Anda di halaman 1dari 19

“MAKALAH INDIVIDU”

Asuhan Keperawatan Pada Anak

dengan Infeksi Virus Rabies

Disusun Oleh : Lista Guspani

Dosen Mata Kuliah : Ns. Mardiani,S.Kep,MM

PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN

JURUSAN KEPERAWATAN

POLTEKKES KEMENKES BENGKULU

TAHUN 2015

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayahnya sehingga sayadapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Asuhan
Keperawatan Pada Anak Dengan Infeksi Virus Rabies” . Terselesaikannya makalah ini
tidak dapat lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini
saya ingin menyampaikan terima kasih kepada

1. Ns. Mardiani ,S.Kep, MM selaku dosen pengajar mata kuliah.


2. Orang tua, yang mendukung, baik dalam hal materi maupun hal-hal lainnya.

Dalam menyelesaikan makalah ini saya telah berusaha untuk mencapai hasil yang
maksimum, tetapi dengan keterbatasan wawasan pengetahuan, pengalaman dan
kemampuan yang kami miliki, saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu, saya mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dan
sempurnanya makalah ini sehingga dapat bermanfaat bagi para pembaca

Bengkulu, Maret 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................. i

KATA PENGANTAR .............................................................................................. ii

DAFTAR ISI ............................................................................................................. iii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 1


1.2 Tujuan Penulisan ...................................................................................... 2
1.3 Manfaat Penulisan .................................................................................... 2

BAB II. TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Dasar


2.1.1 Definisi Glaukoma ........................................................................... 3
2.1.2 Etiologi ............................................................................................. 3
2.1.3 Manifestasi Klinis ............................................................................ 4
2.1.4 Patofisiologi ..................................................................................... 5
2.1.5 WOC ................................................................................................ 6
2.1.6 Komplikasi ....................................................................................... 7
2.1.7 Penatalaksanaan Medis .................................................................... 8

2.2.Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian ........................................................................................ 9
2.2.2 Diagnosa Keperawatan .................................................................... 10
2.2.3 Intervensi.......................................................................................... 11
2.2.4 Implementasi .................................................................................... 13
2.2.5 Evaluasi ............................................................................................ 14

BAB III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 15

3.2 Saran ....................................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Rabies adalah suatu penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang dapat
menyerang semua jenis binatang berdarah panas dan manusia. Penyakit ini ditandai dengan
disfungsi hebat susunan saraf pusat dan hampir selalu berakhir dengan kematian. Rabies
merupakan salah satu penyakit menular tertua yang dikenal di Indonesia. Virus rabies
termasuk dalam genus Lyssavirus dan famili Rhabdoviridae. Genus Lyssavirus sendiri terdiri
dari 80 jenis virus dan virus rabies merupakan prototipe dari genus ini.
Sejarah penemuan rabies bermula 2000 tahun SM ketika Aristoteles menemukan bahwa
anjing dapat menularkan infeksi kepada anjing yang lain melalui gigitan. Ketika seorang
anak laki-laki berumur 9 tahun digigit oleh seekor anjing rabies pada tahun 1885, Louis
Pasteur mengobatinya dengan vaksin dari medulla spinalis anjing tersebut, menjadikannya
orang pertama yang mendapatkan imunitas, karena anak tersebut tidak menderita rabies.
Di Amerika Serikat rabies terutama terjadi pada musang, raccoon, serigala dan kelelawar.
Rabies serigala terdapat di Kanada, Alaska dan New York. Kelelawar penghisap darah
(vampir), yang menggigit ternak merupakan bagian penting siklus rabies di Amerika latin.
Eropa mempunyai rabies serigala, di Asia dan Afrika masalah utamanya adalah anjing gila.
Beberapa daerah di Indonesia yang saat ini masih tertular rabies sebanyak 16 propinsi,
meliputi Pulau Sumatera (Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera
Selatan, dan Lampung), Pulau Sulawesi (Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah,
Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara), Pulau Kalimantan (Kalimantan Tengah,
Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur) dan Pulau Flores. Kasus terakhir yang terjadi
adalah Propinsi Maluku (Kota Ambon dan Pulau Seram).
Rabies telah menyebabkan kematian pada orang dalam jumlah yang cukup banyak.
Tahun 2000, World Health Organization (WHO) memperkirakan bahwa setiap tahun di dunia
ini terdapat sekurang-kurangnya 50.000 orang meninggal karena rabies, kepekaan terhadap
rabies kelihatannya tidak berkaitan dengan usia, seks atau ras.

