Anda di halaman 1dari 17

Laporan Diskusi Kelompok Tutorial

BLOK GASTROINTESTINAL SYSTEM


SEMESTER 5

Nama : Ahmed Mawardi


NIM : 080100239
Kelas tutorial : A1
Tutor : dr. Zairul Arifin, Sp.A., DAFK.

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010
DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI .........................................................................................................................2
PENDAHULUAN .................................................................................................................3
ISI LAPORAN ......................................................................................................................4
1. Nama/Tema Blok ..................................................................................................4
2. Fasilitator ..............................................................................................................4
3. Data Pelaksanaan ..................................................................................................4
4. Pemicu...................................................................................................................4
5. Tujuan Pembelajaran.............................................................................................5
6. Pertanyaan Yang Muncul dalam Curah Pendapat.................................................5
7. Jawaban Atas Pertanyaan......................................................................................5
8. Ulasan....................................................................................................................13
9. Kesimpulan ...........................................................................................................14
10. Referensi ..............................................................................................................14

LAMPIRAN ..........................................................................................................................15

2|laporan diskusi kelompok blok gastrointestinal system


PENDAHULUAN

Masalah saluran cerna di Indonesia merupakan masalah yang banyak dikeluhkan pasien di
tingkat pelayanan primer, mulai dari keluhan paling ringan seperti perut kembung sampai
perdarahan saluran cerna yang dapat menyebabkan kematian. Keluhan utama ini bukan hanya
mempengaruhi kenyamanan seseorang tetapi juga berdampak pada menurunnya produktivitas
masyarakat. Dengan kemajuan teknologi kedokteran yang telah dicapai sekarang ini
sebenarnya dampak ini dapat diperkecil.

Salah satu keluhan yang sering dijumpai adalah irritable bowel syndrome. Irritabel bowel
syndrome (IBS) merupakan kelainan fungsional saluran cerna yang sering terjadi yang
ditandai dengan nyeri perut, rasa tidak nyaman diperut dan perubahan pola buang air besar
(BAB). Sebagai gejala tambahan pada nyeri perut, diare atau konstipasi, gejala khas lain
meliputi perut kembung, adanya gas dalam perut, stool urgensi atau strining dan perasaan
evakuasi kotoran tidak lengkap.

Irritabel bowel syndrome merupakan penyakit yang sangat sering ditemukan. Perkiraan yang
tepat prevalensi IBS sangat sulit, karena hampir 70% dari orang dengan gejala IBS
tidak mendatangi tempat pelayanan kesehatan. Prevalensi IBS berdasarkan studi populasi
antara 10-26% di negara barat. Prevalensi IBS secara pasti sulit ditentukan karena
berbedanya definisi dan kriteria klinis yang digunakan untuk menentukan sindrom ini.
Dari hasil penelitian Hillila dan Farkkila didapatkan prevalensi IBS berdasarkan kriteria
manning 2, manning 3, Rome I, Rome II berturutan adalah 16,2%, 9,7%, 5,6%, dan 5,1%.
Disini tampak bahwa prevalensi IBS menurut kriteria Rome II lebih rendah dari kriteria
manning.

Irritable bowel syndrome merupakan diagnosis tersering pada klinik gantroenterologi, yang
mencapai 50% dari seluruh konsultasi. Pasien memiliki dampak ekonomi yang signifikan
pada pelayanan kesehatan dengan meningkatnya konsultasi untuk penyakit yang ringan,
kadang sampai berobat ke poliklinik kebidanan maupun bedah, dilakukan tindakan bedah
yang tidak tepat, dan ketidakhadiran di tempat kerja. Sampai 40% pasien IBS menunjukkan
penghindaran dari aktivitas sosial, mulai dari menghindari makanan sampai menghindari
kerja dan aktivitas yang membuang-buang waktu. Pasien melaporkan kualitas hidup yang
lebih jelek, yang dapat memiliki dampak pada persepsi beratnya kondisi mereka. Karena
besarnya masalah yang ditimbulkan oleh IBS maka berikut akan dibahas mengenai diagnosis
dan penatalaksanaan dari IBS berdasarkan bukti- bukti klinis.

Sumber: I Ketut Mariadi, I Dewa Nyoman Wibawa. Perkembangan Terkini dalam Diagnosis
dan Penatalaksanaan Irritabel Bowel Syndrome.

