Anda di halaman 1dari 29

MARKAS BESAR TENTARA NASIONAL INDONESIA

SEKOLAH STAF DAN KOMANDO

KAJIAN PERANG DARI GENERASI KE GENERASI: STRATEGI TNI DALAM


MENGHADAPI ANCAMAN TERKINI

1. Pendahuluan

a. Pergeseran generasi perang terjadi sepanjang waktu seiring dengan perubahan


lingkungan strategis dan teknologi. Perubahan generasi perang terjadi melalui usaha
yang dilakukan oleh para pelaku untuk memecahkan problem spesifik terkait dengan
pertempuran mereka melawan musuh yang jauh lebih kuat. Perang selalu berubah,
seluruh pihak yang berperang terus belajar dan beradaptasi, namun saat ini perang
berubah dengan cepat dan dengan skala yang lebih besar dibanding sebelumnya.
Perubahan tersebut tidak hanya terjadi dalam hal bagaimana perang dilakukan, namun
juga siapa yang berperang dan untuk apa mereka berperang.

b. Sifat dan karakteristik perang telah bergeser seiring dengan perkembangan


teknologi. Kemungkinan terjadinya perang konvensional antar 2 (dua) negara ditengarai
semakin kecil. Namun adanya tuntutan kepentingan kelompok telah menciptakam
perang-perang jenis baru, diantaranya perang asimetris, perang hibrida, perang proxy
dan perang cyber1.

c. Menyikapi trend ancaman terkini tersebut, maka dipandang perlu bagi TNI secara
terus-menerus mengambil langkah antisipatif untuk menghadapinya. TNI sebagai
Komponen Utama dalam sistem Pertahanan Negera, harus mampu memberdayakan
dan mengoptimalkan seluruh potensi bangsauntuk melakukan deteksi dini, lapor dini
dan cegah dini kemungkinan acaman terkini yang akan merongrong kedaulatan negara
dan mengganggu stabilitas bangsa Indonesia.

1 Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Memahami Ancaman, Menyadari Jati Diri sebagai modal membangun menuju
Indonesia emas, Puspen TNI, Jakarta, 2016, hal 21
2

2. Perang dari Generasi ke Generasi

a. Perang Generasi I (1648 - 1860)

Memiliki ciri formal, tertib, rapi, hal ini dikaitkan dengan kultur militer yang
penuh keteraturan dan membedakan antara warga sipil dan militer seperti
seragam dan pangkat. Perang dalam generasi I didominasi oleh pengerahan
kekuatan orang secara massive (massed man power), baik ditinjau dari jumlah
dan keahlian pasukan akan sangat menentukan2.
Peperangan Generasi I dimulai sejak sekitar tahun 1648 seiring dengan
peristiwa diperolehnya kedaulatan oleh Jerman sebagai sebuah negara sekaligus
mengakhiri “Perang 30 Tahun” yang terjadi antara negara-negara di kawasan
Eropa. Perang 30 tahun tersebut merupakan suatu perang yang sangat carut
marut namun pada dasarnya dilatar-belakangi oleh konflik antara kelompok
penganut Katholik dengan Protestan. Sejak peristiwa diperolehnya kedaulatan
oleh Jerman tersebut maka peperangan mulai dianggap sebagai salah satu cara
bagi suatu negara untuk mencapai kepentingannya setelah sebelumnya setiap
peperangan selalu berlatar belakang kepentingan agama. Ciri-ciri peperangan
generasi I adalah adanya penentuan medan/wilayah perang dengan batas-batas
tertentu (garis batas kiri/kanan dan depan/belakang) dan digunakannya musket
(senapan api sederhana) yang selanjutnya dikombinasikan dengan senjata tajam
seperti panah, sangkur dan lain-lain sampai pada pengembangannya menjadi
senjata mesin

Sun Tzu manyatakan strategi dan taktik hubungannya sangat dekat,


masing-masing sepakat dengan jarak, waktu dan kekuatan. Strategi dalam skala
besar sedangkan taktik dalam skala kecil.Georges Clemenceau memunculkan
konsep strategi besar yang mencakup manajemen sumber daya bangsa secara
menyeluruh dalam menyelenggarakan peperangan. Clausewitz menyatakan
bahwa perang bukan hanya sekedar tindakan politik, tetapi sebagai instrument
politik yang nyata, kelanjutan dari kebijakan yang dilaksanakan dengan sarana
lainnya. Nathan Bedford Forrest mempersyaratkan satu bahwa perlu mencapai
2
K. Mustarom, Perang Generasi Keempat(4GW) Mengubah Generasi Perang, Lembaga Kajian Syamina, Jakarta, 2014
3

posisi strategis paling awal dan sebanyak-banyaknya.Count Helmuth von Moltke


menyatakan bahwa seorang jendral harus mengambil tindakan yang tepat di
bawah tekanan. Mahan menjelaskan bagaimana menggunakan kekuatan laut
untuk memblokade garis perhubungan laut secara efektif.Niccolo Machiavelli
sepakat dengan hubungan antara persoalan sipil dan militer dan formasi strategi
besar. Gustavus Adolphus memperlihatkan kemajuan strategi operasi yang
menuntun pada kemenangan dalam daerah kekaisaran Romawi Suci.Frederick
Agung menerapkan strategi pengurasan untuk menahan lawan dan menghemat
kekuatan. Diserang dari segala penjuru memanfaatkan posisi sentral yang
memungkinkan menggerakkan pasukan sepanjang garis dalam dan
mengkonsentrasikan melawan satu lawan dalam satu waktu. Jenghis Khan
menyiapkan kesuksesan didasarkan manuver dan teror. Nilai serbuan
strategisnya adalah psikologi penduduk musuh. Napoleon I mengejar strategi
penghancuran yang efektif, mengambil keputusan dalam pertempuran dengan
menghancurkan sasaran tunggal lawan.Antoine-Henri Jomini menyetujui strategi
operasional, perencanaan dan intelijen, penyelenggaraan kampanye dan
kepemimpinan seorang jendral.

Figure 1. Linear First Generation Battlefield

b. Perang Generasi II
4

Perang dalam generasi ini mengedepankan daya tembak (massed


firepower) yang sebagian besar memanfaatkan tembakan meriam tidak langsung,
metode ini dikembangkan oleh tentara Perancis pada Perang dunia I.Ciri dari
generasi perang ini adalah daya tembak yang terkendali secara terpusat,
terperinci dan teratur bagi infantri, tank dan artileri dimana komandan sangat
berperan. Doktrin yang berkembang di generasi perang kedua ini adalah “The
artilery conquers, the cavalry as the attackers and the infantry occupies”. Motto
yang berkembang pada masa generasi perang pertama dan kedua adalah “close
and destroy”.

Robert E. Lee, Ulysses S. Grant dan William Tecumseh Sherman


dipengaruhi oleh pemikiran Napoleon, dalam menghadapi kemajuan teknologi
yang memungkinkan pergerakan cepat pasukan yang besar. Helmuth von Moltke
mengeksploitasi rel kereta api dan jalan raya untuk manuver, memanfaatkan
telegraf untuk mengendalikan pasukan besar, peningkatan untuk mendelegasikan
pengendalian kepada para komandan bawahan.Alfred von Schlieffen
menganjurkan strategi penghancuran melalui perang pada dua front melawan
musuh yang unggul secara jumlah. Strategi yang dirumuskan adalah Schlieffen
Plan, bertahan di timur sementara memusatkan untuk suatu kemenangan
menentukan di barat, setelah itu melaksanakan ofensif di timur.Hans Delbrãck
mengembangkan konsep peperangan terbatas Clausewitz sehingga
menghasilkan teori “strategi pengurasan”. Teorinya menentang pemikiran militer
populer waktu itu, segera memperlihatkan kekurangan yang tak terpikirkan dari
strategi penghancuran. Alfred Thayer Mahan, membawa pembaharuan mazhab
strategi AL. Dipengaruhi prinsip-prinsip strategi jomini, bahwa pada saat perang,
dimana strategi ekonomi menjadi sepenting strategi militer, pengendalian laut
menjamin kekuatan untuk mengendalikan perdagangan dan kebutuhan sumber
daya untuk menghadapi perang.

