Anda di halaman 1dari 67

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Di dalam Deklarasi Millenium (Millenium Development Goals 2015)


mempunyai delapan tujuan umum yaitu mencakup kemiskinan, pendidikan,
kesetaraan gender, angka kematian bayi, kesehatan ibu, beberapa penyakit
menular, lingkungan, permasalahan global, bantuan dan uang. Lingkungan
merupakan salah satu tujuan umum karena lingkungan sangat berperan besar
dalam penyebaran penyakit menular.1

Demam tifoid juga dikenal sebagai enteric fever atau thyphoid


abdominalis merupakan suatu penyakit menular dan merupakan penyakit
endemik di Indonesia. Penyakit ini erat hubungannnya dengan lingkungan,
tertutama lingkungan yang tidak memenuhi syarat kesehatan seperti penyediaan
air, sanitasi lingkungan yang buruk dan higine pribadi yang rendah, sehingga
demam tifoid banyak ditemukan dalam kehidupan masyarakat kita, baik di
perkotaan maupun di pedesaan.1,2

Penyakit ini merupakan suatu penyakit infeksi akut yang terjadi pada
saluran pencernaan dimana tanda atau gejala yang muncul pada penderita berupa
demam, anorexia, malaise, diare atau konstipasi dan kejadian yang paling parah
jika tidak ditangani adalah terjadinya perforasi usus, perdarahan usus hingga
menyebabkan gangguan kesadaran. Penyakit ini disebabkan oleh Salmonella
parathyphi dan atau Salmonella thyphi dimana penularan terjadi melalui
makanan dan minuman yang terkontamiasi kuman.2,3

Angka insiden demam tifoid di Indonesia selama kurun waktu lima tahun
dari tahun 2002 sampai dengan tahun 2006 mempunyai kecendrungan
penurunan dari 64 per 100.000 penduduk pada tahun 2002 menjadi 2.6 per
100.000 penduduk pada tahun 2006.1
Di Sulawesi Selatan tahun 2013 angka kejadian 31.633 penderita. Pada
penelitian yang dilakukan di RSUD Kota Makassar menunjukkan bahwa

1
proporsi tertinggi penderita demam tifoid pada periode Januari-Desember 2014
berdasarkan bulan adalah bulan Mei 13,9%, berdasarkan umur dan jenis kelamin
adalah kelompok umur 18-30 tahun sebesar 57,6% dengan proporsi laki-laki
23,8% dan perempuan 33,8%, berdasarkan pendidikan adalah pendidikan
menengah (SLTP/SLTA) 67,4% , berdasarkan pekerjaan tertinggi adalah
pelajar/mahasiswa 33,7%. 3

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka masalah


yang dapat dirumuskan adalah :

1. Apa saja yang dapat mengakibatkan terjadinya demam tifoid?


2. Bagaimana menegakkan diagnosa secara klinis dan diagnosa psikososial?
3. Bagaimana tingkat pengetahuan keluarga dalam menyikapi penyakit
tersebut?
4. Bagaimana hasil dari penatalaksanaan yang diberikan dan upaya
pengendalian demam tifoid?
5. Apa saja tindakan yang perlu dilakukan untuk pencegahan penyakit
demam tifoid?

1.3 Aspek dari Disiplin Ilmu Yang Terkait Dengan Judul Pendekatan
Kedokteran Keluarga Pada Penderita Demam Tifoid

Untuk pengendalian permasalahan demam tifoid pada tingkat individu


dan masyarakat secara komprehentif dan holistik yang disesuaikan dengan
pendekatan kedokteran keluarga yang diseuaikan dengan Standar Kompetensi
Dokter Indonesia (SKDI), maka mahasiswa program profesi dokter Universitas
Muslim Indonesia melakukan kegiatan kepanitraan klinik pada bagian Ilmu
Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas dilayanan primer
(Puskesmas) dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi yang dilandasi
oleh profesionalitas yang luhur, mawas diri dan pengembangan diri, serta
komunikasi efektif. Selain itu kompetensi mempunyai landasan berupa

2
pengelolaan informasi, landasan ilmiah ilmu kedokteran, keterampilan
klinis, dan pengelolaan masalah kesehatan.

Kompetensi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:


1.3.1 Profesionalitas yang luhur (Kompetensi 1) : untuk mengidentifikasi
dan menyelesaikan permasalahan dalam pengendalian demam tifoid
secara individual, masyarakat maupun pihak terkait ditinjau dari nilai
agama, etik moral dan peraturan perundangan.
1.3.2 Mawas diri dan pengembangan diri (Kompetensi 2) : Mahasiswa
mampu mengenali dan mengatasi masalah keterbatasan fisis, psikis,
sosial dan budaya sendiri dalam penangan penyakit demam tifoid,
melakukan rujukan bagi kasus demam tifoid, sesuai dengan Standar
Kompetensi Dokter Indonesia yang berlaku serta mengembangkan
pengetahuan.
1.3.3 Komunikasi efektif (Kompetensi 3) : Mahasiswa mampu melakukan
komunikasi, pemberian informasi dan edukasi pada individu,
keluarga, masyarakat dan mitra kerja dalam pengendalian Demam
tifoid.
1.3.4 Pengelolaan Informasi (Kompetensi 4) : Mahasiswa mampu
memanfaatkan teknologi informasi komunikasi dan informasi
kesehatan dalam praktik kedokteran.
1.3.5 Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran (Kompetensi 5) : Mahasiswa
mampu menyelesaikan masalah pengendalian demam tifoid secara
holistik dan komprehensif baik secara individu, keluarga maupun
komunitas berdasarkan landasan ilmiah yang mutakhir untuk
mendapatkan hasil yang optimum.

1.3.6 Keterampilan Klinis (Kompetensi 6) : Mahasiswa mampu melakukan


prosedur klinis yang berkaitan dengan masalah demam tifoid dengan
menerapkan prinsip keselamatan pasien, keselamatan diri sendiri, dan
keselamatan orang lain.

3
1.3.7 Pengelolaan Masalah Kesehatan (Kompetensi 7) : Mahasiswa mampu
mengelola masalah kesehatan individu, keluarga maupun masyarakat
secara komprehensif, holistik, koordinatif, kolaboratif, dan
berkesinambungan dalam konteks pelayanan kesehatan primer.

1.4 Tujuan dan Manfaat Studi Kasus


Prinsip pelayanan dokter keluarga pada pasien ini adalah melakukan
penatalaksanaan masalah kesehatan dengan memandang pasien sebagai individu
yang utuh terdiri dari unsur biopsikososial, serta penerapan prinsip pencegahan
penyakit promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Proses pelayanan dokter
keluarga dapat lebih berkualitas bila didasarkan pada hasil penelitian ilmu
kedokteran terkini (evidence based medicine).
1.4.1 Tujuan Umum
Tujuan dari penulisan laporan studi kasus ini adalah untuk
menerapkan penanganan penderita demam tifoid dengan pendekatan
kedokteran keluarga secara paripurna (komprehensif) dan holistik, sesuai
dengan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI), berbasis Evidence
Based Medicine (EBM) pada pasien dengan mengidentifikasi faktor
risiko dan masalah klinis serta prinsip penatalaksanaan penderita demam
tifoid dengan pendekatan kedokteran keluarga di Puskesmas Maccini
Sawah tahun 2019.
1.4.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui penyebab demam thyphoid yang terjadi pada pasien
Puskesmas Maccini Sawah Makassar tahun 2019
2. Mengetahui cara penegakan diagnosis klinis dan psikososial demam
tifoid di Puskesmas Maccini Sawah tahun 2019
3. Mengidentifikasi permasalahan yang didapatkan dalam keluarga dan
lingkungan social yang berkaitan dengan demam tifoid di Puskesmas
Maccini Sawah Makassar tahun 2019
4. Mengetahui upaya penatalaksanaan dan pengendalian demam tifoid di
Puskesmas Maccini Sawah tahun 2019
5. Mengetahui cara pencegahan penyakit demam tifoid
4
1.4.3 Manfaat Studi Kasus
1.4.3.1 Bagi Institusi Pendidikan
Dapat dijadikan acuan (referensi) bagi studi kasus lebih
lanjut sekaligus sebagai bahan atau sumber bacaan di
perpustakaan.
1.4.3.2 Bagi Penderita (Pasien)
Menambah wawasan mengenai demam tifoid yang
meliputi proses penyakit dan penanganan menyeluruh demam
tifoid sehingga dapat memberikan keyakinan untuk tetap
berobat secara teratur.
1.4.3.3 Bagi Tenaga Kesehatan

Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan informasi


bagi pemerintah daerah dan instansi kesehatan beserta
paramedis yang terlibat di dalamnya mengenai pendekatan
diagnosis holistik penderita demam tifoid.
1.4.3.4 Manfaat Untuk Pembelajaran Studi Kasus (Mahasiswa)
Sebagai pengalaman berharga bagi penulis sendiri
dalam rangka memperluas wawasan dan pengetahuan
mengenai evidence based medicine dan pendekatan diagnosis
holistik demam tifoid serta dalam hal penulisan studi kasus.
1.5 Indikator Keberhasilan Tindakan

Indikator keberhasilan tindakan setelah dilakukan penatalaksanaan


penderita demam tifoid dengan pendekatan diagnostik holistik, berbasis
kedokteran keluarga dan evidence based medicine adalah perbaikan gejala
yang dapat dievaluasi setelah istirahat (bed rest) dan pengobatan demam
tifoid.
a. Bebas Demam
b. Buang air besar lancar
c. Sakit perut menghilang

5
Dari uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa Penilaian
keberhasilan tindakan pengobatan didasarkan gejala yang dikeluhkan. Hal ini
disebabkan masa inkubasi dari penyakit ini bersifat cepat dan dapat sembuh
jika berobat teratur dan istiraht. Selain itu, kepatuhan untuk menghindari
faktor resiko juga merupakan kunci utama keberhasilan pengobatan.

