Anda di halaman 1dari 30

BADAN LAYANAN UMUM

BAB 1

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Salah satu agenda reformasi keuangan negara adalah adanya pergeseran sistem
penganggaran dari pengganggaran tradisional menjadi pengganggaran berbasis kinerja.
Dengan basis kinerja ini, arah penggunaan dana pemerintah menjadi lebih jelas dari sekedar
membiayai input dan proses menjadi berorientasi pada output. Perubahan ini penting
mengingat kebutuhan dana yang makin tinggi tetapi sumber daya pemerintah terbatas.
Penganggaran yang berorientasi pada output merupakan praktik yang dianut oleh
pemerintahan modern di berbagai negara. Mewirausahakan pemerintah (enterprising the
government) adalah paradigma yang memberi arah yang tepat bagi sektor keuangan publik
untuk mendorong peningkatan pelayanan. Ketentuan tentang penganggaran tersebut telah
dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Selanjutnya, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara


membuka koridor baru bagi penerapan basis kinerja di lingkungan pemerintah. Dengan Pasal
68 dan Pasal 69 Undang-Undang tersebut, instansi pemerintah yang tugas pokok dan
fungsinya memberi pelayanan kepada masyarakat dapat menerapkan pola pengelolaan
keuangan yang fleksibel dengan mengutamakan produktivitas, efisiensi, dan efektivitas.
Prinsip-prinsip pokok yang tertuang dalam kedua undang-undang tersebut menjadi dasar
instansi pemerintah untuk menerapkan pengelolaan keuangan BLU. BLU diharapkan dapat
menjadi langkah awal dalam pembaharuan manajemen keuangan sektor publik, demi
meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

Adapun alasan mengapa BLU diperlukan adalah:

 Dapat dilakukan peningkatan pelayanan instansi pemerintah kepada masyarakat


dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa;
 Instansi pemerintah dapat memperoleh fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan
berdasarkan prinsip ekonomi dan produktivitas dengan menerapkan praktik bisnis
yang sehat;

 Dapat dilakukan pengamanan atas aset negara yang dikelola oleh instansi terkait.
BAB 2
PEMBAHASAN

1. BADAN LAYANAN UMUM


A. Pengertian Badan Layanan Umum

Badan Layanan Umum (BLU) menurut PP No. 23 Tahun 2005 adalah instansi di
lingkungan pemerintah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat
berupa penyediaan barang atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan
dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum, yang selanjutnya disebut PPK-
BLU, adalah pola pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan
untuk menerapkan praktek-praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan
bangsa.

Rencana Bisnis dan Anggaran BLU, yang selanjutnya disebut RBA, adalah dokumen
perencanaan bisnis dan penganggaran yang berisi program, kegiatan, target kinerja, dan
anggaran suatu BLU.

B. Dasar Hukum

Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, pasal 68 dan


69;

3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan


Tanggung Jawab Keuangan Negara;

4. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan


Layanan Umum;

Peraturan Menteri Keuangan


1. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 8/PMK.02/2006 tentang Kewenangan Pengadaan
Barang/Jasa pada Badan Layanan Umum;

2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/PMK.05/2007 Tentang Pedoman Penetapan


Remunerasi bagi Pejabat Pengelola, Dewan Pengawas, dan Pegawai Badan Layanan
Umum;

3. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 109/PMK.05/2007 tentang Pembentukan Dewan


Pengawas pada Badan Layanan Umum;

4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 119/PMK.05/2007 tentang Persyaratan


Administratif dalam Rangka Pengusulan dan Penetapan Satuan Kerja Instansi
Pemerintah untuk Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum;

5. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 76/PMK.05/2008 tentang Pedoman Akuntansi


dan Pelaporan Keuangan BLU;

6. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 197/PMK.05/2008 tentang Tata Cara Revisi


DIPA untuk Satuan Kerja BLU Tahun Anggaran 2008;

7. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 77/PMK.05/2009 tentang Pengelolaan Pinjaman


pada BLU;

8. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 217/PMK.05/2009 tentang Pedoman Pemberian


Bonus Atas Prestasi bagi Rumah Sakit Eks-Perjan yang Menerapkan Pengelolaan
Keuangan Badan Layanan Umum;

9. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 218/PMK.05/2009 tentang Pedoman


Pengelolaan Dana Bergulir Pada Kementrian Negara/Lembaga;

10. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 230/PMK.05/2009 tentang Penghapusan Piutang


BLU;

11. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 92/PMK.05/2011 tentang Rencana Bisnis dan
Anggaran serta Pelaksanaan Anggaran Badan Layanan Umum;

Peraturan Dirjen Perbendaharaan

1. Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor PER-30/PB/2011 tentang Mekanisme


Pengesahan Pendapatan dan Belanja Satuan Kerja Badan Layanan Umum;
2. Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor PER-55/PB/2011 tentang Tata Cara Revisi
Rencana Bisnis dan Anggaran Definitif dan Revisi Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran
Badan Layanan Umum;

C. Karakteristik

Karakteristik badan layanan umum (BLU) adalah sebagai berikut :

1. Berkedudukan sebagai lembaga pemerintah (bukan kekayaan negara yang


dipisahkan);

2. Menghasilkan barang/jasa yang seluruhnya/sebagian dijual kepada publik;

3. Tidak bertujuan mencari keuntungan;

4. Dikelola secara otonom dengan prinsip efisien dan produktivitas ala korporasi;

5. Rencana kerja/anggaran dan pertanggungjawaban dikonsolidasikan pada instansi


induk;

6. Pendapatan dan sumbangan dapat digunakan langsung;

7. Pegawai dapat terdiri dari PNS dan non-PNS;

8. Bukan sebagai subjek pajak.

D. Tujuan BLU

BLU bertujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka


memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan
fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan produktivitas, dan
penerapan praktik bisnis yang sehat.

E. Asas BLU

Asas BLU adalah sebagai berikut:

1. BLU beroperasi sebagai unit kerja kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah


untuk tujuan pemberian layanan umum yang pengelolaannya berdasarkan
kewenangan yang didelegasikan oleh instansi induk yang bersangkutan;
2. BLU merupakan bagian perangkat pencapaian tujuan kementerian
negara/lembaga/pemerintah daerah dan karenanya status hukum BLU tidak terpisah
dari kementerian negara/lembaga/pemerintah daerah sebagai instansi induk.

3. Menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota bertanggung jawab atas


pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan pelayanan umum yang didelegasikannya
kepada BLU dari segi manfaat layanan yang dihasilkan.

