Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. A
Umur : 30 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Suku/bangsa : Bugis
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jl. Bonto Duri III
Status perkawinan : Sudah Menikah
No. Reg : 17 73 95
Tanggal pemeriksaan : 24 Juli 2018

B. ANAMNESIS
Keluhan utama : mata kiri kemasukan benda asing
Anamnesis terpimpin : seorang pasien datang di poli mata RS Ibnu Sina
dengan keluhan mata kiri kemasukan benda asing. Pasien mengeluh mata
kiri kemerahan disertai nyeri sejak 1 hari yang lalu. Pasien mengaku
matanya kemasukan gurinda saat bekerja. Serta pasien juga mengeluhkan
mata kirinya terasa ada mengganjal dan berair. Pasien menyangkal adanya
penglihatan yang kabur. Riwayat memakai kacamata tidak ada. Riwayat
Hipertensi tidak ada. Riwayat Diabetes Melitus tidak ada. Riwayat dengan
keluhan yang sama sebelumnya tidak ada. Pasien belum pernah berobat
sebelumnya. Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama tidak ada.

C. STATUS GENERALIS
Kesadaran : compos mentis
Keadaan Umum : baik
OD : mata tampak tenang
OS : tampak mata kemerahan, benda asing (+) pada
kornea arah jam 8
Tanda vital : TD : 120/80 mmHg
N : 88 x/m
P : 20 x/m
S : 37oC
D. PEMERIKSAAN OFTALMOLOGI

1. Pemeriksaan Visus
OD Visus OS
1,0 Visus jauh tanpa koreksi 1,0
- Koreksi -
- Visus jauh dengan koreksi terbaik -
- Visus dekat tanpa koreksi -
- Koreksi -
- Visus dekat dengan koreksi terbaik -

2. Pemeriksaan Segmen Anterior

Gambar 1. Pasein dengan Corpus alienum pada mata kiri


OD Pemeriksaan OS
Edema (-), Palpebra Edema (-)
Skuama (-) Silia Skuama (-)
Lakrimasi (-) Apparatus Lakrimalis Lakrimasi (+)
Hiperemis (-) Konjungtiva Hiperemis (+)
Ke segala arah Pergerakan bola mata Ke segala arah

Kornea (tes sensitivitas dan Jernih, Tampak Corpus


fluoresens jika ada) Alienum pada kornea
Jernih
daerah peripheral arah
jam 8
Kesan Normal BMD Kesan Normal
Coklat, krypte (+) Iris Coklat, krypte (+)
Bulat, sentral Pupil Bulat, sentral
Refleks cahaya langsung
+/+ +/+
dan tidak langsung
Relative Afferent Pupillary
- -
Defect (RAPD)
Jernih Lensa Jernih

3. Tekanan Intraokuler

OD Metode Pemeriksaan OS
Tn Palpasi Tn
- NCT -

4. Palpasi
OD Palpasi OS
- Nyeri Tekan -
- Massa Tumor -
- Glandula Preaurikuler -
5. Slit Lamp

 SLOS: palpebra edema (-), konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, tampak
corpus alienum pada epitel kornea, BMD kesan normal, iris cokelat, kripte (+),
pupil bulat, sentral, lensa jernih.
 SLOD: palpebra edema (-), konjungtiva hiperemis (-), kornea jernih, BMD
kesan normal, iris cokelat, kripte (+), pupil bulat, sentral, lensa jernih.

6. Funduskopi : (-)

7. Laboratorium : (-)

E. RESUME
Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang ke poli mata RS Ibnu Sina dengan
keluhan mata kiri kemasukan benda asing. Pasien mengeluh mata kiri kemerahan
disertai nyeri sejak 1 hari yang lalu. Pasien mengaku matanya kemasukan gurinda
saat bekerja. Serta pasien juga mengeluhkan mata kirinya terasa ada mengganjal
dan berair. Penglihatan kabur disangkal. Riwayat penggunaan kacamata(-).
Pada pemeriksaan oftalmologi, didapatkan konjungtiva matta kiri hiperemis, tidak
didapatkan penurunan visus ODS 1,0/1,0. Pada pemeriksaan Slitlamp tampak
corpus alienum di epitel kornea pada arah jam 8.

