Anda di halaman 1dari 3

Bernyanyi : Gaduh atau Khidmat?

Siapa yang kalau menonton suatu pertandingan olah raga tidak bersorak-
sorak? Apalagi kalau yang menang adalah atlet (tim) yang dijagokan. Masakan ada
penggila bola menonton pertandingan bola dengan sikap tenang dan khidmat?? Kalau
anda penggemar bola fanatik coba saja menonton pertandingan tim sepak bola favorit
anda dengan sikap tenang, penuh khidmat.
Ketika timnya andalan mampu mencetak gol pasti dengan serta merta si
penonton (supporter) akan bersorak-sorai, akan berteriak kegirangan, sambil
menyanyikan yel-yel mungkin. Si penonton bersorak-sorai dengan girang, emosi yang
meluap-luap dipicu setelah melihat aksi permainan yang tidak mengecewakan
menurut selera penonton. Ribuan sanjungan untuk para atlet jika mereka menang,
tetapi ribuan makian jika kalah bahkan tak terima dengan kekalahan supporter fanatik
akan demo dengan anarkis. Begitulah cara pandang kebanyakan orang kita (Indonesia)
kekalahan dipandang sebagai kegagalan yang diharamkan, padahal mana ada
pertandingan tanpa menang-kalah.
Mungkin demikianlah juga gambaran perilaku kekristenan. Kalau kita anggap
Allah mengecewakan, ribuan keluhan kita lontarkan, tetapi kalau kita anggap Allah
tidak mengecewakan lidah kita bersorak-sorai dengan sukacita seperti supporter bola
fanatik. Supporter yang fanatik bersorak-sorai dengan emosi yang meluap-luap karena
pemain jagoannya berhasil menunjukkan aksi yang memukau. Demikian juga
mungkin kita suka berekspresi di dalam ibadah yang penuh sorak-sorai. Namun
apakah demikian cara pemazmur bersorak-sorai untuk mengungkapkan sukacitanya
terhadap Tuhan?

Arti “Sorak-sorai” Sang Pemazmur (Mazmur 66)
Bersorak-sorai (ay.1) dari kata Ibrani ruwa yang mengandung arti a joyful
shout, bersorak dengan kegembiraan. Ini berarti ruwa adalah sorak-sorai kegembiraan
yang teramat sangat yang keluar dari hati yang bersyukur. Bagaimana umat bersorak-
sorai? dengan bermazmur. Dengan menaikkan puji-pujian. Umat bersorak-sorai
dengan memperdengarkan kata-kata yang dilantunkan dalam nada-nada yang
harmoni. Umat bersorak-sorai dengan suatu nyanyian! Nyanyian yang syairnya
menceritakan tentang pekerjaan Tuhan (ay.2). Dalam nyanyiannya umat bersaksi
karena pekerjaan Allah yang dahsyat - yang luar biasa (ay.3). Kekuatan Tuhan-lah
yang telah membuat musuh Tuhan bertekuk lutut – menyerah, sudah tidak memiliki
daya untuk memberontak kepada kehendak Tuhan. (ay.4) Karena pekerjaan Allah
yang besar maka seluruh bumi sujud menyembah kepada Tuhan Allah. Seluruh bumi
itu dimulai dari kita yang berada di sini, yang setia untuk sembahyang, datang
beribadat kepada Tuhan Allah. Kita yang tidak “… menjauhkan diri dari pertemuan-
pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan beberapa orang …” (lht. Ibr 10:25). Kita
yang datang beribadah dengan puji-pujian bagi nama Allah.
Oleh karena itu nyanyian adalah komponen penting dalam ibadah, muatan
nilainya tidak lebih rendah dari pelayanan Firman. Nyanyian adalah ekspresi sorak-

