Anda di halaman 1dari 37

PEMERIKSAAN SKRINING HIV DENGAN MENGGUNAKAN METODE

IMMUNOCHROMATOGRAFI PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS

PONCOKUSUMO KABUPATEN MALANG

KARYA TULIS ILMIAH

Oleh :

WILDAN ARIEF LEGAWA

NIM. 30116015

PROGRAM STUDI D3 TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS

FAKULTAS SAINS TEKNOLOGI DAN ANALISIS

INSTITUT ILMU KESEHATAN

BHAKTI WIYATA

KEDIRI

2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah suatu infeksi virus yang

menyerang sel darah putih di dalam tubuh (limfosit) yang mengakibatkan turunnya

kekebalan tubuh manusia dan membuatnya lebih rentan terhadap berbagai penyakit, sulit

sembuh dari berbagai penyakit infeksi oportunistik dan bisa menyebabkan kematian.

Transmisi virus terjadi melalui cairan tubuh yang terinfeksi seperti hubungan seksual,

homoseksual, penggunaan jarum yang terkontaminasi, transfusi darah atau produk darah

seperti hemifili dan bayi yang lahir dari ibu dengan HIV (Baratawidjaja,2016).

HIV telah ada di Indonesia sejak kasus pertama ditemukan pada tahun 1987,

kemudian kassusnya terus meningkat akibat dampak perubahan ekonomi dan perubahan

social. Berdasarkan laporan Kementrian Kesehatan RI tahun 2014, menyebutkan bahwa

kumulatif HIV/AIDS dari bulan April 1987 hingga Juni 2014 telah mencapai angka

142.950 penderita HIV. Infeksi HIV sendiri merupakan salah satu masalah kesehatan

utama dan salah satu penyakit menular yang dapat mempengaruhi kematian ibu dan anak

(Ariningtyas,2017).

Menurut data World Health Organization (WHO) tahun 2013 terdapat 33,4 juta

orang dengan HIV/AIDS di seluruh dunia dengan 15,7 juta (47%) adalah perempuan.

Terdapat lebih 6,5 juta perempuan di Indonesia menjadi populasi rawan tertular dan

menularkan dan lebih dari 24.000 perempuan usia subur telah terinfeksi HIV. Lebih dari

9.000 perempuan hamil dengan HIV positif dalam setiap tahunnya dan lebih dari 30%
(3000 ibu hamil) diantaranya akan melahirkan bayi yang tertular bila tak ada pencegahan

penularan dari ibu HIV (Human Immuno Deficiency Virus) positif kepada bayi.

Berdasar Permenkes RI Nomor 74 Tahun 2014 Ibu hamil merupakan salah satu

kelompok berisiko tertular HIV.Sirkulasi darah pada janin dan sirkulasi darah ibu hamil

dipisahkan oleh beberapa lapisan sel pada plasenta, plasentalah yang bertugas untuk

melindungi janin dari infeksi HIV. Namun, jika terjadi peradangan, infeksi maupun

kerusakan pada plasenta, maka HIV dapat menembus plasenta sehingga terjadi penularan

HIV dari ibu ke anak. Resiko keseluruhan penularan HIV dari ibu ke anak sebesar 20-

50%. Penularan HIV dari ibu ke anak berdasarkan waktu penularan yaitu terjadi saat

kehamilan sebesar 5-10%, pada proses persalinan sebesar 10-20% dan pada saat

menyususi (ASI) sebesar 5-20%. Akan tetapi dengan terapi antiretroviral (ARV) jangka

panjang resiko penularan HIV dari ibu dan anak dapat diturunkan hingga 1-5%

(Permenkes RI, 2013).

Tes HIV merupakan pintu gerbang utama atau critical gateway dalam upaya

penanganan kasus HIV. Dengan diketahuinya status HIV seseorang, maka aka nada

pemberdayaan baik dari diri sendiri atau pasangan dalam pencegahan penularan

HIV/AIDS. Pada ibu hamil, dengan diketahuinya status HIV seseorang akan dapat segera

mungkin dilakukan program pencegahan penularan dari ibu ke anak (PPIA). Penyuluhan

dan tes HIV juga merupakan salah satu titik awal dalam penanganan HIV menurut

UNAIDS dalam strategi yang dicapai menuju getting zero (Pottie,2014).

Saat ini sudah banyak digunakan metode pemeriksaan yang cepat. Pertimbangan

pemakaian metode ini adalah waktu yang dibutuhkan singkat, sarana dan prasarana yang

sederhana dan jumlah sampel dalam sekali pemeriksaan cukup banyak. Penggunaan
metode Rapid Diagnostic Test Immunochromatografi (RDT) ini biasa digunakan pada

klinik untuk tujuan penegakan diagnosis infeksi HIV (Ratih, 2012).

Menurut penelitian Agnes Sri Harti, dkk tentang “pemeriksaan HIV 1 dan HIV 2

metode Immunochromatografi rapit test sebagai skrening test deteksi AIDS” dimana pada

skrining test metode Immunochromatografi yang di lakukan terhadap 20 sampel pasien

dengan AIDS didapatkan 5 sampel yang menunjukkan positif mengandung antibodi HIV

1 dan HIV 2. Sehingga 4 pemeriksaan HIV metode Immunochromatografi Rapid test

dapat digunakan sebagai skrining test deteksi antibodi HIV (Harti dkk, 2014).

Demikian pentingnya pemeriksaan HIV pada ibu hamil, deteksi dini HIV pada ibu

hamil dapat membantu menurunkan angka resiko penularan virus HIV pada bayi yang

dilahirkan, berdasarkan hal ini peneliti memilih melakukan pemeriksaan skrening HIV

menggunakan metode Immunochromatografi pada ibu hamil yang melakukan

pemeriksaan kandungan di Puskesmas Poncokusumo Kabupaten Malang.

B. Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang diatas yang menjadi pokok permasalahan dalam karya

tulis ilmiah ini: ”Apakah pemeriksaan skrining HIV dengan menggunakan metode

Immunochromatografi mampu mendeteksi adanya antibodi HIV pada ibu hamil di

Puskesmas Poncokusumo Kabupaten Malang?”.

