Anda di halaman 1dari 42

Antenatal Care (ANC)

A. Definisi Antenatal Care


Menurut DepKes RI (2007) pelayanan antenatal merupakan pelayanan
terhadap individu yang berseifat preventive care untuk mencegah terjadinya
masalah yang kurang baik bagi ibu maupun janin. Pelayanan antenatal
merupakan upaya kesehatan perorangan yang memperhatikan presisi dan
kualitas pelayanan medis yang diberikan. Antenatal care adalah pengawasan
sebelum persalinan terutama ditujukan pada pertumbuhan dan perkembangan
janin dalam rahim. Sedangkan pengawasan sebelum persalinan terutama
ditujukan pada ibunya disebut antenatal care.
Antenatal care (ANC) adalah perawatan selama kehamilan sebelum
bayi lahir yang lebih ditekankan pada kesehatan ibu. Proses pengawasan
antenatal merupakan proses yang memerlukan jadwal tertentu dan teratur
sehingga kontak dengan seorang calon ibu dapat berlangsung cukup lama
(Manuaba, 2007)
Pemeriksaan Antenatal Care (ANC) adalah pemeriksaan kehamilan
untuk mengoptimalkan kesehatan mental dan fisik ibu hamil, hingga mampu
menghadapi persalinan, kala nifas, persiapan pemberiaan ASI dan kembalinya
kesehatan reproduksi secara wajar (Manuaba, 2008).

B. Tujuan Antenatal Care


1. Mengawasi ibu hamil selama masa kehamilan sampai persalinan
2. Merawat dan memeriksa ibu hamil. Jika didapatkan kelainan sejak dini
yang dapat menganggu tumbuh-kembang janin, harus diikuti upaya untuk
memberikan pengobatan yang adekuat
3. Menemukan penyakit ibu sejak dini yang dapat dipengaruhi atau
memengaruhi kesehatan janin serta berusaha mengobatinya
4. Mempersiapkan ibu sehingga proses persalinan yang dialaminya dapat
dijadikan pengalaman yang menyenangkan dan diharapkan
5. Mempersiapkan ibu hamil agar dapat memelihara bayi dan menyusui secara
optimal (Manuaba, 2007).
C. Fisiologi Kehamilan (Fertilisasi)
Pada waktu koitus (persetubuhan) air mani terpancar kedalam ujung atas
vagina sebanyak +3cc. Dalam air mani terdapat spermatozoa (sel-sel mani)
seperti kecebong kepala yang lonjong dan ekor yang dibedakan menjadi tengah
dan leher.Inti sel terdapat pada kepala sedangkan ekor berguna untuk bergerak
maju, karena pergerakan ini maka dalam satu jam saja spermatozoa melalui
canalis cervicalis dan cavum uteri kemudian berada dalam tuba. Disini sel mani
menunggu kedatangan sel telur.Jika pada saat ini terjadi ovulasi, maka
mungkin fertilisasi berlangsung.Jika tidak terjadi ovulasi maka penghamilan
tidak mungkin. Maka jelaslah bahwa hanya coitus sekilas saat ovulasi yang
dapat menghasilkan kehamilan.Sel telur hanya dapat dibuahi beberapa jam
setelah ovulasi. Sedangkan sel mani dalam badan wanita masih kuat membuahi
selama 1-3 hari.

D. Tanda dan Gejala Kehamilan


 Tanda – tanda kehamilan
1. Adanya pigmentasi kulit atau garis-garis hipo
2. Adanya pembesaran payudara
3. Ada rasa mual dan munyah yang berlebihan atau hiperemesis
4. Amenore atau tidak datangnya haid
5. Frekuensi buang air kecil meningkat

Tanda kehamilan tidak pasti :


1. Keputihan atau keluarnya cairan berlebihan dari vagina karena pengaruh
hormonal.
2. Gusi bengkak terutama pada bulan-bulan pertama kehamilan.
3. Pembesaran perut terutama tampak jelas setelah kehamilan 14 minggu.
4. Test kehamilan memberikan hasil positif.
Tanda-tanda pasti :
1. Pada perubahan di bagian perut dirasakan adanya janin serta gerk janin.
2. Bila didengarkan menggunakan alat Doppler maka akan terdengar detak
jantung janin.
3. Pada pemeriksaan USG dilihat gambar janin.
4. Pada pemeriksaan roentgen terlihat gambaran kerangka janin.

 Gejala Kehamilan
Tidak haid adalah gejala pertama yang dirasakan oleh seorang wanita
yang menyadari kalau dirinya sedang hamil. Penting untuk dicatat tanggal
hari pertama haid, terakhir guna menentukan usia kehamilan dan
memperkirakan tanggal kelahiran. Rumus sederhana menentukan tanggal
kelahiran yaitu tanggal ditambah 7 sedangkan bulan dikurangi 3, dihitung
dari tanggal pertama haid terakhir. Biasanya gejala yang timbul pada
kehamilan seperti, mual dengan di ikuti muntah atau pun tidak sering terjadi
bulan pertama kehamilan, mengidam atau menginginkan sesuatu baik itu
makanan, minuman atau hal-hal yang lain, gangguan buang air besar karena
pengaruh hormonal dan sering kencing terutama bila kehamilan sudah besar.

E. Perubahan Fisik pada Ibu Hamil


Menurut George Adrianz (2008), perubahan yang terjadi ketika hamil antara
lain:
a. Perubahan Organ
1. Perubahan pada kulit :
 Adanya hiperpigmentasi karena meningkatnya MSH (Melanophore
SH)
 Chloasma gravidarum
 Hiperpigmentasi papilla mammae
 Di perut : striae lividae, albican
2. Perubahan pada kelenjar : glandula thyroidea
3. Perubahan pada payudara : keluar colostrums (lebih dari 3 bulan atau 12
minggu)
4. Perubahan pada perut : perut makin membesar apabila lebih dari 5 bulan
pusar menonjol
5. Perubahan pada tungkai : terjadi varises atau pelebaran pada vena di
tungkai
6. Perubahan sikap badan : terjadi lordose atau badan degek.

b. Perubahan pada alat kelamin


1. Tanda chadwick: vulva merah kebiruan karena peningkatan hormone
estrogen dan adanya hipervascularisasi
2. Adanya varices: pembesaran pada pembuluh darah
3. Tanda hegar: pada VT isthmus lebih lunak dan panjang akibat terjadinya
hypertrophy dari daerah isthmus tersebut
4. Tanda braxtonhicks: adanya kontraksi dan relaksasi otot uterus pada
minggu pertama dan tidak nyeri
5. Ovarium: corpus luteum tidak menjadi corpus albican, bahkan terus
mengeluarkan hormone estrogen dan progesterone yang berfungsi
menjaga kehamilan. Lebih dari 16 minggu fungsi ini diambil alih oleh
placenta. Corpus luteum selama kehamilan disebut “Corpus luteum
Graviditas”
6. Vagina dan vulva : lapisan otot vagina mengadakan hypertrophy sebagai
persiapan untuk persalinan agar vagina mudah diregang. Terjadinya
hipervascularisasi menyebabkan vagina dan vulva menjadi lebih merah
dan lividae.Vagina lebih banyak mengeluarkan fluor albus, yang
disebabkan aktivitas dari kelenjar yang memberikan cairan pada vagina.
Reaksi asam pada vagina bertambah yang disebabkan bertambahnya
glikogen dalam sel-sel epithelium yang basil Doderlein dibentuk menjadi
asam

c. Perubahan pada alat pencernaan


Hal lain yang terkait dengan perubahan hormonal dan dikaitkan dengan
tanda kehamilan adalah rasa mual dan muntah yang berlebihan atau
hiperemesis. Walaupun demikian, kondisi ini juga tidak dapat dikategorikan
sebagai tanda pasti kehamilan karena berbagai penyebab metabolik lain
dapat pula menimbulkan gejala yang serupa. Hiperemesis pada kehamilan
digolongkan normal apabila terjadinya tidak lebih dari trimester
pertama.Pada hamil tua dapat terjadi oktivasi yaitu tidak dapat makan
banyak karena alat pencernakan terdorong ke atas.

d. Perubahan sirkulasi darah


1. Sejak kehamilan 12 minggu, volume darah mengalami pengenceran
karena cairan bertambah di dalam darah yang disebut “Hydraemi” karena
bertambahnya darah masa hamil sehingga Hb menurun
2. (Hb 10-12 gr% dianggap normal)
Pekerjaan jantung bertambah  lebih dari 120 mmHg
Kepekatan darah berkurang : ada varices

e. Perubahan fungsi alat-alat kencing


1. Dilatasi renal
Selama kehamilan masing-masing ginjal memanjang sekitar 1-1,5 cm,
dan secara bersamaan bertambah beratnya. Ureter berdilatasi sampai tepi
atas tulang pelvis.Ureter juga memanjang, melebar dan lebih melengkung
(kurve). Hal tersebut meningkatkan kejadian stasis urin yang
menyebabkan infeksi
2. Fungsi ginjal
Glomerular Filtration Rate (GFR) selama kehamilan mengalami
peningkatan sampai 50%. Aliran plasma renal meningkat 25-
50%.Glukosuria selama kehamilan tidak selalu bersifat abnormal
3. Bladder
Uterus membesar menyebabkan kandung kemih terangkat.Penekanan
uterus menyebabkan peningkatan frekuensi BAK.Vaskularisasi bladder
meningkat dan tonus otot menurun.Kapasitas bladder meningkat sampai
dengan 1500 ml.

