Anda di halaman 1dari 14

EMBRIOLOGI

Proses pembentukan embrio pada manusia melalui 23 tahap perkembangan setelah


pembuahan setiap tahap rata-rata memakan waktu selama 2 -3 hari. Ada dua proses
pembentukan sistem saraf pusat. Pertama, neuralisasi primer, yakni pembentukan struktur
saraf menjadi pipa, hal yang serupa juga terjadi pada otak dan korda spinalis. Kedua,
neuralisasi sekunder, yakni pembentukan lower dari korda spinalis, yang membentuk
bagian lumbal dan sakral. Neural plate dibentuk pada tahap ke 8 (hari ke17-19), neural
fold terbentuk pada tahap ke 9 (hari ke 19-21) dan fusi dari neural fold terbentuk pada
tahap ke 10 (hari ke 22-23). Beberapa tahap yang sering mengalami gangguan yakni
selama tahap 8 – 10 (yakni, ketika neural plate membentuk fold pertamanya dan berfusi
untuk membentuk neural tube) hal ini dapat menyebabkan terjadinya craniorachischisis,
yang merupakan salah satu bentuk yang jarang dari neural tube defect (NTD). (4)
Pada tahap ke 11 (hari ke 23-26), saat ini terjadi penutupan dari bagian rostral
neuropore. Kegagalan pada tahap ini mengakibatkan terjadinya anencephaly.
Mielomeningocele terjadi akibat gangguan pada tahap 12 (hari ke 26-30), saat ini terjadi
penutupan bagian caudal dari neuropore. (4)
Penelitian pada embrio tikus telah memperoleh beberapa teori unifying yang dapat
menjelaskan anomali yang terjadi pada neural tube defek. Defek yang terjadi bersamaan
seperti hidrosefalus dan malformasi otak bagian belakang seperti malformasi Chiari II
adalah salah satu contohnya. McLone dan Naidich, pada tahun 1992, mengajukan proposal
tentang teori unifying dari defek pada neural tube yang menjelaskan anomali pada otak
bagian belakang dan anomali pada korda spinalis. Berdasarkan penyelidikan tersebut,
diketahui bahwa kegagalan lipatan neural untuk menutup sempurna, menyebabkan defek
pada bagian dorsal atau myeloschisis. Hal ini menyebabkan CSF bocor mulai dari ventrikel
sampai ke kanalis sentralis dan bahkan mencapai cairan amnion dan mengakibatkan kolaps
dari sistem ventrikel. (4)
Kegagalan dari sistem ventrikel untuk meningkatkan ukuran dan volumenya menyebabkan
herniasi ke bawah dan ke atas dari otak kecil. Sebagai tambahan, fossa posterior tidak
berkembang sesuai dengan ukuran yang sebenarnya, dan neuroblas tidak bermigrasi keluar
sesuai dengan normal dari ventrikel ke korteks. (4)
Adapun teori yang lain yang menjelaskan terjadinya spina bifida yakni teori defisiensi asam
folat. Resiko melahirkan anak dengan spina bifida berhubungan erat dengan kekurangan
asam folat, terutama yang terjadi pada awal kehamilan. Hingga kini tidak diketahui
mengapa asam folat dapat menyebabkan spina bifida.(4,5,6)
Malformasi Sistem Saraf Pusat (4)

24 – 26 Penutupan neuropore Anencephaly


anterior

26 – 28 Penutupan neuropore Spina bifida sistika


posterior dan
Spina bifida okulta
32 Sirkulasi vaskular Mikrosefali

33 35 Splitting dari Holoproensefalon


proensefalon
untuk membentuk
telensefalon
70 – 100 Pembentukan korpus Agenesis korpus
kalosum kalosum

