Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA Ny. S DENGAN SECTIO CEASAREA INDIKASI


PREEKLAMSI BERAT DI KAMAR OPERASI INSTALASI
GAWAT DARURAT RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

NASKAH PUBLIKASI
Untuk Memenuhi Sebagai Salah Satu Syarat Mendapatkan Gelar
Profesi Ners (Ns)

Diajukan Oleh:

ANIESAH
J 230 113 026

FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2012
1
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

KARYA TULIS ILMIAH, 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. S DENGAN SECTIO CAESAREA


INDIKASI PREEKLAMSI BERAT DI KAMAR OPERASI INSTALASI
GAWAT DARURAT RSUD Dr. MOEWARDI SURAKARTA

Aniesah, S.Kep*
Priyo Prabowo, S.kep.,Ns, **
Amir Nuryanto, S. Kep., Ns., **

ABSTRAK

Salah satu komplikasi persalinan yang mempunyai tingkat kematian maternal


dan perinatal yang tinggi adalah preeklamsi dan eklamsi. Di Indonesia
preeklamsi atau eklamsi merupakan penyebab kematian ibu yang ketiga dengan
angka kejadiannya sebesar 13% setelah perdarahan dan infeksi. Resiko relative
terjadinya bayi lahir mati pada ibu dengan preeklamsi adalah 5,65 kali lebih besar
dibandingkan dengan ibu tanpa preeklamsi. Di banding negara maju dan negara
asia lainnya, Indonesia termasuk yang tinggi angka kematian perinatalnya. Sectio
caesarea merupakan allternatif dalam menangani persalinan dengan preeklamsi.
Karya Tulis Ilmiah ini adalah untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan
yang tepat bagi klien dengan tindakan sectio caesarea dengan preeklamsi.
Penyusunan karya tulis ini menggunakan metode deskriptif .Tehnik pengambilan
data yang digunakan adalah wawancara, observasi, pemeriksaan fisik dan studi
dokumentasi. Kesimpulan dari Karya Tulis Ilmiah ini, pada Ny.S telah
memunculkan beberapa diagnosa diantaranya saat pre operasi ditemukan
diagnosa ansietas teratasi dengan anxiety reduction, diagnosa nyeri akut teratasi
sebagian dengan pain management, diagnosa resiko infeksi selama pre, intra
dan post teratasi sebagian dengan infection control dan infection protection, pada
saat intra operasi ditemukan diagnosa resiko kurang volume cairan teratasi
sebagian dengan rehidrasi cairan dan vital sign monitor, risiko penurunan cardiac
output teratasi dengan pemberian oksigen adekuat, rehidrasi cairan dan vital sign
monitor. Pada diagnosa post operasi ditemukan diagnosa hipotermi teratasi
dengan warming mangement. Diagnosa yang tidak muncul pada kasus ini adalah
mual.

Kata Kunci : Sectio Caesarea, Preeklamsi Berat

Daftar Pustaka: 27 (2001 – 2012)


2
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

ABSTRACT

One of the complications of labor that has high maternal and perinatal mortality rates are
preeclampsia and eclampsia. In Indonesia, preeclampsia and eclampsia is the third
leading cause of maternal death with prevalence 13% after hemorrhage and infection.
The relative risk of stillbirth for mothers with preeclampsia were 5.65 times more than
mother without preeclampsia. On appeal the developed countries and other Asian
countries, Indonesia is a high mortality rate perinatalnya. Sectio caesarea is alternative
method in helping labor with preeclampsia.The Scientific research paper is to find the
right description of nursing care for clients with sectio ceasarea indication preeclampsia.
The scientifis research paper arrangement is using the descriptive method. Data
collection techniques used were interviews, observation, physical examination and study
documentation. The conclusion from this scientific research paper toward Ny.S is some
diagnoses that appear such as in pre operation is anxiety diagnosis solved by anxiety
reduction, acute pain is half solved by pain management, risk of infection diagnosis
during pre operation and intra operation is half solved by infection control and infection
protection, and during intra operation has been found risk for deficient fluid volume
diagnosis is half solved by rehydration fluids and vital sign monitors, risk for decreased
cardiac output is solved by rehydration fluids and vital sign monitor and adequate oxygen
delivery. Post operation diagnosis hypothermia is solved by warming management. The
diagnose doesn’t appear to this case is the nauseous.

Key Words : Sectio Caesarea, Preeclampsia

PENDAHULUAN mengetahui berbagai indikasi


kehamilan yang dapat mengancam
Salah satu komplikasi persalinan nyawa ibu dan bayinya. salah satu
yang mempunyai tingkat kematian cara alternative dalam menangani
maternal dan perinatal yang tinggi preeklamsi yaitu dengan tindakan
adalah preeklamsi dan eklamsi. operatif sectio caesaria.
Menurut Depkes RI (2007), di Angka kejadian sectio caesarea
Indonesia penyebab utama kematian di Indonesia menurut data survey
ibu di samping perdarahan (45%) dan nasional pada tahun 2009 adalah
infeksi (15%), merupakan preeklamsi 921.000 dari 4.039.000 persalinan
atau eklamsi dengan angka (22.8%) dari seluruh persalinan dan
kejadiannya sebesar (13%). Resiko angka kejadian sectio caesarea di
relative terjadinya bayi lahir mati pada Provinsi Jateng pada tahun 2009
ibu dengan preeklamsi adalah 5,65 kali berjumlah 3.401 operasi dari 170.000
lebih besar dibandingkan dengan ibu persalinan (20%) dari seluruh
tanpa preeklamsi. persalinan (Dinkes Provinsi Jateng,
Mengingat hal tersebut diatas 2009) sedangkan angka persalinan
maka preeklamsi dan eklamsi masih sectio caesarea di RSUD Dr. Moewardi
yang menyebabkan angka kematian dari tanggal 1 Januari-21 Oktober 2012
ibu dan janin tinggi sehingga salah sebanyak 1333 persalinan dan dengan
satu kebijakan nasional untuk indikasi preeklamsi dan eklamsi
meminimalkan angka kematian ibu dan sebanyak 156 persalinan.
bayinya adalah dengan terus Tujuan dari karya tulis ilmiah ini
meningkatkan pelayanan kesehatan Mahasiswa dapat memahami asuhan
yang berkualitas dengan terdapatnya keperawatan pada pasien pre, intra
staf kesehatan yang ahli dalam dan post op Sectio Caesarea dengan
menangani persalinan serta indikasi preeklamsi berat
3
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

