Anda di halaman 1dari 15

PROPOSAL KULIAH KERJA NYATA (KKN)

ALTERNATIF

SOSIALISASI DAN PENDIDIKAN PEMILIH UNTUK


MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM
MENENTUKAN HAK POLITIKNYA PADA PEMILIHAN
UMUM TAHUN 2019
DI DESA PAMENGGER KECAMATAN JATIBARANG
KABUPATEN BREBES

LEMBAGA PENELITIAN

DAN PENGABDIAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL

2018
LEMBAR PENGESAHAN

Dengan ini, kami mengajukan Proposal Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNIVERSITAS
PANCASAKTI

1. Judul Kegiatan :
2. Ketua Pelaksana :
Nama :
NPM :

3. Jumlah Anggota :
4. Dosen Pembimbing Lapangan
Nama :
NIP/NIPY :

5. Waktu Pelaksanaan :
6. Lokasi Kegiatan :
7. Jumlah Biaya :
8. Sumber Pembiayaan :

Tegal,
Kepala Desa/ Kelurahan, Koordinator Desa,

NIP/NIPY NPM

Mengetahui :

Ketua Panitia KKN 2018, Dosen Pembimbing Lapangan,

NIPY NIP/NIPY
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Undang – Undang No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum
menyatakan bahwa penyelenggara pemilu terdiri dari KPU (Komisi Pemilihan
Umum), Bawaslu (Badan Pengawas Pemilihan Umum) dan DKPP (Dewan
Kehormatan Penyelenggara Pemilu). Dalam pelaksanaannya, penyelenggara
pemilu baik KPU, KPU Provinsi, KPU Kaupaten / Kota beserta jajarannya sampai
KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) maupun lembaga pengawas
yaitu Bawaslu, Bawaslu Provinsi maupun Panwas Pemilihan Kabupaten / Kota
beserta jajarannya sampai ke tingkat PTPS (Pengawas Tempat Pemungutan Suara)
terikat oleh kode etik penyelenggara pemilu yang penanganannya dilakukan oleh
DKPP.
Dengan perangkat yang lengkap baik penyelenggara maupun
pengawas pemilu disertai kode etik yang mengikat keduanya, diharapkan pilkada
serentak dapat terlaksana dengan baik. Ada tiga indikator suksesnya pelaksanaan
pemilu serentak yaitu Sukses 3 (tiga) P yaitu (Hanfan, 2017):
1. Sukses Penyelenggara
Sukses penyelenggara adalah bahwa penyelenggara pemilu yaitu KPU,
KPU Provinsi, Kpu Kabupaten / Kota sebagai penyelenggara pemilu dapat
melaksanakan tahapan pemilu secara tepat waktu sesuai jadwal yang sudah dibuat.
Kemudian Bawaslu , Bawaslu Provinsi dan Bawaslu Pemilihan Kabupaten / Kota
sebagai pengawas pemilu dapat melaksanakan dan mengawasi tahapan pemilu
secara efetif. Di atas sudah disebutkan bahwa penyelenggara pemilu yaitu KPU,
KPU Provinsi, Kpu Kabupaten / Kota serta Bawaslu , Bawaslu Provinsi dan
Bawaslu Pemilihan Kabupaten / Kota terikat oleh suatu kode etik penyelenggara
pemilu yang pelaksanaannya dilakukan oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara
Pemilu (DKPP). Salah satu indikator suksesnya penyelenggara pilkada adalah
manakala tidak ada pelanggaran yang dilakukan penyelenggara dan tidak adanya
laporan yang dilakukan oleh stake holder pilkada terhadap penyelenggara pilkada
kepada DKPP. Penyelenggara pemilu hendaknya juga menganut positivisme
dalam melaksanakan pilkada, artinya penyelenggara pilkada harus menganut pada
aturan – aturan yang ada dan bebas dari kepentingan apapun, atau profesionalitas
dan integritas merupakan harga mati bagi penyelenggara pemilu.
2. Sukses Penyelenggaraan
Sukses penyelenggaraan adalah manakala penyelenggara pemilu dapat
melaksanakan semua tahapan pemilu dengan tertib dan tepat waktu sesuai jadwal
tahapan yang sudah dibuat. Penyelenggara pemilu yaitu KPU, KPU Provinsi, Kpu
Kabupaten / Kota membuat tahapan, program dan jadwal penyelenggaraan
pemilu sesuai dengan UU tentang Pemilu dan peraturan KPU dan dapat
melaksanakan tahapan tersebut dengan disiplin dan tepat waktu. Kemudian
lembaga penyelenggara pemilu yang lain yaitu Bawaslu , Bawaslu Provinsi dan
Bawaslu Pabupaten / Kota yang mengawasi tahapan pemilu, dapat mengawasi
tahapan yang dibuat oleh KPU secara efektif. Paradigma pengawasan yang
dilakukan oleh Bawaslu , Bawaslu Provinsi dan Bawaslu Kabupaten / Kota adalah
pengawasan yang bersifat preventif progresif atau pencegahan pelanggaran
terhadap tahapan pemilu, baik yang dilakukan oleh penyelenggara maupun peserta
pemilu, tetapi dengan tetap melakukan penindakan manakala pelanggaran
terhadap tahapan pemilu terjadi. Sedikitnya pelanggaran yang dilakukan oleh
penyelenggara maupun peserta pemilu terhadap tahapan maupun aturan pemilu
merupakan salah satu indikator keberhasilan penyelenggaraan pemilu.