f. Perubahan pada tulang


1. Lordosis terjadi karena menyesuaikan keseimbangan badan
2. Rasa nyeri pinggang
3. Butuh kalsium sehingga tidak caries, keropos
Sedangkan perubahan fisik pada ibu hamil menurut trimester adalah:
1. Perubahan Fisik pada Trimester I
a. Morning sickness, mual dan muntah.
Hampir 50% wanita hamil mengalami mual dan biasanya mual dimulai
sejak awal kehamilan.Mual muntah diusia muda disebut morning
sickness tetapi kenyataannya mual muntah ini dapat terjadi setiap saat.
Mual ini biasanya akan berakhir pada 14 mingggu kehamilan. Pada
beberapa kasus dapat berlanjut sampai kehamilan trimester ke-2 dan ke-
3.
b. Pembesaran payudara
Payudara akan membesar dan mengencang, karena terjadi peningkatan
hormon kehamilan yang menimbulkan pelebaran pembuluh darah dan
untuk mempersiapkan pemberian nutrisi pada jaringan payudara sebagai
persiapan menyusui.
c. Sering buang air kecil
Keinginan sering buang air kecil pada awal kehamilan ini dikarenakan
rahim yang membesar dan menekan kandung kencing. Keadaan ini akan
menghilang pada trimester II dan akan muncul kembali pada akhir
kehamilan, karena kandung kemih ditekan oleh kepala janin.
d. Konstipasi atau sembelit
Keluhan ini juga sering dialami selama awal kehamilan, karena
peningkatan hormon progesteron yang menyebabkan relaksasi otot
sehingga usus bekerja kurang efisien.Adapun keuntungan dari keadaan
ini adalah memungkinkan penyerapan nutrisi yang lebih baik saat hamil.
e. Sakit kepala/pusing
Sakit kepala atau pusing sering dialami oleh pada ibu hamil pada awal
kehamilan karena adanya peningkatan tuntutan darah ke tubuh sehingga
ketika akan mengubah posisi dari duduk/tidur ke posisi yang lain
(berdiri) tiba-tiba, sistem sirkulasi darah merasa sulit beradaptasi. Sakit
kepala/pusing yang lebih sering daripada biasanya dapat disebabkan oleh
faktor fisik maupun emosional.Pola makan yang berubah, perasaan
tegang dan depresi juga dapat menyebabkan sakit kepala.
f. Kram perut
Kram perut saat trimester awal kehamilan seperti kram saat menstruasi di
bagian perut bawah atau rasa sakit seperti ditusuk yang timbul hanya
beberapa menit dan tidak menetap adalah normal.Hal ini sering terjadi
karena adanya perubahan hormonal dan juga karena adanya pertumbuhan
dan pembesaran dari rahim dimana otot dan ligamen merenggang untuk
menyokong rahim.
g. Meludah
Keinginan meludah yang terjadi pada ibu hamil yang terus menerus
dianggap normal sebab hal ini termasuk gejala morning sickness.
h. Peningkatan berat badan
Pada akhir trimester pertama wanita hamil akan merasa kesulitan
memasang kancing/rok celana panjangnya, hal ini bukan berarti ada
peningkatan berat badan yang banyak tapi karena rahim telah
berkembang dan memerlukan ruang juga, dan ini semua karena pengaruh
hormon estrogen yang menyebabkan pembesaran rahim dan hormon
progresteron yang menyebabkan tubuh menahan air

2. Perubahan Fisik pada Trimester II


a. Perut semakin membesar
Setelah usia kehamilan 12 minggu, rahim akan membesar dan melewati
rongga panggul. Pembesaran rahim akan tumbuh sekitar 1 cm setiap
minggu. Pada kehamilan 20 minggu, bagian teratas rahim sejajar dengan
pusar (umbilicus). Setiap individu akan berbeda-beda tapi pada
kebanyakan wanita, perutnya akan mulai membesar pada kehamilan 16
minggu.
b. Sendawa dan buang angin
Sering terjadi pada ibu hamil dan hal ini sudah biasa dan normal karena
akibat adanya perenggangan usus selama kehamilan. Akibat dari hal
tersebut perut ibu hamil akan terasa kembung dan tidak nyaman.
c. Rasa panas di perut
Rasa panas diperut adalah keluhan yang paling sering terjadi selama
kehamilan, karena meningkatnya tekanan akibat rahim yang membesar
dan juga pengaruh hormonal yang menyebabkan rileksasi otot saluran
cerna sehingga mendorong asam lambung kearah atas.
d. Pertumbuhan rambut dan kuku
Perubahan hormonal juga menyebabkan kuku bertumbuh lebih cepat dan
rambut tumbuh lebih banyak dan kadang di tempat yang tidak
diinginkan, seperti di wajah atau di perut. Tapi, tidak perlu khawatir
dengan rambut yang tumbuh tak semestinya ini, karena akan hilang
setelah bayi lahir.
e. Sakit perut bagian bawah
Pada kehamilan 18-24 minggu, ibu hamil akan merasa nyeri di perut
bagian bawah seperti ditusuk atau tertarik ke satu atau dua sisi. Hal ini
karena perenggangan ligamentum dan otot untuk menahan rahim yang
semakin membesar. Nyeri ini hanya akan terjadi beberapa menit dan
bersifat tidak menetap.
f. Pusing
Sering terjadi selama kehamilan trimester kedua, karena ketika rahim
membesar akan menekan pembuluh darah besar sehingga menyebabkan
tekanan darah menurun.
g. Hidung dan Gusi berdarah
Perubahan hormonal dan peningkatan aliran darah ke seluruh tubuh
termasuk ke daerah hidung dan gusi selama masa kehamilan akan
menyebabkan jaringan disekitarnya menjadi lebih lembut dan lunak.
Akibatnya, hidung dan gusi akan bisa berdarah ketika menyikat gigi.
Keluhan ini akan hilang setelah melahirkan.
h. Perubahan kulit
Perubahan kulit timbul pada trimester ke-2 dan 3, karena melanosit yang
menyebabkan warna kulit lebih gelap.Timbul garis kecoklatan mulai dari
pusar ke arah bawah yang disebut linea nigra.Kecoklatan pada wajah
disebut chloasma atau topeng kehamilan.Tanda ini dapat menjadi
petunjuk kurangnya vitamin folat. Strecth mark terjadi karena
peregangan kulit yang berlebihan, biasanya pada paha atas, dan
payudara. Akibat peregangan kulit ini dapat menimbulkan rasa gatal,
sedapat mungkin jangan menggaruknya. Strecth mark tidak dapat
dicegah, tetapi dapat diobati setelah persalinan. Kulit muka juga akan
menjadi lebih berminyak sehingga dapat menimbulkan jerawat
i. Payudara
Payudara akan semakin membesar dan mengeluarkan cairan yang
kekuningan yang disebut kolostrum. Putting dan sekitarnya akan semakin
berwarna gelap dan besar. Bintik-bintik kecil akan timbul disekitar
putting, dan itu adalah kelenjar kulit.
j. Sedikit Pembengkakan
Pembengkakan adalah kondisi normal pada kehamilan, dan hampir 40%
wanita hamil mengalaminya.Hal ini karena perubahan hormon yang
menyebabkan tubuh menahan cairan. Pada trimester kedua akan tampak
sedikit pembengkakan pada wajah dan terutama terlihat pada kaki bagian
bawah dan pergelangan kaki. Pembengkakan akan terlihat lebih jelas
pada posisi duduk atau berdiri yang terlalu lama

