Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Ilmu peternakan merupakan ilmu yang mempelajari tentang segala jenis


hewan baik itu ruminansia,unggas,dan aneka ternak. Landasan dari ilmu
peternakan ini adalah pengetahuan ,ilmu pengetahuan itu banyak cara untuk
mendapatkannya,banyak yang dapat dijadikan sumber. Salah satunya yaitu
dengan cara praktikum atau percobaan. Didalam tubuh terdapat suatu hal yang
terpenting yaitu, Jantung merupakan organ terpenting dalam peredaran darah,yang
memiliki fungsi sebagai pemompa darah untuk dialirkan atau disirkulasikan
keseluruh tubuh melalui pembuluh darah. Darah merupakan jaringan pengikat
dengan sel-sel nya terrendan dalam cairan matriks (Plasma Darah) yang terdiri
dari senyawa organic dan anorganik.Suatu contoh darah dapat memberikan
gambaran tentang keadaan darah pada waktu di peroleh,namun apabila di ambil
berulang-ulang dalam waktu tertentu akan memperlihatkan gambaran perubahan
faali atau patologis.ilmu yenh mempelajari tentang darah di sebut Hematologi.

Darah merupakan jaringan pengikat dengan sel-selnya terendam dalam cairan


matrikx (plasma darah) yang terdiri dari senyawa organik dan anorganik. Plasma
darah merupakan bagian dari komponen darah yang berwarna kekuning-kuningan
yang jumlah nya sekitar 60% dari volume darah.Waktu perdarahan adalah waktu
terjadi nya test darah pertama sampai tidak ada lagi noda dikertas saring.Waktu
beku darah atau koagulasi darah adalah waktu kecepatan darah saat keluar dari
tubuh sampai terbentuknya benang fibrin untuk mencegah pendarahan. Laju
Endapan Darah (LED) adalah kecepatan mengendapnya eritrosit dari suatu
monster atau sampel darah yang diperiksa dalam suatu alat tertentu yang
dinyatakan dalam mm perjam.

Hemolisis adalah peristiwa keluarnya darah hemoglobin dari dalam sel


darah merah menuju ke cairan sekelilingnya.Hematokrit adalah jumlah sel darah
merah dalam darah sehingga dengan melakukan pemeriksaan hematokrit maka

1
akan kita dapatkan hasil perbandingan jumlah sel darah merah (eritrosit) terhadap
volume darah dalam satu persen. Hemoglobin adalah molekul protein dalam sel
darah merah yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh
dan mengembalikan karbondioksida dan jaringan tubuh ke paru-paru untuk
dikeluarkan melalui pernapasan. Darah adalah caira yang terdapat pada semua
hewan tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang
dibutuhkan oleh jaringan tubuh,megangkut bahan-bahan, dan pertahanan tubuh
terhadap virus atau bakteri. Diferensial leukosit atau dalam istilah medis disebut
leukosit merupakan suatu komponen pembentuk darah selain dari sel darah merah
dan keping darah.

1.2. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari praktikum sistem pencernaan dan respirasi ternak adalah agar
mahasiswa dapat mengerti sistem pernapasan dan pencernaan ternak, dan
mengerti fungsi fungsi dari organ organ tersebut.

Tujuan dari pemeriksaan hematologi adalah pada preparat natif darah


untuk mengamati bentuk sel darah, mengamati ada tidaknya sel krenasi dan
rouleaux, dan mengamati ada tidaknya mikroorganisme dalam darah pada darah
sapi, kambing, dan ayam. Pada pemeriksaan waktu perdarahan untuk menentukan
lama waktu perdarahan dengam metode duke. Pada pemeriksaan waktu beku
darah adalah untuk menentukan waktu beku darah. Pada pemeriksaan laju endap
darah adalah untuk menentukan laju endap dara menggunakan tabung wastegreen.
Pada pemeriksaan hemolisis untuk mengamati hemolisis darah dan krenasi akibat
perubahan medium darah, menentukan batas konsentrasi NaCL dari medium
dimana eritrosit lisis dan hemolisis total. Pada pemeriksaan hematokrit untuk
menentukan nilai hematokrit dengan metode mikrohematokrit. Pada pemeriksaan
hemoglobin untuk menentukan kadar hemoglobin didalam darah menurut metode
sahli. Pada pemeriksaan menghitung jumlah sel darah untuk mengetahui jumlah
sel darah merah dan sel darah putih sapi dan ayam per . Pada pemeriksaan
diferensial leukosit untuk mempelajari cara membuat preparat ulas/apus darah,

2
mengamati bentuk sel darah merh dan sel darah putih sapi dan ayam pada preparat
darah perifer.

Adapun manfaat dari praktikum fisiologi darah mengenai pemeriksaan


hematologi ini, praktikan dapat mengetahui bentuk sel darah, mengetahui cara
menentukan waktu perdarahan, menentukan waktu beku darah, menentukan laju
endap darah menggunakan tabung wastergreen, mengamati hemolisis darah,
menentukan nilai sahli, mengetahui jumlah sel darah hewan, dan mengetahui cara
membuat preparat ulas darah,hematokrit dengan metode mikrohematokrit,
menentukan kadar hemoglobin.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sistem Pencernaan dan Respirasi Ternak

Pengertian pernafasan atau respirasi adalah suatu proses mulai dari


pengambilan oksigen, pengeluaran karbohidrat hingga penggunaan energi di
dalam tubuh. Menusia dalam bernapas menghirup oksigen dalam udara bebas dan
membuang karbondioksida ke lingkungan.Sistem (Baharudin Kasim, 2002).

Pernafasan pada dasarnya dibentuk oleh jalan atau saluran nafas dan paru-
paru beserta pembungkusnya (pleura) dan rongga dada yang melindunginya. Di
dalam rongga dada terdapat juga jantung di dalamnya. Rongga dada dipisahkan
dengan rongga perut oleh diafragma.Di dalam tubuh manusia dan hewan, energi
kimia dalam makanan dapat digunakan setelah dioksidasi di dalm tubuhnya.
Proses menghasilkan energi melalui oksidasi bahan makanan di dalam sel-sel
tubuh disebut respirasi sel. Respirasi sel terdiri atas respirasi aerob dan respirasi
anaerob.Respirasi aerob adalah proses pembakaran bahan makanan dengan
membutuhkan oksigen (O2). Respirasi anaerob adalah suatu proses pembakaran
bahan makanan dengan tidak membutuhkan oksigen (O2) (Arif priadi,2000).

Respirasi adalah semua proses kimia maupun fisika dimana organisme


melakukan pertukaran udara dengan lingkungannya. Respirasi menyangkut dua
proses, yaitu respirasi eksteral dan respirasi internal. Terjadinya pergerakan
karbon dioksida ke dalam udara alveolar ini disebut respirasi eksternal. Respirasi
internal dapat terjadi apabila oksigen berdifusi ke dalam darah. Respirasi eksternal
tergantung pada pergerakan udara kedalam paru-paru (Frandson, 2007).

2.2. Preparat Natif Darah

Menurut (Sonjaya, 2013) Darah mengangkut oksigen zat-zat makanan


dari alat pencernaan ke jaringan tubuh, hasil limbah metabolisme dari jaringan
tubuh ke ginjal dan hormone dari kelenjar endokrin ke target organ tubuh. Darah

4
juga berpartisipasi dalam pengaturan kondisi asam-basa, keseimbangan elektrolit
dan temperature tubuh, dan sebagai pertahanan suatu organisme terhadap
penyakit. Semuanya adalah fungsi yang berhubungan dengan pemeliharaan
lingkngan interna yang konstan.

Menurut (Syaifuddin, 2002)Darah merupakan cairan dengan v;olume


yang berbeda-beda tergantung pada jenis kelamin, ukuran tubuh, dan umur setiap
orang atau individu. Jumlah darah dalam tubuh bervariasi tergantung pada berat
tubuh seseorang. Pada orang dewasa 1/13 berat badan kira-kira 4-5 liternya adalah
darah. Faktor lain yang juga menentukan banyaknya darah adalah umur,
pekerjaan, keadaan jantung dan pembuluh darah. Total sirkulasi dari volume
darah diperan sekitar 5 s/d 8% dari total bobot badan dan angka ini bervariasi
menurut umur, spesies, besar tubuh, aktivitas, status kesehatan, status gizi
dankondisi fisiologi (bunting dan laktasi).

