Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anak merupakan individu yang berada dalam satu rentang perubahan


perkembangan yang dimulai dari bayi hingga remaja. Masa anak merupakan masa
pertumbuhan dan perkembangan yang dimulai dari bayi (0-1 tahun) usia
bermain/oddler (1-2,5 tahun), pra sekolah (2,5-5), usia sekolah (5-11 tahun)
hingga remaja (11-18 tahun). Rentang ini berada antara anak satu dengan yang
lain mengingat latar belakang anak berbeda. Pada anak terdapat rentang
perubahan pertumbuhan dan perkembangan yaitu rentang cepat dan lambat.
Dalam proses perkembangan anak memiliki ciri fisik, kognitif, konsep diri, pola
koping dan perilaku sosial. Ciri fisik adalah semua anak tidak mungkin
pertumbuhan fisik yang sama akan tetapi mempunyai perbedaan dan
pertumbuhannya (Azis, 2005).

Anak usia 0-3 tahun merupakan masa untuk berkenalan dan belajar
menghadapi rasa kecewa saat apa yang dikehendaki tidak dapat terpenuhi. Rasa
kecewa, marah, sedih dan sebagainya merupakan suatu rasa yang wajar dan
natural. Namun seringkali, tanpa disadari orang tua ‘menyumbat’ emosi yang
dirasakan oleh anak. Misalnya saat anak menangis karena kecewa, orangtua
dengan berbagai cara berusaha menghibur, mengalihkan perhatian, memarahi dsb
demi menghentikan tangisan anak. Hal ini menurut sebenarnya membuat emosi
anak tak tersalurkan dengan lepas. Jika hal ini berlangsung terus menerus,
akibatnya timbullah yang disebut dengan tumpukan emosi. Tumpukan emosi
inilah yang nantinya dapat meledak tak terkendali dan muncul sebagai temper
tantrum.

Temper tantrum adalah ledakan emosi yang kuat yang terjadi ketika anak
balita merasa lepas kendali. Tantrum adalah demonstrasi praktis dari apa yang
dirasakan oleh anak dalam dirinya. Ketika orang-orang membicarakan
tantrum,biasanya hanya mengenai satu hal spesifik, yaitu kemarahan yang
dilakukan oleh anak kecil. Hampir semua tantrum terjadi ketika anak sedang

1
bersama orang yang paling dicintainya. Tingkah laku ini biasanya mencapai titik
terburuk pada usia 18 bulan hingga tiga tahun, dan kadang masih ditemui pada
anak usia lima atau enam tahun, namun hal tersebut sangat tidak biasa dan secara
bertahap akan menghilang.

Dariyo (2007:34) mengatakan jika temper tantrum merupakan kondisi


yang normal terjadi pada anak-anak berumur 1-3 tahun, apabila tidak ditangani
dengan tepat dapat bertambah sampai umur 5-6 tahun. Kemampuan untuk
mengolah atau mengatur emosi memegang peranan penting dalam perkembangan
kepribadiannya. Oleh karena itu anak yang mudah mengatur emosinya maka ia
akan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.

Ekspresi emosi yang baik pada anak dapat menimbulkan penilaian sosial
yang menyenangkan, sedangkan ekspresi emosi yang kurang baik seperti
cemburu, marah, atau takut dapat menimbulkan penilaian sosial yang tidak
menyenangkan atau disebut dengan tantrum. Anak yang bersikap seperti itu akan
dijauhi teman, dinilai sebagai anak yang cengeng, pemarah, atau julukan-julukan
lain. Penilaian yang diperoleh anak dari lingkungannya dapat membentuk konsep
diri negatif, dan pada akhirnya anak tidak dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya (Raufi, 2006).

Umumnya anak kecil lebih emosional daripada orang dewasa karena pada
usia ini anak masih relatif muda dan belum dapat mengendalikan emosinya.
Bentuk yang digunakan untuk menampilkan rasa tidak senangnya, anak
melakukan tindakan yang berlebihan, misalnya menangis, menjerit-jerit,
melemparkan benda, berguling-guling, memukul ibunya atau aktivitas besar
lainnya. Pada usia 2-4 tahun anak tidak memperdulikan akibat dari perbuatannya,
apakah merugikan orang lain atau tidak, selain dari itu, pada usia ini anak lebih
bersifat egosentris (Hurlock, 2000).

Saat anak mengalami tantrum, banyak orangtua yang beranggapan bahwa


hal tersebut merupakan sesuatu yang negatif, dan pada saat itu juga orangtua
bukan saja bertindak tidak tepat tetapi juga melewatkan salah satu kesempatan
yang paling berharga untuk membantu anak menghadapi emosi yang normal

2
(marah, frustrasi, takut, jengkel) secara wajar dan bagaimana bertindak dengan
cara yang tepat sehingga tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain ketika sedang
merasakan emosi tersebut.

Meluapkan kemarahan dengan tindakan-tindakan yang berbahaya dan


menimbulkan cedera adalah salah satu bentuk tantrum agar anak mendapatkan apa
yang ia inginkan. Perwujudan tantrum pada anak yang dapat menimbulkan resiko
cedera tersebut dapat berupa menjatuhkan badan ke lantai, memukul kepala, atau
melempar barang, hal ini diduga merupakan bentuk awal dari temper tantrum
pada saat anak sudah mampu mengekspresikan rasa frustasinya. Jika temper
tantrum telah terlanjur muncul dalam bentuk perilaku yang membahayakan dan
berpotensi menimbulkan kerusakan, maka tindakan intervensi harus segera
dilakukan. Semakin besar anak, tenaga juga semakin kuat dan akan semakin sulit
bagi orang tua untuk mengendalikan atau mencegah tingkah lakunya yang tak
terkendali. Selain itu timbunan emosi ini juga dapat mengarah pada ‘kerusakan’
lain baik secara fisik ataupun bentuk perilaku berbohong, menyalahkan orang lain,
menutup diri, merebut milik orang lain secara paksa dan sebagainya (Rulie, 2011).

