Anda di halaman 1dari 56

May 25 2014

Category: Uncategorized

Leave a comment

BAB I

KONSEP MEDIS

Definisi

Skoliosis berasal dari kata Yunani yang berarti lengkungan, mengandung arti kondisi patologik.

Skoliosis merupakan masalah ortopedik yang sering terjadi adalah pelengkungan lateral dari
medulla spinalis yang dapat terjadi di sepanjang spinal tersebut. Pelengkungan pada area
toraks merupakan scoliosis yang paling sering terjadi, meskipun pelengkungan pada area
servikal dan area lumbal adalah scoliosis yang paling parah.

Kesimpulan, skoliosis mengandung arti kondisi patologik yaitu kelengkungan tulang belakang yang
abnormal ke arah samping (kiri atau kanan ).

Skoliosis merupakan pembengkokan kearah samping dari tulang belakang yang merupakan suatu
deformitas (kelainan) daripada suatu penyakit.

Skoliosis adalah suatu kelainan bentuk pada tulang belakang dimana terjadi pembengkokan tulang
belakang ke arah samping kiri atau kanan.Kelainan skoliosis ini sepintas terlihat sangat
sederhana.Namun apabila diamati lebih jauh sesungguhnya terjadi perubahan yang luarbiasa
pada tulang belakang akibat perubahan bentuk tulang belakang secara tiga dimensi, yaitu
perubahan sturktur penyokong tulang belakang seperti jaringan lunak sekitarnya dan struktur
lainnya (Rahayussalim, 2007).Skoliosis ini biasanya membentuk kurva “C” atau kurva “S”.
Skoliosis adalah kelengkungan tulang belakang yang abnormal ke arah samping, yang dapat
terjadi pada segmen servikal (leher), torakal (dada) maupun lumbal (pinggang).Skolisis
merupakan penyakit tulang belakang yang menjadi bengkok ke samping kiri atau kanan
sehingga wujudnya merupakan bengkok benjolan yang dapat dilihat dengan jelas dari arah
belakang.Penyakit ini juga sulit untuk dikenali kecuali setelah penderita meningkat menjadi
dewasa (Mion, Rosmawati, 2007).

Klasifikasi

Skoliosis dibagi dalam dua jenis yaitu struktural dan bukan struktural.

Skoliosis struktural

Skoliosis tipe ini bersifat irreversibel ( tidak dapat di perbaiki ) dan dengan rotasi dari tulang
punggung Komponen penting dari deformitas itu adalah rotasi vertebra, processus spinosus
memutar kearah konkavitas kurva.

Tiga bentuk skosiliosis struktural yaitu :

Skosiliosis Idiopatik. adalah bentuk yang paling umum terjadi dan diklasifikasikan menjadi 3
kelompok :

1) Infantile : dari lahir-3 tahun.

2) Anak-anak : 3 tahun – 10 tahun.

3) Remaja : Muncul setelah usia 10 tahun ( usia yangpaling umum ).


Skoliosis Kongenital adalah skoliosis yang menyebabkan malformasi satu atau lebih badan
vertebra.

Skoliosis Neuromuskuler, anak yang menderita penyakit neuromuskuler (seperti paralisis otak,
spina bifida, atau distrofi muskuler) yang secara langsung menyebabkan deformitas.

Skoliosis nonstruktural ( Postural )

Skoliosis tipe ini bersifat reversibel (dapat dikembalikan ke bentuk semula), dan tanpa perputaran
(rotasi) dari tulang punggung..Pada skoliosis postural, deformitas bersifat sekunder atau
sebagai kompensasi terhadap beberapa keadaan diluar tulang belakang, misalnya dengan
kaki yang pendek, atau kemiringan pelvis akibat kontraktur pinggul, bila pasien duduk atau
dalam keadaan fleksi maka kurva tersebut menghilang.

Ada tiga tipe-tipe utama lain dari scoliosis :

Functional: Pada tipe scoliosis ini, spine adalah normal, namun suatu lekukan abnormal
berkembang karena suatu persoalan ditempat lain didalam tubuh. Ini dapat disebabkan oleh
satu kaki adalah lebih pendek daripada yang lainnya atau oleh kekejangan-kekejangan di
punggung.

Neuromuscular: Pada tipe scoliosis ini, ada suatu persoalan ketika tulang-tulang dari spine
terbentuk. Baik tulang-tulang dari spine gagal untuk membentuk sepenuhnya, atau mereka
gagal untuk berpisah satu dari lainnya.Tipe scoliosis ini berkembang pada orang-orang
dengan kelainn-kelainan lain termasuk kerusakan-kerusakan kelahiran, penyakit otot
(muscular dystrophy), cerebral palsy, atau penyakit Marfan. Jika lekukan hadir waktu
dilahirkan, ia disebut congenital. Tipe scoliosis ini seringkali adalah jauh lebih parah dan
memerlukan perawatan yang lebih agresif daripada bentuk-bentuk lain dari scoliosis.

Degenerative: Tidak seperti bentuk-bentuk lain dari scoliosis yang ditemukan pada anak-anak dan
remaja-remaja, degenerative scoliosis terjadi pada dewasa-dewasa yang lebih tua. Ia
disebabkan oleh perubahan-perubahan pada spine yang disebabkan oleh arthritis.
Kelemahan dari ligamen-ligamen dan jaringan-jaringan lunak lain yang normal dari spine
digabungkan dengan spur-spur tulang yang abnormal dapat menjurus pada suatu lekukan
dari spine yang abnormal.

Lain-Lain: Ada penyebab-penyebab potensial lain dari scoliosis, termasuk tumor-tumor spine
seperti osteoid osteoma. Ini adalah tumor jinak yang dapat terjadi pada spine dan
menyebabkan nyeri/sakit.Nyeri menyebabkan orang-orang untuk bersandar pada sisi yang
berlawanan untuk mengurangi jumlah dari tekanan yang diterapkan pada tumor.Ini dapat
menjurus pada suatu kelainan bentuk spine.

