Anda di halaman 1dari 58

BAB I

PENDAHULUAN

A Latar Belakang

Inisiasi Menyusu Dini merupakan proses dimana bayi baru lahir

diletakkan di dada ibu untuk mencari puting susu ibunya sendiri selama

1 jam pertama setelah lahir. Dada ibu dapat memberikan kehangatan

pada bayi dengan tepat karena kulit ibu akan menyesuaikan suhunya

dengan kebutuhan bayi sehingga dapat menurunkan kematian bayi

akibat hypothermia. Dengan melaksanakan Inisiasi Menyusu Dini akan

sangat membantu dalam suksesnya pemberian ASI ekslusif.

Berdasarkan Penelitian WHO pada tahun 2013 di 6 negara

berkembang resiko kematian bayi antara usia 9-12 bulan meningkat

40% jika bayi tersebut tidak disusui. Untuk bayi berusia di bawah 2

bulan, angka kematian ini meningkat menjadi 48%. Sekitar 40%

kematian balita terjadi satu bulan pertama kehidupan bayi (Bintu,

2016).

Menurut Adam (2016) Inisiasi Menyusu Dini dapat mengurangi 22

% kematian bayi 28 hari. Di Indonesia hanya 4 % bayi disusui ibunya

dalam waktu 1 jam pertama setelah kelahirannya. Padahal sekitar

21.000 kematian bayi baru lahir (diusia dibawah 28 hari) di Indonesia

dapat dicegah melalui pemberian ASI pada 1 jam pertama setelah

lahir.

1
Hal ini sesuai dengan tujuan Sustainable Development Goals

(SDGs) ke-3 target ke-2 pada tahun 2030, yaitu kesehatan yang baik

dengan mengakhiri angka kematian bayi dan balita yang dapat

dicegah, dengan seluruh negara berusaha menurunkan Angka

Kematian Neonatal setidaknya hingga 12 per 1.000 Kelahiran Hidup

(SDGs Indonesia, 2017).

Hasil Riskesdas (2013) menyatakan bahwa presentase proses

mulai mendapat ASI kurang dari 1 jam (inisiasi menyusu dini) tertinggi

terdapat di Nusa Tenggara Barat sebesar 52,9 % diikuti oleh Sulawesi

Selatan sebesar 44,9%, dan Sumatra barat sebesar 44,2%.

Sedangkan presentase Inisiasi Menyusu Dini terendah terdapat di

provinsi Papua Barat sebesar 21,7%, didikuti oleh provinsi Riau

sebesar 22,1%, dan Kepulauan Riau sebesar 22.7 % (Profil Kesehatan

Indonesia, 2013, hal. 94).

Minimnya jumlah ibu yang berhasil menyusui bayinya dengan ASI

juga disebabkan minimnya pengetahuan. Banyak ibu yang tidak

mendapatkan informasi atau tidak tahu yang harus dilakukan saat

pertama bayi lahir. Apalagi bila pihak rumah sakit tidak mendukung

dengan mengkondisikan ibu dalam melakukan Inisiasi Menyusu Mini

(Maryunani, 2015, hal. 58).

Hasil penelitian Adam dan kawan-kawan tentang Pemberian Insiasi

Menyusu Dini (IMD) Pada Bayi Baru Lahir di RSUD Makassar tahun

2016 sebanyak 100 responden, terdapat responden dengan

2
pengetahuan cukup namun tidak memberikan Inisiasi Menyusu Dini

sebesar 8 (34,78%) serta yang memberikan Inisiasi Menyusu Dini

sebanyak 15 (65,22%), sedangkan yang memiliki pengetahuan kurang

dan tidak memberikan Inisiasi Menyusu Dini sebanyak 73 (94,81%)

dan yang memberikan Inisiasi Menyusu Dini sebanyak 4 (5,19%).

Bagi ibu Inisiasi Menyusu Dini (IMD) memberikan manfaat yaitu

dapat mengoptimalkan pengeluaran hormone oksitosin sehingga

perdarahan paska persalinan lebih rendah, pengeluaran hormon

prolaktin untuk meningkatkan produksi ASI. Bagi bayi sendiri IMD

sangat bermanfaat untuk membantu stabilisasi pernapasan,

mengendalikan suhu tubuh bayi, dan mejaga kolonisasi kuman yang

aman untuk bayi. Secara psikologi IMD juga dapat menguatkan ikatan

batin antara ibu dan bayi (Prawirohardjo, 2014, hal. 369).

Bidan sebagai penolong persalinan sangat diharapkan dapat

berperan dengan baik dalam mempersiapkan ibu untuk melakukan

Inisiasi Menyusu Dini pada bayinya sehingga keberhasilan dapat

tercapai. Persiapan ini dimulai dengan memberikan konseling kepada

ibu hamil misalnya menjelaskan tentang tujuan dan manfaat dari

pelaksanaan IMD, agar ibu mengerti dan paham sehingga ibu bersedia

jika bayinya dilakukan IMD setelah dilahirkan (Astuti dkk, 2015, hal.

165).

3
Inisiasi Menyusu Dini tak boleh dilewatkan, kecuali dalam kondisi

medis tertentu. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) 15

tahun 2014, Pasal 2 menyebutkan, tenaga kesehatan wajib

melaksanakan IMD terhadap bayi baru lahir kepada ibunya paling

singkat selama satu jam, jika tidak ada kontra indikasi medis.

Sayangnya, masih ada tenaga kesehatan yang belum menerapkan

IMD (Permenkes RI, 2014).

Untuk itu pada penelitian ini akan dibahas berbagai hal tentang

Inisiasi Menyusu Dini (IMD), tujuannya agar semua pihak mengetahui

akan pentingnya Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan pelaksanaannya

sehingga IMD dapat berjalan lancar. Hal ini merupakan upaya untuk

memperlancar keluarnya ASI bagi ibu yang baru melahirkan.

B Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan

masalahnya adalah “Bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil

Trimester III Tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Puskesmas

Jumpandang Baru Kota Makassar Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni Tahun

2017 ?”

C Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Gambaran Pengetahuan Ibu Hamil Trimester III

Tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) di Puskesmas Jumpandang

Baru Kota Makassar Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni Tahun 2017.

4
2. Tujuan Khusus

a. Diketahuinya tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang

Inisiasi Menyusu Dini berdasarkan kelompok umur di Puskemas

Jumpandang Baru Kota Makassar Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni

Tahun 2017.

b. Diketahuinya tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang

Inisiasi Menyusu Dini berdasarkan tingkat pendidikan di

Puskemas Jumpandang Baru Kota Makassar Tanggal 08 Mei

s.d 03 Juni Tahun 2017.

c. Diketahuinya tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang

Inisiasi Menyusu Dini berdasarkan pekerjaan di Puskemas

Jumpandang Baru Kota Makassar Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni

Tahun 2017.

d. Diketahuinya tingkat pengetahuan ibu hamil trimester III tentang

Inisiasi Menyusu Dini berdasarkan paritas di Puskemas

Jumpandang Baru Kota Makassar Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni

Tahun 2017.

D Manfaat Penelitian

1. Bagi Petugas Kesehatan

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan

sekaligus sebagai bahan perencanaan peningkatan pelayanan

kesehatan yang lebih bermutu.

5
2. Bagi Institusi

Hasil penelitian ini dapat memberikan pemahaman bagi mahasiswa

Akademi Kebidanan Yapma Makassar mengenai pentingnya

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) bagi ibu dan bayi.

3. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat berguna dalam menambah wawasan

untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalaman

dibidang penelitian serta untuk memenuhi tugas akhir di Akademi

Kebidanan Yapma Makassar yaitu penulisan Karya Tulis Ilmiah.

4. Bagi Praktisi

Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu referensi ilmiah

untuk melakukan penelitian-penelitian berikutya.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A Tinjauan Tentang Kehamilan Trimester III

Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Indonesia (FOGI) kehamilan

didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan

ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari

saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan

berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan atau 9 bulan

menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam III trimester,

dimana trimester I berlangsung dalam 12 minggu (minggu ke-1 hingga

ke-12), trimester II 15 minggu (minggu ke-13 hingga ke-27), dan

trimester III 13 minggu (minggu ke-28 hingga minggu ke-40)

(Prawirohardjo, 2014, hal. 211).

Pada kehamilan trimester III perut ibu sudah membesar, maka para

calon ibu sudah akan mempersiapkan untuk kehadiran si bayi baru

dalam keluarga. Pada tahap ini dimungkinkan muncul berbagai

perasaan emosional yang berbeda-beda. Kegembiraan untuk bertemu

bayi baru atau mungkin ada kekhawatiran dengan kesehatan bayi.