TINJAUAN PUSTAKA berkurangnya kebutuhan karbohidrat,


Preeklamsi adalah sindroma protein dan faktor-faktor pertumbuhan
spesifik dengan tanda-tanda hipertensi, lainnya yang seharusnya diterima oleh
edema dan proteinuria yang timbul janin.
dalam kehamilan yang menyebabkan Pada preeklamsi yang berat dan
perfusi darah ke organ berkurang eklampsi dapat terjadi perburukan
karena adanya vasospasmus dan patologis dan sejumlah organ dan
menurunnya aktivitas sel endotel sistem yang kemungkinan disebabkan
(Cunningham, 2006) oleh vasospasme dan iskemik
Menurut Bobak et al (2004) tidak (Cunningham, 2006). Pada teori
ada profil tertentu yang iskemia implantasi plasenta, bahan
mengidentifikasikan wanita yang akan trofoblas akan diserap kedalam
menderita preeklamsi, akan tetapi ada sirkulasi yang dapat meningkatkan
beberapa faktor risiko tertentu yang sensitivitas terhadap angiotensin II
berkaitan diantaranya adalah renin dan aldosteron dan terjadi
primigravida, gestasi dengan usia <18 spasme pembuluh darah arteriol dan
atau >35 tahun, janin besar, kehamilan menyebabkan tertahannya garam dan
mola, kehamilan dengan janin lebih air sehingga terjadi edema.
dari satu, obesitas, sedangkan Menurut Mansjoer et al (2001)
menurut Pery et al (2010) faktor risiko manifestasi klinis preeklamsi yaitu
lain yang mendukung terhadap terjadinya peningkatan tekanan darah,
terjadinya preeklamsi adanya riwayat sebagai tanda awal yang penting pada
keluarga dengan preeklamsi, adanya preeklamsi. Tekanan darah ≥ 140/90
riwayat penyakit dan riwayat keluarga mmHg atau tekanan sistolik meningkat
seperti adanya hipertensi kronik, > 30 mmHg atau tekanan diastolik > 15
penyakit ginjal, penyakit diabetus mmHg yang diukur setelah pasien
millitus tipe 1, selain itu, adanya beristirahat selama 30 menit.
riwayat kehamilan dengan plasenta Kemudian adanya kenaikan berat
abruptio, fetal death, hambatan badan yang tiba-tiba mendahului
pertumbuhan janin dalam rahim. serangan preeklamsi dan kenaikan
Salah satu teori yang berat badan yang berlebih merupakan
dikemukakan pada kejadian tanda pertama preeklamsi.
preeklamsi disebabkan karena iskemia Peningkatan berat badan normal
rahim dan plasenta sedangkan selama adalah 0,5 kg/minggu bila 1 kg dalam 1
kehamilan uterus memerlukan darah minggu maka kemungkinan terjadinya
lebih banyak namun pada klien dengan preeklamsi harus dicurigai.
kehamilan ganda, multipara, molahi- Peningkatan berat badan disebabkan
datidosa, hidroamnion menyebabkan karena retensi cairan dan selalu
peredaran darah dalam dinding uterus ditemukan sebelum timbul gejala
berkurang maka keluarlah zat-zat dari edema, proteinuria bila terdapat protein
plasenta atau disebut decidue yang sebanyak 0,3 gram/ liter dalam air
menyebabkan vasospasme termasuk kencing dalam 24 jam atau
spasmus arteriol spiralis dengan pemeriksaan kualitatif menunjukkan +1
demikian terjadinya gangguan sirkulasi atau +2 atau kadar protein ≥ 1 gram
uteroplasenta yang berfungsi dalam per liter dalam urin yang dikeluarkan
pemberian oksigen (Wiknjosastro et al, dalam kateter atau urin porsi tengah.
2007). Pada gangguan kronis akan Sedangkan menurut Cunningham
menyebabkan pertumbuhan janin (2006) gejala yang dirasakan adalah
dalam kandungan mengalami nyeri epigastrium atau kuadran kanan,
hambatan yang disebabkan oleh nyeri disebabkan nekrosis, iskemia dan
4
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

edema hepatoseluler yang kematian ibu dan janin tinggi sehingga


meregangkan kapsul glisson, nyeri salah satu cara alternative dalam
khas ini biasanya disertai dengan menanganinya yaitu dengan tindakan
peningkatan enzim hati dan sebagai operatif sectio caesaria.
tanda untuk mengakhiri kehamilan. Sectio caeserea adalah suatu
Menurut Manuaba et al (2007) persalinan buatan dimana janin
preeklamsi dibagi dalam 2 golongan, dilahirkan melalui suatu insisi pada
yaitu ringan dan berat. Preeklamsi dinding perut dan dinding rahim dngan
dikatakan ringan apabila ditemukan syarat rahim dalam keadaan utuh serta
tanda-tanda seperti tekanan darah ≥ berat janin di atas 500 gram
140/90 mmHg dengan kenaikan sistolik (Wiknjosastro et al, 2007).
30 mmHg dan diastolik 15 mmHg, Teknik sectio caesarea menurut
kenaikan BB ½ kg atau lebih dalam Cunningham (2006) ada 2 yaitu teknik
seminggu, protein +1 dan edema insisi abdominalis terdiri dari insisi
ringan. Sedang preeklamsi berat vertikal dan insisi transversal.
ditemukan satu atau lebih tanda-tanda Sedangkan teknik insisi uterus terdiri
seperti tekanan darah 160/110 mmHg dari sectio caesarea transperitonealis
atau lebih, edema, proteinuria 5gr atau yaitu sectio ceasarea klasik dimana
lebih/24 jam, oliguri dengan jumlah urin dilakukan insisi memanjang pada
kurang dari 500cc/24 jam, terdapat corpus uteri sepanjang kira-kira 12 cm.
dispnea. Kelebihan jenis SC ini dapat
Menurut Bobak et al (2004) mengeluarkan janin dengan cepat,
pemeriksaan penunjang yang tidak mengakibatkan komplikasi pada
diperlukan pada preeklamsi adalah kandung kemih tertarik, dan sayatan
pemeriksaan urin untuk melihat protein bias di perpanjang proksimal atau
dalam urin dan pemeriksaan darah distal sedangkan kekurangan teknik
lengkap (termasuk hitung trombosis). SC ini, ruptur uteri sering terjadi untuk
Pemeriksaan pembekuan meliputi persalinan berikutnya. Sedangkan
waktu perdarahan, PT, PTT dan sectio caesearea ismika atau profundal
fibrinogen. Pemeriksaan enzim hati dilakukan dengan melakukan insisi
yang meliputi bilirubin, LDH meningkat, pada segmen bawah rahim (low
aspartat aminotransferase, SGOT servical transversal) sepanjang kira-
meningkat, SGPT meningkat dan total kira 12 cm. Kelebihan penggunaan
protein serum menurun. jenis SC ini yaitu penjahitan luka lebih
Menurut Mitayani (2009) mudah, penutupan luka dengan
komplikasi pada preeklamsi pada ibu reperitonelisasi yang baik, tumpang
adalah terjadinya eklamsi, solusio tindih peritonel flap baik sekali untuk
plasenta, perdarahan subkasular menahan penyebaran isi uterus ke
hepar, kelainan pembuluh darah, rongga peritonium, perdarahan tidak
sindrom HELLP, gagal jantung hingga begitu banyak, kemungkinan ruptur
syok dan kematian. Selain pada ibu, uteri spontan berkurang atau lebih kecil
pada janin pun dapat berakibat adapun kekurangannya adalah luka
terhambatnya pertumbuhan dalam dapat melebar kekiri, kanan, bawah
uterus, bayi prematur, asfiksia sehingga dapat menyebabkan uteri
neonatorum, kematian dalam uterus, uterine pecah sehingga mengakibatkan
peningkatan angka kematian dan perdarahan banyak. Keluhan pada
kesakitan perinatal. kandung kemih post operasi tinggi.
Mengingat hal tersebut diatas Diagnosa keperawatan
maka preeklamsi merupakan penyakit merupakan keputusan klinik tentang
kehamilan yang menyebabkan angka respon individu, keluarga dan
5
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

