Anda di halaman 1dari 29

0

LAPORAN EVALUASI PROGRAM POKOK PUSKESMAS

CAKUPAN TEMPAT SAMPAH SEHAT DI RUMAH TANGGA DI


WILAYAH KERJA PUSKESMAS II TAMBAK

Disusun oleh:
Ridhan habibie Hussein
G4A016031

Pembimbing:
dr. Kuntoro

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


JURUSAN KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO

2018
1

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN EVALUASI PROGRAM POKOK PUSKESMAS

CAKUPAN TEMPAT SAMPAH SEHAT DI RUMAH TANGGA DI


WILAYAH KERJA PUSKESMAS II TAMBAK

Disusun untuk Memenuhi Syarat Ujian Kepaniteraan Klinik


Ilmu Kesehatan Masyarakat Jurusan Kedokteran
Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Disusun oleh:
Ridhan Habibie Hussein H
G4A016031

Telah dipresentasikan dan disetujui


Tanggal, Desember 2018

Pembimbing Lapangan

dr. Kuntoro
NIP 19880214 201502 1 001
2

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan atau proses alam
yang berbentuk padat. Menurut definisi WHO, sampah adalah sesuatu yang
tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang
yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Sampah yang dibuang oleh masyarakat setiap harinya berasal dari kegiatan
pertanian, pasar, rumah tangga, hiburan dan industri. Sampah rumah tangga
adalah sampah yang dihasilkan oleh satu atau beberapa keluarga yang tinggal
dalam suatu bangunan atau asrama yang terdapat di desa atau kota (Ramon,
2015).
Fenomena sampah di Indonesia sangat sukar dihilangkan, tetapi hal ini
tidak akan menjadi lama jika setiap orang sadar dan mengerti akan dampak
yang ditimbulkan dari sampah. Di Indonesia, 60-70% dari total sampah yang
dihasilkan merupakan sampah organik dengan kadar air antara 65-75%.
Sumber sampah terbanyak berasal dari pasar tradisional dan pemukiman.
Pertambahan penduduk yang semakin pesat di Indonesia, menimbulkan akibat
bertambahnya pola konsumsi masyarakat yang akhirnya menyebabkan
bertambahnya volume sampah. Sampah di pemukiman akan berpengaruh
terhadap kesehatan masayarakat. Penyakit berbasis sanitasi/lingkungan seperti
pes/sampar yang disebabkan oleh pinjal tikus, malaria yang disebabkan oleh
gigitan Nyamuk Anopheles sp, filariasis yang disebabkan oleh Nyamuk Culex
sp, DBD yang disebabkan oleh Nyamuk Aedes sp akan meningkat jika
perilaku masyarakat tidak bersih, sehat, dan ramah lingkungan (Tuahuns dkk,
2015).
Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat yang selanjutnya disebut
STBM merupakan pendekatan dan paradigma baru pembangunan sanitasi di
Indonesia yang mengedepankan pemberdayaan masyarakat dan perubahan
perilaku. STBM ditetapkan sebagai kebijakan nasional berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan No.3 Tahun 2014 tentang STBM. Tujuannya
penyelenggaraan STBM adalah untuk mewujudkan perilaku masyarakat yang
higienis dan saniter secara mandiri dalam rangka meningkatkan derajat
3

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Diharapkan pada tahun 2025,


Indonesia bisa mencapai sanitasi total untuk seluruh masyarakat, sebagaimana
tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)
Indonesia. Atas dasar pengalaman keberhasilan Community Led Total
Sanitation (CLTS) dalam mendorong kesadaran masyarakat untuk mengubah
perilaku buang air besar sembarangan (BABS), merupakan pintu masuk
perubahan perilaku santasi secara menyeluruh. Sehingga pemerintah
menyempurnakan pendekatan CLTS dengan aspek sanitasi lain yang saling
berkaitan yang ditetapkan sebagai 5 pilar STBM, yaitu (1) Stop Buang Air
Besar Sembarangan (SBS), (2) Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), (3)
Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT), (4)
Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PS-RT), dan (5) Pengamanan Limbah
Cair Rumah Tangga (PLC-RT).
Evaluasi program pemerintah di bidang kesehatan merupakan upaya
penting dalam menyelesaikan masalah ini. Seluruh lini pelayanan kesehatan,
termasuk puskesmas perlu melakukan evaluasi program pelayanan kesehatan.
Puskesmas II Tambak sebagai salah satu lini pertama pelayanan kesehatan
juga memerlukan evaluasi terkait program yang belum tercapai.
Menurut Muninjaya, 2004 salah satu kegiatan di puskesmas adalah
kegiatan Enviromental Sanitation (ES) dan melakukan pencatatan serta
pelaporan. Pentingnya kegiatan ES di Puskesmas merupakan perwujudan dari
implementasi kebijakan nasional tentang health prevention, yang bertujuan
untuk menciptakan komunitas yang sehat dan bahagia melalui kesehatan
lingkungan. Munculnya berbagai penyakit akibat lingkungan yang kotor dapat
dihindari. Data pelaporan tentang kegiatan kesehatan lingkungan di
Puskesmas seperti hasil Riset Fasilitas Kesehatan 2011, menjadi sangat
penting untuk menjadi sumber data membuat perencanaan program kesehatan
lingkungan di puskesmas yang lebih baik dan terarah sesuai objek masalah
lingkungan yang di hadapi.
Puskesmas II Tambak sebagai pelayanan kesehatan dasar memuliki
program kesehatan lingkungan, bertujuan untuk menurunkan angka kematian
penyakit menular akibat lingkungan kotor. Terdapat beberapa program terkait
kesehatan lingkungan di puskesmas II Tambak, yaitu Cakupan institusi sehat,
4