Kelompok ini mencakup kelainan-kelainan : lipoma spinal, sinus dermal,


lipomielomeningokel, diastematomielia, hipertrofi filum terminale dan meningokel sakral
anterior. (2, 12)

a. Lipoma spinal
Perkembangan embriologis lipoma spinal tidak diketahui secara terperinci. Pada
kasus–kasus ini, elemen spinal normal tetap ada namun lokasinya abnormal. Lipoma spinal
adalah keadaan di mana terdapat jaringan lemak yang masuk di dalam jaringan saraf,
sehingga terjadi kerusakan dan mengakibatkan disfungsi neurologis. (12)
Gambar 2. Gambar MRI Lipoma Spinal
Pada umumnya tidak ada kelainan neurologis, tetapi kadang terjadi, karena dengan
bertambahnya usia, lipoma akan membesar dan menekan sistem saraf. Lipoma seperti ini
dapat berupa lipomeningomielokel atau melekat pada meningomielokel. Pemeriksaan
radiologik dilakukan seperti pada meningokel.(2)

b. Sinus dermal
Sinus dermal merupakan lubang terowongan (traktus) di bawah kulit mulai dari
epidermis menuju lapisan dalam, menembus duramater dan sampai ke rongga
subarakhnoid. Tampilan luarnya berupa lesung atau dimpel kulit yang kadang
mengandung sejumput rambut di permukaannya dan kebanyakan di daerah lumbal.
Biasanya kelainan ini asimptomatik, namun bila menembus duramater, sering
menimbulkan meningitis rekuren.
(12)

c. Lipomielomeningokel
Lipomielomeningokel sering kali terdeteksi sebagai suatu gumpalan lemak pada bagian
belakang tubuh terutama di daerah lumbo-sakral. Kelainan ini kerap dikaitkan sebagai
deformitas kosmetik, namun sebenarnya ia merupakan suatu kompleks anomali kongenital
yang bukan hanya terdiri dari infiltrasi perlemakan jaringan saraf saja, tetapi juga
mengandung meningokel atau meningomielokel yang besar. (12) d. Diastematomielia(12)
Diastematomielia merupakan salah satu manifestasi disrafisme spinal yang jarang terjadi dan
terdiri atas komponen-komponen :
- Terbelahnya medula spinalis menjadi dua hemikord. Duramater dapat tetap satu atau
membentuk septa.
- Ada tulang rawan yang menonjol dari korpus vertebra dan membelah kedua hemikord
diatas.
- Lokasi diastematomielia biasanya di daerah toraks atau torako-lumbar, dan juga biasanya
ada abnormalitas vertebra (hemivertebra). Ciri khas dari kelainan ini adalah adanya
sejumput rambut dari daerah yang ada diastematomielia.
DIAGNOSIS

Anamnesis
Diagnosis spina bifida dapat diketahui melalui analisa riwayat kesehatan dari individu tersebut
(jika bukan bayi), riwayat kesehatan keluarga dan penjelasan yang detail tentang
kehamilan dan kelahiran. (5)

1. Resiko melahirkan anak dengan spina bifida berhubungan erat dengan kekurangan asam
folat, terutama yang terjadi pada awal kehamilan.
2. Penonjolan dari korda spinalis dan meningens menyebabkan kerusakan pada korda
spinalis dan akar saraf, sehingga terjadi penurunan atau gangguan fungsi pada bagian
tubuh yang dipersarafi oleh saraf tersebut atau di bagian bawahnya.
3. Gejalanya tergantung kepada letak anatomis dari spina bifida. Kebanyakan terjadi di
punggung bagian bawah, yaitu daerah lumbal atau sakral, karena penutupan vertebra di
bagian ini terjadi paling akhir.
4. Faktor genetik dan lingkungan (nutrisi atau terpapar bahan berbahaya) dapat
menyebabkan resiko melahirkan anak dengan spina bifida.
Pada 95 % kasus spina bifida tidak ditemukan riwayat keluarga dengan defek neural tube.
Resiko akan melahirkan anak dengan spina bifida 8 kali lebih besar bila sebelumnya
pernah melahirkan anak spina bifida.
Gejalanya bervariasi, tergantung kepada beratnya kerusakan pada korda spinalis dan akar saraf
yang terkena. Beberapa anak memiliki gejala ringan atau tanpa gejala, sedangkan yang lain
mengalami kelumpuhan pada daerah yang dipersarafi oleh korda spinalis. (15)