F. DIAGNOSIS
OKULI SINISTRA : CORPUS ALIENUM KORNEA

G. PENATALAKSANAAN
Ekstraksi corpus alienum
Farmakologi : antibiotik eye drop
- Levocin 4 dd I OS
- Navitae 4 dd I OS
Edukasi : Hindari menggosok-gosok mata, melindungi mata dari paparan,
menggunakan kacamata pelindung.

H. PROGNOSIS :
Quo ad Visam : bonam
Quo ad Sanam : bonam
Quo ad Cometicam : bonam
Quo ad Vitam : bonam
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Histologi Kornea

Gambar 2.1 Anatomi Bola Mata

Kornea (Cornum dalam bahasa latin = seperti tanduk) adalah selaput bening
mata yang tembus cahaya, merupakan lapis jaringan yang menutup bola mata
sebelah depan dan terdiri atas 5 lapis1,3 :
1. Epitel
Epitel kornea merupakan lapis paling luar kornea dengan tebal 50 µm dan
berbentuk epitel gepeng berlapis tanpa tanduk. Bagian terbesar ujung saraf kornea
berakhir pada epitel ini. Setiap gangguan epitel akan memberikan gangguan
sensibilitas kornea berupa rasa sakit atau mengganjal. Daya regenerasi epitel
cukup besar, sehingga apabila terjadi kerusakan akan diperbaiki dalam beberapa
hari tanpa membentuk jaringan parut.
2. Membran Bowman
Membran bowman yang terletak di bawah epitel merupakan suatu membrane
tipis yang homogen terdiri atas susunan serat kolagen kuat yang mempertahankan
bentuk kornea. Bila terjadi kerusakan pada membrane bowman maka akan
berakhir dengan terbentuknya jaringan parut.
3. Stroma
Merupakan lapisan yang paling tebal dari kornea dan terdiri atas jaringan
kolagen yang tersusun dalam lamel-lamel dan berjalan sejajar dengan permukaan
kornea.Di antara serat-serat kolagen ini terdapat matriks. Stroma bersifat
higroskopis yang menarik air dari bilik mata depan. Kadar air di dalam stroma
kurang lebih 70%.Kadar air dalam stroma relative tetap yang diatur oleh fungsi
pompa sel endotel dan penguapan oleh epitel. Apabila fungsi sel endotel kurang
baik maka akan terjadi kelebihan kadar air, sehingga timbul sembab kornea
(edema kornea). Serat di dalam stroma demikian teratur sehingga memberikan
gambaran kornea yang transparan atau jernih. Bila terjadi gangguan dari susunan
serat di dalam stroma seperti edema kornea dan sikatriks kornea akan
mengakibatkan sinar yang melalui kornea terpecah dan kornea terlihat keruh.

4. Dua’s layer
Merupakan lapisan yang sebelumnya tidak terdeteksi, ditemukan oleh Prof
Harminder Dua dari University of Nottingham. Merupakan lapisan yang terletak
terletak di bagian belakang kornea,antara stroma dan membran Descemet. Lapisan
yang baru ditemukan ini, kendati hanya setebal 15 mikron--dari total ketebalan
kornea sebesar 550 mikron atau 0,5 milimeter--ternyata cukup kuat untuk
menahan tekanan hingga 1,5 Bar. Lapisan ini sangat membantu untuk
menyempurnakan praktek cangkok kornea

5. Membran Descement
Merupakan suatu lapisan tipis yang bersifat kenyal, kuat, tidak berstruktur
dan bening, terletak di bawah stroma.Lapisan ini merupakan pelindung atau
barrier infeksi dan masuknya pembuluh darah.
6. Endotel
Terdiri atas satu lapis sel yang merupakan jaringan terpenting untuk
mempertahankan kejernihan kornea.Sel endotel adalah sel yang mengatur cairan
di dalam stroma kornea. Endotel tidak mempunyai daya regenerasi sehingga bila
terjadi kerusakan, endotel tidak akan normal lagi. Endotel dapat rusak atau
terganggu fungsinya akibat trauma bedah, penyakit intraocular.Usia lanjut akan
mengakibatkan jumlah endotel berkurang.Kornea tidak mengandung pembuluh
darah, jernih dan bening, selain sebagai dinding, juga berfugsi sebagai media
penglihatan. Dipersarafi oleh nervus V1,3.