3. Sukses Hasil Penyelenggaraan
Sukses hasil penyelenggaraan adalah manakala pemimpin daerah yaitu
anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden serta anggota DPRD terpilih
sebagai hasil penyelenggaraan pemilu mempunyai legitimasi yang kuat dari
pemilihnya. Biasanya indikator kuatnya legitimasi keterpilihan anggota DPR,
DPD, Presiden dan Wakil Presiden serta anggota DPRD adalah tingkat partisipasi
politik pemilih. Beberapa penelitian empirik mengajukan hipotesis hubungan
antara tingkat partisipasi politik pemilih dengan kuatnya legitimasi yaitu semakin
tinggi tingkat partisipasi politik pemilih dalam memberikan hak suaranya,
semakin tinggi pula legitimasi yang diberikan pemilih terhadap anggota DPR,
DPD, Presiden dan Wakil Presiden serta anggota DPRD tersebut. Hasil dari
beberapa penelitian membenarkan hipotesis tersebut. Dengan legitimasi yang
tinggi dari pemilih, tentunya anggota DPR, DPD, Presiden dan Wakil Presiden
serta anggota DPRD yang terpilih akan lebih percaya diri dalam mengaplikasikan
visi misi nya dalam memimpin guna kemajuan bangsa dan negara.
Dalam konteks pemikiran yang demikian itu maka, Kuliah Kerja Nyata
(KKN) merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada masysrakat yang
diharapkan akan dapat menjawab terhadap tantangan pembangunan dan masa
depan tersebut. Dengan adanya minat dan keikhlasan pada diri mahasiswa untuk
dapat membantu menyelesaikan program SOSIALISASI DAN PENDIDIKAN
PEMILIH UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI MASYARAKAT
DALAM MENENTUKAN HAK POLITIKNYA di Desa Pamengger, Kecamatan
Jatibarang, Kabupaten Brebes Provinsi Jawa Tengah.
Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu bentuk pengintegrasian
kegiatan antara masyarakat dengan pendidikan dan penilitian terutama oleh
mahasiswa dengan bimbingan perguruan tinggi dan pemerintah daerah,
dilaksanakan secara interdisipliner dan intrakulikuler.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana cara memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang jadwal dan
program tahapan, partisipasi politik pemilih dan partisipasi masyarakat Desa
Pamengger , Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes pada pemilu tahun 2019.
2. Bagaimana cara memberikan sosialisasi dan pendidikan pemilih tentang jadwal
dan program tahapan, partisipasi politik pemilih dan partisipasi masyarakat Desa
Pamengger , Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes pada pemilu tahun 2019.
C. TUJUAN KEGIATAN
Tujuan dari kegiatan pengabdian pada masyarakat ini antara lain adalah :
1. Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang jadwal dan program tahapan,
partisipasi politik pemilih dan partisipasi masyarakat Desa Pamengger ,
Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes pada pemilu tahun 2019.
2. Memberikan sosialisasi dan pendidikan pemilih tentang jadwal dan program
tahapan, partisipasi politik pemilih dan partisipasi masyarakat Desa Pamengger ,
Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes pada pemilu tahun 2019.
D. MANFAAT KEGIATAN
Manfaat dari kegiatan pengabdian pada masyarakat ini antara lain adalah :
1. Bagi Pemilih / Masyarakat
Pemilih akan mempunyai pemahaman tentang jadwal dan program tahapan ,
partisipasi politik pemilih dan partisipasi masyarakat Desa Pamengger ,
Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes pada pemilu tahun 2019.
2. Bagi Tim Pengabdian Pada Masyarakat
Kegiatan pengabdian ini merupakan wujud nyata salah satu kegiatan
Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat Desa
Pamengger , Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes
E. TEMPAT PELAKSANAAN
Kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu bertempat di Desa Pamengger,
Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes.
F. WAKTU PELAKSANAAN
Pelaksanaan kegiatan di Desa Pamengger , Kecamatan Jatibarang, Kabupaten
Brebes berlangsung selama 45 (empat puluh lima) hari efektif, yaitu terhitung
mulai tanggal 16 Juli 2018 sampai dengan tanggal 08 September 2018
G. HASIL YANG DIHARAPKAN
1. Masyarakat desa Pamengger Kecamatan jatibarang Kabupaten Brebes
mengetahui tentang pentingnya SOSIALISASI DAN PEMILU
2. Masyarakat desa Pamengger Kecamatan jatibarang Kabupaten Brebes sadar
dan ikut serta meramaikan pemilu tahun 2019
H. KELOMPOK SASARAN

