Anda di halaman 1dari 12

BAB IV

PERHITUGAN NILAI EFEKTIVITAS AIR COOLER


GENERATOR PADA COOLING WATER SYSTEM DI PT.
INDONESIA POWER UBP MRICA SUB UNIT PLTA PB.
SOEDIRMAN

4.1. Dasar Teori Cooling Water System

Semua peralatan mekanik maupun elektrik saat beroperasi akan menghasilkan

kerugian (losses) disamping produk kerja yang diinginkan. Besar kecilnya kerugian yang

terjadi tergantung dari performa peralatan tersebut yaitu efisiensi alat. Semakin efisien suatu

alat maka akan semakin kecil jumlah kerugian yang dihasilkan. Bentuk kerugian yang

umum dan pasti muncul pada suatu peralatan adalah panas. Panas yang terjadi mempunyai

sifat yang dapat merusak peralatan, sehingga panas yang terjadi harus dihilangkan atau

dikurangi dengan cara melakukan pendinginan.

Sistem pembangkit listrik di PLTA PB. Soedirman telah dilengkapi dengan sistem

pendingin berupa air. Sistem air pendingin yang dipasang di PLTA PB. Soedirman

merupakan sistem pendingin air dengan siklus terbuka yang melayani :

 Pendingin udara generator (air cooler generator)

 Pendingin minyak bantalan generator (thurst bearing,guide bearing oil

cooler generator)

 Pendingin minyak bantalan poros turbin (turbine guide bearing oil cooler)

 Perapat poros turbin ( turbine shaft seal)

Air pendingin diambil dari tail race pada elevasi ( 134,4 m) dipompa untuk

disalurkan melalui pipa pendingin ke masing-masing unit.


4.2. Cooling Water System Pada PLTA PB. Soedirman

E E
C C
A A E
R R C
IL IL A
TA TA R
T T IL
U U TA
:O :O U
T

GENERATOR 2
TO TO :O

GENERATOR 1

GENERATOR 2

GENERATOR 3

GENERATOR 3
TO

TO :

TO :
FR :

FR :

FR :
GENERATOR 1
TO :
R
TO
A
R
E
N
E
IG
TA
N
LA

TO : SHAFT + OIL
TO : SHAFT + OIL TO : SHAFT + OIL COOLER
IN COOLER COOLER
B
R
U
IT
TA
N
LA

P
W STRAINER 1 STRAINER 2 STRAINER 4 STRAINER 3
IC
TA
N
LA
BYPASS
VALVE

TO TAILRACE
(LUMPUR)
STRAINER-5

STRAINER 6

FR FR FR FR TO TAILRACE
TAILRACE TAILRACE TAILRACE TAILRACE (LUMPUR)
CWP – 1 CWP - 2 CWP - 3 CWP - 4

Gambar 4.1 Diagram Cooling Water System

Cooling Water System merupakan sistem pendingin turbin yang berguna untuk

menyuplai air pendingin dari tail race hingga menuju bagian-bagian turbin yang

membutuhkan cooling water. Dalam cooling water system terdapat beberapa alat yaitu

pompa air pendingin (cooling water pump), saringan air pendingin (cooling water strainer),

air cooler generator, oil cooler, pendingin bantalan poros, shaft seal. Gambar 4.1

menunjukan gambar diagram cooling water pump.

4.2.1. Pompa Air Pendingin (cooling water pump)


Gambar 4.2 Cooling Water Pump

Pompa air pendingin (cooling air water pump) adalah suatu alat bantu turbin di

PLTA Panglima Besar Soedirman yang digunakan untuk mensuplai air keperluan

pendinginan minyak bantalan, perapat poros dan udara generator. Pompa air pendingin ini

merupakan jenis pompa sentrifugal yang digerakan oleh motor penggerak. Pengambilan air

untuk keperluan pendingin ini diambil dari tail race dengan menggunakan empat buah

pompa, tiga buah pompa dihubungkan ke saringan air pendingin (cooling water strainer)

dan satu buah pompa by-pass. Gambar 4.2 menunjukan gambar dari Cooling Water Pump

