Anda di halaman 1dari 214

Naskah Buku: Mendidik Siswa Cerdas Dan Beretika

Naskah Buku
Mendidik Siswa Cerdas Dan Beretika

Ditulis oleh :
MARJOHAN M.Pd
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar, Kab. Tanah Datar, SUMBAR

Kata Pengantar

Buku yang berjudul ”Mendidik Siswa Cerdas Dan Beretika”


mengharapkan agar guru, orang tua sebagai pendidik di rumah
dan masyarakat peduli untuk pendidikan anak sebagai tunas
bangsa, namun tidak melupakan kualitas etika mereka. Buku ini
merupakan kompilasi artikel penulis yang pernah terbit pada
surat kabar Sripo (Sriwijaya Post), Haluan dan Singgalang,
yang banyak berbicara tentang praktek edukasi dalam
masyarakat, di rumah dan di sekolah.
Buku kecil ini perlu dibaca oleh guru, orang tua, pelajar,
mahasiswa dan siapa saja yang tertarik untuk berpartisipasi
dalam dunia pendidikan. Kita berharap agar bisa memberikan
pendidikan yang bermartabat untuk putra-putri bangsa ini.
Tentu saja dalam penulisan buku ini terdapat kesalahan di
sana-sini. Saran dan kritik yang membangun dapat
disampaikan pada penulis melalui e-mail
marjohanusman@yahoo.com. Akhir kata penulis mengucapkan
terima kasih banyak atas.
Batusangkar, Februari 2010
Marjohan M.Pd

Daftar Isi
1. Semangat Eksplorasi dalam Pendidikan
2. Mengapa Enggan Menjadi Guru
3. Pola Belajar Cenderung Menunggu Komando
4. Bila Orang tua Tanpa Konsep Pendidikan
5. Panutan Dalam Otodidak
6. Nasib Perustakaan Sekolah
7. Bercermin Pada Pendidikan Negara Lain
8. Mengoptimalkan Potensi Otak
9. Suasana Pendidikan Rumah Tak Perlu Hiruk Pikuk
10. Peran Orang Tua Sebagai Pendidik Moral
11. Gaya Hidup Hedonisme dikalangan Pelajar
12. Membudayakan Penghargaan
13. Karakter Ingin Jalan Pintas
14. Setelah Study di Sekolah Unggulan Kemana lagi ?
15. Belajar Dengan Cara Yang Menyenangkan
16. Mengapa WNI Keturunan Peduli Dengan SDM ?
17. Bila Televisi Kurang Memiliki Nilai Pendidikan
18. Menjadi Bangsa Yang Diperhitungkan
19. Tidak perlu Nilai Obralan
20. Percepatan Pembelajaran Untuk Mengejar Ketertinggalan
21. Pentingnya Berjiwa Besar Bagi Guru
22. Agar Sastra Indonesia Dikenal Dunia
23. Ke Internet Untuk Tujuan Pendidikan atau Demoralized
24. Pengembangan SDM Sedini Mungkin
25. Pendidikan Spiritual Di Rumah
26. Tingkalkan Konsep Coba-Coba dalam Mendidik
27. Internet Diserbu dan Perpustakaan Ditinggalkan
28. Siswa Tidak Perlu Alergi Dengan Buku
29. Jangan Hanya Mengejar Ranking Satu
30. Mendidik Karakter Anak Sejak Dini
31. Pedulilah Terhadap Keselamatan Diri
32. Memiliki Semangat Kerja Keras
33. Mengoptimalkan Pendidikan Di Rumah
34. Mata Pelajaran Matematika dan Sains
35. Pengangguran Intelektual
36. Jangan Meremehkan Suatu Jurusan di Sekolah
37. Saatnya Guru Menjadi Learning Manager
38. Merajut Pendidikan Berkualitas.
39. Mendidik Anak Cerdas dan Ceria
40. Pendidikan dan Parenting dalam Keluarga

1. Semangat Eksplorasi Dalam Pendidikan


Kata lain dari “eksplorasi” adalah menjelajah. Kegiatan
eksplorasi tentu saja banyak dilakukan oleh petualang dan
pengembara. Kisah –kisah mereka sangat menarik untuk
dibaca dan didengar. Dalam pelajaran sejarah dan pelajaran
ilmu sosial lain, kita telah mengenal berbagai “eksplorator
hebat” melakukan petualangan atau pengembaraan keliling
dunia. Vasco Da Gama, Magelhein dan Ferdinan De Lessep
menjelajah lautan luas untuk memenuhi rasa ingin tahunya
yang kemudian sangat bermanfaat bagi pendidikan dan
pengembangan ilmu pengetahuan. Yang lain seperti Ibnu
Batutah menjelajah dan menemui negeri-negeri di benua Asia
lewat jalan sutera. Imam Al Gazali juga melakukan
penjelajahan, penjelajahan spiritual. Saat senggang ia
melakukan perenungan dan menulis hingga melahirkan buku-
buku, yang paling terkenal adalah seperti buku “Ihya
Ulummiddin, Alcemy of Happiness, Ketajaman Mata Hati”, dan
lain-lain. Kemudian Arkeolog Belanda, Dubois, juga melakukan
penjelajahan hingga menemukan fossil-fossil manusia purba
Indonesia di desa Trinil, Jawa Timur.
Bagaimana kira-kira karakter dan pribadi dari penjelajah ulung
seperti “Vasco Da Gamma, Ferdinan De Lessep, Magelhein,
Ibnu Batutah, Imam Al Gazali dan Dubois ? Apakah mereka
mempunyai karakter yang cengeng, manja, mudah putus asa,
suka mengeluh, suka membuang-buang waktu dan suka hidup
dengan jalan pintas dengan motto “hidup santai masa depan
cerah”?. Tentu saja tidak, karena pasti mereka mempunyai
karakter yang positif, seperti suka bekerja keras, mempunyai
pendirian yang teguh, percaya diri yang mantap, banyak
wawasan dan pergaulan, serta semangat pantang mundur dan
berjiwa besar.
Kemudian bagaimana dengan karakter orang tua mereka
sendiri ? Mereka pasti mempunyai orang tua yang juga
mempunyai peran dan pengaruh besar terhadap
perkembangan pribadi mereka- mengembangkan semangat
percaya diri dan berjiwa besar. Karakter penjelajah yang telah
menjadikannya sebagai orang hebat adalah karena karakternya
yang kontras dengan karakter sebahagian anak-anak muda
yang hidup di seputar kita, atau mungkin karakter kita sendiri.
Bagaimana karakter tersebut ? Karakter seperti senang
memanjakan diri dan menghibur diri.
Misalnya, kita sering malas berjalan kaki. Menempuh jarak
setengah kilometer saja untuk pergi ke sekolah, ke kampus dan
ke pasar, kita selalu mengandalkan sarana transport umum,
seperti ojek. “wah aku letih kalau jalan kaki sendirian…, wah
aku malu dilihat orang kalau berjalan sendirian..!” Kalau makan
dalam suatu pesta, sebahagian masyarakat kita cenderung
memperlihatkan karakter boros, mengambil semua hidangan
dan kemudian separoh jalan, berhenti makan dan membiarkan
makanan yang dipersiapkan oleh tuan rumah dengan harga
mahal terbuang sia-sia, pada hal mereka mengaku sebagai
orang Islam dan sangat tahu bahwa “almubazirun ikhwanusy
syaitan- sikap hidup mubazir adalah sahabat syeitan”. Lagi lagi
mereka merasa malu kalau dalam pesta menghabiskan
hidangan yang ada dalam piring.
Karakter negative sebahagian masyarakat kita yang lain adalah
merasa takut kalau berbeda dengan kebiasaan orang lain.
Misal, risih dan malu kalau membaca di tempat umum, malu
kalau disebut sebagai orang yang sok rajin- pokoknya malu
kalau tampil berbeda dari yang lain. Karakter malu yang begini
adalah sebagai karakter yang salah tempat. Yaitu rasa malu
yang menghalangi diri untuk maju.
Kemudian , karakter-karakter negative lain yang juga
berkembang dalam masyarakat kita adalah seperti karakter
terlalu betah banyak menonton hingga menghabiskan waktu
selama berjam-jam di depan layar kaca untuk menonton
sinetron, iklan sampai kepada hiburan musik. Juga karakter
yang mudah puas menjadi konsumen dan karakter terlalu suka
membalut diri dengan penuh kepalsuan. Sebagian orang suka
pamer kemewahan lewat property yang disewa atau dipinjam
dari orang lain “hidup susah tetapi penampilan seperti toko mas
berjalan”..
Diperkirakan bahwa karakter negative yang berkembang dalam
masyarakat kita bisa jadi tumbuh sebagai dampak dari cara
mendidik orang tua kita. Misalnya akibat dari kebiasaan orang
tua yang miskin dengan nilai pendidikan. Tidak mengkondisikan
anak untuk banyak melakukan hal-hal positif- pengalaman
berkarya dan berorganisasi/ bersosial di rumah hingga
akibatnya anak miskin dengan life skill. Begitu pula dengan pola
mendidik orang tua yang tidak menumbuhkan budaya berdialog
atau berkomunikasi di rumah. Dimana orang tua cuma pintar
menyuruh dan memerintah sang anak semata. Karakter orang
tua yang lain adalah sikap masa bodoh- laizzes faire- atas
perkembangan kognitif, sikap dan keterampilan anak-anak
mereka, dan tidak mewariskan semangat gemar bekerja keras
dan sabar dalam menghadapi lika-liku kehidupan ini.
Suatu ketika dalam tahun 1990-an, penulis berkenalan dengan
teman-teman dari Perancis (Francoise Brouquisse, Louis
Deharven, dan Anne Bedos). Buat apa mereka susah payah,
berjalan jauh, menghabiskan waktu dan dana yang banyak ?.
Mereka mengatakan bahwa mereka melakukan eksplorasi
sambil holiday untuk tujuan sains dan ilmu pengetahuan. Untuk
melakukan perjalanan jauh dari Perancis menuju pedalaman
Sumatera (Sijunjung, Lintau dan Halaban) mereka melengkapi
diri dengan peta topografi yang diperoleh dari museum Belanda
tentang Indonesia, kemampuan berbahasa Inggris dan bahasa
Indonesia- mereka juga mengenal dasar-dasar bahasa Cina
dan bahasa negara lain yang berguna saat mengunjungi
negara-negara tersebut. Juga mempersiapkan diri dalam
bentuk menjaga kesehatan badan dan keuangan yang cukup.
Di sela-sela waktu istirahat mereka melakukan dialog,
membaca dan menulis tentang informasi dan pengalaman yang
mereka peroleh dalam perjalanan. Waktu mereka sangat
teragenda- terjadwal. Walau berasal dari negara moderen dan
dari pusat fashion di dunia, Perancis, namun mereka tampil
sangat sederhana dan sangat alami. Cara makan sangat Islami
(walau mereka bukan beragama Islam)- makan tidak mubazir
(menyisakan makanan). Mereka menyukai kulit orang
Indonesia sementara sebagian orang Indonesia merasa minder
dengan warna kulit sendiri dan sengaja mekai whitening untuk
memutihkan kulit “pour quoi les gens ici aimerent a blanchir leur
peau ?- mengapa orang orang disini suka memutihkan kulit ?”
Tentu saja juga banyak orang-orang Indonesia yang memiliki
pribadi kuat dan semangat eksplorasi yang tinggi dalam
berbagai bidang kehidupan- seni, ekonomi, sosial, budaya, dan
agama. Kisah kisah sukses eksplorasi mereka- para tokoh-
tentu dapat kita baca lewat autobiografi mereka atau cerita dari
mulut ke mulut. Lantas bagaimana implikasi eksplorasi
terhadap pendidikan ? Eksplorasi membuat seseorang lebih
cerdas, berwawasan luas dan bermental tangguh. Ekslorasi
tidak harus dengan melakukan perjalanan jauh, melintasi bukit
dan gunung, menyeberangi lembah dan lautan.
Bayi kecil yang merangkak dan mencari sesuatu tanpa henti-
hentinya adalah juga sedang melakukan eksplorasi. Seorang
siswa Sekolah Dasar yang asyik membaca kisah pertualangan
tak pernah merasa terusik oleh kehadiran orang sekitar juga
sedang melakukan tamasya jiwa. Seorang remaja yang duduk
dan menuliskan buah fikiran dan pengalaman berarti
mencurahkan pengalaman eksplorasinya. Ibu rumah tangga
senang menawar harga di berbagai toko juga berarti sedang
melakukan eksplorasi harga, agar tidak terjebak dalam
permainan harga oleh pemilik toko. Begitu pula dengan
seorang calon sarjana (magister dan doctoral) yang bergerak
dari satu pustaka ke pustaka yang lain dan mengunjungi
berbagai lokasi juga melakukan eksplorasi atau melakukan
pencarian. Bangun di tengah malam- bertahajut dan bertanya
jawab dalam hati tentang bagaimana seorang hamba menjalani
waktu dan mengadukannya pada Ilahi berarti sedang
melakukan eksplorasi spiritual.
Pendidikan kita mungkin miskin dengan semangat eksplorasi.
Di beberapa sekolah Dasar ada kalanya para siswa seolah-olah
di sekap dari pagi hingga siang dan disuguhi hafalan- hafalan,
tugas-tugas dan larangan-larangan (mengebiri rasa ingin tahu
anak) tanpa mengoptimalkan pengenalan dunia buku. Coba
lihat begitu banyak Sekolah Perpustakaan tanpa Perpustakaan
dan sebahagian mereka menganggap membaca sebagai
sesuatu yang membosankan. Di bangku SMP. SMA, MA dan
SMK banyak siswa yang terbelenggu dengan latihan-latihan
dan PR-PR, mengolah soal-soal ujian agar nilai UN (Ujian
Nasional) tinggi, tanpa diperkenalkan tentang pengalaman
hidup- bagaimana cara berdagang, bertani, belayar, beternak,
memasak makanan, menjadi pemimpin dalam masyarakat
sehingga membuat mereka miskin dalam life skill (keterampilan
nilai hidup).
Kemudian saat studi di universitas para dosen cuma
menyuguhi dengan ratusan teori, tugas-tugas akademik dan
hafalan. Malah banyak gaya belajar mahasiswa ibarat siswa
Sekolah dasar dan pelajar yang cuma tahu mencatat dan
menghafal. Hingga mereka mencadi penghafal ulung namun
miskin pengalaman langsung. Begitu tamat dari perguruan
tinggi telah menjadikan mereka sebagai pemimpi ulung yang
cuma pintar menunggu seleksi masuk PNS (Pegawai Negeri
Sipil) atau menjadi pegawai rendahan di kantor swasta dan
BUMN lain.
Idealnya pendidikan kita tidak harus menghafal, menyelesakan
soal soal ujian dan mengharapkan selembar ijazah atau
sertifikat buat mencari kerja. Namun fenoma adalah banyak
orang belajar dan kuliah cuma mengharapkan selembar ijazah.
Banyak orang saat kuliah rajin ke perpustakaan, rajin baca
buku, pergi kuliah dengan tas yang penuh berisi buku-buku.
Namun begitu wisuda dan selesai kuliah maka semua buku
disingkirkan dan memilih kesibukan dalam mencari gaya hidup
yang lain- fashion, otomotif walau pun otomotif seken.
Sehingga banyak yang mengaku sudah sarjana kembali
menjadi melek huruf, melek ilmu pengetahuan dan gagap
teknologi (gatek). Pembodohan diri dan kristalisasi
(membekunya) ilmu pengetahuan bisa menjadi pemandangan.
Para pendidik (guru dan dosen) punya posisi penting untuk
mendorong semangat eksplorasi anak didik mereka. Tentu saja
para pendidik harus lebih cerdas-memiliki kepintaran berganda-
lebih dahulu. Mereka harus melowongkan waktu di luar jam
tatap muka untuk melakukan dialog yang berkualitas,
mempunyai wawasan yang luas dan menerapkan metode
belajar learning by doing, students centered, metode inkuiri,
metode debat dan metode diskusi. Bukan metode ceramah
melulu, menyuguhi materi hafalan dan menjawab soal soal UN
melulu. Pendidik sangat patut menjadi model (berbuat untuk
cerdas terlebih dahulu) dan menjadi fasilitator dan motivator.
Orang tua harus pula cerdas karena mereka punya peran
dalam mendidik anak- bukan orang tua ideal kalau cuma terlalu
menyerahkan pendidikan anak pada sekolah. Orang tua punya
peran strategis dalam mendidik anak dalam memanfaatkan
waktu. Anak harus pintar belanjar dan pintar mengurus sendiri.
Anak punya waktu untuk belajar dan menikmati hiburan dan
ikut melakukan aktivitas sosial di rumah dan di lingkungan agar
tidak kuper (kurang pergaulan) dan miskin pengalaman dan
wawasan.
Bagi mahasiswa, IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang tinggi
tidak punya arti kalau sikap mental tidak mendukung (susah
berkomunikasi, takut mengambil resiko, takut mencoba) karena
miskin eksplorasi (hingga miskin dengan pengalaman) maka
ijazah sarjana yang diperoleh sangat bagus untuk di pajang
saja di dinding rumah.
Semangat eksplorasi untuk hal- hal yang positif sangat perlu
dipertahankan. Eksplorasi telah membuat orang kaya dengan
pengalaman langsung. Eksplorasi dapat dilakukan lewat
menjelajah alam, kota, menjelajah berbagai tempat- mengenal
dan berhubungan dengan orang baru, tempat baru dan
suasana baru. Orang orang yang gemar melakukan eksplorasi
akan memiliki mental yang kuat dan pengalaman yang banyak.
Pendidikan juga membutuhkan eksplorasi untuk membuat
kualitas pendidikan yang dimiliki seseorang juga meningkat.

2. Mengapa Enggan Menjadi Guru


Hampir semua orang setuju bahwa institusi sekolah memegang
peranan penting dalam pendidikan dan meningkatkan sumber
daya manusia (SDM) bangsa ini. Untuk menjaga imej ini, pihak
sekolah dan stake holder dalam bidang pendidikan selalu
melakukan pembenahan diri namun tentu saja selalu ada
kendala. Agustinus (2009) dalam laporan utamanya yang
berjudul “Sekolah Rusak ,siapa yang harus mengaku dosa ?”
menyebutkan bahwa sistem pendidikan kita masih jauh dari
idealnya proses humanisasi (pemanusiaan) sebagai inti dari
pendidikan itu. Sekolah lebih dijadikan laboratorium untuk
transfer pengetahuan dari pada menjadi pendopo (balai-balai)
untuk pengolahan kepribadian yang terintegrasi, baik dari sisi
pengetahuan maupun kesadaran perilaku. Para siswa dijejali
dengan materi-materi pelajaran dan kurang mempunyai ruang
dan waktu untuk mengembangkan kreativitas. Sementara
sistem pengajaran di kelas pun cenderung satu arah. Ruang
diskusi dan kritis kurang dibuka lebar. Guru masih mengklaim
diri sebagai otorita pemegang kebenaran tunggal di dalam
kelas. Akibatnya kelas itu hanya melahirkan orang-orang yang
doyan membebek alias patuh, tidak kritis dan emoh
membantah..
Ada banyak faktor yang menyebabkan fenomena di atas terjadi
seperti faktor minimnya quota dana untuk menjalankan
pendidikan. Sehingga kesulitan dalam menyediakan atau
memenuhi fasilitas pendidikan. Namun faktor guru adalah faktor
kunci yang menentukan pendidikan kualitasnya meningkat atau
menurun. Semestinya profesi guru atau pribadi guru dengan
segala eksistensinya harus memberikan daya tarik yang kuat
bagi anak-anak didik mereka. Ibarat bagaimana tertariknya
anak-anak kecil pada profesi polisi, tentara, dokter dan pilot..
Anak-anak kecil sampai yang sudah duduk di bangku sekolah
dasar, sekali lagi, banyak yang tertarik untuk menjadi polisi,
tentara, dokter dan pilot karena di mata mereka bahwa
penampilan orang-orang dengan profesi ini tampah begitu
elegant. Anak-anak kecil begitu antusias melihat parade militer
atau barisan polisi yang sedang berlatih dengan postur tubuh
gagah dan seragam berwibawa. Mereka berlari-lari mengikuti
iringan-iringan mereka dan tidak sudi mereka lenyap dari
pandangan mereka. Demikian pula bagi seorang anak yang
memutuskan menjadi pilot setelah seorang pilot dengan postur
gagah dan pakaian juga gagah melintas dan melangkah
menuju pesawat. “Wah gagah sekali pilot itu, bila dewasa aku
juga ingin menjadi pilot”, celetuk seorang bocah sekolah dasar
bergelantungan di gerbang bandara..
“Fall in love at the first sight” adalah berarti jatuh cinta pada
pandangan pertama. Penampilan dalam seragam profesi bisa
dan seharusnya menjadi daya tarik dan ini sangat menentukan
bagi anak-anak yang berusia junior dalam memilih karir/profesi
sebagai cita-cita pertama mereka. Namun bagaimana dengan
profesi keguruan dan bagaima dengan penampilan dan postur
tubuh guru-guru ?
Di lapangan, di berbagai sekolah, dapat ditemukan bahwa
banyak guru-guru yang tidak begitu peduli dengan penampilan
mereka. Mereka membiarkan sepatu berdebu, kumis dan
jenggot menjalar, warna pakaian pudar, pasangan lipstick tidak
pas (bagi guru wanita). Sehingga wajarlah penulis naskah film
dan sutradara melukiskan figur guru dalam sinetron bagi guru
pria; tampil lugu, bercelana panjang longgar, rambut berminyak,
berjalan menggandeng sepeda. Sementara guru wanita
berdandan dengan baju kebaya, bersanggul, berkacamata dan
tampil bersahaja..
Siswa-siswa cerdas pada banyak sekolah jarang yang sudi
memilih karir sebagai guru, kecuali karena alasan ekonomi.
Banyak anak-anak cerdas yang memilih untuk bekerja di bank,
perusahaan, dokter, atau menjadi pengacara. Sejak teknologi
berkembang maka banyak pula yang ingin berkarir dalam
bidang ICT (Information Computer Technology), programmer,
analist, dan syukur kalau ada yang memilih karir dalam bidang
wiraswasta (karena sekarang semangat wiraswasta juga mulai
meluntur). “Barangkali kalau kamu nanti jadi guru saja, supaya
bangsa lebih cerdas?”, Tanya seorang guru. “Wah janganlah
bapak, saya tidak berminat mengajar”, jangan seorang siswa
dengan enteng”..
Barangkali siswa-siswa cerdas kurang melihat adanya daya
tarik dari profesi guru yang dipantulkan oleh penampilan guru
itu sendiri. “Gurunya cerdas tapi sayang kurang rapi, yang lain
ada guru cerdas tapi hidupnya susah, di tempat lain saya lihat
banyak guru-guru yang santai saja dari pagi”, komentar
seorang siswa. Faktor lain yang membuat siswa cerdas lari dari
karir guru adalah karena factor pribadi guru tersebut, seperti
guru pemarah, pendedam, killer dan dianggap kikir dalam
member nilai atau terlalu memberatkan fikiran siswa. Tidak
zamannya lagi menjadi guru killer..
Ada pengalaman dan cerita yang masih terlintas dalam fikiran
penulis tentang seorang siswa cerdas. Saat berusia remaja
termasuk siswa bandel diberi hukuman “memasak air minum
buat guru”. Namun ia sempat memasukan air kencingnya
kedalam periuk sebelum meletakkannya ke atas kompor.
Bayangkan hamper semua guru sempat mencicipi air minum
bercampur kencing hari itu (na’uzubillah min zalik). Namun
setelah jadi orang (dapat pekerjaan bagus) ia datang ke
sekolah tersebut untuk minta maaf..
Kalau begitu seharusnya guru-guru juga harus berpenampilan
gagah, anggun dan menarik. Kemudian juga harus memiliki
wawasan luas dan cerdas bergaul serta berkomunikasi.
Sebaliknya guru tidak harus tampil bersahaja, kulit bibir
melepuh, tubuh kurang terurus, minim dengan wawasan dan
cara berbicara yang kampungan. Inilah agaknya yang
dikhawatirkan oleh pemerintah dan pemikir pendidikan agar
tidak terjadi. Sehingga lahirlah Peraturan Pemerintah (Permen)
no 14 tahun 2005 yaitu tentang guru dan dosen..
Permen ini mengharapkan agar guru memiliki kompetensi.
Kompetensi tersebut adalah seperti kompetensi kepribadian,
sosial, pedagogik maupun kompetensi profsional. Kompetensi
secara wajar perlu mendapat kesempatan untuk ditumbuh
kembangkan sehingga berdampak postif pada siswa.
Kompetensi adalah kemampuan guru dalam mengelola
pembelajaran bagi peserta didik yang berkaitan dengan
pemahaman terhadap peserta didik, perencanaan
pembelajaran, evaluasi hasil belajar, serta pengembangan
peserta didik untuk mengatulisasikan. Kompetensi kepribadian
yang merupakan perwujudan pribadi yang mantap, stabil,
dewasa, arif, dan menjadi teladan bagi siswa. Kompetensi
professional merupakan komponen penguasaan materi
pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan
dalam membimbing siswa memenuhi standar kompetensi yang
ditetapkan dalam standar nasional pendidikan. Sedangkan
kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik sebagai bagian
dari masyarakat untuk berkomunikasi. Namun sekarang
bagaimana realita kompetensi yang dimiliki oleh guru ? Untuk
siapa permen 14/2005 ini dibuat, apakah untuk siswa, untuk
orang tua, untuk penjaga sekolah, tukang kebun atau untuk
guru ? Permen 14/2005 dibuat, tiada lain-tiada bukan, adalah
untuk kaum guru agar mereka menjadi profesi yang
bermartabat dan terhormat..
Sekali lagi, apa faktor penyebab siswa mengidolakan figur lain
seperti artis dan olahragawan dan banyak siswa cerdas yang
enggan jadi guru ? “Profesi guru kurang punya tantangan bila
dibandingkan dengan profesi di bidang BUMN dan dunia
industry, yang saya lihat cuma banyak guru yang santai, datang
ke sekolah hanya saat jam mengajar saja, kalaupun cepat
datang itupun mereka gunakan untuk tertawa dan mengerumpi
ala anak ABG”, kata seorang siswa saat menentukan pilihan
karirnya..
Menjadi guru dengan gaya hidup santai, apalagi juga banyak
guru yang gagap dengan tekhnologi (gaptek) telah membuat
nyali siswa cerdas, kecuali yang punya alasan ekonomi, untuk
menuju professi keguruan. Ini tidak dapat dipungkiri, malah
guru-guru sendiri kurang bangga dengan profesinya, “kamu
nak, kalau sudah dewasa tidak usah jadi guru, karena tidak ada
guru yang jadi conglomerate”..
Last but not least (akhir kata), sebenanya guru tidak perlu takut
untuk dimarginalkan- dikesampingkan- kalau mereka bias
memperlihatkan keunggulan. Guru tidak perlu mengemis
penghargaan- bermohon untuk dihargai- dan bermohon minta
martabat dari orang lain kalau mereka bisa tampil gagah dan
berwibawa, tidak loyo dan tidak berdaya. Guru akan punya
harga diri dan profesinya akan selalu dikagumi kalau mereka
semua bias menjadi guru yang professional, kalau sekarang
guru yang menerima sertifkasi guru belum semuanya dapat
dikatakan guru professional kalau kalau portofolionya lahir
lewat jalan yang penuh kong kalingkong (penuh rekayasa dan
dengan sejumlah dokumen copy paste). Guru yang
professional harus peduli dengan anak didik, peduli dengan
dunia pendidikan dan tahu dengan job description, mereka
harus sibuk mengurus diri dan bukan sibuk mengurus pribadi
orang lain..

3. Pola Belajar Cenderung Menunggu Komando


Dalam bahasa Perancis kata “apprendre” berarti belajar, dan
kata “travailler” berarti bekerja. Namun dalam percakapan “je
me travaille”, bukan dimaksudkan sebagai “saya suka bekerja”
tetapi “saya suka belajar”. Demikianlah orang Perancis, orang
Eropa dan orang-orang dari negara maju kalau belajar mereka
menghadapinya dengan sepenuh hati ibarat sedang bekerja.
“Monsieur, kalau begitu bagi orang Perancis belajar itu adalah
bekerja ?”
Memang begitu bagi orang orang dan bangsa yang sudah
punya budaya belajar bahwa mereka kalau belajar bersikap
sungguh-sungguh, seolah-olah sedang mengerjakan sebuah
proyek atau pekerjaan besar. Menjadi students bisa jadi
dianggap sebuah profesi. Maka begitu anak belajar di primary
school, secondary school dan university (SD, SMP, SMA, SMK,
Madrasah dan Perguruan Tinggi) memandang bahwa menjadi
students (siswa da mahasiswa) adalah sebagai profesi dan
mereka telah punya budaya dan karakter untuk serius dalam
belajar. Dapat kita katakan bahwa mereka belajar secara
professional- sekali lagi, dengan serius dan penuh perhatian.
Belajar tanpa terlalu banyak diperintah dan dikomandokan oleh
orangtua, guru, dosen dan professor. Lantas bagaimana
keprofesionalan, keseriusan dan kesungguhan, belajar
generasi kita ?
Sebagian dari mereka sudah ada yang punya karakter dan
budaya belajar serius sehingga mampu berprestasi di tingkat
kecamatan, kabupaten, provinsi dan bahkan memperoleh juara
olimpiade. Mereka berasal dari rumah, sekolah dan lingkungan
sosial yang punya budaya belajar. Namun cukup banyak dari
generasi, teman-teman dan lingkungan kita sendiri yang belum
begini. Itu disebabkan bahwa mayoritas dari siswa belajar
tanpa target.
Belajar tanpa target terjadi karena kita (guru dan orangtua) bisa
memberi mereka komando, kebiasaaan menggantungkan
belajar pada guru, anak tidak terbiasa dalam membuat
keputusan atau pendapat sendiri, mereka jarang punya
pengalaman sukses/ berprestasi, karena terlambat berkenaan
dengan buku, dan akibat korban disiplin yang serba berlebihan,
juga karena akibat anak tidak boleh melakukan kesalahan.
Belajar tanpa target telah menjadi fenomena dalam kalangan
(sebahagian) siswa. “Hari ini aku harus membantu ibu, setelah
itu aku harus membaca buku membaca novel 20 halaman,
besok aku ulangan harian sejarah dan aku membaca sejarah
satu jam…” Memang jarang sekali siswa yang punya target
atau menulis agenda untuk dilaksanakan setiap hari.
Kecendrungan hidup tanpa target adalah efek negatif dari
kehidupan mereka yang terlalu banyak dibantu oleh orang tua.
Akibat banyak dibantu dan serba diarang maka banyak siswa
yang miskin pengalaman, menjadi serba tidak terampil- gagap
dalam membantu diri sendiri. Tidak tahu cara merapikan kamar
sendiri, tidak terbiasa dalam mencuci pakaian, jarang atau tidak
pernah terlibat dalam membersihkan rumah dan tidak
berpengalaman bagaimana menggoreng sebutir telur.
Keluarga yang punya pembantu yang mengurus seluruh
kebutuhan rumah telah membuat anak menjadi tahu beres.
Makan, minum dan pakaian tingga beres saja. Akibatnya anak
punya kelebihan waktu dan tidak memanfaatkannya secara
efektif, kecuali kerjanya hanya mengelamun, memanjakan kulit
(ber-make up) dan takut dengan cahaya matahari, kulit jadi
hitam karena figurnya pada poster di dinding kamar berkulit
putih, mengotak atik phone cell untuk mengirim sms mubazir,
menghibur diri sepanjang waktu dengan mp3 mereka, dan
asyik dengan kegiatan egosentris sehingga tidak peduli dengan
lingkungan, apalagi jika juga tidak ikut dalam kegiatan sosial di
sekolah dan masyarakat.
Karakter siswa yang lain adalah terbiasa belajar kalau ada
komando atau perintah dari guru. “ Fajar, kenapa kamu tidak
mengerjakan PR latihan nomor 13 ini”, kata seorang ibu. “Itu
belum di suruh oleh ibuk guru”, jawab anaknya. Demikian
prilaku belajar yang sangat tergantung bagi seorang anak tidak
saja untuk siswa SD, malah sudah menjad fenomena bagi
mereka yang belajar di tingkat SD, SMP, SMA, SMK, MAN dan
sampai di Perguruan Tinggi. Kebiasaaan ini terbentuk karena
mereka terkondisi dalam memandang bahwa belajar atau
membaca buku pelajaran sebagai beban. Mereka baru belajar
kalau sudah disuruh oleh guru karena topik tertentu akan diuji
oleh guru di sekolah. Kalau demikian hal nya maka berarti
mayoritas mereka masih memiliki motivasi ekstrinsik- yaitu
motivasi yang masih datang dari luar. Kebisaaan ini juga
terbentuk oleh streotipe (anggapan umum) bahwa anak atau
siswa yang baik adalah anak yang patuh, mengikuti perintah
dan menghentikan larangan, “Kalau tidak disuruh membaca
buku, ya buat apa harus membaca”.
Selalu mengantungkan pembelajaran pada guru sangat umum
dilakukan oleh banyak pelajar. Dapat ditelusuri bahwa ini
adalah akibat negatif dari pola pembelajaran teacher centered
yang berkepanjangan, yaitu pembelajaran yang terpusat pada
guru. Dalam aktifitas belajar dalam poa begini gurulah yang
selalu aktif dan siswa pasif. Apa yang dikatakan oleh guru
maka itulah yang benar. Dalam anggapan siswa bahwa semua
ucapan guru “mutlak benar dan takut untuk dibantah, karena
kalau sang guru tidak sudi maka nilai kita bisa merah dalam
rapor”.
Kelas tradisionl, walau gedungnya sudah mewah, dengan
setting bangku yang berbaris menghadap guru, sehingga siswa
harus duduk dengan manis, mendengar semua penjelasan
guru, tidak boleh menyela, apalagi mengganggu, “kalau
terkesan menyela lebih baik mengusir sang siswa ke luar
kelas”. Guru tidak boleh diprotes dan dibantah. Pembelajaran
dalam gaya begini terjadi sepanjang masa, dari generasi ke
generasi, dan telah membentuk pola belajar siswa hingga
menjadi serba tergantung pada siswa.
Ciri lain yang membuat siswa kita berbeda dari siswa di negara
maju adalah tidak terbiasa dalam membuat keputusan. Pola
hidup seperti ini bisa jadi pola yang terbawa dari rumah. Kecuali
bagi orang tua yang membiasakan kebersamaan- selau makan
bersama, ngobrol bersama alam keluarga, sehingga setiap
anggota keluaga bisa ngobrol menyampakan fikiran, unek-unek
yang terasa dalam hati. Setiap anggota keluarga berhak
berbicara dan juga harus mendengar. Maka mereka akan
terpola menjadi berani dan mandiri dan bisa mengambil
keputusan. Namun ini tidak berlaku bagi keluarga yang tidak
punya hubungan komunikasi yang utuh, kecuai di sana yang
terdengar adalah gaya bahasa satu arah yang berisi anjuran,
nasehat, ancaman dan larangan “ kamu harus…., kamu tidak
boleh…..!”. Atau contoh kongkritnya “pergilah mandi nak..,
pergilah makan…, pergilah belajar…!”.
Kadang-kadang kita menjadi orang tua yang hanya pintar
menyuruh tanpa harus memberi model dan anak harus menjadi
manusia yang serba patuh. Dalam suasana komunikasi yang
begini biasanya jarang tercipta pola kebersamaan. Ibu punya
kesibukan sendiri, ayah juga asyik dengan kegiatannya dan
anak sibuk menonton televisi karena televisi sudah menjadi
surrogate mother atau ibu asuh bagi anak agar betah di rumah.
Fenomena lain dalam pendidikan adalah bahwa juga banyak
siswa yang jarang punya pengalaman berprestasi. Ini adalah
dampak dari anak yang miskin dalam melakukan pengalaman
hidup, akibat kita sebagai orang tua yang gemar serba
melarang. Pada dasarnya anak-anak waktu kecil suka bekerja,
bermain kreatif. Saat sang ayah sibuk membetulkan mesin
motor maka anak juga asik membantu dengan tangkai obeng.
“Ini adalah mengganggu di mata sang ayah dan harus
dilarang”, namun asal melarang saja telah mematikan
semangat kreatif bekerja mereka. Kecuali bagi ayah bijak, ia
akan memberi anak kesempatan untuk beraktifitas pada sisi
motor yang lain, yang tidak merusak.
Begitu pula saat ibu sibuk memasak, memotong sayur dan ikan
di dapur, maka si upik juga membantu dan kesan dimata ibu
adalah bahwa sang anak juga sedang mengganggu. Pada hal
dalam naluri anak bahwa ia sedang mempelajari life skill atau
keterampian hidup, mana tahu kelak bila dewasa ia akan
memiliki restoran super internasional. Maka asal serba
melarang sangat potensial mematikan aktifitas dan kreatifitas
anak.
Demikianlah fenomena yang terjadi dalam ratusan ribu atau
jutaan rumah di Indonesia. Tunas-tunas bangsa yang ingin
beraktifitas sesuai dengan kodratnya karena dianggap
mengganggu telah kena gusur untuk tidak banyak melakukan
eksperimen dalam hidup. Pada hal yang mereka butuhkan
adalah ingin mencoba. Bila orang tua cukup bijaksana, maka
mereka tidak perlu mematikan potensi kreatif anak melalui
penyediaan sarana serba kecil buat si buyung dan si upik,
seperti sapu kecil, cangkul kecil, bangku kecil, pisau tumpul dan
item-item lain yang layak untuk digunakan oleh anak.
Anak-anak yang kaya dengan pengalaman beraktifitas, karena
diberitanggung jawab- bisa memasak, bisa mencuci, bisa
merapikan kamar, bisa menjaga warung, bisa bekerja di kebun,
bisa memasak telur dadar, dan lain lain. Kemudian kalau
mereka bisa menyelesaikan sebuah tanggung jawab,
memperoleh penghargaan dari orang tua maka tentu itu adalah
wujud dari pengalaman sukses dalam hidup.
Terlambat berkenalan dengan buku juga menjadi penyebab
banyak anak kurang terbiasa belajar dengan sungguh-sungguh.
Dalam menumbuh kembangkan pengalaman anak umumnya
orangtua memperkenalkan dan menyediakan permainan
elektronik dan permainan konvensional seperti boneka, mobil-
mobilan, pesawat-pesawat, layang-layang, dan sebagainya.
Namun amat jarang bagi ayah dan ibu yang memperkenalkan
bacaan- majalah dan buku cerita. Kalaupun ada hanya nanti
lewat guru Tk yang memperkenakan majalah kanak-kanak,
tetapi nanti tidak ada kelanjutan dari pihak orang tua untuk
menanamkan kecintaan pada bacaan. Maka jadilah bahan
bacaan, buku, majaah, komik, novel dan sebagainya menjadi
hal yang langka daam kehidupan mereka. Pada hal anak-anak
yang doyan membaca sejak usia kecil, di sekolah kelak mereka
juga harus membaca, maka mereka tidak akan punya masalah
dengan buku-buku saat belajar di SD, SMP, SLTA dan sampai
Keperguruan Tinggi. Sekali lagi bahwa pola belajar anak
cenderung menunggu komando banyak penyebabnya,maka
untuk mengatasi sejak dini adalah dengan membantu anak
agar punya agenda kegiatan dalam hidup mereka, stimulasi
agar mereka terbiasa untuk punya inisiatif dalam belajar dan
bekerja, orangtua perlu membantu agar mereka terkondisi
belajar secara otodidak dan mandiri. Orang tua juga perlu
memperkenalkan bahan bacaan sejak usia diri dan mereka
perlu diberi tanggung jawab yang diikuti dengan penghargaan
bila selesai beraktifitas.

4. Bila Orang tua Tanpa Konsep Pendidikan


Rata-rata pendidikan orang tua di Indonesia mungkin banyak
yang tamatan SMP atau SLTA, namun pada beberapa daerah
malah tamat SD atau ada yang tidak tamat SD sama sekali.
Kemudian mereka memutuskan untuk belajar hidup. Fokus
utama yang mereka kejar adalah bagaimana agar bisa mencari
duit, mereka bisaanya belajar hidup- magang atau on the job
training- dengan famili atau ikut orang-orang yang masih punya
hubungan dekat. Profesi yang dipilih adalah sebagai pembantu
dalam berdagang, atau jadi buruh dan karyawan toko atau
kegiatan ekonomi skala kecil lainnya dengan cara membuka
warung, bertani, beternak dan jadi nelayan. Kemudian bila
takdir datang, bertemu jodoh yang sehati, senasib dan
sekarakter maka mereka memutuskan pulang kampung untuk
mencari restu orang tua , membentuk rumah tangga baru.
Umumnya keluarga muda- junior family¬- tidak tahu banyak
tentang hakekat menjadi orang tua. Mereka jarang memperoleh
bekal tentang parenting (bagaimana menjadi orang tua) yang
layak. Dari keluarga muda, yang miskin persiapan bagaimana
menjadi orang tua, ini lahirlah ribuan atau jutaan bayi se
Indonesia yang butuh pendidikan.
Pada umunya orang tua junior hidup di daerah rantau (migrasi),
bekerja jadi buruh pabrik, karyawan toko atau swasta sampai
berwiraswasta dan syukur kalau bisa menjadi PNS, pegawai
BUMN dan polisi/ABRI. Kecuali Polisi dan ABRI punya asrama,
yang lain tinggal memgontrak satu kamar atau tinggal di rumah
kecil seukuran perumnas dengan type RSS- rumah sangat
sederhana. Di sinalah bayi dan anak-anak tumbuh dan
berkembang dibawah bimbingan orang tua, apakah punya
persiapan sebagai orang tua, atau mengikuti pola mendidik
generasi tua (ayah ibu mereka) atau malah tidak ambil pusing
tentang urusan mendidik anak. Pendidikan anak di rumah-
beda dengan di sekolah yang dipandu oleh kurikulum dan
sentuhan tangan guru-guru yang juga sesuai dengan gaya dan
karakter mereka- yang ditandai dengan interaksi demi interaksi,
stimulus (rangsangan), pengalaman langsung, pemodelan dari
orang tua, dan pemberian pujian serta hukuman secara
langsung siang dan malam.
Masalah utama yang dialami oleh keluarga junior adalah, tentu
saja tentang keuangan yang tak kunjung memberi kepuasan
dan kecukupan, maka mulailah di sini timbul problema. Mereka
harus tinggal di ruangan yang kecil sehingga susah membuat
pola hidup yang pas untuk pendidikan. Kalau boleh memilih,
lebih baik tidak punya televisi sebab si tabung elektronik ini
punya potensi besar mengacaukan pola hidup keluarga. Gara-
gara televisi yang menyala siang malam- kalau mati di rumah
sendiri, anak hijrah untuk menonton ke rumah tetangga-
mereka cendrung menjadi lengah dengan kewajiban belajar.
Membuat PR, membaca buku dan menulis adalah menjadi
beban yang membosankan bagi banyak anak di bangku SD
sampai SMP. Di usia ini anak dan orang tua selalu bentrok
gara-gara anak tidak tertarik untuk belajar. Kalau begitu
merosotnya minat dan motivasi belajar sudah dimulai pada
tahap ini.
Pengalaman hidup dari tetangga, agaknya bisa dipetik sebagai
pelajaran. Semua orang tahu bahwa lama waktu tidur anak-
anak lebih banyak dari pada orang dewasa. Seorang bayi musti
tidur 18 jam sehari-semalam dan waktu bangunnya digunakan
untuk makan, minum susu dan belajar bersosial serta
berkomunikasi. Anak anak yang sudah agak besar jumlah
waktu tidurnya juga semakin berkurang. Mereka yang duduk di
kelas satu atau kelas dua Sekolah Dasar (berumur 6 sampai 8
tahun) bisa jadi tidur jam 20.00 malam (pukul 8 malam) dan
bangun jam 6 pagi. Itu sudah membuatnya tidur nyenyak dan
pulas, maka ia tak perlu lagi tidur siang dan bisa menggunakan
waktu siangnya untuk belajar bersosiasial/ berteman,
mengerjakan hobi, melakukan permainan kreatif bersama
teman dan anggota keluarga serta mengembangkan kebisaaan
belajar. Anak yang kurang dicikaraui atau dibantu mengatur
jadwal tidur (tidur sampai larut malam mengikuti pola tidur
ayahnya) cendrung bermasalah dengan disiplin waktu. Rata-
rata siswa yang tidak disiplin untuk tidur, cendrung mengantuk
di sekolah dan bermasalah dengan guru selama PBM- ia
dianggap sebagai siswa yang kurang tertarik untuk mengikuti
PBM. Lagi- lagi masalah belajar berasal dari tidak disiplin waktu
di rumah, dan orang tua tidak boleh berlepas tangan
seenaknya.
Ukuran atau besarnya ruangan rumah bisa menjadi sumber
masalah dan merembes ke masalah di sekolah. Bayangkan
sebuah keluarga dengan dua orang anak yang duduk di bangku
sekolah SD, SMP atau SLTA menempati rumah berukuran
kecil, tanpa punya ruang tidur dan ruang belajar yang memadai,
ditambah lagi dengan suasana yang hiruk pikuk- acara sinetron
televisi yang menarik datang silih berganti, hiburan dari CD
player, dering ringtone dan clip film dari handphone, serta
lantunan karaoke dari rumah tetangga, maka apakah masih
ada mimpi untuk memiliki anak yang punya kecerdasan
berganda. Apalagi suasana stress yang begini membuat orang
tua kurang menarik dalam berbahasa- marah, memaki,
mengumpat dan serba banyak melarang serta menyuruh.
Suasan rumah seperti ini cukup mayoritas jumlahnya dan juga
berpotensi melahirkan anak didik dengan minat dan motivasi
belajar yang rendah.
Cukup beruntung bagi kelurga junior bila bisa memiliki-
membeli atau mengontrak- ruangan atau rumah dengan ukuran
yang agak memadai. Namun bila mereka kurang memiliki
konsep pendidikan maka mereka juga berpotensi menciptakan
generasi yang salah didik. Di daerah perkotaan orang tua junior
bisa jadi berkarakter plaza-oriented, apa saja yang dimakan,
diminum dan dipakai anak musti dibeli dari plaza. Mereka,
karena kurang punya ilmu mendidik dan kesehatan, cendrung
memanjakan anak dengan makan dan minum berkaleng penuh
dengan zat-zat kimia dan makanan fast food- cepat saji- yang
juga menjanjikan penyakit generative dari pada mendatangkan
manfaat kesehatan. Sajian sepiring rujak- makanan tradisionil-
dan sekeping singkong bakar atau singkong rebus (yang
cendrung dilihat sebelah mata bagi kalangan yang merasa
separo selebriti) jauh lebih sehat dari pada makanan dan
minuman yang sudah meluncur dari kaleng dan botol dengan
pengawet kimia. Prilaku dan gaya hidup orang tua juga ikut
menciptakan anak yang berkarakter konsumerisme dan rentan
dengan penyakit.
Kualitas pertumbuhan dan perkembangan anak memang
ditentukan oleh peranan dan campur tangan orang tua
terhadap mereka. Secara awam agaknya ada beberapa
kesalahan orang tua dalam mendidik anak. Kesalahan ini
disorot tentu sebagai langkah antisipasi agar tidak timbul
malpraktek atau salah-asuhan dalam mendidik anak.
Malpraktek dalam mendidik yang dilakukan oleh ibu-bapa dan
anggota kelurga yang dewasa lainnya adalah seperti; kurang
pengawasan, gagal menjadi pendengar, jarang bertemu muka
dengan anak, bersikap terlalu suka berlebihan, suka bertengkar
di depan anak, bersikap kurang konsisten, terlalu banyak
nonton tv, mengukur segala sesuatu dengan materi, dan
bersikap berat sebelah atau tidak adil.
Kurang pengawasan adalah bentuk kesalahan orang tua yang
pertama. Dari fenomena sosial terlihat bahwa anak-anak terlalu
banyakbergaul dengan lingkungan semu di luar keluarga,
dengan orang lain dan tokoh tokoh dalam kartun, film dan
sinetron. Ini adalah tragedy yang membuat orang tua
kehilangan teladan- apalagi kalau pribadi orang tua kurang
menarik, misal karena terlalu cerewet atau terlalu banyak
mencampuri anak terlalu detailk. Idealnya adalah agar tidak
membiarkan anak berkeliaraan sendirian. Anak butuh perhatian
orang tua, maka rumah perlu dikondisikan, ada sarana belajar,
bermain, hiburan- undang teman temannya agar anak tidak
kuper (Kurang pergaulan)- dan orang tua pun melowongkan
waktu untuk berbagi rasa dan berbagi cerita- berinteraksi dan
berbagi pengalaman hidup.
Anak-anak dapat dikatakan sebagai kelompok manusia yang
paling sibuk di dunia. Mereka punya segudang mimpi untuk
diceritakan pada teman dan termasuk pada orang tua. Namun
banyak orangua terlalu lelah memberikan perhatian, mereka
cendrung untuk mengabaikan apa yang mau diungkapkan oleh
anak. Tanpa disadari karakter orang tua yang begini melahirkan
anak menjadi orang yang juga segan mendengar orang lain,
termasuk mendengar gurunya di sekolah.
Adalah bijaksana menjadi orang tua yang tidak terlalu detail
mencampuri dan mengarahkan anak. Juga tidak salah kalau
orang tua membiarkan anak melakukan kesalahan- memainkan
perangkap nyamuk sehingga ia kena sentrum lemah, misalnya.
Dari hal ini ia akan jera untuk melakukan kesalahan yang sama.
Namun adalah sangat tepat kalau orang tua ikut membantu
anak untuk mengatasi masalahnya sendiri.
Sebahagian orang ada yang bersikap terlalu berlebihan. Itulah
ruginya menjadi orang tua dengan keluarga kecil- Keluarga
Berencana- dibandingkan dengan orang tua dulu yang
mempunyai banyak anak. Mereka hampir-hampir tidak punya
waktu untuk mendikte dan mengurus anak, anak banyak
mencoba dan akan kaya dengan penglaman hidup. Orang tua
sekarang dengan satu atau dua anak terlalu banyak khawatir,
takut anak diganggu orang, takut anak mendapat kecelakaan,
takut anak sakit dan akhirnya anak serba dibantu dan
dilindungi. Akhirnya ia menjadi tumpul- miskin perngalaman
hidup. Wajar bukan kalau anak sekarang serba tidak mandiri-
tidak pandai mencuci kaus kaki sepatu, merapikan pakaian dan
kamar sendiri, tidak tahu cara menanam biji pohon sampai
kepada tidak terampil memasak goreng ikan. Kerjanya belajar
sampai pintar, tetapi setelah dewasa berpotensi menjadi
sarjana bengong yang hanya pintar membuat lamaran dan
menjadi buruh pabrik.
Perilaku orang tua yang paling berpengaruh dalam merusak
mental anak adalah “bertengkar” dihadapan anak. Saat orang
tua bertengkar di depan anak, khususnya anak laki-laki, maka
hasilnya adalah akan menciptakan seorang calon pria dewasa
yang tidak sensitive- yang mungkin juga kasar pada wanita-
kelak ia kurang bisa berhubungan dengan wanita secara sehat.
Bertengkar di depan anak perempuan, akan membuatnya
berfikir bahwa susah mencari pria yang baik dan romantis.
Kemudian, mungkin siswa yang kurang sensitive di sekolah
bisa jadi berasal dari orang tua yang gemar bertengkar di
depan mereka di rumah. Orang tua seharusnya
menghangatkan diskusi di antara mereka. Wajar saja bila orang
tua berbeda pendapat tetapi usahakan tanpa amarah. Jangan
ciptakan perasaan tidak aman dan ketakutan pada anak.
Anak merupakan anggota keluarga yang bisa mengukur isi hati
ayah-ibu nya. Anak juga perlu merasakan bahwa orang tua
mempunyai peran- leader, supervisor, motivator dan educator.
Jangan biarkan mereka memohon dan merengek menjadi
senjata yang ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka
inginkan. Orang tua harus tegas dan berwibawa di hadapan
anak.
Kemudian, sekali lagi, apakah perlu menghadirkan pesawat
televisi di rumah. Menonton televisi akan membuat anak malas
belajar. Orang tua cenderung membiarkan anak menonton
berlama-lama di depan tv dibandingkan mengganggu aktifitas
mereka Orang tua sangat tidak mungkin dapat menyaring iklan
negative dan tokoh tokoh sinetron yang tidak mendidik.
Sekarang terserah mereka, lebih baik tidak punya televisi atau
membiarka pesawat televisi tidak menyala lagi atau dibuat
aturan baru.
Tidak perlu bersikap berat sebelah, beberapa orang tua kadang
kala lebih mendukung anak dan bersikap memihak anak sambil
menjelekan pasangannya di depan anak. Mereka akan
kehilangan persepsi dan cenderung terpola untuk bersikap
berat sebelah. Orang tua perlu meluangkan waktu bersama
anak minimal setengah jam di sela-sela kesibukannya.
Malpraktek di rumah tangga, karena menjadi orang tua yang
miskin dengan konsep pendidikan perlu untuk dicegah sedini
mungkin. Orangtua perlu mengusahakan memilih rumah yang
bisa memberi tempat bagi anak untuk beristirahat, belajar dan
berkreasi. Tidak perlu menyediakan home theater-membuat
bising suasana rumah oleh tv dan sarana hiburan lain. Orang
tua perlu menjadi model dalam bergaul, beribadah, berkarya
dan belajar. Beberapa kebiasaan yang bisa menjadi kesalahan
dalam mendidik perlu untuk ditinggalkan, yakni seperti kurang
pengwasan terhadap anak, malas menjadi pendengar, bersikap
terlalu suka berlebihan, suka bertengkar di depan anak,
membiarkan anak terlalu banyak nonton tv, dan bersikap berat
sebelah atau tidak adil.

5. Panutan Dalam Otodidak


Pendahuluan
Otodidak berasal dari kata ”auto” dan ”Didak” yang berarti
“belajar sendiri. Kata otodidak berkaitan erat dengan
pendidikan. Dan pendidikan adalah usaha manusia atau diri
sendiri untuk berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari bodoh
menjadi pintar, dari miskin informasi menjadi kaya dengan
informasi. Tentu saja maíh banyak ekspressi lain yang dapat
kita tambahkan disini.
Pendidikan ádalah sarana untuk menjadi pintar dan kaya
dengan informasi. Bangsa kita sudah beruntung karena banyak
orang yang sudah peduli dengan pendidikan. Masyarakat dan
orang tua sudah mulai selektif dalam memilih pendidikan dan
mereka telah ikhlas ikut berpartisipasi secara moril dan materil.
Kini yang dituntut adalah pendidikan yang bermutu. De Porter
(2002) mengatakan bahwa pendidikan yang berkualitas adalah
pendidikan yang meliputi dan mengembangkan kecerdasan
berganda, menghargai unsur modalitas visual, audiotorial dan
kinestetik. Hasri (2004) mengatakan bahwa pendidikan yang
berkualitas adalah pendidikan yang dilasanakan oleh sekolah
efektif dan guru yang efektif.
Pendidikan yang berkualitas adalah dambaan semua orang.
Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang berimbang
antara unsur kognitif (otak), keterampilan (psikomotorik) dan
sikap (atau afektif). Namun fenomena sekarang adalah bahwa
pendidikan yang membuat anak didik untuk pintar mencari
kerja. Fenomena yang dideskripsian oleh media cetak dan
media elektronik bahwa orang sekarang sekolah setinggi
mungkin hanya untuk menjadi kaya dan mengejar posisi. Begitu
posisi susah untuk diperoleh maka mereka bermimpi menjadi
PNS- atau Pegawai Negeri Sipil. Karena kuota untuk menjadi
PNS juga terbatas, maka orang cenderung setelah menempuh
pendidikan yang lama dan panjang hanya mampu menulis
surat lamaran, gagal dan menjadi pengangguran.
Fenomena pengangguran sudah menjadi beban pemerintah,
karena lapangan kerja mereka harus dicarikan dan mereka
masih menjadi beban bagi masyarakat atau orang tua yang
punya anak yang masih luntang- lantung. Sebelum deretan
pengangguran makin lama makin panjang, maka lebih baik
fenomena penyakit pengangguran (sebagai penyakit
masyarakat) dipenggal saja, misalnya dengan meningkatkan
kepintaran berganda- multiplied intelligent lewat otodidak.
Untuk itu kita perlu bercermin kepada figur- figur atau tokoh
besar, mereka itu bisa jadi tokoh intelektual dan tokoh ulama.
Mereka itu bisa jadi Soekarno, Mohammad Hatta, Haji Agus
Salim, Cokroaminoto, Buya Hamka, dan lain- lain. Tulisan ini
akan membahas tokoh yang bernama ”Buya Hamka” dengan
judul tulisan adalah: Buya Hamka Sang Otodidak Sejati.

Buya Hamka Melakuan Otodidak Tanpa Mengenal istilah


Pengangguran
Kata lain dari “pengangguran” adalah tunakarya. Tetapi kata
pengangguran lebih lazim diucapkan oleh banyak orang.
Terutama dikalangan orang- orang yang sedang mencari kerja
atau merasa telah gagal dalam mencari kerja. Saat Buya
Hamka kecil, orang-orang dan Buya Hamka sendiri belum
mengenal kata atau istilah pengangguran, karena pada masa
itu semua orang punya pekerjaan. Pekerjaan yang populer saat
itu adalah seperti bertani, nelayan, beternak, bertukang,
berdagang atau sebagai buruh dan satu dua orang ada yang
menjadi guru di surau (Ulama) dan guru di sekolah pemerintah
(penjajah). Saat itu pekerjaan diwariskan dari orangtua secara
turun temurun. Tidak seperti sekarang, pekerjaan dicari,
dilamar, dan kemudian diterima atau ditolak.
Pada masa itu, dalam suasana masyarakat tradisional,seperti
yang telah diungkapkan, generasi tua sangat peduli terhadap
kelangsungan kerja generasi muda. Seorang ayah akan melatih
anak laki- laki yang sudah besar untuk mengikuti dan menekuni
profesi sang ayah. Dan kelak bila sudah dewasa ia boleh
bekerja berdikari- berdiri di atas kaki sendiri. Itu berarti bahwa
aktivitas on job training – atau magang- sudah berjalan dan
malah telah mengakar dan membudaya dalam keluarga. Begitu
juga dengan kaum wanita, ibu- ibu juga melatih dan
mempersiapkan masa depan anak wanita dengan memberi
peran-peran sosial sebagai kaum wanita, sebagai calon ibu dan
calon istri. Kegiatan menjahit, merenda, memasak, merawat
adik- adik dan merawat rumah adalah bentuk kegiatan yang
umum. Ini berarti nilai-nilai keterampilan dan sikap bertanggung
jawab diajarkan dan diwariskan secara turun temurun. Orang
sekarang memberi istilah bahwa telah terjadi pewarisan nilai
psikomotorik dan afektif dari orang tua ke anak.
Hamka adalah akronim dari ”Haji Abdul Malik bin Abdul karim
Amrullah”- lahir pada tahun 1908 di Sungai Batang, Maninjau
Sumatra Barat dan meninggal di Jakarta tahun 1981- beruntung
karena juga mempunyai ayah yang juga tokoh masyarakat
pada saat itu. Ayah beliau adalah Syekh Abdul karim Amrullah,
nama lainnya adalah Haji Rasul. Ia dikenal sebagai pelopor
gerakan pembaharuan Islam atau Tajdid di Minangkabau
setelah ia kembali dari Makkah- kota suci pusat umat Islam dan
pusat pendidikan Islam di dunia dan saat itu orang Islam di
Minangkabau bersikap fanatik buta, percaya hanya terhadap
apa yang dikatakan oleh pemuka masyarakat tanpa
menganalisa benar atau salah .
Saat Buya Hamka kecil, nilai otak (nilai kecerdasan otak)
sangat dijunjung tinggi oleh banyak orang. Namun tidak banyak
orang tua yang tahu bagaimana agar anak mereka bisa
menuntut ilmu setinggi mungkin, dan sikecil Hamka tentu
merasa beruntung mempunyai ayah seorang ”Haji Rasul”
sebagai orang yang terpandang dan tokoh masyarakat pada
saat itu.
Hamka mendapat pendidikan rendah di Sekolah Dasar
Maninjau sehingga kelas dua. Ia tidak pernah memperoleh
pendidikan formal seperti SLTP, SLTA apalagi pendidikan di
Perguruan Tinggi. Untuk memperoleh ilmu ia hanya melakukan
proses belajar secara otodidak. Ketika usia HAMKA mencapai
10 tahun, ayahnya telah mendirikan Sumatera Thawalib di
Padang Panjang. Di situ Hamka mempelajari agama dan
mendalami bahasa Arab. Hamka juga pernah mengikuti
pengajaran agama di surau dan masjid yang diberikan ulama
terkenal seperti Syeikh Ibrahim Musa, Syeikh Ahmad Rasyid,
Sutan Mansur, R.M. Surjopranoto dan Ki Bagus Hadikusumo.
Buya Hamka melalui kebiasaannya melakukan otodidiak-
belajar mandiri- mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan
seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam
maupun Barat. Dengan kemahiran bahasa Arabnya yang tinggi,
beliau dapat menyelidiki karya ulama dan pujangga besar di
Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-
Aqqad, Mustafa al-Manfaluti dan Hussain Haikal. Melalui
bahasa Arab juga, beliau meneliti karya sarjana Perancis,
Inggris dan Jerman seperti Albert Camus, William James,
Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx
dan Pierre Loti. Hamka juga rajin membaca dan bertukar
pikiran dengan tokoh-tokoh terkenal Jakarta seperti HOS
Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, Ar
Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo sambil mengasah
bakatnya sehingga menjadi seorang ahli pidato yang handal.
Seperti yang dapat kita baca pada situs berikut:
(http://id.wikipedia.org/wiki/Haji_Abdul_Malik_Karim_Amrullahs)
Kegiatan otodidak Buya Hamka, yaitu membaca dan menulis
dalam berbagai bidang disiplin ilmu- filsafat, pendidikan,
agama, kebudayaan, politik dan lain-lain- membuat Hamka
mampu memahami permasalah dalam banyak bidang
dikehidupan ini. Dalam hidupnya Hamka dengan tanpa ia
sadari telah menjalani banyak bidang kehidupan.
Sebagai politikus, kegiatan politik Hamka berawal pada tahun
1925 ketika beliau menjadi anggota partai politik Sarekat Islam.
Pada tahun 1945, beliau membantu menentang usaha
kembalinya penjajah Belanda ke Indonesia melalui pidato dan
menyertai kegiatan gerilya di dalam hutan di Medan. Pada
tahun 1947, Hamka diangkat menjadi ketua Barisan
Pertahanan Nasional, Indonesia. Beliau menjadi anggota
Konstituante Masyumi dan menjadi pemidato utama dalam
Pilihan Raya Umum 1955. Masyumi kemudiannya diharamkan
oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1960. Dari tahun 1964
hingga tahun 1966, Hamka dipenjarakan oleh Presiden
Sukarno karena dituduh pro-Malaysia tanpa pernah diadili.
Semasa dipenjarakanlah maka beliau mulai menulis dan
menyelesaikan Tafsir al Azhar yang merupakan karya ilmiah
terbesarnya. Setelah keluar dari penjara, Hamka diangkat
sebagai anggota Badan Musyawarah Kebajikan Nasional,
Indonesia, anggota Majelis Perjalanan Haji Indonesia dan
anggota Lembaga Kebudayaan Nasional, Indonesia (Aning,
2005).
Dalam hidupnya Buya Hamka sempat melalui multi karir atau
multi kegiatan. Ia aktif dalam bidang keagamaan dan politik,
dan selain itu Hamka juga sebagai seorang wartawan, penulis,
editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an, Hamka menjadi
wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas,
Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah. Pada
tahun 1928, beliau menjadi editor majalah Kemajuan
Masyarakat.. Pada tahun 1932, beliau menjadi editor dan
menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Hamka juga pernah
menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat
dan Gema Islam.
Hamka juga dikenal sebagai Tokoh Budaya atau Budayawan
karena beliau mampu menghasilkan banyak karya ilmiah dalam
bidang agama Islam, dalam bidang kebudayaan dan karya
kreatif seperti novel dan cerpen. Karya ilmiah terbesarnya ialah
Tafsir al-Azhar (5 jilid) dan antara novel-novelnya yang
mendapat perhatian umum dan menjadi buku teks sastra di
Malaysia dan Singapura termasuk Tenggelamnya Kapal Van
Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli.
Kegiatan otodidak Buya Hamka dalam bidang menulis
membuat beliau mampu melahirkan puluhan buku yang dibaca
orang di seluruh pelosok nusantara- malah juga di baca oleh
bangsa – bangsa Melayu. Tokoh- tokoh pendidik di Universitas
terkemuka memonitor dan menilai hasil- hasil karya tulisnya.
Untuk itu Buya Hama menerima beberapa anugerah pada
peringkat nasional dan antarabangsa seperti anugerah
kehormatan dari negara Mesir, Universitas Kebangsaan
Malaysia dan juga dari dalam negeri kita, Indonesia. Maka
Universitas al-Azhar, juga menganugerahinya gelar Doctor
Honoris Causa pada tahun 1958, Doktor Honoris Causa juga
diperoleh dari Universitas Kebangsaan Malaysia, 1974,
kemudian gelar Datuk Indomo dan Pengeran Wiroguno dari
pemerintah Indonesia. (http://www.mail-archive.com/rantau-net)
Buya Hamka Sebagai Inspirator
Kini Buya Hamka sudah tiada, karena beliau sudah berpulang
ke haribaan Allah. Beliau telah berpulang ke rahmatullah pada
24 Juli 1981, namun jasa dan pengaruhnya masih terasa
sehingga kini dalam memartabatkan bangsa, negara dan
agama.
Namun sekarang ada fenomena dalam kehidupan yaitu
populasi generasi muda yang menempati posisi sangat
mayoritas dalam piramida demografi kependudukan di
Indonesia. Mereka adalah anak- anak muda, remaja dan
pelajar yang sangat sibuk menumbuh kembangkan potensi diri.
Setiap saat selalu mencoba dan mencoba untuk mencari
identifikasi diri, mereka selalu merenung dan berfikir untuk
menemui figur yang sangat pas untuk diadopsi dan ditiru dalam
rangka membentuk karakter diri sendiri.
Generasi muda yang jumlahnya jutaan jiwa itu dapat kita
umpamakan sebagai koloni serangga yang beterbangan di
malam hari mengejar sinar yang dipancarkan oleh figur- figur
orang orang besar dan orang orang ternama di Indonesia
(malah bisa jadi juga orang terkenal di level dunia). Figur atau
tokoh yang memancarkan sinar popularitas yang kuat pastilah
mampu menarik banyak anak- anak muda untuk menjadikan
mereka sebagai idola atau sebagai panutan (model) bagi
hidup.
Dalam satu generasi yang lalu sampai kepada dua puluh tahun
yang silam, yaitu tahun 1970-an dan 1980-an, agaknya cahaya
tokoh intelektual, juga tokoh agama, masih memiliki sinar yang
terang untuk menyinari generasi muda di Indonesia. Begitu juga
bagi generasi pada zaman sebelumnya. Sebut saja generasi di
tahun 1940-an sampai tahun 1960-an, saat anak- anak muda
dan para pelajar Minangkabau masih tidur di surau, mereka
sebelum tidur selalu bermimpi ingin menjadi orang hebat-
menjadi tokoh intelektual- seperti Sukarno, Mohammad Hatta,
Mohammad Natsir, Tan Malaka, Buya Hamka, Haji Agus salim,
dan lain- lain. Di saat senggang mereka bercengkrama dan
berdialog sampai separoh bertengkar mempertahankan
reputasi figur idola mereka kalau di rendahkan oleh lawan
bicara. Tentu saja mereka juga rajin untuk mengumpulkan
kliping tulisan yang mempublikasikan figur tersebut dari majalah
dan koran- koran, atau mereka mencari buku biografi tentang
orang ternama lain untuk perbendaharaan wawasan mereka
lewat meminjam, dari pustaka atau membelinya di toko buku. .
Rata- rata generasi muda (baca: anak sekolah) pada masa itu
yang menjadikan tokoh intelektual sebagai panutan mampu
membuat mereka tumbuh menjadi manusia yang berkualitas.
Tidak saja kualitas untuk kognitif, tetapi juga kualitas untuk
sikap, prilaku, akhlak sampai kepada kualitas kecakapan hidup
lainnya. Walau istilah quantum quotient- kepintaran berganda,
belum dikenal saat itu namun dalam kenyataan mereka telah
memiliki pribadi dengan kecerdasan berganda secara tak
langsung. Maka tidak heran kalau rata- rata remaja- sebagai
calon intelektuak saat itu mampu tumbuh menjadi orang yang
sukses dan terpandang dalam masyarskat. Bukti itu masih
terlihat bagi mereka yang berkarir pada tahun 1970 an dan
1980 an.
Dapat dikatakan bahwa figur tokoh intelektual dan juga tokoh
agama yang ada di Indonesia pada saat itu betul- betul memiliki
kekuatan dan mampu memberikan model atau panutan bagi
generasi muda pada masa itu. Suara, tulisan dan kehadiran
mereka selalu ditunggu tunggu setiap saat. Dan juga menjadi
tradisi bagi tokoh intelektual pada masa itu untuk banyak
meleburkan diri dengan anak- anak muda. Mereka turun ke
bawah, ke surau, ke langgar dan ke sekolah untuk menemui
generasi muda atau orang- orang yang mengidolakan mereka.
Mereka tidak sibuk meleburkan diri dengan proyek yang ujung-
ujungnya untuk menebalkan dompet. Karena pada masa itu
yang bernama proyek demi proyek memang juga jarang.
Tokoh- tokoh intelektual ukuran lokal pun juga mempunyai arti
bagi anak- anak muda pada masa itu. Mereka juga mempunyai
andil atau peran lewat model atau figur yang mereka miliki
untuk menggerakkan semangat, dan motivasi mereka untuk
maju dan berkembang. Kultur yang tinggi dan karakter yang
baik pada diri mereka mampu menular kepada generasi muda
pada masa itu. Sehingga saat itu mungkin istilah tawuran masal
dan istilah kenakalan remaja belum terdengar segenjar
sekarang.
Pada masa itu tokoh intelektual masih punya agenda rutin
untuk melakukan turba atau turun ke bawah. Sebutlah Buya
Hamka, sebagai contoh, sebelum meninggalnya di tahun 1980,
dalam tahun- tahun sebelumnya selalu punya agenda untuk
turun dan berbagi fikiran dan pengalaman (berdakwah), tanpa
protokoler seperti intelektual sekarang, kepada masyarakat
yang berada di lapis bawah yang sudah menunggu di mesjid di
daerah tingkat dua. Tokoh agama dan tokoh intelektual
dirasakan sebagai milik masyarakat, bukan sebagai miliki
kampus, milik perkumpulan atau kaum elit.
Adalah fenomena pada saat itu bahwa tokoh intelektual
membuka pintu rumahnya lebar- lebar untuk banyak orang,
tanpa pandang bulu dan pilih kasih. Mereka berbicara hati ke
hati secara langsung dan bukan dari jauh lewat seminar atau
workshop. Karena pada masa itu kegiatan seminar dan
workshop belum segencar sekarang. Sekarang hanya kalangan
tertentu saja yang bisa berbagi pengalaman dengan tokoh
intelektual, dan tempatnya pun harus di lokasi seminar yang
ujung- ujungnya hanya untuk orang yang berduit dan orang
yang mengharapkan selembar sertifikat untuk sertifikasi atau
keperluan naik pangkat.
Awal tahun 1980-an adalah era televisi mulai merangkak dan
hadir ke tengah masyarakat Indonesia. Televisi pada mulanya
punya visi dan misi suci yaitu untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa Indonesia dan juga sebagai corong komunikasi dari
pemerintah untuk rakyat. Lambat laut peranan televisi- si kotak
ajaib, tadi memberikan fungsi dan peranan ganda. Yaitu
sebagai media pendidikan dan hiburan. Bila porsi fungsi ini
masih berimbang- fifty- fifty antara hiburan dan pendidikan-
maka tentu ini tidak lah menjadi masalah. Yakni selagi masih
berada dalam koridor kebudayaan Indonesia. Namun entah
mengapa, entah siapa yang memulai (tentu saja orang yang
mempunysi duit dan mengusai dunia komunikasi) maka porsi
televisi sebagai hiburan sudah semakin menciut. Malah
sekarang di tahun 2000 an ini, dapat dikatakan bahwa fungsi
televisi adalah banyak sebagai benda penghibur untuk anggota
masyarakat.
Kalau dahulu televisi dipandang sebagai benda lux atau
kebutuhan mewah, maka sekarang ia telah menjadi kebutuhan
primer, seperti hal-nya kebutuhan terhadap sandang, pangan
dan papan. Dan sering ditemui rumah- rumah kumuh atau
gubuk yang agak reot tetapi pemiliknya mampu mempunyai
televisi berwarna- walau itu adalah pemberian kaum kerabat
mereka. Karena kini televisi telah berubah fungsi menjadi
teman untuk memecah kesepian dan sebagai babby sitter
untuk menemani anak selama berjam- jam walau dengan
seribu satu dampak yang ia berikan.
Sekarang para pebisnis tahu betul bahwa untuk bisa berdagang
dan meraup laba sebanyak mungkin dari lapisan masyarakat
maka televisi bisa menjadi media massa yang andal. Maka
dalam masa satu atau dua dekade saja, belasan stasiun televisi
pun bisa bermunculan di bumi Indonesia. Kehadiran televisi
sekarang bukan punya niat untuk mendidik tetapi banyak
punyas niat untuk menghibur (sambil menyuguhkan budaya
baru sebagai pilihan).
Kehadiran televisi dalam keluarga, tidak memupuk budaya
belajar, malah menyuburkan budaya menonton. Anak anak
muda menjadi lebih suka menonton dari pada membaca.
Selama ini pribadi tokoh intelektual hanya bisa ditemui lewat
kebiasaan membaca. Budaya menonton membuat mereka
tidak bisa kenal dan malah makin jauh dari figur intelektual,
karena mereka sendiri membenci hobi membaca.
Agar program komersial dan hiburan televisi makin laku dan
makin mampu bersaing sesama mereka- stasiun televisi- dan
mampu merebut hati remaja dan generasi muda (yang tidak
suka atau separoh suka membaca) maka pemilik stasiun
televisi yang jumlahnya belasan menghadirkan sosok figur yang
ramah tamah, cantik, menarik dan penampilan nyentrik. Mereka
ini belakangan akrab disebut atau disapa sebagai kaum
selebriti. Mereka terdiri dari bintang film, bintang sinetron , artis,
penyanyi, presenter atau bintang iklan, atau mungkin ada dari
grup lain dengan istilah lain pula.
Para selebriti, kehadiran mereka sungguh sangat mempesona
dan kelincahan mereka dalam menjual pribadi yang dipoles
oleh hal- hal yang bersifat imitasi- tiruan dan penuh kepalsuan
mampu membuat mereka menjadi kaya dalam sekejam mata.
Sehingga ini menjadi inspirasi bagi penonton televisi. Pada
mulanya pribadi atau pesona selebriti ini hanya memberi
inspirasi kepada kaum remaja yang memang sedang demam
mencari figur atau identifikasi diri. Lambat laun pesona
penampilan selebriti ini merebak kesemua lapisan masyarakat.
Pada mulanya hanya kaum remaja sajalah yang tampil dan
berperilaku mirip artis atau selebriti yang mereka tonton di laya
kaca, cara berpakaian, cara ber make-up, cara berbicara, cara
bersopan santun. Namun sekarang pria dan wanita setengah
baya pun banyak yang tampil lebih glamour dari pada selebriti
itu sendiri memakai rambut berwarna, celana ketat, lensa
kontak, muka dipermak, atau bagi pria memakai celana model
melorot, merek pakaian mesti trendy dan sampai mereka
melangkah menjauhi mode dari kebudayaan sendiri.
Maka inilah fenomena yang kini terjadi, saat pesona selebriti
mengalahkan popularitas dan pengaruh tokoh inteletual, telah
mengakibatkan generasi muda tumbuh menjadi generasi
kebingungan, generasi yang tercabut dari akar budayanya.
Fenomena kebingungan generasi muda ini bisa diatasi apabila
tokoh intelektual mempopulerkan lagi reputasi mereka. Kini
kita- pelajar dan peserta lomba dalam rangka ”Hamka Sebagai
Sang Inspirator” bermohon sangat kepada pihak pengelola
media massa, media eletronik dan media cetak, para pendidik,
educational stakeholder untuk membimbing kami memahami
dan mengenal figur Buya Hamka (dan juga Tokoh tokoh
bangsa yang lain) agar kami (kita) menjadi bangsa yang
cerdas, beragama dan bermatabat.
Kesimpulan
Mengikuti kegiatan lomba ’Hamka sang Inspirator memberikan
manfaat yang sangat banyak. Generasi muda (siswa atau
pelajar) tentu akan mencari tulisan dan uraian tentang Buya
Hamka. Membaca dan memahami buah fikiran beliau akan
memberi kita inspirasi, inspirasi dalam berbuat, berfikir dan
bertindak. Untuk memperoleh bagaimana inspirasi Buya Hamka
maka kita sebagai generasi muda perlu banyak membaca dan
membuayakan untuk gemar membaca. Harapan kepada
pemerintah, pendidik, masyarakat dan orangtua kita untuk
menyediakan sumber belajar atau sarana belajar bagi kita
semua. Semoga!