cakupan akses air bersih, cakupan jamban, cakupan SPAL, cakupan rumah
sehat, cakupan TUMP sehat, cakupan rumah/bangunan bebas jentik nyamuk
aedes, dan cakupan tempat sampah sehat di rumah tanngga.
Keberhasilan masing-masing program ini dinilai berdasarkan angka
pencapaiannya, program tempat sampah sehat merupakan program yang
belum mencapai target bidang pelayanan kesehatan lingkungan di Puskesmas
II Tambak. Menurut profil kesehatan Puskesmas II Tambak target untuk
program tempat sampah sehat di Rumah Tangga adalah 76% untuk satu tahun
atau setara dengan 4855 KK yang sudah memiliki tempat sampah sehat.
Permasalaham yang muncul adalah capaian target yang belum terpenuhi
secara maksimal pada tahun 2017. Berdasarkan masalah di atas, maka perlu
dilakukan evaluasi terkait program tempat sampah sehat di rumah tangga
wilayah kerja Puskesmas II Tambak.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Membantu mengevaluasi program puskesmas yang belum tercapai
khususnya cakupan tempat sampah sehat di rumah tangga dalam upaya
untuk menurunkan angka kesakitan penyakit menular akibat lingkungan.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui gambaran umum kondisi kesehatan di wilayah kerja
puskesmas II Tambak.
b. Mengetahui secara umum program dan cakupan program Tempat
Sampah Sehat Di Rumah Tangga di Puskesmas II Tambak.
c. Mengetahui pelaksanaan dan keberhasilan program Tempat Sampah
Sehat Di Rumah Tangga di Puskesmas II Tambak.
d. Menganalisis kekurangan dan kelebihan pelaksanaan program Tempat
Sampah Sehat Di Rumah Tangga di Puskesmas II Tambak.

C. Manfaat Penulisan
5

1. Sebagai wacana bagi Pusekesmas II Tambak untuk memperbaiki


kekurangan yang mungkin masih ada dalam program Cakupan Tempat
Sampah Sehat di Rumah Tangga.
2. Sebagai bahan masukan bagi puskesmas II Tambak, khususnya bagi
pemeegang program Cakupan Tempat Sampah Sehat di Rumah Tangga
dalam melakukan evaluasi kinerja.
3. Sebagai bahan untuk perbaikan program cakupan tempat sampah sehat di
rumah tangga kearah yang lebih baik

II. ANALISIS SITUASI


6

1. Gambaran Umum Puskesmas II Tambak


1. Keadaan Geografi
Puskesmas II Tambak merupakan wilayah timur jauh (tenggara) dari
Kabupaten Banyumas, dengan luas wilayah 14.7 km² atau sekitar 1,1%
dari luas kabupaten Banyumas. Wilayah Puskesmas Tambak II terdiri dari
5 desa yaitu; Pesantren, Karangpucung, Prembun, Purwodadi dan
Buniayu. Desa yang paling luas adalah Purwodadi yaitu 374 ha, sedangkan
desa yang wilayahnya paling sempit adalah Pesantren yaitu sekitar 220 ha.
Wilayah Puskesmas II Tambak terletak dipojok Kabupaten Banyumas,
dan berbatasan dengan :
 Disebelah utara : Desa Watuagung
 Sebelah timur : Kabupaten Kebumen
 Sebelah Selatan : Desa Gebangsari
 Sebelah Barat : Desa Kamulyan, Desa Karangpetir.
Wilayah Puskesmas II Tambak terletak pada ketinggian sekitar 15
mdpl – 35 mdpl.Dengan suhu udara rata – rata sekitar 27 derajat celcius
dengan kelembaban udara sekitar 80 %.Sekitar 50 % dari luas tanah adalah
daerah persawahan, 43 % pekarangan dan tegalan dan 7 % lain-lain.
2. Keadaan Demografi
Pertumbuhan penduduk dengan Jumlah penduduk dalam wilayah
Puskesmas II Tambak tahun 2017 berdasarkan data yang dari masing-
masing desa adalah 20.746 jiwa. Terdiri dari 10.253 (49,4%) laki-laki dan
10.493 (50,6%) perempuan. Dengan jumlah keluarga sebanyak 6.838 dan
kepadatan penduduk 1.413 jiwa/km². bila dibandingkan dengan tahun
2016 jumlah jiwa dalam wilayah Puskesmas II Tambak mengalami
penurunan.
Jumlah penduduk tahun 2017 yang paling banyak adalah Desa
Purwodadi sebesar 6.543 jiwa, dengan kepadatan penduduk 1.749
jiwa/km2, sedangkan yang paling sedikit penduduknya adalah Desa
Pesantren sebesar 2.723 jiwa dengan kepadatan penduduk 1.237
jiwa/km2. Kepadatan penduduk total wilayah Puskesmas II Tambak
7

adalah1.413 jiwa/km2. Penyebaran penduduknya cukup merata, mulai


dari daerah yang dekat jalan raya sampai ke daerah.
3. Keadaan Sosial
Ekonomi

Jenis Kelamin
No Jenis Pendidikan Jumlah
Laki-laki Perempuan
1. Tidak Tamat SD 1.197 1.305 2.502
2. SD/MI 2.848 3.469 6.317
3. SMP/MTs 2.052 1.988 4.040
4. SMA/MA 2.193 1.836 4.029
5. SMK 353 227 580
6. Diploma II 27 61 88
7. Diploma III 84 98 182
8. Uiversitas/DIV 194 185 379
9. S2 / S3 5 0 5
Dilihat dari data pendidikan, masyarakat dalam wilayah Puskesmas

II Tambak pendidikannya masih rendah. Prosentase tertinggi adalah yang

tamat SD/MI yaitu 6.317orang (30,44%).


8

4. Petugas kesehatan
Tenaga kesehatan merupakan tenaga kunci dalam mencapai
keberhasilan pembangunan bidang kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan
dalam wilayah Puskesmas II Tambak adalah sebagai berikut :

a. Tenaga Medis
Tenaga Medis atau dokter yang ada di sarana kesehatan dalam wilayah
Puskesmas II Tambak ada 2 (dua) orang dokter umum yang bekerja di
wilayah Puskesmas II Tambak atau dengan rasio sebesar 9,64/100.000
penduduk.

b. Dokter Spesialis
Dokter spesialis tidak ada. Standar IIS 2010, 6/100.000 penduduk.

c. Dokter Gigi
Dokter gigi tidak ada. Standar IIS 2010, 11/100.000 penduduk

d. Tenaga Farmasi
Tenaga farmasi pada Puskesmas II Tambak sebanyak 1 (satu) orang atau
rasio terhadap 100.000 penduduk sebesar 4,79 dan untuk standar IIS
2010, 10/100.000 penduduk
9

e. Tenaga Bidan
Tenaga Kebidanan jumlahnya 11 orang.Berarti ratio tenaga bidan
adalah 53,02/100.000 penduduk. Standar IIS 2010, jumlah tenaga bidan
100/100.000 atau 16 bidan.

