Anda di halaman 1dari 61

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Dalam pembangunan konstruksi sipil, tanah mempunyai peranan yang
sangat penting. Dalam hal ini, tanah berfungsi sebagai penahan beban akibat
konstruksi di atas tanah yang harus bisa memikul seluruh beban bangunan dan
beban lainnya yang turut diperhitungkan, kemudian dapat meneruskannya ke
dalam tanah sampai ke lapisan atau kedalaman tertentu. Sehingga kuat atau
tidaknya bangunan/konstruksi itu juga dipengaruhi oleh kondisi tanah yang ada.
Untuk mengetahui sifat fisik tanah yaitu dapat dengan melakukan uji
kadar air, berat volume, analisa saringan, berat jenis, dan batas atterberg. Dari
Sifat teknis tanah gambut yang paling menonjol adalah daya dukungnya yang
rendah dan kemampuan yang tinggi. Berbagai penyelidikan terhadap daya
dukung tanah gambut menunjukkan bahwa daya dukungnya bahkan lebih
rendah dari soft clay.
Permasalahan yang timbul dewasa ini adalah meningkatnya jumlah
konstruksi sipil untuk memenuhi kebutuhan akan sarana dan prasarana yang
menunjang aktifitas manusia. Akibatnya tanah sebagai tempat berdirinya suatu
konstruksi cenderung semakin sempit, dan karena tuntutan perencanaan yang
harus memenuhi spesifikasi atau standar tertentu, maka penelitian terhadap 3
pengaruh derajat kejenuhan tanah organik pada perilaku penurunan perlu
dilakukan. Kemampuan tanah dalam menahan tegangan yang mengakibatkan
pergeseran pada tanah dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor tersebut
antara lain adalah derajat kejenuhan. Derajat kejenuhan adalah perbandingan
antara volume air dengan volume pori dari suatu tanah. Meningkatnya jumlah
air yang dikandung oleh suatu tanah (derajat kejenuhannya meningkat) akan
menyebabkan volume tanah meningkat namun kepadatan tanah tersebut akan
menurun. Fenomena tersebut dikenal sebagai swelling. Terjadinya penurunan
kepadatan tanah akan menyebabkan gaya tarik antara partikel-partikel padat

1|PRAKTEK UJI TANAH


tanah semakin berkurang dan kecenderungan partikel-partikel padat untuk
tergelincir dan terguling akan semakin meningkat.

1.2 TUJUAN PRAKTIKUM


1. Menentukan jenis lapisan tanah dan ketebalannya.
2. Mendapatkan contoh tanah untuk keperluan identifikasi dan klasifikasi
dan juga untuk benda uji dalam pengujian laboratorium untuk
mendapatkan parameter-parameter tanah yang diperlukan.
3. Untuk mengidentifikasi kondisi air tanah.

1.3 MANFAAT PRAKTIKUM


1. Agar mahasiswa dapat menentukan jenis lapisan tanah dan
ketebalannya.
2. Agar mahasiswa mendapatkan contoh tanah untuk keperluan
identifikasi dan klasifikasi dan juga untuk benda uji dalam pengujian
laboratorium untuk mendapatkan parameter-parameter tanah yang
diperlukan.
3. Agar mahasiswa dapat mengidentifikasi kondisi air tanah.

2|PRAKTEK UJI TANAH


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 PEMBORAN
 Dasar Teori
Pekerjaan pengeboran hampir selalu diperlukan dalam
penyelidikan tanah. Tujuan dari pekerjaan pengeboran ini adalah
untuk mengetahui jenis lapisan tanah dan ketebalannya dan untuk
mendapatkan contoh tanah yang tidak terganggu pada kedalaman
yang diinginkan. Untuk membuat lubang bor dapat dilakukan
dengan bor tangan atau bor mesin. Bor tangan dilakukan dengan
mempergunakan mata bor (auger) yang dipasang pada ujung bagian
bawah dari batang bor. Pada bagian atas batang bor dipasang setang
untuk memutar alat bor tersebut. Bor tangan hanya dapat dilakukan
pada tanah lempung lunak (soft clay) sampai lempung dengan
kekerasan sedang (firm clay), dengan kedalaman 8 – 10 meter. Jenis
mata bor yang umumnya dipakai adalah mata bor Iwan. Jenis mata
bor yang lain adalah bor spiral dan bor helikal.
Bor mesin digunakan bila diperlukan untuk membuat lubang
bor pada lapisan tanah yang lebih keras, atau untuk mempercepat
pekerjaan. Untuk tanah keras, mata bor yang biasa dipakai adalah
core barrel, baik single tube maupun double tube core barrell.

 Peralatan
o Mata bor tipe Iwan
o Pemahat atau linggis
o Batang bor
o Setang bor
 Prosedur Pelaksanaan
1. Pasang mata bor dan setang pada batang bor
2. Buat lubang pada permukaan tanah dengan alat pemahat atau
linggis, dengan diameter sesuai dengan diameter mata bor
Iwan, dengan kedalaman setinggi mata bor Iwan.
3. Masukkan alat bor ke dalam lubang, lalu putar setang bor
searah jarum jam sambil ditekan.
3|PRAKTEK UJI TANAH
4. Setelah mata bor terisi tanah, keluarkan mata bor dengan
cara tetap diputar searah jarum jam sambil diangkat sedikit
demi sedikit.
5. Catat jenis tanah dan kedalamannya dalam formulir bor log.
6. Lakukan langkah 3 dan 4 sampai tercapai kedalaman yang
diinginkan.
7. Jangan memutar bor berlawanan arah dengan jarum jam
karena dapat mengakibatkan terlepasnya mata bor.

Jenis-jenis mata bor tangan

2.2 PENGAMBILAN SAMPLE TANAH


 Pelaksanaan
Hari/tanggal : Senin, 10 April 2017
Tempat : Belakang kantin teknik mesin PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA
4|PRAKTEK UJI TANAH
 Dasar Teori
Untuk dapat mengetahui sifat fisik dan mekanik dari suatu
tanah, maka perlu dilakukan pengambilan contoh tanah, baik contoh
tanah tidak terganggu (undisturbed) maupun contoh tanah yang
terganggu (disturbed). Contoh tanah yang terganggu diambil tanpa
ada usaha-usaha untuk melindungi struktur asli dari tanah tersebut.
Contoh-contoh ini dibawa ke laboratorium dalam wadah tertutup
sehingga kadar airnya tidak berubah. Jika data tentang kadar air
aslinya tidak dibutuhan, maka contoh-contoh tanah ini dapat
ditempatkan pada wadah yang tidak tertutup. Contoh tanah yang
terganggu ini dipakai untuk melakukan pengujian yang tidak
memerlukan contoh tanah asli (undisturbed), seperti pengujian
ukuran butiran, batas-batas Atterberg, berat jenis, permeabilitas,
pemadatan dan uji CBR.
Contoh tanah tidak terganggu (undisturbed sample) adalah
contoh tanah yang menunjukkan kondisi asli dari tanah tersebut.
Contoh-contoh tanah ini tidak mengalami perubahan struktur, kadar
air atau susunan kimia. Contoh tanah yang benar-benar tidak
terganggu tidak mungkin didapatkan. Namun, dengan metode
pengambilan contoh yang tepat, maka kerusakan pada tanah asli
dapat diminimalkan, sehingga diperoleh suatu contoh tanah dengan
derajat ke-tidak terganggu-an yang tinggi. Contoh tanah tidak
terganggu dapat diambil dengan memakai tabung contoh (samples
tube), atau dengan core barrels.
Terdapat berbagai macam jenis tabung pengambil contoh
tanah. Diantaranya adalah tabung pengambil contoh dengan
pemancangan terbuka, tabung pengambil contoh berdinding tipis
dan tabung pengambil contoh dengan tabung terpisah.
Untuk mengambil contoh tanah, maka tanah dibor terlebih
dahulu, kemudian tabung contoh dimasukkan dan ditekan atau
dipukul kedalam tanah. Derajat kerusakan dari contoh tanah yang
diambil tergantung pada beberapa hal berikut :
1. Keadaan dan ukuran tabung contoh
a. Tebal dinding tabung harus setipis mungkin dan
dinyatakan dengan rasio Ar, yang memenuhi persamaan
Dw2  Dc2
: Ar   10% ; dimana Dw adalah diameter luar
Dc2
tabung dan Dc adalah diameter dalam. Makin rendah
rasio luas, makin rendah tingkat ketergangguan contoh.
b. Permukaan tabung, baik bagian dalam maupun bagian
luar harus licin
c. Ujung pemotong tabung harus cukup tajam dengan
ukuran tertentu dan tidak boleh mengalami kerusakan

5|PRAKTEK UJI TANAH


2. Cara memasukkan tabung kedalam tanah.
Tabung sebaiknya dimasukkan dengan cara ditekan, jangan
dipukul. Namun hal ini hanya bisa dilakukan, bila digunakan bor
mesin.
3. Kondisi lubang bor.
Sebelum tabung contoh dimasukkan, maka tanah sisa
pengeboran pada dasar lubang bor harus benar-benar
dibersihkan, sehingga pada dasar lubang bor benar-benar
diperoleh contoh tanah pada keadaan aslinya.

Tabung pengambil contoh dengan pemancangan terbuka


Tabung pengambil contoh dengan pemancangan terbuka
merupakan tabung baja dengan ulir-ulir sekrup pada setiap
ujungnya. Pada salah satu ujungnya, dipasang sepatu pemotong.
Ujung lainya disekrup pada kepala pengambil contoh yang
kemudian disambung dengan batang-batang bor. Kepala pengambil
contoh dilengkapi dengan katup untuk mengeluarkan udara dan air
pada saat tanah mengisi tabung.
Tabung contoh yang umum dipakai, memiliki diameter
sebesar 100 mm dan panjang 450 mm dengan rasio luas sebesar
30%, yang cocok dipakai untuk tanah lempung. Untuk memperoleh
contoh tanah pasir, digunakan tabung penangkap inti yang
dilengkapi dengan mekanisme alat penutup yang diletakkan diantara
tabung dan sepatu pemotong.

Tabung pengambil contoh tanah


a. Tabung pemancangan terbuka, b. Tabung berdinding tipis, c. Tabung terpisah
(split barrel)

6|PRAKTEK UJI TANAH


Tabung pengambil contoh berdinding tipis
Tabung ini digunakan pada tanah yang peka terhadap
gangguan, seperti lempung lunak sampai keras dan lanau plastis.
Alat ini tidak dilengkapi dengan sepatu pemotong, karena ujung
tabung telah dibentuk menjadi sepatu pemotong. Diameter bagian
dalam berkisar antara 35 – 100 mm dengan rasio luas kira-kira 10%.

