Anda di halaman 1dari 9

Pendahuluan

Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sehingga
menutupi seluruh atau sebagian dari ostium uteri internum. Gambaran klinis yang paling khas pada
plasenta previa adalah perdarahan tanpa rasa sakit, yang biasanya timbul pada trimester kedua atau
setelahnya.1

Plasenta previa memiliki beberapa faktor risiko yaitu usia, paritas, riwayat seksio sesaria,
riwayat abortus, dan suku. Usia adalah salah satu faktor risiko dari plasenta previa, yaitu usia ≥ 35
tahun memiliki risiko hampir 2 kali lebih besar dibandingkan usia < 35 tahun, serta ibu dengan
riwayat seksio sesaria pada kelahiran sebelumnya memiliki risiko 4,5 kali mengalami plasenta
previa. Didapatkan bahwa wanita Asia dan wanita kulit hitam memiliki risiko mengalami plasenta
previa lebih tinggi dibandingkan wanita kulit putih.1,2

Menurut World Health Organization (WHO), tahun 2005 sebanyak 536.000 perempuan
meniggal dunia akibat masalah persalinan, lebih rendah dari jumlah kematian ibu tahun 1990
sebanyak 576.000. Berarti dari tahun 1990 sampai 2005 didapatkan penurunan sebanyak 40.000
angka kematian ibu atau 3334 orang ibu meninggal tiap tahun akibat persalinan. Penyebab dari
kematian ibu adalah pendarahan 28%, eklamsi 24%, infeksi 11%, partus lama 5% dan abortus 5%.
Prevalensi plasenta previa di Negara maju berkisar antara 0,26-2,00 % dari seluruh jumlah
kehamilan. Faktor-faktor yang dapat meningkat kejadian plasenta previa adalah umur penderita,
paritas dan riwayat abortus.1,2
Definisi

Plasenta Previa adalah plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah uterus
sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Plasenta Previa adalah
plasenta yang ada didepan jalan lahir (prae = di depan ; vias = jalan). Jadi yang dimaksud Plasenta
Previa merupakan implantasi plasenta di bagian bawah sehingga menutupi ostium uteri internum,
serta menimbulkan perdarahan saat pembentukan segmen bawah rahim.

Plasenta Previa adalah keadaan dimana placenta berimplantasi pada tempat


abnormal yakni pada segmen bawah rahim, sehingga menutupi sebagian atau seluruh
pembukaan jalan/ostium uteri internal (OUI).1,2

Klasifikasi

Klasifikasi Plasenta Previa berdasarkan terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan


jalan lahir atau derajat abnormalitas tertentu:1,2

1. Plasenta Previa totalis/ komplit: plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum.
2. Plasenta Previa partial: plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri internum.
3. Plasenta Previa marginalis: plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium uteri
internum
4. Plasenta Previa letak rendah : plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim
demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium
uteri internum. Jarak yang lebih dari 2 cm dianggap plasenta letak normal.

Gambar 1.1 Implantasi Plasenta Normal3 Gambar 1.2 Plasenta Previa Letak Rendah3
Gambar 1.3 Plasenta Previa Parsialis3 Gambar 1.4 Plasenta Previa Totalis3

Etiologi

Penyebab terjadinya Plasenta Previa diantaranya adalah mencakup :1,2,4

a. Usia lebih dari 30 tahun.


b. Banyaknya jumlah kehamilan dan persalinan (paritas)
c. Kehamilan ganda
d. Cacat rahim misalnya bekas seksio cesarea, kuretase dan miomektomi
e. Proses radang
f. Hipoplasia endometrium
g. Merokok.

