Anda di halaman 1dari 18

Lampiran 1 SAP TB Paru

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA
2019
PRODI PENDIDIKAN NERS No. Dok 01/IKD-
FAKULTAS KEPERAWATAN
II/PK/13
UNIKA WIDYA MANDALA
SURABAYA
Revisi ke 1
FORM SATUAN ACARA
PENYULUHAN Halaman 1 dari 3

SATUAN ACARA PENDIDIKAN KESEHATAN


(Rencana Kegiatan Pendidikan Kesehatan)

A. ANALISA SITUASI : Masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui


tentang penyakit tuberkulosis
B. POKOK BAHASAN : Penyakit Tuberkulosis
C. SASARAN : Pasien dan keluarga yang menderita tuberkulosis
D. TEMPAT : Rumah Pasien dan keluarga yang menderita
tuberkulosis
E. HARI, TANGGAL : Selasa, 16 April 2019
F. WAKTU : 15.05 WIB
G. STANDARD KOMPETENSI
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan pasien dapat mengerti dan
memahami tentang penyakit tuberkulosis.
H. KOMPETENSI DASAR
Setelah diberikan penyuluhan diharapakan peserta dapat:
1. Menjelaskan pengertian tuberculosis
2. Menjelaskan penyebab penyakit tuberkulosis
3. Menjelaskan tanda dan gejala penyakit tuberkulosis
4. Menjelaskan bagaimana cara penularan penyakit tuberculosis
5. Menjelaskan bagaimana pengobatan dari penyakit tuberculosis.
6. Menjelaskan bagaimana cara pencegahan dari penyakit tuberculosis.
7. Menjelaskan bagaimana etika batuk yang baik dan benar
I. SUB POKOK BAHASAN
Materi penyuluhan terlampir:
1. Pengertian tuberculosis
2. Penyebab penyakit tuberkulosis
3. Tanda dan gejala penyakit tuberkulosis
4. Cara penularan penyakit tuberculosis
5. Pengobatan dari penyakit tuberculosis.
6. Cara pencegahan dari penyakit tuberculosis.
7. Etika batuk yang baik dan benar
J. METODE PENDIDIKAN KESEHATAN
1. Ceramah
K. MEDIA YANG DIGUNAKAN
1. Poster

L. URAIAN KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN


TAHAP URAIAN KEGIATAN METODE MEDIA
I 1. Memberi salam pembukaan Ceramah Poster
Pendahuluan 2. Memperkenalkan diri
(membuka 3. Menjelaskan maksud dan tujuan
pertemuan) pertemuan dan topik yang akan dibahas
5 Menit 4. Menumbuhkan motivasi dengan cara:
a. Menjelaskan tujuan dan manfaat topik
yang dibahas.
b. Menunjukkan hasil-hasil penelitian
yang terkait dengan topik secara
sederhana.
c. Menjelaskan dampak negatit
5. Menjelaskan metode yang digunakan
6. Memberitahukan waktu yang akan
digunakan
II 1. Menjelaskan pengertian tuberculosis Ceramah Poster
Menyampaikan 2. Menjelaskan penyebab penyakit
isi materi tuberkulosis
20 menit
3. Menjelaskan tanda dan gejala penyakit
tuberkulosis
4. Menjelaskan bagaimana cara penularan
penyakit tuberculosis
5. Menjelaskan bagaimana pengobatan
dari penyakit tuberculosis.
6. Menjelaskan bagaimana cara
pencegahan dari penyakit tuberculosis.
7. Menjelaskan bagaimana etika batuk
yang baik dan benar

III Pertanyaan langsung atau bisa ditulis Daftar


Evaluasi pertanyaan
5 menit
IV Meringkas materi yang telah disampaikan
Penutup
M. EVALUASI
Evaluasi Struktur Evaluasi Proses Evaluasi Hasil
1. Pasien dan (√) 1. Moderator memberi (√) 1. Pasien dan (√)
keluarga berkenan salam dan keluarga
mengikuti dalam memperkenalkan diri. memahami
kegiatan tentang
penyuluhan. 2. Moderator menjelaskan (√) penyakit
(√) tujuan dari penyuluhan. tuberkulosis.
2. Penyuluhan
kesehatan 3. Moderator melakukan (√) 2. Pasien dan (√)
dilaksanakan di kontrak waktu dan keluarga
rumah pasien menjelaskan mekanisme mengikuti dan
penderita penyuluhan. mendengarkan
tuberkulosis penjelasan
4. Moderator menyebutkan (√) hingga selesai (√)
3. Sarana dan (√) materi penyuluhan yang
prasarana akan diberikan. 3. Kegiatan
memadai. berjalan sesuai
5. Penyaji menggali (√) dengan tujuan
informasi dan yang dicapai.
pengalaman yang telah
diketahui peserta tentang
penyakit kusta.

