Anda di halaman 1dari 13

Pengolahan Limbah Logam Berat Cd dengan Menggunakan Metode Adsorpsi

dan Biosorpsi

Ramadhanti Imani Rachmi (1157040046)

Program Studi Kimia, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung

Abstrak

Kadmium merupakan salah satu unsur yang beracun dan dapat


menyebabkan ancaman yang serius bagi organisme hidup termasuk manusia dan
hewan. Unsur Kadmium ini telah terdaftar sebagai salah satu unsur yang bersifat
karsinogen oleh IARC dan US EPA. Untuk itu pada percobaan kali telah ditemukan
beberapa metode untuk penghilangan logam Kadmium yang dilakukan pada air
limbah dan larutan berair dengan menggunakan metode Adsorpsi dan Biosorpsi.
Dimana pada metode Adsorpsi digunakan ampas kopi dari kafetaria sebagai adsorben
untuk menghilangkan logam Cd dan untuk metode Biosorpsi digunakan Alga Biru
Hijau Anabaena spaerica sebagai biosorben untuk penghilangan logam Cd.
Kemudian untuk untuk mengetahui efesiensi dari kedua metode penghilangan
Kadmium baik menggunakan metode Adsorpsi (menggunakan ampas kopi kafetaria)
dan Biosorpsi (menggunakan Alga Biru Hijau Anbaena spaerica) disajikan melalui
beberapa model isoterm yakni Langmuir, Freundlich dan Dubinin-Radushkevich.