masyarakat tentang masalah Waktu dan tempat penelitian


kesehatan aktual atau potensial dan Karya tulis ilmiah ini dilakukan
perawat secara akuntabilitas dapat pada tanggal 24 Juli 2012 di kamar
mengindentifikasikan dan memberikan operasi instalasi gawat darurat RSUD
intervensi secara pasti untuk menjaga, Dr. Moewardi Surakarta.
merubah, membatasi, meningkatkan
dan menambah status kesehatan klien Teknik pengambilan data
(Patricia, 2009). Diagnosa sesuai Teknik pengambilan data yang
Nanda cit wilkinson (2006) pada sectio digunakan dalam karya tulis ilmiah ini
ceasarea diantaranya. Pada pre adalah dengan melakukan wawancara,
operasi: resiko infeksi berhubungan observasi, pemeriksaan fisik dan studi
dengan kontaminasi lingkungan luar dokumentasi.
dan dilakukan intervensi infection
control dan infection protection, nyeri Analisis data
akut berhubungan dengan Ketekunan penulis di lakukan
menurunnya kadar progesteron dan dengan teknik melakukan pengamatan
meningkatnya kadar oksitosin dan secara terus menerus selama proses
dilakukan intervensi manajemen nyeri, pengkajian, implementasi dan evaluasi
ansietas berhubungan dengan krisis terhadap Ny.S. dan pengecekan teman
situasional dan dilakukan anxiety sejawat dilakukan oleh teman profesi
reduction. Pada intra operasi: resiko ners dengan harapan dapat melakukan
infeksi berhubungan dengan prosedur diskusi dan masukan terhadap
invasive dan dilakukan intervensi perkembangan proses dan hasil yang
infection control dan infection terjadi pada Ny.S
protection, resiko defisit volume cairan
berhubungan dengan kehilangan darah Etika
dilakukan intervensi rehidrasi cairan Masalah etika dalam keperawatan
dan vital sign monitor, risiko penurunan meliputi :
cardiac output berhubungan dengan 1. Anonimity (tanpa nama)
efek anestesi, dilakukan intervensi 2. Confidentiality (kerahasiaan)
rehidrasi cairan dan vital sign monitor
serta pemberian oksigen adekuat. HASIL PENELITIAN
Pada post operasi: hipotermi Data Profil Objek
berhubungan dengan paparan Pengkajian dilakukan pada
lingkungan dingin, pemberian obat tanggal 24 Juli 2012 jam 20.10
anestesi dan dilakukan intervensi diperoleh data Klien dengan inisial Ny.
dengan warming mangement, Mual S berumur 37 tahun, alamat Surakarta,
berhubungan dengan efek pemberian jenis kelamin perempuan, pendidikan
obat anestesi dan dilakukan intervensi terakhir SLTA, agama islam, pekerjaan
berupa kolaborasi dalam pemberian tani, dengan No CM 01141290 dan
antiemetic, resiko infeksi berhubungan diagnosa medis preeklamsi berat
dengan post prosedur invasive dan multigravida hamil postterm.
dilakukan intervensi infection control Penanggung jawab Tn.A umur 40
dan infection protection tahun merupakan suami Ny.S.

METODOLOGI PENELITIAN Gambaran Kasus


Desain Penelitian Riwayat Kesehatan.Ny.S G3 P2
Metode pendekatan yang di A0 datang atas kiriman dari Rumah
gunakan pada karya tulis ilmiah ini Sakit Citra Prasasti dengan keterangan
menggunakan metode studi deskriptif pada tanggal 24 juni 2012 jam 09.00
6
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

WIB Ny.S dengan HPHT 15 Oktober Hasil pemeriksaan laboratorium


2012, HPL 22 Juni 2012 dan umur pada tanggal 24 Juli 2012 jam 18.00 di
kehamilan 40+2 minggu dengan dapatkan hasil nilai hemoglobin 11,1
preeklamsi.Klien mengatakan nyeri g/dl (normal:12.0-15.6), hematokrit
pada bagian pinggang dan menjalar 31% (normal 33-45), leukosit 10,3
kekanan dan kiri, nyeri diasakan ribu/ul (normal: 4,5-11,0), trombosit
semenjak 5 hari yang lalu. klien juga 273 ribu/ul (normal: 150-450), eritrosit
mengatakan nyeri karena kontraksi 3,38 juta/ul (normal: 4.10-5.10), PT
uterus pada hamil ke tiga ini lebih 13,2 detik (normal: 10.0-15.0) dan
dirasakan dibanding riwayat APTT 26.9 detik (normal: 20.0-40.0),
persalinan dua kali yang lalu pada golongan darah B, HbsAg negatif, GDS
tahun 2007 dan 2009. Klien 106 mg/dl (normal: 60-140), SGOT 14
mengatakan belum pernah melahirkan u/l (normal: 0-35), SGPT 10 u/l
dengan cara sectio caesarea, dan (normal:0-45), albumin 3,4 g/dl
mengatakan agak takut menghadapi (normal: 3,5- 5.0), kreatinin 0,7 mg/dl
persalinan kali ini. Klien tidak memiliki (0,6-1.1), ureum 18 mg/dl (normal<50),
riwayat asma, alergi, riwayat penyakit natrium 139 mmol/L (normal:136-145),
menular dan tekanan darah tinggi kalium 3,7 mmol/L (normal:3.3-5.1),
sebelumnya. Hipertensi yang dialami klorida 110 mmol/L (normal: 98-106),
klien setelah hamil anak ke 3, namun protein urin kualitatif +1/positif 1
ibu klien memiliki riwayat darah tinggi. (normal:negatif).
Dari anamnesa Dokter IGD klien di Pada pemeriksaan USG
diagnosa preeklamsi berat multigravida ditemukan, janin tunggal, intra uterine,
hamil postterm sehingga harus segera memanjang, puki, preskep, masuk
dilakukan operasi sectio caesarea. PAP, DJJ (+) dengan BPD 8,9 FL 6,3,
Hasil pemeriksaan fisik di AC 30,5, EFBW 2605, plasenta
dapatkan bahwa keadaan umun baik, ineversi, air ketuban kesan cukup,
tekanan darah 170/100. Pada tidak tampak jelas kelainan kongenital
pemeriksaan abdomen dengan mayor, kesan graf janin dalam
inspeksi tampak linea nigrae dan striae keadaan baik
gravida pada seluruh abdomen, pada .
pemeriksaan palpasi ditemukan Asuhan Keperawatan
leopold I tinggi fundus uteri setinggi 27 Surgical safety check in saat
cm dan teraba bulat dan kenyal tepat menerima pasien dilakukan pada jam
diatas fundus uterus. Pada leopold II 20.10 WIB dengan memvalidasi nama,
teraba bagian kecil pada sisi kanan alamat, dan jenis tindakan. Kemudian
uterus dan teraba seperti papan pada melakukan pemeriksaan ulang inform
sisi kiri uterus (Puki). Pada leopold III consent pembedahan dan anestesi,
ditemukan teraba bulat, keras dan inform consent sudah ditanda tangani
melenting (Preskep) dan pada leopold oleh penanggung jawab Tn. A.
IV ditemukan bagian bawah sudah Pada Pre operasi ditemukan
masuk PAP. Sedangkan peda masalah sebagai berikut :
auskultasi ditemukan DJJ 128 x/menit.
Pada pemeriksaan ekstremitas Risiko infeksi berhubungan dengan
ditemukan kedua kaki klien mengalami kontaminasi lingkungan luar
oedem dengan piting edema 2. Pada Diagnosa tersebut muncul
pemeriksaan vaginal touche ditemukan didukung dengan data subyektif Ny.S
penurunan kepala pada hodge II, kulit mengatakan klien masih menggunakan
ketuban (+), air ketuban (+), kain jarik. Data obyektif, klien belum
pembukaan Ø cm.
7
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