Alat pengambil contoh tabung terpisah (split barrel sampler)


Tabung ini berupa tabung yang dapat dipisah pada arah
memanjang menjadi dua bagian. Pada masing-masing ujungnya
dipasang kepala pengambil contoh yang dilengkapi dengan katup
pelepas udara dan sepatu pemotong. Diameter dalam berkisar antara
35 – 50 mm, dengan rasio luas 100%, sehingga menimbulkan
gangguan yang cukup berarti pada contoh tanah. Alat ini digunakan
terutama pada tanah berpasir dan merupakan bagian dari alat uji
penetrasi standar (SPT).

Teknik pengambilan contoh tanah

 Peralatan
 Tabung contoh tanah dan penutupnya.
 Batang bor
 Alat pemukul
 Vaselin
 Pita perekat
 Kertas label
 Spidol tahan air
 Kantong plastic
 Nampan
 Peralatan untuk menggali

7|PRAKTEK UJI TANAH


 Prosedur Pelaksanaan
a. Pengambilan sample tidak terganggu
 Bor tanah sampai kedalaman yang diinstruksikan
 Bersihkan dasar lubang bor sampai benar-benar
didapatkan permukaan tanah asli yang belum
terganggu oleh mata bor.
 Pasang tabung pada ujung batang bor, lalu tekan
sampai tabung terisi penuh dengan tanah.
 Angkat tabung contoh ke permukaan tanah, lalu
lepaskan dari batang bor
 Pasang penutup ujung tabung, beri vaselin yang
telah dicairkan pada ujung penutup tabung, lalu
ditutup dengan pita perekat.
 Tempelkan kertas label pada tabung contoh, catat
identitas contoh tanah di atas label.
 Identitas contoh tanah meliputi : kedalaman
pengambilan dan nomor lubang bor.
 Lakukan langkah 1 – 6 untuk pengambilan contoh
tanah tidak terganggu berikutnya.

b. Pengambilan sample terganggu


Untuk contoh tanah terganggu, ambil tanah dari hasil
pengeboran lalu tempatkan pada nampan dan dicatat
identitasnya pada kertas label.

2.3 UJI PENETRASI STANDAR


 Pelaksanaan
Hari/tanggal : Senin, 10 April 2017
Tempat : Belakang Kantin Teknik Mesin PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA
 Tujuan
Untuk mencapai kedalaman tertentu dari suatu lapisan tanah
dan menentukan tahan ujung dengan metode penetrasi dinamis.
 Peralatan
 Mata bor tipe Iwan
 Linggis
 Batang bor
 Setang bor

8|PRAKTEK UJI TANAH


 Satu set alat uji SPT
 Split spoon sampler
 Prosedur Pelaksanaan
 Pasang mata bor dan setang pada batang bor.
 Buat lubang pada permukaan tanah dengan alat linggis,
dengan diameter sesuai dengan diameter mata bor Iwan,
dengan kedalaman tinggi mata bor Iwan.
 Masukkan alat bor ke dalam lubang, lalu pasang setang bor.
 Putar setang bor searah jarum jam sambil ditekan.
 Setelah mata bor terisi tanah, keluarkan mata bor dengan
cara tetap diputar searah jarum jam sambil diangkata sedikit
demi sedikit. Tanah yang telah dikeluarkan dapat digunakan
sebagai disturb sample.
 Lakukan langkah 4 dan 5 sampai mencapai kedalamam yang
ditetapkan sebagai titik uji.
 Pasang split spoon sampler pada ujung bor.
 Angkat palu setinggi 75 cm lalu jatuhkan.
 Lanjutkan pemukulan sampai spil spoon sampler sedalam 45
cm.
 Catat jumlah pukulan yang diperlukan untuk setiap interval
penetrasi sebesar 15 cm.
 Hentikan pemukulan jika jumlah pukulan untuk mencapai
penetrasi sebesar 15 cm mencapai 50 atau jumlah pukulan
total lebih dari 100.
 Hitung nilai N dengan menjumlahkan pukulan untuk
penetrasi 30 cm terakhir. Jumlah pukulan untuk penetrasi
pertama sebesar 15 tidak dihitung, karena permukaan tanah
telah rusak akibat pemboran.
 Angkat split spoon sampler ke atas, dan ambil contoh tanah
(undisturb sample).
 Lanjut pengeboran untuk uji SPT berikutnya.

9|PRAKTEK UJI TANAH


 Hasil Pengujian
Proyek : Pengujian Tanah I
Lokasi : Taman Belakang PNB
Diuji oleh : II C D3 Teknik Sipil
Tanggal : 10 April 2017
□ = Undisturb sample ( UDS )
= Disturb sample ( DS )
○ = SPT

Depth Penetrasi
Diagram Description Depth
Total
15 15 15
N
(m) (m) I II III

Muka Tanah
0 0
-0.2 -0.2
-0.4 -0.4
-0.6 -0.6
-0.8 -0.8
Lempung warna
-1 cokelat, tektur lunak -1 2 4 5 9
-1.2 -1.2
-1.4 -1.4
-1.6 -1.6
-1.8 -1.8

Lempung warna
-2 cokelat, tektur lunak -2 5 6 9 15
-2.2 -2.2
-2.4 -2.4
-2.6 -2.6
-2.8 -2.8
-3 -3

10 | P R A K T E K U J I T A N A H
Grafik Pengujian SPT
0 10 20 30 40 50 60
0

-1
1

-2
2

-3
3

-4
4

-55

-66

-7
7

-88

-99

10

 KESIMPULAN HASIL PENGUJIAN


Dari data dan grafik diatas kita dapat mengetahui bagaimana
tahanan ujung suatu lapisan tanah berdasarkan dari jumlah pukulan
yang didapat. Pengujian SPT yang dilakukan kelompok 1 terdapat
pada kedalaman 1 meter dan 2,2 meter. Jumlah pukulan berpengaruh
terhadap kepadatan relatif suatu tanah dan sudut geser dalam tanah,
dimana pada tanah 1 meter didapat jumlah N yaitu 9 yang artinya
memiliki kepadatan relatif tanah lepas dan sudut geser dalam yaitu
28,5 – 35. Sedangkan pada kedalaman 2,2 meter didapat jumlah N
15 yang artinya memiliki kepadatan relatif tanah sedang dan sudut
11 | P R A K T E K U J I T A N A H
geser dalam yaitu 30 – 40. Dapat disimpulkan bahwa semakin besar
kedalaman tanah maka kepadatan yang dimiliki semakin besar juga.

2.4 PENGUJIAN SONDIR


 Pelaksanaan
Hari/tanggal : Senin, 10 April 2017
Tempat : Belakang kantin teknik mesin PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA
 Tujuan
 Untuk menentukan tahanan ujung/perlawanan penetrasi
konus dan hambatan lekat suatu hambatan tanah.
 Untuk mengetahui karakteristik fisik tanah dan kedalaman
yang sesuai untuk pelaksanaan teknis perencanaan pondasi
bangunan sipil yang akan didirikan di daerah rencana proyek
tersebut.
 Untuk mengevaluasi pembangunan gedung atau bangunan
lain untuk mengetahui gambaran mengenai susunan tanah,
sifat fisik, besarnya daya dukung tanah di lokasi rencana
proyek.

 Dasar Teori
Alat sondir merupakan penetrometer statis yang dipakai
secara luas di Indonesia. Alat ini berasal dari negeri Belanda dan
dikenal dengan sebutan Dutch-cone Penetrometer Test. Prinsip kerja
dari alat ini adalah menekan ujung penetrometer (konus) kebawah
dengan mesin penekan yang dijangkarkan pada tanah, lalu mencatat
nilai perlawanan penetrasi konus dan hambatan lekat tanah.
Perlawanan penetrasi konus adalah perlawanan tanah terhadap
ujung konus yang dinyatakan dalam gaya per satuan luas. Hambatan
lekat adalah perlawanan geser tanah terhadap selubung bikonus
dalam satuan gaya per satuan panjang. Ada dua macam ujung
penetrometer yang biasa dipakai, yaitu konus (standard type) dan
bikonus (friction sleeve atau adhesion jacket type). Konus ini
berupa kerucut dengan sudut 60% dengan luas penampang 10 cm2,
yang dipasang pada suatu rangkaian batang dalam dan pipa sondir.
Pada tipe standar, hasil pengukuran berupa perlawanan penetrasi

12 | P R A K T E K U J I T A N A H
konus saja (nilai konus). Hal ini didapatkan dengan cara menekan
hanya pada batang dalam saja. Gaya yang diperlukan untuk
menekan ujung konus diukur dengan alat pengukur tekanan yang
dipasang pada mesin penekan. Pengukuran dilakukan pada
kedalaman-kedalaman tertentu yang telah ditetapkan dan biasanya
dilakukan untuk setiap kedalaman 20 cm. Setelah pengukuran pada
suatu kedalaman dilakukan, maka pipa sondir ditekan sampai pada
kedalaman berikutnya, kemudian pengukuran selanjutnya dilakukan
dengan menekan batang dalam, dan gaya yang diperlukan diukur
dengan membaca alat pengukur tekanan.
Pada tipe bikonus, hasil pengukuran yang didapatkan adalah
nilai konus dan hambatan lekat, yang dilakukan dengan cara
menekan batang dalam. Pada awalnya, penekanan batang dalam
hanya menyebabkan masuknya ujung konus, sehingga dengan
demikian hanya nilai konus yang diukur. Setelah konus ditekan
sedalam 4 cm, maka penekanan selanjutnya akan menyebabkan
tertekannya konus dan selubung lekatan (friction sleeve) secara
bersama-sama, sedalam 4 cm. Jadi nilai yang terbaca pada alat
pengukur tekanan adalah jumlah dari nilai konus dan hambatan
lekat. Nilai hambatan lekat didapatkan dengan mengurangkan nilai
konus dari jumlah nilai konus dan hambatan lekat. Untuk
mendapatkan pembacaan berikutnya, pipa sondir ditekan, sehingga
konus, batang dalam dan selubung lekatan akan tertekan secara
bersamaan. Selanjutnya batang dalam ditekan, dan prosesnya
berulang seperti yang telah dijelaskan di atas.

