Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

HEMOROID INTERNA

DISUSUN OLEH :
dr. Brenda Ruth Panjaitan
PENDAMPING :
dr. Sastera Budi

RSUD KABUPATEN BANGKA SELATAN


2019

1
BAB I
PENDAHULAN

Hemoroid adalah pelebaran atau varises satu segmen atau lebih dari vena-
vena hemoroidalis. Hemoroid dibagi dalam dua jenis, yaitu hemoroid interna dan
hemoroid eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena hemoroidalis superior
dan media. Sedangkan hemoroid eksterna merupakan varises vena hemoroidalis
inferior. Sesuai istilah yang digunakan, maka hemoroid interna timbul di sebelah
dalam otot sfingter ani dan hemoroid eksterna timbul di sebelah luar otot sfingter ani.
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik vena
hemoroidalis.
Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35%
penduduk, baik pria maupun wanita yang biasanya berusia lebih dari 25 tahun.
Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan perasaan
yang sangat tidak nyaman. Gejala yang dirasakan, yaitu rasa gatal, terbakar,
pendarahan, dan terasa sakit. Penyakit ini biasanya hanya memerlukan perawatan
ringan dan perubahan gaya hidup.

2
BAB II
LAPORAN KASUS

A. Identitas Pasien
a. Nama/Jenis Kelamin/Umur : Ny.S / Perempuan / 55 tahun
b. Pekerjaan : IRT
c. Alamat : RT 03 Simp.4 sipin
d. Status Perkawinan : Menikah

B. Riwayat Penyakit Dahulu/Keluarga :

1. Riwayat pernah mengalami sakit yang sama ± 1 tahun yang lalu


2. Riwayat sembelit (+)
3. Riwayat Hipertensi disangkal
4. Riwayat Diabetes Melitus disangkal
5. Riwayat Keluarga yang menderita keluhan yang sama disangkal

a. Keluhan Utama :
Terdapat benjolan yang keluar dari anus yang semakin membesar sejak ± 3 hari
yang lalu.
b. Riwayat Penyakit Sekarang : (autoanamnesa)
Pasien datang ke IGD RSUD Toboali dengan keluhan keluar benjolan dari
anus saat buang air besar sejak ± 3 hari sebelum masuk ke Rumah Sakit. Benjolan
dirasakan lebih besar daripada biasanya, benjolan tersebut tidak dapat dimasukan
kembali kedalam anus, terasa perih, gatal, dan pasien mengeluh tidak bisa duduk
karena adanya benjolan.

3
Pasien mengaku sekitar 3 jam sebelum masuk ke Rumah Sakit pasien sempat
buang air besar di sertai dengan darah segar yang menetes saat feses keluar, darah
tidak bercampur dengan feses dan jumlahnya cukup banyak.
± 1 tahun yang lalu pasien mengeluhkan adanya benjolan kecil yang keluar
pada saat buang air besar dan masih dapat dimasukan. Pasien tidak pernah
mengontrol keluhannya ke fasilitas kesehatan ataupun mengkonsumsi obat untuk
mengobati keluhanya dikarenakan keluhan hanya hilang timbul dengan sendirinya.
Pasien mengaku jarang mengkonsumsi makanan yang berserat seperti sayuran
dan buah buahan. Pasien suka mengkonsumsi makanan pedas, dan minum kurang
dari 8 gelas perhari dan pada saat buang air besar suka mengejan keras sampai
berkeringat bahkan sampai merasa pusing.

C. Pemeriksaan Fisik:

Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang


Kesadaran : Compos mentis
Suhu : 36,3°C
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi : 80 x/menit
Pernafasan : 18 x/menit
Berat badan : 60 kg
Tinggi badan : 155 cm

