Anda di halaman 1dari 12

PANDUAN HAND HYGIENE RUMAH SAKIT

SARI ASIH CIPUTAT


PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT SARI ASIH CIPUTAT
NOMOR:064/PER/DIR/RSSA_CPT/XII/2017

TENTANG

PEMBERLAKUAN PANDUAN HAND HYGIENE


RUMAH SAKIT SARI ASIH CIPUTAT TANGERANG SELATAN

DIREKTUR RUMAH SAKIT SARI ASIH CIPUTAT

Menimbang: a Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan dan pasien safety Rumah Sakit
Sari Asih Ciputat kepada masyarakat,maka diperlukan penyelenggaraan pelayanan
pasien yang bermutu dan memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
b Bahwa agar pelayanan Rumah Sakit Sari Asih Ciputat dapat terlaksana dengan baik, perlu
adanya peraturan direktur tentang panduan hand hygiene Rumah Sakit Sari Asih Ciputat
sebagai landasan bagi penyelenggaraan pelayanan pasien khususnya dalam hal hand
hygiene Rumah Sakit Sari Asih Ciputat
c Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana yang dimaksud dalam huruf a dan
huruf b, perlu ditetapkan dengan peraturan direktur Rumah Sakit Sari Asih Ciputat tentang
penetapan panduan hand hygiene di Rumah Sakit Sari Asih Ciputat
Mengingat: 1 Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 1691/ MENKES/ PER/ VIII/ 2011 tentang
Keselamatan Pasien Rumah Sakit
2 Keputusan Menteri Kesehatan nomor 382/MENKES/SK/III/ 2007 tentang Pedoman
Pencegahan dan Pegendalian Infeksi Rumah Sakit dan Pelayanan Kesehatan Lainya
3 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/MENKES/SK/XII/1999 tentang Standar
Pelayanan Rumah Sakit
MEMUTUSKAN
Menetapkan :
KESATU : PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT SARI ASIH CIPUTAT TENTANG
PEMBERLAKUAN PANDUAN HAND HYGIENE RUMAH SAKIT SARI ASIH CIPUTAT
KEDUA : Panduan hand hygiene di Rumah Sakit Sari Asih Ciputat sebagaimana dimaksud diktum
kesatu terlampir dalam keputusan ini
KETIGA : Panduan ini menjadi acuan bagi Rumah Sakit Sari Asih Ciputat untuk melaksanakan hand
hygiene di Rumah Sakit Sari Asih Ciputat
KEEMPAT : Lampiran keputusan ini menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan
KELIMA : Peraturan tentang panduan hand hygiene ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan.
Ditetapkan : Tangerang Selatan
Pada Tanggal : 20 Desember 2017
Direktur

(dr. Hj. Anitya Irna RD. Mkes)

i
DAFTAR ISI

HALAMAN KEPUTUSAN ................................................................................................... i


HALAMAN DAFTAR ISI ..................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ............................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................... 1


A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Tujuan ..................................................................................................................... 2
C. Lingkup Kerja .......................................................................................................... 2

BAB II TATALAKSANA HAND HYGIENE........................................................................ 3


A. Definisi .................................................................................................................... 3
B. Indikasi Hand Hygiene ............................................................................................ 3
C. Kriteria Antiseptik ................................................................................................... 4
D. Aseptan ................................................................................................................... 4
E. Teknik Hand Hygiene .............................................................................................. 4

BAB III PENUTUP ................................................................................................................. 8

ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat allah subhallahu wata’ala, karena atas limpahan rahmat dan
hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan panduan Hand Hygiene Rumah Sakit Sari Asih Ciputat:
Penyusunan usulan Paduan Hand Hygiene dan pengedalian infeksi telah dapat diselsaikan atas bimbingan,
arahan dan bantuan berbagai pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu, dan pada kesempatan ini
kami dengan rendah hati mengucapkan terimakasih dengan setulus – tulusnya kepada:
1. Dr. Hj Anitya Irna RD M.Kes, selaku Direktur Ruamah Sakit Sari Asih Ciputat Tangerang Selatan.
2. Hj. Sutiani. Amd.Kep, selaku Pengawas Satuan Pengawas Intern Rumah Sakit Sari Asih Ciputat
Tangerang Selatan.
3. Ns. Sugeng Riyanto. Skep, selaku Ketua bidang keperawatan yang Rumah Sakit Sari Asih Ciputat
Tangerang Selatan.
4. Rekan - rekan sejawat yang telah membantu penulis selama masa menyusu pedoman pelayanan infeksi
maupun sewaktu menyelesaikan usulan penelitian ini.
Semoga Allah Subhanallahu Wata’ala senantiasa melimpahkan kebaikan kepada semuanya, sebagai
imbalan atas segala amal kebaikan dan bantuannya. Akhirnya besar harapan kami semoga tugas ini berguna
bagi semua.

Penulis

iii
Lampiran
NOMOR:064/PER/DIR/RSSA_CPT/XII/2017
TENTANG
PEMBERLAKUAN PADUAN HAND HYGIENE
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Health Care Associates Infections (HCAI) adalah masalah besar dalam patient safety, dimana pengawasan
dan kegiatan pencegahan harus menjadi prioritas utama untuk dilakukan, sehingga institusi kesehatan lebih
berkomitmen untuk membuat institusinya menjadi lebih aman. HCAI mempunyai banyak implikasi,
diantaranya adalah memanjangnya waktu rawat, disabilitas jangka panjang, meningkatnya resistensi
mikroorganisme terhadap antimikroba, tambahan beban biaya institusional yang besar, biaya perawatan
yang tinggi untuk pasien dan keluarga, dan yang paling parah adalah kematian yang tidak diharapkan.

Walaupun resiko HCAI ada pada setiap fasilitas kesehatan di seluruh dunia, beban global yang harus
ditanggung oleh fasilitas kesehatan sampai saat ini belum diketahui dengan pasti mengingat sulitnya
mengumpulkan data diagnostik yang reliabel. Namun secara umum, WHO (2009) memperkirakan lebih dari
1,4 juta pasien di negara maju dan berkembang di seluruh dunia, terkena dampak HCAI saat ini.
Menurut laporan WHO (2009) di negara maju, HCAI berdampak pada 5-15% pasien yang
dirawat di bangsal rumah sakit, dan meningkat menjadi 9-37% pada pasien yang dirawat di ICU. Di Eropa
(HELICS, 2009) memperkirakan 5 juta kasus HCAI terjadi di unit-unit perawatan di rumah sakit,
mengakibatkan memanjangnya masa perawatan selama kurang lebih 25 juta hari di rumah sakit, dan
bertanggung jawab terhadap bertambahnya biaya perawatan sebanyak 13-24 poundsterling. Sementara di
USA, HCAI mengakibatkan terjadinya infeksi saluran kemih (36%), infeksi luka operasi (20%), infeksi aliran
darah (11%) dan pnemonia (11%).
Di negara berkembang, HCAI masih belum terdata secara baik. Hal ini disebabkan karena
pencatatan, pelaporan dan penelitian yang terkait dengan HCAI masih belum memenuhi syarat. Hal ini
sangat berbahaya, mengingat perkiraan bahwa prevalensi HCAI di negara berkembang lebih banyak,
namun data yang akurat tidak tersedia, sehingga resiko ini tidak tampak dengan jelas dan tidak
mendapatkan perhatian yang cukup. Ketidakadekuatan upaya terhadap resiko HCAI ini disebabkan karena
banyak faktor, diantaranya jumlah staf yang tidak proporsional, kebersihan dan sanitasi yang buruk, tidak
ada atau kurangnya sarana, struktur yang tidak memadai, dan kurangnya dukungan finansial. Di luar
fasilitas kesehatan, kondisi-kondisi sosial seperti kurangnya jumlah sumberdaya kesehatan dan malnutrisi
juga meningkatkan resiko terjadinya infeksi akibat HCAI.
Salah satu upaya yang paling efektif dalam mencegah HCAI adalah dengan cara mencuci
tangan. Hal ini disebabkan karena tangan adalah dalah satu organ tubuh yang paling tercemar dengan
mikroorganisme patogen. Penelitian RSCM pada 2002 menyebutkan bahwa 85,7 persen angka infeksi
nosokomial dapat dikendalikan jika petugas medis selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan
tindakan medis.