4
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui secara umum dan keseluruhan mangenai penyakit Rabies
agar dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien anak dengan Rabies
sebaik mungkin.
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui dan memahami definisi dari Rabies
2. Untuk mengetahui dan memahami etiologi dari Rabies
3. Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi dari Rabies
4. Untuk mengetahui dan memahami apa saja manifestasi klinis dari Rabies
5. Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan yang tepat pada penderita
Rabies
6. Untuk mengetahui dan memahami apa saja komplikasi dari Rabies
7. Untuk mengetahui dan memahami proses keperawatan yang sesuai pada Rabies

1.3 Manfaat
1.4.1 Bagi mahasiswa
Mahasiswa di Jurusan Keperawatan mendapat informasi tentang konsep dasar
Rabies dan Asuhan Keperawatannya.

5
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Dasar

2.1.1 Definisi Rabies

Rabies adalah suatu penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang dapat
menyerang semua jenis binatang berdarah panas dan manusia. Penyakit ini ditandai dengan
disfungsi hebat susunan saraf pusat dan hampir selalu berakhir dengan kematian. Rabies
merupakan salah satu penyakit menular tertua yang dikenal di Indonesia. Virus rabies
termasuk dalam genus Lyssavirus dan famili Rhabdoviridae. Genus Lyssavirus sendiri
terdiri dari 80 jenis virus dan virus rabies merupakan prototipe dari genus ini.

Sejarah penemuan rabies bermula 2000 tahun SM ketika Aristoteles menemukan bahwa
anjing dapat menularkan infeksi kepada anjing yang lain melalui gigitan. Ketika seorang
anak laki-laki berumur 9 tahun digigit oleh seekor anjing rabies pada tahun 1885, Louis
Pasteur mengobatinya dengan vaksin dari medulla spinalis anjing tersebut, menjadikannya
orang pertama yang mendapatkan imunitas, karena anak tersebut tidak menderita rabies.

2.1.2 Etiologi

Penyebab rabies adalah virus yaitu genus Rhabdovirus. Berbagai jenis hewan dapat
menularkan rabies ke manusia. Yang terbanyak adalah oleh hewan liar, khususnya musang,
kelelawar, rubah, dan serigala. anjing, kucing, hewan ternak, atau hewan berdarah panas
dapat menularkan rabies kepada manusia. Manusia tertular rabies melalui gigitan hewan
yang terinfeksi.

Rabies menyebar melalui kontak langsung terutama gigitan, air liur yang mengandung
virus masuk melalui luka gigitan. Selanjutnya virus tersebut masuk ke dalam tubuh menuju
otak, dan kemudian dari otak ke kelenjar ludah melalui syaraf sentrifugal serta ke pankreas.