menggunakan topi operasi, klien masih akan dilakukan adalah lakukan


menggunakan kain jarik. pendekatan yang memberi
Tujuan yang diharapkan setelah kenyamanan kepada klien, jelaskan
dilakukan tindakan keperawatan semua prosedur, ajarkan klien teknik
selama 1x15 menit tidak terjadi infeksi relaksasi nafas dalam, temani klien
dengan kriteria hasil klien dalam dan memberikan motivasi positif
keadaan sesuai dengan prosedur kepada klien.
operasi, klien menggunakan baju, topi Implementasi keperawatan yang
khusus operasi. Intervensi dilakukan penulis sebagai berikut: jam
keperawatan adalah lakukan cuci 20.15 WIB memberikan tindakan
tangan sebelum dan sesudah tindakan dengan menemani klien dan
keperawatan, pakaikan baju operasi menjelaskan prosedur tindakan yang
dan topi operasi, monitor tanda gejala akan diberikan kepada klien, serta
infeksi, lepas aksesoris yang memberikan motivasi positif kepada
digunakan klien, pakai masker dan klien, pada jam 20.40 WIB
sarung tangan sebagai alat pelindung. mengajarkan klien teknik relaksasi
Implementasi keperawatan yang nafas dalam, jam 20.45 WIB
dilakukan penulis adalah jam 20.20 melakukan pemeriksaan tanda-tanda
WIB membantu klien melepas jarik dan vital kepada klien meliputi tekanan
menggunakan baju dan topi operasi darah, nadi dan respirasi.
dan memastikan tidak ada benda atau Evaluasi dilakukan pada jam
perhiasan yang digunakan klien. 21.00 WIB dengan di peroleh data
Evaluasi pada pukul 20.30 WIB subyektif klien mengatakan bismillah
dengan hasil klien sudah tidak dan semoga operasi berjalan lancar
menggunakan jarik dan sudah dan data obyektif, klien mampu
menggunakan baju dan topi operasi. melakukan teknik relaksasi nafas
Masalah risiko infeksi teratasi. dalam dengan baik, klien terlihat relax,
hasil pemeriksaan tanda-tanda vital:
Ansietas berhubungan dengan TD: 160/90 mmHg, N: 80x/menit, RR:
krisis situasional 21x/menit, S: 36,50C. Masalah ansietas
Diagnosa tersebut diangkat di teratasi.
dukung oleh data subyektif Ny.S
mengatakan belum pernah melahirkan Nyeri akut berhubungan dengan
dengan cara operasi seperti ini, dan kontraksi uterus
agak takut serta khawatir menghadapi Diagnosa tersebut diangkat
persalinan kali ini, data obyektif klien dengan dukungan data subyektif klien
selalu menanyakan pertanyaan yang mengatakan nyeri pada bagian
sama pada perawat, dan klien terlihat pinggang dan menjalar kekanan dan
ekspresi wajah yang tegang. kiri, nyeri pinggang bertambah saat
Tujuan yang diharapkan adalah dari duduk ingin berdiri nyeri dirasakan
setelah dilakukan tindakan nyeri pegel semenjak 5 hari yang lalu
keperawatan selama 1x15 menit dan hilang timbul dengan skala nyeri 5.
diharapkan klien mampu mengontrol klien mengatakan nyeri karena
kecemasan dengan mekanisme koping kontraksi uterus pada hamil ke tiga ini
yang positif, dengan kriteria hasil klien lebih dirasakan dibanding riwayat
mampu mengidentifikasi, dan persalinan sebelumya. Data obyektif
menunjukkan teknik untuk mengontrol klien terlihat ekspresi wajah yang
kecemasan, vital sign mengalami tegang.
penurunan, ekspresi wajah relax. Tujuan yang diharapkan adalah
Rencana tindakan keperawatan yang setelah dilakukan tindakan
8
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

keperawatan selama 1x 15 menit asisten operator sebagai instrumen


diharapkan nyeri berkurang dengan selama tindakan operasi sectio
kriteria hasil klien mampu melakukan caesarea
pain management, vital sign Pada intra operasi ditemukan
mengalami penurunan. Rencana masalah sebagai berikut:
tindakan keperawatan yang akan
dilakukan adalah: ajarkan klien teknik Risiko infeksi berhubungan dengan
relaksasi nafas dalam, memberikan tindakan invasif / pembedahan
klien massage punggung Diagnosa tersebut diangkat
Implementasi keperawatan yang dengan dukungan data obyektif Ny.S
dilakukan penulis sebagai berikut: jam akan dilakukan sectio caesarea
20.40 WIB mengajarkan teknik dengan jenis ismika atau profundal
relaksasi nafas dalam, pada jam 20.45 sepanjang 10 cm pada segmen bawah
WIB menganjurkan klien untuk miring rahim.
kekiri, pada jam 20.50 WIB Tujuan yang diharapkan adalah
memberikan massage punggung tidak terjadinya infeksi setelah
kepada klien. dilakukan tindakan keperawatan
Evaluasi dilakukan pada jam selama operasi dengan kriteria hasil:
21.00 WIB dengan di peroleh data kesterilan terjaga selama proses
subyektif klien mengatakan lebih operasi sectio caesarea. Rencana
nyaman dengan posisi miring. Dan tindakan keperawatan yang akan
data obyektif, klien mampu melakukan dilakukan adalah lakukan persiapan
teknik relaksasi nafas dalam dengan alat steril (obsgyn set, kom steril,
baik, klien tersenyum dan terlihat relax. suction steril, baju steril, benang steril
Evaluasi masalah teratasi sebagian dan handscoon steril), gunakan
Surgical safety sign in sebelum masker, lakukan cuci tangan sebelum
tindakan anestesi dilakukan pada jam dan sesudah tindakan. Lakukan
21.14 WIB dengan memvalidaasi seluruh tindakan selama operasi
identitas dan tindakan operasi. klien dengan menjaga kesterilan.
masuk ke ruang operasi jam 21.15 Implementasi yang dilakukan
WIB. Jam 21.20 WIB klien dilakukan pada pukul 21.10 WIB melakukan
anestesi spinal, setelah melakukan persiapan alat steril terdiri dari dari 2
disinfeksi, dokter anestesi kom besar, selang suction,
berkerjasama dengan perawat menuangkan aquadest pada 1 kom
anestesi menyuntikkan jarum spinal no besar, menyiapkan set obsgyn,
23 pada bidang median dengan arah menuangkan betadin dan alkohol pada
10-30 derajat terhadap bidang kom kecil dan menyiapakan pakaian
horizontal pada ruang antar vertebra steril, kemudian menyiapkan kassa
lumbal 3-4. Setelah jarum sampai di steril, benang steril yang meliputi
ruang subarachnoid yang ditandai chromic no 2, chromic no 2-0, polysorb
dengan menetesnya cairan LCS, stilet no 2, plain no 2-0 dan byosin no 4-0,
dicabut dan disuntikkan Bupivakain 10 dan menyiapkan handscoon steril,
mg dan fentanil 25 mcg. Lokasi pada pukul 21.18, penulis merapikan
penyuntikan ditutup perban pasien masker, menggunakan skort,
dikembalikan pada posisi terlentang melakukan cuci tangan 7 langkah
lalu menempatkan kedua tangan pada kemudian menggunakan baju steril,
sayap meja operasi. Memberikan dibantu teman sejawat profesi ners,
maintenance dengan 02 2liter/menit. selanjutnya penulis menggunakan
Dalam hal ini penulis melakukan handscoon steril, menyusun peralatan
persiapan alat dan membantu menjadi obsgyn yang akan digunakan. Jam
9
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