6
BAB II
ANALIS KEPUSTAKAAN DAN BERDASARKAN KASUS

2.1 Kerangka Teori

Sanitasi/Lingkungan yang Buruk Sistem Imunitas Menurun

Makanan dan Minuman


yang terpapar

PEJAMU (HOST)
Bakteri Berkembang Biak

INFEKSI
Bakteri Menginvasi Ke Jaringan

DEMAM
TIFOID

Gambar 1 : Kerangka Teori

7
2.1.1 Konsep Mandala
Gaya Hidup
Gaya hidup
- Kebiasaan pasien mengonsumsi makanan di
Kebutuhan primer merupakan
sekitar sekolah yang tidak terjamin
prioritas utama
kebersihannya

Lingkungan Psiko-Sosial-Ekonomi
Bio-Psiko-Sosio-Ekonomi
Perilaku Kesehatan
- -Kehidupan
Kecemasan orang
sosial tualingkungan
dengan pasien
baik
tehadap penyakit anaknya
- Tidak Perilakucucikesehatantangan - Kondisi ekonomi pasien tergolong
menggunakan sabun sebelum -kalangan
Kondisi ekonomi
menengah menengah
- Kebersihan Diri - Kurangnya pengetahuan mengenai
makan,Hygiene
dan sesudah buangdan
pribadi air. demam tifoid
- Memakan makanan
lingkungan yang tidak
masih - Orang tua pasien khawatir jika
terlalu matang. keadaan sakitnya memburuk
kurang
- Berobat tidak teratur.
Berobat hanya jika
ada

Lingkungan
Lingkungan Kerja
Pelayanan Kesehatn
Pelayanan Keluarga - sekolah
Penjual makanan di
- kesehatan
Jarak rumah dan Kebersihan
sekolah tidak
puskesmas dekat memerhatikan kebersihan
- Jarak kurang terjaga
- Jaminan kesehatan dari makanan yang
rumah
yaitu BPJS dijualnya.
dengan
puskemas Pasien
dekat
Demam 4 hari
Mual Muntah
Sulit BAB +4 hari
Nyeri Perut

Lingkungan Fisik

- Sampah basah di dapur dekat


Faktor biologi Lingkungan fisik
dengan tempat masak.
- Sumber air sehari-hari adalah
sumur bor
- Invasi Kuman Patogen
- Halaman rumah pasien cukup luas
- Usia dan bersih, terdapat kandang
burung dipojok halaman.
- Jenis kelamin

Komunitas
Pemukiman cukup padat

Gambar 2 : Konsep Mandala

8
2.2 Pendekatan Diagnosis Holistik Untuk Mengetahui Penyebab Demam
Tifoid Pada Pelayanan Kedokteran Keluarga Di Layanan Primer

Pendekatan secara holistik adalah memandang manusia sebagai mahluk


biopsikososio-kultural-spiritual pada ekosistemnya. Sebagai mahluk biologis
manusia adalah merupakan sistem organ yang terbentuk dari jaringan serta sel-
sel yang kompleks fungsionalnya.
Diagnosis holistik adalah kegiatan untuk mengidentifikasi dan
menentukan dasar dan penyebab penyakit (disease), luka (injury) serta
kegawatan yang diperoleh dari alasan kedatangan, keluhan personal, riwayat
penyakit pasien, pemeriksaan fisik, hasil pemeriksaan penunjang, penilaian
risiko internal/individual dan eksternal dalam kehidupan pasien serta
keluarganya.
Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan
kesehatan yang berorientasi komunitas dengan titik kepada keluarga, tidak
hanya memandang penderita sebagai individu yang sakit tetapi sebagai bagian
dari unit keluarga dan tidak hanya menanti secara pasif, tetapi bila perlu aktif
mengunjungi penderita atau keluarganya. Sesuai dengan arah yang digariskan
dalam Sistem Kesehatan Nasional 2004, maka dokter keluarga secara bertahap
akan diperankan sebagai pelaku pelayanan pertama (layanan primer).
Tujuan Diagnostik Holistik :
1. Penyembuhan penyakit dengan pengobatan yang tepat
2. Hilangnya keluhan yang dirasakan pasien
3. Pembatasan kecacatan lanjut
4. Penyelesaian pemicu dalam keluarga (masalah sosial dalam
kehidupannya)
5. Jangka waktu pengobatan pendek
6. Tercapainya percepatan perbaikan fungsi sosial
7. Terproteksi dari resiko yang ditemukan
8. Terwujudnya partisipasi keluarga dalam penyelesaian masalah
Diagnosa secara holistik sangat penting dilakukan sebelum melakukan
terapi, tujuannya yakni
9
1. Menentukan kedalaman letak penyakit
2. Menentukan kekuatan serangan pathogen penyakit
3. Menentukan kekuatan daya tahan tubuh yang meliputi kekuatan fungsi
organ
4. Menentukan urutan tatacara terapi dan teknik terapi yang akan
dipilihnya
5. Menentukan interfal kunjungan terapi.

Diagnosis Holistik memiliki standar dasar pelaksanaan yaitu :


1. Membentuk hubungan interpersonal antar petugas administrasi
(penerimaan, pencatatan biodata) dengan pasien
2. Membentuk hubungan interpersonal antara paramedis dengan pasien.
Melakukan pemeriksaan saringan (Triage), data diisikan dengan
lembaran penyaring
3. Membentuk hubungan interpersonal anatara dokter dengan pasien
4. Melakukan anamnesis
5. Melakukan pemeriksaan fisik
6. Penentuan derajat keparahan penyakit berdasarkan gejala, komplikasi,
prognosis, dan kemungkinan untuk dilakukan intervensi
7. Menentukan resiko individual diagnosis klinis sangat dipengaruhi
faktor individual termasuk perilaku pasien
8. Menentukan pemicu psikososial dari pekerjaan maupun komunitas
kehidupan pasien
9. Menilai aspek fungsi sosial.

Dasar-dasar dalam pengembangan pelayanan/pendekatan kedokteran


keluarga di layanan primer antara lain :
1. Pelayanan kesehatan menyeluruh (holistik) yang mengutamakan upaya
promosi kesehatan dan pencegahan penyakit
2. Pelayanan kesehatan perorangan yang memandang seseorang sebagai
bagian dari keluarga dan lingkungan komunitasnya

10
3. Pelayanan yang mempertimbangkan keadaan dan upaya kesehatan
secara terpadu dan paripurna (komprehensif).
4. Pelayanan medis yang bersinambung
5. Pelayanan medis yang terpadu

Pelayanan komprehensif yaitu pelayanan yang memasukkan


pemeliharaan dan peningkatan kesehatan (promotive), pencegahan penyakit
dan proteksi khusus (preventive & spesific protection), pemulihan kesehatan
(curative), pencegahan kecacatan (disability limitation) dan rehabilitasi setelah
sakit (rehabilitation) dengan memperhatikan kemampuan sosial serta sesuai
dengan mediko legal etika kedokteran.
Pelayanan medis yang bersinambung merupakan pelayanan yang
disediakan dokter keluarga merupakan pelayanan bersinambung, yang
melaksanakan pelayanan kedokteran secara efisien, proaktif dan terus menerus
demi kesehatan pasien.
Pelayanan medis yang terpadu artinya pelayanan yang disediakan
dokter keluarga bersifat terpadu, selain merupakan kemitraan antara dokter
dengan pasien pada saat proses penatalaksanaan medis, juga merupakan
kemitraan lintas program dengan berbagai institusi yang menunjang pelayanan
kedokteran, baik dari formal maupun informal. Prinsip pelayanan Kedokteran
Keluarga di Layanan Primer adalah:
1. Comprehensive care and holistic approach
2. Continuous care
3. Prevention first
4. Coordinative and collaborative care
5. Personal care as the integral part of his/her family
6. Family, community, and environment consideration
7. Ethics and law awareness
8. Cost effective care and quality assurance
9. Can be audited and accountable care

11
Pendekatan menyeluruh (holistic approach), yaitu peduli bahwa pasien
adalah seorang manusia seutuhnya yang terdiri dari fisik, mental, sosial dan
spiritual, serta berkehidupan di tengah lingkungan fisik dan sosialnya.
Untuk melakukan pendekatan diagnosis holistik, maka perlu kita
melihat dari beberapa aspek yaitu:
1. Aspek Personal : Keluhan utama, harapan dan kekhawatiran.
2. Aspek Klinis: Bila diagnosis klinis belum dapat ditegakkan cukup
dengan diagnosis kerja dan diagnosis banding.
3. Aspek Internal : Kepribadian seseorang akan mempengaruhi perilaku.
Karakteristik pribadi amat dipengaruhi oleh umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, sosial ekonomi, kultur, etnis, dan lingkungan.
4. Aspek Eksternal : Psikososial dan ekonomi keluarga.
5. DerajatFungsi Sosial :
A. Derajat 1: Tidak ada kesulitan, dimana pasien dapat hidup mandiri
B. Derajat 2: Pasien mengalami sedikit kesulitan.
C. Derajat 3: Ada beberapa kesulitan, perawatan diri masih bisa
dilakukan, hanya dapat melakukan kerja ringan.
D. Derajat 4: Banyak kesulitan. Tak melakukan aktifitas kerja,
tergantung pada keluarga.
E. Derajat 5: Tak dapat melakukan kegiatan

12
2.3 Demam Typhoid
2.3.1 Definisi
Demam tifoid juga dikenal sebagai enteric fever atau thyphoid
abdominalis merupakan suatu penyakit infeksi akut yang terjadi pada
saluran pencernaan yang disebabkan oleh infeksi kuman Salmonella
typhii dan salmonella parathyphi. Penyakit ini merupakan penyakit
endemik di Indonesia. Dari telaah kasus di rumah sakit besar di
Indonesia, tersangka demam tifoid menunjukkan kecenderungan
meningkat dari tahun ke tahun dengan rata-rata kesakitan 500/100.000
penduduk dan angka kematian antara 0.6–5% (KMK, 2006). 2,4,7

2.3.2 Etiologi
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau
Salmonella paratyphi dari Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk
batang, gram negatip, tidak membentuk spora, motil, berkapsul dan
mempunyai flagella (bergerak dengan rambut getar). Bakteri ini dapat
hidup sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam air, es,
sampah dan debu. Bakteri ini dapat mati dengan pemanasan (suhu 600 C)
selama 15 – 20 menit, pasteurisasi, pendidihan dan khlorinisasi.
Salmonella typhi mempunyai 3 macam antigen, yaitu :4,5
A. Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari
tubuh kuman. Bagian ini mempunyai struktur kimia
lipopolisakarida atau disebut juga endotoksin. Antigen ini tahan
terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap formaldehid.
B. Antigen H (Antigen Flagella), yang terletak pada flagella, fimbriae
atau pili dari kuman. Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu
protein dan tahan terhadap formaldehid tetapi tidak tahan terhadap
panas dan alkohol.
C. Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang
dapat melindungi kuman terhadap fagositosis.

