Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN PADA PASIEN DENGAN

DENGUE HEMORAGIC FEVER (DHF) DI RUANG TRIAGE MEDIKAL


RSUP SANGLAH DENPASAR TANGGAL 11 APRIL 2009

1. Definisi Dengue Hemoragic Fever (DHF)


Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh Virus Dengue dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Sp., yang
ditandai dengan demam mendadak 2 sampai 7 hari tanpa penyebab yang jelas,
lemah/lesu, gelisah, nyeri hulu hali, disertai tanda-tanda perdarahan pada kulit
berupa bintik perdarahan (petechiae), lebam (ecchymosis) atau ruam (purpura),
kadang-kadang mimisan, berak darah, muntah darah, kesadaran menurun atau
rejatan/shock (Depkes.RI, 1992b).
Definisi kasus DHF menurut WHO (1997) harus memenuhi kriteria-kriteria
dibawah ini : (Hadinegoro SRH, dkk, 2004)
a. Panas atau riwayat panas akut selama 2- 7 hari, atau kadang- kadang bersifat
bifasik.

Gambar 1.1 Ciri demam DHF atau demam pelana kuda

b. Manifestasi pendarahan, sekurang- kurangnya salah satu dari :


1) Uji tourniquet positif
2) Petekie, ekimosis atau purpura
3) Pendarahan mukosa, saluran cerna, bekas suntikan atau tempat lain
4) Hematemesis atau melena
c. Trombositopenia (< 100.000 /µL)
d. Bukti adanya kebocoran plasma karena meningkatnya permeabilitas vaskular,
sekurang-kurangnya salah satu dari :
1) Kenaikan hematokrit > 20 % diatas nilai rata- rata hematokrit untuk
populasi sesuai dengan umur dan jenis kelamin
2) Tanda- tanda kebocoran plasma seperti efusi pleura, asites dan
hipoproteinemia.

2. Etiologi dan Cara Penularan Dengue Hemoragic Fever (DHF)


Dengue Hemoragic Fever (DHF) diketahui disebabkan oleh virus dengue.
Virus dengue merupakan RNA virus dengan nukleokapsid ikosahedral dan
dibungkus oleh lapisan kapsul lipid. Virus ini termasuk kedalam kelompok
arbovirus B, famili Flaviviridae, genus Flavivirus. Flavivirus merupakan virus yang
berbentuk sferis, berdiameter 45-60 nm, mempunyai RNA positif sense yang
terselubung, bersifat termolabil, sensitive terhadap inaktivasi oleh dietil eter dan
natrium dioksikolat, stabil pada suhu 70o C, famili Flaviviridae dan genus
Flavavirus (Hadinegoro SRH, dkk, 2004). Virus dengue mempunyai 4 serotipe,
yaitu DEN 1, DEN2, DEN3, DEN4. vektor penularan nyamuk ini adalah Aedes
aegypti. Di Indonesia virus ini telah berhasil diisolasi dari darah penderita. Di
Jakarta, daerah endemis tinggi, dari sebagian besar penderita DHF derajat berat
maupun yang meninggal dapat diisolasi virus dengue tipe 3 (Hadinegoro SRH, dkk,
1999).
Selain virus terdapat 2 faktor lain yang berperan pada penularan infeksi virus
dengue yaitu manusia dan vektor perantara. Vektor utama dengue di Indonesia
adalah Aedes aegypti betina, disamping pula Aedes albopictus betina (Hadinegoro
SRH, dkk, 2004).
Aedes Sp. telah lama dikenal sebagai penyebar virus Dengue penyebab
penyakit demam berdarah dengue. Nyamuk ini sekarang ditemukan di negara-
negara yang terletak di antara garis lintang 450 Lintang Utara dan garis 350 Lintang
Selatan, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas
permukaan laut.

2
Nyamuk Aedes Sp. dalam siklus hidupnya mengalami metamorfosa lengkap,
sebagaimana serangga lainnya dalam ordo Diptera. Stadium yang dialami meliputi
stadium telur, larva, pupa dan dewasa (Gerald D. Schimt, 2001).
2.1 Telur Aedes aegypti

Stadium telur memakan waktu beberapa hari (1 – 2 hari). Telur nyamuk Aedes
aegypti berbentuk lonjong berwarna hitam, terdapat gambaran anyaman seperti
sarang lebah. Telur ini diletakkan oleh nyamuk betina secara terpisah-pisah di
tengah atau di tepi permukaan air jernih dan tenang. Telur nyamuk Aedes aegypti
dalam keadaan kering dapat bertahan dalam waktu 6 bulan meskipun dalam
lingkungan tanpa air (Depkes.RI., 1995a ).
2.2 Larva Aedes aegypti

Stadium larva biasanya berlangsung 6 – 8 hari (Depkes.RI., 1992a). Dalam


perkembangannya stadium larva memerlukan tingkatan – tingkatan. Selama ini
stadium larva dikenal memiliki empat tingkatan larva yang masing – masing
tingkatan dinamakan instar.