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

Untuk membantu pemeriksaan dini infeksi HIV pada ibu hamil di Puskesmas

Poncokusumo Kabupaten Malang.


2. Tujuan khusus

Untuk mengetahui ada tidaknya antibodi HIV pada ibu hamil di Puskesmas

Poncokusumo Kabupaten Malang.

D. Manfaat penelitian

1. Bagi Peneliti

Dapat menambah pengetahuan dan wawasan mengenai pemeriksaan skrining HIV

dengan menggunakan metode immunochromatografi.

2. Bagi Ibu Hamil

Dapat membantu serta memberikan informasi tentang pemeriksaan dini infeksi HIV

pada pada ibu hamil di Puskesmas Poncokusumo Kabupaten Malang.

3. Bagi Program Studi D3 Teknologi Laporatorium Klinik IIK Bhakti Wiyata Kediri

Sebagai sumber referensi tambahan tentang prinsip dasar dan cara kerja pemeriksaan

skrining HIV dengan metode immunochromatografi pada ibu hamil.

E. Batasan Masalah

Dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini penulis hanya membatasi pemeriksaan

skrining HIV metode Immunochromatografi pada sampel serum pada ibu hamil yang

melakukan pemeriksaan kandungan di Puskesmas Poncokusumo Kabupaten Malang.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Defini HIV

Human Immunodeficiency Virus atau yang lebih dikenal dengan HIV merupakan

virus yang hanya menginfeksi manusia., virus ini dapat mereproduksi diri sendiri di

dalam sel dan dapat menyebabkan kekebalan tubuh manusia turun sehingga gagal

melawan infeksi. HIV dapat menyebabkan Acquired Immune Deficiency Syndrome

(AIDS). Acquired yang berarti ditularkan dari orang ke orang. Immune yang berarti

merusak sistem kekebalan manusia (bagian tubuh manusia yang berfungsi

mempertahankan diri dari benda asing, bakteri, dan virus). Deficiency berarti

menurun/berkurang sedangkan Syndrome berarti orang dengan AlDS mengalami

berbagai infeksi oportunistik dan penyakit lainnya (Nursalama, 2018).

Virus HIV adalah retrovirus yang termasuk dalam keluarga lentivirus. Retrovirus

mempunyai kemampuan menggunakan RNA-nya dan DNA penjamu untuk

membentuk virus DNA dan dikenali selama periode inkubasi yang panjang. Seperti

retrovirus yang lain, HIV menginfeksi tubuh dengan periode inkubasi yang panjang

(klinik laten), dan utamanya menyebabkan munculnya tanda dan gejala AIDS. HIV

menyebabkan beberapa kerusakan sistem imun dan menghancurkannya. Hal tersecbut

terjadi dengan menggunakan DNA dari CD4+ dan limfosit untuk mereplikasi diri.

Dalam proses tersebut, virus tersebut menghancurkan CD4+ dan limfosit

(Nursalam,2018).
B. Struktur Virus HIV

HIV terdiri dari suatu bagian inti yang berbentuk silindris yang dikelilingi oleh

lipid bilayer envelope. Pada lipid bilayer tersebut terdapat dua jenis glikoprotein yaitu

gp120 dan gp41. Fungsi utama protein ini adalah untuk memediasi pengenalan sel

CD4+ dan reseptor kemokin dan memungkinkan virus untuk melekat pada sel CD4+

yang terinfeksi. Bagian dalam terdapat dua kopi RNA juga berbagai protein dan enzim

yang penting untuk replikasi dan maturasi HIV antara lain adalah p24, p7,p9,

p17,reverse transkriptase, integrase, dan protease. Tidak seperti retrovirus yang lain,

HIV menggunakan sembilan gen untuk mengkode protein penting dan enzim. Ada tiga

gen utama yaitu gag, pol, dan env. Gen gag mengkode protein inti, gen pol mengkode

enzim reverse transkriptase, integrase, dan protease, dan gen env mengkode komponen

struktural HIV yaitu glikoprotein. Sementara itu, gen rev, nef, vif, vpu, vpr, dan tat

penting untuk replikasi virus dan meningkatkan tingkat infeksi HIV (Calles, 2006,.

Kummar, 2015).

Gambar 2.1 Struktur Virus


HIV
C. Siklus Hidup HIV

Siklus hidup HIV berawal dari infeksi sel, produksi DNA virus dan integrasi ke

dalam genom, ekspresi gen virus dan produksi partikel virus. Virus menginfeksi sel

dengan menggunakan glikoprotein envelop yang discbut gp l20 (120kD glikoprotein)

yang terutama mengikat sel CD4 dan reseptor kemokin (CXCR4 dan CCR5) dari sel

manusia. Oleh karena itu virus hanya dapat menginfeksi dengan efisien pada sel CD4+.

Makrofag dan sel dendritik juga dapat diinfeksinya (Baratawidjaja,2016).

Setelah virus berikatan dengan reseptor sel, membran virus bersatu dengan

membran sel pejamu dan virus masuk sitoplasma. Disini envelop virus dilepas oleh

protease virus dan RNA menjadi bebas. Kopi DNA dari RNA virus disintesis oleh

enzim transkriptase dan kopi DNA bersatu dengan DNA pejamu. DNA yang

terintegrasi disebut provirus. Provirus dapat diaktifkan, sehingga diproduksi RNA dan

protein virus. Sekarang virus mampu membentuk struktur inti, bermigrasi ke membran

sel, memperoleh envelop lipid dari sel pejamu, dilepas berupa partikel virus yang dapat

menular dan siap menginfeksi sel lain. Integrasi provirus dapat tetap laten dalam sel

terinfeksi untuk berbulan-bulan atau tahun, sehingga tersembunyi dari sistem imun

pejamu, bahkan dari terapi antivirus (Baratawidjaja,2016).

