Anda di halaman 1dari 6

Prosiding Presentasi llmiah Teknofogi Kesefamatan Nukfir VIIJ

/SSNNo.14/0-0533

PERKIRAAN SISA UMUR PIP A SECONDARY SUPER HEATER OUTLET


(SS80) PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP
Renaningsih Setjo, Histori, Sri Nitiswati, Mudi Haryanto

ABSTRAK

PERKIRAAN SISA UMUR PIPA SECONDARY SUPER HEATER (SS80) PEMBANGKIT


LISTRIK TENAGA UAP. Telah dilakukan pengujian accelerated creep terhadap pipa Secondary Super
Heater Outlet ( SSHO) dari pembangkit listrik tenaga uap yang telah beroperasi lebih dari 10 taboo.
Pengujian dilakukan dengan metode isostress, yaitu dengan tegangan sebesar 75 MPa clan variasi suhu
dari 620 0 C sampai dengan 660 0 C. Selain pengujian creep dilakukan pula pengujian komposisi kimia
clan kekerasan. Tujuan pengujian adalah untuk mengetahui ketahanan pipa terhadap beban kerja selama
operasi, clansekaligus memperkirakan sisa umur pipa tersebut. Dengan mempergunakan kurva Parameter
Larson Miller (LMP) clan memperhitungkan temperatur operasi 541 0 C clan tekanan operasi 17, 400
kg/em 2 SSHO maka sisa umur pipa diperkirakan sekitar 6,6 sid 8,7 tahun. Komposisi kimia dari used
tube masih memenuhi persyartan ASTM 01.01 sedangkan kekerasan used tube mengalami penurunan
sebesar 19 % dibandingkan dengan persyaratan standar ASTM.

ABSTRA CT

REMAINING LIFE ASSESSMENT FOR SUPERHEA TER OUTLET TUBE(SSHO) STEAM


GENERATOR POWER PLANT. Accelerated creep test on Super Heater Outlet Tube from Power
Steam Generation had been performed which was operated more than 10 years. Testing was conducted
using isostress technique (stress at 75 MPa and temperature varied from 620 ° C sid 660 °C). Chemical
composition and hardness test on used tube was also been performed in order to investigate whether the
chemical composition and hardness of SSHO tube was not change significantly. Using LMP curve (
Larson Miller Parameter Curve) and based on SSHO operation i.e temperature 541°C and pressure
17,400 kglcm 2, remaining life of the tube was estimated around 6,6 to 8,7years. Chemical composition
of used tube still fulfill the ASTM 01.01 requirement, while the hardness was decreased around 19 %
than the ASTM standard requirement.
PENDAHULUAN Pacta saat maintenance pacta instalasi
Keselamatan operasi merupakan prioritas pembangkit listrik beberapa kegiatan pengujian
utama di dalam perencanaan/ desain suatu yang dilakukan adalah pengujian metalografi
instalasi. Untuk itu dari taboo ke tahun (insitu maupun laboratorium), kekerasan,
teknologi yang berhubungan dengan komposisi kimia, creep (terutama untuk
keselamatan operasi terus dikembangkan, mulai komponen yang beroperasi pacta suhu tinggi)
dari pemilihan material, proses fabrikasi, serta pengujian tak merusak seperti Ultrasonik.
pemeriksaan/inspeksi yang memadai clan lain Pengujian replika adalah pengujian untuk
sebagainya. Inspeksi clan maintenance selalu melihat kondisi mikrostruktur sistim pemipaan,
dilakukan pacta interval tertentu untuk sedangkan pengujian Ultrasonik untuk melihat
mengevaluasi setiap komponen yang ketebalan akhir pipa setelah beroperasi beberapa
berhubungan dengan proses clan keselamatan. taboo. Dari pengujian creep clan replika dapat
Biasanya semakin tua umur komponen diperkirakan sisa umur pipa/tube. (Remaining
tTekuensi inspeksi /maintenance makin tinggi Life Assessment) atau PLEX (Plant Life
mengingat bahwa telah terjadi proses penuaan Extension) hila umur komponen telah melebihi
(aging). Dari kegiatan inspeksi dapat dilakukan umur desain.(l)
beberapa tindak lanjut seperti perbaikan Bersamaan dengan kegiatan maintenance
(repair) atau penggantian komponen. pacta suatu pembangkit tenaga listrik tenaga