Akibat yang ditimbulkan dari temper tantrum ini cukup berbahaya,


misalnya anak yang melampiaskan kekesalannya dengan cara berguling-guling
dilantai yang keras dapat menyebabkan anak menjadi cedera. Anak yang
melampiaskan amarahnya dapat menyakiti dirinya sendiri, menyakiti orang lain
atau merusak benda yang ada disekitarnya. Jika benda-benda yang ada disekitar
anak merupakan benda keras maka akan sangat berbahaya karena anak dapat
tersakiti dan mengalami cedera akibat dari tindakan tantrumnya. Anak yang
mengalami tantrum ini sebenarnya digunakan untuk mencari perhatian sehingga
orangtua sebisa mungkin untuk menjauhkan anak dari perhatian umum ketika
mengalami tantrum dan sekaligus menjauhkan anak dari benda-benda yang
berbahaya agar anak tidak mengalami cedera.

Tantrum yang tidak diatasi dapat membahayakan fisik anak, selain itu
anak tidak akan bisa mengendalikan emosinya atau anak akan kehilangan kontrol
dan akan lebih agresif. Hal ini akan mengakibatkan anak tidak bisa menghadapi
lingkungan luar, tidak bisa beradaptasi, tidak bisa mengatasi masalah, tidak bisa

3
mengambil keputusan dan anak tidak akan tumbuh dewasa, karena melewati
tantrum akan membuat anak tumbuh dewasa (Dariyo, 2007:35).

Menurut psikolog Michael Potegal (dalam Hayes, 12: 2003) terdapat dua
jenis tantrum yang berbeda dengan landasan emosional dan tingkah laku yang
berbeda yaitu, tantrum amarah (anger tantrum) yang diperlihatkan dengan cara
menghentakkan kaki, menendang, memukul, berteriak, dan tantrum kesedihan
(distress tantrum) yang diperlihatkan dengan cara membanting diri, menangis
terisak-isak, serta berlari menjauh. Tantrum dapat terjadi karena kesedihan dan
amarah, juga karena kebingungan dan ketakutan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tantrum terjadi sekurangnya


sekali seminggu pada 50-80 persen anak prasekolah. Diperkirakan tiga perempat
dari seluruh perilaku tantrum terjadi di rumah, namun tantrum terburuk sering
ditujukan di tempat-tempat umum yang menjamin anak mendapat perhatian
sebesarnya dengan membuat orang tua merasa malu (Hayes, 14: 2003).

Penelitian lain menunjukkan bahwa penyebab utama tantrum pada anak


adalah konflik mereka dengan orang tua, yang paling umum konflik mengenai
makanan dan makan (16,7 %), konflik karena meletakkan anak di kereta dorong,
kursi tinggi untuk bayi, tempat duduk di mobil, dan sebagainya (11,6 %), konflik
mengenai pemakaian baju (10,8 %). Ada kejadian puncak yang menunjukkan
bahwa tantrum lebih banyak terjadi menjelang tengah hari dan petang saat anak
lapar ataupun lelah (Hayes, 16: 2003).

Terdapat sejumlah situasi yang diprediksi bisa menjadi pemicu temper


tantrum, misalnya waktu tidur, waktu makan, bangun pagi, saat berpakaian,waktu
mandi, menonton televisi, saat orangtua sedang menelepon, saat ada tamu di
rumah atau saat sedang berkunjung ke rumah orang lain, saat di mobil,di tempat
umum, waktu melakukan kegiatan keluarga yang melibatkan kakak atau adik,
interaksi dengan teman, dan waktu bermain (Raufi, 2006).

Penanganan terhadap perilaku anak yang menyimpang merupakan


pekerjaan yang memerlukan pengetahuan khusus tentang ilmu jiwa dan
pendidikan. Orang tua dapat saja menerapkan berbagai pola asuh yang dapat

4
diterapkan dalam kehidupan keluarga. Apabila pola-pola yang diterapkan orang
tua keliru, maka yang akan terjadi bukannya perilaku yang baik, bahkan akan
mempertambah buruk perilaku anak (Al-Istanbuli, 2002).

Bentuk-bentuk pola asuh orang tua sangat erat hubungannya dengan


kepribadian anak setelah menjadi dewasa. Hal ini dikarenakan ciri-ciri dan unsur-
unsur watak seorang individu dewasa sebenarnya sudah diletakkan benih-
benihnya ke dalam jiwa seorang individu sejak sangat awal, yaitu pada masa ia
masih kanak-kanak. Watak juga ditentukan oleh cara-cara pada waktu kecil diajar
makan, diajar kebersihan, disiplin, diajar main dan bergaul dengan anak lain dan
sebagainya (Koentjaraningrat, 1997). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
pola asuh yang diterapkan oleh orang tua sangat dominan dalam membentuk
kepribadian anak sejak dari kecil sampai anak menjadi dewasa.

