Anda di halaman 1dari 13

MATERI 2

PENGELOLAAN
POKTAN
BINA KELUARGA BALITA
KONSEP BINA KELUARGA BALITA

PENGERTIAN

Upaya untuk meingkatkan pengetahuan, kesadaran dan ketrampilan serta sikap ibu
dan anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh kembang balita secara baik

TUJUAN

Meningkatkan peran ibu dan anggota keluarga lainnya dalam membina tumbuh
kembang balita dengan rangsangan secara baik sesuai umur anak

SASARAN

-Keluarga dengan balita 0 – 6 tahun


-Ibu hamil
- Ibu menyusui

MANFAAT

Melalui BKB diharapkan orang tua balita dapat mengetahui tahapan pertumbuhan
dan perkembangan anak dan cara merangsang / menstimulus sehingga anak dapat
berkembang sebagai anak yang cerdas , bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berkepribadian kuat dengan berbudi luhur

PERAN ORANG TUA DALAM MEMBINA TUMBUH KEMBANG ANAK BALITA

Upaya pembinaan tumbuh kembang anak merupakan proses yang harus dimulai
sejak dini bahkan sejak anak dalam kandungan, sehingga jelas bahwa orang tua
harus bertanggung jawab terhadap kehidupan anaknya.
Keluarga mempunyai peran yang sangat penting bagi perkembangan dan
pengasuhan anak. Dalam hal ini keluarga membantu menumbuhkan rasa percaya
diri anak, menumbuhkan keinginan untuk mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui keluarga, anak belajar mengembangkan kemampuannya serta menyimak
nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga, serta belajar nilai-nilai sosial, dan didalam
keluarga pula anak diperkenalkan pada hidup sehat, bersih, makanan bergizi,
kehidupan beragama, saling tolong menolong dan sebagainya.
Disamping itu orangtua juga sangat berperan dalam pembentukan konsep diri,
sebagai teladan atau tokoh peniruan (model) bagi anak. Sejalan dengan
perkembangan anak, maka peran orangtua juga akan berubah. Pada masa bayi
orangtua lebih merupakan perawat, pada masa balita sebagai pelindung, di usia pra
sekolah sebagai pengasuh, pada waktu usia sekolah dasar sebagai pendorong.

Menurut UU No. 23 Thn 2002, tentang Perlindungan Anak, orangtua berkewajiban


dan bertanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi
anak serta menumbuhkembangkan anak sesuai kemampuan, bakat dan minatnya.

Mengingat sangat pentingnya peran orangtua dalam mengembangkan kepribadian


anak, maka orangtua harus mampu menyediakan lingkungan yang aman dan
menyenangkan bagi anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal,
baik secara fisik maupun emosional.

Dalam hal ini orangtua perlu menanamkan disiplin, mempunyai konsep diri yang
sehat dan membangun karakter anak-anak sejak dini.

KONSEP DIRI ORANGTUA

Konsep diri merupakan suatu gambaran dan pengertian tentang dirinya sendiri.
Gambaran diri ini diperoleh dari pendapat diri sendiri dan dari orang lain yang
berpengaruh pada lingkungannya.

KONSEP DIRI YANG SEHAT

Seseorang dengan konsep diri yang sehat menunjukan sikap menyukai sebagian
besar dari dirinya yang memang bisa dibanggakan. Dilain pihak ia menyadari ada
bagian dari dirinya yang tidak dapat dibanggakan namun masih dapat diterima dan
berusaha untuk merubah dan mengembangkan menjadi baik.

Orang yang selalu mempunyai keyakinan diri dalam mengembangkan potensinya


mempunyai konsep diri yang positif/sehat, artinya ia memahami kekuatan maupun
kelemahannya dan sanggup menghargai atau menyadari kelemahan-kelemahan
yang ada pada dirinya.

Apabila seseorang hanya melihat dirinya serba tidak baik dan tidak lagi melihat
dirinya yang mempunyai nilai yang baik, maka orang tersebut akan menunjukan
sebagai orang yang memiliki konsep diri yang tidak sehat dan akan tercermin dalam
sikap dan tingkah lakunya.

BAGAIMANA MENGEMBANGKAN KONSEP DIRI YANG SEHAT ?

Untuk dapat memiliki konsep diri yang sehat, usahanya harus dimulai sejak
seseorang dilahirkan. Konsep diri paling mudah dibentuk adalah pada saat anak
masih balita.