Serpong, 26 dan 27 Pebruari 2003 181


Prosiding Presentasi llmiah Tekn%gi Kese/amalan Nuk/ir VI/J
/SSN No. 14/0-0533

nap, telah dilakukan pengujian accelerated 3 Fe + 4 H2O = Fe 30 4 + 4 H2


creep untuk perkiraan sisa umur Super Heater
Terjadinya oksidasi terhadap waktu
Outlet (SSHO) tube. SSHO adalah bagian dari
merupakan fungsi parabolik. Konduktivitas
boiler atau ketel uap.Pengujian dilakukan
termal daTi kerak lebih keeil daripada tube.
dengan metode isostress yaitu pengujian dengan
Akibatnya adalah kenaikan temperatur pacta
tegangan (stress) konstan clantemperatur yang metal tube. Semakin tebal lapisan kerak,
bervariasi. Diharapkan daTi pengujian
kenaikan temperatur pacta tube akan semakin
accelerated creep dapat diperkirakan sisa umur
tinggi. Sebagai konsekuensi daTi penuaan
tube.(2)
(aging) pacta superheater adalah adanya

TEORI kenaikan temperatur pactatube yang disebabkan


oleh terganggunya proses perpindahan panas
Mekanisme kegagalan pacta boiler tube
karena adanya lapisan kerak. Kerak atau korosi
seringkali disebabkan oleh kenaikan temperatur
sepanjang pipa terjadi karena adanya kontak
metal seeara perlahan atau eepat. Kenaikan
antara logam tube dengan gas atau fuel ash.
temperatur disebabkan oleh adanya kerak pacta
Efek dari wastage adalah berkurangnya tebal
bagian dalam tube. Lapisan oksida internal atau
dinding tube. Dengan berkurangnya tebal
pembentukan deposit biasanya terjadi pacta
dinding tube, maka hoop stress semakin besar,
kasus panas berlebih yang eukup lama (long
karena besar hoop stress berbanding terbalik
term overheating). Dengan pembentukan
terhadap tebal tube.
lapisan oksida internal, maka proses
P Do
perpindahan panas akan terganggu clan Hoop Stress CJ= MPa
menyebabkan terjadinya overheating pactametal 2t
dimana : P = tekanan operasi kg/rom 2
tube. Akhirnya menyebabkan kegagalan clan
Do = diameter luar tube ( rom)
memperpendek umur tube. Pacta superheater
t = tebal tube ( rom)
dan reheater tube kenaikan temperatur pacta
metal biasanya terjadi pacta saat start up
Makin lama pembentukan lapisan kerak
dimana aliran uap belum sepenuhnya terjadi.
makin tebal, sehingga temperatur tube
Sehingga temperatur metal bisa meneapai 595°C
bertambah diikuti dengan kenaikan tegangan
pacta temperatur uap 540°C. Sedangkan desain
sehingga memperpendek creep life clan
metal tube sekitar 570oC.(2)Temperatur sangat
menyebabkan kegagalan sebelum umur sesuai
berpengaruh terhadap umur tube. Pacta kondisi
desain (design life time) dengan mekanisme
operasi normal, kegagalan superheater biasanya
stress rupture.
terjadi karena peristiwa creep atau mekanisme
Untuk memprediksi sisa umur, biasanya
stress rupture.
dipergunakan kurva Parameter Larson Miller
Pembentukan oksida atau kerak pada sisi
(LMP). Sebagai eontoh, pacta Gambar 1
uap terjadi karena reaksi uap clan logam (steel)
menunjukkan data LMP terhadap tegangan dari
seperti berikut :
ferritic steel jenis SA 213 T 22.(2) Parameter