Pada saat ini calon ibu akan mulai berfikir tentang persalinan, dengan

tambahan perubahan emosi, tubuh secara fisik juga mengalami

perubahan pada trimester akhir ini. Perubahan-perubahan tersebut

meliputi sakit punggung karena beban berat tubuh, payudara,

7
konstipasi, pernapasan, sering kencing, masalah tidur, varises,

kontraksi perut, bengkak, kram kaki dan cairan vagina. Sehingga pada

masa ini perlu persiapan yang sangat matang dari para calon ibu.

Pada trimester III terjadi lebih mengarah kepada keselamatan

dirinya dan bayinya, dimana muncul rasa takut terhadap nyeri,

kekhawatiran tentang perilakunya dan kemungkinan ia kehilangan

kendali diri selama persalinan, ketidaknyamanan fisik dan gerakan

(Sumiyati, 2012).

Menurut Prawirohardjo (2014) Selama masa antenatal ibu

dipersiapkan fisik dan psikologis. Untuk persiapan fisik, ibu perlu diberi

penyuluhan tentang kesehatan dan gizi ibu selama hamil. Untuk

persiapan psikologis, ibu diberi penyuluhan agar termotivasi untuk

memberi ASI karena keinginan untuk memberi ASI adalah faktor yang

sangat penting untuk keberhasilan menyusui. Adapun penyuluhan

yang dianjurkan adalah sebagai berikut :

1. Penyuluhan pentingnya IMD.

2. Penyuluhan mengenai pemberian ASI secara eksklusif.

3. Penyuluhan ibu mengenai manfaat ASI dan kerugian susu formula.

4. Penyuluhan ibu mengenai manfaat rawat gabung.

5. Penyuluhan mengenai gizi ibu hamil dan menyusui.

6. Bimbingan ibu mengenai cara memposisikan dan meletakkan bayi

pada payudara dengan cara demonstrasi menggunakan boneka.

7. Menjelaskan mitos seputar menyusui.

8
Menurut Bartini (2012) Persiapan menyusui selama hamil adalah

sebagai berikut :

1. Pakailah BH yang menyangga payudara.

2. Pakailah BH yang tidak menekan dan membuat iritasi pada

payudara dan puting susu.

3. Bersihkan payudara setiap hari dengan air hangat.

4. Breastrcare antenatal dianjurkan setelah usia diatas 9 bulan.

5. Jika puting susu tidak menonjol, lakukan perasat Hoffman.

B Tinjauan Tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

1. Pengertian Inisiasi Menyusu Dini

Setelah bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas perut

ibu. Bayi akan merangkak mencari puting susu ibunya. Dengan

demikian bayi dapat melakukan reflek sucking dengan segera

(Nurjannah dkk, 2013, hal. 44).

Berikut ini adalah beberapa pegertian dari inisiasi Menyusu Dini :

a. Inisiasi Menyusu Dini adalah proses bayi menyusu segera

setelah dilahirkan, dimana bayi dibiarkan mencari puting susu

ibunya sendiri (tidak dituntut ke puting susu). 24 jam pertama

setelah ibu melahirkan adalah saat yang sangat penting untuk

keberhasilan menyusui selanjutnya. Pada jam-jam pertama

setelah melahirkan dikeluarkan hormone oksitosin yang

bertanggung jawab terhadap produksi ASI (Kemenkes, 2014).

9
b. Inisiasi Menyusu Dini adalah proses menyusu yang dimulai

secepatnya. IMD dilakukan dengan cara membiarkan bayi

kontak kulit dengan kulit ibunya setidaknya selama 1 jam

pertama setelah lahir atau hingga proses menyusu awal

berakhir (Sandra, 2015, hal. 103).

c. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) atau early initiation adalah

permulaan menyusu dini atau bayi mulai menyusu sendiri

segera setelah lahir. Cara bayi melakukan inisiasi menyusu dini

ini dinamakan the breast crawl atau merangkak mencari

payudara. Inisiasi Menyusu Dini akan sangat membantu dalam

keberlangsungan pemberian ASI eksklusif (ASI saja) dan lama

menyusui. Dengan demikan, bayi akan terpenuhi kebutuhannya

hingga usia 2 tahun dan mencegah anak kurang gizi (Sari dkk,

2014, hal. 57).

2. Peran Bidan dalam Mempersiapkan Inisiasi Menyusu Dini

Bidan sebagai penolong persalinan sangat diharapkan dapat

berperan dengan baik dalam mempersiapkan ibu untuk melakukan

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada bayinya sehingga keberhasilan

dapat tercapai. Persiapan ini dimulai dari memberikan penyuluhan

saat hamil sampai dengan masa persalinan. Bidan seharusnya

memiliki inisiatif untuk memfasilitasi IMD ini. Selama ini kesalahan

yang dilakukan adalah bayi yang baru lahir langsung dibersihkan,

10
dibungkus dengan pakaian, kemudian disusukan ke ibunya (Astuti

dkk, 2015, hal. 165).

Berikut ini peran bidan dalam mempersiapkan Inisiasi Menyusu Dini

a. Saat hamil

Ketika hamil ibu telah diberikan informasi yang lengkap tentang

IMD sehingga ibu siap baik secara fisik maupun psikologis,

informasi juga penting diberikan kepada para suami agar dapat

memberikan dukungan pada istrinya untuk melakukan IMD

ketika istrinya melahirkan.

b. Sebelum persalinan

1) Memberikan informasi kepada ibu dan keluarga tentang

penatalaksanaan IMD.

2) Mengkaji kebersihan diri ibu. Bila perlu mneganjurkan ibu

untuk membersihkan diri atau mandi terlebih dahulu.

3) Mempersiapkan alat tambahan untuk pelaksanaan IMD,

yaitu 3 kain pernel yang lembut dan kering serta sebuah topi

bayi. Menganjurkan agar ibu mendapatkan dukungan dan

pendamping selama proses persalinan dari suami atau

keluarga.

4) Membantu meningkatkan rasa percaya diri ibu.

5) Memberikan suasana yang layak dan nyaman untuk

persalinan.

11
6) Memfasilitasi ibu mengurangi rasa nyeri persalinan dengan

mobilisasi dan relaksasi.

7) Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman untuk

melahirkan.

c. Saat proses persalinan

1) Membuka baju ibu dibagian perut dan dada.

2) Menyimpan kain pernel yang lembut dan kering diatas perut

ibu.

3) Setelah bayi lahir, menempatkan bayi tersebut diatas perut

ibu.

4) Mengeringkan bayi dari kepala hingga kaki dengan kain

lembut dan kering (kecuali kedua lengannya, karena bau

ketuban yang menempel pada lengan bayi akan memandu

bayi untuk menemukan payudara) sambil melakukan

penilaian awal bayi baru lahir (BBL).

5) Melakukan penjepitan, pemotongan, dan pengikatan tali

pusat.

6) Melakukan kontak kulit dengan menengkurapkan bayi

didada ibu tanpa dibatasi alas.

7) Menyelimuti ibu dan bayi, jika perlu memakaikan topi di

kepala bayi.

8) Menganjurkan ibu untuk memberikan sentuhan lembut pada

punggung bayi.

12
9) Menganjurkan pada suami atau keluarga untuk

mendampingi ibu dan bayi.

10) Memberikan dukungan secara sabar dan tidak tergesa-gesa.

11) Membantu menunjukkan pada ibu perilaku pre-feeding (pre-

feeding behavior) yang positif.

12) Memberikan bayi menyusu awal sampai si bayi selesai

menyusu pada ibunya dan selama ibu menginginkannya

(Astuti dkk, 2015, hal. 166).

3. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini

Manfaat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) telah banyak dikemukan

dan bukti keberhasialan IMD telah dijelaskan oleh beberapa peneliti

sebelumnya. IMD harus menjadi rutinitas untuk mendukung

keberhasilan pemberian ASI ekslusif. Tindakan yang dapat

mengganggu penerapan IMD harus segera diakhiri, sehingga ibu

dan bayi mempunyai kesempatan kontak kulit ke kulit dengan tidak

tergesa-gesa. Informasi yang akurat tentang IMD diberikan kepada

orangtua selama asuhan kehamilan untuk memastikan pilihan yang

tepat dalam pemberian ASI ekslusif dan peran tenaga kesehatan

yang bekerja dikamar bersalin dalam mendukung pelaksanaan IMD

(Astuti dkk, 2015, hal. 167-168).

13
a. Manfaat secara umum

1) Mencegah hypothermia karena dada ibu menghangatkan

bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari

payudara.