Etiologi

Penyebab terjadinya skoliosis belum diketahui secara pasti, tapi dapat diduga dipengaruhi oleh
diantaranya kondisi osteopatik, seperti fraktur, penyakit tulang, penyakit arthritis, dan
infeksi.Scoliosis tidak hanya disebabkan oleh sikap duduk yang salah.

Menurut penelitian di Amerika Serikat, memanggul beban yang berat seperti tas punggung, bisa
menjadi salah satu pemicu scoliosis.

Terdapat 3 penyebab umum dari skoliosis:

1) Kongenital (bawaan), biasanya berhubungan dengan suatu kelainan dalam pembentukan


tulang belakang atau tulang rusuk yang menyatuh.

2) Neuromuskuler, pengendalian otot yang buruk atau kelemahan otot atau kelumpuhan
akibat penyakit berikut :Cerebral palsy, Distrofi otot, Polio, Osteoporosis juvenile.

3) Idiopatik, penyebabnya tidak diketahui.

Gejala Klinis

Gejala yang ditimbulkan berupa:


1) Tulang belakang melengkung secara abnormal ke arah samping

2) Bahu dan atau pinggul kiri dan kanan tidak sama tingginya

3) Nyeri punggung

4) Kelelahan pada tulang belakang setelah duduk atau berdiri lama

5) Skoliosis yang berat (dengan kelengkungan yang lebih besar dari 60 ) bisa menyebabkan
gangguan pernafasan.

Kebanyakan pada punggung bagian atas, tulang belakang membengkok ke kanan dan pada
punggung bagian bawah, tulang belakang membengkok ke kiri; sehingga bahu kanan lebih
tinggi dari bahu kiri.Pinggul kanan juga mungkin lebih tinggi dari pinggul kiri. Awalnya
penderita mungkin tidak menyadari atau merasakan sakit pada tubuhnya karena memang
skoliosis tidak selalu memberikan gejala–gejala yang mudah dikenali.Jika ada pun, gejala
tersebut tidak terlalu dianggap serius karena kebanyakan mereka hanya merasakan pegal–
pegal di daerah punggung dan pinggang mereka saja.

Menurut Dr Siow dalam artikel yang ditulis oleh Norlaila H. Jamaluddin (Jamaluddin, 2007),
skoliosis tidak menunjukkan gejala awal.Kesannya hanya dapat dilihat apabila tulang
belakang mulai bengkok.Jika keadaan bertambah buruk, skoliosis menyebabkan tulang rusuk
tertonjol keluar dan penderita mungkin mengalami masalah sakit belakang serta sukar
bernafas.

Dalam kebanyakan kondisi, skoliosis hanya diberi perhatian apabila penderita mulai menitik
beratkan soal penampilan diri.Walaupun skoliosis tidak mendatangkan rasa sakit, rata-rata
penderita merasa malu dan rendah diri.
Skoliosis pada masyarakat indonesia dapat dijumpai mulai dari derajat yang sangat ringan sampai
pada derajat yang sangat berat.

Derajat pembengkokan biasanya diukur dengan cara Cobb dan disebut sudut Cobb. Dari besarnya
sudut skoliosis dapat dibagi menjadi (Kawiyana dalam Soetjiningsih, 2004) :

1) Skoliosis ringan : sudut Cobb kurang dari 20 derajat

2) Skoliosis sedang : sudut Cobb antara 21 – 40 derajat

3) Skoliosis berat : sudut Cobb lebih dari 41 derajat

Pada skoliosis derajat berat (lebih dari 40 derajat), hanya dapat diluruskan melalui operasi.

Patofisiologi

Kelainan bentuk tulang punggung yang disebut skoliosis ini berawal dari adanya syaraf yang lemah
atau bahkan lumpuh yang menarik ruas2 tulang belakang. Tarikan ini berfungsi untuk
menjaga ruas tulang belakang berada pada garis yangnormal yang bentuknya seperti
penggaris atau lurus. Tetapi karena suatu hal, diantaranya kebiasaan duduk yang miring,
membuat sebagian syaraf yang bekerja menjadi lemah. Bila ini terus berulang menjadi
kebiasaan, maka syaraf itu bahkan akan mati. Ini berakibat pada ketidakseimbangan tarikan
pada ruas tulang belakang. Oleh karena itu, tulang belakang penderita bengkok atau seperti
huruf S atau huruf.

Komplikasi
Walaupun skoliosis tidak mendatangkan rasa sakit, penderita perlu dirawat seawal mungkin.
Tanpa perawatan, tulang belakang menjadi semakin bengkok dan menimbulkan berbagai
komplikasi seperti :

1) Kerusakan paru-paru dan jantung.

Ini boleh berlaku jika tulang belakang membengkok melebihi 60 derajat. Tulang rusuk akan
menekan paru-paru dan jantung, menyebabkan penderita sukar bernafas dan cepat capai.
Justru, jantung juga akan mengalami kesukaran memompa darah. Dalam keadaan ini,
penderita lebih mudah mengalami penyakit paru-paru dan pneumonia.

2) Sakit tulang belakang.

Semua penderita, baik dewasa atau kanak-kanak, berisiko tinggi mengalami masalah sakit tulang
belakang kronik. Jika tidak dirawat, penderita mungkin akan menghidap masalah sakit sendi.
Tulang belakang juga mengalami lebih banyak masalah apabila penderita berumur 50 atau 60
tahun.