fungsinya bukan untuk mempertontonkan kebolehan menyanyi melainkan sebagai pemimpin. Bersorak-sorai (ruwa) adalah bernyanyi dengan emosi yang baik. dengan sikap hormat. nyanyian koor. juga perlu memperhatikan tanda baca dan tempo sehingga kidung “mazmur” (baca: pujian) terdengar harmonis. Ungkapan hati atas kehadiran Tuhan di tengah-tengah umatNya. Seorang pakar musik gereja bernama Van Dop (alias Pandopo) berkata “Setiap nyanyian berfungsi menyentuh. Nyanyian dalam ibadah adalah sorak-sorai dalam nada-nada yang harmonis. antara dua kelompok (antiphonal).sorai sukacita iman. Kalau kebanyakan orang mengira bahwa beribadah adalah dengan bersorak-sorai dan beramai-ramai dengan emosi yang tidak terkontrol. Bukan hanya bagian pertengahan (: Pelayanan Firman) yang penting. tetapi semua yang ambil bagian punya peranan yang sama pentingnya dalam suatu ibadah. sedapat mungkin umat jangan sampai datang terlambat karena ibadah merupakan suatu rangkaian dari lagu pembukaan sampai dengan berkat. Nyanyian pembukaan merupakan ungkapan iman atas kehadiran Tuhan di tengah-tengah umat (melalui Firman yang dibawa masuk). membangun dan menguatkan. ungkapan hati atas perbuatan Tuhan bagi kita. presbiter atau pemandu lagu yang tidak boleh terlambat. kebiasaan buruk untuk memasukkan terlalu banyak nyanyian jemaat dalam . karena baik nyanyian umat. atau nyanyian dari pengisi puji-pujian mempunyai fungsi mendidik dan menggembalakan. ungkapan hati untuk memperkuat iman kita semua. sebagai cerita. sebagai doa. Kalau PF adalah penyampai Firman. Oleh karena itu mazmur dalam tradisi ibadah Bait Allah dinyanyikan khidmat dengan cara berbalasan. demikian juga pemusik (pemandu lagu dan pengiring musik) sudah harus tahu daftar lagu-lagu yang akan dinyanyikan supaya ibadah berlangsung khidmat. tetapi bukan ekspresi emosi yang meluap-luap yang sama dengan penonton bola yang fanatik. Setiap orang yang datang beribadah punya peranan untuk “bersorak-sorai” dalam nyanyian. bukan hanya PF. bukan teriakan sesuka hati kita. Nyanyian pun perlu selektif dibawakan. Dapat juga dinyanyikan dengan lebih variatif selain berbalasan (alternatim). sebagai alat proklamasi. dengan khidmat agar syair yang dinyanyikan dapat terdengar jelas dan harmonis. tapi dimulai dari nyanyian awal. maka Liturgos adalah pemimpin ibadah itu sendiri sehingga keduanya sama-sama memiliki tanggung jawab yang besar dalam suatu ibadah. Nyanyian dalam ibadah seharusnya ekspresi emosi yang terkontrol dengan baik. sebagai pengajar dan pemandu umat untuk bernyanyi. PF dalam persiapan sudah harus tahu nats Alkitab sebagai bahan renungan. Maka sedapat mungkin semua yang ambil bagian dalam ibadah. antara solois dengan umat (responsorian) atau kanon. Tuhan Yesus menunjukkan kebalikannya. Oleh karena itu gereja perdana dalam PB tetap mewarisi dan melestarikan tradisi ibadah Bait Allah yang khidmat dengan menekankan peran penting prokantor dan kantoria (juga pengisi puji-pujian). Oleh karena itu bukan hanya si pembawa firman yang lebih penting. Peran Penting Nyanyian dalam Ibadah Fungsi nyanyian merupakan suatu ungkapan pujian-pujian bagi Allah. Oleh karena itu. yaitu beribadah dalam kesunyian (lht Luk 5 : 16).

Maka yang harus jelas terdengar adalah suaranya bukan alat musiknya yang heboh. kita bernyanyi tidak dengan gaduh tetapi khidmat dan hormat kepada Sumber Keselamatan. selagi masih hidup bernyanyilah. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati” (Ef 5 : 19). Jelas bahwa musik Gereja bukanlah hiburan bagi manusia tetapi ekspresi iman kepada Tuhan Allah. sesungguhnya ketika kita bernyanyi kita sedang berkata-kata satu dengan yang lain (berdialog). Sebagaimana Alkitab bersaksi “Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN!. Ia yang bekerja menaburkan benih kasih sayang. benih keharmonisan.tata ibadah perlu ditinjau kembali… Lebih baik menyanyikan empat lagu yang lengkap dari pada delapan lagu yang dipenggal-penggal” (karena satu judul lagu punya keterkaitan antara bait satu dengan yang lainnya). diterapkan untuk bernyanyi dengan baik dan benar. Menurut ayat ini. laleo) berarti mengucapkan kata-kata secara jelas dan dimengerti. Tinggal kita yang bertugas untuk memelihara benih itu supaya bertumbuh dan membuahkan damai sejahtera siang dan malam.. Oleh karena itu gereja-gereja mainstream nampak selektif untuk mempertahankan ibadah yang khidmat. bukan suara manusia yang mengiringi alat musik.” (Maz 150 : 6) maka yang memiliki peranan penting untuk bernyanyi adalah si manusia bukan alat musiknya. Alat musik adalah pengiring. Nyanyian gereja sama pentingnya dengan Firman Tuhan. Dengan bersorak-sorai. Dalam nyanyian kita bersama-sama berharap dan bersyukur akan pekerjaan Tuhan yang dahyat. benih kepedulian di tengah-tengah Rumah Tangga kita. Yang Bernafas Yang Memuji “Aku hendak menyanyi bagi TUHAN selama aku hidup. belajar dari sang pemazmur. Paulus menulis : “dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur. “berkata-kata” (Yun lalountes. yang menjadi subyek penyanyi adalah si manusia- nya bukan alat musik. perlu dipelajari dan diaplikasikan.. juga berarti: mengajar atau menuntun. . Dengan bersorak-sorai kita bersaksi bersama- sama dengan saudara seiman. kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. aku hendak bermazmur bagi Allahku selagi aku ada” (maz 104 : 33).