Anda di halaman 1dari 84

IMPLEMENTASI PEMBEBANAN JAMINAN DENGAN

JAMINAN FIDUSIA PADA KOPERASI SERBA


USAHA ARTHA ASIH SEJAHTERA
DI GIANYAR

I PUTU HENDRA ADHI SEPTYAWAN


NIM. 1216051155

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2017
IMPLEMENTASI PEMBEBANAN JAMINAN
DENGAN JAMINAN FIDUSIA PADA KOPERASI
SERBA USAHA ARTHA ASIH SEJAHTERA
DI GIANYAR

Skrispsi ini dibuat untuk memperoleh Gelar Sarjana Hukum


pada Fakultas Hukum Universitas Udayana

I PUTU HENDRA ADHI SEPTYAWAN


NIM. 1216051155

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2017

ii
Lembar Persetujuan Pembimbing

SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI

Pembimbing I

Dr. Marwanto, SH.M.,Hum.


NIP. 196001011986021001

Pembimbing II

I Nyoman Mudana, SH.,MH.


NIP. 195612311986011001

iii
SKRIPSI INI TELAH DIUJI

PADA TANGGAL : ........................ 2017

Panitia Penguji Skripsi

Berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana

Nomor : .................................... Tanggal .......................... 2017

Ketua : Dr. Marwanto, SH.M.,Hum. ( )


NIP : 196001011986021001

Sekertaris : I Nyoman Mudana, SH.,MH. ( )


NIP : 195612311986011001

Anggota : 1. ( )
NIP :

2. ( )
NIP :

3. ( )
NIP :

iv
KATA PENGANTAR

Om Swastyastu,

Puji syukur penulis panjatkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena

atas rahmat-Nya penulisan skripsi yang berjudul “Implementasi Pembebanan

Jaminan Dengan Jaminan Fidusia Pada Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera” dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini tidak sedikit

hambatan yang dialami dan tidak akan berhasil dengan baik tanpa adanya

dukungan dari berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung. Oleh

karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. I Made Arya Utama, SH.,MHum., Dekan Fakultas Hukum

Universitas Udayana.

2. Bapak Dr. Gde Made Swardhana, SH., MH., Wakil Dekan I Fakultas

Hukum Universitas Udayana.

3. Ibu Dr. Ni Ketut Sri Utari, SH., MH., Wakil Dekan II Fakultas Hukum

Universitas Udayana.

4. Bapak Dr. I Gede Yusa, SH., MH., Wakil Dekan III Fakultas Hukum

Universitas Udayana.

5. Bapak Dr. I Wayan Wiryawan, SH ., MH., Ketua Bagian Hukum Perdata

Fakultas Hukum Universitas Udayana.

v
6. Bapak Dr. Marwanto, SH.M.,Hum. Dosen Pembimbing I yang dengan sabar

dan tiada henti-hentinya memberikan arahan dan masukan yang begitu

berarti hingga terselesaikannya skripsi ini.

7. Bapak I Nyoman Mudana, SH.,MH., dosen pembingbing II yang dengan

penuh perhatian dan kerelaan hati meluangkan waktunya untuk memberikan

bimbingan hingga terselesainya skripsi ini.

8. Ibu Nyoman Ni Luh Gede Astariyani, SH., MH., Dosen Pembimbing

Akademik yang telah memberikan bimbingan dan menuntun semenjak awal

penulis kuliah di Fakultas Hukum Universitas Udayana,

9. Semua dosen pengajar di lingkungan Fakultas hukum Universitas Udayana

yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis selama

penulis menempuh ilmu di Fakultas Hukum Universitas Udayana.

10. Seluruh Staf Tata Usaha Fakultas Hukum Universitas Udayana yang telah

membantu dan memberikan kemudahan segala urusan administrasi selama

menempuh ilmu di Fakultas Hukum Universitas Udayana.

11. Ayah dan ibu, orang tua yang sangat penulis cintai dan banggakan yang

telah memberikan dorongan semangat, masukan dan financial dalam

penyusunan skripsi ini serta seluruh teman-teman di Fakultas Hukum

Universitas Udayana terima kasih atas dukungannya selama ini.

12. Keluarga Besar Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera, khusunya

Bapak I Made Kastana yang telah membantu penulis selama ini.

vi
13. Pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah

banyak memberikan bantuan dan dukungan selama penulis kuliah di

fakultas Hukum Universitas Udayana.

Untuk dapat melengkapi dan menyempurnaan skripsi ini, maka penulis

mengharapkan adanya kritik dan saran dari semua pihak. Akhir kata, penulis

berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang memerlukan dan

semoga kita semua selalu berbaahagia.

Denpasar, Juni 2017

Penulis

vii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN

Dengan ini penulis menyatakan bahwa Karya ilmiah/Penulisan

Hukum/Skripsi ini merupakan hasil karya asli penulis, tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk memperoleh gelar keserjanaan di suatu perguruan tinggi

manapun, dan sepanjang pengetahuan penulis juga tidak terdapat karya atau

pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh penulis lain, kecuali yang

secara tertulis diacu dalam naskah ini disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila Karya Ilmiah/Penulisan Hukum/Skripsi ini terbukti merupakan

duplikasi ataupun plagiasi dari hasil karya penulis lain dan/atau dengan sengaja

mengajukan karya atau pendapat yang merupakan hasil karya penulis lain, maka

penulis bersedia menerima sanksi akademik dan/atau sanksi hukum yang berlaku.

Demikian Surat Pernyataan ini saya buat sebagai pertanggungjawaban

ilmiah tanpa ada paksaan maupun tekanan dari pihak manapun juga.

Denpasar, 14 Juli 2017


Yang menyatakan,

(I Putu Hendra adhi Septawan)


1216051155

viii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA ........................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii

HALAMAN PENGESAHAN PANITIA PENGUJI SKRIPSI .......................

.......................................................................................................................... Erro

r! Bookmark not defined.

KATA PENGANTAR..................................................................................... v

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN............................................................ viii

DAFTAR ISI .................................................................................................... ix

ABSTRAK........................................................................................................ xii

ABSTRACT..................................................................................................... .. xiii

BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ............................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 11

1.3 Ruang Lingkup Masalah ............................................................ 12

1.4 Orisinalitas Penelitian ............................................................... 12

1.5 Tujuan Penelitian ....................................................................... 14

a. Tujuan Umum........................................................................ 14

b.Tujuan Khusus ....................................................................... 15

1.6 Manfaat Panelitian ..................................................................... 15

a. Manfaat Teoritis .................................................................... 15

b. Manfaat Praktis ..................................................................... 15

1.7 Landasan Teoritis ....................................................................... 17

ix
1.8 Metode Penelitian....................................................................... 19

a. Jenis Penelitian ..................................................................... 19

b. Jenis Pendekatan .................................................................. 19

c. Sifat Penelitian ..................................................................... 20

d. Data dan Sumber Data ......................................................... 20

e. Teknik Pengumpulan Data ................................................... 22

f. Teknik Pengolahan dan Analisis Data .................................. 22

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG JAMINAN, JAMINAN

FIDUSIA, DAN KOPERASI .......................................................... 23

2.1 Jaminan .............................................................................. ....... 23

2.1.1 Pengertian Jaminan .......................................................... 23

2.1.2 Jenis Jaminan ................................................................... 24

2.1.3 Fungsi Jaminan ................................................................ 25

2.2 Jaminan Fidusia ................................................................... ..... 27

2.2.1 Istilah dan Pengertian Jaminan Fidusia ........................... 27

2.2.2 Latar Belakang Timbulnya Lembaga Fidusia ................. 28

2.2.3 Dasar Hukum Jaminan Fidusia ....................................... 30

2.2.4 Objek dan subjek jaminan fidusia .................................... 30

2.2.5 Eksekusi Jaminan Fidusia ............................................... 31

2.3 Koperasi ..................................................................................... 32

2.3.1 Pengertian Koperasi ........................................................ 32

2.3.2 Sejarah Awal Koperasi di Indonesia ................................ 33

2.3.3 Jenis-jenis Koperasi ......................................................... 35

2.3.4 Sifat Koperasi .................................................................. 36

2.3.5 Nilai dan Prinsip- Prinsip Koperasi .................................. 36

x
BAB III IMPLEMENTASI PEMBEBANAN BENDA DENGAN

JAMINAN FIDUSIA DI KOPERASI SERBA USAHA

ARTHA ASIH SEJAHTERA.......................................................... 38

3.1 Dasar Hukum Pendirian Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera sebagai Pemberi Pinjaman ........................................ 38

3.2 Syarat dan Prosedur Pemberian Pinjaman kepada Nasabah

di Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera . ...................... 40

3.3 Pembebanan Benda Dengan Jaminan Fidusia Dalam

Pemberian Pinjaman di Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera ................................................................................... 50

3.4 Pelaksanaan eksekusi di Koperasi Serba Usaha Artha

Asih Sejahtera .......................................................................... 53

BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH DALAM

IMPLEMENTASI PEMBEBANAN FIDUSIA DI KOPERASI

SERBA UASAHA ARTHA ASIH SEJAHTERA ............................ 55

4.1 Kekuatan Akta Jaminan Fidusia Yang Tidak Didaftarkan ........ 55

4.2 Faktor-faktor yang Berpengaruh Tidak Didaftarkannya

Jaminan Fidusia Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera...................................................................................... 56

4.3 Upaya-Upaya yang Ditempuh Oleh Koperasi Serba Usaha

Artha Asih Sejahtera Apabila Debitur Wanprestasi ................... 58

BAB V PENUTUP.......................................................................................... 66

5.1 Kesimpulan .................................................................................. 66

5.2 Saran ............................................................................................ 66

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 68

DAFTAR RESPONDEN

xi
DAFTAR INFORMAN

ABSTRAK

Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992


tentang Perkoperasian, Koperasi adalah :“Badan usaha yang beranggotakan orang
seorang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya
berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang
berdasarkan atas asas kekeluargaan, kegiatan usaha koperasi serba usaha dan unit
serba usaha adalah menghimpun simpanan koperasi berjangka dan tabungan
koperasi dari anggota dan calon anggotanya, koperasi lain, dan atau anggotanya
serta memberikan pinjaman kepada anggota, calon anggotanya, koperasi lain dan
atau anggotanya. Sehubungan dengan pemberian pinjaman tersebut koperasi wajib
menerima jaminan untuk meminimalkan resiko terjadi pinjaman bermasalah yang
dilakukan oleh debitor. Maka permasalahan yang menjadi pembahasan dalam
penelitian ini adalah Bagaimanakah implementasi pembebanan jaminan fidusia
yang dilakukan oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera dan Faktor-
faktor apakah yang menyebabkan jaminan tidak didaftarkan dengan jaminan
fidusia oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera.
Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini
yaitu dengan metode penelitian hukum empiris. Penelitian hukum empiris adalah
penelitian hukum mengenai implementasi ketentuan hukum secara in action pada
setiap peristiwa hukum yang terjadi di masyarakat. Penelitian ini menggunakan
data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang bersumber dari
penelitian lapangan yaitu suatu data yang diperoleh langsung dari sumber utama
di lapangan yaitu baik dari responden maupun informan sedangkan data sekunder
adalah data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan.
Hasil dari penelitian ini adalah implementasi pembebanan yang dilakukan
oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera pada umumnya tidak didaftarkan
dengan jaminan fidusia tetapi hanya dengan akta dibawah tangan serta penyerahan
dokumen kepemilikan kendaraan bermotor yang akan disimpan dan akan
dikembalikan saat pinjman dilunasi. Faktor-faktor yang berpengaruh dengan tidak
didaftarkannya jaminan fidusia oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera
yaitu adanya faktor ekonomi seperti faktor biaya,dan faktor kekeluargaan.

Kata kunci : Jaminan, Jaminan Fidusia, Koperasi

xii
ABSTRACT

Under Article 1, paragraph (1) of Law No. 25 of 1992 concerning


Cooperatives, Cooperatives is: "The business entity consisting of a person or
legal entity with the bases cooperative activities based on the principle of
cooperation as well as people's economic movement based on the principle of
family" .businesses credit unions and savings and loan is to collect deposits of
cooperatives time and savings cooperative of members and prospective members,
other cooperatives, and or members and to provide loans to members, prospective
members, and or other cooperative members. In connection with the provision of
such loans cooperatives shall receive assurances to minimize the risk of bad loans
made by the debtor. Then issues under discussion in this research is the
imposition of fiduciary How is the implementation done by the Credit Unions
Artha Asih Sejahtera What factors are causing collateral is not registered with
fiduciary guarantee by the Credit Unions Artha Asih Sejahtera.
The method of research used in writing this essay is by the method of
empirical legal research. Empirical legal research is legal research on the
implementation of the provisions of the law in action on any legal events that
occur in the community. This study uses primary data and secondary data.
Primary data is data from field research is a data obtained directly from primary
sources on the ground that both the respondent and informant while secondary
data is data obtained through library research.
Results from this study is the implementation of load carried by the Credit
Unions Artha Asih Sejahtera generally not registered with fiduciary but only by
deed under the hand as well as the delivery vehicle ownership documents to be
stored and will be returned when and credit repaid. Factors that influence with
the registration of fiduciary by the Credit Unions Artha Asih Sejahtera namely the
economic factors such as cost factors and familial factors.

Keywords: Security, Fiduciary, Cooperative

xiii
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Salah satu upaya dalam rangka pemberdayaan ekonomi masyarakat

diperlukan suatu badan perekonomian seperti koperasi. Pemerintah mununjuk

koperasi sebagai salah satu organisasi ekonomi rakyat yang perlu dikembangkan

peran sertanya dalam membantu masyarakat ekonomi lemah agar dapat

meningkatkan taraf hidupnya.

Oleh karena itu pemerintah memberikan landasan hukum yang dijelaskan

dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No 17 Tahun 2012 Tentang Koperasi

yang menyatakan bahwa Koperasi adalah badan hukum yang didirikan oleh orang

perseorangan atau badan hukum koperasi, dengan pemisahan kekayaan para

anggotanya sebagai modal untuk menjalankan usaha, yang memenuhi aspirasi dan

kebutuhan bersama di bidang ekonomi, sosial, dan budaya sesuai dengan nilai dan

prinsip koperasi.

Dalam upaya mendukung keseimbangan dan peningkatan pembangunan,

lembaga keuangan bukan bank seperti koperasi ini telah menunjukan

perkembangan yang sangat pesat seiring dengan kemajuan pembangunan di

Indonesia dan perkembangan ekonomi internasional serta sejalan dengan

peningkatan tuntutan kebutuhan masyarakat akan jasa yang tangguh dan sehat.1

1
‘C.S.T. Kansil, 1987, Hukum Perusahaan Indonesia, PT. Pradnya Paramita, Jakarta,
h.75.

1
2

Begitu besar peranannya dan harapan yang diemban dan dibebankan

kepada koperasi, maka wajar bila pembangunan perkoperasian diarahkan untuk

mengembangkan koperasi menjadi makin maju, makin mandiri, dan makin

berakar dalam masyarakat serta menjadi badan usaha yang sehat dan mampu

berperan disemua bidang usaha guna mewujudkan ekonomi kerakyatan

berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Salah satu keistimewaan

koperasi antara lain kredit uang dalam koperasi dilakukan dengan jalan bersatu

dan bekerja sama untuk dapat memperoleh kredit yang dibutuhkan dan memberi

manfaat dengan syarat-syarat yang mudah serta bunga yang rendah atas dasar

kepercayaan para pihak yang bekerja sama dalam meringankan beban hidupnya.