6
2.1.3 Manifestasi Klinis
Masa inkubasi rabies berlangsung sangat panjang sehingga digolongkan kedalam
penyakit slow virus. Masa inkubasi 95% antara 3-4 bulan, masa inkubasi 1% bisa bervariasi
1-7 tahun. Pada anak-anak biasanya masa inkubasi lebih pendek dari orang dewasa. Masa
inkubasi dipengaruhi oleh dalam dan besarnya luka gigitan, lokasi luka gigitan (jauh
dekatnya ke dalam system syaraf pusat), derajat pathogenesis virus dan persarafan luka
gigitan. Luka pada kepala inkubasi 25-28 hari, ekstremitas 46-78 hari.
Pada manusia secara teoritis gejala klinis terdiri dari 4 stadium yang dalam keadaannya
sebenarnya sulit dipisahkan satu dari yang lainnya, yaitu : gejala prodormal non spesifik,
ensefalitis akut, disfungsi batang otak, dan koma (kematian).
Pada masa inkubasi ini, virus rabies menghindari sistem imun dan tidak ditemukan
adanya respon antibodi. Saat ini, pasien dapat tidak menunjukkan gejala apa – apa
(asimptomatik). Pada stadium prodromal, virus mulai memasuki sistem saraf pusat. Stadium
prodromal berlangsung 2 – 10 hari dan gejala tak spesifik mulai muncul berupa sakit kepala,
lemah, anoreksia, demam, rasa takut, cemas, nyeri otot, insomnia, mual, muntah, dan nyeri
perut. Parestesia atau nyeri pada lokasi inokulasi merupakan tanda patognomonik pada
rabies dan terjadi pada 50 % kasus pada stadium ini, dan tanda ini mungkin menjadi satu-
satunya tanda awal. (2,3,5,13) Setelah melewati stadium prodromal, maka dimulailah
stadium kelainan neurologi yang berlangsung sekitar 2 – 7 hari. Pada stadium ini, sudah
terjadi perkembangan penyakit pada otak dan gejalanya dapat berupa :
1. Bentuk spastik (furious rabies): peka terhadap rangsangan ringan, kontraksi otot farings
dan esofagus, kejang, aerofobia, kaku kuduk, delirium, semikoma, dan hidrofobia. Yang
sangat terkenal adalah hidrofobia di mana bila pasien diberikan segelas air minum, pasien
akan menerimanya karena ia sangat haus, dan mencoba meminumnya. Akan tetapi
kehendak ini dihalangi oleh spasme hebat otot-otot faring. Dengan demikian, ia menjadi
takut dengan air sehingga mendengar suara percikan air kran atau bahkan mendengar
perkataan air saja, sudah menyebabkan kontraksi hebat otot-otot tenggorok. Spasme otot-
otot faring maupun pernapasan dapat pula ditimbulkan oleh rangsangan sensorik seperti
meniupkan udara ke wajah pasien atau menyinari matanya. Pasien akan meninggal dalam
3 – 5 hari setelah mengalami gejala-gejala ini.
2. Bentuk demensia.

7
3. Kepekaan terhadap rangsangan bertambah, gila mendadak, dapat melakukan tindakan
kekerasan, koma, mati.
4. Bentuk paralitik (dumb rabies) : Pada bentuk ini pasien tampak lebih diam daripada tipe
furious. Gejala yang dapat muncul pada bentuk ini adalah demam dan rigiditas. Paralisis
yang terjadi bersifat simetrik dan mungkin menyeluruh atau bersifat ascending sehingga
dapat dikelirukan dengan Guillain-Barre Syndrome. Sistem sensoris biasanya masih
normal.

2.1.4 Patofisiologi

Setelah virus rabies masuk ke tubuh manusia, selama 2 minggu virus menetap pada
tempat masuk dan dijaringan otot di dekatnya virus berkembang biak atau langsung
mencapai ujung-ujung serabut saraf perifer tanpa menunjukkan perubahan-perubahan
fungsinya. Selubung virus menjadi satu dengan membran plasma dan protein ribonukleus
dan memasuki sitoplasma. Beberapa tempat pengikatan adalah reseptor asetil-kolin post-
sinapstik pada neuromuskular juction di susunan saraf pusat.

Dari saraf perifer virus menyebar secara sentripetal melalui endometrium sel-sel Schwan
dan melalui aliran aksoplasma mencapai ganglion dorsalis dalam waktu 60-72 jam dan
berkembang biak. Selanjutnya virus menyebar dengan kecepatan 3 mm/jam ke susunan saraf
pusat (medula spinalis dan otak) melalui cairan cerebrospinalis.

Di otak virus menyebar secara luas dan memperbanyak diri dalam semua bagian neuron,
kemudian bergerak ke perifer dalam serabut saraf eferen dan pada saraf volunter maupun
saraf otonom.