Konsep diri dapat berubah, sesuai pengalaman dan kemauan seseorang asalkan ada
kesadaran dan kemauan untuk merubah ke arah yang baik.

Sebagai orangtua diharapkan sudah dapat menanamkan konsep diri yang sehat
sejak dini dan tidak membedakan peran laki-laki dan perempuan.

PENTINGNYA KONSEP DIRI ORANGTUA DALAM TUMBUH KEMBANG ANAK

Orangtua merupakan orang pertama yang dapat membentuk bagaimana seorang


anak memiliki kesan tentang dirinya. Konsep diri orangtua dalam membina keluarga
sangat penting perannya bagi perkembangan anak, karena mereka membentuk
gambaran anak mengenai dirinya sendiri, selain itu dapat membantu anak dalam
menumbuhkan rasa cinta/senang terhadap dirinya maupun terhadap keluarganya.

Keluarga merupakan tempat pertama dan utama sebagai basis dalam membentuk
kepribadian anak, jika keluarga dapat membentuk suasana yang memungkinkan
anak-anak mengalami perasaan dimiliki dalam keluarga, maka ketidakmampuan
menyesuaikan diri tidak akan terjadi.

Jadi manfaat memiliki konsep diri yang sehat, antara lain :


‐ Menjadi percaya diri
‐ Tidak pemalu
‐ Tidak ragu-ragu dalam bertingkah laku
‐ Keputusan yang diambil berdasarkan pemikiran yang matang dan rasional

PERAN ORANG TUA DALAM MEMBINA TUMBUH KEMBANG BALITA

Dalam kehidupan anak ada dua proses yang beroperasi secara kontinyu, yaitu
perubahan dan perkembangan kedua proses ini bertanggung secara interpenden,
saling bergantung satu sama lainnya. Kedua proses itu tidak bisa dipisahkan dalam
bentuk-bentuk yang murni berdiri sendiri.

Dalam membina tumbuh kembang anak, setiap orang tua perlu memahami ciri-ciri
perkembangan yang muncul pada setiap periode perkembangan anak.

Bila orang tua memahami ciri perkembangan anak, maka ia dengan mudah akan
memahami keadaan anak dengan demikian orang tua tidak menuntut anak terlalu
banyak, dan tidak mengabaikan hal penting yang seharusnya dikembangkan dalam
periode yang seharusnya dikembangkan dalam periode perkembangan tertentu.

Sebagai contoh, orang tua perlu menyadari bahwa pada usia kira-kira 2,5 tahun
sering kali muncul tingkah laku membantah, bila orang tua mengetahui ciri-ciri
perkembangan ini, maka orang tua bisa beraksi dengan tenang atau tidak panik.

Orang tua perlu memahami bahwa setiap anak mempunyai ciri-ciri individu yang
sangat berbeda misal tingkat kecerdasan.

Selain perbedaan kecerdasan, ada juga perbedaan-perbedaan individual yang


dimiliki oleh anak, yang bisa digolongkan dalam 3 macam anak, yaitu :

a. Anak yang mudah (diasuh), anak-anak ini penggembira, mempunyai pola tidur

yang teratur, sangat berminat bila menghadapi situasi baru, mudah


menyesuaikan diri.
b. Anak yang sulit (diasuh), anak-anak yang mempunyai pola tidur dan pola makan

yang tidak teratur, mudah bereaksi bila menghadapi masalah (cepat marah)
cepat murung menangis bila menghadapi orang-orang baru ia cepat menarik
diri.
c. Anak yang tidak terlalu mudah/sulit (diasuh), anak-anak ini cenderung tidak aktif

dan cenderung pendiam/tenang, menarik diri pada lingkungan yang baru


dikenal, tetapi bila memberi waktu untuk menyesuaikan diri, maka anak ini bisa
menyesuaikan dengan baik.

Dengan memahami perbedaan-perbedaan individual ini, setiap orang tua bisa


menentukan cara bertingkah laku yang benar kepada anak.

Selain itu, orang tua perlu memahami bahwa setiap anak memiliki kebutuhan-
kebutuhan tertentu, yaitu :

 Kebutuhan fisik/jasmani
 Kebutuhan emosi (kasih sayang, aman percaya diri, perasaan diterima orang
tua) kebutuhan ini dimiliki oleh setiap anak baik perempuan maupun laki-laki,
jadi tidak perlu ada pembedaan dalam pemberian rangsangan.

