Anda di halaman 1dari 3

HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN ALAM ( IPA )

Oleh : Anto Hidayat, M.Pd.


A. Pengertian IPA
Istilah Ilmu Pengetahuan Alam atau IPA dikenal juga dengan istilah sains. Kata sains ini berasal dari
bahasa Latin yaitu scientia yang berarti ”saya tahu”. Dalam bahasa Inggris,kata sains berasal dari kata
science yang berarti”pengetahuan”. IPA bisa disebut juga dengan natural science.

IPA mempunyai beberapa pengertian , yaitu :


Dalam kamus Fowler (1951), natural science didefinisikan sebagai: “systematic and formulated
knowledge dealing with material phenomena and based mainly on observation and induction” ( yang diartikan
bahwa ilmu pengetahuan alam didefinisikan sebagai: pengetahuan yang sistematis dan disusun dengan
menghubungkan gejala-gejala alam yang bersifat kebendaan dan didasarkan pada hasil pengamatan dan
induksi ).
Webster’s New Lollegiate Dictionary (1981) menyatakan natural science knowledge concerned with
the physical world and its phenomena, yang artinya ilmu pengetahuan alam adalah pengetahuan tentang
alam dan gejala-gejalanya.
Sedangkan dalam Purnel’s : Concise Dictionary of Science (1983) tercantum definisi tentang IPA
sebagai berikut : “Science the broad field of human knowledge, acquired by systematic observation and
experiment, and explained by means of rules, laws, principles, theories, and hypotheses”. Artinya ilmu
pengetahuan alam adalah pengetahuan manusia yang luas, yang didapatkan dengan cara observasi dan
eksperimen yang sistematik, serta dijelaskan dengan bantuan aturan-aturan, hukum-hukum, prinsip-prinsip,
teori-teori, dan hipotesa-hipotesa.
Sumber lain menyatakan bahwa natural science didefinisikan sebagai a “piece of theoretical
knowledge” atau sejenis pengetahuan teoritis. IPA merupakan cabang pengetahuan yang berawal dari
fenomena alam. Dapat disimpulkan dari pengertian diatas, bahwa pada hakikatnya IPA merupakan ilmu
pengetahuan tentang gejala alam yang dituangkan berupa fakta, konsep, prinsip dan hukum yang teruji
kebenarannya dan melalui suatu rangkaian kegiatan dalam metode ilmiah. Dan IPA juga memberikan
pemahaman kepada kita bagaimana caranya agar kita dapat hidup dengan cara menyesuaikan diri terhadap
hal-hal tersebut.