4
1. Status Generalis

a. Kepala Bentuk : Normocephali


Simetri : Simetris
b. Mata Exopthalmus/enophtal: (-)
Kelopak : Normal
Conjungtiva : Anemis (-)
Sklera : Ikterik (-)
Kornea : Normal
Pupil : Bulat, isokor, reflex cahaya +/+
Lensa : Normal, keruh (-)
Gerakan bola mata : Baik
c. Hidung : Tak ada kelainan
d. Telinga : Tak ada kelainan
e. Mulut Bibir : Lembab
Bau pernafasan: Normal
Gigi geligi : Lengkap
Palatum : Leviasi (-)
Gusi : Warna merah muda, perdarahan (-)
Selaput Lendir : Normal
Lidah : Putih kotor, ulkus (-)
f. Leher KGB : Tak ada pembengkakan
Kel.tiroid : Tak ada pembesaran
JVP : 5 - 2 cmH2O

5
g. Paru

Pemeriksaan Kanan Kiri


Inspeksi Statis & dinamis: simetris Statis & dinamis : simetris
Palpasi Vocal Fremitus : simetris Vocal Fremitus : simetris

Perkusi Sonor Sonor


Batas paru-hepar : ICS VI
kanan
Auskultasi Vesikuler, Wheezing (-), Vesikuler, Wheezing (-),
rhonki (-) rhonki (-)

h. Jantung
Inspeksi Ictus cordis terlihat di ICS V linea midclavicula kiri
Palpasi Ictus cordis teraba di ICS V linea midclavicula kiri

Perkusi Batas Jantung : Normal


Auskultasi BJ I/II regular, murmur (-), gallop (-)

i. Abdomen
Inspeksi Tampak datar, warna sawo matang scar (-),striae (-)
Palpasi Nyeri tekan regio epigastrium (+), defans musculer
(-), hepatomegali (-), splenomegali (-), nyeri ketok
costovertebra (-/-)
Perkusi Hipertimpani
Auskultasi Bising usus (+) 5x/menit

6
j. Ekstremitas Atas : Edema (-), akral hangat, CRT <2s.
Ekstremitas bawah : Edema (-), akral hangat, CRT <2s.

2. Status Lokalis

 Inspeksi dan palpasi : Perianal terlihat tonjolan massa prolaps dari anus,
terdapat bagian yang hiperemis, padat kenyal, nyeri saat di sentuh, ukuran ±
4x6 cm, ekskoriasi (-), luka (-), tanda radang (-), darah (-)
 Rectal Toucher : Tidak dilakukan

7
3. Pemeriksaan penunjang

 Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal 4 Maret 2019
Nama Test Hasil Unit Nilai Rujukan
Darah Rutin DHF
Leukosit 5,3 ribu/ul 5-10
Hemoglobin 11 g/dl 12-16
Hematokrit 46 % 35-47
Trombosit 200 ribu/Ul 150-450

 Anoskopi : untuk menilai mukosa rectal dan tingkat pembesaran hemoroid


 Sigmoideskopi : untuk memastikan tidak adanya diagnosa banding lain seperti
kolitis, polip rektal, dan kanker

D. Diagnosis

Hemoroid Interna Grade III

E. Diagnosis Banding

 Hematoma Perianal
 Fisura Anal

8
F. PENATALAKSANAAN

1. Medikamentosa
 Rawat Inap
 Diet tinggi serat
 IVFD Asering Kolf/12jam 20 tpm
 Asam tranexamat 2 x 500mg (5ml/amp) (Inj)
 Omeprazole 2 x 40mg (Inj)
 Rujuk Spesialis Bedah : Anjuran Operasi Hemoroidektomi

2. Non Medikamentosa

 Edukasi :

- Tirah baring untuk membantu mempercepat berkurangnya


pembengkakan.
- Rendam duduk dengan air hangat yang bersih dapat dilakukan rutin dua
kali sehari selama 10 menit pagi dan sore selama 1 – 2 minggu, karena air
hangat dapat merelaksasi sfingter dan spasme.
- Makan makanan yang berserat (25-30 gram sehari), dan menghindari
obat-obatan yang dapat menyebabkan konstipasi.
- Mengkonsumsi cairan (6-8 gelas sehari).

9
- Menghindari mengejan saat buang air besar, dan segera ke kamar mandi
saat merasa akan buang air besar, jangan ditahan karena akan
memperkeras feses.