Kata kunci : Kadmium, Karsinogen, Adsorpsi, Biosorpsi, Isoterm Langmuir,


Freundlich, Dubinin-Radushkevich.
Pendahuluan

Limbah merupakan suatu zat yang dihasilkan dari suatu kegiatan atau usaha
yang sifatnya dimaksudkan untuk dibuang atau diharuskan untuk dibuang. Limbah ini
biasanya bukan hanya dihasilkan dari kegiatan produksi suatu industri saja namun
laboratorium yang merupakan tempat seorang ilmuan melakukan suatu riset ilmiah
atau eksperimen pun dapat menghasilkan limbah yang disebut sebagai limbah
laboratorium. Limbah laboratorium ini merupakan suatu zat sisa yang dihasilkan dari
hasil suatu percobaan, eksperimen ataupun praktikum yang sifatnya juga berbahaya.
Baik limbah Laboratorium maupun limbah industri mengandung berbagai
senyawa berbahaya termasuk logam berat. Ion logam berat sebagai (unsur) pencemar
lingkungan telah muncul sebagai fokus perhatian utama dalam beberapa dekade
terakhir karena unsur logam ini memberikan efek tidak dapat diperbaiki di
lingkungan [1]. Kadmium menjadi salah satu dari logam berat yang telah terdaftar
sebagai unsur yang bersifat karsinogen Kategori-I oleh Badan Nasional untuk
Penelitian Kanker dan sebagai kelompok unsur karsinogen Kelompok-I oleh Badan
Perlindungan Lingkungan AS (EPA) [1].
Pada tahun 1960 di Itai Jepang telah terjadi pembuangan limbah yang
mengandung logam berat kadmium secara besar-besaran hingga tidak dapat
terkendali dan kasus ini menjadi hal yang menarik perhatian masyarakat disana
selama lebih dari satu abad [2]. Akibat pembuangan limbah yang mengandung
kadmium ini menyebabkan berbagai masalah kesehatan yang diakibatkan dari rute
paparan masuknya unsur ini ke dalam tubuh melalui oral dan sampai pada ginjal.
Kadmium juga dapat menyebabkan demineralisasi tulang, baik secara langsung
maupu secara tidak langsung yang akan menyebabkan disfungsi ginjal [2]. Overdosis
kadmium dalam tubuh juga dapat menyebabkan penumpukan protein dalam urin dan
gangguan metabolism kalium [2].
Untuk itu Organisasi Kesehatan Dunia, Agensi Perlindungan Lingkungan AS
serta UE telah menetapkan batasan maksimum tingkat konsentrasi kadmium dalam
limbah domestik sebesar 0,055 mg/L serta Badan Perlindungan Lingkungan AS telah
menetapkan 2 mg / L sebagai batas debit yang diizinkan dari konsentrasi kadmium
yang dilepas ke badan air [2]. Apalagi IS 10500 telah mengatur batas maksimal yang
diizinkan untuk unsur Kadmium ada dalam air minum sebesar 0,003 mg/L [2].
Untuk itu sejumlah proses atau metode telah dikembangkan untuk
penghilangan atau penurunan konsentrasi kadmium dari pembuangan air limbah.
Beberapa proses atau metode ini seperti presipitasi, koagulasi / flokulasi, pertukaran
ion / ekstraksi pelarut, sementasi, kompleksasi, operasi elektrokimia, operasi biologis,
adsorpsi, evaporasi, filtrasi, dan proses membran [2]. Namun pada artikel ini
mengusulkan dua metode untuk penghilangan dan penurunan konsentrasi logam
kadmium dalam air limbah yaitu dengan menggunakan metode adsorpsi dan
biosorpsi. Pada metode adsorpsi menggunakan ampas kopi dari kafetaria sebagai
adsorben dan untuk metode biosorpsi menggunakan organisme hidup (bakteri) alga
biru hijau Anabaena spaerica sebagai biosorben.
Metode adsorpsi dianggap cukup menarik dalam hal efesiensi transfernya dari
larutan encer. Meskipun, penggunaannya tersedia secara komersial seperti karbon
aktif dan zeolit memiliki harga yang mahal. Dengan demikian, ada permintaan yang
terus meningkat untuk menemukan penyerap yang lebih efesien, biaya rendah dan
mudah tersedia untuk adsorpsi kadmium terutama untuk penggunaannya untuk
adsorben limbah [1]. Para peneliti menemukan adsorben yang berasal dari limbah
sayuran seperti: limbah teh, hasil degradasi biji kopi, serbuk gergaji, pohon pakis,
chitosan, limbah minyak zaitun, limbah jus jeruk dan zaitun batuan sisa [1].
Sedangkan untuk metode biosorpsi merupakan teknologi yang menjanjikan tidak
hanya untuk menghilangkan logam berat dan pewarna tetapi pemulihan logam mulia
(PM) dari fasa cairan [3]. Biosorpsi ini menjadi salah satu teknologi yang muncul dan
menarik untuk menghapus logam berat dari larutan berair (limbah cair) [4]. Berbagai
biomassa (organisme hidup) seperti bakteri, ragi, jamur, dan ganggang diketahui
dapat dijadikan biosorben untuk penghilangan logam berat. Artikel ini menunjukan
bahwa ganggang dapat digunakan sebagai biosorben terutama dalam bentuk sel mati
sedangkan biosorben mikroalga (rumput laut) memiliki kinerja dan efesiensi yang
lebih tinggi pada daerah biosorpsi yang lebih spesifik [4]. Ganggang biru-hijau
(Cyanobacteria) termasuk Dunaliella, Spirulina (Arthrospira), Nostoc, Anabaena,
dan Synechococcus adalah contoh khas yang menunjukkan potensi sebagai biosorben
untuk menghilangkan logam berat secara efisien dari air limbah. Cyanobacteria
memiliki beberapa kelebihan dibanding yang mikroorganisme lain termasuk lendir
dengan volume yang lebih besar, afinitas pengikatan tinggi, luas permukaan besar,
dan nutrisi sederhana dimana persyaratan Cyanobacteria mudah dibudidayakan
dalam skala kultur laboratorium dan biaya yang diperlukan rendah untuk proses
biosorpsinya sendiri [4].
Untuk itu pada artikel ini dilakukan pengolahan limbah logam berat dengan
menggunakan metode adsorpsi menggunakan ampas kopi dari kafetria dan metode
biosorpsi dengan menggunakan biomassa ganggang biru hijau Anabaena spaerica
sebagai biosorben.