4. Pejabat yang ditunjuk mengelola BLU bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan
pemberian layanan umum yang didelegasikan kepadanya oleh Menteri/pimpinan
lembaga/gubernur/bupati/walikota.

5. BLU menyelenggarakan kegiatannya tanpa mengutamakan pencarian keuntungan.

6. Rencana kerja dan anggaran serta laporan keuangan dan kinerja dan BLU disusun dan
disajikan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana kerja dan anggaran serta
laporan keuangan dan kinerja kementerian negara/lembaga/SKPD/pemerintah daerah.

7. BLU mengelola penyelenggaraan layanan umum sejalan dengan praktik bisnis yang
sehat.

2. POLA PENGELOLAAN KEUANGAN BLU

Pola pengelolaan keuangan pada BLU merupakan pola pengelolaan keuangan yang
memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktik-praktik bisnis yang
sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan
kesejahteraan dan mencerdaskan kehidupan bangsa, sebagai pengecualian dari ketentuan
pengelolaan keuangan negara pada umumnya.

Yang dimaksud dengan praktik bisnis yang sehat adalah proses penyelenggaraan
fungsi organisasi berdasarkan kaidah-kaidah manajemen yang baik dalam rangka pemberian
layanan yang bermutu dan berkesinambungan. Instansi pemerintah yang melakukan
pembinaan terhadap pola pengelolaan keuangan BLU adalah Direktorat Pembinaan
Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Ditjen Perbendaharaan.

A. Persyaratan
Persyaratan Substantif
1. Menyelenggarakan tugas pokok dan fungsi yang berhubungan dengan:

a) Penyediaan barang atau jasa layanan umum, seperti pelayanan di bidang


kesehatan, penyelenggaraan pendidikan, serta pelayanan jasa penelitian dan
pengembangan (litbang);

b) Pengelolaan wilayah/kawasan tertentu untuk tujuan meningkatkan


perekonomian masyarakat atau layanan umum seperti otorita dan Kawasan
Pengembangan Ekonomi Terpadu (Kapet); atau

c) Pengelolaan dana khusus dalam rangka meningkatkan ekonomi atau pelayanan


kepada masyarakat, seperti pengelola dana bergulir untuk usaha kecil dan
menengah.

2. Bidang layanan umum yang diselenggarakan bersifat operasional yang menghasilkan


semi barang/jasa publik (quasi public goods)

3. Dalam kegiatannya tidak mengutamakan keuntungan.

Persyaratan Teknis

1. Kinerja pelayanan di bidang tugas pokok dan fungsinya layak dikelola dan
ditingkatkan pencapaiannya melalui BLU sebagaimana direkomendasikan oleh
menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya; dan

2. Kinerja keuangan satker instansi yang bersangkutan sehat sebagaimana ditunjukan


dalam dokumen usulan penetapan BLU.

Persyaratan Administratif

1. Pernyataan kesanggupan untuk meningkatkan kinerja pelayanan, keuangan, dan


manfaat bagi masyarakat. Pernyataan tersebut disusun sesuai dengan format yang
tercantum dalam lampiran Peraturan Menteri Keuangan Nomor 119/PMK.05/2007
dan bermaterai, ditandatangani oleh pimpinan satker Instansi Pemerintah yang
mengajukan usulan untuk menerapkan PPK-BLU dan disetujui oleh menteri/pimpinan
lembaga terkait.

2. Pola tata kelola.


Merupakan peraturan internal satuan kerja Instansi Pemerintah yang menetapkan:

a) organisasi dan tata laksana, yang memuat antara lain struktur organisasi,
prosedur kerja, pengelompokan fungsi yang logis, ketersediaan dan
pengembangan sumber daya manusia;

b) akuntabilitas, yaitu mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta


pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada satuan kerja Instansi
Pemerintah bersangkutan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara
periodik, meliputi akuntabilitas program, kegiatan, dan keuangan;

c) transparansi, yaitu adanya kejelasan tugas dan kewenangan, dan ketersediaan


informasi kepada publik.

3. TATA KELOLA BADAN LAYANAN UMUM

Kelembagaan

Pengelolaan Keuangan BLU dapat diterapkan oleh setiap instansi pemerintah yang
secara fungsional menyelenggarakan kegiatan yang bersifat operasional. Instansi dimaksud
dapat berasal dari dan berkedudukan pada berbagai jenjang eselon atau non eselon pada
kementerian/lembaga. Sehubungan dengan itu, apabila instansi pemerintah yang menerapkan
PK-BLU memerlukan perubahan status ataupun struktur kelembagaan, maka perubahan
tersebut berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara.

Pejabat Pengelola

BLU dikelola oleh Pejabat Pengelola BLU yang terdiri atas:

a) Pemimpin BLU
Pemimpin berfungsi sebagai penanggung jawab umum operasional dan keuangan
BLU yang berkewajiban:

1. menyiapkan rencana strategis bisnis BLU;

2. menyiapkan RBA tahunan;


3. mengusulkan calon pejabat keuangan dan pejabat teknis sesuai dengan
ketentuan yang berlaku; dan

4. menyampaikan pertanggungjawaban kinerja operasional dan keuangan BLU.

b) Pejabat Keuangan BLU


Pejabat keuangan BLU berfungsi sebagai penanggung jawab keuangan yang
berkewajiban :

1. mengkoordinasikan penyusunan RBA;

2. menyiapkan dokumen pelaksanaan anggaran BLU;

3. melakukan pengelolaan pendapatan dan belanja;

4. menyelenggarakan pengelolaan kas;

5. melakukan pengelolaan utang-piutang;

6. menyusun kebijakan pengelolaan barang, aset tetap, dan investasi BLU;

7. menyelenggarakan sistem informasi manajemen keuangan; dan

8. menyelenggarakan akuntansi dan penyusunan laporan keuangan.

c) Pejabat Teknis BLU


Pejabat teknis BLU berfungsi sebagai penanggung jawab teknis di bidang masing-
masing yang berkewajiban:

1. menyusun perencanaan kegiatan teknis di bidangnya;

2. melaksanakan kegiatan teknis sesuai menurut RBA; dan

3. mempertanggungjawabkan kinerja operasional di bidangnya.

Kepegawaian

Pejabat pengelola dan pegawai BLU dapat terdiri dari pegawai negeri sipil (PNS)
dan/atau tenaga profesional non-PNS sesuai dengan kebutuhan BLU. Syarat pengangkatan
dan pemberhentian pejabat pengelola dan pegawai BLU yang berasal dari PNS dilaksanakan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan bagi PNS. Pejabat pengelola dan
pegawai BLU yang berasal dari tenaga profesional non-PNS dapat dipekerjakan secara tetap
atau berdasarkan kontrak.