Penyebab Plasenta Previa secara pasti sulit ditentukan, tetapi ada beberapa faktor yang
meningkatkan risiko terjadinya Plasenta Previa, misalnya bekas operasi rahim (bekas cesar atau
operasi mioma), sering mengalami infeksi rahim (radang panggul), kehamilan ganda, pernah
Plasenta Previa, atau kelainan bawaan rahim.4

Tanda dan gejala

 Perdarahan tanpa rasa nyeri, berulang, merah segar, terjadi sebelum persalinan / saat hamil.
 Adanya anemia dan renjatan yang sesuai dengan keluarnya darah.
 Denyut jantung janin ada.
 Teraba jaringan plasenta pada periksa dalam vagina.
 Penurunan kepala tidak masuk pintu atas panggul/ janin floating.
 Presentasi janin mungkin abnormal.
Jadi kejadian yang paling khas pada Plasenta Previa adalah pendarahan tanpa nyeri
biasanya baru terlihat setelah trimester kedua atau sesudahnya. Namun demikian, banyak peristiwa
abortus mungkin terjadi akibat lokasi abnormal plasenta yang sedang tumbuh. Penyebab
pendarahan perlu ditegaskan kembali. Kalau plasenta terletak pada ostium internum, pembentukan
segmen bawah uterus dan dilatasi ostium internum tanpa bisa dielakkan akan mengakibatkan
robekan pada tempat pelekantan plasenta yang diikuti oleh pendarahan dari pembuluh- pembuluh
darah uterus. Pendarahan tersebut diperberat lagi dengan ketidakmampuan serabut- serabut otot
miometrium segmen bawah uterus untuk mengadakan kontaksi dan retraksi agar bisa menekan
pembuluh darah yang rupture sebagaimana terjadi secara normal ketika terjadi pelepasan plasenta
dari dalam uterus yang kosong pada kala tiga persalinan. Pendarahan dari tempat implantasi
plasenta dalam segmen bawah uterus dapat berlanjut setelah plasenta dilahirkan, mengingat
segmen bahwa uterus lebih cendrung memiliki kemampuan kontraksi yang jelek dibandingkan
korpus uteri. Sebagai akibatnya, pembuluh darah memintas segmen bahwa kurang mendapat
kompresi. Pendarahan dapat terjadi pula akibat laserasi pada bagian bahwa uterus dan serviks yang
rapuh, khususnya pada usaha untuk mengeluarkan plasenta yang melekat itu secara manual.1,2,4

Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi dan presipitasi yang dapat mengakibatkan terjadinya Plasenta

Previa adalah:1,2,5

a. Melebarnya pertumbuhan plasenta :

- Kehamilan kembar (gamelli).


- Tumbuh kembang plasenta tipis.

b. Kurang suburnya endometrium :

- Malnutrisi ibu hamil.


- Bekas seksio sesarea.
- Sering dijumpai pada grandemultipara.
- Usia ibu < 20 dan > 35 tahun.

c. Terlambat implantasi:

- Endometrium fundus kurang subur.


- Terlambatnya tumbuh kembang hasil konsepsi dalam bentuk blastula yang
siap untuk nidasi.

Patofisiologi

Seluruh plasenta biasanya terletak pada segmen atas uterus. Kadang-kadang sebagian atau
seluruh bagian plasenta dapat melekat pada segmen bawah uterus, dimana hal ini dapat diketahui
sebagai Plasenta Previa. Karena segmen bawah agak merentang selama kehamilan lanjut dan
persalinan, dalam usaha mencapai dilatasi serviks dan kelahiran anak, pemisahan plasenta dari
dinding uterus sampai tingkat tertentu tidak dapat dihindarkan sehingga terjadi pendarahan.