21.30 klien dilakukan disenfeksi dari tanda-tanda dehidrasi, elastis turgoor


abdomen sampai daerah paha atas kulit baik, membran mukosa lembab,
dengan betadin yang dimulai dari tidak ada rasa haus berlebihan.
tengah atau daerah yang akan Rencana tindakan keperawatan yang
dilakukan insisi ke arah luar, kemudian akan dilakukan adalah, monitoring
di bilas dengan alkohol dengan teknik tanda-tanda vital, pemberian cairan
yang serupa. Kemudian memasang infus, mengantisipasi perdarahan
duk besar steril sampai anggota tubuh berlebih saat insisi dengan
klien tertutup dengan kain sterile dan menyiapkan cutter, kolaborasi dalam
memfokuskan daerah yang akan pemberian methergin 1ml (0,2mg)
dilakukan insisi. Implementasi dilakukan pada
Selama proses operasi sectio pukul 21.29 WIB dengan memastikan
caesarea berlangsung operator dan tetesan infus mengalir lancar, pada
seluruh asisten menjaga kesterilan. pukul 21.35 operator melakukan insisi
Setelah bayi dan plasenta dilahirkan, secara profundal sepanjang 10 cm
uterus dilakukan disenfeksi dengan pada segmen bawah rahim. kemudian
betadin dan setiap dilakukan hecting lapis demi lapis dilakukan insisi dengan
pada setiap lapisan selalu diakhiri dibantu asisten mengontrol perdarahan
dengan disenfeksi betadin. hasil insisi dengan kassa, setelah
Evaluasi terhadap risiko infeksi operator mengeluarkan bayi dibantu
selama proses tindakan sectio oleh asisten 1, asisten 3 melakukan
caesarea pada pukul 22.45 didapatkan pembebasan jalan nafas bayi dengan
data obyektif operator dan seluruh suction, kemudian operator melakukan
asisten dapat menjaga kesterilan klem tali pusat dengan 2 kocher dan
ditandai dengan mencuci tangan menggunting tali pusat dengan gunting
sebelum tindakan, menggunakan baju jaringan diantara 2 kocher, kemudian
steril dengan benar, menggunakan asisten 3 memberikan bayi kepada
pemakaian handscoon dengan benar, bidan untuk di rawat, didapatkan bayi
melakukan disenfeksi abdomen berjenis kelamin perempuan dengan
dengan betadin. Masalah risiko infeksi BB: 2650 garam, PB: 42 cm, LD:30 cm,
teratasi. LK:33 cm. Jam 21.57 plasenta lahir
lengkap dengan cara operator
Risiko kekurangan volume cairan melakukan klem pada sisa potongan
berhubungan dengan perdarahan tali pusat dan mengeluarkan plasenta
atau kehilangan darah. sedikit demi sedikit sampai plasenta
Diagnosa tersebut diangkat lepas dibantu asisten 2 mengangkat
dengan dukungan data obyektif Ny.S membran plasenta dengan klem ovari,
akan dilakukan sectio caesarea plasenta lahir dengan bentuk cakram,
dengan jenis ismika atau profundal ukuran 20x20 x1,5cm, kesan kotiledon
sepanjang 10 cm pada segmen bawah lengkap. Kemudian dilakukan
rahim. disenfeksi pada ovarium dengan
Tujuan yang diharapkan setelah betadin dan asisten 3 menyiapakan
dilakukan tindakan keperawatan tidak benang chromic no 2 untuk menjahit
terjadinya defisit volume cairan selama myometrium. kemudian dilanjutkan
proses tindakan sectio caesarea menjahit perimetrium dengan chromic
berlangsung dengan kriteria hasil tidak no 2-0, kemudian operator
terjadi perdarahan > 1000 ml, TTV memberikan methergin 1ml (0,2mg)
dalam batas normal, TD:110/70-130/90 pada permukaan uterus. kemudian
mmHg, N:60-100x/menit, RR:16- asisten 3 menyiapkan 4 klem untuk
20x.menit, S:36-37,5oC, tidak ada menjepit peritoneum parietale, 2 klem
10
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