Penyebaran selanjutnya dari SSP ke saraf perifer termasuk serabut saraf otonom, otot
skeletal, otot jantung, kelenjar adrenal (medula), ginjal, mata, pankeas. Pada tahap
berikutnya virus akan terdapat pada kelenjar ludah, kelenjar lakrimalis, sistem respirasi.
Virus juga tersebar pada air susu dan urin

Dengan demikian, virus dapat menyerang hampir seluruh jaringan dan organ tubuh dan
berkembang biak dalam jaringan seperti kelenjar ludah. Khusus mengenai infeksi sistem
limbik, sebagaimana diketahui bahwa sistem limbik sangat berhubungan erat dengan fungsi

8
pengontrolan sikap emosional. Akibat pengaruh infeksi sel-sel dalam sistem limbik ini,
pasien akan menggigit mangsanya tanpa adanya provokasi dari luar

2.1.5 WOC
Rhabdovirus Gigitan hewan terinfeksi virus Manusia

Melalui cairan Virus menyebar secara sentripetal virus masuk ke


serebrospinal melalui edoneurium sel-sel Schwan jaringan otot
& aliran aksoplasma
Menyebar
Ke susunan saraf pusat

Menyebar ke saraf perifer Otot jantung Miokarditis

Saraf otot skeletal saraf otonom spasme di otot jantung

Menghambat otot spasme otot respirasi nafas sesak


antagonis
obstruksi saluran O2
gerakan tidak terkoordinasi pernapasan

MK : Penurunan Curah Jantung


Timbul gejala kejang hipersaliva
Hiperaktif (penumpukan secret)

MK : Ketidakefektifan bersihan jalan nafas

K
Kelumpuhan otot palatum kekakuan otot-otot otot gerak ekstremitas
:
& pita suara faring & laring K
et
Kekakuan sendi
id

MK : Hambatan Komunikasi MK : Gangguan Menelan a


Verbal k
MK
ef : Hambatan Mobilitas Fisik
e
kt
if
a
n
9 b
er
si
2.1.6 Komplikasi
Berbagai komplikasi dapat terjadi pada penderita rabies dan biasanya timbul pada fase
koma. Komplikasi neurologik dapat berupa peningkatan tekanan intra kranial, kelainan pada
hipotalamus berupa diabetes insipidus, sindron abnormalitas hormon artidimetik (SAHAD);
disfungsi otonomik yang menyebabkan hipertensi, hipotensi, Hipertemia/ hipotermia., aritmia
dan henti jantung. Kejang dapat lokal maupun generalisata dan sering bersamaan dengan
aritmia dan gangguan respirasi.
Pada stadium prodromal sering terjadi komplikasi hiperventilasi dan alkalosis
respiratorik, sedangkan hipoventilasi dan depresi pernapasan terjadi pada fase neurologik
akut. Hipotensi terjadi karena gagal jantung kongestif, dehidrasi dan gangguan otonomik.
Penanganan terhadap komplikasi seperti terlihat pada tabel dibawah ini.

Tabel. komplikasi pada rabies dan penanganannya

Komplikasi Penanganan

Neurologik

Fenotiazin, benzodiazepin,
Hiperaktif

Tidak diberikan apa-apa lewat mulut


Hidrophobia

Karbamazepin, fenitoin
Kejang fokal

Tidak perlu tidakan apa-apa


Gejala neorologi lokal

Mannitol, gliserol
Endema serebri

Hindari stimulasi
Aerophobia

Pituari

Batasi cairan
SAHAD

Cairan, vasopressin
Diabetes insipidus

Pulmonal

Tidak ada
Hiperventilasi

Oksigen, ventilator, PEEP


Hipoksemia

10
Atelektasis Ventilator

Apnea Ventilator

Pneumothoraks Dilakukan ekspansi paru

Cardiovaskular

Oksigen, obat anti aritmia


Aritmia

Cairan, dopamine
Hipotensi

Batasi cairan, obat-obatan


Gagal jantung kongestiv

Heparin
Trombosis arteri/vena

Lakukan pencegahan
Obstruksi vena cava superior

Resustasi
Henti jantung

Lain-lain

Tranfusi darah
Anemia

H2 bloker, transfusi darah


Pendarahan gastrointestinal

Lakukan pendinginan
Hipertermia

Selimut panas
Hipotermia

Pemberian cairan
Hipovolemia

Cairan parenteral
Ileus paralitik

Katerisasi
Retensio urin

Haemodialisis
Gagal ginjal akut

Tidak dilakukan apa-apa


Pneumomediastinum

2.1.7 Penatalaksanaan
Penderita yang terkena gigitan Anjing atau Kucing atau Kera segera :
1. Cuci luka gigitan dengan sabun atau detergernt di air mengalir selama 10-15 menit
dan beri antiseptic (betadine, alcohol 70%, obat merah dll)
2. Segera ke puskesmas/ rabies center/ rumah sakit untuk mencari pertolongan
selanjutnya