Menurut definisi yang diberikan oleh Arifin Chicago, yang menyatakan

bahwa koperasi adalah ‘suatu perkumpulan yang beranggotakan orang-orang atau

badan-badan yang memberikan kebebasan masuk dan keluar menjadi anggota,

dengan kerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha, untuk mempertinggi

kesejahteraan anggotanya’.2 Sedangkan secara umum koperasi dipahami sebagai

perkumpulan orang yang secara sukarela mempersatukan diri untuk

memperjuangkan peningkatan kesejahteraan ekonomi mereka pada suatu

perusahaan yang demokratis.3

Menurut Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang

Perkoperasian : “Koperasi Indonesia adalah badan usaha yang beranggotakan

orang-orang, seseorang, atau badan hukum koperasi dengan melandaskan

2
Asyhadie Zaeni, 2005, Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia, PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta, H.60.
3
Budi Untung, 2005, Hukum Koperasi Dan Peran Notaris Indonesia,ANDI,
Yogyakarta, h. 3.
3

kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi, sekaligus sebagai gerakan ekonomi

rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan.” Berdasar ketentuan ini, koperasi

sebagai badan usaha dapat bergerak di berbagai bidang.

Gambaran umum semua koperasi adalah struktur organisasi yang terdiri

dari sekelompok orang (kelompok koperasi) dan suatu badan usaha bersama

(koperasi) yang menghubungkan orang yang satu dengan orang yang lain dengan

hubungan pelayanan khusus. Ada bermacam pandangan mengenai motif untuk

bekerja sama dan sifat hubungan antara kelompok koperasi dan badan usaha

koperasi.4 Anggota koperasi merupakan pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi

tersebut, terdapat pula usaha lain yang dapat meningkatkan usaha dan

kesejahteraan anggota dengan kegiatan usaha lain termasuk dalam kegiatan

perbankan sehingga koperasi juga mempunyai peran di sektor kehidupan

ekonomi. Dalam hal kegiatan perbankan yang berbentuk hukum, koperasi tujuan

utamanya tetap mensejahterakan anggotanya sekaligus mensejahterakan

masyarakat secara keseluruhan.5

Menurut kitab Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 mengatur tentang

Jaminan Fidusia, tepatnya dalam Pasal 1 UU Fidusia yang dimaksud dengan

Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan sesuatu benda atas dasar kepercayaan

dengan ketentuan bahwa benda yang hak pemilikannya yang diadakan tersebut

tetap dalam penguasaan pemilik benda itu.

4
Andjar Pachta,W, dkk,. 2005, Hukum Koperasi Indonesia Pemahaman, Regulasi,
Pendirian, dan Modal Usaha, Kencana, Jakarta, h. 14.
5
Muhamad Djumhana, 2006, Hukum Perbankan di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, h. 188.
4

Dalam UU No. 42 Tahun 1999 merupakan salah satu peraturan yang

berkaitan dengan jaminan. Dimana Undang-Undang tersebut telah mengatur

mengenai jaminan fidusia, dimaksudkan untuk menampung kebutuhan

masyarakat mengenai pengaturan jaminan fidusia sebagai salah satu sarana untuk

membantu kegiatan usaha dan untuk memberikan kepastian hukum kepada para

pihak yang berkepentingan. berdasarkan Pasal 1 angak (2) UU No. 42 Tahun 1999

disebutkan :

“Jaminan Fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang

berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak khususnya

bangunan yang tidak dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang tetap

berada dalam penguasaan Pemberi Fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang

tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada Penerima Fidusia

terhadap Kreditor lainnya.”

Pada dasarnya jaminan fidusia dituangkan dalam akta notaris. Akta

pembebanan fidusia ini telah dibakukan oleh pemerintah, dengan tujuan untuk

melindungi nasabah yang ekonominya lemah. Menurut H. Salim HS, “di dalam

akta pembebanan ini tidak atur penyelesaian sengketa dengan cara ADR, tetapi

yang diatur dalam akta ini hanya penyelesaian sengketa dengan cara litigasi, yaitu

perkara yang timbul diselesaikan oleh pengadilan6. Penyelesaian sengketa dengan

cara mengajukan gugatan kepengadilan bertujuan untuk mendapat putusan hukum

yang tetap. Namun gugatan kepengadilan untuk mendapatkan keputusan tetap

6
H. Salim HS, 2014,perkembangan hukum jaminan di indonesia,PT Raja
Grafindo,jakarta hal.79
5

memerulkan waktu dan tenaga yang lama serta biaya yang mahal. untuk

menghindari waktu yang berlarut-larut dalam penyelesaian kredit macet maka

undang-undang memberikan pengecualian bahwa kreditur dapat melakukan

eksekusi atau penjualan jaminan hutang melalui pelelangan umum berdasarkan

Sertifikat Jaminan Fidusia dengan irah-irah “DEMI KEADILAN

BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” yang cukup

memberikan kepastian hukum. Hal ini dapat memberikan kekuatan eksekutorial

kepada penerima fidusia untuk dapat langsung melaksanakan eksekusi secara

langsung tanpa melalui pengadilan. Dengan cara seperti ini, atau titel seperti ini

maka eksekusi jaminan fidusia dapat dilaksanakan dengan cepat, sederhana,

efisien, dan mengandung kepastian hukum.

Sertifikat Jaminan Fidusia diperoleh melalui pendaftaran benda yang

dibebani dengan jaminan fidusia, dimana pendaftaran tersebut dilakukan pada

Kantor Pendaftaran Fidusia. Berdasarkan Penjelasan Peraturan Pemerintah Nomor

86 Tahun 2000 tentang Tata Cara Pendaftaran Jaminan Fidusia dan Biaya

Pembuatan Akta Jaminan Fidusia, adapun tujuan pendaftaran jaminan fidusia

adalah :

1. Untuk memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang

berkepentingan;

2. Memberikan hak yang didahulukan kepada penerima fidusia terhadap

kreditur yang lain. Ini disebabkan jaminan fidusia memberikan hak kepada

penerima fidusia untuk tetap menguasai bendannya yang menjadi obyek jaminan

fidusia berdasarkan kepercayaan.


6

Sehingga dengan tidak didaftarkannya jaminan fidusia tersebut maka akan

menimbulkan ketidakpastian hukum, tidak dilaksanakannya kewajiban

pendaftaran fidusia tersebut menyebabkan jaminan fidusia tidak memenuhi unsure

publisitas, sehingga sulit untuk melakukan pengontrolan. Hal tersebut dapat

menimbulkan hal-hal yang tidak sehat dalam praktek perbankan.

Menurut UU No. 42 Tahun 1999, apabila debitur atau pemberi fidusia

cidera janji, eksekusi terhadap benda yang menjadi obyek jaminan fidusia dapat

dilakukan dengan cara :

1. Pelaksanaan titel eksekutorial sebagaimana dimaksud dalam pasal 15

ayat (2) oleh penerima fidusia;

2. Penjualan benda yang menjadi obyek jaminan fidusia atas kekuasaan

Penerima Fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan

hutangnya dari hasil penjualan;

3. Penjualan dibawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan

pemberi dan penerima fidusia jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga

tinggi yang menguntungkan para pihak.

Untuk melakukan eksekusi terhadap obyek jaminan fidusia, menurut Pasal

30 UU No. 42 Tahun 1999 maka, “pemberi fidusia wajib menyerahkan benda

yang menjadi obyek jaminan fidusia dalam rangka pelaksanaan eksekusi jaminan

fidusia”.

Apabila benda yang menjadi obyek jaminan fidusia terdiri atas benda

perdagangan atau efek yang dapat di jual di pasar atau bursa, maka penjualannya
7

dapat di lakukan di tempat-tempat tersebut sesuai dengan peraturan perundang-

undangan yang berlaku.

Koperasi dapat dibedakan berdasarkan jenis kegiatan koperasi, jenis

anggota, profesi anggota, fungsi serta tujuan, dan kebutuhan sendiri. Tetapi pada

dasarnya koperasi dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu koperasi yang

berdasarkan kegiatan usaha serta jenis koperasi beradasarkan anggotanya.7

Pada dasarnya koperasi dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :

a. Koperasi konsumsi (menyediakan barang konsumsi anggota).

b. Koperasi produksi (menghasilkan barang bersama).

c. Koperasi serba usaha (menerima tabungan dan memberi pinjaman).

d. Koperasi serba usaha (campuran).

Jenis koperasi berdasarkan tingkatannya dibedakan menjadi 2 yaitu :

a. Koperasi primer (anggotanya masih perorangan).

b. Koperasi sekunder (gabungan koperasi atau induk koperasi).

Koperasi sebagai suatu badan usaha yang berbadan hukum dapat

melaksanakan kegiatan usaha serba usaha sebagai salah satu usaha atau satu-

satunya kegiatan usaha koperasi. Dalam pasal 44 UU Perkoperasian khususnya

koperasi serba usaha dalam kegiatan usahanya adalah menerima tabungan atau

menghimpun dana serta menyalurkannya kembali, dana tersebut berasal dari dan

untuk anggota koperasi lainnya. Oleh karena itu pinjaman wajib dikelola dengan

prinsip kehati-hatian (Prudential).

7
Andjar Pachta,W, dkk, op.cit, h. 25.
8

Pengembalian pinjaman secara tepat waktu dan jumlah yang tepat akan

mempengaruhi kelangsungan hidup dan lembaga koperasi tersebut, sebab sumber

dana yang dikeluarkan adalah dana yang berasal dari anggota koperasi atau

masyarakat yang dapat diminta atau diambil kembali dan tidak ada alasan bagi

koperasi untuk tidak memberikannya. Selain itu dengan adanya bunga pinjaman,

koperasi juga dapat membutuhkan dana yang bersumber dari bunga pinjaman

untuk menunjang kegiatan operasional koperasi.

Kegiatan pinjam meminjam uang yang terjadi di masyarakat itu ada

melalui pemberian pinjaman. Pemberian suatu pinjaman pada dasarnya dapat

diberikan kepada semua orang apabila orang tersebut mempunyai kemampuan

untuk membayar. Melalui perjanjian utang piutang antara kreditur dan debitur

yang disebut dengan perjanjian. Apabila perjanjian pinjaman disepakati, maka

lahirlah kewajiban pada kreditur untuk menyerahkan uang yang diperjanjikan oleh

kreditur, dengan hak menerima uang tersebut kembali dari debitur tepat pada

waktunya, disertai bunga yang telah disepakati bersama.8 Selama proses tersebut

tidak mengalami masalah, dalam arti kreditur dan debitur melakasanakan hak dan

kewajibannya sesuai dengan yang diperjanjikan, maka persoalan tidak akan

muncul.

Pemberian pinjaman oleh Koperasi Serba usaha, sebagaimana dilakukan

pada pemberian kredit bank, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam

rangka melindungi dan mengamankan dana masyarakat yang dikelola Koperasi

Serba usaha untuk disalurkan dalam bentuk pinjaman, yaitu

8
Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, 2000, Jaminan Fidusia, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta, h. 1.
9

1. Dilakukan menggunakan prinsip kehati-hatian;

2. Memiliki keyakinan atas kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya

sesuai dengan yang diperjanjikan;

3. Menempuh cara-cara yang tidak merugikan lembaga dan masyarakat yang

mempercayakan dananya pada Koperasi Serba usaha;

4. Memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat.

Guna mendapatkan keyakinan atas kesanggupan debitor, maka sebelum

memberikan pinjaman, harus dilakukan penilaian yang seksama terhadap watak

(character), kemampuan (capacity to create sources of funding), modal (capital),

agunan (collateral), wewenang untuk meminjam (competence to borrow) dan

prospek usaha debitor tersebut (condition of economy and sector of business).9

koperasi dapat memberikan pinjaman kepada peminjam (debitur) dengan

disertakan dengan jaminan. Jaminan utang dapat berupa barang atau benda

sehingga merupakan jaminan kebendaan yang memberikan hak-hak kebendaan

kepada pemegang jaminan atau janji penanggungan utang yang merupakan

jaminan perorangan.10 Fungsi dari jaminan ini untuk memastikan pengembalian

uangnya serta menghindari jika debitur lalai mengembalikan uang pinjaman pada

saat yang ditentukan.

Terkait dengan permohonan pinjaman oleh anggota koperasi serba usaha

yang disertakan dengan jaminan, ada baiknya melihat beberapa syarat jaminan

utang menjadi jaminan utang yang baik, yaitu:

9
Kasmir, 2002, Bank & Lembaga Keuangan Lainnya, Edisi Keenam, PT. RajaGrafindo
Persada, Jakarta, h. 104-105.
10
M. bahsan, 2007, Hukum Jaminan Dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, PT.
Raja Grafindo Persada, Jakarta, h. 2.
10

1. Mudah dan cepat dalam proses pengikatan jaminan.

2. Jaminan utang jangan menempatkan kreditornya untuk bersengketa.

3. Gampang dinilai harga barang jaminan tersebut.

4. Nilai jaminan tersebut dapat meningkat terus, atau setidak-tidaknya stabil.

5. Jaminan barang tidak membebankan kewajiban-kewajiban tertentu bagi

kreditor. Misalnya kewajiban untuk merawat dan memperbaiki barang, bayar

pajak, dan sebagainya.

6. Gampang dieksekusi ketika pinjaman macet, jelas model pengeksekusian

jaminan tersebut, cepat dan murah biaya pelaksanaan eksekusi tersebut, dan

tanpa perlu bantuan dari debitur. Hal ini berarti bahwa suatu pinjaman utang

haruslah selalu berada alam keadaan “mendekati tunai” (near to cash).11

Koperasi tidak seperti bank yang dapat menyediakan dana besar untuk

masyarakat. Pada dasarnya koperasi menerapkan pembebanan benda bergerak

pada jaminan kebendaan sebagai jaminan kredit. Berlandasan pada hukum positif

yang absah di Indonesia, pembebanan benda bergerak sebagai jaminan kredit

menggunakan Lembaga Jaminan Gadai yang diatur dalam Pasal 1150 sampai

dengan Pasal 1160 KUHPerdata, dan Lembaga jaminan Fidusia sebagaimana

diatur dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.

Koperasi Serba usaha Artha Asih Sejahtera merupakan salah satu koperasi

yang berkedudukan di Desa Guwang di Gianyar. Unit serba usaha yang menerima

simpanan dalam bentuk simpanan pokok, simpanan wajib dan simpanan

berjangka sebagai fungsi utama

11
Munir Fuady, 2014, Konsep Hukum Perdata, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, h. 63.
11

Koperasi Serba usaha Atha Asih Sejahtera ketika pemberian pinjaman

pada khususnya kepada anggota membebankan benda sebagai jaminan, yang

umumnya berupa benda bergerak berdasarkan kepercayaan. Benda jaminan

tersebut tetap dalam penguasaan debiturnya karena dapat dipergunakan untuk

beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari atas dasar kepercayaan dari Koperasi

kepada anggotanya.