Dewan Pengawas

Dewan Pengawas untuk BLU di lingkungan pemerintah pusat dibentuk dengan


keputusan menteri/pimpinan lembaga atas persetujuan Menteri Keuangan. Anggota dewan
pengawas terdiri dari unsur-unsur pejabat dari kementerian negara/lembaga teknis yang
bersangkutan, Kementerian Keuangan, dan tenaga ahli yang sesuai dengan kegiatan BLU.

Remunerasi

Kepada Pejabat Pengelola, Dewan Pengawas, dan Pegawai Badan Layanan Umum
(BLU) diberikan remunerasi berdasarkan tingkat tanggung jawab dan tuntutan
profesionalisme yang diperlukan. Remunerasi dapat juga diberikan kepada Sekretaris Dewan
Pengawas.

Besaran gaji Pemimpin BLU ditetapkan dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai


berikut :

1. Proporsionalitas, yaitu pertimbangan atas ukuran (size) dan jumlah aset yang dikelola
BLU serta tingkat pelayanan;

2. Kesetaraan, yaitu dengan memperhatikan industri pelayanan sejenis;

3. Kepatutan, yaitu menyesuaikan kemampuan pendapatan BLU yang bersangkutan;

4. Kinerja operasional BLU yang ditetapkan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga sekurang-


kurangnya mempertimbangkan indikator keuangan, pelayanan, mutu dan manfaat
bagi masyarakat.

Gaji Pejabat Keuangan dan Pejabat Teknis ditetapkan sebesar 90% (sembilan puluh persen)
dari gaji Pemimpin BLU.

Honorarium Dewan Pengawas ditetapkan sebagai berikut :


1. Honorarium Ketua Dewan Pengawas sebesar 40% (empat puluh persen) dari gaji
Pemimpin BLU.

2. Honorarium anggota Dewan Pengawas sebesar 36% (tiga puluh enam persen) dari
gaji Pemimpin BLU.

3. Honorarium Sekretaris Dewan Pengawas sebesar 15% (lima belas persen) dari gaji
Pemimpin BLU.

Pejabat Pengelola, Dewan Pengawas dan Sekretaris Dewan Pengawas yang diberhentikan
sementara dari jabatannya memperoleh penghasilan sebesar 50% (lima puluh persen) dari
gaji/honorarium bulan terakhir yang berlaku sejak tanggal diberhentikan sampai dengan
ditetapkannya keputusan difinitif tentang jabatan yang bersangkutan.

BLU dapat memberikan tunjangan tetap, insentif, bonus atas prestasi, pesangon dan/atau
pensiun kepada Pejabat Pengelola, Dewan Pengawas, Sekretaris Dewan Pengawas, dan
Pegawai BLU, dengan memperhatikan kemampuan pendapatan BLU yang bersangkutan.
Pada setiap akhir masa jabatannya, Pejabat Pengelola, Dewan Pengawas, dan Sekretaris
Dewan Pengawas dapat diberikan pesangon berupa santunan purna jabatan dengan
pengikutsertaan dalam program asuransi atau tabungan pensiun yang beban premi/iuran
tahunannya ditanggung oleh BLU yang besarannya ditetapkan paling banyak sebesar 25%
(dua puluh lima persen) dari gaji/honorarium dalam satu tahun. Besaran remunerasi untuk
Pejabat Pengelola, Dewan Pengawas, Sekretaris Dewan Pengawas, dan Pegawai BLU pada
masing-masing BLU diusulkan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga kepada Menteri Keuangan
untuk ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan.

4. PENILAIAN DAN PENETAPAN

Penilaian

Menteri/pimpinan lembaga mengusulkan instansi pemerintah yang memenuhi


persyaratan substantif, teknis, dan administratif untuk menerapkan PK-BLU kepada Menteri
Keuangan. Menteri Keuangan melakukan penilaian atas usulan tersebut dan apabila telah
memenuhi semua persyaratan di atas, maka Menteri Keuangan menetapkan instansi
pemerintah bersangkutan untuk menerapkan PK-BLU berupa pemberian status BLU secara
penuh atau bertahap.
Dalam rangka penilaian usulan PK-BLU, Menteri Keuangan dapat membentuk Tim
Penilai yang terdiri dari unsur di lingkungan Kementerian Keuangan yang terkait dengan
kegiatan satker BLU yang diusulkan, antara lain Ditjen Perbendaharaan, Sekretariat Jenderal
Kementerian Keuangan, dan Ditjen Anggaran. Tim Penilai tersebut dapat menggunakan
narasumber yang berasal dari lingkungan pemerintahan maupun masyarakat.

Tugas Tim Penilai

Tugas dari Tim Penilai adalah:

1. Merumuskan kriteria yang akan digunakan sebagai pedoman dalam melakukan


penilaian.

2. Melakukan identifikasi dan klarifikasi terhadap usulan penerapan PK-BLU;

3. Melakukan koordinasi dengan unit/instansi terkait.

4. Melakukan penilaian atas usulan penerapan PK-BLU yang disampaikan oleh


menteri/pimpinan lembaga.

5. Menyampaikan rekomendasi hasil penilaian atas usulan penetapan Satuan Kerja


Instansi Pemerintah untuk menerapkan PK-BLU kepada Menteri Keuangan.

6. Melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan penilaian usulan penetapan


instansi PK-BLU.

Tim Penilai dalam melaksanakan prosedur penilaian sesuai dengan prosedur operasi standar
Penilaian dan Penetapan BLU.

Penetapan

Menteri Keuangan memberi keputusan penetapan atau surat penolakan terhadap


usulan penetapan BLU paling lambat tiga bulan sejak dokumen persyaratan diterima secara
lengkap dari menteri/pimpinan lembaga.

Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh Tim Penilai, usulan penetapan BLU dapat ditolak
atau ditetapkan dengan status BLU penuh maupun BLU bertahap.
1. Status BLU Penuh
Status BLU penuh diberikan apabila persyaratan substantif, teknis dan administratif
telah dipenuhi dengan memuaskan sesuai dengan kriteria SOP penilaian.
Satker yang berstatus BLU Penuh diberikan seluruh fleksibilitas pengelolaan
keuangan BLU, yaitu:

1. Pengelolaan Pendapatan

2. Pengelolaan Belanja

3. Pengadaan Barang/Jasa

4. Pengelolaan Barang

5. Pengelolaan Kas

6. Pengelolaan Utang dan Piutang

7. Pengelolaan Investasi

8. Perumusan Kebijakan, Sistem, dan Prosedur Pengelolaan Keuangan.

2. Status BLU Bertahap

Status BLU Bertahap diberikan apabila persyaratan substantif, teknis, dan


administratif telah terpenuhi, namun persyaratan administratif kurang memuaskan
sesuai dengan kriteria SOP penilaian. Status BLU Bertahap berlaku paling lama tiga
tahun dan apabila persyaratan terpenuhi secara memuaskan dapat diusulkan untuk
menjadi BLU Penuh.