f. Tenaga Perawat
Tenaga perawat kesehatan yang ada di Puskesmas II Tambak lulusan
SPK ada 4 orang dan D-III Keperawatan 5 orang, jumlah seluruhnya
ada 9 orang perawat (ratio 43,38/100.000 jumlah penduduk). Standar
IIS tahun 2010, adalah 117,5/100.000 penduduk (sekitar 19 perawat).

g. Tenaga Gizi
Tenaga Gizi di Puskesmas II Tambak jumlahnya 1 orang, lulusan D-III
Gizi, ratio 4,8202/100.000 penduduk. Standar IIS 2010, 22/100.000
penduduk.

h. Tenaga Sanitasi
Tenaga kesehatan masyarakat ada 1 (satu) orang dengan ratio
4,791/100.000 penduduk dan untuk tenaga Sanitasi ada 1 orang dengan
pendidikan D-I dengan ratio 4,791/100.000 penduduk. Standar IIS
2010, 40/100.000 penduduk (6,5 tenaga sanitasi).
i. Tenaga Kesehatan Masyarakat

Tenaga Kesehatan Masyarakat ada 2 orang. Standar IIS tahun 2010,


40/100.000 penduduk (6,5). Masih kurang 4 orang tenaga kesehatan
masyarakat.

Tabel 2.1 Ratio Jumlah Tenaga Kesehatan terhadap Jumlah Penduduk di Puskesmas II
Tambak, tahun 2017.
Jenis Jumlah Tenaga Ratio per Target IIS per
No
Tenaga Kesh 100.000 pddk 100.000 pddk
1. Dokter 2 9,6404 40
Umum
2. Dokter 0 0 6
Spesialis
3. Dokter 0 0 11
10

Gigi
4. Farmasi 1 4,79 10
5. Bidan 11 53,02 100
6. Perawat 9 43,38 117,5
7. Ahli Gizi 1 4,791 22
8. Sanitarian 2 4,791 40
9. Kesh. 2 9,640 40
Masy

Sumber: data sekunder Puskesmas II Tambak

5. Sarana Kesehatan
a. Sarana Kesehatan Dengan Kemampuan Labkes
Puskesmas II Tambak satu-satunya sarana kesehatan yang mempunyai
kemampuan Labkes di wilayah Puskesmas II Tambak.
b. Rumah Sakit Yang Menyelenggarakan 4 Pelayanan Dasar
Rumah Sakit yang menyelenggarakan 4 pelayanan dasar tidak ada.
c. Pelayanan Gawat Darurat
Pelayanan gawat darurat di wilayah Puskesmas II Tambak hanya ada di
Puskesmas.
6. Pembiayaan Kesehatan
Penyelenggaraan pembiayaan di Puskesmas terdiri dari operasional
umum, BPJS, Jamkesmas, Jamkesda dan dana BOK. Semua anggaran ini
tujuannya adalah agar semua program kesehatan di puskesmas bisa
berjalan sesuai yang diharapkan dan bisa mencapai target target yang telah
ditentukan. Oleh karena itu semua anggaran ini saling melengkapi satu
sama lain.
Anggaran dana operasional umum di Rencana Kerja Anggaran tahun
2017 berasal dari APBN (Dana Alokasi Khusus) sebesar 437.500.000
(empat ratus tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah) dan dari sumber
pemerintahan lain yaitu BLUD sebesar 1.103.252.498 (satu milyar seratus
tiga juta dua ratus lima puluh dua ribu empat ratus sembilan puluh
delapan)
11

B. Capaian Program dan Derajat Kesehatan Masyarakat


Untuk melihat gambaran dari derajat kesehatan masyarakat di wilayah
Puskesmas II Tambak, dapat dilihat dari angka kematian (mortalitas), angka
kesakitan (morbiditas) dan status gizi.
1. Mortalitas
Angka kematian dapat dipergunakan untuk menilai derajat kesehatan
masyarakat diwilayah tertentu dalam waktu tertentu. Disamping untuk
mengetahui derajat kesehatan, juga dapat digunakan sebagai tolak ukur
untuk menilai tingkat keberhasilan dari program pembangunan kesehatan
dan pelayanan kesehatan di suatu wilayah tertentu. Angka kematian
berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber dipaparkan sebagai
berikut:
a. Angka Kematian Bayi
Angka kelahiran hidup di wilayah Puskesmas II Tambak tahun
2017 adalah 305 (156 laki-laki dan 149 perempuan). Sedangkan kasus
bayi mati ada ditemukan. Berarti angka kematian bayi (AKB) di
wilayah Puskesmas II Tambak adalah 0 per 1.000 kelahiran hidup.
Jika dibandingkan dengan AKB Puskesmas II Tambak tahun 2016
yaitu 6,1/1.000 kelahiran maka terjadi peningkatan menjadi 12,9/1000
kelahiran hidup. Dan jika dibandingkan dengan target Millenium
Development Goals (MDGS) tahun 2015 sebesar 17/1000 kelahiran
hidup maka AKB di Puskesmas II Tambak termasuk baik karena telah
melampaui target.
12

Gambar 2.1 Grafik Angka Kematian Bayi Per 1.000 Kelahiran Hidup
Di Puskesmas II Tambak Tahun 2013 – 2017
b. Angka Kematian Ibu
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah kematian yang terjadi pada ibu
karena peristiwa kehamilan, persalinan, dan masa nifas. Angka
kematian ibu (AKI) tahun 2017 tidak ada kasus, sedangkan tahun 2016
terdapat 1 kasus, pada tahun 2015 terdapat 1 kasus, Tahun 2014 dan
tahun 2013 tidak ada kasus.
c. Angka Kematian Balita
Dilihat angka kematian balita pada tahun 2017 terdapat 2 kasus
sedangkan tahun 2016 ada 5,pada tahun 2015 ada 3, tahun 2014 ada 3,
tahun 2013 ada 2. Ini menunjukan adanya penurunan angka kematian
balita di wilayah puskesmas II Tambak.