2) Bayi dan ibu menjadi lebih tenang, tidak stres, pernapasan

dan detak jantung lebih stabil, dikarenakan oleh kontak

antara kulit ibu dan bayi.

3) Imunisasi dini, karena ketika bayi mengecap dan memijat

permukaan kulit ibu sebelum memulai mengisap puting

adalah cara alami bayi mengumpulkan bakteri-bakteri baik

yang ia perlukan untuk membangun system kekebalan

tubuhnya.

4) Mempererat hubungan ikatan ibu dan anak (Bounding

Attacment) karena 1-2 jam pertama, bayi dalam keadaan

siaga. Setelah itu, biasanya bayi tidur dalam waktu yang

lama.

5) Makanan non-ASI mengandung zat putih telur yang bukan

berasal dari susu manusia, misalnya dari susu hewan. Hal ini

dapat mengganggu pertumbuhan fungsi usus dan

mencetuskan alergi lebih awal.

6) Bayi yang diberi kesempatan menyusui dini lebih berhasil

menyusui ekslusif dan akan lebih lama disusui.

14
7) Hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan bayi

diputing susu dan sekitarnya, emutan dan jelitan bayi pada

puting ibu merangsang pengeluaran hormone okyitosin.

8) Bayi mendapatkan ASI kolostum yang pertama kali keluar.

Cairan emas ini kadang juga dinamakan the gift of life. Bayi

yang diberi kesempatan untuk melakukan inisiasi menyusu

dini akan lebih dulu mendapatkan kolostrum daripada yang

tidak diberi kesempatan. Kolostrum, ASI istimewa yang kaya

akan daya tahan tubuh, penting untuk ketahanan terhadap

infeksi, penting untuk pertumbuhan usus, bahkan

kelangsungan hidup bayi. Kolostum akan membuat lapisan

yang melindungi dinding usus bayi yg masih belum matang

sekaligus mematangkan dinding usus ini.

9) Ibu dan ayah akan sangat bahagia bertemu dengan bayinya

untuk pertama kali dalam kondisi seperti ini. Bahkan, ayah

mendapat kesempatan mengazankan anaknya di dada

ibunya. Suatu pengalaman batin bagi ketiganya yang amat

indah.

10) Meningkatkan angka keselamatan hidup bayi diusia 28 hari

pertama kehidupannya.

11) Perkembangan psikomotor lebih cepat.

12) Menunjang perkembangan kognitif.

13) Mencegah perdarahan pada ibu.

15
14) Mengurangi resiko terkena kanker payudara dan ovarium.

b. Manfaat secara khusus

Terdapat banyak manfaat Inisiasi Menyusu Dini, baik untuk ibu

dan bayinya, serta manfaat psikologis :

1) Manfaat untuk ibu

a) Meningkatkan hubungan khusus ibu dan bayi.

b) Merangsang kontraksi otot rahim sehingga mengurangi

resiko perdarahan sesudah melahirkan.

c) Memperbesar peluang ibu untuk memantapkan dan

melanjutkan kegiatan menyusui selama masa bayi.

d) Mengurangi stres ibu setelah melahirkan.

e) Mencegah kehamilan.

f) Menjaga kesehatan ibu.

2) Manfaat untuk bayi

a) Mempertahankan suhu bayi tetap hangat.

b) Menenangkan ibu dan bayi serta meregulasi pernafasan

dan detak jantung.

c) Kolonisasi bakterial dikulit dan usus bayi dengan bakteri

badan ibu yang normal (bakteri yang berbahaya dan

menjadikan tempat yang baik bagi bakteri yang

menguntungkan) dan mempercepat pengeluaran

kolostum sebagai antibody bayi.

16
d) Mengurangi bayi menangis sehingga mengurangi stres

dan tenaga yang dipakai bayi.

e) Memungkinkan bayi untuk menemukan sendiri payudara

ibu untuk memulai menyusu.

f) Mengatur tingkat kadar gula dalam darah, dan biokomia

lain dalam tubuh bayi.

g) Mempercepat keluarnya mekonium (kotoran bayi

berwarna hijau agak kehitaman yang pertama keluar dari

bayi karena meminum air ketuban.

h) Bayi akan terlatih motoriknya saat menyusu, sehingga

mengurangi kesulitan menyusu.

i) Membantu perkembangan persyarafan bayi (nervous

system).

j) Memperoleh kolostrum yang sangat bermanfaat bagi

system kekebalan bayi.

k) Mencegah terlewatnya puncak refleks mengisap pada

bayi yang terjadi 20-30 menit setelah lahir. Jika bayi tidak

disusui, refleks akan berkurang cepat, dan hanya akan

muncul kembali dalam kadar secukupnya 40 jam

kemudian.

17
3) Manfaat secara psikologis

a) Adanya ikatan emosi :

(1) Hubungan ibu dan bayi lebih erat dan penuh kasih

sayang.

(2) Ibu merasa lebih bahagia.

(3) Bayi lebih jarang menangis.

(4) Ibu berperilaku lebih peka.

(5) Lebih jarang menyiksa bayi.

b) Perkembangan

Anak menunjukkan uji kepintaran yang lebih baik

dikemudian hari.

4. Tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini

a. Dianjurkan suami atau keluarga, mendampingi ibu saat

persalinan.

b. Disarankan untuk mengurangi penggunaan obat kimiawi saat

persalinan. Dapat diganti dengan cara non kimiawi, misalnya

pijat, aromaterapi, gerakan atau hypnobirthing.

c. Biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang diinginkan,

misalnya melahirkan normal atau dengan jongkok.

d. Seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya, kecuali

kedua tangannya. Lemak putih yang menyamankan kulit

sebaiknya dibiarkan.

18
e. Bayi ditengkurapkan didada perut atau perut ibu. Biarkan kulit

bayi dengan kulit ibu. Posisi kontak kulit dengan kulit ini

dipertahankan minimum 1 jam atau setelah menyusu awal

selesai. Keduanya diselimuti, kemudian kepala bayi dipakaikan

topi.

f. Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat merangsang

bayi dengan sentuhan lembut, tetapi tidak memaksakan bayi

keputing susu .

g. Biarkan bayi dalam posisi kulit bersentuhan dengan kulit ibunya

setidaknya selama 1 jam, walaupun bayi telah berhasil menyusu

pertama sebelum 1 jam. Jika belum menemukan puting

payudara ibunya dalam waktu 1 jam, biarkan kulit bayi tetap

bersentuhan dengan kulit bayinya sampai berhasil menyusu

pertama .

h. Dianjurkan untuk memberikan kesempatan kontak kulit dengan

kulit pada ibu yang melahirkan dengan tindakan, misalnya

section caesarea.

i. Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur, dicap setelah 1

jam atau menyusu awal selesai. Prosedur yang invasive,

misalnya suntikan vitamin K dan tetesan mata bayi dapat

ditunda.

j. Ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar (rawat gabung). Selama

24 jam, ibu dan bayi tetap tidak dipisahkan serta bayi selalu

19
dalam jangkauan ibu, pemberian minuman pralaktal (cairan

yang diberikan sebelum ASI keluar) dihindarkan (Astuti dkk,

2015, hal. 167).

5. Tahapan IMD

a. Tahap pertama

Biasanya disebut istirahat siaga (rest/quite alert stage). Dalam

waktu 30 menit, biasanya bayi hanya terdiam. Akan tetapi,

jangan menganggap proses menyusu dini gagal bila setelah 30

menit sang bayi tetap diam. Bayi jangan diambil, paling tidak 1

jam melekat.

b. Tahap kedua

Bayi mulai mengeluarkan suara kecapan dan gerakan mengisap

pada mulutnya. Pada menit ke-30 sampai 40 ini, bayi

memasukkan tangannya ke mulut.

c. Tahap ketiga

Bayi mengeluarkan air liur. Namun air liur yang menetes dari

mulut bayi itu jangan dibersihkan. Bau inilah yang dicium bayi.

Bayi juga mencium bau air ketuban ditangannya yang baunya

sama dengan bau puting susu ibunya. Jadi, bayi mencari

baunya.

d. Tahap keempat

Bayi sudah mulai menggerakkan kakinya. Kaki mungilnya

menghentak untuk membantu tubuhnya bermanuver mencari

20
puting susu. Khusus tahap keempat, ibu juga merasakan

manfaatnya. Hentakan bayi diperut bagian rahim membantu

proses persalinan selesai, hentakan itu menimbulkan kontrasi

pada uterus sehingga membantu keluarnya plasenta dan

mencegah terjadinya perdarahan pada ibu.

e. Tahap kelima

Bayi akan menjilati kulit ibunya. Bakteri yang masuk lewat mulut

akan menjadi bakteri baik bagi pencernaan bayi. Jadi, biarkan si

bayi melakukan kegiatan itu.

f. Tahap keenam

Tahap terakhir adalah saat bayi menemukan puting susu

ibunya. Bayi akan menyusu untuk pertama kalinya, proses

sampai bisa menyusu bervariasi, ada yang sampai 1 jam (Astuti

dkk, 2015, hal. 170-171).