3. Perubahan Fisik pada Trimester III


a. Sakit bagian tubuh belakang
Sakit pada bagian tubuh belakang (punggung-pinggang), karena
meningkatnya beban berat dari bayi dalam kandungan yang dapat
memengaruhi postur tubuh sehingga menyebabkan tekanan ke arah
tulang belakang.
b. Konstipasi
Pada trimester ini sering terjadi konstipasi karena tekanan rahim yang
membesar kearah usus selain perubahan hormon progesteron.
c. Pernafasan
Karena adanya perubahan hormonal yang memengaruhi aliran darah ke
paru-paru, pada kehamilan 33-36 minggu, banyak ibu hamil akan merasa
susah bernapas. Ini juga didukung oleh adanya tekanan rahim yang
membesar yang berada di bawah diafragma. Setelah kepala bayi turun
kerongga panggul ini biasanya 2-3 minggu sebelum persalinan pada ibu
yang baru pertama kali hamil akan merasakan lega dan bernapas lebih
mudah, dan rasa panas diperut biasanya juga ikut hilang, karena
berkurangnya tekanan bagian tubuh bayi dibawah diafragma/tulang iga
ibu.
d. Sering buang air kecil
Pembesaran rahim ketika kepala bayi turun ke rongga panggul akan
makin menekan kandungan kencing ibu hamil.
e. Varises
Peningkatan volume darah dan alirannya selama kehamilan akan
menekan daerah panggul dan vena di kaki, yang mengakibatkan vena
menonjol, dan dapat juga terjadi di daerah vulva vagina. Pada akhir
kehamilan, kepala bayi juga akan menekan vena daerah panggul yang
akan memperburuk varises. Varises juga dipengaruhi faktor keturunan.
f. Kontraksi perut
Braxton-Hicks atau kontraksi palsu ini berupa rasa sakit di bagian perut
yang ringan, tidak teratur, dan akan hilang bila ibu hamil duduk atau
istirahat.
g. Bengkak
Perut dan bayi yang kian membesar selama kehamilan akan
meningkatkan tekanan pada daerah kaki dan pergelangan kaki ibu hamil,
dan kadang membuat tangan membengkak. Ini disebut edema, yang
disebabkan oleh perubahan hormonal yang menyebabkan retensi cairan.

F. Perubahan Psikologis pada Ibu Hamil


Menurut Sulistyawati (2009) perubahan psikologis pada ibu hamil menurut
trimester adalah:
1. Perubahan Psikologis pada Trimester I (Periode Penyesuaian)
a. Pada awal kehamilan dapat timbul reaksi emosional ambivalen, yaitu
ketidakpastian atau keragu-raguan akan kehamilan, ini terjadi karena
kurangnya persiapan baik secara materi maupun psikologi. Selain itu
reaksi emosional yang dapat muncul adalah ketakutan dan khayalan. Ibu
merasa cemas dengan keadaan dirinya serta janin pada waktu persalinan
dan mulai membayangkan perannya setelah bayi lahir.
b. Setiap perubahan yang terjadi dalam dirinya akan selalu mendapat
perhatian dengan seksama
c. Oleh karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia
seseorang yang mungkin akan diberitahukannya kepada orang lain atau
bahkan merahasiakannya .

2. Perubahan Psikologis pada Trimester II (Periode Kesehatan Yang Baik)


a. Trimester kedua biasanya lebih menyenangkan. Ibu telah menerima
kehamilannya dan mulai memperhatikan kebutuhan dirinya dan janin
serta mempersiapkan dirinya dalam menghadapi persalinan. Di samping
itu, dapat juga terjadi mood swing dimana ibu cepat marah dan
membutuhkan pengertian dan perhatian yang lebih besar.
b. Merasakan gerakan anak
c. Libido meningkat
d. Merasa bahwa bayi sebagai individu yang merupakan bagian dari dirinya
e. Hubungan sosial meningkat dengan wanita hamil lainnya atau pada orang
lain yang baru menjadi ibu.

3. Perubahan Psikologis pada Trimester IIII


a. Trimester ketiga ditandai dengan adanya rasa tidak nyaman, perubahan
bentuk tubuh dan kecemasan akan proses persalinan dan peran ibu yang
akan dijalani. Sekitar dua minggu sebelum melahirkan, sebagian besar
ibu mulai mengalami perasaan senang.
b. Merasa sedih karena akan terpisah dari bayinya
c. Merasa kehilangan perhatian
d. Perasaan mudah terluka (sensitif)
e. Libido menurun
G. Jadwal Pemeriksaan Antenatal
Sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan, kunjungan pelayanan
antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit 4 kali selama kehamilan,
ketentuan waktu sebagai berikut:
1. Minimal 1 kali pada trimester pertama = K1
2. Minimal 1 kali pada trimester kedua = K2
3. Minimal 2 kali pada trimester ketiga = K3 & K4
Apabila terdapat kelainan atau penyulit kehamilan, seperti mual, muntah,
keracunan kehamilan, perdarahan, kelainan letak dan lain-lain frekuensi
pemeriksaan disesuaikan dengan kebutuhan.Frekuensi ANC diharapkanpaling
kurang 8 kali (7–9 kali) sehingga pengawasan ibu dan janin dapat dilaksanakan
dengan optimal.
Dalam sumber lain juga disebutkan interval kunjungan pada pemeriksaan
prenatal yaitu setiap 4 minggu sekali sampai minggu ke-28, kemudian setiap 2-
3 minggu sekali sampai minggu ke-36, dan sesudahnya setiap minggu.

H. Standar Minimal Pelayanan Antenatal


Pelayanan atau asuhan standar minimal 10 T adalah sebagai berikut (Depkes
RI, 2007) :
1. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan
2. Pemeriksaan tekanan darah
3. Nilai status gizi (ukur lingkar lengan atas)
4. Pemeriksaan puncak rahim (tinggi fundus uteri)
5. Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ)
6. Skrining status imunisasi Tetanus dan berikan imunisasi Tetanus Toksoid
(TT) bila diperlukan.
7. Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan
8. Test laboratorium (rutin dan khusus)
9. Tatalaksana kasus
10. Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaan Persalinan dan
Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB paska persalinan
I. Tanda Bahaya Kehamilan
a. Muntah terus menerus
b. Urin mengandung darah atau keruh
b. Nyeri dada atau abdomen
c. Bengkak pada wajah, tangan dan kaki
d. Demam dan menggigil
e. Gangguan penglihatan
f. Sakit kepala berat atau terus menerus
g. Perdarahan per vaginam atau keluar cairan per vaginam