Dalam implementasi pembebanan benda jaminan tercatat sebagian besar

tidak didaftarkan sebagai yang telah ditentukan dalam Pasal 11 Undang-Undang

Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, hal itu disebabkan karna adanya

biaya tambahan yang merugikan selaku penerima pinjaman ( debitur ), maka dari

itu terdapat potensi tidak didaftarkannya jaminan fidusia oleh koperasi serba

usaha artha asih sejahtera . Oleh karena itu sangat menarik untuk diteliti pada

suatu karya ilmiah yang berjudul: “Implementasi Pembebanan Jaminan

Dengan Jaminan Fidusia Pada Koperasi Serba usaha Artha Asih Sejahtera

di Gianyar ”.

1.2 Rumusan Masalah

Mengacu pada latar belakang diatas, maka dapat ditarik beberapa

permasalahan sebagai berikut:

1. Bagaimanakah Implementasi Pembebanan Benda dengan Jaminan Fidusia di

Koperasi Serba usaha Artha Asih Sejahtera?

2. Faktor-faktor apakah yang berpengaruh dalam Implementasi Pembebanan

Jaminan Fidusia di Koperasi Serba usaha Artha Asih Sejahtera?


12

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Agar pembahasan tidak melebar dari rumusan masalah yang ditetapkan

dan untuk memperoleh hasil yang lebih mendalam pembahasan akan dibatasi.

Maka dalam penulisan ini akan ditekankan pada pelaksanaan pembebanan benda

dengan jaminan fidusia dan faktor-faktor yang berpengaruh dalam implementasi

pembebanan jaminan fidusia di Koperasi Serba Usaha Artha asih sejahtera.

1.4 Orisinalitas Penelitian

Dengan ini penulis menyatakan bahwa penulisan skripsi ini merupakan

hasil karya asli dari penulis, merupakan suatu buah pemikiran penulis yang

dikembangkan sendiri oleh penulis. Untuk sebagai bukti mendukung pelaksanaan

semangat anti plagiat di dalam bidang pendidikan di Indonesia, maka penulis

tunjukkan orisinalitas dari penelitian yang tengan di buat dengan menampilkan

beberapa judul penelitian terdahulu sebagai pembanding:


13

Tabel 1 :

No Judul Nama Penulis Rumusan Masalah

1 Skripsi: Penyelesaian Agusra Rahmat. 1. Apa sajakah faktor-faktor

Kredit Macet Di (Fakultas Hukum yang menyebabkan kredit

Koperasi Bank Reguler Mandiri macet pada Koperasi

Perkreditan Rakyat Universitas Andalas Bank Prekrditan Rakyat

(KBPR) VII Koto Padang 2011). (KBPR) VII Koto

Pariaman Pariaman ?

2. Bagaimana penyelesaian

masalah kredit macet dan

hambatan-hambatan yang

ditemui dalam

penyelesaian kredit macet

di Koperasi Bank

Perkreditan Rakyat

(KBPR) VII Koto

Pariaman ?

2 Skripsi: Penyelesaian Made Gede Dwidya 1. Apa dasar hukum

Kedit Macet Atas Kredit Santhika. perjanjian krdit tanpa

Tanpa Agunan Yang (Program Ekstensi agunan atas kredit yang

Diberikan Kepada Fakultas Hukum diberikan kepada usha

Usaha Kecil Dan Universitas Udayana kecil dan menengah?


14

Menengah. 2010). 2. Bagaimana penyelesaian

kredit macet tanpa agunan

atas kredit yang diberikan

kepada usaha kecil dan

menengah?

1.5 Tujuan Penelitian

Sebagai tahapan terakhir bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan

studinya ditingkat perguruan tinggi khususnya Fakultas Hukum Universitas

Udayana, diperlukan adanya suatu karya tulis yang bersifat ilmiah dalam suatu

bidang studi tertentu, baik yang bersifat penelitian kepustakaan maupun penelitian

lapangan yang merupakan karya nyata atas kemampuan akademis selama

mengikuti pendidikan. Adapun yang menjadi tujuan dalam penulisan skripsi ini

adalah

a. Tujuan umum

Tujuan umum dalam penelitian dalam penyusunan skripsi ini adalah

merupakan tujuan yang bersifat akademis, yaitu :

1. Untuk mengetahui implementasi pembebanan jaminan dengan jaminan fidusia

di Koperasi Serba usaha Artha Asih Sejahtera.

2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dalam implementasi

pembebanan di Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera.


15

b. Tujuan khusus

Adapun yang menjadi tujuan khusus penyusunan skripsi ini adalah untuk

memahami permasalahan yang diangkat dan diperoleh dari suatu penelitian.

Adapun tujuan khusus tersebut meliputi:

1. Untuk memahami implementasi pembebanan benda jaminan dengan jaminan

fidusia di Koperasi Serba usaha Artha Asih Sejahtera.

2. Untuk memahami faktor-faktor yang berpengaruh dalam implementasi

pembebanan jaminan fidusia di koperasi serba usaha Artha Asih Sejahtera.

1.6 Manfaat Penelitian

a. Manfaat teoritis

1. Mengembangkan wawasan mahasiswa dalam penerapan ilmu hukum

serta meningkatkan pengetahuan di bidang pelaksanaan pembebanan

jaminan dengan jaminan fidusia dalam hal ini khususnya dalam

koperasi di Indonesia.

2. Penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi

pengembangan hukum khususnya yang berkaitan dengan faktor-faktor

yang berpengaruh dalam implementasi pembebanan fidusia di

koperasi di Indonesia.

b. Manfaat praktis

1. Dapat menemukan jawaban terhadap permasalahan yang terjadi, yakni

mengetahui pelaksanaan pembebanan benda dengan jaminan fidusia

oleh koperasi serba usaha.


16

2. Penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran

bagi pelaksana-pelaksana hukum yang berhubungan dengan faktor-

faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan pembebanan jaminan

fidusia pada koperasi serba usaha.

1.7 Landasan Teoritis

Di dalam pembahasan karya ilmiah tugas akhir sebelumnya perlu kiranya

diuraikan beberapa konsep yang menjadi landasan teoritis yang berkaitan dengan

pokok permasalahan yang akan di bahas. Adanya landasan teoritis sangat

diperlukan dalam suatu penulisan karya ilmiah yang bertujuan untuk membantu

penelitian dalam menentukan tujuan dan arah penelitian, memilih konsep yang

tepat dalam kerangka pembahasan pokok permasalahan yang dikaji.

Mengenai pengertian Koperasi Serba Usaha merupakan koperasi yang

kegiatan usahanya di berbagai segi ekonomi, seperti bidang produksi, konsumsi,

perkreditan, dan jasa yang beranggotakan orang – orang atau badan hukum

koperasi yang melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus

sebagai gerakan ekonomi rakyat yag berdasarkan asas kekeluargaan..

Menurut Pasal 1 angka 11 Undang-Undang Republik Nomor 10 Tahun

1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indoesia Nomor 7

Tahun 1992 Tentang Perbankan, menyebutkan bahwa: “ Kredit adalah penyediaan

uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan

atau kesepakatan pinjam-meminjam antar bank dengan pihak lain yang

mewajibkan pihak meminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu

tertentu dengan pemberian bunga”. Suatu perjanjian kredit yang didalamnya


17

terdapat kesepakatan antara dua subjek hukum yang saling mengikatkan dirinya

pada perjanjian tersebut. Perikatan diantara dua subjek hukum dapat lahir dari

undang-undang dan perjanjian. Perikatan merupakan suatu hubungan hukum

dalam lapangan harta kekayaan antara dua orang atau lebih dimana pihak yang

satu berhak atas sesuatu dan pihak yang lain berkewajiban atas sesuatu.

Hubungan hukum antara subjek hukum baru dapat dikatakan, apabila telah

dipenuhi syarat berikut:

1. Adanya dasar hukum, yaitu peraturan-peraturan hukum yang mengatur

hubungan hukum itu; dan

2. Timbulnya peristiwa hukum.12

Jika dikaitkan dengan penelitian ini, maka hubungan hukum tersebut

timbul dari perjanjian. Adapun Teori perjanjian (overeenkomst theorie) yang

dikemukakan oleh Thol dalam bukunya ”Das Handsrech” mengatakan; yang

menjadi dasar hukum mengikatnya adalah suatu perjanjian, yang merupakan

perbuatan hukum dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya dengan

satu orang atau lebih.13 Dalam Pasal 1313 KUHPerdata diatur mengenai

perjanjian,yang menyebutkan bahwa: “Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan

dengan mana satu orang atau lebih megikatkan dirinya terhadap satu orang lain

atau lebih”. Adapun syarat sahnya suatu perjanjian, terdapatdalam Pasal 1320

KUHPerdata, yaitu:

Untuk sahnya suatu perjanjian diperlukan syarat-syarat:

1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;

12
R. Soeroso, 2000, Penghantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, h. 269.
13
Ahmadi Miru, Sakka Pat, 2008, Hukum Perikatan, Penjelasan Makna pasal 1233
sampai 1456 BW, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, h. 78.
18

2. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;

3. Suatu hal tertentu;

4. Suatu sebab yang halal.

Pemberian pinjaman modal disyaratkan adanya agunan atau jaminan

kredit. Definisi dari Agunan menurut pasal 1 angka 23 Undang-Undang Nomor 10

Tahun 1998 tentang Perbankan adalah jaminan tambahan yang diserahkan

nasabah debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau

pembiayaan berdasarkan prinsip syariah. Adapun perbedaan mengenai jaminan

dan agunan yaitu pengertian “jaminan” lebih luas daripada pengertian “agunan”,

dimana agunan berkaitan dengan “barang”, sementara “jaminan” tidak hanya

berkaitan dengan barang, tetapi berkaitan pula dengan character, capacity,

capital, dan condition of economy dari nasabah kreditur yang bersangkutan.14

Akan tetapi dalam hal prosedur pemberian pinjaman tersebut koperasi

tidak memenuhi syarat-syarat yang berkaitan dengan pelaksanaan pengikatan

jaminan. Adanya beberapa faktor-faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan

pembebanan jaminan fidusia dapat mempengaruhi koperasi tidak menjalankan

prosedur pelaksanaan pengikatan atau pembebanan benda jaminan dengan

jaminan fidusia sesuai dengan peraturan yaitu Undang-Undang Nomor 42 Tahun

1999 tentang Jaminan Fidusia pada koperasi.

14
Rachmadi Usman, 2009, Hukum Jaminan Keperdataan, Sinar Grafika, Jakarta, h. 67.
19

1.8 Metode Penelitian

Adapun metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah

sebagai berikut :

a. Jenis penelitian

Penelitian yang dilakukan sehubungan dengan penulisan skripsi ini

adalah termasuk jenis penelitian hukum yang bersifat penelitian hukum

empiris. Penelitian hukum empiris adalah penelitian hukum mengenai

pemberlakuan atau implementasi ketentuan hukum (kodifikasi, undang-undang

atau kontrak) secara in action pada setiap peristiwa hukum tertentu yang terjadi

di dalam masyarkat. Fokus penelitian hukum empiris adalah pada penerapan

atau implementasi ketentuan normatif pada peristiwa hukum tertentu dan

hasilnya.15

b. Jenis pendekatan

Penelitian ini merupakan penelitian empiris dengan menggunakan

pendekatan :

1) Pendekatan fakta

Pendekatan fakta dengan melihat dan meneliti fakta-fakta yang ada

di lapangan mengenai kendala-kendala yang dihadapi koperasi serba usaha

dalam melaksanakan pembebanan jaminan dengan jaminan fidusia dan

faktor-faktor yang berpengaruh dalam pelaksanaan pembebanan jaminan

fidusia pada koperasi serba usaha Artha Asih Sejahtera di Gianyar.

15
Abdulkadir Muhammad, 2004, Hukum Dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, h. 134.
20

2) Pendekatan analisis konsep hukum(analitical& conseptual approach)

Pendekatan konseptual beranjak dari pandangan-pandangan dan

doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum. Dengan

mempelajari pandangan-pandangan dan doktrim-doktrin di dalam ilmu

hukum, peneliti akan menemukan ide-ide yang melahirkan pengertian

hukum, konsep-konsep hukum, dan asas-asas hukum yang relevan dengan

isu yang dihadapi.16 Dalam hal ini isu yang dihadapi yakni yang berkaitan

dengan kendala-kendala yang dihadapi Koperasi Serba usaha Artha Asih

Sejahtera dalam upaya pelaksanaan pembebanan jaminan dengan jaminan

fidusia.

c. Sifat penelitian

Sifat penelitian dalam penulisan skripsi ini adalah deskriktif. Penelitian

yang sifatnya deskriktif merupakan penelitian secara umum, termasuk di

dalamnya penelitian ilmu hukum, yang mempunyai tujuan untuk

menggambarkan sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala, atau untuk

menentukan penyebab suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat.

Dengan menggunakan sifat penelitian deskriktif ini, diharapkan mampu

mengetahui implementasi berlakunya Undang-Undang Jaminan Fidusia

sebagai dasar hukum pembebanan benda sebagai jaminan.

d. Data dan sumber data

Sumber data penelitian ini berasal dari penelitian secara langsung ke

masyarakat untuk mendapatkan data yang konkret. Disini dilakukan penelitian

16
Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group,
Jakarta, h.95.
21

secara langsung ke Koperasi Serba usaha Artha Asih Sejahtera, yang

mengeluarkan pinjaman disini terdapat dua jenis data :

a) Data primer yaitu data yang diperoleh melalui penelitian di lapangan yang

berasal dari informan, yaitu para pengurus dan anggota Koperasi Artha Asih

Sejahtera serta responden.

b) Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan, yang

meliputi :

1) Bahan hukum primer berupa peraturan perundang-undangan yaitu :

a) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.

b) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian.

c) Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 tentang perubahan atas

Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan.

d) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.

e) Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1995 tentang Pelaksanaan

Kegiatan Usaha Serba usaha oleh Koperasi.

2) Bahan hukum sekunder berupa : buku-buku hukum, jurnal-jurnal hukum

dan hasil karya ilmiah para sarjana yang berkaitan dengan penyelesaian

pinjaman bermasalah.

3) Bahan hukum tersier berupa kamus hukum Indonesia, kamus bahasa

Indonesia, kamus bahasa Inggris, kamus bahasa Belanda, dan

encyclopedia.
22

e. Teknik pengumpulan data

Data yang dipergunakan dalam penelitian ini yaitu data primer dan data

sekunder, yang teknik pengumpulannya berbeda satu dengan yang lainnya.

Adapun teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini

adalah sebagai berikut :

1. Untuk data primer, teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara

langsung dengan para informan serta terdapat beberapa responden. Selain

itu data dapat pula dikumpulkan dengan observasi langsung dimana

peneliti mengadakan pengamatan secara langsung yaitu di Koperasi Artha

Asih Sejahtera.