3|laporan diskusi kelompok blok gastrointestinal system


ISI LAPORAN

1. NAMA/TEMA BLOK

BLOK GASTROINTESTINAL SYSTEM.


Irritable Bowel Syndrome

2. FASILITATOR

dr. Zairul Arifin, Sp.A, DAFK.

3. DATA PELAKSANAAN

1. Tanggal Tutorial : 19 Oktober 2010 & 22 Oktober 2010


2. Pemicu Ke : 4
3. Pukul : 10.30 – 13.00 WIB & 09.30 – 12.00 WIB
4. Ruangan : Ruang Diskusi Anatomi 1

4. PEMICU

Ny. N, 35 tahun, datang dengan keluhan perut kembung disertai dengan mencret apabila
memakan makanan pedas. Ny. N sering merasa mulas, dan menghilang apabila buang air
besar. Keluhan ini hilang timbul. Mencret dialami dengan frekuensi 3 – 4 x/hari, terdapat
air dan ampas, dan terkadang disertai dengan lendir tetapi tidak pernah ada darah, tidak
disertai oleh rasa sakit di dubur / itenesmi. Keluhan ini sudah dialami oleh Ny. N secara
berulang-ulang, selama 2 tahun terakhir ini.

Pemeriksaan fisik: vital sign dalam batas normal.


Pemeriksaan abdomen: soepel, tidak ada organomegali, tidak nyeri tekan, peristaltik usus
agak meningkat.

Apa yang terjadi pada Ny. N?

More info :
Ny. N kadang-kadang tidak buang air besar lebih dari 3 hari, kadang-kadang disertai
kram pada perut.
Pemeriksaan laboratorium : darah rutin dalam batas normal.
Pemeriksaan feses : lendir (+), darah (-), tidak dijumpai parasit.

Bagaimana pendapat anda sekarang mengenai Ny. N?

4|laporan diskusi kelompok blok gastrointestinal system


5. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Menguasai sistem gastrointestinal, meliputi anatomi, fisiologi, histologi, dan patologi;


2. Memahami gangguan-gangguan pada sistem gastrointestinal;
3. Memahami penyakit irritable bowel syndrome serta konsep patogenesisnya;
4. Menjelaskan penyakit irritable bowel syndrome, berdasarkan pengertian ilmu
biomedik dan klinik;
5. Menyusun penatalaksanaan penyakit irritable bowel syndrome secara farmakologi
maupun nonfarmakologi.

6. PERTANYAAN YANG MUNCUL DALAM CURAH PENDAPAT

A. Bagaimana anatomi dan fisiologi kolon?


B. Bagaimana pengaturan pergerakan usus halus melalui persarafan autonom?
C. Bagaimana mekanisme normal defekasi?
D. Apa batasan / definisi dari penyakit irritable bowel syndrome?
E. Apa saja yang menjadi penyebab (etiologi) dari penyakit irritable bowel syndrome?
F. Faktor apa saja yang menjadi risiko penyakit irritable bowel syndrome ?
G. Bagaimana pengkalasifikasian penyakitnya?
H. Bagaimana patogenesis penyakit irritable bowel syndrome?
I. Apa gejala klinis penyakit irritable bowel syndrome dan bagaimana patofisiologinya?
J. Bagaimana mendiagnosis penyakit irritable bowel syndrome dan pemeriksaan apa
saja yang diperlukan untuk menunjang diagnosis tersebut?
K. Apa yang menjadi diagnosis diferensialnya?
L. Bagaimana penatalaksanaan penyakit irritable bowel syndrome?
M. Apa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit irritable bowel
syndrome?
N. Komplikasi apa yang dapat ditimbulkan oleh penyakit irritable bowel syndrome?
O. Bagaimana prognosis dan apa indikasi rujukan penyakit irritable bowel syndrome?