2. Morbiditas
13

a. Malaria
Pada tahun 2017 ditemukan kasus malaria positif maupun malaria
klinis sebanyak 1 kasus di desa Buniayu. Sedangkan pada tahun 2016
ada 1 kasus, tahun 2014 dan 2015 tidak ditemukan kasus malaria.
Kasus malaria terakhir pada tahun 2010 ditemukan malaria klinis
sebanyak 32 atau 1,61 per 1000 penduduk. Positif malaria 3 kasus
(1,6/1000 pddk) atau 9 % dari jumlah malaria klinis dan semua
mendapatkan pengobatan.
Walau angkanya termasuk kecil, dan tidak menunjukan endemis
malaria namun demikian perlu diwaspadai karena semua kasus malaria
disini adalah eksodan dari luar jawa.
b. TB Paru
Jumlah penemuan TB Paru BTA positif tahun 2017 sebanyak 8
kasus atau CNR 38,56/100.000 penduduk.Kasus TB Paru BTA positif
diobati 7, sembuh 5, pengobatan lengkap 3. Dengan angka kesuksesan
(seccess rate/sr) 38%. Tahun 2016 sebanyak 4 kasus atau CDR
38,33/100.000 penduduk, 2015 adalah 6 kasus atau CDR 28/100.000
penduduk, tahun 2014 adalah sebanyak 6 kasus atau CDR 35/100.000
penduduk. Sedangkan tahun 2013 sebanyak 9 kasus atau CDR
45/100.000 penduduk.
c. HIV/AIDS
Kasus HIV tidak pernah ada yang terdeteksi dalam wilayah kerja
atau tidak pernah ada kasus positif HIV.Hal ini tidak bisa menunjukan
secara pasti tidak adanya kasus HIV, sebab bisa dimungkinkan ada
kasus tetapi tidak karena pemeriksaan laborat untuk penderita HIV
sementara baru dilakukan pada klinik VCT atau di PMI pada waktu
donor darah.Dan Puskesmas selaku yang mempunyai wilayah belum
pernah mendapatkan tembusan hasil pemeriksaan laborat dari klinik
VCT maupun PMI karena laporan langsung ke tingkat kabupaten.

d. Acute Flaccid Paralysis (AFP)


14

Tidak ditemukan kasus AFP dalam wilayah kerja Puskesmas II


Tambak tahun 2017 maupun tahun sebelumnya. Hal ini dapat
dijadikan indikator keberhasilan program, baik program immunisasi
polio maupun program penemuan penderita AFP. Namun demikian
kita harus tetap waspada akan terjadinya AFP.
e. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Dari gambar 2.2 yaitu kasus DBD pada tahun 2017 ditemukan 3
kasus atau 14,5/100.000 penduduk sedangkan pada tahun 2016
ditemukan 7 kasus atau 33/100.000 penduduk. Pada tahun
2015ditemukan 3 kasus (14,4/100.000 pddk), pada tahun 2014
ditemukan4 kasus (21,2/100.000 pddk), padatahun 2013 ditemukan 2
kasus (9,8/100.000). Hal ini menunjukan terjadinya penurunan kasus
DBD pada tahun 2017.Ini perlu diwaspadai terutama masalah
penularan penyakit DBD ini terkait erat dengan masalah lingkungan.
Program pemberantasan sarang nyamuk tentunya perlu ditingkatan lagi
selain dilakukan fogging apabila terjadi kasus DBD di wilayah
tertentu.

Gambar 2.2 Grafik Kasus DBD Per 100.000 Penduduk Di


Puskesmas II Tambak Tahun 2013-2017
3. Status Gizi
15

Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi di Posyandu melalui


penimbangan rutin tahun 2017, diperoleh hasil sebagai berikut :
a. Jumlah balita yang ada : 1.310 anak
b. Jumlah balita ditimbang : 1.034 anak (78,93%)
c. Jumlah balita yang naik BB-nya : 806 anak (77,94%)
d. Jumlah BGM : 7 anak (0,7%)
e. Jumlah Gizi buruk : 1 anak (0,07%).
Dari hasil tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa balita yang
ditimbang pada tahun 2017 mencapai 78,93%. Ini menunjukan penurunan
apabila dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 86,6%. Angka balita
yang naik berat badanya mencapai 77,94%, ini menunjukan terjadi
penurunan apabila dibandingkan dengan tahun 2016 yang mencapai
98,2%. Angka BGM mencapai 0,7% dan baik karena masih jauh dari
angka 15% sebagai angka batasan maksimal BGM. Hal ini menunjukan
bahwa program gizi sudah cukup berhasil, namun demikian perlu
ditingkatkan kinerja posyandu terutama untuk mengaktifkan peran serta
untuk meningkatkan angka kehadiran balita di masing-masing posyandu..

Gambar 2.2 Grafik Kasus DBD Per 100.000 Penduduk Di


Puskesmas II Tambak Tahun 2013-2017
4. Status Gizi
16

Berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi di Posyandu melalui


penimbangan rutin tahun 2017, diperoleh hasil sebagai berikut :
1. Jumlah balita yang ada : 1.310 anak
2. Jumlah balita ditimbang : 1.034 anak (78,93%)
3. Jumlah balita yang naik BB-nya : 806 anak (77,94%)
4. Jumlah BGM : 7 anak (0,7%)
5. Jumlah Gizi buruk : 1 anak (0,07%).
Dari hasil tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa balita yang
ditimbang pada tahun 2017 mencapai 78,93%. Ini menunjukan penurunan
apabila dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 86,6%. Angka balita
yang naik berat badanya mencapai 77,94%, ini menunjukan terjadi
penurunan apabila dibandingkan dengan tahun 2016 yang mencapai
98,2%. Angka BGM mencapai 0,7% dan baik karena masih jauh dari
angka 15% sebagai angka batasan maksimal BGM. Hal ini menunjukan
bahwa program gizi sudah cukup berhasil, namun demikian perlu
ditingkatkan kinerja posyandu terutama untuk mengaktifkan peran serta
untuk meningkatkan angka kehadiran balita di masing-masing posyandu.

