha Belanda tersebut maka terjadilah agresi Belanda 1
pada tahun 1947 dan agresi 2 pada tahun 1948. Dan ini mengakibatkan diadakannya KMB yang
melahirkan negara Republik Indonesia Serikat. Sehingga UUD yang seharusnya berlaku untuk
seluruh negara Indonesia itu, hanya berlaku untuk negara Republik Indonesia Serikat saja.

1. Periode 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959

(Penetapan Undang-Undang Dasar Sementara 1950)


Periode federal dari Undang-undang Dasar Republik Indonesia Serikat 1949 merupakan
perubahan sementara, karena sesungguhnya bangsa Indonesia sejak 17 Agustus 1945
menghendaki sifat kesatuan, maka negara Republik Indonesia Serikat tidak bertahan lama karena
terjadinya penggabungan dengan Republik Indonesia. Hal ini mengakibatkan wibawa dari
pemerintah Republik Indonesia Serikat menjadi berkurang, akhirnya dicapailah kata sepakat
untuk mendirikan kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagi negara kesatuan yang
akan didirikan jelas perlu adanya suatu undang-undang dasar yang baru dan untuk itu
dibentuklah suatu panitia bersama yang menyusun suatu rancangan undang-undang dasar yang
kemudian disahkan pada tanggal 12 Agustus 1950 oleh badan pekerja komite nasional pusat dan
oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan senat Republik Indonesia Serikat pada tanggal 14 Agustus
1950 dan berlakulah undang-undang dasar baru itu pada tanggal 17 Agustus 1950.

1. Periode 5 Juli 1959 – sekarang

(Penetapan berlakunya kembali Undang-Undang Dasar 1945)


Dengan dekrit Presiden 5 Juli 1959 berlakulah kembali Undang-Undang Dasar 1945. Dan
perubahan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Orde Lama pada masa 1959-1965
menjadi Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Orde Baru. Perubahan itu dilakukan karena
Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Orde Lama dianggap kurang mencerminkan
pelaksanaan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen.
PERUBAHAN UUD 1945

Salah satu keberhasilan yang dicapai oleh bangsa Indonesia pada masa reformasi adalah
reformasi konstitusional (constitutional reform). Reformasi konstitusi dipandang merupakan
kebutuhan dan agenda yang harus dilakukan karena UUD 1945 sebelum perubahan dinilai tidak
cukup untuk mengatur dan mengarahkan penyelenggaraan negara sesuai harapan rakyat,
terbentuknya good governance, serta mendukung penegakan demokrasi dan hak asasi manusia.
Perubahan UUD 1945 dilakukan secara bertahap dan menjadi salah satu agenda Sidang MPR
dari 1999 hingga 2002 . Perubahan pertama dilakukan dalam Sidang Umum MPR Tahun 1999.
Arah perubahan pertama UUD 1945 adalah membatasi kekuasaan Presiden dan memperkuat
kedudukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sebagai lembaga legislatif.

Perubahan kedua dilakukan dalam sidang Tahunan MPR Tahun 2000. Perubahan kedua
menghasilkan rumusan perubahan pasal-pasal yang meliputi masalah wilayah negara dan
pembagian pemerintahan daerah, menyempumakan perubahan pertama dalam hal memperkuat
kedudukan DPR, dan ketentuan¬-ketentuan terperinci tentang HAM.
Perubahan ketiga ditetapkan pada Sidang Tahunan MPR 2001. Perubahan tahap ini mengubah
dan atau menambah ketentuan-ketentuan pasal tentang asas-asas landasan bemegara,
kelembagaan negara dan hubungan antarlembaga negara, serta ketentuan-ketentuan tentang
Pemilihan Umum. Sedangkan perubahan keempat dilakukan dalam Sidang Tahunan MPR Tahun
2002. Perubahan Keempat tersebut meliputi ketentuan tentang kelembagaan negara dan
hubungan antarlembaga negara, penghapusan Dewan Pertimbangan Agung (DPA), pendidikan
dan kebudayaan, perekonomian dan kesejahteraan sosial, dan aturan peralihan serta aturan
tambahan.
Empat tahap perubahan UUD 1945 tersebut meliputi hampir keseluruhan materi UUD 1945.
Naskah asli UUD 1945 berisi 71 butir ketentuan, sedangkan perubahan yang dilakukan
menghasilkan 199 butir ketentuan. Saat ini, dari 199 butir ketentuan yang ada dalam UUD 1945,
hanya 25 (12%) butir ketentuan yang tidak mengalami perubahan. Selebihnya, sebanyak 174
(88%) butir ketentuan merupakan materi yang baru atau telah mengalami perubahan.
Dari sisi kualitatif, perubahan UUD 1945 bersifat sangat mendasar karena mengubah prinsip
kedaulatan rakyat yang semula dilaksanakan sepenuhnya oleh MPR menjadi dilaksanakan
menurut Undang-Undang Dasar. Hal itu menyebabkan semua lembaga negara dalam UUD 1945
berkedudukan sederajat dan melaksanakan kedaulatan rakyat dalam lingkup wewenangnya
masing-masing. Perubahan lain adalah dari kekuasaan Presiden yang sangat besar (concentration
of power and responsibility upon the President) menjadi prinsip saling mengawasi dan
mengimbangi (checks and balances). Prinsip-prinsip tersebut menegaskan cita negara yang
hendak dibangun, yaitu negara hukum yang demokratis.
Setelah berhasil melakukan perubahan konstitusional, tahapan selanjutnya yang harus dilakukan
adalah pelaksanaan UUD 1945 yang telah diubah tersebut. Pelaksanaan UUD 1945 harus
dilakukan mulai dari konsolidasi norma hukum hingga dalam praktik kehidupan berbangsa dan
bernegara. Sebagai hukum dasar, UUD 1945 harus menjadi acuan dasar sehingga benar-benar
hidup dan berkembang dalam penyelenggaraan negara dan kehidupan warga negara (the living
constitution).
Konstitusi Sebagai Piranti Kehidupan Negara Yang Demokratis
Sebagaimana dijelaskan diawal, bahwa konstitusi berpesan sebagai sebuah aturan dasar yang
mengatur kehidupan dalam bernegara dan berbangsa maka aepatutnya konstitusi dibuat atas
dasar kesepakatan bersama antara negra dan warga Negara . Kontitusi merupakan bagian dan
terciptanya kehidupan yang demokratis bagi seluruh warga Negara. Jika Negara yang memilih
demokrasi, maka konstitusi demokratis merupakan aturan yang dapat menjamin terwujudnya
demokrasi dinegara tersebut. Setiap konstitusi yang digolongkan sebagai konstitusi demokratis
haruslah memiliki prinsip-prinsip dasar demokrasi itu sendiri.
LEMBAGA NEGARA PASCA AMANDEMEN
Sebagai kelembagaan Negara, MPR RI tidak lagi diberikan sebutan sebagai lembaga tertinggi
Negara dan hanya sebagai lembaga Negara, seperti juga, seperti juga DPR, Presiden, BPK dan
MA. Dalam pasal 1 ayat (2) yang telah mengalami perubahan perihal kedaulatan disebutkan
bahwa kedaulatan berada ditangan rakyat dan dilaksanakan menurut undang-undang dasar
sehingga tampaklah bahwa MPR RI tidak lagi menjadi pelaku/pelaksana kedaulatan rakyat. Juga
susunan MPR RI telah berubah keanggotaanya, yaitu terdiri atas anggota DPR dan Dewan
Perakilan Daerah (DPD), yang kesemuanya direkrut melalui pemilu.

Perlu dijelaskan pula bahwa susunan ketatanegaraan dalam kelembagaan Negara juga mengalami
perubahan, dengan pemisahan kekuasaan, antara lain adanya lembaga Negara yang dihapus
maupun lahir baru, yaitu sebagai Badan legislative terdiri dari anggota MPR, DPR, DPD, Badan
Eksekutif Presiden dan wakil Presiden, sedang badan yudikatif terdiri atas kekuasaan kehakiman
yaitu mahkamah konstitusi (MK) sebagai lembaga baru, Mahkamah Agung (MA), dan Komisi
Yudisial (KY) juga lembaga baru. Lembaga Negara lama yang dihapus adalah dewan
Pertimbangan Agung (DPA), dan Badan pemeriksa keuangan tetap ada hanya diatur tersendiri
diluar kesemuanya/dan sejajar.

Tugas dan kewenagan MPR RI sesudah perubahan, menurut pasal 3 UUD 1945 ( perubahan
Ketiga ).
a. Majelis Permusyawaran Rakyat berwenang mengubah dan menetapkan UUD
b. Majelis Permusyawaran Rakyat melantik Presiden dan/atau Wakil Presiden.
c. Majelis Permusyawaran Rakyat hanya dapat memberhentikan presiden dan/atau Wakil
Presiden dalam masa jabatannya menurut undang-undang dasar ( impeachment ).

Undang-Undang Dasar merupakan hukum tertinggi dimana kedaulatan berada di tangan rakyat
dan dijalankan sepenuhnya menurut UUD. UUD memberikan pembagian kekuasaan (separation
of power) kepada 6 Lembaga Negara dengan kedudukan yang sama dan sejajar, yaitu Presiden,
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan
Daerah (DPD), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Mahkamah Agung (MA), dan Mahkamah
Konstitusi (MK).

Perubahan (Amandemen) UUD 1945:

* Mempertegas prinsip negara berdasarkan atas hukum [Pasal 1 ayat (3)] dengan menempatkan
kekuasaan kehakiman sebagai kekuasaan yang merdeka, penghormatan kepada hak asasi
manusia serta kekuasaan yang dijalankan atas prinsip due process of law.
* Mengatur mekanisme pengangkatan dan pemberhentian para pejabat negara, seperti Hakim.
* Sistem konstitusional berdasarkan perimbangan kekuasaan (check and balances) yaitu setiap
kekuasaan dibatasi oleh Undang-undang berdasarkan fungsi masing-masing.
* Setiap lembaga negara sejajar kedudukannya di bawah UUD 1945.
* Menata kembali lembaga-lembaga negara yang ada serta membentuk beberapa lembaga negara
baru agar sesuai dengan sistem konstitusional dan prinsip negara berdasarkan hukum.
* Penyempurnaan pada sisi kedudukan dan kewenangan maing-masing lembaga negara
disesuaikan dengan perkembangan negara demokrasi modern.

Tugas Lembaga Tinggi Negara sesudah amandemen ke – 4 :

A. MPR
· Lembaga tinggi negara sejajar kedudukannya dengan lembaga tinggi negara lainnya seperti
Presiden, DPR, DPD, MA, MK, BPK.
· Menghilangkan supremasi kewenangannya.
· Menghilangkan kewenangannya menetapkan GBHN.
· Menghilangkan kewenangannya mengangkat Presiden (karena presiden dipilih secara langsung
melalui pemilu).
· Tetap berwenang menetapkan dan mengubah UUD.
· Susunan keanggotaanya berubah, yaitu terdiri dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan
angota Dewan Perwakilan Daerah yang dipilih secara langsung melalui pemilu.

B. DPR
· Posisi dan kewenangannya diperkuat.
· Mempunyai kekuasan membentuk UU (sebelumnya ada di tangan presiden, sedangkan DPR
hanya memberikan persetujuan saja) sementara pemerintah berhak mengajukan RUU.
· Proses dan mekanisme membentuk UU antara DPR dan Pemerintah.
· Mempertegas fungsi DPR, yaitu: fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan
sebagai mekanisme kontrol antar lembaga negara.

C. DPD
· Lembaga negara baru sebagai langkah akomodasi bagi keterwakilan kepentingan daerah dalam
badan perwakilan tingkat nasional setelah ditiadakannya utusan daerah dan utusan golongan
yang diangkat sebagai anggota MPR.
· Keberadaanya dimaksudkan untuk memperkuat kesatuan Negara Republik Indonesia.
· Dipilih secara langsung oleh masyarakat di daerah melalui pemilu.
· Mempunyai kewenangan mengajukan dan ikut membahas RUU yang berkaitan dengan
otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, RUU lain yang berkait dengan kepentingan daerah.
D. BPK
· Anggota BPK dipilih DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD.
· Berwenang mengawasi dan memeriksa pengelolaan keuangan negara (APBN) dan daerah
(APBD) serta menyampaikan hasil pemeriksaan kepada DPR dan DPD dan ditindaklanjuti oleh
aparat penegak hukum.
· Berkedudukan di ibukota negara dan memiliki perwakilan di setiap provinsi.
· Mengintegrasi peran BPKP sebagai instansi pengawas internal departemen yang bersangkutan
ke dalam BPK.

E. PRESIDEN
· Membatasi beberapa kekuasaan presiden dengan memperbaiki tata cara pemilihan dan
pemberhentian presiden dalam masa jabatannya serta memperkuat sistem pemerintahan
presidensial.
· Kekuasaan legislatif sepenuhnya diserahkan kepada DPR.
· Membatasi masa jabatan presiden maksimum menjadi dua periode saja.
· Kewenangan pengangkatan duta dan menerima duta harus memperhatikan pertimbangan DPR.
· Kewenangan pemberian grasi, amnesti dan abolisi harus memperhatikan pertimbangan DPR.
· Memperbaiki syarat dan mekanisme pengangkatan calon presiden dan wakil presiden menjadi
dipilih secara langsung oleh rakyat melui pemilu, juga mengenai pemberhentian jabatan presiden
dalam masa jabatannya.

F. MAHKAMAH AGUNG
· Lembaga negara yang melakukan kekuasaan kehakiman, yaitu kekuasaan yang
menyelenggarakan peradilan untuk menegakkan hukum dan keadilan [Pasal 24 ayat (1)].
· Berwenang mengadili pada tingkat kasasi, menguji peaturan perundang-undangan di bawah
Undang-undang dan wewenang lain yang diberikan Undang-undang.
· Di bawahnya terdapat badan-badan peradilan dalam lingkungan Peradilan Umum, lingkungan
Peradilan Agama, lingkungan Peradilan militer dan lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara
(PTUN).
· Badan-badan lain yang yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman diatur dalam
Undang-undang seperti : Kejaksaan, Kepolisian, Advokat/Pengacara dan lain-lain.

G. MAHKAMAH KONSTITUSI
· Keberadaanya dimaksudkan sebagai penjaga kemurnian konstitusi (the guardian of the
constitution).
· Mempunyai kewenangan: Menguji UU terhadap UUD, Memutus sengketa kewenangan antar
lembaga negara, memutus pembubaran partai politik, memutus sengketa hasil pemilu dan
memberikan putusan atas pendapat DPR mengenai dugaan pelanggaran oleh presiden dan atau
wakil presiden menurut UUD.
· Hakim Konstitusi terdiri dari 9 orang yang diajukan masing-masing oleh Mahkamah Agung,
DPR dan pemerintah dan ditetapkan oleh Presiden, sehingga mencerminkan perwakilan dari 3
cabang kekuasaan negara yaitu yudikatif, legislatif, dan eksekutif.

H. KOMISI YUDISIAL
· Tugasnya mencalonkan Hakim Agung dan melakukan pengawasan moralitas dan kode etik
para Hakim.
TATA URUTAN PERUNDANG-UNDANGAN
menurut Undang Undang No. 10 tahun 2004 jenis dan tata urutan/susunan (hirarki)
peraturan perundang-undangan sekarang adalah sebagai berikut :

1. UUD-RI tahun 1945


2. Undang-undang (UU)/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu);
3. Peraturan Pemerintah (PP);
4. Peraturan Presiden (Perpres) dan Peraturan lembaga negara atau organ/badan negara yang
dianggap sederajat dengan Presiden antara lain : Peraturan Kepala BPK, Peraturan Bank
Indonesia, Peraturan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Peraturan Mahkamah Agung,
Peraturan Mahkamah Konstitusi, Peraturan Komisi Yudisial,
5. Peraturan Daerah Propinsi;
6. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota;
7. Peraturan Desa (Perdesa).

Sumber: http://topihukum.blogspot.com/2014/02/sejarah-dan-perkembangan-konstitusi-di.html

http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.Berita&id=11776#.WZZgHY69h3w

PERKEMBANGAN KONSTITUSI DI INDONESIA


Filed under: Hukum — Tinggalkan komentar

Juni 24, 2011

PERKEMBANGAN KONSTITUSI

DI INDONESIA

A. PENDAHULUAN

Dari catatan sejarah klasik terdapat dua perkataan yang berkaitan erat dengan pengertian kita
sekarang tentang konstitusi, yaitu dalam perkataan Yunani kuno ‘politeia’ dan perkataan bahasa
Latin ‘constitutio’ yang juga berkaitan dengan kata ‘jus’. Dalam kedua percatan ‘politeia’ dan
‘constitutio’ itulah awal mula gagasan konstitusionalisme diekspresikan oleh umat manusia
beserta hubungan di antara kedua istilah tersebut dalam sejarah. Jika kedua istilah tersebut
dibandingkan, dapat dikatakan bahwa yang paling tua usianya adalah kata ‘politeia’ yang berasal
dari kebudayaan Yunani[1].

Pengertian konstitusi di zaman yunani kuno masih bersifat materiil, dalam arti belum berbentuk
seperti yang dimenegrti zaman modern sekarang ini. Namun perbedaan antara konstitusi dengan
hukum biasa sudah tergambar dalam pembedaan yang dilakukan oleh aristoteles terhadap
pengertian politea dan nomoi. Politea dapat disepadankan dengan pengertian konstitusi,
sedangkan nomoi adalah undang-undang biasa. Politea mengandung kekuasaan yang lebih tinggi
dari nomoi , karena politea mempunyai kekuasaan membentuk sedang nomoi tidak ada, karena ia
hanya merupakan materi yang harus dibentuk agar tidak berceri-berai.

Konstitusi berasal dari kata kerja “contituer” (Francis) yang berarti ‘membentuk’, yang dibentuk
adalah negara. Dengan demikian dapat dikatakan membentuk suatu negara, menyusun dan
menyatakan suatu Negara. Dalam bahasa latin kata konstitusi merupakan gabungan dua kata,
yaitu ‘cume’ dan ‘statuere’. Cume adalah sebuah preposisi yang berarti “bersama dengan”, dan
statuere berasal dari kata “sta” yang membentuk kata kerja ‘stare” yang berarti “berdiri”. Atas
dasar itu kata statuere mempunyai arti “membuat sesuatu agar berdiri atau
mendirikan/menetapkan”. Dengan demikian constitutio (bentuk tunggal) berarti menetapkan
sesuatu secara bersama-sama, dan “constitutiones” (bentuk jamak) berarti segala sesuatu yang
telah ditetapkan.

Dalam kebudayaan Yunani istilah konstitusi berhubungan erat dengan sebutan ”respublica
constituere” yang melahirkan semboyan “prinsep legibus solutus est, salus publica suprema
lex”, (rajalah yang berhak menentukan struktur organisasi negara, karena dialah satu-satunya
pembuat undang-undang). Konstitusi dalam kepustakaan belanda dipergunakan istilah
“grondwet” (wet= undang-undang, grond = dasar), yaitu berarti suatu undang-undang yang
menjadi dasar (grond) dari segala hukum. Indonesia menggunakan istilah Grondwet menjadi
Undang-Undang Dasar[2].

Konstitusi sebagai hukum dasar yang dijadikan pegangan dalam penyelenggaraan suatu negara
dapat berupa konstitusi tertulis dan konstitusi tidak tertulis. Dalam hal konstitusi terstulis, hampir
semua negara di dunia memilikinya yang lajim disebut undang-undang dasar (UUD) yang pada
umumnya mengatur mengenai pembentukan, pembagian wewenang dan cara bekerja berbagai
lembaga kenegaraan serta perlindungan hak azasi manusia. Negara yang dikategorikan sebagai
negara yang tidak memiliki konstitusi tertulis adalah Inggris dan Kanada. Di kedua negara ini,
aturan dasar terhadap semua lembaga-lembaga kenegaraan dan semua hak azasi manusia
terdapat pada adat kebiasaan dan juga tersebar di berbagai dokumen, baik dokumen yang relatif
baru maupun yang sudah sangat tua seperti Magna Charta yang berasal dari tahun 1215 yang
memuat jaminan hak-hak azasi manusia rakyat Inggris.Karena ketentuan mengenai kenegaraan
itu tersebar dalam berbagai dokumen atau hanya hidup dalam adat kebiasaan masyarakat itulah
maka Inggris masuk dalam kategori negara yang memiliki konstitusi tidak tertulis.

Adanya negara yang dikenal sebagai negara konstitusional tetapi tidak memiliki konstitusi
tertulis, nilai-nilai, dan norma-norma yang hidup dalam praktek penyelenggaraan negara juga
diakui sebagai hukum dasar, dan tercakup pula dalam pengertian konstitusi dalam arti yang luas.
Karena itu, Undang-Undang Dasar sebagai konstitusi tertulis beserta nilai-nilai dan norma
hukum dasar tidak tertulis yang hidup sebagai konvensi ketatanegaraan dalam praktek
penyelenggaraan negara sehari-hari, termasuk ke dalam pengertian konstitusi atau hukum dasar
(droit constitusionnel) suatu Negara[3].
Dalam perkembangan sejarah kehidupan berbangsa dan bernegara, konstitusi menempati posisi
yang sangat penting. Pengertian dan materi muatan konstitusi senantiasa berkembang seiring
dengan perkembangan peradaban manusia dan organisasi kenegaraan. Kajian tentang konstitusi
semakin penting dalam negara-negara modern saat ini yang pada umumnya menyatakan diri
sebagai negara konstitusional, baik demokrasi konstitusional maupun monarki konstitusional.
Dengan meneliti dan mengkaji konstitusi, dapat diketahui prinsip-prinsip dasar kehidupan
bersama dan penyelenggaraan negara serta struktur organisasi suatu negara tertentu. Bahkan
nilai-nilai konstitusi dapat dikatakan mewakili tingkat peradaban suatu bangsa.

Suatu konstitusi tertulis, sebagaimana halnya Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945), nilai-
nilai dan norma dasar yang hidup dalam masyarakat serta praktek penyelenggaraan negara turut
mempengaruhi perumusan suatu norma ke dalam naskah Undang-Undang Dasar. Karena itu,
suasana kebatinan (geistichenhentergrund) yang menjadi latar belakang filosofis, sosiologis,
politis, dan historis perumusan juridis suatu ketentuan Undang-Undang Dasar perlu dipahami
dengan seksama, untuk dapat mengerti dengan sebaik-baiknya ketentuan yang terdapat dalam
pasal-pasal Undang-Undang Dasar.

Undang-Undang Dasar tidak dapat dipahami hanya melalui teksnya saja. Untuk sungguh-
sungguh mengerti, kita harus memahami konteks filosois, sosio-historis sosio-politis, sosio-
juridis, dan bahkan sosio-ekonomis yang mempengaruhi perumusannya. Di samping itu, setiap
kurun waktu dalam sejarah memberikan pula kondisi-kondisi kehidupan yang membentuk dan
mempengaruhi kerangka pemikiran (frame of reference) dan medan pengalaman (ield of
experience) dengan muatan kepentingan yang berbeda, sehingga proses pemahaman terhadap
suatu ketentuan Undang-Undang Dasar dapat terus berkembang dalam praktek di kemudian hari.
Karena itu, penafsiran terhadap Undang-Undang Dasar pada masa lalu, masa kini, dan pada masa
yang akan datang, memerlukan rujukan standar yang dapat dipertanggungjawabkan dengan
sebaik-baiknya, sehingga Undang-Undang Dasar tidak menjadi alat kekuasaan yang ditentukan
secara sepihak oleh pihak manapun juga. Untuk itulah, menyertai penyusunan dan perumusan
naskah Undang-Undang Dasar, diperlukan pula adanya Pokok-Pokok pemikiran konseptual yang
mendasari setiap perumusan pasal-pasal Undang-Undang Dasar serta keterkaitannya secara
langsung atau tidak langsung terhadap semangat Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan
Pembukaan Undang-Undang Dasar [4].

B. UNDANG-UNDANG DASAR 1945

UUD 1945 pertama kali disahkan berlaku sebagai konstitusi Negara Indonesia dalam sidang
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945, yaitu sehari setelah
kemerdekaan negara Republik Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta
pada tanggal 17 Agustus 1945. Naskah UUD 1945 ini pertama kali dipersiapkan oleh satu badan
bentukan pemerintahbalatentara Jepang yang diberi nama “Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” yang
dalam bahasa Indonesia disebut “Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia” (BPUPKI). Pimpinan dan anggota badan ini dilantik oleh Pemerintah Balatentara
Jepang pada tanggal 28 Mei 1945 dalam rangka memenuhi janji Pemerintah Jepang di depan
parlemen (Diet) untuk memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia [5]. Namun, setelah
pembentukannya, badan ini tidak hanya melakukan usaha-usaha persiapan kemerdekaan sesuai
dengan tujuan pembentukannya, tetapi malah mempersiapkan naskah Undang-Undang Dasar
sebagai dasar untuk mendirikan Negara Indonesia merdeka.

Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) ini beranggotakan


62 orang, diketuai oleh K.R.T. Radjiman Wedyodiningrat, serta Itibangase Yosio dan Raden
Panji Suroso, masing-masing sebagai Wakil Ketua[6]. Persidangan badan ini dibagi dalam dua
periode, yaitu masa sidang pertama dari tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945, dan masa
sidang kedua dari tanggal 10 Juli sampai dengan 17 Juli 1945. Dalam kedua masa sidang itu,
fokus pembicaraan dalam sidang-sidang BPUPKI langsung tertuju pada upaya mempersiapkan
pembentukan sebuah negara merdeka. Hal ini terlihat selama masa persidangan pertama,
pembicaraan tertuju pada soal ‘philosoische grondslag’, dasar falsafah yang harus dipersiapkan
dalam rangka negara Indonesia merdeka. Pembahasan mengenai hal-hal teknis tentang bentuk
negara dan pemerintahan baru dilakukan dalam masa persidangan kedua dari tanggal 10 Juli
sampai dengan 17 Agustus 1945 [7].

Dalam masa persidangan kedua itulah dibentuk Panitia Hukum Dasar dengan anggota terdiri atas
19 orang, diketuai oleh Ir. Soekarno. Panitia ini membentuk Panitia Kecil yang diketuai oleh
Prof. Dr. Soepomo, dengan anggota yang terdiri atas Wongsonegoro, R. Soekardjo, A.A.
Maramis, Panji Singgih, Haji Agus Salim, dan Sukiman. Pada tanggal 13 Juli 1945, Panitia Kecil
berhasil menyelesaikan tugasnya, dan BPUPKI menyetujui hasil kerjanya sebagai rancangan
Undang-Undang Dasar pada tanggal 16 Agustus 1945. Setelah BPUPKI berhasil menyelesaikan
tugasnya, Pemerintah Balatentara Jepang membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia
(PPKI) yang beranggotakan 21 orang, termasuk Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta,
masing-masing sebagai Ketua dan Wakil Ketua.

Setelah mendengarkan laporan hasil kerja BPUPKI yang telah menyelesaikan naskah rancangan
Undang-Undang Dasar, pada sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, beberapa anggota masih
ingin mengajukan usul-usul perbaikan disana-sini terhadap rancangan yang telah dihasilkan,
tetapi akhirnya dengan aklamasi rancangan UUD itu secara resmi disahkan menjadi Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Namun demikian, setelah resmi disahkan pada
tanggal 18 Agustus 1945.

UUD 1945 ini tidak langsung dijadikan referensi dalam setiap pengambilan keputusan
kenegaraan dan pemerintahan. UUD 1945 pada pokoknya benar-benar dijadikan alat saja untuk
sesegera mungkin membentuk negara merdeka yang bernama Republik Indonesia. UUD 1945
memang dimaksudkan sebagai UUD sementara yang menurut istilah Bung Karno sendiri
merupakan ‘revolutie-grondwet’ atau Undang-Undang Dasar Kilat, yang memang harus diganti
dengan yang baru apabila negara merdeka sudah berdiri dan keadaan sudah memungkinkan. Hal
ini dicantumkan pula dengan tegas dalam ketentuan asli Aturan Tambahan Pasal II UUD 1945
yang berbunyi:

“Dalam enam bulan sesudah Majelis Permusyawaratan Rakyat dibentuk, Majelis ini bersidang
untuk menetapkan Undang-Undang Dasar”.