13
Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita
akan menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibodi yang lazim
disebut aglutinin4,5

2.3.3 Epidemiologi
A. Trias Epidemiologi
a. Faktor Host
Manusia adalah sebagai reservoir bagi kuman
Salmonella thypi. Terjadinya penularan Salmonella thypi
sebagian besar melalui makanan/minuman yang tercemar oleh
kuman yang berasal dari penderita atau carrier yang biasanya
keluar bersama dengan tinja atau urine. Dapat juga terjadi trasmisi
transplasental dari seorang ibu hamil yang berada dalam
bakterimia kepada bayinya. Penelitian yang dilakukan oleh Heru
Laksono (2009) dengan desain case control, mengatakan bahwa
kebiasaan jajan di luar mempunyai resiko terkena penyakit
demam tifoid pada anak 3,6 kali lebih besar dibandingkan dengan
kebiasaan tidak jajan diluar (OR=3,65) dan anak yang
mempunyai kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan
beresiko terkena penyakit demam tifoid 2,7 lebih besar
dibandingkan dengan kebiasaan mencuci tangan sebelum makan 4

b. Faktor Agent
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi
dan Salmonella paratyphi. Jumlah kuman yang dapat
menimbulkan infeksi adalah sebanyak 105– 109 kuman yang
tertelan melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.
Semakin besar jumlah Salmonella thypi yang tertelan, maka
semakin pendek masa inkubasi penyakit demam tifoid.4

14
c. Faktor Environment
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai
secara luas di daerah tropis terutama di daerah dengan kualitas
sumber air yang tidak memadai dengan standar hygiene dan
sanitasi yang rendah. Beberapa hal yang mempercepat terjadinya
penyebaran demam tifoid adalah urbanisasi, kepadatan penduduk,
sumber air minum dan standart hygiene industri pengolahan
makanan yang masih rendah. Berdasarkanhasil penelitian Lubis,
R. di RSUD. Dr. Soetomo (2000) dengan desain case control,
mengatakan bahwa higiene perorangan yang kurang, mempunyai
resiko terkena penyakit demam tifoid 20,8 kali lebih besar
dibandingkan dengan yang higiene perorangan yang baik
(OR=20,8) dan kualitas air minum yang tercemar berat coliform
beresiko 6,4 kali lebih besar terkena penyakit demam tifoid
dibandingkan dengan yang kualitas air minumnya tidak tercemar
berat coliform (OR=6,4). 4

B. Variabel Epidemiologi
a. Orang (person)
Demam tifoid dapat menginfeksi semua orang dan tidak ada
perbedaan yang nyata antara insiden pada laki-laki dan
perempuan.4 Pada penelitian yang dilakukan di RSUD Kota
Makassar menunjukkan bahwa proporsi tertinggi penderita
demam tifoid pada periode Januari-Desember 2014 berdasarkan
bulan adalah bulan Mei 13,9%, berdasarkan umur dan jenis
kelamin adalah kelompok umur 18-30 tahun sebesar 57,6%
dengan proporsi laki-laki 23,8% dan perempuan 33,8%.3

15
b. Tempat dan Waktu (Place and time)
Demam tifoid tersebar di seluruh dunia. Pada tahun 2000,
insiden rate demam tifoid di Amerika Latin 53 per 100.000
penduduk dan di Asia Tenggara 110 per 100.000 penduduk. Di
Indonesia demam tifoid dapat ditemukan sepanjang tahun, di
Jakarta Utara pada tahun 2001, insiden rate demam tifoid 680 per
100.000 penduduk dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 1.426
per 100.000 penduduk. 4

2.3.4 Patomekanisme
Salmonella Typhi dapat hidup di dalam tubuh manusia. Manusia yang
terinfeksi bakteri Salmonella Typhi dapat mengekskresikannya melalui
sekret saluran nafas, urin dan tinja dalam jangka waktu yang bervariasi.
Kuman masuk ke tubuh manusia terjadi melaui makanan, maupun
minuman yang sudah terkontaminasi. Patogenesis demam tifoid
melibatkan 4 proses mulai dari penempelan bakteri ke lumen usus,
bakteri bermultiplikasi di makrofag. Peyer’s patch, bertahan hidup di
aliran darah dan menghasilkan enterotoksin yang menyebabkan
keluarnya elektrolit dan air ke lumen intestinal. Bakteri Salmonella Typhi
bersama makanan atau minuman masuk ke dalam tubuh melalui mulut.
Pada saat melewati lambung dengan suasana asam banyak bakteri yang
mati. Bakteri yang masih hidup akan mencapai usus halus, melekat pada
sel mukosa kemudian menginvasi dan menembus dinding usus tepatnya
di ileum dan yeyunum. Sel M, sel epitel yang melapisi Peyer’s patch
merupakan tempat bertahan hidup dan multiplikasi Salmonella Typhi.
Selanjutnya ke lamina propria, disini kuman berkembang biak dan
difagosit oleh sel sel fagosit terutama makrofag. Kuman dapat hidup dan
berkembang biak didalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plak
peyer ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika.
Selanjutnya melalui duktus toracicus kuman yang terdapat dalam
makrofag ini masuk kedalam sirkulasi darah sehingga mengakibatkan
bakteremia pertama yang asimptomatik dan menyebar keseluruh organ
16
retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Diorgan-organ ini
kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak
diluar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk kedalam sirkulasi
darah lagi mengakibatkan bakteremia yang kedua kalinya disertai tanda-
tanda dan gejala penyakit sistemik.2,5
Didalam hati, kuman masuk kedalam kandung empedu, berkembang
biak, dan bersama cairan empedu dieksresikan secara intermitten
kedalam lumen usus. Sebagian kuman dikeluarkan melalui feses dan
sebagian masuk lagi kedalam sirkulasi setelah menembus usus. Proses
yang sama terulang kembali, berhubung makrofag telah teraktivasi dan
hiperaktif maka saat fagosit kuman Salmonella terjadi pelepasan berbagai
mediator inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi
inflamasi sistemik seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit
perut, instabilitas vascular, gangguan mental, dan koagulasi.2,5
Didalam plak peyer makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi
hyperplasia jaringan. Perdarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi
pembuluh darah sekitar plak peyer yang sedang mengalami nekrosis dan
hyperplasia akibat akumulasi sel-sel mononuclear di dinding usus. Proses
patologi jaringan limfoid ini dapat berkembang hingga ke lapisan otot,
serosa usus dan dapat mengakibatkan perforasi.2,5
Endotoksin dapat menempel direseptor sel endotel kapiler dengan
akibat timbulnya komplikasi seperti gangguan neuropsikiatrik,
kardiovaskuler, pernapasan dan gangguan organ lainnya.2,5

2.3.5 Manifestasi Klinik


Penegakan diagnosis sedini mungkin sangat bermanfaat agar bisa
diberikan terapi yang tepat dan meminimalkan terjadinya komplikasi.
Pengetahuan gambaran klinis penyakit ini sangat penting untuk
membantu mendeteksi secara dini. Walaupun pada kasus tertentu
dibutuhkan pemeriksaan tambahan untuk membantu menegakkan
diagnosis.2

17
Masa tunas demam tifoid berlangsung 7-14 hari. Gejala-gejala
klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai yang berat, dari
asimptomatik hingga gambaran penyakit yang sangat khas disertai
komplikasi hingga kematian.2,3
Keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada
umunya, yaitu sepeti demam suhu >37,5 pada kira-kira akhir minggu
pertama penyakit, demam di 103-104 ° F (39-40 ° C). Demam yang
dialami meningkat perlahan pada sore hari hingga malam hari. Selain itu
terdapat keluhan lain seperti nyeri kepala, pusing, mual, muntah, nyeri
otot, anorexia, obstipasi atau diare, nyeri perut (regio epigastrium),
thyphoid tongue (lidah kotor), Halitosis, tremor lidah, ikterus, bradikardi
relatif dan dicrotic pulse (double beat, denyutan kedua lebih lemah dari
denyutan pertama) dapat terjadi hingga delirium.2,3,6

2.3.6 Diagnosis
A. Anamnesis
Untuk mendiagnosa suatu demam tifoid, kita perlu melakukan
anamnesis secara sistematis, pemeriksaan fisik umum dan
pemeriksaan laboratorium.4
Pada anamnesis yang didapatkan, pasien datang ke dokter
karena keluhan mual dan muntah yang dialami sehari sebelum datang
ke puskesmas tepatnya pada malam hari hingga pagi hari. Pasien juga
mengeluh demam naik turun terutama malam hari (demam
intermiten). Keluhan disertai dengan sakit kepala anoreksia dan nyeri
perut. Selain itu, keluhan terdapat gangguan gastrointestinal berupa
konstipasi. 2,3,6
B. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
- Kompos mentis atau delirium
- Bibir kering dan kadang pecah-pecah
- Lidah kotor ditutupi selaput putih
- Halitosis
18
- Ikterus2,3,6
b. Palpasi
- Hangat saat perabaan
- Nyeri tekan regio epigatric
- Hepatospleenomegali
- Bradikardi relatif2,3,6
c. Pekusi
- Pelebaran bunyi pekak pada daerah perut bagian hepar6
d. Auskultasi
- Peristaltik menigkat atau menurun2

C. Pemeriksaan Penunjang
a. Darah perifer lengkap beserta hitung jenis leukosis. Dapat
menunjukkan: leukopenia / leukositosis / jumlah leukosit normal,
limfositosis relatif, monositosis, trombositopenia (biasanya
ringan), anemia.6
Leukositosis dapat terjai tanpa disertai adanya infeksi
sekunder. Selain itu pula dapat ditemukan anemia ringan dan
trombositopenia.2
b. Serologi2
1. IgM antigen O9 Salmonella thypi (Tubex-TF)®
- Hanya dapat mendeteksi antibody IgM Salmonella typhi
- Dapat dilakukan pada 4-5 hari pertama demam.
Uji tubex merupakan uji semi-kuantitatif kolometrik
yang cepat (beberapa menit) dan mudah untuk dikerjakan.
Uji ini mendeteksi antibodi anti-Salmonella typhi O9 pada
serum pasien, dengan cara menghambat ikatan antara IgM
anti-O9 yang terkonjugasi pada partikel latex yang
berwarna dengan lipopolisakarida Salmonella typhi yang
terkonjugasi pada partikel magnetic latex. Hasil positif ujin
tubex ini menunjukkan terdapat infeksi Salmonellae
serogroupD walau tidak secara spesifik menunjuk pada
19
Salmonella typhi. Infeksi oleh Salmonella paratyphi akan
memberikan hasil negatif.2
Secara imunologi, antigen O9 bersifat
immunodominan sehingga dapat merangsang respon imun
secara independen terhadap timus dan merangsang mitosis
sel B tanpa bantuan dari sel T. karena sifat-sifat tersebut,
respon terhadap antigen O9 berlangsung cepat sehingga
deteksi terhadap anti-O9 dapat dilakukan lebih dini, yaitu
pada hari ke 4-5 untuk infeksi primer dan hari ke 2-3 untuk
infeksi sekunder. Perlu diketahui bahwa uji tubex hanya
dapat mendeteksi lgM dan tidak dapat mendeteksi IgG
sehingga tidak dapat dipergunakan sebagai modalitas untuk
mendeteksi infeksi lampau.2
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan 3
macam komponen meliputi : tabung berbentuk V yang
berfungsi meningkatkan sensitivitas, reagen A yang
mengandung partikel magnetik yang diselubungi dengan
antigen O9, reagen B yang mengandung partikel lateks
berwarna biru yang diselubungi dengan antibodi
monoklonal spesifik dengan antigen O9. Untuk melakukan
prosedur pemeriksaan ini, satu tetes serum (25 µL)
dicampurkan kedalam tabung dengan satu tetes (25 µL)
reagen A. setelah itu dua tetes reagen B (50 µL)
ditambahkan kedalam tabung. Hal tersebut dilakukan pada
kelima tabung lainnya. Tabung-tabung tersebut kemudian
diletakkan pada rak tabung yang mengandung magnet dan
diputar selama 2 menit dengan kecepatan 250 rpm.
Interretasi hasil dilakukan berdasarkan warna larutan
campuran yang dapat bervariasi dari kemerahan hingga
kebiruan. Berdasarkan warna inilah ditentukan skor, yang
interpretasinya dapat dilihat pada tabel berikut:

20
Skor Interpretasi
<2 Negatif Tidak menunjuk infeksi tifoid aktif
3 Borderline Pengukuran tidak dapat disimpulkan.
Ulangi pengujian apabila masih
meragukan lakukan pengulangan
beberapa hari kemudian
4-5 Positif Menunjukkan infeksi tifoid aktif
>6 Positif Indikasi kuat infeksi tifoid

