Anda di halaman 1dari 9

BAB V

SISTEM PEMBAYARAN DAN ALAT PEMBAYARAN

1. Pengertian Sistem Pembayaran


Sistem pembayaran adalah sistem yang mencakup seperangkat aturan, lembaga
dan mekanisme yang digunakan untuk melaksanakan pemindahan dana guna memenuhi
suatu kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi.[1] Sistem Pembayaran
merupakan sistem yang berkaitan dengan pemindahan sejumlah nilai uang dari satu pihak
ke pihak lain. Media yang digunakan untuk pemindahan nilai uang tersebut sangat
beragam, mulai dari penggunaan alat pembayaran yang sederhana sampai pada
penggunaan sistem yang kompleks dan melibatkan berbagai lembaga berikut aturan
mainnya. Kewenangan mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran di
Indonesia dilaksanakan oleh Bank Indonesia yang dituangkan dalam Undang Undang
Bank Indonesia.
a. Aman berarti segala risiko dalam sistem pembayaran seperti risiko likuiditas, risiko
kredit, risiko fraud harus dapat dikelola dan dimitigasi dengan baik oleh setiap
penyelenggaraan sistem pembayaran.
b. Prinsip efisiensi menekankan bahwa penyelanggaran sistem pembayaran harus dapat
digunakan secara luas sehingga biaya yang ditanggung masyarakat akan lebih murah
karena meningkatnya skala ekonomi.
c. Kemudian prinsip kesetaraan akses yang mengandung arti bahwa Bank
Indonesia tidak menginginkan adanya praktek monopoli pada penyelenggaraan suatu
sistem yang dapat menghambat pemain lain untuk masuk.
d. Terakhir adalah kewajiban seluruh penyelenggara sistem pembayaran untuk
memperhatikan aspek-aspek perlindungan konsumen.
Sementara itu dalam kaitannya sebagai lembaga yang melakukan pengedaran
uang, kelancaran sistem pembayaran diejawantahkan dengan terjaganya jumlah uang
tunai yang beredar di masyarakat dan dalam kondisi yang layak edar atau biasa
disebut clean money policy.
Secara garis besar Sistem pembayaran dibagi menjadi dua jenis, yaitu Sistem
pembayaran tunai dan Sistem pembayaran non-tunai. Perbedaan mendasar dari kedua
jenis sistem pembayaran tersebut terletak pada instrumen yang digunakan. Pada sistem
pembayaran tunai instrumen yang digunakan berupa uang kartal, yaitu uang dalam
bentuk fisik uang kertas dan uang logam, sedangkan pada sistem pembayaran non-tunai
instrumen yang digunakan berupa Alat pembayaran menggunakan kartu (APMK), Cek,
Bilyet Giro, Nota Debet, maupun uang elektronik.

2. Peranan Bank Indonesia dalam Sistem Pembayaran


a. Bank Indonesia Dalam Mengendalikan Jumlah Uang Beredar
Suatu Negara yang modern dapat dilihat dari peranan perbankan yang sangat
dominan dalam memajuan perekonomian. Perbankan yang sehat baik secara individu
maupun secara komunitas sangat berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian suatu
Negara. Oleh sebab itu, Bank Indonesia sebagimana diamanatkan undang-undang untuk
menjaga aktivitas perbankan dengan berbagai regulasi agar sistem perbankan menjadi
lebih baik.
Menjaga kestabilan moneter merupakan tugas Bank Indonesia untuk menjamin
peredaran uang sesuai dengan yang diperlukan guna mencapai pertumbuhan ekonomi
tanpa mengakibatkan inflasi tinggi.
Kebijakan moneter merupakan kebijakan Bank Indonesia dalam bentuk
pengendalian besaran moneter dan atau suku bunga untuk mencapai perkembangan
kegiatan perekonomian yang diinginkan. Pada umumnya kegiatan perekonomian yang
diinginkan oleh otoritas moneter adalah tercapainya stabilitas ekonomi makro.
Besaran moneter yang perlu dikendalikan terdiri dari jumlah uang beredar dalam
arti sempit (M1) dan jumlah uang beredar dalam arti luas (M2), serta kredit, karena ketiga
unsur tersebut akan memengaruhi jumlah uang beredar. Sedangkan perkembangan
perekonomian yang diinginkan oleh otoritas moneter adalah stabilitas ekonomi makro
yang tercermin, antara lain oleh:
1. stabilitas harga (inflasi yang relatif rendah);
2. membaiknya perkembangan output riil (pertumbuhan ekonomi yang tinggi);
3. luasnya kesempatan kerja yang tersedia (tingkat pengangguran yang semakin
menurun).
b. Peranan Bank Indonesia Dalam Sistem Pembayaran
Bank Indonesia sebagai bank sentral mempunyai peranan penting dalam sistem
pembayaran. Ada beberapa pihak yang terlibat di dalam sistem pembayaran yaitu
pihak yang menyelenggarakan sistem pembayaran, pihak yang mendukung sistem
pembayaran, pihak yang memberikan jasa dalam sistem pembayaran, dan pihak yang
mengatur serta mengawasi sistem pembayaran.
Peranan Bank Indonesia dalam sistem pembayaran sangat luas, karena sebagai
operator, regulator, dan sekaligus sebagai pengawas. Hubungan bank sentral dengan
sistem pembayaran setiap Negara memiliki kadar yang berbeda, ada yang memiliki
keterlibatan tinggi (Indonesia), dan ada yang sedikit (Hongkong). Peranan bank sentral
dalam sistem pembayaran dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1: Peran Bank Sentral Dalam Sistem Pembayaran