Gambar 2.2 Lapisan Kornea Kornea


Zona-Zona Dari Kornea
Selama lebih dari 100 tahun, bentuk kornea telah diketahui aspheric.
Biasanya, kornea sentral adalah sekitar 3 D lebih besar daripada pinggiran, faktor
bentuk yang positif. Secara klinis, kornea bisa dibagi menjadi beberapa zona yang
mengelilingi pusat dan bercampur baur. Zona sentral yang besarnya 1-2 mm erat
membentuk permukaan sferis. Berdekatan dengan zona pusat adalah area sebesar
3-4 mm yang berbentuk donat dengan diameter luar 7-8 mm, yang disebut zona
paracentral, yang merupakan area yang mulai merata secara progresif dari pusat.
Bersama-sama, paracentral dan zona sentral merupakan zona apikal, yang
digunakan untuk pas lensa kontak. Zona pusat dan paracentral terutama
bertanggung jawab untuk kekuatan bias kornea. Berdekatan dengan zona
paracentral adalah zona perifer, dengan diameter luar sekitar 11 mm, dan
berbatasan ini limbus, dengan diameter luar rata-rata 12 mm.
Zona perifer juga dikenal sebagai zona transisi, karena merupakan daerah
perataan terbesar dan asferis dari kornea normal. Limbus berdekatan dengan
sclera dan merupakan daerah di mana kornea menjadi makan curam sebelum
bergabung dengan sklera pada sulkus limbal.
Zona optik adalah bagian kornea yang membatasi pintu masuk pupil ke iris;
secara fisiologis besarnya sekitar 5,4 mm karena efek Stiles-Crawford. Apex
kornea adalah titik kelengkungan maksimum, biasanya temporal dari pusat pupil.
Vertex kornea adalah titik yang terletak di persimpangan sumbu fiksasi pasien dan
permukaan kornea. Titik ini terlihat sebagai refleks cahaya kornea ketika kornea
diterangi secara koaksial dengan fiksasi. Vertex kornea adalah pusat dari gambar
keratoscopic dan tidak selalu sesuai dengan titik kelengkungan maksimum pada
puncak kornea.

Gambar 2.3. Zona Kornea

2.2 Fisiologi kornea


Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan “jendela” yang dilalui
berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan oleh strukturnya
yang uniform, avaskuler dan deturgesensi. Deturgesensi atau keadaan dehidrasi
relatif jaringan kornea, dipertahankan oleh “pompa” bikarbonat aktif pada endotel
dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Dalam mekanisme dehidrasi ini, endotel
jauh lebih penting daripada epitel, dan kerusakan kimiawi atau fisis pada endotel
berdampak jauh lebih parah daripada kerusakan pada epitel. Kerusakan sel-sel
endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya,
kerusakan pada epitel hanya menyebabkan edema stroma kornea lokal sesaat yang
akan meghilang bila sel-sel epitel telah beregenerasi. Penguapan air dari lapisan
air mata prekorneal menghasilkan hipertonisitas ringan lapisan air mata tersebut,
yang mungkin merupakan faktor lain dalam menarik air dari stroma kornea
superfisial dan membantu mempertahankan keadaan dehidrasi3.
Kornea merupakan bagian anterior dari mata, yang harus dilalui cahaya,
dalam perjalanan pembentukan bayangan di retina, karena jernih, sebab susunan
sel dan seratnya tertentu dan tidak ada pembuluh darah. Biasan cahaya terutama
terjadi di permukaan anterior dari kornea. Perubahan dalam bentuk dan kejernihan
kornea, segera mengganggu pembentukan bayangan yang baik di retina. Oleh
karenanya kelainan sekecil apapun di kornea, dapat menimbulkan gangguan
penglihatan yang hebat terutama bila letaknya di daerah pupil3.