 Kebutuhan sosial (menyesuaikan diri dengan norma-norma lingkungan). Baik


anak laki-laki maupun perempuan perlu dikenalkan dengan norma-norma
lingkungan misalnya sopan santun, hormat pada orang tua, saling menyayangi
dll.
 Kebutuhan intelektual (memberikan rangsangan sensori, memberi kebebasan
berpendapat dll).

Secara teoritis pola asuh dapat dikatakan sebagai cara atau metode pengasuhan
yang secara garis besar dapat dibagi atas 3 cara, yaitu :
1. Pola asuh otoriter (kepatuhan)
Orang tua menggunakan pendekatan perintah (restriktif) untuk memaksa dan
mengendalikan anak agar mengikuti aturan dengan menuntut kepatuhan, tanpa
banyak memberi penjelasan. Pola ini sering menggunakan tehnik hukuman dan
ancaman, sebaliknya memberikan penghargaan bila sesuai ketentuan.
2. Pola autoritatif (penjelasan)
Orang tua menerapkan pola yang rasional dan fleksibel dalam memperlakukan
anak. Orang tua berusaha memberikan kebebasan namun tetap ada
keterbatasan. Anak diajak dalam membuat keputusan bersama. Dalam pola ini
anak tetap mendapat pengendalian, dan hukuman atau sanksi, tapi diikuti
dengan penjelasan.
3. Pola permisif (kebebasan)
Pola pengasuhan dengan metode permisif adalah kebebasan yang terkendali.
Anak bebas berbuat setelah diberikan sedikit tuntunan dan penjelasan. Karena
itu anak biasanya akan mudah bergaul, mandiri, aktif dan kreatif.
4. Pola konvergensi (gabungan situasional)
Pola pengasuhan yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi sehingga dapat
merupakan gabungan dari dua atau lebih pola asuh diatas. Untuk kepentingan
dan tujuan tertentu, pola pengasuhan dapat diberikan dalam bentuk otoritatif,
sebaliknya untuk kepentingan dan tujuan tertentu dapat diterapkan pendekatan
permisif atau otoritatif.
Pola pengasuhan ini disesuaikan dengan waktu, tempat, usia anak sehingga
dapat terwujud komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.

Dalam membina tumbuh kembang anak perlu ada pola interaksi suami istri
(ayah-ibu) yang saling melengkapi yang sesuai dengan perkembangan usia dan
kemampuan serta kecerdasan anak.

Biasanya pada anak-anak kelahiran sampai usia balita peran ibu lebih dominan
dibandingkan dengan ayah, karena disini terjadi unsur-unsur kedekatan, misalnya
menyusui, memandikan dll.

Selanjutnya dengan bertambahnya usia terjadi pergeseran peran, artinya peran


ayah lebih dominan dibandingkan dengan peran ibu, yaitu kemampuan rasio dan
daya nalar anak mulai berfungsi (6 – 7 tahun). Tetapi kasih sayang secara
psikologis dan fisik tetap diberikan oleh orang tua.

Dari kondisi ini ada proses kerjasama yang baik dan pembagian tanggung jawab
yang harmonis antara kedua orang tua (ayah dan ibu).

A. Peran Orang tua sebagai perawat dan pelindung

Peran orang tua sebagai perawat dan pelindung terutama terlihat menonjol pada
saat anak masih kecil belum bisa mandiri (makan, membersihkan diri, dll) dan
selalu melindungi anak dari pengaruh lingkungan dan cuaca agar tetap sehat, ia
harus melindungi anak dari gangguan penyakit melalui imunisasi dan melalui
pemberian makanan yang bergizi.

Kadang-kadang masih ada orang tua yang membedakan dalam perawatan dan
perlindungan kepada anak laki-laki dan perempuan. Misalnya perempuan
diperlakukan lebih hati-hati dan mungkin berlebihan karena perempuan
dianggap makhluk yang lemah, sedangkan anak laki-laki sebaliknya. Hal ini akan
berdampak bahwa anak laki-laki lebih mandiri dibandingkan dengan anak
perempuan.