Negara Keterlibatan Hubungan Dengan Sistem Pembayaran

Hongkong Sedikit Memberi saran dalam regulasi

Perancis Sedikit Pengawas

Dilakukan oleh Brunei Association of


Brunei Sedikit Banks

USA Sebagian Pengawas dan Operator

Inggris Sebagian Pengawas dan Operator RTGS

Belanda Sebagian Pengawas dan Operator

Indonesia Ya Operator, Regulator, dan Pengawas

Jepang Ya Operator dan Pengawas


Malaysia Ya Kliring dan Transfer Elektro

Saudi
Arabia Ya Operator dan Pengawas

Sumber: Maxwell, et all. (1996). Chandavarkar (1996). BIS dalam Tri Subari SM, dan Ascarya
(2003).

3. Prinsip dasar sistem pembayaran


Penetapan kebijakan sistem pembayaran umumnya memacu pada prinsip-prinsip
dasar yang berlaku umum.
a. Risk reduction (meminimalisasi resiko)
Sistem pembayaran yang terkendali dengan baik akan mengurangi berbagai
resiko. Terdapat berbagai jenis resiko yang mungkin terjadi dalam sistem pembayaran,
mulai dari resiko operasional, resiko likuiditasi, dan resiko sistematik.
Kesetabilan perekonomian tidak dapat terwujud bila resiko-resiko yang ada
dalam sistem pembayran nasional tidak diminimalisasi atau bila mungkin dihindari.
Oleh karena itu, resiko yang terjadi dalam sistem pembayaran harus benar-benar dapat
dikontrol seminimal mungkin.
b. Efisiensi
Dalam mewujudkan perekonomian nasional yang efisien diperlukan dukungan
dari sitem keuangan dan perbankan yang efisien. Sedangkan sistem keuangan dan
perbankan yang efisien tidak mungkin dapat terwujud bila tidak ada dukungan untuk
menciptakan sistem pembayaran yagn efisien, menignkatkan sistem pembayaran
merupakan sarana yang digunakan dalam melakukan segala aktifitas keuangan
maupun perbankan secara nasional.
Sistem pembayaran yang efisien salah satunya dapat diwujudkan melalui
pelayanan jasa sistem pembayaran secara nasional baik secara geografis maupun
segmentasi dari pengguna. Upaya untuk melakukan pelayanan jasa sistem pembayaran
secara nasional dapat diwujudkan melalui penerapan sistem RTGS yang
memungkinkan bank-bank di daerah melakukan transaksi yang sama dengan bank-
bank yang berbeda diperkotaan. Upaya lain adalah melalui pengembangan sistem
keliring yang terintegrasi secara nasional, dalam inflementasi di Indonesia di kenal
dengan sistem kliring nasional bank Indonesia. Kurangnya koordinasi dan kerja sama
diantara lembaga dalam sistem pembayran nasional dapat berdampak terhadap ketidak
efisienan.
c. Kesetaraan akses
Kesetaraan akses yang dimaksud adalah persamaan hak pada semua pihak
yang terkait dalam sistem pembayaran. Tidak ada pihak yang di istiemewakan, semua
di beri akses sesuai dengan peran dan fungsinya, termasuk resiko yang timbul dalam
sistem pemabaran harus di tanggung oleh semua pihal yang terkait secara seimbang.
Sebuah sistem pembayaran belum sesuai dengan prinsip dasarnya apa bila
dalam pengaturan dan operasionalnya tidak dapat melindungi dan memenuhi hak-hak
dari peserta sisterm pembayaran dan masyarakat luas sebagai pengguna secara sama.