Fleksibilitas yang diberikan kepada satker berstatus BLU bertahap dibatasi:

1. Penggunaan langsung pendapatan dibatasi jumlahnya, sisanya harus disetorkan ke kas


negara sesuai prosedur PNBP.

2. Tidak diperbolehkan mengelola investasi;

3. Tidak diperbolehkan mengelola utang;

4. Pengadaan barang/jasa mengikuti ketentuan umum pengadaan barang/jasa pemerintah


yang berlaku.
5. Tidak diterapkan flexible budget.

Perubahan dan Pencabutan Status

Perubahan status dari BLU Penuh menjadi BLU Bertahap atau sebaliknya, dapat
terjadi apabila BLU yang bersangkutan mengalami penurunan atau peningkatan kinerja.
Ditjen Perbendaharaan c.q. Direktorat Pembinaan PK-BLU setiap periode melakukan
pembinaan, monitoring, dan evaluasi kinerja BLU. Hasil dari pembinaan, monitoring, dan
evaluasi tersebut menjadi masukan dalam perubahan status BLU.

Pencabutan status BLU menjadi satker biasa apabila:

1. Dicabut oleh Menteri Keuangan berdasarkan rekomendasi atau masukan dari tim
pembinaan, monitoring, dan evaluasi kinerja BLU ;

2. Dicabut oleh Menteri Keuangan atas usulan menteri teknis/pimpinan lembaga;

3. Berubah status menjadi badan hukum dengan kekayaan negara yang dipisahkan.

Apabila menteri/pimpinan lembaga teknis mengajukan usulan pencabutan BLU, Menteri


Keuangan membuat penetapan pencabutan penerapan PK-BLU paling lambat tiga bulan sejak
tanggal usulan tersebut diterima. Jika melebihi jangka waktu tersebut, usulan pencabutan
dianggap ditolak. Instansi pemerintah yang pernah dicabut dari status PK-BLU dapat
diusulkan kembali untuk menerapkan PK-BLU.

5. TARIF DAN BIAYA SATUAN

Tarif

Satker berstatus BLU dapat memungut biaya kepada masyarakat sebagai imbalan atas
barang/jasa layanan yang diberikan. Imbalan atas barang/jasa layanan yang diberikan tersebut
ditetapkan dalam bentuk tarif yang disusun atas dasar perhitungan biaya per unit layanan atau
hasil per investasi dana yang dapat bertujuan untuk menutup seluruh atau sebagian dari biaya
per unit layanan. Tarif layanan tersebut dapat berupa besaran tarif atau pola tarif sesuai jenis
layanan BLU yang bersangkutan. Apabila BLU memiliki jenis layanan yang tidak terlalu
banyak, maka cukup memiliki tarif berupa angka mutlak ataupun kisaran tarif. Apabila BLU
memiliki jenis layanan yang banyak dan bersifat kompleks, seperti rumah sakit, maka
tarifnya berupa pola tarif untuk kelompok layanan.

Tarif layanan diusulkan oleh BLU bersangkutan kepada Menteri/Pimpinan Lembaga,


kemudian Menteri/Pimpinan Lembaga mengajukan usulan tarif tersebut kepada Menteri
Keuangan untuk ditetapkan. Dalam penetapan tarif dimaksud, Menteri Keuangan dibantu
oleh suatu tim dan dapat menggunakan narasumber yang berasal dari sektor terkait.

Hal-hal yang wajib dipertimbangkan dalam menyusun tarif adalah sebagai berikut:

1. Kontinuitas dan pengembangan layanan;

2. Daya beli masyarakat;

3. Asas keadilan dan kepatutan;

4. Kompetisi yang sehat.

Biaya Satuan

Dalam penyusunan tarif dan biaya layanan, terlebih dahulu ditentukan biaya satuan
per unit output dari layanan atau kegiatan BLU. Biaya satuan dibuat berdasarkan perhitungan
akuntansi biaya untuk setiap output barang/jasa yang dihasilkan.

Dalam rangka penyusunan biaya satuan per unit layanan, maka perlu diperhitungkan biaya-
biaya yang timbul, yaitu:

1. Biaya langsung; adalah biaya-biaya yang secara khusus dapat ditelusuri atau
diidentifikasi sebagai komponen langsung dari biaya produk. Total biaya langsung ini
dalam beberapa literatur juga sering disebut dengan istilah biaya utama (prime cost).

2. Biaya tidak langsung adalah semua biaya yang tidak dapat diidentifikasi secara
khusus terhadap suatu produk dan dibebankan kepada seluruh jenis produk secara
bersamaan. Biaya tidak langsung ini sering disebut juga dengan istilah biaya overhead
(overhead cost).
3. Biaya variabel adalah biaya yang berubah secara total seiring dengan berubahnya
volume produk yang dibuat. Sehingga hubungan antara total biaya variabel dengan
total unit barang yang diperoduksi adalah linier (garis lurus). Sedangkan biaya per
unit-nya adalah tetap. Contoh: Biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung.

4. Biaya tetap (fixed cost), seperti biaya penyusutan dan biaya sewa akan selalu tetap
(constant) dalam suatu rentang waktu/periode tertentu. Perlu dicatat bahwa biaya tetap
akan selalu konstan pada semua tingkat produksi (volume), sedangkan biaya tetap per
unit akan menurun seiring dengan meningkatnya volume produksi.

Langkah-langkah perhitungan biaya satuan adalah sebagai berikut:

1. Menentukan kegiatan berdasarkan program yang telah ditetapkan;

2. Menentukan indikator kinerja berupa keluaran (output), tolok ukur kinerja, dan target
kinerja;

3. Untuk satu jenis keluaran, tentukan jenis biaya dan besaran biaya per unit output.
Jenis biaya dapat berupa: biaya langsung variabel, biaya langsung tetap, biaya tidak
langsung variabel, dan biaya tidak langsung tetap.