Tabel 1 : Interpretasi hasil uji Tubex2

Konsep pemeriksaan ini dapat diterangkan sebagai


berikut. Jika serum tidak mengandung antibodi terhadap
O9, reagen B ini bereaksi dengan reagen A. ketika
diletakkan pada daerah yang mengandung medan magnet
(magnet rak), komponen magnet yang dikandung reagen A
akan tertarik pada magnet rak, dengan membawa serta
pewarna yang dikandung oleh reagen B. sebagai akibatnya,
terlihat warna merah pada tabung yang sesungguhnya
merupakan gambaran serum yang lisis. Sebaliknya, bila
serum mengandung antibodi terhadap O9, antibodi pasien
akan berikatan dengan reagen A menyebabkan reagen B
tidak tertarik pada magnet rak dan memberikan warna biru
pada larutan.2

2. Enzyme Immunoassay test (Typhidot®)


- Dapat mendeteksi IgM dan IgG Salmonella typhi
- Dapat dilakukan pada 4-5hari pertama demam

Uji typhidot dapat mendeteksi antibodi IgM dan IgG


yang terdapat pada protein membran luar Salmonella typhi.
Hasil positif pada uji typhidot didapatkan 2-3 hari setelah

21
infeksi dan dapat mengidentifikasi secara spesifik antibodi
IgM dan IgG terhadap antigen Salmonella typhi. Seberat 50
kD, yang terdapat dalam strip nitroselulosa.2

Didapatkan sensitivitas uji ini sebesar 98%,


spesifisitas sebesay 76,6% dan efisiensi uji sebesar 84%
pada penelitian yang dilakukan oleh Gopalakhrisnan dkk
(2002) yang dilakukan pada 144 kasus demam tifoid. Pada
penelitian lain yang dilakukan oleh Olsen dkk, didapatkan
sensitifitas dan spesifisitas uji ini hampir sama dengan uji
tubex yaitu 79% dan 89% dengan 78% dan 89%.2

Pada kasus reinfeksi, respon imun sekunder IgG


teraktivasi secara berlebihan sehingga igM sulit terdeteksi.
IgM dapat bertahan sampai 2 tahun sehingga pendeteksian
IgG saja tidak dapat digunakan untuk membedakan antara
infeksi akut dengan kasus reinfeksi atau konvalesen pada
kasus infeksi primer. Untuk mengatasi masalah tersebut, uji
ini kemudian dimodifikasi dengan mengaktivasi total IgG
pada sampel serum. Uji ini yang dikenal dengan nama uji
typhidot-M, memungkinkan ikatan antara antigen dengan
IgM spesifik yang ada pada serum pasien. Studi evaluasi
yang dilakukan oleh Khoo Ke dkk pada tahun 1997 terhadap
uji typhidot-M menunjukkan bahwa uji ini bahkan lebih
sensitif (sensitivitas mencapai 100%) dan lebih cepat (3jam)
dilakukan bila dibandingkan dengan kultur.2

3. Tes Widal tidak direkomendasi


- Dilakukan setelah demam berlangsung 7 hari.
- Interpretasi hasil positif bila titer aglutinin O minimal
1/320 atau terdapat kenaikan titer hingga 4 kali lipat pada
pemeriksaan ulang dengan interval 5 –7 hari

22
- Hasil pemeriksaan Widal positif palsu sering terjadi oleh
karena reaksi silang dengan non-typhoidal Salmonella,
enterobacteriaceae, daerah endemis infeksi dengue dan
malaria, riwayat imunisasi tifoid dan preparat antigen
komersial yang bervariasi dan standaridisasi kurang baik.
Oleh karena itu, pemeriksaan Widal tidak direkomendasi
jika hanya dari 1 kali pemeriksaan serum akut
karenaterjadinya positif palsu tinggi yang dapat
mengakibatkan over-diagnosisdan over-treatment.2,6

4. Uji IgM Dipstik


Uji ini secara khusus mendeteksi antibodi IgM spesifik
terhadap Salmonella typhi pada spesimen serum atau whole
blood. Uji ini menggunakan strip yang mengandung
antigen lipopolisakarida (LPS) Salmonella typhi dan antigen
IgM (sebagai kontrol), reagen deteksi yang mengandung
antibodi anti IgM yang dilekati dengan lateks pewarna,
cairan membasahi strip sebelum inkubasi dengan reagen
dan serum pasien, tabung uji. Komponen perlengkapan ini
stabil disimpan selama 2 tahun pada suhu 4-25 C ditempat
kering tanpa paparan sinar matahari. Pemeriksaan dimulai
dengan inkubasi strip pada larutan campuran reagen deteksi
dan serum, selama 3 jam pada suhu kamar. Setelah
inkubasi, strip dibilas dengan air mengalir dan dikeringkan.
Secara semi kuantitatif, diberikan penilaian terhadap garis
uji dengan membandingkannya dengan reference strip.
Garis kontrol harus terwarna dengan baik.2
House dkk, 2001 dan Gasem MH dkk, 2002 meneliti
mengenai penggunaan uji ini dibandingkan dengan
pemeriksaan kultur darah di Indonesia dan melaporkan
sensitivitas sebesar 65-77% dan spesifisitas sebesar 95-
100%. Pemeriksaan ini mudah dan cepat (dalam 1 hari)
23
dilakukan tanpa peralatan khusus apapun, namun akurasi
hasil didapatkan bila pemeriksaan dilakukan selama 1
minggu setelah timbulnya gejala.2

5. Kultur Salmonella typhi (gold standard) Dapat dilakukan


pada spesimen:
- Darah
Pada minggu pertama sampai akhir minggu ke-2
sakit, saat demam tinggi. Hasil biakan darah yang positif
memastikan demam tifoid, akan tetapi hasil yang negatif
tidak menyingkirkan demam tifoid, karena mungkin
disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut: telah
mendapatkan terapi dengan antibiotik, volume darah
yang kurang, riwayat vaksinasi, saat pengambilan darah
setelah minggu pertama pada saat aglutinin semakin
meningkat2,6
- Feses
Pada minggu kedua sakit6
- Urin
Pada minggu kedua atau ketiga sakit6
- Cairan empedu
Pada stadium lanjut penyakit, untuk mendeteksi carrier
typhoid6
6. Pemeriksaan penunjang lain sesuai indikasi klinis,
misalnya: SGOT/SGPT, kadar lipase dan amilase2,6

24
2.3.7 Penatalaksanaan
A. Terapi suportif dapat dilakukan dengan6:
a. Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan mobilisasi
b. Menjaga kecukupan asupan cairan, yang dapat diberikan
secara oral maupun parenteral.
c. Diet bergizi seimbang, konsistensi lunak, cukup kalori dan
protein, rendah serat.
d. Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas
e. Kontrol dan monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu,
kesadaran), kemudian dicatat dengan baik di rekam
medikpasien
B. Terapi Simptomatik untuk menurunkan demam (antipiretik) dan
mengurangi keluhan gastrointestinal. 6
C. Terapi definitif dengan pemberian antibiotik. Antibiotik lini pertama
untuk demam tifoid adalah Kloramfenikol, Ampisilin atau
Amoksisilin (aman untuk penderita yang sedang hamil), atau
Trimetroprim-sulfametoxazole (Kotrimoksazol). 6
D. Bila pemberian salah satu antibiotik lini pertama dinilai tidak efektif,
dapat diganti dengan antibiotik lain atau dipilih antibiotik lini kedua
yaitu Seftriakson, Sefiksim, Kuinolon (tidak dianjurkan untuk anak
<18 tahun karena dinilai mengganggu pertumbuhan tulang). 6,8
E. Konseling dan Edukasi
Edukasi pasien tentang tata cara6:
1. Pengobatan dan perawatan serta aspek lain dari demam tifoid
yang harus diketahui pasien dan keluarganya.
2. Diet, jumlah cairan yang dibutuhkan, pentahapan mobilisasi,
dan konsumsi obat sebaiknya diperhatikan atau dilihat
langsung oleh dokter, dan keluarga pasien telah memahami
serta mampu melaksanakan.
3. Tanda-tanda kegawatan harus diberitahu kepada pasien dan
keluarga supaya bisa segera dibawa ke rumah sakit terdekat
untuk perawatan.
25
Antibiotik Dosis Keterangan
Kloram- - Dewasa: 4x500 mg selama 10 - Merupakan obat yang sering digunakan
fenikol hari dan telah lama dikenal efektif untuk tifoid
- Anak :100mg/kgBB/hari, per - Murah dan dapat diberikan peroral serta
oral atau intravena, dibagi 4 sensitivitas masih tinggi
dosis, selama 10 -14 hari - Pemberian PO/IV
- Tidak diberikan bila lekosit
- <2000/mm3
Seftriakson - Dewasa: 2-4gr/hari selama 3-5 - Cepat menurunkan suhu, lama pemberian
hari pendek dan dapat dosis tunggal serta
- Anak: 80 mg/kgBB/hari, IM cukup aman untuk anak.
atau IV, dosis tunggal selama - Pemberian PO/IV
5 hari
Ampicillin dan - Dewasa: (1.5-2) gr/hr selama - Aman untuk penderita hamil
Amoxicillin 7-10 hari - Sering dikombinasi dengan
- Anak: 100 mg/kgbb/hari per - kloramfenikol pada pasien kritis
oral atau intravena, dibagi 3 - Tidak mahal
dosis, selama 10 hari. - Pemberian PO/IV

Kotri- - Dewasa: 2x(160-800) selama - Tidak mahal


moksazole 7-10 hari - Pemberian per oral
- Anak: 4-6 mg/kgBB/hari, per
oral, dibagi 2 dosis, selama 10
hari.
Kuinolon - Ciprofloxacin 2x500 - Pefloxacin dan Fleroxacin lebih cepat
mg
selama 1 minggu menurunkan suhu
- Ofloxacin 2x(200-400) selama
- Efektif mencegah relaps dan kanker
1 minggu - Pemberian peroral
- Pemberian pada anak tidak dianjurkan
karena efek samping pada pertumbuhan
tulang
Cefixime 20 mg/kgBB/hari, per oral, - Aman untuk anak
dibagi menjadi 2 dosis, - Efektif
selama 10 hari - Pemberian per oral
Thiamfenikol - Dewasa: 4x500 mg/hari - Dapat dipakai untuk anak dan dewasa
- Anak: 50mg/kgbb/hari selama - Dilaporkan cukup sensitif pada
5- 7 hari bebas panas beberapa daerah

Tabel 2: Farmakologi Demam Tifoid4,6,8

26
2.3.8 Pencegahan
a. Vaksin Parenteral
Vaksin demam tipus biasanya diberikan dalam serangkaian
dua suntikan subkutan 0,5 ml diberikan pada empat interval
mingguan.Tingkat perlindungan adalah70%.Dosis booster
dianjurkan setiap 3 tahun di daerah endemis tifus.Ini tidak boleh
diberikan kepada wanita hamil dan merupakan kontraindikasi
dalam pemulihan mereka dari penyakit serius.9
b. Vaksin Oral
Vaksin hidup diberikan secara oral dalam bentuk tiga kapsul
diambil pada hari 1, 3dan 5, dengan dosis booster setelah 3
+tahun.Tidak harus diberikan sampai setidaknya seminggu telah
berlalu sejak pasien telah diambil setiap antibiotik yang efektif
terhadap Salmonella.9
c. Perbaikan Sanitasi Lingkungan
Salah satu usaha pemutus rantai penularan tifoid adalah usaha
perbaikan lingkungan. Usaha ini mendasar, komplit, melibatkan
banyak pihak dan sektor, serta merupakan bagian terpenting dalam
upaya pembangunan kesehatan masyarakat. Beberapa hal yang
menjadi masalah dalam kesehatan lingkungan adalah penyediaan
air minum, pengawasan terhadap makanan dan air serta sistem
pembuangan kotoran dan limbah. Beberapa usaha perbaikan
sanitasi lingkungan adalah:
 Penyediaan air bersih untuk seluruh warga. Penyediaan
air yang aman, khloronisasi, terlindung dan terawasi.
Tidak tercemar oleh air limbah dan kotoran lain. Untuk
air minum masyarakat membiasakan dengan memasak
sampai mendidih, kurang lebih selama 10 menit.
 Jamban keluarga yang memenuhi syarat-syarat
kesehatan. Tidak terkontamminasi oleh lalat dan
serangga lain.