Pemikiran ofensif yang menjadi mode sejak tahun 1870, senapan mesin
memperlihatkan kemampuan defensifnya.Bertemu jalan buntu dan semua
kemampuan manuver secara strategis telah hilang, pihak yang berperang
5

mengambil strategi pengurasan.Aspek strategi yang paling kontroversial adalah


perbedaan antara titik pandang Barat dan Timur, semua upaya harus diarahkan
melawan Jerman. Istilah “knocking away the props” atau merobohkan tiang
digunakan, konsekwensi yang tidak menguntungkan bahwa semua sekutu
Jerman yang dipasang di selatan lebih dari sekali menyelamatkan dari bencana
atau membuat mampu menangani sendiri atau membuat peningkatan yang
substansial, melalui perbekalan, persenjataan dan penasihat militer.Jerman
memutuskan suatu pertempuran penghancuran yang sempurna melawan Rusia
pada Pertempuran Tannenberg (1914). Inggris dan Perancis menggabungkan
kekuatan AL dan pendaratan amfibi, dalam upaya membantu sekutunya Rusia
dan menjatuhkan kekaisaran Ottoman. Kampanye Palestina didominasi oleh
kavaleri yang tumbuh subur di daerah tanah lapang, Inggris memperoleh dua
kemenangan penerobosan di Gaza (1917) dan Megiddo (1918). Kolonel T.E
Lawrence dan perwira Inggris lainnya memanfaatkan pasukan liar Arab pada
kampanye gerilya melawan bangsa Ottoman, menggunakan strategi dan taktik
yang berkembang selama Perang Boer.Inggris selalu mengandalkan AL yang
kuat dan pasukan regular AD yang kecil, yang dipaksa untuk melakukan ekspansi
pasukan secara cepat.Perwira staf umum mampu menangani pasukan secara
besar-besaran, berlimpahnya kemampuan industri Inggris untuk melengkapi
persenjataan yang dibutuhkan dan mencukupi amunisi yang tinggi
kualitasnya.Kemajuan teknologi mempunyai pengaruh sangat besar pada
strategi, pengintaiai udara, teknik artileri, gas beracun, mobil dan tank (hingga
yang paling akhir), telepon dan radio telegrafi.Strategi militer diarahkan melalui
strategi besar dari koalisi bangsa-bangsa di satu pihak dan kekuatan sentral di
pihak lainnya. Rakyat dan perekonomian dimobilisasi untuk perang total,
menyerang perekonomian musuh termasuk penggunaan blokade laut Inggris,
Jerman menggelar peperangan kapal selam melawan kapal-kapal
dagang.Jerman memimpin kekuatan sentral, meskipun otoritas berkurang dan
garis komando menjadi bingung pada akhir perang. Serangan Maret,
dimaksudkan untuk menimbulkan keretakan antara pasukan Perancis dan
Inggris.Militer Jerman dilelahkan oleh upaya ofensif Maret dan keputusasaan
disebabkan kelalaiannya, kalah secara serius selama pertempuran Amiens, garis
belakang ikut memberontak, kehabisan makanan dan kehancuran
6

ekonomi.Tentara-tentara terbaik Jerman telah gugur dan sisanya berada di


bawah tekanan berkelanjutan pada semua Front Barat, konsekwensi dari
sebagian besar bantuan perkuatan pasukan Amerika yang segar (Jerman tidak
mampu menandinginya), hasil industri menggantikan pasukan yang melemah
dengan daya tembak.Peran tank sebagai senjata kemenangan, keterbatasannya
dibebankan melalui keterbatasan teknologi mesin kontemporer yang lambat,
mudah diserang disebabkan ukuran dan kekakuannya.

Figure 2. Linear Second Generation Battlefield with Indirect Fires

c. Perang Generasi III

Merupakan produk Perang Dunia I yang dikembangkan oleh Jerman pada


Perang Dunia II dikenal dengan ‘blitzkrieg’ atau perang dengan manuver,
didasarkan atas daya tembak dan menghabiskan tenaga lawan. Ciri dari perang
dalam generasi ini adalah mengutamakan kecepatan, spontanitas, kekuatan
mental serta fisik prajurit. Ketertiban menentukan hasil yang akan dicapai, tetapi
tidak menentukan cara. Inisiatif lebih penting daripada ketaatan, selanjutnya
desentralisasi dan inisiatif yang berasal dari perang generasi ketiga
memunculkan generasi baru dalam perang.
7

Pesawat udara dan tank, menjadi pokok bahasan kajian strategi. Pelopor
ahli teori kekuatan udara, jendral Italia Giulio Douhet meyakini bahwa perang
masa depan akan menang atau kalah di udara. AU akan membawa ofensif, peran
pasukan darat hanya defensif. Jendral Inggris J.F.C. Fuller, arsitek pertama
peperangan tank yang hebat di Cambrai dan rekan sejamannya, B.H. Liddell
Hart, merupakan penganjur paling terkemuka mekanisasi dan motorisasi AD
Inggris. Kelompok kajian Jerman yang disiapkan Von Seekt untuk 57 area
strategi dan taktik yang dipelajari dari PD I dan mengadaptasi strategi untuk
menghindari kebuntuan dan kekalahan.
Nilai kejut strategis dari mobilitas didapat melalui motorisasi
pasukan.Pasukan Jerman memperlihatkan lebih jelas kebutuhan untuk membuat
semua kecabangan AD segesit mungkin untuk memaksimalkan strategi dan
memulihkan prinsip-prinsip manuver dan serangan strategis.AD Inggris hanya
satu-satunya yang dimekanisasi secara murni pada permulaan PD II, pasukan
Jerman masih mengandalkan penarik kuda untuk proporsi artilerinya.Jendral
Jerman Heinz Guderian menggabungkan gagasan Fuller dan Liddell Hart untuk
melipatgandakan efek serangan kilat pembuka awal, melawan Polandia pada
tahun 1939 dan Perancis pada tahun 1940, mengejutkan dengan gemilang dan
melimpah cepat melalui doktrin senjata gabungan mobil dan Korps Panzer
Guderian.Perubahan teknologi mempunyai efek yang hebat pada strategi, tetapi
pengaruhnya kecil pada kepemimpinan. Salah satu kunci Jerman yang lebih
memungkinkan dalam peperangan mobil adalan penggunaan radio yang
ditempatkan di setiap tank.Sejumlah personel dikendalikan secara efektif oleh
seorang perwira, peningkatan ukuran pasukan diarahkan pada peningkatan
jumlah perwira.