Prognosis

Prognosis tergantung kepada penyebab, lokasi dan beratnya kelengkungan.Semakin besar


kelengkungan skoliosis, semakin tinggi resiko terjadinya progresivitas sesudah masa
pertumbuhan anak berlalu. Skoliosis ringan yang hanya diatasi dengan brace memiliki
prognosis yang baik dan cenderung tidak menimbulkan masalah jangka panjang selain
kemungkinan timbulnya sakit punggung pada saat usia penderita semakin bertambah.

Penderita skoliosis idiopatik yang menjalani pembedahan juga memiliki prognosis yang baik dan
bisa hidup secara aktif dan sehat. Penderita skoliosis neuromuskuler selalu memiliki penyakit
lainnya yang serius (misalnya cerebral palsy atau distrofi otot).Karena itu tujuan dari
pembedahan biasanya adalah memungkinkan anak bisa duduk tegak pada kursi roda. Bayi
yang menderita skoliosis kongenital memiliki sejumlah kelainan bentuk yang mendasarinya,
sehingga penanganannyapun tidak mudah dan perlu dilakukan beberapa kali pembedahan.

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan dasar yang penting adalah foto polos (roentgen) tulang punggung yang meliputi :

a) Foto AP dan lateral ada posisi berdiri : foto ini bertujuan untuk menentukan derajat
pembengkokan skoliosis.

b) Foto AP telungkup

c) Foto force bending R and L : foto ini bertujuan untuk menentukan derajat pembengkokan
setelah dilakukan bending.

d) Foto pelvik AP

Pada keadaan tertentu seperti adanya defisit neurologis, kekakuan pada leher, atau sakit kepala.

e) Dapat dilakukan pemeriksaan MRI.

Pengobatan
Pengobatan yang dilakukan tergantung kepada penyebab, derajat, dan lokasi kelengkungan serta
stadium pertumbuhan tulang. Jika kelengkungan kurang dari 20 derajat, biasanya tidak perlu
pengobatan, tetapi penderita harus menjalani pemeriksaan secara teratur setiap 6 bulan.

Pada anak- anak yang masih tumbuh, kelengkungan biasanya bertambah sampai 25-30, karena
itu biasanya dianjurkan untuk menggunakan brace (alat penyangga) untuk memperlambat
progresivitas kelengkungan vertebra. Brace dari Milwaukee & Boston efektif dalam
mengendalikan progresivitas skoliosis, tetapi harus dipasang selama 23 jam/hari sampai
masa pertumbuhan anak berhenti.

Brace tidak efektif digunakan pada skoliosis kongenital maupun neuromuskular. Jika
kelengkungan mencapai 40 atau lebih, biasanya dilakukan pembedahan.

Pada pembedahan dilakukan perbaikan kelengkungan dan peleburan tulang-tulang. Tulang


dipertahankan pada tempatnya dengan bantuan 1-2 alat logam yang terpasang sampai
tulang pulih (kurang dari 20 tahun). Sesudah dilakukan pembedahan mungkin perlu dipasang
Brace untuk menstabilkan tulang belakang. Kadang diberikan perangsangan elektrospinal,
dimana otot vertebra dirangsang dengan arus listrik rendah untuk meluruskan vertebra.

BAB II

KONSEP KEPERAWATAN

Pengkajian
Pengkajian fisik meliputi:

Mengkaji skelet tubuh

Adanya deformitas dan kesejajaran. Pertumbuhan tulang yang abnormal akibat tumor tulang.
Pemendekan ekstremitas, amputasi dan bagian tubuh yang tidak dalam kesejajaran
anatomis. Angulasi abnormal pada tulang panjang atau gerakan pada titik selain sendi
biasanya menandakan adanya patah tulang.

Mengkaji tulang belakang

Skoliosis (deviasi kurvatura lateral tulang belakang), Kifosis (kenaikan kurvatura tulang belakang
bagian dada), Lordosis (membebek, kurvatura tulang belakang bagian pinggang berlebihan)

Mengkaji system persendian

Luas gerakan dievaluasi baik aktif maupun pasif, deformitas, stabilitas, dan adanya benjolan,
adanya kekakuan sendi.

Mengkaji system otot

Kemampuan mengubah posisi, kekuatan otot dan koordinasi, dan ukuran masing-masing otot.
Lingkar ekstremitas untuk mementau adanya edema atau atropfi, nyeri otot.

Mengkaji cara berjalan

Adanya gerakan yang tidak teratur dianggap tidak normal. Bila salah satu ekstremitas lebih
pendek dari yang lain. Berbagai kondisi neurologist yang berhubungan dengan caraberjalan
abnormal (mis. cara berjalan spastic hemiparesis – stroke, cara berjalan selangkah-selangkah
– penyakit lower motor neuron, cara berjalan bergetar – penyakit Parkinson).
Mengkaji kulit dan sirkulasi perifer

Palpasi kulit dapat menunjukkan adanya suhu yang lebih panas atau lebih dingin dari lainnya dan
adanya edema. Sirkulasi perifer dievaluasi dengan mengkaji denyut perifer, warna, suhu dan
waktu pengisian kapiler.

Pemeriksaan penunjang

Rontgen tulang belakang.

X-Ray Proyeksi Foto polos : Harus diambil dengan posterior dan lateral penuh terhadap tulang
belakang dan krista iliaka dengan posisi tegak, untuk menilai derajat kurva dengan metode
Cobb dan menilai maturitas skeletal dengan metode Risser. Kurva structural akan
memperlihatkan rotasi vertebra ; pada proyeksi posterior-anterior, vertebra yang mengarah
ke puncak prosessus spinosus menyimpang kegaris tengah; ujung atas dan bawah kurva
diidentifikasi sewaktu tingkat simetri vertebra diperoleh kembali.

Pengukuran dengan skoliometer (alat untuk mengukur kelengkungan tulang belakang).