13 | P R A K T E K U J I T A N A H
(a) (b)
a. Skema alat sondir b. Dimensi alat sondir

Ada dua jenis mesin penekan, yaitu tipe ringan dan tipe
berat. Tipe ringan dapat mengukur tekanan sampai 150 kg/cm2,
sedangkan tipe berat dapat mengukur sampai 400 kg/cm2.
Kedalaman penetrasi dapat mencapai 30 m bila lapisan tanahnya
berupa lapisan tanah lunak.
Nilai perlawanan penetrasi konus yang didapat dari hasil
pengujian sondir ini tidak secara langsung menunjukkan nilai daya
dukung tanah yang bersangkutan. Nilai konus merupakan suatu
angka empiris, yang harus dianalisa terlebuh dahulu untuk dapat
dipakai sebagai dasar perhitungan daya dukung tanah.

(a) (b) (c)


a. Konus b. Bikonus c. Dimensi bikonus

 Peralatan
 Mesin penekan/sondir ringan (2 ton) atau sondir berat (10 ton).

14 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Seperangkat pipa sondir lengkap dengan batang dalam sesuai
kebutuan,dengan panjang masing-masing 1 meter.
 Alat pembaca tekanan/Manometer masing-masing 2 buah
dengan kapasitas:
a. Sondir ringan 0-50 kg/cm2 dan 0-250 kg/cm2
b. Sondir berat 0-50 kg/cm2 dan 0-600 kg/cm2
 Konus dan Bikonus
 4 buah angker
 Kunci-kunci pipa, alat pembersih, oli, minyak hidrolik dan
lain-lain

 Prosedur Pelaksanaan
 Pasang angker pada titik yang telah ditenkan.
 Letakan kaki angker pada penekan pada angker kemudian di
klem yang kuat, sehingga kedudukan mesin sondir benar-benar
kokoh.
 Pastikan posisi mesin penekan benar-benar tegak.
 Periksa oli hidrolisnya, jika kurang tambahkan oli dan jangan
sampai ada udara yang terperangkap.
 Pasang alat pengukur tekanan, dan buka keran oli.
 Pasang konus/bikonus pada ujung batang pipa sondir, dan
pastikan batang dalam berada di dalamnya.
 Pasang ujung atas batang pipa sondir pada kepala plunyer, lalu
mesin penekan diputar dengan kecepatan 20 mm/detik.
 Setelah mencapai penetrasi 20 cm, hubungkan setang dalam
dengan pluyer, putar mesin penekan sambil membaca alat
pengukur tekanan (dial gauge). Perhatikan gerakan jarum alat
pengukur tekanan. Yang pertama kali terbaca adalah nilai
tahanan ujung (nilai konus), pembacaan kedua adalah
pembacaan jumlah tanah konus dengan hambatan pelekat. Catat
kedua hasil pembacaan ini pada formulir pengujian.
 Lepaskan setang dalam dari pluyer, lalu tekan selubung luar
sampai mencapai penetrasi sebesar 20 cm berikutnya.
 Hubungkan kembali setang dalam dengan pluyer, putar mesin
penekan dan baca dial gauge seperti pada langkah nomer 8.
 Ulangi prosedur 7-10 untuk setiap kedalaman penetrasi sebesar
20 cm, sampai dial gauge menunjukan bacaan 250 kg/cm2.

15 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Hasil Pengujian

DATA HASIL PENGUKURAN SONDIR

Nilai
Jumlah Perlawanan
Conus Rata-Rata Perlawanan Hambatan Hambatan Hambatan
Tw
H Conus Gesek Setempat Pelekat Komulatif
Cw
(TAHANAN UJUNG +
(TAHANAN qc Kw Lcf Lcf x 20 Tf
LEKATAN)
UJUNG)

(m) (Kg/ m2) (Kg/ m2) (Kg/ m2) (Kg/ m2) (Kg/ m2) (Kg/ m) (Kg/ m)

1 2 3 4 5 = 4-2 6 = 5:10 7 = 6x20 8

0 0 0 0 0 0 0

0.2 2.5 5 2.5 0.25 5 5

0.4 8 9 1 0.1 2 7

0.6 8 20 12 1.2 24 31

0.8 12 21 9 0.9 18 49

1 15 7.58 40 25 2.5 50 99

1.2 20 60 40 4 80 179

1.4 25 80 55 5.5 110 289

1.6 25 105 80 8 160 449

1.8 20 105 85 8.5 170 619

2 30 150 120 12 240 859

2.2 35 25.83 180 145 14.5 290 1149

16 | P R A K T E K U J I T A N A H
GRAFIK SONDIR

Nilai Konus ( kg/cm2)


0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 800 850 900 950 1000 1050 1100 1150 1200
0

17 | P R A K T E K U J I T A N A H
2

Kedalaman ( m )

3
GRAFIK PENGUKURAN SONDIR

Nilai Konus Cw
5
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 550 600 650 700 750 800 850 900 950 1000 1050 1100 1150 1200
Hambatan Kumulatip ( kg/cm)
 Kesimpulan Dari Pengukuran Sondir
Berdasarkan dari hasil sondir yang telah dilaksanakan,
diperoleh bahwa tanah lempung pada kedalaman -2,20 meter dari
permukaan tanah. Jumlah hambatan konus pada kedalaman tersebut
adalah 35 kg/m2 dengan jumlah hambatan pelekat yaitu 290 kg/m
serta hambatan setempat yaitu 14,5 kg/m.

2.5 BERAT ISI / BERAT VOLUME


 Pelaksanaan
Hari/tanggal : Selasa, 11 April 2017
Tempat : Laboratorium Uji Tanah PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA
 Tujuan
 Dapat menetukan berat isi massa tanah pada suatu contoh
tanah yang tidak terganggu (Undisturb sample) maupun
tanah yang terganggu (Disturb sample).
 Dapat melakukan pengujian berat isi, menjelaskan
pengertian berat isi.
 Mampu menjelaskan prosedur pengujian berat isi dengan
benar.
 Dasar Teori
Berat isi adalah perbandingan antara berat suatu tanah dengan
isinya. Berat isi juga merupakan ukuran kepadatan suatu masa tanah.
Untuk suatu besar volume tertentu, berat isi yang semakin besar,
menunjukkan kepadatan yang makin besar.
Perhitungan berat isi :
Berat _ tan ah W2  W1
 
Volume _ cincin 1 2
d t
4
dimana :
 = Berat isi tanah (gr/cm3)
W1 = Berat isi silinder (cincin) gram
W2 = Berat isi contoh tanah + cincin (gram)

18 | P R A K T E K U J I T A N A H
d = diameter cincin (cm)
t = tinggi cincin silinder (cm)

Catatan : Nilai rata-rata berat isi berkisar antara 1,6 – 2 gr/cm3

 Peralatan
 Cincin silinder atau cetakan untuk uji proctor
 Pisau
 Timbangan
 Ekstruder
 Benda uji : tanah pada kedalaman tertentu yang diambil
dengan tabung benda uji, yaitu pada kedalaman 1 m dan 2
m.

 Prosedur Pelaksanaan
 Ukur tinggi dan diameter masing – masing cincin.
 Timbang berat cincin 1 (W1) untuk kedalaman 1 meter,
dengan contoh 3 buah cincin.
 Olesi cincin bagian dalam dengan pelumas.
 Dengan menggunakan ekstruder, contoh tanah dimasukkan
kedalam cincin silinder.
 Ratakan kedua permukaan dengan pisau
 Timbang ketiga cincin beserta contoh tanah (W2), untuk
kedalaman 1 meter.
 Lakukan langkah tersebut untuk cincin ke-2 untuk
kedalaman 2 meter, dengan contoh 3 buah cincin yang telah
ditimbang sebelumnya.
 Masukkan data kedalam form yang telah dibuat.

19 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Hasil Pengujian

Data Hasil Pengujian Berat Isi/Volume Kedalaman 0,5 m

Bor. 1
Keterang
No . an
I II III
1 Volume ring 62.78 61.20 62.41
Berat mould
2 W1 (gr) 82.02 79.91 84.91
Berat mould + sampel
3 W2 (gr) 195.21 188.60 193.52
Berat sampel W2 -
4 W1 (gr) 113.19 108.69 108.61
Berat Isi
5 (gr/cm3) 1.803 1.776 1.740
Berat Isi rata-rata
6 (gr/cm3) 1.773

 Kesimpulan Dari Pengujian Berat Isi


Berat isi rata-rata yang didapat dari hasil pengujian yaitu 1,773
gr/cm3. Dimana nilai rata-rata berat isi harus berkisar Antara 1,6 –
2 gr/cm3, jadi hasil berat isi rata-rata yang didapat sesuai dengan
ketentuan.

2.6 PENGUJIAN KADAR AIR


 Pelaksanaan
Hari/tanggal : Selasa, 11 April 2017
Tempat : Laboratorium Uji Tanah PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA
 Tujuan
Untuk menentukan kadar air yang terdapat dalam suatu masa tanah
 Dasar Teori
Sebagaian besar dari kegiatan pengujian tanah memerlukan
data tentang kadar ataujumah air yang terkandung dalam suatu masa
20 | P R A K T E K U J I T A N A H
tanah. Kadar air adalah perbandingan antara berat air dengan berat
kering tanah, dinyatakan dalam persen. Di alam, tanah berpasih atau
tanah berbatu mempunyai kadar air antara 15% sampai 20%. Tanah
dengan butiran halus (lempung dan lanau) dapat mempunyai kadar
air yang besarnya mencapai 80% sampai 100%. Tanah gambut atau
tanah organik dapat mempunyai kadar air sampai 500%.
 Peralatan
 Oven (isi pengaturan suhu)
 Timbangan
 Container
 Desikator
 Benda Uji : Untuk hasil pengujian yang lebih baik, berat
dan ukuran minimum dari contoh benda uji yang akan
diperiksa kadar airnya, adalah seperti pada table dibawah
ini:

Ukuran benda uji untuk pengujian kadar air


Ukuran butir terbesar Berat minimum
( mm ) Benda uji (gr)

2” (50,8 mm) 1000 – 1200


½” (12,7 mm) 300 – 500
4,75 mm ( Ayakan No. 4) 100 – 150
0,42 mm (Ayakan No. 40) 10 – 40

 Prosedur Pelaksanaan
 Catat nomor container
 Timbang masing-masing container (W1)
 Masukkan tanah basah kedalam container, timbang
container dan contoh tanah basah (W2).
 Container dan contoh tanah basah kedalam oven,
kecincinkan sampai mencapai berat konstan. Suhu oven
diatur pada nilai 105 – 110oC. Hindari panas oven yang
lebih tinggi, karena dapat menyebabkan terbakarnya unsur-
unsur organik yang terdapat dalam tanah atau berubahnya
komposisi mineral dari butiran tanah. Catat berat container
dan tanah yang beratnya sudah konstan tadi (W3). Bila tak
sempat ditimbang langsung, maka contoh dapat
didinginkan dalam desikator.