6. Penyaji menjelaskan (√)


tentang penyakit kusta.

7. Peserta memperhatikan (√)


terhadap materi
penyuluhan kesehatan.

8. Tidak ada peserta yang (√)


meninggalkan tempat
penyuluhan sampai
selesai.
N. DAFTAR PUSTAKA
1. Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS. Jakarta:
Balitbang Kemenkes RI
2. Proverawati, A dan Wati, E. K. 2011. Ilmu Gizi Untuk Perawat dan Gizi
Kesehatan. Yogyakarta: Yulia Medika.
3. Wati, R. 2011. Skripsi: Pengaruh Pemberian Penyuluhan PHBS Tentang
Mencuci Tangan Terhadap Pengetahuan dan Sikap Mencuci Tangan Pada
Siswa Kelas V di SDN Bulukantil Surakarta. Surakarta: Kebidanan UNS.

O. LAMPIRAN
TB Paru dan Etika Batuk
1. Pengertian
Penyakit TB Paru adalah penyakit infeksi dan menular yang menyerang
paru-paru yang disebabkan oleh kuman Micobacterium Tuberkulosis.

2. Faktor penyebabnya.
Etiologi Tuberculosis Paru adalah Mycobacterium Tuberculosis yang
berbentuk batang dan Tahan asam. Penyebab Tuberculosis adalah M.
Tuberculosis bentuk batang panjang 1 – 4 /µm Dengan tebal 0,3 0,5 µm.
selain itu juga kuman lain yang memberi infeksi yangsama yaitu M Bovis, M.
Kansasii, M. Intracellutare

3. Cara Penularan
Penyakit tuberculosis (TB) bisa ditularkan melalui kontak langsung
dengan pasien TB, seperti terpapar hembusan nafasnya, cairan tubuhnya, dan
apabila menggunakan sendok dan handuk secara bersamaan.

4. Tanda dan gejala


 Gejala umum TB paru adalah batuk lebih dari 2 minggu dengan atau tanpa
sputum, malaise (kelelahan), gejala flu, demam ringan, nyeri dada, batuk
darah
 Gejala lain yaitu anorexia (kehilangan nafsu makan), penurunan Berat
badan, demam : subfebril menyerupai influenza. Batuk:- batuk kering (non
produktif)→batuk produktif (sputum)-hemaptoe, sesak nafas: pada
penyakit TB yang sudah lanjut dimana infiltrasinya sudah ½ bagian paru-
paru

5. Pengobatan
Untuk mendiagnosis TBC, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik,
terutama di daerah paru/dada, lalu dapat meminta pemeriksaan tambahan
berupa foto rontgen dada, tes laboratorium untuk dahak dan darah, juga tes
tuberkulin (mantoux/PPD). Pengobatan TBC adalah pengobatan jangka
panjang, biasanya selama 6 – 9 bulan.
Kondisi ini diperlukan ketekunan dan kedisiplinan dari pasien untuk
meminum obat dan kontrol ke dokter agar dapat sembuh total. Apalagi
biasanya setelah 2-3 pekan meminum obat, gejala-gejala TBC akan hilang
sehingga pasien menjadi malas meminum obat dan kontrol ke dokter.
Jika pengobatan TBC tidak tuntas, maka ini dapat menjadi berbahaya
karena sering kali obat-obatan yang biasa digunakan untuk TBC tidak mempan
pada kuman TBC (resisten). Akibatnya, harus diobati dengan obat-obat lain
yang lebih mahal dan "keras". Hal ini harus dihindari dengan pengobatan TBC
sampai tuntas.
Pengobatan jangka panjang untuk TBC dengan banyak obat tentunya
akan menimbulkan dampak efek samping bagi pasien. Efek samping yang
biasanya terjadi pada pengobatan TBC adalah nyeri perut,
penglihatan/pendengaran terganggu, kencing seperti air kopi, demam tinggi,
muntah, gatal-gatal dan kemerahan kulit, rasa panas di kaki/tangan, lemas,
sampai mata/kulit kuning.
Itu sebabnya penting untuk selalu menyampaikan efek samping yang
timbul pada dokter setiap kali kontrol sehingga dokter dapat menyesuaikan
dosis, mengganti obat dengan yang lain, atau melakukan pemeriksaan
laboratorium jika diperlukan.
Pengobatan untuk penyakit-penyakit lain selama pengobatan TBC pun
sebaiknya harus diatur dokter untuk mencegah efek samping yang lebih
serius/berbahaya. Penyakit TBC dapat dicegah dengan cara:
 Mengurangi kontak dengan penderita penyakit TBC aktif.
 Menjaga standar hidup yang baik, dengan makanan bergizi, lingkungan
yang sehat, dan berolahraga.
 Pemberian vaksin BCG (untuk mencegah kasus TBC yang lebih berat).
Vaksin ini secara rutin diberikan pada semua balita.
 Perlu diingat bahwa mereka yang sudah pernah terkena TBC dan diobati,
dapat kembali terkena penyakit yang sama jika tidak mencegahnya dan
menjaga kesehatan tubuhnya.