2.3 Corpus Alienum


2.3.1. Defenisi
Corpus alienum adalah benda asing yang merupakan salah satu penyebab
terjadinya cedera mata, sering mengenai sclera, kornea, dan konjungtiva.
Meskipun kebanyakan bersifat ringan, beberapa cedera bisa berakibat serius.
Apabila suatu corpus alienum masuk ke dalam bola mata maka akan terjadi reaksi
infeksi yang hebat serta timbul kerusakan dari isi bola mata. Oleh karena itu, perlu
cepat mengenali benda tersebut dan menentukan lokasinya di dalam bola mata
untuk kemudian mengeluarkannya2,4.
Benda yang masuk ke dalam bola mata dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu4 :
1) Benda logam, seperti emas, perak, platina, timah, besi tembaga
2) Benda bukan logam, seperti batu, kaca, bahan pakaian
3) Benda inert, adalah benda yang terbuat dari bahan-bahan yang tidak
menimbulkan reaksi jaringan mata, jika terjadi reaksinya hanya ringan dan
tidak mengganggu fungsi mata. Contoh : emas, platina, batu, kaca, dan
porselin
4) Benda reaktif, terdiri dari benda-benda yang dapat menimbulkan reaksi
jaringan mata sehingga mengganggu fungsi mata. Contoh : timah hitam,
seng, nikel, alumunium, tembaga
Beratnya kerusakan pada organ-organ di dalam bola mata tergantung dari4 :

a. Besarnya corpus alienum,


b. Kecepatan masuknya,
c. Ada atau tidaknya proses infeksi,
d. Jenis bendanya.
2.3.2. Patofisiologi
Benda asing di kornea secara umum masuk ke kategori trauma mata ringan.
Benda asing dapat bersarang (menetap) di epitel kornea atau stroma bila benda
asing tersebut diproyeksikan ke arah mata dengan kekuatan yang besar.4
Benda asing dapat merangsang timbulnya reaksi inflamasi, mengakibatkan
dilatasi pembuluh darah dan kemudian menyebabkan udem pada kelopak mata,
konjungtiva dan kornea. Sel darah putih juga dilepaskan, mengakibatkan reaksi
pada kamera okuli anterior dan terdapat infiltrate kornea. Jika tidak dihilangkan,
benda asing dapat menyebabkan infeksi dan nekrosis jaringan.4

2.3.3. Penyebab
Penyebab cedera mata pada pemukaan mata adalah4 :
a. Percikan kaca, besi, keramik
b. Partikel yang terbawa angin
c. Ranting pohon, dan sebagainya.

2.3.4 Gambaran Klinik


Gejala yang ditimbulkan berupa nyeri, sensasi benda asing, fotofobia, mata
merah dan mata berair banyak. Dalam pemeriksaan oftalmologi, ditemukan visus
normal atau menurun, adanya injeksi konjungtiva atau injeksi siliar, terdapat
benda asing pada bola mata, dan tes fluorescein (+)3,4.
Diagnosis corpus alienum dapat ditegakkan dengan4 :
1) Anamnesis kejadian trauma
2) Pemeriksaan tajam penglihatan kedua mata
3) Pemeriksaan dengan oftalmoskop
4) Pemeriksaan keadaan mata yang terkena trauma
5) Bila ada perforasi, maka dilakukan pemeriksaan x-ray orbita

Gambar 2.4 : Benda asing pada kornea

2.3.5. Trauma Bahan Kimia Pada Mata

Bahan kimia yang dapat mengakibatkan kelainan pada mata dapat


dibedakan dalam bentuk : trauma asam dan trauma basa atau alkali. Pengaruh
bahan kimia sangat bergantung pada PH, kecepatan dan jumlah bahan kimia
tersebut mengenai mata. Dibandingkan bahan asam, maka trauma oleh bahan
alkali cepat dapat merusak dan menembus kornea. Setiap trauma kimia pada mata
memerlukan tindakan segera. Irigasi daerah yang terkena trauma kimia
merupakan tindakan segera yang harus dilakukan karena dapat memeberikan
penyulit yang lebih berat.