Anak-anak yang dibesarkan dengan gaya pengasuhan otoirter dan permisif


memiliki intensitas temper tantrum yang cukup tinggi. Penerapan pola asuh yang
tidak sama antara ayah dan ibu juga dapat memicu temper tantrum, ketika anak
tidak mendapatkan apa yang ia inginkan pada salah satu pihak, maka ia akan
menggunakan tantrum untuk mendapatkannya pada pihak lain.

Temper tantrum memang normal terjadi pada tahap perkembangan anak,


namun demikian apabila kejadian ini tetap berlanjut dan dibiarkan maka
dikhawatirkan akan terjadi perkembangan yang negatif pada diri anak.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINISI TEMPER TANTRUM


Tantrum adalah masalah perilaku yang dialami oleh anak-anak prasekolah
yang mengekspresikan kemarahan mereka dengan tidur dilantai, meronta-ronta,
berteriak, dan biasanya menahan napas (Syamsuddin, 2013). Sedangkan temper
tantrum adalah suatu letupan amarah anak yang sering terjadi pada saat anak
menunjukkan sikap negativistik atau penolakan (catatan kaki). Pada dasarnya,
temper tantrum atau amukan terjadi pada anak yang belum mampu mengontrol
emosinya dan mengungkapkan amarahnya secara tepat. Penyebab temper tantrum
yang lain adalah sikap orang tua yang tidak konsisten(catatan kaki).
Perilaku tantrum dimaksudkan untuk “memaksa” orang lain memenuhi
kebutuhan atau keinginan. Tantrum yang pertama merupakan usaha untuk
menunjukkkan ketidakpuasan atau frustasi. Perilaku tantrum yang terus diulang
merupakan perilaku yang dipelajari (learned behavior). Perilaku temper tantrum
ini biasanya mencapai puncaknya pada usia 18 bulan sampai dengan 3 tahun,
bahkan kadang masih dijumpai pada anak usia lima tahun sampai dengan enam
tahun (Purnamasari, 2005).

Temper tantrum merupakan salah satu ciri anak yang bermasalah terhadap
perkembangan emosi dengan ciri (Rosmala Dewi, 2005:95), yaitu :
a. Marah berlebihan, seperti ingin merusak diri dan barang di sekelilingnya.
b. Tidak dapat mengungkapkan keinginannya
c. Takut yang sangat kuat, sehingga mengganggu orang disekitarnya
d. Pemalu, hingga menarik diri dari lingkungannya
e. Hipersensitiv ( sangat peka, sulit mengatasi perasaan tersinggung dan
pandangan cenderung negatif).

Tantrum juga lebih mudah terjadi pada anak-anak yang dianggap “ sulit”,
dengan ciri-ciri sebagai berikut (Soetjiningsih & Ranuh, 2013) :

6
 Memiliki kebiasaan tidur, makan, dan buang air besar yang tidak teratur
 Sulit menyukai situasi, makanan, dan orang-orang baru
 Lambat beradaptasi terhadap perubahan
 Mood (suasanan hati) lebih sering negative
 Mudah terprovokasi, mudah marah atau kesal
 Sulit dialihkan perhatiannya.

Secara umum, tantrum jarang terjadi pada anak yang lebih besar. Anak
bermain dan bertindak normal seperti biasa diantara kondisi tantrum pertama
dengan kondisi tantrum berikutnya. Rujukan perlu dilakukan, jika terjadi hal-hal
seperti berikut ini :
 Tantrum parah berlangsung dalam waktu yang lama dan sering
terjadi.
 Anak memiliki masalah berbicara atau orangtua tidak mengetahui
apa yang diinginkan anak.
 Tantrum semakin parah terjadi pada umur 3-4 tahun.
 Anak memperlihatkan tanda-tanda sakit selama terjadi tantrum
atau menahan napas sehingga pingsan.
 Anak melukai dirinya sendiri dan orang lain selama tantrum.

2.2 MANIFESTASI TEMPER TANTRUM

Tantrum adalah rasa marah yang diekspresikan sacara imatur, yaitu bila
anak mengungkapkan emosinya sebelum mencapai milestone perkembangan
emosi anak seusianya. Tidak peduli apakah orangtuanya adalah orangtua yang
sabar dan baik hati, anak bisa memiliki suatu masalah tantrum. Saat anak
menginjak umur 3 tahun, bisa mulai mengajarkan kepada mereka untuk
mengekspresikan apa yang mereka rasakan (“kamu merasa marah karena…”).
Orangtua perlu mengajarkan kepada anak bahwa marah itu normal, tetapi harus
memilki korelasi dengan perasaan yang dirasakan. Orangtua harus
memperkenalkan berbagai macam emosi pada anak, dan mengajarkan bagaimana

7
mengelola emosi tersebut. Misal, dengan cara menghitung angka sampai 10 dapat
membantu mereka untuk mengontrol perasaan marah tersebut. Pada usia sekolah
tantrum jarang terjadi.

Anak yang belum bisa mengedalikan emosinya secara total. Misalnya,


mengamuk, menghentakkan kaki, menjerit, dan melemparkan badannya ke lantai,
kadang-kadang rilaku itu merupakan bagian dari perkembangan yang normal.
Tantrum biasanya hanya ditujukan kepada orangtuanya. Hal ini merupakan cara
yang dilakukan seorang anak untuk mengungkapkan perasaannya. Orangtua harus
mengetahui bagaimana cara menangani tantrum jika hal itu terjadi dan bagaimana
cara mencegahnya. Hampir semua anak pernah mengalami tantrum, tapi pada
umur 4 tahun, pengendaliandiri sebagai besar anak sudah mulai berkembang dan
tantrum berhenti dengan sendirina.

Tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku. Di bawah ini adalah


beberapa contoh perilaku tantrum menurut tingkatan usia :

Dibawah usia 3 tahun


1. Menangis 7. Melengkungkan punggung
2. Menggigit 8. Melempar badan ke lantai
3. Memukul 9. Memukul-mukulkan tangan
4. Menendang 10. Menahan napas
5. Menjerit 11. Membentur-benturkan kepala
6. Memekik 12. Melempar-lempar barang

Usia 3 sampai 4 tahun


1. Perilaku-perilaku tersebut 5. Membanting pintu
diatas 6. Merengek
2. Mengjentak-hentakkan kaki 7. Mengkritik
3. Berteriak-teriak
4. Meninju

8
Usia 5 tahun keatas
1. Perilaku-perilaku tersebut pada dua kategori usia diatas
2. Memaki
3. Menyumpah
4. Memukul kakak, adik, atau temannya
5. Mengkritik diri sendiri
6. Memecahkan barang dengan sengaja
7. Mengancam

2.3 ETIOLOGI TEMPER TANTRUM

Ada beberapa penyebab dasar terjadinya tantrum, antara lain anak mencari
perhatian,lelah, atau tidak nyaman. Tantrum kadang terjadi karena anak frustasi
pada dunia, misalnya tidak mendapatkan yang dia inginkan. Frustasi pada anak
bukan sesuatu yang tidak dapat diterima karena justru ia akan belajar mengenal
orang lain, objek, atau dirinya sendiri. Sebelum menginjak umur dua tahun, anak
mulai membangun rasa percaya diri yang kuat pada dirinya. Ia ingin belajar
mandiri untuk mengekpresikan dirinya dan untuk menguasai lingkungan
disekitarnya lebih dari yang sebenarnya yang mampu ia atasi. Anak akan merasa
bisa melakukan sendiri atau menginginkan sesuatu itu. Ketika usia balita anak
mulai menyadari bahwa ia tidak dapat melakukannnya sendiri dan tidak
mendapatkan semua yang diinginkan, maka terbentuklah tantrum . Tantrum dan
tingkah laku agresif dapat berkembang sebagai hasil dari ganjaran yang tidak
sesuai (inappropriate reinforcement). Perilaku “baik” (constructive behavior)
tidak mendapatkan ganjaran, tetapi hanya perilaku “nakal” (naughty behavior)
yang mendapat perhatian dari orangtua atau guru. Anak kemudian belajar bahwa
dia dapat menerima ganjaran berupa perlakuan (treats) dan perhatian kasih sayang
(loving attention) dengan menjadi “nakal” (by being naughty), dan menjadi
“good” berarti kurang diperhatikan atau diberi ganjaran. Ganjaran yang diberikan
secara tidak konsisten dapat menyebabkan anak menjadi khawatir atau menarik
diri, karena anak tidak mengetahui apakah ia akan dihukum atau diberi ganjaran
untuk perilakunya. Anak dihadapkan kepada suatu kebingungan (ambiguity).

9
Tantrum sering ditemukan pada anak-anak ang terlampau dimanjakan
(overindulgent), atau orangtua yang terlampau mencemaskannya (oversolicious),
atau orangtua yang terlampau melindungi (overprotective). Walaupun tantrum
pada mulanya merupakan perasaan tidak senang pada perlakuan fisik, tantrum
juga dimaksudkan sebagai suatu usaha untuk mendapatkan hadiah-hadiah
(gratification), atau menguasai keluarganya melalui cetusan marah (outburst), atau
merupakan suatu hasil meniru dari orangtua atau anggota keluarga lainnya.
Tantrum biasanya terjadi pada anak umur 18 bulan – 4 tahun. Tantrum ini
disebut otonomi diri, yaitu rasa mampu berbuat sesuai kehendak (autonomy vs
shame and doubt). Pada umur 1-3 tahun, timbul beberapa kebebasan dari
ketergantungan total pada oragtua. Kebebasan fisik berupa mulai belajar berjalan
dan kemudian berlari.
Penyebab tantrum erat kaitannya dengan kondisi keluarga, seperti anak
terlalu banyak mendapatkan kritikan dari anggota keluarga, masalah perkawinan
pada orang tua, gangguan atau campur tangan ketika anak sedang bermain oleh
saudara yang lain, masalah emosional dengan salah satu orangtua, persaingan
dengan saudara dan masalah komunikasi serta kurangnya pemahaman orangtua
mengenai tantrum yang meresponnya sebagai sesuatu yang mengganggu dan
distress. (Fetsch & Jacobson, dikutip syamsyuddin, 2013).
Banyak orangtua terkejut dengan bagaimana begitu cepat anak mereka
yang sempurna dan bahagia menjadi pemarah. Orangtua perlu memeriksa apa
yang terjadi, yang menyebabkan perubahan perilaku secara mendadak tersebut.
Tantrum menjadi lebih buruk dan lebih sering terjadi, akibat dari berbagai alasan
di bawah ini :
 Lapar. Anak yang lapar akan lebih sulit dibuat senang.
 Sangat kelelahan. Anak yang tidak tidur siang atau tidak mendapatkan
tidur yang cukup pada malam sebelumnya biasanya akan lebih mudah
marah.
 Tidak berdaya. Anak yang tidak mampu menyelesaikan tugasnya
(mengancingkan baju, menumpukkan balok).