7. JAWABAN ATAS PERTANYAAN

A. Anatomi dan Fisiologi Kolon

Usus besar (kolon) terdiri atas kolon asendens, kolon transversal, kolon desenden,
sekum, apendiks, dan rektum. Sekum membentuk kantung buntu di bawah taut antara
usus halus dan usus besar di katup ileosekum. Tonjolan kecil mirip jari di dasar sekum
adalah apendiks, jaringan limfoid yang mengandung limfosit. Bagian akhir kolon
desendens berbentuk huruf S yaitu kolon sigmoid, dan kemudian berbentuk lurus
yang disebut rektum. Lapisan otot polos longitudinal di sebelah luar tidak menutupi
kolon secara penuh dan hanya terdiri dari tiga pita otot yang longitudinal yang disebut
taenia coli, yang berjalan di sepanjang usus besar. Lapisan-lapisan di bawahnya
berkumpul dalam kantung atau sakus yang disebut haustra. Usus besar (kolon)
memiliki dua buah otot sfingter, yaitu sfingter anus internus yang terdiri dari otot
polos dan sfingter anus eksternus yang merupakan otot rangka. 1,2

Dalam keadaan normal kolon menerima kimus sekitar 500 ml dari usus halus setiap
hari. Isi usus yang disalurkan ke kolon terdiri dari residu makanan yang tidak dapat

5|laporan diskusi kelompok blok gastrointestinal system


dicerna ( misalnya selulosa), komponen empedu yang tidak diserap, dan sisa cairan.
Kolon menyerap air dan garam dan mengubah isi lumen menjadi feses. Mukosa kolon
mensekresi mukus yang berfungsi melicinkan dan melindungi mukosa. Sedangkan
pergerakannya adalah: 1
1. Haustral churning, kontraksi mengerakkan isi kolon dari haustra ke haustra;
2. Peristalsis, kontraksi otot sirkuler dan longitudinal menggerakkan isi sepanjang
kolon;
3. Mass movement, mendorong isi ke kolon sigmoid;
4. Refleks defekasi, keluarnya feses oleh kontraksi kolon sigmoid dan rektum;

Gambar 1. Anatomi Usus Besar (Kolon)1

B. Refleks Defekasi

Gerakan massa (mass movement) mendorong isi kolon ke dalam rektum, terjadi
peregangan rektum yang merangsang reseptor regang di dinding rektum dan memicu
refleks defekasi. Refleks ini disebabkan sfingter anus internus melemas, rektum dan
sigmoid berkontraksi lebih kuat. Apabila sfingter anus eksternus juga melemas maka
terjadi defekasi. Karena fingter anus eksternus merupakan otot rangka dibawah
kontrol kesadaran maka defekasi dapat ditunda. 1

C. Pengaturan Pergerakan Usus melalui Persarafan Otonom

Sistem saraf otonom mempersarafi kolon melalui saraf simpatis dan saraf
parasimpatis seperti halnya organ pencernaan lainnya. Stimulasi simpatis pada kolon
akan memperlambat gerakan kolon dan stimulasi para simpatis mempercepat
pergerakan kolon. Pada sfingter, stimulasi simpatis menyebabkan kontraksi sfingter
untuk mencegah gerakan maju isi saluran dan stimulasi parasimpatis menyebabkan
relaksasi sfingter untuk memungkinkan gerakan maju isi saluran.1,3

6|laporan diskusi kelompok blok gastrointestinal system


Gambar 2. Persarafan Otonom pada Sistem Pencernaan3

D. Irritable Bowel Syndrome

1. Definisi

Irritable bowel syndrome adalah kelainan gastrointestinal fungsional, adanya


kumpulan gejala (nyeri perut, distensi dan gangguan pola defekasi) tanpa adanya
gangguan oganik. 4,5,6,7

2. Etiologi

Etiologi IBS tidak diketahui secara pasti. Sampai saat ini tidak ada teori yang
menyebutkan bahwa IBS disebabkan oleh satu faktor saja. Banyak faktor yang
menyebabkan terjadinya IBS antara lain: 4,5
– Gangguan motilitas;
– Intoleransi makanan;
– Abnormalitas sensorik;
– Abnormal dan interaksi Brain-gut;
– Hipersensitivitas viseral;
– Pasca infeksi usus;
– Stress psikologis;
– Faktor genetik.

7|laporan diskusi kelompok blok gastrointestinal system


3. Faktor Risiko

Faktor risiko IBS antara lain:6


• Wanita : pria = 2 : 1;
• Penderita dispepsia;
• Penderita asma;
• Riwayat keluarga dengan kelainan gastrointestinal;
• Childhood sexual abuse;
• Sexual abuse in women;
• Depresi;
• Kebiasaan makan yang tidak normal.