Tetapi dengan berkembangnya anak, peran sebagai perawat dan perlindungan


sedikit demi sedikit akan berkurang, karena ketergantungan fisik anak pada
orang tua sudah berkurang.

Namun demikian peran ibu sebagai perawat dan perlindungan masih tetap
diperlukan, sebagai contoh bila si anak menderita sakit. Orang tua tetap
berperan sebagai perawat dan pelindung.

B. Peran Orang tua sebagai pendidikan/pengarah


Orang tua sebagai pendidik artinya selalu dapat mengenal dan mengarahkan
dengan jelas kemampuan-kemampuan dan keterampilan-keterampilan yang ada
pada anaknya, untuk itu orang tua perlu :
 Mempunyai kemampuan pengamatan yang tajam
 Perlu mempunyai pengetahuan tentang ciri-ciri perkembangan anak
 Perlu mempunyai pengetahuan mengenai ciri-ciri individual yang dimiliki
anaknya
contoh :
“ Anak usia 2 tahun sudah bisa minum susu sendiri di gelas plastik tanpa
tumpah, karena proses ini berlangsung berkali-kali, maka ada keinginan
untuk mengganti dengan gelas beling. Tetapi kenyataannya setelah susu
habis gelas beling dilempar oleh anak sampai pecah “.
Bagi orang tua yang paham dengan perkembangan anak, mempunyai
pendapat anak ini sedang bereksperimen dengan 2 benda yang berbeda
beratnya (beling dan plastik), tetapi apabila eksperimen ini dilakukan
berulang-ulang, apakah tindakan orang tua akan membiarkan atau
melarangnya ?
Ada beberapa kemungkinan :
 Anak dipukul atau dimarahi  anak berhenti bereksperimen  gelas

selamat  anak takut untuk bereksperimen.


 Gelas diganti dengan yang plastik kembali, tetapi eksperimen terhenti.
 Orang tua memberi tahu kalau gelas beling dilemparkan pecah, lama
kelamaan gelas bisa habis.
Kemungkinan yang ketiga merupakan contoh ibu berperan sebagai
pengarah, tanpa memaksa anak dan tanpa menghambat kebutuhan anak
untuk mengenali perbedaan antara 2 buah benda.
Sehingga anak dapat mengendalikan tingkah laku, mengatur tingkah laku
dan merencanakan tingkah laku.

C. Peran Orang tua sebagai pendorong dan sebagai penghibur.

Dalam kehidupan sehari-hari ada kalanya anak mengalami situasi yang tidak
dapat diatasi dapat menimbulkan patah semangat atau kecewa.

Misalnya anak merasa bersedih, karena mendapat nilai buruk di sekolahnya.


Menghadapi masalah ini orang tua tidak perlu memarahi si anak, karena akan
menambah rasa sedih bagi si anak, tetapi yang perlu dilakukan oleh orang tua
adalah menanyakan soal yang diperoleh di sekolah apa kesulitannya, apakah
tidak belajar atau ada yang kurang dipahami, dalam hal ini orang tua harus
dapat membantu mengatasi masalah yang dihadapi si anak dengan mendorong
untuk belajar lebih giat.

Didalam semua kegiatan anak, tetaplah positif dan berfokus pada kekuatan aset
mereka, tidak jadi soal seberapa minimumnya mereka.

Contohnya apabila seorang anak salah dalam cara makan di meja, orang tua
jangan mencela, “ bukan begitu cara memegang garpu, bukan begitu cara
memotong daging, turunkan sikumu dari meja dll “. Orang tua keliru bahwa
dengan mencongkel lepas perilaku yang buruk akan mendapat perilaku yang
baik. Sehingga akan hilang kepercayaan anak karena selalu mendapat koreksi
yang terus menerus, karena keterbatasan kemampuan, tetapi berilah dorongan
kepada mereka sehingga lama kelamaan anak dapat terampil.

Orang tua perlu memahami perbedaan antara pujian dan dorongan. Pujian
hanya diberikan untuk tindakan yang diselesaikan dengan baik dan bukan untuk
usaha perbaikan, memperlihatkan penghargaan untuk kontribusi, menerima
anak sebagaimana adanya, berfokus kekuatan, contoh :

Pujian :
“ Saya belum pernah melihat kamarmu begitu rapi “.