3
Adapun sifat dari larva nyamuk Aedes aegypti diantaranya ukuran 0,5 sampai
1 cm, gerakannya berulang – ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk
bernapas kemudian turun kembali ke bawah dan seterusnya serta pada waktu
istirahat posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air (Depkes.RI., 1995a).
Ciri – ciri yang khas dari larva Aedes aegypti yaitu adanya corong udara pada
sigmen terakhir, pada corong udara terdapat pectin dan sepasang rambut serta
jumbae akan dijumpai pada corong udara. Pertumbuhan dan perkembangan larva
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diantaranya yang penting adalah temperatur,
cukup atau tidaknya bahan makanan dan ada tidaknya binatang lain yang
merupakan predator.
2.3 Pupa Nyamuk Aedes aegypti

Pupa nyamuk juga bersifat akuatik (hidup di air) dan sangat aktif, namun tidak
makan. Walaupun demikian mereka harus ke permukaan air untuk mengambil nafas
melalui terompet pernapasan yang dimilikinya. Pupa Aedes aegypti mempunyai
morfologi yang khas yaitu mempunyai terompet pernafasan berbentuk segitiga.
Bentuk tubuhnya seperti koma, bersifat aktif dan sensitive terhadap gerakan dan
cahaya. Biasanya pupa terbentuk pada sore hari dan berumur hanya 1-2 hari untuk
segera menjadi nyamuk dewasa (Tri Wulandari, 2001).

4
2.4 Imago Nyamuk Aedes aegypti

Aedes aegypti dewasa memiliki ciri morfologi yang khas yaitu berukuran lebih
kecil daripada nyamuk rumah, dengan warna dasar hitam berbelang-belang putih
pada bagian tubuh dan kaki dan adanya gambaran lyre berwarna putih dengan
senarnya yang berwarna kuning pada bagian dorsal thoraksnya. Nyamuk dewasa
betinalah yang menghisap darah manusia untuk keperluan pematangan telurnya.
Nyamuk Aedes aegypti betina ini adalah nyamuk yang cerdas ia tidak berdengung
ketika terbang sehingga orang yang akan digigitnya tidak akan sadar bahwa ia akan
digigit. Nyamuk ini menyerang manusia dari bagian bawah atau belakang tubuh
mangsanya. Biasanya pada tungkai kaki atau pada bagian pergelangan kaki. Dalam
menghisap darah, nyamuk ini bersifat intermitten (berulang) sebelum ia merasa
kenyang. Sifat seperti inilah yang menyebabkan dalam saat yang sama dapat
menginfeksi beberapa orang dalam suatu keluarga Umur Aedes aegypti di alam
bebas sekitar 10 hari. Umur ini telah cukup bagi nyamuk ini mengembangbiakkan
Virus Dengue menjadi jumlah yang lebih banyak dalam tubuhnya (Tri
Wulandari,2001).
Tempat perindukan nyamuk ini adalah tempat penampungan air yang
mengandung air jernih atau air yang sedikit terkontaminasi seperti bak mandi,
drum, tangki air dan tempayan. Spesies nyamuk ini aktif menghisap darah pada
siang hari (Hadinegoro SRH, dkk, 2004).
Nyamuk ini dapat menularkan virus dengue kepada manusia yaitu setelah
menggigit orang yang sedang mengalami viremia (2 hari sebelum panas sampai 5

5
hari setelah demam timbul). Virus kemudian berkembang biak dalam tubuh
nyamuk yang terutama ditemukan dalam air liurnya dalam 8-10 hari sebelum dapat
ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Sekali virus dapat
masuk dan berkembang biak di dalam tubuh nyamuk, nyamuk tersebut akan dapat
menularkan virus selama hidupnya. Pada manusia, virus memerlukan waktu 4-6
hari sebelum menimbulkan sakit.