6. Penghambat Inisiasi Menyusu Dini

a. Bayi kedinginan, tidak benar :

Menurut Bergman Niels (2005) dalam Maryunani (2015)

1) Ditemukan bahwa suhu dada ibu yang melahirkan menjadi

1ºC lebih panas daripada suhu dada ibu yang tidak

melahirkan.

2) Jika bayi yang diletakkan didada ibu ini kepanasan, suhu

dada ibu akan turun 1ºC.

21
3) Jika bayi kedinginan, suhu dada ibu akan meningkat 2ºC

untuk menghangatkan bayi.

4) Jadi, dada ibu yang melahirkan merupakan tempat terbaik

bagi bayi yang baru lahir dibandingkan tempat tidur yang

canggih dan mahal.

b. Setelah melahirkan, ibu terlalu lelah untuk segera menyusui

bayinya, tidak benar :

1) Seorang ibu jarang terlalu lelah untuk memeluk bayinya

segera setelah lahir.

2) Keluarnya oksitosin saat kontak kulit ke kulit serta saat bayi

menyusu dini membantu menenangkan ibu.

c. Tenaga kesehatan kurang tersedia, tidak masalah :

1) Saat bayi didada ibu, penolong persalinan dapat

melanjutkan tugasnya.

2) Bayi dapat menemukan sendiri payudara ibu.

3) Libatkan suami atau keluarga terdekat untuk menjaga bayi

sambil memberi dukungan pada ibu.

d. Kamar bersalin atau kamar operasi sibuk, tidak masalah :

1) Dengan bayi didada ibu, ibu dapat dipindahkan keruang

pulih atau kamar perawatan.

2) Beri kesempatan pada bayi untuk meneruskan usahanya

mencapai payudara dan menyusu dini.

22
e. Ibu harus dijahit, tidak masalah :

1) Kegiatan merangkak mencari payudara terjadi diarea

payudara.

2) Yang dijahit adalah bagian bawah tubuh ibu.

f. Suntikan vitamin K dan tetes mata untuk mencegah penyakit

gonore harus segera diberikan setelah lahir, tidak benar :

1) Menurut American College Obstetrics and Gynecology dan

Academy Breastfeeding Medicinec (2007), tindakan

pencegahan ini dapat ditunda setidaknya selama 1 jam

sampai bayi menyusu sendiri tanpa membahayakan bayi.

g. Bayi yang harus segera dibersihkan, dimandikan, ditimbang,

dan diukur, tidak benar :

1) Menunda memandikan pada bayi berarti menghindarkan

hilangnya panas badan bayi.

2) Selain itu, kesempatan verniks meresap, melunakkan, dan

melindungi kulit bayi lebih besar.

3) Bayi dapat dikeringkan segera setelah lahir.

4) Penimbangan dan pengukuran dapat ditunda sampai

menyusu awal selesai.

h. Bayi kurang siaga, tidak benar :

1) Justru pada 1-2 jam pertama kelahirannya, bayi sangat siaga

(alert).

2) Setelah itu, bayi tidur dalam waktu yang lama.

23
3) Jika bayi mengantuk akibat obat yang diasup ibu, kontak

kulit akan lebih penting lagi karena bayi memerlukan

bantuan lebih untuk Bonding.

i. Kolostrum tidak keluar atau kolostrum tidak memadai sehingga

diperlukan cairan lain (cairan prelaktal), tidak benar :

1) Kolostrum cukup dijadikan makanan pertama bayi baru lahir.

2) Bayi dilahirkan dengan membawa bekal air dan gula yang

dapat dipakai pada saat itu.

j. Kolostrum tidak baik, bahkan berbahaya bagi bayi, tidak benar :

1) Kolostrum sangat diperlukan untuk tumbuh kembang bayi.

2) Selain sebagai imunisasi pertama dan mengurangi kuning

pada bayi baru lahir, kolostrum melindungi dan

mematangkan dinding usus yang masih muda.

7. Komposisi gizi dalam ASI

ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Air susu ibu khusus

dibuat untuk bayi manusia. Kandungan gizi dari ASI sangat khusus

dan sempurna serta sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang

bayi.

a. Macam-macam ASI

1) Kolostrum

Kolostrum adalah air susu yang pertama kali keluar.

Kolostrum ini disekresi oleh kelenjar payudara pada hari

pertama sampai hari keempat paska persalinan. Kolostrum

24
merupakan cairan dengan viskositas kental, lengket dan

berwarna kekuningan. Kolostrum mengandung tinggi protein,

mineral, garam, vitamin A, nitrogen, sel darah putih dan

antibody yang tinggi daripada ASI matur. Selain itu,

kolostrum masih mengandung rendah lemak dan laktosa.

Protein utama pada kolostrum adalah imunoglobin (igG, igA

dan igM), yang digunakan sebagai zat antibody untuk

mencegah dan menetralisir bakteri, virus, jamur dan parasit.

Meskipun kolostrum yang keluar sedikit menurut ukuran

kita, tetapi volume kolostrum yang ada dalam payudara

mendekati kapasitas lambung bayi yang berusia 1-2 hari.

Volume kolostrum antara 150-300 ml/24 jam.

Kolostrum juga merupakan pencahar ideal untuk

membersihkan zat yang tidak terpakai dari usus bayi yang

baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan

bagi bayi makanan yang akan datang.

2) ASI transisi atau peralihan

ASI peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum

sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak hari ke-4 sampai

hari ke-10. Selama 2 minggu, volume air susu bertambah

banyak dan berubah warna serta komposisinya. Kadar

immunoglobulin dan protein menurun, sedangkan lemak dan

laktosa meningkat.

25
3) ASI matur

ASI matur disekresi pada hari ke 10 dan seterusnya. ASI

matur tampak berwarna putih. Kadungan ASI matur relatif

konstan, tidak menggumpal bila dipanaskan.

Air susu yang mengalir pertama kali atau selama 5 menit

pertama disebut foremik. Foremik lebih encer, mempunyai

kandungan rendah lemak dan tinggi laktosa, gula, protein,

mineral dan air. Selanjutnya, air susu berubah menjadi

hindmilk. Hindmilk kaya akan lemak dan nutrisi. Hindmilk

membuat bayi akan lebih cepat kenyang. Dengan demikan,

bayi akan membutuhkan keduanya, baik foremik maupun

hindmilk.

b. Kandungan ASI

1) Lemak

Lemak merupakan sumber kalori utama dalam ASI dengan

kadar 3,5%-4,5%. Lemak mudah diserap oleh bayi karena

enzim lipase yang tedapat dalam system pencernaan bayi

dan ASI akan mengurai trigliserida menjadi gliserol dan

asam lemak. Keunggulan lemak ASI mengandung asam

lemak esensial yaitu docosahexaenoic acid (DHA),

arachionoic acid (AA) berguna utuk pertumbuhan otak.

Kadar kolestrol dalam ASI lebih tinggi karena untuk

26
merangsang enzim protektif yang membuat metabolisme

kolesterol menjadi efisien.

2) Karbohidrat

Karbohidrat utama dalam ASI adalah lactose dengan kadar 7

gram%. Lactose mudah terurai menjadi glukose dan

galaktose oleh enzim lactose yang terdapat dalam mukosa

saluran pencernaan bayi sejak lahir. Lactose juga

bermanfaat untuk mempertinggi aborsi kalsium dan

merangsang pertumbuhan laktobasilus bifidus.

3) Protein

Protein dalam susu adalah casein dan whey kadarnya 0.9 %.

Selain itu terdapat 2 macam asam amino yaitu sistin dan

taurin. Sistin diperlukan untuk pertumbuhan somatik

sedangkan taurin untuk pertumbuhan otak.

4) Garam dan mineral

a) Zat besi

Jumlah zat besi dalam ASI termasuk sedikit tetapi mudah

diserap. Zat besi berasal dari persedian zat besi sejak

bayi lahir, dari pemecahan sel darah merah dan dari zat

besi yang terkandung dalam ASI. Dengan ASI bayi jarang

kekurangan zat besi.

27
b) Seng

Seng diperlukan untuk pertumbuhan perkembangan dan

imunitas, juga diperlukan untuk mencegah penyakit

akrodermatitis enteropatika (penyakit kulit dan system

pencernaan).