Serpong, 26 don 27 Pebruari 2003 182


Prosiding Presentasi JImiah Tekn%gi Kese/amatan Nuklir VIII
ISSN No. /410-0533

Larson Miller adalah mengkombinasikan waktu Untuk memperkirakan sisa umur dibuat
clan temperatur ke Parameter Larson Miller kurva LMP. Kurva tersebut dapat dibuat
yang dinyatakan dengan rumus matematika melalui pengujian creep pada variasi suhu atau
sebagai berikut : tegangan. Pengujian dilakukan dengan
LMP = ( T +273) (20 + Log t) 10 -3 mempercepat waktu putus spesimen atau
dimana : LMP = Larson Miller Parameter disebut accelerated creep rupture.(3)
T = Temperatur ( 0C)
= Waktu putus (jam)

c ",... .".ns'. O. e.o,... 2-v. ., "00 P.

--.
],'"
~
15

,.
--. ~ "-"
... . . '..m'"

Time To Rupture (hours)

Gambar I. Creep Rupture Strength Croloy 2 Vi (2 ViCr) pada temperatur 593 0 C.

TATA KERJA . Setelah temperatur tercapai, mesin uji


Pengujian accelerated creep dilakukan dibiarkan selama minimum 2 jam (sesuai
dengan mengacu pada standar ASTM Volume dengan standar ASTM), agar panas tungku
03.01[4], E-1399-83, E -8M (4).
Prosedur pengujian secara garis besar . pengujian merata.
Kemudian dilakukan pemasangan beban
adalah sebagai berikut:
. Pertama tama dilakukan pemotongan pipa . pada spesimen.
Catat waktu dimulainya pengujian/saat
untuk uji komposisi kimia, uji kekerasan
clan preparasi spesimen untuk uji . pertama pembebanan. .
Setelah spesimen putus, dicatat waktu
accelerated creep.
. Preparasi spesimen pengujian crzep sesuai
untuk mengetahui berapa lama spesimen

.
standar ASTM Vol.03.01, E - 8 M . putus (til.'le afrupture)
Setelah spesimen putus, diukur besaran
Untuk pengujian creep, mesin uji dipanasi mulur serta perubahan luas penampang.
dulu sampai tercapai temperatur yang
diinginkan.

Serpong, 26 dan 27 Pebruari 2003 183


Prosiding Presentasi llmiah Teknologi Keselamatan Nuklir VIII
ISSN No. 1410-0533

. Pengujian dilakukan dengan tegangan . Setelah permukaan cukup halus clan


(stress) sebesar 75 MPa clan temperatur mengkilap, dilakukan pengujian komposisi
bervariasi daTi630 sid 660°C. kimia dengan metode Spark, sedangkan
. Untuk uji komposisi kimia clan uji pengujian kekerasan dilakukan dengan
kekerasan, dilakukan poleshing permukaan metode Brinnel.
dengan kertas ampelas dari yang paling
DATA DAN PEMBAHASAN
kasar ( grade 400) sampai paling halus
. ( grade 1200)
Dari hasil pengujian acceleerated creep,
didapatkan data sebagai berikut :

Tabel I. Data spesimen Uji Stress Rupture SSHO, SA 213-1'22

No. Diameter Area Stress Beban Suhu Waktu Mulur AlAO LMP
Sampel (mm) (mm2) (MPa) (Newton) (° C) putus (mm) *
Gam)
I. 7.95 49.6 75 372 660 129.23 43.40 2.2 20,6
2. 7.95 49.6 75 372 650 150.23 40.10 2.1 20,5
3. 7.95 49.6 75 372 640 363.39 39.75 2.3 20,6
4. 7.95 49.6 75 372 630 518.78 41.45 2.0 20,5
Catatan: * Penampang akhir tube setelah putus.