21 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Perhitungan
W2 − W3
𝜔 (%) = (100)
W3 − W1
Dimana :
ω = Kadar air
Ww = Berat air
W1 = Berat container
W2 = Berat container +berat contoh tanah basah
W3 = Berat container + contoh tanah kecincin
Catatan :
Kemungkinan-kemungkinan kesalahan yang dapat terjadi :
 Contoh tanah tidak mewakili, contoh untuk mengetahui
kadar air tanah lempung berkerikil, maka contoh tanah yang
diambil harus mewakili lempung dan kerikil yang
terkandung dalam tanah.
 Contoh tanah yang terlalu sedikit sehingga ketelitian kurang.
 Kemungkinan kehilangan air sebelum menimbang, oleh
karena itu contoh tanah basah harus secepatnya ditimbang
setelah diambil.
 Ketidaktelitian suhu oven
 Contoh ditimbang sebelum berat keringnya tetap.
 Penyerapan air oleh tanah yang sudah dioven sebelum
ditimbang.
 Menimbang contoh tanah dalam keadaan masih panas
karena dapat mempengaruhi kepekaan timbangan.
 Berat container yang tidak benar.
 Hasil Pengujian
Data Pengujian Kadar Air

Bor. 1
Df = 0.5
No. No. Keterangan m
1 2
1 1 Berat container Wc (gr) 10.50 10.31
2 2 Berat cont + sampel basah W1 (gr) 37.60 36.01
3 3 Berat cont + sampel kering W2 (gr) 30.55 29.31
4 4 Berat air W1-W2 (gr) 7.05 6.70
5 5 Berat sampel kering W2-Wc (gr) 20.05 19.00
Kadar air w = 4/5 x 100
6 6 % 35% 35%
7 7 w Rata-rata (%) 35%

22 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Kesimpulan Pengujian Kadar Air
Jadi, kadar air rata-rata yang didapat setelah pengujian yaitu 35%.
Dimana kadar air tersebut cukup besar untuk tanah berpasir atau
berbatu, namun kadar air tersebut juga cukup kecil untuk tanah
berbutir halus (lempung dan lanau). Maka dapat disimpulkan bahwa
tanah yang diuji merupakan campuran antara tanah berpasir dan
tanah berbutir halus.
2.7 UJI TEKAN LANGSUNG
 Pelaksanaan
Hari/tanggal : Rabu, 12 April 2017
Tempat : Laboratorium Uji Tanah PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA
 Tujuan
Menentukan besarnya kuat tekan bebas dari tanah yang kohesif
dalam keadaan asli maupun buatan/ remoulded
 Dasar Teori
Kuat tekan bebas adalah besarnya gaya aksial per satuan luas
pada saat benda uji mengalami keruntuhan atau pada saat
peregangan mencapai 20%. Kuat tekan bebas ditentukan dengan
cara menekan contoh tanah yang terjadi untuk kuat tekan yang
bersesuaian. Kuat tekan pada saat tanah mengalami keruntuhan
disebut dengan kuat tekan tidak terkekang Qu. Untuk tanah lempung
jenuh nilai Qu nya akan menurun dengsn meningkatkanya kadar air
dalam tanah. Untuk tanah tidak jenuh, untuk berat isinya yang sama
nilai qu menurun dengan meningkatnya derajat kejenuhan. UCT
merupakan metode untuk mengetahui nilai cu suatu tanah dengan
cepat. Hubungan antara cu dengan kuat tekan tidak terkekang suatu
masa tanah ditentukan oleh persamaan :
qu
cu 
2
dimana :
qu = kuat tekan bebas tidak terkekang (unconfined compression
strength)
cu = nilai kohesi tak terdrainase (undrained cohesion)

23 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Peralatan
o Mesin tekan bebas ( unconfined compression machine)
o Ekstruder
o Cetakan benda uji berbentuk silinder dengan tinggi 2 kali
diameter
o Trimmer ( pisau kawat)
o Pisau tipis dan tajam
o Timbangan dengan ketelitian 0,1 gr
o Jangka sorong
o Stopwatch
o Oven
o Cawan penguapan ( evaporating dish)

 Persiapan Benda Uji


 Benda uji yang digunakan berbentuk silinder
 Diameter benda uji minimal 3,3 cm dengan tinggi 2 kali
diameter
 Untuk benda uji dengan diameter 3,3 cm ,besar butir
maksimum dari benda uji adalah <0,1 dari diameter benda
uji
 Persiapan benda uji asli :
1. Pasang alat benda uji didepan tabung
2. Alat cetak yang sudah berisi tanah didirikan dengan
ujung yang sudah di bentuk, ujung yang belum rata,
diratakan dengan pisau.
3. Keluarkan benda uji dari cetakan.
 Persiapan benda uji buatan
 Benda uji buatan dapat disisipkan dari benda uji bekas
 Dalam hal menggunakan benda uji bekas, tanah dimasukkan
dalam kantong plastik, kemudian diremas sampai rata.
 Apabila menggunakan tanah terganggu yang baru, benda uji
dapat disiapkan dengan kadar air dan kepadatan yang
ditentukan. Jika dikehendaki, benda uji tersebut dapat
dijenuhkan terlebih dahulu sebelum diperiksa dan dicatat
dalam laporan.
 Prosedur Pelaksanaan
 Pemeriksaan kuat tekan dilakukan dengan metode
mengontrol regangan (constant strain rate)
 Timbang benda uji dengan ketelitian 0,1 grm. Letakkan
benda uji pada mesin tekan bebas secara tepat pada posisi

24 | P R A K T E K U J I T A N A H
sumbu alat. Posisi mesin diatur sehingga permukaan benda
uji menyentuh plat atas
 Atur jarum arloji tegangan pada angka nol. Atur pula
kedudukan jarum arloji regangan sehingga menunjukkan
angka nol
 Pembacaan beban dilakukan pada regangan: 0,5%, 1%, 2%,
dan seterusnya dengan kecepatan 0,5 – 2 % per menit
 Perlukan dilakukan terus sampai benda uji mengalami
keruntuhan yang ditandai dengan makin kecilnya beban
meskipun regangan semakin besar
 Jika regangan telah mencapai 20% tetapi benda uji belum
runtuh, maka pekerjaan dihentikan
 Perhitungan

Besarnya regangan aksial dihitung dengan rumus :


L
e
Lo
dimana :
e = Regangan aksial (%).
∆L = Perubahan benda uji (cm)
Lo = Panjang benda uji semula.(cm)

Luas penampang benda uji:


Ao
A
1 e
Dimana :
A = luas penampang benda uji semula

Besar tegangan normal


P
  (kg / cm 2
A
Dimana :
P = n x B (kg/cm2)
n = pembacaan arloji tegangan
B = angka kalibrasi dari cincin penguji (proving ring).
25 | P R A K T E K U J I T A N A H
CATATAN :
o Untuk tanah yang getas kecepatan regangan diambil < 1 %
per menit.
o Besar sensitifitas suatu jenis tanah dapat dihitung dengan
rumus:

qu
st 
qu '
Dimana :
st=sensitifitas
qu = kuat tekan benda uji
qu’ = kuat tekan benda uji buatan dengan berat isi yang sama
dengan benda uji asli

 Hasil Pengujian

Data Pengujian Uji Tekan Bebas/UCT

Sampel :

BERAT ISI

Diameter sampel : 6.66 cm

Tinggi Sampel : 14.205 cm

Luas mula-mula : 34.81 cm2

Isi/Volume sampel : 494.6 cm3

Berat Sampel : 820 gr

Berat Isi : 1.658 gr/cm3

26 | P R A K T E K U J I T A N A H
KADAR AIR

Berat container : 10.50 gr

Berat Sampel + cont :

37.60 gr

Sampel oven + cont :

30.55 gr

Berat Air :

7.05 gr

Berat Sampel kering :

20.05 gr

Kadar Air w :

35 %

27 | P R A K T E K U J I T A N A H
Luas Tampang
Pemendekan Tanah Basah Beban Tekanan

Beban P/A
Luas
Waktu Pembacaan dikoreksi P ( kg )
Regangan L = a x 10- koreksi
Dial 3 (cm)
A= A/(1- Pembacaan (kg/cm2
e = L/L0 (%) 1-e
(0.01mm) e) ( cm2 Dial )
)

0 0 0 0 0 0 0 0 0

1 0.5 71 0.07 0.995 34.98 9 13.3 0.38

2 1 142 0.14 0.99 35.16 13 19.2 0.55

3 2 284 0.28 0.98 35.52 20 29.5 0.83

4 3 426 0.43 0.97 35.89 25 36.9 1.03

5 4 568 0.57 0.96 36.26 29 42.8 1.18

6 5 710 0.71 0.95 36.64 30.5 45.0 1.23

7 6 852 0.85 0.94 37.03 37 54.6 1.47

8 7 994 0.99 0.93 37.43 40 59.0 1.58

9 8 1136 1.14 0.92 37.84 43 63.4 1.68

10 9 1278 1.28 0.91 38.25 46 67.9 1.77

11 10 1421 1.42 0.9 38.68 48.5 71.5 1.85

12 11 1563 1.56 0.89 39.11 51 75.2 1.92

13 12 1705 1.70 0.88 39.56 53.5 78.9 1.99

14 13 1847 1.85 0.87 40.01 56 82.6 2.06

15 14 1989 1.99 0.86 40.48 58 85.6 2.11

16 15 2131 2.13 0.85 40.95 60 88.5 2.16

17 16 2273 2.27 0.84 41.44 63 92.9 2.24

18 17 2415 2.41 0.83 41.94 64.5 95.1 2.27

19 18 2557 2.56 0.82 42.45 66 97.4 2.29

20 19 2699 2.70 0.81 42.98 68.5 101.0 2.35

21 20 2841 2.84 0.80 43.51 70 103.3 2.37

Catatan
:

Kali
brasi Proving ring 1 Div = 1.475 Kg

28 | P R A K T E K U J I T A N A H
Grafik Uji Tekan Bebas

2.5
2.4
2.3
2.2
2.1
TEGANGAN Kg/cm2

2
1.9
1.8
1.7
1.6
1.5
1.4
1.3
1.2
1.1
1
qu = 2.37kg/cm2
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

REGANGAN e %

29 | P R A K T E K U J I T A N A H
Sudut Runtuh 

60.0 derajat

Sudut Geser 

(  - 45 ).2 30.00 derajat

Kuat Tekan qu

2.370 kg/cm2

Kohesi C

qu/(2.tg.   1.135 kg/cm2

 Hasil Pengujian
Dari hasil pengujian nilai kuat tekan bebas atau qu sampel
undisturbed adalah sebesar 2,37 kg/cm2. Nilai kohesi tanah
lempung, yaitu c, adalah sebesar 1,135 kg/cm2.