6. Cara Pencegahan
1. Untuk Pasien: Minum obat sampai habis sesuai petunjuk
2. Untuk Keluarga
 Jemur kasur seminggu sekali
 Buka jendela lebar-lebar agar udara dan sinar matahari bisa
langsung masuk
 Menggunakan masker saat berbicara dengan pasien
3. Pencegahan Lain
 Imunisasi BCG pada bayi
 Meningkatkan daya tahan tubuh dengan makanan bergizi
7. Etika batuk yang baik dan benar
a. Kebiasaan batuk yang salah
 Tidak menutup mulut saat batuk atau bersin di tempat umum.
 Tidak mencuci tangan setelah digunakan untuk menutup mulut atau
hidung saat batuk dan bersin.
 Membuang ludah batuk disembarang tempat.
 Membuang atau meletakkan tissue yang sudah dipakai disembarang
tempat.
 Tidak menggunakan masker saat flu atau batuk.
b. Cara Batuk yang Baik dan Benar
Hal-hal perlu anda perlukan:
o Lengan baju
o Tissue
o Sabun dan air
o Gel pembersih tangan

c. Etika Batuk
 Menutup mulut ketika batuk atau bersin
 Tidak meludah di sembarang tempat meludah di tempat yang terkena sinar
matahari langsung atau ditempat yang sudah ada karbol/lisol
Lampiran 2 SAP Kusta

PRODI PENDIDIKAN NERS No. Dok 01/IKD-


FAKULTAS KEPERAWATAN
II/PK/13
UNIKA WIDYA MANDALA
SURABAYA
Revisi ke 1
FORM SATUAN ACARA
PENYULUHAN Halaman 1 dari 3

SATUAN ACARA PENDIDIKAN KESEHATAN


(Rencana Kegiatan Pendidikan Kesehatan)

P. ANALISA SITUASI : Masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui


tentang penyakit kusta
Q. POKOK BAHASAN : Penyakit Kusta
R. SASARAN : Seluruh pasien yang berobat di Puskesmas
Kenjeran Surabaya
S. TEMPAT : Puskesmas Kenjeran Surabaya
T. HARI, TANGGAL : Selasa, 16 April 2019
U. WAKTU : 15.00 WIB
V. STANDARD KOMPETENSI
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan pasien dapat mengerti dan
memahami tentang penyakit kusta.
W. KOMPETENSI DASAR
Setelah diberikan penyuluhan diharapakan peserta dapat:
1. Menyebutkan kembali tentang pengertian mencuci tangan.
2. Menyebutkan kembali tentang penyebab penyakit kusta.
3. Menyebutkan kembali tentang tanda dan gejala penyakit kusta.
4. Menyebutkan kembali tentang komplikasi penyakit kusta.
5. Menyebutkan kembali pemeriksaan penunjang penyakit kusta.
6. Menyebutkan kembali cara penanganan penyakit kusta.
X. SUB POKOK BAHASAN
Materi penyuluhan terlampir:
2. Pengertian mencuci tangan.
3. Penyebab penyakit kusta.
4. Tanda dan gejala penyakit kusta.
5. Komplikasi penyakit kusta.
6. Pemeriksaan penunjang penyakit kusta.
7. Cara penanganan penyakit kusta.
Y. METODE PENDIDIKAN KESEHATAN
2. Ceramah
Z. MEDIA YANG DIGUNAKAN
2. Poster