10
 Perubahan mendadak. Anak di paksa berubah dari satu aktivitas ke
aktivitas lainnya, lebih mudah menjadi marah dan bertingkah laku
berlebihan.
 Mencari perhatian. Seorang anak yang tidak mendapatkan perhatian
saat marah, terkadang dapat membentuk kebiasaan memiliki tantrum.
 Tidak mendapatkan benda yang diinginkan, membuat anak sedih atau
tersinggung.
 Benda miliknya yang diambil paksa.
 Orangtua tidak mengeri apa yang diinginkan atau dikatakan anak,
membuat anak frustasi. Demikian pula, jika anak tidak mengerti apa
yang dikatakan atau diperintahkan orangtuanya, membuat anak
menjadi frustasi juga.
 Tidak punya kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan atau
kebutuhannya.
 Anak yang merasa cemas, tertekan atau terganggu.
 Ketidakmampuan memecahkan masalah , mengakibatkan anak
kecewa.

Pada umumnya bila kebutuhan emosional dan fisik seorang anak


terpenuhi, anak akan jarang bertingkah laku berlebihan. Jika temper tantrum tidak
ditangani dengan baik, maka akan menyebabkan beberapa akibat (Rita, 2005)
seperti :
a. Anak akan menjadikan tantrum sebagai “senjata” untuk dipenuhi
keinginannya, serta kurang dapat menunda keinginannya.
b. Perkembangan intelektual dan sosial anak temper tantrum kurang
seimbang.
c. Anak tidak bisa beradaptasi dengan lingkungan luar
d. Anak tidak bisa memecahkan masalah
e. Anak tidak bisa mengambil keputusan dan tumbuh dewasa karena dengan
melewati tantrum akan membuat anak tumbuh dewasa.

11
2.4 PENCEGAHAN TEMPER TAMTRUM

Untuk mengatasi beberapa akibat perilaku temper tantrum tersebut, orang


tua dan pendidik perlu melakukan pencegahan atau intervensi. Beberapa hal
yang berkenaan dengan intervensi yaitu intervensi secara umum dan khusus.
Intervensi secara umum meliputi pencegahan masalah yaitu :
1) Pastikan anak tidak kekurangan perhatian.
2) Cobalah untuk mempertahankan kebiasaan untuk berlaku positif
(memberi penghargaan jika mereka bersikap baik)
3) Kenali sifat dan kebiasaan anak
4) Temani mereka belajar dan bermain, untuk menunjukkan bahwa
orang tua peduli dan memiliki perhatian pada kegiatan anaknya
5) Evaluasi cara orangtua mendidik anak selama ini (apakah terlalu
keras atau terlalu memanjakan anak)
6) Memberikan saluran bagi anak untuk mengungkapkan emosi anak
7) Mengurangi frustasi dengan menawari anak banyak pilihan
aktivitas untuk mengisi waktu luang

Mah (2008) menambahkan beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk


mencegah tantrum, yakni perlunya mengidentifikasi konsekuensi dari tantrum,
maksudnya bahwa orang tua perlu mengetahui adakah perilaku dari orangtua atau
orang lain disekitar anak justru mendorong dan memberikan penguatan terhadap
terjadinya tantrum. Jika ada maka perlu dihilangkan. Selain itu, perlu juga
diwujudkan atau dibangun suatu sistem reward (penghargaan) untuk menjaga
anak tetap berperilaku terkontrol. Memberikan penghargaan atau hadiah pada saat
tantrum terjadi adalah tidak tepat sebab akan mengkondisikan anak untuk selalu
mengulanginya. Untuk anak yang usianya lebih tua perlu diajarkan dan dilatih
dengan coping skill dalam menghadapi situasi yang dapat membuat dia tantrum.
Lorenz (2010) juga memberikan pandangan tentang bagaimana mencegah
terjadinya tantrum ketika akan melakukan perjalanan atau mengunjungi suatu
tempat. Sebelum berangkat penting sekali membangun kesepahaman dengan
anak. Orang tua perlu menjelaskan apa yang akan dilakukan, dimana, dan berapa

12
lama kegiatan tersebut, lalu minta persetujuan anak. Ceritakan perilaku yang
diharapkan dan tidak diharapkan oleh orang tua. Tentu saja disampaikan dengan
kalimat positif, lembut, dan menggunakan kata-kata yang meminta (mengharap)
dan menggunakan ungkapan yang dapat dirasakan oleh anak. Jika sudah sampai di
tempat yang dikunjungi dan anak melanggar kesepakatan tersebut, maka tugas
orangtua untuk mengingatkan. Ini juga merupakan cara untuk mengajarkan nilai
konsistensi pada anak. Jika tetap menuntut, maka ada satu cara yang dapat
dilakukan orangtua, yang disebut making a game out of the child’s demand, yakni
keterampilan berbahasa untuk keluar dari tuntutan anak, sebagai contoh dapat
dilihat pada percakapan di bawah ini :

Anak : “saya mau permen !”