Metode Percobaan

1. Metode Adsorpsi
a. Preparasi adsorben

Adsorben yang digunakan dalam penelitian ini adalah (ampas) bubuk kopi
yang datang dari kafetaria. Preparasinya hanya dilakukan diudara sekitar dan
kemudian disaring.

b. Preparasi larutan logam

Larutan kadmium disiapkan dengan melarutkan kadmium nitrat (Cd (NO3) 2 ·


4H2O) dalam air suling. Konsentrasi awal bervariasi dari 10 hingga 700 mgL − 1. PH
awal larutan disesuaikan dengan menggunakan larutan HNO3 atau NaOH.

c. Eksperimen adsorpsi logam

Percobaan adsorpsi dilakukan secara batch pada suhu kamar. Adsorben yang
telah dibuat ditambahkan pada larutan kadmium dan dibiarkan selama beberapa
waktu. Setelah sampai pada interval waktu tertentu dilakukan penyaringan
menggunakan kertas saring. Analisis kadmium dilakukan dengan menggunakan
metode SSA pada panjang gelombang 228,8 nm.

d. Perhitungan dari parameter isoterm adsorpsi

Tes mengenai studi tentang kesetimbangan adsorpsi dilakukan untuk


− 1
konsentrasi logam bervariasi dari 10 sampai 700mg L menggunakan 1 L larutan
kadmium. Selama adsorpsi, kesetimbangan cepat terbentuk antara kuantitas logam
teradsorpsi pada adsorben (qe) dan logam yang tersisa dalam larutan (Ce). Data
isoterm ditandai oleh Langmuir (3), Freundlich (4) dan Dubinin melalui persamaan:

e. Adsorpsi Kinetik

Kinetika adsorpsi dipelajari dengan menggunakan dua model kinetik: orde


semu pertama dan model orde kedua. Model-model ini memperhitungkan jumlah
teradsorpsi yang akan memungkinkan kita untuk menentukan reaktor volume.

f. Studi Termodinamika

Parameter termodinamika dapat ditentukan dengan menggunakan kesetimbangan


kosntanta K (qe/Ce) yang bergantung pada suhu. Ini dapat mengubah energi bebas
(ΔG°), etalpi (ΔH°) dan entropi (ΔS°). Terkait dengan proses adsorpsinya dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan:
2. Metode Biosorpsi
a. Preparasi bahan

Alga hijau biru dikumpulkan dan disimpan pada media yang mengandung
makroelemen: K2HPO4, MgSO4, CaCl2, asam sitrat Na2EDTA, Na2CO3 dan besi
ammonium sitrat. Kultur alga yang terbentuk kemudian diinkubasi pada suhu 24 ±
2°C. setelah itu dilakukan sentrifugasi selama 10 menit pada 5000 rpm. Setelah itu
biomassa alga dicuci dengan menggunakan air suling sebanyak lima kali untuk
menghindari terdapatnya garam. Kemudian dilakukan pengeringan dengan cara di
masukan ke oven pada suhu 40°C sampai beratnya konstan. Setelah itu biomassa
yang telah kering diayak dengan menggunakan saringan berukuran 0,2 mm dan
disimpan botol polipropilen.

b. Larutan standar logam Cd

Garam logam yang digunakan dalam pembuatan larutan standar logam ialah
CdCl2/5H2O. kemudian larutan air limbah dipersiapkan dengan menipiskan stok
standar konsentrasi 1000 mg / L masing-masing logam. Deionisasi air digunakan
dalam semua percobaan.

c. Metode analitik
- Determinasi dari konsentrasi logam

Konsentrasi logam dalam semua sampel ditentukan sesuai dengan metode


APHA menggunakan Atom Absorpsi Spectrometer (Varian SpectrAA 220, USA)
dengan tungku grafit aksesori dan dilengkapi dengan latar belakang busur deuterium
korektor. Presisi pengukuran logam ditentukan dengan menganalisa konsentrasi
logam dari semua sampel.

- Quality Control (QC)


Untuk setiap seri pengukuran, kurva kalibrasi absorpsi yang dibuat terdiri dari
standar kosong tiga atau lebih. Keakuratan dan ketepatan pengukuran logam
dikonfirmasi menggunakan bahan referensi standar eksternal 1643e untuk elemen
dalam sampel kontrol air dan kualitas dari Institut Standar dan Teknologi Nasional
(NIST).