Masa Perang Dunia II, dipimpin intelijen Inggris menggunakan dekripto


transmisi Jerman, sekutu mengembangkan dan menyebarkan tipu muslihat yang
pintar, pengelabuan strategis, merancang untuk menyesatkan para perencana
negara poros sehingga menghasilkan tindakan yang tidak efektif.Churchill,
Roosevelt, Stalin dan kepala negara lainnya bertemu pada beberapa konferensi
untuk memprioritaskan strategi.Pasukan Jerman menggunakan serangan kilat
yang dinamakan “Perang Kilat”, menggunakan kombinasi tank didukung secara
8

lebih dekat oleh artileri dan pembom penyusup untuk memukul lubang pada garis
musuh.Untuk melawan musuh secara efektif disiapkan perang defensif yang
dipusatkan pada suatu garis tunggal pelibatan.Pertempuran Perancis
mempersyaratkan pasukan penyerang dan jumlah amunisi yang sangat besar
melawan musuh yang telah dipersiapkan sebaik-baiknya dengan pengintaian
yang baik.Strategi AL diterapkan pada tank di front perang Afrika Utara. Rommel
mengerahkan divisi panzer di gurun Cyrenaican mirip seperti kapal tempur.
Efektifitas peperangan amfibi, pada pertempuran Normandia, Iwo Jima dan
Okinawa. Pendaratan pantai pasukan infantri secara besar-besaran digunakan
untuk efek yang hebat dalam merebut dan mempertahankan posisi kunci, diberi
bantuan laut yang dan bombardemen lepas pantai.

Masa Perang Dingin, adanya dominasi ancaman penghancuran dunia


secara total menggunakan senjata nuklir, kebijakan yang dikenal sebagai
mutually assured destruction atau kehancuran satu sama lain secara
pasti.Serangan tidak saling berbalasan antara dua rival utama, AS dan US
merupakan pertarungan lewat perwakilan-perwakilan.Aturan yang tetap bahwa
tentara US dan AS tidak dapat saling bertempur dengan jelas satu dengan yang
lainnya.Perbedaan antara taktik, strategi dan strategi besar mulai kabur,
komando dan teknologi komunikasi diperbaiki ke tingkat yang lebih
besar.Angkatan bersenjata dunia ketiga dikendalikan oleh strategi besar, strategi
dan taktik lebih lanjut dua negara adidaya.Dean Acheson dan George C. Marshall
mengakui kunci kemenangan adalah kehancuran ekonomi US, yang mengadops
postur defensif. Berakhirnya PD II, AS dan AL-nya yang kuat menyadari sebagian
dunia harus dibela secara agresif dari US dan penyebaran komunisme.
Menyetujui serangan nuklir dan pembalasan. AS menegakkan kebijakan
serangan pertama terbatas. Jika Soviet menyerang Front Barat, AS akan
menghentikannya dengan senjata nuklir taktis. US merespons dengan
mengadops kebijakan tidak menggunakan yang pertama, membalas secara
besar-besaran.Jika Pakta Warsawa menyerang dengan senjata konvensional,
NATO akan menggunakan senjata nuklir (nukes) taktis. US merespons dengan
serangan nuklir secara penuh, yang mirip dengan AS.
9

Masa Pasca perang dingin, semakin meningkatnya dalam mengandalkan


keunggulan teknologi untuk memperkecil korban dan memperbaiki
efisiensi.Lompatan kwantum teknologi melalui Revolusi Digital merupakan inti
dari strategi ini.Recovery, restrukturisasi dan intensifikasi kekuatan nasional
melalui upaya peningkatan di bidang teknologi maupun strategi peperangan
untuk menghadapi ancaman yang tidak menentu dan penuh
ketidakpastian.Kecenderungan berbagai bentuk perlombaan persenjataan
diantara negara-negara adidaya dalam pengembangan senjata pemusnah
massal, (Weapon Mass Destruction) sebagai kekuatan deterrence yang sangat
ampuh.

Figure 3. Non-Linear Third Generation Battlefield ofManeuver War

4. Perang Generasi IV

Dalam generasi ini terjadi perubahan radikal terhadap norma dalam perang.
Perjanjian Westphalia dinafikkan, kembali ke budaya perang masa lalu dimana
yang terlibat konflik bukan negara melainkan keluarga, suku, penganut agama
dan dunia usaha yang menggunakan segala cara untuk mencapai tujuan. Dalam
generasi ini muncul istilah perang asimetris (asymmetric warfare) yang mulai
10

dikenal dalam perang Franco-Spanish tahun 1823, ditandai dengan semakin


kaburnya batas-batas norma perang. Ciri menonjol perang dalam generasi ini
adalah melibatkan dua aktor atau lebih dengan kekuatan yang tidak seimbang
dan mencakup spektrum perang yang luas. Karakter lainnya adalah perang
dalam generasi ini bersifat transnational, tidak mengenal medan perang yang
pasti, tidak membedakan sipil dan militer, tidak mengenal masa perang dan
damai, serta tidak mengenal garis depan.Hammes menyatakan bahwa, “Perang
generasi keempat menggunakan seluruh jaringan yang tersedia—politik,
ekonomi, sosial, dan militer untuk meyakinkan para pengambil keputusan politik
musuh bahwa tujuan strategis mereka tidak bisa diraih atau terlalu mahal jika
dibandingkan dengan manfaat yang diharapkan. Satu-satunya media yang bisa
mengubah pikiran seseorang adalah informasi. Karenanya, informasi adalah
elemen kunci dalam setiap strategi Perang Generasi Keempat.

Revolution of Military Affairs, ada dua pendekatan dalam RMA yaitu


Pendekatan Kesisteman (System of the systems approach) dan Pendekatan tiga
komponen yaitu teknologi, doktrin dan organisasi (triad of techonology, doctrine
and organization).Pendekatan kesisteman (system of the systems approach)
lebih menekankan pada pemanfaatan teknologi, berpandangan bahwa RMA
terjadi akibat adanya integrasi Precission strike (serangan yang akurat),
Information warfare (peperangan informasi), Dominating maneuvers (kebebasan
untuk bermanuver) dan space warfare (peperangan ruang angkasa), semuanya
sangat membutuhkan dukungan teknologi seperti satelit, network centric warfare
serta sistem persenjataan yang handal (pesawat dan kapal selam siluman serta
rudal-rudal cerdas). Tiga komponen yang berpengaruh dalam militer yaitu
teknologi, doktrin dan organisasi, terjadi akibat adanya perubahan lingkungan
strategis yang menyebabkan teknologi memiliki pengaruh dalam hubungan atau
perilaku militer, hal ini akan berakibat adanya perubahan terhadap doktrin militer
dan struktur organisasi. Maka kehadiran RMA akan dirasakan apabila adanya
suatu perubahan yang dapat merubah karakter konflik secara dramatis pada
periode waktu yang sangat singkat. Perubahan tersebut menyebabkan terjadinya
perubahan yang ekstrim pada doktrin militer dan organisasi yang dibutuhkan.
11