untuk bagian anterior, dan 2 klem Evaluasi terhadap risiko


untuk bagian inferior, kemudian penurunan cardiac output dilakukan
membersihkan rongga peritonium pada pukul 22.45 dengan hasil
dengan kassa (slabber), dilanjutkan monitoring TTV dalam batas normal
dengan menjahit peritonium dan dengan TD: 145/85 mmHg, N: 94 x
rectus abdominalis dengan chromic no /menit, SpO2 100%. Masalah risiko
2-0 kemudian lapisan berikutnya penurunan cardiac output teratasi.
menjahit fasia dengan polysorb no 2, Post operasi (Klien masuk ke
kemudian subkutis dengan plain no 2-0 recovery room pukul 22.56 WIB) dan
dan diakhiri dengan menjahit ditemukan masalah sebagai berikut:
subkutikuler dengan byosin no 4-0.
Jumlah kassa yang digunakan untuk Hipotermi berhubungan dengan
menyerap cairan darah yaitu sebanyak pengaruh efek anestesi spinal.
15 kassa dengan ukuran 4x5 cm Diagnosa tersebut diangkat
dimana setiap kassa menyerap ± 10 ml dengan dukungan data obyektif Ny.S
Evaluasi terhadap jalannya mengatakan badan terasa dingin dan
operasi dilakukan pada pukul 22.45 data obyektif penulis melakukan
dengan hasil tidak terjadi perdarahan monitoring TTV didapatkan data
lebih dari 1000 ml, jumlah total cairan TD:130/85 mmHg, N:72x/menit, S:
perdarahan 600 ml dari mesin suction 35oC, klien menggigil dan bibir
dan 15 kassa. TD: 145/85 mmHg, N: gemetar, Klien masih dalam keadaan
88x/menit, S: 35oC. Masalah pengaruh anestesi spinal.
kekurangan cairan teratasi sebagian. Tujuan yang diharapkan adalah
setelah dilakukan tindakan
Risiko Penurunan cardiac output keperawatan tidak terjadinya hipotermi
berhubungan dengan efek anestesi. dengan kriteria hasil TTV dalam batas
Diagnosa tersebut diangkat normal, TD:110/70-130/90 mmHg
dengan dukungan data obyektif Ny.S N:60-100x/menit, RR:16-20x.menit,
akan diberikan anestesi spinal S:36-37,5oC, klien tidak menggigil
bupivakain 10 mg dan fentanil 25 mg dann gemeteran. Rencana tindakan
Tujuan yang diharapkan adalah keperawatan yang akan dilakukan
tidak terjadinya penurunan cardiac adalah, monitoring tanda-tanda vital
output setelah dilakukan tindakan dan berikan air warming, berikan
keperawatan selama operasi dengan informasi tentang pengaruh anestesi
kriteria hasil: hemodinamika klien Implementasi yang sudah
stabil. Rencana tindakan keperawatan dilakukan penulis adalah pada jam
yang akan dilakukan adalah lakukan 23.03 WIB memberikan air warming
monitoring vital sign dan pertahankan kepada klien dan pengetahuan tentang
hidrasi adekuat serta pemberian efek anestesi, pada jam 23.17 WIB
oksigen adekuat dilakukan monitoring TTV, didapatkan
Implementasi keperawatan yang data TD: 140/90 mmHg, N: 82x/menit,
dilakukan penulis yaitu bekerjasama S: 36,2oC, klien sudah tidak menggigil
dengan teman sejawat profesi ners dan tidak gemetar
dan dokter anestesi yaitu melakukan Evaluasi terhadap hipotermi
monitoring hemodinamika setiap 5 dilakukan pada pukul 23.30 WIB
menit dan mempertahankan hidrasi dengan hasil Ny.S menunjukkan
cairan dengan ringer laktat serta termoregulasi yang baik ditandai
pemberian oksigen 2 liter/menit selama dengan TTV dengan TD: 140/85
proses sectio caesarea. mmHg, N: 86x/menit, S: 36,3oC.
Masalah hipotermi teratasi.
11
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

Risiko infeksi berhubungan dengan bangsal yaitu: Pantau hemodinamika,


tindakan invasif / pembedahan balance cairan, dan perdarahan,
Diagnosa tersebut diangkat berikan ceftriaxone 1g/ 12 jam,
dengan dukungan data obyektif Ny.S metrodinazole 500 mg/12 jam,
post sectio caesarea dengan jenis ketorolac 30 mg/8 jam, dan asam
ismika atau profundal sepanjang 10 cm traneksamat 500mg/12 jam.
pada segmen bawah rahim.
Tujuan yang diharapkan setelah PEMBAHASAN
dilakukan tindakan keperawatan Pre Sectio Ceasarea
selama 1x15 menit tidak terjadi infeksi Dalam kasus asuhan
dengan kriteria hasil klien mampu keperawatan pada Ny.S muncul
mengontrol terjadinya infeksi. masalah kecemasan. Pembedahan
Intervensi keperawatannya adalah sectio caesarea merupakan stressor
lakukan cuci tangan sebelum dan yang bisa menimbulkan stress
sesudah tindakan keperawatan, fisiologis (respon neuroendokrin).
monitor tanda gejala infeksi. Respon fisiologis ini dikoordinasi oleh
Implementasi yang dilakukan jam sistem saraf pusat. Sistem saraf pusat
22.57 WIB mencuci tangan, menggerakkan hipotalamus, sistem
mempertahankan teknik aseptik, dan saraf simpatis, kelenjar hipofisis
memonitor dan memberi pengetahuan posterior dan anterior, medula dan
tentang tanda gejala infeksi sistemik korteks adrenal. Penggerak ini
dan lokal. mengakibatkan keluarnya katekolamin
Evaluasi risiko infeksi dilakukan dan hormon-hormon yang
pada pukul 23.30 WIB dengan hasil menyebabkan perubahan fisiologis
menunjukkan Ny.S faham tentang sebagai respon terhadap stress. Efek
tanda gejala infeksi, TTV dalam batas sistemik dari respon neuroendokrin
normal dengan TD: 140/85 mmHg, N: nampak dengan adanya perubahan
86x/menit, S: 36,3oC . Masalah risiko denyut jantung meningkat, tekanan
infeksi teratasi sebagian. darah meningkat, suplai darah ke otak
Hasil pengkajian bromage scale dan organ vital meningkat, suplai darah
dari pukul 23.00 sampai 23.45 setiap ke gastrointestinal dan motilitas
15 menit yaitu. Pada pukul 23.00 gastrointestinal menurun,kecepatan
bromage scale yaitu 3 :klien belum pernafasan meningkat, glukosa darah
bisa menggerakkan seluruh kaki. Jam meningkat dan dilatasi pupil
23.16 bromage scale yaitu2: klien (Baradero.M, 2005)
sudah dapat menggerakkan Pada masalah ini, penulis
pergelangan kaki. Jam 23.28 bromage melakukan implemantasi sesuai
scale 1: klien sudah melakuakan dengan intervensi yang telah disusun
gerak fleksi pada lutut. Jam 23.40 nilai diantaranya penulis melakukan
bromage scale 0: klien sudah dapat implementasi yaitu menggunakan
mengangkat kedua tungkai. teknik komunikasi terapeutik dalam
Surgical safety sign out memberikan pengetahuan kesehatan
dilakukan saat klien pindah dari kamar yang berguna untuk menurunkan
operasi pada jam 23.40 dengan kecemasan klien. Hal ini di perkuat
memvalidasi permasalahan anestesi dengan penelitian Mulyani et al (2008)
teratasi dengan bromage scale 0 dan “Therapeutic relation and
advise utama fase pemulihan sudah communication of nurse and patiet for
lengkap. Pada jam 23.45 klien anxity of pre major sugical operation”
dipindahkan ke bangsal mawar dan dengan kesimpulan hubungan
melakukan operan dengan perawat terapeutik dan komunikasi perawat dan
12
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