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Hemoroid adalah pelebaran vena di dalam pleksus hemoroidales yang tidak


merupakan keadaan patologis, hanya apabila menimbulkan keluhan atau penyulit
diperlukan tindakan.
Hemoroid adalah dilatasi varikosus vena dari plexus hemorrhoidal inferior dan
superior .
Hemoroid dibedakan menjadi dua, interna dan eksterna. Hemoroid interna
adalah pleksus vena hemoroidales superior diatas garis mukokutan dan ditutupi oleh
mukosa. Sering terdapat pada tiga posisi primer, yaitu kanan depan, kanan belakang,
dan kiri lateral, sedangkan hemoroid yang lebih kecil terdapat diantara ketiga letak
primer tersebut. Hemoroid eksterna merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus
hemoroid inferior yang terdapat di bagian distal garis mukokutan di dalam jaringan
dibawah epitel anus .

B. Epidemiologi
Sekitar 75% orang mengalami penyakit hemoroid setidaknya sekali seumur
hidupnya, hemoroid banyak terjadi pada dewasa berusia 45 – 60 tahun, dan juga
sering terjadi pada wanita hamil .

10
C. Etiologi dan Faktor Risiko
Penyebab pasti timbulnya hemoroid masih belum pasti, hanya saja ada
beberapa faktor pendukung terjadinya hemoroid, yaitu :
 Anatomik : vena daerah anorektal tidak mempunyai katup dan
pleksushemoroidalis kurang mendapat sokongan dari otot dan fascia
sekitarnya.
 Umur : pada umur tua terjadi degenerasi dari seluruh jaringan tubuh, juga
otot sfingter menjadi tipis dan atonis.
 Keturunan : dinding pembuluh darah lemah dan tipis.
 Pekerjaan : orang yang harus berdiri , duduk lama, atau harus mengangkat
barang berat mempunyai predisposisi untuk hemoroid.
 Mekanis : semua keadaan yang menyebabkan meningkatnya tekanan intra
abdomen, misalnya penderita hipertrofi prostat, konstipasi menahun dan
sering mengejan pada waktu defekasi.
 Endokrin : pada wanita hamil ada dilatasi vena ekstremitas dan anus oleh
karena ada sekresi hormone relaksin.
 Fisiologi : bendungan pada peredaran darah portal, misalnya pada
penderita sirosis hepatis.

D. Klasifikasi
Diagnosa hemorrhoid dapat ditegakkan salah satunya dengan anoskopi.
Anoskopi adalah pemeriksaan pada anus dan rektum dengan menggunakan sebuah
spekulum. Pemeriksaan ini dapat menentukan letak dari hemorrhoid tersebut. Secara
anoskopi, berdasarkan letaknya hemorrhoid terbagi atas :
a. Hemorrhoid eksterna

11
Merupakan pelebaran dan penonjolan vena hemorrhoidalis inferior yang
timbul di sebelah luar musculus sphincter ani.

b. Hemorrhoid interna
Merupakan pelebaran dan penonjolan vena hemorrhoidalis superior dan
media yang timbul di sebelah proksimal dari musculus sphincter ani.
Kedua jenis hemorrhoid ini sangat sering dijumpai dan terjadi pada sekitar
35% penduduk yang berusia di atas 25 tahun.
Hemorrhoid eksterna diklasifikasikan sebagai bentuk akut dan kronis. Bentuk
akut dapat berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus yang merupakan
suatu hematoma. Bentuk ini sering terasa sangat nyeri dan gatal karena ujung-ujung
saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Hemorrhoid eksterna kronis atau skin tag
biasanya merupakan sequele dari hematoma akut.

Hemorrhoid interna dan hemorrhoid externa

Hemoroid interna dikelompokkan ke dalam 4 derajat, yakni:

12
a. Derajat I : bila terjadi pembesaran hemorrhoid yang tidak prolaps ke luar
kanalis analis yang hanya dapat dilihat dengan anorektoskop.
b. Derajat II : pembesaran hemorrhoid yang prolaps dan menghilang atau dapat
masuk kembali ke dalam anus secara spontan.

c. Derajat III : pembesaran hemorrhoid yang prolaps dimana harus dibantu


dengan dorongan jari untuk memasukkannya kembali ke dalam anus.
d. Derajat IV : prolaps hemorrhoid yang yang permanen. Prolaps ini rentan dan
cenderung mengalami trombosis dan infark.