27
 Pengelolaan air limbah, kotoran dan sampah harus
benar, sehingga tidak mencemari lingkungan.
 Kontrol dan pengawasan terhadap kebersihan
lingkungan, terlaksana dengan baik dan
berkesinambungan.10
d. Peningkatan Higiene Makanan dan Minuman
Perlu diingat Golden rules of WHO dalam promosi kebersihan
makanan:
 Pilih hati-hati makanan yang sudah diproses, demi
keamanan.
 Panaskan kembali secara benar makanan yang sudah
dimasak.
 Hindarkan kontak antara makanan mentah dengan
yang sudah dimasak.
 Mencuci tangan dengan sabun.
 Permukaan dapur dibersihkan dengan cermat.
 Lindungi makanan dari serrangga, binatang mengerat
dan binatang lainnya.
 Gunakan air bersih atau air yang dibersihkan.10
e. Peningkatan higiene perorangan
Peningkatan higiene perorangan merupakan pilar ketiga dari
program pencegahan yakni perlindungan diri terhadap penularan
tifoid. Kegiatan ini merupakan ciri berperilaku hidup sehat.
Budaya cuci tangan yang benar adalah kegiatan terpenting.
Setiiap tangan yang kontak dengan feses,urin atau dubur maka
harus dicuci pakai sabun dan kalu dpat disikat.10
Tidak ada data mengenai keamanan pada kehamilan atau
kemanjurannya pada anak-anak di bawah 6 tahun (dan dalam hal
apapun anak harus cukup lama untuk dapat menelan kapsul
utuh).Bentuk oral paling tidak sama efektifnya dengan (dan dalam
beberapa kasus lebih efektif dari pada) vaksin yang disuntikkan. Ini

28
tidak boleh diberikan kepada wanita hamil dan merupakan
kontraindikasi dalam pemulihan mereka dari penyakit serius.9
2.3.9 Komplikasi2,6
A. Komplikasi Intestinal
a. Pendarahan usus
Komplikasi perdarahan ditandai dengan hematochezia.
Dapat juga diketahui dengan pemeriksaan feses (occult blood
test). Komplikasi ini ditandai dengan gejala akut abdomen dan
peritonitis. Pada foto polos abdomen 3 posisi dan pemeriksaan
klinis bedah didapatkan gas bebas dalam rongga perut. 2,6
b. Perforasi usus
c. Ileus paralitik
d. Pankreatitis

B. Komplikasi Ekstra Intestinal2,6


a. Komplikasi cardiovascular
Miocarditis, tromboplebitis, gagal sirkulasi perifer
b. Komplikasi darah
Anemia hemolitik, KID, Trombosis, Trombositopenia
c. Komplikasi Paru-paru
Pneumonia, Empiema, Pleuritis
d. Komplikasi Hepatobilier
Hepatitis, Kolesistitis
e. Komplikasi Ginjal
Glomerulonefritis, pielonefritis, Pielonefritis, perinefritis
f. Komplikasi tulang
Osteomielitis, periostitis, spondilitis, artritis
g. Komplikasi neuropsikiatrik/tifoid toksik
Penderita dengan sindrom demam tifoid dengan panas tinggi
yang disertai dengan kekacauan mental hebat, kesadaran
menurun, mulai dari delirium sampai koma

29
2.3.10 Prognosis
Prognosis adalah bonam namun ad sanationam dubia ad bonam
karena penyakit dapat berulang9

30
BAB III

METODOLOGI DAN LOKASI STUDI KASUS

3.1 METODOLOGI STUDI KASUS

Studi kasus ini menggunakan desain studi Kohort untuk mempelajari hubungan
antara faktor risiko dan efek (penyakit atau masalah kesehatan), dengan memilih
kelompok studi berdasarkan perbedaan faktor risiko. Kemudian mengikuti sepanjang
periode waktu tertentu untuk melihat subjek dalam kelompok yang mengalami efek
penyakit atau masalah kesehatan untuk melakukan penerapan pelayanan dokter
layanan primer secara paripurna dan holistik terutama tentang penatalaksanaan
Demam Typhoid dengan pendekatan diagnosis holistik di Puskesmas Maccini Sawah
pada tanggal 7 Januari 2019.

Cara pengumpulan data dengan melakukan wawancara dan pengamatan


terhadap pasien dan keluarganya dengan cara melakukan home visit untuk
mengetahui secara holistik keadaan dari penderita.

3.2. LOKASI DAN WAKTU MELAKUKAN STUDI KASUS

3.2.1. Waktu Studi Kasus

Studi kasus dilakukan pertama kali saat penderita datang berobat di


Puskesmas Maccini Sawah pada tanggal 7 Januari 2019. Selanjutnya dilakukan home
visit untuk mengetahui secara holistik keadaan dari penderita.

3.2.2. Lokasi Studi Kasus

Studi kasus bertempat di Puskesmas Maccini Sawah Kota Makassar, Provinsi


Sulawesi Selatan.

31
Gambar 3. Puskesmas Maccini Sawah

3.3. GAMBARAN UMUM LOKASI STUDI KASUS

Studi kasus bertempat di Puskesmas Maccini Sawah Kota Makassar

3.3.1 Letak Geografis


Puskesmas Maccini Sawah berada dalam wilayah Kecamatan
Makassar, dengan wilayah kerja meliputi dua kelurahan yaitu
Kelurahan Maccini Induk, Maccini Parang dan Kelurahan Maccini
Gusung. Luas wilayah kerja yaitu 65 Ha, dengan wilayah kerja
Puskesmas Maccini Sawah berbatasan dengan:
a. Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Bontoala
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Bara-baraya utara
dan Bara-baraya timur
c. Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Panakukang
d. Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Barana

32
Gambar 4. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Maccini Sawah

3.3.2 Keadaan Demografi Lokasi Studi Kasus


Wilayah kerja Puskesmas Maccini Sawah meliputi kelurahan yaitu
Kelurahan Maccini Induk, Maccini Parang dan Kelurahan Maccini
Gusung.

Jumlah Penduduk RT
No. Kelurahan Total
Laki-Laki Perempuan (KK)
1 Maccini Induk 3295 Jiwa 3797 Jiwa 7092 Jiwa 1367
2. Maccini Parang 3897 Jiwa 4017 Jiwa 7914 Jiwa 1681
3. Maccini Gusung 3965 Jiwa 4169 Jiwa 8134 Jiwa 1553
Total 11.157 Jiwa 11.983 Jiwa 23.140Jiwa 4601
Tabel 3. Distribusi Penduduk Menurut Kelurahan di Wilayah Kerja Puskesmas Maccini
Sawah Tahun 2016

3.3.2.1 Pertumbuhan Penduduk/Jumlah Penduduk


Dalam upaya menekan laju pertumbuhan penduduk dilaksanakan
melalui tingkat kelahiran dan penurunan angka kematian (bayi, anak balita dan
ibu) dimana pertumbuhan yang tinggi akan menambah beban pembangunan.

33
3.3.2.2 Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk sangat mempengaruhi tingkat kesejahteraan
anak serta masalah sosial ekonomi. Hal ini terjadi karena faktor gizi yang
berhubungan dengan lingkungan, perumahan dan sanitasi yang kotor
menyebabkan berbagai macam penyakit yang muncul.
Di samping itu, kepadatan penduduk sebagai lambang perkembangan
suatu daerah. Berdasarkan data yang diperoleh dari puskesmas Maccini Sawah,
kepadatan penduduk adalah jiwa per kilometer persegi, jumlah kepala keluarga
(KK) tahun 2016 di wilayah kerja Puskesmas Maccini Sawah adalah 4601 KK.

3.3.2.3 Struktur Penduduk Menurut Usia Dan Jenis Kelamin


Berdasakan komponen umur dan jenis kelamin maka karakteristik
penduduk dari suatu negara dapat debedakan menjadi 3 macam yaitu:

1. Ekspansif, jika sebagian besar penduduk berada dalam kelompok


umur termuda.
2. Konstruktif, jika penduduk berada dalam kelompok termuda
hampir sama besarnya
3. Stasioner, jika banyaknya penduduk sama dalam tiap kelompok
umur tertentu

34
Kelompok Umur Jumlah Penduduk
No.
(Tahun) Laki-Laki Perempuan Total
1. 0-4 725 910 1635
2. 5-9 768 903 1671
3. 10-14 600 1077 1677
4. 15-19 885 1010 1895
5. 20-24 1071 1450 2521
6. 25-29 1065 1252 2317
7. 30-34 978 843 1821
8. 35-39 696 860 1556
9. 40-44 747 866 1613
10. 45-49 969 710 1679
11. 50-54 335 685 1020
12. 55-59 412 529 941
13. 60-64 234 276 510
14. 65-69 180 250 430
15. 70-74 110 198 308
16. +75 82 164 246
Jumlah 11.157 11.983 23.140
Tabel 4. Distribusi Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di
Wilayah Kerja Puskesmas Maccini Sawah Tahun 2016

3.3.2.4 Perkawinan dan Fertilitas


Rata-rata kawin pertama dari tahun ketahun datanya belum ditemukan
pada wilayah kerja puskesmas, namun berdasarkan profil kesehatan tahun 1997
propinsi Sulawesi Selatan dari tahun ke tahun mengalami kenaikan dari umur
19,4 Tahun.

35
3.3.2.5 Tingkat Pendidikan Penduduk
Pendidikan salah satu upaya membentuk manusia terampil dan
produktif sehingga pada gilirannya dapat mempercepat peningkatan
kesejahteraan masyarakat.