pasien dapat menurunkan kecemasan kecemasan selama persalinan. Selain


klien pre operasi, Selanjutnya dalam itu, penulis juga mengajarkan teknik
penelitian Hughes (2002) yang meneliti relaksasi nafas dalam, dimana nafas
“The effects of giving patients pre- dalam dapat mengalihkan persepsi
operative information” menjelaskan nyeri pada ibu hamil sehingga dapat
bahwa pemberian pengetahuan dan mengurangi sensasi rasa nyeri. hal ini
informasi dapat mengurangi di dukung oleh penelitian Yildirim G et
kecemasan pada pasien pre operasi. al (2004) “The effect of breathing and
Selain kecemasan masalah yang skin stimulation techniques on labour
muncul pada Ny.S yaitu nyeri, rasa pain perception of Turkish women”
nyeri pada Ny.S yang mengalami kala I Hasil penelitian menunjukkan teknik
disebabkan oleh munculnya kontraksi nafas dalam yang efektif dan massage
otot-otot uterus, hipoksia dari otot-otot dapat mengurangi persepsi nyeri pada
yang mengalami kontraksi, iskemia ibu hamil dan memiliki pengalaman
pada korpus uteri, dan peregangan persalinan yang memuaskan.
segmen bawah rahim. Impuls nyeri
ditransmisikan oleh segmen saraf Intra Sectio Ceasarea
spinal dan asesoric thoracic bawah Pada intra operasi masalah yang
simpatis lumbaris. Nervus ini berasal muncul adalah risiko infeksi
dari uterus dan serviks. berhubungan dengan prosedur invasif.
Ketidaknyamanan dari perubahan Dimana tindakan invasiv yang
serviks dan iskemia uterus disebut dilakukan dengan melakukan insisi
dengan nyeri visceral yang berlokasi di profundal sepanjang 10 cm, sehingga
bawah abdomen dan menyebar kearah beresiko masuknya pathogen ke dalam
lumbal belakang serta paha bagian area pembedahan yang dapat
dalam. Biasanya nyeri dirasakan pada mengakibatkan infeksi. Untuk
saat kontraksi saja dan hilang pada mencegah terjadinya infeksi maka
saat relaksasi. Nyeri bersifat lokal seluruh tindakan di ruang operasi
seperti kram, sensasi sobek dan dipertahankan semaksimal mungkin
sensasi panas yang disebabkan untuk tetap steril. Selain itu selama
karena distensi dan laserasi serviks, proses pembedahan tim medis
vagina dan jaringan perineum. Nyeri menggunakan iodine providine sebagai
persalinan memberikan gejala yang antiseptic. Hal ini di dukung dengan
dapat diidentifikasi seperti pada sistem penelitian Zinn, J et al (2010)
saraf simpatis yang dapat terjadi “Intraoperative patient skin prep
mengakibatkan perubahan tekanan agents: is there a difference” dengan
darah, nadi, respirasi, dan warna kulit hasil penelitian pada providone iodine
(Bobak et al, 2005). pada masalah bawa providone iodine memilki
nyeri penulis melakukan massage mekanisme pelepasan terhadap
punggung, karena massage dapat yodium bebas yang dapat mengikat
merangsang tubuh melepaskan bakteri gram positif dan bakteri gram
senyawa endhorpin yang merupakan negatif sehingga terbukti mengurangi
pereda sakit alami dan menciptakan kejadian infeksi dan merupakan
perasaan nyaman dan relaksasi pada antiseptik yang sangat efektif untuk
otot. Hal ini didukung pada penelitian operasi.
Mortazavi, S.M et al, (2011) “Effects of Selain masalah risiko infeksi,
massage therapy and of attendant on masalah risiko defisit volume cairan
pain, anxiety and satisfaction during berhubungan dengan perdarahan
labour” menunjukkan bahwa massage menjadi sorotan penting karena
dapat mengurangi rasa nyeri dan komplikasi sectio caesarea dengan
13
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

perdarahan menempati presentasi Sebagai implementasi yang dilakukan


tertinggi yang menyebabkan kematian, untuk mencegah tejadinya risiko
untuk mencegah terjadinya defisit penurunan cardiac output yaitu dengan
volume cairan akibat dari pengaruh mempertahankan hidrasi ringer laktat
prosedur pembedahan implementasi yang adekuat. Hal ini sesuai menurut
yang diberikan, diantaranya pemberian Jordan, S (2002) risiko hipotensi dapat
cairan Ringer laktat (RL) dimana RL dicegah dengan pemberian cairan
merupakan cairan yang paling kristoloid, pemberian cairan dapat
fisiologis yang dapat diberikan pada mempertahankan aliran balik vena dan
kebutuhan volume dalam jumlah besar. curah jantung sehingga mengatasi
RL banyak digunakan sebagai hipotensi.
replacement therapy, antara lain untuk
syok hipovolemik. Laktat yang terdapat Post Sectio Ceasarea
di dalam larutan RL akan Pada post operasi. Penegakan
dimetabolisme oleh hati menjadi diagnosa yang diangkat penulis
bikarbonat yang berguna untuk terhadap klien adalah hipotermi
memperbaiki keadaan seperti asidosis berhubungan dengan pengaruh efek
metabolik. Hal ini sesuai dengan anestesi. Pada Ny.S anestesi yang
penelitian Mukhlis (2006) “Pengaruh diberikan intra operasi adalah anestesi
pemberian cairan ringer laktat spinal, pada anestesi spinal akan
dibandingkan nacl 0,9% terhadap menyebabkan terjadinya vasodilatasi
keseimbangan asam-basa pada pasien pembuluh darah dan menurunkan nilai
sectio caesaria dengan anestesi ambang vasokontriksi dengan
regional” dengan Hasil bahwa menghambat fungsi termoregulasi
pemberian infus RL lebih baik sentral sedangkan terjadinya
digunakan pada pasien dengan redistribusi panas tubuh dari
operasi besar karena dapat kompartemen sentral ke perifer.
mempertahankan keseimbangan asam Sehingga menyebabkan klien
basa. mengalami hipotermi. Hal ini sesuai
Masalah lainnya yang muncul dengan jurnal anestesi oleh Marcoz
adalah risiko penurunan cardiac output (2010) “Hypothermia and temperature
berhubungan dengan efek anestesi regulation considerations during
spinal. Opiod bupivakain berkerja anesthesia” dimana hasil penulisan
dengan cara memblok influk natrium ke pada anestesi spinal dikatakan
dalam inti sel sehingga mencegah menyebabkan terjadinya penurunan
depolarisasi dan terjadinya vasodilatasi ambang vosokontriksi yang
sehingga terjadinya penurunan curah menyebabkan terjadinya hipotermi.
jantung dan menyebabkan hipotensi. Sebagai implementasi yang telah di
Sedangkan fentanil menyebabkan lakukan penulis menangani masalah
turunya kadar ketokolamin yang dapat hipotermi dengan pemberian air
menurunkan tekanan darah hal ini warming pada klien dengan tujuan
sesuai dengan penelitian Srivasatava menghangatkan tubuh klien agar tidak
et al (2004) “Hyperbaric or plain terjadinya hipotermi. Dalam sebuah
bupivacaine combined with fentanyl for penelitian Chung, S et al (2012) “Effect
spinal anaesthesia during Caesarean of preoperative warming during
delivery” dimana dalam penelitian ini cesarean section under spinal
juga menggunakan anestesi spinal anesthesia” Di mana hasil penelitian
yaitu bupivakain 10 mg dan fentanil menunjukkan. Di korea, penggunaan
25mcg dengan hasil menunjukkan air warming atau warmed fluid pre
insiden terjadinya hipotensi 52%. operatif dapat mencegah terjadinya
14
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