Trauma Basa
Trauma basa biasanya lebih berat daripada trauma asam, karena bahan-
bahan basa memiliki dua sifat yaitu hidrofilik dan lipolifik dimana dapat secara
cepat untuk penetrasi sel membran dan masuk ke bilik mata depan, bahkan sampai
retina. Trauma basa akan memberikan iritasi ringan pada mata apabila dilihat dari
luar. Namun, apabila dilihat pada bagian dalam mata, trauma basa ini
mengakibatkan suatu kegawatdaruratan. Basa akan menembus kornea, kamera
okuli anterior sampai retina dengan cepat, sehingga berakhir dengan kebutaan.
Pada trauma basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan
kimia basa bersifat koagulasi sel dan terjadi proses safonifikasi, disertai dengan
dehidrasi.
Bahan alkali atau basa akan mengakibatkan pecah atau rusaknya sel
jaringan. Pada pH yang tinggi alkali akan mengakibatkan safonifikasi disertai
dengan disosiasi asam lemak membrane sel. Akibat safonifikasi membran sel
akan mempermudah penetrasi lebih lanjut zat alkali. Mukopolisakarida jaringan
oleh basa akan menghilang dan terjadi penggumpalan sel kornea atau keratosis.
Serat kolagen kornea akan bengkak dan stroma kornea akan mati. Akibat edema
kornea akan terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma kornea.
Serbukan sel ini cenderung disertai dengan pembentukan pembuluh darah baru
atau neovaskularisasi. Akibat membran sel basal epitel kornea rusak akan
memudahkan sel epitel diatasnya lepas. Sel epitel yang baru terbentuk akan
berhubungan langsung dengan stroma dibawahnya melalui plasminogen aktivator.
Bersamaan dengan dilepaskan plasminogen aktivator dilepas juga kolagenase
yang akan merusak kolagen kornea. Akibatnya akan terjadi gangguan
penyembuhan epitel yang berkelanjutan dengan ulkus kornea dan dapat terjadi
perforasi kornea. Kolagenase ini mulai dibentuk 9 jam sesudah trauma dan
puncaknyat erdapat pada hari ke 12-21. Biasanya ulkus pada kornea mulai
terbentuk 2 minggu setelah trauma kimia. Pembentukan ulkus berhenti hanya bila
terjadi epitelisasi lengkap atau vaskularisasi telah menutup dataran depan kornea.
Bila alkali sudah asuk ke dalam bilik mata depan maka akan terjadi gangguan
fungsi badan siliar. Cairan mata susunannya akan berubah, yaitu terdapat kadar
glukosa dan askorbat yang berkurang. Kedua unsur ini memegang peranan
penting dalam pembentukan jaringan kornea.4
Trauma akibat bahan kimia basa akan memberikan akibat yang sangat
gawat pada mata. Alkali akan menembus dengan cepat kornea, bilik mata depan
dan sampai pada jaringan retina. Pada trauma basa akan terjadi penghancuran
jaringan kolagen. Bahan kaustik soda dapat menembus kedalam bilik mata depan
dalam waktu 7 detik.
Pada trauma alkali akan terbentuk kolagenase yang akan menambah
kerusakan kolagen kornea. Alkali yang menembus bola mata akan merusak retina
sehingga dapat menyebabkan kebutaan.

Gambar 2.5 : Trauma alkali pada mata

Klasifikasi trauma thoft :


Derajat 1 : hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata.
Derajat 2 : hiperemi konjungtiva disertai dengan hilang epitel kornea.
Derajat 3: hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel
kornea
Derajat 4 : konjungtiva perilimbal nekrosis sebanyak 50%.