Menurut (Watson, R 2002) Sel darah putih berbentuk tidak tetap. Sel
darah putih dibuat di sum-sum marah, kura dan kelenjar limpa. Fungsinya
memberantas kuman-kuman penyakit. Sel darah putih atau leukosit berukuran
lebih besar daripada sel darah merah, diameternya sekitar 10µm, dan jumlahnya
lebih sedikit teradpat 7-10 X 109 leukosit per liter darah dan jumlah in bias
meningkat sampai 30 X 109 per liter darah bila ada infeksi di dalam badan.
Penngkatan ini dikenal sebagai leukositosis.

2.3. Waktu Perdarahan

Menurut (Sonjaya, 2013)Waktu pendarahan adalah waktu yang


dibutuhkan kulit berdarah untuk berhenti setelah kulit berdarah. Darah dihapus
tiap 30 detik atauluka direndamdalam larutan fisiologis.
Menurut (Subana, 2006)Waktu pendarahan biasanya dapat juga diartikan
sebag;ai waktu ulaikeluarnya tetesan darah pertama sampai tidak ada lagi noda di
kertas saring atautissue. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan
suatu darah yaitubesar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya
tubuh dan aktivitas,kadar hemaglobin dalam plasma dan kadar globulin dalam
darah

5
Menurut (Syaifuddin, 2002) Pendarahan yang hebat dapat diarkibatkan
oleh slaah satu defisiensi salah satu dari factor pembekuan. Tiga jenis
kecenderun;gan pendarahan tertentu adalah defisiensi vitamin K, hemofilia,
tromboplasitoplatopenia. Defisiensi vitamin K yakni berupa penurunan factor
VII,IX dan X yang dikarenakan defisiensi vitamin K, hepatitis, sirosis dan
penyakit hati lainnya dapat menekan pembentukan protrombin dan factor VII,IX
dan X. Dengan demikian hebatnya sehingga penderita mempunyai kecenderungan
mengalami pendarahan yang hebat

2.4. Waktu Beku Darah

Menurut (Pujianto, 2004) Koagulasi darah adalah transformasi darah


dari sifat solution menjadibentuk gel. Bentukan suatu bekuan di sumbat trombosit
akan memperkuat danmenunjang sumbatan tersebut dapat menutupi lubang di
pembuluh. Koagulasimerupakan mekanisme homeostatik yang difungsikan dalam
proses koagulasidarah..
Menurut (Simons. A, 2009)Antikoagulan adalah suatu zat atau obat yang
digunakan untuk mencegah pembekuan darah dengan jalan menghambat
pembentu;kan atau menghambat fungsi beberapa faktor pembekuan
darah.Sedangkan trombus dan emboli, maupun untuk mencegah bekunya darah
diluar tubuh pada pemeriksaan laboratorium atau transfusi.

Menurut (Wibowo, 2003)Waktu koagulasi normal pada manusia yaitu 15


detik samapai 2 menit danberakhir dalam waktu 5 menit. Sedangkan waktu
koagulasi pada ternak sepertisapi 6,5 menit, kambing 2,5 menit, ayam 4,5 menit,
kuda 11,5 menit, babi 3,5menit, domba 2,5 menit dan anjing 2,5 menit.

2.5. Laju Endapan Darah (LED)

Menurut (Subarna, 2006)Yaitu fase pengendapan eritrosit sehingga sel-


sel eritrosit mengalami pemampatan pada dasar tabung, kecepatan mengendapnya
mulai berkurang sampai sangat pelan. Fase ini sampai berjalan kurang lebih 15
menit

6
Menurut (Tambayong J, 2001)L:ED adalah kecepatan eritrosit mengendap
dalam pipet westergren. Pada peradangan, kecepatan meningkat, karena
perubahan pada komponen plasma yang terjadi selama proses inflamasi. Protein
plasma yang terlibat dalam peningkatan LED disebut protein fase akut, terutama
dilepaskan oleh hati. LED khususnya digunakan untuk membantu aktivitas
berbagai penyakit inflamasi.
Menurut (Widodo, dkk, 2004) Prinsip dasar pemeriksaan LED adalah;
darah dan antikoagulan dimasukkan ke dalam tabung dengan lubang ukuran
tertentu (pada pipet LED) dan diletakan vertikal akan menyebabkan pengendapan
eritrosit dengan kecepatan tertentu.

2.6. Hemolisis

Hemolisis adalah pecahnya membraneritrosit, sehingga hemoglobin


bebas ke dalam medium sekelilingnya (plasma). Kerusakan membran eritrosit
dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis atau hipertonis ke
dalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsurkimia
tertentu, pemanasan atau pendinginan, serta rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi
darah. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan
larutanNaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan larutan) akan masuk ke
dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan
sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang
ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin
akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosit berada pada
medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium
luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat
dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar
eritrosit. (Sahid ,2001)
Menurut (Sarkar & Devi, 2006)Hemolisis secara langsung tidak dibutuhkan
penambahan lesitin sedangkan hemolisis tidak langsung kehadiran lesitin pada sel
darah merah atau penambahan dari luar sangat diperlukan.Secara umum,
mekanisme hemolisis berlangsung dua tahap. Tahap pertama lesitin dalam sel

7
darah atau yang ditambahkan dari luar akan diubah menjadi lisolesitin oleh
lesithinase A. Lisolesitin merupakan bentuk lesitin yang memiliki aktivitas
hemolitik.

Menurut (Wiseman, 2002)Ada dua macam hemolisis yaitu hemolisis


osmotik yang terjadi karena adanya perbedaan yang besar antara tekanan osmosa
cairan didalam sel darah merah dengan cairan yang berada disekeliling sel darah
merah.

2.7. Hematokrit

Menurut (Gandasoebrata. R, 2009)Namun hal tersebut bias saja tidak


benar di karenakn ada yang menyatakan bahwa Nilai normal hematokrit (Ht)
sangat bervariasi menurut masing-masing laboratorium dan metode pemeriksaan.

Menurut (Hoffbrand dan Petitt,2002) Hematokrit adalah istilah yang


menunjukan besarnya volume sel-sel eritrosit seluruhnya didalam 100 mm3 darah
dan dinyatakan dalam persen (%) .

Menurut (Wibowo,fredi, 2009)Pada pratikum hematokrit, hasil yang di


peroleh dari pratikum tersebut adalah jumlah sel darah merah yang terdapat pada
sapi berjumlah sebanyak 13 %. Dengan adanya data tersebut ini membuktikan
bahwa sapi tersebut sedang dalam keadaan yang kurang baik hal tersebut sesuai
dengan yang menyatakan bahwa Semakin tinggi persentase hematokrit berarti
konsentrasi darah semakin kental, dan diperkirakan banyak plasma darah yang
keluar dari pembuluh darah hingga berlanjut pada kondisi syok hipovolemik.

2.8. Hemoglobin

(Sahabbudin, 2006) Hemoglobin merupakan senyawa pembawa O2 pada


sel darah merah. Hemogloboin dapat diukur secara kimia dan jumlah
Hemoglobin/100 ml dalam darah dapat digunakan sebagai indek kapasitas sebagai

8
O2 pada darah. Kandungan hemoglobulin yang rendah dengan demikian
mengindikasikan anemia.
(Suyono, 2001)Pengertian lain hemoglobin adalah pigmen ;merah
pembawa O2 pada eritrosit dan di bentuk oleh eritrosit yang berkembang ;dalam
sum-sum tulang. Pembentukan berlangsung dari setaium perkembangan
erit;roblas sampai retukulosit. Molekul-molekul Hemoglobin terdiri atas dua
pasang rantai polipeptida (Globin) dan empat kelompok heme.

Menurut (Watson,2000) Nilai normal adalah 14-16 g per 100 ml.


Hemoglobin mempunyai daya tarik yang kuat terhadap oksigen. Ketika sel darah
melewati paru-paru, hemoglobin akan bergabung dengan oksigen dari udara dan
warnanya menjadi cerah.

2.9. Menghitung Sel Darah Putih

Menurut (Hamurwo,2003) sel darah putih yang dibentuk dalam sumsum


tulang terutama granulosit, disimpan dalam sumsum sampai mereka diperlukan di
sistem sirkulasi. Kemudian bila kebutuhan nya meningkat, bermacam-macam
faktor menyebabkan granulosit keluar.

Menurut (Joshua,2008) darah kita mengandung beberapa jenis sel yang


terangkut didalam cairan kuning yan disebut plasma darah. Plasma darah tersusun
atas 90% air yang mengandung sari makanan,protein,hormon, dan endapan
kotoran selain sel-sel darah. Ada 3 jenis sel darah yaitu sel darah merah (eritrosit),
sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Sel darah merah dan sel
darah putih disebut juga korpuskel.