2.8 UJI GESER LANGSUNG


 Pelaksanaan
Hari/tanggal : Rabu, 12 April 2017
Tempat : Laboratorium Uji Tanah PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA
 Tujuan
o Menentukan prosedur untuk melakukan uji kuat geser suatu
tanah dengan metode uji geser langsung (Direct Shear)
o Mengetahui kekuatan tanah terhadap gaya horizontal,
dengan menentukan harga kohesu (c) dari sudut geser dari
suatu contoh tanah pada bidang geser tertentu
o Menganilis masalah stabilitas tanah (stabilitas talud, tekanan
tanah ke samping pada turap atau tembok penahan)
 Dasar Teori
Pengetahuan tentang kuat geser diperlukan untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan
stabilitas masa tanah. Bila suatu titik pada sembarang bidang dari
suatu masa tanah mengalami tegangan geser yang sama dengan kuat
gesernya, maka akan terjadi keruntuhan pada titik tersebut. Menurut

30 | P R A K T E K U J I T A N A H
Mohr, keruntuhan yang terjadi pada suatu material adalah akibat
kombinasi kritis antara tegangan normal dan geser, bukan hanya
akibat tegangan normal maksimum atau tegangan geser maksimum
saja. Dalam persamaan matematis, dapat dinyatakan bahwa
tegangan geser merupakan fungsi tegangan normal, atau :  f  f ( )

, yang merupakan persamaan garis lengkung. Untuk sebagian besar


masalah mekanika tanah, menurut Coulomb ( 1776 ) garis lengkung
tersebut dapat didekati dengan persamaan garis lurus yaitu :

 f  c   f tan  .................( 10.1 )

dimana c dan Ø merupakan parameter-parameter kekuatan geser,


yang berturut-turut didefinisikan sebagai kohesi dan sudut geser
dalam. Persamaan diatas dikenal dengan kriteria keruntuhan Mohr-
Coulomb.
Menurut Terzaghi, tegangan geser pada suatu tanah hanya dapat
ditahan oleh partikel padatnya. Dengan demikian, kekuatan geser
dapat juga dinyatakan sebagai fungsi dari tegangan normal efektif
yaitu :

 f  c ,   ,f tan  , .................( 10.2 )

dimana c’ dan Ø’ merupakan parameter-parameter kekuatan geser


pada tegangan efektif. Disamping itu, kekuatan geser pada keadaan
runtuh juga dapat dinyatakan dalam tegangan utama besar σ’1 dan
tegangan utama kecil σ’3. Garis yang dihasilkan oleh pers. (10.2)
merupakan garis singgung pada lingkaran Mohr, seperti
diperlihatkan pada gambar10.1.

31 | P R A K T E K U J I T A N A H
Gambar 10.1 Kondisi tegangan pada saat keruntuhan

Koordinat titik singgungnya adalah  f dan  ,f , dimana :

1 ,
f  ( 1   3, ) sin 2 .................(10.3 )
2

1 , 1
 ,f  ( 1   3, )  ( 1,   3, ) cos 2 .................(10.4 )
2 2

dan  adalah sudut teoritis antara bidang utama besar dengan bidang
,
runtuh, yang besarnya adalah 45 o  .
2
Berdasarkan gambar 9.1 kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb
akhirnya dapat dinyatakan sebagai :

, ,
 1,   3, tan 2 (45 o  )  2c , tan(45 o  ) .................(10.5 )
2 2

Persamaan 9.5 menyatakan bahwa, jika sejumlah keadaan tegangan


diketahui, dimana masing-masing menghasilkan keruntuhan geser
pada tanah, maka dapat digambarkan garis singgung pada lingkaran-
lingkaran Mohr yang terbentuk. Garis singgung ini disebut dengan
selubung keruntuhan. Kriteria keruntuhan Mohr-Coulomb tidak
32 | P R A K T E K U J I T A N A H
mempertimbangkan regangan pada saat atau sebelum terjadi
keruntuhan dan secara tidak langsung menyatakan bahwa tegangan
utama menengah efektif σ’2 tidak mempengaruhi kuat geser tanah.
Harga parameter-parameter kekuatan geser dapat ditentukan melalui
percobaan laboratorium, yaitu uji geser langsung dan uji triaksial.

 Peralatan & Bahan


 Alat geser langsung terdiri dari :
- Setang penekan dan pemberi beban
- Alat penggesare lengkap dengan cincin penguji (proving
ring) dan dua buah dial (arloji) geser (extensiometer)
- Cincin pemeriksaan yang terbagi dua dengan
penguncinya terletak dalam kotak
- Bebena-beban
- Dua buah batu pori
 Ekstruder
 Pisau pemotong
 Cincin cetak benda uji
 Timbangan dengan ketelitian 0,1 grm
 Oven temperature 110 +/- 5oC.
 Tanah
 Prosedur Pelaksanaan
a. Timbang benda uji menggunakan timbangan
b. Masukkan benda uji kedalam cincin pemeriksaan yang telah
terkunci menjadi satu dan pasanlah batu pori padabagian
atasdan bawah bawah benda uji
c. Setang penekan dipasang vertical utuk memberi beban
normal pada benda uji dan diatur sehingga beban yang
diterima oleh benda uji sama dengan beban yang diberikan
pada setang tersbut

33 | P R A K T E K U J I T A N A H
d. Penggeseran benda uji dipasang pada arah mendatar untuk
memberi beban mendatar pada bagian atas cincin
pemeriksaan
e. Berikan beban normal pertama sesuai dengan beban yang
diperlukan. Segera setelah pembebanan pertama diberikan
isilah kotak cincin pemeriksaan dengan air sampai penuh
diatas permukaan benda uji, jagalah permukaan air supaya
tetap selama pemriksaan
f. Diamkan benda uji sehingga konsolidasi selesai. Catat
proses konsolidasi tersebut pada waktu-waktu ter tententu
sesui cara pemeriksaan konsolidasi
g. Seusai konsolidasi hitung t50 untuk menentukan kecepatan
penggeseran. Konsolidasi dibuat dalam tiga beban yang
diperlukan kecepatan penggeseran dapat ditentukan dengan
membagi deformasi geser maksimum dengan t50.
Deformasi geser maksimum kira-kira 10% diameter asli
benda uji
h. Lakukan pemeriksaan sehingga tekanan geser konstan dan
bacalah arloji geser setiap15 detik
i. Berikan beban normal pada benda uji ke dua sebesar dua kali
beban normal yang pertama dan lakukan langkah langkah
(6), (7), dan (8)
j. Berikan beban normal pada benda uji ketiga sebesar 3 kali
beban normal pertama dan lakukan langkah langkah (6),(7),
dan (8)
k. Hentikan hitungan jika angka sama secara berurutan 3 kali
atau jika angka menurun

34 | P R A K T E K U J I T A N A H
Skema alat uji geser langsung

 Perhitungan

Hitunglah gaya geser  dengan jalan mengalikan pembacaan


arloji geser dengan angka kalibrasi cincin penguji (proving ring) dan
hitunglah tegangan geser maksimum  . Yaitu gaya geser
maksimum dibagi luas di bidang geser

Pmax

A

 = tegangan geser maksimum ( kg / cm 2 )


Pmax = gaya geser maksimum (kg)

A = luas bidang geser benda uji

35 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Hasil Perhitungan

DIRECT SHEAR TEST

Project : Pengujian Tanah I


Location : Politeknik Negeri Bali
Lab. : Lab. Pengujian Tanah Politeknik Negeri Bali
Date : Selasa, 11 April 2017
Tested by : Kelompok 1 proving calibration = 0.6
Wide of sample = 31.621 cm2
Depth of sampling : 0.5 m
Normal P1 = 8 kg P2 = 16 kg P3 = 24 kg
Strength = 0,252 kg/cm2  = 0,505kg/cm2  3 = 0,758kg/cm2

division Dial Shear Shear Dial Shear Shear Dial Shear Shear
0.01 mm Reading force strength Reading force strength Reading force strength
(kg ) (kg/cm2) (kg ) (kg/cm2) (kg ) (kg/cm2)
25 1  2  1 
50 2 5 2
75 4 8 4
100 5 10 8
125 6 12 12
150 8 13 14
175 10 16 17
200 12 17 19
225 13 18 22
250 15 21 25
275 16 23 27
300 17 24 28
325 18 25 30
350 19 26 31
375 20 27 33
400 21 28 34
425 21 29 35
450 22 29 36
475 22 30 36
500 23 13.8 0.436 30 37
525 23 31 18.6 0.588 38
550 23 31 38
575 31 39
600 39
625 40 24 0.759
650 40
675 40
36 | P R A K T E K U J I T A N A H
1.00

0.90

0.80
y = 0.6383x + 0.272
0.70
(kg/cm2)

0.60

0.50

0.40 

0.30
C
0.20

0.10

0.00
0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
(kg/cm2)

Cohession ( C ) = 0.272 (kg/cm2)


Angle of friction ( ) = 32o33'0,32"

 Kesimpulan Dari Uji Geser Langsung


Kesimpulan yang didapat dari uji geser langsung yaitu
semakin besar tegangan normal bekerja, semakin besar pula
tegangan geser yang terjadi. Dari grafik tegangan normal dan
tegangan geser berupa garis linier didapat nilai Kohesi c = 0,272
diambil dari titik pada sumbu y (tegangan geser) yang dipotong oleh
garis lurus tersebut. Sedangkan nilai sudut geser diambil dari
besarnya sudut garis lurus tersebut dari sumbu x, yaitu adalah
32o33'0,32".