6. Nasib Perpustakaan Sekolah

RATA-RATA pustaka sekolah dikelola secara serampangan


karena disebabkan banyak faktor. Dalam suasana sekolah dua
shift dengan jam istirahat sangat kasib membuat murid-murid
enggan untuk berkunjung ke pustaka. Sebab mereka tidak
memiliki waktu yang cukup untuk membolak balik buku dan
menilai bacaan-bacaan yang lain. Murid-murid lebih senang
untuk menggunakan waktu istirahat yang jumlahnya Cuma
beberapa belas menit saja untuk pergi ke kantin atau bersenda
gurau untuk sekedar menarik nafas segar di luar pustaka.
Hanya ada segelintir murid saja bila dibandingkan dengan total
populasi sekolah. Murid-murid itu pun mengunjungi pustaka
karena merasa kebingungan, tidak punya duit lagi untuk pergi
ke kantin dan tidak punya teman yang sreg untuk bersenda
gurau. Kecuali satu atau dua orang murid saja yang
mempunyai niat untuk mengunjingi pustaka.
Tidak hanya murid, guru-guru pun jarang terlihat yang
mengunjungi pustaka. Kalau ditanya “mengapa” maka jawaban
yang paling-paling kita dengar adalah tidak ada waktu atau
tidak ada kesempatan. Dan ini adalah sebuah jawaban
tradisionil.
Salah satu dari penyebab hilangnya gairah guru dan murid
mengunjungi pustaka karena pustaka yang berfungsi tempat
koleksi buku-buku ternyata miskin dengan koleksi buku kecuali
yang dapat ditemukan di perpustakaan adalah tumpukan buku-
buku teks pelajaran dan buku-buku terbitan Pusat Pembukuan
Depdikbud dan PN. Balai Pustaka. Seolah-olah perpustakaan
sekolah bukanlah tempat gudang ilmu tetapi tepatnya
perpustakaan sekolah adalah tong sampah bagi pembuangan
buku-buku teks terbitan PN Balai Pustaka dan buku-buku
keluaran Pusat Perbukuan Depdikbud.
Kedengarannya amat sinis. Tapi ini adalah kalimat yang
dilontarkan oleh seorang petugas pustaka yang merasa putus
asa atau frustasi melihat perkembangan pustaka yang tidak
pernah menggairahkan. Paling kurang menurut visi petugas
pustaka tadi.
Sebetulnya ini adalah suatu kenyataan. Kalau kita mengunjungi
beberapa pustaka sekolah, kecuali kalau petugas pustaka
menumpuknya dalam gudang, kita akan menemukan deretan
buku-buku teks yang diterbitkan pemerintah masih utuh. Dan
rata-rata buku-buku itu berdebu dan hampir tidak terawat.
Malah ada inisiatif dari petugas pustaka yang suka iseng untuk
menjualnya secara kiloan untuk kertas pembungkus teri di
tengah pasar. “Sungguh sayang bukan,” katanya, dari pada
buku-buku itu ditumpuk atau dibakar maka lebih baik dijual dan
uangnya dapat dimanfaatkan untuk pembeli sabun cuci.
Sungguh ini merupakan suatu pelecehan atas buku dan ilmu.
Apalagi mengingat biaya yang dikeluarkan pemerintah,
Depdikbud, tentu berkisar sampai puluhan miliar rupiah dan
berakhir dalam bentuk pemborosan dana negara yang amat
sia-sia.
Mengapa hal seperti ini bisa terjadi, apakah buku-buku ini
diluncurkan tanpa rencana?
Untuk mendapat jawabannya tentu kita dapat menemui
berbagai pihak, terutama guru-guru dan petugas pustaka
sebagai orang lapangan yang langsung berkecimpung
menghadapi buku-buku teks tersebut.
Tampaknya buku-buku keluaran Depdikbud dibuat asal jadi
saja, komentar seorang guru Bahasa Indonesia. Bahasa yang
digunakan oleh buku-buku paket (buku teks) agak kaku dan
penampilannya sangat formal dan tidak sesuai dengan selera
murid yang berusia remaja. Untuk buku Bahasa Indonesia,
misalnya, tidaklah tepat kalau disusun oleh ahli bahasa saja
tetapi juga diikutsertakan unsur dari sastrawan agar bahasa
buku ini enak dicerna dan menarik untuk dibaca.
Tampaknya buku-buku keluaran Depdikbud bersifat “teacher-
centered”. Maksudnya buku-buku itu musti ditelaah dulu oleh
guru dan baru disampaikan uraiannya pada murid. Sering kita
dengar murid merasa susah untuk memahami isi buku dan
jenuh dengan gaya bahasanya. Melihat sistem belajar orang
kita yang cenderung menghafal dan buku mentelaah isi buku
maka guru suka memanjakan murid dengan cara meringkaskan
isi buku untuk dapat dihafalkan bila ada ujian. Akibatnya jadilah
murid-murid ibarat sapi suci agama Hindu di India yang
mengunyah-ngunyah kertas berisi tulisan, menelannya dan
mengeluarkan dalam bentuk kotoran tanpa pernah singgah di
dalam kepala. Begitu pula bagi guru karena tidak menguasai
materi pelajaran, membuat keringkasan dan menghafalnya.
Akibatnya jadilah guru itu dengan ilmu tua semalam dari murid.
Kebiasaan guru yang suka meringkas isi buku dan
mencatatkan kepada murid, secara dikte agar dapat
mengefektifkan jam tatap muka atau menyuruh seorang murid
mencatatkan di papan tulis sampai tangannya pegal-pegal,
membuat buku-buku paket keluaran Depdikbud tetap utuh di
perpustakaan. Disamping itu yang membuat buku-buku paket
tetap menumpuk di Pustaka adalah rasa acuh tak acuh guru
terhadap keberadaan pustaka. Sehingga guru tersebut tidak
tahu kalau-kalau buku pendamping buku paket lain, untuk
memperkaya wawasan murid, telah datang ke pustaka. Malah
kalaupun tahu ada buku baru, banyak guru tidak
memperdulikan karena tidak suka bersusah-susah payah.
Sehingga kita lihat buku-buku penunjang lain semakin berdebu
saja di pustaka.
Hal ini yang membuat guru enggan menggunakan buku paket,
dengan akibat menyuruh murid-murid untuk membeli buku-
buku pasaran, akibat materi buku paket Depdikbud tidak persis
sama dengan isi GBPP sesuai dengan persepsi guru masing-
masing atau materi pelajarannya melompat-lompat. Misal,
pelajaran yang seharusnya untuk kelas tiga tetapi terdapat
pada buku kelas dua.
Masih ada alasan pribadi lain yang membuat buku paket
keluaran Depdikbud dan PN. Balai Pustaka terabaikan.
Sehingga tetap menumpuk-numpuk di perpustakaan.
Sanggar-sanggar belajar seperti MGMP, LKG, SPKG dan lain-
lain adalah ajang mendiskusikan, mana buku-buku yang
bermutu, diantara guru-guru peserta sanggar. Maka sering
penilaian mereka jatuh kepada buku pasaran sebagai buku,
yang berkwalitas karena mudah untuk dicerna sehingga buku
paket pemerintah semakin menempati urutan belakang.
Barangkali buku-buku pasaran itu laris karena tujuannya
komersil maka ia dirancang secara profesional. Apakah dari
segi perwajahan buku, ilustrasi, gaya bahasa dan sampai
kepada ukuran buku yang menyerupai buku populer karena
desainnya menarik. Disamping itu karena dalam sistem
kenaikan pangkat sekarang yang memberi penilaian kepada
guru yang kreatif membuat buku atau LKS. Maka guru inti yang
kreatif dan yang memiliki orientasi kepangkatan dan orientasi
ekonomi segera merancang buku apakah dengan cara
mengedit, yakni dengan caplok sana caplok sini. Maka jadilah
sebuah buku atau LKS yang menarik setelah keluar dari
percetakan lokal. Kemudian mereka, guru-guru inti,
mempengaruhi guru-guru inti, mempengaruhi guru-guru
pengikut sanggar agar sekolah mereka menggunakan buku
atau LKS yang ditulis oleh guru-guru inti. Inipun membuat buku
paket semakin terpojok kedudukannya.
Alasan kekurangan atau kesulitan ekonomi juga membuat guru-
guru bidang studi berbisnis buku dengan cara mengambil buku
kepada agen pemasaran buku untuk dijual kepada murid-murid
dengan janji bahwa kalau terjual maka keuntungan 20 sampai
30 persen adalah untuk guru bidang studi yang telah berjasa
tadi. Suatu keuntungan yang lumayan yang membuat guru
dapat tersenyum manis. Tetapi ini dapat menelantarkan buku-
buku paket sebagai buku utama.
Pada umumnya buku-buku paket yang menumpuk di
perpustakaan sekolah adalah buku-buku paket dalam kurikulum
lama. Tetapi sebagian besar, ketika kurikulum lama masih
berlaku, buku-buku paket itu telah ada juga yang menumpuk-
numpuk dan berdebu di perpustakaan.
Sekarang bagaimana dengan keadaan atau nasib buku-buku
paket yang ditulis seusai dengan kurikulum sebelumnya,
apalagi bagi buku kurikulum sebelumnya, apalagi bagi buku
kurikulum baru, ., ini?
Dari buku-buku paket terbitan PN. Balai Pustaka atau yang
diluncurkan oleh Pusat Perbukuan Depdikbud kita telah melihat
kemajuan-kemajuan yang sangat berarti. Pada umumnya buku-
buku sudah dirancang dengan perwajahan yang cukup menarik
dan penjilidan yang cukup kokoh sehingga tidak memungkinkan
lagi lembaran halaman buku-buku mudah lepas dan
bertebaran. Tetapi dari awal-awal tahun berlakunya kurikulum
sebelumnya, apalagi bagi buku kurikulum sebelumnya, apalagi
bagi buku kurikulum baru telah terlihat pula gejala bahwa buku-
buku ini mengalami nasib serupa dengan buku-buku paket
kurikulum lama yakni ditumpuk-tumpuk dalam perpustakaan.
Pada hal buku-buku ini dengan modal puluhan miliar rupiah
sengaja dirancang untuk membantu orang tua murid dan
sekaligus menyukseskan program pengajaran yang telah
dirancangkan oleh pemerintah kita. Tetapi sekarang dimana
letak salah dan letak penyebabnya.
Karena tujuannya betul-betul komersil maka penerbitan swasta
dalam naungan IKAPI, dan sebagian buku-buku yang
dipasarkan ada yang telah disahkan oleh Dirjen Dikdasmen,
melihat bahwa sekolah-sekolah adalah pasar yang potensial
untuk mencari keuntungan. Maka mereka mempelajari
kelemahan buku yang diluncurkan pemerintah dan juga
mempelajari selera guru dan murid sebagai konsumen mereka.
Seorang penyalur buku pelajaran dari penerbit swasta
mengatakan bahwa yang membuat buku-buku keluaran
penerbit mereka laris seperti kacang goreng adalah karena
adanya kesan “pandangan pertama” terhadap buku-buku yang
mereka pasarkan dan kesan ini tidak dimiliki oleh buku paket
yang dikeluarkan oleh pemerintah. Kesan buku terbitan non
pemerintah yaitu bentuknya pop, mungkin bahasanya adalah
bahasa populer dan ukuran disajikan seperti majalah remaja,
dan ukuran buku itu cukup tipis sehingga mendatangkan kesan
enteng untuk dibaca dan dicerna. Kemudian ditambah dengan
unsur pelayanan dari agen pemasaran yang menyebar dan
mengunjungi setiap sekolah. Disana mereka mempengaruhi
guru-guru bidang studi dan menunjukkan keunggulan buku-
buku mereka sehingga membuat guru betul-betul merasakan
adanya kemudahan-kemudahan terhadap buku pasaran itu.
Misalnya buku pasaran menyajikan uraian, rata-rata dengan
cara mengunyah-ngunyahkan materi dan menyuapkannya ke
dalam mulut murid, terasa mudah untuk dicerna oleh guru dan
murid. Malah tanpa adanya kehadiran guru, murid sendiripun
juga dapat melakukan instruksi pelajaran dalam buku pasaran.
Betul-betul pendekatannya bersifat “student-centered”.
Sedangkan buku terbitan pemerintah memuat uraian yang
bersifat umum sehingga murid musti mengerutkan dahi agar
dapat memahaminya seorang guru harus meringkaskan isi
buku terlebih dahulu. Terasa oleh kita penyajian buku pasaran
juga bersifat memanjakan murid atau memanjakan pendidikan
yang bersifat menghafal. Sedangkan buku terbitan Balai
Pustaka dan Depdikbud lebih mendorong guru dan murid untuk
menelaah isi buku dan mengembangkan sikap “menganalisa”
dan bukan sikap menghafal.
Kita rasa karena penyebaran buku pelajaran pasaran dikemas
secara potensial dengan tujuan komersil yaitu dengan mengirim
agen-agen pemasaran sampai menemui setiap guru bidang
studi telah dapat mempengaruhi mereka dan membuat mereka
berpaling dari buku terbitan Depdikbud. Pada sebuah SMA
yang didatangi oleh agen penyaluran buku kita akan dapat
melihat transaksi antar guru dan agen untuk mengambil
pesanan buku untuk dapat disebarkan pada beberapa kelas
dengan jumlah total murid diatas seratus orang dengan janji
kelak 20 atau 30 persen keuntungan adalah untuk ibu atau
bapak guru. Sementara dihadapkan guru itu sendiri tergeletak
onggokan buku paket kurikulum sebelumnya, apalagi bagi buku
kurikulum sebelumnya, apalagi bagi buku kurikulum baru yang
diterbitkan oleh pemerintah tetapi sebentar lagi bakal masuk
atau digusur kembali ke dalam pustaka sebagai tong sampah
tempat pembuangan. Ketika ditanya “kenapa buku pasaran
atau LKS ini yang dipakai dan buku paket Depdikbud
dikembalikan ke Pustaka”. Jawabannya adalah karena LKS
atau buku itu lebih tipis dan lebih praktis untuk dipakai dalam
proses belajar mengajar di kelas. Tampaknya guru-guru kita
ingin mengajar asal enteng saja.
Dapat kita lacak bahwa yang membuat buku paket keluaran
Depdikbud terabaikan dan buku pelajaran yang diproduksi oleh
swasta begitu laris karena adanya perbedaan dalam
pelayanan. Dimana buku swasta langsung datang dipasarkan
ke sekolah-sekolah dan melayani guru-guru. Disamping itu ada
kalanya karena faktor keterlambatan datang buku-buku paket
pemerintah. Dimana tahun pelajaran telah berjalan sekian
minggu, dan malah sampai satu bulan, maka buku paket baru
datang. Tentu saja kekosongan buku diisi oleh buku swasta
meski dengan cara menguras kantong orang tua murid yang
rata-rata banyak yang kurang mampu. Dimana mereka harus
mengeluarkan uang yang banyak untuk setiap bidang studi di
sekolah dan untuk sekian orang anak-anak merasa yang
menjadi tanggung jawab mereka.
Kita merasa khawatir kalau-kalau buku paket kurikulum
sebelumnya, apalagi bagi buku kurikulum sebelumnya, apalagi
bagi buku kurikulum baru . ini mengalami nasib yang sama
dengan buku paket Depdikbud dalam kurikulum lama. Maka
agar buku paket ini tidak ditumpuk di perpustakaan, sebagai ton
sampah, tempat pembuangan buku-buku paket atau buku-buku
teks terbitan PN Balai Pustaka dan terbitan Pusat Perbukuan
Depdikbud untuk itu kita mohon kepada pihak-pihak yang
terkait untuk melakukan antisipasi dalam rangka kita dapat
memanfaatkan buku-buku yang telah diciptakan dengan dana
besar demi kemajuan bangsa kita ini juga.
7. Bercermin Pada Pendidikan Negara Lain
Dan Smith (1999) menyusun buku dengan buku dengan judul
“The State of The World Atlas”. Dalam buku tersebut juga
digambarkan tentang ranking Sumber Daya Manusia (SDM)
bangsa bangsa se Dunia. Tentu saja posisi Indonesia belum
menggembirakan, karena berada pada urutan ke 88 di Dunia.
Namun ini bisa menadi cermin diri bagi bangsa kita untuk
memacu diri. Bangsa kita juga seharusnya merasa malu dan
bertanggung jawab untuk mengatasi problem pendidikan kita,
karena kualitas pendidikan adalah tentu menjadi tanggung
jawab semua, yaitu tanggung jawab pemerintah, para guru,
orangtua, pemikir dan komponen pendidik yang lain.
Malik Fajar (dalam Agustiar Syah Nur: 2001) mengatakan
tantangan pendidikan Indonesia untuk memajukan pendidikan
yang tertinggal sangat besar, apalagi dalam kerangka
globalisasi, otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan. Ia
mengatakan bhwa survei yang dilakukan oleh The political and
Economic Risk Consultancy (PERC) menyimpulkan bahwa
sistem pendidikan Indonesia menempati urutan ke 12 di Asia,
setelah Vietnam, dan di urutan pertama dan ke dua adalah
Singapura dan Korea Selatan. Disamping itu juga ada survei
yang meneliti tentang mutu tenaga kerja kita yang juga
termasuk dalam kategori rendah. Ini terjadi akibat kualitas
pendidikan kita (Indonesia) yang juga rendah. Maka melihat hal
ini Indonesia perlu meningkatkan pendidikan. Komponen
pendidik di Indonesia seharusnya juga membandingkan diri
dengan bangsa lain, dalam rangka mengembangkan kualitas
diri tersebut.
Agustiar Syah Nur (2001) telah melakukan studi dan menulis
buku dengan judul “Perbandingan Sistem Pendidikan 15
Negara” di dunia. Negara-negara yang menjadi
pembahasannya adalah di Amerika (Amerika Serikat, Kanada,
Cuba), Asia (Arab Saudi, Cina, Iran, Jepang, Korea Selatan,
Mesir), Eropa (Belanda, Inggris, Jerman, Perancis) dan dua
negara lain yaitu Australia dan Rusia. Namun hanya pendidikan
pada beberapa negara yang maju pendidikanya akan disorot
pada tulisan berikut.
1.Pendidikan Amerika Serikat
Karakteristik utama sistem pendidikan Amerika Serikat adalah
berkarakter desentralisasi. Pemeintah ferderal, negara bagian,
dan pemerintah daerah memiliki aturan dan tanggung jawab
administrai masing-masing yang sangat jelas. Amerika Serikat
tidak mempunyai sistem pendidikan yang terpusat atau yang
bersifat nasional. Namun bukan berarti pemerintah federal tidak
memberikan arah dan pengaruhnya terhadap masalah
pendidikan. Badan Legislatif, Judikatif dan Eksekutif fedaral
sangat aktif dalam proses pembuatan keputusan mengenai
pendidikan.
Pengangkatan guru adalah wewenang pemerintah negara
bagian. Masing- masing negara bagian mempunyai ketentuan
sendiri mengenai persyaratan untuk memperoleh sertifikat
mengajar. Ada negara bagian yang meminta persyaratan
mengajar, seperti menguasai tentang penyuluhan narkoba,
menguasai bidang komputer dan sebagainya. Ada pula negara
bagian yang memberikan sertifikat mengajar untuk lulusan
sarjana (S.1), tahap sertifikat ke dua untuk lulusan Magister
(S.2). Kemudian memberikan ujian tertulis dan praktek
mengajar sebagai syarat pengangatan guru. Negara bagian
juga mengeluarkan sertifikat untuk staf administrasi sekolah-
keala sekolah dan kakanwil pendidik.
Tentang kurikulum dan metodologi pengajaran di Amerika
Serikat, bahwa pemikir pendidik selalu mengembangkan
inovasi baru. Maka muncullah kurikulum terintegrasi (integrated
curriculum), metode mengajar yag berpusat pada siswa
(student centered teaching method), pengajaran atas dasar
kemampuan dan minat individu (individualized instruction), dan
sekolah alternatif.
2. Pendidikan Kanada
Ada tiga tingkat pendidikan di Kanada, yaitu tingkat sekolah
dasar, menengah dan pendidikan tinggi. Bersekolah adaah
wajib di Kanada selama 10 tahun dan berlaku pada semua
propinsi. Tahun ajaran untuk sekolah dasar dan menengah
rata-rata 180 – 200 hari belajar. Biasanya antara bulan
September dan akhir Juni. Pendidikan prasekolah juga lazim di
negara ini dan kurikulumnya mengintegrasikan aspek
pendidikan, kesehatan, sosial dan rekreasi. Pandangan orang
Kanada bahwa pendidikan merupakan persiapan untuk
pekerjaan. Maka sekolah vokasional, teknik dan bisnis sangat
memperoleh apresiasi dalam masyarakat (Bandingkan dengan
fenomena di Indonesia yang mengagungkan sekolah SMA, dan
entah mengapa masyarakat menjadikan SMK dan MAN
sebagai sekolah kelas 2 atau sekolah bagi orang yang kurang
mampu menurut kognitif dan finansial).
Meneruskan pendidikan setelah terputus di tengah jalan,
merupakan elemen penting di Kanada. Banyak orang dewasa
yang mendaftarkan diri pada adult education. Teknologi
komunikasi telah mempolerkan belajar di luar kelas- open
learning. Konsep-konsep pembelajaran di Kanada adalah
seperti child centered, continous progress, team teaching,
discoery method, open plan school dan audiovisual aids.
Sistem pendidikan di sini berkembang kea rah desentralisasi.
Pengajaran makin lebih bersifat informal dan ebih banyak
partisipasi murid sebagai respon dari metode lama yang
berbentuk kuliah dan belajar dengan menghafal.
Kurikulum juga sering mengalami revisi. Kurikulumnya
(pendidikan dasar dan menengah) mencakup bidang
matematika, sains, bahasa dan ilmu sosial (sejarah dan
geografi). Kurikulum sekarang memasukan komputer, berfikir
kreatif, belajar mandiri dn pendidikan lingkngan.
3. Pendidikan Cina
Manajemen pendidikan di Cina ialah tersentralisasi, mulai dari
level pusat, propinsi, kotamadya, kabupaten dan termasuk
derah otonomi setingkat kotamadya. Pendidikan di Cina terdiri
atas empat sektor yaitu basic education, technical dan
vocational education, higher education dan adult education.
Disamping itu juga terdapat pendidikan prasekolah yang
materinya meliputi permainan, olah raga, kegiatan kelas ,
observasi, pekerjaan fisik, serta aktivitas sehari-hari.
Pendidikan teknik dan vokasional memperoleh tempat dalam
masyarakat. Pendikan ini merupkan indikator penting bahwa
Cina mengarah pada proses modernisasi. Kemudian,
pendidikan bagi orang dewasa merupakan komponen penting
dalam sistem pendidikan Cina. Tujuannya adalah untuk
meningkatkan kualitas orang-orang dalam masyarakat dan
secara langsung akan menumbang pada pengembangan sosio
ekonomis penduduk.
Untuk memperoleh guru-guru yang bermutu maka Pemerintah
mendorong lulusan sekolah menengah yang berbakat untuk
memasuki lembaga pendidikan guru. Hal ini juga terdapat
perfedaan persepsi dimana kalau di Indonesia, para pelajar,
apalagi yang berotak cerdas, kurang terosebsi untuk menjadi
guru, kecuali berlomba untuk memperoleh pendidikan di
universitas bergengsi di Pulau Jawa.
4. Pendidikan Jepang
Jepang mempunyai penduduk yang homogen, yang terdiri dari
99.4 % orang Jepang. Bahasa Jepang dipakai sebagai bahasa
resmi dan dipakai mulai dari prasekolah sampai ke perguruan
tinggi. Sebagian besar anak-anak di Jepang memasuki taman
kanak-kanak. Kemudian pada usia enam tahun mereka mulai
masuk sekolah dsar yang wajib bagi semua orang, berlangsung
selama enam tahun. Sekolah tingkat pertama adalah termasuk
pendidikan wajib. Kurikulum pada tingkat pendidikan ini juga
mulai memperkenalkan pendidikan vokasional.
Guru guru di Jepang, sekolah dasar dan sekolah menengah,
memperoleh pelatihan dan juga pendidikan di universitas,
program pasca sarjana dan junior college. Sekolah sekolah
sangat emperhatikan kegiatan ekstra kurikuler seperti
organisasi murid (osis), event olah raga, study tour, dan
sebagainya. Pada sekolah menengh ada mata pelajaran wajib
dan mata pelajaran elektif.
Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat kita
untuk memajukan pendidikan tidak jauh berbeda dengan
kebijakan pendidikan yang dilakukan oleh beberapa negara di
atas. Pendidikan kita juga sudah menganut karakter
desntralisasi dengan otonomi daerahnya. Kemudian Badan
Legislatif, Judikatif dan Eksekutif pada tingkat provinsi dan
kabupaten atau kotamadya juga sudah sangat aktif dalam
proses pembuatan keputusan mengenai pendidikan.
Pemerintah kita juga mendorong guru guru untuk memperoleh
pendidikan dengan program kualifikasi pendidikan yang non
sarjana untuk memperoleh pendidikan S.1 (strata sarjana).
Memberikan beasiswa bagi bagi sarjana untuk mengikuti
program Magister (S.2). Maka berbondong bondonglah para
sarjana untuk mengambil kesempatan emas ini. Namun
kemudian puluhan atau ratusan musti Drop-Out, karena
terkendala tidak mampu menulis atau menyelesaikan tesis.
Sebagian kecil bisa selesai lewat jalur non halal, menjiplak
tesis, mendatangi jasa teman, atau jasa biro tesis kalau tidak
bisa harus puas dan bernostalgia ”karena pernah kuliah pada
program S.2”. Penyebab gagalnya ratusan mahasiswa
pascasarjana dalam menyelesaikan Tesis (atau juga disertasi
bagi mahasiswa post-graduate) karena mereka tidak terbiasa
dengan budaya membaca dan budaya menulis. Itu akibat tidak
ada budaya belajar mandiri dan berfikir kreatif serta inovatif.
Kurikulum pendidikan kita yang populer akhir-akhir ini adalah
seperti KBK (kurikulum berbasis kompetensi) dan kurikulum
KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Kedua bentuk
kurikulum kita mungkin sudah sama effektifnya dengan
kurikulum terintegrasi (integrated curriculum), metode mengajar
yag berpusat pada siswa (student centered teaching method),
pengajaran atas dasar kemampuan dan minat individu
(individualized instruction), dan sekolah alternatif yang dianut
oleh negara-negara maju.
Bedanya mungkin terletak pada bagaimana masyarakat
menghargai lembaga pendidikan tingkah menengah. Kira-kira
20 tahun lalu, masyarakat mengenal jenis-jenis sekolah seperti
’SPG (Sekolah Pendidikan Guru), STM (Sekolah Teknologi),
SMEA (Sekolah Menengah Ekonomi Atas). Ini semua adalah
beberapa bentuk dari sekolah vokasional atau kejuruan yang
tersebar diseluruh pelosok Indonesia dan ada beberapa jenis
vokasional yang lain. Kemudian sistem persekolah
disederhanakan maka ada sekolah SMA dan SMK (untuk
sekolah Vokasional/kejuruan). Entah bagaimana kebijakan
yang dilakukan maka sekolah SMA telah menjadi begitu
populer dan begitu banyarakar masyarakat yang mengirim
anak-anak mereka ke sekolah SMK.
Barangkali hal itu akibat di negeri ini terlalu menjamur sekolah
SMA, tiap kecamatan selalu ada SMA, sementara untuk SMK
mungkin hanya dihitung per Kabupaten. Sebaliknya kalau di
negara negara maju di Eropa, Asia dan Amerika yang banyak
betebaran adalah sekolah kejuruan. Maka sekolah vokasional,
teknik dan bisnis sangat memperoleh apresiasi dalam
masyarakat. Kemudian bagaimana dengan pendidikan untuk
orang dewasa kalau di negara maju banyak orang dewasa
yang mendaftarkan diri pada adult education.
Methode pengajaran di negara maju berkarakter ”child
centered, continous progress, team teaching, discovery
method, open plan school. Metode pengajaran yang yang
popular di Indonesia adalah CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif),
namun sering diplesetkan menjadi “Catat buku sampai habis”.
Plesetan ini terjadi karena memang demikianlah kenyataan
suasana mengajar pada sekolah sekolah yang jarang terpantau
oleh team penilai. Atau kalau pun banyak guru yang sudah
mengetahui tentang teknik-teknik pengajaran maka lagi-lagi
teknik mengajar konvensional lebih terasa manis bagi mereka.
Kalau demikian kita masih mempunyai banyak pekerjaan
rumah untuk membenahi kesemrautan pendidikan di bumi
Indonesia ini. Yang kita perlukan untuk maju dan memajukan
pendidikan kita adalah tead dan keseriusan kita sepanjang
waktu.
8. Mengoptimalkan Potensi Otak
Salah satu bagian tubuh yang paling penting dan sangat
berharga dan bisa mengubah dunia adalah otak. Yahya
Muhaimin (dalam Taufik Pasiak, 2004) mengatakan bahwa
kemapuan otak merupakan potensi yang memungkinkan
seseorang dalam mengembangkan diri untuk menjadi makhluk
menuju eksistensi (wujud) yang sempurna di dunia ini. Dengan
memggunakan otak maka seseorang akan mampu
menghasilkan tiga macam bentuk fikiran, yaitu rasio-intuitif,
emosional, dan fikiran spiritual.
Namun untuk membuat pemilik otak itu sebagai manusia yang
berarti/berguna atau sebagai manusia yang kurang berguna
bagi manusia lain adalah bagaimana ia memanfaatkan otaknya.
Konsep manusia yang berguna menurut agama adalah
“khairunnas anfahum linnas”, manusia yang baik adalah
manusia yang berguna bagi orang lain. Agar bisa berguna bagi
manusia lain, maka seharusnya kita mengoptimalkan
penggunaan fungsi otak. Otak yang tidak dirangsang secara
optimal tentu tidak akan membuat pemilik otak tersebut menjadi
makhluk yang sempurna.
Namun ada kecendrungan sebagian masyarakat dan orang tua
yang terlalu menganggungkan kecerdasan otak semata.
Banyak orangtua yang tidak henti-hentinya memuji anak kalau
kebetulan mempunyai anak yang cerdas, namun emosional
dan spiritualnya kurang cerdas- kurang pergaulan dan kurang
pula pengamalan agamanya, “wah percuma si Abton itu cerdas,
tapi kuper- kurang pergaulan- dan sholat serta puasanya
bolong- bolong”. Kita tidak akan menjadi manusia yang beradab
kalau hanya menggunakan rasional- kecerdasan otak- dan
mengabaikan unsur emosional dan spiritual.
Hampir semua orangtua tahu bahwa anak dengan otak yang
terlatih dan terdidik, tanpa mengabaikan kualitas emosional dan
spiritual, akan mampu membuat mereka menjadi bahagia,
cerdas dan berakhlak. Tentu saja ini diperoleh oleh anak yang
memiliki otak yang berkualitas dan pengembangan emosional
dan spiritual yang mantap. Untuk mendapatkan generasi yang
demikian maka orangtua, sekali lagi, perlu untuk membantu
pengoptimalan penggunaan dan pertumbuhan otak anak sejak
dini dan sampai remaja seperti memberi mereka makanan yang
bergizi, memberi latihan dan pendidikan, memperkaya anak
dengan informasi dan memperkaya pengalaman mereka.
Agar anak bisa menjadi cerdas maka orang tua, guru, baby
sitter dan para pengasuh anak memiliki peran penting dalam
mengembangkan potensi otak mereka. Cara-cara
pengembangan potensi otak yang dapat dilakukan adalah
melalui pembinaan bahasa anak, memberikan mereka
kesempatan untuk memiliki kegiatan dan melibatkan mereka
dalam kegiatan sosial. Taufik Pasiak (2004) mengatakan
bahwa bahasa, latihan, pendidikan, pergaulan/sosial
merupakan sarana untuk mengoptimalkan potensi otak kita.
Bahasa memungkinkan kita dalam merumuskan pengalaman
mental. Apa yang kita lihat, dengar dan rasakan , atau apa
yang diserap oleh indera, dialami oleh pengalaman hidup akan
dapat diekspresikan melalui bahasa. Orang tua yang terbiasa
membelenggu perkembangan dan pertumbuhan anak dengan
cara banyak melarang untuk berbuat “anak tidak boleh
melompat-lompat, tidak boleh memajat, mendorong, berlari,
tidak boleh main air, tidak boleh main api, dan perbuatan serba
melarang lainnya” berpotensi menciptakan anak menjadi manja
dan miskin dengan pengalaman hidup. Sejak kecil otak mereka
tidak berkembang secara optimal.
Mengisolasi seseorang untuk berbicara sejak bayi bisa
membuat dia mengalami gangguan jiwa. Namun secara tidak
sengaja ditemukan bahwa cukup banyak orang tua yang
enggan mengajak bayi untuk ngobrol. Apa yang mereka
lakukan adalah cuma menggendong tanpa berkata-kata.
Kemudian cukup banyak orang tua yang juga egois dan malas
untuk mengajak anggota keluarga/ anak-anak untuk
bercengkerama. Mereka cuma sibuk dan tenggelam dalam
urusan pribadi dan bisnis. Orang tua yang demikian juga
berpotensi dalam menghancurkan perkembangan otak anak
mereka sendiri.
Orang tua dan guru perlu tahu bahwa anak belajar bahasa
lewat bermain. Proses belajar dalam bentuk “learning by doing,
learning by playing, dan learning by using game” sangat
bermanfaat dalam mengembangkan kecerdasan anak.
Selanjutnya bahwa dalam merangsang pertumbuhan dan
perkembangan otak, maka anak dan juga pelajar sangat
membutuhkan sentuhan kasih sayang dari guru dan orang tua,
makanan bergizi, dan lingkungan yang kaya dengan
rangsangan (aktifitas yang edukatif).
Lingkungan belajar yang kaya dengan rangsangan atau
suasana yang penuh emosional/ kehangatan dan aktifitas yang
edukatif adalah kunci bagi perkembangan otak anak. Pelajaran
akan mudah diingat jika melibatkan kehangatan emosional.
Orang bijak mengatakan bahwa otak dan otot bersandar dekat
orang yang banyak gerak (banyak aktifitas) dan pengalaman
hidup. Maka betapa pengaruh pengalaman hidup (melalui
banyak aktifitas) akan membuat seseorang menjadi lebih
cerdas. Dengan kata lain bahwa orang yang miskin dengan
pengalaman positif adalah orang yang paling miskin dalam
hidupnya.
Kegiatan bersosialisasi juga mampu untuk membuat anak/
seseorang mejadi cerdas. Ada beberapa bentuk kegiatan
bersosial seperti melakukan ngobrol, membuat catatan harian,
mengikuti organisasi, bermain dan melakukan plesiran atau
rekreasi.
Mengobrol dilakukan untuk menguatkan silaturrahmi atau
human relation. Menulis catatan harian bermanfaat untuk
introspeksi diri. Mengikuti kegiatan organisasi berguna dalam
mencari teman, melatih manajerial, dan mengelola konflik.
Aktifitas bermain juga berguna untuk membuat dunia ini ceria,
maka pilihlah permainan untuk anak yang memiliki dimensi
motorik, sensorik, kognitif dan kehangatan emosional.
Kemudian, mengikuti kegiatan rekreasi seperti outbond training
yaitu kegitan yang memadukan olah raga dan bersantai di alam
bebas sangat berguna untuk kesehatan rohani, jasmani dan
mempererat hubungan sosial.
Untuk meningkatkan potensi otak agar anak bisa menjadi
cerdas, ditentukan pula oleh kapasitas ingatan, jumlah
informasi dan kualitas pendidikan anak. Markowitz (2002)
dalam bukunya “otak sejuta gigabyte: buku pintar membangun
ingatan super” juga membahas tentang proses ingatan,
mengelola informasi, dan strategi untuk sukses di sekolah.
Proses berkomunikasi orangtua dan anak di rumah dan proses
belajar mengajar (PBM) oleh guru dan murid di sekolah
seharusnya bersifat interaktif atau hubungan timbal balik-
komunikasi dua arah. Pola pembelajaran yang interaktif adalah
juga cara yang tepat untuk meningkatkan system ingatan.
Orang tua dan guru seharusnya juga sering berbagi cerita atau
kisah nyata, karena kisah nyata juga bisa membantu anak
dalam mengelola emosi dan untuk meningkatkan proses
ingatan mereka.
Ingatan seseorang memberikan rujukan pada masa lalu dan
prediksi untuk masa yang akan datang. Ingatan yang
menyentuh emosi, penuh kehangatan atau penuh trauma,
umumnya tersimpan untuk waktu yang lama. Semua
pengalaman yang dilalui dan dimiliki oleh seseorang akan
tersimpan dalam otak dan dengan pengulangan,
pengistirahatan serta sentuhan emosi, maka ingatan yang kuat
akan terbentuk.
Ingatan anak akan tumbuh karena seringnya pemakaian dan
semakin banyaknya anak belajar. Untuk itu anak perlu
dikondisikan agar terbiasa belajar dengan teratur dan frekuensi
yang tinggi, menjadikan belajar sebagai kebutuhan hidup anak.
Ada beberapa strategi untuk mengingat informasi yang penting
yaitu seperti menumbuhkan skap ingin tahu, pengamatan yang
cermat seperti banyak mengamati, banyak mendengar, dan
banyak memikirkan. Maka dengan melakukan cara-cara yang
demikian ingatan anak/ kita bisa makin kuat.
Guru dan siswa, demikian pula orang tua dan anak, perlu tahu
bahwa pertumbuhan kecerdasan otak akan lebih optimal bila
tahu cara mengelolanya. Pengelolaan atau manajemen
intelektual yang perlu untuk dilakukan adalah seperti:
1). Jangan suka menunda waktu, lakukan sekarang juga.
Seperti ungkapan yang mengatakan bahwa “don’t wait till
tomorrow, do what you can do”, jangan tunggu sampai besok,
kerjakan apa yang dapat dikerjakan hari ini.
2). Bersikap rileks, hindari stress, dan lakukan cukup istirahat
tapi jangan terlalu banyak istirahat atau kurang istirahat.
3). Kita perlu mengembangan keterampilan mengamati atau
observational skill.
4). Biasakan melakukan kegiatan menulis dan mencatat.
5). Banyak minum air putih, mengkonsmsi buah segar dan
sayur dan melakukan olah raga. Kegiatan ini demi untuk
mensuplai oksigen (O2) dan kelancaran sirkulasi darah dalam
tubuh.
6). Kita juga harus sering mencari perubahan suasana, seperti
pergi ke tempat baru, menambah teman baru, mencari hobi
positif yang baru, membaca hal-hal yang baru, dan lain-lain.
Potensi otak juga bisa meningkat melalui cara kita belajar. Kita
dan anak harus mengenal cara-cara belajar yang tepat.
Beberapa strategi agar sukses dalam belajar adalah sebagai
berikut:
1) Belajar secara rileks
2) Cukup tidur
3) Banyak minum air, agar darah dan otak kaya dengan
oksigen.
4) Cukup olah raga, agar darah lancer beredar.
5) Menjaga kosentrasi dan meningkatkan pengamatan
6) Belajar dan selang selingi dengan istirahat, ibarat berlari
sejauh 15 km tentu musti ada lari, istirahat dan lari. Istirahat
diperlukan untuk mengembalikan stamina tubuh.
7) Gunakan catatan dan tempelan-tempelan pada dinding
8) Belajarlah di ruangan yang nyaman dan segar.
Sekali lagi bahwa dalam mengoptimalkan potensi otak demi
untuk pendidikan, maka pemilik otak itu harus memperhatikan
pertumbuhan dan pengembangan otak mereka. Namun yang
bertanggung jawab dalam pertumbuhan dan perkembangan
otak mereka dalah orang tua, guru, pengasuh, masyarakat dan
pemerintah. Yang diperlukan untuk mengoptimalkan
pertumbuhan dan perkembangan otak mereka adalah,
memperkaya pengalaman hidup mereka (anak), memberi
pendidikan dan pengalaman hidup, memberi makanan dan
minumab yang bergizi, cukup gerak badan dan istirahat. Dan
hal lain yang juga penting adalah memberi model dan sentuhan
kasih sayang. Kemudian yang perlu dihindari karena bisa
membelenggu pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan
anak/ siswa adalah kebiasaan yang asal serba melarang,
terlalu suka campur tangan dan serba membatu. Akhirul kalam
bahwa untuk mendapatkan generasi yang cerdas dan punya
akhlak memang ditentukan oleh sentuhan dan peran orangtua,
guru, masyarakat dan pemerintah.

9. Suasana Pendidikan Rumah Tidak Perlu Hiruk Pikuk


Program Parenting
Parenting adalah program yang dilaksanakan oleh lembaga
sosial untuk mempersiapkan para pemuda dan pemudi untuk
menjadi orang tua. Pesertanya adalah orang-orang yang
berusia muda yang ikhlas mempersiapkan diri untuk menjadi
orang tua karena sudah punya niat/ rencana untuk menikah
dan mendirikan rumah tangga yang bahagia. Kelak bila mereka
melangsungkan pernikahan dan memilki anak-anak,
diharapkan bisa membina rumah tangga yang bahagia.
Di negara-negara maju banyak organisasi sosial yang
menyelenggarakan program parenting dan banyak calon-calon
orang tua yang berpatisipasi dalamnya, sehingga mereka bisa
menjadi orang tua yang bertanggung jawab dan berkualitas.
Namun di negara-negara yang Sumber Daya Manusia (SDM)
belum begitu membanggakan, dan termasuk negara Indonesia,
maka program parenting belum begitu popular. Kecuali
program parenting swakarsa yang dilakukan oleh segelintir
orang lewat otodidak atau belajar sendiri dengan membaca
buku, majalah, kliping artikel dan mengikuti seminar. Untunglah
ada program screening diberikan oleh Kantor Urusan Agama
(KUA) yang wajib diikuti oleh sepasang pengantin sebelum
menyelenggarakan ritual akad nikah dan pesta perkawinan.
Kegiatan skrining (screening) yang diberikan oleh petugas
nikah, wali hakim, dari Kantor Urusan Agama (KUA) dapat
dipandang sebagai kegitan parenting dalam bentuk crash
program (program cepat) menjadi orang tua yang mengerti
tentang peran orang tua. Tapi apakah hasil screening bisa
tahan lama terhadap pasangan pengantin ? Screening yang
diberikan oleh petugas nikah dari kantor KUA hanya bersifat
formalitas. Hanya calon orang tua yang mantap ilmu dan
amalnya yang mampu mengamalkan pesan-pesan dari
kegiatan screening tadi. Sementara itu bagi calon suami istri/
calon orang tua yang miskin ilmu agama, ilmu pendidikan dan
miskin wawasan, kegiatan screening atau parenting ala kantor
KUA cendrung bersifat “masuk telinga kiri –keluar telinga
kanan” atau garbage in- garbage out. Kenapa demikian ? Ya
cukup banyak mereka yang telah mengikuti screening dan
pernikahan , punya anak setelah itu, mereka bingung apa yang
akan diperbuat sebagai orang tua. Sehingga mereka membina
rumah tangga dengan cara meraba-raba atau meniru prilaku
generasi sebelumnya. Untung kalau yang ditiru itu sesuai
dengan konsep ilmu pendidikan dan norma hidup- jauh dari
unsur kekerasan dan kezaliman (bersikap sadis terhadap
anggota keluarga dan gemar dengan kata-kata penuh carut
marut).
Fenomena dalam masyarakat bahwa cukup banyak orang tua
yang kurang mengerti dengan konsep parenting- bagaimana
menjadi orang tua yang ideal bagi keluarga. Banyak orang tua
yang mendidik dan membesarkan anak dengan “konsep coba-
coba” atau trial and error, sehingga berpotensi melahirkan
generasi penuh ragu-ragu dan mental yang mudah terombang
ambing (plin-plan). Bila mendidik dan membina keluarga tanpa
persiapan diri- tanpa memiliki ilmu pengetahuan, maka hasilnya
adalah akan lahir generasi yang kurang mengenal potensi diri
dan kurang tahu/ gamang menghadapi masa depan.
Visi Keluarga Kontra Dengan Misi Keluarga
Visi (atau pandangan) dapat diartikan sebagai arah atau tujuan
ke depan. Misi adalah strategi atau langkag-langkah untuk
mewujudkan visi tadi. Kalau begitu, visi keluarga dapat diartikan
sebagai tujuan yang hendak dicapai oleh ayah dan ibu dalam
membina rumah tangga mereka. Ayah dan ibu perlu bekerja
sama untuk menerapkan strategi untuk menuju rumah tangga
yang bahagia sebagai harapan atau visi orang tua secara
umum.
Begitu seorang bayi lahir ke dunia, maka saat itu eksistensi
sebuah keluarga terasa makin utuh. Visi keluarga yang terselib
dalam hati atau yang terucap dalam lisan sungguh sangat mulia
dan sempurna; “kami ingin rumah tangga ini menjadi rumah
tangga yang damai dan harmonis”. Yang lain ingin memiliki
anak yang yang sehat, cerdas dan sholeh. Dalam koridor
agama Islam, semua pemeluk Islam ingin memiliki rumah
tangga yang bahagia di dunia dan bahagia di akhirat, atau
memiliki keluarga yang “mawadah wa rahmah”, keluarga
bahagia dan penuh dengan rahmat.
Seperti yang telah dijelaskan tadi bahwa untuk mendapatkan
rumah tangga yang bahagia dan penuh rahmat, maka
diperlukan usaha dengan langkah-langkah kongkrit untuk
mencapai misi keluarga. Ada beberapa fokus yang perlu jadi
prioritas dalam menciptakan suatu keluarga yang bahagia dan
rahmah yaitu memperoleh pendidikan yang berkualitas,
kesehatan yang berkualitas, pergaulan dan bentuk aktifitas
keluarga yang juga berkualitas. Namun, sekali lagi, sebahagian
rumah tangga cendrung tanpa konsep, salah konsep atau
meraba-raba dalam bertindak- in action.
Pendidikan keluarga merupakan unsur pertama yang perlu
untuk diperhatikan setiap keluarga. Ada beberapa versi orang
tua dalam mendidik anak. Ada orang tua yang tidak mengenal
tentang cara mendidik. Yang mereka lakukan cuma meniru
apa-apa yang diperbuat oleh generasi sebelumnya. Ada yang
cuma menyerahkan urusan pendidikan pada instansi sekolah,
surau/ mesjid atau lembaga sosial lainnya. Ada pula yang
cukup peduli dalam mendidik anak, tapi cuma sampai
pendidikan anak di PAUD (pendidikan anak usia dini), TK dan
di SD kelas satu atau kelas dua. Selanjutnya mereka tidak mau
tahu lagi atau berhenti mengikuti perkembangan pendidikan
anak dari kelas tiga SD, terus ke tingkat SLTP,dan SLTA
apalagi untuk tingkat perguruan tinggi.
Pintarnya orang tua stelah itu hanya sebatas meyuruh,
melarang dan berteriak-teriak “belajar lah naaaak…, jangan
main-main… buat PR….jangan merokok…baca buku….!!!”.
Selanjutnya dorongan orang tua cuma sebatas berharap
“usahakan juara satu… usahakan nilai mu seratus….!!”.
Harapan orang tua ini tidak salah namun kalau orng tua ikut
berbangga bahwa anak jadi juara lewat usaha yang penuh
kepalsuan, juara lewat contekan atau juara kelas karena
(factor) berkenalan dengan guru di sekolah anak. Maka
tumbuhlah anak jadi generasi cerdas yang penuh bohong.
Dalam mendidik yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah
bagaimana agar anak selalu aktif dalam proses belajar dengan
penuh kesadaran dan kemandirian, walaupun mereka tidak
begitu juara di kelas, namun juara bukan karena rekayasa.
Kesehatan keluarga merupakan prasyarat yang lain untuk
mendapatkan keluarga bahagia. Masalahnya sekarang bahwa
banyak keluarga yang gemar memupuk gizi anak dengan
makanan dan minuman yang bersifat cepat saji (fast food and
fast drink), makanan yang yang kaya dengan kandungan
kolesterol, zat-zat additive, zat-zat pewarna dan zat-zat kimia
yang berpotensi untuk mempersingkat umur dan penyakit
degeratif (proses merosotnya kesehatan) lainnya dan bahan
bahan penyedap lainnya.
Mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak sehat yang
dibungkus dengan kemasan dan label, tampaknya sudah
menjadi gaya masyarakat kita. Rasanya tidak gaul dan tidak
moderen kalau berpergian membawa “pisang goreng, godok
ubi, kue lapis, onde-onde, kue lopi dan penganan lain yang
lebih alami”. Makanan dan minuman yang dibawa bila naik
mobil dan kendaraan lain adalah makanan dan minuman yang
dibungkus kemasan plastic, berlabel, kaya dengan zat. Begitu
selesai dikonsumsi maka dengan seenak isi perut dilemparkan
saja ke jalan raya.
Ada jutaan orang yang melemparkan bungkus makanan dan
minuman setiap saat sepanjang hari. Coba lihat jalan-jalan raya
di kota dan di propinsi kita, kotornya sudah luar biasa. Pemuka
masyarakat, pemuka agama, tokoh intelektual dan sampai
kepada professor sudah terbaisa melihat pemandangan yang
demikian. Kenapa sampai saat ini belum ada seruan agar
“pemilik mobil melengkapi mobil dengan tong sampah “ atau
“yang membuang sampah lewat jendela mobil akan kena
denda”. Ini mungkin lebih efektif dalam menjaga kebersihan
jalan raya. Atau kurangi saja kuota penerimaan CPNS andai
kelak mereka Cuma cenderung menjadi PNS yang senang
makan gaji buta, dialihkan saja untuk merekrut pasukan kuning
(petugas kebersihan) untuk kebersihan jalan raya di luar kota.
Sangat mengkhawatirkan dan memalukan karena volume
sampah bungkus makanan dan minuman di sepanjang jalan
jalan propinsi hingga jalan kecamatan, sudah berlipat ganda.
Sementara untuk memungut sampah tersebut entah siapa yang
bertanggung jawab. Kepala pemerintah, tokoh spiritual dan
intelektual entah peduli dengan fenomena jelek ini entah tidak.
Apakah ada kecendrungan Indonesia menjadi republik penuh
sampah ?. Undang-undang tentang kebersihan lingkungan
perlu untuk melibatkan pemilik kendaran agar peduli terhadap
kebersihan jalan raya dan ikut memberikan sanksi atas
kejahatan, mengotori lingkungan ini.
Tentang kebutuhan hiburan keluarga, banyak orang tua yang
berfikir bahwa melengkapi rumah dengan sarana hiburan
sebagai usaha membuat warga rumah menjadi bahagia dan
terhibur. Banyak ayah dan ibu menjanjikan fasilitas hiburan
sebagai rewad. “Kalau kamu juara kelas, papa belikan play
station…. Kalau kamu jago dalam ujian mama belikan HP
kamera….. kalau kamu suka membuat PR nanti om belikan TV
24 inch”. Reward seperti ini tidak salah bila bisa effektif untuk
menggenjot minat dan motivasi belajar anak.
Fenomena Rumah Tangga
Fenomena di lapangan bahwa banyak orangtua sangat peduli
membeli produk elektronik buat sarana hiburan keluarga
meskipun harganya demikian mahal seperti TV berwarna
ukuran jumbo, VCD player, antene parabola, loud speaker
dengan beat keras, play station, sampai kepada sarana hiburan
berukuran kecil seperti HP kamera, TV portable, MP3, dan jenis
jenis digital elektronik yang lain. Yang jadi masalah atas
fasilitas hiburan ini adalah apakah orang tua dan anak tahu
atau tidak tentang aturan menggunakan alat-alat hiburan ini.
Sekarang yang terpantau pada banyak rumah adalah bahwa
semua fasilitas hiburan ini hidup sepanjang waktu sehingga
membuat suasana rumah jadi hiruk pikuk. Sering gangguan
suara dan tayangan hiburan mengganggu acara kebersamaan
keluarga. Kini dipertanyakan bahwa apakah masih ada acara
kebersamaan yang cukup menyentuh untuk makan bersama,
dan shalat berjamaah. Yang ada cuma duduk bersama sambil
menonton presenter, artis, iklan dan konten hiburan yang
banyak mengandung hura-hura, kekerasan, percekcokan dan
miskin nilai sopan santun/ nilai moral.
Sekali lagi, bahwa banyak rumah tangga sekarang gara-gara
diisi oleh berbagai fasilitas hiburan telah menjadi hiruk pikuk.
Hiruk pikuk oleh suara presenter dan iklan dari stasiun TV,
dentuman musik dari speaker pada belahan rumah yang lain.
Anak-anak ABG (Anak Baru Gede= remaja) yang sengaja
menyisipkan headset loudspeaker MP3 telah membuat lobang
telinga mereka juga menjadi hingar bingar, ini berpotensi
membuat mereka tidak kenal lagi bagaimana cara berbicara
dan berbahasa yang santun dan lemah lembut pada orang lain.
Beginilah orang tua sekarang yang membesarkan dan mendidik
anak-anak mereka dengan penuh kegaduhan dan suara yang
hiruk pikuk.
Ada suatu keluarga yang tiba-tiba memperoleh tambahan bayi
baru dan membesarkannya dalam rumah yang penuh suara
fasilitas hiburan yang tak terkontrol. Sang bayi menangis dan
resah sepanjang waktu sehingga membuat orang tua sangat
cemas. Dokter mengatakan bahwa si bayi cukup sehat dan
yang membuat bayi resah dan rewel adalah karena sejak
kelahirannya “telinganya yang sensitif terganggu oleh kondisi
suara yang penuh dengan suasana yang hiruk pikuk tersebut”.
Suasana menjadi semakin parah manakala setiap anggota
keluarga berbicara dengan volume suara keras untuk
mengalahkan suara elektronik dan akhirnya berbicara dengan
suara lembut dan santun sudah menjadi sesuatu yang mahal.
Suasana pendidikan di rumah dengan suasana yang hiruk
pikuk agaknya dapat ditemukan pada puluhan, ratusan, ribuan
dan malah jutaaan rumah tangga di Indonesia. Bila orang tua
dan masyarakat kita masih ingin memiliki anak anak yang
shaleh, santun dan cerdas, kemudia memperoleh rumah
tangga yang bahagia dan penuh rahmah maka mereka perlu
untuk menata diri dan rumah tangga. “Benahilah cara mendidik
keluarga, benahi cara mengkonsumsi fasilitas hiburan agar
tidak mengganggu proses pendidikan, pertumbuhan dan
perkembangan keluarga”. Seperti kata ungkapan “better late
than never”, biarlah terlambat dari pada tidak pernah
melakukan penataan pada pendidikan keluarga sama sekali.

10. Peran Orang Tua Sebagai Pendidik Moral


Miskonsepsi Tentang Peran Mendidik
Ibu adalah orang yang paling dekat pada anak. Ia merupakan
orang yang pertama yang mengajarkan cara berbicara, cara
menghitung jari di tangan, dan cara mengekspresikan rasa
kasih sayang dan simpati pada orang lain. Dengan demikian ia
merupakan guru pertama dan utama dalam mengendalikan
anaknya untuk menjadi orang yang baik dan berguna bagi
orang. Kemudian ayah juga harus menjadi orang yang pertama
atau orang nomor dua dalam kehidupan anak sebagai pendidik
anak dan membimbingnya tumbuh menjadi anak yang sehat
dan cerdas. Menjadi orang yang berguna seperti kata
Rasullullah SAW: khairunnas anfahum linnas- orang yang baik
adalah orang yang bermanfaat bagim orang lain.
Namun dalam kenyataan dalam hidup ini bahwa jutaan kaum
bapak tidak tahu dan tidak mau tahu soal mendidik anak.
Mereka terlalu menyerahkan urusan mendidik anak pada kaum
ibu. Sebahagian menganggap bahwa kalau ikut mendidik dan
merawat anak maka karakter maskulin mereka akan merosot.
Dalam pola rumah tangga tradisionil kaum bapak berpendapat
bahwa mengendong, memberi susu dan mendidik anak adalah
urusan kaum wanita.
Tidak masalah atau dapat dimaafkan kalau kaum bapak tidak
ikut mengurus pendidikan dan perawatan anak lantaran mereka
super sibuk mencari nafkah demi keluarga juga. Namun apa
kira kira ungkapan yang patut diberikan pada kaum bapak yang
cuma pandai beranak kemudian kurang terampil dalam mencari
nafkah apalagi dalam urusan mendidik keluarga (?).
Itulah dalam kenyataan bahwa dalam masyarakat tradisionil
yang telah sepakat saja berpendapat bahwa tugas ibu adalah
memelihara anak dan tugas ayah adalah bekerja, mencari
uang, sehingga kaum ayah atau bapak tidak pantas
menyediakan susu botol bayi, dan mengganti popok. Untuk
keharmonisan keluarga dan perkembangan anak maka
anggapan ini sangat merugikan.
Kaum bapak walaupun sibuk bekerja, namun juga harus bisa
melibatkan diri dalam kehidupan rumah tangga. Malah ini dapat
menambah rasa hormat istri pada suaminya. Kaum bapak yang
berpandangan moderen di negara kita dan di negara maju
lainnya bahwa walau mereka memiliki banyak posisi karir dan
sibuk dengan beberapa aktivitas tetap melowongkan waktu
untuk ikut mendidik anak, membantu meringankan pekerjaan
rumah, ikut mencuci, memasak sehingga, sekali lagi, mereka
mendapat simpati dan rasa hormat yang ekstra dari kaum
wanita, istri mereka.
Pada umumnya orang mendambakan untuk punya rumah
tangga yang hangat, harmonis dan bahagia. Suasana rumah
tangga yang begini tidak datang dengan sendirian namun harus
dibina. Ayah dan ibu perlu melakukan proses bagaimana
mengelola rumah tangga agar tumbuh bahagia.
Pola kepemimpinan dalam rumah tangga oleh ayah dan pola
pengasuhan oleh ibu sangat menentukan kebahagiaan anak-
anak mereka. Ada tiga tipe kepemimpinan dan pengasuhan
yang secara tak sengaja diterapkan oleh ayah dan ibu, yaitu
tipe otoriter, laizzes faire dan demokrasi. Orang tua yang
otoriter cenderung berwatak keras, suka memaksakan
pendapat. Tipe laizzes faire adalah orang tua yang suka masa
bodoh, serba tidak peduli atas apa yang terjadi dan tipe
demokrasi adalah pola kepemimpinan ayah dan pengasuhan
kaumm ibu yang menghargai hak hak dan pendapat anak dan
anggota keluarga yang lain. Tentu saja rumah tangga yang
didamba adalah rumah tangga yang hangat dan yang
demokrasi. Orang tua atau ayah-ibu yang penuh penghargaan
dimana kegiatan dalam rumah tangga dilaksanakan secara
kebersamaan menurut peran yang telah disepakati.
Peran Dalam Mendidik Moral Anak
Dalam zaman dengan kemajuan teknologi dan informasi yang
pengaruh positif dan negatifnya hampir tidak bisa dihindari.
Dampak dari kemajuan ini menimbulkan plus dan minus,
termasuk dalam hal dekadensi moral – kemerosotan moral.
Maka peran orang tua sebagai pendidik moral anak sangat
dituntut. Mereka perlu terlibat dalam mendidik anak agar
mereka memiliki moral yang terpuji. Orang tua dapat belajar
dari berbagai literature dan bertukar pendapat tentang
pendidikan dengan teman yang dianggap tahu.
Ada banyak buku yang dapat dibeli atau dipinjam di
perpustakaan atau literature yang dapat diakses lewat internet
yang berbicara tentang moral, pendidikan moral, moral dan
sosial. Dalam zaman yang serba mudah dalam mengakses
ilmu pengetahuan bila orang tua tidak peduli akan otodidak,
menambah ilmu dan wawasan sendirian, tentu akan sangat
merugi bagi diri dan bagi keluarga mereka.
Kepribadian
Kartini Kartono (1985) mengatakan bahwa setiap pribadi itu
unik. Tidak ada dua pribadi yang sama. Pribadi seseorang
ditentukan oleh bakat, pendidikan, pengalaman- apakah
pengalaman pahit atau menyenangkan- dan faktor lingkungan.
Faktor eksternal yang berpengaruh pada anak bisa berasal dari
rumah, sekolah, dan masyarakat seperti teman sebaya dan
teman yang berbeda umur. Pengaruh yang diterima- yang
dialami- oleh seseorang waktu kecil maka bekasnya begitu
mendalam dalam memori seseorang. Semua ha-hal yang
disebutkan tadi sangat berpotensi dalam pembentukan kualitas
kepripadian atau karakter seseorang. Namun dasar-dasar
dalam pembentukan kualitas kepribadian adalah sejak dari
rumah melalui sentuhan dan bimbingan orang tua.
Bentuk perlakuan yang diterima anak dari orang tua dan
lingkungan menentukan kualitas kepribadiannya. Seseorang
yang memiliki kepribadian yang rapuh/ lemah terbentuk karena
ia kurang memperoleh kasih sayang, kurang rasa aman dan
akibat pemanjaan- menuruti kehendak anak tanpa mengajarkan
rasa bertanggung jawab (memberi anak kegiatan tanggung
jawab). Sebaliknya orang yang memiliki kepribadian yang kuat,
ini terbentuk karena pemberian rasa kasih sayang, kehangatan
jiwa dan pemberian aktivitas atau pengalaman hidup, life skill,
pada anak.
Membina Hubungan dan Komunikasi
Kita tahu bahwa kualitas hubungan dan komunikasi yang
diberikan orang tua pada anak akan menentukan kualitas
kepribadian dan moral mereka. Hubungan yang penuh akrab
dan bentuk komunikasi dua arah antara anak dan orang tua
merupakan kunci dalam pendidikan moral keluarga.
Komunikasi yang perlu dilakukan adalah komunikasi yang
bersifat integrative, dimana ayah, ibu dan anak terlibat dalam
pembicaraan yang menyenangkan dan menghindari model
komunikasi yang bersifat dominatif atau suka menguasai
pembicaraan.
Pastilah orang tua yang dominatif, yang kerjanya “ngobrol”
melulu tak henti-hentinya akan menjadi orang tua yang
menyebalkan. Selanjutnya diharapkan agar komunikasi
orangtua dengan anaknya banyak bersifat mendorong, penuh
penghargaan dan perhatian. Karena ini berguna untuk
meningkatkan kualitas karakter dan moral anak.
Hal lain yang perlu diperhatikan orang tua dalam membentuk
moral anak melalui pendidikan dalam keluarga adalah menjaga
kualitas hubungan dan komunikasi mereka, yaitu hubungan dan
komunikasi yang ramah tamah dengan suasana demokrasi.
Sebab keramahan dapat membuat anak merasa diterima.
Ada dua tingkat hubungan orang tua dan anak dalam
berkomunikasi yaitu pada tingkat feeling atau perasaan dan
tingkat rasio atau logika. Hubungan pada tingkat feeling atau
emosi yaitu untuk pemahaman atau empati- empati berarti
memahami perasaan seseorang tanpa harus larut dalam
emosinya. Hubungan pada tingkat rasio atau logika juga
diperlukan untuk memecahkan masalah dalam keluarga.
Kedua bentuk hubungan ini perlu untuk diaplikasikan oleh
orang tua dalam membina moral anak. Walau orang tua harus
bersikap ramah dan demokrasi pada keluarga bukan berarti
menunjukan karakter yang lemah dan suka mengalah. Dalam
membuat keputusan orang tua tetap bersifat demokratis tetapi
tegas dan jelas. Sebab orang tua yang tidak tegas dan mudah
mengalah pada anak akan membuat anak bermental “plin plan”
atau bermental “terombang ambing”.
Moral dan Agama
Zakiah Daradjat (1976) mengatakan bahwa hubungan antara
moral dan agama sangat erat. Orang yang taat beragama,
moralnya akan baik. Sebaliknya orang yang akhlaknya
merosot, maka agamanya tidak ada sama sekali.
Kualitas agama seseorang juga ditentukan oleh kualitas
pendidikan dan pengalaman beragama mereka sejak kecil.
Mengajak anak-anak berusia kecil untuk mengunjungi berbagai
mesjid, memberi fakir miskin sekeping roti dari tangan sendiri,
mengunjungi panti asuhan dan panti jompo, menajak anak
untuk ikut shalat dhuha dan tahajjud, akan dapat memperkaya
pengalaman rohani anak dan akan berkesan sepanjang hayat
anak.
Membentuk pengalaman beragama pada anak saat kecil berarti
menanamkan akar beragama pada mereka. Kelak pengalaman
beragama, yang telah mengakar ini, akan mampu memperbaiki
karakter, kepribadian dan moral anak. Perlu untuk diperhatikan
bahwa apabila latihan dan pengalaman beragama yang
diterapkan secara kaku, maka di waktu dewasa mereka akan
cenderung menjadi kurang peduli pada agama. Pembentukan
moral dan agama selain ditentukan oleh faktor didikan dan
sentuhan orang tua juga ditentukan oleh faktor sekolah dan
pengalaman bergaul mereka dalam sosial.
Memang bahwa pada mulanya sikap beragama anak pada
mulanya dibentuk di rumah, namun kemudian disempurnakan
di sekolah, terutama oleh guru-guru yang mereka sayangi atau
yang mereka idolakan- maka guru yang diidolakan siswa
hendaklah menjadi guru yang sholeh. Kemudian anak perlu
juga untuk memiliki pengalaman bergaul dan melaksanakan
aktifitas keagamaan, misal seperti di TPA (Taman Pendidikan
Al-Quran), kegiatan menyantuni anak yatim dan fakir miskin,
kegiatan didikan subuh. Dari pengalaman bersosial- begaul-
sejak kecil, maka berkembanglah rasa kesadaran moral dan
sosial anak. Kesadaran tersebut bisa lebih optimal pada masa
remaja.
Dari uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tidak perlu
ada miskonsepsi dalam mendidik anak, ayah dan dan ibu
memiliki peran yang sama dalam pendidikan anak. Malah kaum
bapak yang terlibat dalam mengurus anank dan rumah akan
sangat dihormati oleh istri merka. Orang tua perlu menerapkan
pola demokrasi di rumah dan memperlihatkan rasa akrab dalam
keluarga agar anak merasa diterima. Untuk mendidik moral
maka factor model atau suriteladan dari orang tua sangat
menentukan, orang tua harus terlebih dahulu memiliki moral
dan akhlak yang terpuji dan akhir kata bahwa anak perlu diberi
tanggung jawab, perhatian, kasih sayang dan pengalaman
beragama sejakm usia dini.