11
Di puskesmas/ rabies center/ rumah sakit dilakukan :
1) Penanganan luka gigitan
- Cuci luka gigitan dengan sabun atau detergernt di air mengalir selama
10-15 menit dan beri antiseptic (betadine, alcohol 70%, obat merah
dll)
- Anamnesis apakah didahukui tindakan provokatif, hewan yang
menggigit menunjukkan gejala rabies, penderita gigitan hewan pernah
divaksinasi dan kapan, hewan penggigit pernah divaksinasi dan kapan.
- Identifikasi luka gigitan
Luka resiko tinggi : jilatan/ luka pada mukosa, luka diatas daerah bahu
(mukosa, leher, kepala) luka pada jari tangan, kaki, genetalia, luka
lebar/dalam dan luka yang banyak.

2) Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) atau Serum Anti Rabies (SAR)

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


2.2.1 Pengkajian

1. Identitas Klien : Nama Klien, No. RM, Tempat Tanggal Lahir, Umur, Agama,
Pendidikan, Alamat, Jenis Kelamin, Penanggung Jawab
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat Penyakit Dahulu : Penyakit waktu kecil , Pernah MRS, Alergi, Imunisasi
b. Riwayat Penyakit Sekarang : Keluhan utama, Tindakan pertama
c. Riwayat Penyakit Keluarga : Penyakit keturunan, Penyakit menular
d. Riwayat Antenatal : Keluhan selama hamil, ANC
e. Riwayat Natal : Umur kehamilan - Jenis persalinan, Keadaan bayi, Penyakit
saar persalinan
f. Riwayat Neonatal : Kondisi bayi, BB waktu lahir, TB waktu lahir
g. Riwayat Gizi : Pemberian ASI, Pemberian MPASI, Makan sehari-hari
h. Riwayat Psikososial : Yang mengasuh, Hub dengan keluarga, Hub dengan lingkungan
sekitar

12
i. Riwayat Tumbuh Kembang : Mengangkat kepala, Tengkurap, Duduk, Gigi tumbuh
pertama, Merangkak, Berdiri, Berjalan dituntun, Berjalan berpegangan, Berjalan
sendiri, Berbicara, Tidak ngompol
3. Pemeriksaan fisik
Umumnya ditemukan :
a. Status Pernafasan

Peningkatan tingkat pernapasan, takikardi, suhu umumnya meningkat (37,9º C),


menggigil

b. Status Nutrisi

Kesulitan dalam menelan makanan, berapa berat badan pasien, mual dan muntah, porsi
makanan dihabiskan. status gizi

c. Status Neurosensori

Adanya tanda-tanda inflamasi

d.Keamanan

Kejang, kelemahan

e. Integritas Ego

Klien merasa cemas, Klien kurang paham tentang penyakitnya

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d obstruksi jalan nafas (mucus dalam jumlah
berlebihan)
2. Hipertermia b.d infeksi virus
3. Hambatan mobilitas fisik b.d gangguang kognitif (gerakan tidak terkoordinasi ),
penurunan kendali otot dan kaku sendi.