Gambar 2.2 Sel sasaran infeksi HIV dan aktifasi pro-virus


1. Setelah HIV masuk ke dalam sel dan membentuk dsDNA, terjadi integrasi

DNA virus dengan genom sel pejamu yang membentuk provirus

a. gp120 HIV berikatan dengan CD4 pada sel sasaran

b. Domain fusigenik pada gp41 dan CXCR-4 memfasilitasi fusi

c. Nukleokapsin memasuki sel

d. Genom virus dan enzim dilepas setelah dikeluarkan dari core protein

e. Reverse transcriptase virus mengkatalisasi reverse transkripase ssRNA,

membentuk hibrida RNA-DNA

f. Kisi-kisi RNA asli dipecah oleh ribonuklease H diikuti sintesis DNA

sekunder memasuki dsDNA HIV

g. dsDNA virus ditranslokasikan ke nucleus dan diintegrasi ke DNA

kromosom pejamu oleh ensim integrasi virus

2. Provirus tetap laten sebagai kejadian dalam sel terinfeksi memacu aktifasi

virus, yang membentuk dan melepas partikel virus

a. Faktor transkripsi merangsang transkripsi DNA provirus kedalam

ssRNA genom setelah diproses beberapa mRNA

b. mRNa virus diekspor ke sitoplasma

c. Kromosom sel pejamu berfungsi mengkatalasi sintesis protein precursor

virus

d. ssRNA HIV dan protein bersatu dibawah membrane sel pejamu, tempat

diinsersikan gp41 dan gp120

e. Budding membrane yang keluar membentuk envelop virus


3. Meskipun CD4 diikat envelopen glikoprotein HIV-1, reseptop kedua maih

diperlukan untuk masuk dan menimbulkan infeksi sel. Galur HIV-1 yang

tropic untuk sel T, menggunakan koreptor CXR4, sedang galur yang tropik

untuk makrofag menggunakan CCR5. Keduanya merupakan reseptor untuk

kemokin, dan ligan normalnya dapat mencegah infeksi sel oleh HIV

(Baratawidjaja,2016).

D. Patogenesis

Virus biasanya masuk tubuh dengan menginfeksi sel Langerhans di mukosa

rektum atau mukosa vagina yang kemudian bergerak dan bereplikasi di KGB setempat

Virus kemudian disebarkan melalui viremia yang disertai dengan sindrom dini akut

benupa panas, mialgia dan artralgia. Pejamu memberikan respons seperti terhadap

infeksi virus umumnya. Virus menginfeksi sel CD4+, makrofag dan sel dendritik dalam

darah dan organ limfoid (Baratawidjaja,2016).

Antigen virus nukleokapsid, p24 dapat ditemukan dalam darah selama

fase ini. Fase ini kemudian dikontrol sel T CD8 dan antibodi dalam sirkulasi terhadap

p42 dan protein envelop gp120 dan gp41. Efikasi sel Tc dalam mengontrol virus terlihat

dari menurunnya kadar virus. Respons imun tersebut menghancurkan HIV dalam KGB

yang merupakan reservoir utama HIV selama fase selanjutnya dan fase laten

(Baratawidjaja,2016).

Dalam folikel limfoid, virus terkonsentrasi dalam bentuk kompleks imun

yang diikat sel dendritik. Meskipun hanya kadar rendah virus diproduksi dalam fase

laten, destruksi sel CD4 berjalan terus dalam kelenjar limfoid. Akhirnya jumlah sel CD4

dalam sirkulasi menurun. Hal itu dapat memerlukan beberapa tahun. Kemudia menyusul
fase progresif kronis dan penderita menjadi rentan terhadap berbagai infeksi oleh kuman

nonpatogenik (Baratawidjaja,2016).

Gambar 2.3 Patogenesis Penyakit HIV


Setelah HIV masuk kedalam sel dan dsDNA, integrasi DNA viral kedalam genom

sel pejamu membentuk provirus. Provirus tetap laten sampai kejadian dalam sel

terinfeksi mencetuskan aktivasinya, yang mengakibatkan terbentuk dan pelepasan

partikel virus. Meskipun CD4 berikatan dengan envelop glikoproein HIV-1, diperlukan

reseptop kedua supaya dapat masuk dan terjadi infeksi. Galur tropic sel T HIV-1

menggunakan koreseptor CXCR4, sedangkan galur tropic makrofag menggunakan

CCR5. Kedua reseptor ini merupakan reseptor kemokin dan ligan normalnya dapat

menghambat infeksi HIV ke dalam sel. Subyek yang baru terifeksi HIV dapat disertai

gejala atau tidak. Gejala utama berupa sakit kepala, sakit tenggorok, panas ruam dan

malase yang terjadi sekitar 2-6 minggu setelah infeksi, tetapi juga dapat terjadi antara 5

hari dan 3 bulan. Gejala Klinis infeksi primer dapat berupa demam, nyeri otot/sendi,

lemah mukokutan (ruam kulit, ulkus di mulut), limfadenopati, neurologis (nyeri kepala,

nyeri belakang kepala, fotofobia, meningitis, ensefalitis) dan saluran cerna ( anoreksia,

nausea, diare, jamur di mulut). Gejala-gejala bervariasi dari ringan sampai berat

sehingga memerlukan perawatan lanjutan (Baratawidjaja,2016).

No. Perjalanan penyakit pada HIV

1. Transmisi virus

2. Infeksi HIV primer (sindrom retroviral akut) 2-6 minggu

3. Serokonversi

4. Infeksi kronik asimptomatik (5-10 tahun)

5. Infeksi kronik simptomatik

6. AIDS (CD4 < 200/mm3), infeksi oportunistik

7. Infeksi HIV lanjut (CD4 < 50/mm3)

Tabel 2.1 Perjalanan Penyakit pada HIV


E. Dampak infeksi HIV terhadap respons imun

Infeksi HIV menyebabkan destruksi sel T CD4+ dan sebagian besar virus yang

terdapat dalam darah berasal dari sel T CD4+ yang mengalami lisis. Dapat diduga

bahwa penurunan sel T CD4+ terutama disebabkan destruksi sel inti oleh virus HIV.

Produksi virus dengan ekspresi gp 4l dan budding partikel virus menyebabkan

peningkatan permeabilitas membran dan lisis osmotik sel CD4+ , membran sel

terinfeksi melakukan fusi dengan sel lain yang belum terinfeksi melalui interaksi

gpl2O-CD4 sehingga membentuk sel berinti banyak atau syncytia (Widoyono,2011).