11. Gaya Hidup Hedonisme dikalangan Pelajar


Dalam kamus Collins Gem (1993) dinyatakan bahwa
hedonisme adalah doktrin yang menyatakan bahwa
kesenangan adalah hal yang paling penting dalam hidup. Atau
hedonisme adalah paham yang dianut oleh orang-orang yang
mencari kesenangan hidup semata-mata (Echols,2003). Gaya
hidup hedonisme sama sekali tidak sesuai dengan tujuan
pendidikan bangsa kita.
Tujuan pendidikan Negara kita adalah untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa (pembukaan UUD 1945, alinea 4).
Tujuannya tentu bukan untuk menciptakan bangsa yang
hedonisme, tetapi bangsa yang punya spiritual, punya
emosional quotient- peduli pada sesama dan tidak selfish atau
mengutamakan diri sendiri. Apakah banyak pelajar yang
berpotensi menjadi generasi yang hedonism yaitu generasi
yang memandang kesenangan hidup dan kenikmatan materi
sebagai tujuan yang utama ? Jawabnya adalah “ya”. Lantas
apa indikatornya ?
Bahwa hedonismee sebagai fenomena dan gaya hidup sudah
tercermin dari prilaku mereka sehari-hari. Mayoritas pelajar
berlomba dan bermimpi untuk bisa hidup mewah. Berfoya-foya
dan nongkrong di kafe, mall dan plaza. Ini merupakan bagian
dari agenda hidup mereka. Barangkali inilah efek negative dari
menjamurnya mall, plaza dan hypermarket lainnya. Mengaku
sebagai orang timur yang beragama, namun mereka tidak risih
bermesraan di depan public . ini adalah juga gaya hidup
mereka. Hal lain yang membuat hati kita gundah- menyimak
berita pada televisi dan Koran-koran bahwa sudah cukup
banyak pemuda-pemudi kita yang menganut paham hidup free
sex dan tidak peduli lagi pada orang-orang sekitar. Hamil di luar
nikah bukan jadi ‘aib lagi, malah sudah dianggap model karena
para-para model mereka juga banyak yang begitu seperti
digossipkan oleh media elektronik (TV) dan media cetak
(majalah, Koran dan tabloid).
Gaya hidup hedonismee tentu ada penyebabnya. Ada banyak
faktor ekstrinsik (faktor yang datang dari luar) yang memicu
emosi mereka menjadi hamba hedonisme. Orang tua dan kaum
kerabat adalah penyebab utama generasi mereka menjadi
hedonisme. Mereka (atau kita) lalai untuk mewarisi anak dan
keponakan dengan norma dan gaya hidup timur yang punya
spiritual. Kita tidak banyak mencikaraui (campurtangan) anak
tentang hal spiritual. Sebagai orang tua, kta jarang yang ambil
pusing apakah anak sudah melakukan sholat atau belum,
apakah lidahnya masih terbata- bata membaca alif –ba-ta, dan
tidak sedih melihat remaja mereka kalau tidak mengerti dengan
nilai puasa.
Kecendrungan orang tua yang pro dengan gaya hidup
hedonism, memandang anak bukan sebagai titipan Ilahi. Tapi
memandang anak sebagai objek untk diotak atik. Sejak kecil
anak sudah diperlakukan dengan hal yang aneh-aneh; anak
dianggap lucu kalau rambutnya di gondrongkan, nyanyinya ya
nyanyi tentang cinta- kalau perlu syair yang jorok. Katanya
Sejak kecil anak didik bahwa shopping yang ngetren musti di
mall, dan makanan yang bergizi adalah KFC atau burger.
Orang tua yang pro hedonisme tidak begitu peduli dalam
mengasah spiritual anak. Tidak heran kalau anak-anak mereka
cenderung menjadi generasi free thingker atau generasi yang
kurang diajar untuk mengenal Sang Khalik. Akibatnya mereka
tumbuh jadi generasi yang rapuh, mudah putus asa dan
mencari kambing hitam, bila ditimpa musibah “Aku sakit karena
shio ku shio kuda, atau aku lagi sial gara-gara memakai kemeja
merah ini”.
Sampai sekarang tetap orang, termasuk pelajar/generasi muda,
memandang segala sesuatu yang berasal dari Barat sebagai
hal yanh hebat. Pelajar merasa minder kalau ketahuan lebih
mengidolakan lagu daerah, lagu Minang, dan lagu dangdut.
Mereka harus mengidolakan lagu dan musisi dari barat. Poster-
poster figur dari Barat, artis dan atlit, patut ditempel di kamar
belajar. Kemudian tiap saat mengupdate atau mengikuti
perkembangan beritanya; “ oh artis atau atlit dari klub itu lagi
pacaran, yang ini mau cerai, yang itu punya mobil mewah, yang
itu lagi bersenang-senang dengan kekasihnya di laut
caribia….wah aku patut meniru gaya hidup nya”. Demikianlah
pelajar dari dalam kamarnya menyerap gaya hedonisme dari
info-info tentang figur-fugur idola yang menempel di dinding
kamarnya dibandingkan figur-figur intelektual, pahlawan,
pendidik dan tokoh spiritual lainnya.
Faktor bacaan dan tontonan memang dapat mencuci otak
pelajar untuk menjadi orang yang memegang prinsip
hedonisme. Adalah kebiasaan pelajar kalau pulang sekolah
pergi dulu ke tempat keramaian, pasar, paling kurang mampir di
kiosk penjualan majalah dan tabloid. Ada sejumlah tabloid dan
majalah, ada untuk anak-anak, remaja, dan dewasa. Tabloid
dan majalah untuk remaja ada yang punya tema tentang
agama, olahraga, pendidikan, dan majalah/tabloid popular.
Umumnya yang berbau agama dan pendidikan kurang laku.
Yang paling laris adalah tabloid dan majalah remaja popular
yang isinya banyak bersifat hura-hura- shopping dan kencan.
Coba ambill satu majalah pop remaja (tidak perlu sebut nama
majalahnya) maka yang terlihat pada covernya adalah
sepasang kaum adam-hawa yang berusia belia lagi dimabuk
asmara. Kalau tidak demikian mana mungkin laku, karena
pebisnis sengaja meraup untung lewat mencuci otak remaja
menjadi sekuler dan hedonisme. Kemudian coba balik halaman
demi halaman. Maka yang kita jumpai adalah gambar-gambar
iklan seputar, parfum, make up, pakaian sexy yang sangat tidak
pantas untuk orang timur yang terkenal punya budaya malu.
Kemudian style rambut dan assesori- untuk cowok rambut
dipanjangkan atau model punk, diberi warna, style wanita lain
lagi. Memakai celana harus melorot, jangan lupa dengan
assesori. Karena yang membelinya adalah para pelajar maka
tabloid dan majalah pun telah mencuci otak mereka. Akibatnya
pelajar sering bermasalah dengan disiplin sekolah.
Sampai detik ini semua sekolah di Indonesia tidak pernah
mengizinkan siswan pria ya memakai anting-anting pada
sebelah telinga, memakai tattoo, mengambil style rambut
seperti artis atau atlit- di gunting panjang/ gondrong atau disisir
punk seperti duri landak. Selanjutnya sampai detik ini sekolah
tetap mengharapkan siswanya supaya berpenampilan rapi,
kalau boleh gagah seperti ABRI, ke sekolah bukan ibarat artis
pergi ke concert- seragam dengan celana melorot, harus
tersumbul sedikit celana dalam di bagian punggung, kaki di beri
gelang atau rantai, ibarat kaki gajah di Way Kambas Lampung,
tangan dan jari penuh dengan assesori. Pelajar-pelajar yang
berjiwa hedonis umumnya tidak begitu menghargai waktu dan
dan jalannya lemas, beda dengan kaum hedonis di Barat.
Mereka kerja keras mati-matian untuk mewujudkan
hedonismeenya. Sementara pelajar kita yang menyenangi gaya
hidup hedonisme cenderung bekerja dan belajar santai (karena
mereka punya moto: hidup santai masa depan cerah) mereka
terlalu bergantung dan menghabiskan harta orang tua.
Pengaruh tontonan, tayangan televisi (profil sinetron, liputan
tokoh selebriti dan iklan) juga mengundang pelajar untuk
mengejar hedonisme. Majalah remaja popular dan kebanyakan
tema televisi sama saja. Isinya banyak mengupas tema tema
berpacaran, ciuman, pelukan, perceraian, pernikahan. hamil di
luar nikah dan bermesraan di muka publik sudah nggak apa-
apa lagi, cobalah dan lakukanlah ! seolah-olah beginilah ajakan
misi televisi dan majalah yang tidak banyak mendidik, kecuali
hanya banyak menghibur.
Rancangan majalah popular dan tema televisi komersil di
negara kita memang sedang menggiring pelajar menjadi
generasi konsumerisme bukan memotivasi mereka untuk
menjadi generasi produktif. Tema iklannya adalah
“manjakanlah kulitmu”. Andaikata semua pelajar dan
mahasiswa melakukan hal yang demikian, memuja kulit.
Pastilah sawah dan ladang, serta lahan-lahan subur makin
banyak yang tidak terurus. Karena mereka semua takut jadi
hitam. Pada hal untuk manusia yang patut dimuliakan adalah
kualitas intelektual, kualitas spiritual dan kualitas hubungan
dengan manusia (kualitas fikiran dan keimanan).
Sebagaimana dikatakan sebelumnya bahwa banyak pelajar
dengan gaya hidup hedonisme yang mereka sadur lewat
budaya hedo dari barat, terinspirasi oleh model-model atlit dan
artis yang info perkembangannya selalu mereka update tiap
saat. Kemudian gaya hidup hedo (hedonisme) juga diperkaya
oleh suguhan majalah pop remaja dan belasan stasiun televisi
swasta yang bernuansa sekuler dengan gaya hidup figur yang
penuh glamour dan kepalsuan. Namun ada bedanya, yaitu
tokoh tokoh yang bergaya hidup hedonisme dari dunia Barat
dan dari Indonesia sendiri, mereka memperoleh gaya hidup
hedonisme lewat kerja keras. Sementara remaja dan juga
mahasiswa (juga banyak terjebak dalam gaya hedonisme)
menjadi hedonism dengan cara bermimpi, kadang-kadang
tampil keren karena memakai baju dan celana pinjam atau
hidup dengan gaya hedonisme lewat menggunakan fasilitas
orang tua, inilah yang dikatakan sebagai hedonisme picisan.
Memilih gaya hidup hedonime, terus terang tidak akan pernah
memberikan kepuasan dan kebahagiaan. Ibarat minum air
garam, makin diminum makin haus. Bagi yang belum terlanjur
menjadi pengidola hedonisme maka segeralah balik kiri,
berubah seratus delapan puluh derajat. Bahwa kebahagian
hidup ada pada hati yang bening, saatnya bagi kita kembali
untuk menyuburkan akar-akar spiritual- kembali ke jalan Ilahi,
tumbuhkan jiwa peduli pada sesama- buang jauh jauh karakter
selfish (mementingkan diri sendiri), dan miliki multi kekuatan –
kuat otak, kuat otot, kuat kemampuan berkomunikasi, kuat
beribadah, dan kuat mencri rezki.

12. Membudayakan Penghargaan

Dalam buku L’etat du monde annuaire, annuaire economique


geopolitique mondial, diedit oleh Didiot Beatrice (2001)
dilaporkan bahwa menjelang tahun 2000 posisi human indicator
index atau tingkat Sumber Daya Manusia Indonesia menempati
peringkat 102, negara Vietnam yang merdeka lebih akhir
dibanding Indonesia satu digit lebih baik dari Indonesia, yaitu
101. Kemudian dalam buku The State of The World Atlas,
ditulis oleh Dan Smith (1999) memaparkan bahwa posisi SDM
Indonesia menempati peringkat 88 di dunia dan Negara
Turkmenistan yang baru merdeka tahun 1991, lepas dari Uni
Soviet, posisi SDM nya juga lebih baik satu digit dibandingkan
Indonesia, yaitu posisi 87. Dibandingkan level SDM pada
laporan terdahulu, maka laporan dalam buku terakhir
tampaknya ada perbedaan, namun sebagai bangsa Indonesia
kita belum bisa berbahagia karena angka dalam laporan
terakhir tetap sangat jauh dari yang kita harapkan, apalagi
mengingat ukuran negara Indonesia sebagai Negara yang luas
wilayahnya dan banyak penduduknya cukup membuat mata
kita perih. Malah dapat dibuat pertanyaan “apakah begini
kualitas bangsa ku yang jumlahnya 200 juta orang lebih itu,
jumlahnya banyak namun ibarat buih di pantai- banyak tapi
isinya hampa?”
Bangsa Indonesia (kita, pemerintah dan rakyat) harus
merespon laporan peringkat SDM tadi dengan rasa malu
karena peringkat kualitasnya sangat mengecewakan. Namun
kita harus optimis dan bertanggungjawab untuk
peningkatannya. Maka dalam rentang waktu sejak seputar
tahun 2000 atau setelah keluarnya laporan tingkat SDM
negara-negara se dunia sampai sekarang sudah ada beberapa
kebijakan pemerintah terbit untuk meningkatkan mutu SDM.
Diantaranya adalah dalam bentuk merevisi kurikulum,
menerbitkan kebijakan baru dalam pendidikan, membentuk
undang-undang pendidikan yang lebih merespon
perkembangan dan pro aktif pada kemajuan zaman.
Dari semua elemen pendidikan di negara kita, mulai dari tingkat
Tk sampai ke Perguruan Tinggi, merasa bertanggung jawab
untuk menuntaskan dan memparbaiki kualitas SDM bangsa.
Maka sebagai imlementasinya dan kebijakan untuk
meningkatkan mutu, dibentuklah berbagai program peningkatan
mutu guru, peningkatan mutu sekolah, peningkatan mutu bahan
ajar, dan lain-lain. Namun kualitas SDM untuk dunia pendidikan
tersangkut pada kualitas murid-murid/ para pelajar.
Selanjutnya bahwa kualitas murid, juga pelajar dan mahasiswa
tidak hanya ditentukan oleh eksistensi sekolah atau kampus
belaka terhadap mereka karena lebih dari separoh waktu
kehidupan mereka di habiskan di rumah bersama orang tua. Ini
berarti bahwa kualitas SDM mereka juga ditentukan oleh
eksistensi rumah, yaitu bagaimana campur tangan dan
perhatian orang tua dalam mendidik dan membangkitkan
motivasi belajar mereka. Dapat dikatakan bahwa kualitas SDM
mereka menjadi naik atau turun sangat ditentukan oleh kualitas
motivasi belajar mereka terutama di rumah.
Pada umumnya semua sekolah favorite, apakah namanya
Sekolah Unggul, Sekolah Akselerasi, Sekolas Plus, Sekolah
Percontohan, dan lain-lain, menjadi sekolah berkualitas karena
di sana berkumpul anak-anak yang berkualitas, yaitu anak-anak
yang memiliki motivasi belajar yang tinggi. Mereka menjadi
berkualitas bukan karena sekolah tersebut, tetapi karena factor
rumah- mereka berasal dari rumah dengan orang tua, kondisi
dan lingkungan yang selalu mendukung dan memotivasi
mereka, sehingga bisa memiliki motivasi belajar yang tinggi.
Sementara itu sekolah-sekolah yang tidak berlabel favorite-
tidak memiliki kualitas unggul- dan mungkin kualitasnya
amburadul, terjadi karena di sana berkumpul siswa-siswa yang
sama-sama miskin dengan motivasi belajar. Mereka memiliki
motivasi belajar yang rendah karena berasal dari rumah
dengan orang tua, kondisi dan lingkungan yang juga amat
jarang mencikaraui atau merasa peduli dengan urusan motivasi
belajar anak, “bagaimana aku bisa mengurus anak sekolah,
hidup saja susah”, demikian yang sering diucapkan oleh orang
tua yang pesimis. Orang tua yang pesimis ini berpotensi
menghancurkan motivasi belajar anak. Populasi mereka sangat
banyak, mungkin jutaan, di Indonesia. Merekalah yang perlu
didekati dan dibina, kalau tidak maka kualitas SDM Indonesia.
Bila posisi SDM Indonesia di dunia termasuk ke dalam kategori
rendah maka dapat dikatakan bahwa tentu ada jutaan orang
tua di rumah yang belum berbuat banyak dalam meningkatkan
motivasi belajar anak. Kalau begitu bagaimana eksistensi
motivasi itu dan bagaimana menimbulkan motivasi belajar anak
yang baik, dan siapa saja yang lebih bertanggung jawab dalam
membangkitkan motivasi belajar mereka ?
Tentu saja orang tua dan guru berperan amat penting dalam
membangkitkan dan meningkatkan motivasi anak. Ada
beberapa cara yang dapat kita- sebagai orang tua dan guru-
lakukan untuk merangsang minat anak dalam belajar- yang
merupakan dorongan ekstrinsik (dorongan yang datang dari
luar). Di antara yang dapat kita lakukan adalah dengan cara
memberii hadiah, penghargaan, pemberi tahuan tentang
kemajuan dan belajar mereka.
Sementara itu yang banyak dilakukan oleh orang tua, yang
katanya adalah untuk mendorong anak belajar, tetapi mereka
mencela anak “hei kemana otak lu, sudah gede tapi tidak
pernah tahu dengan huruf Pe”, dan dengan cara membentak
anak “ Hengki….kamu nonton melulu, ayo buat Pe Er !”.
Idealnya dan seharusnya orang tua dan guru perlu tahu
bagaimana cara yang terbaik dalam memotivasi mereka.
“Papa…,mama…, aku memperoleh angka 100 dalam ujian
Sains !” seru anak dengan penuh kegirangan begitu sampai di
pintu rumah. Maka respon orang tua bisa saja bervariasi. Orang
tua yang lupa cara memotivasi anak mungkin berkata “tapi
kertas ujian kemaren kok kamu robek” atau “kamu dapat
seratus mungkin saja kamu dapat contekan”. Respon seperti ini
cendrung tidak bersahabat di hati anak, maka jangan harap lagi
anak untuk termotivasi dalam belajar, namun aneh bila nanti
anak kehilangan semangat belajar, yang kena tumbal- sebagai
scapegoat/kambing hitam- sebagai penyebab anak malas
adalah lingkungan, teman, sekolah, teknologi atau zaman
global. Padahal penyebabnya adalah cara respon orang tua
terhadap harapan anak.
“Mama …aku sudah hafal surat alfatihah dan tadi ulangan ku
dapat angka 95 !”, Respon orang tua atas harapan anak adalah
mungkin dengan memberii penghargaan. “Alhamdulillah,
senang sekali hati mama…”, atau “Karena kamu pintar, papa
kamu kasih kamu hadiah “. Respon positif dan memberi
penghargaan tentu akan menambah motivasi belajar anak.
Orang tua atau keluarga- keluarga yang sudah membudayakan
penghargaan dan/ atau hadiah pada anak atas prestasi belajar
dan bekerja mereka, akan mampu melahirkan mereka sebagai
generasi yang memiliki harga diri dan motivasi belajar yang
tinggi. Kebutuhan dan fasilitas belajar mereka juga harus
disediakan dan dipenuhi.
Karakter orang tua dan lingkungan yang berpotensi dalam
menghancurkan motivasi belajar anak adalah seperti kurang
peduli dalam memenuhi fasilitas belajar mereka (rokok atau
kaset VCD player terbeli tetapi bahan bacaan buat anak tak
peduli), karakter terlalu kaku, keras dan berbahasa kasar
selama mendidik anak “orang tua ku ramah, tetapi kalau
menemani aku belajar jadi judes, minta ampun, sehingga otak
ku buntu kalau belajar”. Karakter yang lain adalah seperti suka
memaksanakan kehendak pada anak, terlalu berharap banyak,
dan serba banyak melarang atau memerintah. Perilaku atau
karakter orangtua yang demikian membuat anak akan merasa
tertekan, anak belajar dalam kondisi tidak aman dan hati yang
mendongkol.
Kemudian ada strategi lain yang diterapkan oleh guru dan
orang tua untuk memotivasi belajar anak, yaitu membuat anak
bersaing dalam belajar. “Besok kalian mau ujian, ayo siapa
kelak yang jago nya, bisa nggak kamu mengalahkan Asrul?”
Dapat dikatakan bahwa memotivasi anak dengan persaingan di
antara mereka berarti “mengadu anak/ siswa dengan jalan
menimbulkan pertentangan”. Kompetisi atau persaingan antara
mereka berpotensi untuk memupuk perasaan marah, iri hati,
cemburu, dan perasaan ingin mengalahkan orang lain.
Sehingga bagi anak bahwa mengalahkan orang lain lebih
penting dari pada belajar dengan tekun dan sebaik-baiknya.
Prayitno (1989) mengatakan bahwa kompetisi, termasuk
kompetisi dalam belajar, menimbulkan konflik dalam diri
sebahagian anak. Mereka merasa terancam karena takut kalah,
atau di antara mereka timbul ketegangan yang disebabkan oleh
ambisi untuk mengalahkan orang lain. Belajar dengan cara
berkompetisi membuat anak mengejar nilai lebih tinggi dan lupa
dengan tujuan belajar yang sebenarnya. Sehingga ini dapat
mendorong mereka menghalalkan segala cara untuk mencapai
nilai tinggi, termasuk dengan cara mencontek.
Memotivasi anak untuk belajar dengan cara berkompetisi hanya
merangsang siswa-siswa yang pandai. Dengan adanya
kompetisi dalam belajar akan menimbulkan sifat egois atau
lebih mementingkan diri sendiri. Siswa yang pandai tidak mau
membantu teman-teman mereka yang berkemampuan sedang
dan kurang. Oleh karena itu kompetisi akan menghilangkan
atau paling tidak menghalangi berkembangnya sikap sosial
dalam diri siswa atau anak. Dapat dikatakan bahwa membuat
anak bersaing/ berkompetisi dalam belajar bisa mendatangkan
pengaruh buruk terhadap perkembangan pribadinya- mereka
mudah jadi sombong dan dengki. Akan lebih baik jika dibentuk
persaingan dengan prestasinya atau persaingan dengan diri
sendiri.
Cara lain yang juga dapat diterapkan untuk meningkatkan
motivasi belajar anak adalah, seperti yang telah disinggung di
atas, yaitu pemberian hadiah dan hukuman. Hadiah dan
hukuman bentuknya lebih kongkrit dari pada penghargaan dan
pemberiaan celaan. Pemberian hadiah sebagai cara untuk
memotivasi anak/siswa dapat menjadi penguat tingkah laku–
reinforcement. Anak-anak yang telah melakukan pekerjaan/
belajar dengan baik diberi hadiah oleh guru atau orang tua.
Hadiah atau penghargaan ada yang bersifat verbal maupun
yang bersifat material. Yang penting untuk diperhatikan dalam
membangun motivasi belajar adalah bentuk hadiah itu sendiri.
Hadiah dalam bentuk verbal lebih baik daripada dalam bentuk
benda atau angka. Namun bagi orang tua yang bisa
menyisakan sedikit uang, tidak ada masalah kalau sekali-sekali
memberi anak anak hadiah dalam bentuk materi atas prestasi
nya- mungkin membelikan sebuah kotak pensil, buku cerita,
kamus elektronik sampai kepada menghadiahkan mereka satu
set laptop, bagi yang mampu membelikan. Tidak semua hadiah
verbal (dalam bentuk ucapan atau tulisan) dapat menimbulkan
motivasi di dalam diri untuk belajar secara efektif. Tetapi hadiah
verbal yang memberikan informasi bisa membangkitkan minat
anak untuk berhasil dalam belajar. Oleh karena itu dalam
memeriksa tugas-tugas siswa, informasi atau komentar (hadiah
verbal) harus diberikan disamping pemberian nilai.
Hukuman sebagai alat untuk memotivasi belajar siswa lebih
banyak memberikan pengaruh psikologis yang negative
dibandingkan motivasi yang ditimbulkannya. Memang hukuman
ada kemungkinan untuk meningkatkan proses belajar siswa/
anak. Namun mereka akan berhenti belajar jika hukuman
ditiadakan lagi. Hukuman dapat menimbulkan kecemasan,
gangguan emosi dan perasaan bersalah di dalam diri mereka.
Di dalam belajar siswa dibayangi oleh ketakutan untuk berbuat
salah.
Perbuatan menghukum, mengancam, dan mencela adalah cirri-
ciri guru dan orang tua yang otoriter- terlalu suka berkuasa.
Akibat buruk yang terjadi dalam diri siswa akibat karakter
otoriter mereka adalah anak/siswa menjadi apatis, kehilangan
minat belajar, mengerjakan kegiatan sesuai dengan apa yang
disuruh saja, anak kurang memiliki inisiatif, kemandirian dalam
belajar mereka rendah, bersifat patuh saja, dan tidak
berkembang rasa percaya diri mereka. Selanjutnya sikap
otoriter yang diterapkan oleh guru dan orang tua berpotensi
dalam mematikan kreatifitas dan daya spontanitas anak,
sehingga mereka tidak mampu dalam mengambil keputusan-
padahal kemampuan ini amat penting kelak bila mereka
tumbuh dewasa.
Anak yang besar dalam suasana otoriter akan tumbuh menjadi
orang yang agresif, berkarakter kasar dan kurang ramah dan
kurang mampu bertegur sapa. Saatnya kini kita harus punya
pradigma baru dalam membantu pertumbuhan dan
perkembangan anak dan siswa kita. Kita tidak sudi lagi bila
mereka tumbuh menjadi pribadi yang berkualitas hampa.
Menumbuh-kembangkan motivasi belajar mereka adalah tugas
kita sebagai orang tua atau guru. Saatnya kita harus
membuang cara banyak mencela, mengancam dan kekerasan-
menerapkan karakter otoriter. Salah satu cara yang tepat
adalah dengan memberi mereka penghargaan atas karya dan
prestasi kerja/ belajar mereka. Dengan cara ini motivasi belajar
mereka akan tetap tumbuh dan terpelihara.

13. Karakter Ingin Jalan Pintas


Generasi muda sekarang sangat akrab dengan computer dan
laptop. Karena kedua produk ini dilengkapi dengan fitur
(feature) pendidikan dan hiburan seperti game dan lagu.
Apalagi sejak produk ini telah menjadi mata pelajaran- dengan
nama TIK (Teknologi Informasi Komunikasi)- pada jenjang
pendidikan SMP dan SLTA. Ada satu kata atau frase yang
sudah dikenal baik oleh pengguna computer yaitu “short cut”
atau jalan pintas. Lewat short cut pengguna computer bisa
langsung masuk ke dalam file, folder atau program yang ingin
dioperasikan pada komputer.
Sebahagian pelajar dan mahasiswa sekarang cenderung suka
belajar dan bekerja dengan cara ngebut atau dengan
menggunakan berbagai muslihat atau tipuan (mungkin dengan
mencontek atau memakai jasa orang lain untuk memuluskan
tujuan) adalah dapat dipandang sebagai karakter jalan pintas.
Atau dapat juga dikatakan sebagai budaya instant (sekarang
ditanam besok dapat dipanen,nonsense bukan ?). karakter
jalan pintas- belajar/ bekerja santai namun masa depan cerah-
jarang sekali membuat mereka sukses. Fenomena umum
adalah bahwa manusia yang berkarakter jalan pintas, rata- rata
berakhir dengan masa depan yang suram. Namun bagaimana
karakter jalan pintas telah tumbuh subuh pada pribadi
sebahagian pelajar dan mahasiswa ? Tentu karakter ini
terbentuk secara perlahan-lahan dalam proses kehidupan
sosial mereka sejak dari masa anak-anak sampai ke masa
remaja/ dewasa.
Karakter anak-anak zaman sekarang tidak jauh berbeda
dengan karakter anak-anak zaman dahulu. Ketika lahir mereka
sama-sama pandai menangis dan sama- sama melalui proses
pertumbuhan dan perkembangan. Namun mereka menjadi
berbeda satu sama lain dalam hal karakter karena genotype
atau karakter turunan dari orangtua dan ditambah dengan
faktor stimulus (rangsangan) dan pengalaman hidup yang
dialami. Faktor yang terakhir yaitu stimulus dan pengalaman
hidup sangat menentukan pembentukan karakter “ingin jalan
pintas/ budaya instan”.
Dari usia dini sampai usia 5- 8 tahun, semua anak di dunia
masih bersifat patuh dan berkarakter sebagai anak manis- anak
yang baik dan pasif. Rentangan usia ini adalah masa-masa
pembentukan karakter. Mereka memang menerima input-input
untuk pembentuk karakter atau prilaku- apakah kelak
berkarakter smart atau ingin jalan pintas. Namun menjelang
usia akil balig (remaja)- di akhir tingkat SD dan di awal tingkat
SMP, kecendrungan pola karakter mereka terlihat lebih jelas-
karakter ingin jalan pintas atau suka bekerja/belajar keras.
Pada ambang masa remaja ini mereka memperlihatkan
fenomena senang memberontak- memperlihatkan opini sendiri
dan ingin mencari jati diri. Karakter suka memberontak ini
makin menajam ketika mereka dalam masa remaja.
Sebahagian orang tua/ orang dewasa yang kurang memahami
perkembangan jiwa anak sering kesulitan untuk beradaptasi
dengan mereka. Masa ini dinamakan sebagai masa panca
roba. Masa panca roba pada hakekatnya merupakan tahap
akhir sebelum anak memaski usia dewasa. Kalau dalam masa
remaja mereka terlihat suka jalan pintas maka dalam usia
dewasa dini karakter jalan pintas bisa terlihat lebih jelas atau
factor sugesti dan saran dari luar mengikis karakter ingin jalan
pintas.
Karakter jalan pintas terbentuk tanpa disadari dalam proses
hidup. Ada sejumlah faktor penyebab terbentuknya karakter
ingin jalann pintas- ciri-ciri oknumnya seperti pemalas, motivasi
belajar rendah, dan bergaya hidup ingin senang terus. Ini
merupakan kontribusi negatif dari faktor ekstrinsik.
Setiap orang sejak usia dini dalam pertumbuhan dan
perkembangannya mendapat stimulus atau pengaruh dari tiga
jenis lingkungan. Sarwono (2007) dalam artikelnya “:faktor-
faktor yang menyebabkan anak malas belajar”
(http://sarlito.hyperphp.com) mengatakan bahwa jenis
lingkungan yang mempengaruhi anak rajin atau malas adalah
seperti lingkungan mikro, lingkungan meso dan exo.
Manusia atau orang-orang yang berada dalam lingkunan mikro
seorang anak adalah orang- orang yang berada dalam keluarga
mereka seperti kakek-nenek, ayah-ibu, bibi-paman. Kemudian
juga bisa sekolah yaitu guru-guru mereka, juga suster atau
babysitter di tempat penitipan anak, pembantu rumah tangga
dan tetangga dekat atau orang-orang seputar rumah.
Lingkungan mikro yang lain adalah kondisi atau kualitas rumah
mereka, tempat bermain mereka dan orang-orang lain yang
dekat dengan anak dan dijumpai nya tiap hari.
Saat anak berusia lebih kecil , orang-orang yang ada dalam
lingkungan keluarga/ di rumah mempunyai peran penting dalam
membentuk karakter mereka dari stimulus dan pengaruh yang
diberikan, apakah anak menjadi orang rajin, sabar, dan tekun.
Ayah dan ibu yang cerdas tentu dapat membantu anak untuk
tumbuh dan berkembang dengan menyediakan sarana
pendidikan dan permainan berkualitas dan sekaligus memberi
anak model untuk tumbuh menjadi manusia yang ulet.
Kalau anak kehilangan peran ayah dan ibu- mungkin karena
kesibukan karir atau karena factor nasib, maka peran mendidik/
mengasuh anak bisa saja digantikan oleh nenek, bibi, paman,
atau pembantu rumah tangga. Maka orang-orang tadilah
sebagai penentu pembentukan karakter anak. Akan sangat
beruntung kalau peran pengganti sebagai pengasuh anak
memiliki kualitas dalam mengasuh anak.
Lingkungan ekstrinsik berikutnya adalah lingkungan meso yaitu
bentuk hubungan orangtua-guru, orangtua-teman, pergaulan
antar teman, guru-teman, dan lain-lain. Bentuk dan kualitas
hubungan mereka sangat mempengarungi prilaku seorang
anak (pelajar). Mereka akan menyerap prilaku dan nilai dari apa
yang mereka amati. Teman-teman yang berkarakter baik
namun suka meremehkan guru, sebagai contoh, dapat
memberi inspirasi bagi temannya untuk berperilaku yang sama.
Atau figur seorang guru yang memiliki kharisma di mata anak
didik, namun ia perokok berat atau senang mengunjungi night
club juga bisa memberi inspirasi bagi anak didik dalam
berperilaku. Ketika usia anak beranjak remaja, maka pengaruh
orang tua bisa jadi hilang atau berkurang. Apalagi kalau
orangtua kurang mencikaraui (mengurus) soal pendidikan anak.
Maka peran pengganti dalam mempengaruhi anak bisa jadi
datang dari guru, orangtua teman, famili, atau orang yang
sering dijumpai oleh anak.
Dalam zaman sekarang dengan bentuk keluarga inti- karena
faktor migrasi dan tinggal jauh dari kaum kerabat/ kampung
halaman- maka ikatan emosi remaja/ anak dengan kerabat ,
bisa jadi juga dengan orangtua sendiri, tidak begitu dekat.
Sehingga apa yang dirasakan oleh sebahagian orangtua bahwa
anak mereka tidak lagi mendengarkan perkataan (opini) dan
nasehat mereka. Anak makin sering membantah, menolak opini
dan larangan mereka. Karena anak telah memiliki kriteria opini
sendiri dan tidak mudah menerima orang lain, maka dalam usia
ini terkesan bahwa anak suka melawan orangtua. Apalagi
semenjak mereka melihat banyak contoh yang kontra dari hal
yang dilihat di dalam rumah dengan apa yang dikatakan oleh
orangtua sendiri.
Suatu hari seorang ibu berkata “nak rajin-rajinlah belajar agar
kelak bisa berhasil dalam hidup”, tetapi dalam kenyataan anak
melihat tetangganya sendiri yang begitu rajin belajar (tetapi
kuper atau kurang pergaulan) begitu tamat dari perguruan
tinggi dengan IPK (indeks prestasi kumulatif) cum laude telah
menjadi pengganggur. Contoh lain, orangtua melarang anak
usia 15 tahun agar tidak menyetir mobil, namun anak
berargumen (membantah) bahwa anak tetangga (atau
temannya di sekolah) diizinkan menyetir mobil sejak dari
bangku sekolah dasar. Jika anak disuruh sholat, maka anak
akan protes karena papanya juga tidak sholat.
Di luar lingkungan mikro dan meso ada lagi lingkungan exo.
Lingkungan exo adalah lingkungan yang tidak langsung
menyentuh pribadi pelajar/ mahasiswa, akan tetapi masih besar
pengaruhnya pada pembemtukan karakter mereka, seperti
keluarga besar, polisi, dokter, presenter, bintang sinetron/
selebriti, tokoh politik, dan lain-lain. Intensitas interaksi tidak
langsung (lewat menonton atau membaca) juga menentukan
bentuk karakter pelajar/ mahasiswa. Cukup banyak pelajar dan
mahasiswa sekarang yang belum terkondisi dengan budaya
tulisan- budaya membaca dalam keluarga. Yang umum terlihat
adalah banyak yang terkondisi dengan budaya menonton
televisi dan budaya lisan- budaya ngobrol sampai debat kusir-
berdebat tanpa analisa yang dalam atau berdebat dengan
emosi dan kepala panas.
Cukup banyak remaja dan mahasiswa yang terkondisi dengan
dua kebisaaan/ budaya ini- menonton dan budaya ngobrol. Ini
tumbuh subur karena banyak rumah yang memiliki televisi dan
sarana hiburan lain, namun tidak tahu kapan harus menonton
dan memperoleh hiburan. Sementara itu cukup banyak
orangtua yang belum memiliki konsep atau pola mendidik bagi
keluarga. Konsep mereka begitu praktis, bahwa mereka
terpaksa menghidupkan televisi atau sarana hiburan agar anak-
anak tidak keluyuran ke rumah tetangga. Kalau perlu televisi
dan VCD player hidup 24 jam.
Figur-figur yang kerap muncul dalam layar televisi seperti
presenter, public figure, dan bintang sinetron, begitu figur yang
ada dalam film pada DVD juga mempengaruhi karakter pelajar/
remaja/ mahasiswa sebagai penontonnya. Setelah menonton
figur- figur tadi mereka memperoleh inspirasi untuk meniru
perilaku dan gaya hidup yang sama- cara berbicara, cara
berpakaian dan sampai kepada assesori yang dipakai oleh
figure tontonan mereka tadi. Figur dalam lingkungan exo cukup
banyak mewarnai prilaku remaja (pelajar dan mahasiswa)
sekarang seperti memakai anting pada sebelah telinga, bertato,
mencat rambut dengan warna norak, memakai celana model
melorot dan menyembulkan celana dalam , gaya hidup
mengamburkan uang lewat pemakaian HP yang kurang efektif,
berpenampilan norak/ keren dengan rokok terselip dibibir, dan
lain-lain.
Prinsip dan konsep mendidik praktis seperti ini sering
membunuh karakter anak untuk ikut berpartisipasi dalam
belajar dan bekerja- merapikan rumah. Pada akhirnya anak
memetik kegagalan dalam bidang akademik di sekolah dan
akhirnya timbul pro dan kontra antara sekolah dan rumah. Kata
guru “anak bodoh karena orangtua kurang peduli dalam
mendidik anak”, dan kata orangtua, “anak gagal karena guru
kurang berkualitas dalam mengajar”.
Harus diakui bahwa menjadi orangtua dan pendidik (guru) di
zaman sekarang memang sulit. Karena banyak orangtua dan
guru yang belum pernah mengalami situasi seperti sekarang
pada masa kecilnya. Guru dan orangtua dulu, waktu kecil,
cuma cenderung meniru saja cara- cara mendidik dan
berperilaku orangtua dan senior mereka. Kemudian, memang
sulit mengubah pola berfikir seseorang dari pola berfikir
tradisionil sesuai dengan tuntutan zaman sekarang. Namun
bagaimana pun berat dan sulitnya mendidik dan mengajar
anak, orang tua dan guru perlu melakukan revolusi dalam
mengajar dan mendidik anak- memiliki wawasan dan
memahami fenomena sosial zaman sekarang, karena kalau
tidak maka mereka akan menjerumuskan generasi muda dalam
kesulitan yang lebih besar karena mis-communication antara
mereka.
Mengantisipasi/ mencegah agar anak
(pelajar/mahasiswa/remaja) tidak terjebak dan ketularan
dengan karakter “ingin hidup enak lewat jalan pintas” yang
hanyak banyak dalam bentuk iming-iming dalam mimpi.
Karakter ingin hidup dengan jalan pintas/ budaya instan sering
terekspresi lewat moto dan gaya hidup mereka: hidup santai
masa sepan cerah. Maka orangtua dan guru perlu
memaksimalkan peran mereka dalam mendidik (terutama bagi
orangtua) dalam membentuk karakter anak menjadi orang yang
rajin dan ulet dalam belajar dan bekerja, tidak perlu
membebaskan anak untuk tidak terlibat membantu orangtua
bekerja di rumah- sebab cendrung mematikan potensi anak
dalam memiliki life skill/ kecakapan hidup. Orangtua tua perlu
memberi dan menjadi model (uswatul hasanah- suri teladan),
berperilaku terlebih dahulu agar anak bisa menjadi orang yang
rajin dan ulet dan menyediakan/ memperkaya wawasan anak
serta memilihkan tempat pendidikan dan bermain yang
berkualitas bagi mereka.

14. Setelah Study di Sekolah Unggulan Kemana Lagi ?


Sekolah-sekolah di negara maju seperti di Singapura, Jepang,
Amerika, Australia, dan negara-negara Eropa tidak memberi
label terhadap anak didik dan lembaga pendidikan, “dia siswa
unggul atau itu sekolah unggul”. Ini terjadi karena program
pendidikan mereka sudah terlaksana dengan professional dan
accountable- teruji. Kesadaran warga terhadap kebutuhan
pendidikan sudah tinggi. Pemberian label terhadap anak didik
dan sekolah, seperti Siswa Sekolah Unggul, Sekolah Perintis,
Sekolah Bilingual, Sekolah Akselerasi, Sekolah Plus, Sekolah
SSN (Sekolah Standar Nasional), dan Sekolah SBI (Sekolah
Berstandar Internasional) mungkin hanya fenomena untuk
pendidikan kita. Tujuannya bagus, yaitu untuk meningkatkan
mutu pendidikan yang mudah anjlok, untuk membuat warga
sekolah yang mempunyai label tersebut bisa termotivasi untuk
berprestasi karena punya tanggung jawab menjaga harga diri
sekolah, atau untuk menjadi warga sekolah yang exclusive?
Atau memang dasar orang kita demam label/ merek dari pada
mencari kualitas ?
Paradigma kini sudah berubah, sekolah berlabel mungkin untuk
sekolah swasta. Bagi sekolah pemerintah cukup dengan
sebutan “Sekolah Negeri- SMP Negeri dan SMA Negeri”.Kata
kata label atau merek digunakan untuk program pelayanan
pendidikan, seperti SMA program akselerasi, SMA program
Unggulan, SMA program bilingual dan sebagainya.
Lahirnya sekolah-sekolah berlabel- sekolah unggulan- adalah
sebagai respon dari kualitas pendidikan kita di level dunia yang
sempat memprihatinkan. Dalam buku L’etat du monde
annuaire, annuaire economique geopolitique mondial, diedit
oleh Didiot Beatrice (2001) dilaporkan bahwa menjelang tahun
2000 posisi human indicator index atau tingkat Sumber Daya
Manusia Indonesia menempati peringkat 102, negara Vietnam
yang merdeka lebih akhir dibanding Indonesia satu digit lebih
baik dari Indonesia, yaitu 101. Kemudian dalam buku The State
of The World Atlas, ditulis oleh Dan Smith (1999) memaparkan
bahwa posisi SDM Indonesia menempati peringkat 88 di dunia
dan Negara Turkmenistan yang baru merdeka tahun 1991,
lepas dari Uni Soviet, posisi SDM nya juga lebih baik satu digit
dibandingkan Indonesia, yaitu posisi 87.
Tulisan ke dua penulis di atas mencerminkan bahwa kualitas
SDM bangsa Indonesia sangat rendah dan memalukan kita
sebagai bangsa yang termasuk penduduk terbanyak dan
ukuran negara terluas di dunia. Untuk mengatasi masalah
tersebut maka pemerintah dan masyarakat merespon dengan
cara melakukan pembenahan dan perbaikan di sana-sini.
Termasuk dengan cara melahirkan kebijakan pendidikan-
program unggulan.
Kalau begitu di Indonesia ada beberapa model sekolah. Ada
sekolah negeri yang konvensional yang jumlahnya ribuan,
terbentang dari Sabang sampai Merauke. Sekolah
konvensional kualitasnya sangat bervariasi, mulai dari sekolah
negeri dengan murid pemalas dan motivasi belajar rendah
sampai kepada sekolah negeri super berkualitas. Kemudian
sekolah swasta yang jumlahnya juga banyak dan tersebar di
persada nusantara. Ada sekolah swasta yang hampir punah
karena kehabisan murid dan kekurangan dana sampai kepada
sekolah swasta super modern di metropolitan, dengan gedung
megah dan uang sekolahnya sangat mahal yang dapat
dijangkau oleh anak anak cerdas dari keluarga kaya. Kemudian
adalah sekolah negeri- sekolah milik pemerintah- yang
memperoleh keistimewaaan untuk menjalankan program
keunggulan dalam bidang pendidikan. Jenis sekolah yang
terakhir ini disediakan untuk anak-anak cerdas dari semua
tingkat lapisan ekonomi.
Para siswa yang belajar di sekolah-sekolah unggul pastilah
anak-anak cerdas yang memiliki motivasi belajar yang tinggi.
Profesi orang tua mereka adalah ABRI, Polisi, PNS, BUMN,
dan wiraswasta. Tetapi bagaimana visi masa depan mereka
setelah lulus dari sekolah unggul dan dari perguruan tinggi
favorite pilihan mereka ?
Ada berbagai kemungkinan yang bisa terjadi pada mereka yaitu
menjadi PNS, wirausaha, dan pengangguran. Para pelajar
sekolah unggulan juga berkompetisi jadi PNS ? PNS adalah
profesi yang sudah dibisikan oleh guru guru dan orang tua
sejak kecil. Coba lihat ketika anak bersekolah di TK dan SD,
ada murid yang dikaderkan dalam program dokter kecil dan
polisi kecil, tentu saja program ini berguna. Kemudian bila
anak-anak sudah bersekolah di tingkat SMP dan SMA, ditanya,
maka mereka ingin menjadi Dokter, Bidan, Guru, Staff di
Departemen Pemerintah, pokoknya jadi PNS. Orang tua
banyak yang separoh memaksa agar kelak anak memilih
profesi PNS.
“Kalau hanya ingin menjadi PNS, buat apa sih sekolah unggul
segala, si Erni Juwita yang dulu hanya sekolah di SMA negeri
di desa bisa lulus PNS, sedangkan si Firdaus yang dulu
sekolah di SMA unggulan tidak jebol PNS”. Mengikuti seleksi
PNS dan lulus, memang nasib-nasiban. Yang pintar dan rajin
sekolah/ kuliah boleh jadi tidak lulus dalam test PNS,
sementara yang dulu senang hura-hura dan sekolah asal-
asalan bisa lulus. Apalagi sekarang peserta yang tidak pandai,
tetapi pandai-pandai (smart street) bisa mencari buku pintar,
jurus ampuh untuk lulus test PNS, berisi resep resep soal test
yang meliputi test potensi akademik- verbal, numerikal dan
spatial. Itulah mengapa kualitas PNS agak beda dengan
kualitas kerja mereka yang berada di perbankan, sebagai
contoh. Seleksi PNS tidak begitu menjaring semua potensi
partisipan. Sementara test menjadi karyawan BUMN lebih
ketat, lebih selektif dan banyak prosedurnya- melibatkan
psikolog dan proses seleksi yang lebih berkualitas dan
sehingga lebih menjaring potensi, the rightman on the right
place..
Kalau dahulu orang memandang profesi PNS lebih rendah dari
pada profesi berwira usaha, seperti berdagang. Elly Kasim,
penyanyi tempo dulu dari daerah Minang, menceritakan tentang
hal ini dalam lirik lagunya: “alah ka nasib laki den jadi pagawai,
sa bulan gaji indak cukuik untuak sa pakan, tibo dek urang
hiduik sanang rasaki murah, tibo dek kito rasaki nan
baagakkan”.
Sekarang entah siapa yang memulai sehingga kebanyakan
masyarakat tetap mengagungkan PNS sebagai profesi impian.
“Enak ya jadi PNS, gaji mencukupi dan masa depan terjamin,
sakit pun masih menerima gaji”. Dokrin PNS sebagai pekerjaan
yang paling menjamin dan pekerjaan dengan status tertinggi
masih melekat kuat dalam diri masyarakat.
Cukup lucu dan bisa menyedihkan kalau ternyata sekolah
unggul hanya mampu membesarkan dan memotivasi anak
didiknya kelak menjadi PNS, dan menjadi pegawai swasta.
Bagaimana nanti kalau ada yang menjadi pengangguran. Ini
terjadi bukan karena bodoh, tetapi karena kalah bersaing dari
rekan-rekan mereka yang lihai dan pandai-pandai membaca
situasi.
Sangat tepat kalau penyelenggara pendidikan di daerah kita
bisa belajar bagaimana pelaksanaan proses pendidikan di
negara yang lebih maju, misal dari negara tetangga, Singapura.
Sarjana berusia muda di negara kecil ini tidak begitu tertarik
untuk menjadi pegawai pemerintah. Setiap hari banyak iklan
dari departemen pemerintah yang muncul berulang-ulang untuk
mencari pegawai negei. Kebanyakan generasi muda Singapura
yang baru lulus dari universitas lebih tertarik pada wirausaha
dan kerja swasta. Generasi di sana memiliki sikap berwirswasta
yang sudah mantap. Perwujudan sikap wirausaha yang
sebenarnya merupakan implementasi dari sikap budaya
terhadap kerja, prestasi, dan kreatifitas. Kemudian bagaimana
dengan keberadaan karakter para pelajar di sekolah-sekolah
unggul di negeri kita?
Kemungkinan para pelajar dari sekolah unggulan kelak juga
tertarik menjadi PNS. Banyak generasi muda mengidolakan
PNS dan takut berwirausaha- menciptakan lapangan pekerjaan
sendiri dan mengatasi masalah sosial/ masalah pengangguran-
terjadi karena mereka kurang mandiri dan berkarakter manja,
terbiasa serba banyak dibantu. Sejak Taman Kanak-Kanak
mereka tidak diajar mandiri. Bagaimana mereka menghabiskan
hari-hari ? kebanyakan anak-anak kurang dilibatkan dalam
kegiatan di rumah- membersihkan dan merapikan rumah.
Setelah agak besar tidak tahu cara memasak. Malah bagi
orang tua yang punya bisnis sampingan seperti berkebun,
bertani, beternak, berdagang, ada kalanya anak-anak tidak
dilibatkan. Khawatir kalau sekolah mereka terganggu- pada hal
alasan ini berpotensi mematikan kreatifitas dan life skill mereka.
Maka rutinitas para pelajar sekarang cuma pergi sekolah, pergi
les, membuat PR, otak atik HP, bermain gitar, main game dan
lalu tidur. Hari berikutnya kegiatan yang sama berulang lagi.
Ilustrasi di atas memperlihat bahwa kehidupan mereka sangat
monoton tanpa ada tantangan hidup. Apalagi orang tua
sekarang banyak yang merasa serba khwatir- khawatir anak
sakit, terjatuh. Maka mereka cenderung menjadi serba
melarang dan pribadi anak tumbuh kerdil karena serba diatur,
banyak dilarang dan serba diarahkan. Maka lengkap sudah
mereka menjadi generasi manja. Mereka cerdas tetapi, penakut
dan miskin dengan pengalaman hidup.
Dewasa ini banyak mahasiswa yang cerdas, wisuda dengan
IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) hampir empat (4.00) atau cum
laude. Namun belum tentu ada jaminan untk dapat pekerjaan.
Cerdas saja, pernah belajar di sekolah unggul, kemudian lulus
dari universitas favorite juga belum tentu ada jaminan untuk
berhasil, apalagi kalau tidak mempunyai jiwa wirausaha.
Sementara itu pintu PNS semakin sempit juga. Maka
kemungkinan bagi alumni dari sekolah unggul dan universitas
favorite untuk menjadi pengangguran intelektual semakin
nyata.
Perguruan tinggi seperti UI, IPB, ITB dan UGM adalah
perguruan tinggi favorite dan diidolakan oleh hampir semua
siswa di Indonesia. Tetapi tunggu dulu, apa semua yang kuliah
di sana sudah dijamin untuk sukses ?. Ada beberapa kenalan
penulis yang lulus dari sana sempat menganggur selama
bertahun-tahun.
Namun kini banyak universitas menyadari hal hal penyebab
terjadinya penyakit pengangguran. Maka untuk mewanti-wanti
kegagalan mahasiswa, banyak perguruan tinggi membuat
program wirausaha, menawarkan program kewirausahaan,
mencari kerja, dan membuka lapangan kerja secara mandiri.
Sekali lagi, mengingat lulusan perguruan tinggi apakah yang
favorite atau non favorite, berpotensi untuk menambah jumlah
pengangguran setiap kali terlaksana wisuda. Maka mereka
perlu menumbuhkan jiwa wira usaha bagi lulusannya, sering
mengadakan kerjasama dengan instansi dan perusahaan
berskala nasional dan internasonal, dan melaksanakan lomba-
lomba wirausaha.
Melakukan pembinaan wirausaha, ada yang sebatas
memberikan mata kuliah wirausaha dan, seperti yang dikatakan
di atas, bekerja dengan berbagai lembaga atau instansi
pekerjaan. Langkah yang dilakukan oleh berbagai perguruan
inggi ini sudah bagus, paling tidak sudah memperkenalkan dan
mengajak mahasiswa untuk berwirausaha, bisa menciptakan
lapang kerja sendiri. Namun memperkenalkan wirausaha saat
mereka di perguruan tinggi, apalagi saat mereka selesai
wisuda, adakalanya sudah sangat terlambat dalam membentuk
karakter berani dalam berwirausaha. Karena karakter berani
terbentuk paling bagus sejak anak-anak berusia muda, paling
kurang pada saat anak belajar di bangku SLTA (SMA,
Madrasah dan SMK).
Program wirausaha seperti yang dilakukan oleh perguruan
tinggi juga sangat tepat bila diperkenalkan di sekolah-sekolah
unggulan. Selama ini kegiatan kegiatan ekstra di sekolah
unggulan cendrung banyak memompa siswa dengan rumus-
rumus olimpiade, pengembangan afektif dan skill hanya
sebatas kegiatan otot dan seremonial; olah raga, camping,
pramuka, mengikuti lomba mata pelajaran namun tetap kurang
terampil dalam mengurus diri, dan masih serba dibantu di
rumah. Kini sudah saatnya bagi pengelola sekolah unggulan
untuk bisa mengundang para alumni dan tokoh tokoh
wirausaha di kabupaten, propinsi, nasional dan kalau perlu dari
level internasional untuk memperkenalkan apa dan bagaimana
eksistensi wirausaha itu pada pelajar-pelar di sekolah
unggulan. Kemudian sekolah-sekolah ini perlu pula untuk
melaksanak kegiatan wirausaha dengan OSIS, atau sebagai
kegiatan ekstra kurikuler; mengunjungi pusat-pusat kegiatan
wirausaha/ industry di tingkat kabupaten, priopinsi dan nasional
atau internasional. Kembali ke sekolah mereka melakukan
presentasi dan bediskusi dan kalau boleh juga melakukan
kegiatan wirausaha kecl-kecilan dulu. Ini dalah salah satu
strategi efektif untuk memotong wabah pengangguran.
Umumnya para pelajar di sekolah unggulan memiliki semangat
belajar yang tinggi dan potensi yang amat besar. Tentu sangat
mudah untuk menumbuhkan jiwa berani dan jiwa berwirausaha
sejak usia dini. Silahkankah mereka belajar sebanyak-
banyaknya, kemudian pilihlah universitas favoritenya, selalu
pelihara keberanian dan jiwa wirausaha, maka insyaalah kelak
mereka bisa dengan jiwa wira usaha bias menemukan bahan
bakar non fosil dalam volume besar, menciptakan perangkat
computer dan laptop murah tetapi berkualitas, mendirikan
bengkel prabot berskala internasional hingga mampu menyerap
dan sekaligus mengatasi masalah pengangguran, mendirikan
pabrik dan bengkel-bengkel kapal laut yang digunakan untuk
mengolah potensi laut di tiap propinsi sehingga kita tidak perlu
lagi bergantung pada orang lain atau negara lain. Kalau boleh
orang lain dan negara lain lah yang bergantung pada kita.
Amin.

15. Belajar Dengan Cara Yang Menyenangkan


Dalam abad ke 21 ini sudah ada ribuan atau puluhan ribu
sekolah, di persada ini, mulai dari tingkat rendah sampai ke
tingkat yang lebih tinggi, dibangun sebagai tempat untuk untuk
mendidik generasi muda agar mereka bisa menjadi bangsa
yang bermartabat. Sekolah itu sendiri coraknya ada tiga, yaitu
sekolah formal, informal dan non formal. Sementara rumah itu
dengan eksistensi ayah dan ibu juga dapat dianggap sebagai
sekolah pertama bagi anak dalam memahami kehidupan dan
menguasai life skill (keterampilan hidup). .
Kemudian bagaimana cara pandang anak-anak yang belajar di
sekolah tersebut ?, Tentu saja juga bervariasi. Ada anak yang
memandang sekolah sebagai tempat penyiksaan, karena
mereka dipaksa melakukan latihan demi latihan dengan
ancaman dan tekanan dari bapak dan ibu guru di sekolah. Ada
yang memandang sekolah sebagai penjara, karena terpenjara
dari pagi hingga sore sehingga kehilangan waktu untuk
menjelajah di sawah dan dimkebun. Kemudian juga ada yang
memandang sekolah sebagai pabrik otak. Karena disana ada
unsur input/ masukan, proses dan output atau produk, dan
anak anak didik dipandang sebagai benda dan siap untuk
dilatih dan dilatih melulu tanpa memahami apa dan bagaimana
hakekat belajar itu sendiri. Idealnya semua anak musti
memandang sekolah sebagai tempat yang menyenangkan
untuk transfer ilmu agar berubah menjadi manusia yang lebih
beradab. .
Rasa senang dalam belajar adalah masalah suasana hati. Ini
diperoleh melalui perlakukan guru dan orang tua melalui
dorongan dan motivasi mereka. Sebenarnya yang diperlukan
oleh anak-anak dalam belajar adalah rasa percaya diri. Maka
tugas orang tua dan guru tentu saja menumbuhkan rasa
percaya diri mereka.. Dari pengalaman hidup, kita sering
menemukan begitu banyak anak yang ragu-ragu atas apa yang
mereka pelajari, sehingga mereka perlu didorong dan diberi
semangat lewat kata- kata dan perlakuan.
Agar setiap anak bisa belajar dengan senang dan memperoleh
hasil yang optimal, maka orang tua sebagai pengasuh di rumah
dan guru dari balik dinding sekolah perlu memperkenakan
tentang keterampilan belajar, kemampuan dalam
berkomunikasi dan memperoleh lingkungan yang
menyenangkan. Ternyata belajar juga memerlukan
keterampilan. Agar seorang siswa tidak terjebak dalam
kebosanan gaya belajar yang monoton (belajar cuma sekedar
mencatat perkataan guru dan menghafal melulu) maka mereka
perlu tahu bagaimana cara membaca , cara mencatat, cara
mengolah suasana hati yang jitu, cara mengolah lingkungan
dan cara berkomunikasi dengan guru dan teman teman selama
pembelajaran.
Kemampuan dalam berkomunikasi juga menentukan apakah
suasana belajar menyenangkan atau tidak. “Bukankan hidup
kita juga ditentukan oleh suasana komunikasi atau seni
berbahasa”. Berbahasa ? Tentu saja cara berbahasa itu ada 2
macam yaitu: yang menyenangkan atau cara berbahasa yang
mengecewakan. Guru maupun orang tua, walaupun katanya
selalu mendorong anak agar jadi pintar dalam belajar namun
kadang kala cara berbahasa kurang pas menurut pribadi sang
anak. “Aku tidak senang belajar dengan guru itu…. Atau tidak
suka dengan suasana di rumah ?”. Tentu saja karena gaya
berbahasa yang kasar, cerewet, banyak mengomel, suka
membentak, banyak memperolok-olokan sang anak,
meremehkan harga diri dan ada belasan cara berbahasa
negatif lainnya.
Dua orang yang sedang jatuh cinta bisa hubungan mereka bisa
segera putus gara-gara berbahasa yang tidak simpatik menurut
pandangan partnernya. Sebaliknya cinta mereka bisa langgeng
karena “cara berbahasa yang menarik” selalu mempertahan
cara berbahasa yang sopan, santun dan lembut. Suasana
berbahasa yang menyenangkan (bernuansa positif: bahasa
yang penuh pujian, dorongan/ motivasi dan penghargaan) dan
diikuti oleh lingkungan yang menyenangkan tentulah akan
membuat potensi belajar anak akan meningkat.. Suasana
lingkungan rumah yang kerap membuat anak tidak nyaman
adalah kondisi rumah yang sempit, pengap, sembrawut dan
ruangan rumah yang hiruk pikuk oleh suara elektronik (lagu dan
tayangan televise) yang cedrung membuat kita sendiri susah
berkomunikasi apalagi berkonsentrasi dalam belajar.
Secara umum mengapa pembelajaran anak kecil lebih sukses
dibandingkan pembelajaran yang dilakukan oleh orang dewasa
? Sehingga ada pribahasa yang mengatakan bahwa “Belajar
diwaktu kecil ibarat menulis di atas batu (akan selalu berbekas)
dan belajar di waktu dewasa ibarat melukis di atas air (apa
yang dipelajari akan cepat jadi sirna)”. Penyebabnya adalah
selain faktor pertumbuhan otak, masa anak-anak dan remaja
disebut sebagai the golden age- masa pertumbuhan otak yang
pesat, adalah juga karena anak kecil cenderung melalui instink
belajar secara global. Global learning atau belajar secara
menyeluruh, ya ibarat bayi atau anak kecil yang meneliti
lingkungan lewat mulut, tangan, dan mata untuk
mengeksplorasi apa saja apa yang dapat dijangkau.
Beruntunglah bayi dan anak kecil yang memiliki orang tua yang
peduli dalam merangsang mereka dalam global learning-
menyediakan sarana bermain dan belajar, kertas untuk dicoret
atau untuk digunting, bunyi-bunyian, dan benda-benda lain
untuk digengagam dan dilempar. Tanpa diikuti oleh kebiasaan
orang tua yang terlalu banyak menolong, mengeritik dan serba
banyak melarang. Selanjutnya bahwa untuk membuat suasana
belajar bisa menjadi nyaman, sangat dipengaruhi oleh respond
dan rangsangan (stimulus) lingkungan serta bagaimana tekhnik
belajar/ mencatat dan pengalaman pribadi anak atau kita
sendiri.
Respon dan stimulus lingkungan
Tiap hari anak memperoleh dua macam komentar dari teman,
orang tua, dan lingkungan yaitu komentar positif dan komentar
negatif. Komentar yang sering terucap berhubungan dengan
belajar bisa jadi berupa serangkaian kata-kata pujian atau
cacian. “Kamu memang hebat, kamu memang pintar, kamu
memang jenius, kamu memang disiplin atau yang negatif: kamu
sungguh kurang ajar, kamu betul-betul bodoh, otak mu mungkin
sudah penuh dengan pasir, kamu memang idiot, dan ada lagi
sejuta kalimat negatif lain yang sangat ampuh dalam menyayat
perasaan sang anak”.
Sangat berbahaya bila sang anak atau sang siswa terlalu
banyak memperoleh komentar negatif. Sebab semangatnya
bisa jadi melorot. “Percuma saja aku rajin belajar atau rajin
bekerja karena toh aku tidak akan pernah dihargai sebagai
manusia”. Kalau begitu mengapa kita terbiasa gencar
membombardir anak-anak atau orang- orang yang posisinya
berada di bawah kekuasan kita dengan stimulus negatif.
Mungkin gara-gara merasa sok berkuasa atau sok punya power
yang membuat orang merasa mudah melemparkan kritikan dan
komentar negatif.
Ada anak yang secara sekilas dipandang sangat beruntung
karena tinggal dengan orang tua yang berpenampilan sangat
gagah dan fasilitas hidup cukup mewah- punya mobil, disuruh
ikut les ini dan les itu. Namun sang anak malah bermimpi
bahwa alangkah indahnya kalau bisa pindah rumah. Ada apa
gerangan ? ternyata Ia (anak) sering kena ancam atau tidak
ada contoh,, “Kamu sudah aku masukan les privat sains dan
les privat matematik, kalau masih rendah nilai mu, kau pindah
saja sekolah ke kampung”. Itulah karena kebiasaan
mengancam dan kritikan negatif, maka kecerdasan anak pada
akhirnya akan mandek pada usia sekolah.
Sebaliknya, sekali lagi, beruntunglah anak yang memperoleh
rangsangan dan respon positif. Anak anak yang memperoleh
kaya rangsangan akan bisa menjadi pelajar yang sukses.
Dengan kata lain bahwa lingkungan yang miskin rangsangan
dan dan dibombardir dengan respon negatif berpotensi
menciptakan anak menjadi pelajar yang lamban.
Mengapa guru dan orang tua kok senang dengan misbehave
atau salah bersikap ? Jika anak merasa kurang percaya diri,
maka bantulah dia. Coba menemukan hal hal positif pada
dirinya dan pujilah dia agar rasa percaya dirinya bisa datang.
Komentar-komentar positif dapat membangkitkan percaya diri
mereka.
Orang belajar memang tergantung pada faktor fisik (suasana
lingkungan), faktor emosional (suasana hati) dan faktor
sosiologi atau lingkungan teman, guru, orang tua dan budaya
sekitar. Maka berilah suasana pencerahan pada lingkungan,
suasana hati dan suasana sosiologi anak.
Tekhnik menctat dan pengalaman pribadi
Cara belajar dan pengalaman pribadi juga menentuka apakah
belajar itu nyaman dan menyenangkan atau tidak. Karakter
orang belajar memang sangat bervariasi. Ada yang senang
belajar dengan cahaya terang atau agak redup, ada yang
belajar dengan berkelompok atau sendiri, ada yang senang
belajar pakai musik atau suasana sepi, dan ada yang senang
belajar dengan suasana berantakan atau rapi. Maka guru, juga
para orang tua, perlu memahami variasi mereka dalam belajar
dan jangan pernah terlalu mencampuri variasi belajar mereka -
kalau akibatnya membuat anak kurang nyaman dan kurang
senang dalam belajar.
Bobbi De Porter dan Hernacki (2002) mengatakan bahwa
variasi belajar atau modalitas (cara menyerap informasi) juga
bervariasi pada setiap orang. Ada orang atau anak yang
mengandalkan kekuatan visual yaitu membaca, karakter
orangnya adalah cara berbicara cepat. Ada yang bersifat
auditorial atau mendengar, karakter orangnya adalah suka
bicara sendiri dan kecepatan berbicara sedang, Kemudian ada
orang berkarakter kinestetik atau banyak gerakan. Orangnya
susah untuk tenang atau duduk diam dan berbicaranya lambat.
Perlu diingat bahwa dalam belajar, supaya anak juga perlu aktif
dalam mencatat. Mencatat dalam belajar bermanfaat untuk
meningkatkan daya fakir mereka. Ada dua macam cara
mencatat: mencatat dengan membuat peta konsep (menulis
poin-poin penting dan membuat hubunganya) dan mencatat
tulis susun, atau menulis poin poin penting secara bersusun
saja. Kiat tambahan dalam mencatat adalah mencatat untuk
mendengar secara aktif, misal dalam seminar, pidato,
ceramah.. Usahakan duduk paling depan.
Percaya atau tidak bahwa kita semua adalah penulis. Dorongan
untuk menulis itu sama besar dengan dorongan untuk berbicara
yaitu untuk mengkomunikasikan fikiran dan pengalaman kita.
Selanjutnya milikilah dan perkayalah pengalaman hidup.
Milikilah pengalaman pribadi yang banyak dan beragam
dengan cara banyak bergaul dan melakukan perjalanan .
Sebab orang yang mempunyai koleksi pengalaman pribadi
yang banyak akan lebih kreatif dalam belajar dari pada orang
yang kurang pengalamannya.
Selain membiasakan mencatat selama belajar maka anak juga
perlu mempunyai minat membaca dan mengetahui cara-cara
membaca yang tepat. Perlu untuk diketahui tentang kecepatan
membaca. Ada kecepatan membaca yang regular atau
kecepatan biasa-biasa saja. Skimming atau membaca dengan
melihat cepat, misal membaca buku telepon dan mencari kata
dalam kamus. Scanning yaitu membaca sekilas, misalnya
membaca headline pada Koran atau melihat daftar.
Agar kita, anak, siswa dan siapa saja bisa merasakan suasana
belajar yang menyenangkan maka musti membiasakan untuk
berfikir kreatif. Hidup ini indah atau susah memang ditentukan
oleh suasana hati dan fikiran. Berfikir kreatif, bukanlah masalah
kerja lebih keras, tetapi berfikir dengan banyak alternatif. Orang
yang kreatif senang selalu mencoba, melakukan petualangan
dan bermain-main dengan tantangan. Salah satu latihan kreatif
adalah bercerita tentang kejadian sehari-hari. “Ibu guru, bapak
guru dan ayah-ibu di rumah perlu untuk menyisihkan sedikit
waktu agar bisa sharing dan berbagi cerita tentang indah dan
mudahnya hidupm ini dengan anak”. Last but not least (akhir
kata) bahwa siswa/ anak perlu untuk mengulang materi
pelajaran akan meningkatkan daya ingat dan pemahaman,
sehingga belajar itu akhirnya memang bias jadi asyik, nyaman
dan menyenangkan. .