Trauma Asam
Asam dipisahkan dalam dua mekanisme, yaitu ion hidrogen dan anion
dalam kornea. Molekul hidrogen merusak permukaan okular dengan mengubah
pH, sementara anion merusak dengan cara denaturasi protein, presipitasi dan
koagulasi. Koagulasi protein umumnya mencegah penetrasi yang lebih lanjut dari
zat asam, dan menyebabkan tampilan ground glass dari stroma korneal yang
mengikuti trauma akibat asam.Sehingga trauma pada mata yang disebabkan oleh
zat kimia asam cenderung lebih ringan daripada trauma yang diakibatkan oleh zat
kimia basa.
Gambar 2.6 : Trauma asam pada mata

Asam hidroflorida adalah satu pengecualian.Asam lemah ini secara


cepat melewati membran sel, seperti alkali.Ion fluoride dilepaskan ke dalam sel,
dan memungkinkan menghambat enzim glikolitik dan bergabung dengan kalsium
dan magnesium membentuk insoluble complexes. Nyeri local yang ekstrim bisa
terjadi sebagai hasil dari immobilisasi ion kalsium, yang berujung pada stimulasi
saraf dengan pemindahan ion potassium. Fluorinosis akut bisa terjadi ketika ion
fluoride memasuki system sirkulasi, dan memberikan gambaran gejala pada
jantung, pernafasan,gastrointestinal, dan neurologik.4 Bila bahan asam mengenai
mata maka akan segera terjadi koagulasi protein epitel kornea yang
mengakibatkan kekeruhan pada kornea, sehingga bila konsentrasi tidak tinggi
maka tidak akan bersifat destruktif seperti trauma alkali. Biasanya kerusakan
hanya pada bagian superfisial saja. Koagulasi protein ini terbatas pada daerah
kontak bahan asam dengan jaringan. Koagulasi protein ini dapat mengenai
jaringan yang lebih dalam.4

2.3.6. Penatalaksanaan
Penatalaksanaannya adalah dengan mengeluarkan benda asing tersebut dari
bola mata. Bila lokasi corpus alienum berada di palpebra, konjungtiva, dan kornea
maka dengan mudah dapat dilepaskan setelah pemberian anatesi lokal. Untuk
mengeluarkannya, diperlukan kapas lidi atau jarum suntik tumpul atau tajam.
Arah pengambilan adalah dari tengah ke tepi. Kemudian diberi antibiotik lokal,
siklopegik, dan mata dibebat dengan kassa steril dan diperban3. Pecahan besi yang
terletak di iris, dapat dikeluarkan dengan dibuat insisi di limbus, melalui insisi
tersebut ujung dari magnit dimasukkan untuk menarik benda asing, bila tidak
berhasil dapat dilakukan iridektomi dari iris yang mengandung benda asing
tersebut3.
Pecahan besi yang terletak di dalam bilik mata depan dapat dikeluarkan
dengan magnit sama seperti pada iris. Bila letaknya di lensa juga dapat ditarik
dengan magnit, sesudah insisi pada limbus kornea, jika tidak berhasil dapat
dilakukan pengeluaran lensa dengan ekstraksi linier untuk usia muda dan ekstraksi
ekstrakapsuler atau intrakapsuler untuk usia yang tua2,3.
Bila letak corpus alienum berada di dalam badan kaca dapat dikeluarkan
dengan giant magnit setelah insisi dari sklera. Bila tidak berhasil, dapat dilakukan
dengan operasi vitrektomi3.