Pembentukan syncytia adalah lethal untuk sel terinfeksi maupun yang tidak

terinfeksi. DNA virus yang tidak berintegrasi dan terdapat dalam sitoplasma dapat

menjadi toksik untuk sel terinfeksi. Produksi virus dapat mengganggu sintesis dan

ekspresi protein sel dan berkibat kematian sel. Pengikatan gpl20 pada CD4 intraseluler

yang baru dibentuk dapat mengganggu proses ekspresi CD4 pada pcrmukaan sel.

Tetapi ada anggapan bahwa penurunan jumlah CD4+ dan rasio CD4/CD8 tidak hanya

disebabkan destruksi sel oleh virus tetapi akibat gangguan “trafficking” limfosit.

Penurunan jumlah sel CD4+ terutama disebabkan kematian sel dan apoptosis akibat

pembunuhan langsung oleh virus atau mekanisme litik yang lain, pada saat infeksi HIV

akut, penurunan jumlah limfosit dalam darah tepi tidak spesiflk untuk CD4+ tetapi juga

terjadi penurunan jumlah subset CD8 dan CD4. Selain itu, pada saat jumlah limfosit

dalam darah tepi berkurang >80%, ukuran kelenjar getah bening dan rasio CD4/CD8

dalam kelenjar masih normal, sekalipun terdapat banyak sel yang mengandung HIV-

RNA(Widoyono,2011).
Penurunan CD4+ dalam darah tepi tidak saja disebabkan oleh lisis sel

CD4+ oleh virus tetapi ekstravasasi sel CD4+ merupakan salah satu faktor yang

berperan dalam penurunan CD4+ dalam darah. Ada dua kemungkinan penurunan

jumlah CD4+ pada infeksi HIV yaitu: l) gangguan renewal CD4+ secara aktif

karena kerusakan yang terjadi oleh virus dan 2) sistem imun tidak mampu

mengatasi kehilangan kronis CD4+ yang teljadi terus menerus setiap hari karena

keterbatasan kemampuan regenerasi. Hambatan sel CD4+ untuk memperbaharui

diri dapat disebabkan perubahan pada sel precursor dan lingkungannya akibat

infeksi HIV. Ketidak mampuan sistem imun untuk regenerasi sel T terbukti dari

lambatnya repopulasi sel T3637 Adanya mekanisme alternatif di atas merupakan

hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengatasi infeksi HIV, yaitu bahwa

pengobatan penyakit ini dengan menekan replikasi Virus saja tidak cukup tetapi

perlu disertai upaya untuk meningkatkan fungsi atau rekonstitusi sistem imun

(Widoyono,2011).

F. Penularan HIV/AIDS

Virus HIV menular melalui empat cara penularan, yaitu:

1. Hubungan seksual dengan pengidap HIV/AIDS

Hubungan seksual secara vaginal,anal, dan oral dengan penderita HIV tanpa

perlindungan dapat menularkan HIV. Selama hubungan seksual berlangsung air

mani, cairan vagina, darah mengenai selaput lendir vagina, penis, dubur, atau mulut

sehingga HIV yang terdapat dalam cairan tersebut masuk ke aliran darah

(Kasper,2015).Selama berhubungan juga bisa terjadi lesi mikro pada dinding


vagina, dubur, dan mulut yang bisa menjadi jalan HIV untuk masuk ke aliran darah

pasangan seksual (Swanstrom dan Coffin, 2012).

2. Ibu terhadap anak

Penularan HIV dari ibu bisa terjadi pada saat kehamilan (in utero), selama

persalinan, atau melalui ASI (Kemenkes Republik Indonesia, 2012; WHO, 2017).

Berdasarkan laporan CDC Amerika, prevalensi penularan HIV dari ibu ke bayi

adalah 0,01% sampai 0,7% (Oyeledun, 2017). Bila ibu baru terinfeksi HIV dan

belum ada gejala AIDS, kemungkinan bayi terinfeksi sebanyak 20% sampai 35%,

sedangkan gejala AlDS sudah jelas pada ibu kemungkinan penularan pada bayi

mencapai 50% (Oyeledun,2017). Penularan juga terjadi selama proses persalinan

melalui transfusi feto-maternal atau kontak antara kulit atau membran mukosa bayi

dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan (Lily, 2004). Semakin lama

proses kelahiran, semakin besar risiko penularan, sehingga lama persalinan bisa

dicegah dengan operasi sectio caesaria (WHO, 2017). Transmisi lain terjadi selama

periode postpartum melalui ASI, risiko bayi tertular melalui ASI dari ibu yang

positif sekitar 10% (Lily, 2004).

Ada tiga faktor utama yang berpengaruh pada penularan HIV dari ibu ke anak,

yaitu faktor ibu, bayi/anak, dan tindakan obstetrik.

a. Faktor Ibu

1) Jumlah virus (viral load)

Jumlah virus HIV dalam darah ibu saat menjelang atau saat persalinan dan

jumlah virus dalam air susu ibu ketika ibu menyusui bayinya sangat

mempengaruhi penularan HIV dari ibu ke anak. Risiko penularan HIV


menjadi sangat kecil jika kadar HIV rendah (kurang dari 1.000 kopi/ml)

dan sebaliknya jika kadar HIV di atas 100.000 kopi/ml.

2) Jumlah sel CD4

Ibu dengan jumlah sel CD4 rendah lebih berisiko menularkan HIV ke

bayinya. Semakin rendah jumlah sel CD4 risiko penularan HIV semakin

besar.

3) Status gizi selama hamil

Berat badan rendah serta kekurangan vitamin dan mineral selama hamil

meningkatkan risiko ibu untuk menderita penyakit infeksi yang dapat

meningkatkan jumlah virus dan risiko penularan HIV ke bayi.

4) Penyakit infeksi selama hamil

Penyakit infeksi seperti sifilis, Infeksi Menular Seksual, infeksi saluran

reproduksi lainnya, malaria, dan tuberkulosis, berisiko meningkatkan

jumlah virus dan risiko penularan HIV ke bayi.