16. Mengapa WNI Keturunan Peduli Dengan SDM ?


Dari pengalaman hidup diketahui bahwa siswa-siswa yang
berasal dari Warga Negara Indonesia (WNI) keturunan Cina
lebih sukses dalam pendidikan. Juga sering didengar bahwa
sekolah-sekolah milik WNI keturunan lebih berkualitas dan
diminati oleh banyak orang. Sekolah- sekolah mereka ada pada
setiap kota-kota besar di Indonesia. Sekolah mereka dapat
dikatakan menempati peringkat kualitas papan atas.
Orang yang peduli dalam urusan pendidikan tentu segera
bertanya-tanya dan ingin tahu tentang mengapa ini bisa terjadi.
Apa yang membuat siswa mereka unggul dan bagaimana
peran orangtua dalam mendidik mereka.
Tentu saja ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi
anak-anak mereka di sekolah., yaitu seperti harapan orang tua
pada anak, tidak hanya sekedar berharap dan menyuruh
namun juga diikuti oleh aksi mereka menyediakan sarana
belajar atau mencarikan tempat belajar yang unggul agar anak
mereka bisa berprestasi. Parikakou (1997) mengatakan bahwa
tingkat pendidikan orangtua warga keturunan Cina dan harapan
mereka pada pendidikan anak menentukan tingkat kesuksesan
pendidikan anak-anak mereka.
Fenomena yang kontra adalah bahwa banyak siswa yang
bukan WNI keturunan kualitas pendidikan mereka sangat
rendah. Orangtua mereka tidak memperlihatkan peran yang
berarti dalam mendidik mereka, malah terkesan bahwa mereka
terlalu menyerahkan urusan pendidikan anak ana pada guru di
sekolah dan urusan baca Alquran anak pada guru mengaji di
surau-surau. Ini terjadi karena tingkat pendidikan orangtua yang
redah, harapan yang rendah atas keberhasilan pendidikan
anak.
Ada ungkapan yang berbunyi “experience is the best teacher-
penglaman adalah guru yang terbaik”. Maka pengalaman orang
tua WNI keturunan dalam mendidik anak bisa jadi pengalaman
warga Indonesia yang lain. Mereka perlu berfikir dan bertanya
tentang bagaimana orangtua dari WNI keturunan membangun
harapan pendidikan pada anak dan sekaligus menjadi model
bagi mereka.
Peterson (1966) dalam artikel “success story” menulis tentang
keberhasilan pendidikan dan ekonomi Cina dan Jepang
sebagai bangsa yang suka bekerja keras dan jarang mengeluh,
kemudian di rumah, orang tua, menjadi model atau uswatun
hasanah bagi anak- anak mereka. Menjadi model atau figure
bagi anggota keluarga maka mereka harus rajin dan
berprestasi.
Ketidak berhasilan sebahagian anak-anak Indonesia yang lain
dalam pendidikan ketika di SMP dan di SMA atau mahasiswa
dapat diperkirakan karena mereka belum punya karakter-
seperti suka bekerja keras, bekerja keras, dan mereka suka
mengeluh, serta tidak memiliki semangat juang yang tinggi-
berpribadi rapuh dan tidak tahan banting. Orangtua tentu tidak
perlu menuduh mereka sebagai generasi yang santai dan
pemalas, karena penyebab mereka demikian adalah akibat
miskin model dan dukungan moral dari orang tua dan guru-guru
mereka, yang mungkin juga kurang suka belajar dan bekerja
keras dan senang mengeluh, kemudian bekerja tanpa orientasi
untuk berhasil.
Chao (1996) mengatakan bahwa anak- anak Cina mampu
menjadi siswa yang terbaik dengan bakat khusus-
memenangkan kompetisi olimpiade, computer, robot, juara bulu
tangkis tingkat dunia, atau menonjol dalam bidang sains dan
tekhnologi. Keberhasilan mereka dalam bidang tersebut tentu
karena dukungan budaya dan keluarga. Budaya yang mereka
miliki adalah budaya senang bekerja keras dan belajar penuh
semangat. Dalam mencari rezki, orang Cina punya moto-
jangan biarkan reski dimakan oleh ayam terlebih dahulu
(maksudnya jangan suka bangun kesiangan) dan “beri aku ikan
maka aku makan satu kali, tapi beri aku kail- ajari aku
memancing- maka aku makan ikan selamanya”. Dalam konteks
ini WNI keturunan mengajar anak-anak mereka agar memiliki
keterampilan hidup dan tidak meminta rezki atau belas kasih
dari pihak family atau orang lain.
Sementara itu budaya warga Indonesia yang lain, sebahagian,
suka hidup santai, membiarkan fikiran, tangan dan kalbu
mereka menganggur. Pada hal orang yang sehat jiwanya
adalah orang yang berdiri di atas kaki dan tangan kreatif.
Dukungan orangtua, ayah dan ibu, di rumah sangat
menentukan keberhasilan anak dalam bidang akademik. Rata-
rata anak yang cerdas atau terampil berasal dari keluarga yang
sangat mendukung dan mempersiapkan anggota kelouarganya
untuk berhasil. Kalau begitu siswa atau yang cerdas bukanlah
semata-mata dicetak oleh sekolah, seperti anggapan banyak
orang. Peran sekolah hanyalah untuk pemantapan. Atau paling
kurang perimbangan rumah dan sekolah dalam mensukseskan
pendidikan anak adalah fifty-fifty percent.
Tidak hanya WNI keturunan Cina di Indonesia, keturunan Cina
di berbagai belahan dunia seperti di Amerika, Kanada dan
Australia juga banyak yang sukses dalam bidang akademik dan
pekerjaan. Anak- anak mereka sangat berhasil dalam bidang
akademik, teknologi dan sains. Bruner (1991) mempertanyakan
tentang bagaImana orang-orang Cina bisa membentuk
success-expectation walau mereka hidup sebagai kaum
minoritas.
Chun (1995) beragumen bahwa orientasi anak- anak Cina pada
sains dan tekhnologi bukan merupakan refleksi. Banyak orang
beranggapan bahwa anak-anak WNI keturunan bisa sukses di
sekolah dan dalam dunia bisnis karena mereka memiliki otak
yang cerdas. Anggapan atau steretipe yang demikian tidak
benar, karena sesungguhnya keberhasilan itu adalah karena
hasil dari kerajinan, disiplin diri, dan pengaturan diri mereka.
Kalau hanya kecerdasan, cukup banyak manusia yang cerdas
namun kurang beruntung karena tidak memiliki sikap kerajinan,
disiplin diri, dan pengaturan diri. WNI keturunan rata-rata sudah
punya standar hidup yang harus dicapai yaitu mereka harus
menjadi orang yang berhasil. Alasan lain yang membuat
mereka berhasil dalam bidang akademik dan bidang pekerjaan
adalah agar bisa bertahan dalam hidup sebagai warga
minoritas. Mereka memutuskan harus menjadi orang yang well-
educated , mandiri dan bertanggung jawab.
Untuk menjadi orang yang berpendidikan baik, anak- anak
mereka didik dengan serius, penuh rencana di rumah dan
dikirim kemudian ke sekolah yang berkualitas. Kemandirian
anak dilatih tanpa mendikte yang banyak atau terlalu
mencampuri keputusan anak dan rasa tanggungjawab
terbentuk melalui pemberian tugas sesuai dengan usia dan
kesanggupan anak- seperti ikut membantu orang tua dalam
menjalankan bisnis.
Dalam belajar orangtua selalu menyampaikan pesan bahwa
kalau anak-anak tidak rajin dalam belajar dan bekerja maka
mereka tidak mungkin menjadi bintang kelas dan sukses dalam
bekerja. Maka mereka sangat peduli terhadap PR atau
pekerjaan rumah anak dan mengikuti kursus ekstra yang lain
agar bisa memperkaya wawasan anak.

17. Bila Televisi Kurang Memiliki Nilai Pendidikan


Dalam mata pelajaran civic (kewarganegaraan) dikatakan
bahwa ada empat kekuaasaan dalam bernegara yaitu
kekuaasaan legislatif (membuat undang-undang), eksekutif
(melaksanakan undang-undang), yudikatif (menegakan
undang-undang) dan kekuasaan atau kekuatan media massa,
baik media cetak maupun media elektronik. Setelah tahun
2000, yaitu pasca krisis moneter, industri media massa tampak
begitu subur. Sehingga sekarang ada puluhan judul media
cetak (surat kabar, tabloid, dan surat kabar) dan media
elektronik (televisi dan radio) berskala lokal (propinsi) dan skala
nasional. .
Media massa mempunyai kekuatan dalam perjuangan
kemerdekaan Indonesia. Para pahlawan seperti Muhammad
Hatta, Haji Agus Salim, Buya Hamka (dan lain-lain) mampu
membentuk opini masyarakat melalui media cetak bahwa
mereka adalah bangsa Indonesia dan harus merebut
kemerdekaan. Bung Karno dan Bung Tomo melalui media
elektronik (radio) telah mengobarkan gelora emosi rakyat untuk
mengusir penjajah.
Selanjutnya bagaimana pula kekuatan pengaruh dari media
televisi dalam mendidik dan membina mental/ akhlak generasi
muda dan generasi tua di tanah air ini ? Manfaat televisi dalam
membangun mental bangsa bias dilihat dari bentuk atau jenis
mata acara yang mereka miliki. Mata acara televisi seperti
warta berita, dengan nama lain seperti Buletin Siang, Seputar
Indonesia, News Flash, Metro Siang, Liputan Pagi, dan lain-
lain, bisa memperkaya informasi masyarakat. Mata Acara
dalam bentuk laporan, pengajian dan bincang-bincang juga
memperkaya kognitif dan affektif atau mental pemirsanya.
Lebih lanjut bahwa sekarang telah ada belasan televisi swasta
di negara tercinta ini dan apa saja kontribusi mereka dalam
pembangunan mental pemirsanya ? Pada umumnya konten
(isi) mata acara televisi swasta adalah dalam bentuk hiburan
dan iklan. Pagi-pagi buta, sebelum ayam berkokok, sudah ada
yang menyuguhi masyarakat film-film dan hiburan. Pada hal
secara logika pemirsa belum butuh dihibur karena masih fit and
fresh (segar dan bugar). Ini terjadi karena misi televisi swasta
adalah bukan untuk mendidik masyarakat tetapi untuk
mnghibur dengan missi infotaiment (informasi dan
entertainment).
Hiburan yang diberikan adalah serangkaian film dan film dari
pagi sampai larut malam. Kalau dihitung ada 10 atau 11 film
yang disuguhkan. Maka kalau ada masyarakat yang kerajingan
nonton film, pastilah mereka akan menghabisan waktu belasan
jam di depan layar televisi setiap hari dan akan kehilangan
saat-saat produktif dalam mengembangkan diri mereka.
Sementara itu bentuk informasi yang disuguhkan pada
masyarakat adalah dalam bentuk kupasan laporan kriminal dan
gunjingan (gossip atau dalam istilah agama adalah ghibah )
seputar kehidupan selebriti- artis, atlit, konglomerat dan public
figure yang lain. Apa gunanya ? Ya mungkin agar penonton
menjadi tukang gossip atau sekedar memperoleh info murahan
sebagai pembunuh waktu.
Selanjutnya tentang konten film yang cendrung mengekspose
kekayaan, kemewahan dan kekerasan. Pemirsa disuguhi
adengan actor sinetron yang kerjanya naik mobil- turun mobil
mewah, menghardik dan memaki orang tua ata anak. Kalau
ada film tentang sekolah maka siswa yang dianggap pintar
adalah siswa yang berkacamata tebal dan lugu, kalau guru- ya
guru yang killer atau guru miskin yang pergi sekolah
mendayung sepeda. Ini adalah bentuk pelecehan terselubung
terhadap dunia pendidikn.
Para presenter televisi pada umumnya cantik-cantik dan
ganteng-ganteng. Mereka adalah orang-orang cerdas yang
telah lulus dalam serangkaian seleksi yang ketat. Namun
mengapa penampilan mereka tidak lagi membumi dan alami.
Rambut yang hitam musti dipoles warna warni dan pakaian
yang sopan musti disulap menjadi pakaian yang
mempertontonkan aurat dan disuguhi kepada pemirsa yang
terdiri dari masyarakat awam, intelektual, pendidik, tokoh
spiritual dan kaum ulama, mungkin sambil berujar “lihatlah
auratku !”. Atau ada misi khusus untuk mengajak dan
memotivasi pemirsa bahwa “beginilah menjadi orang hebat dan
orang moderen itu”. Tidak heran bahwa ternyata mereka ,
presenter, selebriti dan public figure yang satu aliran, telah
menginspirasi pemirsa mereka. Remaja dan rakyat awam,
untuk mengikuti life style mereka- cara berpakaian, cara
berbicara, cara berjalan dan cara berprilaku yang lain. Maka
secara perlahan, sadar atau tidak sadar, maka tercabutlah
mereka dari gaya hidup asli mereka – budaya sendiri.
Sekarang terasa dan terlihat bahwa program media elektronik
(terutama TV swasta) tidak lagi memberi pencerahan dan
pendidikan pada pemirsa mereka. Mata acara yang mereka
tayangkan terlihat bisa memicu emosi pemirsanya. Masih ingat
kisah kisruhnya rumahtangga Manohara dengan Sultan dari
salah satu Kerajaan di negara bagian di Malaysia ? Pasti
Romeo dan Juliet abat ke 21 ini pada awalnya pernah memiliki
kisah cinta sehingga mereka bisa jumpa dan duduk di mahligai
perkawinan. Namun ketika terjadi prahara cinta, maka TV
swasta yang memiliki mata acara bergossip atau “bergunjing
atau berghibah” mengupas dan mengemas mata acara gossip
ini menjadi konsumsi emosi pemirsa. Namun kupasan gossip
perceraian Manora versus Pangeran Kelantan cuma disorot
secara tajam dari sisi Manohara semata dan tidak satu pun ada
sorotan berimbang dari sisi Raja, alias TV swasta tidak netral.
Tayangan gossip atas nama membela Manohara sebagai
orang Indonesia dan rasa nasionalis maka yang timbul pada
pemirsa adalah rasa nasionalis yang kebablasan- emosi yang
meledak ledak.
Apakah pengusaha industri media elektronik tidak tahu bahwa
bangsa kita juga pernah dan masih menyadur budaya dan
kesenian bangsa lain. Agaknya banyak orang Indonesia yang
pernah mendengar dan menikmati lagu-lagu popular yang
irmanya disadur dari irama Mandarin, Amerika Latin atau dari
yel-yel (lagu) Piala Dunia (Coup de Le Monde) yang berbunyi
“go-go-go, alle-alle-alle”, juga irama lagu “guantanamera” serta
lagu la bamba yang lain hingga menjadi popular dan
menghidupkan industri hiburan di negeri ini. Hadad Alwi sendiri
sebagai musisi Islam juga menyadur irama lagu “follow me-
follow me” menjadi nasyid yang digandrungi oleh tua dan
muda.
Saat kepemimpinan Abdurrahman Wahid, sebagai Presiden ,
maka etnis Cina memperoleh kebebasan dalam
mengekspresikan diri dan budaya mereka. Selanjutnya sejak itu
sampai saat sekarang arak-arakan Barongsai menjadi kesenian
yang cukup popular di kota-kota besar. Kemudian tarian
Ramayana, yang aslinya berasal dari India, telah menjadi seni
budaya di Pulau Jawa. Namun mengapa negara Cina dan India
tidak protes dan mencak-mencak di media massa sampai di
dunia cyber.
Namun tiba-tiba ada oknum personel (bukan atas nama
pemerintah) dari Malaysia mengadopsi kesenian kita “Tari
Pendet”, lagu “rasa sayange” dan lain-lain. Adopsi budaya ini
lagi-lagi dikupas dan diberi bumbu emosinal yang
membangkitkan amarah dan gelora kebencian dalam tayangan
mata acara “televisi- televisi swasta tertentu”. Katanya demi
menumbuhkan rasa nasionalis yang cenderung tenggelam.
Maka betul-betul bergejolaklah amarah dan kebencian pemuda
“ganyang Malaysia…..!!!”. Keberadaan situs gratisan di cyber,
lewat blogger, multiply, wordpress, Face Book, juga disalah
gunakan dengan membuat situs carut marut antara anak-anak
Malaysia dan anak-anak Indonesia. Bermuncullan situs-situs
liar “Malingsia, Indoesial, dan lain-lain”, walau mereka sama
sama satu rumpun melaya dan mungkin se-agama- Islam yang
dalam sholat mengucapkan “innnas sholati wanushuji
wamahyaya wamahmati lillahirabbil ‘alamin- sesungguhnya
sholatku, perbuatanku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah”.
Apakah ini yang dinamakan dengan rasa nasionalis- rasa
nasionalis untuk anak-anak Indonesia dan anak-anak dari
Indonesia ? Apakah seperti ini rasa nasionalis yang diinginkan
oleh industri media elektronik, terutama TV swasta, di negeri ini
?
Agaknya untuk menumbuhkan rasa nasionalis- dalam bentuk
dorongan positif- para generasi muda, maka pihak televisi bisa
berbuat banyak. Misalnya dengan menyediakan kuota mata
acara khusus dan menayang lagu-lagu kebangsaan “Indonesia
Raya” dan lagu lagu nasional lain, seperti “Rayuan Pulau
Kelapa, Bandung Lautan Api, Jembatan Merah, Dari Sabang
Sampai Merauke, dan lain-lain. Namun dalam kenyataanya
mereka (para pengusaha industri media elektronik) kikir dalam
mempromosikan lagu-lagu nasional, dan lagu kebangsaan.
Kenyataan lagu-lagu cinta yang cengeng dan bermesraan yang
selalu mengumandang dalam rumah-rumah bangsa Indonesia.
Sehingga balita-balita lugu banyak yang lebih hafal lagu-lagu
cinta yang patut dikonsumsi orang remaja/.dewasa.
Dalam sebuah berita koran Singgalang (Agustus, 2009)
mengatakan berdasarkan survey wartawannya bahwa cukup
banyak orang dewasa di kota Padang yang tidak kenal lagi
dengan bait dan lirik lagu “Indonesia Raya”. Ini adalah akibat
dampak dari lagu-lagu kebangsaan dan lagu nasional sudah
jarang diputar dan dikumandangkan di pesawat radio dan
televisi.
Lantas, apakah konten dan semua mata acara televisi itu jelek
? Terus terang mata acara televisi juga banyak yang bagus.
Film-film religi mendapat respon positif di masyarakat yang
luas. Mata acara kuiz, jelajah alam dan bincang-bincang cukup
bagus untuk menambah wawasan pemirsa mereka. Namun
sayang bahwa banyak masyarakat kita yang tidak tahu dengan
aturan menonton dan menghidupkan televise, sampai- sampai
telah mencederai pendidikan anak-anak mereka sendiri- hingga
jadi malas belajar dan beribadah, gara-gara tayangan televise
jauh lebih menarik dan menggiurkan.
Zaman sudah semakin aneh dan banyak orang menjadi
entertainment oriented. Membayangkan dan menganggap
bahwa kita akan bahagia kalau diberi sarana hiburan. “Mak
kalau aku ada reski, mak akan aku belikan televise 24 inchi…!”.
Memang aneh mengapa orang tua yang sudah beranjak uzur
tidak dimotivasi untuk banyak beribadah untuk mempersiapkan
diri menuju Khalik- Sang Pencipta.
Memang inilah fenomena yang terjadi sekarang, mulai dari usia
anak-anak sampa ke usia sangat tua, banyak famili kita yang
betul-betul gemar menonton. Isi mata acara yang disuguhkan
oleh TV- iklan dan hiburan yang berpotensi mendorong pemirsa
dari seluruh lapisan umur untuk pro dengan gaya hidup mewah,
hedonisme (ingin hidup serba senang) dan gaya hidup
konsumerisme untuk dilahap habis-habisan sehingga memang
telah mengubah gaya hidup mereka.
Sekarang bagi kita yang sadar akan eksistensi televise- plus
dan minusnya dan bagi mereka yang belum siap untuk
beradaptasi dengan gaya hidup yang ditawarkan televisi yang
banyak unsur komersilnya untuk berfikir bila hendak membeli
televise dan berfikir bila hendak menghidupkannya. Penulis
sendiri dan beberapa orang teman merasakan pengaruh
negative televise dalam mendidik anak dan memutuskan untuk
bersikap “say no to television”. Namun untuk kebutuhan
informasi dan pendidikan maka penulis menyediakan media
cetak (majalah dan surat kabar). Kebutuhan jelajah anak
dikembangkan lewat dunia buku dan beberapa educational
game pada laptop. Mendidik anak tanpa kehadiran televise
telah membuat anak- anak bebas dari hardikan dan celaan
gara-gara kerajingan nonton televise dan malas belajar dan
bekerja.

18. Menjadi Bangsa Yang Diperhitungkan


Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang, pemilu (pemilihan
umum) sudah terselenggara selama beberapa kali. Untuk
melakukan voting peserta pemilu cukup menusuk gambar
partai dengan sebuah paku besar. Kata “tusuk” sudah menjadi
kosakata popular bila musim kampanye datang. Malah dalam
kampanye di zaman orde baru pelaku dan pendukung partai
meneriakan yel-yel untuk tiga partai; “tusuk beringin…, tusuk
ka’bah…, dan tusuk banteng…!” Namun yel-yel “tusuk” pada
pemilu tanggal 9 April 2009 tidak berlaku lagi, peserta pemilu
diminta untuk “mencontreng”. Mereka disarankan untuk
mencontreng nomor atau gambar caleg (calon legislative) sang
idola. Sinonim kata contreng adalah centang atau check-list.
Namun kata contreng tetap lebih populer.
Usai pemilu anggota caleg dan pendukung antusias atau takut
setengah mati untuk mengetahui hasil polling melalui contreng.
Bagi yang memperoleh banyak tanda contreng tentu merasa
amat berbahagia, berpesta pora atau melakukan sujud syukur.
Yang sedikit memperoleh tanda contreng atau kalah suara itu
membuat mereka berduka yang berkepanjangan. Kita
seharusnya mendoakan caleg tersebut agar tidak stress dan
depresi, moga-moga Allah Swt menentramkan hati mereka.
Mencontreng tidak hanya identik untuk pemilu. Dalam
melakukan observasi dan penelitian, peneliti menggunakan
tanda contreng untuk option pada skala likert (lima pilihan), dan
skala gutmann (dua pilihan), atau pilihan lain.
Organisasi berskala dunia dan badan PBB- seperti World Bank,
Unicef, Unesco, LSM-LSM dunia lainnya- juga sering
melakukan penelitian. Penelitian yang berhubungan dengan
tingkat buta huruf, kejahatan korupsi, dan tingkat hutang luar
negeri, maka Indonesia sering memperoleh tanda contreng.
Namun penelitian tentang tingkat kesejahteraan, tingkat
kualitas pendidikan, tentang income masyarakat, maka
Indonesia jarang kena contreng. Contoh lebih kongkrit, sebuah
survey yang dilakukan oleh majalah Japan Close-Up (Maret
2001) tentang factors that contribute to success in society yang
menjadi respondenya adalah warga negara di Jepang, Cina,
Korea Selatan, Thailand, Singapura, Malaysia dan India.
Namun kita betanya-tanya “mengapa Indonesia tidak masuk
sebagai responden atau sample dalam survey itu ?”
Juri-juri yang terlibat dalam event olah raga dunia seperti sepak
bola, tour de france, tenis, atletik, renang, dan lain-lain, jarang
yang mencontreng Indonesia. Para peneliti tentang life
expectancy, life quality, perdagangan dan industry, tingkat
income nasional, dan penelitian tentang hal-hal yang positif
maka Indonesia merupakan negara yang jarang kena contreng,
mengapa demikian ?
Indonesia masuk atau tidak masuk hitungan untuk di-polling
atau dicontreng tergantung pada beberapa faktor, yaitu seperti
endeavor (kerja keras), karakter, bakat, pengalaman hidup,
kesehatan, dan latar belakang pendidikan. Endeavor memang
faktor yang patut menempati urutan pertama. Urutan berikutnya
adalah faktor kesehatan, karakter dan latar belakang
pendidikan.
Endeavor atau kerja keras umumnya belum dimiliki oleh
bangsa kita. Hal ini kita kupas bukan karena kita benci pada
bangsa ini, tetapi sebagai usaha refleksi- koreksi diri dan
melakukan perbaikan terhadap kualitas diri. Untuk
membuktikan, coba lihat cara berjalan kebanyakan anak-anak
sekolah kita. Jalanya tidak smart, tampak agak pelan, dan
kesannya loyo, tidak semangat, dan kalau ngobrol ya kemanja-
manjaan dan rada kekanak-kanakan. Ini adalah sinyal bahwa
budaya belajar keras dan kerja keras kurang sempurna.
Kalau kita melewati deretan perumahan penduduk, akan terlihat
deretan tiang-tiang antene parabola dan antene UHF (Ultra
High Frequency) sebagai pertanda bahwa warga di sana
adalah orang yang suka hiburan. Rumah-rumah mereka telah
disulap menjadi home theatre, hampir sepanjang waktu televisi,
tape recorder, vcd playermenyala. Anak-anak sampai orang tua
adakalanya terpaku di depan layar menghabiskan umur. Ini
berarti bahwa budaya menonton adalah budaya utama kita.
Kemudian bila kita lewat menelusuri kantor-kantor pemerintah,
akan dijumpai beberapa anggota PNS asyik ngobrol sambil
berdiri. Atau mereka ngumpul-ngumpul sambil menghisap
rokok dan menghabiskan secangkir kopi. Sementara itu lantai
kantor dan perabot di kantor ada yang sudah kusam karena
lupa untuk dirawat. Ini juga sebagai sinyal bahwa budaya kerja
pegawai pemerintah masih dalam taraf basa-basi.
Selanjutnya bila kita berkendraan menelusuri jalan luar kota
akan dijumpai banyak lahan terlantar, kolam ikan dan kebun
tidak terurus dan sawah-sawah dengan tanah subuh yang
penuh dengan gulma. Generasi petani tidak lagi menghargai
profesi bertani. Generasi muda mereka disugesti untuk menjadi
tukang ojek atau exodus ke kota untuk jadi buruh dan
melakukan dagang kecil-kecilan. Kalau gagal ya jadi
penganggur.
Sebahagian manusia Indonesia sudah punya karakter bagus,
namun sebahagian lagi bermasalah dengan karakter. Mereka
terperangkap menjadi orang yang santai dan tidak tahu cara
menghargai waktu. Kerja sedikit dan langsung merasa cepat
puas. Kadang-kadang kita sendiri mungkin tidak memiliki
agenda kegiatan dalam hidup dan kita menjadi orang yang
bengong. Orang orang yang bengong dan pasif kerap hanya
menjadi penonton dan bukan menjadi actor atau pelaku dalam
hidup, menjadi buruh pabrik dan bukan menjadi pemilik pabrik.
Menjadi konsumen dan bukan menjai produsen. Hal ini terjadi
karena kita belum mengamalkan filsafat long life education-
pendidikan seumur hidup.
Yang cendrung kita lakukan adalah baru half lifa education-
pendidikan separoh umur. Fenomena ini sangat benar, kalau
tidak percya ini dapat dibuktikan. Umumnya warga kita hanya
belajar sampai level SLTA atau masuk Perguruan Tinggi.
Tamat kuliah, menjai sarjana dan kemudian berhenti belajar.
Kalau pun ada belajar atau membaca, itu pun cuma sebatas
basa basi, mengisi waktu senggang. Coba perhatikan tas-tas
yang disandang oleh wanita-wanita yang pernah kuliah dulu
(sekarang mungkin jadi guru, pegawai swasta, BUMN, dan
wiraswasta, ukuran tas mereka semakin kecil dan isinya cuma
HP, sisir, lipstick, bedak, dompet, permen dan amat jarang
yang membawa buku yang berbobot. Atau kita bertandang ke
rumah-rumah mereka dan rumah penduduk kebanyakan, maka
yang kita jumpai mungkin garasi dengan mobil second, lemari
yang penuh dengan boneka dan keramik, rak-rak yang berisi
tumpukan kaset vcd player dan amat jarang dijumpai rumah
penduuk yang memiliki pustaka keluarga.
Faktor kesehatan juga menentukan kualitas bangsa Indonesia,
berpengaruh apakah Indonesia kena contreng di dunia atau
tidak. Bangsa Indonesia mungkin boleh dikatakan sebagai
bangsa perokok. Coba lihat iklan dan poster apa yang banyak
bertebaran di pinggir jalan ? “Merokok membuat anda lebih
jantan, merokok sebagai selera pria sejati, merokok untuk
selera petualang….!”. Begitu banyak kalimat kalimat indah
untuk pembohongan publik. Sehingga amat banyak pria yang
terpedaya oleh rokok, malah rokok itu sendiri sudah menjadi
event budaya. Undangan untuk datang ke pesta di kampung-
kampung pengganti undangan resmi adalah dengan
menggunakan media sirih dan rokok dalam carano- sirih
(sereh) untuk kaum perempuan dan rokok sebagai undangan
buat kaum laki-laki.
Pendapat khalayak ramai yang salah adalah bahwa rumah
yang berbudaya adalah yang menyediakan asbak rokok (?)
karena laki-laki Indonesia memang perokok berat. PNS,
pegawai swasta, pegawai BUMN, polisi, ABRI, mahasiswa,
sebahagian pelajar, pedagang, petani, nelayan dan kaum buruh
banyak yang telah menjadi perokok sejati. Pantaslah nasehat-
nasehat yang bertuliskan seperti “merokok membuat anda
impotent, merokok membuat janin cacat, merokok mengganggu
kesehatan jantung dan paru-paru, pokoknya merokok merusak
kesehatan ” tidak mudah dipercaya oleh pelajar, dan anak-
anak. Malah pelajar memperoleh inspirasi dari guru perokok,
anak meniru ayah dan keponakan meniru gaya merokok
paman. Arti dan nilai kesehatan tidak begitu dijunjung tinggi.
Bumi Indonesia terkenal dengan keindahan dan keelokannya,
tetapi mungkin juga terkenal dengan kejorokannya- sampah.
Tidak percaya dan bukan asal bicara, mari kita telusuri jalan-
jalan dari pinggir kota terus ke lokasi objek wisata- goa, pinggir
sungai, pinggir laut, taman alam dan pinggir danau. Di sana
bertebaran sampah- bungkus-bungkus makanan. Bangsa kita
memang sangat gemar melemparkan sampah. Undang undang
tentang sampah tidak efektif lagi, kecuali hanyak menggertak
saja- membuang sampah didenda enam juta rupiah. Sungai
kecil dan saluran air yang melewati kota bersampah dan
tercemar limbah. Cegahlah anak-anak tak berdosa untuk
bermain air dan mandi mandi dengan air sungai yang mengalir
di kota, sebab berpotensi untuk kematian atau penyakit kalau
airnya tertelan karena polusi logam berat dan racun.
Pelajar pelajar putri kita gemar diet dan banyak yang salah diet.
Diet bukannya semacam mogok makan karena takut gendut.
Tapi adalah mengatur pola makan. Namun banyak pelajar
salah diet dan jarang yang makan kalau pergi ke sekolah,
mereka menuntut ilmu dalam keadaan kurang gizi. Di waktu
istirahat mereka tidak mengkosumsi makanan bergizi maka
pantaslah mereka susah payah menghadapi ulangan harian
dan ujian nasional karena juga akibat faktor kurang gizi.
Anak-anak dan balita kita juga berpotensi menjadi generasi
yang kurang gizi. Itu gara-gara mereka banyak yang susah
makan. Mereka lebih menyukai permen, makanan industry
dengan harga murah meriah dan mengundang penyakit karena
kaya dengan bahan kimia- penyedap rasa dan zat pewarna.
Anak- anak kita pun terdidik menjadi generasi yang percaya
dirinya tumbuh kalau mengkonsumsi KFC, Burger, dan
hidangan fast food yang kaya kolesterol dan kaya penyakit.
Mereka kurang mengenal bagaimana citra rasa goreng
singkong, godok ubi, onde-ode, lopi, rujak dan kue talam yang
lebih sehat dan bergizi.
Latar belakang pendidikan termasuk hal yang menentukan
apakah suatu Negara diperhitungkan di tingkat dunia atau tidak.
Untuk Indonesia kenapa ia tidak banyak dicontreng/
diperhitungkan adalah karena posisi human development index
yang rendah. Karena Indonesia adalah Negara besar di dunia
maka ia seharusnya menjadi Negara yang hebat- kuat dan
belajar untuk maju dari Negara maju.
Yang membuat suatu negara maju atau tidak adalah bukan
berapa gedung pencakar langit dan berapa plaza modern yang
ia miliki, tetapi berapa jumlah doktor dan professor yang
mereka miliki. Tentu saja bukan doktor dan professor yang
pasif, tetapi mereka yang kreatif dan innovative dalam
melakukan riset untuk memajukan negaranya.
Dalam era otonomi daerah banyak beasiswa diberikan bagi
undergraduate (sarjana S.1) untuk menyelesaikan program
pascasarjana (graduate) dan doctoral (post graduate). Namun
banyak mereka terkendala dengan kemampuan TOEFl (Test Of
English Foreign Language) karena score di bawah 500 atau di
bawah 550. Kalaupun bisa mengikuti program beasiswa namun
juga banyak yang stagnant alias mandek karena terbentuk
susah untuk menyelesaikan tesis dan disertasi. Yang licik
mencari jalan pintas- minta tolong untuk menyelesaikan karya
tulis- ini adalah pembohongan diri dan plagiat. Kalau tidak
demikian maka meeka harus rela untuk drop out. Kemapuan
menulis orang kita belum lagi terasah dan membuat momok
untuk menyelesaikan pendidikan tinggi di universitas.
Kualitas pendidikan di negara maju memang berbeda dengan
negara kita. Di sana pada umumnya orang tua banyak yang
berpendidikan sarjana, master dan doctor. Bila anak anak
punya problem dengan pelajaran sekolah maka orang tua
mereka , sebagai guru ke dua di rumah, bisa membantu
mereka untuk memahami pelajaran. Dan sangat kontra
perbedaanya dengan kita, dimana rata-rata orang tua hanya
tamatan SMP dan SLTA, satu satu lulusan Perguruan Tinggi,
yang susah memahami pelajaran anak anak. Sehingga urusan
pendidikan diserahkan bulat-bulat pada guru di sekolah. Guru
adalah perpanjangan tangan orang tua di rumah atau sebagai
pelimpahan mandate orang tua dalam mendidik anak. Maka
tidak heran kalau banyak anak yang memiliki semangat belajar
dan motivasi belajar yang rendah, karena orang tua kurang
tahu tentang memberi motivasi.
Sekali lagi bahwa tulisan ini sama sekali bukan untuk
mengekspos tentang hal yang minus di negara kita yang elok
ini. Namun tulisan ini adalah untuk refleksi atau renungan
moga-moga ada sumbangan untuk membentuk mind set baru
agar bangsa kita bisa kena contreng, diperhitungkan, di dunia
sebagai responden atau sample dalam penelitian positif. Oleh
karena itu kita semua harus memiliki endeavor/ semangat kerja
keras, karakter positif yang kuat, lebih menghargai pentingnya
nilai kesehatan dari pada gaya hidup. Kemudian menjadikan
dan mengamalkan long life education sebagai motto hidup,
kemudian mengembangkan dan mengoptimalkan talent/ bakat,
potensi diri, serta memperkaya pengalaman hidup. .

19. Tidak Perlu Nilai Obralan


Kita masih ingat bahwa dulu saat fenomena bahwa kantor-
kantor pemerintah dan swasta mengumumkan nilai rata-rata
paling rendah 7, sebagai syarat mengikuti ujian kepegawaian.
Dan sebelum penilaian dengan “NEM” dilakukan, sebelum
tahun akademik 1985/1986, banyak orang mengatakan bahwa
sekolah-sekolah yang kikir dalam memberikan nilai. Guru-guru
sendiri kadang-kadang suka mikir-mikir dua kali untuk
memberikan nilai angka enam saja kepada muridnya.
Tetapi semenjak pemerintah membuat persyaratan rata-rata
nilai tujuh ke atas sebagai penentuan seleksi pegawai maka
itulah titik awal dari pengobrolan nilai yang dilakukan oleh
sekolah-sekolah dengan alasan sekadar untuk menolong murid
agar mereka tidak menjadi pengangguran di tengah
masyarakat.
Ketentuan persyaratan ini dapat bernilai negatif atau positif
sesuai dari kaca mata kita memandang. Kita beranggapan baik
bahwa dengan persayaratan nilai minimal tujuh untuk diterima
untuk bekerja maka diharapkan agar anak-anak didik
bersemangat dan berpacu dalam meningkatkan kualitas
pendidikan. Dari kacamata negatif seolah-olah syarat ini
memancing kolusi-kolusian demi meraih nilai, menggerogoti
tubuh pendidikan.
Sekarang bagaimana wajah penilaian terhadap lulusan
sekolah, misalnya lulusan SMP dan SLTA? Setiap siswa
memiliki nilai ganda, yaitu nilai pada ujian yang rata-rata cukup
tinggi dan nilai yang tertera pada NEM yang sering memalukan
siswa sendiri untuk mengungkapkannya. Jarang sekali
penilaian ini yang sinkronis. Idealnya bukankah anak-anak yang
memiliki NEM tinggi juga memiliki nilai ijazah tinggi.
Setelah munculnya penilaian lewat “NEM” atau sekarang
diistilahkan dengan Standar kelulusan maka tampaknya ijazah
kehilangan harga diri. Orang sudah terlanjur percaya kepada
kehadiran NEM atau standar angka kelulusan , pada hal NEM
itu sendiri memiliki dimensi banyak. Kita katakan dia berdimensi
banyak karena NEM itu sendiri dapat diotak-atik oleh orang-
orang tertentu.
Sudah terlalu sering media massa menyingkapkan adanya
kasus jual beli NEM. Malah pada tiap sekolah, kemungkinan,
harga diri sekolah diukur lewat NEM. Maka agar NEM sekolah
tinggi maka saat ujian berlangsung dibuatlah aturan main. Ada
sekolah yang sengaja membuat suasana ruang ujian begitu
padat yang mana idealnya dalam satu deret mesti berderet
sampai lima atau enam. Dan kalau ditanya “kenapa begini?”
Maka alasannya adalah karena kekurangan kelas. Padahal di
balik alasannya itu adalah karena peningkatan mutu yang
palsu.
Ada pula sekolah yang membuat aturan, tempat bangku
peserta Ebtanas selang seling antara siswa bodoh dengan
siswa pintar. Dengan tujuan yang pintar dapat membantu
temannya yang lemah. Dan apakah ini betul-betul cara
penolongan yang baik? Malah legalisasi dan dikelola pula oleh
sekolah. Apakah ini suatu fenomena peningkatan mutu
pendidikan atau malah sebaliknya?
Menolong siswa dengan cara yang naif ini juga banyak
dilakukan oleh guru-guru bidang studi yang kebetulan bidang
studi itu di-UAN’kan. Ya kalau panitia ujian itu kebetulan guru
bidang studi sendiri, atau ia datang saat ujian dengan dalih lain,
padahal ikut menjawab lembaran ujian dan menyebar kunci
jawaban kepada anak-anak yang keluar dengan alasan ingin ke
kamar kecil atau pura-pura ingin membuang ingus padahal
menyabet kunci ajaib yang telah ditebar guru. Hal ini dilakukan
agar bidang studi yang ia ajar tinggi dan ia tetap dianggap
pintar mengajar dan bukan sebagai guru yang “goblok”. Dan
masih banyak lagi kasus-kasus pelecehan penilaian ini dengan
alasan kalau diungkapkan dapat merusak nama baik guru, atau
nama baik sekolah. Kalau pelecehan ini terungkap dapat
meruntuhkan wibawa instansi kita. Demikian komentar-
komentar pembelaan yang sering diungkapkan agar berita tidak
meluas.
Memang sekarang pengobralan nilai telah terlalu lumrah untuk
dijumpai dalam lingkungan sekolah Kurva normal dalam
penilaian yang dipelajari di perguruan tinggi hanya menjadi
kenangan manis pendidikan dari sekolah rendah, dan
barangkali juga sampai ke perguruan tinggi.
Kalau ada murid atau orang tua murid yang berkunjung ke
rumah dan membawa oleh-oleh maka nilainya akan aman.
Kalau ada murid yang lincah, ramah dan manis maka nilai
enam atau tujuh itu sudah berada di tangan. Begitu pula bila
ujian telah usai maka rapor akan ditulis. Banyak yang datang
kepada wali kelas, apakah guru atau teman wali kelas,
memohon pengertian agar rapornya mesti bagus. Soalnya
siswa yang bersangkutan akan dibawa oleh pamannya untuk
bekerja di sebuah perusahaan. Pokoknya sekarang setiap usai
ujian caturwulan adalah mengemis untuk memperoleh nilai
dambaan. Sekarang suasana ujian tidaklah merupakan hal
yang sakral. Apakah belajar dengan penuh semangat ditemani
secangkir kopi pahit, pada malam-malam sekitar musim ujian.
Atau santai-santai saja toh hasilnya akan sama jika “jimat”
dibuat cukup rapi dan guru-guru pengawas cuek bebek saja
malah suka mengobrol atau terkantuk-kantuk selama
mengawas ujian.
Kita rasa kelonggaran dalam mengawasi ujian susah berurat
berakar di sekolah-sekolah. Tidak hanya pada sekolah yang
berlokasi di pedesaan, malah pada sekolah perkotaan yang
sering dicap dengan sekolah berkualitas sering suasananya
centang-prenang saat musim ujian. Kertas-kertas jimat
bertebaran dimana-mana. Bangku dan dinding kelas pun juga
bisa dijadikan jimat bila telah ditulis dengan isi catatan
pelajaran. Barangkali beginilah akibat ujian dari cara menghafal
dimana siswa merasa terpaksa memindahkan isi catatan ke
dalam kepala untuk diujikan selama ujian dan dilupakan setelah
itu. Persis ibarat lembu-lembu suci di India yang mengunyah-
ngunyah kertas yang ia temukan dan mengeluarkannya
kemudian dalam bentuk kotoran tanpa pernah menyimpannya
di dalam kepala.
Dalam manajemen kita mengenal bahwa penilaian atau
evaluasi amat penting untuk mendapatkan umpan balik. Dari
penilaian dapat diketahui bagaimana hasil usaha yang telah
dilakukan agar kita dapat melakukan follow up (kelanjutan).
Namun kalau penilaian kita lakukan secara acak-acakan
sebagai permainan anak kecil, hasil apa yang akan kita
harapkan. Dan ini memang adalah kenyataan bahwa penilaian
di sekolah-sekolah banyak dilakukan sebagai persyaratan saja.
Ada juga penilaian yang dilakukan oleh guru-guru dengan
pendekatan objektif tetapi kemudian dikatrol setinggi mungkin.
Malah kelupaan dalam mengatrol bisa jadi nilai siswa yang
lemah sama tinggi dengan siswa yang unggul. Malah karena
siswa bodoh tadi lincah dan aktif ia pun bisa menjadi pemuncak
di kelas dan siswa yang merasa berhak karena betul-betul
pintar terpaksa gigit jari dengan gerutu protes dalam hati.
Kita sangat yakin bahwa pengobralan nilai dapat meruntuhkan
wibawa dan kualitas dunia pendidikan. Kalau penilaian
diharapkan dapat untuk memperoleh umpan balik dalam
peningkatan mutu maka tentu ada baiknya kita tinjau kembali
semua kebijaksanaan. Termasuk semua yang membuat dan
ikut mempengaruhi keobjektifan atau kemurnian penilaian.
Dalam hal ini harapan kita patut kita sampaikan kepada
lembaga pemerintah, BUMN dan lembaga swasta agar tidak
mengumumkan ketentuan penerimaan tenaga pegawai NEM
atau ijazahnya mesti disyaratkan tujuh. Barangkali ada cara lain
dalam kriteria penerimaan dan dalam hal ini tentu banyak orang
yang tahu.
Atau mungkin ada baiknya dibuat suatu penelitian untuk
meluncurkan suatu persyaratan. Agar masyarakat kita yang
banyak mempunyai emosi yang tidak stabil tidak salah dalam
beramal. Begitu pula terhadap perangkat pendidikan
seluruhnya agar lebih dewasa dan objektif.

20. Percepatan Pembelajaran Untuk Mengejar Ketertinggalan


Sikap kurang sabar dan suka terburu-buru adalah bahagian
dari karakter anak muda secara umum. Termasuk karakter
pelajar dan remaja. Di jalan raya prilaku ini terlihat dalam
kebiasaan ngebut dan mengambil jalan pintas. Melihat prilaku
yang agresif dan suka terburu buru ini mungkin ada orang
nyelutuk dan berkata “wah anak muda sekarang, kalau di jalan
suka ngebut tetapi kalau belajar suka lambat”.
Pelajar, guru, orang tua dan semua orang sudah tahu bahwa
bahwa kualitas pendidikan kita dibandingkan dengan kualitas
pendidikan negara maju (Singapura, Jepang, Australia,
Amerika Serikat, Perancis, dan lain-lain) masih jauh tertinggal.
Maka agar bangsa ini bisa maju dan tidak tertinggal terus maka
sudah saatnya semua warga Indonesia untuk memacu kualitas
diri. Salah satu cara yang mungkin untuk diterapkan adalah
dengan melakukan program percepatan pembelajaran.
Percepatan pembelajaran adalah terjemahan dari accelerated
learning. Dave Meier (2002) menulis buku dengan judul “The
Accelerated Learning Handbook”. Ia mengatakan bahwa untuk
percepatan pembelajaran maka diperlukan keterlibatan total
dalam pembelajaran itu sendiri. Belajar haruslah berpusat pada
aktifitas dan bukan pada presentasi atau kehadiran semata.
Percepatan pembelajaran seharusnya tidak hanya konsumsi
untuk siswa SMA dengan program akselerasinya. Apalagi kalau
program akselerasi tersebut hanya berupa pemaksaan dari
orang tua, memenuhi ego orang tua agar merasa bangga
mempunyai anak yang dicap jenius dengan cara bergabung
dalam program akselerasi. Apalagi program akselerasi atau
percepatan untuk mempercerdas anak hanya untuk bidang
sains dan matematika, pada hal kelak masa depan mereka
yang pas belum tentu berada dalam koridor sains dan
matematika, mana tahu pada bidang, olah raga, seni atau
bahasa.
Suasana pembelajaran pada banyak sekolah, mulai dari tingkat
SD sampai ke tingkat SLTA masih banyak bersifat teacher
centered. Walaupun sudah banyak guru yang mengetahui
jenis-jenis metode pembelajaran, namun mereka tetap merasa
senang dengan metode konvensional atau metode beceramah,
mencatatkan, mendiktekan atau metode bank- menyuruh siswa
menghafal semua ucapan guru dan mengujinya pada hari
berikutnya. Pemandangan umum adalah bahwa siswa selalu
berkutat dengan kegiatan mencatat, menghafal dan
mengerjakan lusinan latihan sehingga jari pegal-pegal.
Sesungguhnya belajar bukanlah sejenis olah raga untuk
ditonton, tetapi menuntut peran semua pihak.
Orang awam berpendapat bahwa belajar adalah aktivitas verbal
dan kognitif. Namun yang lebih tepat untuk mengatakanya
adalah bahwa belajar paling baik dengan melibatkan unsur
emosional, seluruh tubuh, seluruh indera dan segenap pribadi.
Untuk memantapkan daya serap saat belajar maka suasana
belajar perlu bersuasana gembira. Ini bisa menjadi penentu
utama dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas belajar.
Kegembiraan dalam belajar bukan berarti menciptakan
suasana kelas yang ribut dan hiruk pikuk. Kegembiraan dalam
belajar berarti bangkitnya minat belajar anak. Maka guru dan
orang tua perlu menjaga rasa dan suasana gembira pada saat
anak belajar, karena rasa gembira bisa mempercepat proses
pembelajaran. Sebaliknya orang tua dan guru perlu
menghindari rasa negatif, kebiasaan marah-marah dan
mengomel pada anak, karena rasa negatif dapat
memperlambat dan menghentikan pembelajaran itu sendiri.
Sekali lagi bahwa guru dan orang tua perlu untuk menciptakan
lingkungan belajar yang bebas dari stress dan menjadikan
pembelajaran itu bersifat sosial.
Belajar yang baik adalah belajar dengan kontek atau belajar
dengan mengerjakan pekerjaan itu sendiri. Misal, belajar
berenang dengan berenang, belajar bernyanyi dengan
bernyanyi , bukan dengan menyuguhkan sekeranjang teori
melulu, kemudian belajar menjual dengan menjual, belajar
bahasa asing dengan menggunakan bahasa. Dengan belajar
dalam konteks maka akan diperoleh pengalaman kongkrit.
Pengalaman kongkrit atau pengalaman nyata dapat menjadi
guru terbaik- karena kita terjun langsung, mendapat umpan
balik dan terjun kembali.
Pengalaman tentang cara terbaik, atau tentang pengalaman
hidup, dapat diperoleh melalui pengalaman orang-orang
sukses- mendatangi orang sukses yang ada di seputar kita-
atau membaca biografi orang-orang sukses itu sendiri di
perpustakaan atau di internet. Cara belajar yang terbaik
bukanlah dengan mendengarkan ceramah atau memandang
layar komputer melulu. Namun belajar yang terbaik adalah
dengan mengalami dan melakukan pekerjaan itu sendiri.
Cara dan prilaku belajar anak laki dan perempuan juga perlu
untuk dipahami. Anak laki-laki belajar dalam cara yang berbeda
dengan karakter anak perempuan. Anak laki-laki atau pelajar
laki-laki mungkin akan lebih sukses belajar dengan cara
bersaing, menggunakan logika dan bersifat dominant-atau
menguasai. Sementara itu anak perempuan dan juga pelajar
perempuan merasa lebih cocok kalau belajar dengan cara kerja
sama, melibatkan perasaan dan prilaku mereka bersifat
mengasuh.
Colin Roze dan Malcolm (2003) juga berbicara tentang
percepatan pembelajaran. Ia mengatakan dalam bukunya
“Accelerated Learning For the 21st Century, Cara Belajar Cepat
abad 21” bahwa belajar harus dimulai sedini mungkin dan tidak
boleh berhenti sampai tua, atau sampai manusia meninggal
dunia. Demi pendidikan maka tidak relevan lagi kalau kita
bertanya pada siswa atau pada anak; “Ingin jadi apa kalau
kamu besar nanti ?”. Tetapi pertanyaan Yang lebih tepat
adalah, “Apa yang dapat kamu kerjakan kalau kamu sudah
besar nanti ?”.
Berarti untuk menjadi maju dan untuk mengajak anak menjadi
maju, maka tentu musti ada perubahan. Untuk menguasai
perubahan maka diperlukan “cara belajar cepat” atau
percepatan dalam pembelajaran. Percepatan pembelajaran
sangat berguna untuk menyerap dan memahami informasi
yang cepat. Percepatan pembelajaran , sekali lagi, tidak mutlak
hanya untuk konsumsi sekolah sekolah mewah. Sekolah apa
saja bisa menerapkan program percepatan pembelajaran.
Percepatan pembelajaran dapat terjadi dengan cara mengubah
ruang kelas secara total, gunakan permainan, rancang
berbagai aktivitas, masukan suasana emosi, ada unsur musik,
ada dekorasi dan proses belajar mengajar (PBM) yang bebas
dari tekanan demi tekanan.
Percepatan pembelajaran juga perlu dukungan orang tua di
rumah. Pada beberapa sekolah yang memiliki program
akselerasi- anak dipacu belajar dan melahap semua mata
pelajaran yang ada sekarang dan mata pelajaran untuk kelas
yang lebih tinggi. Anak anak yang masuk dalam program
akselerasi di sekolah, seharusnya juga memperoleh respond
dan dukungan atas program percepatan pembelajaran tersebut.
Namun orang tua dan kondisi rumah jarang yang memberi
dukungan. Seharusnya orang tua menyediakan kondisi rumah
yang kaya stimulasi dan bebas stress agar anak dapat tumbuh
mandiri (bukan berarti anak tidak perlu mengenal stress, namun
jangan memberi stress sepanjang hari). Dalam menerapkan
percepatan pembelajaran, para pendidik- guru dan juga orang
tua, dihimbau untuk melibatkan diri, memasukan unsur
emosional (suasana yang hangat), keceriaan dan kebahagiaan,
dan menggunakan latihan relaksasi.
Guru sebagai pendidik dan orang tua sebagai pengasuh harus
memahami bahwa tidak guna terlalu mudah menjadi bad
tempered, mudah marah-marah dan mencerca anak saat
mendampingi mereka dalam belajar, walau tujuannya untuk
membuat anak disiplin, “Hei… nanti ku jewer kuping mu, jangan
banyak canda belajar sajalah … !!”. Ya demikianlah, cukup
banyak orang tua dan guru terbiasa menggunakan
kekuasaanya untuk membentak, memukul, menjewer anak atau
anak didik. Pada hal belajar yang diikuti dengan cara-cara
kekerasan, cercaan, dan bad mood (suasana hati guru dan
orang tua yang jelek) akan membuat belajar itu sendiri menjadi
beban dan mendatangkan stress. It is not good, maka cobalah
belajar dan menemani anak belajar dengan cara yang baru ;
pemberian pujian, hadiah atau reward. Sudah saatnya ada
perubahan dalam mendorong anak belajar, sekali lagi,
mendampingi anak belajar dengan tepuk tangan dan
penghagaan.
Menyelenggarakan program percepatan pembelajaran, apakah
untuk konsumsi diri, untuk anak di rumah, atau program
akselerasi di sekolah, maka musti tahu dengan prinsip belajar
yang menyenangkan. Prinsip-prinsip belajar yang
menyenangkan, sekali lagi, adalah; ciptakan suasana rileks dan
keceriaan, ada humor, ada unsur musik, ada dekorasi, ada
reward atau upah dan menggunakan semua unsur indera yaitu
mata, mulut, telinga dan gerakan. Ini memang mirip dengan
pembelajaran di taman kanak-kanak (dalam arti
mempertahankan suasana keceriaan dan motivasi dari guru).
Bukan dengan suasana penuh tekanan, kekerasan, ancaman
yang berpotensi membuat anak takut, dan kehilangan minat
serta motivasi belajar.
Pertahankanlah prinsip pembelajaran yang menyenangkan.
Pembelajaran yang menyenangkan adalah dengan
memperhatikan bagaimana anak anak kecil di Taman Kanak-
Kanak belajar, bukan berarti kita harus kekanak-kanakan.
Mereka adalah pembelajar yang hebat karena mereka mereka
menggunakan seluruh unsur tubuh dan semua indera tubuh
dalam belajar. Tanpa kita sadari bahwa ternyata anak kecil
belajar dengan menggunakan unsur somatic- belajar dengan
berbuat/ bergerak, auditory- belajar dengan berbicara dan
mendengarkan, visual- belajar dengan mengamati dan melihat,
dan intelektual- yaitu belajar dengan memecahkan masalah
dan berdasarkan pengalaman.
Percepatan pembelajaran bisa jadi program yang penting untuk
memacu ketertinggalan kita. Program ini tidak mutlak
dikonsumsi oleh program sekolah dengan program akselerasi,
namun bisa diterapkan untuk keperluan pribadi atau percepatan
pembelajaran anggota keluarga di rumah. Belajarlah secara
total, dengan melibatkan unsur panca indera dan belajarlah
dengan kontek. Yang penting untuk diingat adalah bahwa
suasana percepatan pembelajaran harus bersikap ceria dan
terfokus pada siswa.

21. Pentingnya Berjiwa Besar Bagi Guru


Profesi guru dapat dikatakan sebagai profesi pelayanan di
bidang jasa, sama halnya dengan orang yang bekerja di bidang
kesehatan, atau di bidang jasa lainnya. Orang orang yang
bekerja dalam bidang jasa bekerja sesuai dengan moto yang
dianut oleh instansi mereka, sebagai contoh “Kami melayani
anda dengan senyum, kami melayani anda dengan sepenuh
hati, Kepuasan pelanggan adalah komitmen kami, dan lain-
lain”. Namu sebagian guru ada yang telah melupakan motto
mereka-tut wuri hadayani, sebagai konsekwensinya mereka
cenderung mengajar sesuka hati, atau sesuai dengan kata hati
saja. Barangkali karena mereka cuma banyak berhubungan
dengan manusia kecil- anak didik, yang mungkin tak perlu
pelayanan.
Orang-orang yang bekerja di bidang kesehatan mungkin juga
berfikir demikian pula. “Wah kan cuma melayani orang sakit,
pasien yang baik, tentu pasien yang patuh dan tidak banyak
ngomong dan mematuhi suruhan dan larangan rumah sakit”.
Namun entah mengapa secara pelan-pelan pasien menyerbu
rumah sakit di Melaka, di Negara jiran. Apa alasannya “kami
puas dengan pelayanan yang mereka berikan”.
Baru-baru ini ada teman baru pulang dari mengikuti program
magang guru di Australia (Program magang guru MIPA-guru
SBI- Propinsi Sumatra Barat) mengatakan bahwa kualitas otak
guru-guru kita tidak kalah dari kualitas guru-guru di Austraia.
Keunggulan atau kelebihan guru di sana adalah pelayannan
mereka pada anak didik, atau prefesionalitas dalam pelayanan
selama pembelajaran. .
Bila anak didik bertanya pada guru dalam suatu kelas, “Miss
Nancy, I don’t understand about this subject”. Maka guru
dengan serta merta segera bangkit, tersenyum dan buru buru
mendatangi bangku siswa sambil berucap “ What Can I do for
you”, kalau siswa mampu menyelesaikan sebuah problem,
langsung member appresiasi “Oh great, how could you do that”,
dan kalau siswa salah/ belum benar dalam mengerjakan soal,
masih berucap hal-hal positif “ That’s oke, I am sure you can do
it”.
Hal yang kontra, tanpa merendahkan kualitas guru kita sendiri,
kalau ada seorang siswa yang bertanya dalam PMB maka
dengan bergaya seorang Boss siswa akan dipanggil ke depan/
ke meja guru “Yang tidak mengerti mari maju ke depan”. Atau
komentar lain, “Ini saja kamu tidak mengerti”. Kemudian kalau
siswa melakukan kesalahan dalam menjawab soal maka kita/
guru akan berkomentar, “Wah kalau begini cara kamu lebih
baik kamu turun kelas atau ikut les privat saja !”. Alhasil banyak
siswa cenderung memilih bungkem dari pada di marahi atau
ditertawakan guru.
Apakah ekspresi di atas terlalu mengada-ada atau tidak, namun
fenomena tersebut dapat kita jumpai dengan mudah pada
berbagai sekolah. Kalau begitu kenyataannya apa yang kurang
bagi kita sebagai guru ? Tentu saja kita kurang berjiwa besar,
kurang menyadari bahwa kita digaji atau dibayar oleh negara
untuk mendidik, apalagi bagi guru yang sudah menerima
imbalan sertifikasi maka sudah sewajarnya kita menunjukan
pelayanan prima- excellent service- dalam PBM, dan segera
menjadi guru yang memiliki jiwa besar dan berfikir positif.
Berjiwa besar dan berfikiran positif ? David J Schwartz (1996)
menulis buku dengan judul “The Magic of thinking big”, yaitu
tentang berfikir dan berjiwa besar. Idenya sangat bagus kita
adopsi, sebagai guru, agar kita bisa meningkatakan
pengabdian dan pelayanan pada anak didik. s
Kata “berfikir positif” sering diikuti oleh kata ‘berjiwa besar”.
Dalam hidup banyak orang yang berbicara tentang kata atau
frase tersebut. Ini menandakan kesadaran untuk menjadi
manusia yang baik sudah menjadi dambaan. Orang yang
memiliki pikiran positif dan sekaligus berjiwa besar sangat
dihargai dan dianggap memiliki derajat yang tinggi. Menjadi
orang yang berfikiran positif dan berjiwa besar dapat digapai
dengan ilmu dan mengamalkan agama,
Dalam Al-Quran (58:11) dijelaskan bahwa Allah Swt
meninggikan derajat orang yang beriman, yaitu orang yang
diberi ilmu. Sekali lagi, bahwa untuk menjadi orang yang
berfikiran positif, sangat membutuhakan ilmu pengetahuan,
pembiasaan, atau latihan dan kesabaran. Berfikir positif sangat
bermanfaat bagi guru sebagai pendidik. Salah satu manfaat
yang kita rasakan adalah menjadi guru yang berhasil dalam
mendidik.
Keberhasilan dalam hidup, apakah sebagai pebisnis, sebagai
guru, wiraswasta, dan lain-lain, tidak bergantung pada
besarnya otak yang kita miliki atau kecerdasan kita saat kuliah
dulu, tetapi ditentukan oleh cara berfikir positif- berarti
kemampuan affektif. Maka berarti bersekolah sudah tidak tepat
lagi kalau hanya untuk mencerdaskan otak, namun
membiarkan sikap atau kepribadian menjadi kerdil.
Harus diakui bahwa kita dan semua guru adalah produk dari
cara berfikir orang di lingkungan kita- cara mereka merespon
dan memberi kita stimulus sejak kecil. Coba ingat dan
perhatikan cara berfikir orang tua kita, paman kita, tetangga,
atau kenalan kita atau kita sendiri: “kalau badan saya cukup
sehat cuma kantong saja yang sakit. Tetangga saya kerjanya
cuma goyang-goyang kaki, tiba tiba kok jadi kaya
mendadak…,kepala sekolah saya kerjanya mengurus proyek
melulu….., Saya ingin maju tapi tidak punya waktu…!”
Demikian beberapa komentar, yang terwujud dari cara
berbicara dan cara berfikir kita dalam percakapan pribadi. Ini
pertanda bahwa kebanyakan cara berfikir kita bisa jadi juga
kerdil.
Anak-anak kita dan siswa-siswi kita menjadi orang baik atau
menjadi orang buruk juga ditentukan dari cara berfikir kita.
“Menurut ku, kamu adalah anak yang baik. Kamu disenangi
karena sungguh jujur atau saya tidak sudi lagi menajak kamu
belajar di sini, …susah saya lagi untuk percaya padamu”. Kata
kata yang kita ucapkan segera kita lupakan namun selalu
tertancap dalam sanubari anak, adik dan kenalan kita dan
sekaligus akan mempengaruhi pribadi mereka.
Eksistensi (keberadaan) diri kita memang ditentukan dari cara
kita berfikir. Apakah fikiran kita menetukan diri kita sebagai guru
yang berharga atau tidak. Kalau fikiran kita mengungkapkan diri
kita adalah guru yang berharga maka mari kita wujudkan ke
dalam penampilan , cara berpakaian, cara berjalan, cara
tersenyum dan cara berbicara, Maka kemudian beritahu orang
tentang apa yang bisa kita perbuat. “Apa yang bisa saya
kerjakan buat anda ?” dan kita tidak akan berucap lagi “Maaf
saya tidak sanggup”. Ada beberapa hal yang perlu kita
perhatikan kalau kita sungguh-sungguh ingin menjadi guru
berhati lapang (berfikiran positif) tanpa pernah membiarkan jiwa
tumbuh kerdil,yaitu: menjaga kualitas human relation,
mempelajari tentang bagaimana menjadi guru berhati lapang
atau berjiwa besar.
Never let personality grow small
Never let personality grow small atau jangan biarkan jiwa
tumbuh kerdil. Ada hal-hal yang perlu kita hindari karena
berpotensi membuat jiwa tumbuh kerdil seperti kebisaaan suka
berdalih, memompakan pikiran negatif pada banyak orang, anti
kerja keras dan malas. Hal-hal sepele ini bisa bercokol pada diri
kita dan kadang kala kita pelihara sepanjang waktu.
Tidak bagus jadi pendidik yang gemar berdalih atau mencari-
cari alasan. Namun kenyataannya kita gemar melontarkan
ekspresi berdalih. Ketika kita diberi amant untuk tampil kita
berdalih, “Wah pak, janganlah dulu, saya belum siap…., wah
pekerjaan itu terlalu mudah buat saya, atau apakah Bapak tega
melihat saya berlumuran Lumpur…!”
Selanjutnya cegahlah pertumbuhan jiwa yang kerdil dengan
memilki karakter suka belajar/ bekerja keras dan tekun dalam
kehidupan ini. Untuk menjadi sukses, misal menjadi guru inti,
menjadi kepala sekolah, menjadi wydiaswara, menjadi penulis
sukses- atau sukses pada bidang lain, maka diperlukan
ketekunan dan kerja keras. Ki Hajar Dewantoro, telah member
model buat kita. Ia sangat tekun dan suka kerja keras sehingga
motonya “ing madya mangun karso, ing ngarso sing tulodo, tut
wuri handayani’ dikenang sepajang zaman. Sayang banyak
guru kurang paham dengan moto ini lagi.
Human relation
Cara kita berfikir, apakah cendrung berfikir negatif atau malah
berfikiran positif, terlihat dalam human relation- hubungan kita
dengan manusia lain seperti dengan teman, tetangga, family.
Agar guru tidak terjebak dalam gaya berfikir kerdil maka tidak
pantas kalau setiap kali berjumpa dengan seseorang, kita
terjebak cuma berbicara tentang kesehatan kita sendiri. “saya
kurang sehat kemaren tidak bisa mengajar , sudah tiga bulan
diserang asam urat… sudah pergi ke puskesmas”.
Kemungkinan percakapan tentang kesehatan sendiri akan
membuat orang lain bosan, sebab dapat membuat kita menjadi
rewel dan terkesan egosentris.
Masih seputar human relation bahwa kualitas diri kita ada
pengaruhnya dari hubungan kita dengan orang lain. Kalau
teman kita (walau sebagai guru) rata-rata misalnya pencandu
“penyabung ayam atau suka taruhan atas pertandingan sepak
bola” pasti kita juga dinilai sebagai guru dengan pribadi negatif-
guru yang gemar berjudi. Memang orang dinilai berdasarkan
siapa teman-teman mereka. The bird with the same colour fly
together- burung yang sama bulunya terbang bersama.
Hubungan seseorang menentukan keberhasilan mereka. Guru
bergantung pada keberadaan siswa, Penjual bergantung pada
pembeli, pedagang bergantung pada pembelinya, dan lain-lain.
Profesi yang berhubungan dengan pelayanan lebih baik
berfokus pada pemberian layanan yang prima- excellent
service. Bila ini dilakukan maka pamor (nama baik), termasuk
uang, akan datang dengan sendirinya.
Sebagai guru maka sangat bermanfaat bila kita memiliki hati
yang hangat. Bagaimana suasanya bila seseorang yang berhati
hangat datang menghampiri kita dan mengatakan “hallo”,
“assalamualaikum” atau ungkapan greeting lainnya dengan
mudah. Ini berarti bahwa ia sedang mengembangkan dan
meningkatkan kualitas persahabatan dengan kita. Cara lain
yang bisa menghangatkan persahabatan adalah dengan
memberi perlakuan VIP (very important person) atau orang
kelas satu pada orang lain, termasuk pada anak didik sehingga
ini membuat mereka akan menyenangi bidang studi yang kita
ajarkan.
Namun jika anak didik melakukan kesalahan, mengapa kita
musti dengan enteng- menggunakan kekuasaan, membentak
dan marah-marah pada mereka “Kamu keterlaluan pada
saya…. tidak bisa menghormati saya sebagai guru”. Bukankah
lebih santun kalau guru member nasehat dengan empat mata.
Sebaliknya bila mereka memperlihatkan kerja keras dan hasil
belajar yang bagus maka jangan lupa untuk memuji pekerjaan
nya. Dalam berkomunikasi guru harus menghindari sikap
sarkasme (sikap kasar), sikap sinis dan sikap merendahkan
orang lain.
Fikiran positif berasal dari kualitas fikiran
Otak adalah pabrik fikiran yang sibuk menghasilkan produk
fikiran setiap waktu. lingkungan dan orang-orang sekeliling kita
adalah ibarat laboratorium humaniora bagi diri kita. Kita sendiri
adalah ahlinya untuk mengamati labor tadi. Kita dapat
mengamati mengapa ada orang yang bisa punya banyak teman
atau punya sedikit teman. Mengapa ada orang bisa berhasil
atau gagal, atau biasa-biasa saja. Maka pilihlah dua orang yang
berhasil dan dua orang yang gagal, cobalah mengobservasi
dan menganalisanya. Maka akan kita temui dua contoh orang
yang berfikiran postif dan berfikiran negatif. Mengembangkan
pribadi yang pro berfikir positif tentu perlu strategi. Untuk itu
ada strategi yang perlu kita lakukan dan hal-hal yang perlu kita
hindari.
Ada guru yang memandang profesi guru rendah, “Wah apalah
artinya kami cuma guru SD…!” Seharusnya sekalipun kita guru
TK, SD, SMP atau SLTA harus tetap memandang diri dan
profesi sebagai hal yang berharga- maka kita adalah manusia
penting. Jika kita berbicara dengan orang lain, kita rasakan
bahwa itu adalah percakapan dua orang penting. Guru yang
berpribadi minder mungkin berkata “wah aku adalah orang
yang tidak berhasil”. Seharusnya kita harus merasa diri kita
penting dan begitu pula semua orang. “Renungkanlah bahwa
anda, pasangan hidup anda, teman anda, siswa anda ingin
pula dianggap penting. Semua orang mengidamkan prestise,
ingin dihormati dan diakui”.
Guru yang merasa dirinya tidak penting berarti sedang menuju
kehidupan yang biasa-biasa saja, “Wah buat aku arus belajar
keras, bidang studi yang aku ajar bukan bidang studi untuk UN
(ujian nasinal). Sehausnya kita menanamkan dalam fikiran
bahwa kita dan bidang studi/ profesi kita adalah juga penting.
Hal lain yang perlu kita hindari, kalau di sekolah ada guru yang
santai mencemooh guru-guru yang smart dan bersemangat,
Seolah olah berkesimpulan bahwa tidak ada gunanya untuk jadi
guru yang tekun dan rajin, “Wah sok rajin, dunia ini tidak akan
selesai oleh usaha kita sendiri”. Maka abaikan saja komentar
guru atau teman yang berfikiran negatif tersebut.
Menjadi guru berhati lapang- berjiwa besar tidak boleh
memonopoli percakapan. Namun coba pula menjadi
pendengar, dan dapatkan teman untuk banyak belajar. Menjadi
guru yang berhasil berarti harus tidak memiliki kebisaaan “suka
menunda waktu, banyak nonton TV dan kebisaaan bergossip”.
Namun rencanakan kerja tiap hari- pada malam harinya.
Biasakan suka memberi appresiasi pada orang-termasuk pada
anak didik,dan memberi komentar serta respon positif. Hindari
memperlakukan manusia (anak didik) sebagai mesin, untuk
diperintah dan diotak-atik. Sangat tepat memperlakuka anak
didik sebagai manusia- yang juga perlu dihormati, dibantu dann
dipuji secara pribadi.
Tindakan lain untuk menjadi guru yang berjiwa besar.
Bagaimana tindakan lain yang perlu kita terapkan untuk
menjadi guru yang dianggap bisa berjiwa besar ? Setiap guru
harus menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri. Tidak seorang
pun yang memerintahkan kita untuk mengembangkan kualitas
pribadi. Apakah kita mau berkembang atau tidak, tertinggal
atau bergerak maju. Ini ditentukan oleh ketekunan pribadi kita
dan membutuhkan waktu, kerja keras dan pengorbanan yang
seius. Guru perlu menajamkan fikiran dengan membaca
majalah professional pada bidang studi yang kita geluti, dan
membaca buku lain seperti buku filsafat, komunikasi, agama,
pedagogi untuk meningkatkan kualitas profesi dan pribadi kita
sendiri.
Untuk itu mari kita putuskanlah untuk membeli satu buku yang
mendorong semangat tiap bulan dan berlangganan majalah
dan jurnal untuk menajamkan gagasan. Nanti akan kita rasakan
betapa indahnya menjadi guru yang berjiwa besar. Semoga.