3. Patofisiologi Dengue Hemoragic Fever (DHF)


Virus akan masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegypty dan
kemudian akan bereaksi dengan antibody dan terbentuklah kompleks virus-
antibody. Dalam sirkulasi akan mengaktivasi system komplemen. Akibat aktivasi
C3 dan C5 akan dilepas C3a dan C5a,dua peptida yang berdaya untuk melepaskan
histamine dan merupakan mediator kuat sebagai factor meningkatnya permeabilitas
dinding pembuluh darah dan menghilangkan plasma melalui endotel dinding itu.
Terjadinya trobositopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor
koagulasi (protombin dan fibrinogen) merupakan factor penyebab terjadinya
perdarahan hebat , terutama perdarahan saluran gastrointestinal pada DHF. Yang
menentukan beratnya penyakit adalah meningginya permeabilitas dinding
pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi,
trombositopenia dan diathesis hemorrhagic, renjatan terjadi secara akut. Nilai
hematokrit meningkat bersamaan dengan hilangnya plasma melalui endotel dinding
pembuluh darah. Dan dengan hilangnya plasma klien mengalami hipovolemik.
Apabila tidak diatasi bisa terjadi anoxia jaringan, acidosis metabolic dan kematian.

6
3.1 Bagan Patofisiologi

Virus dengue masuk mll gigitan


nyamuk aedes aegypty

Bereaksi dng antibody

Hipertermi Terbentuk kompleks virus antibody

Mengaktivasi system komplemen Agregasi trombosit Aktivasi


koagulasi
Melepaskan anafilatoksin Trombosit
C3a & C5a Melepaskan histamine & hancur Aktivasi factor
serotonin Hageman (XII)
Permeabilitas dinding Trombositopenia
pembuluh darah Plasma hilang
Koagulasi intravaskuler Aktivasi system
kinin
Shock hipovolemik
Perdarahan
Permeabilitas dinding
Tirah baring Hipertermi pembuluh darah
PK hemoragic

Intoleransi aktivitas Kekurangan


vol cairan

Sumber : Modifikasi dari Hendarwanto, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, 1996, Diagnosa Keperawatan
NANDA, 2006.

4. Klasifikasi Dengue Hemoragic Fever (DHF)


Ada 4 derajat klasifikasi penyakit DHF menurut WHO (1997 ) : (Hassan R,
Alatas H. Dengue, 1985)
a) Derajat I
Demam tinggi yang disertai gejala klinis yang tak khas dan satu-satunya
manifestasi pendarahan adalah uji rumple leed positip.

7
b) Derajat II
Seperti derajat I tetapi disertai pendarahan spontan di kulit dan atau pendarahan
nyata lain (petekie, pendarahan gusi, pendarahan hidung, hematemesis,
melena).
c) Derajat III
Seperti derajat II yang disertai tanda – tanda adanya kegagalan sirkulasi yaitu
denyut nadi yang cepat dan kecil, tekanan nadi menurun atau hipotensi,
sianosis di sekitar mulut, kulit menjadi dingin dan lembab, penderita tampak
gelisah.
d) Derajat IV
Sudah terjadi syok dimana nadi tak teraba dan tekanan darah tak terukur.

5. Manifestasi Klinis Dengue Hemoragic Fever (DHF)


Manifestasi klinis infeksi dengue amat bervariasi dari yang amat ringan,
demam tanpa sebab yang jelas, hingga yang sedang seperti DF sampai ke DHF
dengan manifestasi demam akut, pendarahan serta kecenderungan terjadi renjatan
yang dapat berakibat fatal. Masa inkubasi dengue antara 3- 15 hari, rata-rata 5- 8
hari (Hendrawanto, dkk, 1996).
Gejala klinis DHF diawali dengan demam mendadak, disertai dengan muka
kemerahan, dan gejala klinis tidak khas yang menyerupai gejala DF, seperti
anoreksia, muntah, sakit kepala, dan nyeri pada otot dan sendi. Gejala lain yaitu
perasaan tidak enak di daerah epigastrium, nyeri di bawah lengkung iga kanan,
kadang-kadang nyeri perut dapat dirasakan di seluruh perut. Terdapat 4 gejala
utama DHF yaitu demam tinggi, fenomena pendarahan, hepatomegali, dan
kegagalan sirkulasi (Silalahi L. Demam Berdarah 2004. Available at URL:
http://www. tempointeraktif. Com/hg/narasi/2004. Html).
Penyakit ini didahului demam tinggi yang mendadak, berlangsung terus
menerus 2-7 hari, kemudian turun secara cepat. Jenis pendarahan terbanyak adalah
pendarahan kulit. Selain gejala–gejala tersebut diatas dapat pula ditemukan
manifestasi klinis yang tak lazim pada berbagai organ tubuh, antara lain : sakit
kepala, kejang demam, encepalopati dengue, edema paru, gagal ginjal akut dan

8
gejala gastroenteritis akut (Waspadalah Demam Derdarah, Depsos RI web sites.
Available at http://www. depsos. Go. Id/modules).