E. Gejala Klinis
Gejala klinis hemoroid dapat dibagi berdasarkan jenis hemoroid, yaitu :

1. Hemoroid Interna
Gejala yang biasa adalah protrusio, pendarahan, nyeri tumpul dan
pruritus. Trombosis atau prolapsus akut yang disertai edema atau ulserasi
luar biasa nyerinya. Hemoroid interna bersifat asimtomatik, kecuali bila
prolaps dan menjadi stangulata. Tanda satu-satunya yang disebabkan oleh
hemoroid interna adalah pendarahan darah segar tanpa nyeri per rektum
selama atau setelah defekasi. Gejala yang muncul pada hemoroid interna
dapat berupa:
 Perdarahan
Merupakan gejala yang paling sering muncul dan biasanya merupakan
awal dari penyakit ini. Perdarahan berupa darah segar dan biasanya
tampak setelah defekasi apalagi jika fesesnya keras. Selanjutnya
perdarahan dapat berlangsung lebih hebat, hal ini disebabkan karena
prolaps bantalan pembuluh darah dan mengalami kongesti oleh sphincter
ani.

13
 Prolaps
Dapat dilihat adanya tonjolan keluar dari anus. Tonjolan ini dapat masuk
kembali secara spontan ataupun harus dimasukan kembali oleh tangan.
 Nyeri dan rasa tidak nyaman
Nyeri biasanya ditimbulkan oleh komplikasi yang terjadi (seperti fisura,
abses dll) hemoroid interna sendiri biasanya sedikit saja yang
menimbulkan nyeri. Kondisi ini dapat pula terjadi karena terjepitnya
tonjolan hemoroid yang terjepit oleh sphincter ani (strangulasi).
 Keluarnya Sekret
Walaupun tidak selalu disertai keluarnya darah, sekret yang menjadi
lembab sehingga rawan untuk terjadinya infeksi ditimbulkan akan
menganggu kenyamanan penderita dan menjadikan suasana di daerah
anus.

2. Hemoroid Eksterna
 Rasa terbakar
 Nyeri, jika terjadi thrombosis yang luas dengan udem dan radang.
 Gatal atau pruritus anus

14
F. Patogenesis

15
G. Diagnosis Banding
Diagnosa banding untuk hemoroid dapat bermacam, tabel dibawah ini akan
membaginya berdasarkan gejala klinis yang dapat muncul.
Jenis Penyakit Nyeri Perdarahan Massa Lainnya
Fisura Anal + + - Terdapat skin tag atau
umbai kulit (radang
Kronik dengan
bendungan limfe dan
fibrosis pada kulit)
Karsinoma - + + Pembengkakan KGB
Anal sekitar
Abses + - - Demam, leukositosis,
Anorektal penderita tidak dapat
duduk di sisi bokong
Hematom + + + Sering terjadi pada
Perianal orang yang
Ulseratif mengangkat barang
berat, leukositosis.
Prolaps Polip - + + Adanya gejala mual,
Kolorektal muntah,dan konstipasi
yang parah (jika
ukurannya besar)
Karsinoma - + + Karsinoma rektum
rektum

16
H. Diagnosis
Diagnosis hemoroid ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang.

1. Anamnesa
Pada anamnesa biasanya didapatkan pasien mengeluhkan adanya darah segar
pada saat buang air besar, darah yang keluar bisa menetes dan bisa juga keluar terus
menerus dan tidak bercampur dengan feses. Selain itu pasien juga akan mengeluhkan
adanya gatal-gatal pada daerah anus. Serta keluhan adanya massa pada anus dan
membuatnya merasa tidak nyaman, biasanya pada hemoroid interna derajat II dan
hemoroid eksterna. Pasien juga akan mengeluhkan nyeri pada hemoroid interna
derajat IV dan hemoroid eksterna.
Perdarahan yang disertai nyeri mengindikasikan hemoroid eksterna yang
sudah mengalami trombosis. Biasanya hemoroid interna mulai menimbulkan gejala
setelah terjadi prolapsus, sehingga mengakibatkan perdarahan, ulserasi, atau
trombosis. Hemoroid eksterna juga bisa terjadi tanpa gejala atau dapat ditandai
dengan nyeri akut, rasa tak nyaman, atau perdarahan akibat ulserasi dan thrombosis.