B. Pembagian Hakikat IPA


Di dalam pembagian hakikat IPA dibagi menjadi tiga, di antaranya :
1. IPA Sebagai Produk
IPA sebagai produk adalah kumpulan hasil kegiatan dari para ahli saintis sejak berabad-abad, yang
menghasilkan berupa fakta, data, konsep, prinsip, dan teori-teori. Jadi hasil yang berupa fakta yaitu dari
kegiatan empiric (berdasarkan fakta), sedangkan data, konsep, prinsip dan teori dalam IPA merupakan hasil
kegiatan analitik. Dalam hakikat IPA dikenal dengan istilah :
a. Fakta dalam IPA adalah pernyataan-pernyataan tentang benda-benda yang benar-benar ada, atau
peristiwa yang betul-betul terjadi dan sudah dikonfirmasi secara objektif atau bisa disebut sesuatu yang
dapat dibuktikan kebenarannya. Misal : Air membeku dalam suhu 0⁰C.
 Iskandar (1997: 3) menyatakan bahwa fakta adalah pernyataan-pernyataan tentang benda-benda
yang benar-benar ada, atau peristiwa-peristiwa yang benar-benar terjadi dan sudah dikonfirmasi
secara objektif.
 Susanto (1991: 3) mengartikan fakta sebagai ungkapan tentang sifat-sifat suatu benda, tempat,
atau waktu adanya atau terjadinya suatu benda atau kejadian.
b. Konsep IPA adalah merupakan penggabungan ide antara fakta-fakta yang ada hubungannya satu
dengan yang lainnya. Misal : Makhluk hidup dipengaruhi oleh lingkungannya.
c. Prinsip IPA adalah generalisasi ( kesimpulan ) tentang hubungan diantara konsep-konsep IPA. Prinsip
bersifat analitik dan dapat berubah bila observasi baru dilakukan, sebab prinsip bersifat tentative ( belum
pasti ). Misal : udara yang dipanaskan memuai, adalah prinsip menghubungkan konsep udara, panas,
pemuaian. Artinya udara akan memuai jika udara tersebut dipanaskan.
d. Hukum alam adalah prinsip – prinsip yang sudah diterima meskipun juga bersifat tentatif, tetapi karena
mengalami pengujian – pengujian yang lebih keras daripada prinsip, maka hukum alam bersifat lebih
kekal. Misal : Hukum kekekalan energi.
e. Teori ilmiah adalah merupakan kerangka yang lebih luas dari fakta-fakta, data-data, konsep-konsep, dan
prinsip-prinsip yang saling berhubungan. Teori ini dapat berubah jika ada bukti-bukti baru yang
berlawanan dengan teori tersebut. Misal : teori meteorologi membantu para ilmuwan untuk memahami
mengapa dan bagaimana kabut dan awan terbentuk.
2. IPA Sebagai Proses
IPA sebagai proses adalah strategi atau cara yang dilakukan para ahli Saints dalam menemukan
berbagai hal tersebut sebagai implikasi adanya temuan-temuan tentang kejadian-kejadian atau peristiwa-
peristiwa alam. Jadi dalam prosesnya kita bisa berpikir dalam memecahkan satu masalah yang ada di
lingkungan.
Melalui proses ini kita bisa mendapatkan temuan-temuan ilmiah, dan perwujudannya berupa kegiatan
ilmiah yang disebut penyelidikan ilmiah. Iskandar (1997:5) mengartikan keterampilan proses IPA adalah
keterampilan yang dilakukan oleh para ilmuwan. (Moejiono dan Dimyati, 1992:16) Ditinjau dari tingkat
kerumitan dalam penggunaannya, keterampilan proses IPA dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu
keterampilan: Proses Dasar (Basic Skills), dan Keterampilan Proses Terintegrasi (Integrated Skills).
Di dalam penyelidikan satu ilmiah terbagi menjadi tujuh tahapan, di antaranya :
a. Observasi/ pengamatan yaitu kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan pancaindra.
b. prediksi yaitu memperkirakan apa yang akan terjadi berdasarkan kecenderungan atau pola hubungan
yang terdapat pada data yang telah diperoleh.
c. Interpretasi yaitu penafsiran terhadap data-data yang telah diperoleh dari hasil pengamatan.
d. Merencanakan dan melaksanakan penelitian eksperimen. Tahap- tahap penelitian:
• Menetapkan masalah penelitian.
• Menetapkan hipotesis penelitian.
• Menetapkan alat dan bahan yang digunakan.
• Menetapkan langkah- langkah percobaan serta waktu yang dibutuhkan.
e. Mengendalikan variabel yaitu mengukur variabel sehingga ada perbedaan pada akhir eksperimen karena
pengaruh variabel yang diteliti. Variabel terdiri atas tiga yaitu:
• Variabel bebas/ Peubah yaitu faktor yang menjadi penyebab terjadinya perubahan.
• Variabel terikat yaitu faktor yang dipengaruhi.
• Variabel Control yaitu variabel yang dibuat tetap.
f. Hipotesis yaitu suatu pernyataan berupa dugaan sementara tentang kenyataan-kenyataan yang ada di
alam melalui perkiraan.
Kesimpulan yaitu hasil akhir dari proses pengamatan.
3. IPA Sebagai Sikap Ilmiah
Maksudnya adalah dalam proses IPA mengandung cara kerja, sikap, dan cara berpikir. Dan dalam
memecahkan masalah atau persoalan, seorang ilmuwan berusaha mengambil sikap tertentu yang
memungkinkan usaha mencapai hasil yang diharapkan. Sikap ini dinamakan sikap ilmiah.
Menurut Wynne Harlei dan Heudro Darmojo, sikap ilmiah yang dapat dikembangkan pada anak
SD/MI yaitu:
a. Sikap ingin tahu
b. Sikap ingin mendapatkan sesuatu yang baru
c. Sikap kerja sama
d. Sikap tidak putus asa
e. Sikap tidak berprasangka
f. Sikap mawas diri
g. Sikap bertanggung jawab
h. Sikap berpikir bebas
i. Sikap kedisiplinan diri
Sikap ilmiah lain yang muncul dari hasil pengamatan/ observasi: Jujur, Teliti, Cermat.

KESIMPULAN
Pada hakikatnya IPA merupakan ilmu pengetahuan tentang gejala alam yang dituangkan berupa fakta,
konsep, prinsip dan hukum yang teruji kebenarannya dan melalui satu rangkaian kegiatan dalam metode
ilmiah. Dan IPA juga memberikan pemahaman kepada kita bagaimana caranya agar kita dapat hidup dengan
cara menyesuaikan diri terhadap hal-hal tersebut.
Hakikat sebagai produk dan proses tidak bisa dibedakan atau dipisahkan, karena produk dan proses
mempunyai hubungan terikat satu dengan yang satunya lagi dalam melakukan pengamatan ilmiah.
Berdasarkan pemaparan tentang hakikat IPA, maka dapat maknai bahwa pembelajaran IPA di SD/MI
menggunakan perasaan keingintahuan siswa sebagai titik awal dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan
penyelidikan atau percobaan. Kegiatan-kegiatan ini dilakukan untuk menemukan dan menanamkan
pemahaman konsep-konsep baru dan mengaplikasikannya untuk memecahkan masalah-masalah yang
ditemui oleh siswa SD dalam kehidupan sehari-hari.