No Tingkat Pendidikan Jumlah

1 TK 505 Jiwa
2 SD 758 Jiwa
3 SMP 1465 Jiwa
4 SMU/SMK 4821 Jiwa
5 DI-DIII 1644 Jiwa
6 SI-SII 1358 Jiwa
Tabel 5. Distribusi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan di Wilayah Kerja
Puskesmas Maccini Sawah Tahun 2016

3.3.2.6 Kegiatan Ekonomi


Mata pencaharian penduduk di wilayah kerja Puskesmas Maccini
Sawah dapat dilihat pada tabel berikut:

36
Kelurahan
No Mata Pencaharian Maccini Maccini Maccini
Induk Parang Gusung
1 PNS 233 147 132
2 Pengrajin Industri 39 26 12
3 Pedagang Keliling 301 110 26
4 Montir 4 2 2
5 Dokter Swasta 2 1 1
6 Bidan Swasta 8 20 12
7 Pembantu RT 102 24 31
8 TNI 21 35 54
9 POLRI 124 54 21
10 Pengusaha Kecil dan
502 607 124
Menengah
11 Pensiunan
124 43 64
PNS,Polri,TNI
12 Pengacara 2 3 2
13 Notaris 2 2 3
14 Jasa Pengobatan -
1 2
Alternatif
15 Dosen Swasta 20 12 13
16 Arsitektur 4 6 -
17 Karyawan 142
340 529
Perusahaan Swasta
18 Karyawan 23
Perusahaan 12 34
Pemerintah
19 Lain-Lain 1981 1984 1156

Tabel 6. Distribusi Penduduk Menurut Pekerjaan di Wilayah Kerja Puskesmas


Maccini Sawah tahun 2016

37
3.3.2.7 Agama
Dari 14.420 jiwa penduduk dalam wilayah kerja Puskesmas Maccini
Sawah, 11.558 jiwa beragama Islam, 2.189 jiwa beragama Krsiten, 508 jiwa
beragama Katolik, 67 jiwa beragama Hindu dan 98 jiwa beragama Budha.
No Agama Jumlah
1 Islam 11.758 Jiwa
2 Kristen 2.289 Jiwa
3 Katolik 588 Jiwa
4 Hindu 84 Jiwa
5 Budha 118 Jiwa
Tabel 7. Distribusi Penduduk Menurut Agama di Wilayah Kerja Puskesmas Maccini
Sawah Tahun 2016

3.3.3 Sarana Kesehatan


3.3.3.1 Data Dasar Puskesmas
Pusat Kesehatan Masyarakat atau yang selanjutnya disebut
PUSKESMAS adalah fasilitas pelayananan kesehatan yang menyelenggarakan
upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan tingkat pertama
dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif, untuk mencapai
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya di wilayah kerjanya.
Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat tingkat
pertama esensial dan pengembangan, dan upaya kesehatan perseorangan
tingkat pertama berupa rawat jalan, pelayanan gawat darurat, one day care,dan
home care berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan.

3.3.3.2 Sarana Pelayanan Kesehatan


1. Gedung Puskesmas
Terdiri dari 1 (satu) gedung untuk pelayanan pasien rawat jalan.
2. Kendaraan
Satu unit kendaraan beroda empat yang sampai saat ini masih dalam
keadaan baik dan terpakai, yakni Mobil Home Care (Dottoro’ta).
Ruangan Medis terdiri dari Ruang Poli Umum, Laboratorium, Ruang

38
Poli Gigi, Apotek,/Kamar Obat, Dapue Umum, Gudang, WC, Ruang
Kepegawaian, Ruang KIA dan Imunisasi, Ruang KB & IMS, Ruang
Kepala Puskesmas, Ruang Keuangan, Ruang P2M dan Kesling.

3.3.3.3 Struktur Organisasi

Gambar 5. Struktur Organisasi Puskesmas Maccini Sawah

Struktur Organisasi Puskesmas Maccini Sawah berdasarkan Peraturan


Walikota Makassar, No. 44 Tahun 2012 terdiri atas:
a. Kepala Puskesmas
b. Kepala Tata Usaha
c. Unit Pelayanan Teknis Fungsional Puskesmas
i. Unit Kesehatan Masyarakat
ii. Unit Kesehatan Perorangan
d. Unit Jaringan Pelayanan Puskesmas
- Unit Puskesmas Pembantu ( Pustu )
- Unit Puskesmas Keliling ( Puskel )
- Unit Bidan Komunitas

39
3.3.3.4 Tenaga Kesehatan
Jumlah tenaga kesehatan yang terdapat di Puskesmas Maccini
Sawah tahun 2016 sebanyak 24 orang dengan berbagai spesifikasi, yang terdiri
dari:
No. Tenaga Kesehatan Jumlah
1. Dokter Umum 1
2. Dokter Gigi 1
3. Perawat 5
4. Bidan 5
5. Sanitarian 2
6. Nutrisionis 1
7. Pranata Laboratorium 1
8. Asisten Apoteker 1
9. Apoteker 1
10. Perawat Gigi 2
11. Rekam Medik 1
12. Sarjana Kesehatan 5
Masyarakat
13. Epidemiologi 1
14. Promkes 1
15. AKK 1

Tabel 8. Tenaga Kesehatan Puskesmas Maccini Sawah Tahun 2016

40
3.3.3.4 Visi Dan Misi Puskesmas
Visi Puskesmas Maccini Sawah
Terwujudnya pelayanan kesehatan yang merata dan terjangkaudi
wilayah kerja puskesmas Maccini Sawah.
Misi Puskesmas Maccini Sawah
 Menjalankan Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
 Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat
 Meningkatkan persan serta masyarakat mencapai desa sehat siaga

3.3.3.5 Upaya Kesehatan


Puskesmas Maccini Sawah sebagai Unit Pelaksana Teknis Daerah
(UPTD) Dinas Kesehatan Kota Makassar yang bertanggung jawab terhadap
pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Puskesmas berperan
menyelenggarakan upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan
dan kemampuan hidup sehat bagi setiap penduduk agar memperoleh derajat
kesehatan yang optimal.
Dengan demikian Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak
pembangunan berwawasan kesehatan, pusat pemberdayaan keluarga dan
masyarakat serta pusat pelayanan kesehatan strata pertama.
Upaya kesehatan di Puskesmas Maccini Sawah terbagi atas 2(dua)
upaya Kesehatan Yaitu :
1. Upaya Kesehatan Wajib
a. Upaya Promosi Kesehatan ( Promkes )
b. Upaya Kesehatan Lingkungan ( Kesling )
c. Upaya Kesehatan Ibu dan Anak ( KIA ) dan Keluarga Berencana (KB)
d. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat.
e. Upaya Pencegahan Penyakit Menular ( P2M )
f. Upaya Pengobatan
2. Upaya Kesehatan Pengembangan
a. Upaya Perkesmas
b. Upaya Kesehatan Jiwa

41
c. Upaya Kesehatan Indra
d. Upaya Kesehatan Kerja
e. Upaya Pokja HIV/IMS
f. Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut

3.3.3.7 Alur Pelayanan

PASIEN
DATANG
JKN/Asuransi
Umum kesehatan
PENDAFTARAN

KAMAR PERIKSA RUJUK

- Poli Umum
LABORATORIUM
- Poli Gigi
- Poli KIA/KB
RUANG TINDAKAN

APOTEK

Gambar 6. Alur Pelayanan Puskesmas Maccini Sawah

42
3.3.3.8 10 Penyakit Utama Di Puskesmas
Sepuluh penyakit umum terbanyak yang tercatat di Puskesmas
Maccini Sawah di bulan Desember tahun 2018 adalah:
1. ISPA : 361 Kasus
2. Dyspepsia : 220 Kasus
3. Rheumatisme : 138 Kasus
4. Faringitis : 124 Kasus
5. Hipertensi : 120 Kasus
6. Dermatitis dan eksim : 105 Kasus
7. Diare : 55 Kasus
8. Diabetes Mellitus : 43 Kasus
9. Demam Tifoid : 22 Kasus
10. TB Paru : 15 Kasus

43
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Studi Kasus


4.1.1 Identitas Pasien
Nama : An. A
Umur : 17 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Bangsa/suku : Makassar
Agama : Islam
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Jl. Maccini Kidul no. 8 C
Tanggal Pemeriksaan : 7 Januari 2019

4.1.2 Riwayat Penyakit


A. Keluhan Utama
Mual dan Muntah
B. Anamnesis Terpimpin
Seorang anak laki-laki usia 17 tahun datang ke
puskesmas diantar oleh neneknya dengan keluhan mual
muntah yang dialami sejak malam hari. Malamnya pasien
muntah lebih 5 kali, paginya pasien muntah 2 kali. Ampas (+)
Air (+) Darah (-). Pasien juga mengeluh demam yang dialami
sejak + 4 hari dan suhunya meningkat pada malam hari. Sakit
kepala (+), nyeri perut (+), lemas (+), dan sulit makan (+).
Pasien tidak buang air besar sejak 4 hari yang lalu, buang air
kecil lancar.
C. Riwayat Penyakit Sebelumnya
Pasien belum pernah mengalami hal yang sama sebelumnya.
D. Riwayat Penyakit Pada Keluarga
Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengeluhkan
atau menderita hal yang sama dengan pasien

44
E. Riwayat Sosioekonomi
Pasien adalah seorang anak tunggal. Ayah bekerja di
perusahaan swasta, ibunya seorang ibu rumah tangga.Pasien
tinggal bersama kedua orang tua dan neneknya. Pasien sehari-
hari bersekolah di salah satu Sekolah Menengah Atas.
F. Riwayat Kebiasaan
Pasien sering makan di penjual sekitar sekolah yang
tidak terjamin kebersihannya.
G. Riwayat Pengobatan
Orang tua hanya memberikan obat penurun panas
(paracetamol) pada anak namun demamnya tidak kunjung
sembuh.
4.1.3 Pemeriksaan Fisik
A. Keadaan Umum Compos Mentis, Sakit Sedang, Gizi Cukup
B. Status Generalis

1. Kepala : Normocephal
Ekspresi : Simetris, Lemas
Rambut : Hitam, sulit dicabut
Mata : Eksoptalmus atau enoptalmus: (-)
Tekanan bola mata : Tidak dilakukan pemeriksaan
Kelopak mata : Dalam batas normal
Konjungtiva : Anemis (-)/Anemis (-)/
Kornea : Jernih
Sklera : Ikterus (-)/Ikterus (-)
Pupil : Isokor 2,5 mm/2,5 mm
2. Telinga
Tophi : (-)
Pendengaran : Dalam batas normal
Nyeri tekan di prosesus mastoideus : (-)

45
3. Hidung
Perdarahan : (-)
Sekret : (-)
4. Mulut
Bibir : Kering (-)
Gigi geligi : Karies (-)
Gusi : Perdarahan (-)
Faring : hiperemis (-)
Tonsil : T1-T1
5. Leher
Kelenjar getah bening : MT (-), NT (-)
Kelenjar gondok : MT (-), NT (-)
DVS : R-2 cmH2O
Kaku kuduk : (-)
Tumor : (-)
6. Dada
Inspeksi : Simetris ki=ka
Bentuk : Normochest
Pembuluh darah : Bruit (-)
Buah dada : Tidak ada kelainan
Sela iga : Tidak ada pelebaran
7. Thorax
Palpasi : Fremitus Raba : Ki=Ka
Nyeri tekan : (-)
Perkusi : Paru kiri : Sonor
Paru kanan : Sonor
Batas paru hepar : ICS VI Dextra Anterior
Batas paru belakang kanan : V Th IX Dextra Posterior
Batas paru belakang kiri : V Th X Sinistra Posterior
Auskultasi : Bunyi Pernafasn : Vesikuler
Bunyi tambahan : Rh -/- Wh-/-