III. ANALISIS POTENSI DAN IDENTIFIKASI ISU STRATEGIS

A. Analisis Potensi
17

Analisis penyebab masalah dilakukan berdasarkan pendekatan sistem


sehingga dilihat apakah output (skor pencapaian suatu indikator kinerja)
mengalami masalah atau tidak. Apabila ternyata bermasalah, penyebab
masalah tersebut dapat kita analisis dari input dan proses kegiatan tersebut.
1. Input
a. Man
Tenaga kesehatan merupakan kunci dalam mencapai keberhasilan
pembangunan di bidang kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan di
Puskesmas II Tambak adalah sebagai berikut :
1) Dokter umum :2
2) Dokter gigi :0
3) Farmasi :1
4) Bidan : 11
5) Perawat :9
6) Ahli gizi :1
7) Sanitarian :1
8) Sanitarian kontrak :1
9) Kesehatan masyarakat :2
b. Money
Dana untuk operasional Puskesmas diperoleh dari Badan Layanan
Umum Daerah (BLUD), sedangkan untuk operasional kegiatan tiap
program diperoleh dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) adalah bantuan dana dari
pemerintah melalui kementerian kesehatan dalam membantu
pemerintahan kabupaten dan pemerintahan kota melaksanakan
pelayanan kesehatan.
Untuk pembagian tempat sampah sehat masing-masing KK
dilakukan dengan dana retribusi yang berasal daru iuran warga
masyarakat sendiri dan dikumpulkan ke kader desa per bulannya.
c. Material
Program kesehatan lingkungan di Puskesmas II Tambak
memiliki satu ruangan konsultasi, proyektor, laptop, borang ceklist
kriteria tempat sampah sehat serta modul berisi materi untuk
penyuluhan kepada masyarakat dan kader. Dimana masyarakat atau
kader dapat datang untuk berkonsultasi terkait kesehatan lingkungan
dan sanitasi dasar salah satunya adalah tentang pembuangan sampah.
Modul mengenai materi pengelolaan sampah yang didapatkan dari
Dinas Lingkungan Hidup.
18

d. Method
Metode yang dilakukan pada program tempat sampah ini yaitu
dilakukan dengan 2 kegiatan yaitu penyuluhan (pemberdayaan
masyarakat dalam rangka pemicu STBM) dan inspeksi (Identifikasi
masalah dan analisis situasi/IMAS perilaku kesehatan). Penyuluhan
yang dilakukan ini mengenai STBM terutama pilar ke empat yaitu
pengamanan sampah rumah tangga dan mengenai pengelolaan sampah
berdasarkan modul yang di berikan oleh Badan Lingkungan Hidup
kepada masyarakat oleh pemegang program kesehatan lingkungan.
Frekuensi penyuluhan yang sudah dilakukan sebanyak 5 kali selama 7
bulan dihitung dari bulan Januari-Juli 2018 dengan capaian 14
kali/desa selama satu tahun. Penyuluhan ini dilakukan dengan
memanfaatkan kegiatan ibu-ibu PKK dan pertemuan bulanan tingat
desa agar berjalan lebih efektif dan efisien.
Sedangkan kegiatan inspeksi dilakukan bersamaan dengan
sanitasi dasar ke setiap rumah warga seperti jamban dan rumah sehat.
Inspeksi ini dilakukan 6 kali/desa selama satu tahun. Inspeksi terutama
dilakukan jika sudah terdapat KK yang memiliki tempat sampah sehat
berdasarkan laporan dari kader desa. Frekuensi inspeksi yang sudah
dilakukan sebanyak 1 kali di desa Buniayu dihitung 7 bulan mulai dari
bulan Januari-Juli 2018. Kegitan inspeksi yang dilakukan pada
program tempat sampah sehat di rumah tangga ini dengan melihat
sanitasi dasar yang ada di setiap KK, intervensi yang dilakukan
masyarakat yaitu apakah tempat sampah sudah memenuhi kriteria
tempat sampah sehat dan sudah dapat memilah sampah organic dan
non organik, dan mengedukasi kepada masyarakat agar tidak buang
sampah sembarangan.
e. Minute
Adanya inspeksi dan penyuluhan yang diadakan oleh Puskesmas II
Tambak dengan frekuensi yang dijadwalkan sudah cukup baik yaitu
masing-masingnya inspeksi sebanyak 6 kali selama satu tahun dan
penyuluhan sebanyak 14 kali selama satu tahun.
a. Market
19

Sasaran kegiatan program tempat sampah sehat di rumah


tangga adalah seluruh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas II
Tambak. Namun, belum semuanya terjangkau karena masih banyaknya
kendala dan keterbatasan, seperti kesadaran dan pengetahuan
masyarakat mengenai sampah yang masih kurang
2. Proses
a. Perencanaan (P1)
Tahap perencanaan program tempat sampah sehat pada
kegiatan kesehatan lingkungan dilakukan inspeksi ke rumah
masyarakat per desa sebanyak 6 kali/desa selama satu dan penyuluhan
pengenalan mengenai STBM dan pengelolaan sampah sebanyak 14
kali/desa selama satu tahun mengacu pada modul yang telah
disediakan oleh Dinas Lingkungan Hidup. Inspeksi yang dilakukan
yaitu mencatat apakah tempat sampah pada masing-masing KK sudah
memenuhi kriteria tempat sampah sehat. Program pembuangan sampah
dan limbah dilakukan sejalan dengan program 3 R yaitu Reduce, Reuse
dan Recycle.
b. Pengorganisasian (P2)
Demi mencapai target program Tempat Sampah Sehat di Rumah
Tangga, penanggung jawab untuk mengkoordinir program kesehatan
lingkungan yaitu sanitarian Puskesmas II Tambak bekerjasama dengan
sanitarian kontrak dan kader desa membentuk tim untuk program
tempat sampah sehat. Kader desa dalam tim ini terdiri dari 5 orang per
desa yang terpilih dan membentuk struktur organisasi yang terdiri dari
ketua, sekretaris, bendahara, bagian pemasaran dan bagian lapangan.
Program ini juga sudah bekerja sama dengan pihak eksternal seperti
Dinas Lingkungan Hidup guna memperlancar program ini.
c. Penggerakan dan pelaksanaan program (P3)
Penggerakan dan pelaksanaan Program Tempat Sampah Sehat
Rumah Tangga dilakukan oleh sanitarian puskesmas II Tambak.
Pelaksanaanya dilakukan oleh sanitarian kontrak serta kader setiap
desa serta bekerjasama dengan masyarakat untuk penyediaan tempat
sampah sehat. Sanitarian puskesmas merupakan inti pelaksana
20

program tempat sampah sehat rumah tangga. Peran sanitarian kontrak


adalah memberikan materi pengelolaan sampah bersama dengan
sanitarian puskesmas kepada masyarakan dan kader di Wilayah Kerja
Puskesmas II Tambak. Sedangkan peran kader desa adalah mengatur
keuangan, pembagian tempat sampah sehat, pencatatan serta
melaporkan KK yang sudah memiliki tempat sampah sehat, dan
memasarkan sampah yang masih dapat digunakan.
d. Pengawasan dan penilaian (P3) untuk kelancaran kegiatan