Skoliometer adalah sebuah alat untuk mengukur sudut kurvaturai. Cara pengukuran dengan
skoliometer dilakukan pada pasien dengan posisi membungkuk, kemudian atur posisi pasien
karena posisi ini akan berubah-ubah tergantung pada lokasi kurvatura, sebagai contoh kurva
dibawah vertebra lumbal akan membutuhkan posisi membungkuk lebih jauh dibanding kurva
pada thorakal. Kemudian letakkan skoliometer pada apeks kurva, biarkan skoliometer tanpa
ditekan, kemudian baca angka derajat kurva. Pada screening, pengukuran ini signifikan
apabila hasil yang diperoleh lebih besar dari 5 derajat, hal ini biasanya menunjukkan derajat
kurvatura > 200 pada pengukuran cobb’s angle pada radiologi sehingga memerlukan evaluasi
yang lanjut.

MRI (jika ditemukan kelainan saraf atau kelainan pada rontgen).


Diagnosa

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan paru.

Nyeri berhubungan dengan posisi tubuh miring ke lateral.

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan postur tubuh yang tidak seimbang.

Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan gangguan rasa nyaman.

Gangguan citra tubuh atau konsep diri yang berhubungan dengan postur tubuh yang miring ke
lateral.

Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi penyakit dan pengobatan.

Keletihan berhubungan dengan Posisi tidak seimbangdalam waktu lama.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya.

Intervensi

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan paru.

Tujuan : Ketidakefektifan pola nafas teratasi.

Kriteria Hasil : Pola nafas efektif.

Intervensi :

Kaji status pernapasan setiap 4 jam.

R//: memantau perkembangan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Bantu dan ajarkan pasien melakukan nafas dalam setiap 1 jam.

R//: agar tidak terjadi sesak.

Atur posisi semi fowler

R//: untuk meningkatkan ekspansi paru.


Auskutasi dada untuk mendengarkan bunyi napas setiap dua jam.

R//: perubahan simetrisan dada menunjukan terjadi penekanan paru-paru oleh tulang belakang.

Pantau tanda-tanda vital setiap 4 jam.

R//: memantau perkembangan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Nyeri berhubungan dengan posisi tubuh miring ke lateral.

Tujuan : Rasanyeri teratasi.

Kriteria Hasil : Rasa Nyeri hilang atau kurang

Intervensi :

Kaji tipe, intensitas, dan lokasi nyeri.

R//: bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan intervensi, menentkan evektivitas
terapi.

Atur posisi yang meningkatkan rasa nyaman.

R//: menurunkan tegangan otot dan koping adekuat.

Pertahankan lingkungan yang tenang.

R//: meningkatkan rasa nyaman.

Ajarkan relaksasi dan teknik distraksi.

R//: untuk mengalihkan perhatian, sehingga mengurangi nyeri.


Anjurkan latihan postural secara rutin.

R//: dengan latihan posturan secara rutin mempercepat proses perbaiki posisi tubuh.

Kaloborasi pemberian analgetik.

R//: untuk meredahkan nyeri.

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan postur tubuh yang tidak seimbang.

Tujuan : Gangguan mobilitas fisik teratasi.

Kriteria Hasil : Meningkatkan mobilitas fisik.

Intervensi :

Kaji tingkat mobilitas fisik.

R//: pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang keterbatasan fisik actual,
memerlukan informasi/intervensi untukmeningkatkan kemajuan ksehatan.

Tingkatkan aktivitas jika nyeri berkurang.

R//: memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energy, meningkatkan rasa control diri/harga
diri, dan membantu menurunkan isolasi social.

Bantu dan ajarkan latihan rentang gerak sendi aktif.

R//: Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi.

Libatkan keluarga dalam melakukan perawatan diri.

R//: Keluarga yang kooperatif dapat meringankan petugas, dan memberikan kenyamanan pada
pasien.
Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri dan gangguan rasa nyaman.

Tujuan : Pola tidur kembali normal

Kriteria hasil :

– Jumlah jam tidur tidak terganggu

– insomnia berkurang, adanya kepuasan tidur

– pasien menunjukkan kesejahteraan fisik dan psikologi

Intervensi

Mandiri :

Tentukan kebiasaan tidur yang biasanya dan perubahan yang terjadi.

R// : Mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat

Berikan tempat tidur yang nyaman dan beberapa milik pribadi, misalnya ; bantal dan guling.

R// : Meningkatkan kenyamanan tidur serta dukungan fisiologis/ psikologis.

Buat rutinitas tidur baru yang dimasukkan dalam pola lama dan lingkungan baru.
R// : Bila rutinitas baru mengandung aspek sebanyak kebiasaan lama, stres dan ansietas dapat
berkurang.

Cocokkan dengan teman sekamar yang mempunyai pola tidur serupa dan kebutuhan malam hari.

R// : Menurunkan kemungkinan bahwa teman sekamar yang “burung hantu” dapat menunda
pasien untuk terlelap atau menyebabkan terbangun.

Dorong beberapa aktifitas fisik pada siang hari, jamin pasien berhenti beraktifitas beberapa jam
sebelum tidur.

R// : Aktivitas siang hari dapat membantu pasien menggunakan energi dan siap untuk tidur
malam hari.

Instruksikan tindakan relaksasi.

R// : Membantu menginduksi tidur.

Kurangi kebisingan dan lampu.

R// : Memberikan situasi kondusif untuk tidur.

Gunakan pagar tempat tidur sesuai indikasi, rendhkan tempat tidur bila mungkin.

R// : Pagar tempat tidur memberikan keamanan dan dapat digunakan untuk membantu merubah
posisi

Kolaborasi :

Berikan sedatif, hipnotik sesuai indikasi.

R// :untuk membantu pasien tidur atau istirahat selama periode transisi dari
rumah ke lingkungan baru

Gangguan citra tubuh atau konsep diri berhubungan dengan postur tubuh yang miring ke lateral.