Menurut (Sentra,2012) tiap tiap sel darah merah mengandung 200 juta
molekul hemoglobin.

9
2.10. Diferensial Leukosit

Menurut (Sehar dan Devi,2006)Prinsip pemeriksaan ini adalah darah


diencerkan dalam pipet eritrosit kemudian dimasukkan dalam kamar
hitung.Jumlah eritrosit dihitung dalam volume tertentu dengan menggunakan
faktor konversi jumlah eritrosit per ul darah.Sebagai larutan pengencer digunakan
larutan Hayem.

Menurut (Supriasa, 2001) Komposisi sel darah putih dengan nilai


normalnya yaitu Leukosit pada manusia memiliki nilai normalnya 5000 –
10.000/μL, dimana leukosit terdiri dari granular meliputi netrofil 60 – 70%,
eosinofil 2 – 4%, basofil 0.5 – 1%; dan Agranular meliputi limposit 20 – 25% dan
monosit 3 – 8%.
Menurut (Syarifah,Elfira rosa.2013)Jumlah leukosit dipengaruhi oleh
umur, penyimpangan dari keadaan basal dan lain-lain . Pada bayi baru lahir
jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.000—30.000/μl. Jumlah leukosit tertinggi pada
bayi umur 12 jam yaitu antara 13.000 — 38.000 /μl.

10
BAB III

MATERI DAN METODA

3.1. Tempat dan Waktu

Praktikum anatomi dan fisiologi ternak dilaksanakan pada hari Kamis


mulai dari tanggal 13 Februari 2019 sampai tanggal 13 Maret 2019 yang
dilaksanakan pada pukul 15.00 s/d selasai di Laboratorium Gedung C Fakultas
Peternakan Universitas Jambi.

3.2. Materi

Adapun Materi yang di gunakan pada praktikum sistem pencernaan dan


Resprasi Ternak adalah, alat respirasi kambing, pencernaan ayam, tissue,terpal
dan pisau karter.

Materi yang digunakan pada praktikum fisiologi darah mengenai


pemeriksaan hematologi adalah Alat yang digunakan pada praktikum preparat
natif darah adalah jarum penusuk pembuluh darah, kapas, tissue, object galss,
cover glass, dan mikroskop. Sedangkan Bahan yang digunakan adalah darah sapi,
kambing, dan ayam yang sudah diberi antikoagulan, alkohol 70%, larutan garam
NaCl fisiologis/NaCl 0,9%. Alat yang digunakan pada praktikum waktu
perdarahan adalah darah sapi, kambing, ayam yang sudah diberi antikoagulan,
alkohol 70%, ujung jari praktikan. Sedangkan bahan yang digunakan adalah
kapas, tissue dan lanset steril, alat dan bahan yang digunakan pada praktikum
waktu beku darah adalah alkohol 70%, lanset steril, jarum pentil, gelas arloji
belapis parafin, pipa kapiler tanpa heparin, kapas, dan stopwatch

Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum laju endap darah
adalah darah sapi, ayam, dan kambing yang sudah diberi antikoagulan, tabung
Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum hemolisis adalah larutan NaCl
dengan konsentrasi 0,9%, 0,65%, 0,45%, 0,25%, dan 3,0%, larutan urea dalam
aquades 1% urea dalam NaCl 0,9%. Larutan 1% saponin dalam aquades, larutan

11
1% saponin dalam NaCl 0,9%, darah sapi ayam dan kambing yang sudah diberi
antikoagulan, tabung reaksi, object glass, cover glass, dan mikroskop
Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum hematokrit adalah tabung pipet
kapiler, darah sapi, ayam, dan kambing yang sudah diberi antikoagulan dan
sentrifus,alat dan bahan yang digunakana pada praktikum hemoglobin adalah
darah sapi dan ayam yang sudah diberi antikoagulan, HCl 0,1 N, aquades, kertas
saring /tissue, stopwatch, hemometer sahli, alat dan bahan yang digunakan pada
praktikum menghitung jumlah sel darah adalah darah sapi, dan ayam yang sudah
diberi antikoagulan, larutan pengencer hayem untuk eritrosit, turk untuk leukosit
mamalia, dan BCB untuk leukosit unggas, hemocytometer, pipet pengencer untuk
leukosit berskala 0-0,5-1-101, pipet pengencer untuk leukosit skala 0-0,5-1-11,
tissue, mikroskop dengan perbesaran 10x, 40x,. Materi yang digunakan pada
praktikum menghitung sel darah adalah darah sapi dan ayam yang sudh di
antikougulan, larutan hayem, larutan turk, larutan BCB, tisu, dam mikroskop
dengan pembesar 10x,40x. Materi yang digunakan pada praktikum diferensial
leukosit adalah darah sapi dan ayam yang sudah diberi antikoagulan, methanol
absolut, larutan giemsa, aquades, minyak emersi, object glass, bak celup untuk
fiksasi, bak celup untuk pewarnaan, diferensial counter, mikroskop

3.3. Metode

Adapun metode yang digunakan pada praktikum sistem pencernaan dan


respirasi ternak adalah, praktikan mengamati sistem respirasi kambing pada terpal
berukuan 1x1. dan pada anatomi praktikan mengamati sapi yang sedang makan,
mengamati kunyahan dari sapi, berapakali menelan pakan, dan berapa kali
mengunyah kembali.

metode yang digunakan pada praktikum fisiologi darah mengenai


pemeriksaan hematologi adalah Metode yang digunakan pertama, lilitkan cuff
pada lengan atas dan tempel stetoskop dinagian cuff tepat pada pembuluh darah
dilengan, kemudian cuff dipompa sampai tekanan sistolik, kemudian secara
perlahan kurangi tekanan cuff , lihat tekanan darahnya. Metoda yang digunakan
adalah letakan stetoskop di dada bagian kiri praktikan, kemudian dengarkan suara
jantung praktikan menggunakan stetoskop. Metoda yang digunakan adalah pada

12
tes schneider, praktikan bersandar 5 menit kemudian ukur denyut nadinya,
kemudian praktikn berdiri selama 2 menit dan ukur denyut nadinya, kemudian
berdiri dengan 1 kaki diatas kursi catat denyut nadinya. Pada tes hardvard step,
praktikan melakukan kegiatan naik turun bangku selama 5 menit, lalu praktikan
duduk dan hitung denyut nadinya selama 30 detik sebanyak 3 kali, lalu hitung
menggunakan rumus perhitungan.

Metode yang digunakan pada preparat natif darah adalah pertama teteskan
darah sapi, kambing dan ayam pada object glass kemudian teteskan 1 sampai 2
tetes larutan fisiologis NaCl 0,9%, kemudian amati dengan mikroskop dengan
perbesaran 10x dan 40x, kemudian amati hasil pengamatan

Metode yang digunakan pada praktikum waktu perdarahan pertama,


bersihkan ujung jari praktikan dengan alkohol 70% kemudian keringkan dengan
tissue, setelah itu tusukan ujung jari praktikan dengan menggunakan lanset steril ,
catat waktu saat darah mulai keluar sampai darah berhenti dan usap darah
tersebut. Biarkan darah keluar lagi, lakukan kegiatan tersebut setiap 30 detik
sampai darah tidak keluar atau berhenti, dan catat waktunya
Metode yang digunakan pada praktikum waktu beku darah adalah pertama
bersihkan ujung jari praktkan dengan alkohol, kemudian bersihkan dan tusuk
ujung jari pratikan dengan lanset steril dan catat waktu pada saat darah keluar,
letakan 1 smpai 2 tetes darah ke gelas arloji yang berlapis parafin, kemudian tusuk
darah dengan jarum pentul samapi terlihat benang putih terlihat dan catat
waktunya
Metode yang digunakan pada praktikum laju endap darah adalah sampel
darah dihisap dengan tabung westergreen sampai angka 0. Kemudian tegakkan
pada ra, tiap 30 menit catat penurunan dari sel sel darahnya, kemudian buat grafik
LED dari 0-90 menit
Metode yang digunakan pada praktikum hemolisis siapkan 3 tabung reaksi
kemudian masing masing tabung diisi dengan darh sapi, kambing dan ayam
sebanyak 3 tetes, kemudian tambahkan Nacl dengan konsentrasi tertentu
sebanayak 2 ml dan biarkan selama 30 menit, kemudian amati hasilnya, setelah itu