5) Vitamin

a) Vitamin K

Berfungsi sebagai katalisator pada proses pembekuan

darah.

b) Vitamin E

Banyak terkandung dalam kolostrum.

c) Vitamin D

Berfungsi untuk pembentukan tulang dan gigi (Marmi,

2015, hal. 31-34).

C Tinjauan Tentang Pengetahuan

1. Pengertian pengetahuan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pengetahuan

berarti segala sesuatu yang diketahui, kepandaian atau segala

sesuatu yang diketahui berkenaan dengan hal mata pelajaran.

Pengetahuan merupakan hasil rasa keingintahuan manusia

terhadap sesuatu dari hasrat untuk meningkatkan harkat hidup

sehingga kehidupan menjadi lebih baik dan nyaman yang

berkembang sebagai upaya untuk meneruskan kebutuhan manusia

28
baik dimasa sekarang maupun dimasa depan. Pengetahuan hanya

sekedar menjawab pertanyaan what, misalnya apa alam, apa

manusia, apa air dan lainnya (Ariani, 2014, hal. 18).

2. Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2003) dalam Ariani (2014) Pengetahuan

merupakan salah satu faktor yang mempengarui terbentuknya

sikap seseorang. Berdasarkan pengalaman dan penelitian, jika

seseorang memiliki pengetahuan yang baik maka akan memiliki

perilaku yang baik pula. Pengetahuan yang tercakup dalam domain

kognitif dibagi menjadi 6 tingkatan yaitu :

a. Tahu (Know)

Tahu (Know) merupakan mengingat kembali (Recall) terhadap

sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau

rangsangan yang telah diterima.

b. Memahami (Comprehension)

Memahami adalah suatu kemampuan untuk menjelaskan

secara benar tentang objek yang diketahui sehingga dapat

menginterprestasikan dengan benar. Orang yang paham

terhadap suatu objek atau materi dapat menjelaskan,

menyebutkan contoh, menyimpulan, meramalkan terhadap

suatu objek yang dipelajari.

29
c. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi merupakan kemampuan untuk menggunakan meteri

yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).

Aplikasi diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-

hukum, rumus, metode dan prinsip dan sebagainya.

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menanyakan meteri

atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di

dalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama

lain.

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk menghubungkan

bagian di dalam suatu keseluruhan yang baru. Dengan kata lain

sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi

baru dari formulasi yang ada.

f. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan justifikasi

atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-

penilaian itu berdasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan

sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

30
3. Faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Pengetahuan baik yang dimiliki seseorang dipengaruhi oleh

beberapa faktor :

a. Umur

Umur merupakan rentang waktu seseorang yang dimulai sejak

dia dilahirkan hingga berulang tahun. Jika seseorang ibu

memiliki umur yang cukup maka akan memiliki pola pikir dan

pengalaman yang matang pula. Umur ibu yang <20 tahun,

termasuk umur terlalu muda, sedangkan umur >35 tahun

tergolong umur yang terlalu tua. Ibu yang berumur 25-35 tahun

akan lebih mudah dalam mengerti dan mengingat karena

memiliki umur yang cukup matang sehingga akan sangat

berpengaruh terhadap daya tangkap pengetahuan yang

diperoleh ibu (Ramadhaniah, 2015).

b. Pendidikan

Pendidikan merupakan seluruh proses kehidupan yang dimiliki

oleh setiap individu berupa interaksi individu dengan

lingkungannya, baik secara formal maupun informal yang

melibatkan perilaku individu maupun kelompok. Pendidikan

berarti bimbingan yang diberikan oleh seseorang kepada

perkembangan orang lain untuk menuju kearah cita-cita tertentu

untuk mengisi kehidupan sehingga dapat mencapai

kebahagiaan.

31
Makin tinggi pendidikan seseorang maka makin mudah orang

tersebut menerima informasi. Dengan pendidikan yang tinggi

maka seseorang akan cenderung untuk mendapatkan informasi

baik dari orang lain maupun media masa. Pengetahuan erat

hubungannya dengan pendidikan, seseorang dengan

pendidikan yang tinggi maka semakin luas pula pengetahuan

yang dimiliki (Ariani, 2014, hal. 25).

Kategori :

1) Pendidikan dasar (SD-SMP atau sederajat)

2) Pendidikan menengah (SMA atau sederajat)

3) Pendidikan tinggi > SMA

c. Pekerjaan

Menurut Ariani (2014) Pekerjaan merupakan suatu aktivitas

yang dilakukan seseorang untuk memperoleh penghasilan guna

memenuhi kebutuhan setiap hari. Pekerjaan merupakan salah

satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Seseorang yang

bekerja akan sering berinteraksi dengan orang lain sehingga

akan memiliki pengetahuan yang baik pula. Pengalaman

bekerja akan memberikan pengetahuan dan keterampilan serta

pengalaman belajar dalam bekerja akan dapat

mengembangkan kemampuan dalam mengambil keputusan

yang merupakan keterpaduan menalar secara ilmiah.

32
Status pekerjaan ibu adalah suatu kondisi dimana, jika ibu

pekerja mendapatkan upah atau penghasilan yang dapat

digunakan untuk membantu perekonomian keluarga.

Menurut Juliastuti (2011) Kategori pekerjaan:

1) Bekerja (guru, buruh, pegawai swasta, wiraswasta, PNS)

2) Tidak bekerja (ibu rumah tangga)

d. Paritas

Paritas adalah keadaan melahirkan anak baik hidup ataupun

mati, tetapi bukan aborsi, tanpa melihat jumlah anaknya.

Soetjiningsih (1997), Gerakan ASI Ekslusif (2006), Roesli

(2008), dan Prasetyono (2009) menyatakan bahwa faktor

paritas adalah salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku

ibu untuk melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD). Penelitian

Madjid (2003) menunjukkan bahwa ibu-ibu yang baru pertama

kali mempunyai anak (primipara) masalah menyusui sering

timbul, berbeda dengan ibu-ibu multipara yang sudah pernah

menyusui sebelumnya (Khoniasari, 2015).

Kategori :

1) Nulipara : Seorang wanita yang belum pernah menjalani

kehamilan sampai janin mencapai tahap viabilitas. Nullipara

adalah seorang wanita yang belum pernah melahirkan

dengan usia kehamilan lebih dari 28 minggu atau belum

pernah melahirkan janin yang mampu hidup diluar rahim.

33
2) Primipara : Seorang wanita yang sudah menjalani kehamilan

sampai janin mencapai viabilitas. Primipara adalah wanita

yang telah melahirkan seorang anak, yang cukup besar

untuk hidup di dunia luar.

3) Multipara : seorang wanita yang telah melahirkan seorang

anak lebih dari satu kali. Multipara adalah wanita yang

pernah melahirkan bayi viabel (hidup) beberapa kali

(Suliawati, 2013).

34
BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep merupakan justifikasi ilmiah terhadap penelitian

yang dilakukan dan memberi landasan kuat terhadap topik yang dipilih

sesuai dengan identifikasi masalahnya. Kerangka konsep harus

didukung landasan teori yang kuat serta ditunjang oleh informasi yang

bersumber pada berbagai laporan ilmiah, hasil penelitian, jurnal

penelitian, dan lain-lain (Hidayat, 2014, hal. 18).

Kerangka konsep pada penelitan ini adalah sebagai berikut :

Umur

Pendidikan Inisiasi
Menyusu Dini
Pekerjaan

Paritas

Keterangan :

Variabel Independen :

Variabel Dependen :

Variabel yang diteliti :

35
B. Variabel Penelitian

1. Variabel dependen (variabel terikat)

Inisiasi Menyusu Dini adalah proses bayi menyusu segera setelah

dilahirkan, dimana bayi dibiarkan mencari puting susu ibunya

sendiri.

2. Variabel independen (variabel bebas)

a. Umur sangat berpengaruh terhadap pengetahuan seseorang

karena usia mempengaruhi daya tangkap dan pola pikir

seseorang, Ibu yang memiliki umur yang matang akan lebih

mudah mengerti akan pentingnya IMD pada bayinya.

b. Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap,

mengembangkan kepribadian, dan tata laku seseorang atau

kelompok untuk mendewasakan manusia melalui upaya

pelajaran dan pelatihan, ibu yang berpendidikan diharapkan

akan lebih mudah memahami tentang pentingnya IMD.

c. Pekerjaan dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang. Ibu

yang bekerja akan sering berinteraksi dengan orang lain

sehingga akan memiliki pengetahuan yang baik pula seperti

pengetahuan untuk mau melaksanakan IMD pada bayinya.

d. Paritas adalah jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang ibu.

