Anda di halaman 1dari 3

BAB I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan, secara luas, vitamin
A merupakan nama generik yang menyatakan semua retinoid dan prekursor / provitamin A /
karotenoid yang mempunyai aktivitas biologik sebagai retinol. (Almatsier, 2009)

Menurut WHO (Word Health Organization) diantara anak-anak pra sekolah


diperkirakan terdapat sebanyak 6-7 juta kasus baru xeropthalmia tiap tahun, kurang lebih
10% diantaranya menderita kerusakan kornea. Diantara yang menderita kerusakan kornea ini
60% meninggal dalam waktu satu tahun, sedangkan diantara yang hidup 25% menjadi buta
dan 50-60% setengah buta. Diperkirakan pada satu waktu sebanyak 3 juta anak-anak buta
karena kekurangan vitamin A, dan sebanyak 20-40 juta menderita kekurangan vitamin A
pada tingkat lebih ringan. Perbedaan angka kematian antara anak yang kekurangan dan tidak
kekurangan vitamin A kurang lebih sebesar 30% (Almatsier, 2009).

Indonesia dinyatakan sudah bebas dari masalah vitamin A. Sedangkan dari sisi
konsumsi vitamin A, kita masih di anggap kurang pemberian kapsul vitanim A dosis tinggi di
posyandu-posyandu merupakan salah satu cara efektif untuk mencegah kekurangan vitamin
A pada anak-anak. Memang, anak-anak khususnya bayi dan balita merupakan pondasi dari
lingkup yang luas, yaitu penduduk. Padahal, kita punya masalah dengan anak-anak karena
sering kali mereka tidak mau makan sayuran, sehingga rentan terhadap kekurangan vitamin
A. Untuk menangani hal tersebut, orang tua bisa memberi vitamin A hewani. Perlu diketahui,
konsumsi sayuran memberikan manfaat vitamin A sepertiga dibandingkan konsumsi pangan
hewani, jangan ragu-ragu memasak sumber vitamin A. Vitamin A ataupun betakaroten
termasuk vitamin yang relatif tahan panas, tidak seperti vitamin C atau B. Karena itu,
sekalipun dimasak, kandungan vitamin A-nya tetap tinggi. (Ali, 2008) Salah satu masalah
gizi pada anak yang perlu mendapat perhatian adalah defesiensi atau kekurangan vitamin A.
Kekurangan vitamin A ini merupakan penyebab utama kebutaan di indonesia. Selain itu,
seringkali ditemukan jika anak menderita Kekurangan Kalori Protein (KKP), maka anak itu
juga sekaligus menderita kekurangan vitamin A (Arali, 2008).

Strategi penanggulangan kekurangan vitamin A yaitu dengan cara pemberian kapsul


vitamin A dosis tinggi, yang diberikan pada bayi (6-11 bulan), balita (1-5 tahun) dan ibu
nifas. Berdasarkan laporan tahun 2003, cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita
masih dibawah 58,81% (Depkes RI 2003). Pada tahun 2004, cakupan pemberian kapsul
vitamin A sebesar 57%, sedangkan pada tahun 2005 terjadi penurunan cakupan kapsul
vitamin A yaitu hanya mencapai 52,26% dengan target yang sama yaitu 65% (Dinkes, 2005)

Hasil kajian berbagai studi menyatakan bahwa vitamin A merupakan zat gizi yang
essensial bagi manusia, karena zat gizi ini sangat penting dan konsumsi makanan kita
cenderung belum mencukupi dan masih rendah sehingga harus dipenuhi dari luar. Pada anak
balita akibat kekurangan vitamin A akan meningkatkan kesakitan dan kematian, mudah
terkena penyakit infeksi seperti diare, radang paru-paru, pneumonia, dan akhirnya kematian.
Akibat lain yang berdampak sangat serius dari kekurangan vitamin A adalah buta senja dan
manifestasi lain dari xeropthalmia termasuk kerusakan kornea dan kebutaan. Vitamin A
bermanfaat untuk menurunkan angka kematian dan angka kesakitan, karena vitamin A dapat
meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit infeksi seperti campak, diare, dan ISPA
(Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Ibu nifas yang cukup mendapat vitamin A akan
meningkatkan kandungan vitamin A dalam air susu ibu (ASI), sehingga bayi yang disusui
lebih kebal terhadap penyakit. Disamping itu kesehatan ibu lebih cepat pulih. Upaya
perbaikan status vitamin A harus mulai sedini mungkin pada masa kanak-kanak terutama
anak yang menderita kekurangan vitamin A (Depkes RI, 2005).

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Kekurangan vitamin A merupakan penyebab utama kebutaan di indonesia.
1.2.2 Kekurangan Kalori Protein (KKP) masih ditemukan di Indonesia yang dimana anak
itu juga sekaligus menderita kekurangan vitamin A.
1.2.3 pada tahun 2005 terjadi penurunan cakupan kapsul vitamin A yaitu hanya mencapai
52,26% dengan target yang sama yaitu 65%.
1.3 Hipotesis Penelitian

Adanya pengaruh pengetahuan ibu terhadap pemberian vitamin A pada anak balita
diwilayah kerja puskesmas Tomang periode Maret 2018.

1.4 Tujuan Penelitian


1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh pengetahuan ibu terhadap pemberian vitamin A pada
anak balita diwilayah kerja puskesmas Tomang periode Maret 2018.
1.4.2 Tujuan Khusus
1.4.2.1 Diketahuinya pengetahuan ibu terhadap pemberian vitamin A pada anak balita
diwilayah kerja puskesmas Tomang periode Maret 2018.

1.4.2.2 Diketahuinya pemberian vitamin A pada balita di Posyandu


1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1. Manfaat Bagi Peneliti:

Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu dan wawasan bagi penulis sebagai
pemula dalam meneiliti mengenai pengaruh pengetahuan ibu terhadap pemberian vitamin A
pada anak balita diwilayah kerja puskesmas Tomang periode Maret 2018.

1.5.2. Manfaat Bagi Perguruan Tinggi:

Penelitian ini diharapakan dapat bermanfaat dalam menambah refrensi karya ilmiah
terkait dengan pengaruh pengetahuan ibu terhadap pemberian vitamin A pada anak balita
diwilayah kerja puskesmas Tomang periode Maret 2018.

1.5.3. Manfaat Bagi Masyarakat:

Memberikan informasi kepada masyarakat khususnya ibu rumah tangga untuk


menambah wawasan tentang pengaruh pengetahuan ibu terhadap pemberian vitamin A pada
anak balita diwilayah kerja puskesmas Tomang periode Maret 2018.