Badan pengawasan dan pengendalian untuk kelancaran kegiatan


dilakukan oleh :

1. Dinas Kesehatan wilayah Banyumas


2. Puskesmas II Tambak khususnya bagian program kesehatan
lingkungan
3. Kader atau perangkat desa setempat
4. Masyarakat
3. Output
Pada tahun 2017 sampai bulan Juli, seharusnya capaian jumlah
tempat sampah sehat rumah tangga di Wilayah Kerja Puskemas II Tambak
yang sudah dimiliki sebanyak 4855 KK atau 76%, namun dalam
praktiknya sampai saat ini tempat sampah sehat rumah tangga hanya
dimiliki oleh sebanyak 315 KK atau 4,9% dari total 6.383 KK di Wilayah
Kerja Puskemas II Tambak. Cakupan program tempat sampah sehat rumah
tangga tahun 2017 (4.9%) belum memenuhi target (76%). Artinya masih
ada sekitar 6.068 KK yang belum memenuhi kriteria tempat sampah sehat
(71,1%). Prosentase capaian target program ini didapatkan dari jumlah KK
yang sudah memiliki tempat sampah sehat di bagi dengan totak KK di
wilayah kerja puskesmas II Tambak, lalu dikalikan 100%.

4. Outcome
Outcome dilihat dari tujuan utama pelaksanaan program tempat
sampah sehat rumah tangga, dalam hal ini adalah angka kesakitan penyakit
menular atau wabah yaitu DBD dan Malaria akibat lingkungan yang kotor
di Wilayah kerja Puskesmas II Tambak. Meskipun program tempat sampah
21

sehat di rumah tangga belum tercapai, angka kejadian malaria kecil (yaitu
1 kasus pada tahun 2016 dan 2017, serta tidak ada kasus pada tahun 2014
dan 2015) dan tidak menunjukkan endemis malaria di wilayah kerja
Puskesmas II Tambak. Dan terdapat penurunan kasus DBD dari 7 kasus
pada tahun 2016, hingga ditemukan 3 kasus pada tahun 2017.

B. Analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat (SWOT)


Analisis penyebab masalah dilakukan berdasarkan pendekatan sistem
(input-process-output), kemudian dilihat apakah output mencapai target
indikator atau tidak. Apabila program kegiatan tidak mencapai target
indikator, penyebab masalah tersebut dapat kita analisis dari input dan proses
kegiatan.
1. Strength
Kelebihan yang menjadi titik tumpu keberhasilan program tempat sampah
sehat dijabarkan sebagai berikut :
a. Input
1. Man
Terdapat 2 orang sanitarian yang memiliki kompetensi dan
kemampuan memberikan edukasi tentang kriteria dan pentingnya
tempat sampah sehat dan pemilihan sampah kepada kader dan
masyarakat, sehingga meningkatkan upaya masyarakat agar sadar
akan pentingnya tempat sampah sehat.
2. Money
Terdapatnya dana Bantuan Operasional (BOK) untuk
program tempat sampah sehat serta dana retribusi yang berasal dari
iuran warga masyarakat sendiri dan dikumpulkan ke kader desa per
bulannya untuk pembagian tempat sampah sehat masing-masing
KK.
3. Method
Metode penyuluhan (pemberdayaan masyarakat dalam
rangka pemicu STBM) dan inspeksi (Identifikasi masalah dan
analisis situasi/IMAS perilaku kesehatan). Penyuluhan yang
dilakukan dengan mengacu pada modul dari Dinas Lingkungan
Hidup dan dengan frekuensi capaian 14 kali/desa selama satu
22

tahun. Penyuluhan dilakukan dengan memanfaatkan kegiatan ibu-


ibu PKK dan pertemuan bulanan tingat desa.
Sedangkan kegiatan inspeksi dilakukan bersamaan dengan
sanitasi dasar ke setiap rumah warga seperti jamban dan rumah
sehat. Inspeksi ini dilakukan 6 kali/desa selama satu tahun. Kegitan
inspeksi yang dilakukan yaitu melihat dan mencatat apakah tempat
sampah setiap KK sudah memenuhi kriteria tempat sampah sehat
menurut program tempat sampah sehat ini yaitu kuat, tertutup dan
terpisah antara sampah organik dan non organik, serta sudah dapat
memilah sampah organic dan non organic.
4. Minute
Adanya inspeksi dan penyuluhan yang dijadwalkan sudah cukup
baik yaitu inspeksi sebanyak 6 kali/desa selama satu tahun dan
penyuluhan sebanyak 14 kali/desa selama satu tahun.

2. Weakness
a. Input
1) Man
Jumlah sanitarian Puskesmas yang hanya sebanyak 1 orang dan 1
sanitarian kontrak sebanyak 1 orang menjadi kelemahan,
sedangkan standard IIS 2010, 40/100.000 sehingga seharusnya
wilayah kerja Puskesmas II Tambak ini terdapat 5 sanitarian.
Sumber daya manusia belum dapat menunjang pelaksanaan yang
maksimal dari program ini. Terbatasnya SDM sehingga
mempengaruhi sistem metode inspeksi dan penyuluhan yang
kurang efisien.
2) Material
Sarana dan prasarana yang masih kurang memadai, dilihat dari
data bawah belum adanya TPS (Tempat Pembuangan Sementara)
atau bank sampah di setiap desa.
3) Money
Walaupun terdapat anggaran BOK ke program kesehatan
lingkungan khususnya pembuangan sampah, namun masih
terdapat kelemahan dalam hal ini. Dimana dana yang tersedia
23

hanya di alokasikan untuk tranportasi 2 sanitarian dan 25 snack


pada setiap pertemuan penyuluhan. Dalam komponen ini
diperlukan anggaran untuk sarana dan prasarana seperti
disediakannya TPS (Tempat Pembuangan Sementara) atau bank
sampah di setiap desa, sehinnga sampah yang di hasilkan oleh
rumah tangga tidak menumpuk dan menyebabkan sumber
penyakit.
4) Method
Metode penyuluhan dan promosi kesehatan masih kurang inovatif
hanya menggunakan power point melalui proyektor, sehingga
masyarakat di Wilayah kerja Puskesmas II Tambak yang di
dominasi dengan tingkat pendidikan SD, kurang bisa untuk
memahami pentingnya memiliki tempat sampah sehat dan
pengelolaan sampah.