Sedangkan data pengujian komposisi kimia adalah ;

Table 2. Komposisi kimia ( %) SA 213- T22

C Mn P S Si Cr Mo
Fresh * 0.05-0.15 0.3 -0.6 0.025 0.025 0.50 max 1.90-2.60 0.87-1.13

Used 0.10 0.45 0.01 0.0 0.31 2.11 0.92


tube
Catatan: * Menurut standar ASTM Volume 01.01. halaman 113

Dengan mengetahui waktu putus daTi ke P Do 17400 x 58


empat spesimen uji seperti yang ditunjukkan Hoop Stress "t = --;-; = ---2-~-8~8-------
pada Tabel 1, dapat dibuat kurva Larson Miller = 57, 340 MPa
Parameter (LMP) vs Tegangan (Gambar2).
Dengan mengetahui besar hoop stress,
Untuk memperkirakan sisa umur, perlu
serta temperatur operasi SSO tube yaitu 575 °
diketahui besar Hoop stress yang dapat dihitung
C, kemudian memplotkannya pada kurva, maka
berdasarkan tekanan operasi SSHO tube yaitu
diperkirakan sisa umur pipaltube sekitar 6,6
174 kg/em 2, clan diameter pipa luar (58 rom)
tahun (minimum) sid 8,7 tahun (maksimum).
clanketebalan material (8.8 rom) seperti berikut
Untuk perhitungan yang lebih konservatif, sisa

Serpong, 26 dan 27 Pebruari 2003 184


Prosiding Presentasi llmiah Teknologi Keselamatan Nuklir VIII
ISSN No. 1410-0533

umur diambil berdasarkan kurva yang penurunan kekerasan sekitar 19% biia
minimum. (2,3) dibandingkan dengan persyaratan standar
Hasil pengukuran kekerasan terhadap used ASTM. Sedangkan daTi pengujian komposisi
tube adalah 133, 131, clan 129HB atau rata rata kimia ditunjukkan bahwa komposisi kimia
adalah 131 HB. Menurut standar ASME III masih memenuhi persyaratan ASTM clanbelum
Appendices, nilai kekerasan fresh material berubah secara signifikan.
adaJah 163 HB.(5) Terlihat bahwa teJah terjadi

. , ,'.
(T+ 273)( 2Q+ !Aatr110'" . "'r .

,-.
(\j
~
::;s
~
s::
""
/00
s::
""
/00
CI)
f-

LMP = (T+270)(20+Log t)

Gambar 2. Kurva LMP vs Tegangan

KESIMPULAN intensif. Pipa SSHO bisa dioperasikan kembali


Hasil pengujian creep clan pemakaian clan disarankan bahwa sebaiknya pengujian
kurva LMP dapat diperkirakan bahwa sisa atau jadwal perawatan dilakukan setiap 5
umur pipa SSHO adalah sekitar 6,6 sid 8,7 tahunan sejak saat perawatan terakhir. Untuk
tahun. Namun untuk pertimbangan menjamin bahwa umur tube, bisa bertahan
keselamatan, setelah periode operasi hampir sesuai dengan hasil pengujian, maka temperatur
mendekati 6 tahun ( sejak maintenance) perlu tube clanfluida yang mengalir didaJamnya harus
dilakukan serangkaian pengujian yang sejenis dijaga supaya konstan clansesuai dengan desain
clan dianjurkan agar frekuensi pengujian lebih operas!.

Serpong, 26 dan 27 Pebruari 2003 185


Prosiding Presentasi llmiah Tekn%gi Kese/amatan Nuklir VIII
/SSN No. 14/0-0533

DAFf AR PUSTAKA
1. RENANINGSIH SETJO, Metode
Penentuan Sisa Umur Pipa Boiler
Pembangkit Energi, Sigma Epsilon
NO.8/Februari 1998, halaman 28-33.
2. DAVID N.FRENCH : Metallurgical Failure
In Fossil Fired Boiler, Second Edition, A
Willey- Interscience Publication, John
Willey & Sons, Inc, 1982.
3. API RECOMMENDED PRACTICE 530,
Calculation of Heater-Tube Thickness in
Petrolium Refineries, Third Edition,
September 1988.
4. ASTM VOLUME 03.01, E-139-83 (1990),
Conducting Creep, Creep Rupture, and
Stress Rupture Test of Metallic Materials.
5. ASME SECTION Ill, DIVISION 1-
APPENDICES, Rules for Construction of
Nuclear Power Plant Components, 1989
Edition, July 1, 1989.

Serpong, 26 dan 27 Pebruari 2003 186