2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya pembengkakan vena yang
mengindikasikan hemoroid eksterna atau hemoroid interna yang sudah mengalami
prolaps, biasanya jika berupa prolapsnya hemoroid interna akan terlihat adanya
mukus yang keluar saat pasien disuruh untuk mengedan. Jika pasien mengeluhkan
perdarahan kemungkinan bisa menyebabkan anemia sekunder yang dapat dilihat dari

17
konjungtiva palpebra pasien yang sedikit anemis, tapi hal ini mungkin terjadi. Daerah
perianal juga diinspeksi untuk melihat ada atau tidaknya fisura, fistula, polip atau
tumor. Pada rectal toucher juga dinilai ukuran, perdarahan dan tingkat keparahan
inflamasi. Biasanya agak susah meraba hemoroid interna karena tekanan vena yang
tidak tinggi dan biasanya tidak nyeri. Rectal toucher juga dilakukan untuk
menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum.

3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan dapat berupa pemeriksaan
laboratorium untuk mendeteksi apakah terjadi anemia pada pasien dan pemeriksaan
anoskopi serta sigmoideskopi. Anoskopi dilakukan untuk menilai mukosa rektal dan
mengevaluasi tingkat pembesaran hemoroid. Hasil anoskopi hemoroid interna yang
tidak mengalami prolaps biasanya terlihat gambaran vascular yang menonjol keluar,
dan apabila pasien diminta mengejan akan terlihat gambaran yang lebih jelas.
Sedangkan dengan menggunakan sigmoideskopi dapat mengevaluasi kondisi lain
sebagai diagnose banding untuk perdarahan rektal dan rasa tak nyaman seperti pada
fisura anal dan fistula, colitis, polip rectal, dan kanker.

I. Penatalaksanaan

1. Terapi Non Farmakologi


Dapat diberikan pada semua kasus hemoroid terutama hemoroid interna
derajat 1, disebut juga terapi konservatif, diantaranya adalah :
 Koreksi konstipasi dengan meningkatkan konsumsi serat (25-30 gram sehari),
dan menghindari obat-obatan yang dapat menyebabkan konstipasi.
 Meningkatkan konsumsi cairan (6-8 gelas sehari)
 Menghindari mengejan saat buang air besar, dan segera ke kamar mandi saat
merasa akan buang air besar, jangan ditahan karena akan memperkeras feses.

18
 Rendam duduk dengan air hangat yang bersih dapat dilakukan rutin dua kali
sehari selama 10 menit pagi dan sore selama 1 – 2 minggu, karena air hangat
dapat merelaksasi sfingter dan spasme.
 Tirah baring untuk membantu mempercepat berkurangnya pembengkakan.

2. Terapi Farmakologi
 Salep anastetik lokal
 Kortikosteroid
 Laksatif
 Analgesik
 Suplemen flavonoid, membantu mengurangi tonus vena dan
mengurangi hiperpermeabilitas serta efek antiinflamasi.

3. Terapi Pembedahan
Hemorrhoid Institute of South Texas (HIST) menetapkan indikasi tatalaksana
pembedahan hemoroid antara lain :
 Hemoroid interna derajat II berulang
 Hemoroid derajat III dan IV dengan gejala
 Mukosa rektum menonjol keluar anus
 Hemoroid interna derajat I dan II dengan penyakit penyerta seperti fisura
 Kegagalan penatalaksanaan konservatif
 Permintaan pasien

Adapun jenis pembedahan yang sering dilakukan yaitu :