13
lakukan pemeriksaan mikroskopis untuk melihat terjadinya krenasikemudian catat
hasilnya
Metode yang digunakan pada praktikum hematokrit pertama adalah hisap
darah dengan kapiler sampai jarak 1 cm dari ujung bagian atas pipa kapiler yang
sudah dilapisi heparin, kemudian sumbat ujung pipa kapiler dengan menggunakan
chryta seal, lilin, atau sabun. Tempatkan pipa kapiler kedalam sentrifus mikro
hematokrit , kemudian sentrifus selama 5 menit dengan kecepatan 2500 rpm,
keluarkan pipa kalpiler dan baca nilai hematokritnya dengan menggunakan reader
hematokrit
Metode yang digunakan pada praktikum hemoglobin adalah pertama
isikan Hcl 0,1 N, hisap darh dengan pipet sahli sampai angka 20 kemudian
masukan darah tersebut edalam tabung sahli yang sudah berisi HCl 0,1 n,
tambahkan setetes demi setetes aquades sambil diaduk sampai warna sesuai
dengan batang standar. Kemudian baca tinggi permukaan cairan pada tabung
sahli. Angka yang terbaca menunjukan kadar Hb dari sampel darah tersebut.
Metode yang digunakan pada praktikum Menghitung sel darah merah
adalah Hisap darah dengan pipet untuk eritrosit sampai 0.5. Bersihkan ujungnya
dengan kertas saring/tissue. Segera hisap larutan hayem sampai angka 101,
dengan demikian darah diencerkan 200 kali.Peganglah ujung-ujung pipet dengan
ibu jari dan jari telunjuk atau jari tengah kemudian kocoklah dengan memutar-
mutar membentuk angka 8, supaya yang tercampur hanya cairan yang terdapat
didalam pipet yang menggelembung.Buanglah cairan yaang tidak mengandung sel
darah merah (2-3 tets).Isikan kedalam kamar hitung yang sudah ada kaca
penutupnya dengan menempelkan ujung pipet pada batas kamar hitung dengan
menutup. Hitunglah sel darah pada kamar hitung (5 bujur sangka kecil) dengan
menggunakan mikroskop dengan pembesaran 10X dan 40X.
Metode yang digunakan pada praktikum diferensial leukosit adalah
siapkan dua buah objek glass dalam keadaan bersih setelah itu pegang object glass
dengan ibu jari lalu letakkan objek glass diatas meja yang rata. Letakkan satu tetes
darah pada ujung object glass. Dengan tangan kanan, pegang object glass lainnya
kemudian tetesi darah. Gerakkan object glass yang ditangan kanan ke belakang
sampai menyinggung tetsan darah tadi, sehingga darah menyebar sepanjang sudut

14
antara kedua object glass setelah itu dengn hati-hati dorong ke depan object glass
dengan tangan kanan. Setelah itu preprat dikeringkan dan lakukan pewarnaan.

15
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Sistem Pencernaan dan Respirasi Ternak


Pada praktikum sistem pencernaan ternak hasil yang di peroleh adalah
sebagai berikut.

Kegiatan Kel.1 Kel.2 Kel.3 Kel.4 Kel.5 Kel.6 Kel.7 Kel.8 Kel.9
Prehensi 17 5 - 6 61 64 70 32 17
Mastikasi 212 35 - 81 293 324 230 365 377
Degluitasi 5 9 - 5 23 50 60 13 17

Tabel: 1 Proses Prehensi, Mastikasi dan Degluitasi Pada Sapi

Respirasi dalam biologi adalah proses mobilisasi energi yang dilakukan


jasad hidup melalui pemecahan senyawa berenergi tinggi (SET) untuk digunakan
dalam menjalankan fungsi hidup. Dalam pengertian kegiatan kehidupan sehari-
hari, respirasi dapat disamakan dengan pernapasan. Pada praktikum respirasi
ternak, yang di amati adalah respirasi kambing. Kambing bernafas menggunakan
paru-paru, oksigen masuk melalui lubang hidung, kemudian masuk ke faring di
teruskan ke laring lalu masuk ke trakea, kemudian ke bronkus, lalu ke paru-paru.
Pencernaan adalah sebuah proses metabolisme di mana suatu makhluk
hidup memproses sebuah zat, dalam rangka untuk mengubah secara kimia atau
mekanik sesuatu zat menjadi nutrisi. Pencernaan terjadi pada organisme multi
sel, sel, dan tingkat sub-sel, biasanya pada hewan. Pada praktikum sistem
pencernaan ternak, makanan masuk melalui mulut kemudian ke kerongkongan
lalu masuk ke tembolok, di tembolok terjadi proses pencernaan secara mekanik,
dengan bantuan batu kecil(grit). setelah itu masuk ke proventrikulus, lalu masuk
ke ampela. Lalu masuk ke usus halus, setelah dari usus halus, kemudian ke usus
besar dan kloaka.

16
4.2. Fisiologi Darah

4.2.1. Preparat Natif Darah

Darah merupakan jaringan tubuh yang terdiri dari bagian cair (plasma) dan
bahan-bahan interseluler. Plasma darah dan sel-sel darah dapat terpisah dan bebas
bergerak dalam cairan interseluler. Cairan ekstrasel dalam darah mensuplay sel-
sel dengan nutrisi dan zat-zaxt lain yang diperlukan untuk fungsi selular, tetapi
sebelum digunakan zat ini harus ditransfort melalui membrane sel dengan dua
proses utama yaitu difusi dan osmosis serta transfor aktif. Dinding sel eritrosit
sangat permeable terhadap sifat apapun. Darah mempunyai beberapa fungsi yang
penting untuk tubuh. Darah mengangkut zat-zat makanan dari alat pencernaan ke
jaringan tubuh, hasil limbah metabolisme dari jaringan tubuh ke ginjal, dan
hormon dari kelenjar endokrin ke target organ tubuh.
Susunan darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih
(leukosit), keeping-keping darah (trombosit), dan plasma darah.Pada praktikum
ini ditemukan sel darah putih (leukosit), hal ini dikarenakan ciri-ciri dan
spesifikasi leukosit yang memiliki inti atau nucleus. Hal ini ditunjang dengan
pendapat Syaifuddin (2002) yang menyatakan bahwa salah satu karakteristik dari
sel darah putih yakni memiliki inti atau nucleus serta mampu bergerak bebas
dalam darah.Frandson (2000) yang menyatakan bahwa keping-keping darah atau
trombosit bentuknya tidak teratur, tidak memiliki inti sel atau nucleus dan sifatnya
mudah pecah.

17
Jenis Ternak Eritrosit Leukosit

Mamalia

Gambar 1.Eritrosit Gambar 2.Leukosit


Mamalia
Mamalia

Unggas

Gambar 3.Eritrosit Gambar 4.Leukosit Unggas


Unggas

Tabel 2. Preparat Natif Darah

Hasil yang diperoleh tersebut dijelaskan juga oleh teori berikut yaitu
Syaifuddin (2002) yang menyatakan bahwa salah satu karakteristik dari sel darah
putih yakni memiliki inti atau nucleus serta mampu bergerak bebas dalam darah.
Warna yang ditemukan pada sel darah putih adalah bening memiliki inti. Hal ini
ditunjang oleh pendapat Watson (2002) , yang menyatakan bahwa salah satu ciri
dari sel darah putih tidak berwarna.

18
4.2.2. Waktu Perdarahan

Jika yang rusak adalah pembuluh arteri (pembuluh nadi), maka darah

memancar dan berwarna merah terang. Jika yang rusak adalah pembuluh vena

(pembuluh balik), maka darah mengalir dan berwarna merah tua. Jika yang rusak

adalah pembuluh kapiler (pembuluh rambut), maka darah merembes seperti titik

embun dan berwarna merah terang,Waktu pendarahan biasanya dapat juga

diartikan sebagai waktu ulai keluarnya tetesan darah pertama sampai tidak ada

lagi noda di kertas saring atau tissue. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu

pendarahan suatu darah yaitu besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur,

besarnya tubuh dan aktivitas, kadar hemaglobin dalam plasma dan kadar globulin

dalam darah. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu pendarahan suatu darah

yaitu besar kecilnya luka, suhu, status kesehatan, umur, besarnya tubuh dan

aktivitas, kadar hemaglobin dalam plasma dan kadar globulin dalam darah.