AA. URAIAN KEGIATAN PENDIDIKAN KESEHATAN


TAHAP URAIAN KEGIATAN METODE MEDIA
I 7. Memberi salam pembukaan Ceramah Poster
Pendahuluan
8. Memperkenalkan diri
(membuka9. Menjelaskan maksud dan tujuan
pertemuan) pertemuan dan topik yang akan dibahas
5 Menit10. Menumbuhkan motivasi dengan
cara:
d. Menjelaskan tujuan dan manfaat topik
yang dibahas.
e. Menunjukkan hasil-hasil penelitian
yang terkait dengan topik secara
sederhana.
f. Menjelaskan dampak negatit
11. Menjelaskan metode yang digunakan
12. Memberitahukan waktu yang akan
digunakan
II 8. Menjelaskan tetang pengertian mencuci Ceramah Poster
Menyampaikan tangan.
isi materi 9. Menjelaskan tetang penyebab penyakit
20 menit kusta.
10. Menjelaskan tetang tanda dan gejala
penyakit kusta.
11. Menjelaskan tetang komplikasi
penyakit kusta.
12. Menjelaskan tetang pemeriksaan
penunjang penyakit kusta.
13. Menjelaskan tetang cara penanganan
penyakit kusta.
14. Memberi kesempatan audience untuk
bertanya.
III Pertanyaan langsung atau bisa ditulis Daftar
Evaluasi pertanyaan
5 menit
IV Meringkas materi yang telah disampaikan
Penutup
BB. EVALUASI
Evaluasi Struktur Evaluasi Proses Evaluasi Hasil
4. Peserta berkenan (√) 9. Moderator memberi (√) 4. Peserta (√)
mengikuti dalam salam dan memahami
kegiatan memperkenalkan diri. tentang
penyuluhan. penyakit kusta.
10. Moderator (√)
5. Penyuluhan (√) menjelaskan tujuan dari 5. Peserta yang (√)
kesehatan penyuluhan. hadir dalam
dilaksanakan di (√) penyuluhan
Wilayah Kerja 11. Moderator kesehatan
Puskesmas melakukan kontrak waktu sesuai yang
Kenjeran dan menjelaskan diharapkan.
Surabaya mekanisme penyuluhan.
(√) 6. Kegiatan (√)
6. Sarana dan (√) 12. Moderator berjalan sesuai
prasarana menyebutkan materi dengan tujuan
memadai. penyuluhan yang akan yang dicapai.
diberikan. (√)

13. Penyaji menggali


informasi dan
pengalaman yang telah
diketahui peserta tentang
penyakit kusta. (√)

14. Penyaji menjelaskan


tentang penyakit kusta. (√)

15. Peserta
memperhatikan terhadap
materi penyuluhan (√)
kesehatan.

16. Tidak ada peserta


yang meninggalkan
tempat penyuluhan
sampai selesai.
CC. DAFTAR PUSTAKA
1. Amiruddin, M. D. (2012). Penyakit Kusta Sebuah Pendekatan Klinis.
Surabaya: Brilian International.
2. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Profil Kesehatan
Indonesia Tahun 2015. Jakarta: Kemenkes RI
3. Ayu, Dwi M. (2015). Penyakit Kulit: Perawatan, Pencegahan dan
Pengobatan. Jakarta: Pustaka Baru Press.
DD. LAMPIRAN
1. Pengertian Penyakit Kusta
Istilah kusta berasal dari bahasa Sansekerta, yakni kushtha berarti
kumpulan gejala-gejala kulit secara umum. Penyakit kusta atau lepra
disebut juga Morbus Hansen, sesuai dengan nama yang menemukan
kuman yaitu Dr. Gerhard Armauwer Hansen pada tahun 1874 sehingga
penyakit ini disebut Morbus Hansen (Amiruddin, 2012).
Kusta merupakan penyakit menahun yang menyerang syaraf tepi,
kulit dan organ tubuh manusia yang dalam jangka panjang mengakibatkan
sebagian anggota tubuh penderita tidak dapat berfungsi sebagaimana
mestinya (Kemenkes RI, 2010).