Figure 4. Fourth Generation Battlefield: Non-Linear to the Extrem

3. Bentuk Ancaman Perang dari Generasi ke Generasi

Perkembangan lingkungan strategis saat ini memperlihatkan bahwa peperangan yang


terjadi didominasi oleh konflik antara aktor negara melawan aktor bukan negara. Hal demikian
berbeda dengan di masa-masa sebelumnya, ketika peperangan hanya melibatkan antar aktor
negara. Peperangan yang kini terjadi, seperti perang terhadap terorisme, oleh para ahli strategi
dan sejarawan militer diklasifikasikan sebagai peperangan generasi keempat. Peperangan
generasi keempat timbul akibat dari perubahan masyarakat internaional, seperti dalam bidang
politik, ekonomi, sosial dan teknik yang mempengaruhi sifat alamiah perang.Berdasarkan
uraian tentang perkembangan peperangan dari masa ke masa, mulai dari peperangan masa
klasik hingga masa modern saat ini, maka untuk memudahkan dalam memerumuskan langkah-
langkah antisipasi dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman yang mungkin saat ini, maka
kiranya dapat dijabarkan berbagai bentuk/jenis ancaman yang ada menurut generasi
peperangan sesuai masanya masing-masing, antara lain, sebagai berikut :

a. Bentuk dan jenis ancaman Perang Generasi I

Pada peperangan generasi pertama, yang memiliki ciri formal, tertib dan rapih,
hal ini dikaitkan dengan kultur militer yang penuh keteraturan, yaitu dibedakannya
12

antara militer dan warga sipil dalam seragam dan tanda pangkat. Adanya
dominasi oleh “massed man power, jumlah dan keahlian pasukan sangat
menentukan, contoh : perang Napoleon.

b. Bentuk dan jenis ancaman Perang Generasi II

Pada peperangan generasi kedua ditandai dengan penggunaan daya tembak


yang terkendali secara terpusat, terperinci dan teratur bagi pasukan infanteri,
peran seorang komandan sangat dominan, dengan mengedepankan daya
tembak massed fire power, dengan memanfaatkan tembakan meriam tidak
langsung, seperti yang dikembangkan pasukan Perancis pada waktu Perang
Dunia I.

c. Bentuk dan jenis ancaman Perang Generasi III

Pada peperangan generasi III merupakan kelanjutan pengembangan dari Perang


Dunia I yang dikembangkan oleh pasukan Jerman pada Perang Dunia II, dikenal
dengan blitzkrieg atau perang dengan manuver, didasarkan atas daya tembak
dan menghabisakan atau menguras tenaga lawan. Cirinya yaitu mengutamakan
kecepatan, spontanitas, kekuatanmental da fisik prajurit

d. Bentuk dan jenis ancaman Perang Generasi IV

Peperangan generasi IV pada dasarnya adalah metode baru dengan dilandaskan


pada masyarakat yang saling terhubungkan, lintas negaradan berbasisinformasi.
Peperangan ini menggunakan semua jaringan politik, ekonomi, sosial dan militer
yang tersedia untuk melakukan serangan langsung terhadap keinginan pemimpin
politik musuh. Sasarannya adalah untuk mengubah pemikiran para pembuat
kebijakan secara langsung.Filosofi dasarnya adalah keinginan politik yang lebih
kuat dapat mengalahkan kekuatan ekonomi dan militer yang lebih besar. Dengan
kata lain, peperangan generasi keempat karakteristiknya bersifat politik,
berkepanjangan (protracted) dan terhubung dalam jaringan (networked).Dalam
peperangan generasi keempat, musuh yang dihadapi bukan saja aktor bukan
13

negara, tetapi dapat pula aktor negara yang menggunakan cara-cara non
tradisional untuk mengalahkan musuh yang lebih kuat. Cara-cara non tradisional
yang dimaksud antara lain adalah ekonomi, diplomatik, cyber, mediadan lain
sebagainya.

4. Pembahasan

a. Landasan Pemikiran Teori Perang dan Strategi Militer

1) Teori-teori Perang

Ahli strategi Cina, Sun Tzu, mengatakan “Do not repeat the tactics which
have gained you one victory, but let your methods be regulated by the infinite
variety of circumstances”. Maksudnya bahwa janganlah mengulangi taktik yang
telah menambah satu kemenangan, tetapi biarlah metode yang mengatur melalui
berbagai keadaan yang tidak terbatas. Strategi dan taktik hubungannya sangat
dekat, masing-masing sepakat dengan jarak, waktu dan kekuatan. Tetapi strategi
dalam skala besar sedangkan taktik dalam skala kecil. Pada mulanya strategi
difahami untuk menguasai awal pertempuran sementara taktik digunakan untuk
mengendalikan penentuannya. Dalam perang dunia pada abad 20, perbedaan
antara manuver dan pertempuran, strategi dan taktik semakin kabur. Taktik telah
mewenangkan suatu kompi kavaleri untuk diterapkan dalam pasukan panzer.
Dalam bentuk paling murni, strategi semata-mata sepakat dengan issu-issu
militer.

2) Prinsip-prinsip Strategi Militer

Beberapa ahli strategi militer telah mencoba untuk meringkas keberhasilan


strategi dalam suatu ketentuan mendasar. Sun Tzu menetapkan 13 prinsip dalam
the Art of War-nya sementara Napoleon menjabarkan 115 maxim. Jendral Perang
Sipil Amerika Nathan Bedford Forrest hanya mempersyaratkan satu : “Get there
firstest with the mostest”, maksudnya bahwa capailah posisi strategis paling awal
dan sebanyak-banyaknya. Konsep dasar strategi pada umumnya banyak
14

menjabarkan prinsip-prinsip, antara lain ;Obyektif atau tujuan, Ofensif atau


serangan, Kooperasi atau kerjasama, Konsentrasi (massa) atau pemusatan,
Ekonomis, Manuver atau olah gerak, Pendadakan, Keamanan dan
Kesederhanaan.

Para ahli strategi menegaskan bahwa yang melekat pada prinsip-prinsip


dasar menjamin kemenangan, selama tuntutan perang lainnya tidak bisa
diprediksi, maka jendral harus fleksibel dalam merumuskan strategi. Field
Marshall Count Helmuth von Moltke menyatakan strategi sebagai sistem “ad hoc
expedients” (kebijaksanaan khusus), seorang jendral harus mengambil tindakan
sementara di bawah tekanan. Inilah yang mendasari prinsip strategi bertahan
lama tanpa cacat sebagai teknologi peperangan yang berkembang.

Strategi dan taktik harus disusun secara terus-menerus dalam merespons


kemajuan teknologi. Keberhasilan strategi dari suatu jaman cenderung
meninggalkan pengaruh yang lama, perkembangan persenjataan dan peralatan
militer telah mengubahnya menjadi usang. Perang Dunia I (PD I) dan Perang Sipil
Amerika yang meluas hebat, taktik Napoleon “offense at all costs” atau serangan
pada seluruh nilai diadu melawan kekuatan defensif dari rintangan parit, senjata
mesin dan kawat berduri. Belajar dari pengalamannya pada PD I, Perancis
memasuki Perang Dunia II (PD II) dengan doktrin defensif murni, dilambangkan
garis Maginot yang tidak dapat direbut (terkalahkan), tetapi dielakkan dengan
gemilang hanya oleh serangan kilat Jerman

b. Perang Generasi ke Generasi

Konflik yang berujung dengan peperangan memang telah mendestruksi


kehidupan manusia dan alam. Sejarah mencatat, bahwa peperangan-peperangan
yang terjadi di dunia telah mengalami pergeseran dari masa ke masa, tidak
hanya mengalami perluasan aktor, tetapi juga mengalami perubahan dari segi
tujuan, metode, bentuk pendanaan, dan sebagainya. Dewasa ini, sifat dan
karakteristik perang telah bergeser seiring dengan perkembangan teknologi.
Kemungkinan terjadinya perang konvensional antar dua negara semakin kecil.
15

Namun, adanya tuntutan kepentingan kelompok telah menciptakan perang-


perang jenis baru. Diantaranya, perang asimetris, perang hibrida, dan perang
proxy.

x. Kesimpulan

x. Saran

Karakteristik peperangan yang terjadi di dunia sesuai perkembangannya dari


masa ke masa. Sampai dengan saat ini perkembangan karakteristik peperangan
tersebut dibagi menjadi empat kelompok dikenal dengan istilah The Four Generation of
War (Empat Generasi Peperangan).