4. Menghitung biaya per jenis kegiatan dengan mengalikan rincian biaya dengan satuan
biaya.

5. Menjumlahkan seluruh komponen biaya untuk mendapatkan satuan biaya per


kegiatan.

6. PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN BLU

Rencana Strategis Bisnis

BLU menyusun rencana strategis bisnis lima tahunan dengan mengacu kepada Rencana
Strategis Kementerian/Lembaga (Renstra K/L). Rencana strategis bisnis merupakan istilah
yang pengertiannya sama dengan Renstra bagi instansi pemerintah. Oleh karena itu
penyusunan rencana strategis bisnis berpedoman pada Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun
1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Sesuai dengan Inpres tersebut, rencana strategis mengandung visi, misi, tujuan/sasaran, dan
program yang realistis dan mengantisipasi masa depan yang diinginkan dan dapat dicapai.

Penyusunan Rencana Bisnis dan Anggaran

Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) BLU memuat antara lain:

1. Kondisi kinerja BLU tahun berjalan;

2. Asumsi makro dan mikro;

3. Target kinerja (output yang terukur);

4. Analisis dan perkiraan biaya per output dan agregat;

5. Perkiraan harga dan anggaran;

6. Prognosa laporan keuangan.

Perencanaan dan penganggaran BLU pada prinsipnya tidak berbeda dengan perencanaan dan
penganggaran pada kementerian/lembaga.

Pengintegrasian Rencana Bisnis dan Anggaran dalam RKA-K/L

RKA-K/L sebagai dokumen usulan anggaran (budget request) memuat sasaran terukur yang
penyusunannya dilakukan secara berjenjang dari tingkat kantor/satuan kerja ke tingkat yang
lebih tinggi (bottom-up) untuk melaksanakan penugasan dari menteri/pimpinan lembaga (top
down). Dengan demikian dalam menyusun suatu Rencana Kerja dan Anggaran BLU harus
menerapkan anggaran berbasis kinerja.

BLU sebagai satuan kerja merupakan bagian dari kementerian negara/lembaga. Oleh karena
itu pengintegrasian RBA BLU ke dalam RKA-K/L dilakukan oleh kementerian
negara/lembaga bersangkutan. Tata cara pengintegrasian RBA kedalam RKA-K/L
berpedoman pada ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004 tentang
Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga.

Pelaksanaan Anggaran

Dokumen Pelaksanaan Anggaran


Setelah RKA-KL dan Undang-undang APBN disahkan, pimpinan BLU menyesuaikan usulan
Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) menjadi RBA Definitif. RBA definitif digunakan
sebagai acuan dalam menyusun DIPA BLU untuk diajukan dan mendapat pengesahan
Menteri Keuangan c.q. Direktur Jenderal Perbendaharaan.

DIPA BLU sekurang-kurangnya memuat:

1. seluruh pendapatan dan belanja BLU;

2. proyeksi arus kas;

3. jumlah dan kualitas barang dan/atau jasa yang dihasilkan;

4. rencana penarikan dana yang bersumber dari APBN;

5. besaran persentase ambang batas sebagaimana ditetapkan dalam RBA definitif.

Dalam hal DIPA BLU belum disahkan oleh Menteri Keuangan, BLU dapat melakukan
pengeluaran paling tinggi sebesar angka dokumen pelaksanaan anggaran tahun lalu.

DIPA BLU yang telah disahkan oleh Menteri Keuangan menjadi lampiran dari contractual
performance agreement yang ditandatangani oleh menteri/pimpinan lembaga dengan
pimpinan BLU yang bersangkutan dan sekaligus menjadi dasar penarikan dana.

Pengelolaan PNBP

Pengelolaan PNBP pada BLU mengikuti pedoman sebagai berikut.

1. Penggunaan PNBP

a) Pada BLU Penuh

Satuan kerja berstatus BLU Penuh diberikan fleksibilitas pengelolaan


keuangan, antara lain dapat langsung menggunakan seluruh PNBP dari
pendapatan operasional dan nonopersaional, di luar dana yang yang bersumber
dari APBN, sesuai RBA tanpa terlebih dahulu disetorkan ke Rekening Kas
Negara. Apabila PNBP melebihi target yang ditetapkan dalam RBA tetapi
masih dalam ambang batas fleksibilitas, kelebihan tersebut dapat digunakan
langsung mendahului pengesahan revisi DIPA. Terhadap kelebihan PNBP
yang melampaui ambang batas fleksibilitas, dapat digunakan dalam tahun
berjalan setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan c.q. Dirjen
Perbendaharaan atau menjadi saldo awal tahun berikutnya.

b) Pada BLU Bertahap

Satker berstatus BLU Bertahap dapat menggunakan PNBP sebesar persentase


yang telah ditetapkan. Sedangkan PNBP yang dapat digunakan langsung
adalah sebesar persentase yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri
Keuangan tentang penetapan satker yang menerapkan PK-BLU yang
bersangkutan.
Satker berstatus BLU Bertahap menyetor penerimaan PNBP yang tidak
digunakan langsung ke Rekening Kas Negara secepatnya. PNBP yang telah
disetor dapat dipergunakan kembali sebesar selisih antara PNBP yang dapat
digunakan dengan PNBP yang telah digunakan langsung.

2. Pertanggungjawaban Pengunaan PNBP oleh BLU

Satker BLU mempertanggungjawabkan pengggunaan PNBP secara langsung dengan


menyampaikan SPM Pengesahan kepada KPPN setiap triwulan selambat-lambatnya
tanggal 10 setelah akhir triwulan yang bersangkutan dengan dilampiri Surat
Pernyataan Tanggung Jawab (SPTJ) yang ditandatangani oleh pimpinan BLU.
Berdasarkan SPM pengesahan tersebut, KPPN menerbitkan SP2D sebagai
pengesahan penggunaan dana PNBP.
Pertanggungjawaban penggunaan dana PNBP selain yang digunakan langsung oleh
satker yang berstatus BLU Bertahap menggunakan mekanisme pertanggungjawaban
PNBP sebagaimana diatur dalam ketentuan perundangan yang berlaku
(mengakomodasi perubahan Peraturan Dirjen Perbendaharaan Nomor PER-
66/PB/2005).