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Pemeriksaan dapat
dilakukan pada ibu hamil dan bayi yang baru dilahirkan, pada ibu hamil, dapat
dilakukan pemeriksaan :

1. Pada trimester pertama, wanita hamil menjalani pemeriksaan darah yang disebut triple
screen yang terdiri dari pemeriksaan AFP, ultrasound dan cairan amnion.
2. Pada evaluasi anak dengan spina bifida, dilakukan analisis melalui riwayat medik, riwayat
medik keluarga dan riwayat kehamilan dan saat melahirkan. Tes ini merupakan tes
penyaringan untuk spina bifida, sindroma Down dan kelainan bawaan lainnya.
Pemeriksaan fisik dipusatkan pada defisit neurologi, deformitas muskuloskeletal dan
evaluasi psikologis. Pada anak yang lebih besar dilakukan asesmen tumbuh kembang,
sosial dan gangguan belajar.
3. Pemeriksaan x-ray digunakan untuk mendeteksi kelainan tulang belakang, skoliosis,
deformitas hip, fraktur pathologis dan abnormalitas tulang lainnya.
4. USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pada korda spinalis maupun
vertebra dan lokasi fraktur patologis.
5. CT scan kepala untuk mengevaluasi hidrosepalus dan MRI tulang belakang untuk
memberikan informasi pada kelainan spinal cord dan akar saraf.
6. 85% wanita yang mengandung bayi dengan spina bifida atau defek neural tube, akan
memiliki kadar serum alfa fetoprotein (MSAP atau AFP) yang tinggi. Tes ini memiliki
angka positif palsu yang tinggi, karena itu jika hasilnya positif, perlu dilakukan
pemeriksaan lanjutan untuk memperkuat diagnosis. Dilakukan USG yang biasanya dapat
menemukan adanya spina bifida. Kadang dilakukan amniosentesis (analisa cairan
ketuban).
Pemeriksaan Fisis
Pemeriksaan neurologis pada bayi cukup sulit; terutama untuk membedakan gerakan volunter
tungkai terhadap gerakan reflektoris. Diasumsikan bahwa semua respons gerakan tungkai
terhadap rangsang nyeri adalah refleksif; sedangkan adanya kontraktur dan
deformitas kaki merupakan ciri paralisis segmental level tersebut. (12)
Cara pemeriksaannya : bayi ditelungkupkan di lengan pemeriksa, anggota gerak bawah bayi
disisi lengan bawah pemeriksa. Yang dinilai adalah letak scapula, ukuran leher, bentuk
tulang belakang dan gerakan. (1, 10)

Pemeriksaan Penunjang
Metode skrining tersering untuk mendiagnosis spina bifida selama kehamilan adalah skrining
serum alfa feto protein maternal (MSAFP) pada trimester kedua, dan ultrasonogafi.
Skrining MSAFP mengukur tingkat dari protein yang disebut alfa feto protein (AFP) yang
dibentuk secara alami oleh fetus dan plasenta. Selama kehamilan normal sejumlah kecil
dari AFP biasanya melintasi plasenta dan memasuki peredaran darah ibu. Namun jika
terdapat peningkatan yang abnormal dari protein ini pada peredaran darah ibu
mengindikasikan bahwa fetus mengalami defek pada vertebra. Namun demikian uji
MSAFP ini tidak spesifik untuk spina bifida dan uji ini tidak dapat menentukan secara
defenitif akan adanya masalah dengan fetus. Dengan demikian bila terdeteksi peningkatan
AFP dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan tambahan seperti Ultrasonografi atau
Amniosentesis untuk menegakkan diagnosa.(8)

Ultrasonografi dapat memberikan informasi mengenai penyebab peningkatan AFP antara


lain kelainan pada fetus ataupun jumlah fetus yang lebih dari satu. Pada spina bifida akan
tampak vertebra yang terbuka atau kelainan yang tampak pada otak bayi yang
menindikasikan Spina
bifida. (8)
Gambar 5. Teknik Amniosintesis (8)

Pada Amniosintesis dilakukan pemeriksaan AFP yang berasal dari cairan amnion yang
langsung diambil dari kantong amnion dengan menggunakan jarum.