2. Untuk data sekunder, teknik pengumpulannya dilakukan dengan studi

dokumen, dengan melakukan pengumpulan dokumen yang relevan dengan

permasalahan penelitian, kemudian dibaca serta dianalisis, dan selanjutnya

diklasifikasikan secara sistematis.

f. Teknik analisis data

Dari data yang berhasil dikumpulkan, baik data primer maupun data

sekunder kemudian dianalisa dengan teknik analisa kualitatif. Kualitatif

merupakan menggambarkan data hasil penelitian yang terdapat dilapangan

dengan cara menguraikan tanpa menganalisa angka, serta pengolahan data

disajikan secara deskriktif analisis yaitu memaparkan secara lengkap dan

mendetail aspek-aspek tertentu yang berkaitan atau yang bersangkut paut

dengan masalah, diberikan uraian-uraian dan disajikan secara berurutan sesuai

dengan data yang pada akhirnya menjadi skripsi.


23

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG JAMINAN, JAMINAN FIDUSIA

DAN KOPERASI

2.1 Jaminan

2.1.1 Pengertian jaminan

Istilah jaminan merupakan terjemahan dari bahasa Belanda, yaitu

zakerheid atau cautie. Zakerheid atau cautie mencakup secara umum cara-cara

kreditur menjamin dipenuhinya tagihannya, disamping pertanggung jawaban

umum debitur terhadap barang-barangnya.17

Hartono Hadisoeprapto berpendapat ‘bahwa jaminan adalah sesuatu yang

diberikan kepada kreditur untuk menimbulkan keyakinan bahwa debitur akan

memenuhi kewajiban yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu

perikatan’.18 Didalam Seminar Badan Pembinaan Hukum Nasional yang

diselenggarakan di Yogyakarta, dari tanggal 20 s.d 30 Juli 1977 disimpulkan

pengertian jaminan. Jaminan adalah “Menjamin dipenuhinya kewajiban yang

dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan hukum. Oleh karena

itu, hukum jaminan erat sekali dengan hukum benda”.19

Berdasarkan pemaparan definisi jaminan tersebut maka jaminan

difokuskan pada pemenuhan kewajiban kepada kreditur, wujud jaminan dapat

dinilai dengan uang (jaminan materiil), dan timbulnya jaminan karena adanya

perikatan antara kreditur dengan debitur.


17
H. Salim HS, 2014, op.cit, hal.21
18
H. Salim HS, 2014, op.cit, hal.22
19
H. Salim HS, loc.cit

23
24

2.1.2 Jenis jaminan

Jaminan dapat digolongkan menurut hukum yang berlaku di Indonesia dan

yang berlaku di Luar Negeri. Dalam Pasal 24 UU Perbankan ditentukan bahwa

“Bank tidak akan memberikan kredit tanpa adanya jaminan.”

Jaminan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :

1. Jaminan materiil (jaminan kebendaan);

2. Jaminan imateriil (jaminan perorangan).

Sri Soedewi Masjchoen Sofwan mengemukakan pengertian jaminan

materiil (kebendaan) dan jaminan perorangan (imateriil). Jaminan materiil adalah:

Jaminan yang berupa hak mutlak atas suatu benda, yang mempunyai ciri-
ciri mempunyai hubungan langsung atau benda tertentu, dapat
dipertahankan terhadap siapapun selalu mengikuti bendanya dan dapat
dialihkan. Sedangkan jaminan imateriil (perorangan) adalah jaminan yang
menimbulkan hubungan langsung pada perorangan tertentu, hanya dapat
dipertahankan terhadap debitur tertentu, terhadap harta kekayaan debitur
umumnya.20

Jaminan perorangan merupakan hak relative, yaitu hak yang hanya dapat

dipertahankan terhadap orang tertentu yang terikat dalam perjanjian. Dalam

perjanjian jaminan perorangan pihak ketiga bertindak sebagai penjamin dalam

pemenuhan kewajiban debitor, berarti perjanjian jaminan perorangan merupakan

janji atau kesanggupan pihak ketiga untuk memenuhi kewajiban debitor apabila

debitor ingkar janji (wanprestasi). Dalam jaminan perorangan tidak ada benda

tertentu yang diikat dalam jaminan, sehingga tidak jelas benda apa dan yang mana

milik pihak ketiga yang dapat dijadikan jaminan apabila debitor ingkar janji

(wanprestasi).

20
H. Salim HS, 2014, op.cit, hal.24
25

Dengan demikian, para kreditor pemegang hak jaminan perorangan hanya

berkedudukan sebagai kreditor konkuren saja. Apabila terjadi kepailitan pada

debitor maupun penjamin (pihak ketiga), berlaku ketentuan jaminan secara umum

yang tertera dalam Pasal 1131 dan Pasal 1132 Kitab Undang-Undang Hukum

Perdata.21

2.4.3 Fungsi jaminan

Sehubungan dengan adanya persyaratan yang mewajibkan (calon) debitor

untuk menyerahkan atau memberikan jaminan kredit, maka hak tersebut memiliki

fungsi baik ditinjau dari sisi bank atau kreditor maupun dari sisi debitor, antara

lain :

1. Jaminan sebagai pengamaman pelunasan kredit

Bank sebagai badan usaha yang memberikan kredit kepada debitor, wajib

melalukan upaya pengamanan agar kredit tersebut dapat dilunasi debitor yang

bersangkutan. Kredit yang tidak dilunasi oleh debitor baik seluruhnya maupun

sebagian akan merupakan kerugian bagi bank, yang akan menunjukkan jumlah

yang relatif besar dan akan mempengaruhi tingkat kesehatan dan kelanjutan usaha

bank.

Pengingkaran janji oleh debitor yaitu debitor tidak dapat melunasi

utangnya pada bank sesuai dengan perjanjian kredit, maka yang wajib dilakukan

pencairan (penjualan) atas objek jaminan kredit yang bersangkutan. Hasil

penjualan tersebut akan diperhitungkan oleh bank untuk melunasi kredit debitor

yang telah dinyatakan sebagi kredit macet.

21
Daeng Naja, 2005, Hukum Kredit dan Bank Garansiihe Hand Book, PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung, h. 210.
26

Fungsi jaminan kredit yaitu untuk mengamankan pelunasan kredit baru

yang akan muncul pada saat kredit telah dinyatakan sebagai kredit macet.

Sepanjang kredit sudah dilunasi oleh debitor, maka tidak akan terjadi penjualan

jaminan oleh kreditor atau bank. Dalam hal ini jaminan kredit akan dikembalikan

kepada debitor sesuai dengan hukum dan perjanjian kredit.

2. Jaminan sebagai pendorong motivasi debitor

Pengikatan jaminan kredit yang berupa harta milik debitor yang dilakukan

oleh bank selaku kreditor, tentunya debitor yang bersangkutan takut kehilangan

hartanya tersebut. Ini berarti debitor akan berupaya untuk melunasi kreditnya

kepada bank agar hartanya yang menjadi jaminan kredit tersebut tidak hilang

karena harus dicairkan oleh bank.

Sesuai dengan aturan masing-masing bank, nilai jaminan kredit yang

dijadikan jaminan kredit oleh debitor kepada bank nilainya lebih besar

dibandingkan dengan nilai kredit yang diberikan bank kepada debitor. Hal ini

akan memberikan motivasi kepada debitor untuk menggunakan kredit dengan

sebaik-baiknya, melakukan kegiatan usahanya dengan baik, mengelola kondisi

keuangan secara hati-hati sehingga dapat melunasi kreditnya agar dapat

menguasai kembali hartanya, karena siapapun juga tidak ingin kehilangan

hartanya.22

Dijelaskan dalam Pasal 29 UU Jaminan Fidusia yang telah dibakukan oleh

Pemerintah untuk melindungi hak-hak pemberi fidusia, yaitu disebutkan apabila

debitor lalai atas hal apapun menyangkut perjanjian maka kreditor dapat menjual

22
M. Bahsan, op.cit, h. 103.
27

jaminan tersebut dengan dasar title ekskutorial, atau melalui pelelangan dimuka

umum, atau dengan penjualan dibawah tangan atas kesepakatan pember fidusia

dan penerima fidusia. Jadi jaminan kredit dalam Perjanjian Fidusia mempunyai

fungsi untuk melindungi penerima fidusia apabila pemberi fidusia melakukan

cedera janji atau wanprestasi.

2.2 Jaminan Fidusia

2.2.1 Istilah dan pengertian jaminan fidusia

Istilah fidusia berasal dari bahsa Belanda, yaitu fiducie, sedangkan dalam

Bahasa Inggris disebut fiduciary transfer of ownership yang artinya kepercayaan.

Di dalam literatur, fidusia lazim disebut dengan istilah fiduciary eigendom

overdract (FEO), yaitu penyerahan hak milik berdasarkan atas kepercayaan.23

Didalam Pasal 1 ayat (1) UU Jaminan Fidusia terdapat pengertian fidusia.

Fidusia adalah : “Pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar kepercayaan

dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya yang diadakan tersebut

tetap dalam penguasaan pemilik benda itu.”

Berdasarkan pengertian diatas yang diartikan dengan pengalihan hak

kepemilikan adalah pemindahan hak kepemilikan dari pemberi fidusia kepada

penerima fidusia atas dasar kepercayaan, dengan syarat bahwa benda yang

menjadi objeknya tetap berada di tangan pemberi fidusia.

Disamping istilah fidusia dikenal juga istilah Jaminan Fidusia dalam Pasal

1 angka 2 UU Jaminan Fidusia. Jaminan Fidusia adalah :

23
H. Salim. H.S, op.cit, h. 55.
28

Hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud mapun yang tidak
berwujud dan tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat
dibebani hak tanggungan sebagaimana yang dimaksud dalam Undang-
Undang Nomor 4 Tahun1996 tentang Hak Tanggungan yang tetap berada
dalam penguasaan pemberi fidusia, sebagai agunan bagi pelunasan utang
tertentu, yang memberikan kedudukan yang diutamakan kepada penerima
fidusia terhadap kreditur lainnya.

Unsur-unsur jaminan fidusia :

1. Adanya hak jaminan;

2. Adanya objek, yaitu benda bergerak baik yang berwujud mapun yang tidak

berwujud dan benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak dapat

dibebani hak tanggungan. Ini berkaitan dengan pembebanan jaminan rumah

susun;

3. Benda menjadi objek jaminan tetap dalam penguasaan pemberi fidusia; dan

4. Memberikan kedudukan yang diutamakan kepada kreditur.24

2.2.2 Latar belakang timbulnya lembaga fidusia

Latar belakang timbulnya lembaga fidusia sebagaimana yang dipaparkan

oleh para ahli adalah karena ketentuan undang-undang yang mengatur tentang

lembaga fand (gadai) mengandung banyak kekurangan, tidak memenuhi

kebutuhan masayrakat dan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat.

Hambatan itu meliputi :

1. adanya asas inbezitstelling, yang menyatakan bahwa kekuasaan atas bendanya

harus pindah /berada pada pemegang gadai, sebagaimana yang diatur di dalam

Pasal 1152 KUHPerdata.

24
H. Salim HS, op.cit, h.57.
29

2. Gadai atas surat-surat piutang, kelemahan dalam melaksanakan gadai atas

surat-surat piutang ini karena tidak adanya ketentuan tentang cara penarikan

dari piutang-piutang oleh si pemegang gadai.

3. Gadai kurang memuaskan karena ketiadaan kepastian berkedudukan sebagai

kreditur terkuat, sebagaimana tampak dalam hal membagi hasil eksekusi,

kreditur lain , yaitu pemegang hak privilege dapat berkedudukan lebih tinggi

daripada pemegang gadai.25

Dengan adanya berbagai kelemahan diatas. Dalam praktik timbul lembaga

baru yaitu fidusia. Pada awal perkembangannya yang terjadi di Negeri Belanda

mendapat tantangan yang keras dari yurisprudensi karena dianggap menyimpang

dari ketentuan Pasal 1152 ayat (2) KUHPerdata. Tidak memenuhi syarat tentang

harus adanya causa yang diperkenankan. Namun, dalam perkembangannya arrest

Hoge Raad mengakui sahnya figur fidusia, arrest ini terkenal dengan

Bierbrouwerij Arrest. Pertimbangan yang diberikan oleh Hoge Raad lebih

menekankan pada segi hukumnya daripada segi kemasyarakatannya. Hoge

berpendapat perjanjian fidusia bukanlah perjanjian gadai dan tidak terjadi

penyimpangan hukum.

Di Indonesia, lembaga fidusia lahir berdasarkan Arrest Hoggerechtshof 18

Agustus 1932. Lahirnya Arrest ini karena pengaruh asas konkordansi dan

dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan yang mendesak dari pengusaha-pengusaha

kecil, pengecer, pedagang menengah, pedagang grosir yang memerlukan fasilitas

kredit untuk usahanya. Perkembangan perundang-undangan fidusia sangat lambat

25
H. Salim. H.S, op.cit, h.59.
30

karena undang-undang yang mengatur tentang jaminan fidusia baru diundangkan

pada tahun 1999, berkenaan dengan lahirnya era reformasi.

2.2.3 Dasar hukum jaminan fidusia

Apabila kita mengkaji perkembangan yurisprudensi dan peraturan

perundang-undangan, yang menjadi dasar hukum berlakunya fidusia, dapat

disajikan sebagai berikut :

1. Arrest Hoge Raad 1929, tertanggal 25 Januari 1929 tentang Bierbrouwerij

Arrest (negeri Belanda);

2. Arrest Hoggerechtshof 18 Agustus 1932 tentang BPM-Clynet Arrest

(Indonesia); dan

3. Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia.26

2.2.4 Objek dan subjek jaminan fidusia

Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang

jaminan fidusia, maka yang menjadi objek jaminan fidusia dibagi 2 macam, yaitu:

1. Benda bergerak, baik yang berwujud maupun tidak berwujud dan;

2. Benda tidak bergerak, khususnya bangunan yang tidak dibebani hak

tanggungan.

Subjek dari jaminan fidusia adalah :

1. Pemberi fidusia adalah orang perorangan atau korporasi pemilik benda yang

menjadi objek jaminan fidusia; dan

2. Penerima fidusia adalah orang perorangan atau korporasi yang mempunyai

piutang yang pembayarannya dijamin dengan jaminan fidusia.27

26
H. Salim. H.S, loc.cit.
31

2.2.5 Eksekusi jaminan fidusia

Eksekusi jaminan fidusia diatur dalam Pasal 29 sampai dengan Pasal 34

UU Jaminan Fidusia. Eksekusi jaminan fidusia adalah penyitaan dan penjualan

benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Yang menjadi penyebab timbulnya

eksekusi jaminan fidusia adalah karena debitur atau pemberi fidusia cedera janji

atau tidak memenuhi prestasinya tepat pada waktunya kepada penerima fidusia,

walaupun mereka telah diberikan somasi.28

Ada tigat (3) cara eksekusi benda jaminan fidusia, yaitu :

1. Pelaksanaan titel eksekutorial oleh penerima fidusia. Yang dimaksud dengan

titel eksekutorial (alas hak eksekusi) adalah tulisan yang mengandung

pelaksanaan putusan pengadilan yang memberikan dasar untuk penyitaan dan

lelang sita (executorial verkoop) tanpa perantaraan hakim.;

2. Penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan penerima

fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan

piutangnya dari hasil penjualan; dan

3. Penjualan dibawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan pemberi

dan penerima fidusia jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga yang

tertinggi yang mengguntungkan para pihak.29

Untuk melakukan eksekusi terhadap objek jaminan fidusia maka pemberi

fidusia wajib menyerahkan benda yang menjadi objek jaminan fidusia. Apabila

benda yang menjadi objek jaminan fidusia terdiri atas benda perdagangan atau

27
H. Salim. H.S, op.cit, h. 64.
28
H. Salim. H.S, op.cit, h. 89.
29
H. Salim. H.S, op.cit, h. 90.
32

efek yang dapat dijual dipasar atau dibursa, penjualannya dapat dilakukan di

tempat tersebut sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.3 Koperasi

2.3.1 Pengertian koperasi

Koperasi merupakan badan usaha yang berbentuk badan hukum setelah

akta pendiriannya disetujui dan disahkan oleh pemerintah, hal ini sebagaimana

dinyatakan dalam penjelasan Undang- Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang

Perkoperasian.