A. Opportunity
a. Adanya program pemicuan STBM dari pemerintah
b. Adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah setempat.
c. Adanya warga yang bersedia rumahnya dilakukan inspeksi program
kesehatan lingkungan.
d. Adanya warga yang bersedia menjadi kader desa untuk program
kesehatan lingkungan khususnya secara sukarela.
e. Adanya kerjasama dengan lintas sectoral yaitu Dinas Lingkungan
Hidup terkait modul panduan penyuluhan.

B. Threat
a. Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat sehingga menjadi
pasif unuk memperbaiki masalah kesehatan lingkungan, hal ini dilihat
dari belum tercapainya program tempat sampah sehat.
b. Tingkat pemahaman keluarga akan manfaat tempat sampah sehat masih
rendah hal ini di lihat dari data profil kesehatan, dimana prosentase
tertinggi adalah tamatan SD/MI yaitu 6.317 (30,44%).
c. Terdapat beberapa kader desa yang kurang aktif dalam mengikuti
kegiatan program kesehatan lingkungan ini.
24

IV. PEMBAHASAN ISU STRATEGIS DARI HASIL ANALISIS SWOT

a. Pembahasan Analisis SWOT


Belum tercapainya target untuk program tempat sampah sehat rumah
tangga yaitu 4,9% dari yang seharusnya 76% selama setahun untuk tahun
2017. Meskipun outcome angka kesakitan akibat kejadian malaria kecil dan
terdapat penurunan kasus DBD, perlu dilakukan analisis lebih lanjut mengapa
didapatkan angka demikian. Berdasarkan hasil analisis SWOT, dalam praktik
program tempat sampah sehat rumah tangga belum berjalan dengan baik. Hal
ini terlihat dari beberapa weakness dan threat yang mempengaruhi secara
langsung maupun tidak langsung terhadap pelaksanaan program.
Pembahasan yang dititikberatkan pada analisis weakness dan threat karena
baik weakness dan threat merupakan penyebab angka cakupan progam tempat
sampah sehat tidak memenuhi target. Sumber daya manusia menjadi
kelemahan utama dalam pelaksanaan progam ini. Sanitarian puskesmas yang
menjadi ujung tombak pelaksanaan progam ini jumlahnya masih kurang
sehingga dalam pelaksanaannya butuh waktu yang cukup lama terutama dalam
kegiatan inspeksi desa-desa. Total jumlah sanitarian yang dimiliki Puskesmas
II Tambak sebanyak 2 orang yang terdiri dari sanitarian puskesmas dan
sanitarian kontrak, sedangkan target jumlah sanitarian per 100.000 penduduk
adalah 40 orang. Dengan jumlah penduduk 20.746 jiwa yang berada di
wilayah kerja Puskesmas II Tambak, seharusnya jumlah sanitarian yang
tersedia adalah 5 orang. Hal ini menyebabkan tingkat beban kerja yang lebih
tinggi sehingga tidak dapat fokus dalam melaksanakan program secara
keseluruhan.
Anggaran dana yang dialokasikan untuk pelaksanaan program ini
dirasakan masih kurang. Pemerintah hanya memberikan anggaran kepada 2
25

sanitarian untuk sistem perencanaan yaitu kebutuhan transportasi inspeksi


sebanyak 6 kali/desa sebanyak satu tahun serta penyuluhan sebanyak 14
kali/desa selama satu tahun dan snack sebanyak 25 box/desa untuk peserta
pada setiap kali penyuluhan, namun tidak mengalokasikan untuk proses
pelaporan dan sarana serta prasarana kelengkapan alat-alat penunjang.
Hal ini belum sesuai dengan Undang-undang No. 18 Tahun
2008 tentang pengelolaan sampah dijelasakan bahwa
pemerintah memiliki wewenang untuk memfasilitasi
penyediaan sarana dan prasarana pengelolaan sampah,
menetapkan lokasi tempat penampungan sampah
sementara,tempat pengelohan sampah terpadu dan atau
tempat pemprosesan akhir sampah.
Dalam hal sarana dan prasarana yang masih belum terpenuhi juga menjadi
alasan belum tercapainya program cakupan tempat sampah sehat ini. Sarana
yang dimaksud adalah Tempat Pembuangan Sementara (TPS), dimana TPS ini
harus dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia dan pemerintah wajib
memenuhinya apabila hendak menanggulangi masalah sampah di daerahnya.
Peran TPS sangat penting bagi masyarakat maupun bagi
pemerintah dalam menjaga kebersihan lingkungan karena
sebelum sampah dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA),
maka terlebih dahulu diangkut ke tempat TPS Candra, 2007).
Hal ini akan mengurangi penumpukan sampah dan mengurangi perilaku
masyarakat untuk membuang sampah di pekarangan lalu di bakar atau dikubur
di tanah. Penumpukan sampah di rumah tangga akan menyebabkan tempat
sampah sulit di tutup sehingga tidak dapat memenuhi kriteria tempat sampah
sehat rumah tangga. Kriteria tempat sampah sehat itu sendiri menurut Wijaya
(2016), yaitu tertutup dan kedap air.
Selain itu juga, kemungkinan penyebab program cakupan tempat sampah
sehat rumah tannga belum tercapai karena metode penyuluhan dan promosi
yang kurang inovatif sehingga masyarakat kurang tertarik dan masih
kurangnya pengetahuan masyarakat tentang sampah atau tempat sampah yang
sesuai dengan kriteria sehat dianggap tidak praktis. Masyarakat cenderung
memilih barang-barang bekas untuk dijadikan tempat sampah seperti
26