4.2.2. Saringan Air Pendingin (Cooling Water Strainer)


Gambar 4.3 Cooling Water Strainer

Saringan air pendingin (Cooling Water Strainer) adalah suatu alat bantu turbin

yang digunakan untuk menyaring air pendingin dari pompa air pendingin sebelum

digunakan sebagai media pendingin.Cooling Water Strainer ini berisi 16 buah stainer tube

dan cooling water strainer kecil yang berisi 16 buah strainer tube dan cooling water

strainer kecil yang berisi 9 buah strainer tube. Dua buah cooling water (no 5 dan no 6)

dipasang secara paralel dan menerima air dari cooling water pump. Tiga buah cooling water

strainer kecil dihubungkan langsung dengan masing-masing unit (cooling water strainer no

1untuk unit 1, cooling water strainer 2 untuk unit 2, cooling water strainer 3 untuk unit 3)

sedangkan satu buah cooling water strainer kecil no 4 digunakan untuk cadangan untuk

cadangan bila ada salah satu dari cooling water strainer kecil ada yang tidak beroperasi atau

sedang dalam pemeliharaan rutin. Gambar 4.3 menunjukan gambar dari Cooling Water

Strainer

4.2.3. Air Cooler Generator

Air Cooler Generator berfungsi untuk mendinginkan udara yang ada di dalam

ruang generator. Siklus udara di dalam generator merupakan siklus tertutup, sehingga perlu

pendinginan saat generator beroperasi. Prinsip air cooler generator mirip dengan prinsip dari

radiator mobil. Namun pada air cooler generator, air (water) yang mengalir dalam radiator
berfungsi untuk mendinginkan aliran udara pada ruang generator. Pada radiator mobil

setelah mendinginkan mesin, air panas bersikulasi masuk ke radiator untuk didinginkan oleh

udara yang bergerak akibat tiupan kipas atau fan. Sedangkan yang terjadi pada air cooler

generator adalah sebaliknya yaitu air dingin mengalir dalam sirip-sirip radiator kemudian

saat generator beroperasi (berputar) udara di ruang generator menjadi panas ( karena

naiknya temperatur kawat belitan dan besi inti akibat adanya rugi-rugi panas Eddy ) dan

karena putaran rotor udara panas tersebut bergerak ( seperti efek kipas ) mengalir melalui

sela-sela sirip radiator dan didinginkan oleh air didalam rongga sirip.

Pada PLTA PB. Soedirman setiap unit generator pendinginan udara dilayani oleh

delapan buah radiator yang bekerja secara bersamaan. Air dingin berasal dari strainer kecil

setelah melewati percadangan kemudian masuk ke ruang generator dan dicabang kembali

menjadi delapan menuju tiap-tiap radiator.air panas setelah pemakaian (waste) kemudian

disatukan bersama waste dari pendingin yang lain untuk selanjutnya di buang ke tail race.

4.2.4. Oil Cooler

Oil cooler berfungsi untuk mendinginkan minyak pelumas bantalan generator baik

thurst bearing maupun guide bearing. Panas yang terjadi disebabkan oleh gesekan-gesekan

atau hal lain yang menyebabkan minyak tersebut menjadi panas. Prinsip dasar oil cooler

adalah seperti halnya alat penukar kalor yang umum disebut sebagai kondensor.

Minyak pelumas mengalir melalui tabung, dimana di dalam tabung tersebut

terdapat puluhan pipa kecil yang didalamnya mengalir air pendingin dari strainer. Panas

yang terbawa oleh minyak pelumas akibat gesekan bantalan (bearing) diserap oleh air

pendingin yang mengalir dengan debit cukup tinggi yaitu 300 liter per menit. Minyak setelah

pendinginan dipompa dari tangki reservoir minyak menuju bantalan generator untuk

mendinginkan bantalan generator kemudian minyak panas mengalir menuju oil cooler untuk

didinginkan kembali oleh air pendingin dan setelah didinginkan ditampung oleh tangki
reservoir untuk selanjutnya dipompa ke bantalan generator,begitu seterusnya. Oleh karena

itu sstem oil cooler termasuk sistem tertutup.