4. Klasifikasi

Pada beberapa keadaan, IBS dibagi dalam beberapa subgrup sesuai dengan
keluhan dominan yang ada pada seseorang menjadi:4
• IBS Predominan nyeri
• IBS Predominan diare
• IBS Predominan Konstipasi
• IBS Alternating Pattern

Menurut kriteria Rome III, pengelompokkan subtipe dari IBS disederhanakan


berdasarkan pada bentuk dari feses pasien. Bentuk feses diklasifikasikan
berdasarkan ’The Bristol Stool Form Scale’. Subtipe dari IBS dibedakan menjadi
4 seperti pada table berikut:5

Tabel 1. Subtipe IBS berdasarkan pola kotoran yang dominan5

Tabel 2. Skala Bristol stool form5

8|laporan diskusi kelompok blok gastrointestinal system


5. Patogenesis

Patogenesis IBS belum diketahui dengan baik, telah diusulkan adanya peranan
kelainan aktivitas motoris dan sensoris usus, disfungsi saraf pusat, gangguan
psikologis, stress, dan faktor luminal pada pathogenesis dari IBS. Tidak ada
mekanisme fisiologi khusus sebagai karakter dari IBS, setidaknya ada 3 faktor
yang saling berhubungan yang mempengaruhi gejala dengan berbagai tingkat
pada masing-masing individu dengan IBS, yaitu:5
a. Perubahan reaktivitas usus (motilitas, sekresi) dalam respon terhadap
rangsangan lumen (seperti makanan, distensi usus, inflamasi, faktor bakteri)
atau provokasi lingkungan (stress psikososial), yang mengakibatkan gejala
diare dan atau konstipasi.
b. Hipersensitivitas usus dengan peningkatan persepsi visceral dan nyeri.
c. Disregulasi aksis otak-usus, mungkin berhubungan dengan reaktivitas stress
yang lebih besar dan perubahan persepsi dan atau modulasi dari signal
aferen viseral.

Disregulasi aksis otak-usus mungkin juga memegang peranan pada subgrup


pasien dengan inflamasi usus dan adanya faktor imun setelah infeksi atau
inflamasi dari usus.5

6. Gejala Klinis dan Patofisiologi

Diagnosis berdasarkan pada interpretasi yang hati-hati pada hubungan sesaat dari
nyeri/rasa tidak nyaman, pola buang air besar dan karakteristik kotoran. Nyeri
atau rasa tidak nyaman berhubungan dengan defekasi tampaknya berasal dari
usus, dimana jika nyeri dihubungkan dengan latihan, pergerakan, buang air kecil
atau menstruasi biasanya berasal dari sebab yang berbeda. Demam, perdarahan
saluran cerna, penurunan berat badan, anemia, massa di perut dan tanda alarm
yang lain atau tanda yang bukan karena IBS dapat menyertai IBS.5

Secara skematik, patofisiologi dapat digambarkan seperti berikut ini:

Gambar 3. Skema Patofisiologi IBS


9|laporan diskusi kelompok blok gastrointestinal system
7. Diagnosis dan Pemeriksaan

Diagnosis dari IBS berasarkan atas kriteria gejala, mempertimbangkan demografi


pasien (umur, jenis kelamian, dan ras) dan menyingkirkan penyakit organik.
Melalui anamnesis riwayat secara spesifik menyingkirkan gejala alarm (red flag)
seperti penurunan berat badan, perdarahan per rektal, gejala nokturnal, riwayat
keluarga dengan kanker, pemakaian antibiotik dan onset gejala setelah umur 50
tahun.5

Tidak ada tes diagnosis yang khusus, diagnosis ditegakkan secara klinis.
Pendekatan klinis ini kemudian dipakai guideline dengan berdasarkan kriteria
diagnosis. Saat ini ada beberapa kriteria diagnosis untuk IBS diantaranya kriteria
Manning, Rome I, Rome II, dan Rome III.5

Tabel 3. Kriteria Manning4


Gejala yang sering diderita:
- feses cair pada saat nyeri
- frekuensi BAB bertambah saat nyeri
- nyeri berkurang setelah BAB
- tampak distensi abdomen
Dua gejala tambahan yang sering muncul pada pasien IBS:
- Lendir saat BAB
- Perasaan tidak lampias saat BAB

Menurut kriteria Rome III, nyeri perut atau rasa tidak nyaman setidaknya 3 hari
per bulan dalam 3 bulan terakhir dihubungkan dengan 2 atau lebih hal berikut:5
1. Membaik dengan defekasi;
2. Onset dihubungkan dengan perubahan pada frekuensi kotoran;
3. Onset dihubungkan dengan perubahan pada bentuk (penampakan) dari
kotoran.