Adanya ketentuan Pasal III Aturan Tambahan ini juga menegaskan bahwa UUD Negara
Republik Indonesia yang bersifat tetap barulah akan ada setelah MPR-RI menetapkannya secara
resmi. Akan tetapi, sampai UUD 1945 diubah pertama kali pada tahun 1999, MPR yang ada
berdasarkan UUD 1945 belum pernah sekalipun menetapkan UUD 1945 sebagai UUD Negara
Republik Indonesia.

C. KONSTITUSI RIS 1949

Setelah Perang Dunia Kedua berakhir dengan kemenangan di pihak Tentara Sekutu dan
kekalahan di pihak Jepang, maka kepergian Pemerintah Balatentara Jepang dari tanah air
Indonesia dimanfaatkan oleh Pemerintah Belanda untuk kembali menjajah Indonesia. Namun,
usaha Pemerintah Belanda untuk kembali menanamkan pengaruhnya tidak mudah karena
mendapat perlawanan yang sengit dari para pejuang kemerdekaan Indonesia. Karena itu,
Pemerintah Belanda menerapkan politik adu domba dengan cara mendirikan dan mensponsori
berdirinya beberapa negara kecil di berbagai wilayah nusantara, seperti Negara Sumatera,
Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, dan sebagainya. Dengan
kekuasaan negara-negara yang terpecah-pecah itu diharapkan pengaruh kekuasaan Republik
Indonesia di bawah kendali pemerintah hasil perjuangan kemerdekaan dapat dieliminir oleh
Pemerintah Belanda.

Sejalan dengan hal itu, Tentara Belanda melakukan Agresi I pada tahun 1947 dan Agresi II pada
tahun1948 untuk maksud kembali menjajah Indonesia. Dalam keadaan terdesak, maka atas
pengaruh Perserikatan Bangsa-Bangsa, pada tanggal 23 Agustus 1949 sampai dengan tanggal 2
November 1949 diadakan Konperensi Meja Bundar (Round Table Conference) di Den Haag.
Konperensi ini dihadiri oleh wakil-wakil dari Republik Indonesia dan ‘Bijeenkomst voor Federal
Overleg’ (B.F.O.) serta wakil Nederland dan Komisi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk
Indonesia.

Konperensi Meja Bundar tersebut berhasil menyepakati tiga hal, yaitu:

1. Mendirikan Negara Republik Indonesia Serikat.

2. Penyerahan kedaulatan kepada RIS yang berisi 3 hal, yaitu (a) piagam penyerahan kedaulatan
dari Kerajaan Belanda lepada Pemerintah RIS; (b) status uni; dan (c) persetujuan perpindahan.

3. Mendirikan uni antara Republik Indonesia Serikat dengan Kerajaan Belanda

Naskah konstitusi Republik Indonesia Serikat disusun bersama oleh delegasi Republik Indonesia
dan delegasi BFO ke Konperensi Meja Bundar itu. Dalam delegasi Republik Indonesia yang
dipimpin oleh Mr. Mohammad Roem, terdapat Prof. Dr. Soepomo yang terlibat dalam
mempersiapkan naskah Undang-Undang Dasar tersebut. Rancangan UUD itu disepakati bersama
oleh kedua belah pihak untuk diberlakukan sebagai Undang-Undang Dasar RIS. Naskah
Undang- Undang Dasar yang kemudian dikenal dengan sebutan Konstitusi RIS itu disampaikan
kepada Komite Nasional Pusat sebagai lembaga perwakilan rakyat di Republik Indonesia dan
kemudian resma mendapat persetujuan Komite Nasional Pusat tersebut pada tanggal 14
Desember 1949. Selanjutnya, Konstitusi RIS dinyatakan berlaku mulai tanggal 27 Desember
1949.
Dengan berdirinya negara Republik Indonesia Serikat berdasarkan Konstitusi RIS Tahun 1949
itu, wilayah Republik Indonesia sendiri masih tetap ada di samping negara federal Republik
Indonesia Serikat. Karena, sesuai ketentuan Pasal 2 Konstitusi RIS, Republik Indonesia diakui
sebagai salah satu negara bagian dalam wilayah Republik Indonesia Serikat, yaitu mencakup
wilayah yang disebut dalam persetujuan Renville. Dalam wilayah federal, berlaku Konstitusi RIS
1949, tetapi dalam wilayah Republik Indonesia sebagai salah satu negara bagian tetap berlaku
UUD 1945. Dengan demikian, berlakunya UUD 1945 dalam sejarah awal ketatanegaraan
Indonesia, baru berakhir bersamaan dengan berakhirnya masa berlakunya Konstitusi RIS, yaitu
tanggal 27 Agustus 1950, ketika UUDS 1950 resmi diberlakukan.

Konstitusi RIS yang disusun dalam rangka Konperensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun
1949 itu, pada pokoknya juga dimaksudkan sebagai UUD yang bersifat sementara. Disadari
bahwa lembaga yang membuat dan menetapkan UUD itu tidaklah representatif. Karena itu,
dalam Pasal 186 Konstitusi RIS ini ditegaskan ketentuan bahwa Konstituante bersama-sama
dengan Pemerintah selekas-lekasnya menetapkan Konstitusi Republik Indonesia Serikat. Dari
ketentuan Pasal 186 ini, jelas sekali artinya bahwa Konstitusi RIS 1949 yang ditetapkan di Den
Haag itu hanyalah bersifat sementara saja.

D. UNDANG-UNDANG DASAR SEMENTARA 1950

Bentuk negara federal nampaknya memang mengandung banyak sekali nuansa politis, berkenaan
dengan kepentingan penjajahan Belanda. Karena itu, meskipun gagasan bentuk negara federal
mungkin saja memiliki relevansi sosiologis yang cukup kuat untuk diterapkan di Indonesia,
tetapi karena terkait dengan kepentingan penjajahan Belanda itu maka ide feodalisme menjadi
tidak populer. Apalagi, sebagai negara yang baru terbentuk, pemerintahan Indonesia memang
membutuhkan tahap-tahap konsolidasi kekuasaan yang efektif sedemikian rupa sehingga bentuk
negara kesatuan dinilai jauh lebih cocok untuk diterapkan daripada bentuk negara federal.

Karena itu, bentuk negara federal RIS ini tidak bertahan lama. Dalam rangka konsolidasi
kekuasaan itu, mula-mula tiga wilayah negara bagian, yaitu Negara Republilk Indonesia, Negara
Indonesia Timur dan Negara Sumatera Timur menggabungkan diri menjadi satu wilayah
Republik Indonesia. Sejak itu wibawa Pemerintah Republik Indonesia Serikat menjadi
berkurang, sehingga akhirnya dicapailah kata sepakat antara Pemerintah Republik Indonesia
Serikat dan Pemerintah Republik Indonesia untuk kembali bersatu mendirikan negara kesatuan
Republik Indonesia. Kesepakatan itu dituangkan dalam satu naskah persetujuan bersama pada
tanggal 19 Mei 1950, yang pada intinya menyepakati dibentuknya kembali NKRI sebagai
kelanjutan dari negara kesatuan yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Dalam rangka persiapan ke arah itu, maka untuk keperluan menyiapkan satu naskah Undang-
Undang Dasar, dibentuklah statu Panitia bersama yang akan menyusun rancangannya. Setelah
selesai, rancangan naskah Undang-Undang Dasar itu kemudian disahkan oleh Badan Pekerja
Komite Nasional Pusat pada tanggal 12 Agustus 1950, dan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan
Senat Republik Indonesia Serikat pada tanggal 14 Agustus 1950. Selanjutnya, naskah UUD baru
ini diberlakukan secara resmi mulai tanggal 17 Agustus, 1950, yaitu dengan ditetapkannya UU
No.7 Tahun 1950. UUDS 1950 ini bersifat mengganti sehingga isinya tidak hanyamencerminkan
perubahan terhadap Konstitusi Republik Indonesia Serikat Tahun 1949, tetapi menggantikan
naskah Konstitusi RIS itu dengan naskah baru sama sekali dengan nama Undang-Undang Dasar
Sementara Tahun 1950.

Seperti halnya Konstitusi RIS 1949, UUDS 1950 ini juga bersifat sementara. Hal ini terlihat jelas
dalam rumusan Pasal 134 yang mengharuskan Konstituante bersama-sama dengan Pemerintah
segera menyusun Undang-Undang Dasar Republik Indonesia yang akan menggantikan Undang-
Undang Dasar Sementara Tahun 1950 itu. Akan tetapi, berbeda dari Konstitusi RIS yang tidak
sempat membentuk Konstituante sebagaimana diamanatkan di dalamnya, amanat UUDS 1950
telah dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga pemilihan umum berhasil diselenggarakan pada
bulan Desember 1955 untuk memilih anggota Konstituante. Pemilihan Umum ini diadakan
berdasarkan ketentuan UU No. 7 Tahun 1953. Undang-Undang ini berisi dua pasal. Pertama
berisi ketentuan perubahan Konstitusi RIS menjadi UUDS 1950; Kedua berisi ketentuan
mengenai tanggal mulai berlakunya Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 itu
menggantikan Konstitusi RIS, yaitu tanggal 17 Agustus 1950. Atas dasar UU inilah diadakan
Pemilu tahun 1955, yang menghasilkan terbentuknya Konstituante yang diresmikan di kota
Bandung pada tanggal 10 November 1956.

Majelis Konstituante ini tidak atau belum sampai berhasil menyelesaikan tugasnya untuk
menyusun Undang-Undang Dasar baru ketika Presiden Soekarno berkesimpulan bahwa
Konstituante telah gagal, dan atas dasar itu ia mengeluarkan Dekrit tanggal 5 Juli 1959 yang
memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai UUD negara Republik Indonesia selanjutnya.
Menurut Adnan Buyung Nasution dalam disertasi yang dipertahankannya di negeri Belanda,
Konstituante ketika itu sedang reses, dan karena itu tidak dapat dikatakan gagal sehingga
dijadikan alasan oleh Presiden untuk mengeluarkan dekrit. Namun demikian, nyatanya sejarah
ketatanegaraan Indonesia telah berlangsung sedemikian rupa, sehingga Dekrit Presiden tanggal 5
Juli 1959 itu telah menjadi kenyataan sejarah dan kekuatannya telah memberlakukan kembali
UUD 1945 sebagai UUD negara Republik Indonesia sejak tanggal 5 Juli 1959 sampai dengan
sekarang.

Memang kemudian timbul kontroversi yang luas berkenaan dengan status hukum berlakunya
Dekrit Presiden yang dituangkan dalam bentuk Keputusan Presiden itu sebagai tindakan hukum
yang sah untuk memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar 1945. Profesor Djoko Soetono
memberikan pembenaran dengan mengaitkan dasar hukum Dekrit Presiden yang diberi baju
hukum dalam bentuk Keputusan Presiden itu dengan prinsip ‘staatsnoodrecht’. Menurut Moh.
Kusnardi dan Harmaily Ibrahim[8], prinsip ‘staatsnoodrecht’ itu pada pokoknya sama dengan
pendapat yang dijadikan landasan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara masa Orde
Baru untuk menetapkan Ketetapan MPR No. XX/MPRS/1966. Adanya istilah Orde Baru itu saja
menggambarkan pendirian MPRS bahwa masa antara tahun 1959 sampai tahun 1965 adalah
masa Orde Lama yang dinilai tidak mencerminkan pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan
konsekuen. Oleh karena itu, MPRS mengeluarkan TAP No.XX/MPRS/1966 tersebut dengan
asumsi bahwa perubahan drastis perlu dilakukan karena adanya prinsip yang sama, yaitu keadaan
darurat (staatsnoodrecht).

Terlepas dari kontroversi itu, yang jelas, sejak Dekrit 5 Juli 1959 sampai sekarang, UUD 1945
terus berlaku dan diberlakukan sebagai hukum dasar. Sifatnya masih tetap sebagai UUD
sementara. Akan tetapi, karena konsolidasi kekuasaan yang makin lama makin terpusat di masa
Orde Baru, dan siklus kekuasaan mengalami stagnasi yang statis karena pucuk pimpinan
pemerintahan tidak mengalami pergantian selama 32 tahun, akibatnya UUD 1945 mengalami
proses sakralisasi yang irrasional selama kurun masa Orde Baru itu. UUD 1945 tidak diizinkan
bersentuhan dengan ide perubahan sama sekali. Padahal, UUD 1945 itu jelas merupakan UUD
yang masih bersifat sementara dan belum pernah dipergunakan atau diterapkan dengan sungguh-
sungguh. Satu-satunya kesempatan untuk menerapkan UUD 1945 itu secara relatif lebih murni
dan konsekuen hanyalah di masa Orde baru selama 32 tahun. Itupun berakibat terjadinya stagnasi
atas dinamika kekuasaan. Siklus kekuasaan berhenti, menyebabkan Presiden Soeharto seakan
terpenjara dalam kekuasaan yang dimilikinya, makin lama makin mempribadi secara tidak
rasional. Itulah akibat dari diterapkannya UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

E. PERUBAHAN UNDANG-UNDANG DASAR 1945

Perubahan UUD 1945 merupakan salah satu tuntutan yang paling mendasar dari gerakan
reformasi yang berujung pada runtuhnya kekuasaan Orde Baru pada tahun 1998. Hal ini
menunjukkan bahwa masyarakat tidak lagi melihat faktor penyebab otoritarian Orde Baru hanya
pada manusia sebagai pelakunya, tetapi karena kelemahan sistem hukum dan ketatanegaraan.
Kelemahan dan ketidaksempurnaan konstitusi sebagai hasil karya manusia adalah suatu hal yang
pasti. Kelemahan dan ketidaksempurnaan UUD 1945 bahkan telah dinyatakan oleh Soekarno
pada rapat pertama PPKI tanggal 18 Agustus 1945 [9].

Gagasan perubahan UUD 1945 menemukan momentumnya di era reformasi. Pada awal masa
reformasi, Presiden membentuk Tim Nasional Reformasi Menuju Masyarakat Madani yang
didalamnya terdapat Kelompok Reformasi Hukum dan Perundang-Undangan. Kelompok
tersebut menghasilkan pokok-pokok usulan amandemen UUD 1945 yang perlu dilakukan
mengingat kelemahan-kelemahan dan kekosongan dalam UUD 1945. Gagasan perubahan UUD
1945 menjadi kenyataan dengan dilakukannya perubahan UUD 1945 oleh Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR). Pada Sidang Tahunan MPR 1999, seluruh fraksi di MPR
membuat kesepakatan tentang arah perubahan UUD 1945 yaitu:[10]

1. sepakat untuk tidak mengubah Pembukaan UUD 1945;

2. sepakat untuk mempertahankan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia;

3. sepakat untuk mempertahankan sistem presidensiil (dalam pengertian sekaligus


menyempurnakan agar betul-betul memenuhi ciri-ciri umum sistem presidensiil);

4. sepakat untuk memindahkan hal-hal normatif yang ada dalam Penjelasan UUD 1945 ke
dalam pasal-pasal UUD 1945; dan

5. sepakat untuk menempuh cara adendum dalam melakukan amandemen terhadap UUD
1945.

Perubahan UUD 1945 kemudian dilakukan secara bertahap dan menjadi salah satu agenda
Sidang Tahunan MPR [11] dari tahun 1999 hingga perubahan keempat pada Sidang Tahunan
MPR tahun 2002 bersamaan dengan kesepakatan dibentuknya Komisi Konstitusi yang bertugas
melakukan pengkajian secara komprehensif tentang perubahan UUD 1945 berdasarkan
Ketetapan MPR No. I/MPR/2002 tentang Pembentukan Komisi Konstitusi.

Perubahan Pertama pada tahun 1999, Perubahan Kedua pada tahun 2000, Perubahan Ketiga pada
tahun 2001, dan Perubahan Keempat pada tahun 2002. Dalam empat kali perubahan itu, materi
UUD 1945 yang asli telah mengalami perubahan besar-besaran dan dengan perubahan materi
yang dapat dikatakan sangat mendasar. Secara substantif, perubahan yang telah terjadi atas UUD
1945 telah menjadikan konstitusi proklamasi itu menjadi konstitusi yang baru sama sekali,
meskipun tetap dinamakan sebagai Undang-Undang Dasar 1945.

Perubahan Pertama UUD 1945 disahkan dalam Sidang Umum MPR-RI yang diselenggarakan
antara tanggal 12 sampai dengan tanggal 19 Oktober 1999. Pengesahan naskah Perubahan
Pertama itu tepatnya dilakukan pada tanggal 19 Oktober 1999 yang dapat disebut sebagai
tonggak sejarah yang berhasil mematahkan semangat konservatisme dan romantisme di sebagian
kalangan masyarakat yang cenderung menyakralkan atau menjadikan UUD 1945 bagaikan
sesuatu yang suci dan tidak boleh disentuh oleh ide perubahan sama sekali. Perubahan Pertama
ini mencakup perubahan atas 9 pasal UUD 1945, yaitu atas Pasal 5 ayat (1), Pasal 7, Pasal 9 ayat
(1) dan ayat (2), Pasal 13 ayat (2) dan ayat (3), Pasal 14 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 15, Pasal 17
ayat (2) dan ayat (3), Pasal 20 ayat (1) sampai dengan ayat (4), dan Pasal 21. Kesembilan pasal
yang mengalami perubahan atau penambahan tersebut seluruhnya berisi 16 ayat atau dapat
disebut ekuivalen dengan 16 butir ketentuan dasar.

Gelombang perubahan atas naskah UUD 1945 terus berlanjut, sehingga dalam Sidang Tahunan
pada tahun 2000, MPR-RI sekali lagi menetapkan Perubahan Kedua yaitu pada tanggal 18
Agustus 2000. Cakupan materi yang diubah pada naskah Perubahan Kedua ini lebih luas dan
lebih banyak lagi, yaitu mencakup 27 pasal yang tersebar dalam 7 bab, yaitu Bab VI tentang
Pemerintah Daerah, Bab VII tentang Dewan Perwakilan Rakyat, Bab IXA tentang Wilayah
Negara, Bab X tentang Warga Negara dan Penduduk, Bab XA tentang Hak Asasi Manusia, Bab
XII tentang Pertahanan dan Keamanan Negara, dan Bab XV tentang Bendera, Bahasa, dan
Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan. Jika ke-27 pasal tersebut dirinci jumlah ayat atau butir
ketentuan yang diaturnya, maka isinya mencakup 59 butir ketentuan yang mengalami perubahan
atau bertambah dengan rumusan ketentuan baru sama sekali.

Setelah itu, agenda perubahan dilanjutkan lagi dalam Sidang Tahunan MPR-RI tahun 2001 yang
berhasil menetapkan naskah Perubahan Ketiga UUD 1945 pada tanggal 9 November 2001. Bab-
bab UUD 1945 yang mengalami perubahan dalam naskah Perubahan Ketiga ini adalah Bab I
tentang Bentuk dan Kedaulatan, Bab II tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Bab III
tentang Kekuasaan Pemerintahan Negara, Bab V tentang Kementerian Negara, Bab VIIA tentang
Dewan Perwakilan Daerah, Bab VIIB tentang Pemilihan Umum, dan Bab VIIIA tentang Badan
Pemeriksa Keuangan. Seluruhnya terdiri atas 7 bab, 23 pasal, dan 68 butir ketentuan atau ayat.
Dari segi jumlahnya dapat dikatakan naskah Perubahan Ketiga ini memang paling luas cakupan
materinya. Tapi di samping itu, substansi yang diaturnya juga sebagian besar sangat mendasar.
Materi yang tergolong sukar mendapat kesepakatan cenderung ditunda pembahasannya dalam
sidang-sidang terdahulu. Karena itu, selain secara kuantitatif materi Perubahan Ketiga ini lebih
banyak muatannya, juga dari segi isinya, secara kualitatif materi Perubahan Ketiga ini dapat
dikatakan Sangay mendasar pula.
Perubahan yang terakhir dalam rangkaian gelombang reformasi nasional sejak tahun 1998
sampai tahun 2002, adalah perubahan yang ditetapkan dalam Sidang Tahunan MPR-RI tahun
2002. Pengesahan naskah Perubahan Keempat ditetapkan pada tanggal 10 Agustus 2002. Dalam
naskah Perubahan Keempat ini, ditetapkan bahwa (a) Undang-Undang dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 sebagaimana telah diubah dengan perubahan pertama, kedua, ketiga, dan
perubahan keempat ini adalah Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 dan diberlakukan kembali dengan Dekrit Presiden
pada tanggal 5 Juli 1959 serta dikukuhkan secara aklamasi pada tanggal 22 Juli 1959 oleh
Dewan Perwakilan Rakyat; (b) Penambahan bagian akhir pada Perubahan Kedua Undang-
Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dengan kalimat “Perubahan tersebut
diputuskan dalam Rapat Paripurna Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia ke-9
tanggal 18 Agustus 2000 Sidang Tahunan Majelis permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia
dan mulai berlaku pada tanggal ditetapkan”; (c) pengubahan penomoran Pasal 3 ayat (3) dan ayat
(4) Perubahan Ketiga Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjadi
Pasal 3 ayat (2) dan (3); Pasal 25E Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 menjadi Pasal 25A; (d) penghapusan judul Bab IV tentang Dewan
Pertimbangan Agung dan pengubahan substansi Pasal 16 serta penempatannya ke dalam Bab III
tentang Kekuasaan Pemerintahan negara; (e) pengubahan dan/atau penambahan Pasal 2 ayat (1);
Pasal 6A ayat (4); Pasal 8 ayat (3), Pasal 11 ayat (1); Pasal 16; Pasal 23B; Pasal 23D; Pasal 24
ayat (3); Bab XIII, Pasal 31 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5); Pasal 32 ayat (1)
dan ayat (2); Bab XIV, Pasal 33 ayat (4) dan ayat (5); Pasal 34 ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan
ayat (4); Pasal 37 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4), dan ayat (5); Aturan Peralihan Pasal I, II,
dan III; Aturan Tambahan Pasal I dan II Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.

Secara keseluruhan naskah Perubahan Keempat UUD 1945 mencakup 19 pasal, termasuk satu
pasal yang dihapus dari naskah UUD. Ke-19 pasal tersebut terdiri atas 31 butir ketentuan yang
mengalami perubahan, ditambah 1 butir yang dihapuskan dari naskah UUD. Paradigma
pemikiran atau pokok-pokok pikiran yang terkandungdalam rumusan pasal-pasal UUD 1945
setelah mengalami empat kali perubahan itu benar-benar berbeda dari pokok pikiran yang
terkandung dalam naskah asli ketika UUD 1945 pertama kali disahkan pada tanggal 18 Agustus
1945. Bahkan dalam Pasal II Aturan Tambahan Perubahan Keempat UUD 1945 ditegaskan,
“Dengan ditetapkannya perubahan Undang-Undang Dasar ini, Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 terdiri atas Pembukaan dan pasal-pasal”. Dengan demikian,
jelaslah bahwa sejak tanggal 10 Agustus 2002, status Penjelasan UUD 1945 yang selama ini
dijadikan lampiran tak terpisahkan dari naskah UUD 1945, tidak lagi diakui sebagai bagian dari
naskah UUD. Jikapun isi Penjelasan itu dibandingkan dengan isi UUD 1945 setelah empat kali
berubah, jelas satu sama lain sudah tidak lagi bersesuaian, karena pokok pikiran yang terkandung
di dalam keempat naskah perubahan itu sama sekali berbeda dari apa yang tercantum dalam
Penjelasan UUD 1945 tersebut.

E. PENUTUP

Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia merdeka,
telah tercatat beberapa upaya (a) pembentukan Undang-Undang Dasar, (b) penggantian Undang-
Undang Dasar, dan (c) perubahan dalam arti pembaruan Undang-Undang Dasar. Pada tahun
1945, Undang-Undang Dasar 1945 dibentuk atau disusun oleh Badan Penyelidik Usaha-Usaha
Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
sebagai hukum dasar bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kemerdekaannya
diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pada tahun 1949, ketika bentuk Negara Republik Indonesia diubah menjadi Negara Serikat
(Federasi), diadakan penggantian konstitusi dari Undang-Undang Dasar 1945 ke Konstitusi
Republik Indonesia Serikat Tahun 1949. Demikian pula pada tahun 1950, ketika bentuk Negara
Indonesia diubah lagi dari bentuk Negara Serikat menjadi Negara Kesatuan, Konstitusi RIS 1949
diganti dengan Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950. Setelah itu, mulailah diadakan
usaha untuk menyusun Undang- Undang Dasar baru sama sekali dengan dibentuknya lembaga
Konstituante yang secara khusus ditugaskan untuk menyusun konstitusi baru. Setelah
Konstituante terbentuk, diadakanlah persidangan-persidangan yang sangat melelahkan mulai
tahun 1956 sampai tahun 1959, dengan maksud menyusun Undang-Undang Dasar yang bersifat
tetap. Akan tetapi, sejarah mencatat bahwa usaha ini gagal diselesaikan, sehingga pada tanggal 5
Juli 1959, Presiden Soekarno mengeluarkan keputusannya yang dikenal dengan sebutan Dekrit
Presiden 5 Juli 1959 yang isinya antara lain membubarkan Konstituante dan menetapkan
berlakunya kembali Undang-Undang Dasar 1945 menjadi hukum dasar dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

Perubahan dari Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950 ke Undang-Undang Dasar 1945
ini tidak ubahnya bagaikan tindakan penggantian Undang-Undang Dasar juga. Karena itu,
sampai dengan berlakunya kembali Undang-Undang Dasar 1945 itu, dalam sejarah
ketatanegaraan Indonesia modern belum pernah terjadi perubahan dalam arti pembaruan
Undang-Undang Dasar, melainkan baru perubahan dalam arti pembentukan, penyusunan, dan
penggantian Undang-Undang Dasar. Sementara perubahan UUD 1945 dalam arti pembaharuan
Undang-Undang Dasar, baru terjadi pada era reformasi pada tahun 1998, yaitu setelah Presiden
Soeharto berhenti dan digantikan oleh Presiden Prof. Dr. Ir. Bacharuddin Jusuf Habibie.

UUD Republik Indonesia Tahun 1945 sebagaimana terakhir diubah pada tahun 1999, 2000, 2001
sampai tahun 2002 merupakan satu kesatuan rangkaian perumusan hukum dasar Indonesia di
masa depan dalam satu naskah Undang-Undang Dasar yang mencakupi keseluruhan Hukum
Dasar yang sistematis dan terpadu secara lebih utuh. Semula materi muatan naskah asli UUD
1945 berisi 71 butir ketentuan, setelah perubahan menjadi 199 butir ketentuan yang isinya
mencakup dasar-dasar normative yang berfungsi sebagai sarana pengendali (tool of social and
political control) terhadap penyimpangan dan penyelewengan dalam dinamika perkembangan
zaman dan sekaligus sarana pembaruan masyarakat (tool of social and political reform) serta
sarana perekayasaan (tool of social and political engineering) ke arah cita-cita kolektif bangsa.

Meskipun perubahan-perubahan UUD 1945 tersebut, meliputi hampir keseluruhan materi UUD
1945.. Namun sesuai dengan kesepakatan MPR yang kemudian menjadi lampiran dari Ketetapan
MPR No. IX/MPR/1999, Pembukaan UUD 1945 tidak akan diubah. Pembukaan UUD 1945
memuat cita-cita bersama sebagai puncak abstraksi yang mencerminkan kesamaan-kesamaan
kepentingan di antara sesama warga masyarakat yang dalam kenyataannya harus hidup di tengah
pluralisme atau kemajemukan. Pembukaan UUD 1945 juga memuat tujuan-tujuan atau cita-cita
bersama yang biasa juga disebut sebagai falsafah kenegaraan atau staatsidee (cita negara) yang
berfungsi sebagai filosofische grondslag dan common platforms atau kalimatun sawa di antara
sesama warga masyarakat dalam konteks kehidupan bernegara. Inilah yang oleh William G.
Andrews disebut sebagai Kesepakatan (consensus) pertama.