46
8. Punggung
Inpeksi : skoliosis (-), kifosis (-)
Palpasi : MT (-), NT (-)
Nyeri ketok : (-)
Auskultasi : Rh -/- Wh -/-
9. Cor
Inspeksi : Ictus kordis tidak tampak
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Pekak,batas jantung kesan normal
Auskultasi : BJ I/II murni regular
Bunyi tambahan : Bising (-)
10. Abdomen
Inspeksi : Datar, ikut gerak napas
Palpasi : MT (-), NT (+) sulit dinilai
Hati : Tidak teraba
Limpa : Tidak teraba
Ginjal : Ballotement (-)
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Peristaltik (+), kesan normal
4.1.4 Pemeriksaan Penunjang
A. Trombosit :293x103/uL
B. Widal : Typhi O :1/320
Typhi H :1/320
4.1.5 Diagnosis
Typhoid
4.1.6 Penatalaksanaan dan Edukasi
A. Medikamentosa
a. Paracetamol tablet 3x1 tablet
b. Domperidon tablet 3 x 1 Tablet
c. Chloramphenicol 3 x 1 Tablet
B. Edukasi
a. Bed Rest sampai bebas demam
47
b. Hindari makan makanan yang kebersihannya tidak
terjamin
c. Memperbaiki higienitas pribadi dan keluarga
d. Mengkomsumsi makanan yang bergizi seperti sayur dan
buah

4.2 Pendekatan Holistik


4.3.1 Profil Keluarga
Pasien An. A merupakan anak tunggal dari Tn. M dan Ny. L
dan Cucu dari Ny. S. Karakteristik Demografi Keluarga
a. Identitas Kepala keluarga : Tn. M
b. Alamat : Jl Maccini Kidul no. 8 C
c. Bentuk Keluarga : Extended Family
Jenis
No Nama Status Keluarga Usia
kelamin Pekerjaan
1 Tn. M Kepala Keluarga Laki-laki 38 tahun Karyawan
Swasta
2 Ny. L Istri Perempuan 35 tahun IRT
3 Ny. S Nenek Perempuan 57 tahun IRT
4 An. A Anak Laki-laki 17 tahun Pelajar
Tabel 9: Anggota Keluarga Yang Tinggal Serumah

48
4.3.2 Penilaian Status Sosial dan Kesejahteraan Hidup
Status Kepemilikan Rumah : Milik Pribadi
Daerah perumahan : Padat
Karakteristik Rumah dan Lingkungan Kesimpulan
Luas rumah 10 x 7 m2 An. A tinggal di rumah
Jumlah penghuni dalam satu rumah : 4 orang pribadi yang cukup sehat
Luas halaman rumah 1,5 x 7 m2 tetapi, lingkungan rumah
Rumah bertingkat padat penduduk dengan
Dapur ventilasi yang kurang
Lantai rumah dari : tegel memadai. Penerangan

Dinding rumah dari : tembok listrik 1300 watt,

Jamban keluarga : 1 wc menggunakan sumur bor

Tempat bermain : tidak ada sebagai sumber air bersih

Penerangan listrik : 1300 watt untuk mandi dan air

Ketersediaan air bersih : ada minum.

Tempat pembuangan sampah : ada


Kamar Tidur : 2
Ruang Tamu
Tabel 10 : Keadaan Rumah

4.3.3 Kepemilikan barang-barang berharga


Keluraga An. A memiliki beberapa barang elektronik di
rumahnya antara lain yaitu, satu buah televisi yang terletak di ruang
keluarga, kulkas yang terletak di dapur serta perlengkapan masak
lainnya.

4.3.4 Penilaian Perilaku Kesehatan


Jenis tempat berobat : Puskesmas
Asuransi/Jaminan Kesehatan : BPJS

49
4.3.5 Pola Konsumsi Keluarga
Keluarga pasien An. A memiliki kebiasaan makan 3 kali
dalam sehari, namun pasien sering makan di warung dekat sekolah.
Ibu dari An. A selalu menerapkan pola makan dengan gizi yang
seimbang yakni makan dengan lauk pauk seperti nasi, ikan dan
sayuran yang di masak sendiri oleh ibu pasien.

4.3.6 Pola Dukungan Keluarga


A. Faktor Pendukung Terselesaikannya Masalah Dalam Keluarga
Di antara yang merupakan faktor pendukung dalam
penyelesaian masalah keluarga seperti ada komunikasi yang
baik dalam keluarga. Selain adanya hubungan yang harmonis.
Keluarga juga sangat terbuka untuk setiap masalah kesehatan
yang dihadapi.
B. Faktor Penghambat Terselesaikaanya Masalah Dalam Keluarga
Tidak ada.

4.3.7 Fungsi Fisiologis (Skor APGAR)


Fungsi fisiologis adalah suatu penentu sehat tidaknya suatu
keluarga yang dikembangkan oleh Rosan, Guyman dan Leyton,
dengan menilai 5 Fungsi pokok keluarga, antara lain:
1. Adaptasi: Tingkat kepuasan anggota keluarga dalam
menerima bantuan yang dibutuhkan
2. Partnership: Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap
komunikasi dalam mengambil keputusan dan menyelesaikan
masalah
3. Growth: Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap
kebebasan karena dukungan dan dorongan yang diberikan
keluarga dalam mematangkan pertumbuhan dan kedewasaan
semua anggota keluarga
4. Affection: Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap kasih
sayang serta interaksi emosional yang berlangsung
50
5. Resolve: Tingkat kepuasan anggota keluarga terhadap
kebersamaan dalam membagi waktu, kekayaan dan ruang
atas keluarga.
Penilaian
- Hampir Selalu = skor 2
- Kadang-kadang = skor 1
- Hampir tidak pernah =0
Total Skor
- 8-10 = Fungsi keluarga sehat
- 4-7 = Fungsi keluarga kurang sehat
- 0-3 = Fungsi keluarga sakit

51
Penilaian
Hampir
No Pertanyaan Hampir Kadang
Tidak
selalu Kadang
Pernah
(2) (1)
(0)
1. Adaptasi

Jika obat anda habis/jadwal kontrol


laboratorium tiba apakah ada anggota √
keluarga yang bersedia mengantarkan anda
ke puskesmas?

2. Partnership (Kemitraan)

Jika anda lupa minum obat, apakah ada √


anggota keluarga yang selalu mengingatkan
untuk konsumsi obat secara rutin?

3. Growth (Pertumbuhan)

Jika ibu anda sedang memasak dan anda


tidak dapat membantunya karena √
keterbatasan anda yang sedang sakit, apakah
keluarga anda akan mengertinya?

4. Affection (Kasih Sayang)

Jika Anda merasa cemas akibat penyakit


anda, apakah anggota keluarga yang lain √
selalu mendampingi anda dalam mengatasi
kecemasan tersebut?

5. Resolve (Kebersamaan)

Anda disarankan untuk mengonsumsi


makanan yang dimasak hingga matang dan √
dimasak di rumah. Apakah anggota keluarga
yang lain mengonsumsi menu yang sama dan
makan bersama?

Total Skor 10

Tabel 11 : Penilaian Fungsi Fisiologis (Apgar) Keluarga Penderita


Demam Typhoid

52
4.3.8 Fungsi Keluarga Sehat
A. Fungsi Patologis
Aspek sumber daya patologi
1. Sosial: Pasien dapat hidup bermasyarakat dengan baik.
2. Cultural: Pasien dan keluarganya mengadakan acara
pernikahan, aqiqah, dan khitanan sesuai adat istiadat
daerah setempat.
3. Religious: Keluarga pasien rajin melakukan ibadah
sebagai umat Islam, seperti: sholat lima waktu,
tadarrus, puasa pada bulan Ramadhan Ekonomi:
Keluarga pasien merasa kebutuhan ekonomi tercukupi.
4. Education: Tingkat pendidikan tertinggi di keluarga
pasien yaitu SMA
5. Medication: Pasien dan keluarga menggunakan sarana
pelayanan kesehatan dari Puskesmas.

B. Genogram (Fungsi Genogram)


Dalam keluarga pasien tidak ada yang menderita
penyakit demam tifoid ataupun riwayat terkena demam
tifoid. Namun memungkinkan penyakit demam tifoid yang
diderita pasien juga dapat diderita anggota keluarganya.

C. Bentuk Keluarga
Bentuk keluarga ini adalah Extended Family dimana An.A
tinggal bersama ayah Tn. M, ibu Ny. L, dan nenek Ny. S

D. Hubungan Anggota Keluarga


Tn. M merupakan kepala keluarga, memiliki istri Ny.
L. Pasangan ini memiliki seorang anak yaitu An. A, serta
Ny. S merupakan ibu dari Ny. L, hubungan mereka cukup
baik karena hampir setiap hari di rumah bersama-sama,
sering berkumpul dan berkomunikasi.
53
E. Genogram

Gambar 7: Genogram Penderita Demam Tifoid

Keterangan :
: Keluarga An. A
: Laki-laki normal
: Wanita normal
: Anak Demam Tifoid
: Laki-laki normal meninggal

4.3 Pembahasan
Diagnosis pada pasien ini adalah demam tifoid yang didapatkan
berdasarkan anamnesis secara holistik yaitu, aspek personal, aspek klinik,
aspek risiko internal, dan aspek risiko eksternal dengan melakukan
pendekatan menyeluruh dan pendekatan diagnostik holistik.

54
4.3.1 Analisis Kasus
Pendekatan kedokteran keluarga pada pasien demam tifoid.

Skor Resume Hasil Skor


No Masalah Upaya Penyelesaian
Awal Akhir Akhir

Faktor Perilaku  Edukasi kepada pasien


Kesehatan dan keluarga agar
 Tidak mencuci membiasakan mencuci
tangan tangan menggunakan
menggunakan sabun sebelum makan
sabun sebelum dan sesudah buang air.
makan dan  Mengedukasi pasien dan - Penyuluhan
1. sesudah buang 3 keluarga agar memasak terselenggara 5
air. makanan hingga matang,
 Makan makanan dan memakan makan
yang tidak terlalu yang matang.
matang.  Mengedukasi pasien agar
 Berobat tidak minum obat teratur dan
teratur. mengikuti anjuran dokter
untuk tirah baring selama
masih demam hingga
bebas demam 7 hari

Faktor Lingkungan
Psikososial dan
Ekonomi  Edukasi pasien dan
 Kurangnya keluarga mengenai
pengetahuan penyakit demam tifoid.
3 - Penyuluhan
2. tentang demam  Memberikan 5
terselenggara
tifoid pemahaman kepadan
 Orang tua pasien orangtua pasien bahwka
khawatir jika demam tifoid dapat
keadaan anaknya segera sembuh jika
memburuk pasien minum obat
teratur dan tirah baring.
Faktor Lingkungan
Kerja
 Penjual makanan  Mengedukasi penjual
di sekolah tidak makanan tentang
3. 3 - -
memerhatikan kebersihan makanan dan
kebersihan cara penyimpanan
makanan yang makanan yang bersih.
dijual.
Faktor Lingkungan
Fisik
- Penyuluhan
4.  Sampah basah di 3  Edukasi pasien dan 4
terselenggara
dapur yang dekat keluarga agar sampah
dengan tempat basah tidak dimpan

55
memasak. dalam rumah.
 Menggunakan  Edukasi pasien dan
sumur bor keluarga sebelum
menggunakan air dari
sumur bor untuk minum
dan memasak, terlebih
dahulu air dimasak
 Halaman rumah hingga mendidih.
cukup luas dan  Mengedukasi pasien dan
bersih, terdapat keluarga agar rajin
kandang burung membersihkan halaman
di pojok halaman dan kandang burung.
Faktor Gaya Hidup
 Kebiasaan  Edukasi kepada pasien
mengonsumsi mengenai akibat - Penyuluhan
5. 3 5
makanan yang mengonsumsi jajanan di terselenggara
tidak terjamin pinggir jalan yang tidak
kebersihannya terjamin kebersihannya
Total Skor 15 19
Rata-Rata Skor 3 5
Tabel 12: Skor Kemampuan Menyelesaikan Masalah

Klasifikasi skor kemampuan menyelesaikan masalah:


Skor 1 : Tidak dilakukan, keluarga menolak, tidak ada partisipasi.
Skor 2 : Keluarga mau melakukan tapi tidak mampu, tidak ada
sumber (hanya keinginan), penyelesaian masalah dilakukan
sepenuhnya oleh provider.
Skor 3 : Keluarga mau melakukan namun perlu penggalian
sumber yang belum dimanfaatkan, penyelesaian masalah
dilakukan sebagian besar oleh provider.
Skor 4 : Keluarga mau melakukan namun tak sepenuhnya, masih
tergantung pada upaya provider.
Skor 5 : Dapat dilakukan sepenuhnya oleh keluarga

Dengan hasil yang didapatkan pada tabel di atas berarti bahwa


pasien dan keluarga pasien dapat menyelesaikan masalah kesehatan
secara mandiri.

