Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

BAHASA INDONESIA SD 3
WHOLE LANGUAGE APPROACH

Dosen Pengampu :
Drs. H. Khairil Anwar, M.Pd

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1:


RIA FEBRINA 1610125320146
SARIPATUL MAHPUZAH 1610125320162
SITI ANNISA AULIA 1610125320166
SRI RAHMANIAH 1610125320172
WAWAN RONALDI 1610125310181

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
2018
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas segala


limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada hambanya sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini yang berjudul "Whole Language Approach ” Kami
berterima kasih kepada Drs. H. Khairil Anwar, M.Pd selaku dosen dalam mata
kuliah Bahasa Indonesia SD 3 dan terima kasih pula kepada semua pihak yang
membantu seraca langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan makalah
ini.
Kami menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian,
kami telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki
sehingga dapat selesai . Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Akhirnya kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
seluruh pembaca.

Banjarmasin, 10 September 2018


Penyusun,

Kelompok 1

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................i
DAFTAR ISI............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. LATAR BELAKANG.......................................................................................1
B. RUMUSAN MASALAH..................................................................................2
C. TUJUAN PENULISAN....................................................................................2
BAB II ISI................................................................................................................3
A. PENDEKATAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR.......................3
B. PENGERTIAN PENDEKATAN WHOLE LANGUAGE................................8
BAB III PENUTUP...............................................................................................15
A. KESIMPULAN...............................................................................................15
B. SARAN...........................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................16

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pendekatan pembelajaran adalah seperangkat asumsi yang saling berkaitan,
berhubungan dengan sifat bahasa dan pembelajaran Bahasa, dengan kata lain,
pendekatan pengajaran bahasa bersifat aksiomatis tentang bahasa yaang
digunakan sebagai landasan berpikir dalam menentukan metode, teknik, atau
prosedur mengajarkan bahasa sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.Metode
pembelajaran bahasa adalah rencana pembelajaran bahasa, yang mencakup
pemilihan, penentuan, dan penyusunan, bahan ajar secara sistematis,dimaksudkan
agar bahan ajar tersebut mudah diserap dan dikuasai oleh siswa, sedangkan teknik
pembelajaran bahasa adalah cara atau siasat guru dalam menyampaikan bahan ajar
didepan kelas.
Fungsi pendekatan bagi suatu pengajaran ialah sebagai pedoman umum untuk
langkah-langkah metode dan teknik pengajaran yang akan digunakan. Bahkan
tidak jarang nama metode dan teknik yang digunakan diambil dari nama
pendekatannya. Bila prinsip pendekatan lahir dari teori-teori bidang-bidang yang
relevan, maka pendekatan lahir dari asumsi terhadap bidang-bidang yang relevan.
Asumsi yang berbeda akan menimbulkan pendekatan yang berbeda. Asumsi-
asumsi pandangan behaviorisme misalnya, maka muncul pendekatan srtuktural.
Demikian pula dari asumsi-asumsi humanisme lahir pendekatan komunikatif.
Penggunaan pendekatan dalam pengajaran bahasa menentukan : Cara pandang
seseorang dalam menyikapi bahasa sebagai materi pelajaran, isi pembelajaran,
teknik dan proses pembelajaran dan perencanaan dan pelaksanaan program
pengajaran.

1
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian Pendekatan dalam Proses Belajar-Mengajar ?
2. Apa pengertian Pendekatan Whole Language ?
3. Bagaimana Strategi Pembelajaran Bahasa dengan Pendekatan Whole
Language ?
4. Bagaimana Ciri-ciri kelas yang menggunakan Pendekatan Whole Language ?
5. Bagaimana penerapan Pendekatan Whole Language pada proses pembelajaran
?
6. Bagaimana penilaian dalam kelas Whole Language ?
7. Apa saja kelebihan dan kelemahan penerapan Pendekatan Whole Language ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui pengertian Pendekatan dalam Proses Belajar-Mengajar
2. Mengetahui pengertian Pendekatan Whole Language
3. Mengetahui Strategi Pembelajaran Bahasa dengan Pendekatan Whole
Language
4. Mengetahui Ciri-ciri kelas yang menggunakan Pendekatan Whole Language
5. Mengetahui penerapan Pendekatan Whole Language pada proses
pembelajaran
6. Mengetahui penilaian dalam kelas Whole Language
7. Mengetahui kelebihan dan kelemahan penerapan Pendekatan Whole Language