Orangtua : “ mama mau roket untuk pergi ke bulan”
Anak : “beri saya permen”
Orangtua : “mama akan memberi permen jika ade memberi roket”
Anak : “ini (seolah-olah memberi roket)”
Orangtua : “ini (seolah-olah memberi permen”)
Anak : “tapi ini Cuma boongan”
Orangtua : “ade juga memberi mama roket boongan”
Anak : “tapi saya tidak punya roket beneran”
Orangtua : “mama juga tidak punya permen beneran”

Tavris (2008) memberikan beberapa panduan untuk orangtua guna


mencegah terjadinya tantrum yakni, mengalihkan perhatian anak, mencoba
menemukan alasan kemarahan, menghindari rasa malu kepada anak perihal rasa
marah, ajarkan anak mengenai intensitas tingkat kemarahan, atur secara jelas
batasan harapan akan manajemen kemarahan sesuai dengan usia, kemampuan dan
tempramennya, mengembangkan komunikasi terbuka dengan anak dan empati
dengan memberikan pemahaman akan efek yang bisa ditimbulkan dari sikap
mereka terhadap orang lain.

2.5 PENATALAKSANAAN TEMPER TANTRUM

13
Bagaimana baiknya orangtua memenuhi kebutuhan fisik dan emosional
anak , tetapi ada kemungkinan anaknya mengalami tantrum. Sebaiknya orangtua
menghindari rasa marah dan bersalah apabila anaknya tantrum. Jarang anak
bertingkah laku berlebihan untuk membuat orang tuanya marah. Perilaku itu
mungkin membuat dia sendiri juga takut.
Pada umur-umur tertentu, anak menggunakan tantrum untuk berekspresi.
Anak tidak mengetahui bagaimana cara mengekspresikan keinginan mereka.
Dengan kesabaran dan cinta, orang tua dapat membantu anaknya untuk
mengekspresikan keinginan mereka melalui kata-kata dan menunjukkkan
kemarahan melalui cara yang sesuai. Dibawah ini dijelaskan cara-cara yang dapat
diikuti untuk mengontrol tantrum :
 Orangtua tetap tenang. Mungkin hal ini sulit untuk dilakukan,
tetapi orangtua sebaiknya tetap tenag dan memegang kendali. Hal
ini membantu orangtua mengingatkan diri bahwa tantrum adalah
suatu hal yang alami dan bukan merupakan suatu reaksi yang
buruk untuk mengungkapkan rasa frustasi dan kemarahan.
Orangtua marah hanya akan membuat anak tambah bingung dan
frustasi.
 Jangan mengubah “ tidak ” menjadi “ ya “. Jangan mengubah
keputusan yang telah dibuat hanya untuk membuat anak
menghentikan pemulihan yang bersifat sementara tetapi kekuatan
anak akan bertambah karena diizinkan dan akan membuatnya lebih
sulit untuk dihadapi dikemudian hari. Anak akan memperoleh
manfaat bila memiliki orangtua yang menjalankan aturan. Anak
harus tahu siapa yang memegang kendali. Bersifat hangat,
sungguh-sungguh, dan konsisten adalah dasar dalam membesarkan
anak.
 Memindahkan anak. Jika anak mengalami tantrum pada tempat
keramaian, pindahkan anak ke tempat lain yang lebih
tenang.tantrum anak ini dapat mengganggu dan memalukan dan
tidak ada gunanya untuk membiarkannya tetap disana. Orangtua

14
dan anak mungkin dapat duduk didalam mobil sampai anak tenang
atau pulang ke rumah.
 Orangtua yang memindahkan diri. Jika anak ada di tempat aman
(misalnya: kamar tidur), tinggalkan anak selama beberapa menit
dan biarkan dia menjadi tenang. Tanpa penonton untuk “
pertunjukkannya ”, anak akan lebih mudah berhenti.
 Tenangkan anak. Jika anak mulai menyakiti dirinya selama
tantrum (missal: memukulkan kepalanya di lantai), orangtua harus
menghentikan setenang mungkin. Tenangkan anak dan selama
memeluknya katakana “ Kamu sangat marahsaat ini, ayah dan ibu
tidak akan membiarkan kamu melukai diri sendiri. Ayah atau ibu
disini dan kami mencintaimu.”
 Bicarakan sesudahnya. Jangan mencoba bicara pada anak tentang
kelakuannyaketika dia marah.tunggu tantrumna hilang, lalu
diskusikan dengan si anak bagaimana cara dia mengendalikan
marah dan frustasi.
 Jangan mencoba berbincang untuk menyakinkan anak sepanjang
ledakan kemarahan. Perasaan anak seperti laut emosi, tidak dalam
keadaan mental yang siap untuk mendengarkan logika atau alasan.
 Jangan mengancam dengan hukuman.

1. Terapi temper tantrum

Terapi permain puzzle (Faruq, 2007: 36) puzzle merupakan alat permainan
edukatif yang dapat merangsang kemampuan matematika anak, yang dimainkan
dengan cara membongkar pasang keping puzzle berdasarkan pasangannya. Selain
melatih matematika anak, permainan puzzle juga dapat melatih anak untuk
sabardalam mengerjakan permainan puzzle ini, karena membutuhkan waktu yang
cukup banyak untuk membongkar pasang kepingan-kepingan puzzle ini.

15
Terapi finger painting adalah teknik melukis dengan mengoleskan cat pada
kertas basah dengan jari atau dengan telapak tangan (Salim, 1991 dalam Hardi
Mulyana Wibawa, ___: 8). Point terpenting dari shaw adalah gerakan. Dalam
aktivitas ini, bukan hanya tangan saja yang bergerak tetapi seluruh tubuh.
Ada berbagai kelebihan finger fainting sebagai terapi temper tantrum pada
anak usia dini ( Downs, 2008 dalam Hardi Mulyana Wibawa,___:5), yaitu :

1) Finger fainting adalah salah satu metode yang menyenangkan yang


membuat anak mengungkapkan perasaannya secara bebas tanpa
tertekan. Dari hasil penelitian dikatakan bahwa dari berbagai
metode gambar dalam mengurangi agresivitas anak, hanya finger
fainting yang paling efektif dalam menurunkan perilaku agresif
anak.
2) Finger fainting dapat membuat membuat anak dan remaja duduk
diam dalam waktu lima menit atau lebih. Selain itu finger fainting
mempunyai kadungan spiritual seperti yoga.