Pancasila sebagai dasar-dasar filosofis terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 yang merupakan
kesepakatan pertama penyangga konstitusionalisme. Dengan tidak diubahnya Pembukaan UUD
1945, maka tidak berubah pula kedudukan Pancasila sebagai dasar-dasar filosofis bangunan
Negara Republik Indonesia. Yang berubah adalah sistem dan institusi untuk mewujudkan cita-
cita berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Hal ini sesuai dengan makna Pancasila sebagai ideologi
terbuka yang hanya dapat dijalankan dalam sistem yang demokratis dan bersentuhan dengan
nilai-nilai dan perkembangan masyarakat.

[1] Jimly Asshidiqie, Konstitusi & Konstitusionalisme Indonesia, Konstitusi Press, Jakarta, 2005,
hal.1

[2] Mirza Nasution, Negara dan Kostitusi, Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara : USU
Digital Library, Medan, 2004, hal. 2.

[3] Jimly Asshidiqie, op.cit., hal.29

[4] Jimly Asshidiqie, op. cit., Hal 29-30

[5] A.G. Pringgodigdo, “Sejarah Pembentukan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia”,


majalah Hukum dan Masyarakat, Tahun III No.2, Mei 1958, hal. 3-26.

[6] Republik Indonesia, Risalah Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan kemerdekaan
Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), 28 Mei 1945 – 22
Agustus 1945, Sekretariat Negara Republik Indonesia, Jakarta, 1995, hal. xxv.

[7] Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Pusat
Studi Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Jakarta, 1983, hal. 88.

[8] Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, op. cit., hal. 96-97.

[9] Jimly Asshidiqie, Implikasi Perubahan UUD 1945 Terhadap Pembangunan Hukum
Masional, Kontsitusi Pres, Jakarta, 2005, hal. 5

[10] Lima kesepakatan tersebut dilampirkan dalam Ketetapan MPR No. IX/MPR/1999 tentang
Penugasan Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia untuk
Melanjutkan Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

[11] Sidang Tahunan MPR baru dikenal pada masa reformasi berdasarkan Pasal 49 dan Pasal 50
Ketetapan MPR No. II/MPR/1999 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan
Rakyat Republik Indonesia.
https://bentangkusuma.wordpress.com/2011/06/24/perkembangan-konstitusi-di-indonesia/

KONSTITUSI YANG PERNAH BERLAKU DI INDONESIA

KONSTITUSI YANG PERNAH BERLAKU DI INDONESIA

1. UUD 1945 (18 Agustus 1945-27 Desember 1949)

1. Menurut bentuknya Konstitusi pertama Indonesia (UUD 1945) adalah konstitusi tertulis,
karena UUD 1945 merupakan hukum dasar Negara Indonesia pada waktu itu yang
dituangkan dalam suatu dokumen yang formal. Di pertegas dalam Risalah Sidang Tahunan
MPR Tahun 2002, diterbitkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945 Dalam Satu Naskah, Sebagai Naskah Perbantuan dan Kompilasi Tanpa
Ada Opini. Bukti bahwa UUD 1945 adalah konstitusi tertulis yaitu bahwa pada naskah
Piagam Jakarta menjadi naskah Pembukaan UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18
Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Pengesahan UUD
1945 dikukuhkan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang bersidang pada
tanggal 29 Agustus 1945. Naskah rancangan UUD 1945 Indonesia disusun pada masa
Sidang Kedua Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK). Konstusi ini di
tuangkan dalam satu dokumen saja tanpa ada dokumen lainnya yang juga merupakan
konstitusi seperti yang ada di Negara Denmark( 2 dokumen) dan Swedia (4 dokumen).

2. Menurut sifatnya UUD 1945 termasuk konstitusi yang Rigid (kaku) karena UUD 1945 hanya
dapat diubah dengan cara tertentu secara khusus dan istimewa tidak seperti mengubah
peraturan perundangan biasa. Hal ini dijelaskan dalam BAB XVI PERUBAHAN UNDANG-
UNDANG DASAR pasal 37 ayat 1” Untuk mengubah UUD sekurang-kurangnya 2/3 dari
pada jumlah anggota MPR harus hadir” dan pasal 2 “Putusan Diambil dengan persetujuan
sekurang-kurangnya 2/3 dari pada jumlah anggota yang hadir”.

c. Menurut kedudukannya UUD 1945 merupan konstitusi derajat tinggi karena UUD
1945 di jadikan dasar pembuatan suatu peraturan perundang-undangan yang lain. Karena
menjadi dasar bagi peratutan yang lain maka syarat untuk mengubahnyapun lebih berat
jika di bandingkan dengan yang lain. Mengakibatkan adanya hierarki peraturan
perundangan. Tata urutan peraturan perundang-undangan pertama kali diatur dalam
Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966, yang kemudian diperbaharui dengan Ketetapan
MPR No. III/MPR/2000, dan terakhir diatur dengan Undang-undang No. 10 Tahun 2004
tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, dimana dalam Pasal 7 diatur
mengenai jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan

1. Menurut bentuk Negara, konstitusi (UUD 1945) mejelaskan bahwa bentuk Negara
Indonesia adalan Negara kesatuan. Buktinya terdapat pada BAB I BENTUK DAN
KEDAULATAN pasal 1 ayat 1 “ Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan, yang berbentuk
Republik”.
2. Menurut system pemerintahan yang dianut, Indonesia menganut sistem pemerintahan
Presidensial. Salah satu ciri sistem pemerintahan Presidensial adalah”Dalam melakukan
kewajibannya Presiden di bantu oleh satu orang wakil presiden” (Pasal 4 Ayat 2 UUD’45).

1. 2. Konstitusi Republik Indonesia Serikat.(27 Desember 1949-17 Agustus


1950)

1. a. Menurut bentuknya Kosntitusi RIS merupakan kostitusi tertulis karena dituangkan


dalam suatu dokumen. Konstitusi RIS ini terbentuk atas usulan dari PBB, dengan
mempertemukan wakil-wakil dari Indonesia dengan Belanda , maka terbentuklah suatu
persetujuan dan persetujuan tersebut dituangkan dalam sebuah dokumen pada tanggal 27
Desember 1949, maka terbentuklah konstitusi RIS.

2. Menurut sifatnya Konstitusi RIS merupakan konstitusi rigid karena mempersyaratkan


prosedur khusus untuk perubahan atau amandemennya. Tertuang dalam BAB VI
Perubahan, ketentuan-ketentuan peralihan dan ketentuan-ketentuan penutup bagian satu
perubahan, pasal 190 ayat (1), (2), pasal 191 Ayat (1), (2), (3), bagian dua ketentuan-
ketentuan peralihan pasal 192 Ayat (1), (2), pasal 193 Ayat (1),(2).

3. Menurut kedudukannya konstitusi RIS merupakan konstitusi derajat tinggi karena


persyaratan untuk mengubah lebih berat jika dibandingkan merubah peraturan
perundangan yang lain.

4. Menurut bentuk negara konstitusi RIS serikat/federal karena negara didalamnya terdiri
dari negara-negara bagian yang masing masing negara bagian memiliki kedaulatan sendiri
untuk mengurus urusan dalam negerinya.Terdapat BAB I negara Republik Indonesia
Serikat bagian I bentuk negara dan kedaulatan pasal 1, Ayat (1).

5. Menurut bentuk pemerintahannya konstitusi RIS, berbentuk parlementer karena kepala


negara dan kepala pemerintahan,di jabat oleh orang yang berbeda. Kepala negaranya
adalah presiden, dan kepala pemerintahannya perdana menteri. Terdapat pada pasal 69
ayat 1, pasal 72 ayat 1.

1. 3. UUDS 1950 (17 Agustus 1950-5 Juli 1959).

1. Menurut bentuknya UUDS’50 merupakan konstitusi tertulis karena dituangkan dalam


suatu dokumen yang formal. Dimana dengan berlakunya UUDS 1950 maka konstitusi RIS
tidak berlaku.

2. Menurut sifatnya UUDS’50 merupakan konstitusi rigid karena dalam perubahannya


mempersyaratkan prosedur khusus sehingga tidak semudah seperti merubah peraturan
perundang-undangan biasa. Diatur dalam pasal 140 UUDS 1950 ayat 1-4.

3. Menurut kedudukannya UUDS’50 merupakan konstitusi derajat tinggi karena persyaratan


merubahnya tidak semudah peraturan perundangan biasa. Dan kedudukan UUDS ’50
merupakan peraturan tertinggi dalam perundang-undangan diatas UU dan UU Darurat.

4. Menurut bentuk negara UUDS’50, Indonesia berbentuk kesatuan karena pada asasnya
seluruh kekuasaan dalam negara berada ditangan pemerintah pusat.
5. Menurut sistem pemerintahannya UUDS’50, Indonesia menganut sistem pemerintahan
parlementer dimana kepala negara dijabat oleh seorang presiden dan kepala pemerintah di
jabat oleh perdana mentri.

1. 4. UUD’45 setelah amandemen I-IV

1. Menurut bentuknya UUD ’45 amandemen termasuk konstitusi tertulis karena dituangkan
dalam satu bentuk dokumen formal.

2. Menurut sifatnya UUD ’45 merupakan konstitusi rigid karena dalam perbahannya
memperhatikan syarat-syarat tertentu seperti tertera dalam pasal 37 ayat 1-5 UUD ’45,
bahwa pengajuan perubahan minimal dilakuakan oleh 1/3 dari anggota MPR, dan dalam
sidangnya dihadiri oleh 2/3 dari anggota MPR, dan putusan disetujui oleh lima puluh
persen ditambah satu dari seluruh jumlah anggota MPR, dan syarat lain adalah dalam ayat
5 bahwa “Khusus mengenai bentuk negara kesatuan Republik Indonesia tidak dapat
dilakukan perubahan”.

3. Menurut kedudukannya UUD ’45 termasuk konstitusi derajat tinggi karena UUD ’45
berkedudukan sebagai hukum dasar dan pedoman pembentukan peraturan perundangan
yang lain. Sehingga terdapat hierarki perundangan sebagai konsekuensinya, di atur dalam
UU No 10 tahun 2004 tentang pembentukan peraturan perundangan.

4. Menurut bentuk negara UUD ’45, Indonesia menganut konstitusi dalam negara kesatuan.
Merujuk pada pasal 1 ayat 1 yang berbunyi “ Negara Indonesia ialah negara kesatuan yang
berbentuk Republik”.

5. Menurut sistem pemerintahannya, konstitusi yang dianut adalah konstitusi dalam


pemerintahan presidensial. Dimana kepala negara dan kepala pemerintahan berada
ditangan presiden.

TABEL KESIMPULAN

Kategori UUD’45 Konstitusi RIS UUD’50 UUD’45 Setelah


Sebelum Amandemen 4
Amandemen

Bentuk Tertulis Tertulis Tertulis Tertulis

Sifatnya Rigid Rigid Rigid Rigid

Kedudukan Derajat Tinggi DerajatTinggi Derajat Tinggi Derajat Tinggi

Bentuk Kesatuan Serikat/Federal Kesatuan Kesatuan


pemerintahan

Sistem Presidensial Parlementer Parlementer Presidensial


pemerintahan
PROSES PENYUSUNAN KONSTITUSI DI INDONESIA

A. Pengetian dan Hakekat Kontitusi

Konstitusi dapat diartikan dalam 2 pengertian

Dalam arti luas

Konstutusi diartikan sebagai keseluruhan peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis
yang mengatur secara mengikat cara-cara bagaimana suatu pemerintahan diselenggarakan
dalam suatu negara atau masyrakat.(Sunarso,dkk.2008:128)

Dalam arti sempit

Konstitusi hanya diartikan sebagai hukum atau peraturan -peraturan yang tertulis saja. Di
indonesia lazimnya hanya disebut sebagai UUD saja. Dalam penjelasan UUD 1945
disebutkan bahwa : “undang-undang suatau negara ialah hanya sebagian dari hukum dasar
negara itu. Unda-undang adalh hak yang tertulis sedang disampingnya UUD hanya berlaku
jika hanya dasar yang tidak tertulis yaitu aturan-aturan dasar yang timbul dan terpelihara
dalam praktik penyelenggaraan negara meskipun tudak tertulis”. (Sunarso,dkk.2008:129).

Menurt AA.H Stryckendalam Soetanto Soepiadhy (2004): ia menyebutkan bahwa UUD


sebagai konstitusi tertulis merupakan sebuah dokumen formal yang berisi:

1. Hasil perjuangan politik bangsa diwaktu yang lampau.

2. Tingkat-tingakat tertinggi perkembangan ketatanegaraan bangsa.

3. Pandangan tokoh-tokoh yang diwujudkan baik untuk tahun sekarang untuk masa yang
akan datang.

4. Suatu keinginan dimana pelembagaan kehidupan ketatanegaran bangsa hendak dipimpin.


(Soetanto Soepiadhy.2004:90.91).

Hakekat duatu konstitusi adalah mengatur pembatasan kekuasaan dalam negara.


Pembatasan kekuasaan yang tercantum dalam konstitusi itu pada umumnya menyangkut 2
hal, yaitu pembatasan :

1. Yang berkaitan dengan isinya. Masudnya pembatasan yang bekenaan dengan


tugas,wewenang serta bebagai macam hak yang diberikan pada masing-masing lembaga.

2. Yang berkaitan dengan waktu. Maksudnya pembatasan kekuasaan yang berkaitan dengan
masa jabatan pemangku jabatan tertinggi sertan barapa kali seorang pejabat dapat dipilih
kembali dalam jabatan itu. (Soetanto Soepiadhy,2004:69-70. ).
B. Pengertian Amandemen dan perubahan konstitusi
Dalam bahasa inggris. To amend yang berarti mengubah. Dari kata to amend ini timbul
istilah amandemen. Dalam kaitannya dengan “mengubah konstitusi atau UUD”
dikemukakan kalimat yang berbunyi “to amend constitution”. Sedangkan perubahan UUD
adalah “constitutional amandement”. Dengan demikian yang dimaksud amandemen ialah:

1. Menjadikan lain bunyi atau rumusan yang terdapat konstitusi atau UUD

2. Mebnambahkan sesuatu yang tidak atau belum terdapat dalam konstitusi atau UUD

3. Yang tercantum dalam konstitusi karena faktor-faktor tertinggidilaksanakan berbeda.

Jadi, mengamandemen UUD adalah mengubah UUD (Soetanto Soepiadhy. 2004:74-75)

Setidaknya dalam kaitannya dengan perubahan konstitusi ada 4 hal yang berkenaan dengan
perubahan konstitusi pada umumnya dan UUD 1945 khususnya keempat hal tersebut
ialah:

1. Proses atau prosedur mekanisme

2. Sistem perubahannya

3. Bentuk hukum

4. Matri muatan atau subtansi yang akan diubah. (Soetanto Soepiadhy. 2004:84-85).
C. Sifat Undang-Undang dasar negara republik indonesia 1945 yang berlaku
pada kurun waktu pertama

Undang-undang dasar negara republik indonesia 1945 yang disyahkan serta ditetapkan oleh
panitia persiapan kemerdekaan indonesia pada tanggal 18 agustus 1945, yang naskah
rancangannya dipersiapakan oleh badan penyelidak usaha-usaha persiapan kemerdekaan
indonesia, masih besifat sementara. Sifat kesementaraan ini ternyata dari ketentuan pasal 3
kalimat pertama undang-undang dasar 1945 itu sendiri yang menentukan: majelis
permusyawaratan rakyat menetapkan undang-undang dasar.

Kecuali itu sifat kesementaraan undang-undang dasar 1945 tersebut juga dapat diketahui
dari ketenmtuan aturan tambahan ayat kedua undang-undang 1945 yang menentukan
dalam enam bulan sesudah majelis permusyawaratan rakyat dibentuk, majelis itu bersidang
untuk menetpkan undang-undang dasar.

Tetapi selama berlakunya undang-undang dasar 1945 dalam kurun waktu yang pertama
yaitu dari tanggal 18 agustus 1945 sampai tanggal 27 desember1949 majelis
permusyawartan tersebut belum pernah dibentuk.

Menurut ketentuan pasal 2 ayat 1 undang-undang dasar 1945 majelis permusyawaratan


rakyat terdiri atas anggota-anggota dewan perwakilan rakyat ditambah dengan utusan-
utusan dari daerah-daerah dan golongan –golongan menurut aturan yang ditetapkan
dengan undang-undang. Jadi untuk terbentuknya majelis permusyawaratan rakyat harus
diselenggarakan terlebih dahulu pemilihan umum untuk memilih anggota dewan
perwakilan rakyat. Sedangkan untuk dapat melaksanakan pemilihan umum harus ada
undang-undang tentang pemilihan terlebih dahulu. Undang-undang belum ada karena
badan pembentuknya, yaitu presiden dengan persetujuan dewan perwakilan rakyat,dewan
[erwakilan rakyat belum terbentuk.

Bahwa majerlis permusyawaratan rakyat anggota-anggotanya terdiri atas dewan perwakilan


rakyat ditambah utusan dari daerahdan golongan maksudnya ialah supaya seluruh rakyat,
seluruh golongan, seluruh daerah akan mempunyai wakil dalam majelis permusyawaratan
rakyat, sehingga majelis itu akan betul-betul dianggap sebagai penjelmaan seluruh rakyat
indonesi.yang dimaksud dengan golongan ialah badan koperasi,serikat sekerja dan lain
badan kolektif. Aturan demikian memang sesuai dengan aturan jaman. Berhubung dengan
anjuran mengadakan sistem kooperasi dalam ekonomi, maka ayat inin mengingat akan
adanya golongan dalam badan ekonomi.

Selanjutny dalam penelasan pasal 2 ayat 2 dikatakan bahwa badan yang akan besar
jumlahnya bersidang sedikitnya sekali dalam lima tahun. Dan boleh mengadakan lebih dari
lima tahun dengan persidangan istimewa.

Undang-undang dasar negara republik indonesia 1945 tersebut yang mulai berlaku pada
hari tanggal 18 agustus 1945 sampai hari tanggal 27 desember 1949 (kurun waktu
pertama)kemudian diganti dengan konstitusi republik indoneisia serikat tahun 1949.

D. Sekitar Penyusunan Undang-Undang Dasar 1945

Menurut sejarah ketatanegaraan, sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik


Indonesia, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1945, mulailah berlaku Undang-undang Dasar
Negara Republik yang pertama, yang merupakan Keputusan Panitia Per siapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dalam sidangnya pada tanggal 18 Agustus 1945 tersebut.
PPKI pada waktu itu juga disebut “Dokuritsu Zyunbi Iinkai”, yang beranggotakan semula 21
orang, kemudian setelah Proklamasi Kemerdekaan ditambah dengan 6 anggota. Keputusan
Sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, yang antara lain menetapkan berlakunya
Undang-undang Dasar bagi Negara Kestuan Republik Indonesia (NKRI), sebenarnya
naskah rancangannya telah dibuat oleh lembaga lain yang bernama Badan Penyelidik
Usaha-usaha Kemerdekaan (BPUPK) yang pada waktu itu juga bernama “Dokuritsu Zyunbi
Tjoosakai”. Jumlah anggota Badan tersebut semula 63 orang, satu di antaranya seorang
Bangsa Jepang. Kemudian ditambah dengan 6 orang anggota lagi yang kesemuanya Bangsa
Indonesia.
BPUPKI tersebut dilantik pada tanggal 28 Mei 1945, dan sem pat mengadakan sidang dua
kali. Pada sidangnya yang pertama berlangsung pada tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni
1945,dengan acara tentang Dasar Negara, dan pada sidangnya yang kedua dari tanggal 10
sampai dengan tanggal 17 Juli 1945 antara lain berhasil menyusun Rancangan Undang-
undang Dasar beserta Pembukaannya. Setelah dapat berkarya dua hal tersebut BPUPKI
bubar.

Apabila ditelaah secara mendalam, tidak mungkin PPKI dapat menyelesaikan dalam arti,
merancangkan, merundingkan, dan menetapkan Undang-undang Dasar bagi Negara
Republik In donesia, apabila Rancangannya belum dibuat lebih dahulu oleh lembaga lain
yaitu BPUPK. Meskipun Rancangannya sudah dibuat lebih dahulu, namun dilihat dari segi
waktu untuk menetapkan suatu undang-undang dasar negara, kesempatan itu adalah
sangat singkat. Sehingga tidak mustahil apabila dari diri PPKI sendiri melakukan
introspeksi atau memawas diri, bahwa Undang-undang Dasar yang dibuat serta dihasilkan
itu, merupakan Undang-undang Dasar yang bersifat sementara hal ini terungkapkan dari
penegasan Ketua PPKI sendiri pada tanggal 18 Agustus 1945,Kecuali kesempatan waktu
yang ada pada PPKI tersebut dirasa terlalu singkat, tetapi juga ada perasaan pada PPKI
sendiri bahwa dirinya adalah tidak cukup representatif sebagai wakil Rakyat In donesia
untuk membuat suatu Undang-undang Dasar bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia
yang merdeka dan berdaulat sempur na. Adanya perasaan bahwa dirinya tidak representatif
untuk mewakili Rakyat Indonesia dari para anggota PPKI tersebut, adalah hal yang wajar,
karena dapatnya menjadi anggota lembaga tersebut bukan dari hasil suatu pemilihan
umum, melainkan hanya berdasarkan pengangkatan atau penunjukan.

Selain itu, berdasarkan pasal 3 UUD 1945 itu sendiri, lembaga yang berhak membuat atau
menetapkan Undang-undang Dasar yang definitif bagi NKRI adalah MPR. Menurut
perhitungan pada waktu itu, dengan mendasarkan diri pada Aturan Tambahan ayat UUD
1945, terbentuknya MPR meskipun masih bersifat sernentara tidak akan memakan waktu
lama seperti kenyataan yang dialami. Hal ini disebabkan karena semua potensi nasional
dicurahkan un tuk menghadapi Tentara Sekutu (c.q. Tentara Inggris), dan kemu dian
melakukan Perang Kemerdekaan atau Revolusi Fisik melawan Tentara Belanda dengan
gerakan militernya yang dinamakan Perang Kolonial pertama dan Perang Kolonial ke dua,
sehingga Pemerintah dan Bangsa Indonesia pada sa’at itu tidak mempunyai kesempatan
lagi untuk memikirkan dan bertindak terhadap hal-hal yang dianggapnya kurang langsung
berkaitan dengan strategi mempertahankan kemerdekaan Bangsa dan Negara.

Pada waktu itu, Tentara Inggris tersebut bertindak atas nama Tentara Sekutu sebagai
negara yang menang perang dalam Perang Dunia kedua. Tugas sebenarnya Tentara Inggris
tersebut adalah un tuk melucuti dan mengangkut kembali Balatentara Jepang yang ada di
Indonesia ke negerinya. Namun ternyata dalam proses pen daratannya di pelabuhan-
pelabuhan di Indonesia, Tentara Inggris tersebut mengijinkan Tentara Belanda
membonceng ikut mendarat di Bumi Indonesia, dengan tujuan untuk dapat menjajah
kembali bekas tanah jajahannya.

Sifat sementara yang ada pada UUD 1945 tersebut menjadi hapus, setelah Bangsa
Indonesia sendiri bertekad bulat untuk men jadikan UUD 1945 sebagaiUndang-undang
Dasar NKRI yang definitif, setelah UUD 1945 berlaku kembali berdasarkan Dekrit Presiden
tanggal 5 Juli 1959.

PPKI merupakan satu-satunya lembaga yang kegiatannya mempersiapkan Rakyat


Indonesia untuk menegara dan didirikan pada bulan-bulan sebelum Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia.

Pada saat Pemerintah dan Tentara Belanda menyerah kalah kepada Balatentara Jepang
pada tanggal 9 Maret 1945 yang dilakukan oleh Jenderal Ter Pooten kepada Jenderal
Balatentara Jepang Imamura, diKalijati Bandung, Balatentara Pendudukan Jepang,
mengisyukan bahwa kedatangan nya di Kawasan Asia adalah untuk membebaskan rakyat
setempat dari telapak kaki penjajahan, termasuk pula Rakyat Indonesia (Hindia Belanda).
Karena itu pada mula pertamanya, Rakyat In donesia oleh Balatentara Pendudukan Jepang
dibiarkan mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu In donesia Raya. Hal
tersebut bertujuan hanya untuk mendapatkan rasa simpati dan bantuan tenaga dari Rakyat
Indonesia, dalam usahanya melakukan ekspansi kewilayahan untuk selanjutnya. Tetapi
setelah Balatentara Jepang mendapatkan kemenangan di semua front (garis depan
pertempuran) sehingga hampir sebagian besar Kawasan Asia dapat direbutnya dari tangan
Tentara Sekutu, sehingga kedudukannya menjadi lebih kuat, maka rakyat Indonesia yang
semula diperbolehkan mengibarkan bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia
Raya kemudian dilarang atau tidak boleh lagi mengibarkan bendera Merah Putih dan
menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Dengan kekalahan yang diderita oleh Tentara Jerman dan Italia di Eropa dan di Afrika ,
mengakibatkan kekuatan Tentara Jepang di Asia menjadi lemah, sehingga daerah-daerah di
Asia yang semula diduduki Tentara Jepang, berangsur-angsur dapat direbut kembali oleh
Tentara Sekutu, termasuk Pulau Tarakan Kaliman tan, Pulau Biak Irian Jaya. Situasi yang
berbalik ini, ternyata merubah sikap Pemerintah Tentara Pendudukan Jepang kepada
Rakyat Indonesia, menjadi lebih lunak.

Hal tersebut tidak mengherankan, karena Balatentara Pen dudukan Jepang mengambil hati
Rakyat Indonesia agar mau mem bantu Tentara Jepang dalam melakukan pertahanan
terakhir terhadap Tentara Sekutu yang makin lama makin mendesak posisi pertahanan
Jepang. Pada medio tahun 1944 Rakyat Indonesia diperbolehkan lagi mengibarkan bendera
Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kemudian dalam sidang Parlemen
Jepang ke 85 tanggal 7 September 1944, Perdana Menteri Koiso menjanjikan kemerdekaan
kepada Rakyat Indonesia di kelak kemudian hari, apabila Perang Asia Timur Raya dapat
diselesaikan dengan memuaskan.

Setelah itu, pada tanggal 29 April 1945, bertepatan dengan hari ulang tahun (hari
Tentyosetu) Kaisar Jepang Tenno Heika, oleh Pemerintah Jepang diumumkan bahwa akan
dibentuk suatu badan yang pada waktu itu dinamakan “Dokuritsu Zyunbi Tjoosakai” atau
Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI) dengan maksud untuk
melakukan persiapan Indonesia Merdeka seperti yang telah diuraikan di atas.

Pada tanggal 9 Agustus 1945, Ir. Soekarno, Drs. Moch. Hatta dan Dr. Radjiman pergi ke
Saigon atas panggilan Panglima Ter tinggi Tentara Jepang untuk Asia Tenggara Jendral
Terauchi,.un tuk keperluan pembentukan PPKI, dan pada tanggal 14 Agustus 1945 ke tiga
utusan tersebut kembali ke Indonesia. Menurut ren cana Pemerintah Balatentara Jepang,
PPKI akan dilantik pada tanggal 18 Agustus 1945, dan pada tanggal 19 Agustus 1945 PPKI
akan memulai dengan sidang-sidangnya. Pemerintah Balatentara Jepang sendiri menurut
rencana pada tanggal 24 Agustus 1945 akan menghadiahkan kemerdekaan kepada Rakyat
Indonesia. Tetapi apa hendak dikata, pada tanggal 14 Agustus 1945 Kaisar Jepang Tenno
Heika berkapitulasi atau menyerah tanpa syarat kepada Sekutu, setelah pada tanggal 6 dan
9 Agustus 1945, kota-kota Hiroshima dan Nagasaki masing-masing dijatuhi born oleh
Angkatan Udara Sekutu.