Revisi Anggaran

DIPA BLU ataupun RBA Definitif apabila diperlukan dapat direvisi. Perubahan/revisi
terhadap DIPA BLU atau RBA Definitif dapat dilakukan jika:
1. Terdapat perubahan/pergeseran program atau kegiatan BLU;

2. Terdapat penambahan atau pengurangan pagu anggaran yang berasal dari APBN;

3. Belanja BLU melampaui ambang batas fleksibilitas;

4. Belanja BLU sampai dengan ambang batas fleksibilitas.

Tata cara perubahan/revisi yang berhubungan dengan penganggaran dan perubahan


program dan/atau kegiatan BLU berpedoman kepada Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun
2004 atau Peraturan Menteri Keuangan (Nomor ?) tentang Mekanisme Revisi DIPA
Kementerian Negara/Lembaga dan RBA serta pelaksanaan anggaran BLU. Perubahan/revisi
sebagaimana dimaksud pada angka 4 dapat dilakukan setelah belanja dilaksanakan.
Perubahan tersebut dapat dilaksanakan sebelum akhir tahun anggaran dalam bentuk
pengesahan oleh Direktur Jenderal Perbendaharaan.

Surplus dan Defisit BLU

Surplus anggaran BLU adalah selisih lebih antara pendapatan dengan belanja BLU
yang dihitung berdasarkan laporan keuangan operasional berbasis akrual pada suatu periode
anggaran. Estimasi surplus dalam tahun anggaran berjalan diperhitungkan dalam RBA tahun
anggaran berikut untuk disetujui penggunaannya.

Surplus anggaran BLU dapat digunakan dalam tahun anggaran berikutnya kecuali atas
perintah Menteri Keuangan, disetorkan sebagian atau seluruhnya ke rekening kas umum
negara dengan mempertimbangkan posisi likuiditas BLU.

Defisit anggaran BLU adalah selisih kurang antara pendapatan dengan belanja BLU yang
dihitung berdasarkan laporan keuangan operasional berbasis akrual pada suatu periode
anggaran. Defisit anggaran BLU dapat diajukan pembiayaannya dalam tahun anggaran
berikutnya kepada Menteri Keuangan melalui Menteri/Pimpinan Lembaga. Menteri
Keuangan dapat mengajukan anggaran untuk menutup defisit pelaksanaan anggaran BLU
dalam APBN tahun anggaran berikutnya.

Kerjasama Operasional

Dengan pertimbangan bahwa barang modal membutuhkan dana yang besar, sedangkan
kemampuan BLU yang terbatas dan alokasi dana APBN tidak dapat diperoleh segera,
sementara kebutuhan tidak dapat ditunda lagi, maka cara yang paling memungkinkan adalah
dengan melakukan kerja sama operasional (KSO) dengan pihak lain berdasarkan
pertimbangan efisiensi dan ekonomi. KSO dapat dilakukan antara lain dengan cara:

1. Buy-Build-Operate (BBO) adalah suatu fasilitas publik yang ada dipindahtangankan


ke pihak swasta untuk dilakukan renovasi dan dioperasikan selama suatu periode
tertentu atau sampai biaya renovasi tertutup dengan suatu tingkat keuntungan tertentu,
tetapi kepemilikan berada di tangan pihak swasta. Bentuk kerja sama mengijinkan
pihak pemerintah untuk mengawasi terhadap keamanan, dampak lingkungan, harga,
serta mutu layanan kepada masyarakat.

2. Built-Transfer-Operate (BTO) suatu praktek kerja sama di mana pihak swasta


mendanai dan membangun fasilitas dan selanjutnya memindahtangankan kepada
instansi pemerintah pada saat selesai pembangunannya. Selanjutnya pihak swasta
mengoperasikannya untuk suatu periode waktu tertentu sesuai dengan perjanjian.

3. Built-Operate-Transfer (BOT) adalah praktek kerja sama di mana pihak swasta


mendanai, membangun, memiliki, dan mengoperasikan suatu fasilitas untuk suatu
periode waktu tertentu atau sampai kembalinya dana investasi dengan tingkat
keuntungan tertentu. Setelah itu barulah fasilitas ini diserahkan kepada instansi
pemerintah.

4. Build-Own-Operate (BOO), dalam hal ini pihak swasta mendanai, membangun, dan
mengoperasikan suatu fasilitas, dengan memperoleh insentif untuk melakukan
investasi lebih lanjut namun pihak pemerintah mengatur harga dan kualitas layanan.
Model ini banyak dipakai untuk menyediakan fasilitas baru yang dapat diantisipasi
bawa permintaan pasar akan selalu ada.

Penyelesaian Kerugian

Setiap kerugian negara pada BLU yang disebabkan oleh tindakan melanggar hukum
atau kelalaian seseorang diselesaikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
mengenai penyelesaian kerugian negara.

Bendahara, pegawai negeri bukan bendahara, atau pejabat lain yang karena perbuatannya
melanggar hukum atau melalaikan kewajiban yang dibebankan kepadanya secara langsung
merugikan keuangan negara, wajib mengganti kerugian tersebut.
Setiap pimpinan kementerian negara/lembaga dapat segera melakukan tuntutan ganti rugi,
setelah mengetahui bahwa dalam kementerian negara/lembaga yang bersangkutan terjadi
kerugian akibat perbuatan dari pihak manapun.

7. AKUNTANSI, PELAPORAN DAN PERTANGGUNGJAWABAN BLU

A. Akuntansi

BLU menyelenggarakan akuntansi sesuai dengan standar akuntansi keuangan yang


diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntan Indonesia, jika tidak ada standar akuntansi BLU
yang bersangkutan dapat menerapkan standar akuntansi industri yang spesifik setelah
mendapat persetujuan Menteri Keuangan.

BLU mengembangkan dan menerapkan sistem akuntansi dengan mengacu pada standar
akuntansi yang berlaku sesuai dengan jenis layanannya dan ditetapkan oleh menteri/pimpinan
lembaga.

Prinsip-Prinsip Akuntansi BLU

BLU menerapkan sistem informasi manajemen keuangan sesuai dengan kebutuhan


dan praktek bisnis yang sehat. Prinsip-prinsip akuntansi BLU diatur sebagai berikut:

1. Setiap transaksi keuangan BLU harus diakuntansikan dan dokumen pendukungya


dikelola secara tertib. Siklus akuntansi yang digunakan oleh BLU sama seperti siklus
akuntansi pada umumnya.

2. Akuntansi dan laporan keuangan BLU diselenggarakan sesuai dengan standar Akuntansi
keuangan yang diterbitkan oleh asosiasi profesi akuntansi Indonesian (Ikatan Akuntan
Indonesia). Dalam hal tidak terdapat standar akuntansi, maka dapat menerapkan standar
akuntansi industri yang spesifik setelah mendapat persetujuan Menteri Keuangan.
Artinya dapat dipergunakan standar akuntansi pemerintahan (SAP).