Adapun tabel yang di peroleh dari praktikum waktu perdarahan adalah

sebagai berikut :

KELOMPOK WAKTU PERDARAHAN


1 3 Menit 45 detik
2 1 menit 48 detik
3 1 menit 28 detik
4 2 menit 13 detik
5 1 menit 36 detik
6 1 menit 48 detik
7 2 menit 57 detik
8 1 Menit 32 detik
9 2 Menit 14 detik
Tabel: 2. Waktu Perdarahan

19
4.2.3 Waktu Beku Darah

Wibowo (2009), yang menyatakan bahwa fibrin sangat berperan penting


dalam pembekuan darah.Waktu beku darah biasa disebut dengan waktu koagulasi
darah.Waktu antara darah masuk sampai terjadi penggumpalan adalah waktu
koagulasi rata-rata 4 – 5 menit.
KELOMPOK WAKTU BEKU DARAH
1 3 menit 8 detik
2 7 menit 3 detik
3 2 menit 31 detik
4 3 menit 14 detik
5 1 menit 54 detik
6 2 menit 51detik
7 1 menit 49 detik
8 2 menit 17 detik
9 1 menit 48 detik

Tabel 4. (Waktu Beku Darah)


Hasil praktikum yang diperoleh yaitu darah membeku dan terlihat benang putih
rata-rata pada waktu 1sampai 3 menit. Hal ini tidak sesuai dengan teori berikut
yaitu waktu beku darah biasa disebut dengan waktu koagulasi darah. Waktu antara
darah masuk sampai terjadi penggumpalan adalah waktu koagulasi rata-rata 4 – 5
menit (Wibowo, 2009).Hal ini sesuai dengan pendapat (Widodo,Herdiman.P,
2004) yang menyatakan bahea terbentuknya fibrin disebabkan karena trombin
yang merupakan enzim yang mengubah fibrinogen menjadi fibrin.Fibrin inilah
yang berfungsi menjaring sel-sel darah merah menjadi gel atau menggumpal.

4.2.4. Laju Endap Darah (LED)

Tambayong.J(2001) yang menyatakan Makin banyak sel darah merah


yang mengendap maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya.
Darah normal mempunyai LED relatif kecil karena pengendapan eritrosit
akibat tarikan gravitasi di imbagi oleh tekanan keatas akibat perpindahan. Bila
viskositas plasma tinggi atau kadar kolesterol meningkat tekanan keatas mungkin
dapat menetralisasi tarikan kebawa terhadap setiap sel atau gumpalan sel.

20
Sebaliknya setiap keadaan yang meningkatkan penggumpalan atau perletakan satu
dengan yang lain akan meningkatkan LED.
0
Tabung LED harus benar –benar tegak, kemiringan 3 dapat menyebabkan
kesalahan diatas 30 % .Perubahan besar pada temperatur juga dapat menyebabkan
kenaikkan ukuran sedimentasi sehingga akan mempengaruhi hasil pemeriksaan.

Tabel 5. (laju endapan darah)


KELOMPOK 1 : Laju Endap Darah

JENIS WAKTU PENURUNAN HASIL


TERNAK
30 MENIT 10 190-10=180

AYAM 1 60 MENIT 22 180-22=158


90 MENIT 36 158-36=122
30 MENIT 12 190-12=178

AYAM 2 60 MENIT 27 178-27=151


90 MENIT 43 151-43=108
30 MENIT 6 190-6=184
KAMBING 60 MENIT 13 184-13=171
1
90 MENIT 22 171-22=149
30 MENIT 8 190-8=182
KAMBING 60 MENIT 20 182-20=162
2
90 MENIT 34 162-34=128
KELOMPOK 2: Laju Endap Darah

JENIS WAKTU PENURUNAN HASIL


TERNAK
30 MENIT 10 180

SAPI 1 60 MENIT 16 164


90 MENIT 19 145
30 MENIT 5 185

SAPI 2 60 MENIT 15 170


90 MENIT 20 150

KAMBING 1 30 MENIT 2 188

21
60 MENIT 3 185
90 MENIT 4 181
30 MENIT 7 183

KAMBING 2 60 MENIT 9 174


90 MENIT 11 163
KELOMPOK 3: Laju Endap Darah

JENIS WAKTU PENURUNAN HASIL


TERNAK
30 MENIT 4 190-4=186

SAPI 1 60 MENIT 0 186-0=186


90 MENIT 1 186-1=185
30 MENIT 5 190-5=185

SAPI 2 60 MENIT 15 185-15=170


90 MENIT 20 170-20=150
30 MENIT 7 190-7=183

Ayam 1 60 MENIT 3 183-3=180


90 MENIT 2 180-2=178
30 MENIT 7 190-7=183

Ayam 2 60 MENIT 9 183-9=174


90 MENIT 11 174-11=163
KELOMPOK 4: Laju Endap Darah

JENIS WAKTU PENURUNAN HASIL


TERNAK
30 MENIT 18 190-18=172

SAPI 1 60 MENIT 11 172-11=161


90 MENIT 13 161-13=148
30 MENIT 23 190-23=167

SAPI 2 60 MENIT 12 167-12=155


90 MENIT 11 155-11=144
30 MENIT 27 190-27=163

KAMBING 1 60 MENIT 13 163-13=150


90 MENIT 11 150-11=139

22
30 MENIT 14 190-14=176

KAMBING 2 60 MENIT 17 176-17=159


90 MENIT 11 159-11=148
KELOMPOK 5: Laju Endap Darah

JENIS WAKTU PENURUNAN HASIL


TERNAK
30 MENIT 18 190-18=172

SAPI 1 60 MENIT 11 172-11=161


90 MENIT 13 161-13=148
30 MENIT 23 190-23=167

SAPI 2 60 MENIT 12 167-12=155


90 MENIT 11 155-11=144
30 MENIT 13 190-13=177

KAMBING 1 60 MENIT 27 177-27=150


90 MENIT 11 150-11=139
30 MENIT 14 190-14=176

KAMBING 2 60 MENIT 17 176-17=159


90 MENIT 11 159-11=148
KELOMPOK 6: Laju Endap Darah

JENIS WAKTU PENURUNAN HASIL


TERNAK
30 MENIT 3 190-3=187

KAMBING 1 60 MENIT 0 187-0=187


90 MENIT 4 187-4=183
30 MENIT 31 190-31=159

KAMBING 2 60 MENIT 13 159-13=146


90 MENIT 13 146-13=133
30 MENIT 3 190-3=187

SAPI 1 60 MENIT 0 187-0=187


90 MENIT 1 187-1=186
30 MENIT 4 190-4=186
SAPI 2
60 MENIT 1 186-1=185

23
90 MENIT 2 185-2=183
KELOMPOK 7 : Laju Endap Darah

JENIS WAKTU PENURUNAN HASIL


TERNAK
30 MENIT 8 190-8=182

AYAM 1 60 MENIT 15 182-15=167


90 MENIT 28 167-28=139
30 MENIT 6 190-6=184

AYAM 2 60 MENIT 13 184-13=171


90 MENIT 25 171-25=146
30 MENIT 4 190-4=186
KAMBING 60 MENIT 11 186-11=175
1
90 MENIT 23 175-23=152
30 MENIT 7 190-7=183
KAMBING 60 MENIT 13 183-13=170
2
90 MENIT 21 170-21=149
KELOMPOK 8: Laju Endap Darah

JENIS WAKTU PENURUNAN HASIL


TERNAK
30 MENIT 3 190-3=187

KAMBING 1 60 MENIT 4 187-4=183


90 MENIT 4 183-4=179
30 MENIT 55 190-55=135

KAMBING 2 60 MENIT 58 135-58=77


90 MENIT 58 77-58=19
30 MENIT 4 190-4=186

KAMBING 3 60 MENIT 4 186-4=182


90 MENIT 4 182-4=178
30 MENIT 2 190-2=188

KAMBING 4 60 MENIT 2 188-2=186


90 MENIT 2 186-2=184
KELOMPOK 9: Laju Endap Darah

24
JENIS WAKTU PENURUNAN HASIL
TERNAK
30 MENIT 18 190-18=172

SAPI 1 60 MENIT 11 172-11=161


90 MENIT 13 161-13=148
30 MENIT 23 190-23=167

SAPI 2 60 MENIT 12 167-12=155


90 MENIT 11 155-11=144
30 MENIT 27 190-27=163

KAMBING 1 60 MENIT 13 163-13=150


90 MENIT 11 150-11=139
30 MENIT 14 190-14=176

KAMBING 2 60 MENIT 17 176-17=159


90 MENIT 11 159-11=148

DARAH SAPI 1
200
180
160
140
120
100
DARAH SAPI 1
80
60
40
20
0
30 60 90

25
DARAH SAPI 2
200
180
160
140
120
100
DARAH SAPI 2
80
60
40
20
0
30 60 90

DARAH KAMBING 1
190

188

186

184

DARAH KAMBING 1
182

180

178

176
30 60 90

26
DARAH KAMBING 2
185

180

175

170

DARAH KAMBING 2
165

160

155

150
30 60 90

DARAH AYAM 1
188

186

184

182

180
DARAH AYAM 1
178

176

174

172
30 60 90

27
DARAH AYAM 2
160

140

120

100

80
DARAH AYAM 2
60

40

20

0
30 60 90

Grafik 1. (Laju Endap Darah)

Radiopoetra(2000)yang berpendapat bahwa Proses pemeriksaansediment


asi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan darah kita ke dalam
tabung khusus selama (waktu di tentukan) Makin banyak sel darah merah yang
mengendap maka makin tinggi laju endap darahnya. Tinggi rendahnya laju endap
darah sangat dipengaruhi oleh keadaan tubuh kita.