Atas kekalahan pihak Jepang tersebut, maka Balatentara Pen dudukan Jepang di Indonesia
tidak lagi bertanggung jawab atas niatnya untuk menghadiahkan kemerdekaan kepada
Rakyat In donesia seperti yang pernah direncanakan semula, melainkan menyerahkan
sepenuhnya kepada Rakyat Indonesia sendiri untuk melaksanakannya. Berhubung dengan
hal tersebut, maka per masalahan Kemerdekaan Indonesia diambil alih sepenuhnya oleh
Rakyat Indonesia dengan penuh rasa tanggung jawab yang disertai oleh semangat yang
tinggi dan berkobar-kobar.

Dengan bekal semangat dan tekad yang membaja dari Rakyat Indonesia maka PPKI setelah
Proklamasi Kemerdekaan melan jutkan perjuangannya untuk mengisi kemerdekaan yang
telah diperoleh Bangsa Indonesia, yaitu dengan sidangnya pada tanggal 18 Agustus 1945,
berhasil :

1. memilih Presiden dan Wakil Presiden, yaitu Ir. Soekarno dan Drs. Moch. Hatta, hal ini
sesuai dengan pasal III Aturan Peralihan UUD 1945;

2. menetapkan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia yang sekarang lebih


dikenal dengan nama Undang-undang Dasar 1945.
Dengan telah berlakunya UUD 1945 sejak tanggal 18 Agustus 1945, maka berdasarkan pada
pasal I Aturan Peralihan UUD 1945, secara yuridis formal PPKI merupakan lembaga
kenegaraan yang berkewajiban menyelenggarakan perpindahan kekuasaan pemerin tahan
dari penguasa Balatentara Jepang kepada Pemerintah In donesia. Sesudah itu, PPKI
mengadakan sidang yang kedua, pada tanggal 19 Agustus 1945 dengan menghasilkan lagi,
dua keputusan, yaitu :

1. menetapkan adanya pembagian dua belas departemen (kementerian) pada Kabinet (Dewan
Menteri) Pemerintahan RI, yaitu :

1) Kementerian Dalam Negeri.

2) Kementerian Luar Negeri.

3) Kementerian Kehakiman.

4) Kementerian Keuangan.

5) Kementerian Kemakmuran.

6) Kementerian Kesehatan.

7) Kementerian Pengajaran, Pendidikan dan Kebudayaan.

8) Kementerian Sosial.

9) Kementerian Pertanahan.

10) Kementerian Penerangan.

11) Kementerian Perhubungan.

12) Kementerian Pekerjaan Umum.

2. menetapkan pembagian Wilayah Indonesia menjadi delapan Propinsi yang masing-


masing dikepalai oleh Gubernur, yaitu Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur,
Sunda Kecil, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan.

Dalam sidangnya terakhir, yang dilakukan pada tanggal 22 Agustus 1945, PPKI berhasil
menetapkan :

a. tentang pembentukan Komite Nasional;

b. tentang Partai Nasional Indononesia; dan

c. tentang Badan Keamanan Rakyat (BKR)


PPKI, baik pada saat sebelum Proklamasi maupun sesudahnya, telah menunjukkan
prestasinya yang sangat berharga bagi kepentingan Indonesia Merdeka, tepat pada saat-
saat Bangsa dan Negara sangat memerlukannya. Hal ini terbukti dengan keputusan-
keputusan yang diambil seperti tersebut di atas dalam rangka mengisi dan
mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Setelah sidangnya yang ke tiga tersebut, PPKI bubar dan para ang gotanya menjadi anggota
Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Pengaruh kuat dari perjuangan kebangsaan Rakyat Indonesia untuk menegara, yang
ternyata menjiwai makna Undang-undang Dasar Negara Indonesia yang pertama (pada
sa’at itu ada yang menyebut dengan nama Undang-undang Dasar Proklamasi), yang
sekarang lebih dikenal dengan nama Undang-undang Dasar 1945 tersebut, dapat
ditemukan di dalam Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, antara lain seperti di bawah
ini.

a. Pada alinea pertama menunjukkan bahwa Rakyat Indonesia pernah mengalami nasib
dengan penderitaan yang sangat berat akibat dari penjajahan yang tidak sesuai dengan
perikemanusiaan dan perikeadilan yang dilakukan oleh bangsa lain.

b. Alinea kedua menunjukkan bahwa, pada waktu-waktu sebelumnya Rakyat Indonesia


sudah meiakukan perjuangan kebangsaan atau perjuangan kemerdekaan (karena bertu juan
mendirikan negara merdeka) yang telah berpuluh puluh tahun lamanya untuk menuju ke
Indonesia Merdeka, namun masih dalam perjalanan. Baru pada saat itu per juangan
kemerdekaan Indonesia telah sampai ke depan pin tu gerbang kemerdekaan Negara
Indonesia.

c. Alinea ketiga menunjukkan bahwa kehidupan Rakyat In donesia adalah bersifat


religius, karena itu kemerdekaan Negara Indonesia yang diperolehnya tersebut, adalah atas
berkat Rakhmat Allah Yang Maha Kuasa.

d. Pada alinea keempat ini, dapat dikemukakan beberapa hal sebagai berikut.

1) Negara yang dibentuk adalah negara kesatuan.

Hal ini mengingat bahwa dengan negara-negara kecil, yang saling bermusuhan, akan
mudah dikalahkan satu persatu oleh negara asing.

2) Tantangan yang perlu segera diatasi ialah memajukan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa.
Hal ini perlu ditegaskan, mengingat Rakyat Indonesia sebelum merdeka hidup dalam
suasana kemelaratan, dan tingkat kecerdasan serta pendidikannya sangat rendah, akibat
dari penjajahan yang dialami.

3) Negara Indonesia adalah negara republik yang berkedaulatan rakyat.


Sebagian besar Rakyat Indonesia menolak gagasan feodalisme dan tidak menyukai
pemerintahan yang diktatorik, seperti halnya Pemerintah Kerajaan Jepang yang bersifat
fasis, yang sedang melakukan penindasan terhadap Rakyat Indonesia.

4) Falsafah dan Dasar Negara Indonesia adalah Pancasila. Rakyat Indonesia menolak
gagasan Demokrasi Liberal yang kebanyakan dianut oleh negara-negara yang ber faham
liberal, dan juga tidak menyukai gagasan Demokrasi Sentralistik yang dianut oleh negara-
negara yang berfaham Komunis.

Demokrasi Pancasila di bidang politik mempunyai kekhususan yaitu dalam mengambil


keputusan didasarkan kepada musyawarah untuk ,nufakat, hal ini sesuai dengan
kepribadian Bangsa Indonesia.

E. Sejarah Perkembangan UUD 1945

Penjelasan umum Undang-undang dasar 1945, istilah Undang-Undang dasar dipergunakan


untuk menyebut atau menunujuk pengertian hukum dasar. Pada penjelasan tersebut pada
angka I tentang UUD, sebagian dari hukum dasar, antara lain dikatakan bahwa “undang-
undang dasar suatu Negara ialah hanya sebagaian dari hukumnyadari hukumnya dasar
Negara itu. Undang-undang dasar ialah hokum dasar yang tertulis, sedangkan disampingya
undang undang dasar itu berlaku juga hokum dasar yang tidak tertulis, ialah aturan aturan
dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelenggaraan Negara, meskipun tidak
tertulis”

Negara republik Indonesia yang lahir pada tanggal 17 agustus 1945, tentang adanya undang-
undang dasar, kiranya dapat dikatakan bahwa karena adanya keinginan daripada
pembentuk Negara yangv untuk menjamin adanya cara penyelenggaraan pemerintahan
Negara dalam bentuk yang permannenyang tetap dan dapat diterima oleh rakyatnya, yang
menyebabkan dibentuknya undang-undang.

Sejarah Tatanegara Republik Indonesia telah mencatat bahwa sejak Negara Republik
Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai dengan sekarang, sudah
tiga Undang-Undang Dasar pernah berlaku dan digunakan sebagai landasan konstitusional
Negara Republik Indonesia. Adapun tiga Undang-Undang Dasar itu ialah:
1. Undang-Undang Dasar 1945 yang memuat dalam berita Republik Indonesia tahun II
(1945) No. 7., halaman 45 sampai 48, berlaku mulai tanggal 18 Agustus 1945 sampai 17
Agustus 1950; kemudian berlaku kembali sejak 5 Juli 1959 sampai sekarang.

2. Konstitusi Republik Indonesia Serikat yang diundangkan dalam Lembaran Negara


Nomor 3 tahun 1950, berlaku mulai tanggal 27 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950.

3. Undang-Undang Dasar sementara yang diundangkan dalam Lembaran Negara Nomor


56 tahun 1950 sebagai Undang-Undang Nomor 7 tahun 1950, yang berlaku mulai 17
Agustus 1950 sampai 5 Juli 1959.

Jadi dalam sejarah konstitusi, Undang-Undang Dasar 1945 mempunyai perkembangan


yang istimewa jika dibandingkan dengan Undang-Undang Dasar lain yang pernah berlaku
di Indonesia. Keistimewaannya itu diantaranya, Undang-Undang Dasar 1945 berlaku yang
pertama kali setelah Negara Republik Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus
1945, tepatnya berlaku sejak tanggal 18 Agustus 1945. Pada saat berlakunya Konstitusi
Republik Indonesia Serikat (27 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950) tidak berarti
bahwa UUD 1945 tidak berlaku lagi. Ia tetap berlaku, malahan Undang-Undang ini
memakai dengan dua konstitusi, yaitu UUD 1945 dan Konstitusi Republik Indonesia
Serikat.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka dapat diadakan penahapan berlakunya Undang-
Undang Dasar 1945 sebagai berikut:

1. Tahap pertama : 18 Agustus 1945-27 Desember 1949.

2. Tahap kedua : 27 Desember 1949-17 Agustus 1950.

3. Tahap ketiga : 5 Juli 1959-sekarang.

F. Proses Perumusan Dasar Negara Indonesia dan Sejarah Pengesahan


Pembukaan UUD 1945

Setelah kita amati secara teliti, historis penyusunan UUD 1945 memiliki karakteristik yang
berbeda dengan ketika disusunannya UUD 1945. Rancangan pembukaan disusun dengan
aktivitas historis yang sangat unik, seperti Undang-undang Dasar menciptakan pokok-
pokok pikiran yang terkandung dalam pembukaan dalam pasal-pasalnya. Secara yuridis
(hukum), pembukaan (preambule) berkedudukan lebih tinggi dari pada UUD 1945 karena
ia berstatus sebagai pokok kaidah fundamental (mendasar) daripada Negara Indonesia,
sifatnya abadi, tidak dapat diubah oleh siapapun walaupun oleh MPR ataupun dengan jalan
hukum, oleh karena itu bersifat imperatif.
Historis penyusunan dan pengesahan Pembukaan UUD 1945 secara kronologis dapat
digambarkan yaitu Tanggal 7 September 1944 adalah janji politik Pemerintahan Balatentara
Jepang kepada Bangsa Indonesia, bahwa Kemerdekaan Indonesia akan diberikan besok
pada tanggal 24 Agustus 1945. Yang dilatar belakangi Balatentara Jepang menjelang akhir
1944, menderita kekalahan dan tekanan dari tentara sekutu. Juga tuntutan dan desakan
dari pemimpin Bangsa Indonesia. Tanggal 29 April 1945 pembentukan BPUPKI oleh
Gunswikau (Kepala Pemerintahan Balatentara Jepang di Jawa). Badan ini bertugas untuk
menyelidiki segala sesuatu mengenai persiapan kemerdekaan Indonesia, dan
beranggotakan 60 orang terdiri dari para Pemuka Bangsa Indonesia yang diketuai oleh Dr.
Rajiman Wedyodiningrat.

Dasar-dasar pikiran disusunnya Rancangan Pembukaan UUD 1945 sebagai Hukum Dasar
dapat kita dapati dengan memeriksa kembali jalannya persidangan BPUPKI yang secara
kronologis nanti kita bahas pada bab berikutnya. Dipembahasan ini, kami akan tampilkan
secara sistematis cara kerja yang ditempuh oleh BPUPKI.

Adapun cara kerja yang ditempuh oleh BPUPKI dalam penyusunan Rancangan Pembukaan
UUD 1945 sebagai Hukum Dasar Negara ada 2 (dua) fase, yaitu :

1. Pase Penyusunan (Perumusan).

2. penyusunan konsep Rancangan Dasar Negara Indonesia Merdeka yang kemudian disahkan
sebagai Rancangan Dasar Negara Indonesia Merdeka.

3. penyusunan Konsep Rancangan Preambule Hukum Dasar yang kemudian diserahkan


menjadi Rancangan Preambule Hukum Dasar.

penyusunan hal-hal yang lain, seperti :

1. Rancangan pernyataan Indonesia Merdeka.

2. Rancangan Ekonomi dan Keuangan.

3. Rancangan Bagian Pembelaan Tanah Air.

4. Bentuk Negara.

5. Wilayah Negara.

Pengesahan

Pengesahan Rancangan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia, adalah sebagai


berikut :

1. Menetapkan Rancangan Preambule Hukum Dasar (yang terkenal dengan nama Piagam
Jakarta) dengan beberapa perubahan (amandemen) sebagai pembukaan Undang-undang
Dasar Negara Republik Indonesia.
2. Menetapkan Rancangan Hukum Dasar Negara Republik Indonesia setelah mendapat
beberapa perubahan sebagai Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia.

3. Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Menetapkan berdirinya Komite Nasional.

Jadi, Ide disusunnya suatu konsep Rancangan Preambule Hukum Dasar timbul dalam
Rapat-rapat Gabungan tanggal : 22 Juni 1945. Didalam Rapat Gabungan itu, selanjutnya
akan terbentuk Panitia Delapan dan Panitia Sembilan.

G. Proses Perumusan dan Pengesahan Sila-sila Pancasila dan UUD 1945

1. Perumusan Sila-Sila Pancasila

Pada awal mula Perumusan (penyusunan) Sila-sila Pancasila adalah sidang pertama
BPUPKI pada tanggal 29 Mei s/d 1 Juni 1945 dengan Acara Sidang Mempersiapkan
Rancangan Dasar Negara Indonesia Merdeka. Tanggal 29 Mei 1945 : Prof. Mr. H. Moh.
Yamin (berpidato), mengajukan saran/usul yang disiapkan secara tertulis, yang berjudul
“Azas dan Dasar Negara Kebangsaan Republik Indonesia” . Lima Azas dan Dasar itu adalah
sebagai berikut :

a) Peri Kebangsaan.

b) Peri Kemanusiaan.

c) Peri Ketuhanan.

d) Peri Kerakyatan.

e) Kesejahteraan Rakyat.

Disamping itu juga beliau melampirkan “Konsep Rancangan Undang-Undang Dasar


Republik Indonesia”. Rumusan konsep Dasar Negara itu adalah :

a) Ketuhanan Yang Maha Esa.

b) Kebangsaan Persatuan Indonesia.

c) Rasa Kemanusiaan yang adil dan beradab.

d) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan/perwakilan.

e) Keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia.


Namun Keputusan belum mendapat kesepakatan. Sementara itu dari golongan islam dalam
sidang BPUPKI mengusulkan juga konsepsi Dasar Negara Indonesia Merdeka ialah
Islam.akhirnya Keputusan tidak mendapat kesepakatan. Dan Tanggal 31 Mei 1945, Prof. Dr.
Mr. R. Soepomo di gedung Chuuco Sangi In berpidato dan menguraikan tentang teori
Negara secara yuridis, berdirinya Negara, bentuk Negara dan bentuk pemerintahan serta
hubungan antara Negara dan Agama. Prof. Mr. Muh Yamin, menguraikan tentang daerah
Negara Kebangsaan Indonesia atas tinjauan yuridis, histories, politik, sosiologis, geografis
dan konstitusional yang meliputi seluruh Nusantara Raya. Dan juga P. F. Dahlan,
menguraikan masalah golongan Bangsa Indonesia, peranakan Tionghoa, India, Arab dan
Eropa yang telah turun temurun tinggal di Indonesia. Drs. Muh. Hatta, menguraikan
tentang bentuk Negara Persatuan Negara Serikat dan Negara Persekutuan, juga hubungan
negara dan agama serta Negara Republik ataukah Monarki. Tanggal 1 Juni 1945, Ir.
Soekarno, berpidato dan mengusulkan tentang “Konsepsi Dasar Falsafah Negara Indonesia
Merdeka” yang diberi nama Pancasila dengan urutan sebagai berikut :

a) Kebangsaan Indonesia.

b) Peri Kemanusiaan (Internasionalisme).

c) Mufakat Demokrasi.

d) Ke-Tuhanan Yang Maha Esa.

Rumusan pada Piagam Jakarta 22 Juni 1945;

Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at islam bagi pemeluk-pemeluknya,


Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh
Rakyat Indonesia, Pembukaan UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945, Ke-Tuhanan Yang
Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh
Rakyat Indonesia. Mukaddimah Konstitusi RIS dan UUD 1950, KeTuhanan Yang Maha Esa,
Peri Kemanusiaan, Kebangsaan, Kerakyatan, Keadilan Sosial.

Setelah diadakan rapat dan diskusi, maka telah disepakati berdasarkan sejarah perumusan
dan pengesahannya, yang shah dan resmi menurut yuridis menjadi Dasar Negara Indonesia
adalah Pancasila seperti tercantum didalam Pembukaan UUD 1945. Yaitu 18 Agustus 1945
sampai 1 Juni 1945 merupakan proses menuju pengesahannya.

1. Perumusan dan Pengesahan Undang-Undang Dasar 1945

Pada perumusan/penyusunan Undang-Undang Dasar 1945 pada dasarnya diawali oleh


beberapa tahap penyusunan, yaitu pembukaan/mukaddimah.
Didalam hasil rapat Gabungan 22 Juni 1945, maka sebagai keputusan yang keempat ialah
dibentuknya Panitia Kecil Penyelidik Usul-usul (Perumusan Dasar Negara/Mukaddimah)
yang terdiri dari 9 anggota (Panitia Sembilan). Adapun dalam rapat tersebut, Mr.
Muhammad Yamin menyampaikan Konsep Rancangan Undang-Undang Dasar Republik
Indonesia pada tanggal 29 Mei 1945, yang berjudul Azas dan Dasar Negara Kebangsaan
Republik Indonesia. lima azas dan dasar itu adalah peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri
ke-Tuhanan, peri kerakyatan, keadilan sosial (kesejahteraan sosial) Mr. Muhammad Yamin
juga menyampaikan Konsep Rancangan Pembukaan UUD 1945 diawali dengan “Dengan
nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang”. Pada tanggal 22 Juni 1945 Panitia
Sembilan juga telah berhasil merumuskan konsep Rancangan Preambule Hukum Dasar.
Akan tetapi, pada alenia ke-empat para peserta sidang belum ada yang setuju.

1. H. Rancangan Preambule Hukum Dasar

Pada sidang ini Drs. Muhammad hatta menyampaikan hasil keputusan rapat BPUPKI
tentang perumusan UUD 1945, yang berbunyi sebagai berikut:

Mukaddimah

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu
penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan
dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang
berbahagia, dengan selamat sentausa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu
gerbang Negara Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur,
supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini
menyatakan kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah Indonesia, dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu
Hukum Dasar Negara Indonesia, yang berbentuk dalam suatu susunan Negara Republik
Indonesia yang berkedaulatan rakyat, dengan berdasar pada : Ke-Tuhanan Yang Maha Esa,
menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia dan kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta
dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.
Selanjutnya,Ir. Soekarno memberikan saran untuk mengubah Mukaddimah menjadi
Pembukaan. Anggota Ki. Bagoes Hadikoesoemo memberikan saran untuk menghapus dasar
pada kemanusiaan yang adil dan beradab, menjadi kemanusiaan yang adil dan beradab. Ir.
Soekarno, selanjutnya merevisi kata Hukum Dasar Negara Indonesia menjadi Undang-
Undang Dasar Republik Indonesia.

Dan masih banyak lagi saran yang disampaikan oleh anggota rapat PPKI. Akan tetapi, disini
kami hanya menampilkan pendapat mereka-mereka yang diterima saja. Maka
sempurnahlah isi dari Undang-Undang Dasar 1945 itu yang berbunyi sebagai berikut :

Pembukaan

Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu
penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan
dan peri-keadilan.

Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampai kepada saat yang
berbahagia, dengan selamat sentausa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu
gerbang Negara Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur,
supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia dengan ini
menyatakan kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintahan Negara Indonesia yang
melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah Indonesia, dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan
keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara
Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat yang berdasarkan kepada : Ke-Tuhanan
Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan
yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta
dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

Batang tubuh UUD 1945

Pada tanggal 7 Agustus 1945 Jenderal Terauchi mengumumkan dan secara konkrit
membentuk Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sidang Pleno PPKI dimulai
pada tanggal 18 Agustus 1945 jam 11.30, mempunyai acara untuk membahas Rancangan
Hukum Dasar (termasuk Rancangan Preambule Hukum Dasar) untuk ditetapkan Undang-
Undang Dasar atas kemerdekaan yang telah diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Sebelum sidang Pleno dimulai atas tanggung jawab ketua PPKI ditambah 6 orang anggota
baru untuk mewakili golongan-golongan yang belum terwakili dalam keanggotaan PPKI
yang lama (hasil tunjukan Pemerintah Jepang). Adapun keenam orang anggota baru itu
adalah :

1. RTA Wiranata Kusumah, wakil golongan islam dan golongan menak Jawa Barat.

2. Ki. Hajar Dewantara, wakil golongan Taman Siswa, dan golongan Nasional dan Jawa
Tengah.

3. Mr. Kasman Suryadimejo, wakil golongan Peta.

4. Mr. Akhmad Subarjo, wakil golongan pemuda.

5. Sayuti Malik, wakil golongan kiri.

6. Mr. Iwa Koesoema Sumantri, wakil golongan kiri.

PERKEMBANGAN KONSTITUSI

Pada sesi ini, siswa akan belajar Perkembangan Konstitusi dari zaman Yunani hangga
zaman modern. Baca selengkapnya materi di bawah ini.

A. Perkembangan Konstitusi Yunani

Konstitusi telah ada sejak ribuan tahun yang lalu. Dimulai sejak zaman Yunani Kuno yang
dapat dibuktikan dengan memperhatikan pendapat Plato yang membedakan
istilah nomoi dan politiea . Nomoi berarti undang-undang, sedangkan politiea berarti
Negara atau dapat disepadankan dengan pengertian kostitusi. Politea mengandung
kekuasaan yang lebih tinggi daripada nomoi, karena politea mempunyai kekuasaan
membentuk sedangkan pada nomoi tidak ada, karena ia hanya merupakan materi yang
harus dibentuk agar tidak bercerai-berai. Akan tetapi pada masa itu konstitusi masih
diartikan secara materiil saja, karena belum dibuat dalam suatu naskah tertulis
sebagaimana dikenal pada masa kini. Pada masa kejayaannya (antara tahun 624-404 SM)
Athena pernah mempunyai tidak kurang dari 11 konstitusi. Pada masa itu Aristoteles
sebagai murid terbesar Plato berhasil mengumpulkan 158 konstitusi dari berbagai negara
sehingga diakui sebagai orang pertama yang mela kukan studi perbandingan konstitusi.

Di dalam kebudayaan Yunani penggunaan istilah UUD berkaitan erat dengan


ucapan Resblica constituere yang memunculkan semboyan “Prinsep Legibus Solutus
est, Salus Publica Supreme Lex ” yang artinya rajalah yang berhak menentukan
organisasi/struktur negara oleh karena Raja adalah satu-satunya pembuat undang-undang,
sehingga kekuasaan raja sangat absolut.

Pada masa itu pemahaman tentang konstitusi hanyalah merupakan suatu kumpulan dari
peraturan serta adat kebiasaan semata-mata Bagi bangsa Yunani,Negara merupakan
seluruh pola pergaulannya, sebuah kota tempat terpenuhinya semua kbutuhannya secara
material dan spiritual. Keberadaan Negara, kataAristoteles, tidak semata mata untuk
memungkinkan adanya kehidupan, tetapi untuk membuat kehidupan bias berjalan dengan
baik. Menurut Plato dan Aristoteles, ujian atas kewarganegaraan yang baik adalah
kepatuhannya terhadap undang-undang atau konstitusi.(CF.Strong,Asal Usul
Perkembanganh Negara Konstitusional:24-25).

Dalam kondisi ini para filosof Yunani memulai pemikiran politiknya, antara lain Plato,
Socrates clan Aristoteles. Dalam bukunya The Laws (Nomoi) Plato menyebutkan bahwa
“Our whole state is animitation of the best and noblest life “, Socrates dalam
bukunya Panathenaicus maupun dalam Areopagiticus menyebutkan “the politeia is
the soul of the polis with power over it like that of the mind over the body “,
keduanya sama-sama menunjuk kepada pengertian konstitusi. Demikian pula Aristoteles
dalam bukunya Politics mengkaitkan pengertian kita tentang konstitusi dalam frase “in a
sense of life of the city “. Apa yang tidak dimiliki konstitusionalisme politik Yunani
adalah sesuatu yang penting bagi kelanjutan eksistensi bentuk pemerintahan seperti itu,
yaitu kemampuan untuk bergerak seiring dengan perubahan zaman dan memenuhi
kebutuhan baru yang muncul.

B. Perkembangan Konstitusi Romawi

Dalam bahasa Yunani Kuno tidak dikenal ada nya istilah yang mencerminkan pengertian ka
ta jus ataupun constitutio sebagaimana dalam tra disi Romawi yang datang kemudian.
Dalam ke se luruhan sistem berpikir para filosof Yunani Kuno,
perkataan constitution adalah seperti apa yang kita maksudkan sekarang ini. Perkata
an consti tution di zaman Kekaisaran Romawi (Roman Empire ), dalam bentuk bahasa
latinnya, mula-mula digunakan se ba gai istilah teknis untuk menyebut the acts of legisla
tion by the Empe ror . Bersamaan dengan banyak aspek dari hukum Romawi yang
dipinjam ke dalam sistem pemikiran hukum di kalangan gereja, maka istilah
teknis constitution juga dipinjam untuk menyebut peraturan-peraturan eklesiastik yang
berlaku di seluruh gereja atau pun untuk beberapa peraturan eklesiastik yang ber laku di
gereja-gereja tertentu (ecclesiastical province ). Oleh karena itu, kitab-kitab Hukum
Romawi dan Hukum Ge reja (Kano nik) itulah yang sering dianggap sebagai sum ber
rujukan atau referensi paling awal mengenai peng gu na an perkataan constitution dalam
sejarah.
Dalam perkembangannya, bangsa Romawi yang sedang melebarkan sayap kerajaan
dunianya, berubah dari negara polis (city state ), menjadi suatu imperium (kerajaan dunia)
yang dapat mempersatukan seluruh daerah peradaban dalam suatu kerajaan. Pada zaman
Romawi, meskipun ilmu ketatanegaraan tidak mengalami perkembangan yang pesat
dikarenakan, pada masa Romawi lebih menitikberatkan persoalan -persoalan praktis
daripada masalah-masalah teoritis, namun pemikiran-pemikiran hukum pada zaman
Romawi sangat mempengaruhi perkembangan ketatanegaraan pada abad berikutnya.
Beberapa bukti di antara nya;

Pertama, pada saat terjadi pertentangan antara kaum patricia (kaum ningrat) dengan
kaum Plebeia (kaum gembel, rakyat jelata). Pertentangan ini dapat diselesaikan dengan
sebuah undang-undang yang terkenal dengan nama Undang-Undang 12 Meja. Kedua,
penggunaan istilah ius gentium pertamakalinya digunakan pada zaman Romawi untuk
menunjukkan bahwa kerajaan Romawi telah membedakan hukum bagi orang-orang
Romawi dan di luar Romawi. Bagi orang Romawi diberlakukan ius civil , sedangkan di luar
Romawi (bukan Romawi Asli) diberlakukanius gentium (yang dikenal dengan sebutan
hukum antar negara). Ketiga, penggunaan perkataan lex dikenal pada masa
Romawi. Lex ini dipahami sebagai konstitusi untuk menentukan bagaimana bangunan
kenegaraan harus dikembangkan, yang kemudian menjadi kata kunci untuk memahami
konsepsi politik dan hukum.