J. Pemeriksaan Antenatal
a. Anamnesa pada kunjungan pelayanan antenatal pertama dari ibu hamil
meliputi:
1. Identifikasi ibu (nama, nama suami, usia, pekerjaan, agama & alamat
ibu)
2. Keluhan utama atau apa yang diderita, apakah ibu datang untuk
memeriksakan kehamilan atau ada masalah lain
3. Riwayat haid, untuk mengetahui faal alat kandungan
4. Riwayat perkawinan
5. Riwayat kehamilan sekarang, meliputi:
 HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir)
 Gerak janin (kapan mulai dirasakan apakah ada perubahan)
 Masalah atau tanda-tanda bahaya (termasuk pengelihatan kabur)
 Keluhan-keluhan yang lazim pada kehamilan
 Penggunaan obat-obatan (termasuk jamu-jamuan)
 Kekhawatiran-kekhawatiran lain yang dirasakan
6. Riwayat kebidanan yang lalu, meliputi:
 Berapa kali hamil, anak yang lahir hidup, persalinan tepat waktu,
persalinan premature, keguguran atau kegagalan kehamilan,
persalinan dengan tindakan (dengan forcep, vakum, ekstraksi atau
operasi caesar)
 Adakah riwayat kehamilan / persalinan / abortus sebelumnya
(dinyatakan dengan kode GxPxAx, gravida / para / abortus), berapa
jumlah anak hidup.
 Perdarahan pada kehamilan, persalinan, kelahiran atau paska
persalinan
 Persalinan yang lalu: spontan atau buatan, aterm atau premature,
perdarahan, siapa yg menolong
 Riwayat hipertensi
 Melahirkan janin dengan BB <2,5 kg atau >4 kg
 Nifas dan laktasi
 Bayi yg dilahirkan: jenis kelamin, BB & panjang badan, hidup atau
mati, bila mati umur berapa & penyebabnya
 Masalah-masalah lain yg dialami
7. Riwayat kesehatan dahulu (penyakit yg pernah diderita), meliputi:
penyakit kardiovaskuler, TB paru, hepatitis B, diabetes, hipertensi,
PMS atau HIV/AIDS, malaria, status imunisasi TT, dll.
8. Riwayat keluarga meliputi penyakit keturunan, anak kembar, penyakit
menular, dll
9. Riwayat sosial ekonomi & budaya meliputi:
 Status perkawinan
 Riwayat KB
 Reaksi orangtua dan keluarga terhadap kehamilan ini
 Dukungan keluarga
 Pengambil keputusan dalam keluarga
 Kebiasaan makan dan gizi yang dikonsumsi (gizi seimbang), dengan
perhatian pada vitamin A dan zat besi
 Kebiasaan hidup sehat meliputi kebiasaan merokok, minum
obat/alcohol/obat tradisional, & olahraga
 Beban kerja & kegiatan sehari-hari
 Tempat melahirkan & penolong yg diinginkan
a. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik pada kunjungan antenatal pertama meliputi komponen:
1. Pemeriksaan Luar
a. Pemeriksaan umum
 Keadaaan umum ibu, keadaan gizi, kelainan bentuk badan,
kesadaran
 Adakah anemia, cyanose, icterus atau dyspnoe
 Keadaan jantung dan paru, periksa suhu badan, TD, denyut nadi,
dan pernapasan
Tensi pada orang hamil tidak boleh mencapai 140 sistole atau 90
diastole. Bila lebih dari 140/90 mmHg maka harus dicurigai
preeklamsi. Juga perubahan 30 systole dan 15 dyastole diatas tensi
sebelum hamil menandakan toxaemia gravidarum
 Oedema
Oedema dalam kehamilan dapat disebabkan oleh toxaemia
gravudarum atau oleh tekanan rahim yang membesar pada vena-
vena dalam panggul mengalirkan darah dari kaki, tetapi juga oleh
hypovitaminose B1, hypoproteinemia dan penyakit jantung
 Berat badan dan tinggi badan
Berat badan pada pasien normal akan naik lebih dari 15 kg pada
saat hamil. Namun, bila sebelum hamil BB klien < 45 kg atau > 75
kg maka kemungkinan memiliki masalah atau penyulit kehamilan
juga akan semakin besar. Untuk tinggi badan, klien dengan TB <
145 cm dapat mengalami distosia karena PAP yang sempit.
 Ada/tidaknya nyeri kepala
 Mata konjungtiva pucat / tidak, sklera ikterik / tidak.
 Mulut / THT ada tanda radang / tidak, lendir, perdarahan gusi, gigi-
geligi.
 Paru / jantung / abdomen inspeksi palpasi perkusi auskultasi
umum.
 Ekstremitas diperiksa terhadap edema, pucat, sianosis, varises,
simetri (kecurigaan polio, mungkin terdapat kelainan bentuk
panggul).
 Jika ada luka terbuka atau fokus infeksi lain harus dimasukkan
menjadi masalah dan direncanakan penatalaksanaannya.
Inspeksi
 Muka : adakah chloasma gravidarum, keadaan selaput mata pucat
atau merah, adakah oedema pada muka, bagaimana keadaan lidah,
gigi
 Leher : apakah vena terbendung di leher (misalnya pada penyakit
jantung), apakah ada pembesaran kelenjar gondok atau kelenjar
limfa membengkak
 Dada: bentuk payudara, pigmentasi putting susu, keadaan putting
susu (simetris atau tidak),keluarnya kolostrum(dilakukan
pemeriksaan setelah usia kehamilan >28 minggu)
 Perut: membesar kedepan atau kesamping (acites), keadaan perut,
linea alba, ada gerakan anak atau tidak, kontraksi rahim, striae
gravidarum, & bekas luka operasi
 Vulva: keadaan perineum, varices, tanda Chadwick, fluor dan
condyloma
 Anggota bawah : cari varices, oedema, luka, cicatrix pada lipat
paha
 Genitalia eksterna
a) Inspeksi luar: keadaan vulva/uretra, ada tidaknya tanda radang,
luka/ perdarahan, discharge, kelainan lainnya. Labia dipisahkan
dengan dua jari pemeriksa untuk inspeksi lebih jelas.
b) Inspeksi dalam menggunakan spekulum (in speculo) : Labia
dipisahkan dengan dua jari pemeriksa, alat spekulum Cusco
(cocorbebek) dimasukkan ke vagina dengan bilah vertikal
kemudian di dalam liang vagina diputar 90o sehingga horisontal,
lalu dibuka. Deskripsi keadaan porsio serviks (permukaan,
warna), keadaan ostium, ada/tidaknya darah/cairan/ discharge di
forniks, dilihat keadaan dinding dalam vagina, ada/tidak tumor,
tanda radang atau kelainan lainnya. Spekulum ditutup
horisontal, diputar vertikal dan dikeluarkan dari vagina.
Palpasi
Palpasi dalam pemeriksaan fisik pada ibu hamil bertujuan untuk :
 Menentukan besarnya rahim untuk menentukan usia kehamilan
 Menentukan letaknya anak dalam rahim
 Mengetahui adanya tumor dalam rongga perut, cysta, myoma,
limpa yang membesar
 Cara melakukan palpasi menurut Leopold terdiri atas 4 bagian,
yaitu:
a) Leopold I
Leopold I digunakan untuk menentukan usia kehamilan.
Pemeriksaan Leopold Idilakukan dengan cara :
- Kaki penderita dibengkokkan pada lutut dan lipat paha
- Pemeriksa berdiri di sebelah kanan penderita dan melihat ke
arah muka penderita
- Rahim dibawa ke tengah
- Tingginya fundus uteri ditentukan
- Tentukan bagian apa dari anak yang terdapat pada fundus
1) Sifat kepala keras, bundar, dan melenting
2) Sifat bokong lunak, kurang bundar, dan kurang melenting
3) Pada letak lintang fundus uteri kosong
- Pemeriksaan tuanya kehamilan dari tingginya fundus uteri
1) Sebelum bulan ke III fundus uteri belum dapat diraba dari
luar
2) Akhir bulan III (12 minggu) fundus uteri 1-2 jari atas
symphisis
3) Akhir bulan IV (16 minggu) pertengahan antara symphisis
dengan pusat
4) Akhir bulan V (20 minggu) fundus uteri 3 jari bawah pusat
5) Akhir bulan VI (24 minggu) setinggi pusat
6) Akhir bulan VII (28 minggu) fundus uteri 3 jari atas pusat
7) Akhir bulan VIII (32 minggu) pertengahan processus
xyphoideus – pusat
8) Akhir bulan IX (36 minggu) sampai arcus costarum atau 3
jari di bawah processus xyphoideus
9) Akhir bulan X (40 minggu) pertengahan processus
xyphoideus – pusat

Jadi fundus uteri paling tinggi pada akhir bulan ke IX.


Setelah bulan ke IX fundus uteri pada primigravida turun lagi
karena kepala mulai turun ke dalam rongga panggul. Pada orang
multigravida yang berbaring fundus uteri tetap setinggi arcus
costarum dan menonjol ke depan.Untuk mengikuti pertumbuhan
anak dengan cara mengikuti pertumbuhan rahim, maka ukuran
rahim ditentukan dalam cm. Yang diukur adalah tinggi fundus uteri
dan perimeter umbilical (lingkar perut setinggi pusat).
Hubungan antara tinggi fundus uteri dan tuanya kehamilan adalah
sebagai berikut :

Tinggi fundus uteri (cm) = usia kehamilan dalam bulan


3,5 cm

 Rumus McDonal’s :
Tinggi fundus (cm) x 2/7 = usia kehamilan dlm bulan
Tinggi fundus (cm) x 8/7 = usia kehamilan dlm minggu
Tingginya fundus uteri(cm) Usia kehamilan (bulan)
3-4 jari atas simfisis pubis 16 minggu
20/ 2-3 jari bawah umbilikus 5
23/ sejajar umbilikus 6
26/ 3 jari atas umbilikus 7
30/ 3 jari bawah xiphoid 8
33/ 2 jari bawah xiphoid 9
2 jari bawah xiphoid 10

b) Leopold II
Leopold II untuk menentukan letak punggung anak dan bagian-
bagian kecil
- Kedua tangan di pindah ke samping
- Tentukan letak punggung anak
- Punggung anak terdapat di bagian yang memberikan rintangan
yang terbesar, bagian-bagian kecil biasanya terletak di bagian
yang berlawanan dengan bagian yang memberikan rintangan
terbesar
- Pada letak lintang terdapat kepala atau bokong
c) Leopold III
Leopold III untuk menentukan apa yang terdapat di bagian bawah
dan apakah bagian bawah anak sudah atau belum terpegang oleh
rongga atas panggul
- Pergunakan satu tangan
- Tentukan bagian bawah dengan menggunakan ibu jari dan jari
lainnya
- Pastikan apakah bagian bawah masih dapat digoyangkan
d) Leopold IV
- Pemeriksa merubah sikap dengan menghadap ke arah kaki ibu
- Menentukan bagian bawah dengan menggunakan kedua tangan
- Pastikan apakah bagian bawah sudah masuk ke dalam PAP, dan
ukur berapa masuknya bagian bawah ke dalam panggul
- Jika kita rapatkan kedua tangan pada permukaan bagian
terbawah dari kepala yang masih teraba dari luar dan :
1) Kedua tangan konvergen, hanya bagian kecil dari kepala
turun ke dalam rongga
2) Jika kedua tangan sejajar, separuh dari kepala masuk ke
dalam rongga panggul
3) Jika kedua tangan divergen, maka bagian terbesar dari kepala
masuk ke dalam rongga panggul dan ukuran terbesar dari
kepla sudah melewati PAP
Jika pada kepala yang telah masuk dalam PAP, masukkan
tangan ke dalam rongga panggul, maka satu tangan akan lebih
jauh masuk, sedangkan tangan satunya tertahan oleh tonjolan
kepalaTonjolan kepala pada fleksi disebabkan oleh daerah dahi,
sedangkan pada letak defleksi oeh belakang kepala. Jika tonjolan
kepala berlawanan dengan bagian kecil, maka anak dalam letak
defleksi.