Sasaran dalam kegiatan ini adalah para pemilih, Pemilih adalah penduduk
yang berusia paling rendah 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin pada
tanggal 17 April 2019, yaitu pada saat dilakukan pemungutan suara (PKPU No.5
Tahun 2018) pada Desa Pamengger Kecamatan Jatibarang Kabupaten Brebes.
BAB II

PEMBAHASAN

Partisipasi politik merupakan salah satu aspek penting pada demokrasi.

Partisipasi politik adalah ciri khas dari politik yang modern. Adanya keputusan politik

yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah menyangkut dan mempengaruhi

kehidupan warga negara, oleh sebab itu warga negara berhak ikut serta dalam

menentukan isi keputusan politik tersebut. Prof. Ramlan Surbakti memberikan definisi

mengenai partisipasi politik sebagai bentuk keikutsertaan warga negara biasa dalam

menentukan segala keputusan yang menyangkut atau mempengaruhi hidupnya.

Partisipasi politik pemilih adalah salah satu aspek penting suatu demokrasi. Partisipasi

politik merupakan ciri khas dari modernisasi politik (Hanfan, 2017).

Adanya keputusan politik yang dibuat dan dilaksanakan oleh pemerintah

menyangkutdan mempengaruhi kehidupan warga negara, maka warga negara berhak

ikut serta menentukan isi keputusan politik. Kemudian Miriam Budiarjo menyatakan

bahwa partisipasi politik secara umum merupakan kegiatan seseorang atau

sekelompok orang untuk ikut secara aktif dalam kehidupan politik, yaitu dengan jalan

memilih pemimpin negara dan langsung atau tidak langsung mempengaruhi kebijakan

publik (public policy). Kegiatan ini mencakup tindakan seperti memberikan suara

dalam pemilihan umum, mengahadiri rapat umum, menjadi anggota suatu partai atau

kelompok kepentingan, mengadakan hubungan (contacting) dengan pejabat

pemerintah atau anggota perlemen dan sebagainya.