Pada dasarnya gagasan konstitusi dan konstitusionalisme pada masa Romawi sudah
terlihat. Namun demikian, gagasan konstitusionalisme ini sungguh sangat disayangkan
harus lenyap seiring dengan kekalahan bangsa Romawi oleh suku bangsa Eropa Barat dan
benua Eropa memasuki abad pertengahan (600-1400).

Mula-mula, Romawi adalah sebuah monarki, tetapi kemudian raja-rajanya diturunkan


dengan paksa. Sekitar 500 SM., republic mulai muncul secara jelas, disusul dengan
perebutan kekuasaan antar golongan (Patrician-bangsawan dan Plcbeians-buruh petani)
yang berlangsung lama dan berakhir (300 SM) dengan ditetapkannya persamaan hak
terhadap rakyat jelata yang dilindungi oleh para pejabat yang dipih khusus untuk itu yang
disebut Tribunes. Dalam konstitusi repulik ini,ada tiga elemen pemerintahan yang
diharapkan dapat saling memeriksa dan mengimbangi (balance and check) satu sama lain.
Yang pertama adalah elemen monarki (diserahkan dari tangan raja semula) yang
memanifestasikan dirinya dalam bentuk jabatan penasihat. Elemen kedua adalah elemen
aristokratis yang diwujudkan dalam bentuk Senat,sebuah majelis yang dalam suatu masa
memiliki kekuasaan legislative yang sangat besar. Elemen ketiga adalah elemen demokratis
yang berupa pertemuan-pertemuan rakyat dalam tiga jenis konvensi yang dibagi
berdasarkan tanah atau rakyat (cury, century, atau suku bangsa)
Demokrasi Romawi, seperti juga demokrasi Negara-kota Yunani, merupakan demokrasi
primer atau demokrasi langsung, sedangkan gagasan perwakilan adalah hal yang asing bagi
keduanya. Teori kekuasaan Kekaisaran Romawi dapat dihimpun dengan jelas
dan Institutes dan Digest Kaisar Justinian (538-565 M), penyusun terkenal hukum
Romawi (Roman Law). Walaupun kekuasaan yang sebanarnya hanya terbatas pada
Kekaisaran Romawi di belahan timur dan berpusat di Konstantinopel. Konstitusi Romawi
yang di mulai sebagai suatu perpaduan harmonis antara elemen monarki,aristokrasi,dan
demokrasi telah berakhir sebagai suatu aristokrasi yang tidak bertanggungjawab. Perasaan
nasional sama sekali tidak ada dalam Imperium Romawi.

Yang menjadi pengaruh abadi konstitusionalisme Romawi, pertama,Hukum Romawi


(Roman Law ) berpengaruh besar terhadap sejarah hukum Eropa
continental. Kedua, kecintaan bangsa Romawi akan ketenteraman dan kesatuan sangat
kuat sehingga orang-orang di Abad Pertengahan terobsesi dengan gagasan kesatuan politik
dunia untuk menghadapi kekuatan disintegrasi. Ketiga,konsepsi dua sisi kedaulatan legal
kaisar-pada satu sisi, kesenangan hatinya adalah hokum dan di sisi lain, kekuasaannya
dianggap berasal dari rakyat-berlangsung selama berabad-abad dan bertanggung jawab atas
dua pandangan berbeda tentang hubungan pemerintah dan pihak yang diperintah di Abad
Pertengahan. (C.F Stong,2010 : 26-32).

C. Perkembangan Kostitusi Abad Pertengahan

Bermula dari Holly Roman Empire yang didirikan oleh Charles Agung pada 800 M,. dimana
pemerintahannya sangat berbeda dengan Kekaisaran Romawi semula. Holly Roman Empire
adalah Kekaisaran Roma yang telah dimodifikasi secara territorial, rasial,social, politik dan
spiritual hingga mencapai taraf yang di sana konstitusionalisme Roma lama lenyap
seluruhnya. Sebelum kekaisaran Charles Agung mengembangkan konstitusi, kekaisaran itu
terpecah-pecah diantara para penerusnya yaitu timbul masalah konstitusional perebutan
kekuasaan antarbangsa yaitu eksperimen yang umumnya dikenal sebagai Gerakan Dewan
(Conciliar Movement) antara lain Dewan Umum, Dewan Pisa (1409), Dewan Constance
(1414-1418) dan Dewan Basel (1431-1439). Sehingga fenomena feodalisme kemudian
berkembang pesat di seluruh Eropa. Feodalisme adalah salah satu jenis konstitusionalisme
Abad Pertengahan karena dalam beberapa taraf tersusun menjadi suatu bentuk
pemerintahan social dan politik yang dapat diterima secara umum. Ciri utamanya adalah
pembagian Negara menjadi unit-unit kecil. Prinsip umum feodalisme adalah “setiap orang
harus punya penguasa. Kejahatan feodalisme terletak pada sedemikian banyaknya
kekuasaan yang diberikan pada baron-baron tinggi dan proporsisi kekuatan mereka di masa
itu yang terhambat ketika Negara kesatuan bangkit. (C.F Strong, 2010: 32-35)
Sehingga pada abad pertengahan perkembangan konstitusi didukung oleh
aliranmonarchomachen yang terutama terdiri dari golongan Calvinis. Aliran ini tidak
menyukai kekuasaan mutlak raja. Untuk mencegah raja bertindak sewenang-wenang
terhadap rakyat, aliran ini menghen daki suatu perjanjian antara rakyat dan raja. Perjanjian
antara rakyat dan raja dalam kedudukan yang sederajat menghasilkan naskah yang
disebut Leges Fundamentalis yang memuat hak dan kewajiban masing-masing. Raja
tidak hanya dapat dimintai pertanggungjawaban tetapi juga dapat dipecat bahkan dibunuh
jika memang perlu.

Perjanjian antara rakyat dan raja ini lambat laun dituangkan dalam suatu naskah tertulis.
Adapun tujuannya adalah agar para pihak dapat dengan mudah mengetahui hak dan
kewajiban masing-masing. Selain itu, memudahkan salah satu pihak yang merasa dirugikan
menuntut pihak lain yang melanggar perjanjian.

Perjanjian yang berisi hak dan kewajiban itu dapat juga terjadi antara raja dengan para
bangsawan. Para bangsawan berhak meminta perlindungan kepada raja. Sementara itu,
raja berhak meminta bantuan para bangsawan jika terjadi perang. Bahkan perjanjian dapat
dilakukan antara orang-orang sebelum ada negara. Dalam sejarah para kolonis yang
menuju benua Amerika sudah membuat perjanjian ketika masih berada di kapal
“Mayflower“.

Semula konstitusi dimaksudkan untuk mengatur dan membatasi wewenang penguasa,


menjamin hak (asasi) rakyat, dan mengatur pemerintahan. Seiring dengan kebangkitan
paham kebangsaan dan demokrasi, konstitusi juga menjadi alat mengkonsolidasikan
kedudukan politik dan hukum dengan mengatur kehidupan bersama untuk mencapai cita-
cita. Itulah sebabnya pada zaman sekarang konstitusi tidak hanya memuat aturan hukum,
tetapi juga merumuskan prinsip-prinsip hukum, haluan negara, dan patokan kebijaksanaan
yang secara keseluruhan mengikat penguasa.

Pada abad pertengahan ini terdapat beberapa istilah yang dipakai pada zaman Romawi
yang substansinya mengilhami peraturan-peraturan dalam negara pada periode berikutnya.
Seperti misalnya, terdapat kodifikasi hukum yaitu kodifikasi hukum yang diselenggarakan
oleh raja, disebut Corpus Juris , dan kodifikasi yang diseleng garakan oleh Paus
Innocentius, yaitu peraturan yang dike luarkan oleh gereja yang disebut Corpus Juris
Connonici. Yang terpenting dalam penulisan ini adalah Corpus Juris , yang terdiri dari
empat bagian :

1. Instituten, ini adalah sebuah ajaran, tapi mempunyai kekuatan mengikat seperti Undang-
Undang, kalau dalam Undang-Undang itu mengenai sesuatu hal tidak terdapat
pengaturannya, maka pengaturan mengenai hal tersebut dapat dilihat
dalam Instituten tadi.
2. Pandecten, ini sebetulnya merupakan penafsiran saja dari para sarjana terhadap suatu
peraturan.

3. Codex, ini adalah peraturan atau undang-undang yang ditetapkan oleh


pemerintah/penguasa.

4. Novellen, ini adalah tambahan dari suatu peraturan atau undang-undang.


Selanjutnya konstitusi merupakan sumber hukum terpenting dan utama bagi negara. Pada
zaman modern hampir dapat dikatakan tidak ada negara yang tidak mempunyai konstitusi.
Dengan demikian antara negara dan konstitusi merupakan dua lembaga yang tidak dapat
dipisahkan.

Pada tahun 1789 meletus revolusi di Perancis, ditandai oleh ketegangan-ketegangan di


masyarakat dan terganggunya stabilitas keamanan negara. Maka pada tanggal 14
September 1791 tercatat diterimanya konstitusi Eropa pertama oleh Louis XVI. Sejak
peristiwa inilah, sebagian besar negara-negara di dunia sama-sama mendasarkan prinsip
ketatanegaraannya pada sandaran konstitusi.

D. Perkembangan Konstitusi Islam

Perkembangan konstitusi dan konstitusionalisme juga dapat dilacak pada peradaban


negara-negara Islam. Ketika bangsa Eropa berada dalam keadaan kegelapan pada abad
pertengahan (the dark age) , di Timur Tengah tumbuh dan berkembang pesat perada ban
baru di lingkungan penganut ajaran Islam. Atas penga ruh Nabi Muhammad SAW, ba nyak
sekali inovasi-inovasi baru dalam kehidupan umat manusia yang di kembangkan menjadi
pen dorong kemajuan peradaban. Salah satunya ialah penyusunan dan penandatanganan
per setujuan atau perjanjian bersama di antara kelom pok-kelompok penduduk kota
Madinah untuk ber sama-sama membangun struktur kehidupan ber sama yang di
kemudian hari berkembang men jadi kehidupan ke ne gara an dalam pengertian modern
sekarang. Naskah per setujuan bersama itulah yang selanjutnya dikenal sebagai Piagam
Madinah (Madinah Charter ).

Piagam Madinah ini dapat disebut sebagai piagam tertulis pertama dalam sejarah umat
manusia yang dapat dibandingkan dengan penger tian konstitusi dalam arti modern.
Piagam ini dibuat atas persetujuan bersama antara Nabi Muhammad SAW dengan wakil-
wakil pen du duk kota Madinah tak lama setelah beliau hijrah dari Mekkah ke Yastrib, nama
kota Madinah sebelum nya, pa da tahun 622 M. Para ahli menyebut Piagam Madinah ter
sebut dengan berbagai macam istilah yang berlainan satu sama lain

Para pihak yang mengikatkan diri atau terikat dalam Piagam Madinah yang berisi per
janjian masya rakat Madinah (social contract) tahun 622 M ini ada tiga belas kelompok
komu nitas yang secara eksplisit disebut dalam teks Piagam. Ketiga belas komunitas itu
adalah (i) kaum Mukminin dan Muslimin Muhajirin dari suku Quraisy Mekkah, (ii) Kaum
Mukminin dan Muslimin dari Yatsrib, (iii) Kaum Yahudi dari Banu ‘Awf, (iv) Kaum Yahudi
dari Banu Sa’idah, (v) Kaum Yahudi dari Banu al-Hars, (vi) Banu Jusyam, (vii) Kaum
Yahudi dari Banu Al-Najjar, (viii) Kaum Yahudi dari Banu ‘Amr ibn ‘Awf, (ix) Banu al-Nabit,
(x) Banu al-‘Aws, (xi) Kaum Yahudi dari Banu Sa’labah, (xii) Suku Jafnah dari Banu
Sa’labah, dan (xiii) Banu Syuthaybah.

Secara keseluruhan, Piagam Madinah tersebut berisi 47 pasal. Pasal 1, misalnya, mene gas
kan prinsip per satuan dengan menyatakan: “Innahum ummatan wa hidatan min
duuni al-naas” (Sesungguhnya mereka ada lah ummat yang satu, lain dari (komunitas)
manusia yang lain). Dalam Pasal 44 ditegaskan bahwa “Mereka (pa ra pendukung piagam)
bahu membahu dalam meng ha dapi penyerang atas kota Yatsrib (Madinah)”. Dalam Pasal
24 dinyatakan “Kaum Yahudi memi kul biaya ber sama kamu mukminin selama dalam
peperangan”. Pasal 25 menegaskan bahwa “Kaum Yahudi dari Bani ‘Awf ada lah satu umat
dengan kaum mukminin. Bagi kaum Yahudi agama mereka, dan bagi kamu mukminin
agama mereka. Juga (kebebasan ini berlaku) bagi sekutu-sekutu dan diri mereka sendiri,
kecuali bagi yang zalim dan yang jahat. Hal demikian akan merusak diri dan keluarganya
sendiri.” Jaminan persamaan dan persatuan dalam kera ga man tersebut demi kian indah
dirumuskan dalam Pia gam ini, sehingga dalam menghadapi musuh yang mung kin akan
menyerang kota Madinah, setiap warga kota di tentukan harus saling bahu membahu.

Dalam hubungannya dengan perbedaan keimanan dan amalan keagamaan, jelas diten tu
kan adanya kebeba san beragama. Bagi orang Yahudi sesuai dengan agama mereka, dan
bagi kaum mukminin sesuai dengan agama mereka pula. Prinsip kebersamaan ini bahkan
lebih tegas dari rumusan al-Quran mengenai prinsip lakum diinu kum walya
diin (bagimu agamamu, dan bagiku agama ku) yang menggunakan perkataan “aku” atau
“kami” ver sus “kamu”. Dalam piagam digunakan perkataan mere ka, baik bagi orang
Yahudi maupun bagi kalangan mukminin dalam jarak yang sama dengan Nabi. HalH

Selanjutnya, pasal terakhir, yaitu Pasal 47 berisi ketentuan penutup yang dalam bahasa
Indonesianya adalah:

Sesungguhnya piagam ini tidak membela orang zalim dan khianat. Orang yang keluar
(bepergian) aman, dan orang yang berada di Madinah aman, kecuali orang yang zalim dan
khianat. Allah adalah penjamin orang yang berbuat baik dan taqwa. (tertanda Muhammad
Rasulul lah SAW).

Dapat dikatakan bahwa lahirnya Piagam Madinah pada abad ke 7 M itu merupakan inovasi
yang paling pen ting selama abad-abad pertenga han yang memulai suatu tradisi baru
adanya perjanjian bersama di antara kelompok-kelompok masyarakat untuk bernegara de
ngan naskah per janjian yang dituangkan dalam bentuk yang ter tulis. Piagam Madinah ini
dapat disebut sebagai konstitusi tetulis pertama dalam sejarah umat manusia, meskipun
dalam pengertiannya sebagai konstitusi mo dern yang dikenal dewasa ini,
Konstitusi Amerika Serikat tahun 1787-lah yang pada umumnya dianggap sebagai
konstitusi ter tulis pertama. Peristiwa penandatangan Pia gam Madinah itu dicatat oleh
banyak ahli sebagai per kembangan yang paling modern di zamannya, sehingga
mempengaruhi berbagai tradisi kene gara an yang berkembang di kawasan yang dipe
ngaruhi oleh peradaban Islam di kemudian hari. Bahkan pada masa setelah Nabi
Muhammad SAW wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh empat khalifah pertama yang
biasa dikenal dengan se bu tan Khalifatu al-Rasyidin, yaitu Abubakar, Umar ibn Khat tab,
Utsman ibn Affan, dan Ali ibn Abi Thalib.

E. Perkembangan Konstitusi Inggris

Parlemen pertama di Inggris yang terdiri dari wakil-wakil county dan kota dibentuk
pada 1265. Sejak tahun1295, tahun “Parlemen Model” Edward I, parlemen-parlemen
bersidang dengan interval waktu yang tidak tetap,terutama bertujuan untuk memberikan
dana bantuan keuangan kepada raja. Namun pada akhir abad ke-14,muncul alasan baru
bagi keberadaan parlemen. Tahun 1399, Raja Richard II diturunkan dengan paksa dan
seorang keturunan keluarga Edward III yang lebih muda, wangsa Lancaster, merebut tahta.
Karena tidak memiliki hak waris keturunan yang sebenarnya,Raja Henry IV dan para
penerusnya bergantung pada Parlemen untuk mengesahkan kedudukan mereka. Meskipun
demikian, kelemahan posisi wangsa Lancaster semakin bertambah dengan kekalahannya
dalam perang melawan Perancis dan ketidakmampuan Raja Henry IV yang penurunan
tahtanya diakibatkan oleh Perang Mawar. Raja Edward IV, harus meneruskan perang yang
semakin mendekat akibat kekalahan saudaranya, Richard III di Boswoth oleh Henry Tudor
tahun1485. Peristiwa inilah yang mengawali berdirinya monarki yang sesekali disebut
Despotisme Tudor (Tudor Despotism).Despotisme Tudor memiliki tiga orang pemerintahan
yaitu Dewan,Parlemen dan Hakim-hakim setempat (the Justices of the Peace). Dewan
adalah kaki tangan raja dibagian eksekutif.

Perang saudara (1642-1649) benar-benar menghancurkan kesempatan apapun yang ada di


Inggris untuk mendirikan tipe despotisme terbuka (Englightened Despotism) yang telah
berkembang pesat di Eropa continental.

Fakta penting Revolusi tahun 1688,pertama, penguasaan urusan Negara telah di alihkan
secara efektif dari Raja kepada “Raja dalam Parlemen”; kedua,perubahan ini ditetapkan
berdasarkan undang-undang,dimana sebelumnya yang berlaku hanya hokum adat-istiadat
dan konvensi.
Berbagai macam undang-undang yang disahkan selama masa Revolusi Tahun 1688-1689
menetapkan kedaulatan Negara Inggris berada di tangan Parlemen, karena the Bill
of Right dan the Mutiny Act- Undang-Undang Pemberontakan memberi Parlemen
kekuasaan atas angkatan bersenjata. Fungsi eksekutif dalam Parlemen tetap berada
ditangan raja dan menteri-menterinya. Tetapi selama abad ke-18, telah berkembang system
kabinet yang dibangun atas partai-partai dengan perkembangan konvensi murni.

Sejarah hukum Negara telah menetapkan asas dasar yang dikenal dengan “Rule of Law”
(Kedaulatan Hukum), yang artinya persamaan kedudukan semua warga Negara dari
tingkatan apapun di hadapan hukum. Di satu sisi, undang-undang seperti Habeas Corpus
(1679) dan the Act of Setttlement (1701) telah menjamin kekebalan warga Negara dari
kesalahan hukuman penjara dan di sisi lain, menjamin pula kekebalan seorang hakim dari
campur tangan raja. (C.F Strong, 2010: 40-45)

Di Inggris, peraturan yang pertama kali dikaitkan dengan istilah konstitusi adalah “Consti
tutions of Cla rendon 1164” yang disebut oleh Henry II sebagai const i tutions, avitae
constitu tions or leges, a recordatio vel recognition, me nyangkut hubungan antara
gereja dan pemerintahan negara di masa pemerintahan kakeknya, yaitu Henry I. Isi
peraturan yang disebut sebagai kon stitusi tersebut masih bersifat eklesiastik, meskipun
pemasyarakatannya dilaku kan oleh pemerintahan seku ler. Namun, di masa-masa
selanjutnya, istilahconstitutio itu sering pula dipertukarkan satu sama lain dengan
istilah lex atauedictum untuk menyebut berbagai secular administrative
enactments. Glanvill sering meng guna kan kata constitution untuk a royal edict (titah
raja atau ratu). Glanvill juga mengaitkan Henry II’s writ creating the remedy by
grand assize as ‘legalis is a constitutio’ , dan menyebut the assize of novel
disseisin sebagai a re cog nitio sekaligus sebagai a constitutio .
Beberapa tahun setelah diberlakukannya Undang-Undang Merton pada tahun 1236, Brac
ton menulis arti kel yang menyebut salah satu ketentuan dalam undang-undang itu
sebagai a new constitution , dan mengaitkan satu bagian dari Magna Carta yang
dikeluarkan kembali pada tahun 1225 sebagaiconstitutio libertatis . Dalam waktu yang
hampir bersamaan (satu zaman), Beauma-noir di Perancis berpendapat bahwa “speaks of
the re medy in novel disseisin as ’une nouvele constitucion’ made by the
kings”. Ketika itu dan selama beradab-abad sesudahnya, per kata an constitution selalu
diartikan sebagai a particular administrative enactment much as it had meant to
the Roman lawyers . Perkataan consti tution ini dipakai untuk membedakan
antaraparticular enactment dari consuetudo atau ancient custom (kebia saan).
Pendapat dari tokoh lainnya yaitu Pierre Gregoire Tholosano (of Toulouse), dalam
bukunya De Republica (1578) dan Sir James Whitelocke pada sekitar tahun yang sama.
Pendapat Cato dapat dipahami secara lebih pasti bahwa konstitusi republik bukanlah hasil
ker ja satu wak tu ataupun satu orang, melainkan kerja kolektif dan aku mu latif. Oleh
karena itu, dari sudut etimologi, konsep kla sik mengenai konsti tusi dan konstitusionalisme
dapat ditelusuri lebih mendalam dalam perkembangan penger tian dan penggunaan
perkataan politeia dalam bahasa Yunani dan perkataan constitutio dalam bahasa Latin,
serta hubungan di antara keduanya satu sama lain di se panjang sejarah pemikiran maupun
pengalaman praktik kehidupan kenegaraan dan hukum.

Perkembangan-perkembangan demikian itu lah yang pada akhirnya mengantarkan umat


ma nu sia pada pe ngertian kata constitution itu dalam bahasa Inggris modern.
Dalam Oxford Dictionary , perkataan consti tution dikaitkan dengan beberapa arti,
yaitu: “… the act of establishing or of ordaining, or the ordinance or re gu lation
so establi shed” . Selain itu, kataconstitution juga diartikan sebagai pembuatan atau
penyusunan yang menentukan hakikat sesuatu.

Dalam pengertiannya yang demikian itu, kon stitusi selalu dianggap “mendahului” dan
“menga tasi” pemerin ta han dan segala keputusan serta peraturan lainnya. Kon stitusi
disebut mendahului, bukan karena urutan waktunya, melainkan dalam sifatnya yang supe
rior dan kewenangannya untuk mengikat.
Secara tradisional, sebelum abad ke-18, kon sti tu tionalisme memang selalu dilihat sebagai
seperangkat prinsip-prinsip yang tercermin dalam kelembagaan suatu bangsa dan tidak ada
yang mengatasinya dari luar serta tidak ada pula yang mendahuluinya.

F. Perkembangan Konstitusi Modern

Konstitusi modern dimulai sejak adanya pengundangan UUD yang tertulis, yaitu pada UUD
Amerika Serikat (1787) dan deklarasi Perancis tentang hak-hak asasi manusia dan warga
Negara (1789). Melalui kedua naskah tersebut kemudian memberikan dampak yang cukup
besar terhadap Negara-negara lainnya. Dengan diundangkannya UUD tertulis banyak
mempengaruhi dan memberikan wawasan tentang perlunya UUD sebagai suatu konstitusi.
Akan tetapi ada sebagian kecil Negara yang tidak memiliki UUD secara tertulis seperti
Inggris misalnya. Namun demikian bukan berarti Inggris tidak memiliki konstitusi. Karena
sesuai dengan zaman modern konstitusi bias lahir dari adanya kebiasaan yang timbul dari
praktik ketatanegaraan.

Secara luas konstitusi berarti keseluruhan hukum dasar baik yang tertulis atau tidak tertulis
yang mengatur secara mengikat mengenai penyelenggaraan ketatanegaraan suatu Negara.
Pada dasarnya konstitusi modern menganut pokok-pokok yang didalamnya terkandung:

1. Jaminan hak-hak asasi manusia.


2. Susunan ketatanegaraan yang bersifat mendasar.

3. Pembagian pada pembatasan kekuasaan.

Konstitusi dibuat oleh lembaga khusus dan yang tinggi kekuasaannya. Konstitusi juga
sebagai sumber hukum yang tertinggi sehingga dijadikan patokan untuk menentukan UU,
membuat kebijakan, serta dapat membatasi kewenangan penguasa dalam suatu Negara.
Dari sifat konstitusi yang flexible dan rigid (kaku), maka konstitusi pada perkembangan
modern dapat menyesuaikan keadaan dalam suatu Negara yang berhubungan dengan
masyarakat sehingga lebih menjamin hak-hak asasi masyarakat.

Ketatanegaraan dituangkan sebagai bentuk kaidah-kaidah hukum yang dapat digunakan


untuk membatasi kekuasaan yang didalamnya mengandung prinsip Negara hukum,
pembatasan kekuasaan, demokrasi, jaminan hak-hak asasi manusia dalam bentuk
konstitusi. Pembatasan kekuasaan dapat dilakukan melalui suprastruktur politik maupun
infrastruktur politik.

Rakyat dapat mengontrol kekuasaan penguasa dan lebih berperan dalam keikutsertaannya
dalam suatu lembaga Negara. Secara ringkas konstitusi merupakan tujuan dan cita-cita
suatu Negara.

http://bagusesupono.blogspot.co.id/2013/11/konstitusi-yang-pernah-berlaku-di_5201.html

Jumat, 13 Februari 2015


Makalah Perkembangan Konstitusi dan Dinamika HTN di Indonesia

Perkembangan Konstitusi dan Dinamika Hukum Tata Negara


di Indonesia

A. Pengertian Konstitusi

Istilah konsitusi berasal dari bahasa Prancis, constituer. Kata konstitusi berarti pembentukan

yang berasal dari kata kerja, yaitu constituer (Prancis) yang berarti membentuk. Dalam pengertian ini,

hal yang dibentuk adalah negara. Dengan demikian, konstitusi mengandung makna awal (permulaan)
dari segala peraturan perundang-udangan tentang negara. Pemakaian istilah konstitusi yang

dimaksudkan adalah pembentukan suatu negara atau menyusun dan menyatakan suatu negara.1[3]

Konstitusi (constitution = bahasa latin) dalam negara adalah sebuah norma sistem politik dan

hukum bentukan pada pemerintahan negara-biasanya dikodifikasikan sebagai dokumen tertulis. Dalam

kasus bentukan negara, konstitusi memuat aturan dan prinsip-prinsip entitas politik dan hukum. Istilah

ini merujuk secara khusus untuk menetapkan konstitusi nasional sebagi prinsip-prinsip dasar hukum,

termasuk dalam bentukan struktur, prosedur, wewenang, dan kewajiban pemerintahan negara pada

umumnya. Konstitusi umumnya merujuk pada penjaminan hak kepada warga masyarakatnya. Istilah

konstitusi dapat diterapkan pada seluruh hukum yang mendefinisikan fungsi pemerintahan negara.

Konstitusi pada umumnya bersifat kodifikasi, yaitu sebuah dokumen yang berisian aturan-aturan untuk

menjalankan suatu organisasi pemerintahan negara, namun dalam pengertian ini, harus dimengerti

bahwa tidak semua konstitusi berupa dokumen tertulis (formal). Menurut para ahlu ilmu hukum

ataupun ilmu politik, konstitusi harus diterjemahkan ke dalam kesepakatan politik, negara, kekuasaan,

pengambilan keputusan, kebijakan, distribusi, dan alokasi. Konstitusi bagi organisasi pemerintahan

negara yang dimaksud memiliki beragam bentuk dan kompleksitas strukturnya, terdapat konstitusi

politik atau hukum, tetapi mengandung pula arti konstitusi ekonomi.2[4]

Wade dalam bukunya yang berjudul Constitutional Law mengatakan bahwa undang-undang

dasar adalah naskah yang memaparkan rangka dan tugas-tugas pokok dari badan pemerintah suatu

negara dan menentukan pokok-pokok cara kerja badan-badan tersebut. Jadi, pokok dasar dari sistem

pemerintahan diatur dalam suatu undang-undang dasar. Sama halnya dengan Friedrich, ia mengatakan

bahwa konstitutionalisme adalah gagasan bahwa pemerintah merupakan suatu kumpulan kegiatan yang

1[3]Dahlan Thaib, dkk, Teori dan Hukum Konstitusi, (Jakarta: Grafindo Persada, 2013), hlm. 6.