2. Penyebab Penyakit Kusta


Penyebab kusta adalah kuman mycobacterium leprae. Dimana
microbacterium ini adalah kuman aerob, tidak membentuk spora,
berbentuk batang, dikelilingi oleh membran sel lilin yang merupakan ciri
dari spesies Mycobacterium, berukuran panjang 1 – 8 micro, lebar 0,2 –
0,5 micro biasanya berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu, hidup
dalam sel dan bersifat tahan asam (BTA) atau gram positif, tidak mudah
diwarnai namun jika diwarnai akan tahan terhadap dekolorisasi oleh asam
atau alkohol sehingga oleh karena itu dinamakan sebagai basil “tahan
asam”. Selain banyak membentuk safrifit, terdapat juga golongan
organisme patogen (misalnya Mycrobacterium tuberculosis,
Mycrobakterium leprae) yang menyebabkan penyakit menahun dengan
menimbulkan lesi jenis granuloma infeksion. Mycobacterium leprae belum
dapat dikultur pada laboratorium.
Kuman Mycobacterium Leprae menular kepada manusia melalui
kontak langsung dengan penderita dan melalui pernapasan, kemudian
kuman membelah dalam jangka 14-21 hari dengan masa inkubasi rata-rata
dua hingga lima tahun. Menurut Kemenkes Jakarta mengatakan bahwa
bakteri penyebab kusta terdapat pada hewan armadillo (Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, 2016).
Ada beberapa faktor-faktor yang bisa meningkatkan risiko
seseorang untuk menderita penyakit ini. Beberapa faktor risiko tersebut di
antaranya adalah:
a) Melakukan kontak fisik dengan hewan penyebar bakteri kusta tanpa
sarung tangan. Hewan perantara tersebut di antaranya adalah armadillo.
b) Bertempat tinggal di kawasan endemik kusta.
c) Memiliki kelainan genetik yang berakibat terhadap sistem kekebalan
tubuh.

3. Tanda dan gejala penyakit kusta


Menurut (Amiruddin, 2012). Tanda-tanda utama atau Cardinal
Sign penyakit kusta, yaitu:
1) Lesi (kelainan) kulit yang mati rasa
Kelainan kulit/lesi dapat berbentuk bercak keputih-putihan
(hypopigmentasi) atau kemerah-merahan (erithematous) yang mati rasa
(anaesthesi).
2) Penebalan saraf tepi yang disertai dengan gangguan fungsi saraf.
Gangguan fungsi saraf ini merupakan akibat dari peradangan kronis
saraf tepi (neuritis perifer). Gangguan fungsi saraf ini bisa berupa :
a. Gangguan fungsi sensori: mati rasa
b. Gangguan fungsi motoris: kelemahan otot (parese) atau kelumpuhan
(paralise)
c. Gangguan fungsi otonom: kulit kering dan retak-retak.
3) Adanya bakteri tahan asam (BTA) didalam kerokan jaringan kulit (BTA
positif).
Seseorang dinyatakan sebagai penderita kusta apabila di temukan
satu atau lebih dari tanda-tanda utama diatas. Pada dasarnya sebagian
besar penderita dapat didiagnosis dengan pemeriksaan klinis. Namun
demikian pada penderita yang meragukan dapat dilakukan pemeriksaan
kerokan kulit. Apabila hanya ditemukan cardinal sign kedua perlu
dirujuk kepada wasor atau ahli kusta, jika masih ragu orang tersebut
dianggap sebagai penderita yang dicurigai.

Tanda-tanda tersangka kusta (suspek):


1) Tanda-tanda pada kulit
a) Bercak/kelainan kulit yang merah atau putih dibagian tubuh
b) Bercak yang tidak gatal dan Kulit mengkilap
c) Adanya bagian tubuh yang tidak berkeringat atau tidak berambut
d) Lepuh tidak nyeri.
2) Tanda-tanda pada saraf
a) Rasa kesemutan, tertusuk-tusuk dan nyeri pada anggota badan atau
muka.
b) Gangguan gerak anggota badan atau bagian muka.
c) Adanya cacat (deformitas) dan luka (ulkus) yang tidak mau
sembuh.