Para ahli, mengemukakan faktor – faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi

politik pemilih dalam pemilu, yaitu :

A. Pemilih
Pemilih pemilu adalah warga negara yang berusia 17 tahun ke atas atau sudah

kawin pada saat hari pemungutan dan penghitungan suara pilkada (PKPU No. 10

Tahun 2018). Pemilih mempunyai kekuatan sosial dan politik yang dapat menentukan

haknya dalam memberikan suaranya untuk ikut berpartisipasi terhadap keberhasilan

atau tidaknya pelaksanaan pilkada secara demokratis. Karena pada dasarnya

partisipasi, keberanian dan kesukarealaan pemilihlah yang bisa menentukan peta

percaturan politik pada pilkada. Setiap warga negara, apapun latar belakangnya

seperti suku, agama, ras, jenis kelamin, status sosial dan golongan memiliki hak yang

sama untuk berserikat dan berkumpul, menyatakan pendapat, menyikapi secara kritis

kebijakan pemerintah dan pejabat negara. Hak ini disebut hak politik yang secara luas

dapat langsung diaplikasikan secara kongkrit melalui pilkada.

Beberapa penjelasan yang disampaikan oleh para ahli dan penyelenggara pemilu

tentang tinggi rendahnya tingkat partisipasi pemilih pada pemilu adalah : Pertama

yaitu administratif, seorang pemilih tidak ikut memilih karena terbentur dengan

prosedur administrasi seperti tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap (DPT) dan

tidak mendapatkan formulir model C6 (undangan untuk memilih). Oleh karena itu

kemudahan untuk mangakomodir pemilih masuk dalam DPT dan menerima

undangan memilih akan meningkatkan minat pemilih datang ke tempat pemungutan

suara (TPS). Kedua adalah masalah teknis, yaitu pemilih memutuskan tidak ikut

memilih karena tidak ada waktu untuk memilih seperti harus bekerja, sedang ada

keperluan pribadi yang tidak bisa ditinggalkan dan harus ke luar kota pada saat

pemilu. Ketiga, rendahnya keterlibatan atau ketertarikan pada politik, pemilih tidak

memilih karena memang tidak merasa tertarik dengan politik, acuh dan tidak

memandang pilkada sebagai hal yang penting. Keempat yaitu kalkulasi rasional,

pemilih memutuskan untuk tidak menggunakan hak pilihnya karena secara sadar
memang memutuskan tidak memilih. Pemilu dipandang oleh pemilih tidak ada

manfaatnya dan tidak akan membawa perubahan berarti terhadap kehidupannya, atau

tidak ada calon yang disukai. Kelima adalah tingkat status sosial ekonomi yang

meliputi tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan pemilih. Semakin tinggi status

sosial ekonomi pemilih maka akan meningkatkan tingkat partisipasi pemilih, karena

bagi pemilih yang mempunyai status sosial tinggi lebih mengerti akan hak, kewajiban

dan tanggung jawabnya terutama dalam bidang politik.

Sifat pemilihan yang berlaku pada suatu negara juga berpengaruh terhadap tingkat

partisipasi pemilih. Bagi negara yang menganut paham bahwa pemilihan adalah

merupakan hak setiap warga negara, di mana warga negara dapat memilih atau tidak

memilih tanpa adanya sanksi / hukuman, maka biasanya tingkat partisipasi pemilih

tidak setinggi seperti pada negara yang memberlakukan pemilihan sebagai sebuah

kewajiban bagi warga negaranya. Sifat pemilihan dalam pemilu di Indonesia adalah

merupakan hak bagi pemilih dan bukan kewajiban dalam memberikan suaranya pada

pemilu di Indonesia. Dengan demikian pemilih mempunyai kebebasan dalam

memberikan hak suaranya, apakah mau memilih atau tidak memilih.

B. Penyelenggara Pemilu

Undang – Undang No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilihan Umum menyatakan

bahwa KPU beserta jajarannya sebagai penyelenggara pemilu, sedangkan Bawaslu

beserta jajarannya sebagai pengawas pemilu. Dalam pelaksanaannya, baik

peyelenggara maupun pengawas terikat oleh kode etik penyelenggara pemilu yang

penanganannya dilakukan oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Tugas utama DKPP adalah menangani pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh

penyelenggara pilkada dan berhak memberikan sanksi mulai dari teguran sampai

pemecatan tidak dengan hormat manakala penyelenggara pilkada terbukti melanggar


kode etik selaku penyelenggara pilkada. Manakala penyelenggara dapat melaksanakan

pelaksanaan tahapan pemilu dan mengawasi tahapan pemilu sesuai jadwal, maka

pelaksanaan pemilu dikatakan berhasil

Untuk bisa memilih, umumnya pemilih harus terdaftar sebagai pemilih terlebih

dahulu dalam daftar pemilih tetap (DPT), walaupun bagi pemilih yang tidak terdaftar