hipotermi pada pasien dengan anestesi maupun kolaboratif sehingga tujuan


spinal. Dari hasil studi compare yang rencana tindakan tercapai.
dilakukan penulis untuk mencegah 4. Evaluasi dari masalah saat pre
terjadinya hipotermi pada klien SC operasi yaitu masalah ansitas dan
dengan tindakan anestesi spinal risiko infeksi teratasi sedangkan
sebaiknya diberikan air warming saat masalah nyeri teratasi sebagian.
pre dan intra operasi. Pada masalah intra operatif
Diagnosa yang tidak muncul post diperoleh hasil evaluasi resiko
operasi adalah mual. keluhan mual kurang volume cairan dan risiko
dan muntah biasa dirasakan oleh penurunan cardiac output teratasi
pasien setelah 24 jam post pemberian sedangkan masalah risiko infeksi
anestesi. Pada kasus ini, klien sudah teratasi sebagian. Pada post
diberikan piralen 10 mg sebelum 24 operasi, masalah hipotermi teratasi
jam waktu anestesi, sehingga klien sedangkan masalah resiko infeksi
tidak merasakan mual. teratasi sebagian karena masih
adanya luka bekas sayatan
SIMPULAN DAN SARAN sehingga perlu dilakukan perawatan
luka di ruangan.
Simpulan
Penulis mengambil kesimpulan Saran
diantaranya adalah: 1. Bagi Rumah Sakit
1. Dalam pengkajian perlu dilakukan Sebagai bahan masukan bagi
pemeriksaan fisik secara fokus pada rumah sakit, khususnya pada
tanda-tanda vital (TD: 170/100 kejadian hipotermi post operasi
mmHg), kaki klien mengalami dapat di cegah dengan pemberian
oedem dengan piting edema 2, air warming atau warmed fluid
pemeriksaan penunjang adanya selama 15 menit pada pre dan intra
peningkatan proteinuria +1. operasi. sehingga ke depan ada
2. Diagnosa dan intervensi dalam perencanaan dan tindakan atau
kasus ini adalah diagnosa ansietas rancangan yang lebih baik dalam
dilakukan intervensi anxiety rangka untuk meningkatkan asuhan
reduction, diagnosa nyeri akut di keperawatan rumah sakit.
lakukan pain management, 2. Bagi mahasiswa
diagnosa resiko infeksi selama pre, Hasil karya tulis ilmiah ini dapat
intra dan post diatasi dengan digunakan sebagai bahan referensi
infection control dan infection yang berkaitan dengan asuhan
protection, diagnosa resiko kurang keperawatan pada pasien sectio
volume cairan dilakukan dengan caesarea dengan preeklamsi,
rehidrasi cairan dan vital sign sehingga dapat menambah
monitor, risiko penurunan cardiac pengetahuan bagi mahasiswa,
output dilakukan dengan pemberian khususnya mahasiswa di fakultas
oksigen adekuat, rehidrasi cairan ilmu kesehatan.
dan vital sign monitor. Pada 3. Bagi institusi pendidikan
diagnosa hipotermi dilakukan Sebagai tambahan informasi dan
dengan warming mangement. bahan kepustakaan dalam
3. Implementasi tindakan dikerjakan pemberian asuhan keperawatan
secara kolaboratif dalam tim pada pasien sectio caesarea
operasi. Seluruh intervensi yang dengan indikasi preeklamsi
diberikan dilakukan secara mandiri
15
Asuhan Keperawatan pada Ny. S dengan Sectio Ceasarea indikasi Preeklamsi Berat di Kamar
Operasi Instalasi Gawat Darurat RSUD Dr. Moewardi Surakarta

DAFTAR PUSTAKA Asam-Basa pada Pasien Sectio


Caesaria dengan Anestesi Regional.
Baradero, M, et al. (2005). Prinsip dan UNDIP: Semarang.
Praktek Keperawatan Perioperatif. Mulyani et al. (2008). Therapeutic Relation
Penerbit EGC: Jakarta and Communication of Nurse and
Bobak, et al. (2004). Buku Ajar Patiet for Anxity of Pre Major Sugical
Keperawatan Maternitas. Penerbit Operation. Universitas Gajah Mada:
EGC: Jakarta Yogyakarta
Chung, S, et al. (2012). Effect of Nanda Internasional. (2009). Diagnosis
Preoperative Warming During Keperawatan Definisi dan Klasifikasi
Cesarean Section Under Spinal 2009 – 2011. Alih bahasa Made
Anesthesia. Korean J Anesthesiol: Sumarwati, S.kep, MN. Penerbit EGC:
Korea Jakarta
Cunningham, F, et al. (2006). Obstetri Patricia, P. (2009). Fundamental of
William. Edisi 21. Penerbit EGC: Nursing, Edisi 7. Penerbit Salemba
Jakarta Medika: Jakarta
Departemen Kesehatan RI. (2007). Profil Pery, et al. (2010). Maternal child nursing
Kesehatan Indonesia. Departemen care.Canada
Kesehatan Republik Indonesia: Srivasatava et al. (2004). Hyperbaric or
Jakarta Plain Bupivacaine Combined With
Dinkes Provinsi Jateng. (2009). Profil Fentanyl for Spinal Anaesthesia
Kesehatan. Departemen Kesehatan During Caesarean Delivery. Indian J
Republik Indonesia: Semarang Aneasth: India
Ganong,W.F. (2007). Buku Ajar Fisiologi Wikinson, M. J. (2006). Diagnosa
Kedokteran. (Brahm U pendit, Keperawatan dengan Intervensi NIC
Penerjemah) Penerbit EGC: Jakarta dan Kriteria Hasil NOC. Edisi 7. Alih
Hughes S. (2002). The Effects of Giving Bahasa: Widyawati, et al. Penerbit
Patients Pre-Operative Information. EGC: Jakarta
Journal of nursing standard: UK Wiknjosastro, H, et al. (2007). Ilmu bedah
Jordan, Sue. (2002). Farmakologi Kebidanan, Cetakan ke-7. Penerbit
Kebidanan. Penerbit EGC: Jakarta yayasan Bina Pustaka Sarwono
Mansjoer, A, et al. (2001). Kapita Selekta Prawirohardjo: Jakarta
Kedokteran. Penerbit Media ________.(2007). Ilmu Kebidanan.
Aesculapius FKUI: Jakarta Cetakan ke-9. Penerbit yayasan Bina
Manuaba, I.B.G, et al. (2007). Pengantar Pustaka Sarwono Prawirohardjo:
Kuliah Obstetri. Penerbit EGC: Jakarta Jakarta.
Marcoz. (2010). Hypothermia and Yildirim G, et al. (2004). The Effect of
Temperature Regulation Breathing and Skin Stimulation
Considerations During Anesthesia. Techniques on Labour Pain
Mitayani. (2009). Asuhan Keperawatan Perception of Turkish Women. Journal
Maternitas. Penerbit Salemba Medika: Pain Res Manage: Turkey
Jakarta Zinn. J, et al. (2010). Intraoperative Patient
Mochtar, R. (2002). Synopsis Obstetric : Skin Prep Agents: Is There a
Jilid II. Penerbit EGC: Jakarta Difference. AORN Journal: USA
Moleong, L J. (2004). Metodologi *Aniesah, S.Kep: Mahasiswa Ners
Penelitian Kualitatif. Penerbit Keperawatan FIK UMS. Jln A.
Jemmars: Bandung Yani Tromol Post 1 Kartasura
Mortazavi, S.M, et al. (2011). Effects of
Massage Therapy and of Attendant on **Priyo Prabowo, S.kep., Ns,: Dosen
Pain, Anxiety and Satisfaction During Keperawatan FIK UMS. Jln A.
Labour. Journal Arch Gynecol Obstet: Yani Tromol Post 1 Kartasura.
Iran **Amir Nuryanto, S. Kep., Ns.,:
Mukhlis. (2006). Pengaruh Pemberian Pembimbing lahan RSUD Dr
Cairan Ringer Laktat Dibandingkan Moewardi
Nacl 0,9% Terhadap Keseimbangan