Menurut definisi yang diberikan oleh Arifin Chicago, yang menyatakan

bahwa koperasi adalah ‘suatu perkumpulan yang beranggotakan orang-orang

atau badan-badan yang memberikan kebebasan masuk dan keluar menjadi

anggota, dengan kerja sama secara kekeluargaan menjalankan usaha, untuk

mempertinggi kesejahteraan anggotanya’.30

Secara umum koperasi dipahami sebagai perkumpulan orang yang secara

sukarela mempersatukan diri untuk memperjuangkan peningkatan kesejahteraan

ekonomi mereka pada suatu perusahaan yang demokratis.

Menurut Pasal 1 angka 1 UU Perkoperasian : “Koperasi Indonesia adalah

badan usaha yang beranggotakan orang-orang, seseorang, atau badan hukum

koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi, sekaligus

sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas kekeluargaan. Berdasar

ketentuan ini, koperasi sebagai badan usaha dapat bergerak di berbagai

bidang.

30
Asyhadie Zaeni, loc.cit.
33

Gambaran umum semua koperasi adalah struktur organisasi yang terdiri

dari sekelompok orang (kelompok koperasi) dan suatu badan usaha bersama

(koperasi) yang menghubungkan orang yang satu dengan orang yang lain dengan

hubungan pelayanan khusus. Ada bermacam pandangan mengenai motif untuk

bekerja sama dan sifat hubungan antara kelompok koperasi dan badan usaha

koperasi.

Anggota koperasi merupakan pemilik sekaligus pengguna jasa koperasi

tersebut, terdapat pula usaha lain yang dapat meningkatkan usaha dan

kesejahteraan anggota dengan kegiatan usaha lain termasuk dalam kegiatan

perbankan sehingga koperasi juga mempunyai peran di sektor kehidupan

ekonomi. Dalam hal kegiatan perbankan yang berbentuk hukum, koperasi

tujuannya utamanya tetap mensejahterakan anggotanya sekaligus mensejahterakan

masyarakat secara keseluruhan.

2.3.2 Sejarah awal koperasi di Indonesia

Pada masa Koloni Belanda, tercatat dua orang Belanda yang turut

memikirkan nasib penderitaan rakyat Hindia Belanda yaitu E. Siedeburgh (Kepala

Daerah Purwokerto) dan penggantinya, De Wolf van Westerrede. Kedua orang ini

banyak kaitannya dengan perintisan berdirinya koperasi pertama di Indonesia,

yaitu Purwokerto.31

Orang pribumi Indonesia pertama yang jelas tercatat dalam sejarah

perintisan koperasi di Indonesia adalah Raden Aria Wiria Atmaja. Pada tahun

1896, dengan didorong oleh E. Siedeburgh, Raden Aria Wiria Atmaja mendirikan

31
Andjar Pachta,W, dkk. op.cit, h. 39.
34

Hulp en Spaarbank (Bank Bantuan dan Tabungan) yang awalnya didayagunakan

uang dana masjid, dan selanjutnya berhasil mengumpulkan sendiri dana sebesar

4000 gulden, sebagai modal kerja.

Dua tahun berikutnya, 1898, E. Siedeburgh digantikan oleh De Wolf van

Westerrede yang telah lama mengharapkan terbentuknya suatu koperasi untuk

menolong para petani.

De wolf berhasil mendirikan 250 buah lumbung desa sebagi badan untuk

meminjamkan padi kepada rakyat, dan untuk lebih mewujudkan harapan besarnya

menolong para petani Hindia Belanda, De Wolf menyempatkan belajar koperasi

model Raiffesein langsung di Jerman. Pada tahun 1990, De Wolf diberi tugas

khusus untuk membentuk modal Koperasi Kredit Desa.

Pada tahun 1908, berdirilah Perkumpulan Budi Utomo yang dipimpin oleh

Budi Utomo dan Gunawan Mangunkusumo. Perkumpulan ini menganjurkan dan

mencoba memajukan Koperasi Rumah Tangga (Konsumsi).

Tahun 1912, berdiri pula Serikat Dagang Islam oleh H. Samanhudi yang

bertujuan untuk memperkuat posisi pedagang pribumi terhadap pedagang

Tionghoa dengan cara mendirikan toko-toko koperasi.

Ketiga generasi awal koperasi pertama di Indonesia (Hindia Belanda)

tersebut tidak dapat dikatakan berhasil sebagai suatu usaha koperasi karena

memang sosialisasi asas-asas dan prinsip koperasi pada saat itu sangat kurang.

Tetapi, ketiganya merupakan benih awal keberadaan koperasi yang tercatat di

Indonesia.32

32
Andjar Pachta,W, dkk. loc.cit.
35

2.3.3 Jenis-jenis koperasi

Koperasi dapat dibedakan berdasarkan jenis kegiatan koperasi, jenis

anggota, profesi anggota, fungsi serta tujuan, dan kebutuhan sendiri. Tetapi pada

dasarnya koperasi dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu koperasi yang

berdasarkan kegiatan usaha serta jenis koperasi beradasarkan anggotanya.

Pada dasarnya koperasi dapat dibedakan menjadi sebagai berikut :

a. Koperasi konsumsi ( menyediakan barang konsumsi anggota).

b. Koperasi produksi ( menghasilkan barang bersama).

c. Koperasi simpan pinjam ( menerima tabungan dan memberi pinjaman).

d. Koperasi serba usaha ( campuran ).

Jenis koperasi berdasarkan tingkatannya dibedakan menjadi 2 yaitu :

a. Koperasi primer ( anggotanya masih perorangan ).

b. Koperasi sekunder ( gabungan koperasi atau induk koperasi ).33

Koperasi sebagai suatu badan usaha yang berbadan hukum dapat

melaksanakan kegiatan usaha yaitu salah satunya simpan pinjam sebagai salah

satu usaha koperasi. Dalam pasal 44 UU Perkoperasian dalam kegiatan usahanya

adalah menerima tabungan atau menghimpun dana serta menyalurkannya

kembali, dana tersebut berasal dari dan untuk anggota koperasi lainnya. Oleh

karena itu pinjaman wajib dikelola dengan prinsip kehati-hatian (Prudential).

33
Andjar Pachta,W, dkk. op.cit, h. 22.
36

2.3.4 Sifat koperasi

Koperasi bersifat suatu kerja sama antara orang-orang yang masuk

golongan kurang mampu dalam hak kekayaan yang ingin meringankan beban

hidup atau beban kerja.

Persamaan dan bentuk usaha lain adalah sama-sama mengejar suatu

keuntungan kebendaan (stoffelijk voordeel). Perbedaanya adalah bahwa biasanya

koperasi didirikan oleh orang-orang yang benar-benar memerlukan sekali kerja

sama ini untuk mencapai suatu tujuan, sedangkan orang-orang yang mendirikan

bentuk usaha lain sebenarnya masing-masing dapat mencapai tujuan yang

dikehendaki dengan mendapat cukup keuntungan, tetapi mereka ingin

memperbesar keuntungan itu.

2.3.5 Nilai dan prinsip-prinsip koperasi

Kongres ke-100 ICA di Manchester menetapkan ICA Identity Cooperative

Statement (IICIS) yang selain memperbarui, juga menetapkan definisi, nilai-nilai

dan prinsip-prinsip koperasi, sebagai berikut :

Nilai-nilai yang menjadi dasar koperasi adalah kemandirian, bertanggung

jawab, demokrasi, kesetaraan, keadilan, dan solidaritas. Nilai-nilai etika yang

diyakini anggota adalah kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab social, dan

perhatian terhadap sesame.

Prinsip-prinsip koperasi yaitu :

1. Prinsip sukarela dan terbuka (voluntary and open membership) yaitu koperasi

adalah organisasi sukarela, terbuka kepada semua orang untuk dapat

menggunakan pelayanan yang diberikannya dan mau menerima tanggung


37

jawab keanggotaan, tanpa membedakan jenis kelamin, sosial, suku, politik,

atau agama.

2. Prinsip kontrol anggota demokratis (democratic member control) yaitu

koperasi adalah organisasi demokratis yang dikontrol oleh anggotanya, yang

aktif berpatisipasi dalam merumuskan kebijakan dan membuat keputusan.

3. Prinsip partisipasi ekonomi anggota (member economic participation) yaitu

anggota berkontribusi secara adil dan pengawasan secara demokrasi atas modal

koperasi.

4. Prinsip otonomi dan independen (autonomy and independence) yaitu koperasi

adalah organisasi mandiri yang dikendalikan oleh anggota-anggotanya.

Walaupun koperasi membuat perjanjian dengan organisasi lainnya termasuk

pemerintah atau menambah modal dari sumber luar, koperasi harus tetap

dikendalikan secara demokrasi oleh anggota dan mempertahankan otonomi

koperasi.

5. Prinsip pendidikan, pelatihan, dan informasi (education, training, and

information) yaitu koperasi menyediakan pendidikan dan pelatihan untuk

anggota, wakil-wakil yang dipilih, manager, dan karyawan sehingga mereka

dapat berkontribusi secara efektif untuk perkembangan koperasi.

6. Prinsip kerjasama antar koperasi (cooperation among cooperatives) yaitu

koperasi melayani anggota-anggotanya dan memperkuat gerakan koperasi

melalui kerjasama dengan struktur koperasi local, nasional, dan internasional.

7. Prinsip perhatian terhadap komunitas (concern for community) yaitu koperasi

bekerja untuk perkembangan yang berkesinambungan atas komunitasnya.34

34
Andjar Pachta,W. dkk, op.cit, h. 23.
38

BAB III

IMPLEMENTASI PEMBEBANAN BENDA DENGAN JAMINAN

FIDUSIA DI KOPERASI SERBA USAHA ARTHA ASIH SEJAHTERA

3.1 Dasar Hukum Pendirian Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera

Sebagai Pemberi Pinjaman

Berdasarkan konstitusi Negara Indonesia yaitu Undang-Undang Dasar

Republik Indonesia tahun 1945, mengamanatkan bahwa Negara berkewajiban

untuk memajukan kesejahteraan umum yang tujuannya tidak lain adalah untuk

memenuhi semua kebutuhan masyarakat. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat

tersebut, maka didirikanlah lembaga keuangan yang salah satunya adalah

Koperasi.35

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian merupakan

dasar hukum adanya lembaga koperasi di Indonesia. Dengan adanya

pembangunan ekonomi pada masa sekarang ini koperasi memiliki peran yang

sangat penting didalam memberikan pinjaman kepada masyarakat untuk

membangun suatu usaha hal tersebut sesuai dengan tujuan dibentuknya koperasi.

Mengingat adanya tujuan tersebut maka para pendiri koperasi sepakat untuk

memulai membentuk lembaga Koperasi dengan beberapa warga Desa Guwang

tersebut untuk menjadi anggota koperasi. Setelah mencapai kesepakatan bersama

maka lembaga koperasi tersebut diberi nama Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera.

35
Andjar Pachta,W, dkk, op.cit, h. 2.

38
39

Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari Bapak I Made Kastana (Ketua

Koperasi Artha Asih Sejahtera), pada awalnya Koperasi Serba usaha artha asih

sejahtera beroperasi pada tanggal 24 April 2009 sebagai salah satu unit kegiatan

yang ada di lingkungan Desa Guwang Kecamatan Sukawati, Gianyar. Koperasi

Serba Usaha Artha Asih Sejahtera yang kemudian disahkan dan didirikan

berlandaskan Keputusan Departement Koperasi, PK dan Menengah BH

NO.14/BH/XXVII.4/IV/2009 beserta perubahan-perubahan yang mengikuti untuk

menyesuaikan dengan kondisi pada saat ini. Pada awal pendiriannya, Koperasi

Serba Usaha Artha Asih Sejahtera didirikan oleh 20 orang yang semuanya

merupakan masyarakat dari Desa Guwang yang terletak di Kecamatan Sukawati,

Kabupaten Gianyar Bali. Sejak awal berdirinya Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera menempati kantor yang berada di Jalan Raya Guwag Kecamatan

Sukawati

Proses awal pembentukan Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera ini

bisa dikatakan cukup rumit karena pada awal pendiriannya mendapatkan

tanggapan atau respon yang kurang baik melalui penolakan dari warga-warga

Desa Guwang yang tidak setuju dengan adanya Koperasi dilingkungan Desa

Guwang karena faktor masyarakat yang kurang begitu memahami tentang sistem

Koperasi seperti apa. Tetapi setelah melakukan beberapa pengarahan serta

penyuluhan terhadap masyarakat setempat tentang sistem-sistem koperasi,

masyarakat kemudian menjadi setuju dengan adanya suatu lembaga keuangan

seperti Koperasi akan membantu perekonomian warga di lingkungan Desa

Guwang. Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera adalah Koperasi serba usaha

beserta seluruh dokumen legalitas yang disahkan oleh Departemen Koperasi,

Pedagang Kecil dan menengah. (wawancara pada tanggal 3 Mei 2017)


40

3.2 Syarat dan Prosedur Pemberian Pinjaman Kepada Nasabah Di Koperasi

Serba Usaha Artha Asih Sejahtera

Berdasarkan keterangan dari Bapak I Made Kastana (Ketua Koperasi

Artha Asih Sejahtera) di Kantor Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera,

menyatakan bahwa untuk bisa memperoleh pinjaman di Koperasi Serba Usaha

Artha Asih Sejahtera, akan melalui beberapa proses dan beberapa tahapan.

Syarat yang harus dipenuhi oleh pihak debitur, yaitu:

a. Identitas diri suami istri;

b. Kartu Anggota koperasi, apabila merupakan anggota;

c. Ijin-ijin yang dimiliki;

d. Bukti jaminan.

Lalu tahapan-tahapan yang harus dilakukan adalah:

1. Calon debitur wajib dan harus mengisi permohonan pinjaman dengan data

yang sebenar-benarnya dan disesuaikan dengan bukti maupun identitas diri

yang sah;

2. Permohonan yang telah diajukan selanjutnya dilakukan verifikasi terhadap

data yang ada, lalu akan dilanjutkan dengan melakukan kunjungan untuk

pemeriksaan tempat usaha dan lokasi pinjaman serta mendokumentasikannya;

3. Melakukan analisa pinjaman, kelayakan usaha serta taksasi nilai jaminan.

Hasil analisa tersebut selanjutnya akan digunakan sebagai tolak ukur dalam

menentukan besarnya pinjaman yang nantinya akan diberikan;


41

4. Lalu pihak kreditur akan melakukan pemberitahuan kepada calon debitur

tentang permohonan pinjaman yang diajukan. Bila permohonan pinjaman

tersebut diterima, maka akan dilanjutkan dengan proses pencairan pinjaman;

5. Pembinaan, monitoring, dan pengawasan.

(wawancara pada tanggal 3 mei 2017)

a. Pengajuan permohonan atau aplikasi pinjaman oleh pemohon kepada koperasi.