Setelah bayi lahir, dilakukan pemeriksaan berikut :


X- Ray tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan
CT scan atau MRI tulang belakang kadang dilakukan untuk menentukan luas dan lokasi
kelainan (15)

Setelah bayi lahir, dilakukan pemeriksaan berikut:

1. Rontgen tulang belakang untuk menentukan luas dan lokasi kelainan.


2. USG tulang belakang bisa menunjukkan adanya kelainan pda korda spinalis maupun
vertebra

CT scan atau MRI tulang belakang kadang dilakukan untuk menentukan lokasi dan luasnya
kelainan
PENANGANAN
Tidak ada penanganan yang sempurna untuk spinabifida karena kerusakan jaringan syaraf
tidak bisa diganti atau diperbaiki. Tindakan pertama ditujukan pada perbaikan keadaan
umum dan mencegah pecahnya mielomeningokel. Tindakan yang dilakukan untuk kasus
mielomeningokel adalah operasi untuk menutup defek yang ada. Tindakan pembedahan
untuk menutup defek pada spinal biasanya dilakukan dalam 24 jam pertama setelah
kelahiran untuk meminimalkan infeksi dan memelihara fungsi dari spinal kord. Pemberian
antibiotik yang berspektrum luas memungkinkan untuk menunda tindakan operasi sampai
beberapa saat. Tindakan operasi penutupan ini dapat dilakukan bersamaan dengan operasi
pintas bila kasus tersebut juga disertai dengan hidrosefalus yang masif. Tujuan operasi
adalah menutup medulla spinalis dengan lapisan jaringan untuk mencegah masuknya
bakteri dari kulit,mencegah kebocoran liquor serta mempertahankan fungsi neurologis dari
kerusakan berkelanjutan.
Penutupan benjolan yang pecah harus dikerjakan sedini mungkin untuk mencegah meningitis
atau kontaminasi. Bila benjolan masih utuh, pembedahan dapat ditunda sampai berusia 5-
6 bulan. Selama menunggu pembedahan, perawatan keadaan umum bayi diutamakan
ssambil mencegah kontaminasi pada benjolan, biasanya bayi dibaringkan telungkup dan
benjolan mielomeningokel ditutup dengan kain steril yang dibasahi larutan
salin atau garam fisiologis. (2,4,5,9))
Pada kelainan dengan sinus spinal pembedahan hanya dikerjakan bila dikhawatirkan
kemungkinan infeksi retrograd. Pembedahan dilakukan dengan eksisi seluruh sinus dan
kista dermoid yang menyertainya. Pada kelainan dengan lipoma lumbosakral, pembedahan
sebaiknya segera dilakukan karena makin kecil lipoma makin mudah eksisi dikerjakan.
Disamping itu lipoma dapat terus membesar baik kedalam kanalis spinalis maupun ke luar
. Tujuan pembedahan adalah membebaskan mileum dari perlengketan yang ada sesudah
lipoma dieksisi semaksimal mungkin. Pada umumnya pembedahan tidak sederhana karena
batas antara jaringan syaraf dan jaringan lipoma sukar dibedakan karena timbul fibrosis
sehingga diperlukan tindakan bedah mikro. (14)
Upaya pencegahan dan mengurangi risiko terjadinya defek tuba neuralis dapat dilakukan
dengan mengkonsumsi vitamin asam folat. Konsumsi asam folat pada periode peri
konsepsi dapat mengurangi kejadian defek tuba neuralis sebesar 50% - 70%. Asam folat
adalah vitamin B yang tersedia pada bahan makanan sehari-hari seperti sayuran hijau,
kacang buncis, padi, hati, ragi, dan beberapa buah seperti jeruk. Meskipun seseorang yang
mengkosumsi sayur mayur dan daging segar akan mencerna sebanyak 2 mg setiap harinya,
ternyata tidak semua wanita hamil memperoleh asupan asam folat yang adekuat dari diet
sehari-hari ini. Pada orang dewasa normal, asupan harian yang direkomendasikan yaitu
sebesar 400 mcg. dan pada wanita hamil, menyusui, serta pada pasien dengan laju
pergantian sel yang tinggi seperti pada pasien anemia hemolitik membutuhkan asam folat
sebesar 500600 mcg atau lebih setiap harinya. Asam folat dalam bentuk suplementasi dan
bahan makanan alami ternyata memiliki perbedaan dalam hal penyerapan dan ketersediaan
didalam tubuh. (3,5,7,14)
Wanita yang tidak merencanakan hamil dalam waktu dekat dapat mengkonsumsi asam folat
sebesar 400 mikrogram perhari, dan apabila hamil dapat dilanjutkan hingga minggu ke-
12 kehamilan. Wanita yang memiliki anak dengan spina bifida, atau riwayat spina bifida
atau penyakit neural tube lain dapat mengkonsumsi 10 dosis atau 4000 mikrogram perhari
selama 1-3 bulan sebelum hamil. Sumber asam folat dapat ditemukan pada buahbuahan,
sayur-sayuran, kacang-kacangan atau sereal. Hingga kini tidak diketahui mengapa asam
folat dapat mencegah spina bifida. (3,5,7,14)

Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada penderita spina bifida memerlukan koordinasi tim yang terdiri dari
spesialis anak, saraf, bedah saraf, rehabilitasi medik, ortopedi, endokrin, urologi dan
tim terapi fisik, ortotik, okupasi, psikologis perawat, ahli gizi sosial worker dan lain-
lain.

1. Urologi
Dalam bidang urologi, terapi pada disfungsi bladder dimulai saat periode neonatal sampai
sepanjang hidup. Tujuan utamanya adalah :

1. Mengontrol inkotinensia
2. Mencegah dan mengontrol infeksi
3. Mempertahankan fungsi ginjal

Intermiten kateterisasi dapat dimulai pada residual urin > 20 cc dan kebanyakan anak umur
5 - 6 tahun dapat melakukan clean intermittent catheterization (CIC) dengan mandiri. Bila
terapi konservatif gagal mengontrol inkontinensia, prosedur bedah dapat
dipertimbangkan. Untuk mencegah refluk dapat dilakukan ureteral reimplantasi, bladder
augmentation, atau suprapubic vesicostomy.

1. Orthopedi

Tujuan terapi ortopedi adalah memelihara stabilitas spine dengan koreksi yang terbaik dan
mencapai anatomi alignment yang baik pada sendi ekstremitas bawah. Dislokasi hip dan
pelvic obliquity sering bersama-sama dengan skoliosis paralitik. Terapi skoliosis dapat
dengan pemberian ortesa body jacket atau Milwaukee brace. Fusi spinal dan fiksasi
internal juga dapat dilakukan untuk memperbaiki deformitas tulang belakang. Imbalans
gaya mekanik antara hip fleksi dan adduksi dengan kelemahan abduktor dan fungsi
ekstensor menghasilkan fetal coxa valga dan acetabulum yang displastik, dangkal dan
parsial. Hip abduction splint atau Pavlik harness digunakan 2 tahun pertama untuk counter
gaya mekaniknya.

Pemanjangan tendon Achilles untuk deformitas equinus, flexor tenodesis atau transfer dan
plantar fasciotomi untuk deformitas claw toe dan pes cavus yang berat. Subtalar fusion,
epiphysiodesis, triple arthrodesis atau talectomi dilakukan bila operasi pada jaringan
lunak tidak memberikan hasil yang memuaskan.

