Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGHANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan

Hidayah-Nya yang telah diberika, sehingga penulisan Proyek Akhir ini dapat terselesaikan.

Laporan ini dapat disusun setelah mengadakan PKL di Unit Pusat Pelayanan Pengatur Beban

(UP3B) Mataram, yang dilaksanakan pada tanggal 01 Februari – 30 Mei 2019. Sebagai salah satu yang

menjadi persyaratan untuk menyelesaikan studi pendidikan Diploma Tiga pada Jurusan Teknik Elektro

Sekolah Tinggi Teknik – PLN.

Penyusun menyadari bahwa Proyek Akhir ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan dari

berbagai pihak. Baik berupa petunjuk, nasehat, bimbingan dan segala fasilitas yang pemyusum gunakan

dalam penyusunan Proyek Akhir ini. Melalui kesempatan penyusun ingin mengucapkan rasa terima kasih

yang sebesar – besarnya kepada yang terhormat :


BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Listrik merupakan bentuk energy yang sangat dibutuhkan olah masyarakat

modern. Hal ini dapat dilihat pada permintaan kebutuhan akan energy listrik di

masyarakat tiap tahun semakin meningkat dengan pesat. Berdasarkan hal

tersebut, maka perlu direncanakan pengembangan system tenaga listrik baik

meliputi pengembangan penyediaan sumber tenaga listrik, transmisi dan system

distribusi tenaga listrik. Salah satu system tenaga listrik yang perlu dikembangkan

adalah gardu induk.

Energi listrik diharapkan tersedia dalam jumlah dan kualitas yang memadai,

karena mempengaruhi operasi peralatan baik dari sisi pelanggan maupun

pengelola system kelistrikan. Namun kenyataannya, sering kali energy listrik yang

diterima tidak sesuai dengan yang diharapkan sehingga dapat menimbulkan rugi

rugi dan juga dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan – peralatan listrik

yang ada.

Jaringan listrik yang begitu banyak dan jarak dari pembangkit listrik ke

konsumen. Yang begitu jauh juga dapat memberikan suatu masalah. Pada saat

terjadi suatu gangguan, maka akan dibutuhkan waktu yang lama untuk menangani

gangguan tersebut sehingga berdampak pada pelayanan, baik pada system

kelistrikan maupun dari sisi konsumen.

Ketika operasi jaringan distribusi dan pembangkit untuk suatu system

kelistrikan Lombok diatur oleh Unit Pusat Pelayanan Pengatur Beban (UP3B)

Mataram. UP3B Mataram mengatur operasi jaringan tegangan menengah (JTM)


termasuk sambungan rumah, instalasi pelanggan, dan mengatasi gangguan,

pelaksanaannya dilakukan oleh Rayon/Ranting PLN Cabang Mataram yang

tempatnya tersebar di berbagai tempat.

Jaringan distribusi primer (JTM) dan jaringan distribusi sekunder (JTR) pada

umumnya beroperasi secara radial. Pengoperasian jaringan dengan system ring

(loop) sesungguhnya bisa mengurangi rugi – rugi dalam jaringan, tetapi

memerlukan alat – alat pengaman yang lebih canggih dan juga relative mahal

untuk jaringan distribusi.

Gangguan yang terjadi pada jaringan system tenaga listrik tidak selamanya

bersifat permanen, ada juga gangguan yang bersifat sementara, digunakan

peralatan pengaman yang dapat menutup kembali secara otomatis yang biasa

disebut recloser atau penutup balik otomatis (PBO).

1.2 Permasalahan Penelitian

1.2.1 Identifikasi Masalah

Dalam distribusi tenaga listrik, Recloser atau autorecloser adalah pemutus


sirkuit yang dilengkapi dengan mekanisme otomatis yang dapat menutup
setelah terjadi suatu kesalahan yaitu trip Recloser digunakan pada SUTM
untuk mendeteksi dan menanggulangi jika terjadi kesalahan sesaat. Untuk
menjaga kerusakan, setiap sepanjang jaringan dilindungi pemutus arus
seperti recloser ini yang mematikan listrik jika terjadi hubungan pendek.