Palpasi secara Leopold yang lengkap baru dapat dilakukan jika janin
sudah cukup besar, kira-kira dari bulan VI ke atas.
Auskultasi
Tujuan:
1. Menentukan hamil atau tidak
2. Anak hidup atau mati
3. Membantu menentukan habitus, kedudukan punggunh anak,
presentasi anak tunggal/ kembar yaitu terdengar pada dua tempat
dengan perbedaan 10 detik.
2. Dada : Adanya ronkhi atau wheezing perlu dicurigai adanya
asma atau TBC yang dapat memperberat kehamilan.
3. Abdomen : DJJ (+) normal 120-160 x/menit, teratur dan reguler.
Perkusi
Reflek patella :Reflek patella negatif menandakan ibu vit B1 (Marjati
dkk, 2010; 12-13)

Pemeriksaan Antenatal Ulangan


Dilakukan setiap kunjungan pemeriksaan antenatal dilakukan setelah
kunjungan pemeriksaan antenatal pertama.Kunjungan ulang lebih
diarahkan untuk mendeteksi komplikasi-komplikasi, mempersiapkan
kelahiran, dan mendeteksi kegawatdaruratan, pemeriksaan fisik yang
terarah serta penyuluhan bagi ibu hamil.
Pemeriksaan antenatal ulangan meliputi:
 Riwayat kehamilan sekarang: gerak janin, setiap masalah atau tanda
bahaya, keluhan-keluhan lazim dalam kehamilan, kekhawatiran-
kekhawatiran lain
 Pemeriksaan fisik: BB, TD, pengukuran TFU, palpasi abdomen untuk
mendeteksi kehamilan ganda, maneuver Leopold, bunyi jantung janin,
menghitung taksiran BB janin
 Pemeriksaan laboratorium: khususnya terhadap protein dalam urin,
pemeriksaan laboratorium lainnya dilakukan apabila ada indikasi

Laboratorium
Jika terdapat kelainan, ditatalaksana dan diperiksa ulang terus
sampai mencapai normal.Jika sejak awal laboratorium rutin dalam batas
normal, diulang kembali pada kehamilan 32-34 minggu. Periksa juga
infeksi TORCH (Toxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus, Hepatitis/HIV).
Periksa gula darah pada kunjungan pertama, bila normal, periksa ulang
pada kunjungan minggu ke 26-28, untuk deteksi dini diabetes mellitus
gestasional.
PATHWAY ANC
Trimester I

Konsepsi

Fertilitas

Implantasi

Embryogenesis

Maturasi janin

Perubahan pada ibu

Perubahan psikologis Perubahan fisiologis

Krisis situasional, GIT Sist.kardio Sist.urinaria


perub.psikologis, vascular
ketidakstabilan hormon Instabilitas Penekanan
hormone Peningkatan vesika urinaria
TD karena
Ansietas Perubahan Asam lambung pembesaran
peran sebagai meningkat Sakit kepala uterus
calon ibu
Rasa Nyeri Frekuensi
Perub.proses Koping sebah/mual BAK
keluarga individu tdk meningkat
efektif Muntah
Gangguan
Intake eliminasi urin
makanan
menurun Kebersihan
genital
Perub.nutrisi menurun
kurang dari
kebutuhan Kelembaban
meningkat

Resiko
infeksi
Trimester II

TRIMESTER II

Perubahan fisiologis Perubahan


psikologis

Sist.endokrin Sist.kardiovaskular Sist.reproduksi Sist.integumen Sist.GIT Musculosceletal Sist.respirasi Krisis


situasional
Inotropik Sekresi aldosteron Vaskularisasi Estrogen Progesterone BB janin Desakan
meningkat serviks & meningkat meningkat meningkat uterus ke Proses
Hiperpegminta vagina diafragma adaptasi
si Retensi H2O & Na+ Kulit meregang Saliva & asam Postur tubuh
Sensitifitas lambung berubah Ekspansi Persiapan
Perub.body volume plasma serviks Striae meningkat paru tidak anggota baru
image meningkat meningkat gravidarum Lordosis maksimal dlam keluarga
Peristaltic berlebihan
Perub.cardiac TD meningkat Rangsang Perub.body menurun Gangguan Ansietas
output seksual image Nyeri pola nafas Perub.peran
Sakit kepala Pengosongan
Resiko cidera Perub.pola lambung lambat
janin & Nyeri seksual
maternal Kembung, mual,
muntah

Perub.nutisi
kurang dari
kebutuhan
Deficit volume
cairan
Trimester III

TRIMESTER III

Perubahan fisiologis Perubahan


psikologis

Pembesaran uterus Sistem endokrin Persiapan


melahirkan
Retensi H2O & Na+
Perub.skelet & Menekan paru Primi:kurang
persendian pengetahuan
Ekspansi paru Urine output Vasokontriksi
Berat uterus menurun menurun, pembuluh Ansietas
menigkat volume plasma darah
Gangguan meningkat,
Perub.pusat pola nafas tekanan TD meningkat
gravitasi tubuh hidrostatik
menurun Hipertrofi
Menekan saraf ventrikel
sekitar Edema
ekstremitas Penurunan
Pelepasan cardiac output
mediator nyeri Kelebihan
(prostaglandin, volume cairan Resiko cidera
histamin) janin &
maternal
Nyeri
HIPERTIROID

A. Definisi
B. Klasifikasi
C. Etiologi
D. Tanda dan Gejala
E. Pemeriksaan Penunjang
F. Penatalaksanaan
Definisi
Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) merupakan suatu keadaan di mana didapatkan
kelebihan hormon tiroid karena ini berhubungan dengan suatu kompleks fisiologis
dan biokimiawi yang ditemukan bila suatu jaringan memberikan hormon tiroid
berlebihan.
Hipertiroidisme adalah keadaan tirotoksikosis sebagai akibat dari produksi tiroid,
yang merupakan akibat dari fungsi tiroid yang berlebihan. Hipertiroidisme
(Hyperthyrodism) adalah keadaan disebabkan oleh kelenjar tiroid bekerja secara
berlebihan sehingga menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan di dalam darah.
Krisis tiroid merupakan suatu keadaan klinis hipertiroidisme yang paling berat
mengancam jiwa, umumnya keadaan ini timbul pada pasien dengan dasar
penyakit Graves atau Struma multinodular toksik, dan berhubungan dengan faktor
pencetus: infeksi, operasi, trauma, zat kontras beriodium, hipoglikemia, partus,
stress emosi, penghentian obat anti tiroid, ketoasidosis diabetikum, tromboemboli
paru, penyakit serebrovaskular/strok, palpasi tiroid terlalu kuat.
1. Apakah itu tiroid ?
Kelenjar Tiroid adalah sejenis kelenjar endokrin yang terletak di bagian bawah
depan leher yang memproduksi hormon tiroid dan hormon calcitonin.
2. Hormon Tiroid
Hormon yang terdiri dari asam amino yang mengawal kadar metabolisme
Penyakit Grave, penyebab tersering hipertiroidisme, adalah suatu penyakit
otoimun yang biasanya ditandai oleh produksi otoantibodi yang memiliki kerja
mirip TSH pada kelenjar tiroid. Otoantibodi IgG ini, yang disebut
immunooglobulin perangsang tiroid (thyroid-stimulating immunoglobulin),
meningkatkan pembenftukan HT, tetapi tidak mengalami umpan balik negatif dari
kadar HT yang tinggi. Kadar TSH dan TRH rendah karena keduanya berespons
terhadap peningkatan kadar HT. Penyebab penyaldt Grave tidak diketahui namun
tampaknya terdapat predisposisi genetik terhadap penyakit otoimun, Yang paling
sering terkena adalah wanita berusia antara 20an sampai 30an.
Gondok nodular adalah peningkatan ukuran kelenjar tiroid akibat peningkatan
kebutuhan akan hormon tiroid. Peningkatan kebutuhan akan hormon tiroid terjadi
selama periode pertumbuhan atau kebutuhan metabolik yang tinggi misalnya pada
pubertas atau kehamilan. Dalarn hal ini, peningkatan HT disebabkan oleh
pengaktivan hipotalamus yang didorong oleh proses metabolisme tubuh sehingga
disertai oleh peningkatan TRH dan TSH. Apabila kebutuhan akan hormon tiroid
berkurang, ukuran kelenjar tiroid biasanya kembali ke normal. Kadang-kadang
terjadi perubahan yang ireversibel dan kelenjar tidak dapat mengecil. Kelenjar
yang membesar tersebut dapat, walaupun tidak selalu, tetap memproduksi HT
dalm jumlah berlebihan. Apabila individu yang bersangkutan tetap mengalami
hipertiroidisme, maka keadaan ini disebut gondok nodular toksik. Dapat terjadi
adenoma, hipofisis sel-sel penghasil TSH atau penyakit hipotalamus, walaupun
jarang.