4. Komplikasi penyakit kusta


Cacat merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada pasien kusta
akibat kerusakan fungsi saraf tepi maupun karena neuritis sewaktu terjadi
reaksi kusta.Reaksi kusta atau reaksi lepra adalah suatu episode akut dalam
perjalanan kronis penyakit kusta yang merupakan reaksi kekebalan (respon
seluler) atau reaksi antigen-antibodi (respon humoral) dengan akibat
merugikan pasien.Reaksi ini dapat terjadi pada pasien sebelum mendapat
pengobatan, selama pengobatan dan sesudah pengobatan. Namun sering
terjadi pada 6 bulan sampai setahun sesudah mulai pengobatan (Ayu, 2015).
5. Pemeriksaan penunjang penyakit kusta
1) Pemeriksaan Bakteriologis
Pemeriksaan bakteriologis atau mikroskopis dilakukan dengan
pewarnaan tahan asam seperti Ziehl-Neelsen untuk mencari basil tahan
asam. Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel dari kerokan
jaringan kulit dengan cara melakukan irisan dan kerokan kecil pada kulit.
Pemeriksaan ini biasanya dilakukan pada kasus yang meragukan untuk
memercepat penegakkan diagnosis.8 Idealnya, dilakukan pengambilan
sampel dari setidaknya enam lokasi, yaitu cuping telinga kanan dan kiri
serta 2-4 lesi kulit lain yang aktif. Bila ditemukan basil yang solid,
menandakan adanya mikroorganisme yang hidup
2) Pemeriksaan Histopatologis
Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil irisan lesi kulit atau
saraf, lalu dilakukan pewarnaan hematoksilin-eosin (H&E) atau Faraco-
Fite untuk mencari BTA.10 Fragmen lesi kulit yang diambil adalah
bagian yang paling aktif (merah, terdapat infiltrat dan/atau pembesaran).
3) Pemeriksaan Serologis
Pemeriksaan lain yang dapat digunakan adalah pemeriksaan
serologis. Pemeriksaan yang ideal masih terus diteliti sampai sekarang.
Yang banyak dipelajari adalah pemeriksaan serologis untuk mendeteksi
antibodi terhadap antigen M. leprae (PGL-1) dengan metode enzyme-
linked immunosorbent assay (ELISA). Adanya antibodi anti PGL-1 dapat
menunjukkan adanya bakteri, membantu menentukan tipe kusta dan
memantau hasil terapi.
4) Pemeriksaan Molekular
Sejak berkembang metode molekular berbasis amplifikasi asam
nukleat, yaitu PCR tahun 1989, pemeriksaan ini sudah digunakan untuk
mendeteksi M. leprae, 10 yang sangat sensitif dan spesifik. Dasar dari
pemeriksaan ini adalah amplifikasi sekuens tertentu dari genom M.
leprae dan mengidentifikasi fragmen deoxyribonucleid acid (DNA) atau
ribonucleic acid (RNA) yang diamplifikasi. Sampel dapat diambil dari
berbagai tempat misalnya kerokan jaringan kulit, biopsi kulit, saliva,
swab atau biopsi mukosa mulut, swab atau biopsi fragmen konka hidung,
urin, saraf, darah, sputum, nodus limfatikus, dan rambut (Ayu, 2015).

6. Cara penanganan penyakit kusta


1) Penatalaksanaan Farmakologis :
a) Rifampicin
Rifampicin adalah antibiotik yang bekerja menghambat pertumbuhan
bakteri kusta di dalam tubuh. Obat ini berbentuk kapsul dan
dikonsumsi secara oral, alias melalui mulut. Minumlah obat ini
dengan segelas air putih 1 jam sebelum makan atau 2 jam setelah
makan.
b) Clofazimine
Clofazimine juga merupakan obat yang umum digunakan untuk
mengatasi penyakit lepra. Dokter mungkin akan meresepkan obat ini
dengan obat lain seperti kortison untuk mengobati luka dari penyakit
lepra. Obat ini bisa diminum bersamaan dengan makanan atau susu.
c) Obat Analgesik
Obat analgesik membantu mengurangi rasa nyeri yang diderita
penderita kusta.
2) Penatalaksanaan Non Farmakologis :
a) Mobilisasi
Pada umunya penderita kusta mengalami imobilisasi sehingga terjadi
kelemasan, maupun kekakuan pada anggota gerak maupun badan,
sehingga perlu dilatih/diajarkan mengenai mobilisasi baik Pasif
maupun Aktif. Mobilisasi sangat penting mengingat penderita kusta
biasanya hanya berbaring sehingga perlu dilakukan pengubahan posisi
tiap 2 jam sekali untuk mencegah terjadinya dekubitus dan
Pneumonian (Ayu, 2015).
Lampiran 3 Foto Kegiatan Kunjungan Rumah Pada Pasien TB Paru

Lampiran 4 Foto Kegiatan Kunjungan Rumah Pasien Kusta


Lampiran 3 poster TB Paru
Lampiran 5 Poster Kusta