2[4]Jazim Hamidi, dkk, Teori Hukum Tata Negara, (Jakarta: Salemba Humanika, 2012), hlm.94
diselenggarakan oleh dan atas nama rakyat, tetapi yang dikenakan beberapa pembatasan yang

diharapkan akan menjamin bahwa kekuasaan yang dipelukan untuk pemerintahan itu disalahgunakan

oleh mereka yang mendapat tugas memerintah.3[5] Mereka memandang sudut kekuasaan negara

tersebut dalam segi legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Selanjutnya, Heller membagi konstitusi menjadi

tiga, yaitu die politische verassung als gesellscgaftlich wirklichkei (konstitusi mencerminkan kehidupan

politik di dalam masyarakat sebagai suatu kenyataan; mengandung pengertian politik dan sosiologis),

dan die verselbstandigterechtverfassung (konstitusi merupakan suatu kesatuan kaidah yang hidup dalam

masyarakat; mengandung pengertian yuridis), dan die geshereiben verfassung (konstitusi yang tertulis

dalam suatu naskah sebagai undang-undang yang tertinggi yang berlaku dalam suatu negara).4[6]Di sini,

konstitusi dipandang tidak hanya bersifat yuridis semata, tetapi juga mengandung pengertian sosiologis

dan politis.

Dewasa ini, istilah konsitusi sering diidentifikasi dengan suatu kodifikasi terhadap dokumen yang

tertulis. Di Inggris, konstitusi yang dimiliki tidak dalam bentuk kodifikasi, tetapi berdasarkan pada

yurisprudensi dalam ketatanegaraan negara Inggris. Konstitusi sebagai living organism tentungya harus

mampu menyesuaikan diri dengan kondisi dan peubahan zaman.

Dalam konteks ini, mengutip rekomendasi yang dihasilkan oleh Commonwealth Human Right

Initiatives, terdaoat sebelas prinsip pembuatan konstitusi yang terkait erat dengan partisipasi publik,

yaitu legitimasi, inklusivitas, pemberdayaan masyarakat sipil, keterbukaan dan transparansi,

aksesibilitas, pengkajian yang berkesinambungan, akuntabilitas, pentingnya proses, peran partai politik,

peran masyarakat sipil, dan peran para pakar.

3[5]Miriam Budiarjo, Demokrasi di Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 1988), hlm. 96-97

4[6]Dahlan Thaib, op.cit., hlm. 9


Menurut Thompson, secaa sederhana pertanyaan what is a constitution? Dapat dijawab bahwa

“... a constitution is a document which contains the rules for the operation of an organization”.

Organisasi dimaksud beragam bentuk dan kompleksitas strukturnya. Negara sebagai salah satu bentuk

oganisasi pada umumnya selalu memiliki naskah yang disebut sebagai konstitusi atau undang-undang

dasar. Hanya Inggis dan Israel saja yang sampai sekarang dikenal tidak memiliki satu naskah tertulis yang

disebut dengan undang-undang dasar. Undang-undang dasar pada kedua negara ini tidak pernah dibuat,

tetapi tumbuh menjadi konstitusi dalam pengalaman praktik ketatanegaraan. Namun, para ahli tetap

dapat menyebut adanya konstitusi dalam konteks hukum tata negara Inggris.

Ciri utama konstitusi adalah fleksibel.Hukum konstitusi adalah hukum kesepakatan resmi

tertinggi dan berlakunya suatu konstitusi sebagai hukum dasar yang mengikat didasarkan pada

kekuasaan tertinggi atau prinsip kedaulatan yang dianut dalam suatu negara. Jika negara tersebut

menganut paham kedaulatan rakyat, maka sumber legitimasi konstitusi tersebut adalah rakyat. Jika yang

berlaku adalah paham kedaulatan raja, maka raja yang menentukan berlaku tidaknya suatu konstitusi.

Hal inilah yang disebut oleh paa ahli sebagai constituent power yang merupakan kewenangan yang

berada di luar dan sekaligus di atas sistem yang diaturnya.Oleh karena itu, di lingkungan negara-negara

demokrasi, rakyatlah yang dianggap menentikan berlakunya suatu konstitusi.

Konstitusi NRI adalah atas kedaulatan rakyat, demikian bunyi alinea keempat pembukaan UUD

1945.Constituent Power mendahului konstitusi, sedangkan konstitusi mendahului organ pemerintahan

yang diatur dan dibentuk berdasarkan konstitusi. Pengertian Constituent power berkaitan pula dengan

hierarki hukum. Konstitusi merupakan hukum yang lebih tinggi atau bahkan paling tinggi dan paling

fundamental sifatnya karena konstitusi tersebut sendiri merupakan sumber legitimasi atau landasan

autorisasi bentuk-bentuk hukum atau peraturan-peraturan perundang-undangan lainnya. Sesuai dengan

prinsip hukum yang berlaku universal, maka agar peraturan-peraturan yang tingkatannya berada
dibawah undang-undang dasar dapat berlaku dan diberlakukan, pertaturan-peraturan tersebut tidak

boleh bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi.

Pengertian konstitusi selalu terkait dengan paham konstitusionalisme. Hamilton menyatakan

bahwa “Constitutionalism is the name given to the trust which men repose in the power of words

engrossed on parchment to keep a goverment in order”. Untuk tujuan to keep a goverment in order

tersebut diperlukan pengaturan yang sedemikian rupa, sehingga dinamika kekuasaan dalam proses

pemerintahan dapat dibatasi dan dikendalikan sebagaimana mestinya. Gagasan mengatur dan

membatasi kekuasaan ini secara alamiah muncul karena adanya kebutuhan untuk merepon

perkembangan peran relatif kekuasaan umum dalam kehidupan umat manusia.

Istilah konstitusionalisme pada zaman sekarang dianggap sebagai suatu konsep yang niscaya

bagi setiap negara modern. Seperti dikemukakan oleh C.J. Friedrich, sebagaimana yang telah dikutip,

“constitutionalism is an institutionalized system of effective, regularied restraints upon govermental

action”. Basis pokoknya adalah kesepakatan umum atau persetujuanm (consesnsus) di antara mayoritas

rakyat mengenai bangunan yang di idealkan berkenaan dengan negara. Organisasi negara tersebut

diperlukan oleh warga masyarakat politik agar kepentingan mereka bersama dapat dilindungi atau

dipromosikan melalui pembentukan dan mekanisme yang disebut negara.

Pada umumnya, kesepakatan yang menjamin tegaknya konstitusionalisme pada zaman modern

dipahami bersandar pada tiga elemen kesepakatan, yaitu:

1. Kesepakatan tentang tujuan atau cita-cita bersama

2. Kesepakatan tentang the rule of law sebagai landasan pemerintahan atau penyelenggaraan negara

3. Kesepakatan tentang bentuk institusi-institusi dan prosedur-prosedur ketatanegaraan.

Adapun konsensus pertama, yaitu berkenaan dengan cita-cita bersama sangat menentukan

tegaknya konstitusi dan konsitusionalisme di suatu negara dalam konteks kehidupan bernegara. DI
negara Indonesia, lambang negara adalah Garuda. Artinya, gabungan ruh damai dan dasar filosofis yang

disebut sebagai Pancasila yang berarti lima sila atau lima prinsip dasar untuk mencapai atau

mewujudkan empat tujuan bernegara. Kelima sila dalam pancasila dipakai sebagai dasar filosofis-

ideologis untuk mewujudkan empat tujuan atau cita-cita ideal bernegaa, yaitu melindungi segenap

bangsa Indonesia dan seluuh tumpah darah Indonesia, meningkatkan kesejahteraan umum,

mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia bedasarkan kemerdekaan,

perdamaian yang abadi, dan keadila sosial.

Selanjutnya, kesepakatan kedua adalah kesepakatan bahwa basis pemerintahan didasarkan atas

aturan hukum dan konstitusi. Kesepakatan atau konsensus kedua ini juga sangat prinsipil karena dalam

setiap negara harus ada keyakinan bersama bahwa apa pun yang hendak dilakukan dalam konteks

penyelenggaraan negara haruslah didasarkan atas rule of the game yang ditentukan bersama. Istilah

yang biasa digunakan untuk itu adalah the rule of the lawyang dipelopori oleh A.V. Dicey, seorang

sarjana Inggis kenamaan, di Amerika Serikat, istilah ini bahkan dikembangkan menjadi jargon, yaitu The

rule of law, and not of Man untuk menggambarkan pengertian bahwa hukumlah yang sesungguhnya

memerintah atau memimpin dalam suatu negara, bukan manusia atau orang. Oleh karena itu, tanpa ada

konsensus semacam itu, konstitusi tidak akan berguna karena ia akan sekedar berfungsi sebagai kertas

dokumn yang mati, hanya bernilai semantik dan tidak berfungsi atau tidak dapat difungsikan

sebagaimana mestinya.

Kesepakatan ketiga berkenaan dengan bangunan organ negara dan prosedur-prosedur yang

mengatu kekuasaannya, hubungan-hubungan antarorgan negara tersebut satu sama lain, dan hubungan

antara organ-organ negara tersebut dengan warga negara. Dengan adanya kesepakatan tersebut, maka

isi konstitusi dapat dengan mudah dirumuskan karena benar-benar mencerminkan keinginan bersama

berkenaan dengan institusi kenegaraan dan mekanisme ketatanegaraan yang hendak dikembangkan
dalam kerangka kehidupan berkonstitusi. Kesepakatan-kesepakatan itulah yang dirumuskan dalam

dokumen konstitusi yang diharapkan dapat dijadikan pegangan bersama untuk kurun waktu yang cukup

lama. Para perancang dan perumus konstitusi tidak seharunya membayangkan konstitusi tersebut,

bahkan naskah konstitusi tersebut akan sering diubah dalam wakti dekat. Konstitusi tidak sama dengan

undang-undang yang dapat lebih mudah diubah. Oleh karena itu, mekanisme perubahan undang-

undang dasar memang sudah seharusnya tidak diubah semudah mengubah undang-undang undang-

undang. Sudah tentu, tidak mudahnya mekanisme perubahan undang-undang dasar tidak boleh

menyebabkan undang-undang dasa tersebut menjadi terlalu kaku karena tidak dapat diubah. Konstitusi

juga tidak boleh disakralkan dari kemungkinan perubahan seperti yang tejadi pada masa Orde Baru.

Keberadaan Pancasila sebagai falsafah kenegaraan atau staatidee (cita negara) yang berfungsi

sebagai folosofische grondslag dan common platforms atau kalimatun sawa di antara sesama warga

masyarakat dalam konteks kehidupan bernegada dalam kesepakatan petama penyangga

konstitusionalisme menunjukkan hakikat Pancasila sebagai ideologi terbuka. Terminologi Pancasila

sebagai ideologi terbuka sesungguhnya telah dikembangkan pada masa Orde Baru. Namin dalam

pelaksanaannyam, saat itu Pancasila lebih terlihat sebagai ideologi tertutup. Pancasila enjadi alat

hegermoni yang secaa apriori ditentukan oleh elit kekuasaan untuk mengekang kebebasan dan

melegitimasi kekuasaan. Kebenaran Pancasila pada saat itu tidak hanya mencakup cita-cita dan nilai

dasar, tetapi juga meliputi kebijakan praktis operasional yang tidak dapat dpertanyakan, tetapi harus

diterima dan tipatuhi oleh masyarakat.

Konsekuensi Pancasila sebagai ideologi terbuka adalah membuka ruang dalam membentuk

kesepakatan masyaajat tentang cara untuk mencapai cita-cita dan nilai-nilai dasar tersebut. Kesepakatan

tersebut adalah kesepakatan kedua dan ketiga sebagai penyangga konstitusionalisme, yaitu kesepakatan

tentang the rule of the law sebagai landasan pemerintahan atau penyelenggaraan negara dan
kesepakatan tentang bentuk institusi-institusi dan prosedur-prosedur ketatanegaraan. Kesepakatan-

kesepakatan tersebut hanya mungkin dicapai jika sistem yang dikembangkan adalah sistem demokrasi.

Pancasila sebagai ideologi dalam konstitusi bangsa Indonesia memiliki perbedaan dengan sistem

kapitalisme-liberal atauapun sosialisme-komunis. Pancasila mengakui dan melindungi, baik hak-hak

indicidu maupun hak masyarakat dalam bidang ekonomi ataupun politik. Dengan demikian, ideologi kita

mengakui secara selaras, baik kolektivisme maupun individualisme. Demokasi yang dikembangkan

bukanlah demokrasi politik semata seperti dalam ideologi liberal-kapitalis, melainkan dmeokrasi

ekonomi. Dalam sistem kapitalisme liberal, dasar perekonomian liberal, dasar perekonomian bukan

usaha bersama dan kekeluargaan, melainkan kebebasan individual untuk berusaha. Sementara itu,

dalam sistem etatisme, negara yang mendominasi perekonomian, bukan warga negara, baik sebagai

individu maupun bersama-sama dengan warga negara lainnya.5[7]

Konstitusi sebagai Dasar Hidup Bernegara

Tanggal 17 Agustus tahun 1945 adalah hari Proklamasi Indonesia dan UUD NKRI 1945

merupakan dokumen tertulis atau konstitusi negara kesatuan Republik Indonesia yang merupakan

hukum dasar terbentuknya negara merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur berdasarkan

Pancasila. Perubahan UUD 1945 sebagai agenda utama era reformasi mulai dilakuka oleh Majelis

Permusyawaratan Rakyat (MPR) tahun 1999. Pada Sidang Tahunan MPR 1999, seluruh fraksi MPR

membuat kesepakatan tentang arah perubahan UUD 1945.6[8]

1. Sepakat untuk tudak mengubah Pembukaan UUD 1945.

5[7]Jazim Hamidi, dkk, op.,cit, hlm. 95-99

6[8]Lima kesepakatan tersebut dilampirkan dalam Ketetapan MPR Nol IX/MPR/1999 tentang Penugasan
Badan Pekeja Majelis Pemusyawaratan Rakyat Republik Indonesia untuk Melanjutkan Perubahan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
2. Sepakat untuk mempertahankan bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia

3. Sepakat untuk mempertahankan sistem presidensil

4. Sepakat untuk memindahkan hal-hal normatif yang ada dalam Penjelasan UUD 1945 ke dalam pasal-

pasal UUD 1945.

5. Sepakat untuk menempuh cara adendum dalam melakukan amandemen terhadap UUD 1945.

Perubahan UUD 1945 kemudian dilakukan secara bertahap menjadi salah satu agenda sidang

Tahunan MPR7[9] dari tahun 1999. Perubahan kedua tahun 2000, perubahan ketiga tahun 2001, hingga

perubahan keempat pada Sidang tahunan MPR tahun 2002 terjadi bersamaan dengan kesepakatan

dibentuknya Komisi Konstitusi yang bertugas untuk melakukan pengkajian secara komprehensif tentang

perubahan UUD 1945 berdasarkan ketatapan MPR No. I/MPR/2002 tentang Pmebentukan Komisi

Konstitusi.

Perubahan-perubahan tersebut meliputi hampir keseluruhan materi UUD 1945. Jika naskah asli

UUD 1945 berisi 71 butir ketentuan, maka setelah empat kali megalami perubahan, materi muatan UUD

1945 mencakup 199 butir ketentuan. Namun sesuai dengan kesepakatan MPR yang kemudian menjadi

lampiran ketetapan MPR No. IX/MPR/1999, pembukaan UUD 1945 tidak akan diubah. Pembukaan UUD

1945 memuat cita-cita bersama sebagai puncak abstraksi yang mencerminkan kesamaan-kesamaan

kepentingan di antara sesama warga masyarakat yang dalam kenyataannya harus hidup di tengan

pluralisme atau kemajemukan.

Pusat Kajian Konstitusi (PKK) yang sudah terbentuk di berbagai universitas yang tersebat di

seluruh Indonesia, sudah seyogianya dilibatkan untuk turut menyumbangkan kajian ilmiah bagi

penyempurnaan UUD 1945 saat ini. Diharapkan hasil kajian akademis meeka dapat terhindar dari

7[9]Sidang Tahunan MPR baru dikenal pada masa refomasi berdasarkan Pasal 49 dan Pasal 50 Ketetapan
MPR No. II/MPR/1999 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik
Indonesia.
kepentingan politik praktis dan tetap menggali filosofi tujuan negaa Pancasila. Kiranya, kita semua harus

mengingat kembali terhadap arti pentingnya gagasar dasar atas konstitusi yang dikemukakan oleh

Patrick Henry, “The Constitution is not an instrument fo the goverment to restrain the people, but it is an

instrument for the peolple to restrain the goverment”. Jadikanlah rakyat sebagai aspirasi dan jiwa dari

konstitusi itu sendiri.8[10]

Konstitusi Negara Indonesia, Suatu Suplemen

Undang-undang Dasar atau Konstitusi Negara Republik Indonesia disahkan dan ditetapkan oleh

Pantia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada hari sabtu tanggal 18 Agustus 1945, yakni sehari

setelah proklamasi kemerdekaan.

Istilah undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945), yang memakai angka “1945” dibelakang UUD,

barulah timbul kemudian yaitu pada awal 1959, ketika tanggal 19 Februari 1959 Kabinet Karya

mengambil kesimpulan dengan suara bulat mengenai “pelaksanaan demokrasi terpimpin dalam rangka

kembali ke UUD 1945”. Kemudian keputusan pemerintah itu disampaikan ke piha konstituante pada 22

april 1959. Peristiwa ini dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia dikenal dengan nama “ajakan

pemerintah yang berbunyi secara cekak aos untuk kembali ke UUD 1945”.

Jadi pada saat disahkan dan ditetapkan UUD 1945 pada 18 Agustus 1945, ia hanya bernama

“OENDANG-OENDANG DASAR”. Demikian pula, ketika UUD diundangkan dalam Berita Republik

Indonesia Tahun II No. 7 tanggal 15 Februari 1946, istilah yang digunakan masih “oendang-oendang

Dasar” tanpa tahun 1945.Baru kemudian dalam Dekrit Presiden 1959 memakai UUD 1995 sebagaimana

yang diundangkan dalam Lembaran Negara No. 75 Tahun 1959.Hal ini perlu dikemukakan, mengingat

8[10]Jazim Hamidi, dkk, op.,cit, hlm. 100-101


titik focus pembahasan buku ini pada UUD 1945 (pernah dua kali masa berlakunya), dan bukan

pembahasan pada UUD RIS (konstitusi RIS 1949) dan UUDS 1950.9[11]

Jelaslah bagi penulis bahwa berdasarkan Ketetapan MPRS NO. XX/MPRS/1966 yang dimaksud

UUD 1945 meliputi: pembukaan, Batang Tubuh yang terdiri dari 37 pasal, 4 pasal Aturan Peralihan dan 2

ayat Aturan Tabahan, serta Penjelasan otentik UUD. Adapun mengenai pernah berlakunya UUD 1945

dalam dua kurun waktu, dan UUD 1945 yang mana yang akan dipakai dalam penulisan ini, akan dibahas

secara tersendiri dalam subbab berikut.

Berbicara tentang Undang-Undang Dasar suatu Negara, menarik sekali untuk diketahui, dalam

kondisi Negara bagimana konstitusi itu lahir, siapa yang mempunyai kontribusi besar atas kelahiran

konstitusi, hendaknya dibawa kemana oleh para perumus atau pendiri Negara (the founding father) cita-

cita Negara itu digariskan. Disamping itu, dengan Undang-Undang Dasar akan diketahui tentang Negara

itu, baik bentuk, susunan Negara maupun system pemerintahannya.

A.A.H Struycken berpendapat bahwa Undang-Undang Dasar sebagai Konstitusi konstitusi tertulis

merupakan sebuah dokumen formal yang berisi:

1. Hasil perjuangan politik bangsa di waktu yang lampau.

2. Tingkat-tingkat tertinggi perkembangan ketatanegaraan bangsa.

3. Pandangan tokoh-tokoh bangsa yang hendak diwuudkan baik untuk waktu sekarang maupun

masa yang akan dating.

4. Suatu keingin, dengan mana perkembangan kehidupan ketatanegaraan bangsa hendak

dipimpin.

9[11] Dahlan Thaib, dkk, Teori dan Hukum Konstitusi (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), hlm. 79-80
Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi tertulis juga dituangkan dalam sebuah dokumen

formal, dimana dokumen tersebut telah dipersiapkan jauh sebelum Indonesia merdeka, dan baru

dirancang oleh Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), dengan dua

masa siding yaitu tanggal 29 Mei – 1 Juni 1945 dan tanggal 10 – 17 Juli 1945. Sebagai dokumen formal,

UUD 1945 detetapkan dan disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan

Indonesia.

Pasca-Indonesia merdeka, Undang-Undang Dasar 1945 pernah berlaku dua kali dalam suasana

ketatanegaraan dan kurun waktu yang berbeda. Bagaimana kronologis pemberlakuannya, akan

diuraikan berikut ini.10[12]

B. Pengertian Hukum Tata Negara

Hukum Tata Negara sebagai suatu cabang ilmu hukum, telah lama dikembangkan sebagai mata

kuliah dan dijadikan bahan diskusi diberbagai fakultas hukum perguruan tinggi di Indonesia. Di asia dan

afrika, misalnya setelah terjadinya pross de kolonisasi besar-besaran pasca perang dunia ke kedua,

semua Negara yang baru merdeka juga melengkapi pembentukannya dengan suatu naskah kostitusi. Hal

ini menyebabkan studi khusus mengenai konstitusi itu di berbagai Negara berkembang sejalan dengan

perkembangan kehidupan kenegaraan dilingkungan masing-masing.

Di Indonesia dalam rangka persiapan kemerdekaan sebuah Negara berdaulat yang lepasdari

penjajahan bangsa asing, pada tahun 1945 yang lalu, para tokoh-tokoh pergerakan nasional juga

mempersiapkan suatu naskah konstitusi yang kamudian kita kenal dengan Undang-Undang Dasar 1945.

UUD 1945 itu menjadi suatu naskah hukum dasar bagi bangsa Indonesia untuk menata kehidupan

10[12] Dahlan Thaib, dkk. Op.,cit, hlm. 80-82


kenegaraan, dan bahkan seperti termuat dalam pasal 31, pasal 32, pasal 33, pasal 34 Undang-Undang

Dasar 1945 itu sebenrnya menjadi hukum dasar bagi kehidupan social, ekonomi, dan kebudayaan di

Indonesia.

Oleh karena itu, memperbincangkan Hukum Konstitusi yang di Indonesia lazim disebut Hukum

Tata Negara, dalam konteks studi dan pendidikan hukum, menjadi suatu yang niscaya bagi setiap sarjana

hukum. Setiap calon sarjana hukum harus memhamai benar Undang-Undang Dasar negaranya sendiri

sebagai acuan dasar dari semua produk hukum yang harus dipelajari. Apalagi dalam Undang-Undang

Dasar 1945 itu, Negara Republik Indonesia disebut sebagai Negara yang berdasar atas hukum

(Rechsstaat ataupun The Rule of Law). Konsekuensinya adalah segala prilaku manusia Indonesia dalam

konteks kehidupan bernegara mengambil kira akan adanya Undang-Undang Dasar itu sebagai hukum

dasar tempat mengacunya semua tindakan dalam menata kehidupan bersama dalam masyarakat

Indonesia yang adil dan beradab sebagai konsep mengenai masyarakat madani Indonesia (Indonesian

civil society)

Sehubungan dengan itu, kedudukan dan peranan Ilmu Hukum Tata Negara itu dalam konteks

pembangunan Indonesia, dapat kita lihat dari beberapa segi yaitu:

a) Dalam konteks perkembangan ilmu pengetahuan

b) Dalam konteks pendidikan

c) Dalam konteks penataan struktur kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan yang sangat diperlukan

dalam rangka pelembagaan kehidupan kemasyarakatan, kebangsaan, kenegaraan dan wadah Negara

Kesatuan Republik Indonsia yang berdasar Pancasila.

Pemahaman yang komprehensif mengenai kedudukan dan peranan Hukum Tata Negara ini

penting agar para mahasiswa hukum sebagai calon sarjana hukum dapat mengerti lingkup kegunaan
ilmu ini bagi mereka di masa yang akan datang. Bahwa Hukum Tata Negara di Indonesia dikembangkan

sebagai suatu cabang ilmu hukum yang amat luas cakupannya, sehingga cakrawala pemikiran yang perlu

dikembangkan di dalamnya juga terbentang luas, tergantung bagaimana para mahasiswa dan sarjana

hukum yang menggelutinya berfikir dan bertindak dalam hubungannya dengan cabang Ilmu Hukum Tata

Negara itu.11[13]

Penataan Kehidupan Kenegaraan dan Kemasyarakatan

Hukum Tata Negara mempunyai peran penting dalam rangka penataan kehidupan kenegaraan

dan kemasyarakatan atas dasar sistem yang diacu dalam konstitusi. Dalam konstitusi, diatur dasar-dasar

penataan mengenai kekuasaan Negara, baik ata orang maupun atas benda. Kekuasaan atas orang dan

atas benda itu sejak zaman Romawi Kuno sudah dibedakan melalui konsep imperium versus dominium.

Dominium merupakan konsep mengenai the rule over things by the individuals, sedangkan imperium

merupakan konsep mengenai the rule over all individuals by the prince.

Perbedaan ini terus dikembangkan dalam sejarah sampai sekarang, bahkan dilembagakan dalam

studi ilmu hukum melalui pembedaan antara konsep hukum public dan hukum privat. Kedua bidang

hukum ini dikembangkan dengan obyek yang terpisah satu sama lain. Hukum publik menyangkut

kepentingan umum sedangkan hukum privat berkaitan dengan kepentingan perseorangan.Seperti itu

dikatatakan oleh Montesquieu, dengan hukum public (political law) kita memperoleh kebebasan

(liberety); sedangkan dengan hukum perdata (civil), kita memperoleh hak milik kita (property).

Masalah susunan sosial dan ekonomi rakyat dianggap sebagai urusan peribadi yang tidak ada

sangkut pautnya dengan Negara. Oleh karena itu, susunan social dan ekonomi masyarakat tidak

mendapat tempat dan naskah konstitusi.

11[13]Jimly asshiddiqie, Hukum Tata Negara dan Pilar-pilar Demokrasi, (Jakarta: Sinar Grafika, 2011),
hlm. 110-112
Namun demikian, terlepas dari adanya penyimpangan ini, yang jelas terlihat adanya

kecenderungan bahwa Negara-negara Eropa Timur pada umumnya mencantumkan ketentuan mengenai

tata sosial dan ekonomi ini secara tegas dalam konstitusinya. Sedangkan dalam konstitusi Negara-negara

Eropa Barat, pada umumnya tidak memuat soal kekuasaan Negara dibidang ekonomi itu dalam

konstitusinya. Hal ini, sebenernya dapat dihubungkan denaga cara berpikir masyarakat Eropa Timur

yang bersifat sosialistis atau karena adanya faktor ideology Negara yang komunistis, yang anti liberalism

dan individualisme, sehingga secara politik semua warga negaara mempunyai otonominya sendiri-

sendiri dan secara ekonomis kehidupan mereka tidak terlalu memerlukan atau menuntut peranan

Negara. Malahan, pada mula perkembangannya, paham ini justru menghendaki peranan Negara

mungkin.