BAB II

2
ISI

A. PENDEKATAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR


Pendekatan dalam proses belajar mengajar diharapkan siswa dapat memahami
sesuatu konsep pengetahuan dan penerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Siswa belajar tidak hanya untuk mengembangka kemampuan mental (intektual),
tetapi sekaligus mengembangkan faktor kejiwaan yang lain. Oleh karena itu,
dalam pendekatan belajar mengajar selalu terkait antara pengetahuan yang sedang
dipelajari itu, ilmu jiwa (psikologi) dan ilmu pendidikan. Pesatnya perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan orang terus mencari pola
pendidikan belajar yang paling sesuai, yang dapat memenuhi tuntutan siswa dalam
belajar. (Muchlisoh, dkk, 1996:3)
Pendekatan belajar mengajar ada tiga, yaitu : pendekatan berorientasi pada
tujuan pendekatan spiral, dan pendekatan belajar aktif.
a. Pendekatan Tujuan
Suatu pendekatan belajar mengajar yang menetapkan bahwa setelah siswa
belajar sesuatu ia akan memperoleh pengetahuan sesuai tujuan belajar.
Pengetahuan tujuan disini, misalnya siswa belajar kalimat aktif dan kalimat pasif,
setelah guru menjelaskan siswa dapat mencari contoh lain dan dapat
menggunannya dalam menulis karangan.
Contoh lain, setelah siswa membaca suatu bacaan, siswa dapat memahami dan
dapat menceritakankemabli isi bacaan. Jadi, dalam pendekatan tujuan ini yang
dipentingkan adalah hasil belajar. Sering guru tidaka memperhatiakan pengusan
materi yang diberikan, sehingga tidak jarang siswa mengetahui jawabannya, tetapi
tidak tahu bagaimana proses memperolehnya.

b. Pendekatan Spiral

3
Kegiatan belajar mengajar siswa memahami konsep pengetahuan yang sama,
tetapi semakin tinggi konsep itu makin meluas dan mendalam.
c. Pendekatan Belajar Aktif
Pendekatan belajar aktif ini sering kita sebut cara belajar siswa aktif (CBSA).
Pendekatan ini guru lebih memberikan kesempatan aktif kepada siswa. Dengan
memberikan kesempatan kepada semua siswa aktif, guru pun juga dituntut lebih
aktif dan kreatif, guru perlu menyiapkan kegiatan belajar mengajar yang menarik,
merangsang, dan menantang. Guru perlu menyiakan sarana dan sumber belajar
yang bervariasi, arahan-arahan tugas yang dapat mengembangkan berbagai
keterampilan dasar (keterampilan proses) siswa. Keterampilan proses ii antara lain
keterampilan mengamati, mengklasifikasi, mengukur, meramalkan, menghitung,
menafsirkan, menyusun kesimpulan, menerapkan, mengkomunikasikan dan
sebaginya.
Kegiatan belajar mengajar disamping menanamkan konsep pengetahuan, guru
juga mengikuti perkembangan keterampilan-keterampilan dasar ini, maka selama
proses belajar mengajar berlangsung perlu mengamati dan menilai proses belajar
yang sedang mereka lakukan. Jadi, setelah siswa belajar sesuatu guru tidak hanya
mengetahui hasilnya, tetapi sekaligus mengetahui bagaimana proses
memperolehnya.

B. PENGERTIAN PENDEKATAN WHOLE LANGUAGE


Whole language diciptakan pada tahun 1980-an oleh para pendidik Amerika
Serikat yang peduli dengan seni pengajaran membaca dan menulis dalam bahasa
asli. Menurut Brenner dalam Carlo, De, J.E “whole language is a way of teaching
pre reading, reading and other language skill thourgh all process that involve
language, writing, talking, listening to stories, creating stories, art work and
dramatic play as through more traditional path ways” (Carlo, De, J.E, 1995:88)
Berdasarkan pendapat di atas, bahwa whole language adalah suatu cara