3. BLU dapat mengembangkan dan menerapkan sistem akuntansi yang mengacu pada
standar akuntansi yang berlaku sesuai dengan jenis layanannya dan ditetapkan oleh
menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota sesuai dengan
kewarganegaraannya. Kebebasan penyusunan sistem akuntansi oleh BLU merupakan
implementasi dari prinsip desentralisasi, namun harus ditetapkan oleh menteri/pimpinan
lembaga/gubernur/bupati/walikota dalam rangka penerapan prinsip pengendalian.
4. Laporan keuangan BLU setidak-tidaknya meliputi laporan realisasi anggaran/laporan
operasional, neraca, arus kas, dan catatan atas laporan keuangan, disertai laporan
mengenai kinerja. Laporan operasional dikategorikan sebagai laporan laporan laba-rugi
pada entitas swasta/laporan aktivitas pada PSAK No.45.

5. Laporan keuangan unit-unit usaha yang diselenggarakan oleh BLU dikonsolidasikan


dalam laporan keuangan.

6. Laporan keuangan BLU disampaikan secara berkala kepada menteri/pimpinan


lembaga/gubernur/bupati/walikota, sesuai dengan kewenangannya untuk
dikonsolidasikan dengan laporan keuangan kementerian
Negara/lembaga/SKPD/pemerintah daerah.

7. Laporan keuangan disampaikan kepada menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD serta


kepada Menteri Keuangan/gubernur/bupati/walikota, sesuai dengan kewenangannya
paling lambat 1 (satu) bulan setelah periode pelaporan berakhir.

8. Laporan keuangan BLU merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan
pertanggungjawaban keuangan kementerian Negara/lembaga/SKPD/pemerintah daerah.

9. Penggabungan laporan keuangan BLU pada laporan keuangan kementerian


Negara/lembaga/SKPD/pemerintah daerah dilakukan sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintahan.

10. Laporan pertanggungjawaban keuangan BLU diaudit oleh pemeriksa eksternsesuai


dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Prinsip Perlakuan Pendapatan Untuk BLU

Pendapatan yang diterima oleh BLU diatur melalui prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Penerimaan anggaran yang bersumber dari APBN/APBD diberlakukan sebagai


pendapatan BLU.

2. Pendapatan yang diperoleh dari jasa layanan yang diberikan kepada masyarakat dan
hibah tidak terikat yang diperoleh dari masyarakat atau badan lain merupakan pendapatan
operasional BLU.

3. Hibah terkait yang diperoleh dari masyarakat atau badan lain merupakan pendapatan
yang harus diperlakukan sesuai dengan peruntukan.
4. Hasil kerjasama BLU dengan pihak lain dan/atau hasil usaha lainnya merupakan
pendapatan bagi BLU.

5. Pendapatan sebagaimana dimaksud pada angka 1,2, dan angka 4 diatas dapat dikelola
langsung untuk membiayai belanja BLU sesuai dengan rencana bisnis dan anggaran
(RBA)-nya.

6. Pendapatan sebagaimana dimaksud pada angka 2,3, dan angka 4 dilaporkan sebagai
pendapatan Negara bukan pajak kementerian/lembaga atau pendapatan bukan pajak
pemerintah daerah.

Berdasarkan prinsip-prinsip pengakuan pendapatan diatas, maka BLU mempunyai


kewenangan penuh untuk menggunakan pendapatannya sesuai dengan RBA-nya.
Kewenangan menggunakan pendapatan dan sisa lebih dapat mendahului dari pengesahan
RBA-nya.

Prinsip Perlakuan Belanja Untuk BLU

Belanja yang dilakukan oleh BLU diatur melalui prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Belanja BLU terdiri dari unsur biaya yang sesuai dengan struktur biaya yang dituangkan
dalam RBA definitive.

2. Pengelolaan belanja BLU diselenggarakan secara fleksibel berdasarkan kesetaraan antara


volume kegiatan pelayanan dengan j8mlah pengeluaran, mengikuti praktik bisnis yang
sehat.

3. Fleksibilitas pengelolaan belanja sebagaimana dimaksud pada angka 2 berlaku dalam


ambang batas sesuai dengan yang ditetapkan dalam RBA.

4. Belanja BLU yang melampaui ambang batas fleksibilitas sebagaimana dimaksud pada
angka 3 harus mendapat persetujuan Menteri keuangan/gubernur/bupati/walikota atas
usulan menteri/pimpinan lembaga/kepala SKPD, sesuai dengan kewenangannya.

5. Dalam hal terjadi kekurangan anggaran, BLU dapat mengajukan usulan tambahan
anggaran dari APBN/APBD kepada Menteri Keuangan/PPKD melalui menteri/pimpinan
lembaga/kepala SKPD sesuai dengan kewenangannya.

6. Belanja BLU dilaporkan sebagai belanja barang dan jasa kementerian


Negara/lembaga/SKPD/pemerintah daerah.

Pengelolaan Kas Pada BLU


Pengelolaan kas BLU diatur dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Dalam rangka pengelolaan kas, BLU menyelenggarakan hal-hal sebagai berikut:

a. Merencanakan penerimaan dan pengeluaran kas.

b. Melakukan pemungutan pendapatan atau tagihan.

c. Menyimpan kas dan mengelola rekening bank.

d. Melakukan pembayaran.

e. Mendapatkan sumber dana untuk menutup deficit jangka pendek.

f. Memanfaatkan surplus kas jangka pendek untuk memperoleh pendapatan


tambahan.

2. Pengelolaan kas BLU dilaksanakan berdasarkan praktik bisnis sehat.

3. Penarikan dana yang bersumber dari APBN/APBD dilakukan dengan menerbitkan Surat
Perintah Menbayar (SPM) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

4. Rekening bank harus dibuka oleh pimpinan BLU pada bank umum.

5. Pemanfaatan surplus kas dilakukan sebgai investasi jangka pendek pada instrumen
keuangan dengan resiko rendah.

Pengelolaan Piutang Pada BLU

Dalam pengelolaan keuangan, BLU dapat memberikan piutang terkait dengan


kegiatannya, yang dikelola secara tertib, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung
jawab serta dapat memberikan nilai tambah, sesuai dengan praktek bisnis yang sehat dan
ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Piutang BLU dapat dihapus secara mutlak atau bersyarat oleh pejabat berwenang,
yang nilainya ditetapkan secara berjenjang. Kewenangan penghapusan piutang secara
berjenjang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Keuangan dengan memperhatikan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

Pengelolaan piutang diatur berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. BLU dapat memberikan piutang sehubungan dengan penyerahan barang, jasa, dan/atau
transaksi lainnya yang berhubungan langsung atau tidak langsung dengan kegiatan BLU.
2. Piutang BLU dikelola dan diselesaikan secara tertib, efisien, ekonomis, transparan, dan
bertanggung jawab serta dapat memberikan nilai tambah, sesuai dengan praktek bisnis
yang sehat dan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

3. Piutang BLU dapat dihapus secara mutlak atau bersyarat oleh pejabat yang berwenang
yang nilainya ditetapkan secara berjenjang.