Menurut (Isbister, dkk: 2003)Manfaat pemeriksaan LED yaitu:


mengukur respon fase akut yang merupakan indicator yang membantu
menyatakan adanya reaksi radang, mengikuti perjalanan penyakit serta membatu
menegakkan diagnosis atau diagnosa bandin, misalnya membedakan antara TBC
dengan demam Typochid, hepatitis dengan malaria, adanya nekrosis jaringan
(Karsinoma) dan alergi. LED yang rendah terlihad dalam polisitemia,
hipofibrinogenemia dll.

Menurut (Sarka dan Devi, 2006)Pemeriksaan LED diperkenalkan


pertama kali oleh Westergren pada tahun 1912 yang dikenal dengan metode
Westergren. Metode ini memakai tabung/pipet dengan panjang 300,5 mm,
diameter luar 5,5 mm ± 0,5 mm, dan diameter dalam 2,55 mm ± 0,5 mm,
memiliki skala 200 mm.

28
Menurut (Subarna, 2006)Yaitu fase pengendapan eritrosit sehingga sel-sel
eritrosit mengalami pemampatan pada dasar tabung, kecepatan mengendapnya
mulai berkurang sampai sangat pelan. Fase ini sampai berjalan kurang lebih 15
menit
Menurut (Tambayong J, 2001)L:ED adalah kecepatan eritrosit mengendap
dalam pipet westergren. Pada peradangan, kecepatan meningkat, karena
perubahan pada komponen plasma yang terjadi selama proses inflamasi. Protein
plasma yang terlibat dalam peningkatan LED disebut protein fase akut, terutama
dilepaskan oleh hati. LED khususnya digunakan untuk membantu aktivitas
berbagai penyakit inflamasi.
Menurut (Widodo, dkk, 2004) Prinsip dasar pemeriksaan LED adalah;
darah dan antikoagulan dimasukkan ke dalam tabung dengan lubang ukuran
tertentu (pada pipet LED) dan diletakan vertikal akan menyebabkan pengendapan
eritrosit dengan kecepatan tertentu.

4.2.5. Hemolisis
Hasil praktikum yang diperoleh yaitu pada pada konsentrasi 0,45 % dan 0.65
% NaCl, pada darah kambing mengalami lisis, sedngkan pada darah ayam dan
sapi juga mengalami lisis. Begitu juga dengan konsentrasi 0,9 % dan 0.25 % darah
sapi, ayam dan kambing rata-rata tidak mengalami lisis. Hal ini dijelaskan dengan
pendapat Sonjaya (2006), bahwa hemolisis adalah peristiwa keluarnya
hemoglobin dari sel darah merah yang disebabkan oleh medium/plasma yang
hipotonis.
Cormack (2008) mengatakan bahwa Hemolisis adalah rusaknya jaringan
darah akibat lepasnya hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah).
Hemolisis dapat disebabkan karena penurunan tegangan permukaan membrane sel
dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam
empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari
stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular famili Elapidae.
Dari hasil pengamatan di atas sesuai dengan pendapat Sahid (2001)
Cairan yang memiliki tekanan atau konsentrasi sama dengan cairan dalam

29
tubuh disebut isotonis (osmotic equilibrium), lebih tinggi dari pada dalam
seldisebut hipertonis, dan lebih rendah dari pada dalam sel disebut hipotonis.
Cairan hipertonis akan menarik air secara osmosis dari sitoplasma
ke luar sehingga eritrosit akan mengalami penyusutan dan membran selnya rusak
tampak berkerut-kerut atau yang disebut krenasi atau plasmolysis.
Sebaliknya, cairan hipotonisakan menyebabkan air berpindah ke dalam
sitoplasma eritrosit sehingga eritrosit akan menggembung (plasmoptysis) yang
kemudian pecah (hemolisis).

Tabel 6.Hemolisis
KONSE MAKROSKOPIS MIKROSKOPIS
KELO NTRAS BESA JUMLAH
DARAH
MPOK I LISIS HEMOLISIS R
NaCL
0,25% (+) > >
0,45% Kambing (-) < <
1
0,65% (-) > >
0.9% (+) > >
0,25% (+) > >
0,45% (-) - -
2 Sapi
0,65% (-) < >
0.9% (+) < <
0,25% (+) < >
0,45% (-) < <
3 Kambing
0,65% (-) < <
0.9% (+) > >
0,25% (-) < <
0,45% (-) < <
4 Sapi
0,65% (+) > >
0.9% (+) > >
5 0,25% (+) < <

30
0,45% (-) > >
0,65% (-) < <
0.9% (+) > >
0,25% (+) < <
0,45% (-) > >
6 Ayam
0,65% (-) < >
0.9% (+) > >
0,25% SAPI (+) < <
0,45% (-) > >
7
0,65% (-) < >
0.9% (+) > >
0,25% (-) > >
0,45% (+) < <
8 Ayam
0,65% (-) < >
0.9% (+) > >
0,25% (+) > >
0,45% (-) < >
9 SAPI
0,65% (-) < >
0.9% (+) > >

4.2.6. Hematokrit
Menurut (Barbara. A, 2006)Hematokrit mikro adalah volume eritrosit
yangdipisahkan dari plasma dengan memutarnya didalam tabung khusus yang
nilainya dinyatakan dalam persen.nilai hematokrit digunakan untuk mengetahui
nilai eritrosit rata-rata dan untuk mengetahui ada tidaknya anemia.
Metode yang digunakan untuk mengukur tingkat hematokrit biasanya
adalah dengan pengambilan sampel darah ke dalam tabung silinder dan kemudian
memutarnya pada centrifuge. Dengan pemutaran ini, darah akan memisahkan diri
menjadi 3 bagian yaitu plasma atau komponen cairan, sel-sel darah merah dan sel-
sel lainnya. Ketika pemisahan selesai, teknisi medis akan mampu
mengidentifikasi proporsi sel darah merah terhadap volume darah (Sarkar, 2006).

31
Hame ini di buat dalam mitokokondria dan menambah acetid acid manjadi
alpha ketoglutaricacid + glicine membentuk “pyrrole compound” menjadi
protopophyrine II yang dengan Fe berubah menjadi hame. Selanjutnya 4 hame
bersenyawa dengan globulin membentuk haemoglobin.

Tabel 7. Hematokrit
Percobaan
Kelompok Darah Hematokrit
1 2 3 4 5
Plasma 44 51 57 48 42
Buffy coat 1 1 ;;1 1 1
1 AYAM
Eritrosit 50 45 41 39 46
Lilin - - - - -
Plasma 43 47 52 45 50
Buffy coat 1 1 1 1 1
2 SAPI
Eritrosit 42 42 49 46 50
Lilin - - - - -
Plasma 63 62 68 66 68
Buffy coat 1 1 1 1 1
3 KAMBING
Eritrosit 37 38 32 34 32
Lilin - - - - -
Plasma 42 57 - - -
Buffy coat 1 0.2 - - -
4 AYAM
Eritrosit 51 51 - - -
Lilin - - - - -
Plasma 42 48 50 49 53
Buffy coat 1 1 1 1 1
5 SAPI
Eritrosit 57 51 49 50 47
Lilin 4 3 3 2 4
Plasma 66 74 66 67 -
Buffy coat 1 1 1 1 -
6 KAMBING
Eritrosit 33 25 33 32 -
Lilin 4 3 5 2 -
Plasma 67 62 63 64 65
Buffy coat 1 1 1 1 1
7 SAPI
Eritrosit 32 37 36 35 34
Lilin 10 10 8 5 6
Plasma 53 49 50 48 57
Buffy coat 1 1 1 1 1
8 SAPI
Eritrosit 46 50 49 51 42
Lilin 4 3 3 2 4
9 SAPI Plasma 53 49 50 48 57