56
4.3.2 Diagnosa Holistik, Tanggal Intervensi dan Penatalaksanaan
Selanjutnya

Pertemuan ke 1 : 7 Januari 2019


Saat kedatangan yang pertama dilakukan beberapa hal yaitu :

1. Memperkenalkan diri dengan pasien.


2. Menjalin hubungan yang baik dengan pasien.
3. Menjelaskan maksud kedatangan dan meminta persetujuan
pasien
4. Menganamnesa pasien, mulai dari identitas sampai riwayat
psiko-sosio-ekonomi dan melakukan pemeriksaan fisik.
5. Memastikan pasien telah mengerti tujuan prosedur
pemeriksaan.
6. Meminta persetujuan pemeriksaan kepada pihak pasien.
7. Membuat diagnostik holistik pada pasien.
8. Mengevaluasi pemberian penatalaksanaan farmakologis

A. Anamnesa Holistik
a. Aspek Personal
Seorang anak laki-laki usia 17 tahun datang ke
puskesmas diantar oleh neneknya dengan keluhan mual
muntah yang dialami sejak malam hari. Malamnya pasien
muntah lebih 5 kali, paginya pasien muntah 2 kali. Ampas
(+) Air (+) Darah (-). Pasien juga mengeluh demam yang
dialami sejak + 4 hari dan suhunya meningkat hanya pada
malam hari. Sakit kepala (+), nyeri perut (+), lemas (+),
dan sulit makan (+). Pasien tidak buang air besar sejak 3
hari yang lalu, buang air kecil lancar.
Kekhawatiran : Takut penyakit anaknya memburuk.
Harapan :Dapat sembuh dan anggota keluarga yang
lain tidak menderita penyakit yang sama dengan pasien.

57
b. Aspek Klinik
- Mual
- Muntah
- Demam
- Sakit Kepala
- Nyeri perut
- Lemas
- Anorexia

c. Aspek Faktor Internal


- Kurangnya pengetahuan tentang demam tifoid
- Kurangmya upaya menghindari penyebab demam tifoid
d. Aspek Faktor Resiko External
Kurangnya pengawasan oleh anggota keluarga untuk
menghindari penyebab penyakit demam tifoid sehingga
tidak ada upaya pencegahan faktor pencetus penyebab
demam tifoid pada pasien.
e. Aspek Psikososial Keluarga
Di dalam keluarga terdapat faktor-faktor yang dapat
menghambat dan mendukung kesembuhan pasien. Di antara
faktor-faktor yang dapat menghambat kesembuhan pasien
yaitu, kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga
mengenai demam tifoid.Faktor yang dapat mendukung
kesembuhan pasien yaitu adanya dukungan dan motivasi
dari semua anggota keluarga baik secara moral dan materi.
f. Aspek Fungsional
Secara aspek fungsional, pasien tidak ada kesulitan dan
masih mampu dalam hal fisik dan mental untuk melakukan
aktifitas di dalam maupun di luar rumah namun pasien agak
merasa sedikit lemas sehingga butuh istirahat

58
g. Derajat Fungsional
An.A masih dapat beraktifitas dengan baik tanpa
bantuan siapapun.
h. Rencana Penatalaksanaan
1. Pertemuan ke-1 : Puskesmas Maccini Sawah
Makassar 7 Januari 2019 pukul 10.00 WITA.
2. Pertemuan ke-2 : Rumah Pasien, tanggal 7 Januari
2019 Pukul 13.00 WITA.

59
Tabel 13 : Rencana Penatalaksanaan

60
B. Pemeriksaan Fisis
- Badan Hangat saat perabaan
- Peristaltik (+) Kesan Normal
C. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Widal : Typhi O :1/160
Typhi H :1/320
Pemeriksaan Trombosit : 293x103/uL
D. Diagnosa Holistik
a. Diagnosa Klinik : Demam Tifoid

b. Diagnosa Biopsikososial
Kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga mengenai
demam tifoid, kurangnya pengetahuan pasien untuk
menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta kebiasaan
pasien mengonsumsi jajanan makanan di pinggir jalan yang
tidak terjamin kebersihannya, tetapi terdapat kekhawatiran jika
keadaan pasien semakin memburuk
c. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan secara kedokteran keluarga pada pasien
ini meliputi pencegahan primer, pencegahan sekunder (terapi
untuk pasien dan keluarga pasien).

E. Pencegahan Primer
Pencegahan primer diperlukan agar orang sehat tidak terinfeksi
penyakit demam tifoid antara lain :
 Menghindari faktor pencetus
 Menghindari makanan atau minuman yang tidak terjamin
kebersihannya utamanya jajanan yang dijual di pinggir jalan.
 Mengkomsumsi makanan yang bergizi
 Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air

61
F. Pencegahan Sekunder
a. Pengobatan Farmakologi
- Paracetamol 3 x 1 tablet
- Domperidon tablet 3 x 1 Tablet
- Chloramphenicol 3 x 1 Tablet

b. Pengobatan Non Farmakologi


- Mengidentifikasi dan mengeliminasi penyebab demam
tifoid
- Menjaga asupan makanan yang bergizi
- Memperbaiki higienitas pribadi dan keluarga
- Menghindari makanan atau minuman yang tidak terjamin
kebersihannya
- Melakukan cuci tangan sebelum dan sesudah makan

G. Terapi Untuk keluarga


Terapi untuk keluarga hanya berupa terapi non farmakologi
terutama yang berkaitan dengan emosi, psikis dan proses
pengobatan pasien. Dimana anggota keluarga diberikan
pemahaman agar bisa memberikan dukungan dan motivasi kepada
pasien untuk berobat secara teratur dan membantu memantau terapi
pasien serta pentingnya menjaga hygiene baik dari keluarga
maupun pasien.

62
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
A. Diagnosa Klinis : Demam Tifoid
B. Diagnosa Psikososial :
Kurangnya pengetahuan pasien dan keluarga mengenai demam tifoid,
kurangnya pengetahuan pasien untuk menerapkan perilaku hidup bersih
dan sehat, tetapi terdapat kekhawatiran jika keadaan pasien semakin
memburuk

5.2 Saran
Dari beberapa masalah yang dapat ditemukan pada An. A yang
mengalami penyakit demam tifoid akibat gaya hidup yang kurang baik maka
disarankan untuk :
- Mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menyebabkan demam tifoid
- Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit
demam tifoid
- Menjelaskan kepada keluarga pasien tentang perilaku hidup bersih dan
sehat. Hasil yang diharapkan keluarga dapat memahami sehingga dapat
mengupayakan pencegahan untuk penyakit tersebut.
- Memberi edukasi pada pasien tentang penatalaksanaan penyakit demam
tifoid.
- Menganjurkan pasien meningkatkan sistem kekebalan tubuh dengan
memperhatikan dan memperbaiki asupan makanan.
- Menjelaskan kepada pasien agar selalu rajin kontrol kesehatan dan rutin
meminum obat.
- Menganjurkan kepada pasien untuk kontrol kembali ke puskesmas jika
keluhan belum berkurang/bertambah berat setelah intervensi
pengobatan.

63
LAMPIRAN DOKUMENTASI

Bagian Depan Rumah Pasien tampak berih

Ruang Tamu tampak bersih barang- barang tertata dengan rapi

64
Dapur tampak kotor tampak bersih

Kamar Mandi berdekatan dengan tempat cuci piring

65
DAFTAR PUSTAKA

1. Harahap; Nurhayati; Karakteristik Penderita Demam Typhoid Rawat Inap Di


RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam Tahun 2009-1st Chapter. 2011. Online on
: [8th Jan,2019]. Available at :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/28625/Chapter%20I.pdf
2. Aru WS, Bambang S, Idrus A, dkk. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Interna
Publishing. Edisi 5. Jakarta, 2009. Hal 2797-2805.
3. Awalia Burhan, Nurul. Karakteristik Pasien Penderita Demam Tifoid pada
Dewasa di Rumah Sakit Umum Kota Makassar. 2016 Online on : [16th
Jan,2019]. Available at : https://repository.unhas.ac.id
4. Harahap; Nurhayati; Karakteristik Penderita Demam Typhoid Rawat Inap Di
RSUD Deli Serdang Lubuk Pakam Tahun 2009-2nd Chapter. 2011. Online on :
[8thJan,2019]. Available at :
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/28625/Chapter%20II.pd
f
5. Innesa, C; et all. Perbedaan Kuantitas Antibiotik Pada Anak Dengan Demam
Tifoid Di Kelas III dan Non Kelas III di RSUP Dr. Kariadi Semarang Pada
Tahun 2011. 2013. Online on : [8th Jan,2019]. Available at :
http://eprints.undip.ac.id/43747/4/CAROLINA_INNESA_G2A009119_BAB2
KTI.pdf
6. Ikatan Dokter Indonesia; Bakti Husada. Panduan Praktik Klinik Bagi Dokter di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer Edisi Revisi. 2014
7. M, Shandhya. Typhoid fever and Vaccine development : a partially answered
question. 2012. Online on : [8th Jan,2019]. Available at :
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3336846/
8. Nelwan. Tatalaksana Terkini Demam Thyphoid. 20. Online on : [8thJan,2019].
Available at :
http://www.kalbemed.com/Portals/6/05_192CME_1%20Tata%20Laksana%20
Terkini%20Demam%20Tifoid.pdf

66
9. Inawati. Demam Tifoid. Departeen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran
Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. 2018. Online on : [8th Jan,2019].
Available at:
http://elib.fk.uwks.ac.id/asset/archieve/jurnal/Vol%20Edisi%20Khusus%20Des
ember%202009/DEMAM%20TIFOID.pdf

10. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


364/MENKES/SK/V/2006 Tentang Pedoman Pengendalian Demam Tifoid.

67