Lebih lanjut Bapak I Made Kastana (Ketua Koperasi artha Asih Sejahtera),

menerangkan bahwa untuk memperoleh pinjaman di Koperasi Serba Usaha Artha

Asih Sejahtera, maka tahap pertama adalah pengajuan permohonan pinjaman atau

aplikasi pinjaman kepada Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera. Pemohon

atau debitur yang datang untuk mengajukan permohonan pinjaman atau aplikasi

pinjaman, akan diberikan Surat Permohonan Pinjaman Uang (SPPU) oleh pihak

koperasi sebagai kreditur untuk selanjunya diisi oleh Pemohon dengan

mencantumkan atau melampirkan dokumen-dokumen yang dipersyaratkan.

Adapun dokumen-dokumen yang dipersyaratkan antara lain:

- Fotokopi Identitas (KTP) pemohon dan Penanggung (kawan-kawan

pemohon);

- Fotokopi Kartu Keluarga (KK) Pemohon;

- Fotokopi slip gaji Pemohon,

- Kartu anggota jika merupakan anggota koperasi;

- Bukti jaminan.
42

Sedangkan berdasarkan data yang diberikan oleh Bapak I Made Kastana

(Ketua Koperasi Artha Asih Sejahtera), maka dapat dikutip bahwa Surat

Permohonan Pinjaman memuat hal-hal berikut, yaitu :

- Nama Pemohon;

- Alamat Tinggal Pemohon;

- Pekerjaan Pemohon;

- Identitas diri Pemohon;

- Nomor telepon / HP Pemohon;

- Besar Pinjaman Pemohon;

- Jangka waktu pinjaman Pemohon;

- Kelengkapan dokumen Pemohon;

- Nama penanggung atau persetujuan;

- Tujuan Pinjaman;

- Pernyataan apabila setuju dengan isi blanko tersebut

- Tanda tangan Pemohon dan Penjamin.

Permohonan pinjaman atau aplikasi pinjaman yang diberikan oleh

Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera kepada calon debitornya, berupa

Surat Permohonan Pinjaman Uang tersebut berbentuk formulir atau blanko. Jadi,

calon debitor hanya tinggal mengisi dan membubuhkan tanda tangannya saja

apabila bersedia diterima isinya. Pihak Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera tidak memberikan kesempatan kepada calon debitor untuk

membicarakan atau membahas lebih lanjut tentang isi atau klausula-klausula yang

diajukan oleh pihak Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera. Hal tersebut
43

dianggap sebagai cara atau jalan agar lebih mudah dan praktis oleh pihak

Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera, karena akan lebih menghemat waktu

dalam hal pengisian permohonan atau aplikasi pinjaman yang akan diisi oleh

calon debitor (wawancara 3 Mei 2017).

b. Penelitian berkas pinjaman

Dipertegas kembali oleh Bapak I Made Kastana (Ketua Koperasi Artha

Asih Sejahtera), bahwa setelah permohonan atau aplikasi pinjaman yang berupa

Surat Permohonan Pinjaman (SPPU) tersebut diisi oleh calon debitor dan telah

diterima oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera, maka Koperasi Serba

Usaha Artha Asih Sejahtera akan melakukan penelitian atau pengamatan yang

sedetail-detailnya terhadap berkas-berkas pinjaman yang telah diajukan oleh

Pemohon (berkas pinjaman terdiri atas Surat Permohonan Pinjaman yang telah

diisi oleh Pemohon, serta dokumen-dokumen yang dipersyaratkan). Apabila

berkas pinjaman tersebut telah lengkap, maka Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera (khususnya pihak yang khusus menangani dibagian pinjaman) akan

melakukan interview atau wawancara secara mendalam kepada Pemohon dengan

menerapkan prinsip The Five C of Credit Analysis sebagaimana yang dimaksud

dalam Penjelasan Pasal 8 Undang-Undang Perbankan (wawancara 3 mei 2017).

“The Five C of Credit Analysis” tersebut antara lain36 :

1. Penilaian watak (character)

Bahwa calon debitur-debitur harus memiliki watak, rotal, dan sifat-sifat

pribadi yang baik. Penilaian terhadap watak ini dilakukan untuk mengetahui

36
Hermansyah, 2005, Hukum Perbankan Nasional, PT. Kencana Media Group, Jakarta,
h. 64.
44

tingkat kejujuran, integritas, dan kemauan dari calon debitur-debitur untuk

memenuhi kewajiban dan menjalankan usahanya, yang dapat diperoleh melalui

riwayat hidup, riwayat usaha, dan informasi dan usaha-usaha yang sejenis.

2. Penilaian kemampuan (capacity)

Bank harus meneliti tentang keahlian calon debitor dalam bidang usahanya

dan kemampuan manajerialnya, sehingga bank yakin bahwa usaha yang akan

dibiayainya dikelola oleh orang-orang yang tepat, sehingga calon debitornya

dalam jangka waktu tertentu mampu melunasi atau mengembalikan pinjamannya.

Apabila kemampuan bisnisnya kecil, tentu tidak layak diberikan kredit dalam

skala besar.

3. Penilaian terhadap modal (capital)

Bank harus melakukan analisis terhadap posisi keuangan secara

menyeluruh mengenai masa lalu dan masa yang akan datang, sehingga dapat

diketahui kemampuan permodalan calon debitor dalam menunjang pembiayaan

proyek atau usaha calon debitor yang bersangkutan. Dalam praktek selama ini,

bank jarang sekali memberikan kredit untuk membiayai seluruh dana yang

diperlukan nasabah. Nasabah wajib menyedikan modal sendiri, sedangkan

kekurangannya itu dapat dibiayai dengan kredit bank. Jadi, fungsinya adalah

hanya menyediakan tambahan modal, dan biasanya lebih sedikit dari pokoknya.

4. Penilaian terhadap agunan (collateral)

Untuk menanggung pembayaran kredit macet, calon debitor umumnya

wajib menyediakan jaminan berupa agunan yang berkualitas tinggi dan mudah

dicairkan yang nilainya minimal sebesar jumlah kredit atau pembiayaan yang
45

diberikan kepadanya. Untuk itu, sudah seharusnya bank wajib meminta agunan

tambahan dengan maksud jika calon debitor tidak dapat melunasi kreditnya, maka

agunan tambahan tersebut dapat dicairkan guna menutupi pelunasan atau

pengembalian kredit atau pembiayaan yang tersisa.

5. Penilaian terhadap prospek usaha nasabah debitor (condition of economic)

Bahwa dalam pemberian kredit oleh bank, kondisi ekonomi secara umum

dan kondisi sektor usaha Pemohon kredit perlu memperoleh perhatian dari bank

untuk memperkecil resiko yang mungkin terjadi yang diakibatkan oleh kondisi

ekonomi tersebut.

Ditambahkan juga interview atau wawancara yang meliputi lama usaha,

penjualan dan juga persaingan usaha calon debitur, omzet perusahaan calon

debitur, dan yang paling penting adalah rencana penggunaan dari pinjaman

tersebut.

c. Penilaian jaminan pinjaman

Tahap selanjutnya ialah tentang penilaian jaminan pinjaman, Bapak I

Made Kastana (Ketua Koperasi Artha Asih Sejahtera) menerangkan bahwa, dalam

setiap pemberian pinjaman yang akan diberikan oleh Koperasi Serba Usaha Artha

Asih Sejahtera kepada calon debitornya, mempersyaratkan adanya jaminan berupa

jaminan kebendaan. Jaminan tersebut memiliki fungsi sebagai pengamanan

pelunasan jaminan. Terhadap setiap objek jaminan pinjaman yang diajukan oleh

calon debitur yang mengajukan permohonan pinjaman akan dilakukan penilaian

oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera. Penilaian tersebut dilakukan

dengan dua cara yaitu penilaian secara hukum dan secara ekonomi (wawancara

pada tanggal 3 Mei 2017).


46

Selanjutnya Bapak I Made Kastana (Ketua Koperasi Artha Asih

Sejahtera), menerangkan bahwa penilaian secara hukum yang dilakukan oleh

Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera dilakukan dengan berdasarkan hal-hal

berikut:

1. Penilaian legalitas dokumen objek jaminan pinjaman

Penilaian ini dilakukan dengan tujuan untuk dapat mengetahui sah dan

tidaknya suatu dokumen yang berkaitan dengan kepemilikan objek jaminan

pinjaman. Untuk benda tidak bergerak berupa tanah, maka Koperasi akan

melakukan pengecekan ke lembaga yang berwenang dalam hal mengeluarkan

sertifikat yaitu di wilayah hukum Badan Pertanahan Nasional (BPN) Daerah

dimana tanah tersebut berada. Untuk mengetahui dokumen dan benda bergerak

seperti motor dan mobil, Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera hanya cukup

melihat bukti kepemilikan kendaraan bermotor seperti BPKB dan STNK yang

bersangkutan.

2. Penilaian terhadap kemungkinan pengikatan objek jaminan pinjaman

Penilaian ini dilakukan dengan cara menilai sejauh mana objek jaminan

pinjaman yang akan diterimanya tersebut akan dapat diikat secara sah sesuai

dengan ketentuan hukum yang berlaku. Jadi untuk mengikat benda tidak bergerak

yang dijadikan jaminan berupa tanah, pengikatannya harus dilakukan berdasarkan

Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan yang

menetapkan bahwa pembebanan tanah sebagai jaminan utang dilakukan dengan

pembuatan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT) dihadapan Notaris PPAT

dan kemudian mendaftarkannya Badan Pertanahan Nasional (BPN) setempat


47

sehingga diterbitkan Sertifikat Tanggungan. Untuk pengikatan objek jaminan

pinjaman benda bergerak seperti kendaraan bermotor, pengikatannya dapat

dilakukan dengan merujuk kepada Undang-Undang Jaminan Fidusia, akan tetapi

karena Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera memiliki pertimbangan bahwa

yang menjadi nasabah atau debitornya merupakan masyarakat Desa Guwang,

maka dirasa pengikatannya dapat dilakukan dengan akta dibawah tangan saja.

(wawancara pada tanggal 3 mei 2017).

Lalu selanjutnya mengenai penilaian jaminan secara ekonomi, Bapak I

Made Kastana (Ketua Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera) menerangkan

bahwa, penilaian secara ekonomi yang dilakukan Koperasi Serba Usaha Artha

Asih Sejahtera dilakukan berdasarkan hal-hal berikut:

1. Penilaian jenis dan bentuk jaminan

Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera terlebih dahulu sudah

mengetahui secara jelas mengenai objek jaminan pinjaman, apakah jaminan

tersebut berupa benda bergerak dan jenisnya, ataukah benda tidak bergerak dan

jenisnya. Hal tersebut dikarenakan setiap jenis objek jaminan pinjaman memiliki

nilai ekonomi yang berbeda. Secara umum nilai ekonomi dari jaminan berupa

tanah lebih baik dibandingkan nilai ekonomi benda bergerak seperti motor dan

mobil.

2. Penilaian kondisi objek jaminan pinjaman

Kondisi dari objek jaminan pinjaman berkaitan dengan keadaan fisiknya

yang sangat dapat berpengaruh terhadap nilai ekonominya. Untuk jenis objek

jaminan kredit yang berupa benda bergerak seperti mobil dan motor, penilaian

yang dilakukan terhadap kondisi fisiknya menggunakan cara yaitu melakukan


48

pengecekan fisik langsung terhadap kendaraan bermotor. Kendaraan bermotor

yang bersangkutan diharuskan atau diwajibkan untuk dibawa ke Kantor Koperasi

Serba Usaha Artha Asih Sejahtera dengan tujuan agar dapat dilihat keadaan

fisiknya apakah masih baik atau tidak. Sedangkan objek jaminan kredit berupa

tanah dilakukan dengan cara melihat langsung ke lokasi tanah yang dijadikan

jaminan tersebut berada yang akan berpengaruh terhadap nilai ekonominya.

3. Penilaian mengenai tingkat harga yang jelas dan kemudahan pengalihan objek

jaminan pinjaman

Pada umumnya tanah dalam kurun waktu tertentu nilai ekonominya

meningkat berdasarkan NJOP lokasi tersebut. Lain halnya dengan nilai ekonomi

objek jaminan pinjaman bergerak berupa kendaraan bermotor yang dalam kurun

waktu tertentu nilai ekonominya akan menurun. Dalam hal prospek pemasaran

untuk kemudahan pengalihan objek jaminan kredit juga dapat mempengaruhi nilai

ekonomi dari suatu jaminan pinjaman. Seperti misalnya, kendaraan merek tertentu

tidak dapat diterima oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera sebagai

objek jaminan kredit, dengan pertimbangan yaitu bahwa kendaraan bermotor

bekas tersebut tidak memiliki prospek pemasaran yang bagus dan susah untuk

dicairkan atau diuangkan, apabila terjadi wansprestasi yang dilakukan oleh

debitor yang hendak mengajukan permohonan pinjaman (wawancara pada tanggal

3 Mei 2017)

d. Pemberian pinjaman berdasarkan nilai jaminan

Lalu tahapan selanjutnya yaitu dalam proses pemberian pinjaman di

Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera, yakni pemberian jaminan

berdasarkan nilai jaminan. Sebagaimana yang telah diterangkan oleh Bapak I


49

Made Kastana (Ketua Koperasi Artha Asih Sejahtera), bahwa besarnya pemberian

pinjaman yang diberikan kepada debitornya ditentukan oleh nilai jaminan

pinjaman. Untuk jaminan yang objeknya benda bergerak berupa kendaraan

bermotor mobil atau motor, dilakukan dengan pembatasan usia pada mobil atau

motor, pembatasan usia yang dilakukan pada objek jaminan benda bergerak

berupa mobil atau motor tersebut maksimal 5 tahun. Dengan maksimal pinjaman

adalah 40% dari taksiran harga terendah. Hal tersebut didasarkan oleh

pertimbangan bahwa harga atau nilai ekonomi dari kendaraan bermotor setiap

harinya akan turun, bukannya naik apabila dikemudian hari jaminan tersebut akan

dicairkan atau diuangkan oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera karena

debitor melakukan wanprestasi. Sedangkan untuk jaminan berupa tanah, maka

batas maksimum pemberian pinjaman yang dapat diberikan oleh Koperasi Serba

Usaha Artha Asih Sejahtera kepada nasabahnya yaitu 65% dari taksiran harga

pasar terendah. Harga pasar tersebut didapatkan dari penilaian secara ekonomi

terlebih dahulu dengan cara mengetahui NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) tanah

yang bersangkutan pada saat pemberian pinjaman akan diberikan, serta juga

penilaian secara hukum dari tanah yang bersangkutan. Batas maksimum yang

diberikan jika melakukan pinjaman dengan objek jaminan berupa tanah lebih

besar daripada objek jaminan berupa kendaraan bermotor didasarkan

pertimbangan, bahwa nilai ekonomi tanah semakin harinya akan semakin

meningkat, apabila dikemudian hari terjadi pencairan untuk memenuhi pelunasan

utang apabila terjadinya permasalahan dalam peminjaman atau dalam hal debitor

yang melakukan wanprestasi. (wawancara pada tanggal 3 Mei 2017).