Ibu yang telah memiliki anak diangkap telah memiliki

pengalaman sehingga pengetahuannya terhadap persiapan

persalinan tergolong baik termasuk penatalaksanaan IMD.

36
C. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

Tabel 3.1
Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

Variabel Definisi Operasional Kriteria Alat ukur Skala


Objektif
Umur Umur responden yang Kategori : Kuesioner Ordinal
dihitung sejak tanggal 1. Muda
lahir sampai dengan < 20 tahun
berulang tahun, yang 2. Matang
dinyatakan dalam 20-35
tahun. tahun
3. Tua
>35 tahun
Pendidikan Jenis Pendidikan 1. Dasar Kuesioner Ordinal
formal terakhir (SD-SMP)
responden sampai 2. Menengah
tamat. (SMA)
3. Tinggi >
SMA
Pekerjaan kegiatan atau aktivitas 1. Bekerja Kuesioner Ordinal
responden sehari – 2. Tidak
hari diluar rumah. bekerja
Paritas Jumlah anak yang 1. Nullipara Kuesioner Ordinal
pernah di lahirkan 2. Primipara
baik hidup atau mati. 3. Multipara

37
BAB IV

METODE PENELITIAN

A Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan rancangan penelitian

deskriptif yang bertujuan untuk menerangkan atau menggambarkan

masalah yang terjadi berdasarkan karakteristik umur, pendidikan,

pekerjaan dan paritas atau dengan kata lain, rancangan ini

mendeskripsikan seperangkat peristiwa atau kondisi populasi saat ini.

B Tempat dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Jumpandang Baru

kota Makassar. Waktu penelitian mulai tanggal 08 Mei s.d 03 Juni

tahun 2017.

C Populasi dan Sampel

1. Populasi

Menurut Sugiyono (2004) Populasi adalah wilayah generalisasi

yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan

karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari

dan kemudian ditarik kesimpulannya (Hidayat, 2014).

Dalam penelitian ini populasi yang digunakan adalah semua ibu

hamil yang datang memeriksakan kehamilannya di Puskesmas

Jumpandang Baru kota Makassar pada tanggal 08 Mei s.d 03 Juni

tahun 2017 yaitu sebanyak 72 ibu hamil.

38
2. Sampel

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau

sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi

(Hidayat, 2014, hal. 60).

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian

ini adalah accidental sampling yaitu cara pengambilan yang

dilakukan dengan kebetulan bertemu, maka sampel tersebut

diambil dan langsung dijadikan sebagai sampel utama (Hidayat,

2014, hal. 74).

Sampel dalam penelitan ini adalah ibu hamil Trimester III yaitu

sebanyak 42 ibu hamil.

D Teknik Pengumpulan Data

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner

yang dibuat oleh peneliti. Pertanyaan yang diberikan berjumlah 12

pertanyaan dengan kuesioner tertutup untuk mengukur pengetahuan.

Skala pengukuran meggunakan skala Guttman, yaitu skala yang

bersifat tegas dan konsisten dengan memberikan jawaban yang tegas.

Apabila skor benar nilainya 1 dan apabila salah nilainya 0.

Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer. Jenis data primer

yang dikumpulkan adalah identitas ibu hamil seperti umur, pendidikan,

pekerjaan, dan paritas. Data identitas dikumpulkan dengan cara ibu

hamil mengisi kuesioner yang diberikan oleh peneliti kemudian peneliti

melakukan wawancara dengan respoden.

39
E Cara Pengolahan Data

Dalam proses pengolahan data terdapat langkah-langkah yang harus

ditempuh, diantaranya :

1. Editing

Editing adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data

yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada

tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul.

2. Coding

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka)

terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode

ini sangat penting bila pengolahan dan analisis data menggunakan

komputer.

3. Entri data

Data entri adalah kegiatan memasukkan data yang telah

dikumpulkan kedalam master tabel atau database komputer,

kemudian membuat distribusi frekuensi sederhana (Hidayat, 2014,

hal. 107-108).

F Analisis Data

Peneliti menggunakan analisis univariat dalam pengolahan data

yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik

setiap variabel penelitian dengan menghitung distribusi dan presentasi

dari tiap variabel. Pada umumnya dalam analisa univariat hanya

40
menghasilkan distribusi frekuensi dan presentase dari tiap variabel

dengan menggunakan rumus distribusi frekuensi yaitu sebagai berikut :

Keterangan : P = persentase

f = jumlah jawaban yang benar

n = jumlah pertanyaan

Data-data primer yang dikumpulkan diolah dan dianalisis

menggunakan program komputer, yaitu program Statistical Package

For The Social Sciences (SPSS) for windows versi 16.

Menurut Arikunto (2006) dalam Ariani (2014) Pengetahuan seseorang

dapat diketahui dan di interpretasikan dengan skala yang bersifat

kualitatif yaitu :

1. Pengetahuan baik, jika presentase jawaban 76-100%.

2. Pengetahuan cukup, jika presentase jawaban 56-75%.

3. Pengetahuan kurang, jika presentase jawaban < 56%.

41
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A Hasil Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Jumpandang Baru jalan Ir. H.

Juanda Kota Makassar dan dilaksanakan pada tanggal 08 Mei s.d 03

Juni Tahun 2017. Desain penelitian yang digunakan adalah Deskriptif

untuk mengetahui gambaran pengetahuan ibu hamil trimester III

tentang inisiasi menyusu dini.

Penelitian dilakukan dengan mengambil data primer yang

dikumpulkan langsung dari subjek penelitian dengan jumlah sampel

sebanyak 42 responden.

1. Data Karakteristik Umum Responden

a. Umur

Tabel 5.1
Distribusi Responden Menurut Kelompok Umur
di Puskesmas Jumpandang Baru Makassar
Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni Tahun 2017
Umur (tahun) Frekuensi (F) Persen (%)
Muda < 20 tahun 4 9.5
Matang 20-35 tahun 32 76.2
Tua >35 tahun 6 14.3
Jumlah 42 100
Sumber : Data Primer

Pada tabel 5.1 menunjukkan bahwa dari 42 responden yang

diteliti, kelompok umur tertinggi yaitu kelompok umur 20-35

42
tahun yaitu 32 responden (76.2%). Sedangkan yang terendah

yaitu kelompok umur <20 tahun yaitu 4 responden (9.5 %).

b. Pendidikan Terakhir

Tabel 5.2
Distribusi Responden Menurut Tingkat Pendidikan
di Puskesmas Jumpandang Baru Makassar
Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni Tahun 2017
Pendidikan Frekuensi (F) Persen (%)
Dasar (SD-SMP) 16 38.1
Menengah (SMA) 19 45.2
Tinggi (>SMA) 7 16.7
Jumlah 42 100
Sumber : Data Primer

Pada tabel 5.2 menunjukkan bahwa dari 42 responden yang

diteliti, tingkat pendidikan tertinggi adalah pendidikan menengah

(SMA) sebanyak 19 responden (45.2%). Sedangkan tingkat

pendidikan terendah adalah pendidikan tinggi (>SMA) sebanyak

7 responden (16.7 %).

c. Pekerjaan

Tabel 5.3
Distribusi Responden Menurut Tingkat Pekerjaan
di Puskesmas Jumpandang Baru Makassar
Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni Tahun 2017
Pekerjaan Frekuensi (F) Persen (%)
Bekerja 5 11.9
Tidak bekerja 37 88.1
Jumlah 42 100
Sumber : Data Primer

43
Pada tabel 5.3 menunjukkan bahwa dari 42 responden yang

diteliti, ibu hamil yang tertinggi yaitu tidak memiliki pekerjaan

sebanyak 37 responden (88.1%) dan terendah yaitu memiliki

perkerjaan sebanyak 5 responden (11.9 %).

d. Paritas

Tabel 5.4
Distribusi Responden Menurut Tingkat Paritas
di Puskesmas Jumpandang Baru Makassar
Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni Tahun 2017
Paritas Frekuensi (F) Persen (%)
Nullipara 11 26.2
Primipara 16 38.1
Multipara 15 35.7
Jumlah 42 100
Sumber : Data Primer

Pada tabel 5.4 menunjukkan bahwa dari 42 responden yang

diteliti, jumlah paritas tertinggi adalah primipara yaitu sebanyak

16 responden (38.1%). Sedangkan paritas terendah adalah

nullipara yaitu sebanyak 11 responden (26.2 %).