- Studi Biosorpsi Batch

Setiap studi biosorpsi batch dilakukan dengan mencampurkan biomassa A.


sphaerica dengan ion logam dalam labu Erlenmeyer 250 ml. Percobaan dilakukan di
ruangan suhu (25 ± 0,1°C) untuk menentukan efek pH, biosorben dosis, waktu
kontak, dan konsentrasi ion awal biosorpsi Cd (II).

- Pengaruh pH

Percobaan batch dilakukan dengan mencampurkan 0,1 g alga dengan 100 ml


50 mg / L larutan logam dalam erlenmeyer 250 ml pada nilai pH yang berbeda, mulai
dari 2 hingga 6 (di bawah ini 2, konsentrasi proton tinggi meminimalkan penyerapan
logam dan di atas 6 presipitasi logam disukai). pH larutan telah disesuaikan dengan
asam klorida atau natrium hidroksida. Campuran dikocok selama 2 jam pada suhu
kamar, disaring, dan pH akhir untuk setiap sampel ditentukan.

- Pengaruh Waktu Kontak

Waktu optimum dilakukan pada pH optimum dengan melakukan percobaan


batch biosorpsi dengan dosis konsentrasi ion logam awal 50 mg / L, 10 mg / L
biosorben dan pada periode waktu yang berbeda (5, 15, 30, 60, 90, 120 menit).

- Dosis efek biosorben

Dosis biosorben bervariasi dari 0,025 hingga 0,25 g dengan menggunakan


volume tetap 100 ml 50 mg / L larutan logam di pH optimum dan waktu
kesetimbangan untuk setiap logam.
- Isoterm Biosorpsi

Isoterm diukur dengan memvariasikan konsentrasi ion logam awal pada


kondisi optimum untuk setiap logam. Perbedaan model biosorpsi digunakan untuk
perbandingan dengan data eksperime.

Hasil dan Diskusi

1. Metode Adsorpsi

Karakterisasi adsorben dari ampas kopi dilakukan dengan menggunakan


instrumen SEM dan XRF dimana hasilnya menunjukan Mikroanalisis energi X-ray
dispersif (SEM / EDX) dari ampas kopi ditunjukkan pada Tabel di atas menunjukkan
terutama kehadiran oksigen (58,59%) dan karbon (33,75%) tetapi muncul juga
beberapa heteroatom, seperti K, Na dan Si yang berasal dari prekursor kayu.
Sementara untuk data hasil XRF menunjukan keberadaan kalium, fosfor, magnesium
dan kalsium [5].

Gambar I pemindaian Mikroskop Elektron dari ampas kopi dengan perbesaran yang
berbeda.
Kemudia untuk operasional parameter yang digunakan seperti waktu kontak,
dosis adsorben, pengaruh larutan pH, pengaruh ukuran partikel adsorben dan
pengaruh temperature didapatkan untuk waktu kontak dilihat dari perbedan beberapa
massa adsorben yang digunakan dimana konsentrasi awal kadmium yang ditetapkan
sebesar 100 mg/L [6]. pH larutan pada 7 dan diameter partikel pada rentang antara
0,63 dan 0,85 mm [6]. penyerapan awal tingkat penyerapan kadmium terjadi selama 1
jam selanjutnya laju adsorpsinya menjadi lebih konstan. Semakin lama waktu kontak
maka terjadi penurunan konsentrasi kadmium yang cukup signifikan. Umumnya,
ketika adsorpsi melibatkan suatu proses reaksi permukaan, adsorpsi awal akan
berlangsung cepat [7]. Kemudian, seperti adsorpsi yang lebih rendah akan mengikuti,
sebagai adsorpsi penarikan secara bertahap menurun, yang konsisten dengan
penelitian yang dilaporkan sebelumnya. Menurut hasil yang diperoleh dari massa
yang berbeda adsorben, waktu ekuilibrium yang ditemukan adalah 120 menit.
Sementara untuk pengaruh dosis adsorben dapat diketahui Dosis Adsorben
merupakan parameter penting karena ini menentukan kapasitas adsorben untuk
konsentrasi awal yang diberikan dari adsorbat pada kondisi operasi. Efekdasar dosis
kopi, bervariasi dari 3 hingga 24 g, ke adsorpsi Cd2+ [5]. Jelas bahwa persen
penghapusan ion logam meningkat dengan bertambahnya berat ampas kopi sampai 9
g [8]. Namun, setelah hampir semua Cd2 + teradsorpsi, kontribusi dari bubuk kopi
tambahan akan menjadi tidak signifikan. Dengan bertambahnya dosis adsorben, lebih
banyak area permukaan tersedia untuk adsorpsi untuk meningkatkan aktifitas adsorbsi
kemudian membuat penetrasi lebih mudah ion logam ke sorpsi. Dari hasil ini
diperoleh dosis adsorben optimal sama dengan 9 g.