37 | P R A K T E K U J I T A N A H
2.9 BERAT JENIS
 Pelaksanaan
Hari/tanggal : Kamis, 12-13 April 2017
Tempat : Laboratorium Uji Tanah PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA
 Tujuan
o Untuk menentukan berat jenis suatu tanah
o Mahasiswa dapat mengetahui dan menemukan berat jenis suatu
tanah
 Dasar Teori
Berat Jenis adalah perbandingan antara berat isi suatu
material dengan berat isi air. Berat jenis dapat dihitung melalui
perbandingan antara berat suatu material dengan berat air dengan
volume yang sama.
W /V
Gs  s
Ww / V
Dalam mencari berat jenis suatu tanah, ada satu masalah
yang kita temui yaiu menentukan volume berat dari benda yang kita
uji. Volume dari suatu masa tanah dengan berat tertentu, dapat dicari
dengan memakai suatu wadah (container) yang telah diketahui
volumenya. Wadah yang biasanya dipakai untuk mengukur berat
jenis suatu tanah adalah labu volumetrik (volumetric flask) yang
dapat menampung air dengan volume tertentu.
 Peralatan
i. Piknometer 50 ml + penutup atau labu volumetrik dengan
volume 500 ml
ii. Timbangan
iii. Termometer
iv. Desikator
v. Mangkok evaporator (evaporator disk)
vi. Plastic squeeze bottle
vii. Panci pemanas
viii. Oven pengering dengan pengatur suhu
ix. Pompa hampa udara (vacuum pump) atau tungku pemanas
(hot plate)
x. Mesin pengaduk (mixer)
xi. Air suling, air keran, minyak tanah

38 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Prosedur Pelaksanaan
Mencari berat jenis suatu benda dapat di lakukan dengan
benda uji yang sudah di tentukan, Disini benda uji yang di jadikan
sample adalah tanah yang lolos saringan No. 10 sebanyak 100 –
120gr. Berikut ini adalah cara mencari berat jenis suatu tanah :

 Timbanglah terlebih dahulu labu volumetrik dan pikno meter


+ penutup dalam keadaan kosong dan catatlah beratnya (W1)
 Timbanglah juga mangkok evaporator dalam keadaan
kosong
 Siapkan 50 gram contoh tanah yang lolos ayakan 2 mm.
Keringkan tanah dalam oven, setelah dingin masukkan
kedalam piknometer 5-10 gram. Timbang piknometer +
tanah (W2)
 Tambahkan air suling kedalam piknometer sehingga tanah
terendam air.
 Untuk mengeluarkan udara yang terperangkap, masukkan
picnometer tanpa tutup kedalam panci berisi air lalu
dipanaskan diatas hot plate. Hati-hati, pada saat air didalam
piknometer mendidih, jangan sampai ada tanah yang keluar.
Udara yang terperangkap juga dapat dikeluarkan dengan
pompa vacuum. Hanya saja piknometer harus diganti dengan
labu volumetrik. Proses ini dilakukan sampai tidak ada
gelembung-gelembung udara yang keluar dari tanah.
 Setelah dipanaskan, piknometer didinginkan dalam desikator
sampai mencapai suhu ruang, kemudian tambahkan air
suling kedalam picnometer sampai penuh tepat dibawah
tutup botol. Bila masih ada udara terperangkap dibawah
tutup botol, maka tambahkan kembali air suling sampai tidak
ada udara dibawah tutup botol.
 Keringkan bagian luar botol, timbang botol + tanah + air
penuh tadi. (W3).
 Cuci picnometer sampai bersih dan masukkan air suling
sampai penuh. Timbang picnometer + tutup + air suling.
(W4)
 Pengujian berat jenis dilakukan minimal 2 kali sebagai
pembanding. Bila perbedaannya > 2%, maka pengujian
harus diulangi.

39 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Perhitungan
Setelah melaksanakan cara diatas, langkah selanjutnya kita
hitung pengujian untuk menemukan berat jenis suatu tanah itu
dengan perhitungan sebagai berikut :

(W2  W1 )
Gs 
(W4  W1 )  (W3  W2 )

KETERANGAN :
Gs = berat jenis
α = faktor koreksi suhu
W1 = Berat picnometer + tutup
W2 = Berat picnometer + tanah + tutup
W3 = Berat picnometer + tanah + air + tutup
W4 = Berat Picnometer + air + tutup

 Hasil Perhitungan

Data Hasil Pengujian Berat Jenis

No. Keterangan Sampel Sampel Sampel

10 17

1 Berat Piknometer (gr) 39.10 38.62

2 Berat Piknometer + sampel kering (gr) 57.74 68.50

3 Piknometer + Air + Sampel W1 (gr) 149.81 155.00

4 Berat Piknometer + Air W2 (gr) 139.00 134.72

5 Temperatur oC 29 29

6 Koreksi suhu k 0.9960 0.9960

Berat sampel kering Ws


7 (gr) 18.64 29.88

Berat Jenis Gs = Ws/(W2.k-


8 W1+Ws) 2.563 3.298

9 Berat Jenis Rata-Rata 2.9

40 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Kesimpulan Dari Hasil Pengujian

Dari hasil pengujian sampel berat jenis didapatkan berat jenis rata-
rata yaitu sebesar 2,9. Dimana nilai Gs 2,9 tersebut menunjukan nilai
berat jenis untuk jenis tanah lempung atau lempung kelanauan.

Jenis tanah Gs

Pasir 2,65 – 2,67


Pasir kelanauan 2,67 – 2 70
Lanau 2,65 – 2,70
Lempung dan lempung kelanauan 2,67 – 2,90
Tanah mengandung mika atau besi 2,75 – 3,00
Tanah organik <2

2.10 Batas Cair (Liquid Limit)


 Pelaksanaan
Hari/tanggal : Kamis, 13 April dan Senin, 17 April 2017
Tempat : Laboratorium Uji Tanah PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA
 Tujuan
Menentukan batas cair suatu tanah atau contoh tanah yang diuji.
 Peralatan
 Ayakan No. 40.
 Cawan Casagrande (Casagrande liquid limit device)
 Alat penggores (grooving tool)
 Container 6 buah
 Mangkok evaporator (evaporator dish)
 Spatula
 Oven
 Timbangan dengan ketelitian 0,01 gr
 Lap pembersih
 Papan kaca
 Prosedur Pelaksanaan
a. Tanah yang dipersiapkan lolos ayakan No 40 beratnya tidak
ditentukan, letakan tanah tersebut diatas papan kaca lalu
tambahkan sedikit demi sedikit air dan diaduk hingga
menjadi sebuah pasta tanah
b. Atur tinggi jatuh cawan Casagrande 10 mm dengan memutar
sekrup yang ada dibagian belakang alat

41 | P R A K T E K U J I T A N A H
c. Masukan tanah yang telah menjadi pasta kedalam cawan
Casagrande, lalu ratakan tanah tersebut pada cawan
Casagrande
d. Buat alur dengan alat penggores pada tanah yang sudah
diratakan pada cawan Casagrande
e. Putar handle dengan kecepatan kira-kira 2 putaran perdetik
f. Hitung jumlah pukulan (N) sampai celah tanah menutup
sepanjang sepanjang 1⁄2 (12,7 mm)
g. Jika nilai N untuk menutup celah tadi jumlahnya antara 25
sampai 35 pukulan,ambil bagian tanah yang menyatu tadi,
masukan kedalam container yang sudah diketahui berat
kosongnya (W1) dan timbang berat container yang terisi
dengan tanah basah . Ambil sisa tanah dalam cawan
Casagrande lalu bersihkan
h. Jika tanah terlalu kering maka, maka N akan dari 35. Dalam
kasus seperti ini, tambahkan air pada papan kaca, aduk rata
lalu ulangi langkah di atas. Jika tanah terlalu basah, maka N
lebih kecil dari 25. Untuk kasus seperti ini, pasta tanah
diaduk-aduk kembali dengan spatula untuk mengeringkan
pasta tanah tersebut.
i. Ulangi pekerjaan diatas, untuk kekentalan pasta tanah yang
bebeda. Sampai container ke-6
j. Jika semua container sudah berisi tanah kemudian di
timbang dan di oven unutk mengurangi jumlah kadar air.
k. Selanjutnya tunggu keesokkan harinya kemudian keluarkan
tanah dari oven. Lalu di timbang berat keringnya.

Posisi pasta tanah pada mangkok Casagrande

42 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Perhitungan
 Tentukan kadar air untuk masing-masing nilai N, dengan
persamaan :

W2 − W3
𝜔 (%) = (100)
W3 − W1

 Buat grafik semilogaritma hubungan antara kadar air


dengan N
 Tarik garis lurus melalui titik-titik yang didapat
 Batas cair adalah kadar air pada N = 25
 Hasil Perhitungan
Data Pengujian Batas Cair

Berat Berat Container + Berat Container + Jumlah


No.
Container Tanah Basah W2 Tanah Kering W3 Kadar Air ɛ (%) Pukulan
Container
W1 (gr) (gr) (gr) (N)
1 9,8 18,6 15,4 57,14 24
2 10,1 26,4 22,7 29,37 38
3 10 34 33,4 2,56 44
4 10,3 36,2 26,5 59,88 21
5 10,2 29 27,5 8,67 41
6 10 34,1 26,3 47,85 30
LL = 54,64

Grafik Batas Cair

100.00
90.00
80.00
70.00
Water Content (%)

60.00
50.00 Series1
40.00 Log. (Series1)

30.00 Linear (Series1)

20.00
10.00 y = -2.5495x + 118.38
R² = 0.9468
0.00
0.1 1 10 100
Jumlah Pukulan

43 | P R A K T E K U J I T A N A H
2.11 BATAS PLASTIS
 Pelaksanaan
Hari/tanggal : Kamis, 13 April dan Senin, 17 April 2017
Tempat : Laboratorium Uji Tanah PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA

 Tujuan
o Menentukan kadar air pada suatu contoh tanah pada kondisi
plastis.Batas plastis ialah kadar air minimum dimana suatu
tanah masih dalam keadaan plastis.
o Mampu memahami dan mengaplikasikan tahapan
penentuan nilai plastisitas tanah,
o Menguji tanah dalam keadaan plastis atau kadar air dimana
tanah berubah dari keadaan plastis menjadi keadaan semi
padat.
 Peralatan & Bahan
 Ayakan No. 40
 Mangkok evaporator ( evaporator dish )
 Plat kaca
 Spatula
 Plastic squeeze bottle
 Container
 Oven
 Timbangan dengan ketelitian 0,01 gram
 Tanah
 Prosedur Pelaksanaan
a. Contoh tanah yang sudah lolos saringan pada benda uji no.
40 kurang lebih sekitar 20 gram, setelah itu kita campurkan
sedikit air dan diaduk pada mangkuk evaporator.
b. Ambil contoh sampel tanah yang sudah diaduk, lalu buat
masa tanah berbentuk elips dan sambil digiling dengan