44
2. Data Karakteristik Variabel Penelitan

a. Pengetahuan

Tabel 5.5
Distribusi Pengetahuan RespondenTentang Inisisasi Menyusu Dini
di Puskesmas Jumpandang Baru Makassar
Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni Tahun 2017
Pengetahuan Frekuensi (F) Persen (%)
Baik 2 4.8
Cukup 26 61.9
Kurang 14 33.3
Jumlah 42 100
Sumber : Data Primer

Pada tabel 5.5 menunjukkan bahwa dari 42 responden yang

diteliti, pengetahuan tertinggi yaitu pengetahuan cukup

sebanyak 26 responden (61.9%), sedangkan terendah yaitu

pengetahuan baik yaitu 2 responden (4.8%).

b. Umur

Tabel 5.6
Distribusi Pengetahuan RespondenTentang Inisisasi
Menyusu Dini (IMD) Berdasarkan Kelompok Umur
di Puskesmas Jumpandang Baru Makassar
Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni Tahun 2017
Pengetahuan
Umur (tahun) Baik Cukup Kurang Total
n % n % n % n %
Muda <20 0 0 2 50 2 50 4 100
Matang 20-35 2 6.2 19 59.4 11 34.4 32 100
Tua >35 0 0 5 83.3 1 16.7 6 100
Jumlah 2 4.8 26 61.9 14 33.3 42 100
Sumber : Data Primer

45
Pada tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 42 responden yang

diteliti, pengetahuan responden yang tertinggi yaitu

pengetahuan cukup pada kelompok umur tua (>35) sebanyak 5

responden (83.3%), sedangkan terendah yaitu pengetahuan

baik pada kelompok umur >35 tahun yaitu 0 responden (0 %).

c. Pendidikan Terakhir

Tabel 5.7
Distribusi Pengetahuan RespondenTentang Inisisasi
Menyusu Dini (IMD) Berdasarkan Tingkat Pendidikan
di Puskesmas Jumpandang Baru Makassar
Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni Tahun 2017
Pengetahuan
Pendidikan Baik Cukup Kurang Total
n % n % n % n %
Dasar (SD-SMP) 0 0 9 56.2 7 43.8 16 100
Menengah (SMA) 0 0 14 73.3 5 26.3 19 100
Tinggi (>SMA) 2 28.6 3 42.9 2 28.6 7 100
Jumlah 2 4.8 26 61.9 14 33.3 42 100
Sumber : Data Primer

Pada tabel 5.7 menunjukkan bahwa dari 42 responden yang

diteliti, pengetahuan responden yang tertinggi yaitu

pengetahuan cukup pada kategori pendidikan menengah (SMA)

sebanyak 14 responden (73.3%), sedangkan terendah yaitu

pengetahuan baik pada kategori pendidikan menengah (SMA)

yaitu 0 responden (0 %).

46
d. Pekerjaan

Tabel 5.8
Distribusi Pengetahuan RespondenTentang Inisisasi
Menyusu Dini (IMD) Berdasarkan Tingkat Pekerjaan
di Puskesmas Jumpandang Baru Makassar
Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni Tahun 2017
Pengetahuan
Pekerjaan Baik Cukup Kurang Total
n % n % n % n %
Bekerja 1 20 3 60 1 20 5 100
Tidak bekerja 1 2.7 23 62.2 13 35.1 37 100
Jumlah 2 4.8 26 61.9 14 33.3 42 100
Sumber : Data Primer

Pada tabel 5.8 menunjukkan bahwa dari 42 responden yang

diteliti, pengetahuan responden yang tertinggi yaitu

pengetahuan cukup pada Ibu rumah tangga (tidak bekerja) yaitu

sebanyak 23 responden (62.2%), sedangkan terendah yaitu

pengetahuan baik pada Ibu rumah tangga (tidak bekerja) yaitu

sebanyak 1 responden (2.7%).

47
e. Paritas
Tabel 5.9
Distribusi Pengetahuan RespondenTentang Inisisasi
Menyusu Dini (IMD) Berdasarkan Kelompok Paritas
di Puskesmas Jumpandang Baru Makassar
Tanggal 08 Mei s.d 03 Juni Tahun 2017

Pengetahuan
Paritas Baik Cukup Kurang Total
n % n % n % n %
Nullipara 0 0 6 54.5 5 45.5 11 100
Primipara 1 6.2 10 62.5 5 31.2 16 100
Multipara 1 6.7 10 66.7 4 26.7 15 100
Jumlah 2 4.8 26 61.9 14 33.3 42 100
Sumber : Data Primer

Pada tabel 5.9 menunjukkan bahwa dari 42 responden yang

diteliti, pengetahuan responden tertinggi yaitu pengetahuan

cukup pada kelompok multipara yaitu sebanyak 10 responden

(66.7%), sedangkan terendah yaitu pengetahuan baik

kelompok nullipara yaitu 0 responden (0%).

B Pembahasan Hasil Penelitian

1. Pengetahuan ibu hamil trimester III tentang inisiasi menyusu dini

a. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil rasa keingintahuan manusia

terhadap sesuatu dari hasrat untuk meningkatkan harkat hidup

sehingga kehidupan lebih baik. Menurut Notoatmodjo (2003),

pengetahuan merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

48
Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yaitu indera

penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan perabaan.

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi pengetahuan

yang dimiliki seseorang antara lain adalah faktor internal

meliputi jasmani dan rohani serta faktor eksternal meliputi

lingkungan, sosial media (Ariani, 2014).

Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa

dari 42 responden, terdapat 2 responden (4.8%) memiliki

pengetahuan baik, 26 responden (61.9 %) memiliki

pengetahuan cukup, dan 14 responden (33.3%) memiliki

pengetahuan yang kurang.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan

Hartatik (2012) dengan judul “Pengetahuan Ibu Hamil Trimester

III di BPS Diyah Kabupaten Boyolali” yaitu dari 35 responden

menunjukkan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang IMD yaitu

pengetahuan baik yaitu 6 responden (17.2%), pengetahuan

cukup sebanyak 20 responden (57.1%) dan pengetahuan

kurang 9 responden (25.7%).

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa

sebagian besar pengetahuan ibu hamil trimester III tentang

inisiasi menyusu dini masih cukup. Hal ini terutama tercermin

dari pengetahuan ibu terhadap tujuan inisiasi menyusu dini,

manfaat inisiasi menyusu dini, dan tatacara pelaksanaan inisiasi

49
menyusu dini. Pada umumnya tingkat pengetahuan seseorang

dipengaruhi berbagai faktor, baik internal maupun eksternal

misalnya ibu hamil memiliki umur yang cukup matang (20-35

tahun), berpendidikan tinggi sehingga pola pikirnya lebih baik,

memiliki pekerjaan diluar rumah sehingga sering berinteraksi

dengan orang lain dan pernah melahirkan seorang anak

sebelumnya. Hal ini secara tidak langsung sangat berpengaruh

pada tingkat pengetahuan atau pemahaman seseorang.

b. Umur

Umur seseorang dihitung mulai sejak dia dilahirkan sampai

berulang tahun. Jika seseorang ibu memiliki umur yang cukup

maka akan memiliki pola pikir dan pengalaman yang matang

pula. Umur ibu yang <20 tahun, termasuk umur terlalu muda,

sedangkan umur >35 tahun tergolong umur yang terlalu tua. Ibu

yang berumur 20-35 tahun akan lebih mudah dalam mengerti

dan mengingat karena memiliki umur yang cukup matang

sehingga sangat berpengaruh terhadap daya tangkap

pengetahuan yang diperoleh ibu (Ramadhaniah, 2015).

Berdasarkan tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 42

responden yang diteliti, pengetahuan responden yang tertinggi

yaitu pengetahuan cukup pada kelompok umur >35 sebanyak 5

responden (83.3%), sedangkan terendah yaitu pengetahuan

baik pada kelompok umur >35 tahun yaitu 0 responden (0 %).

50
Dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Laturharhary dan kawan-kawan (2014) yang berjudul

“Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini”

berbeda dimana didapatkan data dari 50 orang ibu hamil yang

menjadi responden, hasilnya yaitu responden yang tertinggi

yaitu pengetahuan baik pada kelompok umur >35 tahun

sebanyak 9 responden (100%), dan yang terendah yaitu

pengetahuan kurang pada kelompok umur >35 tahun yaitu 0

responden (0%).

Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa terdapat

perbedaan antara teori dan hasil dimana umur tidak begitu

berpengaruh terhadap pengetahuan. Di era moderen saat ini

pengetahuan bisa didapatkan dimana saja dan kapan saja.

Tingginya pengetahuan sesorang dapat dipengaruhi oleh

banyak faktor baik secara langsung atau tidak langsung

misalnya faktor lingkungan, sumber informasi, sosial budaya,

ekonomi, pengalaman, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya.