2. Metode Biosorpsi

Biosorben yang digunakan dalam penelitian ini adalah alga hijau biru (A. sphaerica)
dikumpulkan dari air Sungai Nil dan dimurnikan dan digarap kembali dalam medium
BG11 [9]. Data yang disajikan menunjukkan ada berbagai bentuk A. sphaerica
seperti filament klaster soliter atau bebas, sel-sel berbentuk silinder berbentuk silinder
atau bulat dan sel-sel terminal berbentuk bola atau sedikit memanjang. Pengaruh nilai
pH pada biosorpsi ion Cd (II) ke A. sphaerica biomassa dievaluasi dan hasilnya
disajikan jelas bahwa maksimum biosorpsi untuk Cd (II) mencapai 84,5% pada pH
5,5 [9]. Karena itu, semua eksperimen dilakukan pada pH 5,5 untuk Cd. Hasil saat ini
menunjukkan bahwa biosorpsi Cd (II) ditingkatkan dengan meningkatkan nilai pH.
Ini karena, pada pH rendah, konsentrasi muatan positif (proton) meningkat di
permukaan biomassa, yang dibatasi pendekatan kation logam ke permukaan biomassa
karena tolakan muatan. Seiring peningkatan pH, konsentrasi proton menurun dan
permukaan biomassa lebih bermuatan negatif. Biosorpsi yang bermuatan ion positif
meningkat sampai mencapai biosorpsi maksimum mereka sekitar pH 5,5 Cd (II).
Efisiensi biosorpsi maksimum Cd (II) terjadi pada nilai pH yang berbeda. efek waktu
kontak pada biosorpsi ion Cd (II) gunakan A. sphaerica [10]. Hasil ini menunjukkan
bahwa biosorpsi kedua logam cepat dalam 20 menit pertama kemudian secara
bertahap meningkat sampai kesetimbangan tercapai pada 60 dan 90 menit untuk Cd,
dan kemudian biosorpsi menjadi hampir konstan. Oleh karena itu, waktu kontak 60
dan 90 menit digunakan sebagai waktu optimal untuk Cd untuk sisa percobaan. Laju
biosorpsi ion Cd (II) menggunakan A. sphaerica tampaknya terjadi dalam dua
langkah; biosorpsi permukaan yang sangat cepat pada langkah pertama dan difusi
intraseluler lambat langkah kedua [10].