Kriteria terpenuhi selama 3 bulan terakhir dengan onset gejala setidaknya 6 bulan
sebelum diagnosis.5

Gejala penunjang yang tidak masuk dalam kriteria diagnosis meliputi kelaianan
pada frekuensi kotoran (< 3 kali per minggu atau > 3 kali per hari), kelainan
bentuk kotoran (kotoran keras atau kotoran encer/berair), defekasi strining,
urgency, juga perasaan tidak tuntas saat buang air besar, mengeluarkan mukus
dan perut kembung.5

Pemeriksaan lanjutan lain dilakukan untuk menyingkirkan diagnosis diferensial,


yaitu:5
• Pemeriksaan darah lengkap;
• Pemeriksaan biokimia darah;
• Pemeriksaan hormon tiroid;
• Sigmoidoskopi;
• Kolonoskopi.

10 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k g a s t r o i n t e s t i n a l s y s t e m
8. Diagnosis Diferensial

Beberapa penyakit harus dipikirkan sebagai diagnosis diferensial dari BS karena


penyakit-penyakit ini juga mempunyai gejala yang lebih kurang sama dengan
IBS. Beberapa pertanyaan yang sering ditanyakan untuk mencari penyebab nyeri
perut dan dihubungkan dengan kemungkinan IBS sebagai penyebab dapat dilihat
pada tabel berikut.4

Tabel 4. Daftar Pertanyaan untuk Diagnosis IBS4

Pada IBS diare sering didiagnosis diferensial dengan defisiensi laktase. Kelainan
lain yang juga harus dipikirkan adalah:4
• IBD (Inflammatory Bowel Disease);
• Kanker kolorektal;
• Divertikulitis;
• Obstruksi mekanik pada usus halus atau kolon;
• Infeksi usus;
• Iskemia usus;
• Maldigesti dan malabsorbsi;
• Endometriosis pada pasien yang mengalami nyeri saat menstruasi.

9. Penatalaksanan

Penatalaksanaan IBS meliputi modifikasi diet, intervensi psikologi, dan terapi


farmakologi. Modifikasi diet terutama meningkatkan konsumsi serat pada IBS
predominan konstipasi. Sebaliknya pada pasien IBS dengan predominan diare
konsumsi serat dikurangi. Selanjutnya menghindari makanan dan minuman yang
dicurigai sebagai pencetus, jika menghilang setelah menghindari makanan
tersebut coba lagi setelah 3 bulan secara bertahap.4

Terapi psikologis bertujuan untuk mengurangi kecemasan dan gejala psikologis


lainnya serta gejala gastrointestinal. Intervensi psikologis ini meliputi edukasi
(penerangan tentang perjalanan penyakitnya), relaksasi, hypnotherapy, terapi
psikodinamik atau interpersonal dan cognitive behavioural therapy serta obat-
obat psikofarmaka.4

Obat-obatan yang diberikan untuk IBS terutama untuk menghilangkan gejala


yang timbul antara lain untuk mengatasi nyeri abdomen, mengatasi konstipasi,
mengatasi diare dan antiansietas. Obat-obatan ini biasanya diberikan secara
kombinasi.4

11 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k g a s t r o i n t e s t i n a l s y s t e m
Untuk mengatasi nyeri abdomen sering digunakan antispasmodik yang memiliki
efek kolinergik dan lebih bermanfaat pada nyeri perut setelah makan. Obat-obat
yang sudah beredar di Indonesia antara lain mebeverine 3x135 mg, hyocine butyl
bromide 3x10 mg, chlordiazepoksid 5 mg, klidinium 2,5 mg 3x1 tablet dan
alverine 3x30 mg.4

Untuk IBS konstipasi, tegaserod suatu 5-HT4 reseptor antagonis bekerja


meningkatkan akselerasi usus halus dan meningkatkan sekresi cairan usus.
Tegaserod biasanya diberikan dengan dosis 2 x 6 mg selama 10-12 minggu.4

Untuk IBS tipe diare beberpa obat juga dapat diberikan antara lain loperamid
dengan dosis 2-16 mg per hari.4

Berikut ini kemungkinan obat untuk gejala yang dominan dari IBS.