keranjang bambu, kardus, karung, dan lainnya karena mudah didapat dan
dapat menampung sampah. Tempat sampah yang direkomendasikan oleh
Depkes RI adalah tempat sampah yang kedap air dan memiliki penutup.
Tempat pembuangan sampah tersebut seharusnya mampu menjamin tikus,
lalat dan binatang pengganggu lainnya tidak bersarang disana serta tidak
menimbulkan bau ke sekitar (Wijaya, 2016). Penelitian Subakti (2014) juga
Beralih ke Threat atau kendala yang dihadapi di lapangan, adalah
kurangnya kesadaran, ilmu pengetahuan, dan keadaan sosial ekonomi
masyarakat yang masih kurang, khususnya terkait sampah sehingga
mempengaruhi pola perilaku hidup yang kurang sehat, seperti buang samah
sembarangan ke saluran-saluran air seperti selokan ataupun sungai. Hal ini
juga menyebabkan masyarakat menjadi lebih pasif dalam memperbaiki
masalah kesehatan lingkungan.
Kelemahan utama dalam proses adalah dalam hal Penggerakan dan
pelaksanaan program. Beberapa komponen P4K tidak bisa dilaksanakan.
Seperti pengelolaan donor darah karena banyak masyarakat yang tidak tau
golongan darahnya sehingga tidak bisa didaftarkan sebagai kandidat pendonor.
Selain itu Dasolin atau Tabulin sebagian besar tidak ada di desa wilayah kerja
Puskesmas 1 Sumpiuh. Hanya desa Kuntili yang memiliki Dasolin atau
Tabulin. Proses kunjungan rumah juga tidak terlaksana dengan baik karena
ada desa yang tidak memiliki bidan desa, sehingga tidak ada yang memegang
tanggung jawab kunjungan rumah ibu hamil di desa tersebut.

b. Alternatif Pemecahan Masalah

Melihat hasil analisis SWOT, didapatkan isu strategis yang dapat


dilakukan untuk mendapatkan alternatif pemecahan masalah, meliputi :
1. Peningkatan efektifitas sanitarian yang ada untuk meningkatkan kinerja,
mengingat jumlah sanitarian belum bisa memenuhi Indikator Indonesia
Sehat (IIS).
2. Perlunya penambahan dana agar tekeseimbangan dalam pengalokasian
setiap kegiatan, misalnya untuk pengadaan TPS tiap desa dengan meminta
tambahan iuran dana per KK di setiap desa atau pemegang program
mengajukan anggaran TPS ke BOK untuk mendukung kegiatan tersebut.
27

3. Pengelolaan sampah terpadu dengan mengedepankan konsep 3 R (Reduce,


Reuse, dan Recycle), sehingga produk sampah anorganik dapat
dimanfaatkan sebagai sumber dana atau kas desa atau dana tambahan
untuk pembentukan TPS.
4. Petugas kesehatan lingkungan lebih aktif dalam menciptakan suasana yang
menarik dalam kegiatan penyuluhan atau pembinaan langsung ke rumah
warga atau tempat-tempat umum sehingga masyarakat tertarik untuk
memperhatikan dan menerapkan dari penyuluhan atau pembinaan tersebut.
Misalnya, dengan menggunakan media seperti video edukasi atau
demonstrasi langsung cara membuat tempat sampah sehat sendiri.
5. Meningkatkan partisipasi masyarakat seperti memberikan penghargaan
atau tanda khusus bagi rumah tangga yang telah memenuhi kriteria tempat
sampah sehat. Misalnya, memasang sticker di setiap rumah yang
memenuhi kriteria tempat sampah sehat.
6. Meningkatkan kerjasama lintas sektoral, seperti dinas pendidikan, polsek,
tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lain-lain dalam upaya meningkatkan
setiap program kesehatan lingkungan. Misalnya, kerjasama dibidang
hukum dengan polsek untuk mensosialisasikan dan atau memasang
spanduk mengenai Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang denda
membuang sampah sembarangan agar masyarakat jera untuk buang
sampah sembarangan.
7. Mengubah strategi perilaku pembuangan sampah yaitu dengan
peningkatan lebih sistematik, melalui mekanisme pendidikan atau materi
mengenai masalah kebersihan / persampahan sejak dini di sekolah (SD,
SMP dan SMA).
8. Masalah kurang aktif kader kesehatan untuk ikut berpartisipasi dalam
kegiatan program kesehatan lingkungan, dapat diatasi dengan memberikan
perhatian dalam bentuk penghargaan atau hadiah sederhana kepada kader
kesehatan yang rutin berpartisipasi. Misalnya, dengan memberikan
peralatan rumah tangga yang bermanfaat seperti mug yang bertuliskan
“Terimakasih kepada (nama kader yang aktif berpartisipasi) atas
partisipasi”
9. Upaya yang dapat dilakukan dalam usaha pembinaan kepada kader desa
berupa materi, pelatihan-pelatihan yang dijadwalkan secara periodik untuk
28

membatu puskesmas memantau seluruh rumah tangga oleh pemegang


program.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

B. Kesimpulan
1. Tercapainya lingkungan dan pemukiman yang sehat merupakan salah satu
sasaran dari program kesehatan lingkungan dalam 6 program pokok
Puskesmas.
2. Kekuatan yang dimiliki program kesehatan lingkungan Puskesmas II
Tambak antara lain tersedianya terdapat sanitarian yang kompeten, adanya
metode penyuluhan dan inspeksi yang sistematis, frekuensi inspeksi dan
penyuluhan yang sudah baik dan terjadwalkan, serta adanya dana retribusi
dari iuran warga setiap bulannya untuk progrsm tempat sampah sehat ini.
3. Kelemahan yang dimiliki program kesehatan lingkungan antara lain
keterbatasan SDM, kurangnya sarana prasarana yang tersedia,
pengalokasian anggaran BOK yang belum tepat, serta metode dalam
penyuluhan yang masih kurang inovatif
4. Kesempatan yang dimiliki program kesehatan lingkungan antara lain
mudahnya warga diajak bekerjasama termasuk semua warga yang bersedia
rumahnya dilakukan inspeksi, adanya program STBM dari pemerintah,
serta adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah setempat,
adanya warga yang bersedia menjadi kader secara sukarela.
5. Ancaman yang ditemui program kesehatan lingkungan antara lain sebagian
besar masyarakat masih dalam taraf berpendidikan rendah sehingga kurang
kesadaran dan pengetahuan terkait sampah, kader yang kurang aktif
berpartisipasi.