13
2.2.3 Intervensi

Diagnosa NOC NIC Rasional


Ketidakefektifa  Respiratory status : 1. Auskultasi suara - Mengetahui
n bersihan jalan ventilation nafas sebelum dan perbedaan suara
nafas b.d  Respiratory status : sesudah suctioning nafas setelah dan
obstruksi jalan airway patency 2. Informasikan pada sebelum dilakukan
nafas (mucus Kriteria hasil : klien dan keluarga tindakan
dalam jumlah - Mendemonstrasi tentang suctioning - Agar keluarga dan
berlebihan) kan batuk efektif 3. Minta klien nafas klien memahami
dan suara nafas dalam sebelum tindakan yang
yang bersih,tidak suction dilakukan akan dilakkukan
ada sianosis dan 4. Gunakan alat yang - Agar klien rileks
dyspnea ( mampu steril setiap saat melakukan
mengeluarkan melakukan tindakan tindakan
sputum, mampu 5. Anjurkan pasien - Agar terhindar
mengeluarkan untuk istirahat dan dari infeksi
seputum dengan nafas dalam setelah - Menjaga
mudah , tidak ada kateterdi keluarkan kenyamanan klien
pursed lips). dari nasotrakeal - Agar klien lebih
- Menujukan jalan 6. Buka jalan nafas , leruasa dalam
nafas yang paten gunakan teknik chin bernapas
( klien tidak lift atau jaw thrust - Agar pasien bias
merasa tercekik, bilaperlu bernapas dengan
irama nafas, 7. Posisikan pasien baik
frekuensi untuk - Agar klien lebih
fernafasan dalam memaksimalkan nyaman
rentang normal, ventilasi - Kerjasama untuk
tidak ada suara 8. Keluarkan secret menghilangkan
nafas abnormal dengan batuk atau penumpukan
- Mampu suction secret/masalah
mengidentifikaas 9. Kolaborasi dengan
i dan mencegah tim medis untuk
faktor yang dapat pembersihan secret
menghambat
jalan nafas
Hipertermi  Tujuan jangka 1. Mempertahankan 1. Cairan dalam
berhubungan pendek : keseimbangan cairan tubuh sangat
dengan proses mengidentifikasi tubuh dengan penting guna
inflamasi intervensi untuk pemasangan infus menjaga
menurunkan suhu 2. Monitoring homeostasis
tubuh perubahan suhu tubuh. Apabila
 Tujuan jangka tubuh suhu tubuh
panjang : 3. Kolaborasi dengan meningkat maka

14
meminimalisir proses dokter dalam tubuh akan
peradangan untuk pemberian antibiotik kehilangan
meningkatkan guna mengurangi cairan lebih
peradangan proses peradangan banyak
4. Anjurkan pada pasien 2. Suhu tubuh harus
untuk memenuhi dipantau secara
kebutuhan nutrisi efektif guna
yang optimal mengetahui
sehingga perkembangan
metabolisme dalam dan kemajuan
tubuh dapat berjalan dari pasien
dengan lancar 3. Antibiotik
berperan
openting dalam
mengatasi proses
peradangan
4. Jika metabolisme
dalam tubuh
berjalan
sempurna maka
tingkat
kekebalan sistem
imun bisa
melawan semua
benda asing yang
masuk
Hambatan NOC 1. Monitoring vital 1. Mengetahui
mobilitas fisik  Joint movement sign sebelum/ perkembangan
berhubungan : active sesudah latihan dan vital sign pasien
dengan  Mobility level lihat respon pasien 2. Mengkolaborasik
kelumpuhan  Self care: ADLs saat latihan an pemulihan
 Tansverperform 2. Konsultasikan pasien
ance dengan terapi fisik 3. Membantu klien
Kriteria hasil: tentang rencana berjalan
- Klien meningkat ambulasi sesuai 4. Memberikan
dalam aktifitas dengan kebutuhan informasi dan
fisik 3. Bantu klien untuk pengetahuan
- Mengerti tujuan menggunakan untuk pasien
dari peningkatan tongkat saat berjalan 5. Mengetahui
mobilitas dan cegah terhadap kemampuan klien
- Memverbalisasi cidera 6. Melatih
kan perasaan 4. Ajarkan pasien atau kemampuan otot
dalam tenaga kesehatan pasien
meningkatkan lain tentang teknik 7. Menemani pasien

15
kekuatan dan ambulasi untuk
kemampuan 5. Kaji kemampuan memberikan
berpindah pasien dalam kenyamanan
- Memperagakan mobilisasi 8. Membantu pasien
penggunaan alat 6. Latih pasien dalam untuk berjalan
bantu pemenuhan
- Bantu untuk kebutuhan ADLs
mobilisasi secara mandiri
(walker) sesuai kemampuan
7. Damping dan bantu
pasien saat
mobilisasi dan bantu
penuhi kebutuhan
ADLS pasien.
8. Berikan alat bantu
jika klien
memerlukan