4.2.5. Pendingin Bantalan Poros Turbin

Pendingin bantalan poros turbin berfungsi untuk mendinginkan minyak pelumas

bantalan poro turbin akibat adanya gesekan atau hal lain yang menyebabkan minyak

menjadi panas.

Prinsip dasar dari pendingin bantalan poros turbin adalah air dingin yang mengalir

didalam pipa dilewatkan kedalam minyak pelumas yang panas sehingga panas yang terjadi

akibat gesekan atau hal lain diserap oleh air pendingin. Disini, minyak pelumas tidak

disirkulasikan melalui alat bantu (pompa) namun sirkulasi minyak pelumas memanfaatkan

gaya sentrifugal akibat putaran turbin saat beroperasi maka minyak pelumas tidak akan

bersirkulasi. Air setelah pendinginan dialirkan menyatu dengan air bekas pendinginan unit

pendinginan dan menuju tail race

4.2.6. Shaft Seal

Shaft seal berfungsi untuk mencegah masuknya air ruang runner turbin ke dalam

ruang guide bearing. Namun tekanan air didalam runner turbin saat beroperasi sangatlah

tinggi dan putaran poros turbin yang tidak stabil sehingga air mampu menembus sekat antara

shaft seal dan poros turbin. Untuk air mampu menembus sekat antara shaft seal perlu ditekan

saat beroperasi dan dibuat fleksibel. Tekanan tersebut didapat dengan menyemprotkan air

tekanan tinggi yang berasal dari strainer.

4.3. Perhitungan Efektifitas Air Cooler Generator

Pada PLTA PB. Soedirman, jenis air cooler yang digunakan adalah tipe cross-flow

(single pass) karena aliran menyilang dan satu laluan dimana secara bersamaan udara masuk

melalui sirip-sirip radiator, begitu juga air pendingin yang mengalir melalui pipa-pipa kecil

dalam air cooler generator. Gambar 4.4 menunjukann contoh gambar air cooler generator.
Gambar 4.4 Air Cooler Generator

4.3.1. Skema Air Cooler Generator

Berikut ini merupakan skema dari air cooler generator pada PLTA PB. Soedirman.

Gambar 4.5 Skema Air Cooler Generator


4.3.2. Spesifikasi Air Cooler Generator

Air Cooler Generator

Pabrik : ASEA

Type : Fin, Cross-Flow (single pass)

Tekanan yang diijinkan : 10 bar

Temperatur kerja yang dijinkan : 60℃

4.3.3. Kondisi Operasi

Laju aliran air pendingin : 2500 LPM

Temperatur air masuk : 28 °C

Temperatur air keluar : 35 °C

Temperatur udara masuk : 55 °C

Temperatur udara keluar : 36 °C

4.3.4. Perhitungan

a. Dasar asumsi Heat Exchanger

Heat exchanger biasanya beroperasi dengan rentang waktu lama dengan tidak ada

perubahan dalam kondisi operasinya. Oleh karena itu dalam menganilisis peralatan heat

exchanger (HE) dapat diasumsikan dalam keadaan steady state (kondisi tunak). Sebagai

contoh adalah laju aliran massa dari tiap fluida adalah konstan. Kemudian energi kinetik

dan potensial dianggap konstan tidak ada perubahan.

b. Data-data pada Heat Exchanger

Fluida yang digunakan : Air (fluida dingin), subskrip c

Udara (fluida panas), subskrip h

Data yang diambil dari logsheet :


Debit air, Qair : 2500 Lpm (untuk 8 HE)

Debit udara, Qudara : 3792 Lpm

Temperatur air masuk HE , Tc¸in : 28°C

Temperatur udara masuk HE, Th¸in : 55°C

Beban : 60 MW (1 unit turbin)

Data dari pengukuran :