4. Kewenangan penghapusan piutang secara berjenjang sebagaimana dimaksud pada angka


3 ditetapkan dengan Peraturan Menteri keuangan /gubernur/bupati/walikota sesuai dengan
kewenangannya, dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pengelolaan Utang Pada BLU

Dalam kegiatan operasional dengan pihak lain, BLU dapat memiliki utang yang dikelola
secara tertib, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab, sesuai dengan praktek
bisnis yang sehat. Pembayaran utang BLU pada prinsipnya menjadi tanggung jawab BLU.

Pengelolaan utang harus sesuai dengan peruntukannya, utang jangka pendek ditujukan
hanya untuk belanja operasional, sedangkan utang jangka panjang hanya untuk belanja
modal. Hak tagih atas utang BLU kadaluarsa setelah lima tahun sejak utang tersebut jatuh
tempo, kecuali ditetapkan lain oleh UU. Perikatan peminjaman/utang dilakukan sesuai
dengan jenjang kewenangan yang diatur oleh Menteri Keuangan.

Pengelolaan utang diatur berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. BLU dapat memiliki utang sehubungan dengan kegiatan operasional dan/atau perikatan
peminjaman dengan pihak lain.

2. Uatng BLU dikelola dan Diselesaikan secara tertib, efisien, ekonomis, transparan, dan
bertanggung jawab sesuai praktek bisnis yang sehat.

3. Pemanfaatan utang yang berasal dari perikatan peminjaman jangka pendek ditujukan
hanya untuk belanja operasional.

4. Pemanfaatan utang yang berasal dari perikatan peminjaman jangka panjang ditujukan
hanya untuk belanja modal.
5. Perikatan peminjaman dilakukan oleh pejabat yang berwenang secara berjenjang
berdasarkan nilai pinjaman.

6. Kewenangan peminjaman diatur dengan Peraturan Menteri


Keuangan/gubernur/bupati/walikota.

7. Pembayaran kembali utang merupakan tanggung jawab BLU.

8. Hak tagih atas utang BLU menjadi kadaluarsa setelah 5 (lima) tahun sejak uatng tersebut
jatuh tempo, kecuali ditetapkan lain oleh undang-undang.

Prinsip Investasi BLU

Investasi untuk BLU diatur dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. BLU tidak dapat melakukan investasi jangka panjang, kecuali atas persetujuan Menteri
Keuangan/gubernur/bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya.

2. Keuntungan yang diperoleh dari investasi jangka panjang merupakan pendapatan BLU.

B. Pelaporan

BLU menyampaikan laporan keuangan setiap triwulan kepada menteri/pimpinan


lembaga berupa Laporan Realisasi Anggaran, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan
Keuangan dan Laporan keuangan yang lengkap (termasuk neraca dan ikhtisar laporan
keuangan) pada setiap semester dan tahunan. Laporan-laporan tersebut disampaikan paling
lambat satu bulan setelah periode pelaporan berakhir. Laporan keuangan unit-unit usaha yang
diselenggarakan dikonsolidasikan oleh BLU dan menjadi lampiran laporan keuangan BLU.

Laporan keuangan BLU dikonsolidasikan dengan laporan keuangan kementerian/lembaga


sesuai standar akuntansi pemerintahan dan diaudit oleh pemeriksa ekstern sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.

C. Pertanggungjawaban

Menteri/pimpinan lembaga bertanggung jawab atas keberhasilan pencapaian sasaran


program berupa hasil (political accountability), sedangkan pimpinan BLU bertanggung jawab
atas keberhasilan pencapaian sasaran kegiatan berupa keluaran (operational accountability)
dan terhadap kinerja BLU sesuai dengan tolok ukur yang ditetapkan dalam RBA.
8. PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN

Pembinaan

Pembinaan teknis BLU dilakukan oleh menteri/pimpinan lembaga, sedangkan


pembinaan di bidang keuangan dilakukan oleh Menteri Keuangan.

Pengawasan

Dalam rangka pelaksanaan pembinaan BLU dapat dibentuk dewan pengawas.


Pembentukan dewan pengawas hanya berlaku pada BLU yang memiliki realisasi nilai omzet
tahunan (menurut laporan realisasi anggaran) atau nilai aset (menurut neraca) memenuhi
syarat minimum yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Pengertian dan Tugas Dewan Pengawas

Dewan pengawas BLU bertugas melakukan pengawasan terhadap pengurusan BLU oleh
Pejabat Pengelola BLU mengenai pelaksanaan Rencana Bisnis dan Anggaran, Rencana
Strategis Bisnis Jangka Panjang, dan ketaatan terhadap ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Dewan pengawas BLU di lingkungan Pemerintah Pusat
berkewajiban:

1. memberikan pendapat dan saran kepada menteri/pimpinan lembaga dan Menteri


Keuangan mengenai Rencana Bisnis dan Anggaran yang diusulkan oleh Pejabat
Pengelola BLU;

2. mengikuti perkembangan kegiatan BLU, memberikan pendapat dan saran kepada


menteri/pimpinan lembaga dan Menteri Keuangan mengenai setiap masalah yang
dianggap penting bagi pengurusan BLU;

3. melaporkan kepada menteri/pimpinan lembaga dan Menteri Keuangan apabila terjadi


gejala menurunnya kinerja BLU; dan

4. memberikan nasihat kepada Pejabat Pengelola BLU dalam melaksanakan pengurusan


BLU.
Dewan pengawas melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada menteri/pimpinan lembaga dan
Menteri Keuangan secara berkala sekurang-kurangnya satu kali dalam satu semester dan
sewaktu-waktu apabila diperlukan.

Pemeriksaan

Pemeriksaan intern BLU dilaksanakan oleh satuan pemeriksaan intern (SPI) yang
merupakan unit kerja dan berkedudukan langsung di bawah pemimpin BLU, sedangkan
pemeriksaan ekstern dilaksanakan oleh lembaga pemeriksa ekstern sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.

BADAN LAYANAN UMUM


FAKULTAS EKONOMI
MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS RIAU