4
mengajar pra baca, membaca dan keterampilan bahasa lainnya melalui semua
proses yang melibatkan bahasa, menulis, membaca, mendengarkan cerita,
mengarang cerita, karya seni, bermain drama maupun melalui cara-cara yang
lebih tradisional.
Whole language approach adalah pendekatan pembelajaran bahasa yang
menyajikan pengajaran bahasa secara utuh, artinya tidak terpisah-pisah.
Pendekatan whole language berasumsi bahwa bahasa merupakan satu kesatuan
yang tidak dapat dipisah-pisahkan, oleh karena itu pembelajaran komponen
bahasa (fonem, morfem, klausa, kalimat, wacana) dan keterampilan berbahasa
(menyimak, berbicara, membaca, dan menulis) harus dapat disajikan secara utuh
dalam situasi yang nyata (autentik) dan bermakna kepada peserta didik.
Secara teori kebahasaan whole language is whole (keutuhan). Pandangan ini
tidak meremehkan satu ragam bahasa, dialek, ataupun bahasa karena status
penuturnya. Pemakaiannya berkaitan erat dengan nilai-nilai yang berlaku dalam
masyarakat. Brown menggukapkan bahwa “whole language merupakan suatu
teori atau pendekatan terhadap pembelajaran secara menyeluruh atau utuh.
Maksudnya bahwa dalam pembelajaran bahasa, kita mengajarkan secara
kontekstual, logis, kronologis, dan komunikatif serta menggunakan setting yang
nyata dan bermakna.Robert (1996) prinsip dan pengajaran dengan whole language
diwarnai oleh progresivisme dan kontruktivisme yang menyatakan bahwa peserta
didik membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar
secara utuh (whole) dan terpadu (integrated). Dari kutipan tersebut dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa dengan pendekatan whole language
sejalan dengan teori kontruktivis dan quantum learning karena siswa akan aktif
dalam proses kegiatan belajar mengajar dan merasa senang dengan aktivitas yang
dilakukannya. Dalam pendekatan whole language terdapat hubungan yang
interaktif antar keterampilan bahasa, yaitu antara menyimak, berbicara, membaca,

5
dan menulis. Belajar bahasa ini hraus diintegrasikan ke dalam atau terinternalisasi,
tidak terpisah dari semua aspek kurikulum. Pengintegrasian ini didefinisikan
sebagai pendekatan whole language atau perspektif untuk perkembangan literacy.
Melalui pendekatan whole language ini kemampuan dan keterampilan anak
dalam menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dapat dikembangkan secara
utuh, operasional, dan menyeluruh. Peserta didik dapat membentuk sendiri
pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam proses pembalajaran secara utuh.
Keterampilan-keterampilan ini memiliki hubungan yang interaktif dan whole
language merupakan kunci pertama disekolah untuk mendorong anak untuk
menggunakan bahasa dan belajar bahasa dengan cara tidak terpisah-pisah.
Diharapkan melalui pendekatan whole language kemampuan dan keterampilan
yang dimiliki oleh peserta didik dapat tercapai secara holistik, dan dapat terus
dikembangkan secara operasional dan menyeluruh.
1. Strategi Pembelajaran Bahasa dengan Pendekatan Whole Language
Menurut Rafiuddin dan Darmiyati, ada beberapa strategi pembelajaran dengan
menggunakan whole languageyang ditinjau dari aspek guru dan siswa:
a. Pencelupan (immersion); guru menciptakan lingkungan yang memungkinkan
pembelajar melaksanakan program celup dalam kegiatan pembelajaran sehari-
hari dalam menggunakan: bahasa guru, bahasa teman sebaya, bahasa buku-
buku, percakapan informal, nahasa di kelas informal lagu percakapan
informal, bahasa dikelas informal, bahasa yang didapat lagu. Nanti bahasa
diinternet bahasa yang dibuatkan , bahasa yang terdapat dalam lagu-lagu atau
berbagai cerita.
b. Demonstrasi; guru terlibat dalam peragaan pemakaian bahasa sebagai sumber
pengayaan dan data bagi pembelajar dalam menformulasikan struktur kalimat,
mengembangkan makna, dan memperoleh berbagai konvensi pemakaian
sosial, pemakaian bahasa di masyarakat (pragmatic).