Dalam kaitannya dengan ketentuan tata perekonomian itu, timbul pertanyaan sejauh mana hal

itu memperlihatkan dianutnya pengertian bahwa kedaulatan itu tidak saja meliputi kedaultan politik,

tetapi juga dan ekonomi sekaligus. Benarkah Negara-negara Eropa Barat, pada umumnya, memahami

bahwa kedaulata itu meliputi pula dimensi yag bersifaat ekonomis. Untuk menyebut beberapa contoh,

berikut ini dapat diperbandingkan struktur atau susunan dari kedua jenis konstitusi tersebut diatas.

C. Perkembangan Konsitusi di Indonesia

Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia ada empat macam Undang-Undang Dasar yang pernah

berlaku yaitu : (1) UUD 1945, yang berlaku antara 17 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949; (2)
Konstitusi Republik Indonesia Serikat (3) UUD sementara 1950 (4) UUD 1945, yang berlaku sejak di

keluarannya Dektrit Presiden 5 Juli 1959.12[14]

Undang-Undang Dasar 1945

UUD 1945 pertama kali disahkan berlaku sebagai konstitusi negara Indonesia dalam sidang Panitia

Persiapan Kemerdekaan Indoneisa pada tanggal 18 agustus 1945, yaitu sehari setelah kemerdekaan

negara Republik Indonesia diproklamasikan oleh Soekarno dan Moch Hatta pada tanggal 17 agustus

1945. Naskah UUD 1945 ini pertama kali dipersiapkan oleh satu badan bentukan pemerintah

balatentara jepang yang di beri nama Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai yang dalam bahasa Indonesia disebut

“Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekan Indonesia” (BPUPKI). Pimpinan dan anggota

badan ini dilantik oleh pemerintah balatentara jepang pada tanggal 28 Mei 1945 dalam rangka

memenuhi janji Pemerintah Jepang di depan parlemen (diet) untuk memberikan kemerdekaan kepada

bangsa Indonesia. Namun, setelah pembentukannya, badan ini tidak hanya melakukan usaha-usaha

persiapan kemerdekaan sesuai dengan tujuan pembentukannya, tetapi malah mempersiapkan naskah

Undang-undang Dasar sebagai dasar untuk mendirikan negara Indonesia merdeka.

Badan Penyeilidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) ini beranggotakan 62

orang, diketuai oleh K.R.T Radjiman Wedyodiningrat, serta Itbangse Yosio dan Raden Panji Suroso,

masing-masing sebagai wakil ketua. Persidangan badan ini dibagi dalam dua periode, yaitu masa sidang

pertama dari tanggal 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945, dan masa sidang kedua dari tanggal 10 Juli

sampai 17 Juli 1945. Dalam kedua masa sidang itu, fokus pembicaraan dalam siding-sidang BPUPKI

langsung tertuju pada upaya mempersiapkan pembentukan sebuah negara merdeka. Hal ini terlihat

selama masa persidangan pertama, pembicaraan tertuju pada soal philosofische grondslag, dasar

falsafah yang harus dipersiapkan dalam rangka negara Indonesia merdeka. Pembahasan mengenai hal-

12[14]Ni’matul Huda. Hukum Tata Negara Indonesia.(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 132
hal teknis tentang bentuk negara dan pemerintahan baru dilakukan dalam masa persidangan kedua dari

anggal 10 Juli sampai dengan 17 Agustus 1945.

Yang terpenting disadari adalah behawa keberadaan UUD 1945 itu sesungguhnya memang

bersifat sementara dan dimaksudkan sebagai UUD untuk sementara waktu saja. Semangat demikian

mewakili sikap dan pandangan the founding fathers sendiri mengenai naskah UUD 1945. Karena

semangat demikian itu, ditambah pula oleh kenyataan sebagai negara yang baru merdeka, masih harus

melakukan banyak hal yang tidak sepenuhnya dapat diikat oleh aturan-aturan konstitusional yang ketat,

maka UUD 1945 memang tidak selalu dijadikan referensi. Misalnya, menurut ketentuan UUD 1945,

sistem pemerintahan yang dianut adalah sistem presidensiil. Atas dasar itu, pada tanggal 2 september

1945 ditentukanlah susunan cabinet pertama di bawah tanggung jawab Presiden soekarno. Akan tetapi,

baru dua bulan setelah itu, yaitu tepatnya pada tanggal 14 November 1945, Pemerintah mengeluarkan

Maklumat yang berisi perubahan sistem Kabinet dari Sistem presidensiil ke sistem parlementer.

Konstitusi RIS 1945

Kepergian Pemerintah Balatentara Jepang dari tanah Air di manfaatkan oleh Pemerintah Belanda

untuk menjajah kembali Indonesia. Pemerintah Belanda menerapkan poltik adu domba dengan cara

mendirikan dan mensponsori berdirinya beberapa negara kecil di berbagai wilayah nusantara, seperti

Sumatra,Indonesia Timur Pasundan, Jawa Timur, dan sebagainya.

Sejalan dengan hal itu, tentara Belanda melakukan Agresi I pada tahun 1947 dan Agresi II pada

tahun 1948 untuk maksud kembali menjajah Indonesia. Dalam keadaan terdesak, atas Pengaruh

Perserikatan Bangsa-bangsa, pada tanggal 23 agustus 1949 sampai dengan tanggal 2 November 1949

diadakan Konferensi Meja Bundar di Den Hag. Konferensi ini dihadiri oleh wakil-wakil dari Republik

Indonesia dan Bijeenkomst voor Federal Overleg (BFO) serta wakil Nederland dan komisi Perserikatan

Bangsa-Bangsa untuk Indonesia.


Konferensi Meja Bundar tersebut berhasil menyepakati tiga hal, yaitu sebagai berikut.

1. Mendirikian negara Republik Indonesia Serikat.

2. Penyerahan kedaulatan kepada RIS yang berisi tiga hal, yaitu (a.) piagam penyerahan kedaulatan dari

kerajaan Belanda kepada Pemerintahan RIS; (b) status uni dan; (c) persetujuan perpindahan.

3. Mendirikan uni antara Republik Indonesia Serikat dengan Kerajaan Belanda.

Naskah konstitusi Republik Indonesia serikat disusun bersama oleh delegasi Republik Indonesia

dan dilegasi BFO ke konferensi Meja Bundar itu. Selanjutnya, Konstitusi RIS dinyatakan berlaku mulai

tanggal 27 Desember 1949.

Dengan berdirinya negara Republik Indonesia Serikat berdasarkan konstitusi RIS Tahun 1949 itu,

wilayah Republik Indonesia sendiri masih tetap ada di samping negara federal Republik Indonesia

Serikat. Konstitusi RIS yang disusun dalam rangka konferensi Meja Bundar di Den Haag pada tahun 1949

itu, pada pokoknya juga dimaksudkan sebagai UUD yang bersifat sementara. Disadari bahwa lembaga

yang membuat dan menetapkan UUD itu tidaklah representative. Oleh karena itu, dalam pasal 186

Konstitusi RIS ini ditegaskan ketentuan bahwa konstituante bersama-sama dengan Pemerintah selekas-

lekasnya menetapkan Konstitusi Republik Indonesia Serikat. Dari ketentuan Pasal 186 ini, jelas sekali

artinya bahwa konstitusi RIS 1949 yang ditetapkan di den hag itu hanyalah bersifat sementara saja.

Undang-Undang Dasar Sementara 1950

Dalam rangka persiapan ke arah itu, untuk kepeluan menyiapkan satu naskah Undang-Undang

Dasar, dibentuklah suatu Panitia bersama yang akan menyusun rancangannya. Setelah selesai,

rnerancangan naskah Undang-Undang Dasar itu kemudian disahkan oleh Badan Pekerja Komite Nasional

Pusat pada tanggal 12 Agustus 1950, dan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat Republik Indonesia

Serikat pada tanggal 14 Agustus 1950. Selanjutnya UUD baru ini diberlakukan secara resmi mulai tanggal

17 Agustus 1950, yaitu dengan ditetepkannya Undang-Undang No.7 Tahun 1950. UUDS 1950 ini bersifat
mengganti, sehingga isinya tidak hanya mencerminkan perubahan terhadap Konstitusi Republik

Indonesia Serikat Tahun 1949, tetapi menggantikan naskah Konstitusi RIS itu dengan naskah baru sama

sekali dengan nama Undang-Undang Dasar Sementara Tahun 1950.

Sayangnya, majelis Konstituante ini tidak atau belum sampai berhasil menyelesaikan tugasnya

untuk menyusun Undang-Undang Dasar baru ketika Presiden Soekarno Berkesimpulan bahwa

Konstituante telah gagal, dan atas dasar itu ia mengeluarkan Dekrit tanggal 5juli 1959 yang

memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai UUD negara Republik Indonesia selanjutnya. Memang

kemudian timbul kontroversi yang luas berkenaan dengan status hukum berlakunya Dekrit Presiden

yang dituangkan dalam bentuk keputusan Presiden itu sebagai tindakan hukum yang sah untuk

memberlakukan kembali Undang-Undang Dasar 1945.

Terlepas dari kontroversi itu, yang jelas, sejak Dekrit 5 Juli 1959 sampai sekarang, UUD 1945 terus

berlaku dan diberlakukan sebagai hukum dasar. Sifatnya masih tetap sebagai UUD sementara.13[15]

Pada periode UUDS 1950 ini diberlakukan system Demokrasi Parlementer yang sering disebut

demokrasi liberal. Pada periode ini cabinet selalu silih berganti, sehingga pembangunan tidak berjalan

lancar karena masing-masing dari partai lebih memperhatikan kepentingan partai atau golongannya.

Setelah Negara RI dengan UUDS 1950 dan system demokrasi liberal yang di alami rakyat Indonesia

hamper 9 tahun, maka rakyat Indonesia sadar bahwa UUDS 1950 dengan system demokrasi liberal tidak

cocok karena tidak sesuai dengan jiwa pancasila dan UUD 1945.

UUD 1945 Pasca Dekrit Presiden 5 Juli 1959

13[15] Jimly asshiddiqie, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), Hlm.
32-40
Salah satu berkah dari reformasi adalah perubahan UUD 1945. Sejak keluarnya dekrit 5 juli 1959

yang memerintahkan kembali ke UUD 1945 sampai berakhirnya kekuasaan presiden Soeharto, praktis

UUD 1945 belum pernah di rubah untuk disempurnakan. Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya

bukan menjungjung tinggi nilai kedaulatan rakyat, tetapi yang di jungjung tinggi adalah kedauatan

pemimpin, itulah yang sagat dominan. Era ini melahirka system diktaktor dalam kepemimpinan

Negara.Presiden Soekarno telah gagal keluar dari piliahan dilematisnya antara mengembagkan

demokrasi melalui system multi partai dengan keinginan untuk menguasai seluruh partai dalam rangka

mempertahankan kekuasaannya.

Gagasan perubahan UUD 1945 menjadi tuntunan yang tidak bisa dielakan lagi. Mengapa UUD

1945 harus dilakukan peubahan bagaimana alasan dapat dikemukakan mengapa perubahan itu penting

dan harus dilakukan. Secara filosofis, pentingnya perubahan UUD 1945 adalah pertama ,karena UUD

1945 adalah moment opname dari berbagai kekuatan politik dan ekonomi yang dominan pada saat

dirumuskannya konstitusi itu. Setelah 54 tahun, tentu terdapat berbagai perubahan baik di tingkat

nasional maupun di tinggkat global. Hal ini tentu saja belum tercakup didalam UUD 1945 karen saat iu

belum tampak perubahan tersebut. Kedua, UUD 1945 disusun oleh manusia sesuai kodratnya tidak akan

pernah sampai kepada tingkat kesempurnaan. Pekerjan yang dilakukan manusia tetap memiliki berbagai

kemungkinan kelemahan maupun kekurangan.

Secara yuridis, para perumus UUD 1945 sudah menunjukan kearifan bahwa apa yang mereka

lakukan ketika UUD 1945 disusun tentu akan berbeda kondisinya dimasa yang akan datang dan suatu

saat mungkin akan mengalami perubahan. Baik dilihat dari sejarah penyusunan maupun sebagai produk

hukum yang mencerminkan pikiran dan kepentingan yang ada pada saat itu, UUD akan aus dimakan

masa apabila tidak diadakan pembaruan sesuai dengan dinamika kehidupan masyarakat, berbangsa, dan

bernegara di bidang politik, ekonomi, social maupun budaya.


Untuk itu mereka (perumus UUD 1945) membuat pasal perubahan didalan UUD 1945, yaitu

pasal 37. Tetapi dalam ketentuan dalam pasal 37 sangat simple karena hanya mengatur segi

pengambilan keputusan belaka,sehingga sulit untuk di terapkan karena tidak dijelaskan bagian mana

saja yang boleh dan yang tidak bolrh untuk di ubah, bagaimana cara mengubahnya dan seterusnya.

Tidak ada ketentuan lainmenyangkut perubahan UUD 1945 sebab tambahan muncul kemudian, yaitu

melalu interprestasi historis dan filosofis oleh ketetapan MPR no.XX/MPRS/1966, bahwa pembukaan

UUD 1945 tidak dapat diubah. MPR hasil pemilu 1999 juga bersepakat untuk tidak merubahnya.14[16]

Dorongan memperbaharui atau mengubah UUD 1945 didasarkan pula pada kenyataan bahwa

UUD 1945 sebagai subsistem tatanan konstitusi dalam pelaksanaanya berjalan tidak sesuai dengan

staatside mewujudkan Negara berdasarkan konstitusi, seperti tegaknya tatanam demokrasi, Negara

berdasarkan atas hukum yang menjamin hal-hal seperti hak asasi manusia, kekuasaan kehakiman yang

merdeka, serta keadilan social bagi seluruh rakyat Indonesia. Hal yang terjadi adalah etatisme,

otoriterisme atau kediktaktoran yang menggunakn UUD 1945 sebagai sandaran.15[17]

Di tenggah proses perubahan UUD 1945, PAH I meyusun kesepakatan dasar berkaitan dengan

perubahan UUD 1945. Kesepakatan dasar itu sendiri dari lima butir yaitu :

1. Tidak mengubah pembukaan UUD 1945;

2. Tetap memperthankan Negara Kesauan Republik Indonesia;

3. Mempertegas sistem pemerintahan presidensial;

4. Penjelasan UUD 1945 ditiadakan serta hal-hal normative dalam dalam penjelasan dimasukan kedalam

pasal-pasal;

5. Perubahan dilakukan dengan cara “adendum”

14[16] Ni’matul Huda, op., cit. hlm. 144 - 149

15[17] Bagir Manan, Teori dan Politik Konstitusi (Yogyakarta: FH UII Press, 2003), hlm. 11.
Dalam pasal-pasal UUD 1945 tidak ada satu pasalpun yang melarang untuk mengubah

pembukaan UUD 1945. Akan tetapi oleh sebagian besar anggota MPR sebagaimana diuraikan di atas,

disepakati pembukaan UUD 1945 sebagai cita-cita luhur bangsa Indonesia sehingga tidak boleh diubah

serta dipandang sudah final. Pembukaan UUD 1945 memuat dasar filosofis dan dasar normative yang

mendasari seluruh pasal dalam UUD 1945. Mengandung staatside berdirinya Negara Kesatuan Republik

Indonesia (NKRI), tujuan (haluan) Negara , serta dasar Negara yang harus tetap di pertahankan.

Kesepakatan dasar untuk mempertegas sistem pemerintahan presidensial bertujuan untuk

memperkukuh sistem pemerintahan yang stabil dan demokratis yang dianut oleh Republik Indonesia

dan telah dipilih oleh pendiri Negara pada tahun 1945. Dalam sistem ini terdapat prinsip penting yaitu :

(1) Presiden dan Wakil Presiden merupakan satu institusi penyelenggaraan kekuasaan eksekutif Negara

tertinggi dibawah Undang-Undang Dasar. (2) Presiden dan Wakil Presiden dipilih oleh rakyat dank arena

itu secara poliik tidak bertanggung jawab kepada Majelis Permusyawaratan Rakyat atau lembaga

parlemen, melainkan bertanggung jawab langsung kepada rakyat yang telah memilihnya. (3) Presiden

dan Wakil Presiden dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum apabila Presiden dan

Wakil Presiden melakukan pelanggaran hukum dan konstitusi. (4) Para mentri adalah pembantu

presiden. Mentri diangkat dan diberhentikan oleh Presiden karena itu bertanggung jawab kepada

Presiden, bukan dan tidak bertanggung jawab kepada parlemen. (5) untuk membatasi kekuasaan

Presiden yang kedudukanya dalam system presidensial sangat kuat sesuai kebutuhan untuk menjamin

stabilitas pemerintahan, ditentukan pula bahwa masa jabatan Presiden lima tahunan tidak boleh dijabat

oleh orang yang sama lebih dari dua masa jabatan.16[18]

Dalam keempat periode berlakunya ke empat macam UUD itu, UUD 1945 berlaku dalam dua

kurun waktu. Kurun waktu pertama telah berlaku UUD 1945 sebagaimana di undangkan dalam berita

16[18]Ni’matul Huda .Op., cit. hlm. 150-154


Republik Indonesia tahun II No.7. Kurun waktu kedua berlaku sejak presiden Soekarno mengeluarkan

dekrit presiden 5 juli 1959 sampai sekarang. Melalui dekrit itu, telah dinyatakan berlakunya kembali

UUD 1945.

Pada masa ini terdapat berbagai penyimpangan UUD 1945, diantaranya :

1. Presiden mengangkat ketua dan wakil ketua MPR atau DPR dan MA serta wakil ketua DPA menjadi

menteri negara

2. MPRS menetapkan Soekarno sebagai presiden seumur hidup

Pengertian Amandemen UUD 1945

Secara etimologis, amandemen berasal dari Bahasa Inggris :“To Amend” diartikan sebagai To

Make Better, To Remove The Faults (untuk menjadikannya lebih baik, dan menghapuskan kesalahan-

kesalahan). Selanjutnya amandement diartikan sebagai A Change For The Better, A Correction Of Error

(merubahnya agar lebih baik, memeriksa yang salah).

Menurut Sujatmiko, amandemen yang pokok itu tidak serampangan dan merupakan hal yang

serius. Konstitusi itu merupakan aturan tertinggi bernegara. Beliau berpendapat bahwa konstitusi di

negara kita belum sepenuhnya sempurna.Jika ingin menyempurnakan konstitusi satu-satunya pilihan

ialah amandemen.

Dari beberapa referensi di atas amandemen haruslah dipahami sebagai penambahan, atau

perubahan pada sebuah konstitusi yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari naskah aslinya, dan

diletakkan pada dokumen yang bersangkutan.Pemahaman lebih lanjut adalah amandemen bukan

sekedar menyisipkan kata-kata atau perihal baru dalam teks.

Di sisi lain, amandemen bukan pula penggantian. Mengganti berarti melakukan perubahan total

dengan merumuskan konstitusi baru mencakup hal-hal mendasar seperti mengganti bentuk negara,
dasar negara, maupun bentuk pemerintahan. Dalam amandemen UUD 1945 kiranya jelas bahwa tidak

ada maksud-maksud mengganti dasar negara Pancasila, bentuk negara kesatuan, maupun bentuk

pemerintahan presidensiil.

Salah satu bentuk komitmen untuk tidak melakukan perubahan terhadap hal-hal mendasar diatas

adalah kesepakatan untuk tidak melakukan perubahan atas Pembukaan UUD 1945. Dari penjelasan

tersebut jelas bahwa yang harus mendasari Amandemen UUD 1945 adalah semangat menyempurnakan,

memperjelas, memperbaiki kesalahan, dan melakukan koreksi terhadap Pasal-Pasal yang ada, tanpa

harus melakukan perubahan terhadap hal-hal yang mendasar dalam UUD 1945 itu sendiri.

Alasan dan Kesepakatan Amandemen UUD 1945

Berikut adalah alasan-alasan terjadinya perubahan (amandemen) dalam UUD 1945.

1. Lemahnya checks and balances (koreksi dan menyeimbangkan) pada institusi-institusi ketatanegaraan.

2. Executive heavy, yaitu kekuasaan terlalu dominan berada di tangan Presiden (hak prerogatif dan

kekuasaan legislatif)

3. Pengaturan terlalu fleksibel (Pasal 7 UUD 1945 sebelum amandemen)

4. Terbatasnya pengaturan jaminan akan HAM

5. Segi historis, pembuatan UUD 1945 ditetapkan dalam suasana tergesa-gesa, sehingga memuat banyak

kekurangan.

6. Segi substansi dan isi UUD 1945, di mana UUD 1945 memiliki keterbatasan dan kelemahan.

7. Segi sosiologis, yaitu adanya amanat dari rakyat untuk melakukan amandemen.
Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka terbentuklah kesepakatan-kesepakatan mengenai

amandemen UUD 1945, diantaranya sebagai berikut:

1. Amandemen dilakukan oleh antar fraksi MPR.

2. Amandemen terdiri dari pembukaan dan batang tubuh mempunyai kedudukan berlainan, namun

terjalin dalam hubungan bersifat kausal organis.

3. Kesepakatan antara fraksi MPR dalam amandemen UUD 1945, antara lain sebagai berikut.

a. Tidak mengubah pembukaan UUD 1945.

b. Tetap mempertahankan NKRI.

c. Tetap mempertahankan sistem presidesial.

d. Bagian penjelasan UUD 1945 yang normatif, dimasukan dalam batang tubuh.

e. Perubahan addendum, yaitu satu kesatuan antara perubahan yang diubah dengan yang tidak diubah.

Sejarah Amandemen UUD 1945

1. Amandemen I

Amandemen yang pertama kali ini disahkan pada tanggal 19 Oktober 1999 atas dasar SU MPR 14-21

Oktober 1999. Amandemen yang dilakukan terdiri dari 9 Pasal, yakni: Pasal 5, Pasal 7, Pasal

9, Pasal 13, Pasal 14, Pasal 15, Pasal 17, Pasal 20 dan Pasal 21.

Inti dari amandemen pertama ini adalah pergeseran kekuasaan Presiden yang dipandang terlalu

kuat (executive heavy).


2. Amandemen II

Amandemen yang kedua disahkan pada tanggal 18 Agustus 2000 dan disahkan melalui sidang umum

MPR 7-8 Agustus 2000. Amandemen dilakukan pada 5 Bab dan 25 Pasal. Berikut ini rincian perubahan

yang dilakukan pada amandemen kedua.

Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 18B, Pasal 19, Pasal 20, Pasal 20A, Pasal 22A, Pasal 22B, Pasal 25E, Pasal

26, Pasal 27, Pasal 28A, Pasal 28B, Pasal 28C, Pasal 28D, Pasal 28E, Pasal 28F, Pasal 28G, Pasal 28H, Pasal

28I, Pasal 28J, Pasal 30, Pasal 36A, Pasal 36B, Pasal 36C.

BAB IXA, BAB X, BAB XA, BAB XII, dan BAB XV.

Inti dari amandemen kedua ini adalah Pemerintah Daerah, DPR dan Kewenangannya, Hak Asasi

Manusia, Lambang Negara dan Lagu Kebangsaan.

3. Amandemen III

Amandemen ketiga disahkan pada tanggal 10 November 2001 dan disahkan melalui ST MPR 1-9

November 2001. Perubahan yang terjadi dalam amandemen ketiga ini terdiri dari 3 Bab dan 22 Pasal.

Berikut ini rincian dari amandemen ketiga.

Pasal 1, Pasal 3, Pasal 6, Pasal 6A, Pasal 7A, Pasal 7B, Pasal 7C, Pasal 8, Pasal 11, Pasal 17, Pasal 22C,

Pasal 22D, Pasal 22E, Pasal 23, Pasal 23A, Pasal 23C, Pasal 23E, Pasal 23F, Pasal 23G, Pasal 24, Pasal 24A,

Pasal 24B, Pasal 24C.

BAB VIIA, BAB VIIB, dan BAB VIIIA.


Inti perubahan yang dilakukan pada amandemen ketiga ini adalah Bentuk dan Kedaulatan Negara,

Kewenangan MPR, Kepresidenan, Keuangan Negara, Kekuasaan Kehakiman.

4. Amandemen IV

Sejarah amandemen UUD 1945 yang terakhir ini disahkan pada tanggal 10 Agustus 2002 melalui ST

MPR 1-11 Agustus 2002. Perubahan yang terjadi pada amandemen ke-4 ini terdiri dari 2 Bab dan 13

Pasal.

Pasal 2, Pasal 6A, Pasal 8, Pasal 11, Pasal16, Pasal 23B, Pasal 23D, Pasal 24, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 33,

Pasal 34, Pasal 37.

BAB XIII dan BAB XIV.

Inti Perubahan amandemen ini DPD sebagai bagian MPR, Penggantian Presiden, pernyataan

perang, perdamaian dan perjanjian, mata uang, bank sentral, pendidikan dan kebudayaan,

perekonomian nasional dan kesejahteraan sosial, perubahan UUD.

Tujuan Amandemen UUD 1945

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari amandemen UUD 1945 ialah

untuk menyempurnakan UUD yang sudah ada agar tetap sesuai dengan perkembangan zaman.Adapun

amandemen yang dilakukan bertujuan untuk membawa bangsa ini menuju perubahan yang lebih baik di

berbagai bidang dengan senantiasa selalu memperhatikan kepentingan rakyat.

Tujuan amandemen UUD 1945 menurut Husnie Thamrien, adalah sebagai berikut:
1. Untuk menyempurnakan aturan dasar mengenai tatanan negara agar dapat lebih mantap dalam

mencapai tujuan nasional serta menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan pelaksanaan

kekuatan rakyat,

2. Memperluas partisipasi rakyat agar sesuai dengan perkembangan paham demokrasi,

3. Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan dan perlindungan hak agar sesuai dengan

perkembangan HAM dan peradaban umat manusia yang menjadi syarat negara hukum,

4. Menyempurnakan aturan dasar penyelenggaraan negara secara demokratis dan modern melalui

pembagian kekuasan secara tegas sistem check and balances yang lebih ketat dan transparan dan

pembentukan lembaga-lembaga negara yang baru untuk mengakomodasi perkembangan kebutuhan

bangsa dan tantangan jaman,

5. Menyempurnakan aturan dasar mengenai jaminan konstitusional dan kewajiban negara memwujudkan

kesejahteraan sosial mencerdaskan kehidupan bangsa, menegakkan etika dan moral serta solidaritas

dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara sesuai dengan harkat dan martabat

kemanusiaan dalam perjuangan mewujudkan negara kesejahteraan,

6. Melengkapi aturan dasar dalam penyelenggaraan negara yang sangat penting bagi eksistensi negara dan

perjuangan negara mewujudkan demokrasi,

7. Menyempurnakan aturan dasar mengenai kehidupan bernegara dan berbangsa sesuai dengan

perkembangan aspirasi kebutuhan dan kepentingan bangsa dan negara Indonesia ini sekaligus

mengakomodasi kecenderungannya untuk kurun waktu yang akan datang.

D. Kedudukan Konstitusi didalam Hukum Tata Negara


Diantara Para ahli hukum paling sedikit ada empat pandangan dalam memahami kedudukan

atau keterkaitan antara “hukum tata negara” dan “hukum konstitusi”, dapat dikaji seperti dibawah ini.

Pertama, Djokosoetono, lebih menyukai penggunaan istilah Jerman, Vefassunglehre (Teori

Konstitusi) daripada istilah Vefassungrecht (Hukum Tata Negara Positif). Vefassunglehre atau “teori

konstitusi” menjadi dasar untuk mempelajari Hukum Tata Negara dalam arti positif, yaitu “hukum tata

negara Indonesia”. Dalam membedakan “teori konstitusi” dan “hukum konstitusi”, ia mengemukakan

bahwa ”teori konstitusi” lebih luas lingkup kajiannya daripada hukum konstitusi”, karena teori konstitusi

cakupan kajiannya selain mengkaji persoalan-persoalan yang berdimensi yuridis, juga mengkaji masalah-

masalah yang berdimensi non-yuridis, yakni faktor-faktor kekuataan riil (reele-machsfactoren, istilah

Hoetink) atau keadaan alam dan situasi budaya (Natur und Kulturbedingungen, istilah Herman Heller)

yang mempengaruhi penerapan norma atau kaidah-kaidah ketatanegaraan. Di balik itu Verfassungrecht

adalah “hukum tata negara dalam arti positif atau “Hukum Konstitusi” hanya mengkaji dogmatika

hukum tata negara.