Tujuan : Gangguan citra tubuh atau konsep diri teratasi.

Kriteria Hasil : Meningkatkan citra tubuh.

Intervensi :

Anjurkan untuk mengungkapkan perasaan dan masalahnya.

R/: membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah.

Beri lingkungan yang terbuka atau yang mendukng pada pasien.

R//: meningkatkan pernyataan keyakinan/nilai tentang subjek positif dan mengidentifikasi


kesalahan konsep/mitos yang dapat mempengaruhi penilaian situasi.

Diskusikan presepsi pasien tentang diri dan hubungannya dengan perubahan dan bagaimana
pasien melihat dirinya dalam pola/peran fungsi biasanya.

R//: membantu mengartikan masalah sehubungan dengan pola hidup sebelumnya dan membantu
dalam pemecahan masalah.

Dorong /berikan kunjungan oleh orang yang menderita skoliosis, khususnya yang sudah berhasil
dalam rehabilitasi.

R//: teman senasib yang telah melalui pengalaman yang sama bertindak sebagai model peran dan
dapat memberikan keabsahan pernyataan dan juga harapan untuk pemulihan dan masa
dengan normal.
Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi penyakit dan pengobatan.

Tujuan : Kecemasan berkurang

Kriteria hasil : Tampak rileks dan tidur / istirahat tidur

Intervensi :

*Mandiri

Kaji tingkat kecemasan klien.

Rasional : Untuk mengetahui faktor predis-posisi yang menimbulkan kece-masan sehingga


memudahkan mengantisipasi rasa cemasnya.

Dorong klien dapat mengekspresikan pera-saannya.

Rasional :Dengan mengungkapkan perasaannya maka kecemasannya berkurang.

Beri informasi yang jelas proses penyakitnya.

Rasional : Memudahkan klien dalam memahami dan mengerti tentang proses penyakitnya.

Beri dorongan spiritual

Rasional : Kesembuhan bukan hanya dipe-roleh dari pengobatan atau pera-watan tetapi yang
menentukan adalah Tuhan.

Keletihan berhubungan dengan Posisi tidak seimbangdalam waktu lama.

Tujuan : dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas.

Kriteria hasil : – melaporkan peningkatan toleransi aktivitas (termasuk aktivitas

sehari-hari)
– menunjukkan penurunan tanda intolerasi fisiologis, misalnya nadi, pernapasan,
dan tekanan darah masih dalam rentang normal.

Intervensi

Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas sehari-hari.

Rasional : mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan.

Kaji kehilangan atau gangguan keseimbangan, gaya jalan dan kelemahan otot.

Rasional : menunjukkan perubahan neurology karena defisiensi vitamin B12 mempengaruhi


keamanan pasien/risiko cedera.

Observasi tanda-tanda vital sebelum dan sesudah aktivitas.

Rasional : manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk membawa jumlah
oksigen adekuat ke jaringan.

Berikan lingkungan tenang, batasi pengunjung, dan kurangi suara bising, pertahankan tirah baring
bila di indikasikan.

Rasional : meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan
regangan jantung dan paru.

Gunakan teknik menghemat energi, anjurkan pasien istirahat bila terjadi kelelahan dan
kelemahan, anjurkan pasien melakukan aktivitas semampunya (tanpa memaksakan diri).

Rasional : meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan memperbaiki tonus
otot/stamina tanpa kelemahan. Meingkatkan harga diri dan rasa terkontrol.

Kurang pengetahuan yang berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakitnya.

Tujuan : Kurang pengetahuan teratasi.


Kriteria Hasil :Pemahaman tentang program pengobatan.

Intervensi:

Jelaskan tentag keadaan penyakitnya.

R//: menurunnya rentang perhatian pasien dapat menurunkan kemampuan untuk


menerima/memproses dan mengingat menyimpan imformasi yang di berikan.

Tekankan pentingnya dan keuntungan mempertahankan program latihan yang dianjurkan.

R//: mengingatkan pada pasien demi mempercepat proses penyembuhan.

Jelaskan tentang pengobatan: nama, jadwal, tujuan, dosis dan efe sampingnya.

R//: meningkatkan proses penyembuhan.

Peragakan pemasangan dan perawatan brace atau korset.

R//: menghindari kecelakaan dan membantu proses koping individu.

Implementasi

Implementasi sesuai rencana tindakan keperawatan.

Evaluasi

Setelah intervensi keperawatan, diharapkan:

Pola napas efektif


1) menunjukkan bunyi napas yang normal.

2) frekuensi dan irama napas teratur.

Nyeri hilang atau berkurang

1) Melaporkan tingkat nyeri yang dapat diterima.

2) Memperlihatkan tenang dan rileks.

3) Keseimbangan tidur dan istirahat.

Meningkatkan mobilitas fisik

1) Melakukan latihan rentang gerak secara adekuat.

2) Melakukan mobilitas pada tingkat optimal.

3) Secara aktif ikut serta dalam rencana keperawatan.

4) Meminta bantuan jika membutuhkan.

Pola tidur kembali normal

Meningkatkan harga diri.

1) Mencari orang lain untuk membantu mempertahankan harga diri.

2) Secara aktif ikut serta dalam perawatan dirinya.


3) Menggunakan keterampilan koping dalam mengatasi citra tubuh.

Kecemasan berkurang

Dapat mempertahankan/meningkatkan ambulasi/aktivitas.