Anak-anak yang mengalami tekanan dapat mengeluarkan bebabn di alam


bawah sadar dengan cara mengaduk-aduk cat diatas kertas atau dengan menciprat-
cipratkan air. Dengan aktivitas tersebut, anak memindahkan energi-energi yang
kurang baik ke bentuk yang tidak membahayakan (Beaty, J: 2006 dalam Hardi
Mulyana Wibawa, ___: 8 ). Sebuah film dokumenter menggambarkan temuan dari
ilmuan yang mengungkapkan bahwa belaian dan sentuhan pada cat
mengakibatkan pelepasan endorfin adalah zat kimia yang dapat membawa rasa
enak (BBC, 2004 dalam Hardi Mulyana Wibawa, _____:8) ke dalam aliran darah,
penurunan tekanan syaraf, frustasi dan kemarahan (Suratno, 2005: 107).

16
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

Asuhan Keperawatan pada Tn “S” Dengan Hematochezia


A. Data Subjektif
1. Identitas
Nama : An. N
Umur : 3 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan :
Pekerjaan :
Alamat : Jl. Nusantara No. 45, kelurahan Timbangan, Kecamatan
Indralaya Utara, Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan
Diagnosa Medis :

2. Keluhan Utama

An. N mengalami masalah perilaku dalam meluapkan emosinya.

3. Riwayat Penyakit Sekarang


Tidak ada riwayat penyakit sekarang.

4. Riwayat Penyakit Lalu


Tidak ada riwayat penyakit lalu .

5. Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada riwayat penyakit keluarga.

6. Pola Aktivitas

 Pola eliminasi

17
Buang air besar tidak tertur.
 Pola nutrisi
Makan tidak teratur dan sulit untuk menyukai makanan baru.
 Pola istirahat dan istirahat
Tidur tidak teratur.
 Pola hygiene
Kebiasaan mandi setiap harinya.
 Pola aktivitas
Hiperaktivitas saat keinginan tidak terpenuhi

B. DATA OBJEKTIF
1. KEADAAN UMUM
Perilaku dan emosi An.N tidak stabil

2. TANDA-TANDA VITAL
ö Tekanan darah : 99/65 mmHg
ö Suhu : 36˚C
ö Nadi : 105x/menit
ö RR : 25x/menit

3. PEMERIKSAAN FISIK
- Kepala
Inspeksi : simetris, rambut hitam
Palpasi : tidak ada benjolan abnormal
- Wajah
Inspeksi : tampak memerah
- Mata
Inspeksi : sklera putih
- Hidung
Inspeksi : tidak ada kelainan deviasi sputum, tidak ada peradangan mukosa, tidak
ada polip, ada sekret.

18
- Telinga
Inspeksi : simetris, tidak ada serumen dan cairan
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
- Mulut dan gigi
Inspeksi : gigi hitam
- Leher
Palpasi : tidak ada benjolan abnormal
- Dada dan thorax
Inspeksi : simetris, tidak ada kelainan bentuk dada
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Auskultasi : tidak terdapat bunyi wheezing, tidak ada bunyi ronchi
Perkusi : tidak ada reaksi intercosta
- Abdomen
Palpasi : tidak ada nyeri tekan
Perkusi : tidak adanya distensi abdomen
-Genetalia
Inspeksi : bersih, tidak ada lesi
-Ekstrimitas
Atas
Inspeksi : simetris
Bawah
Inspeksi : simetris
- Neuroligis
Reflek : normal
Koor. Gerak : normal
Integumen
Palpasi : Turgor kulit elastis

4. Pemeriksaan Penunjang
Tidak ada pemeriksaan yang menunjang dalam pengangkataan diagnosis
keperawatan ini

5. Diagnosa keperawatan

19
a. Resiko gangguan perilaku anak berhubungan dengan ketidakmampuan
orang tua dalam memenuhi keinginan anak.
b. Ketidakefektivan koping anak berhubungan dengan ketidakmampuan
anak mengontrol luapan emosi yang berlebihan
c. Penyimpangan Oposisi berhubungan dengan deficit perhatian
d. Risiko Mencedrai diri berhubungan dengan hiperaktivitas anak atau
perubahan persepsi

6. Analisa Data

NO. DATA ETIOLOGI PROBLEM


1. DS : ketidakmampuan Resiko
- orang tua An. N orang tua dalam gangguan
mengatakan anaknya memenuhi perilaku anak
sering marah, keinginan anak.
membantingkan badan
ke lantai, berteriak,
melemparkan barang
DO :
- An.An terlihat kesal
dan marah

2. DS : ketidakmampuan Ketidakefektiva
- orang tua An. N anak mengontrol n koping anak
mengatakan emosi luapan emosi
anaknya tidak stabil yang berlebihan
jika permintaannya
tidak terpenuhi
DO :
- Wajah An. N
memerah saat
menangis dan