32
Buffy coat 1 1 1 1 1
Eritrosit 46 50 49 51 42
Lilin 4 3 3 2 4

Hematokrit termasuk dalam parameter yang digunakan untuk menilai


keadaan anaemia suatu hewan. Meningkatnya persentase hematokrit dapat
disebabkan oleh leukosis limfoid (Gandasoebrata.R ,2004)
Menurut (Darmawan, 2002)Pemeriksaan hematokrit merupakan salah
satu pemeriksaan darah khusus yang sering dikerjakan dilaboratorium berguna
untuk membantu diagnosa berbagai penyakit diantaranya Demam Berdarah
Dengue (DBD), anemia, polisitemia. Penetapan nilai hematokrit dapat dilakukan
dengan cara makro dan mikro. Pada cara makro digunakan tabung wintrobe,
sedangkan pada cara mikro digunakan pipet kapiler.
Menurut (Evelyn,Pearce, 2000)Fakta tersebut diperkuat lagi dengan
menyatakan bahwa profil darah sapi bali menciri anemia, pada sapi-sapi yang
kondisinya tidak baik yaitu leleran eksudat di vulva, demodekosis, distokia, kurus,
hematuria dan diare.
Menurut (Frensond R. D, 2002) Metode pemeriksaan secara mikro
berprinsip pada darah yang dengan antikoagulan dicentrifuge dalam jangka waktu
dan kecepatan tertentu, sehingga sel darah dan plasmanya terpisah dalam keadaan
mapat. Prosentase volum kepadatan sel darah merah terhadap volume darah
semula dicatat sebagai hasil pemeriksaan hematokrit.

4.2.7. Hemoglobin
Ada beberapa metode pemeriksaan hemoglobin.Diantara metode
pemeriksaan hemoglobin yang paling sering digunakan di laboratorium dan yang
paling sederhana adalah metode sahli, dan yang lebih canggih adalah metode
cyanmethemoglobin (Barbara.A, 2006).
Hasil yang diperoleh dari praktikum ini yaitu pada darah sapi hemoglobin
yang diperoleh adalah 10 %, darah kambing 8 % dan darah ayam 6 %.
Pendapat yang menerangkan tentang hemoglobin yaitu Frandson, (2002).
menyatakan bahwa Pengaruh haemoglobin didalam sel darah merah menyebabkan

33
timbulnya warna merah pada darah karena mempunyai kemampuan untuk
mengangkut oksigen. Haemoglobin adalah senyawa organik yang komplek dan
terdiri dari empat pigmen forpirin merah (heme) yang masing-masing
mengandung iron dan globin yang merupakan protein globural dan terdiri dari
empat asam amino.
Menurut (Watson,2000) Nilai normal adalah 14-16 g per 100 ml.
Hemoglobin mempunyai daya tarik yang kuat terhadap oksigen. Ketika sel darah
melewati paru-paru, hemoglobin akan bergabung dengan oksigen dari udara dan
warnanya menjadi cerah.

4.2.8. Menghitung Jumlah Sel Darah

Tabel 8. (Menghitung Jumlah Sel Darah)


A. Perhitungan Jumlah Eritrosit

36 36

40

39 39
Jumlah eritrosit (E)= 36+36+40+39+39=190
190×4=760
760×10.000=7.600.00
B. Perhitungan Jumlah Leukosit

37 34 145 59

15 37 56 45

34
78 93 64 54

40 83 61 70
Jumlah leukosit(L)= 971×4= 3.884

3.884×50= 194.000

KELOMPOK JENIS JUMLAH JUMLAH


TERNAK LEUKOSIT ERITROSIT
1 Kambing 14.750 10.280.000
2 Sapi 13.850 10.280.000
3 Ayam 14.750 1.490.000
4 Sapi 10.450 2.330.000
5 Kambing 33.100 1.900.000
6 Sapi - 5.700.000
7 Ayam - 5.430.000
8 194.000 -
9 Kambing 194.000 7.600.000

Leukosit Kelompok 9
MYELO -
EOSINOFIL -
BASOFIL 2
STABILOCOCUS 1
SEGMEN 2
LIMFOSIT 2
MONOSIT 3
JUVEN -
TOTAL 10

Jumlah eritrosit pada ayam,kambing,dan sapi memiliki jumlah total sel darah
merah dan putih yang berbeda . Kemudian eritrosit dan leukosit yang melebihi

35
jumlah normal mungkin disebabkan kekeliruan dalam menghitung atau teknis
atau juga karena faktor lainnya.

4.2.8. Diferensial Leukosit


Leukosit memiliki bentuk khas, nucleus, sitoplasma dan organel
dan semuanya bersifat mampu bergerak pada keadaan tertentu (Conteres.M,
2005)
Larutan yang digunakan dalam menghitung jumlah sel darah putih yaitu
larutan turk. Larutan turk adalah larutan pengencer yang berfungsi mengencerkan
sel darah putih sehingga mempermudah dalam perhitungannya, dimana larutan
turk ini terdiri dari glacial acetid acid 2 ml, gentian violet 1%, aquades 1 ml dan
aquadestilata 100 m (Guyton dan hall, 2007).

Hitungan jenis leukosit berbeda tergantung umur. Pada anak limfosit


lebih banyak dari netrofil segmen,sedang pada orang dewasa kebalikannya.
Jumlah leukosit juga dipengaruhi oleh umur dan penyimpangan dari keadaan-
keadaan lainnya. Pada bayi baru lahir jumlah leukosit tinggi, sekitar 10.000-
30.000,pada bayi umur 12 jam antara 13.000-38.000 setelah itu jumlah lukosit
berturun secara tahap dan pada umur 21 tahun jumlah leukosit berkisar antara
4500-11.000.

Macam-macam Sel Darah


Apabila setetes darah diletakkan di atas kaca objek yang bersih dan kering
kemudian dibuat sedinan hapus yang bersih dan diwarnai dengan pewarnaan May
Griinwald-Giemsa (MGG), secara garis besar akan tampak sel-sel yang dapat
dibagi dalam 3 kelompok besar :

1. Sel Darah Merah

36
Sel darah merah (SDM) atau eritrosit adalah sel darah yang terbanyak didalam
darah. Karena sel ini mengandung senyawa yang berwarna, yaitu hemoglobin,
maka dengan sendirinya darah berwarna merah.

Fungsi lain dari sel darah merah ialah mengikat dan mempermudah tranportasi
gas CO2. Di dalam paru-paru terjadilah pertukaran gas dengan lingkungan :
oksigen diambil dari lingkunagan dan CO2 dikeluarkan ke lingkungan. Hanya
sebagian saja dari CO2 yang berikatan langsung dengan molekul Hb melalui ikaan
karbamino, berupa HbCO2. Sebagian yang lebih besar dari CO2 ini malahan
diangkut sebagai bentuk terlarut dalam plasma. Akan tetapi berbeda dengan
oksigen, CO2 tersebut tidaklah larut secara fisik dalam bentuk senyawa tersebut,
akan tetapi sebagai bikarbonat (HCO3), yang pembentuknya sangat memerlukan
sel darah merah. Di dalam sel darah merah terdapat enzim anhidrase karbonat
yang mengkatalisis reaksi berikut :
CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3-
Asam karbonat ion bikarbonat

Ciri-ciri sel darah merah, antara lain bentuknya melingkar, pipih, dan cakram
bikonkaf, sel yang telah matang tidak mempunyai nucleus, berdiameter kurang
dari 0,01 mm dan elastis.

2. Sel Darah Putih

37
Sel darah putih atau leukosit adalah sel lain yang terdapat di dalam darah.
Yang berperan dalam mempertahankan tubuh terhadap penyusupan benda asing
yang selalu dipandang mempunyai kemungkinan untuk mendatangkan bahaya
bagi kelangsungan hidup individu selain itu, sel darah putih berfungsi sebagai
pengangkut zat lemak.
Sel darah putih mempunyai ciri-ciri, antara lain tidak berwarna, mempunyai
nucleus, kehilangan Hb, bentuknya tidak beraturan, dapat bergerak, dan dapat
berubah bentuk.
Sel darah putih dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu granulosit dan
agranulosit. Sebenarnya kedua jenis sel darah putih ini jelas terlihat pada
granulosit. Granula mengandung beragam enzim dan protein yang membantu sel
darah putih dalam melindungi tubuh.
Granulosit mempunyai nucleus yang banyak dan bersifat fagosit. Macam-
macam granulosit, antara lain :
a. Neutrofil :

Jenis sel darah putih terbanyak. Bentuk nukleusnya beragam, misalnya batang,
bengkok, atau bercabang-cabang. Neutrofil menjadi sel darah putih yang pertama
merespon adanya infeksi dan sel-sel tersebut menelan patogen selama fagositosis.