6. Kriteria Diagnosis
Sampai saat ini diagnosis DHF ditegakkan berdasarkan kriteria WHO (1997)
yang meliputi kriteria klinis dan laboratories : (Hadinegoro SRH, dkk, 2004)
a. Kriteria klinis
1) Demam mendadak tinggi terus menerus, tanpa sebab yang jelas selama 2-
7 hari.
2) Terdapat manifestasi pendarahan seperti uji tourniquet positip, petekie,
purpura, ekimosis, pendarahan gusi, hematemesis, melena, hematuria.
3) Pembesaran hati (hepatomegali).
4) Tanpa atau dengan gejala syok seperti :
a) Nadi lemah, cepat dan kecil sampai tak teraba.
b) Tekanan nadi turun menjadi 20 mmHg atau kurang.
c) Kulit teraba dingin dan lembab, terutama di daerah akral seperti ujung
hidung, jari tangan dan kaki.
d) Sianosis di sekitar mulut, ujung jari tangan dan kaki.
b. Kriteria laboratories
1) Trombositopenia (trombosit 100.000 / mm3 atau kurang)
2) Hemokonsentrasi (adanya peningkatan hematokrit > 20 %)

Diagnosis klinis DHF ditegakkan bila ditemukan 2 kriteria klinis ditambah


trombositopenia dengan atau tanpa hemokonsentrasi atau peningkatan hematokrit.

7. Pemeriksaan Penunjang (Hendarwanto, 1996)


a. Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah yang rutin dilakukan untuk menskrining
penderita DF adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin, kadar
hematokrit, jumlah trombosit, dan hapusan darah tepi untuk melihat
adanya limfositosis relative disertai gambaran limfosit plasma biru.

9
Uji tourniquet ditujukan untuk menilai ada tidaknya gangguan
vaskular. Uji ini juga dapat memberikan hasil positif pada infeksi virus
selain virus dengue. Hasil dikatakan positif jika terdapat 10-20 atau lebih
petekie dalam diameter 2,8 cm di lengan bawah bagian depan dan pada
lipat siku.
Peningkatan nilai hematokrit yang selalu dijumpai pada DHF
merupakan indikator terjadinya perembesan plasma, selain
hemokonsentrasi juga didapatkan trombositopenia, dan leukopenia.
2) Pemeriksaan urine.
Mungkin ditemukan albuminuria ringan
3) Sumsum tulang.
Pada awalnya hiposeluler, kemudia menjadi hiperseluler pada hari
ke-5 dengan gangguan maturasi sedangkan pada hari ke-10 biasanya sudah
kembali normal.
4) Serologi
1. Uji Hambatan Hemaglutinasi yang merupakan gold standard WHO
untuk mendiagnosis infeksi virus dengue.
2. Uji fiksasi komplemen dan uji netralisasi
3. Uji ELISA
4. Uji Dengue Blot Dot imunoasai Dengue Stick
5. Uji Imunokromatografi
b. Pemeriksaan Radiologi
Kelainan yang didapatkan antara lain :
1. Dilatasi pembuluh darah paru
2. Efusi pleura
3. Kardiomegali atau efusi perikard
4. Hepatomegali
5. Cairan dalam pongga peritoneum
6. Penebalan dinding vesika felea

10
8. Penatalaksanaan secara umum (Hendarwanto, 1996)
a. Pada kasus DHF derajat I dan II
1. Tirah baring
2. Asupan cairan, elektrolit, dan nutrisi
Asupan makanan berupa diet makanan lunak. Pasien dianjurkan
untuk banyak minum, 2-2,5 liter dalam 24 jam. Pemberian cairan oral
bertujuan untuk mencegah dehidrasi. Jenis minuman yang dianjurkan
adalah jus buah, teh manis, sirup, susu, serta larutan oralit. Apabila cairan
oralit tidak dapat diberikan karena penderita muntah , tidak mau minum,
atau nyeri perut yang berlebihan sebaiknya diberikan secara intravena.
3. Medikamentosa yang bersifat simtomatis
Antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminofen, eukinin dan
dipiron. Paracetamol direkomendasikan untuk mempertahankan suhu
dibawah 39o C dengan dosis 10-15 mg / kgbb / kali. Hindari pemberian
salisilat (aspirin, asetosal) karena dapat menimbulkan pendarahan saluran
cerna dan asidosis. Selain pemberian obat-obatan juga dilakukan
pemberian kompres dingin.
4. Monitor tanda- tanda vital (suhu, nadi. Tekanan darah, pernafasan).
Jika kondisi pasien memburuk observasi ketat tiap jam. Periksa
hemoglobin, hematokrit dan trombosit setiap hari, terutama saat dimana
periode febris berubah menjadi afebril. Monitor tanda-tanda rejatan dini
meliputi keadaan umum, perubahan tanda-tanda vital, hasil-hasil
pemeriksaan laboratorium yang memburuk. Bila penderita terus muntah
atau keadaan semakin memburuk perlu diberkan cairan per intravena
dengan Ringer laktat atau Dekstrosa 40 % dalam NaCL 0,9 %.