 Skleroterapi
Teknik ini dilakukan dengan menginjeksikan 5 % fenol dalam minyak nabati
yang tujuannya untuk merangsang. Lokasi injeksi adalah submukosa hemoroid. Efek

19
dari injeksi adalah edema, reaksi inflamasi dengan proliferasi fibroblast dan
thrombosis intravascular. Reaksi ini akan menyebabkan fibrosis pada submukosa
hemoroid sehingga akan mencegah atau mengurangi prolapsus jaringan hemoroid.
Terapi ini disertai anjuran makanan tinggi serat dapat efektif untuk hemoroid interna
derajat I dan II. Menurut Acheson dan Scholfield pada tahun 2009, teknik ini murah
dan mudah dilakukan, tetapi jarang dilaksanakan karena tingkat kegagalan yang
tinggi.
 Ligasi dengan gelang karet (Rubber band ligation)
Biasanya teknik ini dilakukan untuk hemoroid yang besar atau yang
mengalami prolaps. Dengan bantuan anuskop, mukosa diatas hemoroid yang
menonjol dijepit dan ditarik atau dihisap kedalam tabung ligator khusus. Efek dari
teknik ini adalah nekrosis iskemia, ulserasi, dan scarring yang akan menghasilkan
fiksasi jaringan ikat ke dinding rektum. Komplikasi nya dapat terjadi perdarahan
setelah 7-10 hari dan nyeri.
 Bedah beku
Teknik bedah beku dilakukan dengan pendinginan hemoroid pada suhu yang
sangat rendah. Teknik ini tidak dipakai secara luas karena mukosa yg nekrosis sukar
ditentukan luasnya. Teknik ini lebih cocok untuk terapi paliatif pada karsinoma
rektum yang inoperable.
 Hemoroidektomi
Teknik dipakai untuk hemoroid derajat III atau IV dengan keluhan menahun,
juga untuk penderita denga perdarahan berulang dan anemia yang tidak sembuh
dengan terapi lain yang lebih sederhana. Prinsipnya adalah eksisi hanya dilakukan
pada jaringan yang benar-benar berlebihan, dan pada anoderm serta kulit yang normal
dengan tidak mengganggu sfingter anus. Selama pembedahan sfingter anus biasanya
dilatasi dan hemoroid diangkat dengan klem atau diligasi dan kemudian dieksisi.
 Tindak bedah lain:
Infrared thermocoagulation
Bipolar diathermy
Laser haemorrhoidectomy

20
Doppler ultrasound guided haemorrhoid artery ligation
Cryotherapy
Stappled hemorrhoidopexy

DAFTAR PUSTAKA

1. Silvia A.P, Lorraine M.W, Hemoroid, 2005. Dalam: Konsep – konsep Klinis
Proses Penyakit, Edisi VI, Patofisiologi Vol.1. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Hal: 467
2. Susan Galandiuk, MD, Louisville, KY, A Systematic Review of Stapled
Hemorrhoidectomy – Invited Critique, Jama and Archives, Vol. 137 No. 12,
December, 2002, http://archsurg.ama.org/egi/content/extract. last update Desember
2009.
3. Anonim, 2004, Hemorhoid, http://www.hemorjoid.net/hemoroid galery.html. Last
update Desember 2009.
4. Sjamsuhidajat, Wim de Jong. Hemoroid, 2004 Dalam: Buku Ajar Ilmu Bedah,
Ed.2, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal: 672 – 675
5. Werner Kahle ( Helmut Leonhardt,werner platzer ), dr Marjadi Hardjasudarma (
alih bahasa ), 1998, Berwarna dan teks anatomi Manusia Alat – Alat Dalam,Hal:
232
6. Mansjur A dkk ( editor ), 1999, Kapita selekta Kedokteran, Jilid II, Edisi III, FK
UI, Jakarta,pemeriksaan penunjang: 321 – 324.
7. Linchan W.M,1994,Sabiston Buku Ajar Bedah Jilid II,EGC, Jakarta,hal 56 – 59
8. Brown, John Stuart, Buku Ajar dan Atlas Bedah Minor, alih Bahasa, Devi H,
Ronardy, Melfiawati, Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2001.

21
22