22. Agar Sastra Indonesia Dikenal Dunia


Bila kita pergi ke kota-kota besar di Indonesia, Medan, Jakarta,
Bandung, Surabaya, Makasar, dan lain-lain, dan berintegrasi
dengan penduduk di sana maka akan ditemukan bahwa paling
kurang ada empat etnis yang warganya hidup melalui
semangat wirausaha. Mereka ikut menggerakan nadi
perekonomian kota-kota tersebut. Etnis ini adalah Batak, Jawa,
Minang dan Cina, etnis-etnis lain tentu juga memiliki cirri khas
positif tersendiri. Tekad mula-mula berwirausaha adalah untuk
menghidupi diri dan keuarga. Mereka menanamkan semangat
wirausaha- suka bekerja keras, menghargai waktu, disipin, jujur
dan semangat sebagai perintis/pioneer, dari generasi ke
generasi agar mampu berusaha untuk memayungi diri dan
keluarga untuk selamat dari terik panas kehidupan dan hujan
problema. Semangat wirausaha ternyata juga berdampak
dalam memajukan negara ini, membuka lapangan kerja dan
mengatasi pengangguran.
Etnis Minang sejak dahulu terkenal sebagai etnis yang suka
merantau, melakukan migrasi untuk meningkatkan kualitas
hidup. Dengan semangat pioneer, kerja keras dan disiplin
mereka bisa tumbuh sukses melalui wirausaha- mereka
menjadi pedagang, membuka perusahaan, industri, dan bisnis
lain. Di mana-mana di Indonesia kita dapat menjumpai orang-
orang yang mengaku berasal dari Padang (Minang atau
Sumatera Barat) dan sukses di sana melalui wirausaha
mereka.
Namun tidak semua orang Minang yang berwirausaha melaui
berdagang atau menjadi saudagar. Sebagian ada yang
berkembang melalui potensi. Zoelverdi (1995) menulis buku
yang berjudul “Siapa Mengapa Sejumlah Orang Minang”,
memaparkan sejumlah orang Minang yang tumbuh dan
berkembang dalam berwirausaha melaui potensi menulis.
Dengan energi menulis yang besar mereka mengembangkan
diri menjadi wartawan, budayawan, sutradara, pengusaha
penerbitan majalah, sosiolog, psikolog dan lain-lain. Mereka
adalah seperti A.A Navis, Karni Ilyas, Montinggo Boesye,
Kamardi Rais, Ani Idrus, Asrul Sani, Arizal, Lukman Umar,
Mochtar Naim, Zakiah Daradjat, dan tentu masih ada sejumlah
tokoh-tokoh sukses lainnya.
A.A Navis adalah penulis yang ngetop dengan novel nya yang
berjudul “Robohnya Surau Kami”. Walau ia berkarya dari kota
kecil di pertengahan pulau Sumatra, namun gema karyanya
luas sekali melintasi nusantara. Tulisannya banyak dalam
bentuk cerpen (cerita pendek), dan tema cerpennya adalah
seputar celoteh atau gaya ngobrol orang-orang di lapau
(warung kopi di daerah Minang). Strateginya dalam
mengembangkan fiksinya adalah melalui sudut pandang “pro
dan kontra” dan ditambah dengan nilai-nilai Islam. Karya
tulisnya menjadi hidup, menjadi fenomena dan digemari oleh
banyak orang, malah tulisannya telah diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris, Jepang dan Jerman.
Saat Navis muda, karis sebagai penulis dipandang rendah-
underestimate,oleh sebahagian masyarakat. Karena sejak dulu
orang ada yang selalu memandang hidup ini dari jumlah uang
atau matre, namun Navis selalu berbuat- menulis cerpen demi
cerpen dan menulis apa saja yang terlintas dalam fikirannya.
Bila selesai menulis maka dikirim ke penerbit, Koran dan
majalah. Tulisan atau cerpennya juga sering ditolak namun ia
tidak patah semangat dan selalu menulis. Kupasan tulisannya
adalah tentang masalah kemanusiaan yaitu penderitaan,
kegetiran hidup, kebahagiaan dan harapan. Ternyata tiap orang
harus punya obsesi dan obsesi Navis adalah “pantang kalah” –
tidak suka menyerah atas kesulitan dan penderitaan hidup.
Karni Iyas adalah kolumnis dan wartawan yang tulisannya
sangat bekualitas (dapat dibaca pada majalah Tempo). Ia sejak
kecil sangat suka membaca dan berdiskusi. Waktu di Sekolah
Dasar ayahnya menjadi teman berdebatnya tentang poitik.
Waktu ia sekolah di SMP ia pun sangat aktif menulis, kalau
selesai ia coba untuk mengirimnya ke koran-koran, “kalau terbit
ya syukur dan kalau tidak ya tidak patah hati dan terus
menulis”. Karni menjadikan menulis sebagai hobbi dan untuk
kepuasan batin.
Seperti orang kebanyakan, ia juga merantau ke Jakarta, malah
dengan uang pas- pasan. Untuk mengatasi kesuitan hidup
bukan dengan cara mengeluh dan minta belas kasihan, tetapi
dengan kerja serabutan- “tidak perlu gengsi-gengsian yang
penting halal”. Ia kemudian meniti karir sebagai penulis dan
wartawan yang terkemuka di ibu kota.
Montinggo Boesye adalah penulis yang sangat produktif.
Karena ia bisa menyelesaikan 200 novel, 200 cerpen dan 10
drama. Namanya terpahat di taman kota Seoul, Korea Selatan,
masuk di antara 1.000 penyair dunia. Ternyata masa kecil
penulis tidak musti bertindak sebagai anak yang manis, Boesye
malah sebagai anak laki-laki yang nakal dan agresif. Waktu
kecil di zaman penjajahan Jepang, Boesye punya sepeda roda
kecil. Iseng-iseng diduduki oleh serdadu Jepang dan patah,
tentu saja si kecil Boesye menangis. Namun diganti dengan
sebuah mesin tik. Boesye sangat senang dan di situlah tumbuh
minant awalnya untuk menulis. Sunguh sangat hebat pada
masa itu ada anak kecil yang belajar menulis memakai mesin
ketik.
Ide-ide yang ia tulis terbentuk akibat kebiasaan nya yang suka
melahap buku (membaca banyak buku). Bakat mengarangnya
terbentuk/termotivasi setelah membaca buku cerita
pertualangan, “Ah kalau menulis kayak begini aku juga bisa”. Di
akhir masa anak-anaknya Boesye menjadi yatim piatu (ayah
dan ibu nya berpulang ke Rahmatullah) namun ia masih
beruntung karena di pelihara dan dibesarkan oleh pamannya
yang penyayang. Pengalaman bertualang tinggal bersama
paman sempat berkembang karena pamannya punya mobil
jeep dan ia sering dibawa pergi. Mobil Jeep pada waktu itu
dipandang sangat lux dan pengalamannya yang lain, untuk
menumbuhkan jiwa wirausaha, adalah membantu paman
dalam berdagang koran.
Kamardi Rais, potensinya sebagai penulis mengantarkannya
sebagai wartawan. Waktu kecil ia suka membaca kisah fiksi-
kisah pertualangan. Kemudian ia termotivasi dan meniru- niru
menulis kisah petualangan. Bakat menulisnya berkembang
secara otodidak. Ketika duduk di bangku SMA ia menulis
pengalaman pribadi dan juga menulis tentang problem tetangga
yang sering bertengkar.
Ternyata ayah Kamardi juga suka membaca dan mengkoleksi
majalah Islam, Pedoman Masyarakat. Di sana ia mengenal
nama-nama dan tulisan tokoh-tokoh besar seperti HAMKA, Adi
Negoro, Natsir, Yunan Nasution. Seorang calon penulis juga
perlu punya figure untuk menumbuh-kembangkan potensi
menulisnya.
Ani Idrus adalah perempuan yang berkarir sebagai wartawan.
Ayahnya Cuma seorang pegawai kecil. Orangtuanya tidak
membatasi pergaulannya waktu kecil, temannya banyak pria
dan juga wanita. Ia termasuk anak yang lasak- ingin tahu
banyak dan serba suka melihat dan memegang hal-hal yang
dianggap baru. Jadinya ia punya banyak pengalaman.
Ia beruntung tingga di daerah yang berkualitas, di kota Medan,
dan ia juga bersekolah di tempat yang berkualitas. Di sana ia
memperoleh banyak budaya positif- berani, disiplin, ingin tahu,
bekerja keras, belajar keras dan gemar membaca. Ia pun
diizinkan mengikuti kursus Bahasa Asing, kursus menjahit. Saat
sekloah di MULO (semacam SMA sekarang) ia juga aktif
berorganisasi dan mengikuti kegiatan pramuka. Ia
mengembangkan hobi menulis dan mengirimnya ke koran-
koran, ia juga menyempatkan waktu untuk mengunjungi tokoh-
tokoh terkemuka saat itu. Pengalaman berorganisasi dan
menulis membuat ia terdorong untuk menerbitkan Koran
“Waspada” di Medan.
Asrul Sani beruntung memiliki dua kemampuan yang bagus,
sebagai penulis dan good speaker. Bakat sastranya (menulis)
berkembang lewat otodidak yaitu membaca buku-buku
abangnya. Ia mulai mengenal puisi dan sastra Eropa. Ia belajar
Bahasa Jerman juga secara otodidak dan menterjemahkan
sastra Eropa. Setelah dewasa ia berada di Jakarta dan mencari
teman untuk mempertajam pola berfikir, ia berjumpa dengan
Usmar Ismail dan mendirikan Akademi Teater. Ia kemudian
dikenal sebagai penulis skenario film dan itu semua diawali
oleh kegemaran membaca dan menulis.
Arizal, di usia anak-anak sudah mahir memainkan alat musik.
Tentu saja karena orang tuanya memberi nya perhatian dan
fasilitas alat musik. Pernah pada masa itu ia tampil di pasar
malam memainkan harmonika dan memukau penonton. Tentu
saja ia memperoleh applause, sebuah penghargaan yang akan
mengangkat potensi dan harga dirinya berkembang.
Pada masa remaja ia punya bakat yang lain- pintar main sulap,
musik, dan melukis. Ia bergabung dengan band sekolah dan
band di masyarakat. Tiap akhir pekan, malam minggu, ia jadi
musisi hiburan untuk pesta perkawinan. Karena pintar melukis
ia juga menulis komik dan juga menulis cerpen. Ia sering
mengirim komik dan cerpen ke majalah. Kemampuan menulis
dan melukis mengantarkan karirnya ke dunia film. Filmnya
dipengaruhi oleh komik yaitu tentang hal- hal yang lucu, karena
itu ia mampu melahirkan film lucu pula seperi film yang
dibintangi oeh Warkop DKI- Warung Kopi Dono, Kasino dan
Indro. Suksesnya sebagai sutradara film karena ia memiliki
kepintaran berganda dan ditambah dengan penglamannya
belajar di Holywood Amerika dan pernah bermain fim sebagai
figuran pembantu di sana.
Lukman Umar, ayahnya hanyalah petani kecil dan hidup serba
kekurangan oleh karena itu ia terlibat membantu orang tua
bekerja di sawah dan landang. Secara tidak langsung
pengalaman ini memberi nya life skil atau kecakapan hidup.
Hidup serba kekurangan bukanlah menjadi alasan untuk tidak
bersekolah. Lukman juga punya prinsip hidup yaitu “pantang
menyerah dan tidak gengsi-gensian bekerja” asal itu halal.
Maka sambil kuliah di IAIN Jogjakarta ia juga jualan Koran. Ia
juga aktif di koperasi mahasiswa di kampus. Kemudian ia
merantau lagi ke Jakarata. Merantau ke Jogja untuk cari ilmu
dan pengalaman dan merantau ke Jakarta untuk cari hidup. Di
sini ini tertarik dengan dunia penerbitan. Ia berjuang hidup dan
kemudian menjadi redaktur majalah Varia. Ia terjun langsung
mengantarkan majalah kea agen-agen. Kemudian ia
menerbitkan sejumlah majalah seperti majalah Kartini, Putri
Indonesia, Sarinah, Hasta Karya, Asri, Amanah, Panasea, dan
Forum Keadilan.
Mochtar Naim, sebagai sosiolog, ia juga seorang penulis.
Orang tuanya adalah pedagang harian dan ia didik taat
beragama. Waktu kecil ia gemar membaca, ia punya tokoh-
tokoh idola seperti Hatta, Soekarno dan Assa’at. Waktu kecil
juga ibunya meninggal dan ayahnya berjalan, maka
pendidikannya dibantu secara bergotong royong (kolaborasi)
oleh paman-pamannya. Ternyata mahasiswa yang bakalan
sukses, sebagaimana halnya Mochtar ketika kuliah di Jogja,
harus aktif berorganisasi. Dan ia mendirikan Islam Study Club
dan mengundang tokoh-tokoh terkenal untuk bertukar fikiran.
Inilah yang membuatnya menjadi lebih intelektual dengan
pendidikan dan pengalaman kerja di Amerika dan Singapura
membuatnya sebagai tokoh Sosiolog.
Zakiah daraDjat, adalah anak sulung dari sepuluh bersaudara
dan ia sebagai tempat curhat (curah perhatian atau sharing
ideas) bagi adik-adiknya. Kelas empat SD ia terlatih berbicara
di muka umum- sebagai tugas yang diberikan oleh guru. Ia juga
sering mengkuti kegiatan muhadharah, berpidato/ceramah, di
mesjid. Ia rajin bekerja dan belajar. Pemerintah memberinya
beasiswa ke Mesir dan ia langsung mengambil program
Doktoral di sana seteah delapan tahun belajar ia pulang ke
Indonesia. Ia aktif member ceramah dan konsultasi. Tentu saja
ia memerlukan mengembangkan kemampuan menulis.
Uraian-uraian tentang figure di atas memperlihatkan bahwa
mereka juga orang-orang biasa namun memiliki karakter dan
budaya yang ekstra atau berebih dari orang-orang kebanyakan.
Ada yang memiliki latar belakang orangtua terdidik atau biasa-
biasa saja. Namun mereka berasal dari keluarga besar
sehingga memperoleh bagian kerja- untuk melatih tanggung
jawab. Orang tua zaman sekarang juga perlu memberi anak
tanggung jawab- kerja anak tidak hanya belajar dan belajar.
Mereka harus bisa memasak, cuci piring, mengasuh adik/
keponakan, kalau boeh juga bisa mencangkul, gembala hewan-
bagi yang tingga di daerah pedesaan.
Melahirkan generasi yang jago menulis, mereka harus terbiasa
gemar membaca sejak kecil, kemudian berdiskusi, menulis
cerpen dan atau prosa lain. Mereka perlu punya pengalaman
hidup dan perlu punya tokoh idola dalam mencari jati diri. Untuk
menjadi orang berkuaitas, faktor tempat tinggal/ rumah, sekolah
dan lingkungan yang berkualitas sangat menentukan.
Lingkungan berkualitas akan membuat mereka memiliki pribadi
yang positif- berani, disiplin, ingin tahu, bekerja keras, belajar
keras dan gemar membaca.
Namun zaman bergulir dan perobahan selalu terjadi. Dahulu
banyak orang terbiasa saling berkiriman surat satu sama lain.
Bagi pelajar secara tidak langsung kebiasaan berkirim surat
atau korespondensi bias menyuburkan bakat sastranya,
menulis puisi dan prosa. Kini zaman berobah, orang amat
jarang berkirim surat teknologi seluler membuat orang senang
menulis SMS, pesan singkat dan kosakata serta tatasan diketik
amburadul. Walau ada internet pengganti sarana berkirim surat
elektronik atau e-mai, namun pelajar lebih suka melakukan
chatting, bertukar gambar lewat friendster, mendownoad lagu,
main game, baca komik, nonton pada tube (perlu diingatkan
agar tidak salah tonton- say no to porn situs).
Andai bakat dan potensi menulis pelajar tidak digubris dalam
zaman yang budaya menulis yang sudah kering ini maka dapat
dipastikan Indonesia akan lenyap dari peta sastra dunia. Tentu
orang tidak mengenal penulis dan pendidikan di negara ini.
Sebelum hal ini terlanjur terjadi maka tugas kita para pendidik,
guru dan orang tua, dan terutama para pelajar itu sendiri untuk
kembali mengaktifkan diri dalam mengembangkan minat
menulis mereka (generasi muda). Diharapkan mereka bias
memiiki kemampuan menulis yang hebat, dan ini kelak akan
mampu membuat mereka menjadi orang yang sukses, suka
berwirausaha dan mengembangkan diri untuk maju.

23. Ke Internet Untuk Tujuan Pendidikan atau Demoralized


Zaman terus bergulir. Ahli sejarah memilah-milah zaman sesuai
dengan fenomena alam dan sosial pada masa itu. Ada zaman
batu, zaman perunggu, zaman pra sejarah dan lain-lain. Di
tahun 1970-an, saat appolo baru saja diluncurkan ke luar
angkasa oleh Amerika Serikat, maka orang menyebut tahun-
tahun tersebut dengan zaman Apollo. Zaman appolo ternyata
punya ciri khas pada gaya hidup anak muda (pada masa itu)
seperti ngetrend memakai celana panjang dengan dasar kain
/cut-brai/ dan celana gunting Spanyol dengan bagian bawah
sangat longgar (kalau dibawa berjalan bias menyapu lantai),
memakai kacamata dengan bingkai lebar (kacamata pantat
botol) serta memakai rambut keriting- kribo, seperti sarang
burung tampuo (tempua).
Zaman appolo pun berakhir, maka datang tahun 1980-an. Para
orator dan orang banyak ngetrend pula menggunakan istilah
zaman computer, Kalau orang yang pintar maka disebut
berotak computer “wah dia cerdas sekali, punya otak
computer”. Adalagi yang memberi refleksinya dengan zaman
mutakhir, terserah kepada fenomena dan cara orang
memandang. Dan sekarang, sejak tahun 2000-an banyak pula
orang yang menyebutnya dengan zaman ICT (Information
Communication Technology), zaman teknologi informasi dan
komunikasi, atau zaman internet. Orang –orang yang menjadi
actor dalam zaman internet ini tentu saja mereka yang familiar,
tidak gagap teknologi, dengan internet. Mereka adalah anak-
anak sekolah yang duduk di bangku sekolah- mungkin SD,
SMP, SMA, SMK, MAN dan mahasiswa di Perguruan Tinggi.
Demikian pula orang-orang yang berasal dari profesi lain.
Anak-anak sekolah pada dua puluh atau tiga puluh tahun yang
lalu bila lonceng sekolah untuk pulang berdentang maka
mereka buru-buru ingin pulang. Segera menemui orang tua dan
menikmati makan siang serta menyantap singkong goreng.
Sementara pelajar yang berusia remaja saat itu bila pulang
sekolah, mungkin ada yang singgah di bioskop untuk mencek
apa film dan siapa bintang film pada minggu itu.
Namun para pelajar di zaman internet sekarang tidak demikian
, bila jam sekolah usai mereka buru-buru pergi ke warnet.
Mereka tidak segera pulang walau orang tua selalu menunggu.
Sebagian menelpon atau mengirim SMS (Short Message
Service) “Mama, maaf ya, aku pulang telat karena pergi ke
warnet untuk mencari tugas”, dan tentu saja orang tua memberi
restu.. Namun sebagian masih ragu “mencari tugas sekolah kok
ke internet, mengapa tidak ke perpustakaan ?” Minimnya
koleksi bacaan, pustaka yang jarang di buka dan tidak
sempurnanya manajemen perpustakaan telah membuat minat
baca mereka yang sudah rendah menjadi makin rendah.
Sementara internet sangat membantu, cukup pengguna
mengetik kata kunci pada mesin google, maka akan muncul
belasan atau ratusan jawaban atas tugas yang dicari. Tetapi
tunggu dulu, bahwa tidak semua tulisan dan artikel yang
diperoleh lewat internet dapat dipertanggungjawabkan dan
berkualitas. Karena kadangkala anak kecil yang sudah
mengerti cara membuat blogger juga dapat memposkan
sebuah tulisan untuk tujuan iseng-iseng.
Memang sekarang internet sudah tidak asing lagi bagi banyak
orang. Dimana-mana terutama di daerah perkotaan sudah
banyak bermunculan usaha internet dengan nama cafenet,
warnet (warung internet), cybernet, atau nama lain. Semua
tempat ini adalah sarana untuk memperoleh informasi dan
komunikasi yang hampir tidak mungkin lagi bisa dipisahkan dari
kebutuhan pelajar yang telah mengenalnya. Bagi mereka
mengunjungi internet lebih menarik dan menyenangkan
daripada harus mencari buku-buku di perpustakaan sekolah
atau perpustakaan umum karena, sekali lagi, apa yang dicari di
sana belum tentu ada.
Orang tua merasa bangga jika anak mereka mengenal dan
telah bersahabat dengan internet- familiar dengan internet.
Mereka tentu mengira bahwa pengetahuan anak akan
berkembang pesat dengan masuknya internet ke dalam
lingkungan pendidikan mereka.
Sejak jalur transportasi sudah begitu lancar dan mulus maka
hampir tidak begitu luas lagi celah atau gap antara kota dan
pedesaan. Industri komunikasi dalam bentuk warnet, cybernet
dan café net dapat juga tumbuh di kedua tempat ini.
Masyarakat yang punya landline phone (telepon rumah),
beberapa unit computer dapat memasang speedy dalam ruang
segi empat maka jadilah sebuah industri internet sebagai usaha
kecil kecilan mengatasi pengangguran atau untuk penambah
belanja membeli sembako (sembilan bahan pokok).
Seperti dikatakan pada bagian terdahulu bahwa fenomena di
kalangan siswa sekarang, usai pulang sekolah mereka tidak
mencari orang tua di rumah terlebih dahulu, tetapi mencari
dimana ada warnet yang kosong. Masuk ke dalam dunia cyber
adalah sebagai sarana alternative untuk rilek bagi mereka.
Walau pada umumnya alasan anak kepada orang tua pergi ke
warnet adalah untuk mencari tugas sekolah “namun kok sampai
berjam-jam dan ada kecendrungan bahwa hampir tiap hari
internet itu diserbu”.
Ternyata internet dengan daya tarik infotaiment (infomasi dan
entertainment) atau edutaiment (edukasi dan entertainment)
membuat anak mudah terpesona di depan layar computer
tersebut. Pergilah ke warnet, tanyakan pada operator “apa saja
fitur yang menarik bagi remaja atau para pelajar ?”. Umumnya
aktivitas mereka di internet adalah mendowload lagu dan film
(mungkin juga film porno), main game, chatting, saling berkirim
surat dan SMS lewat face book atau myspace, bertukar foto
lewat friendster, bertukar cerita dan berita lewat e-mail melalui
yahoo, gmail, hotmail, plasa, telkom, atau bertukar album diary
lewat blogger, wordpress dan multiply.
Ada perbedaan life skill antara generasi internet dengan
generasi sebelumnya. Generasi sebelumnya, pulang sekolah
banyak yang ikut terlibat dalam kegiatan alam dan kegiatan
orang tua. Sehingga mereka banyak yang lebih pintar dalam
mengurus rumah, lebih peka sosialnya dan trampil dalam
menjelajah alam. Sementara generasi internet karena lebih
akrab dengan alat-alat elektronika menjadi lebih mahir dalam
urusan otak atik dan inilah efek positif dari internet. Tinggal lagi
bagaimana mereka bsia menambah dan mengasah kepekaan
pada sosial dan pada lingkungan.
Efek positif internet secara detail adalah sebagai sarana
berkomunikasi dari satu lokasi ke lokasi yang lain di belahan
bumi yang lain. Pengguna juga bisa mencari informasi tentang
sekolah, universitas, institusi riset, museum, bank, perusahaan,
bisnis, perorangan, stasiun TV ataupun radio. Pengguna
internet akan kaya dengan informasi tentang sekolah,
pelajaran, bisnis, dan pekerjaan. Kemudian (sekali lagi) mereka
bisa melakukan chatting, reservasi tiket dan hotel, menjual
barang atau jasa. Lewat internet mereka juga bisa melakukan
tagihan telepon, asuransi, kartu kredit dan melakukan
konferensi atau diskusi online.
Dihubungkan dengan judul artikel ini “Buru-buru ke internet
untuk tujuan pendidikan atau demoralized (merusak moral) ?”
Sebagaimana telah disinggung bahwa internet juga punya
manfaat untuk pendidikan. Internet dapat membantu siswa
untuk mengakses berbagai informasi dan ilmu pengetahuan
serta sharing riset antar siswa, terutama bagi mereka yang
berjauhan tempat tinggalnya. Namun internet juga berpotensi
untuk proses demoralized- merusak moral. Itu berarti bahwa
internet juga punya sisi negative.
Melalui internet seorang siswa bisa menelusuri aneka macam
materi yang berpengaruh negative, misalnya pornografi,
rasisme, kejahatan, kekerasan dan sejenisnya. Berita yang
bersifat pelecehan seperti pedofili dan pelecehan seksual.
Barang –barang seperti Viagra (obat kuat untuk lelaki dewasa)
alcohol dan narkoba banyak yang ditawarkan melalui internet.
Bahkan melalui internet orang juga bisa melakukan penipuan
dan pencurian.
Sekali lagi bahwa keberadaan warnet, cafenet dan cybernet
berpotensi untuk mendatangkan gejala demoralized bagi
pengguna yang sebagian besar adalah para siswa tingkat SMP,
SMA, MAN dan SMK. Barangkali warnet bisa menjadi sepi
kalau unit-unit computer cukup disusun berjejer di atas bangku
atau meja tanpa diberi box sebagai penyekat/ pembatas
berdinding tinggi antara satu pengguna dengan pengguna yang
lain. Apakah hanya sekedar basa-basi saja kalau pemilik
industri internet memasang penyekat berukuran rendah ?
Namun tetap saja bisa menyembunyikan layar computer dari
pandangan orang lain.
Penyalahgunaan internet tentu bisa menyebabkan gejala
demoralized- pelunturan moral- siswa dan anak-anak kita.
Maka orangtua, guru, pemerintah dan masyarakat perlu
memberi tahu pemilik warnet, cafenet dan cybernet warning
agar tidak memberi sekat pada setiap set computer.
Kemudian, karena internet juga bisa diakses lewat handphone
yang mutakhir. Maka orang tua yang masih ingin punya anak
bermoral mulia, untuk tidak memanjakan anak dan membelikan
HP mahal yang punya fitur kamera dan pengakses internet.
Sementara bagi rumah tangga/ famili yang menghubungkan
unit computer dan laptop dengan speedy (pengakses internet)
perlu untuk mengawasi penggunaan laptop dan computer
tersebut untuk keluarga mereka..
Pencegahan pengaruh negative dapat dilakukan dengan
menempatkan computer hanya di ruang keluarga , sebaiknya
tidak di kamar anak. Orangtua harus terlibat dan menyediakan
waktu dengan anak-anak pada saat mereka sedang online.
Mereka perlu sebanyak mungkin mempelajari tentang
komunitas online. Agaknya fitur media player (macro flah
media) pada computer dan laptop tidak perlu untuk diinstall,
karena anak bisa menikmati tontonan pornografi melalui
saluran tube internet. Orang tua juga perlu mencari informasi
dan mengenal software yang bisa untuk memblokir dan
menyaring situs-situs tertentu. Sekali-sekali orang tua juga
perlu mencek fitur history pada jendela internet. Bila ada situs
yang tidak pantas untuk anak maka orang tua bisa melakukan
klik tool, pilih dan klik internet options dan klik tombol clear
history pada jendela internet option.
Untuk penggunaan internet dengan tujuan pendidikan maka
dianjurkan agar anak/ siswa dan orangtua juga guru untuk
mengunjungi www.studentsoftheworld.info, Melalui situs ini
siswa dan guru dapat menambah teman dan komunikasi lain
dengan komunitas internasional. Kemudian juga ada internet
kids discussion pada www.kidlink.org . Ini merupakan situs
internasional untuk membentuk dialog bagi anak-anak muda
yang berusia sekitar 10 sampai 15 tahun. Pengunjung situs ini
dapat mengirim e-mail kepada anak-anak di seluruh dunia dan
bekerjasama pada proyek-proyek tertentu. Selanjutnya juga
ada situs www.thinkquest.org yang merupakan situs kompetisi
internet terbesar di dunia yang sangat berguna bagi siswa
berumur 12 sampai 19 tahun. Bila ingin mengetahui
perpustakan elektronik nagi usia mereka maka situs
www.npac.syr.edu/textbook/kidweb cukup membantu mereka.
Akhir kata harapan kepada guru dan orang tua agar tidak
menjadi gatek (gagap teknologi) untuk bias mengenal teknologi
ICT dan internet. Akhirnya kedua figure ini bias memahami dan
menemani anak dengan keberadaan internet. Internet tidak
mungkin disingkirkan dari kita dan dunia anak-anak karena
benda elektronik ini cukup ampuh mempuat generasi kita
menjadi cerdas, kaya informasi dan berkembang. Namun orang
tua dan guru yang gagap internet dan siswa yang suka
menyalahgunakan internet berpotensi membuat mereka
menjadi generasi demoralized- generasi yang hancur akhlak
mulianya.

24. Pengembangan SDM Sedini Mungkin


UMUMNYA para pendidik telah mengenal bahwa fokus
pengajaran murid-murid seko¬lah dasar adalah agar murid
menguasai kemampuan dasar yang tercakup dalam rumus 3-R.
yaitu Arismetik, reading dan writing. Atau dengan kata lain
penguasaan dalam berhitung, membaca dan menulis.
Bagaimana penguasaan mu¬rid-murid atas kemampuan
da¬sar ini, orang melihat sesuai dari kaca mata mereka
masing-¬masing. Tidak sedikit orang, yang mengatakan bahwa
ke¬mampuan dasar murid dalam berhitung, membaca dan
menu¬lis telah mantap begitu mendengar bahwa di sekolah
yang bersangkutan ada segelintir murid yang memperoleh NEM
yang cukup baik.
Namun secara umum kalau kita perhatikan sertifikat NEM anak-
anak Yang mendaftar ke tingkat SLTP banyak menunjuk¬kan
angka kemampuan berhi¬tung, Kita sebut saja nilai matematika
yang begitu jelek. Dapat kita perkirakan bahwa kemampuan
mereka dalam membaca dan menulis juga jelek.
Untuk mencek kemampuan membaca murid pada tingkat SLTP
dan SLTA dapat dicek lewat pemanfaatan buku-buku teks
mereka. Ka1au kita mengunjungi perpustakaan sekolah tingkat
SLTP dan SLTA maka akan kita jumpai tumpukan buku-buku
teks yang lumayan banyaknya tanpa ada disentuh atau
dimanfaatkan. Meskipun untuk menyediakannya peme¬rintah
telah menghabiskan milyaran rupiah dari proyek pe¬nyediaan
buku-buku. Begitu pula dengan buku-buku teks yang ada di
dalam tas sekolah mereka, terlihat masih utuh sebagai tanda
bahwa belum dimanfaatkan walau tidak se¬mua murid yang
bersikap demi¬kian). Ini akibat kebiasaan murid yang. gemar
menghafal catatan pelajaran mereka, ke¬timbang menganalisa
buku¬-buku teks pelajaran mereka.
Pada akhir tahun di kelas tiga, tingkat SLTA, siswa musti
menyelesaikan sebuah karya tulis sebagai syarat untuk dapat
mengikuti EBTA dan EBTANAS. Tetapi mereka seolah-olah
mencerminkan ketidakmampuan dalam menulis karya tulis. Dan
memang kenyataannya mereka betul-betul banyak yang tidak
mampu dalam menulis karya tulis yang begitu sederhana.
Sehingga mereka terpaksa menempuh jalan curang, misalnya,
dengan memalsukan karya tulis kakak kelas yang telah lulus
pada tahun lain.
Dari sebuah dialog ringan dengan mahasiswa KKN ter¬tangkap
kesan tentang mele¬mahnva semangat mahasiswa dalam
peningkatan SDM. Pergi kuliah hanya asal-asalan saja. Banyak
mereka yang enggan datang ke kampus dan suka menitipkan
absen. Hari-hari mereka lewati dengan hura-¬hura. Kemudian
pada musim tentamen mereka suka menggunakan jimat,
catatan kecil, ala anak SMU atau mencari sopir ujian. Sebab
sang dosen tidak mungkin dapat mengenali semua
mahasiswanya karena itulah suatu stereotype, atau pandangan
umum, bahwa hubungan dosen dan mahasiswa adalah “siapa
lu dan siapa gua”. Dengan kata lain hubungan mereka adalah
sebatas membayar kewajiban saja, yang penuh dengan
ketidakacuhan atau ketidakpedulian.
Banyak tudingan bahwa ke¬bodohan murid di sekolah
ber¬awal dari kenakalan karena orang tua mereka ada yang
“'broken” atau orang tua tidak peduli dengan pendidikan anak.
Itu sangat benar. Tetapi ada pula malah orang tua begitu peduli
dengan pendidikan anak, dan lingkungan sosial anak begitu
sehat. Malah si anak kok begitu sudi mengungkapkan ingin
untuk tarik diri dari dunia sekolah karena tidak dapat mengikuti
pelajaran demi pe¬lajaran. Kendala yang dialami oleh anak
atau murid seperti ini disebabkan karena rendahnya
kemampuan membaca mereka. Barangkali penyebabnya
adalah karena di dalam keluarga mere¬ka tidak dibiasakan
budaya membaca. Buku-buku dan majalah adalah benda
langka untuk dijumpai.
Bukan berarti orang tua me¬reka tergolong tidak mampu.
Malah orang tua dapat memenu¬hi kebutuhan permainan
elektronika mungkin karena bersaing dengan anak tetangga.
Dan begitu pula orang tua mereka mampu membeli sarana
hiburan yang serba mewah meski sebagai prestise dan
menunjukkan kepada lingkung¬an, karena sebagian orang kita
bermental suka pamer, bahwa mereka termasuk orang yang
cukup “the have”.
Dalam zaman global infor¬masi dan komunikasi ini, masih
cukup banyak orang tua yang berfikiran mundur. Mereka akan
mengatakan. bahwa berlangganan majalah itu percuma sebab
tidak akan mengenyang¬kan perut. “Bukankah uangnya lebih
baik untuk dibelikan sama kue”, demikian menurut orang tua
yang bersikap “stomach oriented”. Ada lagi orang tua yang
mencela anaknya yang sudah mulai gemar membaca sebagai
membuang-buang wak¬tu. Image seperti ini diperoleh dari
keluarga pedagang dan tentunya tidak semua pedagang yang
begitu, dimana bagi mere¬ka waktu adalah benar-benar uang.
Murid-murid yang melarikan diri dari sekolah bisa jadi karena
kejenuhan di dalam kelas karena tidak menguasai pelajaran.
Rasa jenuh dapat mendatangkan rasa benci pada pelajaran
dan berakhir dengan perseteruan antara guru-guru.
Macetnya komunikasi guru-murid dalam kelas disebabkan
kepasifan murid dengan sikap yang suka membisu dalam
seribu bahasa. Banyak juga guru yang kesal, begitu ia serius
dalam proses belajar mengajar dan bertanya untuk
mendapat¬kan umpan balik. Dan ketika ditanya “apakah kamu
sudah paham atau belum mengerti”, dijawab oleh murid dengan
wajah “no comment”
Kesulitan murid dalam me¬mahami pelajaran dan kepasifan
murid dalam berkomunikasi, secara lisan dan tulisan, adalah
karena anak atau murid lemah dalam kemampuan membaca.
Penyebabnya karena mereka tidak terlatih dengan budaya
membaca sejak dini.
Membaca adalah satu bagian dari aspek berbahasa. Dan
bahasa adalah sarana untuk mengekspresikan fikiran. Orang
yang bahasanya teratur maka fikirannya juga teratur.
Sebaliknya dalam bahasa yang macet terdapat pula kemacetan
dalam berfikir. Dan rata-rata murid yang macet dalam ber¬fikir.
Dan inilah yang harus kita atasi secepatnya.
Syukurlah kalau dalam suatu kelas, terutama di Sekolah Dasar,
cukup banyak anak yang berlangganan majalah. Tentu mereka
mendapat kemudahan dalam memahami setiap pela¬jaran.
Memang ada korelasi langsung antara anak yang gemar
membaca dengan prestasi mereka dalam belajar. Dan idealnya
memang setiap anak memang harus gemar membaca. Maka
kita patut mengacungkan jempol bagi orang tua murid yang
menyokong anak mereka di rumah agar selalu membaca
apalagi menyediakan bagi anak mereka dana khusus agar
anak mereka dapat berlangganan majalah anak-anak.
Tampaknya hanya segelintir saja orang tua yang mampu baru
mendorong anak mereka untuk membudayakan membaca di
rumah. Dan cukup terbatas pula jumlah orang tua yang punya
kelebihan dan untuk berlangganan majalah anak-anak.
Tampaknya masih ada usaha lain yang dapat diterapkan oleh
guru-guru untuk mengembang¬kan kebiasaan anak dalam
membaca yaitu pemanfaatan pustaka sekolah.
Pernah suatu ketika seorang guru sekolah dasar mengatakan
bahwa murid-muridnya cukup mempunyai minat dalam
mem¬baca. Buktinya kalau ada buku bacaan, murid-murid itu
berebutan tidak sabar ingin mem¬perolehnya. Tetapi sayang,
katanya, sekolah itu tidak mempunyai guru perpustakaan.
Mestikah guru yang demikian tidak bertindak untuk
menyalur¬kan keinginan anak untuk membaca dengan alasan
tidak ada tenaga guru perpustakaan? Sementara itu murid yang
dihadapinya sebagai guru kelas cuma berjumlah 25 orang,
murid saja. Kita rasa dalam jumlah murid yang kecil itu guru
kelas mungkin dapat mencari jalan keluarnya. Misalnya saja
membawa buku bacaan sebanyak jumlah murid dan
meminjamkannya untuk dibaca di rumah. Kemudian bagi yang
banyak membaca kita kaitkan dengan nilai bahasa mereka,
misalnya.
Pemanfaatan buku-buku ba¬caan seperti cara diatas cukup
bermanfaat dalam pengembang¬an keterampilan membaca
mu¬rid. Adapun untuk pengem¬bangan keterampilan menulis
adalah dengan membiasakan pemberian “tugas mengarang”
kepada murid. Ada seorang penulis yang sangat terkesan akan
gurnya ketika ia masih bersekolah di SD. Gurunya mewajibkan
setiap murid untuk mengarang setiap minggu dan
membacakannya di depan kelas. Inilah titik awal kenapa ia
tertarik dalam bidang penulisan setelah dewasa. Cara seperti
ini sungguh bermanfaat untuk diterapkan oleh guru-guru sejak
sekolah dasar, terus ke tingkat SLTP dan SLTA oleh guru
bidang studi bahasa Indonesia. Apabila kebiasaan pemberian
mengarang ini dilakukan oleh guru-guru secara kontinyu dan
terprogram, maka insya Allah kita tidak melihat lagi siswa-siswi
SMU kasak kusuk dalam menulis karya ilmiah sederhana. Dan
begitu pula kebiasaan mahasiswa, calon sarjana, tidak akan
lagi menciptakan skripsi “aspal” alias asli tapi palsu. Kita yakin
kalau kemampuan menulis generasi kita sudah bagus, maka
bursa penulisan skripsi liar tidak akan pernah ada lagi.
Masih ada lagi, agaknya, usaha yang kita lakukan untuk
peningkatan SDM anak didik sedini mungkin. Misalnya
mem¬buat papan tempat berkreasi, semacam majalah dinding
ala, siswa SLTA, dimana murid-murid SD dapat menempelkan
kreasi-kreasi mereka apakah berupa gambar, puisi, cerpen dan
lain-lain pada papan kreasi tersebut. Kita yakin bahwa animo
murid-murid SD untuk berkreasi cukup tinggi karena pada
dasarnya anak-anak kecil suka memamerkan kebolehan¬nya.
Demikianlah renungan kita dalam usaha peningkatan SDM
sedini mungkin sejak sekolah dasar. Semoga

25. Pendidikan Spiritual Di Rumah


Eksistensi pendidikan secara konvensional diklasifikasikan atas
pendidikan formal, informal dan non formal. Dan hampir semua
orang terdidik telah tahu tentang contoh- contoh
pengklasifikasiannya. Pendidikan mulai dari jenjang pendidikan
Sekolah Dasar (SD), atau dari Taman Kanak- Kanak, sampai
ke jenjang Perguruan Tinggi adalah termasuk ke dalam
klasifikasi pendidikan formal.
Profesi sebagai guru pada jenjang pendidikan tadi (SD sampai
Perguruan Tinggi), eksistensi mereka sangat diperhatikan oleh
berbagai kalangan, seperti LSM (Lembaga Swadaya
Masyarakat), kelompok masyarakat, media massa dan tentu
saja oleh pemerintah sendiri. Bagaimana membuat dan
mendorong guru agar bisa memiliki martabat merupakan
paradigma paling terkini dalam wacana pendidikan kita. Usaha
dan inisiatif dari berbagai pihak dalam memperjuangkan harga
diri dan martabat guru- guru sangat patut untuk dihargai.
Sudah lama ada dalam masyarakat, mulai dari lingkungan kota-
kota besar sampai ke lingkungan masyarakat di desa- desa
kecil hidup sosok guru mengaji “TPA- TPSA” dengan sosok
bersahaja, berpakaian sederhada dan tutur katanya juga
sederhada dan kantong mereka tentu saja jauh dari ukuran
sederhana. Agak nya martabat mereka juga perlu untuk
diperhatikan (?).
Menjadi karyawan swasta, BUMN (Badan Usaha Milik Negara),
PNS (Pegawai Negeri Sipil, TNI dan Polri peminatnya sangat
berlimpah ruah, membuat repot media massa untuk meliput
dan memberitakanya. Malah untuk merekrut tenaga Hansip dan
Satpam peminatnya juga cukup banyak. Namun bagaimana
peminat untuk menjadi guru mengaji di TPA dan TPSA (?).
Dapat dikatakan bahwa profesi ini telah dipandang sebelah
mata oleh banyak orang, barangkali karena secara finansial
belum memberikan janji kebahagiaan. Profesi ini malah menjadi
inspirasi oleh penulis film sinetron, yaitu figur mengaji sebagai
orang yang amat baik dan tidak begitu memerlukan kecukupan
materi. Dalam fenomena profesi menjadi guru mengaji hanya
dipilih sebagai kegiatan pelarian- batu loncatan- atau pilihan
karir paling terakhir.
Mahasiswa baik- baik namun berasal dari orang tua yang
kurang berkecukupan, cendrung memilih tinggal di mushala
dan mesjid, sekaligus menjadi gharim dan guru mengaji yang
cukup dibayar beberapa sen saja (beberapa ribu saja) malah
kalau bisa murah buat apa dibayar mahal- mahal , atau kalau di
desa kecil, guru mengaji cukup dihargai satu liter beras saja per
bulan.
Apakah menjadi guru mengaji TPA- TPSA mereupakan karir
paling rendah (?). Dari pengalaman sehari- hari kita temui
bahwa yang memilih karir guru mengaji adalah orang- orang
yang sudah tua- lemah tubuhnya, orang orang yang lemah
ekonominya dan orang yang sudah putus asa karena gagal dan
gagal setiap kali mengikuti tes PNS.
Kalau sekarang kita jumpai banyak anak anak yang bersekolah
di SD, SLTP dan SLTA buta membaca Al-quran, maka siapa
yang patut disalahkan (?). orang dengan mudah akan
menyalahkan orang tua, guru kelas, guru agama atau siapa
saja yang bisa dijadikan kambing hitam. Guru akan
menyalahkan guru dan guru akan menyalahkan orang tua.
Suatu cara berfikir mencari solusi pada pada konsep vicious
cycle atau pada lingkaran setan. Yang sering kena damprat
atas fenomena lemahnya nilai rohani anak adalah guru- guru
agama, guru- guru di SD dan orang tua sendiri.
Orang tua harus ikhlas kalau disalahkan sebagai penyebab
anak miskin dengan nilai rohani- buta Al quran dan tidak disiplin
dalam dalam mengimplementasikan ibadah. Karena memang
orangtua lah sebagai pemilik anak itu sendiri, yang
membesarkan dan yang mula- mula mendidik dan
menanamkan akar agama dan budaya. Namun untuk amat
jarang guru yang terbiasa- karena tidak memiliki kompetensi
agama dan mendidik- mengajar mereka beribadah, membaca
al Quran dan muamalah lain, maka sebagai jalan pintas dan
sudah konvensional (sudah menjadi kebiasaan) untuk
menyerahkan anak- anak ke surau, mushala, langgar dan
mesjid yang memiliki kegiatan agama dan TPA- TPSA.
Untuk selanjutnya dalam pembiayaan pendidikan agama anak,
orang tua akan memperlihat sikap yang beragam pula, ada
yang ingin gratis (tidak tahu menahu keuangan guru mengaji),
tidak sudi membayar uang mengaji sebanyak upah buruh
minimal (UMR), atau kalau bisa ditawar SPP mengaji mengapa
harus dibayar mahal. Namun untuk keperluan ilmu dunia-
mengikuti kursus bahasa Inggris, kursus sempoa, kursus
Matematik, kursus musik sampai kepada kursus menari atau
kebugaran tubuh, orang tua sudi membayar sampai ratusan
ribu Rupiah. Namun untuk kepentingan rohani atau spiritual
orangtua kok hanya berani membayar murah atau ingin gratis.
Terus terang keberadaan profesi guru mengaji dalam
masyarakat mempunyai peranan yang sangat penting dalam
membentuk akhlak dan karakter positif anak sejak usia kecil.
Guru mengaji pun punya peran penting dalam menanamkan
akar agama dan warna spiritual anak sejak usia dini. Kuat atau
lemahnya akar agama ditentukan pula oleh kualitas pribadi
guru mengaji mereka.
Adalah sangat beruntung anak anak yang belajar mengaji
dengan guru TPA dan TPSA mereka berkualitas tinggi.
Andaikata guru mengaji mereka tamatan universitas ternama
dan asal dibayar mahal (namun apakah ada ?) pastilah anak-
anak mereka akan menjadi santri atau murid TPA- TPSA yang
juga berkualitas dalam bidang rohani- spiritual. Guru mengaji
yang berkualitas tinggi tentu akan mampu melaksanakan PBM
(proses belajar mengajar) alQuran yang sangat menarik, kalau
perlu dengan konsep PAKEM (pembelajaran aktif kreatif efektif
dan menyenangkan) di lingkungan mesjid dan mushala. Namun
sekali apakah ada sosok guru mengaji yang demikian ? Atau
barangkali sosok guru yang demikian hanya ada dalam mimpi
atau dalam sinetron.
Kini setiap orang- seperti anggota masyarakat, orangtua, guru,
dan siapa saja- perlu berfikir tentang mengapa profesi guru
mengaji di pandang sebelah mata sementara itu keberadaan
mereka sangat diperlukan oleh masyarakat banyak untuk
menempa dan membentuk akhlak dan nilai spiritual anak- anak
mereka, namun profesi ini dipandang dengan sebelah mata
oleh banyak orang. Profesi ini cendrung tidak punya martabat,
sebutlah profesi sebagai imam masjid dan mubaligh. Profesi
atau posisi ke dua peran sosial ini sangat dihargai oleh
masyarakat.
Dugaan sementara dari penyebab guru mengaji kehilangan
martabat adalah, agaknya, karena jasa mereka sudah terlanjur
dibayar murah. Mungkin karena guru mengaji belum melalui
rekruitment yang berkualitas oleh pihak yang berwenang atau
pihak yang bergengsi. Kemudian karena populasi guru mengaji
sudah terlanjur dari orang- orang terlalu bersahaja dan bersikap
nrimo atau pasrah, dari kalangan orang- orang baik namun
kualitas SDM mereka masih rendah.
Adalah fenomena tentang kualitas pemahaman agama
generasi muda yang mayoritas beragama Islam ini. Jumlah
mereka sangat banyak namun kualitas spiritual mereka seperti
buih di tepi pantai, jumlahnya banyak namun mudah pecah
diterpa angin. Hal itu sebahagian karena kualitas mengaji
mereka di TPA dan TPSA juga biasa biasa saja, yakni sekedar
mampu mengajarkan transkrip abjat Arab yang ngetop disebut
alif-ba-ta. Sampai mereka mampu membaca alquran namun
tidak pernah paham apa yang dibaca. Pesan yang disampaikan
oleh Sang Khalik hanya dimengerti belakangan lewat mulut
guru atau mulut ustad dikemudian hari dalam skenario yang
berbeda pula. Memang dewasa ini pengajaran Alquran paling
jauh hanya sekedar membaca abjad Alquran (mungkin belum
lagi membaca Alquran).
Sebuah pemikiran bahwa andaikata belajar membaca Alquran
di TPA dan TPSA diikuti dengan belajar makna Alquran, atau
katakan belajar bahasa Arab. Maka pastilah kelak akan muncul
cukup banyak jumlah generasi muda yang beragama Islam
yang mampu memahami bahasa Arab/ bahasa Alquran
langsung dari mulut mereka sendiri. Jumlah orang yang
menguasai bahasa Arab tentu jauh lebih banyak dari orang
yang mampu berbahasa Inggris. Atau akan banyak orang orang
yang cerdas dunia dan akhiratnya, yakni mampu berbahasa
Inggris dan mampu pula berbahasa Arab. Kini adalah pekerjaan
rumah bagi kita bagaimana memperdaya generasi muda,
sarjana yang menganggur (kalau mereka setuju) untuk terjun
menjadi guru TPA dan TPSA yang berkualitas dan bermartabat,
dengan harapan jasa dan kesejahteraan mereka harus
diperhatikan dan dibayar dengan sangat wajar.

26. Tinggalkan Konsep Coba-Coba Dalam Mendidik


Dalam penggunaan bahasa bahwa kata “orang tua” dan “guru”
sering disandingkan dan menjadi frase “orang tua dan murid”.
Ini terjadi karena kedua tokoh ini memegang peranan penting
dalam mendidik dan menemani anak untuk tumbuh dan
berkembang.
Hampir semua orang menyadari tentang keberadaan keluarga,
orang tua (ayah-ibu) sebagai figure sentral dalam
melaksanakan tugas mendidik anak. Kemudian di sekolah, guru
sebagai figur atau tokoh sentral dalam mendidik murid di
sekolah. Namun orang tua dan guru perlu menyadari
bagaimana menjadi pendidik yang baik.
Orang tua adalah guru pertama dalam kehidupan setiap anak.
Mereka terlibat dalam proses pembelajarannya di rumah dan
dimana saja, dengan alokasi waktu belajar selama 24 jam
setiap hari. Berarti di rumah pada umumnya ada dua guru
(ayah dan ibu) dan satu atau dua orang anak. Apalagi karena
orang tua muda sekarang cenderung mengadopsi program
keluarga berencana- cukup dua anak (pria wanita sama saja !).
Itu berarti bahwa mereka melakukan proses pengajaran di
rumah untuk menjadi manusia yang baik dengan intensif mulai
dari anak bangun tidur sampai kepada anak tidur lagi.
“Nah habis tidur kita harus baca doa, kemudian sholat,
kemudian merapikan tempat tidur…”, kata seorang ibu (ayah)
sambil menuntun anak untuk mulai beraktifitas dengan bahasa
yang santun. “hei buyung …. bangun, mandi….matahari dan
sekolah…., hai banguun”, bentak orang tua di tempat yang lain
dengan gaya bahasa yang penuh emosi. Tentu ada pula proses
pembelajaran model lain, yaitu membiarkan anak tidur atau
bangun kapan saja suka, terlalu membiarkan atau serba
banyak membantu anak. Bentuk-bentuk sentuhan dan cara
berkomunikasi antara anak dan orang tua akan menentukan
kualitas pendidikan mereka kelak.
Untuk mendapatkan pendidikan rumah (untuk anak) yang
berkualitas maka proses beraktifitas di rumah juga harus
unggul. Untuk itu apakah orang tua (sesuai dengan
kemampuan) telah menyediakan fasilitas pembelajaran. Kalau
tidak salah lihat bahwa banyak orang tua yang cenderung
menghujani anak dengan fasilitas hiburan. Untuk
membuktikannya mari kita kunjungi ke rumah-rumah mereka
dan temukan: “mana yang banyak koleksi yang dimiliki anak
antara koleksi mainan dengan koleksi bacaan ?”. Apakah anak-
anak kita telah memiliki koleksi cerita-cerita nabi, koleksi
biografi tokoh untuk membantu mereka dalam mencari identitas
diri. Memiliki koleksi mainan untuk anak tidak salah, karena ini
bisa membuat anak berani dan cerdas tapi bacaan jangan
diabaikan. Namun malah cukup banyak orang tua yang sudi
memiliki koleksi keramik dari pada menyediakan perpustakaan
bagi anggota keluarga.
Eksistensi guru di sekolah sebagai pendidik juga ikut mewarnai
bagaimana mutu anak-anak bangsa ini kelak. Tentu saja untuk
menghasilkan generasi yang terdidik dengan baik (cerdas dan
ungggul) maka juga diperlukan sentuhan tangan guru-guru
yang cerdas dan unggul. Orang mengatakan bahwa ada guru-
guru yang unggul dan guru-guru yang tidak unggul. Dalam
bahasa plesetannya “ada guru luar biasa dan ada guru yang
biasa di luar”. Bangsa ini begitu sibuk membenahi pendidikan
gara-gara kualitas pendidikan belum kunjung memuaskan,
sementara di negara maju mereka sibuk berbikir bagaimana
bisa menghasilkan teknologi baru. Maka ini pasti karena
populasi guru-guru tidak unggul atau “guru-guru biasa di luar”
guru-guru yang terkesan suka santai, belum kreatif, belum
professional, dan kurang suka berinivasi.
Seperti disebutkan sebelumnya bahwa orang tua dan guru
adalah dua buah kata yang selalu disandingkan menjadi
“parents and teacher”. Mereka perlu tahu tentang
permasalahan pendidikan anak-anak/siswa. Permasalahan
umum mereka adalah malas belajar, tidak mandiri, kurang
memiliki harga diri, tidak patuh, dan suka membangkang. Ini
semua dapat dikatakan sebagai penyakit pedagogie atau
penyakit dalam pendidikan. Ini mungkin disebabkan oleh gaya
kiya sendiri yang salah asuh.
Tanpa merujuk pada teori, maka orang awam pun tahu bahwa
anak jadi malas adalah karena mereka miskin motivasi hidup.
Orang tua gagal dalam menumbuhkan memotivasi mereka.
Anak kurang terbiasakan dalam melakukan aktifitas, no house
work and no school work. Atau kita sebagai orang tua malah
menjadi figur yang juga pemalas, anak disuruh belajar dan kita
tidak pernah belajar untuk jadi orang tua yang ideal.
Pengalaman di sekolah bahwa siswa laki-laki yang pemalas
bisa jadi karena memiliki ayah yang juga pemalas- tidak peduli
dalam urusan pendidikan anak. Selanjutnya anak menjadi
pemalas karena mungkin ayah dan ibu mereka sedang dilanda
broken home, selalu bertengkar dan cekcok sehingga anak jadi
bingung dan putus asa.
Anak tidak mandiri ? Orang awam juga tahu bahwa anak yang
kurang mandiri adalah karena mereka terbiasa banyak dibantu
mulai dari bangun sampai tidur lagi. Mereka tidak tahu apa
yang harus dikerjakan- tidak dibiasakan mengurus yang kecil-
kecil (merapikan kamar), menjaga keberhasilan diri (banyak
anak laki-laki tampil sembraut), sampai ikut berpartisipasi dalam
merapikan rumah. Atas nama rasa sayang, banyak orang tua
yang memonopoli semua pekerjaan rumah sehingga anak tidak
memperoleh kuota kegiatan. Seharusnya anak diberi kerja
paling kurang memotong rumput di depan rumah, memungut
sampah, atau membersihkan pakaian sendiri. Kalau mereka
tidak terbiasa beraktifitas maka mustahil bisa menjadi generasi
yang mandiri kelak. Malah mereka akan miskin dengan life skill
hingga jadi beban hidup bagi orang lain.
Hargailah pribadi anak sejak usia dini kalau tidak maka mereka
akan kehilangan harga diri. Sebahagian kita banyak yang
hanya gemar banyak menyuruh, memerintah sampai kepada
mengomeli anak, namun kurang peduli dalam menghargainya-
acuh saja kalau mereka berbicara dan kikir dalam memberi
pujian atau prestasi mereka. Sering orang dewasa (orang tua,
guru, tante, paman, pengasuh) dalam bertindak menggunakann
segenggam kekuasaan. Ini terlihat dari gaya bahasa yang
banyak memerintah “kamu harus…., kamu jangan…., kamu
musti…., kamu tidak boleh….., pokok nya harus patuh”. Dibalik
kekuasaan dalam bentuk banyak menyuruh dan melarang
mereka malah miskin dalam memuji dan dan menjaga hati
anak. Akibatnya maka lahirlah anak-anak yang pendendam,
tidak punya harga diri dan generasi yang berjiwa labil- mudah
stress dan mudah putus asa.
Selanjutnya tentang gejala membangkang pada anak, selain
karena faktor remaja (kalau ia berusia remaja) yang
memperlihatkan gejala suka berontak, juga karena faktor
pemodelan orang tua yang juga gemar dengan budaya
menghardik. Orang tua penghardik, berbahasa kasar, tidak
kenal mufakat berpotensi melahirkan anak yang berkarakter
pembangkang. Demikian pula bagi keluarga yang kurang
tersentuh oleh sajadah dan alquran, anak-anak mereka juga
cendrung terlihat gemar membangkang, itu karena miskin
dengan sentuhan spiritual.
Seharusnya mendidik dan mengasuh anak itu menjadi lebih
mudah, indah dan menghadirkan banyak anugerah bagi orang
tua. Jika kita mau memahami ungkapan popular: dengan ilmu
hidup mudah, dengan agama hidup mudah dan dengan seni
hidup indah. Ini memberi penekanan bahwa orang tua dan juga
guru perlu untuk menuntut ilmu (yang relevan untuk
kepentingan parenting dan teaching adalah ilmu psikologi dan
pedagogi) dan membudayakan otodidak dan gemar membaca.
Banyak orang tua merasakan kehadiran anak menjadi beban
hidup. Ini terjadi karena mereka menjadi orang tua tanpa punya
bekal dalam mendidik. Fenomena dalam masyarakat bahwa
banyak orang saat menikah tidak mempersiapkan diri menjadi
orang tua yang baik dan bagaimana kelak dalam mendidik
anak. Maka tidak heran kalau sebahagian orang tua menjadi
orang tua yang miskin dengan ilmu dan konsep penidikan.
Yang terpantau adalah mendidik anak dengan “metode
warisan”. Anak perlu dihardik dan dimarahi karena orang tua
sebelumnya juga menghardik dan memarahi. “Aku harus
bersikap keras pada anak karena ayah-ibu seperti itu dulu”.
Malah sebahagian orang tua mendidik anak dengan konsep
coba-coba- try and error.
Pendidikan di negara maju bisa menjadi maju adalah karena
faktor rekruitmen guru yang berkualitas. Mereka menjaring guru
yang berpotensi- cerdas dan professional, bukan menjaring
guru hanya lewat sebatas “tes potensi akademik- TPA” yang
bisa dikuasai secara ngebut semalam suntuk dan lulus dalam
test PNS. Test atau seleksi model begini sangat bagus dalam
menjaring guru yang smart street atau guru yang pandai-pandai
dan bukan guru smart akademic atau guru yang pandai, tapi
bukan menjaring guru berpotensi dan professional. Faktor lain
yang membuat negara maju jadi maju adalah juga faktor
kesiapan orang lewat program parenting untuk menjasi orang
tua, guru pertama anak di rumah.
Potensi seorang anak untuk tumbuh dan berkembang cukup
pesat adalah sejak dalam kandungan hingga usia delapan
tahun. Ini berarti bahwa rumah menjadi faktor penting untuk
menentukan seorang anak tumbuh prima sebelum mereka
pergi ke sekolah. Maka di Amerika Serikat dan juga di negara
maju lainnya banyak orang teetarik untuk mengikuti kursus
bagaimana menjadi orng tua yangb ideal melalui program
“parents as the teacher”. Keluarga dengan anak-anak yang
berusia 0-3 tahun mengikuti program tersebut, di Indonesia
mungkin semacam kegiatan posyandu- namun posyandu harus
lebih berkualitas lagi, jangan terkesan asal-asalan melulu:
datang, timbang bayi, tetes vitamin dan pulang (kemudian di
rumah orang tua tidak belajar tentang merawat dan mendidik
balita dan sang ayah tidak mau tahu). Bagi negara maju Inilah
rahasianya mengapa mereka bias maju dan kita tidak heran
kalau anak-anak mereka tumbuh cerdas karena pasangan
suami isteri ketika menikah mereka sudah disiapkan jadi orang
tua. Sementara fenomena pendidikan kita, dalam urusan
mendidik, terlalu menyerahkan peran mendidik pada pihak
sekolah. Ada yang beranggapan bahwa sekolah adalah
perpanjangan tangan orang tua dalam mendidik anak. Kalau
begitu apa saja peran dan tanggung jawab orang tua lagi ?
Kini sudah saatnya bagi kita untuk mengubah paradigm lama
dan memiliki paradigm baru. Mari menjadi orang tua sebagai
educator yang baik dan bertnggung jawab. Kita menyuruh anak
belajar dan kita sendiri juga belajar- long life education- untuk
menjadi orang tua yang ideal.
27. Internet Diserbu dan Perpustakaan Ditinggalkan
Perpustakaan mempunyai peran yang sangat penting dalam
memajukan pendidikan suatu sekolah, institute, dan suatu
negeri. Perpustakaan merupakan khazanah ilmu atau gudang
ilmu, karena di sanalah ilmu-ilmu yang sudah ditulis dalam
bentuk buku, jurnal, majalah dan Koran dikumpulkan. Kalau
dibuat perumpamaan- ibarat tubuh manusia- maka
perpustakaan adalah ibarat kepala atau otak. Maka
perpustakaan adalah otak bagi suatu sekolah atau bagi suatu
universitas.
Perpustakaan juga mempunyai peranan penting dalam
menumbuhkan kegemaran membaca masyarakat- reading
society. Pemerintah dan masyarakat Indonesia sejak dulu
berusaha keras untuk memajukan peradaban sosial melalui
gerakan gemar membaca. Ini terwujud dalam pendirian banyak
perpustakaan di berbagai tempat. Setiap orang mengenal
bahwa ada beberapa jenis perpustakaan seperti; perpustakaan
nasional, perpustakaan daerah, perpustakaan umum,
perpustakaan universitas, perpustakaan sekolah, perpustakaan
mesjid, perpustakaan anak jalanan sampai kepada
perpustakaan mini atau perpustakaan keluarga.
Sungguh hati akan senang melihat kebisaaan membaca
masyarakat, seperti yang direpresentasikan oleh masyarakat
Jepang dan masyarakat dari Negara maju -di Singapura, Eropa
dan Amerika-, yang menjadikan kegiatan membaca sebagai
kebutuhan mereka, sama halnya dengan kebutuhan makan,
minum atau terhadap sandang, pangan dan papan. Orang
Indonesia pasti senang mendengar cerita tentang kebisaaan
membaca orang-orang dari Negara maju tersebut, yang mana
mengisi waktu senggang mereka- sambil menunggu mobil atau
sambil bergelantungan dalam mobil masih asyik membaca
buku.
Membaca agaknya juga sudah menjadi kesenangan bagi
sebahagian orang kita, misalnya mereka membaca Koran
sambil menikmati sarapan pagi. Namun membaca mungkin
belum menjadi kebutuhan, kecuali hanya bagi segelintir orang
saja- dan bagi orang secara umum, mereka membaca hanya
sekedar pengisi waktu senggang saja.
Di daerah perkotaan ada tempat membaca yang rilek dan
orang menyebutnya dengan taman bacaan. Bisaanya taman
bacaan menjadi tempat mangkalnya anak-anak sekolah yang
membolos saat jam PBM (proses belajar mengajara) di
sekolah. Mereka datang ke sini untuk membaca komik silat
atau untuk menyewa novel-novel porno. Pemilik taman bacaan
memungut uang sewa untuk komik dan novel porno tersebut-
kalau tidak ada novel porno maka tentu taman bacaan ini tidak
pernah laku.
Sebagian siswa yang membolos- sebagai dorongan libido usia
remaja- terbisaa merobek halaman novel yang berbau porno
atau mencuri novel porno tersebut untuk dibahas- berbagi
cerita seks- bersama teman sebaya di sekolah. Tetapi- dahulu-
bila ketahuan oleh guru di sekolah maka mereka pasti akan
diproses atau berurusan dengan guru. Karena ada
kesepakatan bahwa sekolah harus bebas dari pornoaksi dan
pornografi.
Beberapa tahun lalu, perpustakaan sekolah, perpustakan
umum dan perpustakaan daerah, dan sebagainya, masih
merupakan tempat favorite untuk dikunjungi oleh pembacanya.
Tempat ini menjadi pilihan utama bagi pelajar, mahasiswa,
pengunjung umum dan orang-orang yang punya selera
intelektual. Pemerintah merespon kebutuhan membaca mereka
dengan menyediakan bermacam-macam bentuk dan judul
bacaan untuk memenuhi kebutuhan kognitif, emosional dan
spiritual pembaca. Mereka- pengunjung perpustakaan- juga
tahu bahwa perpustakaan adalah tempat yang khidmat setelah
tempat beribadah (mesjid) sehingga mereka sepakat untuk
menjaga ketenangan- no speaking area- di dalam
perpustakaan. Berbicaralah seperlunya agar pembaca yang
lain tidak merasa terusik.
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan ICT
(information communication technology) begitu pesat. Setiap
orang sekarang sangat familiar dengan beberapa produk
teknologi informatika. Sekaligus telah menambah kosakata
mereka seperti computer, laptop, hand phone, voucher,
internet, virus, hacker, dan lain- lain yang telah menambah
kosakata mereka sebagai masyarakat modern. Namun
sekarang kalau kita pergi ke lorong-lorong taman bacaan yang
dulu pernah ramai sebagai tempat favorite untuk membaca
novel porno dan komik silat, bagi siswa yang melarikan diri dari
kebosanan di sekolah, kini telah menjadi sepi. Yang tinggal
hanyalah komik silat dan novel porno yang sudah berdebu
karena tidak disentuh lagi oleh pembacanya.
Perpustakaan kini sedang mengalami nasib yang sama dengan
taman bacaan- menjadi tempat yang sepi atau mati suri,
ditinggalkan oleh pengunjungnya, kecuali yang terlihat adalah
penjaga pustaka yang selalu menguap, mengantuk dan bosan
karena kekurangan pekerjaan. Perpustakaan sekolah- pada
banyak sekolah- kehilangan daya tarik. Kecuali menjadi tempat
asylum –tempat singgah atau mengusir siswa pemalas dalam
membuat PR agar bisa menyelesai PR di sana. Maka timbulah
citra bagi mereka bahwa perpustakaan adalah sebagai penjara
sekolah atau tempat rehabilitasi mental.
Perpustakaan daerah atau perpustakaan umum-yang ada pada
beberapa kota kecil yang didanai moleh pemerintah- juga
cendrung sepi dengan pengunjung, atau lonceng kematian
sudah bergema di sana. Bagaimana dengan perpustakaan
fakultas atau perpustakaan universitas ? Pada beberapa
universitas atau fakultas yang lupa mengurus perpustakaan
juga dapat ditemui sudah tidak rapi lagi, tidak ada tambahan
koleksi baru dan buku-buku usang hampir beserakan, karena
pustakawan sudah segan/ malas untuk bekerja.
Kalau begitu fenomen yang terjadi, maka perpustakaan
sekarang telah menjadi tempat yang kehilangan daya tarik
untuk dikunjungi. Mengapa ? Karena pengunjung perpustakaan
telah memilih internet- warnet (warung internet) sebagai tempat
yang menarik. Kehasdiran internet diserbu ramai-ramai.
Sementara pengunjung taman bacaan- siswa yang membolos
dari sekolah- mungkin memilih tempat bermain- play station-
dan juga mencari game di warnet sebagai tempat pelarian dari
sekolah yang mereka namai sebagai penjara.
Terus terang bahwa perpustakaan dengan koleksi buku yang
lengkap tetap lebih bermanfaat dan berkualitas dari pada
internet. Sebab tidak semua tulisan yang ada dalam internet
yang berkualitas- di upload oleh doctor dan professor.
Sekarang siapa saja- mahasiswa, murid SD dan sampai
kepada anak ingusan- bisa menulis catatan harian, sampai
kepada artikel dengan kupasan yang enteng dapat mereka
simpan- upload- ke dalam situs internet. Atau mereka sendiri
bisa membuat website sendiri menggunakan fitur multiply,
wordpress, blogspot, dan lain-lain. Pengguna internet yang
kurang selektif bisa terjebak dan menggunakan tulisan yang
kurang berkualitas- tulisan anak ingusan- sebagai referensi
tulisan ilmiah mereka.
Lebih Parah lagi, kehadiran warung internet dengan box
berdinding tinggi telah memberi kesempatan bagi pengguna
internet- termasuk yang ingusan/ baru akil balig sampai kepada
pengguna internet puber ke dua- untuk melakukan cuci mata
atau zina mata, mengakses situs porno- gambar porno dan
tube porno yang tersedia dengan gratis dalam koleksi film atau
clip yang berlimpah ruah. Pengguna internet dengan berbekal
flasdisk, yang dicolokkan ke dalam CPU, bisa mendownload
clip porno yang sangat ampuh untuk memanjakan libido
mereka, merusak akhlak dan menyuburkan generasi amoral
dan membutakan mata bathin/ spiritual bangsa Indonesia ini.
Perpustakaan megah yang dibiarkan sepi oleh pengunjung
telah memberikan dampak negatf. Buku-buku berkualitas jelas
bakal tidak akan tersentuh. Tersus terang bahwa perpustakaan
tetap mempunyai peran dalam menjaga minat baca
masyarakat, andai tidak berfungsi lagi, tentu bisa keilangan
peran- banyak masyarakat akan buta ilmu pengeahuan yang
dalam. Mereka akan tidak tahu lagi dengan judul-judul buku
best seller, tidak kenal penulis favorite di Indonesia dan di
dunia. Ada kalanya mereka juga akan punya problema dengan
penulisan proposal, skripsi, tesis dan disertasi- kesulitan
mencari buku referensi. .
Ada langkah tepat bagi penanggungjawab perpustakaan dan
untuk mencegah agar tidak segera datangnya lonceng
kematian bagi perpustakaan, yaitu melengkapi perpustakaan
dengan sarana internet- menggabungkan internet dengan
perpustakaan, untuk maju memang butuh biaya. Ini adalah cara
yang tepat untuk menghidupkan perpustakaan. Dengan
demikian pengunjung perpustakaan bisa mengases internet
sebagai sarana untuk mencari informasi. Sekaligus mereka
tentu akan menyentuh, membolak-balik dan membaca jurnal,
majalah, Koran, dan buku-buku lain. Maka dengan cara begini
minat baca masyarakat tetap terjaga. Mencegah agar
perpustakaan tidak mati suri, ditinggalkan oleh pengunjung
memang perlu alternative dan fikiran yang serius. Kini semua
orang bertanggungjawab untuk menggerakan dan mengaktifan
fungsi pustaka. Ini semua mempunyai tujuan untuk
mencerdasan manusia- seluruh bangsa Indonesia.