b. Pada kasus DHF derajat III dan IV


1. Prinsipnya mengatasi syok yang terjadi dengan memberikan cairan
pengganti yang adekuat dalam waktu yang cepat. Pada syok yang berat,
sering tetesan yang terjadi dengan klem dibuka masih kurang cepat karena
kolapnya pembuluh darah perifer. Untuk itu perlu diberikan cairan secara
intravena dengan tekanan yaitu menyuntikkan sejumlah 200 cc cairan dari

11
semprit dan setelah agak lancar baru dilanjutkan dengan tetesan infus.
Tetesan dapat diberikan dengan dosis 20 ml/kgbb/jam, sampai 30-40
ml/kgbb/jam. Secara praktis diberikan 1-2 liter secepat mungkin dalam
waktu 1-2 jam.
2. Bila dengan cairan ringer laktat tak memberikan respon yang baik, maka
cairan diganti dengan plasma dengan dosis 15-20 ml/kgbb/jam. Dosis
dapat dinaikkansampai 30-40 ml/kgbb/jam. Pada beberapa kasus mungkin
perlu dilakukan pemeriksaan tekanan vena sentral.
3. Monitor tekanan darah, nadi, dan respirasi tiap 1-2 jam, Hb dan HCT tiap
4 jam. Observasi hepatomegali, pendarahan, efusi pleura, gejala edema
paru, produksi urin dan suhu badan.
4. Koreksi keseimbangan asam dan basa
5. Transfusi darah, sebaiknya darah segar. Indikasinya pendarahan nyata
seperti hematemesis, melena, epistaksis terus menerus
6. Pemberian antibiotik bila diperkirakan adanya infeksi sekunder.
7. Oksigen pada setiap pasien syok
8. Trombosit konsentrat. Pemberian ini masih kontroversial

c. Kriteria memulangkan pasien


Pasien dapat dipulangkan apabila :
1. Tidak demam selama 24 jam tanpa antipretik
2. Nafsu makan membaik
3. Secara klinis tampak perbaikan
4. Hematokrit stabil
5. Tiga hari setelah syok teratasi
6. Jumlah trombosit > 50.000 / ul
7. Tidak dijumpai distres pernafasan (disebabkan oleh efusi pleura atau
asidosis)

9. Pengkajian Keperawatan (Christianti Effendy, 1995)


a. Data subyektif adalah data yang dikumpulkan berdasarkan keluhan pasien atau
keluarga pada pasien DHF, data subyektif yang sering ditemukan yaitu : lemah,
panas atau demam, sakit kepala, anoreksia, mual, haus, sakit saat menelan,
12
nyeri ulu hati, nyeri pada otot dan sendi, pegal-pegal pada seluruh tubuh,
konstipasi (sembelit).
b. Data obyektif adalah data yang diperoleh berdasarkan pengamatan perawat atas
kondisi pasien. Data obyektif yang sering dijumpai pada penderita DHF antara
lain : suhu tubuh tinggi, menggigil, wajah tampak kemerahan, mukosa mulut
kering, tampak bintik merah pada kulit (petekia), uji torniquet (+), epistaksis,
ekimosis, hematoma, hematemesis, melena, hiperemia pada tenggorokan, nyeri
tekan pada epigastrik, pada palpasi teraba adanya pembesaran hati dan limpa,
pada renjatan (derajat IV) nadi cepat dan lemah, hipotensi, ekstremitas dingin,
gelisah, sianosis perifer, nafas dangkal.

10. Diagnosa Keperawatan


a. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue dan syok
0
hipovolemik ditandai dengan suhu > 37,5 C, takikardi, kulit hangat,
menggigil, kelemahan, pasien mengeluh pusing.
b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas
kapiler, perdarahan dan demam ditandai dengan kulit/membrane mukosa
kering, penurunan turgor kulit, haus/mual/anoreksia.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan tirah baring atau imobilisasi ditandai
dengan kelemahan secara menyeluruh, pasien mengeluh pusing.

13

Anda mungkin juga menyukai