38
b. Basofil :

Berbentuk U dan berbintik-bintik. Basofil melepaskan histamin pada saat terjadi


reaksi alergi.

c. Eosinofil :

39
BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan yang mengalir ke


seluruh tubuh melalui vena dan arteri yang memasok oksigen, dan bahan makanan
ke seluruh jaringan tubuh serta mengambil karbondioksida dan sisa metabolisme
dari jaringan. Darah memiliki dua komponen penyusun yaitu plasma dan sel
darah. Plasma darah merupakan bagian dari komponen darah yang berwarna
kekuning-kuningan yang jumlahnya sekitar 60% dari volume darah, sedangkan sel
darah adalah komponen selluler dari darah termasuk sel darah merah (eritrosit),
sel darah putih (Leukosit) dan keping-keping darah (trombosit).

Pada preparat natif darah pada darah sapi terdapat leukosit yang ditandai
dengan warna ungu, eritrosit dan trombosit yang ditandai dengan warna kebiru-
biruan dilihat dengan pembesaran mikroskopi 40x. Sel darah mamalia berbeda
dengan sel darah unggas.Sel darah merah mamalia mempunyai bentuk seperti
cakram, bikonkaf, sirkular dan tidak berinti.Sedangkan sel darah merah unggas
berbentuk lonjong (oval) dan berinti.

Dari praktikum waktu perdarahan dan waktu beku darah yang telah
dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa waktu perdarahan pada praktikan ada yang
normal dan ada yang tidak normal. Waktu perdarahan ini di pengaruhi oleh
kondisi kesehatan dari praktikan. Sedangkan pada waktu beku darah pada
praktikan tersebut tidak ada yang normal. Karena tidak terbentuk benang-benang
putih (fibrin) pada darah praktikan. Pada proses koagulasi darahtidak didapatkan
benang fibrin hingga darah hampir menggumpal. Proses koagulasi darah setiap
individu manusia berbeda-beda sesuai dengan golongan darah masing-masing
dikarenakan setiap golongan darah meniliki antibodi yang berbeda-beda.
Dari praktikum laju endap darah dan hemolisis yang telah dilaksanakan
dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan darah setiap 30 menit yang
dipengaruhi oleh factor perubahan plasma darah (kekentalan/viskositas plasma),

40
jumlah sel darah merah dan tegangan permukaan. Pada praktikum hemolisis,
terjadi hemolisis pada campuran darah sapi dengan NaCL berkonsentrasi 0,25%
dan 0,45%. Sedangkan pada preparat natif darah pada darah sapi terdapat leukosit
yang ditandai dengan warna ungu, eritrosit dan trombosit yang ditandai dengan
warna kebiru-biruan dilihat dengan pembesaran mikroskopi 40x. Sel darah
mamalia berbeda dengan sel darah unggas. Sel darah merah mamalia mempunyai
bentuk seperti cakram, bikonkaf, sirkular dan tidak berinti. Sedangkan sel darah
merah unggas berbentuk lonjong (oval) dan berinti.
Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin
bebas kedalam medium sekelilingnya (plasma). Kerusakan membran eritrosit
dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis
kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia
tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah
dan lain-lain. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena
penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan lrt. NaCl) akan
masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan
menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan
tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya
hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosi
berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke
medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput
ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam
medium luar eritrosit (plasma).

Pada pemeriksaan hematokrit dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara
manual dan cara automatik. Pada cara manual dilakukan dua pengukuran yaitu
secara mikro dan secara makro. Hemoglobin adalah molekul protein pada sel
darah merah yang terdiri dari protein kompleks terkonjugasi yang mengandung
besi dan berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru paru ke seluruh
jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru paru.
Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah berwarna
merah. Kadar hemoglobin dapat ditetapkan dengan berbagai cara, antara lain
metode Sahli, oksihemoglobin atau sianmethhemoglobin.

41
Praktikum hemoglobin dapat disimpulkan bahwa kadar hematokrit ternak
berbeda-beda. Metode yang digunakan yaitu metode sahli yang dengan prinsip
yaitu Hb didalam darah diubah menjadi hematin asam yang berwarna coklat
dengan penambahan HCl encer (0,1N).
Dari praktikum menghitung jumlah sel darah dapat disimpulkan bahwa
jumlah sel darah pada tiap ternak berbeda. Hal ini dipengaruhi opleh factor
spesies, jenis kelamin, kesehatan, dan umur. Larutan pegencer yang digunakan
pada tiap ternak juga berbeda-beda, misalnya larutan hayem untuk eritrosit,
larutan turk untuk leukosit mamalia dan laritan BCB untuk leukosit unggas.
Dari praktikum diferensial leukosi (leukogram) dapat disimpulkan bahwa
bahwa bentuk sel leukosit dibagi menjadi 2, yaitu granulosit dan agranulosit.
Dimana pada bentuk sel granulosit terdiri dari neutrofil, eosinofil dan basofil,
sedangkan pada sel leukosit agranulosit terdiri dari limfosit kecil, limfosit besar
dan monosit. Dan pada praktikum yang praktikan lakukan, sel leukosit yang
dilihat pada mikroskop tidak begitu jelas yang dikarenakan terlalu tebal nya
lapisan darah yang di tetesi pada object glass, sehingga bentuk-bentuk sel pada
sel leukosit tidak begitu jelas

5.2. Saran

Dari kesimpulan diatas sebaiknya praktikan lebih serius dalam


pelaksanaan praktikum. Lebih teliti dalam menghitung jumlah sel darah pada
kamar hitung. Mendengarkan dengan baik ketika asdos menjelaskan. Harus lebih
disiplin dan berhati-hati di dalam melakukan praktikum agar praktikum berjalan
dengan lancar dan hasil yang diperoleh pun memuaskan

42
DAFTAR PUSTAKA

Arif priadi.2000.outline of veterinary clinical pathology second edition of USA

Baharudin Kasim.2002. Hematologi: Principle dan Procedures. LEA dan REB.

Frandson. 2007. Anatomi dan Fisiologi Ternak Edisi ke-4. Gadjah Mada

University Press . Yogyakarta.

Gandasoebrata R. 2002. Penuntun Laboratorium klinik. Penerbit Duan Rakyat.

Jakarta.

Hamurwo.2003. Interpretasi Hasil Laboratorium Diagnostik. Penerbit Buku


Unervitas Hasanuddin, Makassar.

Hoffbrand dan Petitt,2002. Hematologi Klinik Pendekatan Berorientasi Masalah.


Editor

Joshua.2008. Pengertian Dan Fungsi Bronkiolus. http://upload.wikimedia


.org//pengertian dan fungsi bronkiolus (kendari, 15 Maret 2019).

Pujianto, 2004. Animal Physiology Adaptation and Environment.

Cambridge University Press . USA.

Sahabuddin, 2006. Usulan Penelitian, Program Studi Analis Kesehatan.

Politeknik Kesehatan Makassar.

Subama, 2006. Diklat Hematologi. Akademi Analis Kesehatan Depkes Bandung


Sonjaya, H. 2013. Bahan Ajar Fisiologi Ternak Dasar. Universitas Hasanuddin,

Makassar.

Sarkar & Devi. 2006. Konsentrasi Sel Darah. EGC : Jakarta.

Sonjaya. 2013. Penuntun Praktikum Fisiologi Ternak Dasar. Fakultas Peternakan.

Universitas Hasanuddin, Makassar.

Syaifuddin, 2002. Fisiologi Manusia dan Mekanisme terhadap Penyakit EGC.


Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.

43
Supriasa. 2001. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gajah Mada University Press,
Yogyakarta.
Suyono. 2001. Faktor hemoglobin. Http// laporan praktikum fisiologi

hewan.scrib.com diakses pada tanggal 15 Maret 2019

Simmons A, 2009. Hematologi A Combined Theoritical and Technical Upproach.

W.B. sounders Company.

Subama, 2006. Diklat Hematologi. Akademi Analis Kesehatan Depkes Bandung.

Tambayong, J., 2001. Anatomi dan Fisiologi untuk Keperwatan. Buku

Kedokteran EGC. Jakarta.

Wibowo,Fredi.2009.Proses Penggumpalan Darah.

Wiseman, J.and W.J.A. Cole. 2000 . Feedstuff Evaluation. Butterworth. London.

Wibowo, Herdiman. P, 2004 Bunga Rampai Penyakit Infeksi, FKUI Jakarta.

Widodo, Herdiman. P, 2004 Bunga Rampai Penyakit Infeksi, FKUI Jakarta.


Watson, R., 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat. Buku Kedokteran EGC.
Jakarta.

44