B. Klasifikasi
Hipertiroidisme (Tiroktosikosis) di bagi dalam 2 kategori:
1. Kelainan yang berhubungan dengan Hipertiroidisme
2. Kelainan yang tidak berhubungan dengan Hipertiroidisme

Klasifikasi lain:
1. Goiter Toksik Difusa (Graves’ Disease)
Kondisi yang disebabkan, oleh adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh
dimana zat antibodi menyerang kelenjar tiroid, sehingga menstimulasi kelenjar
tiroid untuk memproduksi hormon tiroid terus menerus.
Graves’ disease lebih banyak ditemukan pada wanita daripada pria, gejalanya
dapat timbul pada berbagai usia, terutama pada usia 20 – 40 tahun. Faktor
keturunan juga dapat mempengaruhi terjadinya gangguan pada sistem kekebalan
tubuh, yaitu dimana zat antibodi menyerang sel dalam tubuh itu sendiri.
2. Nodular Thyroid Disease
Pada kondisi ini biasanya ditandai dengan kelenjar tiroid membesar dan tidak
disertai dengan rasa nyeri. Penyebabnya pasti belum diketahui. Tetapi umumnya
timbul seiring dengan bertambahnya usia.
3. Subacute Thyroiditis
Ditandai dengan rasa nyeri, pembesaran kelenjar tiroid dan inflamasi, dan
mengakibatkan produksi hormon tiroid dalam jumlah besar ke dalam darah.
Umumnya gejala menghilang setelah beberapa bulan, tetapi bisa timbul lagi pada
beberapa orang.
4. Postpartum Thyroiditis
Timbul pada 5 – 10% wanita pada 3 – 6 bulan pertama setelah melahirkan dan
terjadi selama 1 -2 bulan. Umumnya kelenjar akan kembali normal secara
perlahan-lahan

C. Penyebab
Hipertiroidisme dapat terjadi akibat disfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau
hipotalamus. Peningkatan TSH akibat malfungsi kelenjar tiroid akan disertai
penurunan TSH dan TRF karena umpan balik negatif HT terhadap pelepasan
keduanya.
Hipertiroidisme akibat rnalfungsi hipofisis memberikan gambamn kadar HT dan
TSH yang finggi. TRF akan Tendah karena uinpan balik negatif dari HT dan TSH.
Hipertiroidisme akibat malfungsi hipotalamus akan memperlihatkan HT yang
finggi disertai TSH dan TRH yang berlebihan.
1. Penyebab Utama
a. Penyakit Grave
b. Toxic multinodular goitre
c. ’’Solitary toxic adenoma’’
2. Penyebab Lain
a. Tiroiditis
b. Penyakit troboblastis
c. Ambilan hormone tiroid secara berlebihan
d. Pemakaian yodium yang berlebihan
e. Kanker pituitari
f. Obat-obatan seperti Amiodarone

D. Anatomi dan Fisiologi


A. Anatomi
Kelenjar tiroid merupakan kelenjar berwarna merah kecoklatan dan sangat
vascular. Terletak di anterior cartilago thyroidea di bawah laring setinggi vertebra
cervicalis 5 sampai vertebra thorakalis 1. Kelenjar ini terselubungi lapisan
pretracheal dari fascia cervicalis dan terdiri atas 2 lobus, lobus dextra dan sinistra,
yang dihubungkan oleh isthmus. Beratnya kira2 25 gr tetapi bervariasi pada tiap
individu. Kelenjar tiroid sedikit lebih berat pada wanita terutama saat menstruasi
dan hamil. Lobus kelenjar tiroid seperti kerucut. Ujung apikalnya menyimpang ke
lateral ke garis oblique pada lamina cartilago thyroidea dan basisnya setinggi
cartilago trachea 4-5. Setiap lobus berukutan 5x3x2 cm. Isthmus menghubungkan
bagian bawah kedua lobus, walaupun terkadang pada beberapa orang tidak ada.
Panjang dan lebarnya kira2 1,25 cm dan biasanya anterior dari cartilgo trachea
walaupun terkadang lebih tinggi atau rendah karena kedudukan dan ukurannya
berubah.
Kelenjar ini tersusun dari bentukan bentukan bulat dengan ukuran yang
bervariasi yang disebut thyroid follicle. Setiap thyroid follicle terdiri dari sel-sel
selapis kubis pada tepinya yang disebut SEL FOLIKEL dan mengelilingi koloid
di dalamnya. Folikel ini dikelilingi jaringan ikat tipis yang kaya dengan pembuluh
darah. Sel folikel yang mengelilingi thyroid folikel ini dapat berubah sesuai
dengan aktivitas kelenjar thyroid tersebut. Ada kelenjar thyroid yang hipoaktif, sel
foikel menjadi kubis rendah, bahkan dapat menjadi pipih. Tetapi bila aktivitas
kelenjar ini tinggi, sel folikel dapat berubah menjadi silindris, dengan warna
koloid yang dapat berbeda pada setiap thyroid folikel dan sering kali terdapat
Vacuola Resorbsi pada koloid tersebut.LAPORAN PENDAHULAUAN
HIPERTIROID
B. Fisiologi
Hormon tiroid dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Kelenjar tiroid memiliki dua buah
lobus, dihubungkan oleh isthmus, terletak di kartilago krokoidea di leher pada
cincin trakea ke dua dan tiga. Kelenjar tiroid berfungsi untuk pertumbuhan dan
mempercepat metabolisme. Kelenjar tiroid menghasilkan dua hormon yang
penting yaitu tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3). Karakteristik triioditironin
adalah berjumlah lebih sedikit dalam serum karena reseptornya lebih sedikit
dalam protein pengikat plasma di serum tetapi ia lebih kuat karena memiliki
banyak resptor pada jaringan. Tiroksin memiliki banyak reseptor pada protein
pengikat plasma di serum yang mengakibatkan banyaknya jumlah hormon ini di
serum, tetapi ia kurang kuat berikatan pada jaringan karena jumlah reseptornya
sedikit.
Proses pembentukan hormon tiroid adalah:
1. Proses penjeratan ion iodida dengan mekanisme pompa iodida. Pompa ini
dapat memekatkan iodida kira-kira 30 kali konsentrasinya di dalam darah;
2. Proses pembentukan tiroglobulin. Tiroglobulin adalah glikoprotein besar
yang nantinya akan mensekresi hormon tiroid;
3. Proses pengoksidasian ion iodida menjadi iodium. Proses ini dibantu oleh
enzim peroksidase dan hidrogen peroksidase.
4. Proses iodinasi asam amino tirosin. Pada proses ini iodium (I) akan
menggantikan hidrogen (H) pada cincin benzena tirosin. Hal ini dapat terjadi
karena afinitas iodium terhadap oksigen (O) pada cincin benzena lebih besar
daripada hidrogen. Proses ini dibantu oleh enzim iodinase agar lebih cepat.
5. Proses organifikasi tiroid. Pada proses ini tirosin yang sudah teriodinasi
(jika teriodinasi oleh satu unsur I dinamakan monoiodotirosin dan jika dua unsur I
menjadi diiodotirosin)
6. Proses coupling (penggandengan tirosin yang sudah teriodinasi). Jika
monoiodotirosin bergabung dengan diiodotirosin maka akan menjadi
triiodotironin. Jika dua diiodotirosin bergabung akan menjadi tetraiodotironin atau
yang lebih sering disebut tiroksin. Hormon tiroid tidak larut dalam air jadi untuk
diedarkan dalam darah harus dibungkus oleh senyawa lain, dalam hal ini
tiroglobulin. Tiroglobulin ini juga sering disebut protein pengikat plasma. Ikatan
protein pengikat plasma dengan hormon tiroid terutama tiroksin sangat kuat jadi
tiroksin lama keluar dari protein ini. Sedangkan triiodotironin lebih mudah dilepas
karena ikatannya lebih lemah. (Guyton. 1997)