2.2.4 Implementasi

Menurut Patricia A. Potter (2005), Implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana


tindakan keperawatan yang telah disusun/ ditemukan, yang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan pasien secara optimal dapat terlaksana dengan baik dilakukan oleh pasien itu
sendiri ataupun perawat secara mandiri dan juga dapat bekerjasama dengan anggota tim
kesehatan lainnya seperti ahli gizi dan fisioterapis. Perawat memilih intervensi keperawatan
yang akan diberikan kepada pasien.
Berikut ini metode dan langkah persiapan untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan
yang dapat dilakukan oleh perawat :
1. Memahami rencana keperawatan yang telah ditentukan
2. Menyiapkan tenaga dan alat yang diperlukan
3. Menyiapkan lingkungan terapeutik
4. Membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari
5. Memberikan asuhan keperawatan langsung
6. Mengkonsulkan dan memberi penyuluhan pada klien dan keluarganya.

16
Implementasi membutuhkan perawat untuk mengkaji kembali keadaan klien, menelaah,
dan memodifikasi rencana keperawatn yang sudah ada, mengidentifikasi area dimana bantuan
dibutuhkan untuk mengimple-mentasikan, mengkomunikasikan intervensi keperawatan.
Implementasi dari asuhan keperawatan juga membutuhkan pengetahuan tambahan
keterampilan dan personal. Setelah implementasi, perawat menuliskan dalam catatan klien
deskripsi singkat dari pengkajian keperawatan, Prosedur spesifik dan respon klien terhadap
asuhan keperawatan atau juga perawat bisa mendelegasikan implementasi pada tenaga
kesehatan lain termasuk memastikan bahwa orang yang didelegasikan terampil dalam tugas
dan dapat menjelaskan tugas sesuai dengan standar keperawatan.

2.2.5 Evaluasi

Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam
pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau
intervensi keperawatan ditetapkan. Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan Rabies
adalah :

1. Bersihan jalan nafas kembali efektif, bebas dari mucus yang berlebihan.
2. Suhu tubuh kembali normal (bebas dari hipertermi).
3. Mobilitas fisik kembali normal, kendali otot dan sendi membaik.

17
BAB III
PENUTUP

3.1Kesimpulan

Rabies adalah suatu penyakit infeksi akut pada susunan saraf pusat yang dapat menyerang
semua jenis binatang berdarah panas dan manusia. Rabies menyebar melalui kontak
langsung terutama gigitan, air liur yang mengandung virus masuk melalui luka gigitan.
Selanjutnya virus tersebut masuk ke dalam tubuh menuju otak, dan kemudian dari otak ke
kelenjar ludah melalui syaraf sentrifugal serta ke pankreas.

3.2 Saran

Sebagai perawat harus selalu tanggap dalam penanganan penyakit rabiesa karena akan
mengakibatkan kematian jika terlambat menanganinya. Selain itu perawat juga memberi
health education kepada klien dan keluarga agar mereka faham dengan rabies dan bagaimana
pencegahannya. Dan bagi perawat yang memiliki kerabat/ teman yang mengalami tanda dan
gejala rabies, secara cepat melakukan pemeriksaan dini agar rabies dapat ditangani.

18
DAFTAR PUSTAKA

Amin Huda Mirarif dan Hardhi.2015. Aplikasi NANDA NIC-NOC Jilid 2. Yogyakarta : MediAction
Publishing

Aru W. Sudoyo, Bambang Setiyohadi, Idrus Alwi, Marcellus Simadbrata, Siti Setiati; Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Jilid III Edisi IV

Persatuan Ahli Penyakit Dalam Indonesia. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 Cetakan ke-7.
Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia. 2006. Buku Pedoman Standar Pelayanan Medis dan
Standar Pelayanan Operasional Neurologi. Jakarta : PERDOSSI.

https://www.scribd.com/doc/302349699/Rabies-Word

http://www.surviveoutdoors.com/reference/rabies.html

19