Pemahaman pengetahuan

1) Mengungkapkan pengertian tentang proses penyakit, rencana pengobatan, dan gejala


kemajuanpenyakit

2) Memperagakan pemasangan dan perawatan brace atau korset

3) Mengekspresikan pengertian tentang jadwal pengobatan

BAB III

TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN KEPERAWATAN

Pengkajian
No. RM : 027

Tanggal : 08 Januari 2012

Tempat : Ruangan Mawar

I. DATA UMUM

Identitas Klien

Nama : Tn. K

Tempat/Tanggal Lahir : Bau – Bau, 27 Mei 1966

Umur : 45 tahun

Jenis kelamin : Laki – Laki

Agama : Islam

Status perkawin : Kawin

Pendidikan terakhir : SMA

Pekerjaan : Wiraswasta
Lama bekerja : 15 Tahun

Suku bangsa : Buton

Alamat : Jalan A.H Nasution

Tgl. MRS : 06 Januari 2012

Ruangan : Mawar

Sumber info : Istri

Dx. Medis : Skoliosis

Penanggung jawab / pengantar

Nama : Ny. R

Umur : 44 Tahun

Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Ibu rumah tangga


Hubungan dengan klien : Istri klien

Alamat : Jalan A.H Nasution

II. RIWAYAT KESEHATAN SAAT INI

Keluhan Utama : Klien mengatakan nyeri pada punggungnya

Alasan masuk RS : Klien masuk rumah sakit karena nyeri di pungggungnya

semakin parah sehingga membuat klien susah untuk

beraktivitas (aktivitas klien terganggu)

Riwayat Penyakit

Provocative/Palliative :nyeri bertambah saat mengangkat barang yang berat

bekerja

Quality :intermiten

Region : di bagian punggungnya

Severity : skala 6

Timing : tidak menentu


III. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU

Penyakit yang pernah dialami

Saat kecil / kanak-kanak : tidak ada

Penyebab :–

Riwayat perawatan :–

Riwayat operasi :–

Riwayat pengobatan :–

Riwayat alergi : tidak ada

Riwayat immunisasi : imunisasi aktif

Lain – Lain : Klien mengatakan pernah mengalami arthritis 1 tahun

yang lalu.

IV. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA (Genogram 3 generasi).


Keterangan :

: Laki-laki

: Perempuan

: Meninggal

: Klien

: Tinggal serumah

Jumlah penghuni keluarga 5 orang.

Generasi 1: Meninggal tidak diketahui penyebabnya.

Generasi 2: Klien mengalami Skoliosis.

Generasi 3: anak – anak klien tidak mengalami Skoliosis.

Tidak ada riwayat keluarga menderita penyakit yang sama dengan klien
V. RIWAYAT PSIKO-SOSIAL-SPIRITUAL

Pola koping :Koping individu klien tidak efektif

Harapan klien thp keadaan peny-nya : Klien berharap nyerinya hilang agar

cepat sembuh sehingga dapat

beraktivitas kembali seperti semula.

Faktor stressor : klien stres berat memikirkan penyakit

yang dideritanya.

Konsep diri : klien merasa sangat terganggu karena

penyakit yang dideritanya.

Pengetahuan klien ttg penyakitnya : klien tidak mengetahui tentang

penyakitnya.

Adaptasi : Klien kurang beradaptasi di RS.

Hubungan dengan anggota keluarga : Baik

Hubungan dengan masyarakat : klien kurang berinteraksi dengan

masyarakat .

Perhatianthp orang lain & lawan bicara : Cukup baik

Aktifitas sosial :–
Bahasa yang sering digunakan : Bahasa Indonesia

Keadaan lingkungan : Bersih

Kegiatan keagamaan / pola ibadah : Klien melaksanakan shalat 5 waktu

Keyakinan tentang kesehatan : Klien menyerahkan kesembuhan

penyakitnya kepada Allah SWT.

VI. KEBUTUHAN DASAR / POLA KEBIASAAN SEHARI-HARI

Makan

Sebelum MRS : Klien makan 3x sehari,nafsu makan klien meningkat

BB 55kg

Setelah MRS : Nafsu makan klien makan menurun 2x sehari porsi kecil.

Diberikan makanan cair.

BB 50kg

Minum

Sebelum MRS : Klien minum 6-8 gelas sehari

Setelah MRS :Klien minum 3-5 gelas sehari pada keadaan ini klien tidak

mengalami gangguan pola makan


Tidur

Sebelum MRS : Klien tidak pernah tidur siang, tidur 4-5 jam sehari.

Setelah MRS : Klien tidur 3-4 jam sehari pada keadaan ini klien mengalami

gangguan pola tidur.

Eliminasi

Sebelum MRS : BAB klien 1x sehari

Setelah MRS :Klien kadang tidak BAB dalam sehari

Eliminasi urine/BAK

Sebelum MRS : Klien BAK 5-6x dalam sehari.

Setelah MRS : Klien BAK 1-2x sehari dengan volume sedikir

Akltifitas dan latihan

Sebelum MRS : Setiap Hari minggu klien rekreasi bersam keluarga


Setelah MRS : Klien tidak pernah melakukan aktifitas

Personal hygiene

Sebelum MRS : Klien mandi 2x sehari, mencuci rambut 1x sehari, 1 minggu

sekali klien memotong kuku.

Setelah MRS : Klien mandi 2x sehari.

VII. PEMERIKSAAN FISIK

Minggu, 8 Januari 2012

Keadaan umum

Kehilangan BB : 5 Kg

Kelemahan : Sangat lemah

Perubahan mood : murung

Vital sign :

TD : 120/80 mmHg
N : 70 x /menit

pernafasan : 25 x / menit

Suhu : 36,5 ºC

Tingkat kesadaran: 10

Ciri-ciri tubuh : Tinggi, agak kurus.