d. Consumer Protection (perlindungan konsumen)


Bank sentral mempunyai kewenangan dan tanggung jawab untuk melakukan
pengawasan agar masyarakat luas dapat memperoleh jasa sistem pembayaran yang
efesien, cepat, aman, dan andal. Dalam tanggung jawab ini tersirat suatu makna bahwa
aspek perlindungan konsumen menjadi perhatian penting.
Aspek perlindungan konsumen mencakup hak dan kewajiban pengguna jasa
sistem pembayaran untuk memperoleh dan memberikan informasi yang benar, jelas,
dan jujur. Demikian halnya dengan pemcantuman harga untuk dapat memperoleh jasa
sistem pemabayaran kepada konsumen harus mencerminkan kondisi yang benar, jelas,
jujur, dan fair. Bank sentral sebagai penyelenggara sistem pembayaran akan
menetapkan harga kepada bank peserta mengenai berbagai hal, diharapkan bank juga
menetapkan harga yang wajar terhadap nasabah bank sebagai pengguna jasa bank.
e. Jenis-jenis sistem pembayaran
Sistem pembayaran berdasarkan jenis transaksi yang dilakukan umumnya
dikenal dalam beberapa kelompok. Mulai dari pembataran ritel atau eceran hingga
yang besar.
1. Retail Payment
Sistem pembayaran ini digunakan untuk memperoses transaksi ekonomi
nilai kecil yang di khsuskan untuk bayar membayar tanpa menggunakan
sepersenpun uang.
Jenis instrumen retail payment yang dikenal saat ini :
a. ATM
b. Using Payment Card
c. E-Money
d. Digital Money
2. Batch System
Sistem ini memungkinkan dilakukannya pembacaan data dari instrument
paper-based secara elektronik. Bank atau nasabah bank dapat menyiapkan
langsung instrumen paper-based tersebut dan menyerahkannya pada clearning
house melalui bank. Instrument yang termasuk dalam batch system adalah : Cek,
Credit Remintace, Elektronik Direct debit payment, Elektronik kredit paymen,
dan lain-lain.
3. Wholesale Payment
Wholesale Payment sistem adalah pemerosesan transaksi khusus yang
bernilai besar dan bersifat penting yang muncul dari transaksi treasury, dealing,
treade, finance, dan operasi lainnya dan bank-bank yang tersentralisasi. Factor
utama yang membedakan sistem ini selain dari nilai pembayaran, adalah bahwa
setiap pembayaran dip roses secara individual. Sejak tahun 2000, bank Indonesia
memperkenalkan real time gross settlement (RTGS), melalui mekanisme BI-
RTGS kini rekening peserta dapat di debit dalam kredit berkali-kali dalam sehari
sesuai dengan perintah pembayaran dan penerima pembayaran.

Dengan demikian, maka bank peserta RTGS harus dimiliki cukup saldo
yang tersimpan di BI. Bila mengabaikan hal ini maka dalam proses settlement,
bank peserta RTGS yang likuiditasinya kurang mencukupi akan masuk daftar
tunggu (queue) samapai bank peserta RTGS kembali memliki kecukupan saldo
untuk melakukan transaksi.
4. Lembaga dalam sisitem pembayaran
Agar sistem pembayaran bekerja dengan baik, maka didalamnya melibatkan
banyak pihak sebagai penggerak sistem. Masing-masing lembaga memiliki peran dan
tanggung jawab yang berbeda satu sama lain.
a. Penyelenggaraan Sistem Pembayaran
Kelembagaan dalam sistem pembayaran meliputi berbagai lembaga yang
secara langsung maupun tidak langsung berperan dalam penyelenggaraan sistem
pembayaran. Secara umum lembaga-lembaga yang terlibat pada sistem pembayaran
meliputi bank sentral, bank-bank umum, dan lembaga kliring, pasar modal, penyedia
jasa jaringan komunikasi, penerbit kartu kredit. Masing-masing lembaga tersebut
mempunyai peran dan tanggung jawab yang berbeda dalam sistem pembayaran.
Dalam rangka mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayara, bank
Indonesia berwenang melaksanakan dan memberikan persetujuan atas
penyelenggaraan jasa sistem pembayaran. Lembaga penyelenggara sistem pembayaran
diperlukan untuk mempermudah perhitungan dan penyelesaian kewajiban atau
tagiahan pembayaran antara peserta sistem pembayaran.
b. Lembaga Penyedia Jasa Pembayaran
Lembaga penyedia jasa pembayaran merupakan lembaga yang menyediakan
jasa yang digunakan untuk melaksanakan pemindahan dana guna memnuhi suatu
kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi.