28. Siswa Tidak Perlu Alergi Dengan Buku


Hidup bahagia dan sejahtera adalah cita-cita semua manusia di
dunia. Adaikata bahagia dan sejahtera ada di balik samudera
kehidupan dan memerlukan kualitas SDM yang tinggi untuk
mencapainya. Maka kapal dengan merek Indonesia, menurut
laporan Bank Dunia tahun 1999, menempati peringkat SDM
yang ke 102 dari semua Negara anggota PBB. Itu berarti kapal
Indonesia membawa penumpang yang jumlahnya lebih dari
200 juta jiwa namun kualitas SDM bangsa nya baru sekedar
bisa membaca, menulis dan berhitung. Setelah sekedar “bias”
untuk ke tiga skill ini mereka berhenti dalam mengembangkan
ilmu. Maka dapat diartikan bahwa kualitas rata-rata SDM
bangsa kita mungkin sama dengan kualitas seorang bocah di
negara maju yang telah terbiasa dengan pola hidup “long life
education”- pendidikan seumur hidup. Sementara itu kita sendiri
terbiasa menjadi malas membaca, malas menulis dan malas
berhitung, itu gara-gara kita menerapkan pola hidup “long life
watching- menonton seumur hidup atau long life day dreaming-
mimpi sepanjang kehidupan. Kalau demikian maka apakah kita
mampu mencapai tujuan hidup yang bahagia dan sejahtera ?
Uraian di atas menunjukan bahwa kualitas pendidikan kita
masih belum bagus. Andai ada suatu sekolah yang melaporkan
bahwa di sana terjadi peningkatan angka-angka kesuksesan
belajar menjadi 100 persen. Maka jangan buru-buru percaya,
sebab kita khawatir kalau proses memperoleh angka itu penuh
dengan rekayasa atau cara-cara yang tidak valid. Buktikan saja
ke lapangan, bagaimana sorotan mata, prilaku murid dan gaya
berjalan nya, apakah smart atau pada bengong (?). Anak-anak
yang berada di lingkngan yang berbudaya belajar tinggi, cara
berjalannya cepat/ tangkas , bicaranya mantap, percaya diri
tinggi dan daya tahan belajar hebat serta bacaan serta
teknologi tinggi menjadi kebutuhan mereka. Kalau ciri-ciri ini
tidak dijumpai maka itulah dia angka-angka rekayasa untuk
mendustai publik.
Masalah peningkatan SDM adalah juga tanggung jawab dunia
pendidikan. Yaitu mulai dari tingkat SD, kalau perlu sejak
tingkat PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dan TK, terus SMP,
SLTA, dan Perguruan Tinggi. Pemerintah dan education stake
holder telah melihat indikasi ini dan menyediakan alokasi dana
untk meningkatkannya. Namun kadang-kadang kegiatan
peningkatan mutu pendidikan yang diselenggarakan oleh
pemerintah kurang tepat sasaran. Saat kualitas pendidikan
siswa anjlok maka guru-guru ditatar dan dilatih. Namun
sebagian guru kurang bersemangat dalam mengikuti pelatihan,
mereka tampak malas. Mereka ikut hanya sekedar memenuhi
kuota saja atau untuk mengharapkan selembar sertifikat untuk
bahan naik pangkat dan sertifikasi guru. Di saat siswa disuruh
bergiat dan diberi program akselerasi, sementara sebagian
guru mengalami deteriorasi- pemunduran atau stagnasi (jalan
di tempat). Maka Nonsense bagi guru yang tidak peduli dengan
kualitas diri akan mampu untuk meningkatkan kualitas SDM
anak didik mereka. Namun kita salut dan berterima kasih pada
bapak dan ibuk guru yang selalu membudayakan belajar dalam
kehidupan.
Tanggung jawab meningkatkan kualitas SDM generasi kita
yang dilakukan sejak dari bangku SD sampai ke bangku SLTA
(SMA, SMK DAN Madarasah) dan sebenarnya tidak hanya
bergantung pada guru, tapi juga pada peran orang tua (ayah
dan ibu) di rumah. Karena anak-anak berada di rumah lebih
lama dibanding berada di sekolah. Selama ini ada anggapan
tersirat bahwa guru merupakan perpanjangan tangan orang tua
dalam mendidik anak. Anggapan ini tidak salah, namun
cenderung agak melepaskan tanggung jawab dan sayangnya
bahwa mayoritas orang tua belum memberikan peran
mendidikan mereka secara optimal. Bentuk peran mendidik
mereka sangat dangkal hanya sekedar menyuruh dan
melarang saja, “Belajar lah nak…, belajar lah nak…!”.
Sementara itu sebahagian kaum bapak-bapak ada yang
bersikap apatis, tidak mau tahu dalam hal mendidik anak dan
menyerahkan urusan mendidik sepenuhnya pada ibu. “Tugas
ayah kan mencari nafkah dan tugas ibulah mendidik itu”.
Demikian kira-kira pembelaan sebahagian kaum laki-laki.
Namun bagaimana kalau sang ibu juga ikut berkarir di luar
rumah, mungkin sebagai PNS, pegawai swasta, BUMN, dan
lain-lain. Maka kalau ditanya pada kaum bapak-bapak
mengapa tidak ikut mendidik anak. “Oh itu tidak sesuai dengan
kodrat kami kaum pria, …atau aku tidak berbakat mendididik,
….saya tidak sabaran menghadapi anak-anak, ….saya tidak
punya waktu dalam mendidik anak”.
Begitulah, cukup banyak pria yang malas terjun langsung
dalam mendidik atau bermain dengan anak. Sebahagian
mereka menekuni hobi, melowongkan waktu untuk anjing
pemburu, mengurus ayam jago atau burung. Yang lain
mengaku tidak punya waktu , namun waktunya berlimpah untuk
main domino atau menguruh motor second yang baru dibeli.
Ada pula kaum pria yang merasa kehilangan sifat maskulin bila
terlibat mengendong anaknya, pada hal Allah Swt, dalam
Alqur’an, sangat memuji karakter Luqman (Surat Luqman, 16-
19) yang mengasuh dan mendidikan anak-anak nya untuk
bertauhid dan bersosial. Maka dari mana asal mulanya kok
sebahagian kaum lelaki dari bangsa kita beranggapan bahwa
mendidik kurang layak bagi lelaki ?
Kini banyak orang tua yang punya kelebihan financial peduli
untuk meningkatkan kualitas SDM anak-anak mereka. Mereka
mndatangkat guru privat atau mengirim anak ketempat les,
mungkin mengambil les fisika, les matematika, kimia, atau les
bahasa Inggris. Ada anak yang telah mengikuti les Bahasa
Inggris selama bertahun-tahun tapi hasilnya tetap nol, karena
dia hanya sekedar ikut-ikutan dan tidak pernah mempraktekan
bagaimana berbaha Inggris tersebut. “Ibarat belajar
beberanang, seseorang telah membaca lusinan buku tentang
berenang namun ia sendiri tidak pernah terjun ke dalam air, ya
gagal terus sebagai perenang”.
Dikatakan bahwa sekolah adalah tempat menimba ilmu dan
buku-buku musti menjadi benda wajib untuk disukai dan dibaca
siswa. Namun kalau ditanya apkah mereka senang membaca,
maka banyak yang menjawab “saya tidak suka membaca”.
Malas membaca adalah ungkapan klasik yang diucapkan oleh
ribuan bahkan ratusan ribu anak-anak sekolah di Indonesia.
“Saya kalau membaca buku, mata cepat berair, …saya kalau
membaca mata cepat mngantuk, … saya kalau membaca cepat
bosan”. Apa yang menyebabkan sehingga begitu banyak anak
sekolah (dan juga mahasiswa) tidak suka membaca ?
Jawabnya adalah karena tidak terbiasa dengan buku “aku
alergi kalau memegang buku, cepat bosan dan mengantuk”.
“Bosan, mengatuk, mata berair kalau membaca” benar ini
adalah cirri-ciri orang yang belum punya budaya belajar, bukan
orang yang terpelajar dengan baik, well educated person.
Mayoritas bangsa kita beragama Islam, namun tidak
seharusnya kita mengabaikan nasehat Khalik seperti yang
tertulis dalam Al-Qur’an yang mengajarkan tentang perintah
“iqra- bacalah…!” sebagai ayat pertama turun buat manusia.
Namun mengapa kita banyak yang kurang merespon nya, tidak
terbiasa dan terkondisi dalam membaca. Selanjutnya kita
malah terbiasa bermain, bersenda gurau, nonton, hura-hura
atau buang-buang waktu. Pada hal perintah pertama ang turun
dari Allah Swt buat manuasia bukanlah “la’ibun- bermainlah,
atau lahwun- berguaraulah…!”.
Tentu pemerintah dan pakar pendidik menjadi sangat repot
dalam menggenjot kualitas SDM kita. “Kalau begitu apa
penyebab kualitas SDM kita cenderung tumbuh agak lambat ?”
Ada banyak penyebabnya yang membuat kualitas pendidikan
ini susah untuk meningkat. Salah satu penyebab adalah
pembinaan semangat membaca sejak dini tidak tuntas. Target
guru ketika anak belajar membaca di bangku SD hanya
sekedar bisa membaca “ini budi…ini budi…”, setelah bisa
membaca kalimat-kalimat pendek tadi, maka pembinaan
membaca terhenti, guru tidak pernah/ jarang memperkenalkan
apa yang harus dibaca, seharusnya mereka mengatakan “nak
untuk bisa lebih pintar, kita harus banyak membaca buku, buku
cerita, komik, buku agama, majalah, buku petualang, semuanya
ada di pustaka, yok kita ke sana….!” Namun fenomena yang
terjadi adalah bahwa system pembinaan semangat membaca
sejak usia dini di SD sampai ke tingkat Universitas tidak terjadi
dengan baik. Itu karena keberadaan perpustakaan pada
banyak sekolah tidak punya arti apa-apa dalam memajukan
mutu pendidikan lewat keberadaan reading society- masyarakat
yang gemar membaca.
Di negara yang luas ini tentu terdapat ribuan sekolah, mulai dari
SD, SMP, SMA, SMK, MA sampai ke Perguruan Tinggi.
Mayoritas perputakaan mereka hanyalah sebagai symbol atau
sebagai pelengkap dalam system administrasi sekolah. Malu
rasanya kalau suatu sekolah tidak punya perpustakaan. Namun
kita seharusnya menjadi lebih malu lagi karena ada ratusan ribu
anak-anak sekolah di nusantara ini yang tidak suka membaca.
Untuk membuktikan pernyataan ini, maka cobalah lakukan
survey mendadak ke berbagai sekolah dasar yang berlokasi
agak di luar kota, atau boleh jadi juga yang dalam kota, maka
akan ditemukan banyak SD yang perpustakaanya terkunci,
menjadi ruangan yang tidak menarik untuk dikunjungi . Yang
dijumpai hanyalah koleksi buku buku, Koran, majalah usang
yang telah berdebu dan kurang terurus dan koleksinya tidak
pernah bertambah, karena tidak punya uang untk membeli.
“tidak punya uang untuk membeli tetapi gerbang sekolah bisa
disulap jadi megah, inilah trendinya, pembangunan fisik lebih
penting daripada pembangunan mental”. Dan kalau pun ada
perpustakaan yang memiliki koleksi menarik, namun tetap
kekurangan pengunjung karena kurangnya sosialisasi untuk
menanamkan minat membaca pada siswa.
Di sekolah kecintaan membaca dan menyemarakan
perpustakaan kurang aktif, maka tak heran banyak murid SD
yang kerjanya hanya berkeliaran, melompat dan berlarian kian
kemari, saling mengejek, belajar bulyiing (menggertak) kawan-
kawan yang kecil dan lemah. Bagaimana kalau kita mulai
bermimpi supaya anak-anak ini ramai-ramai menyerbu
perpustakaan, tenggelam dalam mencintaai bacaan dan
berkelana keliling dunia lewat buku. Kalau ini bisa terwjud pasti
sekolah yang bersangkutan akan lebih menarik, siswanya lebih
kaya wawasan dan cerdas. Gurunya tidak perlu lagi mundar
mandir dari kelas ke kantor saat jam PBM karena bosan
mengajar siswa-siswa yang dianggap begok.
Di rumah amat jarang orang tua yang menyediakan
perpustakaan bagi keluarga. Yang ada hanya family theatre
atau teater keluarga. Lihat begitu banyak rumah dengan lemari
bagus untuk menempatkan televisi dengan layar besar, play
station, VCD player, tumpukan kepingan kaset CD, dan lain-lan
yang siap untuk menyala siang malam. Anak terbius atau
terpukau di depan layar, menikmati suguhan musik, iklan,
sinetron, dan film-film lain yang dating silih berganti. Sehingga
ada pertanyaan “Siapakah ibu yang ke dua bagi anak-anak mu
yang membuatnya lupa beraktivitas, berkarya dan belajar ?” Ya
tentu saja adalah televisi.
Aktifnya home thetra di rumah dan kurang berfungsinya
perpustakaan di sekolah telah membuat banyak anak didik kita
menjadi asing, gagap dan alergi dengan bacaan. Mereka tidak
berselera melihat buku. Kalau begitu apa saja yang
diperbncangkan oleh anak-anak sejak dari bangku sekolah
dasar sampai ke Perguruan Tinggi.
Karena umumnya pelajar kita amat gemar menonton maka
anak-anak yang duduk di bangku SD pada saat senggang akan
berbagi cerita tentang hantu, pocong, tuyul dan kutilanak yang
keluyuran untuk menakuti jiwa-jiwa mereka. Itu adalah akibat
mereka asik tenggelam menonton film-film sirik dan tahyul yang
banyak disuguhkan oleh televisi. Anak-anak yang duduk di
SMP akan asik ngobrol tentang model rambut punk, bagaimana
membikin rambut bisa warna warni, bagaimana penampilan
bisa gagah dengan model celana melorot. Kemudian anak-
anak di SMA mungkin sibuk merawat kulit agar tidak hitam dan
mendownload lagu dengan lirik-lirik yang banyak merangsang
libido, karena kata-kata yang sering muncul dalam lagu idola
mereka adalah katakata; peluk aku, cium aku, dekap aku,
bla…bla..bla.,? Remaja yang sering mendengar lirik-lirik lagu
yang menggambarkan kegiatan seksualitas dapat mendorong
mereka untuk mewujudkan dalam kehidupan seks mereka,
na’uzubillah.
Perguruan Tinggi rata rata punya gedung atau ruang
perpustakaan yang bagus. Tetapi percuma, karena budaya
malas membaca dan alergi dengan buku sudah tertanam sejak
dalam rumah tangga dan sejak dari SD maka yang terlihat
bahwa perpustakaan cendrung sepi pengunjung atau tanpa
pengunjung. Paling paling tempat ini dijadikan sebagai tempat
alternative untuk mojok atau pacaran , karena tenang, sepi dan
jauh dari usikan. “Nah mahasiswa sebagai calon sarjana, kaum
intelektual, sebagai agent of change- agen perubahan, namun
malas membaca, lantas kemudian bagaima kualitas
intelektualnya, kemudian sebagai agent of change ya apa yang
mau diobahnya ?” Bukan rahasia lagi kalau gaya hidup
mahasiwa juga seperti ABG, suka pamer penampilan, suka
buang-buang waktu, kerjanya cuma sekedar hadir ke kampus
dan pulang buat tidur, bermain gitar, main play station atau
jangan –jangan menghabiskan waktu untuk yang bukan-bukan,
pantasan banyak mereka yang enggan untuk wisuda “lebih
enak kuliah, dari pada tamat dan buru-buru jadi
pengangguran”.
Lantas apa yang harus dilakukan untk menggenjot kualitas
SDM bangsa ini. Tentu saja ada banyak pekerjaan rumah yang
perlu dilakukan untuk ini, salah satunya adalah kembali
melakukan pemberdayaan gerakan gemar membaca.
Pemerintah, alumni, stakeholder sekarang janganlah hanya
berfikir bagaimana bisa memiliki sekolah dengan gedung
bertingkat, sekolah dengan gerbang dan jalan hotmix namun
bagaimana bisa mengjajak anak anak dan memberi model
untuk kembali bisa mencintai membaca, tidak lagi alergi melihat
buku-buku. Kalau perlu di mana mana yang ada bukan iklan
rokok, atau iklan hiburan duniawi lain. Namun adalah juga iklan
dan baliho tentang buku-buku baru dan iklan agar pada rumah
dan tiap sekolah perlu punya pustaka yang representarif.
29. Jangan Hanya Mengejar Ranking Satu
Pendidikan adalah tanggung jawab masyarakat dan
pemerintah. Dewasa ini banyak orang tua telah memperlihatkan
partisipasi mereka dalam memajukan pendidikan atau Sumber
Daya Manusia (SDM) dengan cara mendukung pendidikan
anak-anak mereka. Pemerintah juga mendukung peningkatan
kualitas pendidikan melalui lembaga pendidikan atau sekolah,
mulai dari pendidikan rendah sampai pendidikan tinggi,
mendirikan sarana pendidikan, merenovasi sekolah yang
kurang layak, melatih guru-guru dan aparat pendidik,
menyediakan fasilitas dan beasiswa untuk meraih jenjang
pendidikan yang lebih tinggi.
Banyak orang tua yang sudah menunjukan kepedulian
terhadap kualitas pendidikan. Mereka tidak segan-segan
mengeluarkan dana yang besar untuk memilih sekolah yang
berkualitas bagi putra dan putri mereka. Sekolah sekolah
berlabel seperti “sekolah unggul, sekolah internasional, sekolah
akselerasi, sekolah percontohan, sekolah plus, dan label lain”
pasti diserbu dan daftar tunggu untuk tahun berikutnya sudah
dicarter, terutama bagi mereka yang berduit dan peduli pula
pada pendidikan bermutu.
Orang tua yang anak-anaknya cuma belajar di sekolah biasa-
biasa juga mendukung kualitas dan keberhasilan akademik
anak-anak mereka. Namun mayoritas dukungan orang tua
hanya baru sebatas sugesti. Kalau mereka berjumpa dengan
anak-anak yang masih duduk di bangku SD, SMP atau SLTA
maka secara spontan akan terucap suatu ekspresi: “Dapat
juara berapa kamu di sekolah ? Mengapa kamu tidak
juara….?”. Bila pas musim ujian datang maka orang tua juga
akan menebarkan simpati dan bertanya, “Dapat angka berapa
kamu dalam ujian ?”.
Memang simpati dan empati orang terhadap dukungan
semangat dalam mendidik baru sebatas menanyakan apakah
ada juara atau menanyakan skor yang diperoleh anak lewat
ujian. Ada kalanya orang tua sangat bangga begitu memiliki
anak yang yang malas belajar, namun setiap kali ujian selalu
memperoleh nilai tinggi, atau tiap kali menerima rapor, sang
anak memperoleh ranking satu dalam kelasnya. “Aku punya
super bandel, malasnya luar biasa….., tidak pernah belajar,
jarang uat PR (Pekerjaan Rumah), tapi kalau setiap semester
selalu memperoleh ranking satu dalam rapornya. Kalau ujian
nilainya ya selalu 90 atau 100”. Demikian celoteh sang ayah
atau sang ibu yang mungkin kerap kita dengar dalam
kehidupan sehari-hari.
Namun apakah bapak dan ibu, sang orang tua yang memiliki
konsep pendidikan berorientasi ranking satu atau nilai tinggi
semata, sadar dan tahu bagaimana cara mereka (anak anak
didik) memperoleh nilai atau ranking yang bagus? Anak-anak
cerdas dan rajin, selalu belajar keras, mempunyai hak untuk
memperoleh skor tinggi dalam ujian dan juara satu dalam rapor
pada akhir semester. Namun para orang tua perlu berfikir dan
mencari tahu “kok anak pemalas, sering membolos, malas
membuat tugas sekolah, bisa juara satu ?”. Atau ada sekolah
dengan anak didik yang suka keluyuran saat jam pelajaran dan
guru-guru dalam mengabdi penuh kelesuan, tiba-tiba tercatat
sebagai sekolah hebat, karena skornya melejit mengalahkan
sekolah yang sudah teruji kualitasnya.
Nilai 100 yang diperoleh anak pemalas pasti diperoleh lewat
cara-cara tidak halal, kemungkinan “anak tersebut memang
jago dalam mencontek”. Demikian pula tentang sekolah yang
kualitasnya lewat kertas bisa disulap lewat rekaya saat ujian
dan tipuan-tipuan jitu untuk mencari pamor sekolah yang penuh
kepalsuan. Apalagi yang sering terpantau tentang proses
penilaian atau proses asessmen yang dilakukan oleh tim penilai
hanya berkutat mencatat dan seratus persen mempercaya data
yang ada pada selembar kertas di suatu sekolah. Idealnya
mereka mengadopsi kinerja penilaian yang sudah valid dan
terpecaya.
Semua orang di dunia tahu bahwa Amerika Serikat, Jepang,
Perancis, Jerman dan Cina adalah Negara yang hebat. Namun
dalam penempatan ranking negara-negara yang memiliki SDM
terbaik, ternyata bukan negara tersebut yang menempati posisi
‘satu, dua, tiga dan empat”. Dalam indicateur du develepoment
humain(IDH) atau indikator tingkat SDM negara yang
menempati posisi “satu, dua, tiga dan empat, adalah Norwegia,
Australia, Kanada dan Swiss”. Penempatan ranking SDM untuk
ukuran dunia begitu cermat dan hati-hati (Francisco Vergara
dalam Didiot Beatrice (2001). Sementara penempatan ranking
yang dilakukan oleh tim penilai untuk sektor pendidikan di
negara kita, seringkali membuat kita “tertawa terbahak bahak”
dalam arti kadang kala adalah sangat tidak logika, miskin
indicator dan tidak reliable.
Suatu ketika ada orang tua murid bertanya tentang apakah
anak penulis juara satu di kelas atau tidak. “Maaf, anak-anak
tidak terlalu saya tuntut untuk jadi juara, kalau juara itu
diperolehnya lewat mencotek, atau karena factor saya memberi
hadiah pada bapak dan ibu guru nya di sekolah. Yang penting
dalam belajar, orang tua selalu memompakan motivasi,
menyediakan fasilitas dan memberikan model tentang belajar
dan anak-anak pun sudah terbiasa belajar serta merasakan
belajar; membaca dan menukis sebagai kebutuhan primer
mereka. Apa gunanya anak juara kelas namun tidak betah
membaca, mengeluh kalau disuruh belajar… dikhawatirkan
bahwa juaranya diperoleh lewat jalan yang tidak benar, atau
sang anak menjadi juara karbitan”
Sekali lagi tentang fenomena mencari ranking dan nilai dalam
ujian. Bahwa memperoleh ranking di sekolah sebagian
diperoleh dan dilakukan dengan cara-cara gentlement atau
penuh tanggung jawab – karena sang siswa memang cerdas,
tekun dan disiplin dalam belajar. Namun sebahagian yang lain
memperoleh dan berjuang mencari nilai dengan cara culas-
merendahkan harga diri. Karena malas belajar hingga tidak
mengerti maka terpaksa mencontek, melihat catatan agar nilai
ujian tinggi dan supaya bisa juara satu (agar orang tua merasa
bangga karena sang anak juara). Sebab kalau tidak juara maka
anak akan kena bentak “percuma saja kamu rajin belajar, ikut
les itu dan ini namun tidak juara. Lihat si Didi santai santai saja
tetapi bisa juara”.
Terlihat bahwa proses perekrutan- atau penerimaan- siswa
baru pada banyak sekolah di negeri ini, setiap tahun, betul-
betul belum professional. Hanya berdasarkan pada porto folio
yang datanya susah untuk dipercaya- rapor penuh dengan nilai
kasihan atau nilai pergaulan, skor dan ranking kelas diperoleh
lewat perjuangan penuh contekan. Memang sebagian nilai
porto folio- nilai ijazah, nilai rapor, nilai UN (ujian nasional)
sebagian bisa merefleksikan potensi anak, namun tidak jarang
juga merefleksikan penuh kepalsuan atas penyelenggaran
pendidikan di sekolah sekolah sebelumnya.
Pada suatu sekolah SMP yang agak favorite terpantau nilai
sains dan nilai mata pelajaran sosial anak didik berkisar antara
80 dan 90 (sangat luar biasa). Namun dalam PBM (proses
belajar mengajar) telah ditebar kekecewaan demi kekecewaan.
Angka tinggi dalam ijazah belum mencerminkan kebodohan
anak “Wah bagaimana cara guru guru kamu saat di SD
memberi nilai, kok nilai kamu 80, 90 dan 100, dalam
kenyataaan kamu sendiri tidak tahu dua tabah dua sekarang
alias bloon”. Gerutu seorang guru penuh rasa kesal.
Inilah fenomena di lapangan bahwa agar nilai siswa bisa tinggi,
maka guru melatih siswa untuk menyelesaikan soal soal ujian
lewat program bimbel (bimbingan belaja). Kalau perlu di
datangkan guru yang dianggap berbobot dari luar. Namun ada
pula sekolah atau guru merekayasa tempat duduk siswa
selama ujian (karena biaya bimbel amat mahal dan bias
mencekik leher orang tua) agar mereka bisa saling bekerjasa
sama- melegalkan budaya contekan. Inilah sekarang sebuah
patologi edukasi (penyakit dalam dunia pendidikan) yaitu
melegalkan pembohomgan, melegalkan rekayasa, menilai tidak
professional dan mendidik tidak sepenuh hati. Orang tua dan
masyarakat mungkin heran bahwa anak atau sekolah yang
proses pendidikannya tidak sempurna- biasa biasa saja, tiba
tiba prestasinya melejit tinggi. Sang anak kemudian di sanjung
atau kepala sekolahnya dan guru guru disebut sebut sukses
(walau dalam kepalsuan) dalam mendidik siswa mereka.
Program dan budaya mengejar ranking satu dan ujian untuk
mencari nilai tinggi tidak ada salahnya asal dikelola dengan
jujur, professional dan bertanggung jawab. Namun Syofyan
Djalil, Menteri Negara BUMN pada Kabinet Indonesia Bersatu
periode pertama (www.nuonline.com) kurang sependapat. Ia
mengatakan bahwa system ranking menciptakan generasi
pintar namun anti atas kritikan. Dikatakan bahwa pendidikan di
Indonesia masih melanggengkan sistem ranking di kelas
sehingga para pelajar yang “masuk ranking” tumbuh menjadi
manusia yang merasa dirinya pintar, egois dan tidak bisa
menerima kritikan.
Di negara kita anak-anak diberi ranking. Akibatnya anak-anak
pintar menjadi sangat tidak menarik pribadinya. Akibat sistem
ranking ini, para siswa yang juara padahal kemampuannya
biasa biasa saja akan merasakan dirinya sebagai “winner” atau
jagoan. Anak anak yang sebenarnya pintar tapi karena
penilaian tidak reliable- guru kurang fair dalam menilai-
membuat mereka sebagai loser” atau pecundang dan kondisi
psikologis ini bisa meruntuhkan rasa percaya diri yang sangat
penting tersebut.
Produk sistem pendidikan nasional yang menghasilkan anak-
anak pintar namun tidak bisa menerima kritik ini telah dirasakan
dampaknya oleh sejumlah lembaga pemerintah dan non
pemerintah. Sebagai contoh, Sofyan Djalil menyebutkan
sejumlah diplomat senior Departemen Luar Negeri RI tentang
karakter sejumlah diplomat muda yang sekalipun pintar namun
“sangat egois” dan “tidak bisa menerima kritikan”. Kekeliruan
lain dari sistem pendidikan kita selama ini adalah kurang
berkembangnya kreativitas anak didik.
Kini pemerintah, sekolah dengan unsur gurunya, kepala
sekolah, komite sekolah dan para alumni, dan juga masyarakat
perlu bahu membahu untuk memantapkan kualitas pendidikan
dan membina karakter anak anak didik. Adalah patut untuk
berfikir dan meninggalkan konsep pendidikan yang terlalu
berorientasi kepada berharap nilai dan ranking tinggi, dan tanpa
usaha yang professional. Kemudian sangat layak kalau kita
membudayakan belajar dengan memberikan penghargaan
pada proses pembelajaran yang matang, meningkatkan
manajemen dan penilaian, serta menumbuh kembangkan
kreativitas dan kesediann menerima kritikan demi kemajuan.
Tentu saja bukan asal kritik yang menyedihkan namun kritikan
yang santun dan bijaksana.

30. Mendidik Karakter Anak Sejak Dini


Bagaimana karakter bangsa Indonesia di mata bangsa-bangsa
di dunia ? Pasti umumnya mereka mengatakan bahwa bangsa
Indonesia ramah-tamah dan suka tolong -menolong, gotong
royong. Sekaligus bahwa adalah ciri khasnya. Namun coba
baca dan ikuti berita yang ada pada elektronik dan media
massa cetak dewasa ini. Ternyata banyak orang kita yang suka
berkelahi, korupsi dan saling memaki. Malah kadang-kadang
ada siswa dan mahasiswa yang senang tawuran. Ini
menandakan pendidikan dan pembinaan karakter di rumah dan
di sekolah, prosesnya, kurang memperoleh perhatian penuh.
Sebelum deteriorasi- pemburukan- karakter terjadi, maka guru
dan orang tua musti peduli untuk mendidik dan membina
karakter anak.
Membina dan mendidik karakter, dalam arti untuk membentuk
“positive character” generasi muda bangsa ini. Agar positive
character terbentuk, maka anak perlu dilatih melalui
pembiasaan “mandiri, sopan santun, kreatif dan tangkas, rajin
bekerja, dan punya tanggung jawab”.
Melatih anak mandiri perlu pembiasaan sejak usia dini. Ada
anak yang sudah menunjukan tanda-tanda kemandirian saat
usia kecil, misalnya mereka menolak untuk disuapi dan ingin
makan sendiri. Tanda kemandirian yang lain adalah seperti
mencuci tangan, makan, dan memakai sepatu sendiri, sekali
lagi bahwa ini adalah awal untuk mandiri dan itu perlu dipupuk.
Namun karena orang tua ingin buru-buru dan ingin serba cepat,
maka mereka cendrung mengambil alih aktivitas kemandirian
anak tersebut.
Seharusnya, demi pendidikan masa depan anak, maka mereka
musti melatih kemandirian. Untuk itu biarkan anak berbuat dan
biarkanlah salah sampai batas tertentu. Kontrol yang berlebihan
dari orang tua dan sikap yang membesar-besarkan kesalahan
akan membuat anak jadi ragu dan malu. “Hei jangan begitu….,
sandal terbalik terus….!”, Teriakan-teriakan begini berpotensi
mematikan kemandirian mereka.
Bagaimana melatih anak agar tahu tentang sopan santun ?
Guna mendorong anak supaya bertingkah laku yang penuh
dengan kesopanan, maka orang tua memberi model- uswathun
hasanah terlebih dulu. Misalnya orang tua mulai dengan
mengucapkan terima kasih dan mengekspresikan pujian dan
berterima kasih pada siapa saja, “Terima kasih atas batuan mu
telah memasukan sandal papa ke dalam rumah, ……kamu
anak yang bagus….!”. Yang harus diingat dalam melatih anak
adalah bahwa jangan berharap anak berusia empat tahun
bertinggah seperti anak usia tujuh tahun.
Kreatifas dan ketangkasan anak juga perlu dipupuk- dimotivasi
terus. Kreatifitas yang dimiliki seseorang/ anak sebenarnya
berasal dari imajinasi, sebagai kumpulan dari ide-ide mereka.
Imajinasi dapat memuat mereka menjadi kreatif. Kreatifitas
anak sangat tergantung pada kesempatan yang diberikan
lingkungan. Kreatifitas harus dirangsang sedini mungkin- sejak
usia kecil- usia dua atau tiga tahun dalam suasana bermain.
Orang tua perlu merangsang kreatifitas mereka lewat proses
interaksi dan menyediakan fasilitas bermain. Untuk membuat
anak kreatif, pendidik (guru dan orang tua) harus menerima
eksistensi anak apa adanya dan tidak cepat memberikan kritik
pada tingkah laku dan kebebasan mengungkapkan perasaan.
Membiasakan anak untuk rajin bekerja adalah cara lain untuk
mendapatkan anak yang berkarakter positif. Untuk itu orang tua
musti membolehkan anak untuk memilih pekerjaan atau tugas
rumah yang paling disukainya dan jangan berharap agar ia
bekerja sempurna. Agar pekerjaan anak meningkat kualitasnya,
maka orang tua perlu memotivasi dan sering memberi
penghargaan atas keberhasilan kerja yang mereka lakukan.
Tampaknya anak yang ideal, karena memiliki karakter positif,
juga perlu menyukai olah raga. Mereka perlu diajar untuk
berolah raga agar otot-otot, paru-paru dan jantungnya kuat.
Anak-anak yang gemar berolah raga, tubuh mereka tampak
tegap dan kekar- tidak lemah atau lunglai.
Selanjutnya tentang melatih tanggung jawab pada anak. Perlu
kita ketahui bahwa tanggung jawab tidak terpasang sejak lahir.
Ia perlu dilatih setiap hari, dan melibatkan anak-anak dalam
kegiatan di rumah. Bentuk pelaksanaanya adalah dengan
memberi mereka pekerjaan yang tetap. “menyiram bunga dan
menyapu teras adalah tanggung jawab Nadilla, menyapu
rumah dan membuang sampah adalah tanggung jawab
Fakhrul, memasak nasi, membersihkan dapur dan kamar mandi
adalah tugas Kak Hafiza……!”. Demikian cara orang tua
menanamkan tanggung jawab melalui pembagian tugas.
Barangkali pada mula memperkenalkan pembagian tugas atau
tanggung jawab ini, sebagai disiplin kerja, mungkin terlihat
sedikit dalam sikap yang agak otoriter (agak tegas) agar anak
bisa menurutinya.
Tiap anak berpotensi terjebak ke dalam karakter negative,
maka orang tua pun perlu untuk memahaminya. Beberapa
bentuk karakter negative seperti anak suka berbohong ,
pemalu, anak merasa minder, bersifat agresif, suka
membangkang, dan kebiasaan bertengkar. Karakter negative
tentu ada pemicunya dan orang tua tentu perlu bersikap bijak
dalam menghdapinya..
Mengapa anak suka berbohong ? Penyebabnya adalah karena
orang tua yang terlalu gemar memberikan hukuman,
membentak anak, sehingga jadi berbohong. Berbohong karena
mereka takut diberi hukuman atau sebagai strategi untuk
menutupi rasa malu. Adalah sangat bijak bila orang tua lebih
gemar memberi pujian- penghargaan- dari pada gemar
menghukum dan membentak sang anak- kecuali memberikan
hukuman yang lebih menyentuh/ bersifat educatif.
Bagaimana strategi orang tua dalam menghadapi anak yang
penakut ? Maka terlebih dahulu orang tua musti memahami
penyebab timbulnya rasa takut pada anak. Jangan remehkan
perasaan takut anak kecil. Terimalah ungkapan takut anak,
tetapi jangan membesar-besarkan ketakutan itu.
Menghilangkan rasa takut dengan membujuk dan mendekatkan
anak pada objek yang ditakuti perlahan-lahan. Orang tua perlu
tahu bahwa rrasa takut dapat hilang berangsur-angsur, bukan
dalam sekejap mata.
Dalam hidup ini selalu ada anak yang berani dan anak yang
pemalu. Sifat pemalu timbul karena anak yang kurang suka
bergaul dengan orang lain, tidak mudah mencari teman,
pendiam dan dicap sebagai anak pemalu. Perlu untuk dipahami
bahwa anak pemalu biasanya juga bersifat pendiam dan suka
memilih-milih teman. Namun bila ia sudah terbiasa dengan
teman atau lingkungan sosial tertentu maka karakter malunya
akan tanggal/ lepas.
Rasa malu dapat diakibakan oleh kurangnya rasa Pe-de
(percaya diri). Percaya diri terganggu karena kebiasaan orang
tua yang suka membanding-bandingkan anak, anak kurang
bergaul, atau orang tua terlalu melindungi anak sehingga anak
jadi kurang mandiri dlam bergaul- mencari teman. Untuk
mengatasi sikap malu- maka orang tua jangan menggelari
anak-anak sebagai “pemalu” dan biasakan untuk menghargai
anak, rangsang anak untuk mengekspresikan perasaan serta
pendapatnya di rumah.
Ada anak yang suka minder- atau merasa rendah diri atau
inferior complex. Perlu untuk diingat bahwa orang minder sulit
untuk maju dan tidak suka untuk berbuat. Rasa minder timbuk
setelah memasuki masyarakat. Minder penyebabnya karena
faktor biologis- cacat fisik- dan gangguan psikis. Faktor lain
adalah karena kebiasaan orang tua dalam membandingkan
anak yang inferior dengan anak yang superior, “lihat kakak mu
cerdas, kamu kok blooon, terus”. Kebiasan seperti ini, sekali,
dapat menyebabkan anak menjadi minder. Untuk mengatasinya
maka terimalah eksistensi anak apa adanya. Kalau anak belum
berhasil, jangan dikritik, tetapi besarkanlah hatinya dan sekali
lagi- jangan membandingkan anak.
Cukup banyak anak yang berprilaku agresif. Karakter agresif
bisa merugikan eksistensi mereka dalam bergaul, karena
banyak orang kurang menyukai karakter agresif. Dalam bahasa
Minang anak agresif juga disebut sebagai “anak yang lasak”,
atau terkesan suka mengganggu atau usil. Karakter agresif
terbentuk pada mulanya karena anak dalam keadaan lelah atau
sakit, dan mereka mudah jadi agresif.
Anak yang sedang bersedih atau sedang takut juga mudah
agresif. Anak yang tidak punya permainan bisa menjadi
bersedih dan selanjutnya menjadi agresif. Sebaiknya orang tua
memberikan kesan yang tenang dan tidak emosi terhadap anak
yang agresif. Untuk menyalurkan agresif anak, ya dengan
melakukan olah raga dan olah otot.
Karakter suka membangkang, ini terbentuk karena orang tua
suka bersikap keras dan mendikte. Untuk itu orang tua
seharusnya menghadapi anak-anak yang pembangkang
dengan tenang dan wajar saja. Agar anak tidak membangkan
maka tidak usah terlampau sering menyuruh anak mengerjakan
ini dan itu. Biarkan ia mengenakan dan memakai baju dengan
cara sendiri.
Bertengkar kadang kadang atau malah sering mewarnai
kehidupan rumah, sekolah dan sosial. Kalau pertengkaran
antar anak terjadi di rumah maka orang tua tidak perlu
mengusut siapa yang salah atau benar. Lebh baik anjurkan
anak supaya berdamai dan alihkan perhatikan mereka.
Bagaimana kalau yang bertengkar bukan anak, tetapi malah
adaltah dan ibu itu sendiri ? Bila ada beda pendapat,
pertengkaran, antara ayah dan ibu maka tidak dibenarkan ayah
dan ibu untuk menyalahkan pasangan di depan anak anak dan
mereka harus menahan emosi. Membesar besarkan
kekurangan anak, atau kekurangan seseorang hanya
menimbulkan perselisihan belaka.
Pertengkaran juga bias disebabkan dari cara berkomunikasi
yang tidak cocok, terlalu suka meledek, suka bercanda yang
menyinggung pribadi, tidak menghiraukan pembicaraan orang.
Pertengkaran ayah dan ibu di depan anak dapat mengganggu
psikoseksuil dan watak anak. Ibu yang sering menjelek-jelekan
ayah didepan anak laki-laki, berpotensi membuat anak laki laki
kurang maskulin, dan sukar jatuh cinta dengan lawan jenis.
Some do’s dan some don’t’s untuk orang tua, some do-s,
berarti beberapa anjuran, dan some don’t’s, berarti beberapa
larangan bagi orang tua terhadap anak dan berpotensi dalam
menumbuh-kembangkan karakter positif mereka. Beberapa
anjuran terhadap orang tua dalam membina karakter anak
adalah seperti melowongkan waktu untuk melakukan traveling,
berkomunikasi, menumbuhkan sikap ingin tahu dan
meningkatkan aktivitas untuk menumbuhkan potensi kognitif
anak. Sementara orang tua disarankan agar tidak terlalu
memanjakan anak dan jangan terjebak dengan kebiasaan “asal
serba melarang”.
Aktivitas traveling sangat bermanfaat untuk menumbuhkan
kecerdasan anak dalam memahami alam dan lingkungan.
Seharusnya bila keluarga melakukan kegiatan traveling maka
jadikanlah anak bagian dari rencana traveling orang tua. Kalau
melakukan traveling maka sediakan kesibukan untuk anak
supaya mereka tidak rewel atau bosan; dengan menyediakan
mainan, bacaan, makanan dan minuman.
Komunikasi adalah sarana untuk menyatukan hati atau emosi
semua anggota keluarga. Komunikasi harus dipelihara sejak
anak-anak masih kecil, sampai mereka remaja dan dewasa.
Disamping berkomunikasi, orang tua juga perlu untuk bekerja
sama dengan anak. Komunikasi yang baik dimulai dengan
menjadi pendengar yang baik. Orang akan terbuka kalau fikiran
dan ide-ide mereka diperhatikan.
Agar memiliki anak yang cerdas dan punya karakter positif
maka orang tua perlu untuk menumbuhkan sikap ingin tahu.
Sikap tidak buru buru dalam mencampuri privacy- hak pribadi
anak- adalah salah satu cara untuk menumbuhkan rasa ingin
tahu mereka. Dalam menanamkan pengaruh pada anak, orang
tua lebih efektif lewat contoh atau model langsung, daripada
melalui ceramah, khotbah atau penjelasan secara lisan. Karena
penjelasan secara lisan akan mudah dilupakan. Namun
pengalaman yang nyata cendrung akan diingat sepanjang
hayat.
Bermain juga bisa merangsang rasa ingin tahu anak. Oleh
sebab itu tidak ada gunanya memarahi anak kecil yang tengah
asyik bermain. Orang tua perlu menyediakan waktu untuk
mengamankan benda kesayangan atau benda yang
membahayakan dari jangkauan anak. Jika orangtua
merangsang sifat ingin tahu anak, kemungkinan besar
inteligensinya dan daya cipta mereka akan meningkat.
Rasa ingin tahu anak juga tumbuh melalui pergaulan.
Pengalaman bergaul sangat besar pengaruhnya bagi proses
perkembangan anak, baik pengalaman pahit maupun
pengalaman yang manis, dan kedua-dua bentuk penglaman
tersebut sama pentingnya.
Orang tua juga perlu untuk menumbuh kembangkan kognitif,
otak, anak. Kecerdasan kognitif bisa memberi dampak pada
pembentukan karakter positif Aktifitas yng lain untuk kognitif
seperti menggambar, musik, dan menyediakan buku bacaan.
Sejak usia kecil anak-anak suka coret coretan- namun orang
tua yang gemar melarang, berpotensi membunuh kreatifitas
anak. Beruntunglah anak yang punya orang tua menyalurkan
aktifitas ini. Aktifitas lain yang disenangi anak adalah
menggambar. Kegiatan menggambar dapat mebantu anak
untuk memahami dunia sekitar mereka.
Musik merupakan konsumsi jiwa. Ia dapat memberikan
perasaan tenang, rasa sedih, senang dan gembira. Bagi
kehidupan anak dan remaja, tidak ada instrument yang lebih
baik daripada musik. Akhirnya, anjuran yang patut untuk
dilakukan orang tua pada anak adalah menyediakan buku
bacaan untuk anak.
Betapa besarnya peran buku dalam kehidupan anak.
Banyaknya seorang anak dibacakan buku atau diberi dongeng
dalam usia dini/ atau usia muda sangat menentukan suksesnya
kelak mereka di sekolah. Anak yang kurang suka buku karena
buku tidak menarik, atau orng ua agak terlambat
memperkenalkan buku, atau juga kurang memberi rangsangan
untuk membaca pada anak. Bila kemampuan membaca anak
sudah bagus, maka selipkanlah buku non fiksi. Buku adalah
karcis untuk pergi ke mana-mana dan membaca adalah cara
terbaik untuk mengisi jiwa dan otak.
Akhir kata ada dua hal yang perlu untuk ditinggalkan oleh orang
tua, yaitu terlalu memanjakan anak dan kegemaran serba
melarang. Anak terlalu manja- memenuhi segala keinginan
anak dan serba dilindungi- akan sulit untuk melepaskan diri dari
orang tua. Ia sudah merasa aman dalam perlindungan orang
tua dan takut menghadapi dunia luar. Tidak perlu terlalu
memenuhi perhatian anak yang butuh perhatian, cuekan saja.
Ini berguna agar ia dapat mandiri dalam hal emosi. Sebab rasa
sayang tidak berarti menuruti semua keinginan anak. Berjuta
anak di dunia menjadi rusak karena dimanja dan terlalu
dilindungi.
Jangan asal melarang, orang tua tidak perlu asal melarang
anak. Tetapi tanpa melarang seorang anak mungkin kehilangan
arah dan keseimbangan jiwa. Jangan melarang kegiatan yang
dibutuhkan anak untuk perkembangan dan pertumbuhannya.
Dalam melarang orang tua tidak perlu mengomel atau memaki
yang tidak karuan . Ini dapat membuat anak merasa benci pada
orang tua. Maka kini agar bangsa Indonesia dan generasi muda
Indonesia tetap memiliki karakter terpunyi maka guru dan orang
tua perlu mendidik dan membina karakter mereka secara total,

31. Pedulilah Terhadap Keselamatan Diri


Fenomena dalam bidang transportasi yang terlihat dewasa ini
adalah pekarangan sekolah tidak lagi sekedar menjadi taman
bunga, tetapi telah menjadi show room atau arena pajang bagi
kendaraan roda dua/ sepeda motor milik pelajar (bagi sekolah
anak-anak orang kaya mungkin yang berjejer adalah kendaraan
roda empat yang berharga ratusan juta rupiah). Di sana kita
bisa menemukan bermacam- macam merek sepeda motor
seperti Yamaha, Suzuki, Honda, Kymco, atau nama-nama
sepeda motor seperti; Jupiter, Vario, Vegar, Mio, Supra, dan
lain-lain. Ini berarti bahwa sepeda motor sudah menjadi
kebutuhan mereka dan orang tua sudah menganggap anak
cukup matang dan sudah saatnya untuk memiliki sepeda motor.
Namun apakah orang tua sudah siap mental kalau anak
terjatuh, tabrakan- ditabrak atau menabrak orang dan benda
lain, kemudian dibawa ke rumah sakit dan paling akhir dibawa
ke kuburan ?
Pada umumnya sepeda motor sebagai sarana transport mulai
digunakan oleh pelajar tingkat SMP dan SLTA (SMA, MAN dan
SMK). Sayangnya mereka umumnya belum cukup umur untuk
menyetir atau mengendarai sepeda motor. Banyak dari mereka
yang belum memiliki izin (license) dari kepolisian. Kalau begitu
mereka semuanya dapat dikatakan sebagai pengendara
sepeda motor illegal. Dan memang cukup banyak pelajar yang
memiliki sepeda motor legal, tetapi mereka- sekali lagi- adalah
pengendara yang illegal dan berpotensi sebagai pembuat
masalah di jalan raya.
Memang pada umumnya korban lalu lintas di jalan raya
mayoritas adalah remaja (anak-anak sekolah dan mahasiswa).
Rumah-rumah sakit pada saat event tertentu yang
berhubungan dengan keramaian umum- seperti tahun baru,
pada saat diselenggarakannya concert di kota, saat lebaran,
saat tahun ajaran baru- sering menerima pasien ganteng-
ganteng dengan anggota tubuh patah, tubuh robek, batok
kepala luka atau bocor, sampai kepada tubuh yang sudah
menjadi mayat. Sekali- sekali rumah sakit juga menerima
pasien cantik, karena pelajar wanita juga sering menjadi korban
dalam menggunakan sepeda motor.
Di mata pelajar, sepeda motor itu apakah sebagai sarana
transportasi atau sarana untuk bergaya ? Jawabnya adalah
sepeda motor di mata pelajar/ remaja adalah sebagai sarana
untuk transport dan juga untuk bergaya. Malah sepeda motor
juga sebagai sarana untuk game, untuk melakukan road race
seperti game dalam play station yang sering mereka mainkan.
Dan sekarang dengan kemurahan hati orang tua yang
sebahagian tanpa pengawasan sudah membuat anak menjadi
lakon- pelaku utama- dalam road race- ngebut- sambil pergi
dan pulang sekolah. Yang bisa melaju cepat dengan kecepata
100 m/jam atau lebih itu yang jago. Yang bisa slalome, jalan
mangalewa-ngalewa, untuk menghalangi teman dan juga
mengganggu pengendara lain itulah yang jago jalanan. Kalau
mendapat kecelakaan ya resiko dan tanggung sendiri.
Menjadi pengendara sepeda motor yang standar atau yang
ideal sering dipandang kuno. Sepeda motor yang memasang
dua buah kaca spion dianggap sebagai sepeda motor orang
udik karena kaca spion nya ibarat dua tangan yang sedang
mengemis. Menurut pandangan mereka harus diganti dan dibeli
yang berukuran kecil. Mengubah bahagian sepeda motor ini
disebut dengan istilah modifikasi.
Modifikasi sepeda motor adakalanya bisa memecahkan selaput
gendang telinga orang lain dan kalau lepas kontrol dari
pandangan polisi lalu lintas, seperti pelajar yang berada di
daerah jauh dari jangkauan wibawa polisi, mereka seenak hati
memasang knalpot racing dan ngebut sambil mengepulkan
suara, menganggu masyarakat sepanjang jalan. Modifikasi
negatif lain adalah memasang cahaya lampu yang menyilaukan
mata pengenadara lain dan pejalan kaki. Sedangkan modifikasi
yang membuat kendaraan lebih ceper akan berpotensi untk
terjatuh dan mencederai tubuh sendiri, namun orang tua
mereka sudah restu atau tidak mengerti ?
Pengendara yang ideal adalah pengendara yang selalu
membawa SIM (Surat Izin Mengemudi) dan STNK (Surat Tanda
Nomor Kendaraan bermotor), menjaga kebugaran tubuh dalam
berkendaraan, memeriksa kendaraan sebelum berangkat dan
memakai helm dan memahami serta mematuhi rambu-rambu
lalu lintas. Namun sayang semua ketentuan ini direspon oleh
sebahagian pelajar dengan cara basa-basi, atau sekedar
mengambil muka saja pada Bapak dan Ibu polisi.
Perhatikanlah setiap pagi atau setiap waktu, bila jalan raya
dipadati oleh pengendara remaja. Bila dalam kota, semua
orang menjadi pengendara sepeda motor yang santun-
pengendara yang standard. Sebagian sudah menjai safety
driver. Namun cukup banyak pengendara yang terpaksa santun
atau pura-pura santun sekedar menyenangi hati penegak
hukum- polisi lalu lintas. Namun lepas dari kontrol polisi, di
wilayah jauh dari pasar atau luar kota, maka timbul prilaku
pengendara motor remaja yang ugal-ugalan.
Sebahagian pelajar lebih sayang pada model rambut- punk-
berdiri ibarat bulu tupai karena diberi jelly, atau model rambut
wet look, atau juga karena sisiran rambut, cara pasang
selendang dan jilbab (bagi pelajar wanita) sedang lagi apik.
Maka mereka merasa risih kalau memakai helm, dan karena
wajib memakai helm, maka helm lebih baik dipegang saja-
sebagai cara waspada kalau nanti melalui wilayah polisi, cukup
ditenggerkan saja sedikit di atas sisiran rambut, jangan sampai
sisiran rambut jadi kusut. Karakter memakai helm secara basa
basi ini dilakukan oleh penumpang yang berboncengan dan
tidak memakai helm secara tidak wajar telah mendatangkan
banyak korban. Mereka cendrung berkarakter sama saat
melaju kencang atau ngebut.
Kita berterima kasih kepada kepolisian pada beberapa kota
yang punya prinsip say no to helmet non standard. Pengendara
memakai helm non standard harus disita helm nya, karena
helm ini telah berpotensi membuat puluhan kepala pengendara
sepeda motor jadi terkoyak dan menghantarkan mereka
kepada kematian yang dipercepat.
Entah mengapa nenek moyang kita merancang jalan raya
dengan ukuran lebar yang sempit. Barangkali mereka berfikir
bahwa pada masa selanjutnya yang akan lewat itu tetap
kendaraann tradisionil seperti pedati, dokar, pejalan kaki,
sepeda, beca, motor pit dan sekali- sekali lewat bus umum. Di
tahun 1960-an, 1970-an dan tahun 1980-an bentuk transportasi
umum masih bercorak tradisionil. Pengguna jalan raya masih
bisa merasakan kenyamanan di jalan raya. Namun dalam tahun
2000-an bentuk transportasi sudah berubah drastis. Jalan jalan
sudah terasa sangat sempit karena yang lewat adalah booming
nya mobil dan sepeda motor. Ada ribuan kendaraan roda
empat dan roda dua dengan sopir atau pengendara yang
kadang-kadang kurang sadar dengan keselamatan nyawa
orang lain sudah menggilas ribuan tubuh manusia.
Jalan raya sudah menjadi tempat parade bermacam-macam
merek dan jenis kendaraan. Dari mobil baru sampai ke
kendaraan tua yang selalu mengepulkan asap untuk merusak
paru-paru manusia. Seharusnya semakin padat jalan raya,
maka pengemudi- termasuk pengendara pelajar- seharusnya
berkendaraan lebih hati-hati dan pelan-pelan. Namun ironisnya
sekarang banyak pengendara roda empat dan roda dua yang
seolah-olah kurang punya hati nurani lagi. Mereka mengendarai
kendaraan cukup kencang dan menganggap jalan-jalan ini
ibarat sirkuit balapan, dan nyawa orang lain sebagai
taruhannya, seolah-olah nyawa tidak berharga lagi, Hampir
setiap hari ada berita tabrakan dan mungkin tiap jam nyawa
manusia melayang. Oknumnya apakah sengaja atau tidak
sengaja harus dihukum untuk mempertanggung jawabkan
prilakunya. Namun karena keberadaan uang maka perdamaian
dapat dilakukan dan nyawa seolah-olah sudah bisa dibeli
dengan uang. Sebahagian besar korban lalu lintas adalah para
pelajar sendiri.
Pengenadara remaja harus memahami tentang safety riding.
Sekali lagi bahwa fenomena yang sering terlihat bahwa banyak
pengendara sepeda motor yang ugal-ugalan; ngebut, bonceng
tiga, mengelewa ngelewa (slalome), mendahului pengendara
lain dari sebelah kiri, sehingga mengganggu pengendara lain.
Begitu juga banyak pejalan kaki yang terganggu oleh karakter
pengenndara remaja, “Minta ampun ambo jo pengendara anak
sikolsa kini, alah bajalan di tapi-tapi masih hampia nyo gilliang
ambo- sangat disayangkan dengan karakter pengendara
remaja, masih nekad melaju sampai ke pinggir jalan”. Memang
demikian karakter sebahagian pelajar, kalau tidak kena tabrak
ya menabrak orang lain.
Safety riding memang perlu keseriusan untuk disosialissikan di
sekolah dan di rumah. Orang tua perlu commit untuk
mengizinkan anak mengendara kalau sudah dibelikan
kendaraan. Kalau mereka tidak taat peraturan dan cendrung
menjadi raja jalanan maka lebih baik mereka tidak dibelikan
sepeda motor atau dicabut lagi kepemilikan sepeda motor
mereka. Sangat patut bahwa pengendara sepeda motor harus
menyayangi keselamatan diri dan menyayangi keselamatan
orang lain lewat prilaku bersopan santun di jalanan.
32. Memiliki Semangat Kerja Keras
Empat puluh tahun lalu atau lebih kualitas SDM (Sumber Daya
Manusia) Indonesia masih sejajar dengan Negara Korea (Korea
Selatan), Thailand, Taiwan dan Malaysia. Namun kini setelah
empat puluh tahun (di tahun 2000-an ini) pertumbuhan SDM
bangsa tercinta ini terkesan amat lambat. Pada hal penduduk di
negara itu sejak dulu sama karakternya dengan bangsa kita,
sama-sama suka makan nasi. Dulu semangat kerja bangsa kita
(para pemuda 40 tahun yang lalu) masih sama dengan
semangat kerja pemuda mereka.
Dalam tahun 1950-an dan 1960-an semangat kerja keras
bangsa Indonesia cukup bagus dan menonjol. Dapat dikatakan
bahwa semangat berdagang atau berwirausaha pemuda
Minang, sebagai contoh, menyamai semangat saudara kita dari
etnis Cina. Zoelverdi (1995) menulis tentang beberapa orang
yang sejak muda memiliki etos wirausaha yang sangat bagus.
Mereka adalah seperti Hasyim Ning, Fahmi Idris, Darnis Habib,
Baihaki Hakim, Abdul Latif, A.S Datoek Bagindo, A.R Soehoed,
Aminuzal Amin dan masih sejumlah nama lain.
Hasyim Ning di tahun 1950-an terkenal sebagai Raja mobil di
Indonesia walau ia sendiri tidak pernah belajar bisnis secara
formal. Namun ia tahu bahwa prinsip semua bisnis adalah
kepercayaan. Ayahnya adalah pedagang kecil dan Hasyim
Ning tidak cengeng, ia sejak kecil sudah terjun dalam bisnis
keluarga dan bisnis Belanda (dalam zaman penjajahan
Belanda). Dari sana ia memperoleh pengalaman dan budaya
kerja sebagai importir mobil. Hasyim Merantau ke Jakarta
(Batavia), “ya sempat nganggur tapi cari kerja sebagai pencuci
mobil dan pandai-pandai bergaul, kalau sebagian pemuda
sekarang kan suka jaga gengsi dan pilih-pilih kerja”.
Hasyim Ning bekerja di usaha importir mobil Veladome, karena
karakternya baik, ia dipercaya menjadi wakil di Tanjung Karang.
Ia meluaskan pola berfikir, ia juga bekerja sebagai pemborong
tambang batubara di Sumatera Selatan dan bekerja sebagai
administrator kebun teh dan kina di Cianjur. Ia sempat
memperoleh latihan militer dan itu membuat disiplinnya lebih
bagus. Disiplin yang mantap menjadi modal baginya dalam
mengelola pabrik dan perusahaan. Kalau ia mencari buruh, ia
tidak suka orang yang cara kerjanya serampangan, harus yang
professional, “tidak ada istilah hiba-hiba dalam hal keuangan,
kalau membeir kawan uang ya pakailah uang kantong sendiri,
jangan pakai uang pabrik”.
Fahmi Idris, ayahnya berdagang sepatu dan ia mendidik
anaknya agar menghargai waktu, maka Fahmi diberi tanggung
jawab untuk menjaga toko. Waktu kecil Fahmi juga nakal, ia
bisa pecak silat dan pandai bergaul. Ketika di SMP ia dagang
kaos. Ayahnya juga membaca Koran dan Fahmi juga suka
membaca. Ia memperoleh pendidikan di Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia (FEUI). Ia cukup aktif di kampus, ia
mendirikan bursa buku dengan teman-teman dan sempat
menjadi ketua senat FEUI. Ia merintis usaha dengan teman dan
mendirikan firma.
Darnis Habib waktu kecil berkarakter pemberani karena benar
dan jago (cerdas) di kelas. Saat di SD ia paling senang
matematika dan saat di SMP ia senang dengan aljabar. Ia tidak
punya cita-cita karena anak pertama namun tamat dari SMA ia
cabut ke Jakarta. Ia kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia. Sambil kuliah ia part time atau kerja sambilan di
perusahaan. Tamat kuliah ia menjadi importir vespa, inspirasi
ini terjadi akibat banyak belajar dan diskusi ketika karir saat
aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).
Baihaki Hakim, ketika kecil ia bersekolah di SD yang disiplin,
gurunya baik-baik dan lingkungan yang agamis. “Soalnya ada
juga sekolah karena mengatas namakan disiplin wajah gurunya
banyak yang angker dan bahasanya menakuti murid-murid”.
Karena ia (dan orang tuanya) sering pindah-pindah ia merasa
tidak punya kampung tetapi punya banyak pengalaman.
Mobilitas yang tinggi bagus untuk membangun karakter anak-
anak dan cara berfikir mereka, karena bisa mengenal banyak
orang, mengenal banyak latar belakang dan cara berfikir
mereka. “orang yang tinggi bobilitasnya, mereka tidak menjdi
makhluk kuper, kurang pergaulan, dan statis yang senang
mengurung diri di pojok kamar”.
Baihaki, ayahnya juga senang otodidak dan menjadi
koresponden. Untuk menggenjot kualitas nya, ayahnya
mencarikan guru Bahasa Inggris orang Singapura dan
mendorongnya untuk banyak membaca. Sejak kecil orang tua
nya ingin anaknya jadi dokter. Namun Baihaki memilih kuliah di
ITB dan memilih berkarir di perusahaan, Caltex.
Abdul Latih, ayahnya merantau dan berdagang tekstil dan
ibunya aktivis di Aisyisiah Muhammaddiyah. Sejak kecil ia suka
membaca dan suka bergaul. Ia mengenal semua famili dan
juga mengenal banyak orang. Dalam masa remaja ia juga suka
menonton, namun juga banyak belajar dan banyak bergaul.
Saat kuliah, ia kerja sambilan, pengalaman kerja ini penting
untuk merintis kearah kerja atau wirausaha “namun mahasiswa
sekarang senang pergi mejeng ke Plaza dan Mall, untuk
menghamburkan duit kiriman orang tua dan memupuk nilai
konsumerisme”. Setelah tamat kuliah Abdul Latif membuat
usaha seperti tempat ia magang kerja dulu, kemudian ia
membuat ruko (rumah toko) dan gedung di daerah perkotaan,
dijadikan toko atau dikontrakan. Ia mengembangkan usaha ke
Singapura dalam bidang agrobisnis, buku, periklanan,
developer, konstruksi dan dagang eceran. Ia sangat anti
dengan gaya hidup santai dan banyak mengelaso- berleha
leha.
A.S Datoek Bagindo, ayahnya adalah seorang petani dan ia
ikut terjun mencangkul dan kadang-kadang menerima upah dari
ayah “ya dari pada member upah pada orang lain, lebih baik
mengupah anak sambil melatihnya mengenal arti hidup dan
agar tidak bermental cengeng”. Saat remaja ia hidup mandiri
guna bisa meringankan beban hidup orang tua. Sekolahnya
jauh dari rumah dan ia mencari orang tua angkat. Ia membantu
teman , berdagang di kaki lima sambil kuliah. Ia juga
mengembangkan human work dan banyak berkenalan dengan
tokoh-tokoh besar seperti Hatta, Syahrir, Natsir dan Chairul
Shaleh dan memetik pengalaman hidup mereka untuk sukses
dan untuk cermin diri.
Banyak pengalaman hidup yang ia tulis dan ini sangat berguna
untuk bahan-bahan ceramahnya, ia diundang untuk memberi
ceramah di SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia). Ia
mengatakan bahwa pola merantau orang Minang harus dikaji
ulang, bukan lagi merantau untuk membuka warung nasi,
menjahit, berdagang kaki lima, karena orang lain juga bisa
melakukan hal ini. Apalagi sekarang sudah banyak usaha
garment. Maka merantaulah sebagai orang intelektual yang
bisa merintis karir dan pencipta lapangan kerja, bukan jadi
buruh di sana.
A.R Soehoed sejak muda terbiasa senang bekerja keras
sampai dini hari. Ia menjaga stamina dengan senam. Ia punya
banyak pengalaman. Zaman dahulu di tahun 1940-an
transportasi sangat sulit dan mahal. Untuk perhubungan pulau
Sumatra dan Jawa tidak ada bus dan pesawat, kecuali
menggunakan kapal yang berlayar cukup lama namun
Soehoed dalam usia 19 tahun punya pengalaman berpergian
dari pulau Jawa ke Sumatra, mengunjungi keluarga ayahnya di
Maninjau (Sumbar) dan Painan. Selama di kampung ayahnya
ia punya pengalaman menghela pukat dan membagi-bagi ikan.
Ia mengatakan bahwa untuk berhasil dalam hidup maka setiap
orang harus punya mental yang kuat. Ini diperlukan untuk bisa
menjadi pioneer atau perintis. Ia mampu punya perusahaan
dan mengelola proyek-proyek besar.
Aminuzal Amin waktu kecil mampu berbicara dan sering
menjadi pembawa acara atau MC (master ceremony). Ia
dikenal sebagai pemuda yang panjang akal. Walau ayahnya
Cuma seorang pegawai kecil, ia panjang akal untuk sukses. Ia
Kuliah di Universitas Indonesia dan malam cari duit menjadi
sopir oplet. Ia aktif berorganisasi di kampus, bukan menjadi
anggota yang pasif. Ia pun mengembangkan hobi dalam bidang
musik dan nyanyi.
Sambil kuliah ia juga belajar hidup sebagai penjual pupuk dan
arloji. Kemudian ia juga menjadi tukang pakang sebagai
pedagang mobil bekas, ini digunakan untuk mencari modal
untuk membuka usaha. Puncaknya dagangnya adalah menjual
pakaian yang ia cari langsung ke Eropa. Ia juga pengusaha di
bidang perminyakan. Aminuzal adalah penguasa nasional yang
berada dalam level internasional.
Dari jalan hidup tokoh-tokoh di atas menunjukan bahwa mereka
waktu muda bukanlah orang-orang yang suka santai dan
membuang-buang waktu. Mereka suka bekerja keras dan
belajar serius. Mereka juga orang yang senang mandiri, suka
membantu , bukan dibantu. Sukses bukan jatuh dari langit,
namun sukses harus dirintis dengan semangat menjadi pioneer
(perintis) dan memiliki semangat kerja keras.
Namun bagaimana suasana sekarang. Bagaimana etos
pemuda pemudi sekarang dalam mencari hidup ? laporan
Afdal, dkk (dalam Gatra, Januari 2009) mengatakan bahwa
semangat berwirausaha dianggap penting untuk mengurangi
tingkat pengangguran. Barbagai pihak harus berpartisipasi
mewujudkannya. Pemuda Minang, sebagai contoh, sekarang
pandangan jiwa wirausaha mereka sudah mulai pudar. Fahira
Fami (dalam Gatra, Januari 2009:5) mengatakan bahwa jiwa
wirausaha orang Minang sekarang sudah mulai pudar. Darah
saudagar yang dulunya mengalir dalam tubuh generasi
terdahulu perlahan menghilang. Sementara semangat
wirausaha saudara kita dari warga etnis Cina masih sangat
kuat sehingga mereka dapat membangun kekuatan bisnis yang
luar biasa. Namun, sekali lagi, generasi muda Minang banyak
yang enggan berwirausaha dan cenderung berharap untuk
menjadi pegawai pemerintah (PNS) dibanding membuka usaha
sendiri.
Gamawan Fauzi (http://kalipaksi.multiply.com/journal)
mengatakan bahwa dalam survey yang dilakukan pemerintah
daerah Sumatera Barat 2006, bahwa warga Sumatera Barat 74
persen berkeinginan untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Ini
sebuah indikasi yang menurutnya sebagai turunnya nilai-nilai
kemandirian dan spirit. Pegawai Negeri baginya bukan
pekerjaan yang penuh tantangan. Terutama bagi masyarakat
Minang yang punya akar budaya sebagai entrepreneur sejati.
Penyebab memudarnya semangat entreprenursip
(berwirausaha) pemuda kita disebabkan oleh kesalahan
memberi motivasi, misgiving motivation, oleh guru-guru, orang
tua, lingkungan dan pemuda itu sendiri, yang menganggap
berwirausaha itu sebagai hal yang sangat susah dan menjadi
PNS suatu hal yang enak “motivasi untuk membuat pemuda
menjadi prkerja malas, suka hidup santai dan takut bersaing”.
Orang-orang atau motivator yang telah menyebabkan hilangnya
semangat berwirausaha pemuda tersebut perlu untuk
beristigfar dan harus mendorong pemuda untuk bangkit lagi
dan belajar dari pengalaman orang-orang sukses atau
pengalaman negara-negara yang empat puluh tahun lalu
kualitas SDM mereka sama dengan kualitas SDM negara kita,
misalnya belajar dari Korea.
Pada tahun 1960, pendapatan perkapita Indonesia sama
dengan Korea. Kini pendapatan bangsa ini melompat amat jauh
dari negara kita. Sebelum perang dunia kedua, Korea tidak
dikenal dalam pentas dunia. Korea hanyalah sebuah negara
pertanian yang miskin. Perang saudara juga telah meremukan
semua sendi kehidupan warga Korea, sampai terbelah menjadi
Korea Selatan dan Korea Utara. Miskin dan sengsara menjadi
titik nadir ekonomi mereka. Tetapi bangsa Korea Selatan
bukanlah negara yang dihuni oleh masyarakat yang banyak
perangai- banyak tingkah. Mereka adalah bangsa yang padu
dalam memompa tekad dan semangat untuk bangkit menuju
victory atau kejayaan. Tidak sekedar slogan tetapi diterapkan
dalam nafas kehidupan seari-hari. Bangsa Korea pada
umumnya adalah bangsa yang rajin. Mereka setiap hari bekerja
keras. Mereka malu pulang terlalu cepat karena tidak mau
dianggap sebagai orang yang tidak berguna.
Aswin Indra (http://aswinindraprastha.wordpress.com)
mengatakan bahwa Prof. Young Hun, dari Program Studi of
Foreign Studies, Seoul, menulis tentang kesamaan antara
tradisi Indonesia dan Korea. Jika orang Korea bisa menjadi
bangsa yang maju, mengapa tidak dengan orang Indonesia.
Korea dalam kurun waktu relative singkat telah menjelma
menjadi masyarakat modern, yaitu masyarskat yang telah
mampu melepaskan diri dari ketergantungan pada kehidupan
agraris.
Pemuda kita, pelajar dan mahasiswa, perlu tahu empat karakter
orang Korea yang harus dicontoh untuk memacu semangat
hidup, yaitu seperti; 1) Sikap rajin bekerja, lebih menghargai
bekarja secara tuntas betapapun kecil pekerjaan itu ketimbang
berpidato yang muluk-muluk tetapi tidak pernah terlaksana. 2)
Sikap hemat yang tumbuh sebagai buah dari sikap rajin
bekerja. 3) sikap self help yang didefenisikan sebagai berusaha
mengenali diri sendiri dan rasa percaya diri. 4) Kooperatif atau
suka bekerja sama, cara untuk mencapai tujuan secara efektif
dan rasional, mempersatukan individu serta masyarakat.
Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang agamis,
beragama. Untuk maju agama Islam menganjurkan kita untuk
selalu belajar. Berikut ungkapan agama Islam yang mengajak
untuk belajar; “ tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang lahat.
Menuntut ilmu wajib bagi laki-laki dan perempuan. Tuntutlah
ilmu walau sampai ke negeri Cina”. UNESCO juga mengajak
warga dunia untuk long life education, pendidikan seumur
hidup. Sekarang artikel ini mengajak pemuda dan pemudi
bangsa ini untuk tumbuh bersemangat dan suka bersaing,
banyak pengalaman, banyak belajar dan banyak bekerja. Untuk
itu “ Tuntutlah Semangat Kerja Keras Dari Korea