Prinsipnya sama halnya dengan benda asing di konjungtiva, tatalaksana benda


asing di kornea dengan cara5 :

1) Terlebih dahulu periksa tajam penglihatan mengingat kornea merupakan media


refraksi
2) Beri anastesi topical pada mata yang terkena, irigasi dengan NaCL 0,9%
gunakan cutton bud atau jarum dengan ukuran 23 G, sebaiknya di benda asing
dikeluarkan drengan menggunakan slit lamp
3) Berikan antibiotic topical dapat juga diberikan analgetic topical seperti
sikloplegik jika terdapat abrasi >3mm, jangan berikan steroid karena dapat
menghambat regenerasi epitel dan meningkatkan risiko infeksi jamur
4) Awasi tanda-tanda infeksi dan ulkus kornea bila ada rujuk
5) Bila benda asing tidak mampu untuk dikeluarkan, rujuk

2.3.6. Pencegahan dan Komplikasi


Pencegahan agar tidak masuknya benda asing ke dalam mata, baik dalam
bekerja atau berkendara, maka perlu menggunakan kaca mata pelindung4.
Komplikasi terjadi tergantung dari jumlah, ukuran, posisi, kedalaman, dan
efek dari corpus alienum tersebut. Jika ukurannya besar, terletak di bagian sentral
dimana fokus cahaya pada kornea dijatuhkan, maka akan dapat mempengaruhi
visus. Reaksi inflamasi juga bisa terjadi jika corpus alienum yang mengenai
kornea merupakan benda inert dan reaktif. Sikatrik maupun perdarahan juga bisa
timbul jika menembus cukup dalam2,3,4.
Bila ukuran corpus alienum tidak besar, dapat diambil dan reaksi sekunder
seperti inflamasi ditangani secepatnya, serta tidak menimbulkan sikatrik pada
media refraksi yang berarti, prognosis bagi pasien adalah baik2,3,4.
Penyembuhan luka pada kornea berupa jaringan parut, baik akibat radang,
maupun trauma:
1. Nebula
• Penyembuhan akibat keratitis superfisialis.
• Kerusakan kornea pada Membrana Bowman sampai 1/3 stroma.
• Pada pemeriksaan, terlihat kabut di kornea, hanya dapat dilihat di kamar
gelap dengan Slit-lamp dan bantuan kaca pembesar.

Gambar 2.7. Gambar Nebula

2. Makula
• Penyembuhan akibat ulkus kornea.
• Kerusakan kornea pada 1/3 stroma sampai 2/3 ketebalan stroma.
• Pada pemeriksaan, putih di kornea, dapat dilihat di kamar gelap dengan
slit-lamp tanpa bantuan kaca pembesar.
Gambar 2.8. Gambar Makula

3. Leukoma

• Penyembuhan akibat ulkus kornea.

• Kerusakan kornea lebih dari 2/3 ketebalan stroma.

• Kornea tampak putih, dari jauh sudah kelihatan.

2.9. Gambar Leukoma


BAB III
KESIMPULAN

Benda asing pada mata pada merupakan suatu keadaan yang harus segera
dikenali benda tersebut dan menentukan lokasinya di dalam bola mata untuk
kemudian mengeluarkannya. Hal ini karena benda asing pada mata dapat
menimbulkan suatu reaksi inflamasi dan dapat mengganggu fungsi dari mata itu
sendiri. Tatalaksananya cukup dengan ektirpasi benda asing dengan sebelumnya
memberikan anestesi topical. Selain itu trauma kima kerap juga mengenai mata
dalam keadaan sehari-hari. Perbedaan PH yakni asam dan alkali sangat
mempengaruhi derajat kerusakan mata. Oleh karena itu diperlukan pengenalan
yang lebih terhadap sifat asam dan alkali. Pada prinsipnya hanya dilakukan irigasi
secepatnya pada mata yang terkena trauma kimia. Dan bila terjadi penyulit seperti
penurunan visus segera untuk rujuk.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas, Sidarta. Ilmu Penyakit Mata, Edisi 3. 2008. Balai Penerbit FKUI
Jakarta.
2. Kanski, JJ. Chemical Injuries. Clinical Opthalmology. Edisi keenam.
Philadelphia: Elseiver Limited. 2000.
3. Vaughan, Daniel. Oftalmologi Umum, Edisi 17. 2010. Widya Medika
Jakarta.
4. Bashour M., 2008.Corneal Foreign Body. Available on
http://emedicine.medscape.com/ article/
5. Departemen Kesehatan RI. Panduan praktik klinik bagi dokter di fasilitas
pelayanan kesehatan primer. 2014.