Perang Generasi I dimulai sejak sekitar tahun 1648 seiring dengan peristiwa
diperolehnya kedaulatan oleh Jerman sebagai sebuah negara sekaligus mengakhiri
“Perang 30 Tahun” yang terjadi antara negara-negara di kawasan Eropa. Perang 30
16

Tahun tersebut merupakan suatu perang yang sangat carut marut namun pada
dasarnya dilatar-belakangi oleh konflik antara kelompok penganut Katolik dengan
Protestan. Sejak peristiwa diperolehnya kedaulatan oleh Jerman tersebut maka
peperangan mulai dianggap sebagai salah satu cara bagi suatu negara untuk mencapai
kepentingannya setelah sebelumnya setiap peperangan selalu berlatar belakang
kepentingan agama. Ciri-ciri peperangan generasi I adalah adanya penentuan
medan/wilayah perang dengan batas-batas tertentu (garis batas kiri/kanan dan
depan/belakang) dan digunakannya musket(senapan api sederhana) yang selanjutnya
dikombinasikan dengan senjata tajam seperti panah, sangkur dan lain-lain sampai pada
pengembangannya menjadi senjata mesin.

Perang Generasi II muncul seiring meletusnya Perang Dunia I. Pada era


tersebut peperangan ditandai dengan penggunaan taktik yang mengkombinasikan
kemampuan bergerak dan tembakan langsung. Peperangan Generasi II juga diwarnai
dengan dimulainya penggunaan kemampuan tembakan tidak langsung, digunakannya
taktik tertentu termasuk penggunaan pakaian/seragam. Pada periode Perang Dunia I
terjadi suatu peralihan generasi perang sehingga dianggap sebagai dimulainya era
Peperangan Generasi III, yang ditandai dengan mulai digunakannya taktik inflitrasi
dengan pasukan kecil sebagai suatu cara baru dalam menghancurkan pasukan musuh
selain taktik lama yang mengerahkan pasukan besar untuk mendekati dan
menghancurkan musuh.

Perang Generasi III ditandai dengan penggunaan taktik penghancuran kekuatan


musuh dari arah belakang atau samping kedudukan musuh seperti yang dilakukan oleh
Jerman pada saat berperang melawan Inggris dan Perancis pada awal masa Perang
Dunia II. Penggunaan keunggulan pada aspek dan kecepatan bergerak inilah yang
kemudian memicu semakin berkembangnya tipe peperangan ini walaupun aspek yang
dijadikan sebagai sasarannya masih tetap yaitukekuatan militer dan sasaran musuh
yang berada lingkungan pemukiman penduduk. Seiring dengan itu berkembang pula
pelibatan kelompok insurjen atau kelompok tertentu yang bertindak bukan atas nama
negara dalam suatu peperangan disamping kekuatan militer. Adanya pelibatan kekuatan
insurjen/ kelompok tertentu inilah yang menjadi tanda dimulainya peperangan type baru.
17

Perang Generasi IV mulai dikenal sejak tahun 1989, dipicu oleh mulai
terlibatnya kelompok insurjen atau kelompok tertentu yang bertindak bukan atas nama
negara (non state actors) dalam suatu peperangan. Kelompok-kelompok tersebut
sebenarnya merupakan suatu bagian dari sebuah negara namun perjuangan mereka
memiliki tujuan yang unik yaitu merorongrong hingga meruntuhkan suatu kekuatan
negara musuh atau bahkan menjadikan negaranya sendiri sebagai sasaran.
Peperangan Generasi IV adalah peperangan dengan ciri adanya ketidak-jelasan dalam
hal batasan antara konflik ideologi, politik, ekonomi dengan perang itu sendiri bahkan
batasan antara militer (kombatan) dan penduduk sipil (non kombatan). Tipe peperangan
ini sering terjadi di suatu negara berkembang yang ditandai dengan terjadinya perang
saudara atau antara suatu negara dengan kelompok yang ingin mendirikan negara
sendiri. Peperangan generasi IV juga mulai berkembang dengan munculnya istilah
asymetrics warfare yang mendeskripsikan suatu keadaan konflik / peperangan yang
terjadi antara pihak yang sangat berbeda dalam cara-cara melakukan peperangannya.
Konflik yang terjadi bersifat kompleks, melebar dalam jangka waktu yang relatif lama.
Aksi insurjensi, terror dan gerilya merupakan salah satu bentuk taktik peperangan yang
biasanya dilancarkan oleh pihak dengan memiliki kekuatan kecil dalam melawan musuh
yang kuat dan besar. Aksi-aksi tersebut juga memanfaatkan keunggulan teknologi
informasi dan komunikasi. Manipulasi informasi dan media massa juga merupakan
salah satu strategi yang digunakan pada peperangan generasi IV ini. Perang generasi
keempat merupakan transformasi dari tiga model perang sebelumnya. Selama ini
tentara dilatih untuk melakukan perang dengan cara yang sudah using, cara berperang
dalam sebuah lingkungan yang membuat mereka mengalami disfungsi akan
menyebabkan penyia-nyiaan sumber daya dan perang yang semakin panjang. Kalaupun
kemenangan berhasil dicapai, itu pun diperoleh dengan biaya yang tidak proporsional.
Ciri utama Perang Generasi Keempat adalah penurunan loyalitas kenegaraan dan
meningkatnya loyalitas alternatif, seperti keagamaan dan kesukuan.Perang Generasi
Keempat tidak membedakan militer dan sipil. Prajurit 4GW dapat menyusup ke negara
lawan, hidup di antara masyarakatnya, dan makan dari mereka tanpa disadari kehadiran
mereka. Globalisasi sangat membantu kemampuan ini. Hubungan antar warga dunia
dan antar negara membuat penyusupan ke dalam masyarakat target menjadi lebih
mudah dan anggota masyarakat yang disusupi tidak menaruh kecurigaan.Medan perang
tidak didefinisikan. Ia bisa terjadi dalam satu negara atau wilayah atau di mana saja di
18

dunia ini. Hal ini memberikan ruang manuver yang tak terbatas. Medan perang
konvensional bergeser menuju area dimana dampak maksimal bisa diraih dengan usaha
minimal.Mungkinkah perang konvensional akan berakhir atau hilang? Jawabannya,
sudah pasti tidak. Sekali lagi, perang konvensional mutlak dalam perebutan kekuasaan
antar negara adikuasa sejak dahulu. Perang antara blok Timur dan blok Barat adalah
suatu suatu contoh perang konvensional yang abadidari dulu hingga sekarang.

Perang Generasi Terkini adalah perang modern diantaranya Perang Asimetris,


Perang Hibrida, Perang Proxy ataupun Perang Cyber, yang merupakan sebuah strategi
militer yang memadukan antara perang konvensional, perang yang tidak teratur dengan
ancaman Cyber Warfare, baik berupa serangan Nuklir, senjata Biologi dan Kimia
(Nubika), alat peledak improvisasi dan perang informasi. Dalam perang modern setelah
perang dunia kedua, persenjataan tidak hanya semakin canggih dan melibatkan
kekuatan mental dan fisik prajurit yang kuat, terdapat ketidakjelasan antara lawan dan
kawan, melibatkan lebih dari dua kubu yang terkadang tidak diketahui identitasnya.
Perang ini disebut juga dengan proxy war atau perang tidak langsung. Walaupun secara
fisik terlihat tidak ada ancaman perang pada saat ini, namun terdapat ancaman perang
hibrida karena Indonesia mempunyai beberapa potensi yang merupakan ancaman bagi
negara-negara lain. Diantara potensi tersebut adalah potensi ekonomi Indonesia,
potensi energi terbarukan yang melimpah, potensi penduduk produktif, dan kekayaan
budayanya.

Terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam perang hibrida, meliputi
berbagai bidang seperti ekonomi, militer, pemerintahan, politik, dan diplomasi. Indonesia
masih belum siap menghadapi perang hibrida karena permasalahan pada bidang
tersebut. Padahal untuk menghadapi perang ini harus direspons dengan strategi
penyerangan dan pertahanan yang merupakan gabungan dari negara dan sipil. Perang
Hibrida merupakan perpaduan antara perang konvensional dan teknologi, sehingga
perang konvensional adalah mutlak dibutuhkan dalam era perang generasi keempat ini.
Perang hibrida dapat digunakan untuk menjabarkan dinamika yang kompleks dan luwes
dari ruang pertempuran, yang menuntut tanggapan yang ulet, dan tanggapan yang
sangat tinggi tingkat adaptasi atau penyesuaian dirinya. Ada beberapa aspek yang
harus diperhatikan dalam perang hibrida, antaralain, sebagai berikut:
19

1) Pertama, musuh yang non-standar, kompleks dan cair. Musuh hibrida bisa
berupa negara atau non-negara. Misalnya, dalam kasus perang Israel-Hizbullah
dan Perang Saudara Suriah, pihak-pihak utama yang bermusuhan adalah entitas
non-negara di dalam sistem negara. Aktor-aktor non-negara ini dapat menjadi
proksi (kepanjangan tangan) dari negara tertentu, namun mereka juga memiliki
agenda-agenda tersendiri.

2) Kedua, musuh hibrida menggunakan kombinasi metode-metode


konvensional dan ireguler. Metode dan taktik itu termasuk kapabilitas
konvensional, taktik-taktik irreguler, formasi-formasi irreguler, aksi-aksi teroris,
kekerasan tanpa pandang bulu, dan aktivitas kriminal. Musuh hibrida juga
menggunakan aksi-aksi rahasia (clandestine actions) untuk menghindari atribusi
atau retribusi. Metode-metode ini digunakan secara serempak di seluruh
spektrum konflik dengan sebuah strategi terpadu (unified strategy).

3) Ketiga, musuh hibrida bersifat luwes dan mampu beradaptasi secara


cepat. Contohnya, adalah tanggapan ISIS terhadap kampanye pemboman besar-
besaran militer Amerika. ISIS dengan cepat mengurangi jumlah pos pemeriksaan
(checkpoints) dan penggunaan telepon seluler (karena sinyal telepon seluler bisa
dilacak oleh rudal Amerika). Para anggota militan ISIS juga membaur di kalangan
penduduk sipil. Dampak kerusakan (collateral damage) akibat pemboman udara
AS, yang diderita warga sipil, bahkan dapat dimanfaatkan ISIS sebagai alat
propaganda dan sarana rekrutmen anggota baru.

4) Keempat, musuh hibrida menggunakan sistem persenjataan canggih dan


teknologi-teknologi disruptif lain. Senjata-senjata ini sekarang dapat dibeli dengan
harga yang relatif murah dan terjangkau. Lebih jauh, teknologi-teknologi militer
baru lainnya dapat disesuaikan untuk penggunaan di medan tempur, seperti
teknologi jejaring seluler.

5) Kelima, penggunaan komunikasi massa dan propaganda. Pertumbuhan


jejaring komunikasi massa menawarkan alat propaganda dan rekrutmen yang
20

kuat. ISIS, misalnya, dengan piawai menggunakan berbagai media sosial untuk
mempromosikan ideologi dan agendanya. Berbagai gambar yang menunjukkan
“kehebatan” ISIS disebar melalui Youtube. Sementara pesan-pesan propaganda
kelompok bisa dibaca meluas melalui Twitter dan Facebook.

6) Keenam, perang hibrida terjadi pada tiga medan tempur yang berbeda.
Yakni, medan tempur konvensional, penduduk asli yang berada di zona konflik,
dan komunitas internasional.

Sering kali konflik muncul tanpa disadari, dan bahkan respons yang dianggap
“cepat” terbukti kemudian sudah terlambat. Banyak militer tradisional juga kurang
memiliki keluwesan untuk berganti taktik, prioritas, dan tujuan-tujuan secara konstan
atau terus-menerus. Hal yang juga baru adalah kecanggihan (sophistication) dan daya
mematikan (lethality) dari aktor-aktor non-negara. Aktor-aktor ini dipersenjatai dengan
baik, menggunakan senjata-senjata maju yang sekarang tersedia dengan harga relatif
murah. Sebuah unsur baru lain adalah kemampuan aktor-aktor non-negara untuk
bertahan dalam sistem modern.

Contoh perang hibrida adalah yang terjadi pada tahun 2014, ketika kelompok
ekstrem ISIS sebagai aktor non-negara memanfaatkan taktik-taktik hibrida untuk
melawan pasukan militer Irak. ISIS memiliki aspirasi-aspirasi transisional, menggunakan
taktik-taktik reguler dan ireguler, serta menerapkan teror sebagai bagian dari
persenjataannya dalam konflik.Perang hibrida di Irak dan Suriah adalah konflik di mana
terdapat kelompok aktor-aktor negara dan non-negara yang saling berkaitan
(interconnected), yang mengejar tujuan-tujuan yang tumpang tindih, serta sebuah
negara setempat yang lemah. Perang ini melibatkan pasukan pemerintah, kelompok-
kelompok oposisi, dan negara-negara luar.

5. Strategi TNI menghadapi Ancaman Terkini

a. Latar belakang kemungkinan ancaman bagi Indonesia saat ini ditimbulkan oleh :
21

1) Perebutan Sumber Energi, latar belakang konflik lebih disebabkan


adanya perebutan kepentingan dalam pemanfaatan sumber energi terutama
energi gas alam dan minyak bumi untuk mempertahankan kelangsungan
industrinya. Sementara itu, adanya pemanfaatan energi melalui upaya
mengeksploitasi sumber daya alam yang berlebihan mengakibatkan terjadinya
kerusakan lingkungan hidup yang berpengaruh terhadap keseimbangan alam
sehingga rawan terjadi bencana alam. Menurut sumber British Petroleum
(BP)sisa energy fosil dunia tinggal 45 tahun lagi, sedangkan sisa enetrgi fosil
Indonesia tinggal 11.8 tahun. Nergi dunia akan habis pada tahun 2056 dan
Indonesia akan pada tahun 2023 dengan asumsi bahwa kebutuhan energy tidak
mengalami peningkatan signifikan

2) Perkembangan Lingkungan strategi, Perkembangan lingkungan


strategis saat ini sangat dipengaruhi oleh interaksi yang terjadi antar negara-
negara besar seperti Amerika Serikat, Cina, Rusia, India, dan Jepang. Negara-
negara tersebut dalam mengejar dan mengamankan kepentingan nasionalnya
seringkali diwarnai dengan munculnya konflik antarnegara. Perkembangan
lingkungan strategis pada tingkat global, regional maupun nasional merupakan
imbas dari dinamika ancaman dan peluang yang patut menjadi atensi bangsa
Indonesia dalam menentukan rencana antisipatif dan preventif seperti konflik
Arab Spring, Konflik Laut China Selatan, penempatan Pangkalan Marinir AS di
Darwin dan Keberadaan Five Power Defense Arrangment (FPDA).

b. Bentuk Ancaman Terkini yang dihadapi Bangsa Indonesia

Dari latar belakang tersebut, apabila dicermati ada beberapa jenis ancaman
terkini yang dihadapi bangsa Indonesia, seperti :

1) Gerakan Separatis, residual isu lepasnya Timtim dari Indonesia, separatis


Papua dan penyelesaian MoU Helsinki dan pending mattersnya

2) Demonstrasi Massa, yang berlangsung selama ini tidak semuanya


memiliki tujuan dan permasalahan yang jelas, bahkan banya demonstran
22

membawa tuntutannya tidak masuk akal dan bersifat memaksa dan patut
dicurigai sebagai indikasi adanya proxy war yang tengah berlangsung di
Indonesia.