Table 5. Possible Drugs for a Dominant Symptom in IBS7


Symptom Drug Dose
Diarrhea Loperamide 2–4 mg when
necessary/maximum 12 g/d
Cholestyramine resin 4 g with meals
Alosetrona 0.5–1 mg bid (for severe IBS,
women)
Constipation Psyllium husk 3–4 g bid with meals, then
adjust
Methylcellulose 2 g bid with meals, then adjust
Calcium polycarbophil 1 g qd to qid
Lactulose syrup 10–20 g bid
70% sorbitol 15 mL bid
Polyethylene glycol 3350 17 g in 250 mL water qd
Lubiprostone (Amitiza) 24 mg bid
Magnesium hydroxide 30–60 mL qd
Abdominal Smooth-muscle relaxant qd to qid ac
pain Tricyclic antidepressants Start 25–50 mg hs, then adjust
Selective serotonin Begin small dose, increase as
reuptake inhibitors needed

10. Pencegahan

Untuk mencegah IBS antara lain:8


 Hindari Stress;
 Konsumsi makanan yang banyak mengandung serat;
 Hindari makanan pemicu (makanan pedas);
 Kurangi intake lemak;
 Kurangi intake short chain carbohidrat;
 Kurangi konsumsi alkohol, kafein, pemanis buatan;
 Menjaga kebersihan makanan;

12 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k g a s t r o i n t e s t i n a l s y s t e m
11. Komplikasi

Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit irritable bowel syndrome antara lain
adalah:8
 Malnutrisi;
 Prolapsus rektum karena konstipasi;
 Penurunan kualitas hidup; dan
 Gangguan psikologis.

12. Prognosis dan Indikasi Rujukan

Penyakit IBS tidak akan meningkatkan mortalitas, gejala-gejala pasien IBS


biasanya akan membaik dan hilang setelah 12 bulan pada 50% kasus dan hanya
<5% yang akan memburuk dan sisanya dengan gejala yang menetap. Tidak ada
perkembangan menjadi keganasan dan penyakit imflamasi.4

Menurut standard kompetensi dokter indonesia, irritable bowel syndome bagi


dokter umum berada pada tingkat kemampuan 3a, yaitu mampu membuat
diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan-pemeriksaan
tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya: pemeriksaan laboratorium
sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi
pendahuluan, serta merujuk ke spesialis yang relevan (bukan kasus gawat
darurat).9

8. ULASAN

Pada pleno pakar disebutkan bahwa penyakit irritable bowel syndrome (IBS) masih
kontroversial dalam menegakkan diagnosis. Hal ini karena ketidakjelasan etiologi. Oleh
karena itu dalam menegakkan diagnosis didasarkan pada gejala klinis. Ada pun kriteria
yang dipakai dalam menegakkan diagnosis antara lain kriteria Manning dan Roma.
Kriteria Roma disusun oleh gastroenterolog dari seluruh dunia yang berkumpul di Roma.
Kriteria ini terus berkembang disesuaikan dengan gejala klinis yang ditemukan dan yang
paling sesuai saat ini. Pada beberapa buku masih menggunakan kriteria Roma II dalam
menegakkan diagnosis IBS. Tetapi saat ini yang digunakan adalah kriteria Rome III yang
mulai ditetapkan sejak 2006.

Irritable bowel syndrome pada umumnya dianggap sebagai penyakitnya wanita, karena
berdasarkan temuan pada sampel dimana wanita 3-4 kali lebih sering dari laki-laki pada
seting klinis, dan diperkirakan 2:1 pada komunitas masyarakat. Alasan kenapa wanita
lebih sering mengalami IBS tidak diketahui secara pasti, diduga karena wanita lebih sering mengalami
stres dan adanya hubungan dengan hormon.

Pada tutorial disimpulkan bahwa pasien pada pemicu mengalami IBS dengan predominan
diare, hal ini dikarenakan os datang dengan keluhan diare. Tetapi pada anamnesis lebih
lanjut dalam more info dikatakan os mengalami konstipasi. Hal ini menyebabkan
kebingungan dalam pengklasifikasian penyakitnya. Pada pleno pakar disebutkan bahwa os
mengalami IBS predominan alternaing pattern. Karena pasien pada pemicu mengalami
keluhan diare dan juga konstipasi.