5) Gangguan pada payudara

Gangguan pada payudara ibu dan penyakit lain, seperti mastitis, abses, dan

luka di puting payudara dapat meningkatkan risiko penularan HIV melalui

ASI.

b. Faktor Bayi

1) Usia kehamilan dan berat badan bayi saat lahir

Bayi lahir prematur dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) lebih

rentan tertular HIV karena sistem organ dan sistem kekebalan tubuhnya

belum berkembang dengan baik.


2) Periode pemberian ASI

Semakin lama ibu menyusui, risiko penularan HIV ke bayi akan semakin

besar.

3) Adanya luka di mulut bayi

Bayi dengan luka di mulutnya lebih berisiko tertular HIV ketika diberikan

ASI.

c. Faktor obstetrik

Pada saat persalinan, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir. Faktor

obstetrik yang dapat meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke anak

selama persalinan adalah:

1) Jenis persalinan

Risiko penularan persalinan per vaginam lebih besar daripada persalinan

melalui bedah sesar (sectio caesaria).

2) Lama persalinan

Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan HIV dari

ibu ke anak semakin tinggi, karena semakin lama terjadinya kontak antara

bayi dengan darah dan lendir ibu.

3) Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan meningkatkan risiko

penularan hingga dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang

dari 4 jam.

4) Tindakan episiotomi, ekstraksi vakum dan forseps meningkatkan risiko

penularan HIV karena berpotensi melukai ibu atau bayi (Permenkes

RI,2013).
3. Darah dan produk darah yang tercemar HIV/AIDS

Produk darah sangat cepat menularkan HIV karena virus langsung masuk ke

pembuluh darah dan menyebar ke seluruh tubuh (Maartens, 2014).

4. Pemakaian alat kesehatan yang tidak steril

Alat pemeriksaan kandungan seperti Spekulum, tenakulum, dan alat-alat lain yang

menyentuh darah, cairan vagina, atau air mani yang terinfeksi HIV dan langsung

digunakan untuk orang lain yang tidak terinfeksi bisa menularkan HIV (Simon,

2010). Alat tajam dan runcing seperti jarum, pisau, silet, menyunat seseorang,

membuat tato, memotong rambut, dan sebagainya bisa menularkan HIV sebab alat

tersebut mungkin dipakai tanpa disteril terlebih dahulu.

Jarum suntik yang digunakan di fasilitas kesehatan, maupun yang digunakan oleh

para pengguna narkoba (Injection Drug Use) sangat berpotensi menularkan HIV.

Selain jarum suntik, pada para pemakai IDU secara bersama-sama, tempat

penyampur, pengaduk, dan gelas pengoplos obat yang digunakan bersamaan

berpotensi menularkan HIV (Albrecht, 2007).

HIV tidak menular melalui peralatan makan, pakaian, handuk, sapu tangan, toilet

yang dipakai secara bersama-sama, berpelukan di pipi, berjabat tangan, hidup

serumah dengan ODHA, gigitan nyamuk, dan hubungan sosial yang lain (Albrecht,

2007).

G. Pencegahan

Pencegahan infeksi virus HIV dapat dilakukan dengan menerapkan pencegahan

universal yang baik dan dengan melakukan penapisan pada kelompok risiko tinggi.
Prinsip-prinsip kewaspadaan universal, seperti menggunakan sarung tangan ketika

bekerja dengan cairan tubuh penderita, penanganan limbah jarum suntik yang benar,

sterilisasi alat dengan cara yang benar sebelum melakukan prosedur invasif, dan

mencuci tangan sebelum menangani penderita dapat mengurangi risiko penularan,

terutama pada tenaga medis, salah satu kelompok yang paling berisiko tertular HIV.

Selain itu, penapisan pada kelompok risiko tinggi (orang yang lahir di daerah dengan

endemisitas Hepatitis B tinggi, orang dengan pasangan seksual multipel, homoseksual,

semua wanita hamil, penderita HIV dan Hepatitis C, pengguna jarum suntik, penderita

hemodialisis. Penderita yang terbukti menderita HIV sebaiknya diberi edukasi

perubahan perilaku untuk memutus rantai infeksi HIV (Kemenkes RI, 2012).

1. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu dan Anak

Pencegahan penularan HIV pada ibu dilakukan secara primer yang

mencakup mengubah perilaku seksual dengan menerapkan prinsip ABC,

yakni Abstinence (tidak melakukan hubungan seksual), Be faithful (setia

kepada pasangan), dan Condom (pergunakan kondom jika terpaksa melakukan

hubungan dengan pasangan). Ibu juga disarankan untuk tidak menggunakan

narkoba, terutama narkoba suntikan dengan pemakaian jarum yang

bergantian, serta pemakaian alat menoreh kulit dan benda tajam secara

bergantian dengan orang lain (misalnya tindik, tato, silet cukur, dan lain-lain).

Petugas kesehatan perlu menerapkan kewaspadaan universal dan

menggunakan darah serta produk darah yang bebas dari HIV untuk pasien

(Nursalam, 2013).
WHO mencanangkan empat strategi untuk mencegah penularan HIV dari

ibu ke bayi dan anak, yaitu dengan mencegah jangan sampai ibu terinfeksi

HIV/AIDS. Apabila sudah dengan HIV/AIDS dicegah supaya tidak hamil,

apabila sudah hamil dilakukan pencegahan supaya tidak menular pada bayi

dan anaknya. Namun, bila ibu dan anak sudah terinfeksi maka sebaiknya

diberikan dukungan dan perawatan bagi ODHA dan keluarganya (World

Health Organization, 2016).

Penularan HIV dari ibu ke bayi bisa dicegah melalui empat cara, mulai

saat hamil, saat melahirkan, dan setelah lahir yaitu penggunaan antiretroviral

selama kehamilan, penggunaan antiretroviral saat persalian dan bayi yang

baru dilahirkan, penanganan obstetrik selama persalinan, penatalaksanaan

selama menyusui. Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load rendah

sehingga jumlah Virus yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif

untuk menuIarkan HIV (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014).

Persalinan sebaiknya dipilih dengan metode sectio caesaria karena

terbukti mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi sampai 80%. Bila

bedah sesar selektif disertai penggunaan terapi antiretroviral, maka risiko

dapat diturunkan sampai 87%. Walaupun demikian bedah sesar juga

mempunyai risiko karena imunitas ibu yang rendah sehingga bisa terjadi

keterlambatan penyembuhan luka, bahkan bisa terjadi kematian saat operasi.