Head to toe

Kulit/integuman :

o Inspeksi : warna kulit kecoklatan

o Palpasi : Tidak ada udema,

Kepala :

o Inspeksi : Rambut lurus hitam dan pendek, Distribusi rambut merata,

Tidak ada ketombe

o Palpasi : Tidak ada udema, Tidak ada nyeri tekan

Kuku :
o Inspeksi : agak kotor

Mata/penglihatan :

o inspeksi : simetris kiri dan kanan, konjungtiva Nampak pucat, kelopak

mata tidak udema

o palpasi : tidak ada nyeri pada mata

Hidung/penghidupan :

o inspeksi : skimetris kiri dan kanan, tidak ada pengeluaran secret, fungsi

penciuman baik

o palpasi : tidak ada nyeri tekan

Telinga/pendengaran :

o inspeksi : simeris kiri dan kanan, tidak ada pengeluaran secret, fungsi

pendengaran baik

o palpasi : tidak ada nyeri tekan

Mulut dan gigi :

o inspeksi : mukosa bibir kering, keadaan gigi baik dan lengkap,


ada gangguan menelan

Leher :

o inspeksi : nampak miring kesamping

o palpasi : ada nyeri tekan pada leher

Dada :

o inspeksi : normal chest

pegerakan dan pengembangan dada sama ketika ekspirsi dan inspirasi

o palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa

o auskultasi : inspirasi sama dengan ekspirasi

Abdomen :

o inspeksi : tidak Nampak pembesaran pada abdomen

o palpasi : tidak teraba pembesaran hati, distensi abdomen tidak

ditemukan

o perkusi : tidak ada penimbunan cairan dan masa


o auskultasi : peristaltik usus

Perineum & genitalia : –

Extremitas atas:

o inspeksi : pergerakan klien terbatas, tidak ada hematom dan udem pada

tangan

o palpasi : tidak ada nyeri tekan

Extremitas bawah:

o inspeksi : pergerakan klien tebatas

o palpasi : tidak nyeri tekan dan tidak ada udema

Pengakajian Data Fokus (Pengakajian sidtem)

Sistem respiratory :

o inspeksi : pernafasan cepat,

o auskultasi : sonor

Sistem kardiovaskuler:
o inspeksi : kesadaran baik, bentuk dada normal chest, wajah Nampak

pucat, tidak ada udema pada tangan, kaki dan sendi

o palpasi : tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada nyeri tekan

o perkusi :–

o auskultasi : irama jantung tidak teratur

Sistem gastrointestinal :–

Sistem urinaria :–

Sistem reproduksi :–

Sistem muskuloskeletal:

o inspeksi : kekuatan otot berkurang, pola aktivitas terganggu

o palpasi : adanya lekukan atau adanya tulang yang menonjol.

Sistem neurologi :

o inspeksi : masih sadarkan diri

Sistem endokrin :-

Sistem penglihatan :

o inspeksi : simetris kiri dan kanan, konjungtiva Nampak pucat,


kelopak mata tidak udema

o palpasi : tidak ada nyeri pada mata

Sistem pendengaran :

o inspeksi : simetris kiri dan kanan, tidak ada pengeluaran secret, fungsi

pendengaran baik

o palpasi : tidak ada nyeri tekan

Pemeriksaan diagnostik

7 Januari 2012

diagnosa medis : Skoliosis

Penatalaksanaan Medis

o Rontgen tulang belakang.


Kurva structural akan memperlihatkan rotasi vertebra ; pada proyeksi posterior-anterior, vertebra
yang mengarah ke puncak prosessus spinosus menyimpang kegaris tengah; ujung atas dan
bawah kurva diidentifikasi sewaktu tingkat simetri vertebra diperoleh kembali.

VIII. PATOFISIOLOGI KEPERAWATAN

Arthritis Sering memikul beban berat pd salah satu sisi tubuh

Kelemahan dari ligamen-ligamen

dan jaringan-jaringan lunak lain yang

normal dari spine

Menjurus pada suatu lekukan dari spine

yang abnormal.

Posisi tulang belakang tdk lurus

Mengganggu sistem kerja saraf pd tulang

Saraf yg bekerja menjadi lemah


Terus berulang-ulang

Saraf akan mati

Ketidakseimbangan tarikan pd ruas belakang

Tulang belakang bengkok seperti huruf S atau C

SKOLIOSIS

Klasifikasi Data

Data Subyektif :

– Klien mengeluh sesak bila beraktivitas (bekerja)

– Klien mengeluh nyeri di punggungnya ketika beraktivitas (bekerja)

– Klien mengatakan lemah dan susah bergerak

– Klien merasa malu dengan keadaannya

Data Obyektif :

– Tanda – tanda vital :


Pernafasan : 25 x/menit

– Klien tampak meringis kesakitan

– Klien tampak lemah dan lesu

– Klien tampak susah bergerak

– Aktifitas terbatas

– Ekspresi wajah tampak murung

– Klien tampak malu dengan kondisinya.

Analisa Data

NO

DATA

PENYEBAB
MASALAH

Data Subyektif :

– Klien mengeluh sesak bila beraktivitas (bekerja)

Data Obyektif :

– Tanda – tanda vital :

Pernafasan : 25 x/menit

Tulang belakang membengkok

melebihi 60 derajat

Tulang rusuk akan menekan paru2 dan jantung

Ekspansi dada
Ketidak efektifan pola nafas

Ketidakefektifan pola nafas

Data Subyektif :

– Klien mengeluh nyeri di punggungnya ketika beraktivitas (bekerja)

Data Obyektif :

– Klien tampak meringis kesakitan

Posisi tubuh miring ke lateral

Tulang menekan jaringan disekitarnya


Impuls saraf nyeri

Nyeri dipresepsikan

Nyeri

Nyeri

Data Subyektif :

– Klien mengatakan lemah dan susah bergerak

Data Obyektif :

– Klien tampak susah bergerak

– Aktifitas terbatas
Posisi tubuh miring ke lateral

Posisi tubuh tdk seimbang

Gangguan mobilitas fisik

Gangguan mobilitas fisik

Data Subyektif :

– Klien merasa malu dengan keadaannya

Data Obyektif :

– Ekspresi wajah tampak murung

– Klien tampak malu dengan kondisinya.