5. Peran Bank Sentral dalam Sistem Pembayaran


Di sebagian besar Negara, bank sentral memeliki peran sangat esensial dalam
terciptanya sistem pembayaran yang baik. Tedapat tiga peran utama bank sentral dalam
sistem pembayaran, yakni peran operasional (operational role), peran pengawasan
(oversight role) dan peran katalisator atau fasilitator (catalyst or facilitator role).
Dalam bidang operasional, Bank Indonesia adalah penyelenggara sistem yang
dikenal sebagai BI-RTGS atau Bank Indonesia Real Time Gross Settlement. Kegiatan
operasional lain yang dilakukan Bank Indonesia adalah sebagai penyelenggara kliring,
dalam pengembangan sistem BI-RTGS dan sistem kliring, posisi Bank Indonesia adalah
sebagai penyelenggara dan sekaligus sebagai peserta yang terlibat secara aktif dengan
peserta lainnya.
Upaya penyempurnaan sisitem BI-RTGS dan sistem kliring terus dilakukan,
terutama pada segmen transaksi keuangan bernilai besar. Demikian juga dengan
penyempurnaan segmen pembayaran bernilai kecil atau micropayment yang terus
dilakukan. Dalam kaitan itu, Bank Indonesia juga menjalankan peranannya sebagai
pengawas sistem pembayaran untuk menjaga sistem pembayaran dapat berjalan dengan
baik.

6. Penyelenggara Sistem Pembayaran Nontunai oleh Bank Indonesia


Sesuai dengan Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, salah
satu tugas Bank Indonesia adalah mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran.
Di bidang sistem pembayaran Bank Indonesia merupakan satu-satunya lembaga yang
berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan uang rupiah serta mecabut, menarik,
dan memusnakan uang dari peredaran. Di sisi lain dalam rangka mengatur dan menjaga
kelancaran sistem pembayaran Bank Indonesia berwenang melaksanakan, memberi
persetujuan dan perizinan dana baik yang bersifat real time, sistem kliring maupun sistem
pembayaran lain msialnya, sistem pembayaran berbasis kartu.
Untuk mewujudkan suatu sistem pembayaran yang efesien, cepat, aman dan
andal, Bank Indonesia secara terus terus menerus melakukan pengembangan sesuai
dengan acuan yang ditetapkan, yaitu Blue Print Sistem Pembayaran Nasional.
Pengembangan tersebut direalisasikan dalam bentuk kebijikan dan ketentuan yang
diarahkan pada pengurungan risiko pembayaran antar bank dan peningkatan efisensi
pelayanan jasa sistem pembayaran.
Pada sistem pembayaran nontunai, saat ini penyediaan layanan jasa pembayaran
sebagian besar dilakukan oleh perbankan baik melalui rekening bank di Bank Indonesia,
hubungan bilateral antarbank maupun melalui jaringan internal bank yang dimilikinya.
Layanan pembayaran dana antarnasabah tersebut biasanya dilakukan melalui transfer
elektronik, sistem kliring mauoun melalui sistem Bank Indonesia Real Time Gross
Settlement (BI-RTGS). Dari sisi peranti pembayaran, secara historis sistem pembayaran
nontunai di Indonesia didominasi oleh peranti pembayaran berbaris warkat, namun dalam
perkembangannya sisitem BI-RTGS pada bulan November untuk penyelesaian transaksi
bernilai besar atau urgent.
Sementara itu dalam kaitannya dengan pengawasan sisitem pembayaran, Bank
Indonesia memiliki tanggung jawab agar masyarakat luas dapat memperoleh jasa sistem
pembayaran yang efisien, cepat, tepat dan aman. Fungsi pengawasan sistem pembayaran
ini selain berwenang untuk memberikan izin operasional terhadap pihak yang
menyelenggara kegiatan di bidang sistem pembayaran, juga berwenang untuk melakukan
pengawasan terhadap penyelenggara sistem pembayaran baik yang dilakukan oleh Bank
Indonesia maupun pihak lain di luar Bank Indonesia.