Oleh karena itu, persalinan pervaginam atau sectio caesaria harus

dipertimbangkan sesuai kondisi gizi, keuangan, dan faktor lain. Bila

persalinan pervaginan yang dipilih, tindakan invasif seperti episiotomi rutin,


ekstraksi vakum, ekstraksi cunam, memecahkan ketuban sebelum pembukaan

lengkap, terlalu sering melakukan periksa dalam, serta memantau analisis gas

darah dengan mengambil sampel dari kulit kepala janin selama persalinan

harus dihindari karena meningkatkan risiko penularan HIV dari ibu ke janin

(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014).

Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak (PPIA) atau Prevention of

Mother-to Child Transmission (PMTCT) merupakan bagian dari upaya

pengendalian HIV/AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) di Indonesia

serta Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Layanan PPIA diintegrasikan

dengan paket layanan KIA, KB, kesehatan reproduksi, dan kesehatan remaja

di setiap jenjang pelayanan kesehatan dalam strategi Layanan Komprehensif

Berkesinambungan (LKB) HIV/AIDS dan IMS (Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia, 2012).

H. Diagnostik HIV

1. Tes Serologi HIV

Tes serologi terdiri atas tes cepat (rapid test), tes enzyme immunoassay,

serta tes Western Blot (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014; Ruslie,

2012). Tes cepat dapat mendeteksi antibodi terhadap HIV-l maupun HIV-2 dalam

waktu yang relatif cepat (< 20 menit). Tes Enzyme Immunoassay yang lazim

dilakukan adalah ELISA. ELISA dapat mengidentiflkasi antibodi terhadap HIV,

tes ELISA sangat sensitif, tapi tidak selalu spesiflk,‘ karena penyakit lain bisa

juga menunjukkan hasil positif. Beberapa penyakit yang bisa menyebabkan false

positive, antara lain adalah penyakit autoimun, infeksi virus, atau keganasan
hematologi. Kehamilan juga bisa menyebabkanfalse positif. Tes yang lain

biasanya digunakan untuk mengoniirmasi hasil ELISA, antara lain Western Blot

(WB), indirect immunofluoresence assay (IFA), ataupun radio-immuno-

precipitation assay (RIPA). Pada daerah-daerah di mana prevalensi HIV sangat

tinggi, dua kali hasil ELISA positif ditambah gejala klinis bisa digunakan untuk

mendiagnosis HIV. Bila metode ini dipilih, maka akan lebih baik jika dipilih dua

tipe tes ELISA yang berbeda. Tes Western Blot merupakan tes antibodi untuk

koniirmasi HIV pada kasus yang sulit. Western Blot merupakan elektroforesis gel

poliakrilamid yang digunakan untuk mendeteksi rantai protein yang spesiflk

terhadap DNA. Iika tidak ada rantai protein yang ditemukan, berarti hasil tes

negatif. Sementara, bila hampir atau semua rantai protein ditemukan, berarti

Western Blot positif. Tes Western Blot mungkin juga tidak bisa menyimpulkan

seseorang menderita HIV atau tidak. Oleh karena itu, tes harus diulangi lagi

setelah dua minggu dengan sampel yang sama. Iika tes Western Blot tetap tidak

bisa disimpulkan, maka tes Western Blot harus diulang lagi setelah enam bulan.

Iika tes tetap negatif maka pasien dianggap HIV negative (Nursalam,2018).

I. Immunochromatografi

Immunochromatografi adalah metode deteksi antigen atau antibodi spesifik pada

sampel yang memanfaatkan prinsip reaksi imunologis, yaitu adanya ikatan antigen-

antibodi. Secara umum, immunochromatografi disusun oleh beberapa komponen yaitu,

membran nitroselulosa sebagai membran kapiler, antibodi/antigen spesifik yang


difiksasi pada garis T (tes/test line), protein rekombinan/antibodi lain yang difiksasi di

garis C (kontrol/control line), antibodi yang dilabel dengan warna (Jayalie dkk, 2016).

Setelah komponen-komponen pada tes immunochromatografi tersedia, strip

immunochromatografi siap digunakan. Langkah pertama yang dilakukan adalah sampel

diberikan pada ujung kertas kromatografi sehingga akan bermigrasi pada membran

kapiler menuju ujung lain kertas. Saat bermigrasi, sampel akan melewati garis T yang

berisi antigen/antibodi spesifik. Jika pada sampel terdapat target yang ingin dicari,

maka target tersebut akan berikatan dengan antigen/antibodi spesifik di garis T dan

sisanya akan berlanjut dan menempel ke garis C beserta dengan antibodi lainnya. Jika

tidak ada target yang dicari pada sampel, maka hanya terjadi ikatan di garis C saja,

yakni antara antibodi lain yang ada pada sampel dengan rekombinan protein/antibodi di

garis C. Setelah sampel sampai diujung lain strip, kemudian diberikan antibodi dengan

label pewarna yang juga akan migrasi sepanjang membran kapiler. Antibodi berlabel

ini akan berikatan dengan target, di garis T (jika ada) dan berikatan dengan antibodi di

garis C sehingga muncul wana merah muda (Jayalie, 2016).


BAB III

KERANGKA KONSEP

A. Kerangka Konsep

Ibu hamil

Faktor- faktor yang


mempengaruhi penularan HIV:

1. Hubungan seksual
2. Pemakaian alat
kesehatan yang tidak
steril
3. Transplasenta
4. Produk darah yang
tercemar HIV

Virus masuk ke dalam sel tubuh

Inti virus RNA (ribonucleic acid) masuk ke dalam sel

Mengikat reseptor sel CD4 dan CXCR4

RNA virus masuk ke dalam sitoplasma

Perubahan material genetik virus RNA menjadi DNA dibantu oleh


Enzym reverse

Virus bereplikasi

DNA virus secara acak masuk ke dalam DNA sel


Fase laten hingga beberapa tahun

Aktivasi sel terinfeksi

DNA virus ditranskrip dengan DNA ke dalam RNA

Virus membentuk partikel virus baru dari protein virus


(gp 120 dan gp 41) dan enzim

CD4+ limfosit menjadi rusak

Penurunan kekebalan tubuh Virus semakin banyak di produksi

Matur dan menular

Plasenta

Bayi
B. Penjelasan Kerangka Konsep

Menurut Peraturan Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2014,

ibu hamil merupakan salah satu populasi beresiko terkena inveksi HIV. Selain itu ibu

hamil dengan postif HIV mempunyai resiko penularan HIV pada bayi sebesar 20-

50% (Peraturan Mentri Kesehatan RI,2014). Berdasah hal ini maka skrining HIV

merupakan hal penting yang perlu dilakukan untuk mengetahui status HIV pada ibu

hamil untuk mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke anak. HIV dapat menular

akibat beberapa faktor yaitu hubungan seksual dengan orang pengidap HIV/AIDS

(ODHA), ibu terhadap bayi (transplasenta), pemakaian alat kesehatan yang tidak

steril, dan produk darah yang tercemar HIV (Nursalam,2018).

HIV merupakan virus RNA yang dilapisi struktur dasar dengan lapisan luar terdiri

dari lemak dan glikoprotein sedangkan bagian dalam inti terdiri dari 2 untai rantai

RNA tunggal yang mengikat bersama-sama berasal dari protein 24 (p24). Virus HIV

dilapisi glikoprotein 120 (gp120), yang digunakan untuk interaksi virus dengan sel

reseptor tubuh termasuk limfosit CD4+, makrofag, dan monosit. Pada permukaan

membrane sel tubuh manusia terdiri dari struktur protein kompleks yang berfungsi

sebagai reseptor. Virus HIV mengikat 2 jenis reseptor sel tubuh, yaitu CXCR4 atau

CCR5 yang berfungsi untuk membantu virus memasuki sel targetnya. Kemudian

virus menginfeksi sel limfosit dimulai dengan melampirkan virus melalui gp 120

dengan membrane sehingga virus masuk dalam sel.

Setelah virus masuk ke dalam sel tubuh, inti virus dan RNA nasuk ke dalam sel

untuk membuat kembali material genetika virus, melapisi RNA atau melarutkan

nukleokapisid sehingga RNA virus masuk ke dalam sitoplasma sel tubuh. Selanjutnya
terjadi perubahan material genetika virus RNA menjdi DNA melalui dikeluarkan

enzym reverse transcription oleh virus HIV. Enzym reverse transcription membaca

urutan rantai RNA virus yang masuk ke dalam sel dan mentranskripsi urutan menjadi

pelengkap urutan DNA yang berfungsi untuk membuat protein virus dan menyalin

RNA virus sehingga dapat bereplikasi.

DNA virus aakan mengintegrasi kedalam kromosom DNA tubuh secara acak

dengan bantuan enzim integrase yang terdapat pada virus. Setelah DNA yang

diintegrasekan ke dalam material genetic maka akan menjadi fase laten higga

beberapa tahun. Aktivasi sel yang terinfeksi maka DNA virus ditranskrip ke dalam

mRNA. Kode mRNA berfungsi untuk memproduksi protein dan enzim virus. RNA

virus yang baru juga menyediakan material genetic untuk generasi virus berikutnya.

Setelah diproduksi, mRNA virus ditransportasi ke luar nucleus dan masuk ke dalam

sitoplasma sel manusia. Masing-masing dari mRNA sesuai dengan protein atau enzim

yang disiapkan untuk membangun partikel virus HIV baru. Virus membuat partikel

baru yang dibuat dari protein virus (gp 120 dn gpc41) an enzim. Polipeptida dipecah

menjadi partikel kecil oleh enzim protease dan mengambil protein membran sel tubuh

yang mengandung virus untuk membentuk virus baru sehingga CD4+ limfosit

menjadi rusak dan fungsinya menurun sehingga terjadi penurunan kekebalan tubuh.

Tahap terakhir dari siklus HIV adalah maturasi atau menular. Penularan HIV pada

ibu ke anak terjadi akibat sirkulasi darah janin dan sirkulasi darah ibu dipisahkan oleh

beberapa lapis sel yang terdapat di plsenta. Plasenta melindungi janin dari infeksi

HIV, akan tetapi jika terjadi peradangan, infeksi, dan kerusakan pada plasenta
sehingga HIV menembus plasenta dan terjadi penularan pada bayi (Peraturan Mentri

Kesehatan RI, 2013).


BAB IV

METODELOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian merupakan strategi penelitian dalam

mengidentifikasi suatu masalah sebelum perencanaan akhir pengumpulan data.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif, yaitu metode survey

deskriptif terhadap sekumpulan objek yang biasanya bertujuan untuk melihat

gambaran fenomena yang terjadi dalam suatu populasi tertentu

(Notoatmojo,2012). Desain penelitian pada penelitian ini digunakan untuk

mendeskripsikan kejadian HIV pada ibu hamil di Puskesmas Poncokusumo

Kabupaten Malang.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi :

a. Lokasi pengambilan sampel dilakukan pada ibu hamil yang melakukan

pemeriksaan di Puskesmas Poncokusumo Kabupaten Malang.

b. Lokasi penelitian dilakukan di Laboratorium Puskesmas Poncokusumo

Kabupaten Malang.

2. Waktu Penelitian :

Waktu penelitian dilakukan pada bulan April 2019.

C. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampel

1. Populasi penelitian

Populasi merupakan keseluruhan dari objek penelitian atau objekyang diteliti

(Notoatmodjo,2012). Populasi dalam penelitian ini yaitu semua ibu hamil


yang melakukan pemeriksaan di Puskesmas Poncokusumo Kabupaten

Malang.

2. Sampel penelitian

Sampel merupakan sebagian ojek yang diambil dari keseluruhan onjek

yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoadmojo,2012).

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah ibu hamil yang dilakukan

pemeriksaan HIV di Puskesmas Poncokusumo Kabupaten Malang.

3. Teknik sampling

Teknik sampling merupakan suatu cara yang digunakan untuk

memperoleh sampel yang digunakan dalam penelitian (Notoatmodjo, 2012).