50

3.3 Pembebanan Benda Dengan Jaminan Fidusia Dalam Pemberian

Pinjaman Di Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera

Umumnya perjanjian pembebanan atau pengikatan suatu benda untuk

menjadi objek jaminan, didahului dengan pembuatan perjanjian utang piutang

(perjanjian pinjaman atau perjanjian pokoknya), lalu diikuti dengan perjanjian

pengikatan jaminan utang atau perjanjian pembebanan benda sebagai objek

jaminan yang dibuat secara terpisah, yang merupakan perjanjian assesoir.37

Berdasarka keterangan dari bapak I Kadek D. Adnyana (Staf Kantor

Wilayah Bagian Hukum Dan Ham) Saat ini dengan adanya aturan yang

diharuskannya melakukan pendaftaran melalui internet (online system) sesuai

dengan yang diamanatkan oleh Permenkumham No.9 Tahun 2013 dalam Pasal 3

menyatakan bahwa “pendaftaran jaminan fidusia secara elektronik sebagaimana

dimaksud dalam pasal 2 dapat dilakukan melalui kios pelayanan pendaftaran

jaminan fidusia secara elektronik diseluruh kantor pendaftaran fidusia”. Dalam

ketentuan Pasal 3 diatas tidak terdapat penjelasan mengenai kios pelayanan

pendaftaran jaminan fidusia. Hal ini membuat didalam penjelasan Pasal 3 Permen

No.9 Tahun 2013 tersebut menjadi kabur.

Selajutnya menurut keterangan dari Bapak I Kadek D. Adnyana (Staf

Kantor Wilayah Bagian Hukum Dan Ham) dalam prakteknya, pendaftaran

jaminan fidusia secara elektronik atau online system dilakukan pada kantor notaris

dan melalui perantara notaris. Hal ini berkaitan dengan pembebanan jaminan yang

dilaksanakan dikantor notaris berupa dibuatkannya akta jaminan fidusia yang

37
M. Bahsan, op.cit, h. 119.
51

merupakan akta notaril sesuai amanat UUJF dan sehubung dengan kewajiban

notaris untuk harus merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya

dimana tidak sembarang orang dapat mengetahui apalagi mempunyai akta

tersebut, sehingga dalam runtutan proses pendaftaran maka notaris juga yang

melakukan permohonan pendaftaran berdasarkan surat kuasa (SK) yang diterima

dari penerima fidusia.(Wawancara pada tanggal 5 juli 2017)

Saat ini dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu cepat,

dimana mempengaruhi berbagai aspek kehidupan dan mempermudah akses ke

segala bidang, baik itu ekonomi, politik serta hukum, tentunya hal ini akan

berimbas kepada system pelayanan jasa yang mengakibatkan terjadinya

perubahan didalam tata cara melakukan pendaftaran jaminan fidusia.

Berdasarkan keterangan dari Bapak I Made Kastana (Ketua Koperasi

Artha Asih Sejahtera), yang menerangkan bahwa pembebanan benda khusunya

benda bergerak seperti kendaraan bermotor berdasarkan kepercayaan dengan

Jaminan Fidusia dalam pemberian pinjaman di Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera, dilakukan dengan perjanjian dibawah tangan (akta dibawah tangan),

tidak dengan akta notaris (akta otentik). Pembebanan objek jaminan dalam rangka

pemberian pinjaman di Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera dilakukan

tidak dengan pembuatan perjanjian yang terpisah dari perjanjian pokoknya, akan

tetapi menyatu dengan perjanjian pokoknya, dengan mencantumkan klausula

mengenai penyerahan benda sebagai objek jaminan, disertai dengan kuasa penuh

kepada Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera untuk menjual objek jaminan

apabila dikemudian hari debitur tidak dapat melunasi utangnya dalam kurun
52

waktu yang sebelumnya telah disepakati antara Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera sebagai kreditur dengan debitur atau terjadinya wanprestasi. Setelah itu,

pembebanan kendaraan bermotor sebagai jaminan di Koperasi Serba Usaha Artha

Asih Sejahtera dilakukan dengan penyimpanan terhadap dokumen kepemilikan

kendaraan bermotor berupa BPKB yang akan disimpan oleh Koperasi Serba

Usaha Artha Asih Sejahtera sampai saat pinjaman dilunasi oleh debitur. Koperasi

Serba Usaha Artha Asih Sejahtera akan mengeluarkan surat tanda terima

penyerahan jaminan berupa Bukti Penerimaan Jaminan Koperasi Serba Usaha

Artha Asih Sejahtera dan dilakukan pencatatannya oleh Koperasi Serba Usaha

Artha Asih Sejahtera (wawancara pada tanggal 3 Mei 2017)

Selanjutnya Bapak I Made Kastana (Ketua Koperasi Artha Asih

Sejahtera), memberi penerangan bahwa atas dasar asas kebebasan berkontrak,

Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera melakukan pembebanan kendaraan

bermotor sebagai jaminan, yang pengikatan atau pembebanannya dilakukan tidak

dengan pembuatan perjanjian yang terpisah dari perjanjian pokoknya, akan tetapi

menyatu dengan perjanjian pokonya (wawancara pada tanggal 3 Mei 2017).

Pembebanan benda sebagai objek jaminan berdasarkan kepercayaan di

Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera yang dibuat dengan berdasarkan

perjanjian atau akta dibawah tangan yang menyatu dengan perjanjian

pinjamannya, seperti tersebut diatas tidak dilarang oleh Undang-Undang, selama

memenuhi syarat sahnya suatu perjanjian sesuai dengan Pasal 1320 Kitab

Undang-Undang Hukum Perdata serta berdasarkan asas kebebasan berkontrak


53

yang diatur dalam Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang

menyatakan bahwa :

“Semua perjanjian yang dibuat secara sah, berlaku sebagai Undang-

Undang bagi mereka yang membuatnya”.

3.4 Pelaksanaan eksekusi Jaminan Fidusia di Koperasi Serba Usaha

Artha Asih Sejahtera

Berdasarkan hasil dari wawancara dengan Bapak I Made Kastana (Ketua

Koperasi Artha Asih Sejahtera) yang memberi penjelasan bahwa, pelaksanaan

eksekusi yang dilakukan pada Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera

berdasarkan peraturan perusahaan yang ditetapkan dalam standar operasional

prosedur (SOP), proses eksekusi benda jaminan fidusia tersebut yakni diuraikan

sebagai berikut:

1. Pemberian surat teguran apabila debitor wanprestasi setelah jatuh tempo

tunggakan 1 sampai dengan 4 hari.

2. Apabila debitor tidak melakukan tindakan untuk menghapus wanprestasi

(melunasi tunggakan atau hutang) tersebut maka diberikan batas waktu 5

sampai dengan 13 hari oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera.

3. Apabila tidak ada tanggapan juga sampai dengan dihari ke 14 dari debitor

maka Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera akan mengeluarkan surat

peringatan pertama. Apabila selama tenggang waktu 14 hari surat peringatan

pertama tidak ditanggapi oleh debitor maka Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera akan mengirimkan lagi surat peringatan ke 2 dengan tenggang waktu

15 sampai dengan 20 hari.


54

4. Apabila setelah dikirimkannya surat peringatan ke 2 dan tidak ada tanggapan

baik dari pihak debitor maka pihak debitur tersebut akan diberikan somasi

oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera dengan tenggang waktu 21

sampai dengan 28 hari.

5. Dan apabila setelah diberikan somasi tetap saja pihak debitor tidak ada

tanggapan baik untuk melunasi maka pihak petugas dari Koperasi Serba

Usaha Artha Asih Sejahtera dalam hal ini disebut debt collector akan

melakukan system remedial.

6. Setelah pihak Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera yaitu debt collector

melakukan system remedial namun tetap tidak ada niat dan etikad baik dari

pihak debitor maka dilakukan penarikan kembali barang tersebut dengan

adanya SK (surat keputusan) dan lampiran surat-surat yang dikirimkan ke

pihak debitur.
55

BAB IV

FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH DALAM IMPLEMENTASI

PEMBEBANAN FIDUSIA DI KOPERASI SERBA USAHA

ARTHA ASIH SEJAHTERA

4.1 Kekuatan Akta Jaminan Fidusia Yang Tidak Didaftarkan

Pelaksanaan pendaftaran objek jaminan fidusia merupakan suatu

kewajiban yang harus dilakukan oleh lembaga pembiayaan, baik bank maupun

non bank. Hal ini sangat penting dalam memberikan kejelasan kedudukan kreditur

sebagai pemberi piutang dan juga memenuhi unsur publisitas. Pembebanan

jaminan fidusia yang didahului dengan janji untuk memberikan jaminan fidusia

sebagai pelunasan atas hutang tertentu yang dituangkan dalam akta jaminan

fidusia.

Akta dibawah tangan bukanlah akta otentik yang memiliki nilai

pembuktian yang sempurna. Sebaliknya akta otentik adalah akta yang dibuat oleh

dan atau dihadapan pejabat yang yang ditunjuk oleh undang-undang dan memiliki

kekuatan hukum yang sempurna.38 Akan tetapi suatu akta dibawah tangan tetap

memiliki kekuatan bukti hukum sepanjang para pihak mengakui keberadaan dan

isi akta tersebut seperti halnya mengenai objek jaminan, dan lain sebagainya.39

Dengan demikian, kekuatan akta jaminan fidusia yang tidak didaftarkan

oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera, maka kedudukan Koperasi

Serba Usaha Artha Asih Sejahtera hanya sebagai kreditur konkuren yaitu kreditur

38
R Soeroso, 2011, Perjanjian Dibawah Tangan Pedoman Praktis Pembuatan dan
Aplikasi Hukum, PT. Sinar Grafika, Jakarta, h. 7.
39
Ibid. h. 8.

55
56

yang tidak memiliki hak untuk didahulukan terhadap kreditur lainnya, apabila

debitur memiliki lebih dari 1 (satu) kreditur. Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera akan dijamin dengan jaminan umum sebagaimana dimaksud dalam

Pasal 1131 dan 1132 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Hal tersebut juga

bukan berarti Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera tidak memiliki hak

jaminan atas pelunasan piutangnya, akan tetapi dijamin dengan seluruh harta

kekayaan milik debitur yang akan menjadi jaminan pelunasan utang debitor

terhadap semua kreditur. Dengan jaminan umum, kreditur tidak dapat mengetahui

secara jelas harta kekayaan debitur yang ada sekarang maupun yang ada

dikemudian hari, serta kepada siapa saja debitur berhutang, sehigga khawatir hasil

penjualan harta kekayaan debitur nantinya tidak cukup untuk melunasi utang-

utangnya. Untuk itu kreditur memerlukan adanya benda-benda tertentu yang

ditunjuk secara khusus sebagai jaminan utang, dan itu hanya berlaku terhadap

kreditur tersebut.40

4.2 Faktor-Faktor yang Berpengaruh Tidak Didaftarkannya Jaminan

Fidusia Di Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera

Fidusia dalam pengertian UUJF adalah pengalihan hak kepemilikan suatu

benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak

kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda, dimana

hal tersebut yang diserahkan hanya hak kepemilikannya saja (hak milik) tetapi

secara ekonomis tetap berada didalam penguasaan pemiliknya dan pemilik

(pemberi fidusia) masih dapat mempergunakan benda tersebut. Dalam hal ini

40
Rachmadi Usman, op.cit, h. 228.
57

kepercayaan merupakan syarat utama dalam lalu lintas perkreditan tetapi alangkah

baiknya juga didampingi dengan adanya hukum untuk menjaga kesejahteraan

masing-masing pihak serta kepentingan dalam perlindungan hukum baik terhadap

kreditur (bank/nonbank) maupun debitur (nasabah).

Pendaftaran jaminan fidusia diatur dalam Pasal 11 sampai Pasal 18

Jaminan Fidusia. Pendaftaran dilakukan pada Kantor Pendaftaran Fidusia, dan

untuk pertama kalinya Kantor Pendaftaran Fidusia didirikan di Jakarta dengan

wilayah kerja mencakup seluruh wilayah Indonesia. Tujuan pendaftaran jaminan

fidusia adalah :

1. Untuk memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang berkepentingan.

2. Memberikan hak yang didahulukan (freferen) kepada penerima fidusia

terhadap kreditur yang lain. Ini disebabkan jaminan fidusia memberikan hak

kepada penerima fidusia untuk tetap menguasai bendanya yang menjadi objek

jaminan fidusia berdasarkan kepercayaan.41

Keberadaan organisasi badan-badan usaha koperasi berkaitan erat dengan

dengan sistem perekonomian yang berlaku di suatu Negara, oleh karena itu hal

yang paling penting dan mendasar yang harus dipahami terlebih dahulu oleh orang

yang hendak mempelajari hukum koperasi adalah pengetahuan dasar tentang

ideology, paham, dan sistem perekonomian yang dianut oleh Negara tersebut.42

Berdasarkan keterangan dari Bapak I Made Kastana (Ketua Koperasi

Serba Usaha Artha Asih Sejahtera), tidak mendaftarkan jaminan yang digunakan

sebagai jaminan pinjaman di Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera

41
H. Salim. H.S, loc.cit,
42
Andjar Pachta,W, dkk. 2005, op.cit, h. 1.
58

dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :

1. Faktor ekonomi yang menjadi salah satu faktor tidak didaftarkanya jaminan

benda dengan jaminan fidusia oleh Koperasi, hal itu dikarenakan masyarakat

yang sebagai debitur rata-rata dari golongan masyarakat yang keadaan

ekonominya menengah kebawah. Hal tersebut menyebabkan koperasi ingin

meminimalisasikan biaya yang dikeluarkan dalam proses pemberian pinjaman

kepada debitur (nasabah), sebab pinjaman yang diberikan oleh koperasi tidak

begitu besar atau relatif kecil.

2. Faktor kekeluargaan yang menyebabkan tidak didaftarkannya jaminan fidusia

oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera, dimana koperasi menganut

asas kekeluargaan, dimana seluruh anggota koperasi merupakan suatu

keluarga yang saling percaya, saling bahu membahu dalam memajukan suatu

koperasi. Ketika terjadi pinjaman bermasalah dengan adanya rasa

kekeluargaan maka anggota koperasi yang sebagai debitur dengan sukarela

melepasakan objek jaminannya kepada Koperasi sebagai kreditur. (wawancara

pada tanggal 3 Mei 2017)

Dengan demikian, faktor-faktor yang menyebabkan Koperasi Serba Usaha

Artha Asih Sejahtera tidak mendaftarkan jaminan dengan jaminan fidusia adalah

karena adanya faktor ekonomi (biaya), dan faktor kekeluargaan.