Tem
peratur air keluar HE, Tc¸out : 35°C
Temperatur udara keluar HE, Th¸in : 36°C

Dimensi Heat Exchanger :

c. Laju aliran massa air tiap HE :

2500
𝑄𝑎𝑖𝑟 = 𝐿𝑝𝑚
8

= 312,5 𝐿𝑝𝑚

= 5,2 𝐿𝑝𝑠

ṁc = 5,2 kg/s

d. Laju aliran massa udara tiap HE :

ṁh = 7,9 kg/s

e. Kondisi jika HE beroperasi

Sifat-sifat fisik air pada temperatur 28°C

ρ = 998,148 kg/m³

cp = 4178 J/kg K

Sifat-sifat fisik udara pada temperatur 55°C

ρ = 1,06156 kg/m³
cp = 1008 J/kg K

Kapasitas Kalor

Kapasitas kalor untuk air :

Cc = ṁc x cp,c

= 5,2 x 4178

= 21725.6 W/ K

Kapasitas kalor untuk udara

Ch = ṁh x cp,h

= 7,9 x 1008

= 7963,2 W/ K

Dengan demikian Cmin = 7963,2 W/ K, dan fluida minimum adalah udara

Rasio kapasitas Kalor ( Cr )

𝐶𝑚𝑖𝑛
𝐶𝑟 =
𝐶𝑚𝑎𝑥

7963,2
=
21725,6

= 0,36

Efektifitas heat exchanger ( ε )

∆𝑇 𝑓𝑙𝑢𝑖𝑑𝑎 𝑚𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚
ε=
𝑇ℎ,𝑖 –𝑇𝑐,𝑖

𝑇ℎ,𝑖 − 𝑇ℎ,𝑜 55 − 36
= =
𝑇ℎ,𝑖 − 𝑇𝑐,𝑖 55 − 28

= 0,7

Efektifitas HE pada saat beroperasi adalah sebesar 0,7


Laju perpindahan kalor maksimum yang dimungkinkan ( 𝒬max )

𝒬max = Cmin (Th,in –Tc,in)

= 7963,2 . ( 328 – 301 )

` = 215000,64 Watt

Laju perpindahan kalor aktual ( 𝒬 )

𝒬 = ε . 𝒬max

= 0,7 . 215000,64

= 150504,48 Watt

NTU ( Number of heat transfer unit)

NTU dicari dengan menggunakan hubungan ε – NTU

1
𝑁𝑇𝑈 = − ln [1 + ( ) ln(1 − 𝜀 𝐶𝑟)]
𝐶𝑟

1
= − ln [1 + ( ) ln(1 − 0,7.0,36 )]
0,36

= 1.6

Dari perhitungan diatas dapat diketahui efektifitas perpindahan kalor yaitu sebesar

0,75 dan laju perpindahan kalor sebesar 152409,6 W. Karena nilai efekifitas perpindahan

kalor pada heat exchanger 0,75 maka kerja dari heat exchanger tersebut cukup baik. semakin

besar nilai efektifitas suatu heat exchanger maka akan semakin baik dalam proses transfer

panas.

Pada PLTA PB. Soedirman biasanya perawatan Air Cooler Generator dilakukan

pada saat perawatan rutin turbin setiap 3 bulan sekali. Perawatan bertujuan untuk mengecek

keadaan dari air cooler tersebut. Dan untuk pembongkaran dan pembersihan dilakukan pada
saar AI (annual inspection) yang biasanya dilakukan setahun sekali yaitu pada bulan juli

atau agustus.

Tujuan dari perawatan tersebut adalah untuk menjaga efektifitas penukar kalor agar

tidak menurun, sehingga efisiensi transfer panas tetap terjaga. Apabila terjadi penurunan

efektifitas maka temperatur keluaran udara akan meningkat. Hal ini akan mengakibatkan

kenaikan dari temperatur udara di dalam ruangan generator jika temperatur udara melebihi

temperatur yang di ijinkan yaitu 60℃. Maka kinerja generator tersebut akan terganggu dan

akan memperpendek umur dari alat tersebut.