33. Mengoptimalkan Pendidikan Di Rumah


Pendidikan adalah kata yang amat sering diperbincangkan
orang di seluruh dunia, Itu karena pendidikan sangat
menyentuh dan menentukan nasib dan kualitas bangsa itu
sendiri. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa
pendidikan itu adalah tanggung jawab sekolah. Maka kalau ada
kata pendidikan, lantas yang terbayang adalah gedung
sekolah- TK, SD, SMP, SMA, MAN, SMK, terus Akademi,
Universitas dan perguruan tinggi lainnya. Anak-anak yang
pintar di sekolah berasal dari rumah yang orang tuanya sangat
peduli dengan pendidikan. Maka pendidikan di rumah dengan
orang tua sebagai pendidik dan motivator sangat menentukan
kualitas pendidikan bangsa yang besar ini.
Demikianlah, orang tua memegang peran yang sangat penting
dalam memajukan bangsa lewat mendidik dan memajukan
anak-anak mereka sendiri. Orang tua tidak perlu harus tahu
dengan matematik, bahasa asing (Inggris, Arab, Jepang),
akuntansi, fisika dan lain-lain, namun mereka mampu
menciptakan generasi yang bernas melalui model, motivasi dan
semangat yang mereka pompakan pada anak sepanjang
waktu. Mereka juga perlu belajar bagaimana menjadi orang tua
yang cerdas terhadap anak-anak mereka sendiri. Mereka perlu,
terlebih dahulu memahami mengapa dan bagaimana anak
dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Tidak memahami
pertumbuhan dan perkembangan anak telah membuat jutaan
orang tua di dunia ini menjadi salah didik. Maka agar tidak
salah didik, carilah informasi tentang mendidik anak.
Alex Sobur (1986) menulis buku dengan judul “Anak Masa
Depan”. Buku itui membahas banyak hal. Orang tua perlu
memahami eksistensi anak dalam keluarga, tentang pendidikan
moral dan agama anak, mendorong motivasi anak, tentang
peran orang tua dan anggota keluarga yang lain dalam
mendidik anak.
Eksistensi posisi urutan anak dan pendidikan moral.
Adalah sangat perlu memahami eksistensi perkembangan
anak. Karakter anak adakalanya dipengaruhi oleh posisi urutan
kelahiran anak. Urutan anak menurut kelahiran adalah seperti,
anak sulung, anak bungsu, anak tunggal dan anak urutan yang
ke sekian. Setiap urutan anak memperlihatkan karakter yang
khas. Anak sulung memperlihatkan sikap ingin menguasai dan
mengatur adik. Umumnya orang tua lebih santai terhadap anak
yang ke dua atau urutan selanjutnya. Anak bungsu bisa
berkembang tanpa banyak mengalami kesulitan, Ia banyak
yang menolong. Namun orang tua secara tidak sadar biasanya
memperlakukan anak bungsu sebagai anak kecil. Karakter
anak bungsu kadangkala ingin menang sendiri dalam
perhatian. Anak bungsu cenderung menjadi anak yang paling
ambisius.
Barangkali anak tunggal adalah anak yang agak unlucky-kid
karena ia tidak mengalami persaingan dengan saudaranya dan
sukar untuk berbagi perasaan. Tetapi ia dapat bersaing dengan
teman sebayanya. Plusnya buat anak tunggal adalah bahwa ia
dianggap mampu belajar mandiri dan punya rasa percaya diri
yang lebih besar. Kadang kala anak tunggal diperlakukan
sebagai raja kecil, namun lain kali sebagai budak- bekerja
sendirian. Anak tunggal penuh perlindungan dan ia pun mudah
putus asa, lebih pemalu dan egois.
Orang tua juga punya peran besar dalam pengembangan
pendidikan agama dan moral anak. Kuaitas agama anak
(seseorang) ditentukan oleh pendidikan, pengalaman, dan
latihannya pada masa kecil dan saat iaremaja. Orang yang
tidak pernah mendapat didikan agama pada waktu kecil
(sampai remaja) maka ia tidak merasakan pentingnya
beragama pada waktu dewasa.
Bagaimana dengan moral anak ? Moral anak perlu
dikembangkan sejak usia dini. Eksistensi moral mereka saat
masih kecil, misal pada masa prasekolah tergantung pada
reward dan punishment. Kualitas reward dan punishment dari
orang tua punya peran, perlu untuk dicatat bahwa dalam
mengembangkan moral anak agar lebih banyak mengekspos
“reward atau pujian”. Namun fenomena dalam mayarakat,
ditemukan bahwa banyak orang tua lebih gemar memberi
punishment atau hukman saat anak melakukan kesalahan dan
kikir memberi pujian saat anak berkarakter terpuji. Adalah
sangat tepat bila anak pandai menyapu rumah atau merapikan
kamar, maka orang tua seharusnya buru buru memberi pujian
“terimakasih , bapak/ ibu senang karena kamu anak yang rajin”,
pastilah saat berkata demikian anak merasa sebagai orang
yang sangat berarti.
Perkembangan moral anak juga ditentukan oleh kualitas
interaksinya dengan sosial, terutama dengan teman-teman
sebaya. Lewat interaksi atau pergaulan ia bisa membuat
penilaian “mana karakter yang baik dan mana yang buruk”,
cara berteman yang baik, cara mencurahkan kasih sayang,
sopan santun dan tolong menolong.
Kemudian bagaimana tentang pemahaman anak tentang
Tuhan ? Gambaran tentang Tuhan bagi anak sering bercampur
dengan beberapa pengalaman. Pengalaman itu punya faedah
untuk menanamkan kesan baik dalam fikiran mereka. Sangat
penting untuk memperkenalkan dan menerangkan tentang
Tuhan pada nya sejak usia kanak-kanak. Selain dari orang tua,
anak juga memperoleh informasi tentang Tuhan dari orang-
orang sekitar.
Ternyata tanpa kita sadari bahwa anak meniru karakter kita
(orang tua mereka). Sejak usia dini, usia 3 – 6 tahun , anak
mulai meniru orang tua, yaitu watak dan prilaku kita. Ini terlihat
melalui bermain peran. Orang tua yang lembut, mengajarkan
tentang Tuhan itu Maha Lembut, dan orang tua yang keras
mengajarkan tentang Tuhan itu Maha Keras.Pandangan anak
tentang konsep Tuhan dipengaruhi oleh figur ayah, yang
meliputi unsur-unsur emosi seperti rasa cinta, kepercayaan,
rasa kagum dan ketakutan. Anak yang sedikit atau jarang
mendengar Tuhan dibahas dalam rumah maka tentu tidak
memiliki konsep tentang Tuhan.
Peran orang tua dan anggota keluarga lain pada anak.
Ibu adalah orang yang utama dan pertama punya peran dalam
mengukir kepribadian anak dan bagaimana gambaran mereka
kelak. Peran ibu yang besar adalah dalam menanakan rasa
cinta pada “sang buah hati”. Ibu perlu memperlihatkan rasa
cinta dan tulusnya pada anak. Dalam hidup ini cukup banyak
anak-anak yang menjadi rusak emosinya karena tidak
merasakan cinta ibu dalam rumah, terutama bagi ibu egois
yang sangat mementingkan karir dan jabatan dalam untuk
mencari kehormatan yang kadang kala penuh kepalsuan. Bila
anak merasa kurang perhatian orang tua, terutama dari sang
ibu, maka ia akan menjadi gelisah dan kurang puas. Setelah
ibu, maka dituntut peran dan tanggung jawab dari ayah.
Anak selalu butuh kualitas perhatian ayah dan ibu (orang tua)
melalui kehangatan hubungan mereka. Hubungan orang tua
dan anak yang kaku, penuh permusuhan maka kelak membuat
anak suka melawan. Ini penyebab awal dari tipe individu dan
anti sosial. Figur Ayah sangat penting dalam pembentukan
pribadi anak. Ayah merupakan tokoh identifikasi disamping figur
ibu. Pribadi ayah menjadi tolok ukur bagi pembentukan prilaku
anak. Bila ayah punya peranan dalam keluargadan masyarakat
maka anak akan punya kepribadian yang mantap. Sebaliknya
bila ayah kurang berperan dalam keluarga, apalagi tidak aktif
dalam masyarakat, serta dalam kehidupan anak, maka anak
akan kehilangan pegangan atau figur ayah.
Idealnya ayah harus aktif dan puya agenda atau kegiatan
hidup. Tidak pantas ayah menjadi raja kecil yang senang serba
mengatur, bengong dan senang menganggur atau kongkow-
kongkow, duduk membuang waktu. Sebab anak akan kurang
pengalaman bila ayahnya kurang aktif. Apalagi bila anak
tumbuh tanpa kehadiran ayah yang aktif dan kreatif
disampingnya atau di rumah. Ayah musti melowongkan waktu
untuk bermain dan bergaul dengan anak Ayah seharusnya juga
menjadi pendidik, tidak hanya mengandalkan pada peran ibu,
namun ayah tidak boleh menjadi pendidik yang keras atau
otoriter.
Dlam masyarakat yang menganut system keluaga besar,
extended family, dimana selain kehadiran kekuarga inti (ayah,
ibu dan anak) juga ada kakek dan nenek. Tentu saja kakek dan
nenek juga memberi peran dalam pertumbuhan dan
perkembangan anak. Namun Kakek dan nenek harus ingat
bahwa yang berkuasa atas anak adalah orang tuanya. Inilah
kadang kala penyebab orang tua dan kakek-nenek agak
cekcok. Gara-gara berebut lahan dalamm mempengaruhi sang
cucu. Apalagi bila kakek-nenek merasa lebih pintar.
Pendidikan dan sekolah anak.
Di akhir masa balita (usia lima tahun) maka anak perlu
mengenal lingkungan sekolah. Kalau anak punya kakak yang
sudah bersekolah. Maka ia sudah punya bayangan tentang
sekolah. Masa awal bersekolah, terutama di SD, merupakan
masa penyesuaian diri yang cukup berat. Cukup banyak anak
yang mulai mengenal stress pertama dalam hidupnya gara-
gara berada di sekolah yang tidak bias memenuhi
egosentrisnya sebagai raja kecil. Sehingga sang ibu atau yah
terpaksa agak repot menenangkan emosi dan menemani
mereka. Tetapi anak yang sudah bersekolah di TK akan tidak
begitu canggung masuk sekolah yang baru (SD) karena ia
sudah bisa berpisah dengan rumah. Ibu, ayah, dan anggota
keluarga yang lain ada baiknya sebelum anak bersekolah,
membawa anak main-main ke sekolah.
Kelas I SD merupakan loncatan dari dunia permainan ke dunia
yang lebih komplek dan serius. Ia mulai berkenalan dengan tata
tertib, disiplin , tugas dan tanggung jawab dan harus bisa untuk
bangun pagi dan membuat PR yang teratur.
Sejak dari bangku TK, anak mulai tahu dengan kosakata baru,
yaitu “Rapor”. Rapor yaitu catatan presrasi akademi anak
secara kognitif, afektif dan psikomotorik (kecerdasan logika,
sikap dan keterampilan). Rapor punya eksistensi yang pending
dalam mencatat nilai atau perkembangan anak. Tanpa adanya
rapor atau penilaian maka tidak akan ada rangsangan untuk
mencapai keberhasilan.
Walaupun di sekolah anak memperoleh bimbingan dari guru
namun anak lebih banyak belajar dari contoh (model langsung)
dari pada petunjuk orang tua atau khotbah-khotbah . Orang tua
perlu selalu memompakan semangat dan dorongan dalam
belajar. Sekali lagi bahwa lebih pas kalau orang tua juga
memberi model. “walaupun sudah tua ayah juga selalu belajar
seperti kamu”, kata seorang ayah pada anaknya sambil
membaca biografi atau buku tentang filsafat kehidupan.
Dalam membimbing anak agar dapat tumbuh dan berkembang,
orangtua perlu punya hubungan dengan guru di sekolah.
Kontak akrab dan hangat antara guru dan orang tua sangat
besar manfaatnya bagi pertumbuhan, perkembangan dan
prestasi anak. Guru dapat mengemukakan keluhan mengenai
perkmbangan kemampuan anak. Kunjungan guru ke rumah
orang tua juga penting, (dan tentu butuh pengorbanan dari
pihakguru). Ini berguna untuk mengetahui latar belakang
kehidupan siswa/ anak di rumah. “Lakukanlah komunikasi guru-
siswa- orang tua di sekolah secara teratur”.
Membina motivasi dan prestasi belajar anak
Motivasi untuk berprestasi bagi anak perlu dikembangkan.
Anak-anak orang yang berhasil dalam akademik dan non
kademik adalah anak yang punya motivasi. Motivasi dapat
tumbuh dalam suasana yang bebas, merdeka, tanpa
ketegangan dan tuntutan yang berlebihan dan anak perlu
merasa dihargai dan diterima apa adanya.
Anak perlu punya prestasi. Tingkah laku berprestasi adalah
anak cenderung untuk selalu menyelesaikan tugas, dan punya
rasa kompetisi terhadap diri. Prestasi yang baik adalah hasil
dari belajar yang baik pula. Tetapi sering orang tua baru
memberikan perhatian pada pelajaran anak, setelah rapor anak
sangat jelek, banyak tinda merah atau angka mati. Orang
menyebut dengan istilah rapor yang “kebakaran”. Prestasi
buruk tidak berarti anak bodoh, untuk itu orang tua perlu
introspeksi diri.
Sikap dan pribadi orang tua dapat mewarnai motivasi dan
prestasi anak yang juga terrefleksi dalam kepribadiaannya.
Agar orang tua bisa berpengaruh dalam menanamkan motivasi
dan prestasi belajar, saratnya tentu musti ada keakraban,
kehangatan dan komunikasi antara orang tua dan anak.
Prestasi dan motivasi anak juga ditentukan oleh bakat dan
intelligent quotient (IQ) anak. Perlu diketahui bahwa anak
berbakat merupakan interaksi – kemampuan di atas rata-rata,
kreatif, cemerlang berfikir dan bertanggung jawab. Kemudian
tentang IQ, bahwa anak yang ber IQ tinggi ada kalanya egois,
namun ada kalanya mandiri, hangat dalam bergaul, imajinasi
kreatif dan memiliki rasa humor. Kelemahannya adalah kadang
kala malas, tak sabar, sering gelisah dan sering mengganggu.
Selain anak ber IQ tinggi, ada lagi istilah “anak berbakat”. Anak
yang berbakat lebih suka bermain dengan anak yang lebih tua
usianya, dan adakalanya menjadi pemimpin kelompok. Untuk
merangsang potensi anak berbakat maka orang tua perlu
menyediakan lingkungan yang kaya imajinasi, dan membiarkan
anak untuk menyelidiki lingkungan tanpa banyak diusik.
Mendorong minat belajar anak.
Orang tua perlu menjaga semangat belajar anak agar tidak
luntur dan rusak, karena belajar bukanlah proses jangka
pendek. Ia perlu dorongan moral dan suasana, membiasakan
anak membuat PR dan belajar di rumah.
Orang tua harus tahu bahwa anak perlu membuat jadwal
belajar di rumah, tetapi berimbang antara belajar, membantu
orang tua, hobi dan bermain. Anak tidak harus belajar terlalu
lama sebab akan mengancam semangat belajar, biar belajar 30
menit untuk satu mata pelajaran, yang penting teratur dan
sering. Orang tua sedapat mungkin menemani anak SD dalam
belajar. Dan jangan membentak bentak anak-anak bila belum
mengerti. Sikap kasar tidak akan membantu anak, sebab anak
bias jadi gelisah dan takut.
Tentang PR (Pekerjaan Rumah), sebaiknya orang tua ikut
melihat pelajaran yang telah diperoleh anak di sekolah dan
ajaklah anak untuk belaja dengan teratur di rumah. Bila PR
selesai, sebaiknya orang tua perlu untuk menelitinya lagi.
Waktu mengerjakan PR anak tidak boleh diganggu oleh waktu
bermain dan pergaulan sosial, agar PR tidak jadi masalah-
bermainlah saat bermain dan belajar saat belajar. .
Konsentrasi anak,
Akhir kata adalah tentang konsentrasi anak. Untuk bisa
berkosentrasi, anak perlu untuk punya motivasi. Hal-hal yang
mengganggu konsentrasi anak anak adalah seperti faktor luar
dan factor dalam. Rangsangan luar dapat mengganggu
kosentrasi anak, demikian pula bila ada konflik dalam rumah
tangga. Konflik antar anak-anak; anak- orang tua, dan orang
tua-orang tua. Kosentrasi bisa buyar karena perhatian teralih
oleh sesuatu yang lebih menarik.
Jangan mengganggu anak yang asyik bermain, asyik dengan
hobi, dan sedang asyik membaca. Bila anak sering terganggu
kosentrasi, ia mudah kehilangan gairah belajar. Kurangnya
gerak badan dapat mempengaruhi konsentrasi. Berikan anak
waktu untuk berkosentrasi dalam menyelesaikan pekerjaan.
Mengangkat harga diri bangsa ini kini tidak saja tanggung
jawab sekolah, dengan unsure guru, dan lingkungan sekolah
tetapi sekarang juga tanggung jawab rumah dengan ayah dan
ibu sebagai guru utama anak. Yang sangat diperlukan untuk
membuat anak cerdas dan terdidik dari pihak orang tua adalah
dari segi atau sentuhan motivasi. Memaksimalkan peran dalam
mndidik- menemani dan memfasiltasi anak dalam belajar
adalah peran terpenting dari orang tua.

34. Mata Pelajaran Matematika dan Sains


Kita bersyukur bahwa banyak orang tua siswa sekarang sangat
peduli terhadap pendidikan dan kualitas SDM (Sumber Daya
Manusia) anak-anak mereka . Sejak anak kecil hingga berusia
remaja, mereka ikut mencikarui- melakukan -interferensi positif-
terhadap pendidikan anak. Toko-toko buku sekarang sudah
menjadi tempat yang sangat popular untuk dikunjungi demi
kepentingan ilmu pengetahuan. Pengunjung yang posisinya
sebagai orang tua paling senang mengunjungi bagian pojok
buku psikologi, menemukan buku tentang cara mendidik anak
dan sampai kepada pojok buku filsafat , nuansa buku agama
atau buku pendidikan popular lainnya.
Di rumah banyak orang tua yang juga sudah mendorong
pertumbuhan dan perkembangan SDM anak. Mereka
mengantarkan anak untuk pendidikan PAUD (Pendidikan Anak
Usia Dini) dan TK. Pada pendidikan dini ini, anak mulai
mengenal adaptasi dengan sosial, serta berlatih untuk
menguasai gerak halus dan gerak kasar. Suasana belajar pada
pendidikan dini tersebut betul-betul menyenangkan, atau
diistilahkan bahwa suasana belajar sudah bernuansa PAKEM
(Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) atau
PAIKEM (Pembelajaran Aktif, inovatif, Kreatif Efektif dan
Menyenangkan).
Guru-guru untuk pendidikan usia dini tersebut selalu
memberikan pelayanan prima atau excellent service terhadap
manusia-manusia kecil ini. Sebagai responnya, maka manusia
kecil (anak didik) tadi menyambut pelayanan prima sang guru
dengan suka cita, riang gembira dan penuh rasa cinta.
Sekaligus mereka menjadikan ibu guru pada PAUD atau TK
sebagai guru idola mereka.
Namun waktu selalu bergulir dan anak didik kecil mungil tadi
melangkah masuk ke pendidikan SD. Sebahagian anak didik
akan beradaptasi dengan mudah di sekolah yang baru (SD)
mana kala berjumpa dan belajar dengan guru kelas yang juga
melayani anak dengan prima, yaitu guru-guru yang senang
mengekspresikan kata-kata yang penuh dengan muatan emosi
“anak-anak ku sekalian, anak anak yang pintar, anak-anak ku
tersayang” Guru-guru kelas pada SD pun menjadi “guru idola”.
Namun anak didik bakal kaget, stress dan mengalami
nightmare (mimpi buruk) manakala belajar dengan guru-guru
yang kikir dengan ekspresi yang hangat, kecuali kalimat penuh
mengancam “bila tidak membuat tugas dihukum berdiri kaki itik
di depan kelas, ketauan mencotek maka kertasnya ujian di
robek….”. Guru-guru yang kurang bisa beradaptasi dengan
paedagogi dan perkembang jiwa anak sangat tepat untuk
segera mengundurkan diri sebagai pendidik.
Pada mulanya fokus pengajaran pada bangku Sekolah Dasar
adalah supaya anak menguasai “tiga R”, yaitu keterampilan
reading, writing dan arithmetic (keterampilan membaca, menulis
dan berhitung). Keterampilan menulis terasa menyenangkan
manakala guru kelas ikut memegang jari-jari halus siswa
menulis di atas kertas. Demikian pula dengan pelajaran
membaca. Anak merasa mulutnya bisa berubah menurut vokal
“a, i, u, e dan o”, dan mengekspresikan ungkapan yang lucu-
lucu yang diikuti dengan bentuk alfabetnya.
Pelajaran matematika di kelas satu Sekolah Dasar, sangat
berkesan bila dihubungkan dengan pengalaman atau unsur-
unsur emosional dan yang berhubungan dengan kebutuhan
anak. Orang-orang yang berusia 40-an sekarang ini,
kemungkinan masih ingat dengan pelajaran berhitung saat
mereka di SD dulu. “Satu manggis ditambah tiga manggis
menjadi empat manggis”.Ekspresi ini mungkin masih
membekas, namun bagaimana dengan suasana belajar
matematika anak sekarang ?
Gara-gara peringkat mutu matematika dan sains siswa
Indonesia menempati posisi yang sangat rendah di negara-
negara Asean, apa lagi untuk tingkat dunia, maka kurikulumnya
pun digenjot dan ditambal sulam. Guru-guru matematika dan
sains sejak dari SD sampai ke bangku SLTA diharapkan untuk
proaktif.
Ada wujud kepedulian sekolah dan guru-guru untuk
meningkatkan kualitas matematika dan sains anak. Guru guru
dan tokoh pendidik yang lain berpacu untuk merancang-
menyusun buku matematika dan sains, mulai untuk tingkat SD,
SMP dan tingkat SMA. Sebagian buku ada yang diuji cobakan
di sekolah-sekolah super sebelum dicetak dan sisebar luaskan
untuk menjadi konsumsi siswa-siswa di berbagai sekolah di
Indonesia yang kualitas otak mereka amat jauh berbeda
dengan kualitas otak siswa di sekolah yang bermutu. Kualitas
orang tua orang siswa pun juga berbeda dengan sekolah
kebanyakan.
Mata pelajaran sains dan matematika cenderung menjadi mata
pelajaran yang kurang bersahabat dengan anak didik.
Sementara itu guru- guru wajib menyajikan nya sesuai dengan
tuntutan kurikulum. Karena rancangan materi buku matematika
terlalu sulit maka lambat laun anak anak memandang mata
pelajaran ini sebagai monster yang menakutkan dan
membosankan. Anak-anak selalu susah payah untuk
memahaminya, apalagi guru guru cenderung tegang dalam
memperkenalkan mata pelajaran ini. Ya karena di rumah orang
tua mereka sendiri juga jarang kedengaran berhitung, maka
anak miskin dengan logika dan sang guru sering menjadi naik
pitam, “wah soal berhitung demikian mudah juga kamu tidak
tahu, dasar blo-on”.
Ada seorang staff pendidik memiliki anak yang belajar di kelas
3 SD, berkata bahwa tiap hari ia menemani anaknya belajar,
sudah membudayakan belajar mandiri di rumah, membuat PR
dan membaca. Namun hampir setiap hari anaknya rewel dan
merengek gara-gara kurang mengerti dengan PR
matematika.”Ya ampun pelajaran matematika untuk konsumsi
murid kelas 3 SD dirancang tidak begitu menarik- tingkat
bahasa cukup tinggi bagi imajinasi anak, kita saja yang sudah
lulus S.1 dan S.2 masih harus kosentrasi untuk memahaminya,
apalagi murid kelas 3 SD yang masih hijau dan belum cukup
pengalaman untuk memahami spasial dan logika, kemudian
diberi tugas yang melebihi kekuatan jari-jari kecil mereka”, dan
itulah fakta serta kenyataannya. Bila anak terpaksa belajar-
belajar dalam kondisi tertekan (stress), tentu akan
mendatangkan rasa bosan dan dipaksa, maka terjadilah
pembunuhan karakter mereka dalam belajar.
Namun buku buku matematika dan sains tersebut kan sudah
disahkan oleh BSNP- Badan Standar Nasional Pendidikan.
“Nah itulah masalahnya, pengesahan buku-buku oleh BSNP
mungkin berdasarkan verifikasi dari atas nya- top down, dilihat
dari kacamata siswa cerdas dan sekolah unggulan melulu.
Buku-buku tersebut dianggap layak dan bermutu untuk sekolah
berkualitas dan anak anak cerdas yang cuma berdomisili di
pulau Jawa dan kota-kota besar. Sementara itu coba lihat,
banyak buku-buku yang walau sudah disahkan oleh BSNP
tetap tidak teresentuh dan menumpuk di perpustakaan.
Seharusnya BSNP juga rajin-rajin untuk mencek buku yang
telah mereka rekomendasikan itu sampai kelampangan di
berbagai pelosok negeri. Kemudian juga perlu merekomendasi
tingkat kesulitan buku berdasarkan verifikasi bottom-up, dari
arus bawah- berdasarkan sekolah sekolah kebanyakan
tersebar di persada ini”.
Ada orang tua bertanya tentang seberapa jauh pentingnya
mata pelajaran matematika dan sains tersebut. “Matematika
dan sains itu sangat penting, syarat untuk lulus UN, kalau anak
cerdas untuk bidang studi ini, ia bisa kuliah di Pulau Jawa,
Universitas bergengsi, anak bias jadi dokter, jadi insinyur. Bila
anak masuk jurusan IPA, peluang untuk kuliah lebih bagus dari
jurusan IPS dan Bahasa”. Berarti secara tidak langsung jurusan
IPA lebih hebat dari dua jurusan lain, maka siswa yang masuk
jurusan IPA akan merasa superior dan yang masuk jurusan
Bahasa dan IPS menjadi inferior atau rendah diri.
Menyadari begitu sulit dan pentingnya mata pelajaran
matematika dan sains, maka solusinya adalah para siswa mulai
dari SD, SMP dan SLTA direkomendasikan untuk mengikuti
belajar siang, atau belajar tambahan di les-les privat. Malah
pebisnis franchise pendidikan merespon dengan riang gembira,
segera membuka kelas-kelas bimbingan belajar dan meraup
laba sampai ratusan juta rupiah atas derita kesulitan belajar
anak. Namun tentu saja bisa dijangkau oleh siswa yang orang
tuanya berduit, sementara bagi siswa miskin harus gigit jari
atau cari bimbingan belajar yang murah meriah.
Kini banyak sekolah menyadari atas problem belajar anak
untuk mata pelajaran matematika dan sains, yang nota
benenya adalah juga mata pelajaran yang diujikan dalam UN
(Ujian Nasional). Maka usai PBM yang normal, maka kembali
siswa disekap- atau direkomendasikan untuk sekolah
tambahan. Apakah proses PBM belajar tambahan untuk mata
pelajaran yang dipandang sangat primadona ini effisien dan
efektif ? Yang jelas siswa terlihak lesu, bosan, merasa
terpaksa, sehingga mengikuti PBM hanya secara main-main
saja. Akibat PBM nya sendiri tidak menarik, suasana hati untuk
belajar juga tidak pas “Sang guru saja juga merasa terpaksa
untuk mengajar sore”. Maka jadilah guru yang merasa bosan
mengajar siswa yang juga merasa bosan. Anak didik merasa
tersekap lagi sepanjang hari di sekolah, akibatnya badan dan
jiwa menjadi letih. Setelah pulang sekolah tentu juga tidak bisa
mengulang pelajaran, apalagi untuk berbakti pada orang tua
dan untuk masyarakat sekitar.
Kalau sekarang banyak siswa kurang bisa bertegur sapa
dengan orang tua atau guru dengan santun, ya itu gara-gara
mereka tidak punya waktu bersosial, karena disekap oleh PBM-
belajar tambahan, “Anak sekarang sombong-sombong tidak
ramah dan tidak bias menyapa orang tua !” .Kalau pemuda kita
juga tidak jago lagi dalam olah raga, malas turun kesawah atau
tidak kenal dengan laut (bagi anak nelayan, sehingga ikan ikan
kita pun dicuri oleh negara lain) adalah juga gara-gara anak
tidak punya waktu untuk ke laut atau ke pedalaman, juga
karena disekap terlalu lama disekolah atas nama meningkatkan
PBM yang sebenanrnya tidak begitu signufikan dampaknya.
Kemudian kalau siswa menjadi acuh tidak acuh dengan
kehidupan sosial di seputar rumah dan miskin dengan life skill
serta sirnanya karakter ramah tamah adalah juga karena gara-
gara anak dipaksa lagi oleh mata pelajaran matematika dan
sains untuk sekolah tambahan, termasuk bagi mereka yang
tidak berminat dengan mata pelajaran tersebut.
Fenomena dalam kehidupan di sekolah, terutama untuk tingkat
SMA dan MA, bahwa mayoritas siswa dan orang tua
mengidolakan mata pelajaran sains termasuk
matematika.”Masuklah ke jurusan IPA (Ilmu Pengetahuan
Alam) atau sains niscaya masa depan mu cerah !”. Demikian
sugesti secara implisit dan eksplisit di sekolah dan di rumah.
Tanpa analisa yang mendalam berdasarkan bakat dan minat
maka anak didik setuju saja. Maka diserbu dan diidolakanlah
“jurusan IPA tersebut”. Guru-gurunya pun keciprat beruntung,
karena dihormati melebihi guru bidang studi lain, sementara
jurusan IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), apalagi jurusan Bahasa
dan mungkin juga guru gurunya , dipandang sebelah mata dan
dianggap sebagai jurusan kelas dua. Dalam pemilihan jurusan
di SMA, bila anak ternyata masuk ke IPS dan Bahasa akan
dipandang kurang cerdas. Orang tua yang IPA maniak akan
marah-marah, “Kok kamu masuk jurusan IPS, bodoh kamu,
percuma saja kamu ikut les dulu dan buang-buang uang saja”.
Malah ada anak yang rela tinggal kelas asal tahun berikutnya
bias masuk jurusan IPA, apakah jurusan IPA itu adalah segala-
galanya ?
Kini banyak anak-anak cerdas belajar pada jurusan IPA. Tetapi
tunggu dulu, apakah mereka betul-betul cerdas ? Belum tentu,
mereka kan cuma sekedar terlatih menjawab soal-soal Ujian
Nasional (UN), dan soal ujian SNMPTN (Sistem Nasional
Masuk Perguruan Tinggi), namun begitu dibawa ke
laboratorium mereka tidak mengerti dengan cara praktikum, di
rumah kalau listrik mati karena korslet, mereka bingung untuk
membuatnya nyala. Malah mereka pun sudah menjadi orang
yang anti kritik karena merasa sudah jagoan di kelas. Inilah
akibat PBM Cuma sekedar memburu skor out-put dan
memasung proses pembelajaran dan proses bersosial anak di
rumah (akibat banyak ditahan disekolah).
Ada orang mengatakan bahwa pintarnya anak Indonesia cuma
sebatas menjawab soal-soal UN semata, tapi tidak pintar
memegang tangkai cangkul buat membersikan halaman rumah,
tidak tahu cara membantu diri sendiri, keluarga apa lagi buat
membantu orang lain- gara gara hanya berorientasi belajar
tanpa diimbangi dengan rasa peduli pada sosial. Sekali lagi,
pintarnya anak Indonesia hanya sekedar mencari selembar
ijazah dan habis itu bengong dan nongkrong dalam tangga
pengangguran.
Apakah memang penting mata pelajaran matematika dan sains
itu ? Mata pelajaran ini memang sangat penting, namun gara-
gara mengidolakan mata pelajaran ini, dan anak didik terlalu
disekap berlama-lama di sekolah sehingga kesempatan mereka
untuk mengembangkan diri di sore hari jadi hilang. Terus terang
siswa sekarang perlu kehidupan seperti siswa generasi dulu,
punya waktu untuk main voli, membuat acara ulang tahun,
pergi mengaji, ikut kegiatan keluarga dalam rangka memahami
adat istiadat, tahu cara mengelola usaha bisnis keluarga, tahu
cara menggoreng telur dadar dan punya waktu untuk beramah
tamah dengan tetangga. Bila mata pelajaran matematik dan
sains terasa sangat membosankan, maka PBM dengan sistem
PAKEM atau PAIKEM sangat perlu untuk dimiliki oleh guru
bidang studi tersebut- tentu orang tua (terutama untuk tingkat
SD karena pelajaran ini belum begitu sulit) juga perlu menjadi
guru sains dan matematika di rumah. Mengajar bidang studi ini
dengan memberi PR segudang sangat percuma, karena siswa
pasti saling mencontek dan saling menyalin tugas teman, tanpa
mengerti kecuali sekedar menyenangkan hati sang guru untuk
menganggap mereka sebagai siswa yang rajin.
Akhir kata bahwa Pokok permasalahan anak didik dalam
belajar sains dan matematika di sekolah adalah karena mereka
memiliki minat belajar dan motivasi belajar yang cukup rendah.
Maka kurang tepat solusinya dengan memaksa mereka belajar
tambahan setiap hari sampai sang surya tenggelam lagi di ufuk
barat dan mereka pulang ke rumah dengan penuh lesu dan
bosan, serta miskin dengan life skill dan kurang peka dengan
kehidupan sosial. Belajar tambahan begitu lama setiap hari
mungkin bisa menyebabkan mereka kehilangan masa-masa
indah untuk mempelajari keterampilan hidup dan keterampilan
sosial yang mungkin juga jauh lebih penting untuk dimiliki dari
pada sekedar belajar tidak sepenuh hati di sekolah sore/
sekolah tambahan. Mana tahu andaikata hidup mereka susah
dan nilai akademis belum bisa memberi janji untuk pekerjaan
yang mereka mimpikan maka life skill mungkin bias sebagai
alternative dalam hidup, dengan membuka restoran, bengkel,
bisnis out door activity, dan lain-lain, tentu saja selagi dalam
keridhaan Sang Khalik.

35. Pengangguran Intelektual


Saat kakek - nenek kita, yang berusia 60 atau 70 tahun (di
tahun 2009), masih berusia muda, kemungkinan mereka tidak
mengenal istilah “pengangguran”. Demikian juga dengan
generasi yang lahir sebelum mereka. Saat itu orang cuma lazim
belajar di SR (Sekolah Rakyat) atau Sekolah Dasar, sekedar
bisa berhitung, membaca dan menulis.
Tamat dari SR, tidak banyak yang melanjutkan pendidikan ke
tingkat SMP, karena faktor sekolah yang amat jarang dan jarak
yang jauh dari rumah.Mereka tidak patah semangat dan
mereka berintegrasi dengan alam sebagai sekolah mereka.
yang gurunya mungkin orang tua (ayah dan ibu), kakek, nenek,
paman, bibi, tetangga atau kenalan yang memotivasi mereka
untuk belajar tentang arti kehidupan. Mereka terlibat langsung
dalam bertani, berternak, pergi jadi nelayan, berdagang, jadi
montir, sampai kepada menjadi buruh kecil, atau ikut merantau
untuk jadi pedagang. Sehingga tersebutlah saat itu bahwa
orang Minang sangat piawai dalam berdagang.
Saat itu memang tidak ada orang yang menganggur, mengenal
istilah kata-kata “jobless, unemployment, job seeker dan job
creator”. Karena saat itu lapangan pekerjaan banyak dalam
bentuk pekerjaan non formal. Tidak memerlukan ijazah atau
surat lamaran yang rumit. Saat itu yang ada cuma orang yang
pemalas, namun mereka bisa dibina dan dimotivasi untuk
berpartisipasi- beraktifitas- dalam pekerjaan informal: bertani,
beternak, bertukang, montir atau berwirasusaha kecil kecilan.
Zaman selalu berganti dan kemajuan selalu bertambah. Variasi
ilmu pengetahuan dan pendidikan juga bertambah. Maka
dibutuhkan banyak sekolah. Di sana-sini dibangun sekolah.
Orang makin ramai memerlukan pendidikan formal, dari SD,
SLTP dan SLTA. Orang tua juga makin peduli dengan
pendidikan. Mereka berlomba memotivasi anak agar berhasil.
Namun sebahagian ada yang salah sikap dan
mengekspresikan harapanya, “Nak, fokuskan saja fikiranmu
pada pelajaran, jangan fikirkan yang lain, kami tidak perlu
dibantu asal kamu rajin belajar”. Demikianlah banyak orang tua
yang sekedar peduli dengan kata “pendidikan” namun tidak
memahami hakekatnya, karena telah membebaskan anak
untuk tidak terlibat dalam beraktifitas di rumah. Ini adalah
bentuk pemanjaan yang tdak mendidik. Dimana pada akhirnya
lahirlah anak-anak yang manja yang cuma sekedar tahu pergi
ke sekolah, tetapi tidak tahu cara membantu diri apalagi untuk
membantu orang tua serta membantu lain.
Saat pendidikan mayoritas orang hanya sekedar tamat SLTA
(SPG, SMEA, STM, dan lain-lain), yang saat itu mereka anggap
sebagai pendidikan tertinggi. Merekapun cuma lulus dengan
nilai “sekedar lepas makan” saja, memiliki kompetensi atau
kecakapan hidup yang rendah maka mereka terdaftar sebagai
perintis kelompok pengangguran. Mula-mula mereka disebut
sebagai pengangguran PTT (Pengangguran Tingkat Tinggi).
Mereka adalah para pemuda yang malas untuk menyinsingkan
lengan baju dan lebih suka suka kongkow-kongkow, luntang
lantung, dan duduk-duduk sepanjang hari dengan bibir dihiasi
kepulan asap rokok.
Lagi zaman terus bergulir. Animo dan kesadaran masyarakat
untuk belajar setinggi mungkin semakin meningkat. Mereka
melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, negeri maupun
swasta. Orang tua tetap merespon aspirasi anak-anak nya
dengan kerja keras. Kapan perlu mereka harus menjual harta,
emas perak, yang melingkar di leher sang bunda, atau menjual
sawah dan ladang asal anak bisa kuliah di universitas.
Tiap semester perguruan tinggi meluluskan ribuan atau puluhan
ribu sarjana baru di negeri ini. Sebagian bisa memperoleh
pekerja karena beruntung dalam taruhan (test) pada
perusahaan swasta, BUMN dan CPNS. Yang tidak beruntung
dalam mencari kerja kantoran ya terpaksa menjadi sarjana
yang kebingungan. Mereka kemudian ikhlas untuk diberi gelar
“pengangguran intelektual”.
Pengangguran intelektual menggantikan istilah “pengangguran
tingkat tinggi”. Pengangguran intelektual adalah gelar yang
menyedihkan yang disandang oleh sarjana yang baru tamat
dari Perguruan Tinggi dan berstatus sebagai “job
seeker”(pencaker- pencari kerja), bukan sebagai “job maker
atau job maker”- pencipta atau pembuat lapangan kerja.
Istilah “pengangguran intelektual” sangat menyesatkan. Apakah
mungkin seorang intelektual kok bisa menjadi penganguran ?
Jangan-jangan yang menganggur itu adalah para sarjana yang
justru intelektualnya rendah, dan bahkan tidak memiliki
intelektual sama sekali. ‘Memang Pak sekarang banyak sarjana
yang lulus dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) di atas 3.00
dan malah ada yang memperoleh predikat cumlaude”. Ini
menunjukan bahwa banyak sarjana yang cuma cerdas di atas
kertas, cerdas otaknya, namun menjadi penganggur gara-gara
mereka tidak memiliki kreatifitas, kemampuan untuk berinovasi
dan juga tidak memiliki jaringan komunikasi dalam sebuah
komunitas yang sesuai dengan bidang keahlian yang dipelajari
di perguruan tinggi, yang pada akhirnya memperoleh cuma
selembar kertas yang bernama “ijazah”.
Mengapa pengangguran intelektual bisa terjadi ? Penyebabnya
tentu saja banyak. Salah satu penyebabnya adalah karena
pendidikan yang kita terapkan pada sang anak belum
menyentuh atau salah sasaran. Karena seorang siswa didik
oleh orang tua dan guru, maka pengangguran intelektual
disebabkan oleh faktor salah pendidikan (mal edukasi) yang
salah sasaran di rumah dan di sekolah.
Mal-edukasi di rumah
Secara instink bahwa semua anak yang berbadan sehat sejak
dilahirkan sampai berusia balita (berusia lima tahun) terlihat
lincah dan lucu. Namun semakin meningkat usia mereka,
semakin besar pula perbedaan kualitas mereka. Orang tua
yang kurang merangsang pertumbuhan dan perkembangan
pendidikan anak akan menciptakan anak-anak yang pasif- anak
yang pemalas.
Ada beberapa karakter orang tua yang berpotensi yang
menghambat kecerdasan anak, yaitu seperti orang tua yang
tidak peduli dalam menyediakan fasilitas beraktifitas anak-
belajar dan bermain. Alasanya bisa jadi mereka tidak punya
uang untuk membeli fasilitas pendidikan. Mereka berfikir bahwa
tidak ada gunanya karena dapat membuat rumah sembrawut-
alhasil buang buang duit saja. Tetapi patut diingat bahwa
fasilitas berkreatifitas tidak harus berharga mahal- bisa jadi
majalah loakan, komik dan buku cerita loakan. Kemudian orang
tua bisa menyediakan cangkul kecil, sapu kecil, bangku kecil
dan pisau tumpul agar anak tidak bengong sepanjang hari di
rumah.
Juga banyak orang tua yang tidak merespon ayat pertama Al-
Quran (96:16) yang berbunyi : “ikraq bismirabbilazi khalaq-
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan”. Seharunya orang tua merespon ayat ini dengan
menyediakan sarana belajar dan perpustakaan bagi anak/
anggota keluarga agar terbisaa membaca dan belajar. Namun
dalam kenyataan orang tua lebih peduli untuk memelihara
keramik dan cendra mata (souvenir) dari berbagai propinsi atau
dari negara lain. Sampai-sampai harus menyediakan lemari
khusus, dipajang di ruang tamu agar memperoleh persepsi
“wah inilah gambaran dari keluarga maju dan modern itu”. Atau
orang tua sangat peduli untuk sarana hiburan. Begitu peduli
untuk membuat home theatre di rumah: , ada TV set besar,
VCD player, sound system, LCD yang diputar siang malam
sehingga rumah jadi hingar bingar, susah untuk mendengar
lawan bicara apalagi untuk berkosentrasi bagi anak-anak dalam
belajar dan bekarya. Pada akhirnya orang tua berhasil
menciptakan anak yang bermimpi menjadi artis sinetron ,
presenter, selebriti dan paling kurang menjadi pengamen dalam
bis kota.
Hilangnya budaya yang melibatkan anak ikut bekerja dalam
merapikan rumah- meringankan beban pekerjaan orang tua-
juga berpotensi menciptakan anak yang kelak menjadi sarjana
yang kebengongan. Fenomena bahwa orang tua dengan
keluarga kecil, keluarga berencana, telah membuat anak
cenderung tidak punya lahan pekerjaan di rumah gara-gara
tidak dilibatkan dalam beraktifitas. Semua pekerjaan dari A
sampai Z telah diborong oleh sang ibu dan ayah, “Wah kasihan
mereka kan masih kecil-kecil”. Rasa kasihan yang memanjakan
membuat anak memiliki pribadi yang lemah. Coba lihat
sekarang, apakah masih banyak anak yang bisa untuk
memasak, mencuci, menyapu, mencangkul, memasukan air ke
dalam irigasi, menghalau itik pulang ke kandang, membuka dan
menutup warung, sampai bagi anak petani untuk masuk ke
dalam sawah atau bagi anak nelayan- ikut berlayar di lautan,
agar kelak mereka bisa menjaga laut dan ikan-ikan tidak dicuri
oleh bangsa lain.
Pengangguran intelektual juga karena akibat anak miskin
dengan pemodelan dari orang tua. Suatu hari seorang bapak
menolak untuk memilik pembantu rumah tangga, karena
berpotensi menciptakan anak-anak yang pemalas di rumah.
“saya keberatan untuk punya pembantu walaupun kita sibuk
bekerja di luar rumah. Lebih baik semua pekerjaan rumah
diberesin oleh ayah, ibu dan melibatkan semua anggota
keluarga untuk memasak, mencuci, merapikan pekarangan,
mengurus usaha sampingan keluarga dan lain-lain. Lebih baik
anak ikut terlibat dan juga melihat orang tua mereka juga
beraktifitas. Anak-anak yang terbiasa melihat orang tua mereka
santai, ogah ogahan, karena semua pekerjaan rumah telah
diborong oleh pembantu, cenderung memiliki jiwa yang
pemalas dan kurang semangat juangnya”.
Mal-edukasi dari Sekolah
Faktor dari sekolah bisa jadi akibat dari gaya PBM (Proses
Belajar Mengajar) yang terjadi sejak dari bangku SD, SMP dan
SLTA belum tepat sasaran. Sekarang dengan kurikulum KTSP
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) seharusnya membuka
ruang dan kebebasan untuk terciptanya kreatifitas,
membutuhkan kemampuan memecahkan persoalan hidup dan
mengatasi masalah dengan cerdas. Namun sekolah sekolah
sekarang menyelenggarakan PBM lebih berorientasi kepada
UN (Ujian Nasional) agar bisa menjaga nama baik sekolah
dengan skor UN yang tinggi. Maka kerja guru dan siswa hanya
mempreteli Standar Kompetensi Kelulusan (SKL) dan Standar
Isi (SI) yang sifatnya sentralis.
Terlihat kebijakan pendidikan sekarang seperti yang
diamanatkan oleh pemerintah adalah untuk membuat siswa
sekadar terampil menjawab soal pilihan ganda. Ini dilakukan
sebagai usaha meraih mutu pendidikan tinggi bagi pendidikan,
berubah menjadi obsesi kompulsif akan standar. Maka guru
sekarang mengajar hanya sekadar membuat siswa bisa lulus
UN. Bagi mahasiswa, belajar atau kuliah hanya sekedar
mencari IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) yang tinggi, walau
diperoleh lewat cara-cara kurang halal, seperti mencontek. Jika
selama menjadi siswa dan mahasiswa, seseorang tidak pernah
mengalami apa artinya menjadi kreatif, mengalami pengalaman
hidup, mempunyai motivasi dan minat belajar yang tinggi maka
jangan pernah berharap bahwa kita bisa melihat para pemuda
(sarjana) memiliki semangat berusaha dan kemandirian dalam
hidup- berwirausaha.
Bapak rektor, Bapak dekan dan para dosen cobalah turun ke
lapangan, dan temuilah apa saja aktivitas para mahasiswa di
tempat kost mereka “ sungguh tidak kreatif”. Sebahagian
mereka cuma tidur, bergitar, main domino, main HP, main
game, begadang malam dan tidur siang sampai kepada yang
gemar menonton clip porno. Nanti bila mereka menjadi sarjana
pengangguran, itu gara-gara IPK tinggi yang diperoleh sekedar
menghafal atau lewat contekan dan skripsi yang kadang kala
lulus lewat transaksi, maka yang dapat getah adalah Perguruan
Tinggi yang bersangkutan sebagai pabrik pencetak “intelektual
pengangguran”.
Sekali lagi bahwa kebijakan UN yang berlaku sejak dari tingkat
SD sampai SLTA dewasa ini, hanya menyiapkan siswa yang
hanya mampu menjawab soal- soal ujian perlu untuk ditinjau
ulang. Bukankah sangat tepat kalau para siswa belajar dengan
learning by doing, learning by exploring, learning by
experimenting dan beberapa metode dan strategi belajar yang
member pencerahan.
Agaknya mengukur tingkat kualitas pendidikan antar Propinsi,
Kabupaten dan antar sekolah melalui skor UN sudah sangat
kadaluarsa. Sebab belajar hanya demi skor UN cendrung
bersifat instant, “sekarang skor tinggi bulan depan belum tentu
menjadi siswa yang cerdas lagi”. Mengapa tidak mengukur
tingkat mutu pendidikan di negeri yang tercinta ini berdasarkan
konsumsi bacaan siswa persekolah atau per Kabupaten, begitu
juga dengan prestasi sekolah/ siswa yang berskala besar, misal
“Propinsi X, atau kabuten Y, memiliki kualitas pendidikan
peringkat satu karena rata rata siswa mengkonsumsi buku
sastra 25 judul persemster dan guru yang menulis di media
masa 20 judul per tahun”.
Juga, karena sekarang kita sudah berada dalam zaman ICT
(Information Communication Technology) dimana mengakses
dan belajar lewat internet sudah menjadi kebutuhan maka
seharusnya ada usaha assessor yang kreatif untuk mengukur /
mengklasifikasikan peringkat kualitas pendidikan berdasarkan
penciptaan blogger atau webblog, misal “Sekolah A
memperoleh peringkat terbaik di Indonesia karena siswa dan
guru memiliki 40 Blogger yang berkualitas, Sekolah B terbaik di
Propinsi karena sangat produktif menciptakan alat elektronik
per tahun”. Apakah kini skor UN yang sering penuh dilemma
masih menjadi acuan untuk mengukur kualitas pendidikan kita
? Wallahu alam bissawab.

36. Jangan Meremehkan suatu Jurusan di Sekolah Tidak

Tidak saja Indonesia yang menggunakan sekolah berlabel


unggul untuk meningkatkan kualitas pendidikan, Amerika
Serikat yang pendidikannya sudah dapat dikategorikan sangat
baik juga mempelopori sekolah unggulan. Walau Negara ini
tidak menggunakan label yang kentara dengan sebutan “school
plus” atau “excellent school”. Walau bagaimana gebrakan
Amerika selalu menjadi kiblat bagi negara berkembang,
termasuk negara kita yang juga sering mengadopsi program
sekolah Amerika.
Gaya pendidikan atau pembelajaran kita, kadang kala, terasa
masih bercorak gaya tempo dulu. Orang tua dan guru masih
suka banyak melarang yang tidak jelas manfaatnya. Kebiasaan
banyak melarang malah membuat anak menjadi sulit untuk
mengambil inisiatif atau prakarsa, miskin inovasi dan kreatifitas.
Kalau kita gagap untuk melakukan prakarsa (inisiatif) dalam
suatu aktifitas dan mengambil keputusan, suka menunggu dan
senang untuk diatur oleh orang lain, maka ini adalah buah dari
hidup dalam rumah dan sekolah yang membudayakan “suka
melarang”. Maka kini saatnya perlu perubahan. Dalam
pendidikan tidak tepat lagi kalau terlalu banyak melarang dan
mengatur, namun memberi kebebasan positif. Bagaimana
pembelajaran yang ideal ? Kita bisa mencari contoh dari
sekolah yang maju dari dalam negeri atau dari luar negeri,
Amerika misalnya. Bukan berarti kita berkarakter ke-Barat-
baratan.
Salah satu pusat belajar unggulan di Amerika Serikat, yaitu
metropolitan learning center interdistrict magnet school for
global and international studies (http://www.mlc.crec.org), yang
kebijakan pendidikan membuat sekolah punya magnet/ daya
tarik untuk studi global dan internasional. Stakeholder
pendidikan menjanjikan kecerdasan pada siswa untuk
menghadapi masa depan yang maju. Prinsip pengajaran yang
dianut oleh pusat belajar ini adalah “let them talk, let them lead,
let them learn, let them join, let them play, let them live, let them
dance/ move, in the break time- let them eat”. Dari semua frase
tadi, yang perlu dicatat adalah kata “let” atau “biarkan”. Ini
berarti sebuah kata untuk pembebasan dan mendorong mereka
untuk menjadi kreatif dan inovatif, serta kontra dengan
kemalasan dan suasana yang statis.
Ciri- ciri keunggulan pertama dalam pembelajaran di sekolah
MLC (Metropolitan Learning Center) yang berlokasi di 1551
Blue Hills Avenue Bloomfield, adalah kebebasan dalam
berekspresi atau let them talk. Di negara- negara berkembang
atau di sekolah yang kualitas pendidikannya rendah,
kebebasan dalam berekspresi kurang terwujud, malah ekspresi
anak didik disana cendrung terbelenggu, kurang tampak
saluran untuk mengekspresikannya. Dalam kelas hanya guru
yang sibuk berbicara- teacher centered. Dalam event-event
sekolah anak didik cuma pintar berekspresi berdasarkan
hafalan, dan melupakannya setelah itu.
Kepemimpinan di sekolah unggulan MLC ini bukan bercirikan
“one man show” dalam arti hanya monopoli atau otoriter
seorang kepala sekolah. Namun kesuksesan kepemimpinan
sekolah unggulan ini adalah karena team work antara Kepla
Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Eksistensi Staff sekolah, juga
eksistensi dari ketua jurusan untuk mata pelajaran . Team work
kepemimpinan dan manajemen sekolah selalu memotivasi,
memberi model dan menemani warga sekolah/ anak didik untuk
merencanakan masa depan. Bukankah hidup ini perlu ambisi
atau cita-cita, maka setiap anak didik harus punya ambisi.
Cinta belajar adalah budaya utama di sekolah MLC yang telah
membuat sekolah tersebut memiliki daya tarik ibarat magnet
atau magnet school. Di sekolah sekolah yang kualitasnya
sering dipertanyakan (kualitas rendah) yang menjadi ciri khas
atau budaya adalah warga sekolah yang gemar hura hura atau
kongkow, duduk bareng bareng dan tertawa terbahak bahak.
Saling meledek, saling meremehkan berpotensi membuat
orang (anggota mereka sendiri) untuk malas berkembang. Anak
didik yang telah membudayakan gemar belajar selalu berfikir
dan berusaha bagaimana mereka bisa sukses. Mereka sangat
yakin dengan ungkapan bahwa pendidikan dan ilmu
pengetahuan adalah berkah yang bisa datang kalau digapai
dan dikejar.”Belajar ketika belajar dan bermainlah ketika
bermain”. Siswa di sekolah MLC tampak sangat professional
dalam belajar- jadi juga ada “siswa professional”. Begitu waktu
untuk belajar datang maka mereka segera serius dan
berkosentrasi dan berharap tidak ada yang mengganggu, “Maaf
teman saat saya belajar mohon jangan dating dulu”.
Sekolah SMA di negeri kita mengenal ada tiga jurusan yaitu
jurusan IPA (sains), jurusan IPS (Ilmu Sosial) dan jurusan
Bahasa. Maka entah mengapa orang tua siswa dan siswa
sendiri sangat mengagungkan jurusan IPA dan memandang
sebelah mata jurusan bahasa, dan jurusan IPS sebagai jurusan
kelas dua. Di sekolah MLC (metropolitan learning center) juga
ada penjurusan. Ada siswa yang belajar di SMA MLC ini pada
core class (Kelas Inti), elective class (kelas elektif) dan
essential class (kelas Esensial). Semua jurusan ini terisi oleh
anak didik, ini berarti tidak ada primadona kelas atau jurusan
fovarite seperti SMA- SMA yang ada di negeri kita.
Mata pelajaran pokok pada core class adalah matematika, ilmu
sosial, bahasa Inggris, bahasa asing dan sains. Di jurusan atau
elective class, siswa mempelajari mata pelajaran “seni, sejarah
dunia, geografi manusia, bahasa Spanyol, sastra dan kalkulus,
akuntasi, anatomi dan ilmu jaringan, fitness dan ilmu gizi.
Sedangkan di kelas essensial, anak didik mempelajari seni,
kesejahteraan personal, literature keuangan, musik, latihan
sains, bahasa dunia, dan seminar. Setiap siswa memahami
bagaimana menjadi orang yang well-rounded (orang berguna)
adalah dengan menjadi well-educated (orang yang kaya ilmu
dan wawasan).
Mata pelajaran yang diajarkan pada ketiga jurusan tadi ibarat
lingkaran yang saling bersinggungan. Mata pelajaran pokok
yang ada pada core class juga dipelajari di jurusan lain.
Selanjutnya coba kita lihat mata pelajaran dalam juruan di SMA
di negerim kita. Ya, ibarat tiga linggaran yang hampir tidak
bersinggungan. ”Gara gara dilemparkan ke dalam jurusan ilmu
sosial, maka ada siswa yang bermohon nilai mata pelajaranya
diturunkan saja agar tidak melampaui nilai mata pelajaran
sains” Anak anak yang lulusan dari jurusan IPA, saat kuliah
akan melahap semua jurusan yang semestinya disediakan
untuk jurusan ilmu sosial atau ilmu bahasa. Penjurusan di SMA
telah menciptakan siswa yang berkarakter arrogant, atau
arrogant berjamaah- mass arrogant, mereka sangat
membanggakan jurusan IPA dan secara tidak langsung jurusan
sosial dan bahasa menjadi inferior.
Ciri-ciri lain dari sekolah unggulan, atau sekolah yang
berkualitas adalah para siswa yang sangat bangga dan
menghargai guru-guru mereka. Tentu saja ini terjadi karena
guru guru di sana sangat professional, menguasai mata
pelajaran dan hangat dalam berkomunikasi. Hubungan guru
dan murid di sana bercirikan kekeluargaan. Siswa atau murid
dengan leluasa mengekspresikan isi hati dan fikiran pada guru
mereka dan tentu saja sang guru akan memberikan respon
positif, appresiati atau penghargaan dalam berinteraksi.
Kalau begitu tentu tidak ada disana guru-guru yang kualitasnya
bersifat karbitan atau guru-guru yang ilmunya tua semalam dari
siswa. Guru guru disana telah memandang karir guru sebagai
profesi serius. Guru guru di sana tidak mengenal budaya minta
dilayani, ”tolong hapuskan papan tulis, tolong isikan tinta board
maker ini, tolong pasangkan kabel OHP (overheard projektor),
tolong ambilkan ambilkan air minum di kantin, apalagi sampaii
menyuruh siswa membelikan rokok”. Guru disana penuh
persiapan dan menguasai apa saja yang berhubungan dengan
pembelajaran dan mata pelajaran. Mereka tentu malu kalau
ternyata tampil di depan siswa sebagai guru yang blo-on.
Selain memperhatikan kompetence, punya wawsan keilmuan,
paedagogi, sosial dan komunikasi, mereka juga memperhatikan
performance atau penampilan. Pakaian mereka necis dan rapi,
kalau begitu guru guru juga perlu well-groomed, berdandan rapi
dan baik, tapi tidak perlu seperti model, bintang sinetron atau
toko-mas berjalan.
Ciri lain dalam pembelajaran di sekolah yang maju adalah let
them teach, yaitu guru- guru yang bebas berinovasi dan
berkreasi dalam mengajar. Mereka tak perlu takut bakal
disupervisi, karena supervisi disana tidak mencari kesalahan
apalagi sampai menggurui dan mendikte. Di sana tidak berlaku
istilah juara kelas, yang ada adalah juara mata pelajaran. Bagi
siswa yang jago dalam satu mata pelajaran maka guru dan
sekolah segera bereaksi untuk memberikan penghagaan dan
merayakan kemenangan dan sekaligus memotivasi siwa yang
lain agar juga bisa meraih penghargaan.
Budaya kuper atau ”kurang pergaulan” ternyata bukan budaya
siswa di sekolah unggulan atau di negara maju. Untuk itu
mereka megenal istilah ”let them join” atau ayo bergabung.
Mereka mungkin bergabung ke dalam paduan suara, musik,
olah raga, teknologi dan kegiatan ekstra sekolah yang lain.
Tentu saja ada guru pendamping untuk memberi motivasi dan
mendukung spirit mereka.
Experience is the best teacher- pengalaman adalah guru yang
terbaik. Sekolah MLC juga menyediakan kegiata eksra seperti
kelompok olah raga catur, kelompok pencinta alam, music
production, penggunaan ICT, essay writing, basket ball dan
football, sewing atau menjahit, kegiatan koran sekolah,
kelompok dansa atau tari, pelatihan kepemimpinan. Ternyata
jenis ektra sekolah hanya berlaku untuk satu semester dalam
setahun. Untuk semester berikutnya ada lagi kegiatan ekskul
(ekstra kurikuler) seperti pembahasan atau kritik film, klub
bahasa Perancis, kritik film asing, basketball dan softball,
musik, drama, tari, belajar bahasa Cina dan Jepang,
kepemimpinan, dan pencinta alam.
Ternyata anak anak di negara maju tidak membudayakan
menjadi “anak rumahan”, yaitu bila libur mereka hanya di
rumah, karena ini berpotensi membat diri kurang kreatif dan
pendidikan kecakapan hidup (life skill) kurang optimal. Saat
waktu senggang dari sekolah, mereka tidak kongkow-kongkow,
main domino, atau bengong dan bermenung sampai berjam-
jam. Mereka akan ikut aktif dalam pengembangan bakat seperti
masuk grup seni, klub- olahraga ski atau klub robot, pokoknya
ikut beraktifitas. Dalam melakukan aktifitas dan belajar, mereka
memperlihatkan keseriusan dan tanggung jawab serta datang
tepat waktu.
Hal-hal yang dilakukan siswa di sekolah MLC tiap hari, sebagai
komitmen mereka, adalah mematikan bunyi-bunyian (HP dan
MP3) saat belajar, akrab dalam bersahabat, berhenti ngobrol
saat belajar, tidak bercanda saat belajar, mendengar
pembelajaran dengan sepenuh hati, sign in dan sign out, atau
ada absent masuk dan absent mengakhiri kegiatan, membuat
tekat atau pledge “untuk menjadi yang terbaik” dan ikut aktif
atau berpatisipasi dalam belajar/ kegiatan.
Kegiatan atau event yang ada di sekolah unggulan adalah
bahwa siswa harus peduli pada karir di masa depan. Maka bila
ada pekan raya karir, career fair, mereka ikut hadir. Mereka
memandang penting untuk bergabung dalam kegiatan
kepemimpinan, kegiatan, amal sosial, seni dan olah raga. Hal
yang paling mereka tunggu adalah memperoleh pengalaman
dari global travel, mengunjungi negara lain seperti, Mesir,
Jepang, China, dan negara lain. Tentu saja hal ini terasa
sangat mahal dan ekslusif bagi kondisi siswa kita. Namun kita
kan juga sudah membudayakan acara jalan-jalan- stydy tour,
walau kesannya baru sebatas mengunjungi shopping center
dan pusat keramaian.
Teakhir bahwa yang juga dibudayakan di sekolah unggulan
adalah membuat album dan memori. Sungguh para siswa di
sekolah yang berbudaya maju menyebut diri sebagai “realtor”,
orang yang berfikiran nyata dan bukan selalu menjadi dreamer
atau pemimpi. Maka sejak di bangku SMP dan SMA mereka
sudah punya rencana, bukan seperti kita yang banyak bingung
memandang masa depan, dan ikut terjebak mengidolakan satu
karir, dan satu universitas, tanpa memahami dan mengenal
potensi diri. Sering banyak ditanya ”Tamat SMA kamu kuliah
dimana ? dan kalau udah gede apa yang dapat kamu kerjakan
?”. Maka jawaban yang diperoleh adalah jawaban klasik ”I don’t
know”. Kini saatnya siswa kita tidak menjadi dreamer tapi
berubah menjadi realtor”.