1.2.2 Ruang Lingkup Masalah

Pembahasan tentang recloser sangat luas, oleh karena itu perlu dibatasi
ruang lingkup masalah yang akan dibahas. Untuk itu penulis hanya akan
membahas tentang koordinasi perhitungan penyetingan recloser di salah
satu penyulang yang disuplai dari Gardu Induk Mataram
1.2.3 Rumusan Masalah

1. Bagaimana recloser bekerja mulai dari mendapatkan arus


gangguan trip sampai dengan recloser kembali beroperasi
seperti sebelum terjadinya gangguan ?
2. Unjuk kerja recloser akan trip jika terjadi arus gangguan ?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan :
1. Untuk menganalisa kemampuan sistem proteksi dan unjuk kerja dari
recloser jika terjadi gangguan pada jaringan distribusi tegangan
menengah 20 kV.
2. Untuk mengetahui seberapa besar perbedaan waktu trip jika terjadi
gangguan phase-trip dan ground-trip pada recloser
3. Membaca rekaman/ analisa gangguan pada saat terjadi gangguan di
penyulang Hilbron
1.3.2 Manfaat Penelitian

Manfaat yang didapat dari penelitian ini adalah :

1. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang keandalan recloser


sebagai sistem proteksi pada jaringan distribusi 20 kV.
2. Manfaat bagi peneliti adalah memperdalam pengetahuan tentang
karakteristik dan pengaturan recloser di wilayah kerja PT. PLN (
Persero ) UP3B Mataram.
1.4 Sistematika Penulisan
1.4.1 BAB I PENDAHULUAN
Merupakan penjelasan secara umum, ringkas dan padat yang
menggambarkan dengan tepat isi usulan penelitian yang meliputi latar
belakang, permasalahan penelitian, identifikasi masalah, ruang lingkup
masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian.
1.4.2 BAB II LANDASAN TEORI
Merupakan penjelasan tentang landasan teori yang digunakan dalam
penelitian dan kerangka pemikiran serta hipotesa yang meliputi
tinjauan pustaka, landasan teori, hipotesis (jika ada).
1.4.3 BAB III METODE PENELITIAN
Merupakan penjelasan karakteristik utama dari penelitian yang berupa
penyampaian jenis penelitian yang meliputi perencanaan penelitian
dan teknik analisa.
1.4.4 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
Merupakan penjelasan tentang hasil dan penelitian serta implikasi dari
penelitian yang dilakukan.
1.4.5 BAB V PENUTUP
Berisi tentang ringkasan temuan, rangkuman dan saran atau biasanya
disebut kesimpulan dan saran. Sekurang – kurangnya setiap masalah
penelitian menghasilkan temuan atau kesimpulan.
BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka


Untuk membantu menyelesaikan proses pembuatan Proyek Akhir ini, dibutuhkan
adanya beberapa referensi yang dapat menjadi acuan penulis dalam melakukan
penelitian :
1. E-book pedoman dan petunjuk system proteksi transmisi dan gardu induk Jawa
Bali, Edisi Pertama : September 2013
2. E-book teknik distribusi tenaga listrik Jilid 3, 2008
3. E-book system distribusi tenaga listrik Edisi pertama, 2009
4. E-book rele proteksi : proteksi dan aplikasi, 2008
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Sistem Tenaga Listrik

Secara garis besar Sistem Tenaga Listrik dibagi menjadi tiga bagian utama, yaitu

Sistem Pembangkitan, Sistem Penyaluran (Transmisi & Gardu Induk), dan Sistem

Distribusi. Sistem Distribusi merupakan bagian akhir dari rangkaian komponen

pada sistem tenaga listrik.

Pembangkit

Trafo Penaik Tegangan

Sistem Transmisi
Tenaga Listruk
Rel Tegangan Tinggi
PMT

Jaringan Tegangan Tinggi

Gardu Induk Trafo Penurun Tegangan

Rel Tegangan Menengah

Sekering
Jaringan Tegangan Menengah
Trafo Distribusi
Sistem Distribusi Pelanggan Tegangan Menengah
Tenaga Listruk Sakelar

Pelanggan Tegangan Rendah

Gambar 2-1 Penyaluran Sistem Tenaga Listrik


2.2.2 Sistem distribusi tenaga listrik

System pendistribusian tenaga listrik dapat dibedakan menjadi dua

macam, yaitu system pendistribusian langsung dan system pendistribusian

tidak langsung.