Kesimpulan

1. Metode Adsorpsi

Kapasitas bubuk kopi yang belum diolah untuk menghilangkan Cd (II) dari larutan
berair yang ditunjukkan dalam penelitian ini, menyoroti potensinya untuk proses
pengolahan limbah. Eksperimen kinetik menunjukkan bahwa adsorpsi cepat dan
kapasitas adsorpsi maksimum tercapai dalam 120 menit. Efeknya beberapa parameter
untuk menghilangkan cadmium seperti adsorben dosis, pH larutan awal, ukuran
partikel adsorben, Konsentrasi awal Cd (II) dan suhu telah dipelajari. Ukuran partikel
tidak berpengaruh pada penghapusan kadmium, hasil ini sangat penting dan
mengarahkan kita untuk menggunakan adsorben ini langsung sebagai sampah tanpa
perawatan apa pun. Proses adsorpsinya meliputi fungsi konsentrasi adsorben, pH,
konsentrasi ion logam dan suhu, dengan parameter optimal yang ditemukan adalah:
dosis adsorben = 9 g, pH 7 dan suhu ambien (20 ◦C). Dengan nilai pH 7, model
isotherm Langmuir sesuai dengan data eksperimen dibandingkan dengan model
Freundlich dan D-R. Kapasitas adsorpsi minimum masing-masing mencapai
15.65mg/L. Namun, model Freundlich cocok dengan data eksperimen untuk nilai pH
4 dan 2,5. Untuk semua suhu yang dipelajari, harga adsorpsinya ditemukan mengikuti
kinetika orde kedua . Hasilnya menunjukkan bubuk kopi itu dapat digunakan sebagai
murah, efektif dan mudah digunakan untuk adsorben untuk penghilangan kadmium
dalam limbah cair dan larutan berair.

2. Metode Biosorpsi

Kapasitas biosorpsi maksimum adalah 111,1 mg / g untuk Cd pada kondisi operasi


optimal, masing-masing. Data eksperimen mengungkapkan bahwa Cd biosorpsi
cocok untuk isoterm Freundlish dan Langmuir. Nilai energi bebas rata-rata dihitung
dari D-R plot 11,7 menunjukkan bahwa biosorpsi Jenisnya adalah kemisorpsi. FTIR
mengindikasikan bahwa amino, gugus karboksil, hidroksil dan karbonil pada
permukaan biomassa bertanggung jawab untuk biosorpsi Cd (II). Berdasarkan hasil
ini, A. sphaerica biomassa dapat digunakan sebagai biomassa biaya rendah yang
efisien untuk penghilangan logam dari air limbah.

Daftar pustaka
[1] N Azouoaou, Z Sadaoui, A Djaafri, and H Mokaddem, "Adsorption of Cadmium
from Aqueous Solution onto Untreated CoffeeGgrounds," Journal of Hazardous
Materials, vol. 184, pp. 126-134, August 2010.

[2] Debasree Purkayastha, Umesh Mishra, and Swarup Biswas, "Adsorption of


Cadmium from Aqueous Solution onto Untreated Coffee Grounds," Journal of
Water Process Engineering, vol. 2, pp. 105-128, May 2014.
[3] Sung Wook Won, Pratap Kotte, Wei Wei, Areum Lim, and Yeoung Sang Yun,
"Biosorbents for Recovery of Precious Metals," Bioresource Technology, vol.
xxx, pp. 561-756, 2014.

[4] Azza M Abdel, Nabila S Ammar, Hany H Abdel Ghafar, and Rizka K Ali,
"Biosorption of Cadmium and Lead from Aqueous Solution," Journal of
Advanced Research, vol. 4, pp. 367-374, August 2013.

[5] Yunsong Zhang, Weiguo Liu, Li Zang, Meng Wang, and Maojun Zhao,
"Application of bifunctional Saccharomyces cerevisiae to remove lead(II) and,"
Applied Surface Science, vol. 257, pp. 9809-9816, June 2011.

[6] Rakesh Kumar Sharma and G Archana, "Cadmium minimization in food crops
by cadmium resistant plant," Applied Soil Ecology, vol. 107, pp. 66-78, May
2016.

[7] Tushar Kanti Sen and Meimoan Velyny Sarzali, "Removal of cadmium metal
ion (Cd2+) from its aqueous solution," Chemical Engineering Journal, vol. 142,
pp. 256-262, September 2007.

[8] Fei Huang et al., "Biosorption of Cd(II) by live and dead cells of Bacillus cereus
RC-1," Colloids and Surfaces B: Biointerfaces, vol. 107, pp. 11-18, January
2013.

[9] Atefeh Abdolali et al., "Application of a breakthrough biosorbent for removing


heavy," Biosource Technologiy, November 2016.

[10] Chao Chung Ho and Ming Shu Chen, "Risk assessment and quality improvement
of liquid waste management," Waste Management, vol. xxx-xxx, p. xxx,
September 2017.