dalam DPT pun sebenarnya tetrap masih bisa memberikan hak suaranya dengan

memakai Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP El) atau surat keterangan domisili

dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) setempat. Beberapa ahli,

menyatakan bahwa secara umum ada dua sistem pendaftaran pemilih, yaitu sistem

aktif dan sistem pasif. Sistem aktif adalah sistem pendaftaran pemilih dengan cara

warga sendirilah yang aktif mendatangi petugas pendaftaran untuk didaftar sebagai

pemilih. Pemilih punya hak untuk menolak didaftar sebagai pemilih jika tidak

menginginkannya. Sedangkan sistem pasif adalah sistem pendaftaran pemilih dengan

cara petugas pendaftaran pemilih mendaftarkan warga negara yang memenuhi syarat

sebagai pemilih. Kemudahan dalam pendaftaran pemilih dapat mempengaruhi minat

seseorang untuk terlibat dalam pemilihan. Sebaliknya, sistem pendaftaran pemilih

yang rumit dan tidak teratur bisa mengurangi minat orang dalam pemilihan. Untuk itu

hendaknya penyelenggara pemilu untuk mempermudah proses pendaftaran pemilih

agar pemilih masuk dalam daftar pemilih tetap.

C. Peserta Pemilu

Dalam UU No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu disebutkan bahwa peserta pemilu

adalah partai politik untuk calon anggota DPR, DPR Presiden dan wakil Presiden dan

perseorangan untuk calon anggota DPD. Beberapa penelitian tentang hubungan antara

tingkat partisipasi politik pemilih dengan peserta pemilu baik dari perseorangan

maupun parpol menunjukkan hubungan yang positif, artinya manakala peserta pemilu
adalah sosok yang berintegritas, cerdas dan popular akan meningkatkan partisipasi

pemilih.

Disamping itu, kepercayaan dan kepuasan pemilih terhadap calon dan parpol juga

berpengaruh terhadap tingkat partisipasi pemilih. Semakin tinggi kepercayaan dan

kepuasan pemilih terhadap calon dan parpol akan meningkatkan partisipasi politik

pemilih pemilu. Kemudian persepsi pemilih terhadap calon dan parpol juga

berpengaruh terhadap tingkat partisipasi pemilih. Semakin tinggi persepsi positif

pemilih terhadap calon dan parpol akan meningkatkan partisipasi politik pemilih

pilkada. Oleh karena itu, hendaknya calon baik dari perseorangan maupun parpol

perlu terus meningkatkan integritas, kepercayaan dan popularitasnya kepada pemilih.

Untuk meningkatkan partisipasi politik pemilih, maka seluruh stake holder baik

pemilih, penyelenggara maupun peserta pemilu wajib meningkatkan partisipasi

masyarakat. Pada Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) No. 10 Tahun 2018

Tentang Sosialisasi, Pendidikan Pemilih dan Partisipasi Masyarakat dalam Pemilihan

Umum, yang dimaksud dengan partisipasi masyarakat adalah keterlibatan perorangan

dan/atau kelompok masyarakat dalam penyelenggaraan pemilihan. Untuk menaikkan

partispasi masyarakat, stake holder dapat melaksanakan soialisasi dan pendidikan

pemilih. Sosialisasi adalah proses penyampaian informasi tentang tahapan dan

program penyelenggaraan pemilihan, sedangkan pendidikan pemilih adalah proses

penyampaian informasi kepada pemilih untuk meningkatkan pengetahuan,

pemahaman dan kesadaran pemilih tentang pemilihan. Dengan meningkatnya

partisipasi masyarakat, diharapkan tingkat partisipasi politik pemilih juga naik.


BAB III

RENCANA PROGRAM

A. METODE KEGIATAN

Tahap pertama, diawali dengan pemaparan materi tentang jadwal dan program tahapan,

partisipasi politik pemilih dan partisipasi masyarakat pada pemilu tahun 2019. Setelah

pemaparan, dilanjutkan dengan pendalaman materi dalam bentuk diskusi. Peserta yang belum

paham dapat bertanya dan berkonsultasi. Mereka dipersilakan bertanya dan berkonsultasi

tentang permasalahan yang ada pada materi sosialisasi dan pendidikan pemilih.