6
c. Keterlibatan; pembelajar harus dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran,
dimana ada perasaan nyaman dan aman bagi pembelajar.
d. Harapan; guru harus punya harapan bahwa pembelajar akan dapat
melaksanakan kegiatan pembelajaran selaras dengan pola atau fase
perkembangan mereka.
e. Tanggung jawab; pembelajar diberikan kesempatan, kepercayaan, dan
tanggung jawab untuk menentukan apa yang mereka pelajari.
f. Pemakaian; dalam kegiatan pembelajaran ini dilakukan ide belajar bahasa
secara serentak, yaitu: (1) memahami bahasa, (2) mencoba menggunakannya,
dan (3) pembelajar mempelajari bahasa pada saat bahasa tersebut digunakan.
g. Aproksimasi; para guru yakin bahwa kekeliruan merupakan hal yang wajar
dalam proses belajar bahasa. Kekeliruan yang dibuat oleh pembelajar
merupakan pertanda bahwa pembelajar sedang dalam proses belajar.
h. Respons dan umpan balik; keterlibatan guru secara aktif dalam percakapan
dengan pembelajar dapat menjadi model untuk mengembangkan sintaksis,
semantik, dan pragmatik. Respon yang diberikan oleh guru di kelas hendaknya
tidak bersifat mengancam atau menakutkan. (Ahmad Rafiuddin dan Darmiyati
Zuhdi, 2001:140 -144)
2. Ciri-ciri Kelas Whole Language
Pendekatan whole language guru harus mengetahui bagaimana belajar bahasa,
bagaimana memberikan waktu dan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar
dalam baca-tulis. Ciri khas yang dapat dilakukan dalam kelas dalam pendekatan
whole language ini peserta didik akan melakukan; (1) berkembang melalui tahap-
tahap sesuai dengan perkembangan, (2) dilibatkan dalam interaksi sosial
sepanjang hari, (3) berbagai tanggungjawab dalam mereka belajar, (4) merasa
senang mencoba dan praktik baca tulis tanpa takut kritikan, (5) mengevaluasi
kemajuan mereka sebagai bagian alamai dari semua pengalaman belajar.
Pendekatan whole language ini dilandasi dalam oleh teori belajar humanistik

7
dan kontruktivisme yang beranggapan bahwa peserta didik akan membentuk
sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secata utuh (whole)
dan terpadu (integrated). Guru bertugas sebagai fasilitator yang menyediakan
lingkungan, sarana dan prasarana yang menunjang untuk tumbuhnya motivasi
belajar peserta didiknya, sehingga akan peserta didik akan termotivasi untuk
belajar dan terus belajar jika apa yang mereka pelajari itu penting dan berguna
bagi kehidupan mereka.
3. Penerapan Pendekatan Whole Language pada proses pembelajaran
Langkah-langkah Pendekatan Whole Language pada proses pembelajaran,
yaitu :
a. Pembentukan kelompok kecil untuk siswa dilakukan sebagai wadah para
siswa untuk berdiskusi dalam proses pembelajaran, untuk membantu prosees
pemahaman siswa lebih optimal.
b. Reading Aloud (Membaca Bersuara) adalah kegiatan membaca yang
dilakukan oleh guru untuk siswanya menggunakan teks narasi ekspositoris
yang dibuat untuk menyampaikan materi pembelajaran. Guru dapat
membacakan cerita tersebut dengan suara nyaring dan intonasi yang baik.
c. Journal Writing (menulis jurnal), kegiatan ini guru dapat memberi tugas
kepada siswa untuk menuliskan prediksi bacaan lain dengan tema yang sama
dengan bacaan yang sebelumnya diberikan guru.
d. SSR (Sustained Silent Reading), pada tahapan kegiatan ini siswa sesuai
intruksi guru membaca dalam hati teks yang ia miliki, guru sebagai fasilitator
harus dapat menyediakan bahan bacaan yang beraga bagi siswa, dan siswa
memilih bahan bacaan yang sesuai.
e. Shared Reading (Membaca Bersama) adalah kegiatan membaca bersama
antara guru dan siswa. setiap siswa mempunyai teks yang sedang dibacanya,
pada tahap ini guru juga bisa meminta siswa membaca materi yang membahas
topik tersebut di depan kelas secara bergiliran dengan teman lainnya,

8
kemudian melakukan tanya jawab.
f. Guided Reading (Membaca Terbimbing), semua siswa membaca dan
mendiskusikan materi yang dibahas dalam kegiatan pembelajaran. Guru
menjadi pengamat dan fasilitator serta memberikan kesempatan bagi siswa
untuk bertanya dan menjawab pertanyaan secara bergantian.
g. Guided Writing (Menulis Terbimbing), dalam membaca dan menulis
terbimbing peran guru adalah sebagai fasilitator, yaitu membantu siswa
menemukan hal yang ingin ditulisnya dengan jelas, sistematis dan menarik
serta menentukan ide pokok yang terdapat dalam terks.
h. Independent Reading (Membaca Bebas), siswa bertanggung jawab terhadap
bacaan yang dimilikinya. Membaca bebas yang diberikan secara rutin
walaupun hanya 10 menit sehari dapat meningkatkan kemampuan membaca
para siswa. Proses membaca bebas siswa diberi kebebasan untuk membaca
teks atau materi, dan menggali informasi lain dari sumber wawancara yang
telah dilakukanya dengan tetap sejalan dalam topik pembelajaran.
i. Independent writing (Menulis Bebas), siswa mempunyai kesempatan untuk
menulis tanpa ada interfensi dari guru. Siswa bertanggung jawab sepenuhnya
dalam proses menulis. Dalam tahap ini siswa dapat menuliskan mengenai
informasi yang ia dapatkan dalam proses pembelajaran.
j. Mengomunikasikan kembali ditambahkan dalam pembelajaran sebagai upaya
untuk mengukur salah satu indikator dalam proses pembelajaran.
4. Penilaian Dalam Kelas Whole Language
Penilaian di dalam kelas yang menggunakan whole language diharapkan guru
agar senantiasa memperhatikan segala kegiatan yang dilakukan oleh peserta didik.
Penilaian dapat dilakukan selama berlangsungnya proses pembelajaran. Guru
dapat memberikan penilaian dengan cara memperhatikan peserta didik menulis,
mendengarkan ketika peserta didik berdiskusi, baik secara kelompok maupun
dalam diskusi kelas. Penilaian dapat juga dilakukan pada saat anak-anak bermain.