Dalam penelitian ini peneliti memilih teknik non-probability sampling yaitu

secara Accidental Sampling. Pengambilan sampel secara accidental dilakukan

dengan mengambil kasus atau responden yang ada atau tersedia suatu tempat

sesuai dengan konteks penelitian (Notoatmodjo,2012).

D. Variabel Penelitian

1. Independent Variable (Variabel Bebas)

Variabel bebas merupakan variable resiko atau sebab berubahnya variabel

bebas (Notoatmodjo,2012). Variabel bebas pada penelitian ini adalah ibu

hamil yang diperiksa HIV di Puskesmas Poncokusumo Kabupaten Malang.

2. Dependent Variable (Variabel Terikat)

Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas

(Notoatmodjo, 2012). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil


skrening pemeriksaan HIV pada ibu hamil dengan metode

Immunochromatografi.

E. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Definisi operasional merupakan uraian tentang batasan variabel yang

dimaksud atau tentang apa yang diukur oleh variabel yang bersangkutan

(Notoatmodjo,2012).

Tabel 4.1 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Parameter Skala Alat

Operasional Ukur

1. Variabel bebas : Ibu hamil Wanita dengan Positif/ Data

ibu hamil yang merupakan emrio Negatif

diperiksa HIV di wanita didadalam

Puskesmas dengan tubuhnya

Poncokusumo embrio

Kabupaten Malang didalam

tubuhnya

2. Variabel terikat : Merupakan 1. Tiga garis Nominal Rapid

hasil skrening HIV gambaran merah pada Test

pada ibu hamil yang C, T1 dan

dengan metode ditunjukan T2 berarti

Immunochromato- dari positif

grafi pemeriksaan 2. Dua garis


yang merah pada

dilakukan, C dan T1

sehingga atau T2

dapat berarti

digunakan positif

sebagai 3. Satu garis

interpretasi merah pada

hasil dari C berarti

pemeriksaan. negative

4. Satu atau

dua garis

merah pada

T berarti

invalid.

(Protap rapid

test)

F. Instrumen Penelitian

1. Instrumen Penelitian

a. Alat yang digunakan

1) Pipet tetes

2) Centrifuge

3) Tabung Vacutainer Tutup Merah


4) Kapas alkohol 70%

5) Spuit 3cc

6) Torniquet

b. Reagen yang digunakan

1) Rapid Test HIV

G. Prosedur Pengumpulan Data

1. Tahap Pra Analitik

a. Persiapan pasien

b. Pemberian identitas

c. Pembuatan serum

Prinsip : Darah tanpa anticoagulant diputar dengan centrifuge dalam waktu

tertentu dan kecepatan tertentu maka akan didapatkan serum yang

jernih.

Prosedur :

1) Dibiarkan darah membeku dalam tabung centrifuge.

2) Diputar darah dengan centrifuge kecepatan 3000 rpm selama 10 menit.

3) Dari hasil centrifuge akan memperoleh dua lapisan, lapisan atas yang

jernih adalah serum dan lapisan bawah adalah eritrosit.

4) Kemudian serum dapat digunakan sebagai sampel pemeriksaan

(Gandasoebrata, 2007).
2. Analitik

Pemeriksaan HIV

Metode : Imunokromatografi

Tujuan : Untuk mengetahui adanya antibodi spesifik secara kualitatif

terhadap infeksi virus HIV dalam serum penderita.

Prinsip : Imunokromatografi dengan prinsip serum yang diteteskan pada

sumuran sampel akan bereaksi dengan partikel yang telah dilapisi

dengan anti-HIV (antibodi). Campuran ini selanjutnya akan

bergerak sepanjang strip membran untuk berikatan dengan

antibodi spesifik. Pada daerah tes, sehingga akan menghasilkan

garis warna.

Prosedur :

a. Dibuka alumunium pembungkus rapid test

b. Diteteskan serum sebanyak 30 ul pada lubang sampel (S)

c. Ditambahkan 1 tetes buffer pada lubang strip tersebut, kemudian

timer dijalankan

d. Dibaca hasilnya antara 15-30 menit setelah ditetesi buffer

3. Post Analitik

Interpretasi Hasil

a. HIV negative (-) : terbentuk satu garis warna pada zona garis control saja.

C T1 T2
b. HIV positif (+) : terbentuk dua atau tiga garis berwarna, pada satu zona garis

test 1 atau 2 dan satu pada zona garis control.

c. C T1 T2 C T1 T2 C T1 T2

d. Invalid / Test gagal : jika tidak timbul garis warna pada zona control, maka tes

dinyatakan gagal dan perlu dilakukan pengulangan dengan rapid baru.

C T1 T2 C T1 T2 C T1 T2 C T1 T2

Keterangan :

C : Control

T1 : HIV-1

T2 : HIV-2

H. Pengolahan dan Analisis Data

Data yang diperoleh disajikan untuk dianalisa secara deskripftif yaitu

dengan cara menguraikan atau memaparkan hasil penelitian. Sedangkan

penelitian ini menyajikan data dengan cara menguraikan atau memaparkan

hasil skrining HIV (anti-HIV metode immunochromatografi) pada ibu hamil yang

melakukan pemeriksaan di Puskesmas Poncokusumo Kabupaten Malang.. Dalam

proses pengolahan data terdapat langkah–langkah yang harus ditempuh,

diantaranya :
1. Editing

Editing yaitu upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh atau dikumpulkan.

2. Coding

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap

data yang terdiri atas beberapa kategori.

3. Melakukan teknik analisis

Dalam melakukan teknik analisis penulis menggunakan stasistik

deskriptif yaitu statistik yang membahas cara-cara meringkas, menyajikan,

dan mendeskripsikan suatu data dengan tujuan agar mudah dimengerti dan

lebih mempunyai makna (Setiawan, 2015).

I. Kerangka Kerja

Populasi ibu hamil yang dilakukan


pemeriksaan skrining HIV pada
Puskesmas Poncokusumo kabupaten
Malang
Accidental
Sampling
Ibu hamil yang ditemui peneliti pada
saat dilakukan penelitian

Melakukan
pengambilan darah
vena

Melakukan centrifugasi
pada darah untuk
mendapatkan serum
Melakukan pemeriksaan
HIV metode
Imunokromatografi

Hasil

Analisis
Data

Kesimpulan