4.3 Upaya-Upaya yang Ditempuh Oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera Apabila Debitur Wanprestasi

Dalam hubungan hutang-piutang, di mana ada kewajiban berprestasi dari

debitur dan hak atas prestasi dari kreditur, hubungan hukum akan lancar
59

terlaksana jika masing-masing pihak memenuhi kewajibannya. Namun dalam

hubungan hutang- piutang yang sudah dapat ditagih (opeisbaar), jika debitur tidak

memenuhi prestasi secara sukarela, kreditur mempunyai hak untuk menuntut

pemenuhan piutangnya (hak verhaal; hak eksekusi) terhadap harta kekayaan

debitur yang dipakai sebagai jaminan.43

Berdasarkan Pasal 1238 KUH Perdata, debitur dalam keadaan lalai dan

karenanya wanprestasi, apabila telah disomasi (ditegur), tetap saja tidak

memenuhi kewajibannya dengan baik atau kalau ia demi perikatannya sendiri,

harus dianggap lalai setelah lewatnya waktu yang ditentukan.

Di dalam UUJF tidak dipakai istilah wanprestasi tetapi cidera janji,

sebagaimana diatur pada Pasal 15 ayat (3) yang berbunyi, apabila debitur cidera

janji, penerima fidusia mempunyai hak menjual benda yang menjadi objek

jaminan fidusia atas kekuasaannya sendiri.

Selanjutnya pelaksanaan eksekusinya diatur dalam Pasal 19 ayat (1) UUJF

yaitu apabila Debitur atau Pemberi Fidusia cidera janji, eksekusi terhadap benda

yang menjadi objek jaminan fidusia dapat dilakukan dengan cara:

1. Pelaksanaan title eksekutorial oleh Penerima Fidusia;

2. Penjualan benda yang menjadi objek jaminan fidusia atas kekuasaan Penerima

Fidusia sendiri melalui pelelangan umum serta mengambil pelunasan

piutangnya dari hasil penjualan;

3. Penjualan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan Pemberi

dan Penerima Fidusia kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan

43
Sri Soedewi Masjchon Sofwan, Beberapa Pembuatan Usulan Penelitian, Sebuah
Panduan Dasar, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1980, hal. 31.
60

diumumkan sedikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang

bersangkutan.

Dalam prakteknya, sungguh pun tidak disebutkan dalam UUJF, tetapi

tentunya pihak kreditur dapat menempuh prosedur eksekusi biasa lewat gugatan

biasa ke pengadilan.44 Wanprestasi merupakan suatu keadaan dimana debitor

tidak memenuhi janjinya atau tidak memenuhi sebagaimana mestinya dan

kesemuanya itu dapat dipersalahkan kepadanya.45 Perkataan wanprestasi berasal

dari bahasa Belanda, yang berarti prestasi buruk. Debitur tidak melaksanakan

yang dijanjikannya, atau lalai dan melanggar perjanjian maka ia telah melakukan

wanprestasi. Wanprestasi (kelalaian atau kealpaan) seorang debitur, bentuknya

berupa :

- Tidak melakukan apa yang disanggupi untuk dilakukannya;

- Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan;

- Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat;

- Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.46

Surat perintah adalah suatu peringatan resmi oleh seorang Jurusita

Pengadilan. Sedangkan perkataan akta sejenis itu sebenarnya oleh undang-undang

dimaksudkan suatu peringatan tertulis. Sekarang sudah lazim ditafsirkan sebagai

suatu peringatan atau teguran yang juga bisa dilakukan secara lisan, dengan dasar

cukup tegas menyatakan desakan si berpiutang supaya prestasi dilakukan dengan

seketika atau dalam waktu yang singkat. Hanyalah tentu saja sebaiknya dilakukan

secara tertulis, dan seyogyanya dengan surat tercatat, agar nati di muka Hakim

44
Munir Fuady, op. cit., hal. 62.
45
H. Salim. H.S, op.cit, h. 98.
46
Soebekti,1998, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta, h. 45
61

tidak mudah dipungkiri oleh si berutang. Apabila seorang debitor sudah

diperingatkan atau sudah dengan tegas ditagih janjinya, maka jika ia tetap tidak

melakukan prestasinya, ia berada dalam keadaan lalai atau alpa.47

Wanprestasi dapat terjadi dengan dua cara, yaitu sebagai berikut :

a. Pemberitahuan atau somasi yaitu apabila perjanjian tidak menentukan waktu

tertentu kapan seseorang dinyatakan wanprestasi atau perjanjian tidak

menentukan batas waktu tertentu yang dijadikan patokan tentang

wanprestasinya debitur, harus ada pemberitahuan dulu kepada debitur

tersebut tentang kelalaiannya atau wanprestasinya. Jadi pada intinya ada

pemberitahuan, walaupun dalam Pasal 1238 BW ( yang dimaksud dengan

kitab Undang-Undang Hukum Perdata) tersebut dikatakan surat perintah atau

akta sejenis. Namun, yang paling penting ada peringatan atau pemberitahuan

kepada debitur agar dirinya mengetahui bahwa dirinya dalam keadaan

wanprestasi.

b. Sesuai dengan perjanjian, yaitu jika dalam perjanjian itu ditentukan jangka

waktu pemenuhan perjanjian dan debitur tidak memenuhi pada jangka waktu

tersebut, ia telah wanprestasi.48

Dalam prakteknya surat pemberitahuan kreditur kepada debitur dimana

kreditur itu menyatakan pada waktu kapan ia menghendaki agar supaya

piutangnya dipenuhi disebut Somasi.49 Apabila jangka waktu dalam somasi itu

telah terlampaui tanpa prestasi, maka saat itulah debitur melakukan wanprestasi.

Jadi wanprestasi tidak timbul secara otomatis.

47
Soebekti, op.cit. h. 46.
48
Ahmadi Miru dan Saka Pati, op.cit, h.9.
49
R Soeroso, op.cit, h. 28.
62

Dalam kenyataannya tidak semua pinjaman yang telah diberikan dapat

berjalan lancar, sebagian ada yang kurang lancar dan sebagian menuju kemacetan.

Keadaan pembayaran pokok dan bunga pinjaman oleh nasabah, terlihat pada tata

usaha koperasi dan hal ini merupakan kolektibilitas dari pinjaman. Kolektibilitas

adalah suatu pembayaran pokok atau bunga pinjaman oleh nasabah sebagaimana

terlihat tata usaha bank berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia

Nomor 32/268/KEP/DIR tanggal 27 Pebruari 1998, maka kredit dapat dibedakan

menjadi :

1. Kredit lancar

Kredit lancar yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan

pembayaran bunganya tepat waktu, perkembangan rekening baik dan tidak

ada tunggakan serta sesuai dengan persyaratan kredit. Kredit lancar

mempunyai kriteria sebagai berikut:

- Pembayaran angsuran pokok dan bunga tepat waktu;

- Meiliki mutasi rekening yang aktif;

- Bagian dari krredit yang dijamin dengan uang tunai.

2. Kredit kurang lancar

Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman atau pembayaran bunganya

terdapat tunggakan telah melampaui 90 hari sampai 180 hari hari dari waktu

yang telah disepakati. Kredit kurang lancar mempunyai kriteria sebagai

berikut :

- Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah melampaui 90

hari;
63

- Frekuensi mutasi rendah;

- Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang telah dijanjikan lebih dari 90

hari;

- Terjadi mutasi masalah keuangan yang dihadapi debitur.

- Dokumentasi pinjaman lemah.

3. Kredit diragukan

Yaitu kredit pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya

terdapat tunggakan yang telah melampaui 180 hari sampai 270 hari dari

waktu yang disepakati. Kredit diragukan memiliki kriteria sebagai berikut :

- Terdapat tunggakan angsuran pokok atau bunga yang telah melampaui

180 hari;

- Terjadinya wanprestasi lebih dari 180 hari;

- Terjadi kapitalisasi bunga;

- Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian maupun pengikat

jaminan.

4. Kredit macet

Yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya

terdapat tunggakan telah melampui 270 hari. Kredit macet mempunyai

kriteria sebagai berikut :

- Terdapat tunggakan angsuran pokok yang telah melampui 270 hari;

- Kerugian operasional dituntut dengan pinjaman baru;


64

- Jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar, baik dari segi hukum

maupun segi kondisi pasar.50

Berdasarkan keterangan dari Bapak I Made Kastana (Ketua Koperasi Serba

Usaha Artha Asih Sejahtera) menerangkan bahwa, debitur akan dikatakan

wanprestasi dalam hal dimana debitur tidak melakukan atau melasanakan

kewajibannya untuk membayar angsuran pokok dan bunga pinjaman perbulannya.

Lebih lanjut keterangan dari Bapak I Made Kastana (Ketua Koperasi Artha

Asih Sejahtera) menerangkan bahwa. Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera

akan melakukan, pengambilalihan atau pencairan objek jaminan (khususnya objek

jaminan benda bergerak berupa motor atau mobil) secara dibawah tangan, serta

pelelangan terhadap objek jaminan apabila Surat Peringatan I dan surat peringatan

II tidak dipatuhi oleh debitur maka akan dilakukan penjualan dengan

menggunakan Surat Kuasa Menjual. Surat Kuasa Menjual adalah perjanjian antara

pihak pemberi kuasa (debitur) kepada penerima kuasa (kreditur) untuk

melaksanakan penjualan yang merupakan satu kesatuan dengan perjanjian

pinjaman yang tidak dapat dipisahkan, dengan cara menjual objek jaminan secara

langsung.

Hasil penjualan setelah dikurangi biaya-biaya untuk melaksanakan

penjualan tersebut, menggunakan sisanya untuk membayar utang debitur kepada

Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera, dan apabila ada kelebihan maka

50
Hermansyah, op.cit, h. 67.
65

Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera akan menyerahkan atau

mengembalikan kelebihan tersebut kepada debitur. Hal tersebut sesuai dengan apa

yang tertuang di dalam Perjanjian Pinjaman yang telah disepakati antara kreditur

dan debitur (wawancara pada tanggal 3 Mei 2017).


66

BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka dapat ditarik simpulan, sebagai

berikut :

1. Implementasi pembebanan benda jaminan dengan jaminan fidusia pada

Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera, pada umumnya tidak didaftarkan

dan bahkan pengikatannya tidak dilakukan di notaris, tetapi hanya dengan

penyerahan dokumen kepemilikan kendaraan bemotor yang berupa Bukti

Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB), yang akan disimpan oleh

Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera yang akan dikembalikan saat

pinjaman dilunasi oleh debitur.

2. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam implementasi pembebanan jaminan

fidusia pada Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera, bahwa jaminan

fidusia yang tidak didaftarkan dipengaruhi oleh adanya faktor ekonomi

(biaya), dan faktor kekeluargaan. Faktor-faktor tersebut yang berpengaruh

tidak didaftarkannya jaminan fidusia oleh Koperasi Serba Usaha Artha Asih

Sejahtera.

5.2 Saran

1. Kepada pihak Koperasi agar dalam implementasi pembebanan benda jaminan

khususnya benda bergerak yang diikat dengan jaminan fidusia, dibuat dengan

akta otentik dihadapan notaris agar lebih menjamin kepastian hukum bagi para

pihak.

66
67

2. Hendaknya dalam pengikatan jaminan fidusia dicantumkan hak dan kewajiban

para pihak secara jelas dan akan lebih baik apabila didaftarkan pada Kantor

Pendaftaran Fidusia dengan tujuan untuk memberikan kepastian hukum bagi

para pihak dan memberikan hak yang didahulukan (preferen) kepada penerima

fidusia terhadap kreditur yang lain.


68

DAFTAR PUSTAKA

a. Buku

Abdulkadir Muhammad, 2004, Hukum Dan Penelitian Hukum, PT. Citra Aditya
Bakti, Bandung.

Ahmadi Miru, Sakka Pat, 2008, Hukum Perikatan, Penjelasan Makna Pasal
1233 sampai 1456 BW, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Andjar Pachta W., Myra Rosana, Nadia Maulisa Banemay, 2005, Hukum
Koperasi Indoenesia Pemahaman, Regulasi, Pendirian, dan Modal Usaha,
Kencana, Jakarta.

Asyhadie Zaeni, 2005, Hukum Bisnis Prinsip dan Pelaksanaannya di Indonesia,


PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Bahsan.M, 2007, Hukum Jaminan Dan Jaminan Kredit Perbankan Indonesia, Pt.
Raja Grafindo Persada.

Daeng Naja, 2005, Hukum Kredit dan Bank Garansiihe Hand Book, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung.

Djumhana Muhamad,2006, Hukum Perbankan di Indonesia, PT. Citra Aditya


Bakti, Bandung.

Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, 2000, Jaminan Fidusia, PT. Raja Grafindo
Persada, Jakarta.

Hermansyah, 2005, Hukum Perbankan Nasional, PT. Kencana Media Group,


Jakarta.

Kansil. C.S.T, 1987, Hukum Perusahaan Indonesia, PT. Pradnya Paramita,


Jakarta.

Kasmir, 2002, Bank & Lembaga Keuangan Lainnya, Edisi Keenam, PT. Raja
Grafindo Persada.

Munir Fuady, 2014, Konsep Hukum Perdata, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.

Oka Setiawan I Ketut, 2016, Hukum Perikatan, PT. Sinar Grafika, Jakarta.

Peter Mahmud Marzuki, 2005, Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media


Group, Jakarta.

68
69

Rachmadi Usman, 2009, Hukum Jaminan Keperdataan, Sinar Grafika, Jakarta.

Salim HS, 2014, Perkembangan Hukum Jaminan Di Indonesia, PT Raja Grafindo,


Jakarta

Soebekti.R., 1998, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta.

Soeroso.R, 2000, Penghantar Ilmu Hukum, Sinar Grafika, Jakarta.

_________, 2011, Perjanjian Dibawah Tangan Pedoman Praktis Pembuatan dan


Aplikasi Hukum, PT. Sinar Grafika, Jakarta.

Syukuri Albani Nasution, Muhammad et. al,.2015, Ilmu Sosial Budaya Dasar,
PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta

Untung Budi, 2005, Hukum Koperasi Dan Peran Notaris Indonesia, ANDI,
Yogyakarta.

Perundang-Undangan

Indonesia, Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, B.W, Burgerlijk Wetboek diterjemahkan


oleh Soedaryo Soimin

Indonesia, Undang-Undang Tentang Perkoperasian, Undang-Undang Nomor 25


Tahun 1992, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor
166, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3502

Indonesia, Undang-Undang Tentang Jaminan Fidusia, Undang-Undang Nomor 42


Tahun 1999, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor
168, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3889
70

DAFTAR RESPONDEN

1. Nama : I Made Kastana

Umur : 45 tahun

Jabatan : Ketua Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera

Pendidikan : S1

Alamat : Br. Sakih Guwang, Kec. Sukawati

2. Nama : Ni Putu Lisnawati

Umur : 31 tahun

Jabatan : Anggota Koperasi Serba Usaha Artha Asih Sejahtera

Pendidikan : D1

Alamat : Br. Buluh Guwang, Kec. Sukawati


71

DAFTAR INFORMAN

1. Nama : I Kadek D. Adnyana

Umur : 40 tahun

Jabatan : Staf Kantor Wilayah Bagian Hukum Dan Ham

Pendidikan : S1