20
meluapkan emosi

3. DS : deficit perhatian Penyimpangan


- orang tua An. N Oposisi
mengatakan anaknya
sering berkata kasar
dan berteriak
DO :
- An. N terlihat marah
dan memukul ibunya
4. DS: hiperaktivitas Risiko
- orang tua An. N anak atau Mencedrai diri
mengatakan anaknya perubahan
sering memukul diri persepsi
sendiri dan melempar
badan ke lantai

DO:

- An. N melempar
badan ke lantai

21
7. Rencana keperawatan

RENCANA KEPERAWATAN
DIAGNOSA
KRITERIA HASIL DAN
KEPERAWATAN INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI
TUJUAN
1. Resiko gangguan 1. Pastikan anak 1. Anak yang 1. Memastikan anak
Tujuan :
perilaku anak tidak kekurangan kurang tidak kekurangan
Setelah dilakukan tindakan 3
b.d. perhatian. perhatian perhatian.
x kunjungan diharapkan
ketidakmampuan 2. Cobalah untuk memicu untuk 2. Mempertahankan
perubahan perilaku anak
orang tua dalam mempertahankan melakukan kebiasaan untuk
memenuhi kebiasaan untuk hal-hal buruk berlaku positif.
Kriteria Hasil :
keinginan anak. berlaku positif. agar ia 3. Mengalihkan
- Anak mampu
2. Ketidakefektivan 3. Cobalah untuk mendapatkan perhatian anak
mengontrol keinginan
koping anak mengalihkan perhatian. 4. Menemukan alasan
jika keinginan tidak
berhubungan perhatian anak 2. Pujian pada kemarahan anak
terpenuhi.
dengan 4. Cobalah anak 5. Mengajarkan anak
- Anak mampu
ketidakmampuan menemukan diharapkan mengenai
mengontrol luapan
anak mengontrol alasan kemarahan anak akan intensitas tingkat

22
luapan emosi emosi yang berlebihan anak terpicu untuk kemarahan.
yang berlebihan - Anak mampu 5. Ajarkan anak melakukan 6. Mengatur secara
3. Penyimpangan mengurangi mengenai hal baik agar jelas batasan
Oposisi penyimpangan akibat intensitas tingkat mendapatkan harapan akan
berhubungan luapan emosi yang kemarahan. pujian-pujian manajemen
dengan deficit berlebihan 6. Atur secara jelas lain kemarahan sesuai
perhatian - Anak mampu batasan harapan 3. Dengan dengan usia,
4. Risiko mengurangi akan manajemen mengenali kemampuan, dan
Mencedrai diri hiperaktivitas kemarahan sesuai sifat dan tempramennya.
berhubungan dengan usia, kebiasaan 7. Mengembangkan
dengan kemampuan, dan anak, orang komunikasi
hiperaktivitas tempramennya. tua mudah terbuka dengan
anak atau 7. kembangkan mengetahui anak dan empati
perubahan komunikasi apa yang dengan
persepsi terbuka dengan diinginkan memberikan
anak dan empati anaknya pemahaman akan
dengan 4. Dengan efek yang bisa
memberikan mengetahui ditimbulkan dari
pemahaman akan alasan sikap mereka

23
efek yang bisa kemarahan terhadap orang
ditimbulkan dari anak, lain.
sikap mereka diharpkan 8. Mengenali sifat
terhadap orang tindakan dan kebiasaan
lain. kekerasan anak.
8. Kenali sifat dan terhadap diri 9. Memani anak
kebiasaan anak. sendiri belajar dan
9. Temani anak berkurang bermain, untuk
belajar dan 5. tingkat menunjukkan
bermain, untuk intensitas bahwa orang tua
menunjukkan kemarahan , peduli dan
bahwa orang tua akan memiliki perhatian
peduli dan membantu pada kegiatan
memiliki anak untuk anaknya.
perhatian pada memahami 10. Mengevaluasi cara
kegiatan anaknya. bagaimana orang tua mendidik
10. Evaluasi cara seharusnya anak selama ini,
orang tua dia apakah terlalu
mendidik anak mengeksprisk keras atau

24
selama ini, apakah an emosinya. memanjakan anak.
terlalu keras atau 6. Bertindak dan 11. Berikan saluran
memanjakan anak. berkata sesuai bagi anak untuk
11. Berikan saluran realita dan mengungkapkan
bagi anak untuk kebutuhan emosinya.
mengungkapkan anak bukan 12. Mengurangi
emosinya. kemauan anak frustasi dengan
12. Kurangi frustasi untuk menawari anak
dengan menawari mengendalika banyak pilihan
anak banyak n dan aktivitas untuk
pilihan aktivitas memanajeme mengisi waktu
untuk mengisi n kemarahan luangnya.

25
waktu luangnya. pada anak.
7. Dengan
pemahaman
dan empati
akan
membentuk
komunikasi
terbuka pada
anak.
8. Mengenali
sifat dan
kebiasaan
anak, agar
orang tua
mengetahui
apa yang
seharusnya
dilakukan.
9. Menemani

26
anak belajar
dan bermain,
akan
menumbuhka
n sikap
percaya anak
terhadap
kepedulian
orang tua.
10. Orang tua
mengevaluasi
diri untuk
mengenali
pola asuh
yang
diterapkan
pada anak.
11. Orang tua
mengarahkan

27
anak untuk
menyalurkan
emosinya
secara positif.
12. Dengan
mengisi
waktu luang,
frustasi pada
anak dapat
berkurang.

28
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

4.2 Saran

29
DAFTAR PUSTAKA

30