 System pendistribusian langsung

Sistem pendistribusian langsung merupakan sistem

penyaluran tenaga listrik yang dilakukan secara langsung

dari Pusat Pembangkit Tenaga Listrik, dan tidak melalui

jaringan transmisi terlebih dahulu. Sistem pendistribusian

langsung ini digunakan jika Pusat Pembangkit Tenaga

Listrik berada tidak jauh dari pusat-pusat beban, biasanya

terletak daerah pelayanan beban atau dipinggiran kota.

 System pendistribusian tak langsung

Sistem pendistribusian tak langsung merupakan sistem

penyaluran tenaga listrik yang dilakukan jika Pusat

Pembangkit Tenaga Listrik jauh dari pusat-pusat beban,

sehingga untuk penyaluran tenaga listrik memerlukan

jaringan transmisi sebagai jaringan perantara sebelum

dihubungkan dengan jaringan distribusi yang langsung

menyalurkan tenaga listrik ke konsumen.


2.2.3 Struktur Jaringan Distribusi
Sistem distribusi tenaga listrik terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
 Gardu induk atau Pusat pembangkit tenaga listrik

Pada bagian ini jika sistem pendistribusian tenaga

listrik dilakukan secara langsung, maka bagian

pertama dari sistem distribusi tenaga listrik adalah

Pusat Pembangkit Tenaga Listrik. Biasanya Pusat

Pembangkit Tenaga Listrik terletak di pingiran kota

dan pada umumnya berupa Pusat Pembangkit

Tenaga Diesel (PLTD). Untuk menyalurkan tenaga

listrik ke pusat- pusat beban (konsumen) dilakukan

dengan jaringan distribusi primer dan jaringan

distribusi sekunder.

Gambar 2-2 Gardu Induk


Jika sistem pendistribusian tenaga listrik dilakukan

secara tak langsung, maka bagian pertama dari

sistem pendistribusian tenaga listrik adalah Gardu

Induk yang berfungsi menurunkan tegangan dari

jaringan transmisi dan menyalurkan tenaga listrik

melalui jaringan distribusi primer.


 Jaringan distribusi primer merupakan awal

penyaluran tenaga listrik dari Pusat Pembangkit

Tenaga Listrik ke konsumen untuk sistem

pendistribusian langsung. Sedangkan untuk sistem

pendistribusian tak langsung merupakan tahap

berikutnya dari jaringan transmisi dalam upaya

menyalurkan tenaga listrik ke konsumen. Jaringan

distribusi primer atau jaringan distribusi tegangan

tinggi (JDTT) memiliki tegangan sistem sebesar 20

kV.

 Jaringan distribusi sekunder

Jaringan distribusi sekunder atau jaringan distribusi

tegangan rendah (JDTR) merupakan jaringan yang

berfungsi sebagai penyalur tenaga listrik dari gardu -

gardu pembagi (gardu distribusi) ke pusat- pusat

beban (konsumen tenaga listrik). Besarnya standar

tegangan untuk jaringan ditribusi sekunder ini adalah

127/220 V untuk sistem lama, dan 220/380 V untuk

sistem baru, serta 440/550 V untuk keperluam

industri.
Gambar 2-3 Jaringan distribusi primer dan Jaringan distribusi
sekunder.

 Gardu pembagi/gardu distribusi

Berfungsi merubah tegangan listrik dari jaringan

distribusi primer menjadi tegangan terpakai yang

digunakan untuk konsumen dan disebut sebagai

jaringan distribusi skunder. Kapasitas transformator

yang digunakan pada Gardu Pembagi ini tergantung

pada jumlah beban yang akan dilayani dan luas


daerah pelayanan beban. Bisa berupa transformator

satu fasa dan bisa juga berupa transformator tiga fasa.

Gambar 2-4 gardu distribusi jenis tiang

2.2.4 Gangguan Pada Sistem Jaringan Distribusi