1. Rehabilitasi Medik 2. Sistem Muskuloskeletal

Latihan luas gerak sendi pasif pada semua sendi sejak bayi baru lahir dilakukan seterusnya
untuk mencegah deformitas muskuloskeletal. Latihan penguatan dilakukan pada otot
yang lemah, otot partial inervation atau setelah prosedur tendon transfer.
1. Perkembangan Motorik

Stimulasi motorik sedini mungkin dilakukan dengan memperhatikan tingkat dari defisit
neurologis.

1. Ambulasi

Alat bantu untuk berdiri dapat dimulai diberikan pada umur 12 – 18 bulan. Spinal brace
diberikan pada kasus-kasus dengan skoliosis. Reciprocal gait orthosis (RGO) atau
Isocentric Reciprocal gait orthosis (IRGO) sangat efektif digunakan bila hip dapat fleksi
dengan aktif.
HKAFO digunakan untuk mengkompensasi instabilitas hip disertai gangguan aligment
lutut. KAFO untuk mengoreksi fleksi lutut agar mampu ke posisi berdiri tegak.
Penggunaan kursi roda dapat dimulai saat tahun kedua terutama pada anak yang tidak
dapat diharapkan melakukan ambulasi.
1. Bowel training

Diet tinggi serat dan cairan yang cukup membantu feses lebih lunak dan berbentuk sehingga
mudah dikeluarkan. Pengeluaran feses dilakukan 30 menit setelah makan dengan
menggunakan reflek gastrokolik. Crede manuver dilakukan saat anak duduk di toilet
untuk menambah kekuatan mengeluarkan dan mengosongkan feses Stimulasi digital
atau supositoria rektal digunakan untuk merangsang kontraksi rektal sigmoid. Fekal
softener digunakan bila stimulasi digital tidak berhasil.

1. Pembedahan

Pembedahan dilakukan secepatnya pada spina bifida yang tidak tertutup kulit, sebaiknya
dalam minggu pertama setelah lahir. Kadang-kadang sebagai akibat eksisi meningokel
terjadi hidrosefalus sementara atau menetap, karena permukaan absorpsi CSS yang
berkurang. Kegagalan tabung neural untuk menutup pada hari ke-28 gestasi, atau
kerusakan pada strukturnya setelah penutupan dapat dideteksi in utero dengan
pemeriksaan ultrasonogrfi. Pada 90% kasus, kadar alfa-fetoprotein dalam serum ibu dan
cairan amnion ditemukan meningkat; penemuan ini sering digunakan sebagai prosedur
skrining. Keterlibatan baik kranial maupun spinal dapat terjadi; terminology spina bifida
digunakan pada keterlibatan spinal, apabila malformasi SSP disertai rachischisis maka
terjadi kegagalan lamina vertebrata.
Posisi tengkurap mempengaruhi aspek lain dari perawatan bayi. Misalnya, posisi bayi
ini, bayi lebih sulit dibersihkan, area-area ancaman merupakan ancaman yang pasti,
dan pemberian makanan menjadi masalah.
Bayi biasanya diletakkan di dalam incubator atau pemanas sehingga temperaturnya dapat
dipertahankan tanpa pakaian atau penutup yang dapat mengiritasi lesi yang rapuh.
Apabila digunakan penghangat overhead, balutan di atas defek perlu sering dilembabkan
karena efek pengering dari panas yang dipancarkan. Sebelum pembedahan, kantung
dipertahankan tetap lembap dengan meletakkan balutan steril, lembab, dan tidak lengket
di atas defek tersebut. Larutan pelembab yang dilakukan adalah salin normal steril.
Balutan diganti dengan sering (setiap 2 sampai 4 jam). Dan sakus tersebut diamati
dengan cermat terhadap kebocoran, abrasi, iritasi, atau tanda-tanda infeksi. Sakus
tersebut harus dibersihkan dengan sangat hatihati jika kotor atau terkontaminasi.
Kadang-kadang sakus pecah selama pemindahan dan lubang pada sakus meningkatkan
resiko infeksi pada system saram pusat.