37. Saatnya Guru Menjadi Learning Manager


Topik tentang pendidikan sangat menarik untuk dibicarakan,
karena berbicara tentang bagaimana melakukan perubahan
terhadap diri, dari keadaan kurang berkualitas menjadi orang
yang sangat berkualitas. Secara umum bahwa peran
pendidikan adalah selalu menjadi tanggung jawab orang tua,
guru/sekolah, pemerintah, dan individu yang bersangkutan.
Dari sudut pendidikan di rumah, peran orang tua adalah
memberikan pembiasaan positif, bagaimana agar anak terbiasa
membaca, terbiasa berkata sopan, terbiasa menolong terbiasa
beribadah. Untuk hal ini orang tua harus memberikan model
(contoh) terlebih dahulu dan juga menyediakan fasilitas belajar
dan bermain, karena bermain juga sebagai kebutuhan primer
sang anak.
Kalau ada kata ”education atau pendidikan” dan kata ”teaching
atau pengajaran”, maka kata edukasi atau pendidikan ditujukan
pada orang tua, sebagaimana peran mereka dalam mendidik
keluarga. Namun ada juga orang yang mampu memberikan
”education” dan sekaligus memberika “teaching” pada keluarga.
Tentu ini bagi mereka yang punya komitmen kuat dan mungkin
mungkin orang tua menguasai Bahasa Arab, Bahasa China,
Bahasa Inggris, atau menguasai matematik, fisika dan yang
lain, atau orang tua sebagai pengajar seni baca A-Qur’an.
Pendidikan itu memang bermula dari orang tua, kemudian
sebahagian dilimpahkan pada sekolah dan mesjid (TPA atau
Taman Baca Alqur’an) untuk pengajaran atau teaching.
Seperti yang telah dikatakan tadi bahwa peran guru adalah
pelaksana teaching, yang umumnya bersifat kognitif, meskipun
ada juga mata pelajaran yang bersifat afektif atau pembentukan
sikap. Namun pembentukan afektif yang sempurna tentu saja di
rumah melalui model dari orang tua dan suasana rumah.
Semua guru adalah pelayan publik, khususnya siswa-siswi
mereka. Dalam mengajarkan suatu mata pelajaran (misal
bahasa, sains atau ilmu sosial) pada siswa, maka guru dapat
diibaratkan sebagai ”penjual barang” yang sedang menawarkan
barang dagangannya pada pembeli dengan berbagai karakter.
”Ada yang melakukan pendekatan yang bagus, ada yang
marah-marah, ada yang rada-rada cuek, ada yang menghardik-
hardik”. Tentu saja guru yang bisa memberikan pengajaran
dengan metode dan pendekatan yang memuaskan dan
menyenangkan akan menjadi guru yang signifikan dalam
menceradaskan anak-anak bangsa.
Kalau guru dalam mendidik adalah untuk mencerdaskan dan
mencerahkan pemikiran, maka peran orang tua adalah dalam
ranah ”afektif” atau sikap. Seperti telah dijelaskan di atas
bahwa peran orang tua dalam membina (mendidik) tingkahlaku
anak adalah melalui pemberian contoh (teladan atau model)
yang idealnya dijiwai oleh pengalaman beragama. Namun
fenomena yang terpantau dalam zaman yang penuh dengan
hiruk pikuk tekhnologi ini bahwa banyak orang tua mendidik
afektif anak namun kurang memolesinya dengan jiwa agama.
”Di rumah jarang melantunkan bacaan Al-quran, membahas
betapa pentingnya menyantuni fakir miskin dan anak yatim,
betapa penting berpakaian yang rai dan sopan, betapa penting
menjadi orang yang ramah dan suka saling membantu. Kalau
demikian tidak perlu heran kalau mereka cenderung melahirkan
generasi yang miskin dengan spiritual quotient.
Oleh sebab itu sebelum afektif anak kita menjadi parah maka
kita, sebagai orang tua dan guru, musti berubah fokus edukasi
dan pengajaran- selalu menyisipkan pesan pesan moral dan
nilai agama dalam setiap interaksi kita dengan anak. Agar
pengajaran lebih berbekas dalam sanubari anak maka gaya
pembelajaran dan pendekatan musti beralih dari teacher
centered menjadi, dimana murid-murid aktif dan mandiri.
Kecerdasan yang dihargai dahulu, secara tradisionil, adalah
kecerdasan lingustik dan logis atau matematik. ”Kalau anak
jago matematik maka itulah yang diangga sebagai anak jagoan
di kelas”. Dalam kenyataan hidup bahwa anak yang jago di
kelas hanya gara-gara rajin menghafal namun pribadinya super
kuper (kurang pergaulan) juga bisa tidak sukses setelah
dewasa, ada yang ”pengangguran” karena tidak beruntung
untuk bidang akademik, namun setelah banting stir (tambah
semangat untuk berjuang) bisa menjadi pengusaha restoran,
sukses melalui dunia hobinya.
Ternyata untuk bisa bertahan hidup, mengembangkan diri,
seseorang akan rugi besar kalau hanya mengandalkan satu
jenis kepintaran. Lebih lanjut bahwa yang diperlukan dalam
hidup adalah seseorang yang memiliki kepintaran berganda,
yaitu: kecerdasan space (visual), kinestetik, musik,
intrapersonal, interpersonal, logika, visual, dan agama atau
spiritual. Pelajaran olah raga dan seni, sebagai contoh, sebagai
dua jenis mata pelajaran dengan bentuk kecerdasan yang
berbeda, yang selama ini dianggap sebagai mata pelajaran
kelas dua (rendahan) tenyata berguna untuk membentuk siswa
memiliki fisik yang kuat, jiwa demokrasi dan kreatif.
Menjadi cerdas adalah urusan ”fikiran” yang merupakan fungsi
dari organ otak, yang salah satu fungsinya adalah untuk
berfikir. Banyak orang tidak menyadari bahwa ternyata potensi
otak kita sungguh luar biasa untuk mengubah wajah dunia.
Tetapi potensi itu sia-sia saja karena kita belum bisa
menggunakan dan memanfaatkannya. Karena sebagian besar
kita tidak mengerti dan tidak mengetahui cara memotivasi otak
tersebut.
Sekali lagi bahwa potensi otak itu sungguh luar biasa, ia ibarat
raksasa tidur. Kalau tidak dikembangkan tentu tidak berfungsi.
Mengaktifkan potensi otak harus dilakukan sejak dini, sejak
bayi, atau sejak dalam kandungan dengan sikap sabar seorang
ibu dan gizi yang dimakannya. Info yang perlu kita ketahui
bahwa pertumbuhan otak anak usia 4 tahun baru mencapai 50
%, kemudian anak usia 8 tahun mencapai 80 %. Pertumbuhan
ini terjadi dengan mengupaya dan mengaktifkan potensi otak
lewat pemainan dan pengalaman atau eksplorasi (merangsang
semua panca indera anak). Itulah gunanya anak harus masuk
play group, TK- yaitu untuk melakuka proses bermain sambil
belajar.
Di SD prestasi belajar anak yang pernah sekolah TK lebih baik
dari pada yang tidak pernah. Namun kita perlu tahu bahwa
yang paling penting untuk kita lakukan adalah pengelolaan
emosi anak melalui seni dan gerak- olah raga. Memasukan
anak dalamm usia dini ke sekolah bukan bermaksud untuk
memaksa mereka untuk mengingat sampai melelahkan otak.
Lihatlah, di TK mereka bermain sambil belajar, bernyanyi dan
olah raga. Anak yang cerdas emosinya lebih kreatif, mandiri,
inovatif, dapat menolong diri dan dapat menolong orang. Anak
murid yang diberi kesempatan untk tampil di depan kelas akan
memupuk rsa percaya diri. Usia SD, SLTP dan SLTA adalah
usia pembentukan jati diri.
Umumnya orang sepakat mengatakan bahwa memotivasi keja
otak adalah urusan pendidikan, atau urusan orang tua, guru,
masyarakat, pemerintah dan si pemilik otak itu sendiri. Dalam
realita bahwa metode dan suasana pengajaran di sekolah
sendiri sedikit memotivasi potenasi otak, itu kalau siswa hanya
disiapkan untuk mendengar dan menerima seluruh informasi.
Demikian pula halnya bila sebahagian orang tua di rumah ada
yang kurang momotivasi otak anak untuk menjadi kreatif dan
produktif dalam berfikir. Apalagi kalau sampai ada orang tua
yang berotensi mematikan kreatifitas berfikir anak, gara-gara di
rumah terbiasa banyak melarang, banyak mengejek, banyak
mematikan semangat berjuang mereka.
Cara belajar kuno yang biasa kita terapkan di sekolah selama
ini bisa tidak efektif buat mencerdaskan otak anak didik. Untuk
menguasai materi di sekolah , kata Paulo Freire (dalam Indra
Djati Sidi,2001:27) bila siswa harus menghafal. Pendidikan
seperti ini sangat analog dengan kegiatan menabung, atau
belajar dengan gaya bank (bank system method) guru sebagai
penabung dan murid sebagai celengan. Ini mengakibatkan
murid tidak punya keberanian untuk menyampaikan pendapat,
tidak kreatif dan tidak mandiri, apalagi untuk menjadi inovatif.
Suasana belajar yang penuh terpaksa berdampak pada
hilangnya aktivitas potensi otak. Untuk mengaktifkan otak maka
suasana belajar- di rumah, di sekolah, di tempat penitipan
anak, dan di learning center- harus menyenangkan. Tentu saja
guru harus punya wawasan luas, ceria, hangat dan berfungsi
sebagai fasilitator untuk mengajak dan merangsang anak untuk
belajar. Kalau demikian halnya sekolah atau guru harus
mengubah paradigma dari teaching (mengajar) menjadi
learning (belajar). Sekarang timbul pertanyaaan, ”apa sih beda
teaching denga learning (?)”.
Learning adalah usaha seseorang dalam membangun
pemahaman sendiri terhadap suatu objek atau materi yang
sedang dipelajari. Sementara teaching adalah kegiatan yang
dilakukan oleh guru terhadap siswa untuk memfokuskan
perhatian atau memperoleh perhatian mereka (Mc. Inerney,
1998). Tentu saja makna kata ”learning dan teaching” di atas
adalah bisa jadi masih sempit.
Sekolah dan guru sudah, sebagai penyelenggara kegiatang
”teaching and learning” idealnya harus mendapat kepercayaan
dari masyarakat untuk mendidik anak mereka. Seharusnya
guru- guru, kepala sekolah dan komite sekolah berfikir dan
prihatin kalau tiap awal tahun akademik banyak masyarakat
kurang melirik sekolah mereka dan mempercayai (mendaftar)
anak pada sekolah lain. ”Ada apa gerngan dengan sekolah kita
ini, kenapa anak bapak anu atau ibu anu kok tidak melirik
sekolah kita ?”. Barangkali ada proses pembelajaran,
pelayanan sekolah dan manajemen sekolah yang yang tidak
layak dan kurang memuaskan. Maka dengan cara begini berarti
sekolah dan guru ikut mempertanggung jawabkan pendidikan
tersebut pada masyarakat, dan bukan pada pemerintah saja
dalam bentuk laporan demi laporan yang kadang kala penuh
dengan polesan.
Lebih lanjut tentang bagaimana arus kebijakan pendidikan
sebelumnya di nusantara ini ? Tentu saja arus kebijakan atau
arus komando selalu turun dari atas ke bawah. Arus komando
atau birokrasi yang sebelumnya terlalu berkarakter sentralis
yang panjang. Kebijakan dan keputusan dimulai dari pusat ke
propinsi, ke kabupaten, ke sekolah dan ke guru. Dan ini terbukti
tidak efektif lagi, sebab sering komando dari atas salah tafsir
(karena tidak dimengerti setelah sampai di bawah, atau gara-
gara guru kurang kreatif). Syukurlah bahwa rantai komanto atau
birokrasi tersebut kini telah diputus menjadi desentralisasi
dalam otoda- otonomi daerah. Maka peran pemerintah juga
bergeser dari regulator menjadi facilitator. Itulah mengapa
pemerintah hanya menetapkan standar minimun untuk
kelulusan (sebagai contoh).
Fenomena Otoda dan desentralisasi sangat tepat untuk era
sekarang- era globalisasi. Era ini ditandai oleh komputerisasi,
efisiensi, transparansi, profesionalime dan kualitas yang tinggi.
Untuk itu guru harus kompeten dan berkualitas yang ditandai
dengan karakter ”komputerisasi, efisiensi, transparansi,
profesionalime, berkualitas”, juga mampu berkomunikasi untuk
membentuk anak didik yang matang intelektual, emosional,
moral dan spiritual.
Guru zaman sekarang harus menjadi ”Guru profesional”.
Apalagi bagi yang sudah mencicipi kue (uang) yang bernama
sertifikasi, yang sudah mereka nikmati untuk renovasi rumah,
mempermak mobil second, jalan-jalan ke mall, menabung untuk
biaya kuliah, untuk bantu famili atau biaya pendidikan anak.
Ada kesan bahwa sebahagian guru penerima sertifikasi adalah
sebagai ”guru profesional bual-bualan”. Tidak masalah, untuk
selanjutnya kalau mereka mau, mereka bisa saja menjadi guru
profesional benaran melalui pengembangan diri lewat buku,
menulis, internet, seminar, kuliah, dan lain lain. Kalau mengajar
atau berbahasa dalam sosial (di rumah dan di sekolah) mereka
telah beralih dari gaya berkomunikasi satu arah menjadi
komunikasi dua arah.
Kini semakin banyak guru yang kommit dengan kata ”guru
profesional”. Guru profesional adalah ciri untuk guru masa
depan atau guru pemberi pencerahan untuk pendidikan bangsa
ini. Maka sangat tepat kalau kita para guru kini berfungsi
sebagai coach (pelatih), counselor dan learning manager.
Tidak perlu dulu mencari teori, namun coba perhatikan
bagaimana aktifitas seorang coach di lapangan. Guru dan
siswa langsung turun ke lapangan pembelajaran, tidak beraksi
sebagai penonton yang kerjanya cuma berteriak, berseru,
bersuit-suit, asal memuji dan sampai memaki-maki, namun ikut
mengawasi kualitas, langsung memberi contoh dan langsung
memberi semangat lagi. Sambil berada di lapangan ia juga
memberikan peran counselor.
Bukan bermaksud terlalu memuji sekolah sekolah berkualitas di
negara tetangga (Australia) seperti diungkapkan oleh
pengalaman teman yang telah melakukan studi banding ke
sana. Bahwa guru-guru di sana, bila jam pembelajaran dimulai
mereka segera bergerak ibarat seorang pelatih. Berjalan tegap,
cepat dan bersemangat. Di leher bergelantungan kunci untuk
labor,dan lemari dalam kelas. Karena mereka terbiasa
melakukan sesuatu untuk pembelajaran sendirian, tanpa minta
tolong, kecuali kalau ada assisten, apalagi minta tolong kepada
siswa untuk menjemput itu dan ini yang sengaja ditinggalkan
atau tertinggal, atau memasang hal hal kecil yang sangat
sepele.
Selama pembelajaran amat jarang guru di sana yang terpaku
duduk di depan. Aktifitas yang dilakukan adalah berbicara
tentang apa dan bagaimana topic, memberikan model dan
meminta respon siswa, kemudian memberi elayanan secara
individual tanpa melupakan monitoring secara klasikal. Sekali-
sekai sang guru berhenti dekat bangku siswa, sharing fikiran
dan menulis sesuatu langsung di atas meja. Karena ternyata
meja belajar siswa di sana terbuat dari bahan papan atau
bahan yang bisa ditulis dan sekaligus bisa dihapus kembali.
Suasana iklim kelas mencerminkan adanya pelayanan prima.
Sang guru tentu sangat tahu bahwa mereka digaji oleh Negara
untuk melayani dan mendidik dengan prima.
Peran guru masa kini, khusus bagi mereka yang sudah
memperoleh pengalaman, traning, informasi apalagi yang
sudah menikmati dana sertifikasi (sekali lagi) musti berperan
sebagai learning manager. Sebagai pengelola (manager) untuk
mencerdaskan siswa maka mereka musti kenal betul dengan
siapa siswanya dan apa materi pembelajaran yang terbaik buat
mereka. Apakah siswa memang belajar optimal ? Untuk itu
mereka selalu memberikan motivasi, melakukan monitor dan
evaluasi, kalau ada yang kurang diperbaiki dan kalau
meningkat segera diberi reward.
Paling kurang guru yang bertinak sebagai learning manager
memahami 4 pilar pendidikan yang dipopulerkan oleh oleh
komisi Unesco yaitu setiap orang harus dapat; learning to think-
creative thinking, learning to do- problem solving, learning to
be- himself/ independent, dan learning to live together. Atau
belajar untuk berfikir- yang berarti berfikir kreatif, belajar untuk
berbuat yang berarti menyelesaikan masalah, belajar untuk
mandiri, dan belajar untuk bisa hidup bersama-sama. Maka
guru sebagai learning manager harus tidak mendorong
pembelajaran yang membeo atau siswa yang pasif dengan
kebiasaan siswa yang cuma sekedar menghafal menghafal
sepanjang hari.

38. Merajut Pendidikan Berkualitas


Kosa kata “Gap” yang berarti celah atau ketimpangan telah
menjadi gangguan hubungan antar individu. Contohnya ada
kata gap-communication atau gap- sosial , kita mengenalnya
sebagai ketimpangan hubungan antara golongan yang kaya
dengan golongan yang miskin, yang terdidik dan yang tidak
terdidik. Kemudian ketimpangan antara orang yang berada di
kota dengan orang yang berada di pedesaan.
Ketimpangan atau gap untuk pendidikan di negeri ini adalah
dalam bentuk hubungan antara out put sekolah dengan
kualifikasi tenaga kerja. Kualitas pendidikan di desa dengan
yang di kota, kualitas pendidikan penduduk kaya dengan
kualitas penduduk miskin, serta kualitas pendidikan di pulau
Jawa dengan kualitas pendidikan di luar Jawa. Gap sosial tidak
perlu kita lestarikan namun harus dicari solusinya.
Banyak orang sependapat bahwa pendidikan bisa menjadi
solusi yang tepat untuk mengatasi ketimpangan yang ada
diantara kita. Dewasa ini banyak masyarakat yang telah
menyadari akan pentingnya arti membangun diri dan
melengkapi diri dengan pendidikan. Dengan cara demikian
maka pendidikan bisa menjadi engine of growth- sebagai
penggerak dan lokomotif bagi pembangunan diri dan
pembangunan bangsa ini.
Idealnya pendidikan yang kita peroleh harus mampu untuk
mendorong semangat invention (penemuah hal-hal baru) dan
semangat innovasi (melakukan perubahan yang positif). Namun
pendidikan yang bagaimana ? Tentu saja pendidikan yang
memberikan kreatifitas, kebebasan dan rasa aman dengan
menyediakan banyak sarana/ fasilitas- melakukan identifikasi
dan eksplorasi atau penjelajahan terhadap peserta didik (siswa-
siswi)..
Paradigm pendidikan sekarang ini musti memberi penekanan
pada proses learning (belajar) daripada teaching (mengajar)
dan murid yang mandiri dalam belajar. Pendidikan yang
berfokus pada learning (belajar) tentu bisa membuat anak didik
lebih kreatif, apalagi bila mereka dikondisikan untuk melakukan
eksplorasi yang banyak. Sementara peran guru sebagai
fasilitator musti mampu memberi rasa aman dan kebebasan-
tanpa banyak mendikte, mencela dan terlalu mengontrol
mereka.
Karena dinamika pendidikan maka sekarang telah ada sekolah
yang memberikan pelayanan berkualitas dalam mendidik:
memberikan rasa aman dan kebebasan bagi anak didik
mereka. Praktek ini tentu saja memuat murid semakin kreatif
dan senang melakukan educational exploration. Namun bagi
sebahagian sekolah yang lain adakalanya hal ini belum
terwujud. Dari pengalaman di lapangan coba lihat tentang
prilaku dan tujuan belajar sebahagian siswa-siswinya. Adalah
fenomena bahwa banyak mereka yang tujuannya bersekolah
adalah untuk memperoleh ijazah, sehingga proses belajar
cenderung mereka abaikan karena ijazah lebih penting
daripada learning. Ini bearti kerusakan mental bagi mereka.
Untuk mencegah banyaknya anak didik yang bermental
demikian, belajar hanya demi berharap selembar ijazah, maka
diperlukan peran guru, peran sekolah dan peran rumah yang
solid. Ini berarti bahwa guru musti berkualitas, kemudian
sekolah dan rumah punya kultur dalam mendidik.
Anak yang bagus prestasi belajarnya adalah anak yang berasal
dari rumah yang memelihara kultur belajar, maka sebagai
konsekuensinya bahwa orang tua perlu membimbing anak.
Mereka harus punya kegiatan yang terstruktur di rumah- anak
tahu kapan waktu untuk belajar, bermain, dan membantu orang
tua. Kemudian mereka suka berdiskusi dengan orang tua, atau
orang tua mengajak mereka berdiskusi. Orang tua juga harus
punya informasi tentang belajar anak di sekolah, mengetahui
bagaimana plus dan minus belajar anak. Anak yang tidak
terlatih dan terbimbing seperti kondisi hal di atas tentu akan
gagal. Kegagalan juga bisa disebabkan oleh waktu atau
kegiatan yang tidak terstrukur, tidak ada dialog tentang
pendidikan di rumah atau orang tua yang masa bodoh tentang
belajar anak.
Seberapa pentingkah kultur edukasi di sekolah ? Untuk
memajukan pendidikan maka diperlukan peran guru yang
punya kemampuan pada mastery learning, critical thinking,
decision making dan communication. Kemudian juga diperlukan
guru yang mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi untuk
menghadapi perubahan kurikulum. Untuk menjadi guru yang
cerdas dengan mastery learning, maka kita perlu pembisaaaan
otodidak- membisaakan diri dengan konsep long life education.
Untuk menjadi kritis maka guru perlu berkomunikasi dan
membuka diri.
Kadangkala sekolah bisa ibarat sebuah department store (took
serba ada) yang menyuguhkan barang dagangannya dalam
bentuk variasi mata pelajaran- matematika, KWN, olah raga,
agama, bahasa, dan lain-lain. Semua mata pelajaran tersebut
dapat dikelompokan kedalam mata peajaran numerasi dan
mata pelajaran literasi. Numerasi berarti mata pelajaran yang
berkaitan dengan angka-angka , sementara literasi adalah mata
pelajaran yang berhubungan dengan literatur atau bahasa.
Memang bahwa pendidikan lama berfokus pada kemampuan
verbal (bahasa) dan logika (matematik). Namun sekarang, teori
pendidikan yang baru, yang fokusnya adalah untuk
peengembangkan kemampuan berganda dalam mendidikan
anak- multiplied ability dengan penekanan pada pemahaman
space, kinestetik, music, intrapersonal, interpersonal, alam,
logika dan verbal.
Adalah lazim kalau dahulu orang tua menuntut agar jago
dengan pelajaran berhitung (matematika) dan menganggap
anak sebagai siswa pemalas kalau ternyata lebih suka dengan
bola dan kegiatan olah raga. Padahal lewat kegiatan olah raga
tersebut sang anak bisa menjadi olahragawan handal, seperti
Diego Maradona, Ronaldo, dan lain-lain. Atau sang orang tua
mencela anak yang kerjanya menyanyi melulu dan
memaksanya untuk mengikuti kursus bahasa Inngris, pada hal
kemampuan menyanyi itu bisa mengantarkan anak menjadi
presenter dan entertainer yang jitu. Maka untunglah bahwa
sekarang pendidikan berpihak pada pengembangan kepintaran
berganda anak didik.
Selanjutnya bahwa untuk implikasi pendidikan jangka panjang
maka kita perlo mendorong anak untuk mengembangkan basic
skil, thinking skill dan personal skill. Basic skill meliputi
kemampuan berhitung, berbicara, menulis, mendengar dan
kemampuan membaca yang tinggi -counting, speaking, writing,
listening, dan reading yang tinggi. Sebagai interprestasi bahwa
betapa penting bagi setiap orang tua sejak dini mengajak anak
agar bermain-main dengan angka, (Upik …kalau di rumah ini
ada lima orang, maka berapa jumlah tangan…?), kemudian
juga membudayakan acara kebersamaan untuk membaca dan
melakukan bincang-bincang keluarga. Demikian pula halnya
bagi sekolah agar bisa menyusun agenda ekskul (ekstra-
kurikuler), mungkin merancang kegiatan lomba cerdas cermat,
lomba debat dan pidato, serta mengaktifkan koran sekolah dan
perpustakaan sekolah.
Untuk thinking skill meliputi kreatifitas, problem solving
(Pemecahan masalah), dan visualizing (Kemampuan
memandang masalah), kemudian personal skill meliputi self
management atau mengendalikan diri, tanggung jawab, jujur
dan sosialibility. Implikasinya adalah bahwa guru dan orang tua
harus menghargai bentuk fikiran anak. Mereka harus
mendengar ekspressi anak sejak usia dini. Tidak tepat lagi
dalam acara kebersamaan ayah dan ibu menganggap anak
selalu sebagai anak bawang- kehadiran mereka hanya sebagai
pelengkap, suara mereka tidak begitu digubris. Juga sangat
tepat bila orang tua dan guru menghargai sosial anak,
menghargai nilai pergaulan dan kebersamaan mereka. Disini
sangat diharapkan pengembangan emosi- emosional quotient
atau kecerdasan bergaul anak.
Tentu saja orang tua dan guru mempunyai peran strategis
dalam mengembangkan emosi siswa mereka. Dari gaya
kepemimpinan, maka kepemimpinan demokrasi adalah sangat
pas dan berkontribusi dalam meningkatkan kehangatan emosi
anak. Cara lain untuk meningkatkan EQ (emotional quotient)
anak adalah dengan mengkondisikan mereka banyak bergaul.
Tentunya pergaulan yang terkontrol (bukan hura-hura dan
kongkow-kongkow melulu) dan melakukan aktifitas sosial.
Kemudian anak juga perlu melakukan kegiatan dalam bidang
olah raga dan kesenian agar bersikap lincah dan energik.
Menjadi siswa yang hebat dalam pandangan pendidikan pada
zaman sekarang bukan berarti seorang siswa harus
membenamkan kepalanya dalam buku melulu, menghafal
rumus-rumus, kalimat per kalimat tanpa melupakan titik dan
komanya. Mengajar tidak lagi berarti meringkaskan buku buat
anak didik dan mendiktekanya bila sang guru letih dalam
mencatatkanya. Selanjutnya dalam proses pembelajaran siswa
tidak tepat lagi kalau menjadi penonton dan pendengar melulu.
Namun disinyalir dalam praktek pendidikan masih banyak gaya
mengajar si pendidik yang bersifat “CMGA” atau cara mengajar
guru aktif dengan gaya murid yang “DDCH” atau duduk, diam,
catat dan hafal (Zamroni, 2000:31-32). Seharusnya siswa musti
diusahakan dan dikondisikan agar menjadi aktif, karena mereka
adalah sebagai pelaku dan pemain dalam pendidikan. Guru
sebagai fasilitator dan bukan berarti sebagai sumber ilmu lagi.
Sekolah harus sebagai tempat yang menyenangkan dan bukan
sebagai tempat yang membosankan. Guru juga musti aktif dan
memberikan model dalam kultur edukasi sekolah, anak didik
diusahakan berani untuk berbicara- menyampakan gagasan.
Motivasi belajar di sekolah tidak tepat lagi sekedar untuk ujian
saja, namun musti berfokus pada proses learning.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mencerca dan menjelekan
pendidikan negeri sendiri, namun adalah sebagai otokritik.
Bahwa sampai detik ini kondisi pendidikan kita apakah di
tingkat SLTP, SLTA maupun di tingkat perguruan tinggi masih
banyak yang bersifat one way direction, sang dosen paling
getol dengan system ceramah. Guru-guru di tingkat SLTP dan
SLTA dituntut untuk menggunakan berbagai metode
pembelajaran. Sementara mereka (para dosen) terkesan bebas
dari tuntutan dan bersikap arogan dalam menerapkan model
pembelajaran (perkuliahan)yang bercirikan student-centered.
Mereka member kuliah sesuka mereka tanpa ada yang
melakukan supervisi. Pendekatan ini di tingkat SD, SLTP dan
SLTA tak dapat merangsang murid untuk belajar keras
sehingga daya serap jadi rendah.
Dalam praktek edukasi masih ada yang musti diobah, missal
tentang gaya pelayanan. Coba lihat gaya kepemimpinan di
sekolah, masih ada kepemimpinan kepala sekolah dengan
gaya komando, guru yang terlalu dominan dan siswa yang
kurang aktif. Fokus sekolah selalu nilai/ NEM dan sedikit agak
mengabaikan aspek proses. Maka ini harus diubah menjadi
gaya kepala sekolah dengan managemen berbasis sekolah,
menghargai kreatifitas guru tidak perlu lagi dominan, karena
mereka bukanlah sumber belajar, kecuali hanya sebagai
fasilitator dan motivator. Eksistensi NEM dan nilai tidak perlu
dibesar-besarkan kalau itu hanya bersifat instan dan rekayasa.
Proses pembelajaran atau learning musti dipandang sebagai
pokok dari edukasi. Individual learning telah menghasilkan
siswa yang berotak, namun yang lebih tepat sekarang adalah
cooperative learning yang menghasilkan siswa yang berotak
dan berhati, bagus IQ nya dan mantap EQ nya. Untuk
menyonsong pendidikan yang berkualitas maka kuncinya
adalah tentu kultur edukasi dengan merajut pendidikan yang
juga berkualitas.

39. Mendidik Anak Cerdas dan Ceria


Semua orang tua berharap bisa memperoleh anak yang
cerdas. Sejak anak berusia dini mereka ikhlas berkorban
secara moril dan materi untuk mendidik mereka. Dalam hal ini
orng tua terlihat begitu ringan untuk mengeluarkan dana untuk
pendidikan dan memilihkan tempat belajar yang berkualitas.
Juga membelikan fasilitas permainan dan pendidikan buat
mereka. Kadang kala mempunyai anak yang cerdas namun
karakternya menyebalkan- suka berbicara kasar dan kurang
sopan- telah membuat orang tua menjadi stress dan mengurut
dada sepanjang hari. Maka orang tua berharap sangat
“Bagaimana ya supaya aku punya anak yang cerdas dan
pribadi yang hangat” , seperti kata orang Minang, mulut manis
kucindan murah (anak yang berbudi dan berbahasa yang
santun).
Apa mungkin kita bisa memperoleh dan mendidik anak yang
cerdas dengan pribadi hangat seperti membalik telapak tangan
? Tentu saja tidak dan orang tua, dengan dukungan lingkungan,
perlu berusaha memberi model terlebih dhulu. Adalah isapan
jempol untuk memperoleh anak yang lembut dalam berbicara
sementara ayah dan ibu membuadayak cara berbahasa yang
keras, kaku dan ksar. Dalam mendidik dan membimbing anak
orang tua modern selalu mencari rujukan pada buku dan
literatur lain. Imam Suprayoga (dalam Karim, 1982:128)
mengatakan ada 3 teori tentang mendidik anak yaitu: teori
pendidikan tabularasa, teori nativis dan teori konvergensi
(gabungan dari dua teori sebelumnya).
Dalam teori tabularasa dinyatakan bahwa setiap anak terlahir
seperti kertas putih, orang tua dan lingkunganlah yang akan
menentukan warna atau karakter pada mereka. Dalam teori
nativist dinyatakan bahwa setiap anak lahir membawa bakat
dan potensi masing-masing. Kemudian dalam teori konvergensi
dinyatakan bahwa setiap anak terlahir membawa bakat dan
potensinya masing-masing, sedangkan orang tua dan
lingkungan turut mempengaruhinya.
Jika semua anak ketika lahir hanya pandai menangis, namun
setelah beberapa tahun kemudian karakter mereka terlihat
berbeda satu sama lain terlihat jelas. Perbedaan mereka terjadi
karena perbedaan pada fisik, pengetahuan, pengalaman dan
inteligensi atau IQ. Untuk hal ini teori konvergensi lebih
mendukung pernyataan ini. Agar orang tua bisa sebagai
pendamping dalam pertumbuhan dan perkembangan anak,
maka mereka seharusnya memiliki pengetahuan tentang
pendidikan anak. Untuk bisa mengoperasikan mesin cuci saja
juga dibutuhkan pengetahuan. Orang tua misalnya bisa
membaca berbagai artikel dan literature. Adams (1988) menulis
buku tentang “ your child can be a genius and happy, a
practical guide for parents”. Buku tersebut cukup praktis untuk
dipahami dan pokok pembahasannya adalah seputar peran
orang tua sebagai guru pertama dalam hidup anak, bagaimana
mengkondisikan anak untuk melakukan eksplorasi atau
penjelajahan edukatif , dan bagaimana membantu anak untuk
mengenal pendidikan sejak usia dini.
Orang tua Sebagai Guru Pertama Dalam Hidup
“Siapakah guru pertama kamu dalam hidup, yang mengajar
kamu dalam bersopan santun, yang mengajarkan kamu cara
berkomunikasi, dan yang mengajarkan kamu bagaimana cara
hidup sehat ?” Maka semua anak akan menjawab serentak
“ayaaaah dan ibuuu !!” Tentu saja para orang tua. Memang
benar bahwa itulah bahagian dari tanggung jawab orang tua
dalam mendidik dan merawat pertumbuhan anak.
Orang tua sebagai pendidik anak idealnya harus
merencanakan dan menyusun kegiatan anak di siang hari
untuk bermain, sejak mereka berusia bayi kapan perlu hingga
mereka berusia remaja. Tentu saja mereka perlu menyediakan
sarana untuk berbagai aktivitas dalam rangka mengembangkan
intelegensi mereka. Apakah musti sarana yang serba mahal
dan serba elektronik dan serba digital ? Tentu saja tidak,
karena tidak semua orang tua yang memiliki uang yang
berlebih. Maka benda-benda sederhana seperti balok-balok,
majalah bekas, crayon, peralatan yang ada di rumah juga bisa
memberi nilai edukatif bagi anak.
Untuk menumbuhkan anak cerdas, maka mereka tidak hanya
butuh benda dan permainan, namun juga membutuh orang lain.
Ini berarti bahwa mereka harus mempunyai teman yang
banyak. Teman ereka tidak musti semua anak-anak yang
cerdas. Dari sana kelak mereka bisa kenal dengan watak dan
kualitas teman. “Si Jeki jadi bodoh karena suka buang-buang
waktu dan menunda ninda pekerjaan”. Keadaan teman yang
lain adalah ada yang bodoh, pintar, pemalas, sportif, dan lain-
lain.
Agaknya orang tua juga perlu mengenal teknik pengajaran di
rumah, mungkin dalam bentuk menceramahi anak, memberi
contoh, menyuruh, mendikte dan sebagainya. Namun cara
mendidik ang lebih baik adalah dengan membiarkan anak untuk
berbuat dan mencobanya langsung. Sejak usia 0-5 tahun, anak
memang paling baik belajar lewat bermain dan menggunakan
objek. Mengapa demikian ? Ya karena mereka butuh
pengalaman nyata.
Waktu adalah faktor pertama dalam pendidikan. Disini bukan
bearti yang dibutuhkan adalah waktu yang lama. Apa gunanya
bermain dan belajar begitu lama kalau anak merasa bosan.
Bagi orang tua yang punya karir padat, lebih baik melowongkan
sedikit waktu untuk mlakukan kebersamaan yang
menyenangkan bersama anak lewat bermain, bercakap, dan
belajar bareng. Waktu yang dihabiskan orang tua bersama
anak untuk mengobrol akan menguatkan ikatan antara orang
tua dan anak.
Sebagaimana dikatakan bahwa orang tua adalah guru pertama
anak, musti menjadi guru yang terhebat bagi mereka. Orang
tua yang punya prinsip masa bodoh, akan berpotensi
menghancurkan masa depan anaknya sendiri. Orang tua
adalah juga psikolog terbaik bagi anak, karena dialah orang
yang selalu mengamati pertumbuhan dan perkembangan anak.
Mereka akan melihat bakat dan minat anak sejak usia dini.
Sebahagian anak, misalnya, memperlihatkan bakat khusus
pada musik dan seni saat usia dini. Namun bakat matematika
dan bahasa bisaanya terlihat agak terlambat. Albert Einstein,
sebagai contoh, yang dianggap sebagai anak bodoh karena
perkembangannya terlambat saat di sekolah.
Orang tua bisaanya menemukan karakter khusus anak melalui
observasi harian. Kadang-kadang juga menemui hal hal yang
cukup kontra dan serba aneh. Juga, kadang kala anak yang
punya bakat/ cerdas melakukan pekerjaanya tidak rapi dan
tidak tertarik terhadap pekerjaan yang berulang-ulang.
Selanjutnya bahwa sekolah tidak dapat diharapkan begitu
banyak dalam menyediakan fasilitas buat anak berbakat. Orang
tua sendirilah yang musti menyediakan buku dan perlengkapan
khusus mereka.
Melakukan Eksplorasi Bersama Anak
Kata lain dari eksplorasi adalah “penjelajahan”. Eksplorasi
adalah kegiatan yang sangat penting untuk dilakukan manusia.
Melalui eksplorasi Columbus menemui benua Amerika, melalui
eksplorasi Neil Amstrong mendaratkan kaki di bulan. Kegiatan
intelektual dan usaha kreatif yang dilakukan oleh tokoh sejarah
adalah melalui eksplorasi. Sebelum mendirikan restoran atau
rumah makan Padang, sebagai contoh, orang Minang terlebih
dahulu melakukan eksplorasi- melakukan penjelajahan, menilai
dan melakukan perenungan. Sampai akhirnya diperoleh kata
sepakat “Uda di dekat terminal ini sangat cocok kita bangun
restoran Padang”. Al-Gazalli juga melakukan eksplorasi, dalam
bentuk penjelajahan dan kontemplasi jiwa, hingga
menghasilkan tulisan yang berjudul “Ihya u’lumiddin” yang
berarti menghidupkan ilmu agama.
Untuk membuat anak menjadi cemerlang maka mereka perlu
melakukan eksplorasi, dalam bentuk kegiatan bermain,
penjelajahan dan aktifitas kecil-kecilan. Tentu saja orang tua
tidak perlu memaksakan sesuatu aktifitas pada anak kalau
akan membuatnya bosan. Anak-anak yang asyik tenggelam
dengan aktifitasnya dalam sebuah mobil rongsokan, anak yang
lagi asyik memanjat pohon kecil (pohon cherry), menangkap
capung dan belalang atau memilih-milih kerikil yang aneh di
pinggir sungai adalah beberapa contoh bentuk eksplorasi yang
lazim mereka lakukan.
Eksplorasi anak-anak yang berusia lebih kecil bisaanya
dilakukan di rumah. Aktifitas eksplorasi mereka disebut denga
“exploring play” atau bermain eksplorasi. Exploring play
dilakukan dengan air, pasir basah dan plasticine. Tentu saja
mereka kadang-kadang perlu ditemani demi kenyamanan.
Bisaanya selama exploring play anak-anak bertanya tidak
henti-hentinya. “Wah menyebalkan ini anak, bicara dan
bertanya melulu” gerutu orang tua. Namun demi pertumbuhan
bahasa dan kecerdasan mental atau kognitif mereka, maka
orang tua musti menjauhkan rasa bosan atas pertanyaan demi
pertanyaan sang anak.
Permainan menjelajah sangat penting bagi anak dalam rangka
mengembangkan majinasi mereka. Anak-anak yang berada di
daerah pedesaan dan di daerah yang lebih luas untuk akses ke
luar rumah lebih beruntung dalam melakukan eksplorasi yang
bersifat alami: menangkap burung pipit yang memangsa padi di
sawah, menangkap belut dan ikat dalam aliran air dan sampai
kepada aktifitas membongkar pasang alat permainan.
Sejak menjamurnya kemajuan teknologi digital maka banyak
anak yng menyenangi eksplorasi digital dalam dunia maya
lewat game PS (play station) dan game lain yang berbasis
teknologi komputer. Gara-gara orang tua kurang mencampuri
pembagian waktu mereka, maka banyak anak yang menjadi
pencandu digital-game, dimana mereka menjadi game maniak-
kerajingan berada pada Play Station, di depan layar komputer
atau dalam boks warnet (warung internet) selama berjam-jam
sampai melupakan tanggug jawab belajar, beribadah dan
membantu pekerjaan di rumah. Kepedulian orang tua untuk
mengajak anak untuk melakukan aktifitas yng berimbang antara
bermain, belajar dan membantu orang tua sungguh sangat
diperlukan.
Disamping mendorong anak untuk melakukan eksplorasi, orang
tua juga perlu menumbuhkan kemampuan berkomunikasi
mereka. Dalam hal ini orang tua lebih baik memulainya dengan
mengajak anak untuk ngobrol (berbicara) sejak usia bayi
tentang aktifitas yang dijalankan , agar kemampuan
berbicaranya juga meningkat terus. Selanjutnya orang tua juga
bisa memperkenalkan alat-alat tulis seperti pensil, pena, crayon
dan majalah majalah tua buat balita mereka. Kegiatan ini
sangat baik diikuti oleh orang tua yang lain, karena dasar untuk
belajar menulis dan membaca dalam usia dini memang terletak
di rumah. Oleh sebab itu rumah, orang tua, musti meyediakan
sarana belajar, bermain dan hiburan seperti lagu-lagu, irama,
koleksi buku cerita serta buku-buku jenis lainnya.
Memperkenalkan Pendidikan Sedini Mungkin
Anak yang mengenal dunia sekolah lebih awal, mental
belajarnya lebih siap dari pada anak yang belum mengenal
sekolah sama sekali. Pendidikan paling rendah seperti TK dan
PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) adalah bentuk pengenalan
terhadap dunia pendidikan (pra sekolah) sebelum mengenal
dunia pendidikan yang sebenarnya kelak. Pendidikan pra-
sekolah, juga, merupakan tempat dimana mereka bisa belajar
untuk bersosial dengan anak-anak seusianya. Mereka juga
perlu belajar bagaimana berada jauh dari rumah dan
bagaimana berkomunikasi dengan orang-orang lain.
Anak anak yang belajar pada TK juga sudah punya kurikulum
dalam kegiatan belajar membaca- mengenal huruf dan kata,
yang mana kegiatan ini bisa jadi sebagai “pre-reaing activity”
untuk masa-masa selanjutnya. Praktek yang terbaik (best
practice) untuk membaca bagi mereka adalah melalui aktivitas
membaca itu sendiri. Disamping kegiatan membaca yang
dipandu oleh guru TK di sekolah, orang tua juga perlu memberi
penguatan atas kemampuan “pre-reading activity anak”.
Memberiikan pujian atau reward bila anak sudah menunjukan
kemajukan atau reward juga berguna untuk mendorong minat
dan motivasi belajar mereka. Orang tua perlu membuat session
membaca bagi anak, namun tidak perlu terlalu lama, cukup
hanya sekitar 20 menit, kecuali kalau sang anak menyukainya.
Sejak anak berusia 5 atau 6 tahun sampai mereka berusia
remaja, mereka menyukai cerita humor. Maka sangat bijak bila
orang tua juga menyediakan cerita humor dan komik yang lucu
buat mereka. Namun apa yang musti dilakukan untuk
mendukung kegiatan “reading society”- masyarakat yang gemar
membaca yang dimulai dari tingkat keluarga ? Pada berbagai
rumah tangga, yang banyak disediakan orang tua adalah
“home theatre” kecil-kecilan untukmenghibur anak/ keluarga
sepanjang hari. Kalau mengkonsumsi hiburan yang ber nilai
pendidikan, itu tentu saja cukup bagus, asal tidak menyita
waktu anak sampai berjam-jam, apalagi sampai membuat
mereka malas dan lalai untuk melakukan aktifitas lain.
Ternyata kunci rahasia keberhasilan sebahagian keluarga
dalam bidang akademis adalah karena mereka sangat peduli
dengan kegiatan akademis itu sendiri exist dalam keluarga. Di
rumah terdapat koleksi bahan bacaan, komik, buku cerita, buku
agama, novel, buku-buku pencerahan diri dan sampai kepada
majalah dan koran yang mereka konsumsi secara teratur.
Kalau pun ada unsur hiburan seperti VCD Player, karaoke, tape
recorder, dan TV dengan antene satellite, namun penggunaan
ini mereka atur agar keluarga tidak menjadi penonton yang
maniac. Mereka mengenal waktu bermain, belajar, beribadah,
waktu untuk kebersamaan , dan sebagainya.
Keluarga yang sudah peduli dengan arti pendidikan juga
mendukung aktifitas anak untuk kegiatan di luar rumah.
Aktivitas- aktivitas di luar rumah yang dapat meningkatkan
pengalaman serta wawasan anak adalah seperti: menanam biji,
merebus air, membuat layang-layang, mencari dan mengamati
serangga, bermain magnet, memasak, melakukan perjalanan,
dan main gelembung sabun (main air), dan lain lain. Kegiatan
seperti ini tentu tidak butuh biaya besar.
Mendambakan anak-anak cerdas, santun, sholeh dan memiliki
pribadi yang hangat tentu saja adalah harapan semua keluarga.
Namun anak anak yang demikian tidak langsung ada ketika
terlahir ke dunia. Mereka tumbuh lewat proses lewat bimbingan,
arahan, diberi pengalaman, kesempatan dan fasilitas, tentu
saja semampu orangtua. Hal lain yang perlu dilakukan orang
tua adalah seperti orang tua menyiapkan dirinya terlebih dahulu
sebagai pendidik anak terbaik di rumah, mengajak dan
mendorong anak untuk melakukan ekplorasi edukatif dan
memperkenalkan pendidikan sejak sedini mungkin.

40. Pendidikan Dan Parenting Dalam Keluarga

Orangtua (ayah dan ibu) merupakan figur yang sangat


berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang
anak, karena merekalah sebagai pembentuk karakter dasar
seorang anak setelah lahir. Mereka juga sebagai guru pertama
dalam kehidupan anak, karena perannya dalam
memperkenalkan nama-nama, jenis-jenis kata, etika, sopan
santun dan lain-lain, bagi mereka.
Barangkali dewasa ini masih banyak orang tua menumbuh-
kembangkan anak-anak dengan cara meniru konsep mendidik
generasi sebelumnya. Apabila generasi sebelumnya sukses
sebagai orang tua pendidik maka pewarisan naluri mendidik
tentu bisa berhasil namun bila yang ditiru adalah konsep
mendidik yang sudah kadaluarsa, konsep mendidik yang tidak
sesuai lagi- keras, kaku, dan otoriter, maka akan melahirkan
generasi yang karakternya rapuh , dan mudah. Namun dalam
zaman informasi dan telekomunikasi yang begitu pesat, setiap
orang tua diharapkan agar mampu untuk mengenal konsep
parenting, yaitu bagaimana menjadi orang tua yang bijak –
menerapkan konsep mendidik yang yang mendorong
kreatifitas, inovasi serta memberi pemodelan pada anak.
Orang tua Sebagai Manajer Keluarga
Seperti yang dikatakan di atas bahwa ayah dan ibu punya
peran dan tanggung jawab untuk menjadi pengasuh atau orang
tua. Istilah ini dikenal dengan kata parenting. Orang tua dapat
dikatakan sebagai manajer untuk rumah tangga, karena peran
mereka sebagai pengelola situasi dan kondisi rumah. Oleh
sebab itu bila semua orang tua ingin bahagia dan sejahtera
maka mereka perlu menerapkan parenting manajemen.
Bagaimana konsep parenting manajemen itu ?
Rata-rata orang tua sekarang sudah banyak yang memperoleh
pendidikan SLTA (SMA, Madrasah Aliyah dan SMK) mereka
tentu mengenal unsyr-unsur organisasi dan dan malah tentu
ada yang ikut berorganisasi di sekolah atau dalam masyarakat.
Di sana tentu mereka mengenal kata perencanaan (planning),
pelaksanaan, dan evaluasi. Maka konsep atau rumusan untuk
menjalankan melaksanakan manajemen parenting cukup
sederhana yaitu melakukan planning, organizing, actuating
(pelaksanaan) dan kontrol.
Orang tua sebagai direktur atau manager dalam rumah tangga
perlu untuk duduk bareng antara ayah dan ibu, dan bila anak
anak sudah bisa diajak untuk bertukar pikiran maka mereka
juga perlu dilibatkan dalam melakukan planning (perencanaan)
untuk kemajuan keluarga, untuk menambah pendapatan dan
menggunakan anggaran, demikian juga rencana untuk
kesejahteraan keluarga dalam bidang kesehatan dan
pendidikan. Menurut teori bahwa ada planning jangka panjang,
jangka menengah dan planning jangka pendek- yaitu
hitungannya mungkin dalam bentuk harian, mingguan dan
bulanan. Rumah tangga tanpa perencanaan yang jelas kerap
membawa prahara (kegaduhan) dalam rumah tangga, ayah
dan ibu cendrung saling menyalahkan, misalnya dalam hal
keuangan atau dalam cara mendidik anak. “Kau keterluan
mama, uang untuk satu bulan kau habiskan untuk membeli hal
yang tidak berhuna…!”.
Hal-hal yang telah direncanakan tentu perlu dikelola atau diatur
(organized) dan seterusnya dilaksanakan (actuating) dengan
konsisten oleh semua anggota keluarga- sesuai dengan
porsinya. Tentu saja ayah dan ibu musti menjadi pengontrol
yang baik. Mereka perlu melakukan control. Kemudian
berdasarkan waktu yang ditetapkan mereka melakukan
evaluasi dalam pertemuan informal keluarga- mungkin saat
makan malam atau habis shalat bejamaah dalam keluarga.
Kedengaranya begitu ideal atau seperti cerita dalam sinetron.
Namun setiap keluarga musti melakukan hal yang demikian.
Manurung (1995) mengatakan bahwa leadership is the key to
management. Pernyataan ini berarti bahwa “ kepemimpina
adalah kunci atas manajemen”. Di sini diharapkan agar ayah
dan ibu juga memperlihatkan model atau suri teladan sebagai
“tokoh ibu dan sebagai tokoh ayah yang ideal”bagi seluruh
anggota keluarga mereka. Dalam kehidupan ini dapat dijumpai
bahwa begitu banyak rumahtangga berjalan tanpa manajemen
yang jelas- mereka berprinsip bahwa biarkan rumahtangga ini
mengalir seperti air. Ini terjadi karena leadership
(kepemimpinan) dan management (pengelolan) rumah tangga
tidak ada dan tidak berjalan menurut semestinya. Akibatnya
bahwa rumah tangga tanpa leadrrship dan tanpa manajemen
yang jelas akan digerakan atau dipengaruhi oleh orang yang
berada di luar keluarga.
Selain menerapkan fungsi sebagai leader atau manager bagi
rumah tangga, orang tua juga perlu mengenal atau
memperhatikan perkembangan watak anak-anak mereka.
Idealnya mereka harus tahu tentang perkembangan jiwa anak.
Bagaimana watak seseorang pada waktu anak-anak maka
demikian pula wataknya setelah dewasa. Kita bias
memperhatikan bagaimana karakter anak-anak Sekolah Dasar-
cukup beragam, ada yang lucu, serius, penganggu, yang
tenang dan lain-lain. Anak yang suka melucu, setelah dewasa
juga suka melucu. Anak-anak yang suka memimpin setelah
dewasa juga akan berwatak pemimpin dan anak-anak yang
pasif atau penurut setelah dewasa juga akan jadi pasif dan
penurut.
Teori manajemen yang diterapkan oleh suatu organisasi
agaknya perlu untuk diadopsi. Kesuksesan sebuah organisasi
atau keharmonisan sebuah keluarga akan terjadi bila
manajemennya mengutamakan people oriented atau family
oriented. Unsur manusia memegang peran yang sangat
penting. Oleh sebab itu orang tua perlu tahu dan
memperhatikan kebutuhan anak (anggota keluarga).
Kebutuhan kebutuhan anak sebagai manusia adalah dalam
bentuk kebutuhan fisik, kebutuhan keselamatan, kebutuhan
sosial/berkelompok, kebutuhan dihormati dan kebutuhab atas
kebangaan /aktualisasi diri. Dalam pengalaman hidup yang
terlihat bahwa banyak orang tua yang sangat peduli dalam
memenuhi kebutuhan fisik anak saja, yaitu seperti memenuhi
kebutuhan makan atas makan, minum, pakaian, kesehatan,
demikian terhadap kebutuhan atas keselamatan dan kebutuhan
sosial atau berkelompok. Namun bila masih ada orang tua yang
terbisaa mendikte anak, serba mencampuri pribadi anak
sampai detail, mencela anak atau mengejek anak maka ini
berarti bahwa mereka tidak (atau kurang) memenuhi kebutuhan
anak dari segi penghormatan dan kebutuhan aktualisasi diri
anak.
Sebagai manager bagi rumah tangga, maka orang tua juga
harus peduli dalam menjaga kerukunan keluarga dan dengan
kemajuan atau prestasi anak. Untuk mendorong anak agar
lebih berprestasi dalam hidup- di sekolah dan di rumah- maka
orang tua perlu memberi penghargaan dan penghormatan. “Ibu
bangga dengan kerajinan mu dalam bekerja, ….ayah senang
karena kamu sopan dalam berbahasa,……Ibu mau
membelikan kamu sepeda karena kamu rajin dalam belajar dan
dalam membantu ibu, …atau ayah akan membelikan kamu
computer karena kamu sudah bisa sholat yang teratur”.
Penghargaan dan penghormatan yang diberikan orang tua bisa
dalam bentuk kata-kata atau dalam bentuk reward (hadiah)
yang konkrit.
Orang tua ideal
Seperti yang telah dikatakan bahwa agaknya semua orang tua
bisa menjadi manager keluarga. Untuk itu ada beberapa hal
yang perlu untuk diperhatikan agar mereka bias menjadi orang
tua yang ideal. Orang tua yang ideal musti punya wibwa
didepan anak-anak, melakukan tindakan atau action positif.
perlu bermasyarakat, punya sopan santun “tidak ngomong dan
berpakaian seenak hati saja”, punya disiplin, punya prinsip
hidup, peduli dengan tanggung jawab, dan peduli dengan
keutuhan keluarga. Kemudian mereka musti berbuat untuk
mendapatkan prinsip-prinsip ini.
Wibawa lebih berharga dari tubuh yang besar. Memang
memiliki tubuh yang besar dan kuat adalah modal pribadi dan
menjadi kebanggaan tersendiri. Tetapi kalau hanya sekedar
memiliki tubuh yang gagah atau fisik yang besar, bila tidak
berwibwa, karena karakter yang terpancar melalui kata-kata,
perbuatan, dan fikiran, cara berpakaian tidak serasi dan kurang
kualitas diri, maka tubuh besar yang ganteng atau cantik tidak
ubah seperti patung yang diberi hiasan. Untuk itu, sekali lagi,
orang tua perlu menjaga wibawa di depan anak-anak dan
anggota keluarga yang lain. Wibawa juga dapat terbentuk
melalui keserasian antara kata-kata dan perbuatan. Pribahasa
mengatakan “action speaks louder than words” maksudnya
bahwa perbuatan lebih nyaring bunyinya dari pada kata-kata
semata.
Kebutuhan bersosial perlu dikembangkan. Sebagai konsekuen
bahwa orang tua bertanggungjawab dalam mendidik anak
untuk bergaul dengan masyarakat, karena anggota keluarga
adalah juga sebagai makhluk sosial- yang juga perlu untuk
hidup bermasyarakat. Sehingga kalau mereka hidup terpencil
dari masyarakat, akan bias memiliki jiwa yang kerdil. Maka
keluarga yang memiliki pergaulan social yang luas akan
menjadi keluarga yang cerdas, dan bahagia.
Peran orang tua sebagai guru utama bagi anak karena mlalui
mereka anak-anak belajar tentang sopan santun (tata karma).
Pribahasa yang berbunyi “air atap akan jatuh ke tuturan” bisa
berarti bahwa prilaku orang tua bisa jadi akan ditiru oleh anak-
anaknya. Kebisaaan bertegur sapa dan tutur bahasa yang
ramah tamah, sebagai contoh, bisa ditiru anak dari orang tua
nya. Orang tua yang terbiasa membentak-bentak anak akan
cenderung melahirkan anak yang juga gemar membentak dan
menghardik teman atau anggota keluarga yang lain. Pengaruh
keluarga memang sangat membekas pada diri anak, seperti
yang diungkapkan oleh Dorothy Law. Ia mengatakan bahwa:
- Bila anak hidup dalam kecaman, dia belajar mengutuk
- Bila dia hidup dalam permusuhan dia belajar berkelahi
- Bila dia hidup dalam ketakutan, dia belajar menjadi penakut
- Bila dia hidup dikasihani, dia belajar mengasihani dirinya
- Bila dia hidup dalam toleransi, dia belajar bersabar
- Bila dia hidup dalam kecemburuan, dia belajar merasa
bersalah
- Bila dia hidup diejek, dia belajar menjadi malu
- Bila dia hidup dipermalukan, dia belajar tidak yakin akan
dirinya
- Bila dia hidup dengan pujian, dia belajar menghargai
- Bila dia hidup dengan penerimaan, dia belajar menyukai
dirinya
- Bila dia memperoleh pengakuan, dia belajar mempunyai
tujuan
- Bila dia hidup dalam kebijaksanaan, dia belajar menghargai
keadilan
- Bila dia hidup dalam kejujuran, dia belajar menghargai
kebenaran
- Bila dia hidup dalam suasana aman, dia belajar percaya akan
dirinya
Dari ekspresi berdasarkan perlakuan orang tua terhadap anak
tentu ada butir butir yang harus dihindari dan butir-butir yang
perlu untuk dipertahankan. Kebisaaan menebar kecaman,
permusuhan, ketakutan, kecemburuan, dan mempermalukan
makan orang tua akan memperoleh anak yang juga gemar
untuk mengutuk, berkelahi, menjadi penakut, merasa bersalah,
dan tidak yakin akan dirinya. Sebaliknya orang tua yang
membudayakan sikap toleransi, pujian, penerimaan,
pengakuan, kebijaksanaan, kejujuran dan suasana aman
makan akan diperoleh anak yang memiliki karakter suka
bersabar, menghargai, menyukai dirinya, mempunyai tujuan,
menghargai keadilan, menghargai kebenaran dan belajar
percaya akan dirinya.
Beberapa hal yang perlu diketahui oleh orang tua
Ada beberapa hal yang perlu diketahui oleh orang tua dalam
hidup ini. Misalnya keluarga yang tidak bahagia cenderung
mengeluarkan produk yang tidak bahagia pula. Memang
kebahagiaan itu itu tidak datang dari langit, namun
kebahagiaan itu perlu usaha untuk mendapatkanya. Orang
bijak mengatakan bahwa orang yang bahagia adalah orang
yang kaya hati dan fikirannya. Oleh sebab itu orang tua perlu
melatih anggota keluarga agar kaya hati dan kaya fikiran. Ini
diperoleh melalui banyak belajar secara otodidak atau secara
terprogram.
Disiplin perlu ditegakan dalam keluarga. Melaksanakan disiplin
dapat dilakukan melalui kegiatan keluarga. Tiap anggota
keluarga perlu punya agenda kehidupan yang meliputi kegiatan
belajar, bekerja, beribadah, bersosial, melakukan hobby, dan
lain-lain. Ini smua perlu kontrol dalam pelaksanaanyya. Yang
perlu untuk dihindarkan dalam pelaksaan displin adalah “cara-
cara memaksa”. Karena banyak memaksa dapat mematikan
kreasi anak. Kemudian orang tua juga perlu untuk
membudayakan kegiatan belajar dalam keluarga. Sudah kuno
kalau masih ada orang tua yang berpendapat bahwa
“pendidikan adalah tanggung jawab penuh dari sekolah saja”,
karena sekolah bukanlah bengkel yang akan memperbaiki anak
yang sudah rusak. Akhir kata bahwa pendidikan yang utma
dalah dalam keluarga, sedangkan guru atau sekolah hanya
sebagai kelanjuta saja.

Daftar Pustaka
Adams, Ken. (1988). Your Child Can be A Genius and Happy,
A Practical Guide For Parents.
Wellingborough, England: Thorsons Publishing Group.

Agustinus.(2009). Sekolah Rusak ,siapa yang harus mengaku


dosa ?. Bogor: Tabloid Gocara,
Edisi 14/II/April 2009.

Alex Sobur.(1986). Anak Masa Depan. Bandung: Angkasa.

Aning S, Floriberta.(2005). 100 Tokoh Yang Mengubah


Indonesia: Biografi Singkat Seratus
Tokoh Yang Paling Berpengaruh Dalam Sejarah Indonesia di
Abad 20. Yogyakarta :
Narasi.

Colin Roze dan Malcom J. Nicholl. (2003). Accelerated


Learning For the 21st Century, Cara
Belajar Cepat abad 21. Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia.

David Meier,(2002). The Accelerated Learning Handbook.


Bandung: Kaifa.

David J Schwartz. (1996). Berfikir dan Berjiwa Besar (The


Magic of Thinking Big).
terjemah, Fx Budiyanto. Jakarta: Binarupa Aksara.

De Porter, Dkk.(2002). Quantum Teaching. Bandung: Kaifa.

Didiot, Beatrice. (2001) L’etat du monde annuaire, annuaire


economique geopolitique
mondial. Paris: La Decouverte.

Hasri, Salfen.(2004). Sekolah Efektif dan Guru Efektif. Makasar


: Yayasan Pendidikan
Makassar.

Indra Djati Sidi. (2001). Menuju Masyarakat Belajar:


Menggagas Paradigma Baru. Jakarta:
Logos

Karen Markowitz .(2002). Otak Sejuta Gigabyte: Buku Pintar


Membangun Ingatan Super.
Bandung: Kaifa.

Karim, Mhd Rusli. (1982). Seluk Beluk Perubahan Sosial.


Surabaya: Usaha Nasional.

Kartini Kartono (1985). Bimbingan Dan Dasar-Dasar


Pelaksanaan Bimbingan Praktis.
Jakarta: CV. Rajawali. 2. Zakiah Daradjat (1976). Ilmu Jiwa
Agama. Jakarta: Bulan Bintang.

Manurung, M.R dan Manurung, Hetty (1995). Manajemen


Keluarga. Bandung: Indonesia
Publishing House.

McInerney, Denis. (1998). Educational Psychology,


Constructing Learning, 2nd edition. New
York: Prentice Hall).

Mike Hernacki dan Bobbi De Porter (2002). Quantum Learning:


Membiasakan Belajar
Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa.

Nur, Agustiar Syah. (2001). Perbandingan Sistem Pendidikan


15 Negara. Bandung :
Lubuk Agung.

Prayitno, Elida. (1989). Motivasi Dalam Belajar. Jakarta:


Depdikbud, Dirjen Pendidikan
Tinggi.
Smith, Dan. (1999). The State of The World Atlas. London:
Penguin Group.

Taufiq Pasiak .(2004). Membangun Raksasa Tidur, Optimalkan


Kemampuan Otak Anda
Dengan Metode Aliss. Jakarta: Pt Gramedia Pustaka Utama.

Zamroni (2000). Paradigma Pendidikan Masa Depan.


Yogyakarta: Bigraf Publishing.

Zoeverdi, Ed.(1995). Siapa Mengapa Sejumlah Orang Minang.


Jakarta: BK3AM DKI)

Biografi
Marjohan, M.Pd, adalah Guru SMA Negeri 3 Batusangkar,
Program Pelayanan Keunggulan Kabupaten Tanah Datar dan
penulis freelance. Sering menulis pada pada koran Singgalang,
Haluan dan Sriwijaya Post, wikimu.com dan E-newsletter (Situs
Departemen Pendidikan Sumatra Barat). Telah menulis buku
“School Healing- Menyembuhkan Problem Sekolah, diterbitkan
oleh Pustakan Insan Madani, Yogyakarta. Menikah dengan Emi
Surya, dikaruaniai dua orang anak Muhammad Fachrul Anshar
dan Nadhilla Azzahra. Alamat korespondensi pada e-mail:
marjohanusman@yahoo.com .

Marjohan, M.Pd
Hp. 085263537981
e-mail : marjohanusman@yahoo.com
marjohanusman@gmail.com
(Guru SMA Negeri 3 Pelayanan Keunggulan Batusangkar)