E. Patofisiologi
Penyebab hipertiroidisme biasanya adalah penyakit graves, goiter toksika. Pada
kebanyakan penderita hipertiroidisme, kelenjar tiroid membesar dua sampai tiga
kali dari ukuran normalnya, disertai dengan banyak hiperplasia dan lipatan-lipatan
sel-sel folikel ke dalam folikel, sehingga jumlah sel-sel ini lebih meningkat
beberapa kali dibandingkan dengan pembesaran kelenjar. Juga, setiap sel
meningkatkan kecepatan sekresinya beberapa kali lipat dengan kecepatan 5-15
kali lebih besar daripada normal.
Pada hipertiroidisme, kosentrasi TSH plasma menurun, karena ada sesuatu yang
“menyerupai” TSH, Biasanya bahan – bahan ini adalah antibodi immunoglobulin
yang disebut TSI (Thyroid Stimulating Immunoglobulin), yang berikatan dengan
reseptor membran yang sama dengan reseptor yang mengikat TSH. Bahan –
bahan tersebut merangsang aktivasi cAMP dalam sel, dengan hasil akhirnya
adalah hipertiroidisme. Karena itu pada pasien hipertiroidisme kosentrasi TSH
menurun, sedangkan konsentrasi TSI meningkat. Bahan ini mempunyai efek
perangsangan yang panjang pada kelenjar tiroid, yakni selama 12 jam, berbeda
dengan efek TSH yang hanya berlangsung satu jam. Tingginya sekresi hormon
tiroid yang disebabkan oleh TSI selanjutnya juga menekan pembentukan TSH
oleh kelenjar hipofisis anterior.
Pada hipertiroidisme, kelenjar tiroid “dipaksa” mensekresikan hormon hingga
diluar batas, sehingga untuk memenuhi pesanan tersebut, sel-sel sekretori kelenjar
tiroid membesar. Gejala klinis pasien yang sering berkeringat dan suka hawa
dingin termasuk akibat dari sifat hormon tiroid yang kalorigenik, akibat
peningkatan laju metabolisme tubuh yang diatas normal. Bahkan akibat proses
metabolisme yang menyimpang ini, terkadang penderita hipertiroidisme
mengalami kesulitan tidur. Efek pada kepekaan sinaps saraf yang mengandung
tonus otot sebagai akibat dari hipertiroidisme ini menyebabkan terjadinya tremor
otot yang halus dengan frekuensi 10-15 kali perdetik, sehingga penderita
mengalami gemetar tangan yang abnormal. Nadi yang takikardi atau diatas normal
juga merupakan salah satu efek hormon tiroid pada sistem kardiovaskuler.
Eksopthalmus yang terjadi merupakan reaksi inflamasi autoimun yang mengenai
daerah jaringan periorbital dan otot-otot ekstraokuler, akibatnya bola mata
terdesak keluar.
Pathway
LAPORAN PENDAHULAUAN HIPERTIROID
Pathway Hipertiroid

F. Gejala-gejala
Peningkatan frekuensi denyut jantung
Peningkatan tonus otot, tremor, iritabilitas, peningkatan kepekaan terhadap
Katekolamin
Peningkatan laju metabolisme basal, peningkatan pembentukan panas, intoleran
terhadap panas, keringat berlebihan
Penurunan berat, peningkatan rasa lapar (nafsu makan baik)
Peningkatan frekuensi buang air besar
Gondok (biasanya), yaitu peningkatan ukuran kelenjar tiroid
Gangguan reproduksi
Tidak tahan panas
Cepat letih
Tanda bruit
Haid sedikit dan tidak tetap
Pembesaran kelenjar tiroid
Mata melotot (exoptalmus)

G. Diagnosa
Diagnosa bergantung kepada beberapa hormon berikut ini :
Pemeriksaan darah yang mengukur kadar HT (T3 dan T4), TSH, dan TRH akan
memastikan diagnosis keadaan dan lokalisasi masalah di tingkat susunan saraf
pusat atau kelenjar tiroid.
1. TSH(Tiroid Stimulating Hormone)
2. Bebas T4 (tiroksin)
3. Bebas T3 (triiodotironin)
4. Diagnosa juga boleh dibuat menggunakan ultrabunyi untuk memastikan
pembesaran kelenjar tiroid
5. Tiroid scan untuk melihat pembesaran kelenjar tiroid
6. Hipertiroidisme dapat disertai penurunan kadar lemak serum
7. Penurunan kepekaan terhadap insulin, yang dapat menyebabkan hiperglikemia

H. Komplikasi
Komplikasi hipertiroidisme yang dapat mengancam nyawa adalah krisis tirotoksik
(thyroid storm). Hal ini dapat berkernbang secara spontan pada pasien hipertiroid
yang menjalani terapi, selama pembedahan kelenjar tiroid, atau terjadi pada pasien
hipertiroid yang tidak terdiagnosis. Akibatnya adalah pelepasan HT dalam jumlah
yang sangat besar yang menyebabkan takikardia, agitasi, tremor, hipertermia
(sampai 106 oF), dan, apabila tidak diobati, kematian
Penyakit jantung Hipertiroid, oftalmopati Graves, dermopati Graves, infeksi
karena agranulositosis pada pengobatan dengan obat antitiroid. Krisis tiroid:
mortalitas
LAPORAN PENDAHULAUAN HIPERTIROID
HIPERTIROID
I. Penatalaksanaan
1. Konservatif
Tata laksana penyakit Graves
a. Obat Anti-Tiroid. Obat ini menghambat produksi hormon tiroid. Jika dosis
berlebih, pasien mengalami gejala hipotiroidisme.Contoh obat adalah sebagai
berikut :
1) Thioamide
2) Methimazole dosis awal 20 -30 mg/hari
3) Propylthiouracil (PTU) dosis awal 300 – 600 mg/hari, dosis maksimal 2.000
mg/hari
4) Potassium Iodide
5) Sodium Ipodate
6) Anion Inhibitor
b. Beta-adrenergic reseptor antagonist. Obat ini adalah untuk mengurangi
gejalagejala hipotiroidisme. Contoh: Propanolol
Indikasi :
1) Mendapat remisi yang menetap atau memperpanjang remisi pada pasien
muda dengan struma ringan –sedang dan tiroktosikosis
2) Untuk mengendalikan tiroktosikosis pada fase sebelum pengobatan atau
sesudah pengobatan yodium radioaktif
3) Persiapan tiroidektomi
4) Pasien hamil, usia lanjut
5) Krisis tiroid
Penyekat adinergik ß pada awal terapi diberikan, sementara menunggu pasien
menjadi eutiroid setelah 6-12 minggu pemberian anti tiroid. Propanolol dosis 40-
200 mg dalam 4 dosis pada awal pengobatan, pasien kontrol setelah 4-8 minggu.
Setelah eutiroid, pemantauan setiap 3-6 bulan sekali: memantau gejala dan tanda
klinis, serta Lab.FT4/T4/T3 dan TSHs. Setelah tercapai eutiroid, obat anti tiroid
dikurangi dosisnya dan dipertahankan dosis terkecil yang masih memberikan
keadaan eutiroid selama 12-24 bulan. Kemudian pengobatan dihentikan , dan di
nilai apakah tejadi remisi. Dikatakan remisi apabila setelah 1 tahun obat antitiroid
di hentikan, pasien masih dalam keadaan eutiroid, walaupun kemidian hari dapat
tetap eutiroid atau terjadi kolaps.
2. Surgical
a. Radioaktif iodine.
Tindakan ini adalah untuk memusnahkan kelenjar tiroid yang hiperaktif
b. Tiroidektomi.
Tindakan Pembedahan ini untuk mengangkat kelenjar tiroid yang membesar
Dwi Tri Martiana Rahayu, dkk. Hipertiroid.
http://tiaraaskep.blogspot.com/2008/11/hipertiroid.html. Diakses tanggal 21
Januari 2014.
Doenges, M.E dan Moorhouse, M.F. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, ed 3.
Jakarta: EGC.
Greenspan, Francis S. dan Baxter, John D. 2000. Endokrinologi Dasar &
Hermawan, Andreas. Solusi Alami Hipertiroid Tanpa Operasi.
http://healindonesia.wordpress.com. Diakses tanggal 7 April 2010.
Irhamsyah, Muhammad. Hipertiroid. http://andardunker.blogspot.com. Diakses
tanggal 21 Januari 2014.
Ismail. Askep Klien Hipertiroidisme.
Kumar, dkk. 2007. Buku Ajar Patologi, vol 2. Jakarta: EGC.
Price, S.A dan Wilson, LM. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit, vol 2. Jakarta: EGC.
Semiardji, Gatut. 2003. Penyakit Kelenjar Tiroid. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Thamrin, Zulkifli Ukki .Hipertiroidisme.
http://zulkiflithamrin.blogspot.com/2007/05/hipertiroidisme.html. Diakses tanggal
21 Januari 2014.
Asuhan Keperawatan Antenatal

1. Pengkajian
a. Data umum klien dan pasangan
b. Riwayat kehamilan & persalinan yang lalu
c. Riwayat ginekologi
d. Riwayat KB
e. Riwayat kehamilan saat ini
f. Pemeriksaan fisik
g. Persiapan persalinan
h. Obat-obatan yg dipakai saat ini
i. Hasil pemeriksaan penunjang