Latihan rentang gerak ringan kadang-kadang dilakukan untuk mencegah kontraktur, dan
meregangkan kontraktur dilakukan, bila diindikasikan. Akan tetapi latihan ini dibatasi
hanya pada kaki, pergelangan kaki dan sendi lutut. Bila sendi panggul tidak stabil,
peregangan terhadap fleksor pinggul yang kaku atau otot-otot adductor, mempererat
kecenderungan subluksasi.

Penurunan harga diri menjadi ciri khas pada anak dan remaja yang menderita keadaan
ini. Remaja merasa khawatir akan kemampuan seksualnya, penguasaan social,
hubungan kelompok remaja sebaya, dan kematangan serta daya tariknya. Beratnya
ketidakmampuan tersebut lebih berhubungan dengan persepsi diri terhadap
kemampuannya dari pada ketidakmampuan yang sebenarnya ada pada remaja itu.

PROGNOSIS
Prognosis tergantung dari tipe spina bifida, jumlah dan beratnya abnormalitas, dan semakin
jelek apabila disertai dengan paralisis, hidrosefalus, malformasi Chiari II dan defek
kongenital lain. Dengan perawatan yang sesuai, banyak anak dengan spina bifida dapat
hidup sampai dewasa.(7)
Mielomeningokel merupakan spina bifida dengan prognosis yang jelek. Setelah dioperasi
mielomeningokel memiliki harapan hidup 92 % ( 86 % dapat bertahan hidup selama 5
tahun).(7)
Komplikasi

Komplikasi yang lain dari spina bifida yang berkaitan dengan kelahiran antara lain adalah:

1. Paralisis cerebri

2. Retardasi mental

3. Atrofi optic

4. Epilepsi

5. Osteo porosis
6. Fraktur (akibat penurunan massa otot)

7. Ulserasi, cidera, dikubitus yang tidak sakit.

Infeksi urinarius sangat lazim pada pasien inkontinen. Meningitis dengan organisme
campuran lazim ditemukan bila kulit terinfeksi atau terdapat sinus. Pada beberapa kasus,
filum terminale medulla spinalis tertambat atau terbelah oleh spur tulang
(diastematomielia), yang dapat menimbulkan kelemahan tungkai progresif pada
pertumbuhan. Sendi charcot dapat terjadi dengan disorganisasi pergelangan kaki, lutut atau
coxae yang tak nyeri.
Hidrosefalus karena malformasi Arnold-chiari sering ditemukan.

Kesimpulan

Spina bifida merupakan suatu kelainan bawaan berupa defek pada arkus pascaerior tulang
belakang akibat kegagalan penutupan elemen saraf dari kanalis spinalis pada
perkembangan awal embrio (Chairuddin Rasjad, 1998). Keadaan ini biasanya terjadi
pada minggu ke empat masa embrio.

Kelainan pada spina bifida bervariasi, sehingga dikelompokkan menjadi beberapa jenis yaitu
: spina bifida okulta, meningokel, dan myelomeningokel.
Faktor genetik dan lingkungan (nutrisi atau terpapar bahan berbahaya) dapat menyebabkan
resiko melahirkan anak dengan spina bifida.

Kelainan yang umumnya menyertai penderita spina bifida antara lain: hidrosefalus,
siringomielia,dan dislokasi pinggul.
Tanda-tanda fisik yang umumnya bisa dilihat adalah penonjolan seperti kantung di punggung
tengah sampai bawah pada bayi baru lahir jika disinari, kantung tersebut tidak tembus
cahaya dan kelumpuhan/kelemahan pada pinggul, tungkai atau kaki.

Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada klien dengan spina bifida adalah pembedahan,
bowel training, ambulasi, rehabilitasi medik, orthopedik, dan urologi.

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif.2008.Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem


Persyarafan.Jakarta: Salemba Medika.

26 februari 2015 2.09 kamis


http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-35562-
Kep%20NeurobehaviourAskep%20Spina%20Bifida.html