3) Penerapan Regulasi yang merugikan, banyaknya regulasi yang telah


disahkan oleh regulator cenderung memiliki contain kepentingan asing, dan
merugikan kepentingan bangsa sendiri terutama pihak petani, nelayan dan
pedagang kecil

4) Peredaran Narkoba, penyalahgunaan narkoba telah massive, hal ini perlu


dicurigai adanya kepentingan negara tertentu atau kelompok tertentu yang
menghendaki bangsa Indonesia hancur karena tidak memiliki kualitas sumber
daya manusia dimasa mendatang. Pasokan narkoba dari China, Malaysia,
Belanda serta beberapa negara Afrika patut dicurigai menjadi bagian proxy war
yang tengan dihadapi bangsa Indonesia

5) Bentrok antar kelompok, tren konflik sosialberupa bentrokan antar


pelajar, antar kampung dan antar kelompok masyarakat sering terjadi. Terlebih
efek adanya Pilkada langsung, mengakibatkan bentrok antar pendukung calon
tertentu yang sering berakibat jatuhnya korban jiwa dan harta benda

c. Strategi TNI menghadapi Ancaman Terkini

Pada masa sekarang ini, generasi peperangan sudah berada pada masa peperangan
generasi keempat, sehingga TNI harus selalu meningkatkan kesiapsiagaan
operasionalnya, dengan melaksanakan pembinaan dan penyiapan segala sumber daya
maupun sarana dan prasarana yang ada agar dapat menghadapi berbagai bentuk
ancaman yang mungkin timbul saat ini. Adapun langkah-langkah yang dapat ditempuh
TNI, sebagai tindakan antisipatif terhadap berbagai kemungkinan ancaman yang ada
saat ini, antara lain :

1) Melaksanakan pembinaan dan penyiapan alutsista beserta sumber daya


manusia TNI dengan mengadops pola peperangan generasi keempatuntuk
23

meningkatkan daya pukul TNI dalam rangka mengamankan kepentingan


nasional. Dengan pertimbangan bahwa peperangan generasi keempat dilihat dari
dua sisi yang berbeda. Pada satu sisi, peperangan tersebut merupakan ancaman
terhadap kepentingan nasional, pada sisi lainnya pola peperangan tersebut
diterapkan dalam strategi operasi TNI. Sejarah dunia membuktikan bahwa
kemampuan asimetrik mampu memberikan pukulan terhadap pihak yang lebih
kuat.
2) Mengembangkan kemampuan peperangan asimetris TNI, dengan tetap
mengutamakan pentingnya pembangunan kemampuan simetris. Kemampuan
asimetris dapat dipadukan dengan kemampuan simetris secara simultan dalam
penggunaannya.
3) Mempersiapkan sumber daya manusia TNI yang mampu berpikir tidak
konvensional (think out of the box) sebagai salah satu kunci dari pengembangan
kemampuan asimetris, untuk melancarkan peperangan tersebut, karena disitulah
keunggulan dari moda peperangan itu.
4) Meningkatkanketahanan dan disiplin pribadi (self dicipline), memperkuat
kepribadian dan senantiasa waspada atau peduli terhadap lingkungan. Para
generasi muda perlu menghindari narkoba, pergaulan bebas, dan bentuk-bentuk
budaya asing negatif lainnya, yang berdampak negatif karena remaja atau
generasi muda memiliki nilai strategis bagi kelangsungan hidup bangsa dan
negara.

5. Penutup

a. Kesimpulan

Perang antar negara tidak sepenuhnya bergeser dari perang konvensional


menuju perang generasi keempat. Perang konvensional justru merupakan doktrin
perang yang abadi. Penguasaan medan pertempuran dengan senjata, tentara dan
teknologi adalah bukti kekuasaan atau kedaulatan suatu negara atas negara lain
sehinggaperang darat, laut dan udara tetap mutlak terjadi sepanjang masa. Adapun
perang proxybisa saja digunakan sebagai perang siasat sebelum perang konvensional
berlangsung. Melemahkan moralitas (demoralisasi) terhadap musuh saat ini menjadi
24

hukum perang yang penting. Hampir semua perang konvensional di dunia modern saat
ini dimulai dengan kampanye demoralisasi yang berperan menyudutkan musuh. Perang
proxy tentu saja berperan besar dalam memenangkan pertempuran yang
sesungguhnya. Perang proxy juga telah menemukan momentumnya pada era modern
dan abad informasi saat ini. Terlebih hari ini, terjadi perebutan berupa sumber-sumber
daya alam yang penting seperti minyak, air, beras, hutan, emas, dan energi serta
daerah-daerah yang subur sumber daya hayatinya, telah menjadi kebutuhan semua
negara.Sehingga dapat di simpulkan bahwa ilmu dan sejarah perang konvensional
masih perlu diajarkan di lembaga pendididkan.

b. Saran

1) Perlu memahami perang generasi keempat, strategi dan penerapannya


lebih mendalam agar dapat menetukan langkah-langkah antisipatif lebih
dini.Dengan digunakannya strategi asimetris yang dipadukan dengan kekuatan
konvensional (simetris), untuk mengantisipasi upaya melemahkan suatu negara,
pola perang kombinasi dapat digunakan. Hard power dan soft power digunakan
secara cantik secara bersama, dengan kehebatan mind power di belakangnya.
2) Diperlukan upaya spesifik dan berkelanjutan dalam mengantisipasi dan
mengatasi berbagai ancaman multidimensi yang terjadi, yaltu dengan peran serta
dan keterlibatan secara aktifdan terpadu semua pemangku kepentingan (Stake
Holders).
25

1) Masa Klasik

2) Era Revolusi Industri

2) Masa Perang Dunia I

4) Masa Transisi

d. Revolution in Military Affairs (RMA)

Konflik yang berujung dengan peperangan memang telah mendestruksi kehidupan


manusia dan alam. Sejarah mencatat, bahwa peperangan-peperangan yang terjadi di dunia
telah mengalami pergeseran dari masa ke masa, tidak hanya mengalami perluasan aktor,
tetapi juga mengalami perubahan dari segi tujuan, metode, bentuk pendanaan, dan
sebagainya. Dewasa ini, sifat dan karakteristik perang telah bergeser seiring dengan
perkembangan teknologi. Kemungkinan terjadinya perang konvensional antar dua negara
semakin kecil. Namun, adanya tuntutan kepentingan kelompok telah menciptakan perang-
perang jenis baru. Diantaranya, perang asimetris, perang hibrida, dan perang proxy.