44 | P R A K T E K U J I T A N A H
telapak tangan diatas benda lempengan kaca sampai tanah
yang sudah digiling itu memenuhi persyaratan 3 mm.
c. Bila gilingan tanah sudah terlihat pecah-pecah sebelum
mencapai diameter 3 mm, berarti itu kadar airnya belum
tercapai ( air kurang ) tambahkan kembali air dan aduk lagi
sampai rata.
d. Lakukan kembali penggilingan ulang sehingga pada
diameter 3 mm tanah itu baru menunjukan pecah-pecah
rambut.
e. Setelah penggilingan, kita harus menimbang container
kosong dan catat berat container itu.
f. Langkah berikutnya kita timbang container yang sudah
berisi sampel tanah yang digiling tadi.
g. Berikutnya kita ambil contoh tanah dan diuji kadar airnya.
 Perhitungan
Kadar air pada gilingan tanah yang mengalami retak-retak
pada diameter 3mm merupakan kadar air pada batas plastis, yang
dihitung dengan persamaan :

W2−W3
𝜔 (%) = W3−W1(100)

 Hasil Perhitungan

Data Hasil Pengujian Batas Plastis

Berat Berat Container


No. Berat Container +
Container + Tanah Kering Kadar air ῳ (%)
Container Tanah Basah W2 (gr)
W1 (gr) W3 (gr)
1 10 16 14,7 27,66
2 10,8 16,7 14,1 78,79
PL = 53,22

45 | P R A K T E K U J I T A N A H
2.12 BATAS SUSUT
 Pelaksanaan
Hari/tanggal : Senin, 17 April – Selasa, 18 April 2017
Tempat : Laboratorium Uji Tanah PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA

 Tujuan
Menentukan batas susut tanah lempung.
 Peralatan
o Ayakan No. 40
o Cawan susut
o Mangkok evaporator
o Pelat kaca dengan 3 paku
o Spatula
o Plastik squeeze bottle
o Mistar perata
o Oven
o Mangkok gelas
o Air raksa
o Timbangan dengan ketelitian 0,1
 Prosedur Pelaksanaan
1. Berilah pelumas pada cetakan supaya contoh tanah tidak
melekat pada cawan susut, lalu timbang beratnya (W1).
2. Ambil sekitar 40 gram contoh tanah yang lewat ayakan No.
40, yang dipakai untuk uji batas plastis, campur dengan air
untuk membuat pasta tanah dengan kadar air kira-kira diatas
batas cair.
3. Masukkan contoh tanah tersebut kedalam cawan susut
sampai sepertiga tinggi cawan, lalu pukul-pukulkan dengan
halus pada alas yang keras sampai permukaan tanah turun
dan tidak terlihat adanya gelembung udara. Ulangi prosedur
diatas untuk lapis kedua dan ketiga, lalu ratakan permukaan
tanah dengan spatula. Bersihkan tanah yang melekat
disekeliling cawan susut, lalu timbang cawan susut + tanah
(W2).
4. Angin-anginkan contoh tanah ( kurang lebih selama 6 – 8
jam ) sampai warna permukaan tanah berubah untuk
menghindari retak akibat kehilangan air yang cepat akibat
pemanasan, dan juga untuk menghindari tanah mendidih
selama dipanaskan. Keringkan dalam oven dengan suhu 105
– 110oC sampai dicapai berat yang tetap ( 12 – 18 jam ).

46 | P R A K T E K U J I T A N A H
5. Keluarkan contoh dari oven, lalu timbang cawan + contoh
tanah kering (W3). Hitung berat air dan berat tanah kering.
6. Hitung volume cawan susut dalam cm3, dengan cara
mengukur berat air raksa yang diperlukan untuk mengisi
cawan susut (W4).
7. Masukkan tanah kering tersebut ke dalam wadah gelas yang
sudah diisi penuh dengan air raksa, lalu tekan ke bawah
dengan memakai pelat kaca dengan 3 paku, sampai seluruh
masa tanah tenggelam di dalam air raksa. Catat berat air
raksa yang tumpah (W5).
 Perhitungan
Hitung kadar air mula-mula ωi dari pasta tanah, dengan persamaan
:
W  W3
i  2 (100)
W3  W1
(W4  W5 )
Shrinkage Limit ( SL ) = i (%)  (100)
13,6(W3  W1 )

 Hasil Perhitungan
Data Pengujian Batas Susut

Berat Cawan Susut W1 10,2 gr


Berat Cawan Susut + tanah basah W2 34,2 gr
Berat Cawan Susut + tanah kering W3 25 gr

𝑊2 − 𝑊3
𝜔𝑖 = (100%)
𝑊3 − 𝑊1 62,16216216 %

Berat air raksa untuk mengisi cawan susut


W4
210,4 gr
Berat air raksa yang tumpah
W5
116,1 gr

(𝑊4 − 𝑊5 ) 46,85015898 %
(100%
13,6 (𝑊3 − 𝑊1 )

(𝑊4 − 𝑊5 )
𝑆𝐿 = 𝜔𝑖 (%) − (100%) 15,31200318 %
13,6(𝑊3 − 𝑊1 )

SL = 15,31

47 | P R A K T E K U J I T A N A H
2.13 KESIMPULAN DARI BATAS SUSUT, PLASTIS, DAN CAIR

Plastic
Liquid Limit Limit Plastic Index Srinkage Limit
LL PL PI SL
(%) (%) (%) (%)
54,64 53,22 1,42 15,31

Dari hasil pengujian batas cair, plastis, dan susut diperoleh hasil
presentase dari liquid limit yaitu sebesar 54,64 %, plastic limid yaitu
sebesar 53,22 %, dan Srinkage Limit yaitu sebesar 15,31 %. Dari
selisih Liquid Limit dengan Plastic Limit didapatkan hasil yaitu
Plastic Index sebesar 1,42 %. Dilihat dari hasil data pengujian yang
didapat tanah yang diuji memiliki konsistensi yang cukup baik.

2.14 GRADASI
 Pelaksanaan
Hari/tanggal : Selasa, 18 April 2017
Tempat : Laboratorium Uji Tanah PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA
 Tujuan :
o Agar mahasiswa mengetahui bagaimana cara mencari
analiasa ayakan tanah yang ukuran butirnya tertahan di
ayakan no#200.
o Menentukan ukuran butir tanah.
 Peralatan
o Seperangkat saringan, tutup dan pan alas
o Sikat pembersih saringan
o Mesin pengocok/ sieve shaker
o Timbangan dengan ketelitian 0,1 gr
o Palu karet
o Talam
o Oven
o Desikator
o Benda Uji

48 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Prosedur Pelaksanaan
1. Timbang masing-masing ayakan yang digunakan, lalu susun dari ukuran
terbesar sampai terkecil secara berurutan dari atas ke bawah, lalu dibawahnya
diletakkan pan alas. Nomor saringan terbawah adalah saringan No. 200.
2. Hancurkan tanah yang akan diuji dengan palu karet.
3. Siapkan contoh tanah sebanyak 500 gram. Bila contoh tanah mengandung
butiran-butiran > ayakan No 4, maka contoh tanah tersebut perlu ditambah.
4. Tuang benda uji yang telah disiapkan ke dalam ayakan teratas, lalu pasang
penutup.
5. Tanah diayak dengan dengan mesin pengayak (Sieve Shaker) selama 10 – 15
menit.
6. Hentikan mesin pengayak, lalu lepaskan ayakan dari tumpukan.
7. Timbang berat benda uji yang tertahan pada masing-masing ayakan dan pan.
8. Kurangkan berat tanah + ayakan dengan berat ayakan masing-masing.
9. Jumlah kumulatip berat tanah yang tertinggal dalam ayakan harus dikontrol
dengan berat tanah semula.
10. Bila berat tanah yang tertinggal pada saringan No. 200 cukup besar, maka dalam
hal ini dilakukan pencucian. Masukkan air dalam ayakan No. 200 dan tanah
diremas-remas dan dibersihkan sampai benar-benar bersih. Jika air yang keluar
dari saringan No. 200 sudah bersih, pencucian dihentikan.
11. Siapkan nampan, lalu letakkan ayakan No. 200 diatasnya, balik posisinya, lalu
siram dengan air untuk melepaskan butiran tanah yang melekat pada saringan.
12. Keringkan butiran tanah tertahan saringan No. 200 sampai berat tetap.
13. Timbang berat tanah yang tertahan pada saringan No. 200.
14. Selisih berat antara langkah ke-13 dengan langkah ke-7 merupakan berat
butiran tanah yang lolos ayakan No. 200

49 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Perhitungan

1. Persentase tanah yang tertinggal pada masing-masing ayakan :

berat _ tertinggal
 100 %
berat _ total

2. Prosentase komulatif tanah yang tertinggal pada ayakan = jumlah tanah


yang tertinggal pada semua ayakan yang sama dan lebih besar dari ayakan
bersangkutan.
3. Persentase lolos = 100% - persentase komulatif tanah yang tertinggal
4. Buat grafik antara ukuran ayakan dengan persentase lolos

Tabel 8.2 Susunan Ayakan yang umum (Al-Khafaji, 1992)

Kombinasi A Kombinasi B
Dominan Dominan Dominan Dominan
gravel pasir dan gravel pasir dan
material material
berbutir berbutir
halus halus
3” No. 4 3” No. 4
2” No. 10 1 ½” No. 10
1 ½” No. 20 ¾” No. 16
1” No. 40 3/8” No. 30
¾” No. 60 No. 4 No. 50
3/8” No. 140 No. 8 No. 100
No. 4 No. 200 No. 16 No. 200
Pan Pan Pan Pan

50 | P R A K T E K U J I T A N A H
Tabel 8.3 Ukuran Ayakan Standar Amerika (Al-Khafaji, 1992)

No. Saringan Ukuran No. Saringan Ukuran


(mm) (mm)
3” 76,20 No. 25 0,710
2” 50,80 No. 30 0,600
1 ½” 38,10 No. 35 0,500
1” 25,40 No. 40 0,425
¾” 19,05 No. 45 0,335
½” 12,70 No. 50 0,330
3/8” 9,52 No. 60 0,250
¼” 6,35 No. 70 0,212
No. 4 4,75 No. 80 0,180
No. 5 4,00 No. 100 0,150
No. 6 3,35 No. 120 0,125
No. 7 2,80 No. 140 0,106
No. 8 2,36 No. 170 0,090
No. 10 2,00 No. 200 0,075
No. 12 1,70 No. 230 0,063
No. 14 1,40 No. 270 0,053
No. 16 1,18 No. 325 0,045
No. 18 1,00 No. 400 0,038
No. 20 0,85

