Anda di halaman 1dari 5
KEPUTUSAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : KM 23 TAHUN 1980. TENTANG. USAHA SALVAGE DAN ATAU PEKERJAAN BAWAH AIR MENTERI PERHUBUNGAN Meninoang: 3. bahwa_untuk meningkatkan kelanceran dan mutu pelayanan salvage dan Pekerjaan bawah air perlu menata Kembali ketentunan mengenai iin usaha salvage dan pekerjaan bavah air ». _ahwa sehubungan dengan huruf a tersebut diatas perlu menetapkan Keputusan Menteri Perhubungan ‘tentang Usaha Salvage dan Atau Pekerjaan Bawah Arr Memgingat: 1. Undengundang Nomor 1 Tahun 1973 tentang LandasKkntinen Indonesia ( Lembaren Negara Tahun 1973 Nomor 1 Tambahan Lembaran Negara Nomor 2694); 2 Undang-undang Nomor § tahun 1983 tentang zona Ekonomi Eksklusif Indonesia { lembaran Negara ‘Tahun 1983 -Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Nomar 3266 ), Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesehan Konvensi Perserkatan Sangsa-Gangsa tentang Hukum Laut ( Lmbaran Negara Nemor 3319 ). 4. Poreturan Bander Tahun 1925 ( Reden Regiement 1925 Staatsblad 1925 Nomor 500 sebegaimana diubah dan ditambah; 5, Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1965 tentang Penyelenggaraan dan Pengawasan Perindustian Maritim (Lembaran Negara Tahun 1965 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2788): 6. Peraturan Pemenntah Nomor %7 Tehun 1974 tentang Pengewasan Pelaksanaan Ekspiorasi dan Eksploliasi Minyak dan Ges Sumi di Daerah Lepas Pantal ( Lembaran Negare Tahun 1974 Nomot 20, Tambahan Lembaran Negara Nomet 3031); 7. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1874 tentang Pokok-pokok Organisasi Departemen: 8 Keputusan Presiden Nomor 18 Tahun 1964 tentang Susunan Organisasi Depertemen sebagaimana telah clubaha teraknir dengan Keputusan Presiden Nomot 16 Tahun 1988, 8. _Instruksi Presiden Nomar 5 Tahun 1984 tentang Pedoman Penyederhanaan dan Pengendalian Perizinen di Bidang Usahs 10, Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 91 / OT 002 / Phb ~ 80 dan KM 164 / OT 002 / Phd — £0 {tentang Organisasi can Tata Kerja Departemen Perhubungan sebagaimana telah diuban terakhir dengan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 23 Tahun 1989; 11, Kaputusan Senteri Pethubungan Nomor KM 95 PR 301 / Phb — 80 tentang Pedoman Penyedethanaen Perizinan Usaha di Sektor Pernubungan, MEMUTUSKAN Dengan mencabut Kepulusan Menteri Perhubungan Nomor PM 2 J HK 206 / Phb - 79 tentang Peraturan Usche Salvage dan Pekerjsen Bawah Air Menetapkan; KEPUTUSAN MENTER! PERHUBUNGAN TENTANG USAHA SALVAGE DAN ATAU PEKERJAAN BAWAH AIR. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 ‘Yang dimaksud dalam Keputusan ini dengan : & Salvage adalah kegiatan yang diakukan untuk membenkan bantuan terhadap Kepal atau alat apung lainnya yeng mengalami Kecelaiaan atau dalam keadaan bahay, dan pengangkaten kapal atau Kerangka kapal yang tenggelam ata fintangan bawah air lainnys, dan atau pengangkatan benda yang tidak secara permanen dan tidak dimaksudkan cipasang Gi dasar laut, dan atau pengangkatan benda oucaya maritim yang mempunyai nila! arksologis atau bistoris atau ekonomis yang gerada di perairan; b Fekerjaan bawah air adalah pokerjaan pemasangan dan atau pemeriksaan dan atau pemeliharaan konstruksl dn atau instalasi bawan-aig teemasuk penilian kondisi ongkungannya;, & Menteri adalah Menteri Perhubungn; 4. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderat Perhubungan Laut BAB It PERSYARATAN USAHA 2 Pasal 2 sah salvage dan atau pekerjaan bawah air dapat dilakukan dengan memenuhi persyaratan, sebagai benkut 4. perusahean berbadan hukum Indonesia yang berbentuk Perseroan Tarbatas (PT) dan Kaperasi yang didinkan khusus untuk lusaha salvage dan atau pekerjaan bawah air dan Badan Usaha Milk Negara (UMN) yan salah satu lingkup usahanya adalah salvage dan alau pekeniaan bawah arr, B._Memily Nomor Pokok Waiib Pajak (NPWP), € Memiiki sekurangy-kurangnya 1) Tenaga kerja a) 1 (satu) orang tenaga ah yang mempunyai kamampuan merencanakan dan melaksanakan operas! salvage dan atau pekesjaan bawah ai ) 1 (satu) Team Penyelam yang terdin dani 4 (emapat} orang Penyolam 2) Peralatan kerja a) 1 (salu) set peralatan selam SSBA_untuk pemaksian 3 (tiga) penyelam dalarn waktu yang bersamaan atau 3 (ga) set peraiatan salam Scuba dengan 1 (salu) buah compressor b) 2 (dua) set alat potong bawah ar, ©) 2 (dua) set aia las bawah air, «d) 1 (satu) set alat pompa salvage den atau pekerjaan bawah air; e) 1 (satu) set alat Pleumati, 1) 4 (satu) set alat survey salvage dan atau pekeriaan bawah air 4. Bagi perusahaan palungan antara perusahaan nasional dan perusahaan asing (join! venture) wajb memiliki peralatan kerja sebagaimana dimaksud pada butie ¢ pasal ini serla peralatan-peralaian sebagai berkul 1) Bagi Perusahaan Savage a} 1 (satu) buah kapal tunda petayaran samudera; b) 4 (Satu) buah kran apung dengan kapasilas lebin besar dari 200 TLC, yang dilengkapi dengan 1 (satu) unit sisiom penyolaman, 2) Bagi Perusahaan Pekerjaan Bawah Ar 1 (Satu) buah kapal kerja yang dilengkapiFasiltas kran dengan kapasitas lebih besar dar 50 TLC, yang dilengkap: dengan 1 (satu) unit sistem penyelaman pasal 3 (2) Untuk dapat metakukan usaha salvage dan atau pekeriaan bawab airharus mel in usaha 2) Jangka waktu izin usaha diberikan selama pemegang izin usaha masin menialankan kegialannya dan memeruhi persyaratan ddidalam sural izin usahanya, (8) lain Usaha Perusahaan Salvage dan alau Pekerjaan Bawah Air berlaku di seluruh Indonesia BAB ‘TATA CARA PERMOHONAN IZIN USAHA SALVAGE DAN ATAU PEKERJAAN BAWAH AIR Pasal 4 (4) Permohonan i2in wsaha salvage dan alau pekenaan bawah ait untuk BUMN dan perusahaan bethentuk Perseroan Terbatis (P7) dan Koperast sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diajukan kepada Ouvektur Jenderal Perhubungan Laut sestst dengan Lampiran | Keputusan int (2) Surat permononan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilengkapi dengan a Salinan Akte Pendinan Perusahaan berbentuk Badan Hukum: b Buiti Perilkan den alau penguasaan peratatan kerja dan tenage keria; .c. Bukli Memiki Nomor Pokok Wajid Pajak (8) Persetujuan atau penolakan atas_permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasat ini diberiksn daiem jangka Waktu 14 (empat belas) han kerja setetah permohonan ditenima secara lengkap. (4) Dalam hal permohonan dimaksud pada ayat (1) pasal ini disetujut ciberkan surat izin usaha sesuai dengan Lampiran 1 ‘Reputusan ini (8) Gaiam hat permohonan dimaksud pada ayat (1) pasal int dolkak pejabat yang mengeluarkan icin usaha wayib memberikan alasan penolakannya sesuai dengan Lampiran Ml Keputusan ine (©) Permononan yang dtclak sebagaimana dimaksud paca ayat (5) pasal ini dapat diajukan kembal: setelah pemohon ‘memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 BAB IV SURAT PERSETUJUAN KEGIATAN SALVAGE DAN ATAU PEKERJAAN BAWAH AIR Pasal § (@) Untuk inélaksanakan kagiatan salvage dan alau pekerjzan bawah air, perusatiaan terebih dahuly harus memperoleh Surat Persetujuan Kegiatan dari Dirktur Jenderal Porhubungan Laut atau péjabat yang ditunjak (2 Surat Parsatajuan Regietan sebagalmana dimaksud pada ayat (1) pasal in diberikan untuk setiap kepiatan den berlaky ‘sampai pekerjaan torsebut selesal (@) _* Untuk melaksanakan kegiatan salvage dan atau pekerjaan bawah air yang membuluhkan kecepatan bertindak, perusahaan yang bersangkutan wajib segere melaporkan tindakan yang telah dilakukannya dalam hubungan dengan operasi tersebut ‘kepada Diroktur Jenderal Perhubungan Laut (4) Alas dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) pasal ini dalam waktu selambatlambatnya 2 x 24(dua kali dua puluh empat) jam terhitung dari pemberangkatan fasiitas keiokasi kecelakaan, Direklur Jenderal Perhubungan Laut menerbikan ‘Surat Persetujuan Kegiatan, Pasal 6 Penyelenggaraan kegiatan salvage terhadap kspal berbendera Indonesia yang dllakukan oleh pemiliknya, dapat dllaksenakan ‘Setelch mendapat Surat Persetujuan Kegiatan dari Direktur Jenderal Perhubungan Laut. Pasal 7 (1) Untuk memperolen Surat Persetujuan Kegiatan sebagalmana dimaksud pada Pasal 5 dan Pasal 6, perusal ‘engafukan permohonan kepada Direktur Jenderal Perhubungan Laut sesuai dengan Lampiran iV Ksputusen ini @) Surat Permohonsn sebagaimana dimksud pada ayat (1) pasal ini harus dilengkap! dengan. a, Foto copy izin usahe: ». Foto copy kontrak Kerja, sedang untuk penyelenggaraan kegiatan salvage sebagekmana dimaksud dalam Pasal 6 tidak diperiuken izin useha namun harus dilengkapi dengan bukti pemilikan kapal yang mengalamri musibah; ©. Fimetode Kerja serta analisa teknis; 4. Spesifikasi teknis kapal dan peralatan kerja serta bahan yang digunakan; @. Jangka waktu dan jadwal pelaksanaan kerja; f. Daftar tenag kerja beserta keahliannya, @)__Dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kaya seteleh pemohonan sebagaimana dimaksud pads ayat (1) pasal ini dterima secara lengkap sesuai persyaratan diverikan jawaban penclakan atau persetujuan. (@) Dalam hal permohonan dimaksud pada ayat (1) pasal in! disetului Direktur Jenderal Perhubungan Laut mengeluarkan ‘surat persetujuan kegiatan sesual dengan Lampiran V Keputusan in (©) Dalam hal permohonan pada ayat (1) pasal ini ditolak Direktur Jenderal Perhubungan Laut well memberikan alasan ‘peniolakannya sesuai dengan Lampican Vi Keputusan ini. (8) _Permohonan yang sitolak sebagaimana dimeksud pada ayat (6) pasal ini dapat disjukan kemball setelah pemohon ‘memenuhi persyaratan dimaksud pada ayat (2) dan ayat (8) pasal ini Pasal 8 harus Untuk melaksanakan kegiatan Salvage dan atau Pekerjaan Bawah Air, meka Badan Instansi /Perorangan yang _berkepentingan (Bouwheer) bebas menunjuk Perusahaan Salvage dan atau Pekerjaan Bawah Air yang telah memiiki izin usah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. BAB V KERJASAMA OPERAS! (JOINT VENTURE) KEGIATAN SALVAGE DAN ATAU PEKERJAAN BAWAH AIR Pasal 9 Dalam hal perusahaan nasional belum mampu menangani suaty Kegiatan salvage dan atau pekerjaan baweh air, maka Perusahaan nasional tersebut dapat mengadakan Kerjasama operasi (oint venture) dengan perusahaan asing setelah terfebin