Dorongan :
“ Terima kasih kamu mau membereskan kamar, pekerjaan Ibu jadi lebih
mudah”.
Pujian :
“ Saya senang sekali kamu mendapat nilai tertinggi untuk tes matematika “.

Dorongan :
“ Saya senang sekali kamu menyukai matematika “.
Jadi pujian : menyenangkan dengan memenuhi standar.
Dorongan : akui usaha, kontribusi, memperlihatkan kepercayaan.

D. Peran Orang tua sebagai teman / sahabat.

Banyak orang tua mengalami kesulitan memahami perilaku anak-anak mereka


yang tidak masuk akal atau tidak logis. Dalam menanyai masalah ini harus
terjadi komunikasi antara orang tua dan anak, melalui komunikasi orang tua
dapat lebih mudah memahami kebutuhan, keinginan dan perasaan anak.

Dalam berkomunikasi itu, sebaiknya orang tua berperan sebagai teman/sahabat,


sehingga anak dapat terbuka menentukan atau pengalaman yang baru
dialaminya.

Orang tua perlu mendengar dan menerima perasaan sehingga ia lebih nyaman
untuk mengungkapkan perasaannya.

Dalam berkomunikasi biasanya orang tua dapat berlaku sama baik kepada
laki-laki maupun perempuan, sehingga tidak selalu anak perempuan “ curhat “
pada ibunya atau sebaliknya, sehingga pemahaman perkembangan anak hanya
diketahui oleh ibu atau bapak.
TIGA KEBUTUHAN DASAR ANAK YANG HARUS DIPENUHI

1. KASIH SAYANG
Tempat pertama anak belajar adalah keluarga. Baik tidaknya karakter anak
ditentukan oleh keluarga. Setiap anak orang membutuhkan perhatian dan kasih
sayang begitu juga dengan anak-anak kita. Kasih sayang adalah kebutuhan
dasar anak. Banyak orangtua yang salah persepsi mengenai kasih sayang,
sehingga anak dapat bertindak semaunya. Kasih sayang terhadap anak bukan
berarti membiarkan anak bertindak semaunya. Mengungkapkan kasih sayang
yang baik dapat melalui :

a. Sentuhan Positif
Yaitu segala sesuatu dari orangtua yang memberi dampak positif pada anak
baik secara verbal maupun non verbal. Sentuhan positif verbal berupa
ungkapan atau kata-kata yang diucapkan langsung orang tua kepada
anaknya. Seperti mama dan papa sayang kamu, engkau buah hati mama
papa, engkau adalah cinta kami dan lain-lain. Sedangkan sentuhan non
verbal berupa bahasa tubuh yang mengekspresikan rasa sayang orang tua
kepada anaknya, seperti pelukan hangat, belaian lembut.

b. Kepekaan terhadap Kebutuhan Anak


Yaitu kepekaan orang tua terhadap kebutuhan fisik dan non fisik seperti
orangtua mengetahui kapan anaknya lapar dan haus, kebutuhan pakaiannya.
Sedangkan kebutuhan non fisik, misalnya ketika mengetahui anak balitanya
sedih, orang tua mendekatkannya untuk menanyakan apa yang dirasakan
dan apa yang membuatnya sedih. Mengembangkan minat dan menggali
bakat anak termasuk juga kepekaan terhadap kebutuhan non fisik anak.

c. Memiliki Waktu Bersama Anak


Yaitu waktu dimana orang tua bisa bersama dengan anak-anaknya.
Termasuk waktu untuk mendampingi dan mengarahkannya,
mengembangkan berbagai kemampuan yang dimiliki anak, mulai dari
kemampuan motorik kasar dan halusnya seperti memanjat, berjalan, berlari,
mencoba makan sendiri, mengenakan baju sendiri dan sebagainya.
Disamping orang tua menyediakan waktu untuk bercengkrama dan bermain
bersama anak, bahkan orang tua sepenuhnya terlibat dalam aktivitas
bermain yang memiliki tujuan tertentu. Misalnya bermain peran yang akan
mengasah kemampuan anak bersosialisasi. Memberi perhatian dan kasih
sayang terhadap kasus sesuai dengan porsi, tidak berlebihan dan tidak juga
kekurangan. Ibarat vitamin bagi mental anak, pemberian cinta hendaknya
sesuai dengan porsinya.