Penyebab plasenta melekat pada segmen bawah rahim belum diketahui secara pasti. Ada
teori menyebutkan bahwa vaskularisasi desidua yang tidak memadahi yang mungkin diakibatkan
oleh proses radang atau atrofi dapat menyebabkan plasenta berimplantasi pada segmen bawah
rahim. Plasenta yang terlalu besar dapat tumbuh melebar ke segmen bawah rahim dan menutupi
ostium uteri internum misalnya pada kehamilan ganda, eritroblastosis dan ibu yang merokok.
Pada saat segmen bawah rahim terbentuk sekitar trisemester III atau lebih awal tapak
plasenta akan mengalami pelepasan dan menyebabkan plasenta yang berimplantasi pada segmen
bawah rahim akan mengalami laserasi. Selain itu, laserasi plasenta juga disebabkan oleh serviks
yang mendatar dan membuka. Hal ini menyebabkan perdarahan pada tempat laserasi. Perdarahan
akan dipermudah dan diperbanyak oleh segmen bawah rahim dan serviks yang tidak bisa
berkontraksi secara adekuat.
Pembentukan segmen bawah rahim akan berlangsung secara progresif, hal tersebut
menyebabkan terjadi laserasi dan perdarahan berulang pada plasenta previa. Pada plasenta previa
totalis perdarahan terjadi lebih awal dalam kehamilan bila dibandingankan dengan plasenta previa
parsialis ataupun plasenta letak rendah karena pembentukan segmen bawah rahim dimulai dari
ostium uteri internum.
Segmen bawah rahim mempunyai dinding yang tipis sehingga mudah diinvasi oleh
pertumbuhan vili trofoblas yang mengakibatkan terjadinya plasenta akreta dan inkreta. Selain itu
segmen bawah rahim dan serviks mempunyai elemen otot yang sedikit dan rapuh sehingga dapat
menyebabkan perdarahan postpartum pada plasenta previa.1,2,4,5

Pemeriksaan penunjang

 USG : Biometri janin, indeks cairan amnion, kelainan kongenital, letak dan derajat
maturasi plasenta. Lokasi plasenta sangat penting karena hal ini berkaitan dengan teknik
operasi yang akan dilakukan.6

 Kardiotokografi : Dilakukan pada kehamilan > 28 Minggu

 Laboraturium : Darah perifer lengkap. Bila dilakukan operasi, perlu diperiksa faktor
pembekuan darah, waktu perdarahan dan gula darah sewaktu pemeriksaan lainnya
dilakukan atas indikasi medis.1,2

Komplikasi

Kemungkinan komplikasi yang dapat ditimbulkan dari adanya Plasenta Previa adalah
sebagai berikut :1,2,4,5,7

a. Pada ibu dapat terjadi :

- Perdarahan hingga syok akibat perdarahan


- Anemia karena perdarahan
- Endometritis pasca persalinan

b. Pada janin dapat terjadi :

- Persalinan premature
- Asfiksia berat

Penatalaksaan Plasenta Previa

a. Konservatif bila :

- Kehamilan kurang 37 minggu.


- Perdarahan tidak ada atau tidak banyak (Hb masih dalam batas normal).

Perawatan konservatif berupa :

1. Rawat inap dan Istirahat.


2. Memberikan hematinik dan spasmolitik unntuk mengatasi anemia.
3. Memberikan antibiotik bila ada indikasi.
4. Progestin/progesterone,
5. Pemeriksaan USG, Hb, HT, leukosit, trombosit, bleeding & clotting time.
6. Pantau DJJ.
7. Siapkan darah untuk transfusi darah, kehamilan dipertahankan setua mungkin supaya
tidak premature. Bila selama 3 hari tidak terjadi perdarahan setelah melakukan perawatan
konservatif, pasien dipulangkan bila tetap tidak ada perdarahan. Bila timbul perdarahan
segera bawa ke rumah sakit dan tidak boleh melakukan senggama.

b. Penanganan aktif bila :

- Perdarahan banyak tanpa memandang usia kehamilan.


- Umur kehamilan kurang lebih dari 37 minggu.
- Anak mati atau fetal distress
- Perdarahan banyak.
- HIS semakin kuat

Penanganan aktif berupa :

- Persalinan per vaginam..


- Persalinan per abdominal.

Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double set up) yakni
dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan:6,7,8
 Plasenta Previa marginalis
 Plasenta Previa letak rendah
 Plasenta lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala
sudah masuk pintu atas panggul dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit perdarahan
maka lakukan amniotomi yang diikuti dengan drips oksitosin pada partus per vaginam bila
gagal drips (sesuai dengan protap terminasi kehamilan). Bila terjadi perdarahan banyak,
lakukan seksio sesar. Penatalaksanaan kehamilan yang disertai komplikasi Plasenta Previa
dan janin prematur tetapi tanpa perdarahan aktif, terdiri atas penundaan persalinan dengan
menciptakan suasana yang memberikan keamanan sebesar-besarnya bagi ibu maupun
janin. Perawatan di rumah sakit yang memungkinkan pengawasan ketat, pengurangan
aktivitas fisik, penghindaran setiap manipulasi intravaginal dan tersedianya segera terapi
yang tepat, merupakan tindakan yang ideal. Terapi yang diberikan mencangkup infus
larutan elektrolit, tranfusi darah, persalinan sesarea dan perawatan neonatus oleh ahlinya
sejak saat dilahirkan.
Prosedur yang dapat dilakukan untuk melahirkan janin bisa digolongkan ke dalam dua
kategori, yaitu persalinan sesarea atau per vaginam. Indikasi untuk bedah sesarea :
 Persalinan segera janin serta plasenta yang memungkinkan uterus untuk berkontraksi
sehingga perdarahan berhenti.
 Persalinan sesarea akan meniadakan kemungkinan terjadinya laserasi serviks yang
merupakan komplikasi serius persalinan per vaginam pada:
 Plasenta Previa totalis serta parsial,
 Plasenta previa totalis,
 Plasenta previa pada primigravida,
 Plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang,
 Anak berharga dan fetal distres,
 Plasenta previa partial jika :

a. Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak.

b. Sebagian besar OUI ditutupi plasenta.

c. Plasenta terletak di sebelah belakang (posterior).

d. Profause bleeding, perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat.

Persalinan pervaginam dilakukan pada plasenta previa marginalis atau lateralis pada
multipara dan anak sudah meninggal atau prematur. Persalinan pervaginam dapat dilakukan
dengan tiga cara, yaitu:6,7,8

 Amniotomi (pemecahan selaput ketuban) Jika pembukaan serviks sudah agak besar (4-5
cm), ketuban dipecah (amniotomi) jika his lemah, diberikan oksitosin drips.
 Bila perdarahan masih terus berlangsung, dilakukan SC.
 Tindakan versi Braxton-Hicks dengan pemberat untuk menghentikan perdarahan
(kompresi atau tamponade bokong dan kepala janin terhadap plasenta) hanya dilakukan
pada keadaan darurat, anak masih kecil atau sudah mati, dan tidak ada fasilitas untuk
melakukan operasi.

Pengaruh Plasenta Previa Terhadap Kehamilan

1. Karena terhalang oleh placenta maka bagian terbawah janin tidak dapat masuk PAP.
Kesalahan- kesalahan letak; letak sunsang, letak lintang, letak kepala mengapung.
2. Sering terjadi partus prematur; rangsangan koagulum darah pada servix, jika banyak
placenta yang lepas kadar progesterone menurun dan dapat terjadi His, pemeriksaan dalam.

Pengaruh Plasenta Previa Terhadap Partus

1. Letak janin yan tidak normal; partus akan menjadi patologis.


2. Bila pada placenta previa lateralis; ketuban pecah/dipecahkan dapat terjadi prolapse
funkuli.
3. Sering dijumpai insersi primer.
4. Perdarahan.
Pengaruh Plasenta Previa Terhadap Persalinan
1. Seksio Sesarea

Seksio Sesarea merupakan metode persalinan janin yang bisa diterima hampir pada semua
kasus Plasenta Previa. Jika letak janin plasenta cukup jauh di posterior sehingga segmen bawah
uterus dapat diinsisi tranversal tanpa mengenai jaringan plasenta dan jika posisi sefalik, maka insisi
yang disukai adalah insisi transversal.8

Prognosis

Prognosis ibu pada plasenta previa dipengaruhi oleh jumlah dan kecepatan perdarahan serta
kesegeraan pertolongannya. Kematian pada ibu dapat dihindari apabila penderita segera
memperoleh transfusi darah dan segera lakukan pembedahan seksio sesarea. Prognosis terhadap
janin lebih buruk oleh karena kelahiran yang prematur lebih banyak pada penderita plasenta previa
melalui proses persalinan spontan maupun melalui tindakan penyelesaian persalinan.