Tahap selanjutnya, dilakukan evaluasi atas kegiatan sosialisasi dan pendidikan pemilih

ini dengan cara meminta kepada peserta untuk mengerjakan soal yang diberikan tim

pengabdian pada masyarakat. Hasil tes ini akan menjelaskan seberapa baik pemahaman yang

dimiliki pemilih tentang jadwal dan program tahapan, partisipasi politik pemilih dan

partisipasi masyarakat pada pemilu tahun 2019.

B. RANCANGAN EVALUASI

Evaluasi dalam pengabdian pada masyarakat ini dirancang dengan indikator sebagai

berikut :

a. Kehadiran dan partisipasi aktif peserta pelatihan dalam tahap pemaparan materi yang

diberikan tim pengabdian pada masyarakat.

b. Kemampuan peserta pelatihan menjawab soal tes di tahap akhir kegiatan sosialisasi dan

pendidikan pemilih ini.

C. JADWAL PELAKSANAAN

Rencana kerja yang akan dilakukan dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat ini dimulai

dengan studi pendahuluan. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan yang digambarkan dalam

barchart sebagai berikut :


No. KEGIATAN Bulan Pertama Bulan Kedua Bulan Ketiga

I II III IV I II III IV I II III IV

1. Persiapan

2. Pemaparan dan

sosialisasi materi

3. Evaluasi

4. Pelaporan hasil pengabdian


pada masyarakat
BAB IV

RENCANA ANGGARAN PROGRAM

No. Jenis Pengeluaran Volume Biaya Jumlah


Persatuan ( Rp. )
( Rp. )
1. Biaya Operasional :
a. Komunikasi 3 paket 50.000 150.000
b. Konsumsi 25 x 2 kegiatan 10.000 500.000
c. Honor penyaji 1 orang 300.000 300.000
d. Penggandaan makalah 30 orang x 10 150 45.000
e. Dokumentasi hal. 172.500 172.500
1 paket
2. Bahan dan Peralatan
a. Kertas HVS 2 rim 35.000 70.000
b. Alat – alat tulis 5 buah 5.000 25.000
c. Flash disk 1 buah 50.000 50.000
d. Tinta dan printer cartridge 1 kotak 335.000 335.000
e. Referensi makalah 5 buku 70.000 350.000
3. Transportasi
a. Pengurusan waktu acara 2 orang 50.000 100.000
b. Perjalanan ke tempat tujuan 3 orang x 1 sesi 100.000 300.000
c. Peserta pelatihan 17 orang 25.000 425.000
4. Laporan Pengabdian
a. Pembuatan laporan 25 hal. 5.000 125.000
b. Penggandaan laporan 6 eks. x 25 hal. 150 22.500
c. Penjilidan laporan 6 eks. 5.000 30.000

Jumlah : 3.000.000
STRUKTUR TIM KULIAH KERJA NYATA (KKN)
UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL 2018
DESA PAMENGGER KECAMATAN JATIBARANG
KABUPATEN BREBES

Pelindung : Rektor Universitas Pancasakti Tegal


Dr. Burhan Eko Purwanto,M.Hum
Penanggung Jawab : Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Penasihat : Dosen Pembimbing Lapangan


Nama Lengkap : Dr. Ahmad Hanfan, M.M.
NIPY / Pangkat / Golongan : 1586871972 / Penata Muda / III A.
Bidang Keahlian : Ekonomi / Manajemen.
Jabatan Fungsional : Asisten Ahli.
Fakultas / Program Studi : Ekonomi / Manajemen.
Kedudukan dalam Tim : Ketua.

Organisasi
Ketua Koordinator Desa : Moch. Bobby Agustian
Sekertaris : Pricilia Ariacitra Leningtyas
Bendahara : Muhamad Faisal Rifki
Anggota : 1. Kayis Syabana
2. Suci Trisna Sari
3. Pipit Adhe Saptalian M.S
4. Faiq Taufiqur Rohman
5. Dhita Adeliana Putri
6. Hanif Rifai Fian