1
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Meningkatkan budaya hand hygiene seluruh karyawan Rumah Sakit Sari Asih Ciputat
1. Tujuan Khusus
a. Meningkatkan pengetahuan tentang hand hygiene
b. Menurunkan resiko infeksi pada pasien karena rumah sakit (health associates infection/HAI)
infeksi pada petugas kesehatan
c. Meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit
d. Meningkatkan kepatuhan 5 momen hand hygiene

C. Ruang Lingkup Hand Hygiene


WHO menyarankan untuk setiap orang atau petugas yang tersebut dibawah ini untuk selalu mematuhi
prosedur hand hygiene, yaitu :
1. Setiap orang yang kontak langsung dengan pasien seperti: dokter, perawat dan petugas kesehatan
lainnya (fisioterapi, laboratorium).
2. Setiap orang yang kontak dengan pasien, meskipun tidak langsung seperti : ahli gizi, farmasi dan
petugas tehnik
3. Setiap personil yang berkontribusi dengan prosedur yang dilakukan terhadap pasien
4. Setiap orang yang bekerja di lingkungan rumah sakit

2
BAB II
TATALAKSANA HAND HYGIENE
A. Definisi Kebersihan Tangan
Hand hygiene adalah proses yang secara mekanik melepaskan kotoran dan debris dari
kulit tangan menggunakan sabun biasa dan air (sumber : Depkes RI ,CDC,2007). Flora
transien dan flora residen pada kulit: Flora transien pada tangan diperoleh melalui kontal
dengan pasien,petugas kesehatan lain. Dan permukaan lingkungannya (misal meja periksa,
lantai atau toilet). Organisme ini tinggal dilapisan yang luar kulit dan terangkat dengan
mencuci tangan menggunakan sabun biasa dan air mengalir.

Flora residen tinggal dilapisan kulit yang lebih dalam serta didalam folikel rambut, dan tidak
dapat dihilangkan seluruhnya, bahkan dengan pencucian dan pembilasan keras dengan
sabun dan air bersih. Untungnya, pada sebagian besar kasus,flora residen kemungkinan kecil
terkait dengan penyakit infeksi yang menular melalui udara, seperti flu burung. Tangan atau
kuku dari petugas kesehatan dapat terkolonisasi pada lapisan dalam oleh organisme yang
menyebabkan infeksi seperti S.aureus, batang Gram negatif atau ragi.

Kebersihan tangan dilakukan dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir
bila tangan jelas kotor atau terkena cairan tubuh, atau menggunakan alkohol (alcohol-based
handrubs) bila tangan tidak tampak kotor, Kuku petugas harus selalu bersih dan terpotong
pendek, tanpa kuku palsu, tanpa memakai perhiasan cincin, Cuci tangan dengan sabun
biasa/ antimikroba dan bilas dengan air mengalir, dilakukan pada saat:
1. Bila tangan tampak kotor, terkena kontak cairan tubuh pasien yaitu darah, cairan tubuh
sekresi, ekskresi, kulit yang tidak utuh, ganti verband, walaupun telah memakai
sarung tangan.
2. Bila tangan beralih dari area tubuh yang terkontaminasi ke area lainnya yang bersih,
walaupun pada pasien yang sama.
B. Indikasi kebersihan tangan
1. Sebelum kontak pasien
2. Sebelum tindakan aseptik
3. Setelah kontak cairan tubuh pasien
4. Setelah kontak pasien
5. Setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien

3
C. Kriteria memilih antiseptik

1. Memiliki efek yang luas, menghambat atau merusak mikroorganisme secara luas (gram
positif dan gram negative,virus lipofilik,bacillus dan tuberkulosis,fungiserta endospore)
2. Efektifitas
3. Kecepatan efektifitas awal
4. Efek residu, aksi yang lama setelah pemakaian untuk meredam pertumbuhan
5. Tidak menyebabkan iritasi kulit
6. Tidak menyebabkan alergi
7. Hasil yang ingin dicapai dalam kebersihan tangan adalah mencegah agar tidak terjadi
infeksi, kolonisasi pada pasien dan mencegah kontaminasi dari pasien ke lingkungan
termasuk lingkungan kerja petugas.

D. Ketentuan Antiseptik Dan Sabun Anti Bakteri


1. Area bebas menggunakan sabun anti mikroba dengan kandungan trixlosan 0,3 % dan
area kritikal menggunkan sabun antiseptik kandungan clorhexidine 0,4 %.
2. Area bebas dan kritikal menggunakan aseptan Handrubs dengan kandungan
clorhexidine 0,5 % dan alkohol 70 %.

E. Teknik melakukan kebersihan tangan


1. Kebersihan tangan dengan Handrub
Melakukan kebersihan tangan dengan megguakan sabun berbasis alkohol dilakukan
apabila tangan secara visual tidak kotor, Larutan antiseptik atau disebut juga antimikroba

4
topikal, dipakai pada kulit atau jaringan hidup lainnya untuk menghambat aktivitas atau
membunuh mikroorganisme pada kulit, Antiseptik memiliki bahan kimia yang memungkinkan
untuk digunakan pada kulit dan selaput mukosa, Tujuan yang ingin dicapai adalah penurunan
jumlah mikroorganisme pada kulit secara maksimal terutama kuman transien degan cara
melakukan enam langkah kebersihan tangan meggunakan handrub selama 20 – 30 detik.

2. Kebersihan tangan dengan sabun dan air mengalir


Melakukan kebersihan tangan dengan air mengalir dan sabun bila tangan dalam kondisi
kotor, terpapar cairan tubuh pasien, terkontaminasi kotoran, dan setelah memakai sarung
tangan meskipun tidak terpapar langsung dengan sumber infeksi, melakukan kebersihan
tangan degan teknik hand wash harus didukung saran dan prasaran yang cukup agar
terseleggaranya kegaiatan tersebut, hal hal yang wajib ada meliputi: sabun/ aseptan,
wastafel dengan air bersih, hand towel, bak sampah non infeksius, dan sarana petunjuk
melakukan kebersihan tangan.

5
3. Kebersihan Tangan Bedah
Kebersihan tangan dilakukan dengan antiseptic untuk menghilangkan atau menghancurkan,
mikroorganisme sementara dan memberikan efek yang berkepanjangan, Tangan dan lengan
bawah dicuci bersih dengan sabun antiseptik minimal 2-3 menit. Tangan dikeringkan
menggunakan handuk steril Antisepsis tangan bedah diperlukan sebelum melakukan prosedur
invasif. Berikut ini adalah tatacara melakukan teknik kebersihan tangan sebelum melakukan
tindakan pembedahan

6
7
BAB III
PENUTUP

Hand hygiene merupakan kegiatan yang paling efisien, paling murah dan paling mudah dilakukan namun
mempunyai dampak yang besar. Hal ini menjadikan setiap institusi kesehatan wajib untuk berkomitmen dalam
upaya peningkatan budaya hand hygiene di insitusinya. Dengan dibudayakannya hand hygiene, insitusi
kesehatan akan mampu meningkatkan kualitas perawatan, meningkatkan mutu pelayanannya, dan yang
terpenting institusi kesehatan akan mampu meningkatkan keselamatan pasien.