Perubahan bentuk tubuh

Merasa malu dengan keadaan tubuh

Gangguan citra tubuh

Gangguan citra tubuh atau konsep diri

Diagnosa keperawatan

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penekanan paru.

Nyeri berhubungan dengan posisi tubuh miring ke lateral.

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan postur tubuh yang tidak seimbang.

Gangguan citra tubuh atau konsep diri berhubungan dengan postur tubuh yang miring ke lateral.
RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn. K

DENGAN SKOLIOSIS

Nama : Tn. K Tgl. Pengkajian : 08 – 01 – 2012

Umur : 45 tahun Tgl. MRS : 06 – 01 – 2012

Alamat : Jalan A.H. Nasution No. Register :–

DX. Medis : Skoliosis

NO

DIAGNOSA KEPERAWATAN

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

TUJUAN & CRITERIA HASIL


INTERVENSI

RASIONAL

Ketidakefektifan pola nafasberhubungan dengan penekanan paruditandai dengan :

Data Subyektif :

– Klien mengeluh sesak bila beraktivitas (bekerja)

Data Obyektif :

– Tanda – tanda vital :

Pernafasan : 25 x/menit.

Tujuan: Ketidakefektifan pola nafas teratasi.

Kriteria Hasil: Pola nafas efektif.

Kaji status pernapasan setiap 4 jam.


Bantu dan ajarkan pasien melakukan nafas dalam setiap 1 jam.

Atur posisi semi fowler.

Auskutasi dada untuk mendengarkan bunyi napas setiap dua jam.

Pantau tanda-tanda vital setiap 4 jam.

R//: memantau perkembangan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

R//: agar tidak terjadi sesak.

R//:untuk meningkatkan ekspansi paru.

R//: perubahan simetrisan dada menunjukan terjadi penekanan paru-paru oleh tulang belakang.

R//: memantau perkembangan untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Nyeri punggung yang berhubungan dengan posisi tubuh miring ke lateral ditandai dengan:

Data Subyektif :
– Klien mengeluh nyeri di punggungnya ketika beraktivitas (bekerja)

Data Obyektif :

– Klien tampak meringis kesakitan

Tujuan: Rasanyeri teratasi.

Kriteria Hasil: Rasa Nyeri hilang atau kurang

Kaji tipe, intensitas, dan lokasi nyeri.

Atur posisi yang meningkatkan rasa nyaman.

Pertahankan lingkungan yang tenang.

Ajarkan relaksasi dan teknik distraksi.

Anjurkan latihan postural secara rutin.


Kaloborasi pemberian analgetik.

R//: bermanfaat dalam mengevaluasi nyeri, menentukan pilihan intervensi, menentkan evektivitas
terapi.

R//: menurunkan tegangan otot dan koping adekuat.

R//: meningkatkan rasa nyaman.

R//: untuk mengalihkan perhatian, sehingga mengurangi nyeri.

R//: dengan latihan posturan secara rutin mempercepat proses perbaiki posisi tubuh.

R//: untuk meredahkan nyeri.

Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan postur tubuh yang tidak seimbang ditandai
dengan :

Data Subyektif :

– Klien mengatakan lemah dan susah bergerak

Data Obyektif :

– Klien tampak susah bergerak

– Aktifitas terbatas
Tujuan: Gangguan mobilitas fisik teratasi.

Kriteria Hasil: Meningkatkan mobilitas fisik.

Kaji tingkat mobilitas fisik.

Tingkatkan aktivitas jika nyeri berkurang.


Bantu dan ajarkan latihan rentang gerak sendi aktif.

Libatkan keluarga dalam melakukan perawatan diri.

R//: pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang keterbatasan fisik actual,
memerlukan informasi/intervensi untukmeningkatkan kemajuan ksehatan.

R//: memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energy, meningkatkan rasa control diri/harga
diri, dan membantu menurunkan isolasi social.

R//: Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi.

R//: Keluarga yang kooperatif dapat meringankan petugas, dan memberikan kenyamanan pada
pasien.

Gangguan citra tubuh atau konsep diri yang berhubungan dengan postur tubuh yang miring ke
lateralditandai dengan :

Data Subyektif :
– Klien merasa malu dengan keadaannya

Data Obyektif :

– Ekspresi wajah tampak murung

– Klien tampak malu dengan kondisinya.

Tujuan: Gangguan citra tubuh atau konsep diri teratasi.

Kriteria Hasil: Meningkatkan citra tubuh.

Anjurkan untuk mengungkapkan perasaan dan masalahnya.

Beri lingkungan yang terbuka atau yang mendukung pada pasien.


Diskusikan presepsi pasien tentang diri dan hubungannya dengan perubahan dan bagaimana
pasien melihat dirinya dalam pola/peran fungsi biasanya.

Dorong /berikan kunjungan oleh orang yang menderita skoliosis, khususnya yang sudah berhasil
dalam rehabilitasi.

R/: membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah.

R//: meningkatkan pernyataan keyakinan/nilai tentang subjek positif dan mengidentifikasi


kesalahan konsep/mitos yang dapat mempengaruhi penilaian situasi.

R//: membantu mengartikan masalah sehubungan dengan pola hidup sebelumnya dan membantu
dalam pemecahan masalah.
R//: teman senasib yang telah melalui pengalaman yang sama bertindak sebagai model peran dan
dapat memberikan keabsahan pernyataan dan juga harapan untuk pemulihan dan masa
dengan normal.

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marylinn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC.

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.

Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Jakarta: EGC.

Nettina, Sandra, M. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Jakarta : EGC.

Alpers, Ann. 2006.Buku Ajar Pediatri Rudolph Vol. 3.Jakarta : EGC.


http://www.kuliah-keperawatan.co.cc/2009/04/skoliosis.html