2. STIMULASI

Kebutuhan stimulasi atau upaya merangsang anak untuk memperkenalkan suatu


pengetahuan ataupun keterampilan baru ternyata sangat penting dalam
peningkatan kecerdasan anak. Stimulasi pada anak dapat dimulai sejak calon
bayi berwujud janin, sebab janin bukan merupakan makhluk yang pasif. Di
dalam kandungan, janin sudah dapat bernapas, menendang, menggeliat,
bergerak, menelan, mengisap jempol, dan lainnya. Sedangkan stimulasi utama
diberikan khusus untuk anak usia 0 – 7 tahun.

Di dalam perkembangan seorang anak, stimulasi merupakan suatu kebutuhan


dasar. Stimulasi dapat berperan untuk peningkatan fungsi sensorik (dengar,
raba, lihat, rasa, cium), motorik (gerak kasar, halus), emosi-sosial, bicara,
kognitif, mandiri, dan kreativitas (moral, kepemimpinan). Selain itu, stimulasi
juga dapat merangsang sel otak (sinaps).

Proses stimulasi sudah bisa dan harus dilakukan semenjak usia janin 23 minggu.
Dalam masa kehamilan, proses stimulasi bisa dilakukan dengan berbagai cara,
seperti rangsang suara (adanya efek Mozart), gerakan perabaan, bicara,
menyanyi dan bercerita.

Semakin dini dan semakin lama stimulasi itu dilakukan, maka akan semakin
besar manfaatnya. Ada beberapa beberapa tahapan kegunaan dari proses
stimulasi pada bayi ketika pertama kali dilahirkan. Pada usia bayi 0 – 6 bulan,
penyesuaian dan persepsi ibu dapat terbentuk melalui proses stimulasi.
Sedangkan, pada usia 0 – 36 bulan intelektual dan perilaku mulai terbentuk.
Sementara pada usia 0 – 48 bulan, kognitif, dan 0 – 96 bulan keahlian membaca
dan menulis perlu dirangsang. “ Stimulasi semenjak dini juga sangat diperlukan
dalam merangsang perkembangan otak, baik itu otak kanan maupun otak kiri”.

Usapan halus yang dilakukan di perut ibu yang sedang mengandung juga
diperlukan untuk membuat janin merasa tenang. Katanya, bila janin banyak
bergerak, seorang ibu dapat melakukan usapan lembut pada perutnya. Tetapi,
sekalipun stimulasi untuk janin diperlukan, dalam pelaksanaannya haruslah
dilakukan secara bijaksana. “Jangan sampai orang tua terlalu bersemangat
menstimulasi janinnya sehingga lupa kebutuhan janin untuk beristirahat”.

Bermain sangat penting dalam proses stimulasi yang dilakukan pada anak.
Sebab, bermain adalah dunia kerja anak. Dalam proses bermain inilah
penyediaan waktu orang tua untuk menjadikan sarana bermain sebagai media
efektif peningkatan kecerdasan anak sangat diperlukan”.

3. KEBUTUHAN FISIK BIOLOGIS


Kebutuhan fisik biologis meliputi kebutuhan : nutrisi, imunisasi, kebersihan
badan dan lingkungan, tidur, pengobatan, olah raga maupun bermain.
‐ Kebutuhan nutrisi mulai diberikan sejak janin dalam kandungan dengan

mengkonsumsi menu seimbang yang terdiri dari : protein, karbohidrat,


lemak, vitamin, mineral dan air.
‐ Imunisasi diberikan sejak lahir sampai usia 18 tahun dengan tujuan untuk
memberikan kekebalan dan mencegah beberapa penyakit.
‐ Kebersihan badan dan lingkungan diperlukan agar tubuh terhindar dari
berbagai penyakit.
‐ Tidur diperlukan agar tubuh dapat beristirahat dengan cukup dan tetap
bugar setelah beristirahat dan kebutuhan tidur sebaiknya disesuaikan dengan
tahapan usia anak.
‐ Bermain/beraktivitas fisik bertujuan merangsang hormon pertumbuhan.
‐ Upaya pemeliharaan kesehatan ibu yang dilakukan sebelum dan semasa
hamil hingga melahirkan ditujukan untuk menghasilkan keturunan yang
sehat, dan agar bayi yang lahir dengan selamat, sedangkan upaya kesehatan
yang dilakukan sejak anak masih dalam kandungan sampai usia lima tahun.