Jadi Menurut Djokosoetono Hukum Konstitusi sama dengan Hukum Tata Negara, Sedangkan

teori konstitusi lebih luas, karena mengkaji juga aspek politik dan sosial budaya yang mempengaruhi

hukum tata negara baik dalam teori maupun praktik.

Kedua, diantara ahli hukum (Bagir Manan; 2004; 5), berpendapat bahwa istilah “Hukum Tata

Negara” yang berasal dari terjemahan bahasa Inggris Constitutional Law dikatakan identik atau sama

dengan “Hukum Konstitusi”.

Ketiga, pendapat yang secara jelas atau tajam membedakan Hukum Tata Negara dan Hukum

Konstitusi, didasarkan pada pandangan bahwa dari segi istilah hukum tata negara dianggap lebih luas

daripada hukum konstitusi. Hukum Konstitusi dipandang lebih sempit, karena hanya membahas hukum

dalam perspekti teks undang-undang dasar. Di balik itu Hukum Tata Negara, kajiannya tidak hanya
terbatas pada undang-undang dasar, tetapi juga mengkaji faktor-faktor non-hukum yang mempengaruhi

penyelenggaraan kekuasaan negara. (Jimli Asshiddiqie; 2006:3)

Keempat, jika dicermati perbedaan Hukum Tata Negara dan Hukum Konstitusi tidak prinsipil,

akan tetapi hanya perbedaan gradual. Perbedaan gradual itu dapat dicermati dari dua sisi, yaitu:

1. Dari segi focus of interest (pusat perhatian) atau hampiran, Hukum Konstitusi, fokus pada studi norma-

norma atau kaidah-kaidah teks undang-undang dasar, sedangkan, hukum tata negara, fokus pada studi

kekuasaan negara, yakni tentang tugas dan wewenang lembaga-lembaga negara termasuk pembagian

kekuasaan, atau prinsip pemisahan kekuasaan negara dengan asas “cheks and balance”.

2. Dari sudut pendalaman studi, karena begitu kompleks masalah-masalah ketatanegaraan, maka “Hukum

Konstitusi” dapat dikatakan merupakan studi pendalaman terhadap konstitusi dari perspektif Hukum

Tata Negara dalam arti sempit.

Dalam kaitan pendapat keempat, dapat dijadikan acuan pandangan Philipus M. Hadjon (1994:

4), bahwa Hukum Konstitusi adalah Hukum Tata Negara dalam arti sempit, tidak termasuk Hukum

Administrasi.17[19]

17[19] Dewa Gede Atmaja, Hukum Konstitusi, (Malang: Setara Press, 2012), Hlm. 3-6
Kesimpulan

1. Pengertian konstitusi

Istilah konsitusi berasal dari bahasa Prancis, constituer.Kata konstitusi berarti pembentukan

yang berasal dari kata kerja, yaitu constituer (Prancis) yang berarti membentuk.

Konstitusi merupakan hukum yang lebih tinggi atau bahkan paling tinggi dan paling fundamental

sifatnya karena konstitusi tersebut sendiri merupakan sumber legitimasi atau landasan autorisasi

bentuk-bentuk hukum atau peraturan-peraturan perundang-undangan lainnya. Sesuai dengan prinsip

hukum yang berlaku universal, maka agar peraturan-peraturan yang tingkatannya berada dibawah

undang-undang dasar dapat berlaku dan diberlakukan, pertaturan-peraturan tersebut tidak boleh

bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi.

2. Pengertian Hukum Tata Negara

Hukum Tata Negara sebagai suatu cabang ilmu hukum, telah lama dikembangkan sebagai mata

kuliah dan dijadikan bahan diskusi diberbagai fakultas hukum perguruan tinggi di Indonesia.

Hukum Tata Negara di Indonesia dikembangkan sebagai suatu cabang ilmu hukum yang amat

luas cakupannya, sehingga cakrawala pemikiran yang perlu dikembangkan di dalamnya juga terbentang

luas, tergantung bagaimana para mahasiswa dan sarjana hukum yang menggelutinya berfikir dan

bertindak dalam hubungannya dengan cabang Ilmu Hukum Tata Negara itu.

3. Perkembangan Konstitusi di Indonesia

Dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia ada empat macam Undang-Undang Dasar yang pernah

berlaku yaitu : (1) UUD 1945, yang berlaku antara 17 Agustus 1945 sampai 27 Desember 1949; (2)
Konstitusi Republik Indonesia Serikat (3) UUD sementara 1950 (4) UUD 1945, yang berlaku sejak di

keluarannya Dektrit Presiden 5 Juli 1959

4. Kedudukan Konstitusi didalam Hukum Tata Negara

Menurut Djokosoetono Hukum Konstitusi sama dengan Hukum Tata Negara, Sedangkan teori

konstitusi lebih luas, karena mengkaji juga aspek politik dan sosial budaya yang mempengaruhi hukum

tata negara baik dalam teori maupun praktik.


DAFTAR PUSTAKA

A. Buku

Abas, Wawan. Perkembangan Tata Negara Indonesia. 1983. Bandung: Armico

Asshiddiqie, Jimly. Hukum Tata Negara dan Pilar-Pilar Demokrasi. 2011.

Jakarta: Sinar Grafika

Asshiddiqie, Jimly. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. 2011.

Jakarta: Sinar Grafika

Atmadja, Dewa Gede. Hukum Konstitusi. 2012. Malang: Setara Press

Budiarjo, Miriam. Demokrasi di Indonesia. 1988. Jakarta: Gramedia

Hamidi, Jazim, dkk. Teori Hukum Tata Negara. 2012. Jakarta: Salemba

Humanika

Huda, Ni’matul. Hukum Tata Negara Indonesia. 2013. Jakarta: Raja Grafindo

Persada

Magnis-Suseno, Franz. Filsafat Sebagai Ilmu Kritis. 1992. Jakarta: Kanisius

Manan, Bagir. Teori dan Politik Konstitusi. 2003. Yogyakarta: FH UII Press

Thaib, Dahlan. Teori dan Hukum Konstitusi. 2013. Jakarta: RajaGrafindo Persada

B. TAP MPR
Ketetapan MPR Nol IX/MPR/1999 tentang Penugasan Badan Pekeja Majelis

Pemusyawaratan Rakyat Republik Indonesia

Ketetapan MPR No. II/MPR/1999 tentang Peraturan Tata Tertib Majelis

Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.

18[1]Franz Magnis-Suseno, Filsafat Sebagai Ilmu Kritis, (Jakarta: Kanisius, 1992), hlm.
230

19[2]Abas, Wawan.Perkembangan Tata Negara Indonesia.(Bandung: Armico. 1983)


Hlm.1

Diposting oleh Himayani Anjayati di 22.02

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke


Pinterest

Label: MAKALAH HUKUM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Langganan: Posting Komentar (Atom)


Cari Blog Ini

Translate
http://himayanii.blogspot.co.id/2015/02/perkembangan-konstitusi-dan-dinamika.html

MAKALAH SEJARAH
PERKEMBANGAN &
TERBENTUKNYA KONSTITUSI
INDONESIA
Miftah Farid

1 Comment

Pengetahuan, Sejarah

Wednesday, 6 March 2013

A. Latar Belakang

Undang-Undang Dasar atau konstitusi Negara Republik Indonesia disahkan dan


ditetapkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18
Agustus 1945, istilah Undang-Undang Dasar 1945( UUD 1945 ), pada saat itu ia hanya
bernama”OENDANG-OENDANG DASAR” tanpa tahun 1945. Baru kemudian dalam Dekrit
Presiden 1959 memakai UUD 1945 sebagaiamana yang di undangkan dalam Lembaran
Negara No.75 tahun 1959.

Di dalam perjalanan sejarah ketatanegaraan di Indonesia telah membuktikan bahwa


pernah berlaku tiga macam Undang-Undang Dasar ( Konstitusi )dalam empat periode
pergantian konstitusi dari awal mula Indonesia merdeka hingga sekarang yakni :

1. UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949.

2. Konstitusi RIS pada tanggal 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950.

3. UUD 1950 pada tanggal 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959.


4. UUD 1945 sejak dikeluarkanya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 – sekarang.

(Dahlan Thaib, Jazim Hamidi, dan Ni’matul Huda, 2008 : 98-99 )

Jadi secara historis konstitusi di Indonesia ialah UUD 1945 yang merupakan juga
salah satu Konstitusi yang paling singkat dan sederhana di dunia. UUD 1945 terdiri dari
16 Bab, 37 Pasal, 4 Pasal Peralihan dan 2 ayat Aturan Tambahan itu yang mengatur lima
unsur yaitu kekuasaan negara, hak rakyat, kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
Sejarah pembuatannya yang kilat menyebabkan Soekarno pada waktu memberlakukan
UUD 1945 bersifat sementara dan dapat disempurnakan pada saat nantinya sesuai
dengan perkembangan/perubahan di dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia.(
Valina Singka Subekti ,2008:1-2 )

Baca Juga : Sistem Pemerintahan Indonesia Orde Lama dengan Orde Baru

B. Rumusan Masalah

Mengapa Pemahaman Sejarah Perkembangan & Terbentuknya Konstitusi di Indonesia


Penting Bagi Calon Guru Bidang Studi PKn ?

BAB II

SEJARAH PERKEMBANGAN & TERBENTUKNYA KONSTITUSI DI INDONESIA

A. Latar Belakang Perkembangan Konstitusi Indonesia

Undang-Undang Dasar sebagai konstitusi tertulis yang di tuangkan dalam sebuah


dokumen formal ,dimana dokumen tersebut telah dipersiapkan jauh sebelum Indonesia
merdeka,dan baru dirancang oleh Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan
Kemerdekaaan Indonesia ( BPUPKI ),dengan dua masa sidang yaitu tanggal 29 Mei – 1
juni 1945 dan tanggal 10 Juli – 17 Juli 1945. Sebagai dokumen formal,UUD 1945
ditetapkan dan disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sejalan dengan itu sejarah ketatanegaraan di Indonesia
telah membuktikan bahwa pernah berlaku tiga macam Undang-Undang Dasar (
Konstitusi )dalam empat periode pergantian konstitusi dari awal mula Indonesia
merdeka hingga sekarang yakni :

1. UUD 1945 yang berlaku antara 18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949.

2. Konstitusi RIS yang berlaku antara 27 Desember 1949 – 17 Agustus 1950.

3. UUD 1950 yang berlaku antara 17 Agustus 1950 – 5 Juli 1959.

4. UUD 1945 yang berlaku sejak dikeluarkanya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 – sekarang.

(Dahlan Thaib, Jazim Hamidi, dan Ni’matul Huda, 2008 : 98-99 )

B. Sejarah Terbentuknya UUD 1945 sebagai Konstitusi di Indonesia

1. Pembahasan oleh BPUPKI

Naskah UUD 1945 pertama kali dipersiapkan oleh suatu badan bentukan
pemerintahan Jepang yang diberi nama “Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai” yang dalam
bahasa Indonesia “Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia”
(BPUPKI). BPUPKI ini beranggotakan oleh 62 orang diiketuai oleh K.R.T Radjiman
Wedyodiningrat, serta Itibangase Yosio dan Raden Panji Suroso. Badan ini melaksanakan
sidang dalam 2 periode, yaitu sidang pertama pada tanggal 29 mei sampai 1 juni 1945.
Pada sidang pertama membicarakan mengenai dasar falsafah yang harus dipersiapkan
dalam rangka negara indonesia merdeka dan mengenai

pembentukan sebuah negara merdeka. Setelah itu sidang kedua tanggal 10 juli sampai
dengan 17 agustus 1945 yang dimana membentuk panitia Hukum Dasar dengan anggota
terdiri atas 19 orang yang diketuai oleh Ir.Soekarno. Panitia ini membentuk panitia kecil
yang diketuai oleh Prof.Dr Soepomo, anggotanyan terdiri dari wongsonegoro,
R.Soekardjo, A.A. Maramis, Panji Singgih, H. Agus Salim, dan Sukiman. Panitia kecil ini
berhasil menyelesaikan tugasnya dan akhirnya BPUPKI menyetujui hasil kerja sebagai
Rancangan Undang-Undang Dasar pada tanggal 16 agustus 1945.

2. Pengesahan oleh PPKI

Pemerintah Bala Tentara Jepang membentuk “panitia persiapan kemerdekaan


Indonesia” (PPKI), yang dilantik pada tanggal 18 agustus 1945. Dengan menetapkan Ir.
Soekarno sebagai ketua dan Drs. Mohhamat Hata sebagai wakilnya yang beranggotakan
21 orang. Sidang ini bertujuan untuk, (I) Menetapkan Undang-undang Dasar, (II) Memilih
Presiden dan Wakil Presiden, (III) Dan Perihal lainnya. Setelah mendengarkan hasil
laporan kerja BPUPKI, kemudian pada sidang PPKI 18 agustus 1945 para anggota sidang
PPKI masih berencana untuk mengajukan usul perubahan pada UUD hasil rancangan
BPUPKI. Tetapi akhirnya rancangan UUD tersebut disahkan dan menjadi Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia.(Jimly Asshiddiqie, 2006: 38-40 )

C. Perubahan Konstitusi di Indonesia

1. UUD 1945

UUD 1945 pertama kali di sahkan berlaku sebagai konstitusi negara Indonesia dalam
sidang PPKI pada tanggal 18 Agustus 1945, setalah resmi di sahkan UUD 1945 ini tidak
langsung dijadikan sebagai acuan dalam setiap pengambilan keputusan dalam
kenegaraan dan pemerintahan. UUD 1945 ini hanya di jadikan alat saja untuk sesegera
mungkin membentuk Negara merdeka yang bernama Republik Indonesia. Jadi UUD 1945
hanyalah UUD sementara meskipun secara formil berlaku sebagai konstitusi resmi akan
tetapi nilainya hanya bersifat nominal yaitu baru di atas kertas saja.

Baca Juga : Sistem Pemerintahan Indonesia Orde Lama dengan Orde Baru

3
2. Konstitusi RIS

Konstitusi ini dinyatakan berlaku mulai tanggal 27 Desember 1949 dimana Naskah
konstitusi RIS disusun oleh delegasi Republik Indonesia dan delegasi BFO ke Konperensi
Meja Bundar di Den hag pada tahun 1949. Delegasi dari Indonesia dipimpin oleh Mr.
Mohammad Roem dan Prof. Dr. Soepomo yang terlibat dalam mempersiapkan naskah
undang-undang tersebut. Rancangan undang-undang itu di sepakati bersama oleh kedua
belah pihak untuk diberlakukan sebagai Undang-Undang Dasar RI. Pokok daripada
konstitusi RIS ini hanyalah UUD yang bersifat sementara sebab lembaga yang membuat
dan menetapkan UUD itu tidaklah representatif. Karena dalam Pasal 186 konstitusi RIS
ditegaskan ketentuan bahwa konstituante bersama-sama Pemerintah selekas-lekasnya
menetapkan Konstitusi Republik Indonesia Serikat.Akan tetapi dengan berdirinya negara
Republik Indonesia Serikat ini di dalam suatu wilayah terdapat perbedaan
konstitusi,yakni di dalam wilayah federal menggunakan Konstitusi RIS, dan wilayah
Republik Indonesia salah satu Negara bagian menggunakan UUD1945. Dengan
berlakunya UUD 1945 dalam sejarah awal ketatanegaraan Indonesia baru berakhir
bersamaan berakhirnya masa berlakunya konstitusi RIS pada tanggal 27 Agustus 1959
,ketika UUDS 1950 resmi diberlakukan.

3. UUDS 1950

UUDS 1950 ini di berlakukan resmi mulai tanggal 17 Agustus 1950 dimana naskah
rancangan Undang-Undang Dasar itu disahkan oleh Badan Pekerja Komite Nasional
Pusat pada tanggal 12 Agustus 1950 dan oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat
Republik Indonesia Serikat pada tanggal 14 Agustus 1950 yaitu dengan ditetapkanya
Undang-Undang No. 7 tahun 1950. UUDS 1950 ini bersifat mengganti sehingga isinya
tidak hanya mencerminkan perubahan terhadap Konstitusi RIS tahun 1949. Selanjutnya
atas dasar UU inilah diadakan Pemilu tahun 1955, untuk membentuk Majelis
Konstituante yang diresmikan di kota Bandung pada tanggal 10 November 1956. Akan
tetapi Majelis ini belum dapat menyusun Undang-Undang Dasar baru ketika Presiden
Soekarno menyatakan bahwa Konstituante telah gagal, dan atas dasar itu Presiden
mengeluarkan Dekrit 5 Juli 1959 untu memberlakukan kembali UUD 1945 sebagai UUD
Negara Republik Indonesia sejak tanggal 5 Juli 1959 sampai dengan sekarang.

4. UUD 1945 Sebelum dan Sesudah Amandemen

Secara yuridis, UUD 1945 sebelum amandemen sejak kurun waktu 1966-1998 adalah
sebagai sumber hukum formal dalam penyelenggaraan ketatanegaraan Indonesia pada
masa orde baru oleh Presiden Soeharto, tetapi dalam UUD 1945 sebelum Amandemen
ini terdapat hal-hal penyimpangan seperti: (a)Terjadi pemusatan kekuasaan di tangan
Presiden, sehingga pemerintahan dijalankan secara otoriter. (b) Pemilu dilaksanakan
secara tidak demokratis, pemilu hanya menjadi sarana untuk mengukuhkan kekuasaan
seorang Presiden ( Soeharto ), sehingga presiden terus menerus dipilih kembali.
Pada era reformasi muncul tuntutan dari berbagai kalangan untuk mengamendemen
UUD 1945. Kemudian keinginan untuk melakukan amandemen terhadap UUD 1945 pada
awal masa reformasi ( 1998-1999 ) yang dilakukan oleh MPR yang mengambil sikap maju
dan berani dengan memutuskan perlunya amandemen dengan alasan demokratisasi.
Contoh yang paling konkret adalah ketentuan dalam UUD 1945 sebelum amandemen
tentang Presiden sebagai pemegang kekuasaan legislatif dengan persetujuan DPR, UUD
1945 hasil amandemen dengan tegas menyatakan bahwa kekuasaan legislatif dipegang
oleh DPR. Selanjutnya UUD 1945 telah mengalami empat kali perubahan yaitu
perubahan pertama pada tahun 1999, kedua pada tahun 2000, ketiga pada tahun2001,
keempat pada tahun 2002. Pasca perubahan keempat UUD 1945, konstitusi ini resmi
disebut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945.

D. Keberadaan UUD 1945 Sebagai Konstitusi

Se Sebagai negara yang berdasarkan hukum tentunya Indonesia memiliki konstitusi


yang kita kenal dengan Undang-Undang Dasar 1945. Keberadaan UUD 1945 sebagai
konstitusi di Indonesia mengalami sejarah yang sangat panjang hingga akhirnya dapat
diterima sebagai landasan hukum bagi pelaksanaan ketatanegaraan di Indonesia. UUD
1945 telah mengalami empat kali perubahan. Namun dengan adanya perubahan
Konstitusi di Indonesia yang di pandang sebagai suatu kebutuhan dan agenda yang perlu
dilakukan itu, mengingat adanya pandangan dari berbagai kalangan ada yang
menganggap bahwa keberadaan UUD 1945 masih belum mampu menyelenggarakan
pemerintahan sesuai dengan harapan masyarakat, belum menyelenggarakan good
governance, dan belum mendukung praktik-praktik demokrasi dan pengakuan Hak Asasi
Manusia di tanah air.

BAB III

CALON GURU BIDANG STUDI PKn

A. Kompetensi Guru

Standardisasi Kompetensi Guru adalah suatu ukuran yang ditetapkan bagi seorang guru
dalam menguasai seperangkat kemampuan agar berkelayakan menduduki salah satu
jabatan fungsional Guru, sesuai bidang tugas dan jenjang pendidikannya. Persyaratan
dimaksud adalah penguasaan proses belajar mengajar dan penguasaan pengetahuan.
Adapun empat kompetensi guru menurut UU RI No. 14 Tahun 2005 yaitu:

1. Kompetensi Pedagogik. Pemahaman wawasana atau landasan


kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan
kurikulum/silabus, perancangan pembelajaran, pelaksanaan
pembelajararan yang mendidik dan dialogis, pemanfaatan teknologi
pembelajaran, evaluasi hasil belajar, pengembangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2. Kompetensi Kepribadian. Mantab, berakhlak mulia, arif dan bijaksana,
berwibawa, stabil, dewasa, jujur, menjadi teladan bagi peserta didik dan
masyarakat, secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri,
mengembangkan din secara mandiri dan berkelanjutan.
3. Kompetensi Sosial. Berkomunikasi lisan, tulisan, isyarat: menggunakan
teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional, bergaul secara
efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
pimpinan satuan pendidikan, orang tua wali peserta didik, bergaul secara
santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta
sistem nilai yang berlaku, menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan
sejati dan semangat kebersamaan.
4. Kompetensi Profesional. Kemampuan guru dalam pengetahuan isi (content knowledge)
penguasaan: materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program
satuan pendidikan, mata pelajaran. atau kelompok mata pelajaran yang diampu,
konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan. yang
secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata
pelajaran, atau kelompok mata pelajaran yang diampu.

Baca Juga : Sistem Pemerintahan Indonesia Orde Lama dengan Orde Baru

B. Kurikulum PKn

Ada 3 bagian penting dalam kurikulum meliputi: tujuan, isi/materi, strategi


pembelajaran, dan evaluasi. Ke-3 bagian/komponen penting kurikulum ini saling
berkaitan dan berinteraksi untuk mencapai perilaku yang diinginkan/dicita-citakan oleh
tujuan pendidikan nasional, yang kemudian dejelaskan sebagai berikut:

1. Tujuan yang jelas akan memberi petunjuk yang jelas pula dalam memilih isi/materi yang
harus dikuasai, strategi yang akan digunakan serta bentuk dan alat evaluasi yang tepat
untuk mengukur ketercapaian kurikulum.

2. Materi/isi kurikulum menurut Saylor dan Alexander adalah fakta-fakta, observasi, data,
persepsi, penginderaan, pemecahan masalah yang berasal dari pikiran manusia dan
pengalamannya yang diatur dan diorganisasikan dalam bentuk konsep, generalisasi,
prinsip, dan pemecahan masalah.

3. Komponen evaluasi kurikulum adalah untuk menilai apakah tujuan kurikulum telah
tercapai. Hasil dari evaluasi kurikulum adalah berupa umpan balik apakah kurikulum ini
akan direvisi atau tidak.

Adapun pengembangan kurikulum dan pembelajaran PKn dalam persekolahan di


negara kita, nama mata pelajaran PKn SMP/SMA pernah muncul dalam kurikulum tahun
1957 dengan istilah Kewarganegaraan yang merupakan bagian dari mata pelajaran Tata
Negara. Kemudian, pada tahun 1961 muncul istilah civics dalam kurikulum sekolah di
Indonesia. Pada tahun 1968, mata pelajaran Civics berubah nama menjadi Pendidikan
Kewarganegaraan (PKn) atau Civic Education. Dalam kurikulum 1975 nama mata
pelajaran PKN berubah menjadi Pendidikan Moral Pancasila (PMP), kemudian dalam
kurikulum 1994 berubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
Selanjutnya, dalam kurikulum tahun 2004 nama mata pelajaran PPKn berubah menjadi
Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

Mata pelajaran PKn sangat esensial diberikan di persekolahan di negara kita


sebagai wahana untuk membentuk warga negara cerdas, terampil dan berkarakter
(National Character Building) yang setia dan memiliki komitmen kepada bangsa dan
negara Indonesia yang majemuk. Selain itu, pentingnya mata pelajaran PKn diberikan di
sekolah adalah dalam rangka membina sikap dan perilaku siswa sesuai dengan nilai
moral Pancasila dan UUD 1945.

7
BAB IV

PENTINGNYA PEMAHAMAN SEJARAH PERKEMBANGAN & TERBENTUKNYA


KONSTITUSI DI INDONESIA BAGI CALON GURU BIDANG STUDI PKn

Pemahaman yang komprehensif terkait sejarah dan terbentuknya konstitusi di


Indonesia sangat penting bagi calon guru Pkn. Berbagai pokok-pokok pembahasan
seperti; Latar belakang berkembang konstitusi, Sejarah terbentuknya konstitusi dari
Pembahasan oleh BPUPKI dan Pengesahan oleh PPKI, Perubahan konstitusi dari UUD
1945,Konstitusi RIS, UUDS 1950, dan UUD 1945 sebelum dan sesudah di amandemen,
serta Keberadaan UUD 1945 sebagai konstitusi di Indonesia itu maksutnya agar paham
dan mendalami dari berbagai aspek mengenai konstitusi tersebut. Apalagi dalam
Undang-Undang Dasar 1945 ini sebagai sebuah dasar dari pada hukum ( Rechtsstaat /
The Rule of Law ), konsekuensinya adalah segala perilaku manusia Indonesia dalam
konteks kehidupan haruslah menjadikan Undang-Undang Dasar sebagai hukum dasar
untuk mengacu tindakan dalam menata kehidupan bersama agar terciptanya konsep
masyarakat madani. Jadi pada hakekatnya mendalami sejarah perkembangan dan
terbentuknya konstitusi di Indonesia ini sebenarnya demikian luas cakupanya, sehingga
ilmu yang sudah di pahami dan mengerti ketika duduk di bangku perkuliahan yang
nantinya jika menjadi guru Pkn ilmu pengetahuan ini dapat di ajarkan pada peserta didik
serta diterapkan di berbagai kehidupan berbangsa dan bernegara.

BAB V
KESIMPULAN

Bagi calon Guru PKn penting memahami sejarah perkembangan dan terbentuknya
konstitusi di Indonesia. Pada hakikatnya Konstitusi atau UUD adalah sebuah kontrak
yang menjamin hak kedua belah pihak yakni hak kewenangan politik penyelenggaraan
Negara, dan hak kebebasan warga masyarakat.Dalam perjalanan Negara Indonesia telah
terjadi tiga kali perubahan konstitusi di Indonesia yakni, UUD 1945, Konstitusi RIS ,UUD
1950, UUD 1945 Sebelum dan Sesudah di Amandemen. Sehingga pada akhirnya
keberadaan UUD 1945 sebagai konstitusi di Indonesia mengalami sejarah yang sangat
panjang hingga dapat diterima sebagai landasan hukum bagi pelaksanaan
ketatanegaraan di Indonesia. Dengan berbagai perubahan konstitusi tersebut
merupakan prasyarat penting agar dapat membangun sistem ketatanegaraan dan
sistem politik Indonesia agar lebih demokratis yang mengedepankan kedaulatan rakyat,
keseimbangan ( check and balances ) antar cabang kekuasaan dan jaminan atas hak
asasi manusia, harus selalu berorientasi pada tujuan nasional, dan lain-lain sebagaimana
tersurat dan tersurat pada Pembukaan UUD1945.

Baca Juga : Sistem Pemerintahan Indonesia Orde Lama dengan Orde Baru

DAFTAR PUSTAKA
Valina singka subekti, 2008, Menyusun Konstitusi Transisi ( Pergulatan kepentingan dan
pemikiran dalam proses perubahan UUD 1945 ).Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Dahlan Thaib, Jazim Hamidi, dan Ni’matul Huda, 2008, Teori dan Hukum Konstitusi,
Jakarta: Raja Grafinso Persada.

Jazim Hamidi dan Malik, 2009, Hukum Perbandingan Konstitusi, Jakarta: Prestasi Pustaka
Publisher.

Jimly Asshiddiqie, 2006, Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. Jakarta: Sekjen dan
Kepanitraan Mahkamah Konstitusi RI.

Aidul Fitriciada Azhari, 2010 , Tafsir Konstitusi , Solo: Jagat Abjad

http://sub-zero45.blogspot.co.id/2013/03/makalah-sejarah-perkembangan.html