Perang asimetris adalah perang antara belligerent atau pihak-pihak berperang yang
kekuatan militernya sangat berbeda.Perang hibrida atau campuran merupakan perang yang
26

menggabungkan teknik perang konvensional, perang asimetris, dan perang informasi untuk
mendapat kemenangan atas pihak lawan. Pada saat kondisi kuat, perang konvensional
dilakukan untuk mengalahkan pihak lawan. Namun, pada saat situasi kurang menguntungkan,
cara-cara lain dilakukan untuk melemahkan pihak musuh. Sedangkan Perang proxy atau proxy
war adalah sebuah konfrontasi antardua kekuatan besar dengan menggunakan pemain
pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan mengurangi resiko
konflik langsung yang dapat mengakibatkan kehancuran fatal.Biasanya, pihak ketiga yang
bertindak sebagai pemain pengganti adalah negara kecil, namun kadang juga bisa nonstate
actors yang dapat berupa LSM, ormas, kelompok masyarakat, atau perorangan.

Perkembangan lingkungan strategis global saat ini sangat dipengaruhi oleh interaksi
yang terjadi antar negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Cina, Rusia, India, dan
Jepang. Negara-negara tersebut dalam mengejar dan mengamankan kepentingan nasionalnya
seringkali diwarnai dengan munculnya konflik antarnegara, sehingga menimbulkan ketegangan
bahkan berkembang menjadi konflik di kawasan. Latar belakang konflik lebih disebabkan
adanya perebutan kepentingan dalam pemanfaatan sumber daya alam terutama energi gas
alam dan minyak bumi untuk mempertahankan kelangsungan industrinya. Sementara itu,
adanya pemanfaatan energi melalui upaya mengeksploitasi sumber daya alam yang berlebihan
mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan hidup yang berpengaruh terhadap
keseimbangan alam sehingga rawan terjadi bencana alam.

Salah satu pendorong globalisasi adalah perkembangan teknologi informasi dan


komunikasi yang membawa dampak positif menguatnya kerja sama antarnegara dalam
mengatasi berbagai tantangan dan ancaman serta memungkinkan interaksi antarmanusia
menjadi semakin mudah dan cepat tanpa dibatasi adanya jarak dan letak geografi. Namun,
kondisi ini juga berpotensi memacu persaingan antarnegara, baik dalam dimensi ekonomi,
politik, maupun pertahanan.Adapun dampak negatifnya, menyebabkan melebarnya jurang
pemisah antara negara maju dan negara berkembang dengan adanya perbedaan kemampuan
dalam pemanfaatan teknologi yang sangat tidak seimbang. Disamping itu, ketergantungan
kehidupan manusia pada dunia maya semakin tinggi dan sekaligus menjadikan dunia maya
sebagai sumber ancaman baru (cyber threat) yang bersifat asimetris, yang memiliki sifat non
konvensional, tidak mengenal front, sangat luas dan lebih mengedepankan soft power.
27

Beberapa pengamat berpendapat bahwa, Indonesia pada jangka waktu 20 tahun


kedepan kecil sekali kemungkinan untuk menghadapi perang, akan tetapi kita tidak boleh
melupakan saat ini kita sedang menghadapi perang modern. Kita telah memasuki fase perang
asimetris atau yang lebih dikenal sebagai perang generasi keempat (Fourth Generation
Waratau 4GW). Tanpa disadari perang ini sudah memasuki wilayah negara Indonesia dan
menyerang seluruh sendi kehidupan bangsa. Hal ini dapat dilihat darikeadaan perpolitikan
Indonesia yang semakin menimbulkan gejala-gejala perpecahan antar komponen bangsa,
perdagangan bebas dan juga kegiatan terorisme yang bermunculan menambah situasi
keamanan menjadi tidak kondusif di negara ini. Pertanyaannyaadalah, apakah ilmu dan
sejarah perang konvensional masih relevan diajarkan di lembaga pendidikan TNI?

x. PEMBAHASAN

x. Perang Generasi Keempat.

Munculnya bahaya perang generasi keempat ini (4th generation warfare),


ditandai dengan konflik yang diawali dengan adanya pengaburan garis antara
perang dan politik, tentara dan sipil, sehingga sangat sulit menentukan metode
perang yang digunakan. Bahkan muncul berbagai macam isu yang merebak
menjelang terjadinya perang tersebut. Perbedaan antara situasi perang dan
28

situasi damai menjadi kabur. Sulit membedakan antara pasukan militer dan sipil.
Aksi-aksi dapat dilakukan secara serentak, diam-diam dan dapat mencakup suatu
daerah yang luas.
Pola perang generasi keempat ini memang berbeda dengan perang-
perang fisik konvensional, bukan lagi mengandalkan persenjataan yang bersifat
hardpower untuk penguasaan wilayah atau tanah yang akan dijadikan target tapi
juga soft power," yaitu untuk mengubah pola pemikiran, cara hidup, cara
pandang, dan ideologi. Perang Generasi keempat ini merupakan perpaduan dari
politik, sosial, militer, ekonomi bahkan budaya sebagai sarana yang bertujuan
utama untuk mengalahkan wilayah negara atau mematahkan semangat pihak
lawan. Hal ini harus segera diwaspadai dan dideteksi secara dini agar bahaya-
bahaya yang timbul dapat segera dinetralisir.

Contoh perang Generasi IV diantaranya :

1) Ancaman perang modern, yang meliputi peperangan informasi


(information warfare), peperangan angkasa luar (space warfare) dan
peperangan dunia maya (cyber warfare).

2) Perang Hibrida, cara perang yang memadukan antara perang


konvensional, perang yang tidak teratur dan ancaman cyber warfare,
berupa serangan nuklir, senjata biologi dan kimia, alat peledak improvisasi
dan perang informasi.

3) Terorisme, cara untuk menciptakan sensasi agar masyarakat luas


memperhatikan apa yang mereka perjuangkan, mengandung perbuatan
kekerasan atau ancaman kekerasan yang berkarakter politik.

4) Ancaman Non Militer, merupakan golonganancaman pertahanan


yang sifatnya tidaksecara langsung mengancam kedaulatan,keutuhan, dan
keselamatan bangsa. Namun, risiko yang ditimbulkan dapat berimplikasi
mengganggu stabilitas nasional.
29

5) Ancaman ideologi, upaya yang dilakukan untuk mempengaruhi


ideologi negara yang akan mengancam terhadap dasar/ falsafah Negara,
sering dilakukan dengan memasukkan kader-kadernya untuk bergabung
dalam suatu partai politik, organisasi masa atau lembaga pemerintah.

6) Ancaman populasi, merupakan ancaman terbesar masalah


lingkungan hidup. Setiap orang memerlukan energi, lahan dan sumber daya
yang besar untuk bertahan hidup. Populasi tumbuh lebih cepat dari
kemampuan bumi dan lingkungan untuk memperbaiki sumber daya yang
ada sehingga pada akhirnya kemampuan bumi akan terlampaui dan
berimbas pada kualitas hidup manusia yang rendah. Tingginya laju
pertumbuhan populasi, maka jumlah kebutuhan makanan pun meningkat
padahal lahan yang ada sangat terbatas.

7) Ancaman sosial budaya, merupakan musuh terberat dewasa ini.


Ancaman berupa invasi atau serangan militer, akan mudah dikenali, mudah
dihadapi dan militer senantiasa siap menghadapi. Sebaliknya, ancaman
melalui nilai-nilai sosial dan budaya yang menggunakan media elektronik
seperti internet dan media lainnya lebih sulit dikenali dan sasarannya adalah
pasti remaja serta genarasi muda.