51 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Hasil Perhitungan

Berat tanah mula-mula : 500 gr


Tertahan #200 : 450 gr
Lolos #200 : 50 gr

Berat
No. Saringan / Berat
Berat Saringan+ Tanah %
Ukuran Berat Kosong Tanah % Lolos
Tanah Tertahan Tertahan
Saringan Tertahan
Komulatif
4 415.5 415.5 0 0 0 100
10 307.4 308.5 1.1 1.1 0.22 99.78
20 310.9 312.8 1.9 3 0.6 99.4
40 298.4 307.3 8.9 11.9 2.38 97.62
60 285.6 294.3 8.7 20.6 4.12 95.88
100 275.5 304 28.5 49.1 9.82 90.18
Pan 258.8 303.4 44.6 93.7 18.74 81.26

2.15 HIDROMETER
1. Pelaksanaan
Hari/tanggal : Selasa, 18 April – Rabu, 19 April 2017
Tempat : Laboratorium Uji Tanah PNB
Waktu : 08.00 – Selesai WITA
 Tujuan
Menentukan distribusi/pembagian butir tanah yang lolos saringan No. 200
(0,075 mm)
 Peralatan & Bahan
 Ayakan No. 200
 Hydrometer
 Mixer
 Oven
 Evavorating dish
 Timbangan
 Stopwatch
 Talam
 Air suling
 Tanah
52 | P R A K T E K U J I T A N A H
 Prosedur Pelaksanaan
1. Timbang contoh tanah yang lolos saringan No. 200 sebanyak 50 gram.
2. Pindahkan contoh tanah ke dalam mangkok mixer dengan diberi air suling.
Kemudian diaduk selama 10 – 15 menit.
3. Setelah pengadukan selesai, pindahkan semuanya kedalam gelas ukur dan
tambahkan air suling sampai 1000 ml. Pindahkan sampai mangkok mixer
bersih dan tidak ada tanah yang tertinggal.
4. Tutuplah bagian atas tabung dengan telapak tangan kemudian kocoklah
berulang-ulang sampai tidak ada bagian tanah yang menggumpal dalam dasar
tabung.
5. Setelah mengocok selama 30 detik, letakkan tabung/gelas ukur diatas meja,
masukkan hydrometer dan siapkan stopwatch.
6. Lakukan pembacaan hydrometer pada rentang waktu ke ¼, 1/2, 1, 2, 5, 15, 30,
60, 240, dan 1.440 menit.
7. Usahakan bagian atas tabung tertutup untuk menghindari penguapan atau debu
yang masuk kedalam tabung.
8. Tentukan tinggi miniskus tangkai hydrometer pada air suling. Tinggi ini
dipakai sebagai koreksi miniskus yang dipergunakan dalam perhitungan.
9. Lakukan pembacaan sampai pembacaan mendekati 1,001 atau sampai
pembacaan diinginkan ( kurang lebih 24 jam ).
10. Setelah pembacaan akhir, tungkan suspensi dalam talam jagalah agar tidak ada
kehilangan tanah.

 Perhitungan

1. Persentase tanah lebih halus (N) dapat dihitung dengan rumus :

Gs V
N  c (r  rw )100% kalikan 1/1000 karena pembacaan.
Gs  1 Ws

Dimana :
Gs = Spesifik grafity
V = Volume suspensi (1000 ml)
Ws = Berat tanah kering
c = Berat jenis air pada suhu percobaan 20oC
53 | P R A K T E K U J I T A N A H
R = Pembacaan hydrometer pada suspensi
Rw = Pembacaan hydrometer pada air suling dalam suhu yang sama

2. Efektif diameter D dapat dihitung dengan rumus :

18 zr
D
s w t

Dimana :
µ = Viskositas air pada suhu percobaan
 s  Berat jenis tanah
w= Berat jenis air pada suhu percobaan
zr = Jarak dari permukaan suspensi ke pusat volume hydrometer (= -266,7
R + 288,7)
t = Total waktu pembacaan

3. Koreksi persen lebih halus N’:

W1
N' N  N % lebih halus dari ayakan No 200
Ws

Dimana :
N = % lebih halus
W1 = Berat tanah kering yang lolos ayakan No. 200
W2 = Berat seluruhnya dari tanah kering untuk perhitungan analisa ayakan

 Hasil Perhitungan

Data Perhitungan Hidrometer

Volume larutan V 1000 cm3


Berat sampel kering untuk hydrometer Ws1 50 gr
Berat sampel kering untuk ayakan Ws 500 gr
Berat tanah lolos ayakan no.200 W1 50 gr
Berat jenis tanah Gs 4.2 gr/cm3
Berat volume butir tanah s  1,773 gr/cm3
Temperatur percobaan T 29 oC
Berat volume air pd.T  w 0.996 gr.dt/cm2

Viskositas air pada T   8.341E-06 gr.dt/cm2

54 | P R A K T E K U J I T A N A H
Bacaan hydrometer Zr
Waktu
(t) (R-Rw) N D N'
(menit) rw r R Rw (%) (cm) (micron) (%)

0.25 0.9960
1.026 26 (4.00) 22.00000 57.52 7222.00 0.05 5.75

0.5 0.9960
1.025 25 (4.00) 21.00000 54.90 6955.33 0.03 5.49

1 0.9960
1.025 25 (4.00) 21.00000 54.90 6955.33 0.02 5.49

2 0.9960
1.024 24 (4.00) 20.00000 52.29 6688.67 0.02 5.23

5 0.9960
1.023 23 (4.00) 19.00000 49.68 6422.00 0.01 4.97

1.021
15 0.9960 21 (4.00) 17.00000 44.45 5888.67 0.01 4.44

30 0.9960
1.02 20 (4.00) 16.00000 41.83 5622.00 0.00 4.18

1.0185
60 0.9960 19 (4.00) 14.50000 37.91 5222.00 0.00 3.79

240 0.9960
1.015 15 (4.00) 11.00000 28.76 4288.67 0.00 2.88

1440 0.9960
1.013 13 (4.00) 9.00000 23.53 3755.33 0.00 2.35

2.16 KESIMPULAN PERHITUNGAN GRADASI DAN HIDROMETER

Grafik Gradasi

100.0

90.0

80.0

70.0

60.0
Lolos (%)

50.0

40.0

30.0

20.0

10.0

0.0
0.001 0.100 10.000
-10.0

Ukuran Saringan (mm)

55 | P R A K T E K U J I T A N A H
No Deskripsi Ukuran butir %
1 Clay < 0.002 mm 2.35
0.002 < d < 0.075
2 Silt mm -11.27
0.075 < d < 0.42
3 Fine Sand mm -7.44

4 Medium Sand 0.42 < d < 2 mm -2.16

5 Coarse Sand 2 < d < 4.75 99.78


6 Fine Gravel 4.75 < d < 19.1 0.00
7 Coarse Gravel 19.1 < d < 76.20 0

Diameter Lolos
butir (%)
(mm)
4.75 100.0
2.00 99.8
0.84 99.4
0.42 97.6
0.25 95.9
0.15 95.9
0.08 90.2
0.07 5.8

0.06 5.5
0.04 5.5

0.03 5.2
0.02 5.0

0.01 4.4
0.01 4.2
0.01 3.8
0.00 2.9
0.00 2.4

Dari grafik dapat dilihat hubungan antara gradasi dan


hydrometer, dimana kita dapat mengetahui berapa presentase gradasi ukuran butir
yang ada di dalam sampel. Dimana terdapat Clay 2,35 %, Silt -11,27%, Fine Sand
-7,44 %, Medium Sand -2,16 %, dan Coarse Sand 99,78 %.

56 | P R A K T E K U J I T A N A H
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dalam pembangunan konstruksi sipil kelayakan tanah sebagai
wadah dari kontruksi sebuah bangunan merupakan hal yang penting. Dalam
hal ini, tanah berfungsi sebagai penahan beban dari konstruksi di atas tanah
yang harus bisa memikul seluruh beban bangunan dan beban lainnya yang
turut diperhitungkan. Sehingga kuat atau tidaknya bangunan/konstruksi itu
juga dipengaruhi oleh kondisi tanah yang ada. Pada kedalaman tertentu
tanah juga memiliki sifat – sifat tertentu dan untuk mengetahui kondisi atau
sifat dari tanah tersebut, kita dapat melakukan pengujian dengan mengambil
sampel tanah kemudian menentukan berat isi tanah, berat jenis tanah, kadar
air tanah, batas susut, batas plastis, batas cair, menganalisa gradasi dan
menganalisa butir yang lebih halus dari 0.075 mm. Selain itu, untuk
mengetahui kekuatan dari tanah tersebut, kita dapat melakukan pengujian
seperti dengan sondir, SPT, uji geser langsung tanah, dan uji kuat tekan dari
tanah tersebut.

3.2 SARAN
Pada setiap pengujian sangat disarankan untuk mengikuti langkah-
langkah ataupun prosedur yang sudah disediakan pada jobsheet yang telah
diberikan dan apabila ada yang belum dipahami sesegera mungkin
ditanyakan pada dosen ataupun teknisi yang mendampingi saat itu, hal ini
dilakukan agar dapat mengantisipasi kesalahan-kesalahan yang mungkin
saja terjadi. Selain itu dalam pengerjaan job sebaiknya dilakukan secara
merata oleh tiap individu mahasiswa dalam tiap kelompok karena praktek
ini bersifat pembelajaran sehingga nantinya mahasiswa benar-benar paham
dalam menyelesaikan job dan tidak terfokus hanya pada satu atau dua orang
saja.

57 | P R A K T E K U J I T A N A H
LAMPIRAN-
LAMPIRAN

58 | P R A K T E K U J I T A N A H
Proses Pemboran

Proses Pemboran Pemasangan Alat


Sondir

Uji Sondir

Pemasangan Alat Uji Sondir


Sondir

Pengambilan sample Pengambilan sample Sample DS


DS DS

59 | P R A K T E K U J I T A N A H
Uji Tekan Bebas

Uji SPT Uji Geser Langsung

Persiapan Uji
Hidrometer

Uji Batas Cair, Persiapan Uji


Plastis dan Susut Hidrometer

Uji Hidrometer Uji Hidrometer Penimbangan hasil uji


batas cair

60 | P R A K T E K U J I T A N A H
Penghancuran sample
DS

Sample UDS Penghancuran


sample DS

Benda Uji
Proses Pembuatan Gradasi
Benda Uji Gradasi Benda Uji Berat
Jenis

61 | P R A K T E K U J I T A N A H