13 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k g a s t r o i n t e s t i n a l s y s t e m
9. KESIMPULAN

Kolon terdiri atas kolon asendens, kolon transversal, kolon desenden, sekum, apendiks,
dan rektum. Kolon menskresi mukus yang berfungsi melicinkan mukosa dan melancarkan
pergerakan. Kolon tidak menyerap zat gizi tetapi menyerap air dan garam. Pergerakan
kolon antara lain peristaltik, kontraksi haustra, dan gerakan massa. Gerakan massa ini
yang memicu refleks defekasi. Kolon di persarafi oleh sistem saraf otonom melalui
persarafan simpatis dan parasimpatis. Stimulasi simpatis memperlambat gerakan kolon
dan stimulasi parasimpatis mempercepat pergerakan kolon.

Irritable bowel syndrome (IBS) merupakan kelainan fungsional saluran cerna yang sering
terjadi yang ditandai dengan nyeri perut, rasa tidak nyaman diperut dan perubahan pola
buang air besar (BAB). Sebagai gejala tambahan pada nyeri perut, diare atau konstipasi,
gejala khas lain meliputi perut kembung, adanya gas dalam perut, stool urgensi atau
strining dan perasaan evakuasi kotoran tidak lengkap.

Penyebab IBS tidak diketahui secara pasti, diduga berhubungan dengan gangguan
motilitas, intoleransi makanan, abnormalitas sensorik, abnormal dan interaksi brain-gut,
hipersensitivitas viseral, pasca infeksi usus, stress psikologis, faktor genetik. IBS dibagi
dalam beberapa subgrup sesuai dengan keluhan dominan, yaitu IBS Predominan nyeri,
diare, konstipasi, dan alternating pattern.

Pasien pada pemicu mengalami irritable bowel syndrome (IBS) predominan diare.
Penatalaksanaan dengan modifikasi diet dengan mengurangi makanan berserat dan
menghindari makanan pencetus. Obat yang diberikan adalah antidiare golongan opioid
agonist, yaitu loperamid.

10. REFERENSI

1. Sherwood, Laurelee. Sistem Pencernaan. Dalam: Santoso, Beatricia I (edt). Fisiologi


Manusia dari Sel ke Sistem Edisi 2. Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC. 2001;
537-588.
2. Drake, Richard L. Gray’s Anatomy for Student. Copyright © 2007 Elsevier Inc. All
rights reserved
3. Keshav, Satish. Enteric and Autonomic Nerves. In: The Gastrointestinal System at a
Glance. ©2004 by Blackwell Science Ltd.
4. Manan, Chudahma dan Ari Fahrial Syam. Irritable Bowel Syndrome (IBS). Dalam:
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. 2008; 381-382.
5. Perkembangan Terkini Dalam Diagnosis Dan Penatalaksanaan Irritable Bowel
Syndrome. I Ketut Mariadi dan I Dewa Nyoman Wibawa. Bagian/SMF Ilmu Penyakit
Dalam FK Unud/ RSUP Sanglah Denpasar.
6. O’Callahan, Kelly J. Irritable Bowel Syndrome. In: Frank JD (edt). The 5-Minute
Clinical Consult 2008 - 16th Ed. 2008.
7. Owyang, Chung. Irritable Bowel Syndrome. In: Fauci Anthony S. et al. (edt).
Harrison’s Principal of Internal Medicine 17th Edition. San fransisco: The McGraw-
Hill Companies. 2007.
8. Irritable Bowel Syndrome. Available at: www.emedicinehealth.com
9. Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter Indonesia.2006

14 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k g a s t r o i n t e s t i n a l s y s t e m
Lampiran

Patogenesis IBS

15 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k g a s t r o i n t e s t i n a l s y s t e m
Evidence base terapi pada IBS

16 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k g a s t r o i n t e s t i n a l s y s t e m
Rangkuman bukti klinis dari efikasi terapi pada
IBS

17 | l a p o r a n d i s k u s i k e l o m p o k b l o k g a s t r o i n t e s t i n a l s y s t e m