2. Diagnosa Keperawatan
Menurut Mitayani (2009), diagnose keperawatan ibu hamil berupa:
 Trimester I kemungkinan diagnose yang ditemukan
a. Kecemasan
b. Nyeri
c. Gangguan nutrisi
d. Perubahan pola seksual
 Trimester II kemungkinan diagnosis yang ditemukan
a. Gangguan rasa nyaman: nyeri
b. Gangguan gambaran diri
c. Perubahan proses keluarga
d. Kecemasan
e. Perubahan pola seksual
 Trimester III kemungkinan diagnosis yang ditemukan
a. Nyeri
b. Perubahan pola napas tidak efektif
c. Perubahan pola tidur
d. Intoleransi aktivitas
e. Perubahan pola seksual
3. Intervensi Keperawatan
Menurut Mitayani (2009), intervensi yang dilakukan:
 Trimester I : bergantung pada pengkajian biopsikososial
Tujuan perawatan secara fisiologis pada trimester I adalah sebagai
berikut:
a. Kehamilan didiagnosis dan taksiran persalinan dapat ditentukan
b. Ibu mendapatkan informasi tentang adaptasi tubuh akibat
perkembangan janin
c. Faktor resiko dapat diindentifikasi
Tujuan perawatan secara psikologis pada trimester I adalah
a. Ibu aktif merawat diri
b. Ibu mempersiapkan rencana persalinan
c. Terbina rasa saling percaya
 Trimester II : bergantung masalah yang ada pada ibu
Tujuan perawatan fisiologis pada trimester II kehamilan diantaranya :
a. Memastikan taksiran persalinan
b. Ibu dan keluarga mendapatkan informasi tentang adaptasinya dan
perkembangan janin selama trimester II
c. Ibu dapat merawat dirinya sendiri
d. Faktor resiko dapat diidentifikasi
e. Ibu waspada dengan bahaya kehamilan
Tujuan perawatan secara psikologis pada trimester II adalah sebagai
berikut:
a. Informasi kebutuhan persiapan persalinan
b. Kooperatif dan aktif selama trimester II
c. Mempersiapkan rencana persalinan
d. Hubungan saling percaya terbina
 Trimester III
Tujuan perawatan fisiologis pada trimester III kehamilan diantaranya :
a. Ibu dan keluarga mendapatkan informasi tentang adaptasi dan
perkembangan janin
b. Ibu mendapatkan informasi perawatan mandiri secara adekuat
Tujuan perawatan psikologis pada kehamilan trimester III diantaranya
a. Kebutuhan dan kesiapan ibu dengan keluarga teridentifikasi
b. Ibu dan keluarga aktif dalam perawatan trimester III
c. Hubungan saling percaya semakin baik
Intervensi yang dapat diberikan berdasarkan diagnosa keperawatan yang
dialami ibu hamil, diantaranya :
1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan keinginan untuk makan akibat mual dan muntah.
Kriteria hasil
 Meningkatkan masukan oral
 Menjelaskan factor-faktor penyebab bila diketahui
Intervensi
 Tentukan kebutuhan kalori harian yang realistis dan adekuat
 Timbang BB setiap hari
 Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat
 Beri dorongan individu makan makanan yang kering
2. Konstipasi berhubungan dengan penurunan peristaltic sekunder akibat
kehamilan
Kriteria hasil
 Menggambarkan program defekasi terapeutik
 Melaporkan eliminasi yang baik
Intervensi
 Jelaskan risiko konstipasi pada kehamilan
 Jelaskan factor pemberat untuk terjadinya hemoroid
 Pertimbangkan kebutuhan untuk laksatif
3. Ansietas berhubungan dengan konsep diri sekunder akibat kehamilan.
Kriteria hasil
 Menggambarkan ansietas dan pola kopingnya
 Menghubungkan peningkatan kenyamanan psikologis
 Menggambarkan mekanisme kopinh yang efektif
Intervensi
 Gali ketakutan dan kekhawatiran selama hamil
 Bantu pasangannya mengenali harapan yang tidak realistis
 Terima ansietasnya dan kenormalan dari proses tersebut
 Diskusikan kekhawatiran inin dengan klien dan pasangannya
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan, dispnea sekunder
akibat penekanan pembesaran uterus pada diafragama dan peningkatan
volume darah
Kriteria hasil
 Mengidentifikasi factor-faktor yang menurunkan toleransi aktivitas
 Menurunkan penurunan gejala-gejala intoleransi aktivitas
Intervensi
 Jelaskan penyebab keletihan dan dispnea pada pertnegahan kehamilan
dan masa akhir kehamilan
 Perubahan pada pusat gravitasi
 Peningkatan berat badan
 Tekanan pembesaran uterus pada diafragma
 Ajarkan metode penghematan energy
5. Risiko terhadap perubahan membrane mukosa oral berhubungan
membrane mukosa oral berhubungan dengan gusi hiperemik sekunder
akibat kadar estrogen dan progesterone.
Kriteria hasil
 Memperlihatkan integritas rongga mulut
 Bebeas dan rasa tidak nyaman saat makan dan minum
Intervensi
 Diskusikan pentingnya hygiene oral setiap hari dan pemeriksaan gigi
secara periodic
 Ingatkan untuk memberi tahu dokter gigi tentang kehamilan
 Jelaskan bahwa hipertropi dan nyeri tekan guzi adalah normal pada
kehamilan.
4. Implementasi Keperawatan
a. Trimester I
Informasi tentang perawatan mandiri yang diberikan kepada ibu di
trimester I adalah sebagai berikut
1. Pencegahan infeksi neonates
2. Penyuluhan tentang nutrisi, aktivitas, kebiasaan tidur, hubungan
seksual dan pemakaian obat
3. Jadwal kunjungan, sejak konsepsi sampai dengan 28 minggu
kehamilan setiap 4 minggu, 29-36 minggu kehamilan setiap 2-3
minggu, 37 minggu kehamilan sampai lahir setiap 1 minggu
4. Informasi tanda bahaya kehamilan seperti perdarahan per vaginam
dengan tanpat atau dengan nyeri, pecah ketuban (keluar air dari
vagina), sakit kepala yang berlebihan, gangguan penglihatan, nyeri
abdomen, serta demam
5. Kelas prenatal
6. Rencana melahirkan
b. Trimester II
1. Pakaian direkomendasikan yang nyaman, longgar, dan praktis
2. Postur dan mekanik tubuh
3. Kebersihan diri: mandi, gosok gigi
4. Aktivitas fisik/latihan yang teratur bisa memperkuat otot,
mengurangi nyeri punggung, dan meningkatkan kesejahteraan ibu
5. Istirahat dan tidur, temukan posisi yang nyaman untuk istirahat dan
tidur
6. Imunisasi, ibu harus mendapatkan imunisasi Tetanus Toksoid (TT)
dua kali selama kehamilan
c. Trimester III
1. Dukungan emosional dan sosial
2. Mengajarkan perawatan diri
3. Persiapan menyusui
4. Kaji ulang tanda bahaya kehamilan
5. Kenali kelahiran premature
6. Persiapan sebelum melahirkan.

5. Evaluasi Keperawatan
Kelanjutan dan evaluasi terhadap efektivitas intervensi keperawatan.
Evaluasi keperawatan merupakan kegiatan akhir proses keperawatan, di mana
perawat menilai hasil yang diharapkan terhadap perubaha diri ibu dan menilai
sejauh mana masalah ibu dapat diatasi. Di samping itu, perawat juga
mengesampingkan umpan balik atau pengkajian ulang jika tujuan yang
ditetapkan belum tercapai sehingga proses keperawatan dapat dimodifikasi.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, Yetti, 2010. Asuhan Kebidanan Masa Nifas.Yogyakarta:Pustaka


Rihanna.
Bobak. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta: EGC.
Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Pelayanan Antenatal.
http://perpustakaan.depkes.go.id:8180/bitstream//123456789/768/4/BK20
07-G59.pdf. Diakses tanggal 18 Juni 2012. Pukul 18.37 WIB.
George Andriaanz. 2008. Asuhan Antenatal. http://www.pkmi-
online.com/download/ASUHAN%20-ANTENATAL.pdf. Diakses
tanggal 17 November 2010.Pukul 18.14 WIB.
Joseph, H. K dan Nugroho. 2010. Catatan Kuliah Ginekologi dan Obstetri
(Obsgyn).Yogayakarta: Nuha Medika
Krisnadi, Sofie. 2005. Obstetri Patologi ilmu kesehatan Reproduksi Edisi 2 FK
Universitas Padjadjaran. Jakarta: EGC.
Manuaba, Ida Bagus Gede. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: EGC
Manuaba IBG. 2008. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan Kelurga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Mitayani.2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika.
Mochtar, Rustam. 2008. Sinopsis Obstetri Jilid 1 Obstetri fisiologi, Obstetri
Patologi. Jakarta: EGC.
Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal danNeonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka sarwono
Prawirohardjo.
Saifuddin AB, rachimhadhi T, Wiknjosastro GH. 2009. Ilmu Kebidanan Sarwono
Prawirohardjo. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiro Hardjo.
Sastrawinata, Sulaiman, et. al. 2004. Ilmu Kesehatan Reproduksi : Obstetri
Patologi Edisi 2. Jakarta : EGC.
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi
NIC dan Kriteria Hasil NOC.Diterjemahkan oleh: Widyawati, dkk.
Jakarta. EGC.