9
Guru memperhatikan dan memberikan penilaian ketika peserta didik bercakap-
cakap dengan temannya atau gurunya, bahkan pada waktu peserta didik bermain
dan istirahat guru juga dapat memberikan penilaian.

Alat penilaian yang dapat digunakan oleh guru seperti lembar observasi,
catatan anekdot, juga dengan penilaian secara portofolio, yaitu kumpulan hasil
kerja peserta didik selama kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian ini
perkembangan siswa dapat dinilai secara otentik.
5. Kelebihan dan Kelemahan Penerapan Pendekatan Whole Language, sebagai
berikut:
a. Kelebihan Pendekatan Whole language :
1. “Pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa, seperti tata bahasa
dan kosakata disajikan secara utuh, bermakna, dan dalam situasi nyata atau
otentik”.
2. Pada pembelajaran whole language siswa berperan aktif dalam pembelajaran.
Guru tidak perlu berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi. “Sebagai
fasilitator, guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa”
3. Pendekatan whole language secara spesifik mengarah pada pembelajaran
bahasa Indonesia. Namun, “tidak tertutup kemungkinan dapat diterapkan
dalam pembelajaran pelajaran lain”.
b. Kelemahan pendekatan Whole language :
1. Pembiasaan pada penerapan pendekatan whole language memerlukan waktu
yang cukup lama karena perubahan tersebut harus dilakukan dengan hati-hati
dan perlahan agar menghasilkan kelas whole language yang diinginkan.
2. Pada penerapan whole language “guru harus memahami dulu komponen-
komponen whole language agar pembelajaran dapat dilakukan secara
maksimal”

10
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Whole langugae bukanlah metode mengajar tetapi pendekatan pembelajaran
yang melihat bahasa sebagai entitas keseluruhan . Setiap guru bahasa bebas untuk
menerapkan pendekatan sesuai dengan kebutuhan kelas tertentu. Keuntungan dari
Whole language adalah bahwa itu berfokus pada pengalaman dan kegiatan yang
relevan dengan kehidupan dan kebutuhan peserta didik yang menggunakan bahan
otentik/ nyata dan bahwa hal itu dapat digunakan untuk memfasilitasi
pengembangan dalam aspek bahasa seperti membaca dan menulis.
Penerapan pendekatan whole language dapat meningkatkan kualitas proses
Pembelajaran antara lain dengan meningkatnya Jumlah siswa yang aktif dalam
kegiatan pembelajaran dan keterampilan guru dalam mengelola kelas.

B. SARAN
Makalah yang kami susun semoga bisa menambah wawasan kita. Mohon di
maklumi dari semuanya jika dalam makalah kami ini masih terdapat banyak
kekeliruan baik bahasa maupun pemahaman. Karena tiadalah sesuatu yang
sempurna yang bisa manusia ciptakan.

11
DAFTAR PUSTAKA

Muchlisoh, dkk. 1996. Pendidikan Bahasa Indonesia 3, Jakarta: Universitas


Terbuka.

Muchlisoh, dkk. 1997. Pendidikan Bahasa Indonesia 3, Jakarta: Universitas


Terbuka.

Ahmad Rafiuddin & Darmiyati Zuhdi. 2001. Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia di Kelas Tinggi, Malang: Universitas Negeri.

http://ejournal.upi.edu/index.php/jpgsd/article/download/9059/5635

http://www.tintapendidikanindonesia.com/2017/09/pendekatan-whole-
language.html?m=1

12