Sehingga meskipun seseorang telah berumur matang tidak

menjadi tolak ukur bahwa seseorang tersebut berpengetahuan

baik.

51
c. Pendidikan

Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan seseorang

kepada orang lain terhadap suatu hal agar mereka dapat

memahami. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang,

semakin mudah seseorang tersebut menerima informasi, begitu

pula sebaliknya (Hidayat,2014).

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.7 menunjukkan

bahwa dari 42 responden yang diteliti, pengetahuan responden

tertinggi yaitu pengetahuan cukup pada kategori pendidikan

menengah (SMA) sebanyak 14 responden (73.3%), sedangkan

terendah yaitu pengetahuan baik pada kategori pendidikan

menengah (SMA) yaitu 0 responden (0 %).

Dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Laturharhary dan kawan-kawan (2014) yang berjudul

“Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini”

berbeda dimana didapatkan data dari 50 orang ibu hamil yang

menjadi responden, hasilnya yaitu responden yang tertinggi

yaitu pengetahuan baik pada pendidikan tinggi (>SMA)

sebanyak 13 responden (100%) dan yang terendah yaitu

pengetahuan buruk pada pendidikan dasar (SD-SMP) sebanyak

0 responden (12.5%).

52
Dari hasil penelitian yang didapatkan bahwa terdapat

kesenjangan antara teori dan hasil dimana tingkat pendidikan

tidak berpengaruh secara langsung pada tingkat pengetahuan

seseorang. hal ini disebabkan karena responden yang diteliti

memiliki pendidikan tinggi akan tapi tidak berasal dari lulusan

kesehatan sehingga tidak diajarkan tentang manfaat dan

pentingnya inisiasi menyusu dini bagi ibu dan bayinya.

d. Pekerjaan

Menurut Ariani (2014) Pekerjaan merupakan suatu aktivitas

yang dilakukan seseorang untuk memperoleh penghasilan guna

memenuhi kebutuhan setiap hari. Pekerjaan merupakan salah

satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Seseorang yang

bekerja akan sering berinteraksi dengan orang lain sehingga

akan memiliki pengetahuan yang baik pula. Pengalaman

bekerja akan memberikan pengetahuan dan keterampilan serta

pengalaman belajar dalam bekerja akan dapat

mengembangkan kemampuan dalam mengambil keputusan

yang merupakan keterpaduan menalar secara ilmiah.

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.8 menunjukkan

bahwa dari 42 responden yang diteliti, pengetahuan responden

yang tertinggi yaitu pengetahuan cukup pada Ibu rumah tangga

(tidak bekerja) yaitu sebanyak 23 responden (62.2%),

53
sedangkan terendah yaitu pengetahuan baik pada Ibu rumah

tangga (tidak bekerja) yaitu sebanyak 1 responden (2.7%).

Dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Juliastuti yang berjudul “Hubungan Tingkat Pengetahuan, Status

Pekerjaan Ibu, dan Pelaksanaan IMD” berbeda dimana

didapatkan data dari 85 orang ibu hamil yang menjadi

responden, hasilnya yaitu responden yang tertinggi yaitu

pengetahuan baik pada ibu yang bekerja yaitu 40 responden

(56.7%), terendah yaitu pengetahuan kurang pada ibu yang

tidak bekerja yaitu 9 responden (16.5%).

Dari hasil penelitian yang didapatkan bahwa terdapat

kesenjangan antara teori dan hasil dimana ibu yang tidak

bekerja memiliki pengetahuan cukup dibandingkan ibu yang

memiliki pekerjaan. Pekerjaan akan memberikan pengetahuan

dan keterampilam dalam bekerja akan tetapi tidak semua

tempat kerja dapat memberikan informasi mengenai kesehatan

pada ibu hamil sehingga meskipun ibu memiliki perkejaan diluar

rumah tidak menjadikan dia mengetahui segala sesuatu tentang

inisiasi menyusu dini.

Ibu rumah tangga juga dapat memiliki pengetahuan yang

baik meskipun tidak bekerja karena dia lebih banyak memiliki

waktu luang misalnya dengan mencari informasi yang berkaitan

dengan inisiasi menyusu dini di media sosial atau dari membaca

54
buku KIA yang diberikan oleh puskesmas. Pengetahuan itu

dapat ditingkatkan dengan cara memanfaatkan waktu yang ada

untuk belajar dan mencari tahu apa yang bermanfaat bagi kita.

e. Paritas

Paritas merupakan jumlah kelahiran yang pernah dilalui oleh

seorang ibu. Ibu yang pernah melahirkan sebelumnya dianggat

memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan dengan ibu

yang belum pernah melahirkan, karena telah memiliki

pengalaman sebelumnya.

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 5.9 menunjukkan

bahwa dari 42 responden yang diteliti, pengetahuan responden

yang tertinggi yaitu pengetahuan cukup pada kelompok

multipara yaitu sebanyak 10 responden (66.7%), sedangkan

terendah yaitu pengetahuan baik pada kelompok nullipara yaitu

0 responden (0%).

Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh

Laturharhary dan kawan-kawan (2014) yang berjudul

“Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Inisiasi Menyusu Dini”

berbeda dimana didapatkan data dari 50 orang ibu hamil yang

menjadi responden, hasilnya yaitu responden yang tertinggi

yaitu pengetahuan baik pada kelompok ibu yang primipara

sebanyak 11 responden (100%), terendah yaitu pengetahuan

buruk pada ibu nullipara yaitu 3 responden (25%)

55
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ibu

yang pernah melahirkan memiliki pengetahuan yang cukup

dibandingkan dengan ibu yang belum pernah melahirkan

sebelumnya. Hal ini karena pengalaman dari kehamilan dan

persalinan yang pernah mereka lalui dapat memudahkan

mereka memahami tentang inisiasi menyusu dini faktor

pengalaman ini yang akan mempermudah pemahaman ibu.

56
BAB VI

PENUTUP

A Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan tentang gambaran

pengetahuan ibu hamil trimester III tentang inisiasi menyusu dini di

Puskesmas Jumpandang Baru Kota Makassar tanggal 08 iei s.d 03

Juni Tahun 2017 dengan jumlah sampel sebanyak 42 responden dapat

disimpulkan bahwa :

1. Pengetahuan responden yang tertinggi yaitu pengetahuan cukup

yaitu 26 responden (61.9 %) dan yang terendah yaitu pengetahuan

baik yaitu 2 responden (4.8%).

2. Pengetahuan responden yang tertinggi yaitu pengetahuan cukup

pada kelompok umur >35 sebanyak 5 responden (83.3%),

sedangkan terendah yaitu pengetahuan baik pada kelompok umur

>35 tahun yaitu 0 responden (0 %).

3. Pengetahuan responden yang tertinggi yaitu pengetahuan cukup

pada kategori pendidikan menengah (SMA) 14 responden (73.3%),

sedangkan terendah yaitu pengetahuan baik pada kategori

pendidikan menengah (SMA) yaitu 0 responden (0 %).

4. Pengetahuan responden yang tertinggi yaitu pengetahuan cukup

pada Ibu rumah tangga (tidak bekerja) yaitu sebanyak 23

responden (62.2%), sedangkan terendah yaitu pengetahuan baik

57
pada Ibu rumah tangga (tidak bekerja) yaitu sebanyak 1 responden

(2.7%).

5. Pengetahuan responden yang paling banyak yaitu pengetahuan

cukup pada kelompok multipara yaitu sebanyak 10 responden

(66.7%), sedangkan paling sedikit yaitu pengetahuan baik

kelompok nullipara yaitu 0 responden (0%).

B Saran

1. Bagi Petugas kesehatan

Kepala puskesmas di Jumpandang Baru diharapkan meningkatkan

kerjasama dengan ruang pemeriksaan kehamilan untuk melakukan

konseling kepada ibu hamil khususnya ibu hamil trimester III

mengenai manfaat, tatacara dan pentingnya inisiasi menyusu dini.

2. Bagi Masyarakat

Bagi ibu hamil khususnya usia kehamilan trimester III diharapkan

menambah informasi melalui media cetak atau elektronik tentang

manfaat inisiasi menyusu dini bagi ibu dan calon bayinya agar ibu

dapat mengerti dan memahami sehingga penatalaksanaan IMD

dapat terlaksana dengan sukses.

3. Bagi Praktisi

Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat melanjutkan atau

mengembangkan penelitian ini dengan menggunakan metode

penelitian lain dan memperbanyak sampel serta variabel yang akan

diteliti agar memberikan manfaat yang besar terhadap masyarakat.

58